Anda di halaman 1dari 4

Clostridium botullinum

Clostridium botullium adalah bakteri anaerob, Gram positif, pembentuk spora,


berbentuk batang dan memiliki racun yang kuat, yaitu neurotoksin. Sporanya bersifat tahan
terhadap panas dan dapat bertahan di makanan yang diproses dengan tidak benar atau kurang
proses. Ketujuh tipe (A, B, C, D, E, F dan G) dari racun botulisme sudah dikenali,
berdasarkan dari antigen yang diproduksi dari setiap turunan. Tipe A, B, E, dan F
menyebabkan keracunan pada manusia. Tipe C dan D menyebabkan keracunan pada hewan.
Hewan yang sering terkena dampaknya adalah unggas liar, unggas ternak, hewan ternak, dan
beberapa jenis ikan. Walaupun tipe G telah di isolasi pada tanah di Argentina, tidak ada
kejadian luar biasa yang melibatkannya pernah terjadi.
Makanan yang mengandung botulism (botulism dari luka dan botulism pada bayi)
adalah jenis racun yang kerasyang disebabkan oleh proses pencernaan makanan yang
mengandung neurotoksin yang dibentuk saat pertumbuhan organisme ini. Racun ini bersifat
labil terhadap panas dan dapat dihancurkan dengan pemanasan 80oC selama 10 menit atau
lebih. Timbulnya penyakit oleh organisme ini rendah, tapi penyakit ini harus sangat
diperhatikan karena menyebabkan angka kematian yang tinggi apabila tidak ditangani dengan
benar dan segera. Sebanyak 10 dari 30 kasus dilapurkan setiap tahunnya di USA dihubungkan
dengan kurangnya proses, makanan kaleng, tapi terkadang makanan yang diproduksi secara
komersil juga masuk ke dalam kasus ini. Sosis, produk daging, sayuran kaleng, dan seafood
merupakan perantara terbesar bagi infeksi botulism pada manusia.
Organisme ini dan sporanya tersebar luas di alam. Mereka terbentuk di tanah yang
terpelihara maupun di hutan, di bawah endapan sungai, danau, dan pantai, juga pada saluran
pencernaan ikan dan mamalia, serta pada isi perut dari kepiting dan kerang lainnya.
1. Nama Organisme
Clostridium botullinum
2. Nama Penyakit
Empat jenis botulism telah dikenali: makanan, bayi, luka, dan sebuah bentuk botulism
yang klasifikasinya belum dapat ditentukan. Beberapa makanan telah dilaporkan sebagai
sumber spora pada kasus bayi dan yang belum dapat ditentukan; botulism pada luka
tidak terkait pada makanan.
Botulism pada makanan adalah nama penyakitnya (sebenarnya keracunan pada
makanan) disebabkan oleh konsumsi makanan yang mengandung neurotoksin yang
diproduksi oleh C.botullinum.

