Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular


Topik : Tuberculosis Paru
Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas Pandaan
Kabupaten Pasuruan

disusun oleh :
dr. Anggasta Vasthi

Program Dokter Internsip Indonesia


Kabupaten Pasuruan
Jawa Timur

Halaman Pengesahan
Laporan Upaya Kesehatan Masyarakat
Laporan F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

Topik : Tuberculosis Paru


Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas Pandaan
Kabupaten Pasuruan

disusun oleh :
dr. Anggasta Vasthi

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal 26 Februari 2014

Oleh
Pembimbing Dokter Internsip Puskesmas Pandaan

dr. Titin Yuliani


NIP. 197605012010012004

LATAR
BELAKANG

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas


Kesehatan yang merupakan perangkat pemerintah
dengan tugas pokok melaksanakan program yang
diantaranya adalah pemberantasan penyakit menular
(P2M). Program Pemberantasan Penyakit Menular
dengan kegiatan surveilans epidemiologi merupakan
kewaspadaan
untuk
mengamati
timbul
dan
penyebaran penyakit dilakukan secara terus-menerus.
Salah satu penyakit yang dapat menular adalah
Tuberculosis paru dan banyak terjadi di Indonesia,
khususnya di wilayah Puskesmas Kandangan.
Penyakit Tuberculosis (TB) paru disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dan telah menginfeksi
sepertiga penduduk dunia, sehingga merupakan salah
satu masalah dunia. Menurut WHO pada tahun 1993,
kejadian TB paru di negara industri 40 tahun terakhir
ini menunjukkan angka prevalensi yang sangat kecil.
Diperkirakan terdapat 8 juta penduduk terserang TB
paru dengan kematian 3 juta per tahun dan 95%
penderitanya berada di negara-negara berkembang
(Anonim, 2006)
TB paru di Indonesia menurut WHO (1999 dan
2004) menunjukkan di Indonesia terdapat 583.000
kasus, kematian 140.000 dan 13/100.000 penduduk
merupakan penderita baru. Prevalensi TB paru pada
tahun
2002
mencapai
555.000
kasus
(256
kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya
merupakan kasus baru atau kasus baru meningkat
104/100.000 penduduk (DEPKES, 2002).
Kekhawatiran menurunnya kualitas kesehatan
manusia di dunia, akhirnya WHO tahun 1993 akhirnya
mencanangkan kedaruratan global penyakit TB paru.
Kekhawatiran dan perhatian dunia semakin kentara
saat muncul epidemi HIV/AIDS, sehingga diperkirakan
penderita TB paru semakin meningkat. Genderang
perang terhadap kuman Mycobacterium tuberculosis
akhirnya
dilakukan
berbagai
program
penanggulangan, termasuk di Indonesia (DEPKES,
2002).
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002)
penderita TB paru 95% berada di negara berkembang
dan 75% penderita TB paru adalah kelompok usia
produktif (15-50 tahun) dengan tingkat sosial ekonomi
rendah. Di Indonesia TB paru erupakan penyebab
kematian utama ketiga setelah penyakit jantung dan
saluran pernafasan. Risiko penularan setiap tahun
(Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di
Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara
1-2 %. Hal ini berarti pada daerah dengan ARTI
sebesar 1 %, setiap tahun diantara 100.000
penduduk, 100 (seratus) orang akan terinfeksi.

