Anda di halaman 1dari 3

KOMPETENSI RELAWAN PENANGANAN ASPEK PSIKOLOGIS PENYINTAS

Rekan-rekan profesi Psikologi ytk,


Saya tertarik untuk ikut memberikan komentar tentang isu: Kompetensi Relawan dalam
Penanganan Penyintas. Saat ini melihat respons kalangan profesi psikologi via berbagai
milis dan media maupun respon masyarakat secara umum, saya terus terang merasa
sangat senang dan bangga. Solidaritas, kepedulian dan motivasi untuk bantu sesama
sangat tampak dengan jelas. Ada suatu niat baik secara individu maupun kelompok untuk
membantu.
Meski demikian, saya pikir niat baik adalah prasyarat utama namun niat baik tersebut
tampaknya perlu ditunjang oleh kemampuan, keterampilan untuk menjadi penolong yang
efektif. Hal yang perlu diingat adalah relawan adalah orang luar bagi komunitas
penyintas. Komunitas penyintas lah yang paling tahu secara tepat apa yang dibutuhkan
dan bagaimana cara pemenuhannya yang sesuai.
Jadi kalau dikaitkan dengan kompetensi relawan psikologi, menurut saya pertanyaan
utamanya adalah:
kalau saya jadi penyintas, apa yang saya inginkan orang lain lakukan pada saya sehingga
saya merasa senang dan terbantu terutama dalam mengatasi kesedihan dan hal lain yang
tidak enak buat saya di pikiran maupun hati saya ?
dengan menjawab pertanyaan tersebut, menurut saya yang penting dilakukan oleh
relawan psikologi adalah: memberikan dukungan dengan memprioritaskan dignity
penyintas.
Oleh karena itu, saya berpendapat kalau kompetensi utama yang diharapkan adalah:
seseorang yang mampu memberikan dukungan, pendampingan yang menenangkan,
memancarkan ketenangan, kehangatan melalui cara komunikasi verbal & non-verbal
yang terapeutik (tidak terlalu banyak berbicara, bertanya tentang kesulitan yang
dihadapi), mampu hadir dan ada untuk penyintas. Siapakah yang memiliki kompetensi ini
? Saya pikir tidak terbatas pada psikolog klinis tetapi siapapun. Saya pikir saat ini yang
memerlukan dukungan atau bantuan yang berdampak pada aspek psikologis sangat besar
sehingga penting untuk berstrategi untuk bisa lebih dirasakan manfaatnya sebanyakbanyaknya.
Untuk situasi saat ini, saya pikir sebagai kalangan psikologi kita sebaiknya tidak
mempersempit bantuan atau metode penanganan aspek psikologis penyintas hanya pada
konseling trauma atau teknik - teknik terapi trauma tertentu, sehingga kalangan psikologi
yang ingin terlibat dalam penanganan psikologis menjadi ragu dan bertanya apa yang bisa
dilakukan karena tidak 'akrab' dengan suatu proses konseling, terapi maupun intervensi
psikologis terapeutik lainnya.Mengingat konseling maupun teknik-teknik terapi trauma
tertentu tidak dibutuhkan oleh semua penyintas dan juga tidak selalu cocok/sesuai untuk
penyintas yang sangat beragam. Ada saatnya, berbagai macam 'jurus' konseling atau
terapi trauma tertentu dirasakan efektif dan membantu dengan catatan dilakukan oleh