Botulism pada bayi, pertama ditemukan pada tahun 1976, mempengaruhi bayi usia
dibawah 12 tahun. Botulism tipe ini disebabkan oleh proses pencernaan spora
C.botullinum yang berkoloni dan memproduksi toksin pada saluran pencernaan bayi.
Pada sumber lingkungan yang berpotensi seperti tanah, waduk, debu, makanan, dan
madu adalah salah satu gudang dari spora C.botullinum yang sudah dibuktikan dengan
laboratorium dan ilmu tentang penyakit. Angka kejadian botulism pada bayi meningkat
secara signifikan sebagai tanda meningkatnya kewaspadaan lembaga keseharan setelah
pengenalannya pada 1976. Botulism sekarang sudah dikenalkan secara internasional,
dengan kasus-kasus yang terjadi di lebih banyak negara.
Botulism pada luka adalah jenis botulism yang paling jarang. Keberadaannya saat
C.botullinum atau mikroorganisme lain menginfeksi sebuah luka, toksin diproduksi dan
menyebar ke bagian tubuh yang lain melalui aliran darah. Makanan tidak terkait dengan
botulism jenis ini.
Kategori botulism yang belum ditentukan melibatkan kasus orang dewasa dalam
makanan tertrntu atau sumber luka yang tidak bisa diidentifikasi. Dapat diusulkan bahwa
beberapa kasus botulism dapat muncul dari masalah kolonisasi pada sistem pencernaan
orang dewasa, dengan produksi racun melalui in vivo. Dilaporkan dari literatur
kesehatan, dipastikan bahwa botulism jenis ini sama dengan yang terjadi pada bayi,
namun terjadi pada orang dewasa. Pada kasus ini, pasien mendapatkan perubahan
pembedahan melalui saluran pencernaan dan/atau terapi antibiotik. Dapat diusulkan
bahwa prosedur ini sudah mengubah tali usus dan membiarkan C.botullibum berkoloni
pada saluran pencernaan.
3. Sifat Penyakitnya
Dosis yang sangat kecil dari racun ini dapat menyebabkan penyakit.
Permulaan gejalanya pada botulism yang ada di makanan biasanya terjadi 18-36 jam
setelag pencernaan makanan yang mengandung racun, walaupun kasus telah mengubah
dari 4 jam menjadi 8 hari. Tanda awal dari keracunan ini terdiri dengan ditandainya
kelesuan, kelemahan, dan vertigo, biasanya diikuti dengan pengelihatan ganda dan
kesulitan dalam berbicara dan mengunyah. Kesulitan bernapas, otot terasa melemah,
tekanan pada perut, dan konstipasi dapat juga menjadi gejala-gejalanya.
Gejala pada botulism bayi terdiri dari konstipasi yang terjadi setelah perkembangan
normal. Diikuti dengan nafsu makan yang buruk, kelesuan, kelemahan, muntah, dan
tangisan. Kehilangan kontol pada kepala berarti sudah parah. Disarankan perawatan yang
mengutamakan perhatian diutamakan. Terapi antimikroba tidak disarankan. Botulism

bayi dikenal dengan mempertunjukan toksin botulin dan organisme nya di dalam kereta
bayi.
4. Diagnosa Penyakit pada Manusia
Walaupun botulism dapat didiagnosa dengan gejala-gejalanya, akan sulit untuk
membedakan dengan penyakit lain. Cara paling langsung dan efektif untuk
mengonfirmasi diagnosa botulism di dalam laboratotium adalah dengan
mempertunjukkan keberadaan toksin pada serum atau feses pasiennya atau pada
makanan yang dikonsumsi oleh pasiem. Sekarang ini, metode paling sensitif dan paling
meluas untuk mendeteksi toksin adalah dengan tes netralisasi pada tikus. Tes ini
memakan waktu 48 jam. Membiakkannya butuh 5-7 hari.
5. Makanan yang Berkaitan
Tipe makanan yang termasuk pada botulism tergantung pada penyimpanan makanan
dan kebiasaan memakan pada setiap daerah. Makanan yang kondusif untuk pertumbuhan
dan perkembangan toksin, yang prosesnya memenuhi untuk bertahannya spora, dan yang
tidak dipanaskan sebelum dikonsumsi dapat dihubungkan dengan botulism. Hampir
setiap makanan yang pH nya tidak terlalu asam (di atas 4.6) dapat mendukung
pertumbuhan dan produksi toksin dari C.botullinum. toksin botulin sudah ditunjukkan
dalam beberapa jenis makanan, seperti jagung kalengan, lada, kacang polong, sop, bit,
asparagus, jamur, buah zaitun, bayam, ikan tuna, ayam, hati ayam, kepala, daging, ham,
sosis, terong, lobster, ikan asap dan ikan asin.
6. Frekuensi
Angka insiden penyakit ini cukup rendah, tapi angka kematian dapat tinggi apaila
tidak diperlakukan dengan cepat dan pantas. Ada sekitar 10-30 kejadian luar biasa di
USA dalam setahun. Beberapa kasus botulim dapat juga tidak terdiagnosa karena
gejalanya sedikit, atau salah diagnosa menjadi sindrom Guillain-Barre.
7. Pelajaran dari Penyakit dan Komplikasi
Toksin botulinum menyebabkan kelumpuhan ringan dengan menutup terminal saraf
motorik pada persimpangan mioneural. Kelumpuhan ringan ini berkembang ke arah
bawah, dimulai dari mata dan wajah, ke tenggorokan, dada, lalu kaki dan tagan. Saat
diafragma dan otot dada sudah terjangkit, respirasi terhambat dan kematian disebabkan
asfiksi dapat terjadi. Perawatan yang disarankan untuk botulism pada makanan termasuk
pengambilan antitoksin botulin dan perhatian yang lebih.
8. Target Populasi
Semua orang dapat terkena keracunan makanan.