PERMASALA
HAN

Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan


menjadi penderita TB paru, hanya 10 % dari yang
terinfeksi yang akan menjadi penderita TB paru.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan
seseorang menjadi penderita TB paru adalah daya
tahan tubuh yang rendah; diantaranya karena gizi
buruk atau HIV/AIDS. Di samping itu tercapainya
cakupan penemuan penderita TB paru secara
bertahap dengan target sebesar 70% akan tercapai
pada tahun 2005 (DEPKES, 2002).
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) (1995)
TB paru merupakan penyebab kematian nomor satu
untuk penyakit infeksi di Indonesia dan SKRT (2001),
prevalensi TB paru klinis 0,8% dari seluruh penyakit di
Indonesia (DEPKES, 2002).
Program Pemberantasan Penyakit Menular
merupakan salah satu program penting puskesmas.
Program ini bertujuan menekan angka kejadian
penyakit-penyakit menular di masyarakat. Program ini
mencakup: imunisasi, surveilans epidemiologi, TBC,
malaria, kusta, DBD, penanggulangan KLB, ISPA,
pneumonia, filariasis, AFP, diare, rabies/Gigitan Hewan
Penular Rabies (HPR), frambusia, leptospirosis, dan
HIV/AIDS (Lukas, 2011).
Puskesmas sebagai unit pelayanan primer yang
juga memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan
penyakit menular di masyarakat, haruslah dapat
menegakkan diagnosis tuberculosis paru
dan
melakukan tindakan lanjutan yang tepat untuk
mencegah agar penyakit tersebut tidak menyebar.
Di Puskesmas Pandaan penyelenggaraan upaya
pelayanan kesehatan yang telah menunjukkan hasil
yang baik, namun masih banyak tantangan yang
dihadapi untuk tercapainya visi puskesmas yaitu
sebagai
tempat
pelayanan
kesehatan
adalah
menjadikan puskesmas sebagai pemberi pelayanan
kesehatan dasar yang ramah dan prima. Tantangan
tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya
tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang
lebih baik, sumber daya yang terbatas dan adanya
perilaku kesehatan dari warga masyarakat yang
berbeda.
Dokter internship dari Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga Surabaya sebagai bagian dari
Puskesmas Pandaan selain memiliki kewajiban
memenuhi tugas dan persyaratan internship, juga
secara tak langsung membantu program pemerintah
dalam membantu menyelesaikan masalah kesehatan
yang ditemukan di wilayang puskesmas Pandaan
dengan meningkatkan peran aktif masyarakat.
Kasus
Identitas Pasien :

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
TB
BB

: Ny. S
: 50 tahun
: Perempuan
: Pandaan
: 165 cm
: 53 Kg

Anamnesis
Keluhan Utama: batuk lama
Pasien mengeluhkan batuk lama, sering
kambuhan, dalam waktu yang 2 bulan terakhir. Batuk
bertambah berat dan terus-menerus sejak sekitar
tiga bulan yang lalu, disertai dahak berwarna kuning
kehijauan. Pasien tidak pernah mengalami batuk
darah.
RPL :
Riwayat penyakit lain pada pasien adalah
malaria, pada bulan Oktober 2011 rawat inap di
salah satu rumah sakit, dan dilakukan transfusi
darah empat kantung. Tidak ada riwayat penyakit
paru-paru, sesak nafas, maupun penyakit jantung
sebelumnya.
Riwayat Pengobatan :
Dari kartu berobat, diketahui bahwa pasien saat
ini diterapi sebagai TB paru BTA positif dan
menjalani pengobatan kategori I sejak 21 Mei 2013.
Namun kendala pengobatan pada kepatuhan
pasien. Pasien terlambat untuk mengambil obat di
puskesmas sehingga terlambat juga dalam minum
OAT nya.
2. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum
: cukup
Kesadaran
: compos mentis
Vital sign
: Tekanan Darah : 110/80 mmHg
(duduk, lengan
kanan)
Nadi: 90x/menit, reguler, kuat angkat
Frekuensi nafas: 25x / menit
Suhu: 37 C
Kepala dan leher
Kulit kepala : normal, tidak ada kelainan
Rambut : panjang, tipis, hitam
Kulit wajah : normal.
Mata:
: Conjunctiva
: anemis (-)
Sclera
: icterus (-)
Pupil : dalam batas normal
Mata cowong: (-) / (-)
Hidung & cavum nasi : pernafasan cuping