mereka yang kompeten, mendalami 'jurus' tersebut dan dilakukan pada penyintas
yang sesuai pula dengan 'jurus' tersebut.
Saya sangat menghargai dan senang jika ada kalangan psikologi yang mau turun
langsung menjumpai penyintas untuk membantu mereka. Saran saya: jadilah teman dan
sahabat untuk mereka, jangan jadi psikolog atau konselor atau terapis untuk mereka.
Kalau mau turun saat ini, meski kita seorang yang berlatar belakang pendidikan
psikologi, kita harus 'menanggalkan' jubah kalangan psikologi kita dan siap melakukan
tugas kegiatan kerelawanan secara umum, mis: dalam bidang logistik. Meskipun
demikian, tentunya saya berharap: relawan dari kalangan psikologi harus ada bedanya
dengan relawan lain yang bukan dari kalangan psikologi. Bedanya adalah dalam
memperlakukan penyintas. Relawan psikologi tidak hanya berpikir bagaimana supaya
bantuan makanan ini dibagikan habis tetapi juga berpikir bagaimana cara memberikannya
supaya penyintas merasakan kelegaan, kehangatan, tidak merasa harga dirinya 'diinjakinjak' karena tiba-tiba mendapatkan status baru sebagai 'pengungsi'.
Relawan psikologi tidak memulai topik pembicaraan mengenai kesedihannya melainkan
karena dirasakan sudah menjadi teman maka penyintas lah yang akan memulai
pembicaraan dengan bertanya kepada relawan psikologi dan masih banyak lagi hal-hal
konkret yang dapat diperoleh bersama dari pengalaman banyak rekan-rekan kalangan
psikologi yang memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan penyintas saat
menghadapi situasi sulit pasca bencana. Intinya berbagai bantuan/dukungan punya
implikasi pada pemulihan psikologis penyintas, jadi menurut saya memberikan bantuan
logistik pun merupakan suatu intervensi psikologis.
Tujuan utama dukungan psikologis saat ini adalah: normalisasi: normalisasi reaksi dan
aktivitas sosial penyintas tanpa menebar label yang berkonsekuensi pada stigma,
memberdayakan penyintas dengan semaksimal mungkin memberikan
kesempatan penyintas untuk berpartisipasi. Dalam pemulihan psikologis di fase awal,
sebagai relawan dengan niat membantu kita tidak diharapkan melakukan hal-hal yang
masih bisa dilakukan oleh penyintas, misalnya: kalau ada beberapa ibu yang bisa
memasak lebih mereka lah yang memasak di dapur umum bukan sepenuhnya menjadi
tugas relawan dengan alasan kasihan dan merepotkan ibu-ibu dari komunitas penyintas.
Saat di lapangan, sambil menjadi 'teman' baru bagi penyintas, relawan kalangan psikologi
pun diharapkan dapat melakukan deteksi dini: mengenali individu-individu tertentu yang
tampaknya perlu dibantu oleh kalangan psikologi yang profesional dalam penanganan
individu yang menjadi sangat berubah dan mengalami dampak yang cukup hebat pasca
pengalaman sulit. Pengetahuan mengenai ciri-ciri atau tanda-tanda individu yang perlu
mendapatkan perhatian secara khusus penting untuk diketahui oleh relawan kalangan
psikologi. Dalam hal ini, rekan-rekan psikolog klinis, saya pikir punya resources yang
dapat membantu dalam deteksi dini.
Selain itu, untuk teman-teman kalangan psikologi yang akan turun langsung membantu,
harapannya tidak hanya mendeteksi masalah/keluhan/tanda-tanda distres saja tetapi juga
melihat individu atau kelompok dari dalam komunitas penyintas sendiri yang tidak hanya
tangguh tetapi potensial sebagai sumber dukungan psikologis bagi komunitasnya. Jadi

selain deteksi dini yang berhubungan dengan masalah psikologis tetapi juga deteksi dini
potensi lokal yang dapat semakin diberdayakan terutama setelah fase emergensi.
Mengingat pemulihan pasca bencana tidak sebentar dan tidak bisa reaktif, hit & run.
Tentang hal-hal praktis ini, secara konseptual oleh banyak ahli di luar negeri sana disebut
sebagai Psychological First Aid (PFA), kalau teman-teman ingin tahu lebih mendalam
silahkan browsing ada banyak bahan tentang PFA, beberapa lembaga pun yang saya tahu
punya modulnya atau bisa share banyak hal tentang hal ini,mis: Pusat Krisis F.Psi UIUNPAD-UNAIR, Yayasan Pulih, kalau teman-teman tertarik tentang penanganan aspek
psikologis bencana, sekarang ada jejaring multidisiplin (tidak hanya kalangan psikologi)
yang bernama: Jaringkawan, disana pun juga ada info mengenai PFA dan info penting
lainnya tentang bagaimana berespons. Forum ini terbuka, saya sarankan teman-teman
ikut ambil bagian didalamnya.
Saya setuju bahwa pendekatan relawan (termasuk media) kepada penyintas yang efektif
bisa dipelajari dan dilatih melalui sharing pengalaman konkret siapapun yang pernah
melakukan berinteraksi dengan penyintas bencana. Sepengetahuan saya, sudah cukup
banyak kalangan psikologi yang terlibat didalamnya. Oleh karena itu, mumpung dalam
peringatan Hari Kesehatan Jiwa, saya bersedia ikut dalam kegiatan sharing berbagi
pengalaman untuk berstrategi dan semakin memantapkan teman-teman yang akan ke
lapangan secara langsung.
Di akhir tulisan saya ini,
Saya sependapat dengan sebuah artikel di koran kompas hari ini yang ditulis seorang
psikiater dari Surabaya. Dalam artikel tsb penulis berpendapat bahwa masa sekarang ini
adalah masa bulan madu bencana, penyintas masih merasakan betapa mereka masih
diperhatikan (meski belum memadai), betapa 'baiknya' orang-orang dari luar datang
membantu. Demikian pula pada para relawan, individu maupun sebagai lembaga, betapa
penting dan heroiknya berbagai usaha untuk membantu yang dilakukan. Di berbagai
media pun kita menyaksikan hal ini. Ada banyak dompet amal dibuka, ada banyak acara
amal diselenggarakan. Semoga hal baik yang sudah terjadi ini dapat tetap ada, semoga
hal baik ini tidak musiman saja. Semoga hal baik ini tidak hanya memenuhi kebutuhan
kita untuk menolong tetapi yang terutama kebutuhan penyintas untuk hidup sejahtera
sebagai manusia seutuhnya.
Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.
Selamat bertugas teman-teman relawangan kalangan psikologi di Padang.
Nael S.