9. Analisa Makanan
Sejak botulism menyebabkan kerusakan makanan dan hasilnya didapatkan dari toksin
dari C.botullinum, penentuan sumber dari kejadian luar biasa didasari dengan deteksi dan
identifikasi dari toksin dan makanan yang bersangkutan. Metode yang paling diterima
adalah injeksi ekstrak makanan pada tikus. Tesnya membutuhkan waku 48 jam. Analisa
ini diikuti dengan mengultur semua makanan yang dicurigai pada media yang
mendukung untuk deteksi dan isolasi organisme penyebab.
10. Beberapa Kejadian Luar Biasa
Dua kejadian botulism telah terjadi melibatkan salmon kaleng. Restoran yang
memasak tumisan bawang, bawang cincang botolan, salad kentang dari kentang
panggang dan kentang panggangnya telah masuk ke dalam kejadian. Juga, ikan asap,
asap panas dan dingin (contoh: Kapchunka) telah menyebabkan kejadian luar biasa dari
botulism tipe E.
Pada Oktober dan November, 1987, 8 kasus botulism tipe E terjadi, 2 di NYC dan 6 di
Israel. Seluruh 8 pasien mengonsumsi Kapchunka, tanpa dikeluarkan isi perutnya,
dikeringkan-diasinkan, dikeringkan, ikan utuh. Produk ini dibuat di NYC dan beberapa
dikirimkan ke Israel. Seluruh 8 pasien dengan botulism mengalami gejala setelah 36 jam
mengonsumsi Kapchunka. Satu wanita tewas, dua membutuhkan bantuan pernapasan,
tiga dirawat dengan antitoksin, dan tiga terolong. Kapchunka terlibat dalam kejadian ini
karena mengandung banyak toksin botulin tipe E walaupun kadar garamnya mampu
menghambat pertumbuhan C.botullinum tipe E. Satu kemungkinan adalah ikan tersebut
mengandung kadar garam yang rendah saat dikeringkan di suhu ruang, menjadi racun,
lalu dimasukkan ke dalam air asin. Peraturan disebarkan untuk melaranng prosesnya,
distribusi, dan penjualan Kapchunka dan tipe-Kapchunka di US.
Sebuah bawang potong botolan di dalam minyak terlibat dalam kasus botulim di
Kingston, NY. Dua pria dan satu wanita masuk rumah sakit disebabkan botulism setelah
mengonsumsi bawang potong botolan dalam minyak yang sudah dioleskan pada garlic
bread. Bawang botolan ini hanya dipercaya di dalam referigerasi untuk meyakinkan
keamanan dan tidak mengandung tambahan antibotulin atau penghalang. FDA meminta
pabrik untuk berhenti membuat produk dan untuk menarik produk dari pasaran yang
tidak termasuk penghambat mikroba atau pengasam dan tidak butuh referigerasi untuk
keamanan.
Alishia Putri Maitsaa / 135100100111041 / Keamanan Pangan & Toksikologi / A