hidung (-)
Mulut
: mukosa mulut dan lidah basah.
Sianosis (-)
Telinga
: dalam batas normal
KGB
: tidak ada pembesaran
Thorax
Cor
: Inspeksi : ictus tidak tampak
Palpasi : ictus ICS V MCL Sinistra.
Perkusi : batas jantung normal.
Auskultasi: irama teratur, bising tidak ada.
Pulmo : Inspeksi : retraksi (-), gerak dada simetris.
Palpasi : simetris, fremitus raba +/+
Perkusi : sonor / redup
Auskultasi : vesikuler menurun/ menurun, wheezing
-/-, rhonchi -/Abdomen
Inspeksi : perut: tidak ada distensi
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : hepar tidak teraba, lien tidak teraba, turgor
kuit normal, tidak didapatkan nyeri tekan
Perkusi : timpani
Ekstremitas
Akral
: teraba hangat, refilling kapiler baik
Edema
: tidak ada
Dalam melakukan intervensi, harus disesuaikan
PERENCANA
AN
DAN dengan permasalahan yang ada. Adapun intervensi
yang akan dilakukan sebagai berikut.
PEMILIHAN
INTERVENSI
1.

2.

1. Pasien dan Keluarga


Masalah
Kurangnya
pengetahuan
tentang gejala,
penularan, dan
pengobatan
Kurangnya
kepatuhan pasien
untuk teratur
minum obat

3.

Kemungkinan
perburukan
kondisi penderita
selama
pengobatan

4.

Risiko penularan

Intervensi
Memberikan penyuluhan
tentang penyakit TB
paru
Memotivasi pasien dan
keluarga agar minum
obat secara teratur
Menjelaskan pentingnya
pengobatan dengan
tuntas
Menjelaskan efek
samping obat
Memotivasi pasien untuk
selalu kontrol
kesehatannya untuk
mengetahui
kemungkinan terdapat
penyakit penyerta lain
Memberi penyuluhan

pada anggota
keluarga

5.

6.

No.
1.

tentang penularan TB
paru
Memberitahu pasien
mengenai perilaku
mencegah penularan,
misalnya memakai
masker, dan membuang
dahak di tempat yang
terkena sinar matahari
langsung.
Risiko penularan Memotivasi keluarga
karena pengaruh
untuk menata rumah
lingkungan
dengan baik
tempat tinggal
Memberi penyuluhan
tentang lingkungan
rumah sehat, terutama
mengenai ventilasi,
pencahayaan, dan
kelembapan udara
dalam rumah
Pentingnya
Memotivasi keluarga
skrining pada
untuk melakukan
anggota
pemeriksaan jika
keluarga
terdapat keluhan yang
sama dengan penderita.
2. Untuk Puskesmas
Masalah
Kurangnya
pengetahuan
tentang gejala,
penularan, dan
pengobatan

2.

3.

Kurangnya
kepatuhan
pasien untuk
teratur minum
obat

Tingginya risiko
penularan TB

Intervensi
Memberikan
penyuluhan
tentang
penyakit TB paru di
berbagai kesempatan,
baik
posyandu,
maupun
kegiatankegiatan desa
Memasang
pamflet
mengenai deteksi TB
paru
dan
perilaku
pencegahan penularan
di
beberapa
tempat
strategis, seperti balai
desa
Meningkatkan kegiatan
petugas
PMO
di
puskesmas
Merapikan dengan benar
catatan-catatan
pengobatan
setiap
penderita TB
Memberi
penyuluhan
tentang
lingkungan

paru

PELAKSANA
AN

rumah sehat
Mengaktifkan
klinik
sanitasi
Pembentukan kader TBC
paru
dalam
rangka
membantu
memutus
rantai
penularan
penyakit.
Rumah pasien ditinggali 5 orang yaitu pasien, suami
pasien, 2 orang
anak dan ibu pasien.
Biologis keluarga
Keadaan kesehatan keluarga
: kurang
Kebersihan perorangan : mandi dua kali, ganti
pakaian 1x sehari
Penyakit kronis/ menular : Pola makan : 2 kali sehari; pagi dan malam
nasi; sayur; lauk: tempe, tahu, Ikan, daging
( jarang ), buah (jarang).
Pola istirahat
: cukup
Psikologis keluarga
Keadaan emosi
: ramah
Kebiasaan buruk
:
tidak
ditemukan
Pengambil keputusan : pasien sendiri
Ketergantungan obat : tidak ditemukan
Rekreasi
: tidak pernah
Spiritual keluarga
Ketaatan beribadah
: taat beribadah
Keyakinan dalam kesehatan :
bila
sakit,
pasien akan berobat
dulu ke puskesmas
Sosiokultural
Adat yang mempengaruhi keluarga :
tidak
ditemukan
Percaya hal tabu
:
tidak
ditemukan
3. Pemeriksaan Lingkungan
Deskripsi keadaan rumah dan lingkungan
Rumah
Luas rumah
: 10x7 m
Jenis rumah
: Rumah pribadi
Dinding
: tembok dan gedeg
Atap
: genteng
Lantai
: semen dan tanah
Cahaya
: kurang
Jalan angin
: kurang
Jendela
: kurang
Jumlah ruangan
:5

Air minum
Asal

: Sumur

Nilai air
Air minum
Pembuangan sampah
samping rumah
Kamar mandi
Jamban
Kamar mandi
Kebersihan
Bangunan
Kebersihan

: Bersih dan jernih


: Dimasak
:
Ada,

di

: Tidak Ada
: Ada
: Kurang
: gedeg
: kurang

4. Analisis
Predisposing factor
Keadaan rumah pasien yang kurang sehat
( kondisi yang lembab, ventilasi dan cahaya
kurang).
Hygiene sanitasi yang kurang baik
Adanya kontak dengan penderita TBC yaitu Ibu
pasien
Enabling factor
Pasien berasal dari keluarga menengah ke
bawah
Reinforcing factor
Petugas kesehatan yang ramah
Kondisi puskesmas yang nyaman
Pelayanan puskesmas yang memuaskan dan
bersahabat
Holistic analysis
Environment
Lingkungan fisik

Lingkungan kimia
Lingkungan sosial

: Tampak keadaan
tempat tinggal pasien
yang sempit, lembab,
dan kurang bersih.
Pencahayaan dalam
rumah
kurang,
ventilasi juga kurang.
:
Pasien
jarang
kontak dengan unsur
kimia.
:
Pasien
sering
berkomunikasi

Lingkungan ekonomi

bersama
tetangganya
: Keluarga
pasien
dengan
ekonomi
menengah kebawah

Status gizi pasien

: kurang

Agent biologis berupa bakteri. Terdapat riwayat kontak


dengan penderita TBC yaitu ibu pasien.
1. Health promotion
MONITORIN
G
DAN Health education
EVALUASI
Pasien
dan
keluarganya

diberi
edukasi
mengenai bahaya penyakit TB, mengenai
penyebab
terjadinya,
penularan,
cara
mengatasi, dan pencegahan penyakit, juga
dilakukan
edukasi
mengenai
pentingnya
hygiene dan sanitasi.

Gizi
Pemberian makanan yang bergizi mencakup
syarat tinggi kalori dan tinggi protein, sesuai
dengan kemampuan ekonomi pasien untuk
meningkatkan kesehatan maupun daya tahan
tubuh pasien.
Rumah sehat
Memberikan penjelasan tentang hubungan
antara kondisi rumah dengan kesehatan tubuh.
Memberikan penjelasan tentang kriteria rumah
sehat. Yang perlu dilakukan adalah :
- Ventilasi : perlu diupayakan untuk
membuat tambahan berupa jendela yang
dapat dibuka dan ditutup terutama di
kamar-kamar.
- Pencahayaan : dengan membuat jendela,
maka pencahayaan akan lebih baik.
Membuat genteng kaca meningkatkan
jumlah sinar yang masuk
- Kelembapan : membuat jendela akan
mengurangi kelembapan di rumah.
2.Specific protection
Personal hygiene dan sanitasi lingkungan
Memakai masker saat di rumah dan beraktivitas di luar
rumah.
Selain itu jika ingin membuang riak/dahak diminta
untuk
menampung di tempat/wadah/pot yang berisi pasir.
Kebersihan perorangan perlu ditingkatkan lagi. Untuk
sanitasi
lingkungan perlu adanya penambahan ventilasi untuk
jalan

keluar masuknya udara dan cahaya di rumah.


3.Early diagnosis dan prompt treatment
menjelaskan tentang gejala-gejala yang timbul pada
penyakit TBC.
Selain itu, menjelaskan pada pasien tentang rencana
pemeriksaan
penunjang dan pentingnya untuk mentaati aturan dan
prosedur
pemeriksaan.segera periksa ke puskesmas bila
didapatkan batuk
darah atau sesak napas yang memberat.
4.Disability limitation
pengobatan yang memadai untuk menghentikan
proses penyakit
dan mencegah komplikasi.Selain itu juga diperlukan
kepatuhan dan
ketaatan untuk berobat secara rutin dan teratur.
A. Kesimpulan
KESIMPULA
1. Kasus TB paru di Indonesia cukup banyak dan
N
DAN
risiko penularan setiap tahun dianggap cukup
SARAN
tinggi dan bervariasi antara 1-2 %.
2. TB paru disebabkan Mycobacterium tuberculosis
yang menular melalui droplet, dan mati dengan
sinar matahari.
3. Diagnosis TB paru berdasarkan pemeriksaan
BTA dan pemeriksaan lain yang mungkin
dibutuhkan, seperti foto toraks. Kemudian TB
paru dikategorikan menurut hasil pemeriksaan,
yang akan mempengaruhi terapi obat yag
diberikan
4. Pada pengobatan TB paru, diperlukan petugas
Pengawas Minum Obat (PMO) dan motivasi dari
keluarga karena kepatuhan penderita yang
biasanya kurang
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB
paru terbagi menjadi dua, yaitu faktor individu
(usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
status gizi, kebiasaan merokok, kondisi sosial
ekonomi) dan faktor lingkungan tempat tinggal
(ventilasi,
pencahayaan,
suhu
ruangan,
kelembapan, kondisi rumah)
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi TB paru pada
penderita adalah:
a. Faktor pribadi berupa status gizi yang
kurang, sosial ekonomi, dan perokok pasif.
b. Faktor lingkungan tempat tinggal, dimana
ventilasi dan pencahayaan yang kurang
sehingga sirkulasi udara tidak baik, gelap,
dan
lembap,
yang
mendukung
perkembangbiakan kuman.
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya
kepatuhan
menjalani
pengobatan
pada

penderita adalah:
a. Kurangnya pengetahuan mengenai TB paru
dan pentingnya pengobatan
b. Kurangnya
dukungan
keluarga
dalam
menjalankan pengobatan
B. Saran
1. Saran untuk Keluarga
a. Memotivasi keluarga untuk memberitahu
penderita pada saat flu atau batuk, sebaiknya
menutup mulut dan jangan sembarangan jika
meludah
b. Membuang dahak atau ludah penderita di
tempat yang terkena sinar matahari
c. Memotivasi keluarga untuk memperhatikan
penderita dalam menjalani pengobatan
d. Memotivasi keluarga pasien untuk membuka
jendela rumah, agar pencahayaan rumah bisa
masuk dan kelembabanya cukup
e. Menyarankan
anggota
keluarga
untuk
melakukan pemeriksaan TB paru guna
mewaspadai terjadinya penularan
2. Saran ntuk Puskesmas
a. Penyuluhan dan publikasi secara merata
tentang penyakit TB paru ke seluruh desa
b. Meningkatkan kunjungan ke rumah penderita
TB paru dan mengontrol pengobatan pasien
c. Memperbaiki pencatatan mengenai tindak
lanjut penderita TB paru yang dalam
pengobatan
d. Pembentukan dan pembinaan kader TB di
desa-desa lebih digiatkan supaya rantai
penularan dapat segera diputus
e. Mengoptimalkan
klinik
sanitasi
untuk
mendukung program P2M
Komentar/Umpan Balik:

Pandaan,

26

Februari

2014
dr. Anggasta Vasthi
Peserta
Pendamping

dr. Titin Yuliani