Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, merupakan bahan
mentah yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan
teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus, yang tidak dapat ditiru oleh
bahan-bahan lain. Pengetian kayu disini ialah sesuatu bahan, yang diperoleh dari
hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon
tersebut, setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dapat
dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan penggunaan. Baik berbentuk kayu
pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar (Frick Heinz,1977). Kayu
memiliki 4 unsur yang esensial bagi manusia antara lain : (Felix, 1965)
1. Selulosa
Unsur ini merupakan komponen terbesar terbesar pada kayu, meliputi
70% berat kayu, salah satu bahan dapat diperoleh dari selulosa
adalah Alpha-selulosa yang merupakan dasar utama pembuatan kertas,
tekstil, plastik dan bahan-bahan peledak.
2. Lignin
Lognin merupakan komponen pembentuk kayu yang meliputi : 18% 28% dari berat kayu, komponen tersebut bertugas sebagai pengikat
satuan strukturil kayu dan memberikan sifat keteguhan kepada kayu.
3. Bahan-bahan ekstrasi
Komponen pembentuk kayu ini memberikan sifat-sifat tertentu pada
kayu seperti : bau, warna, rasa dan keawetan. Selain itu karena adanya
bahan ekstrasi ini, maka dari kayu bisa didapatkan hasil yang lain
misalnya : tannin, zat warna, minyak, getah, lemak, malam, dan lain
sebagainya.
4. Mineral pembentuk abu
Komponen ini tertinggal setelah lignin dan selulosa terbakar habis.
Banyaknya komponen ini 0,2%-1% dari berat kayu.
Sebagai mahasiswa-mahasiswi dari rekayasa kehutanan, kita tentu perlu
untuk mengetahui ciri dari struktur makroskopis dan miskropis kayu, dikarenakan
dengan kita memilih jurusan ini, maka kita akan selalu berhubungan dengan kayu.
Untuk itu penting bagi kita mulai mengenal ciri-ciri dan struktur kayu yang ada.
Karena untuk mempelajari kayu tidak hanya berdasarkan bagian luarnya saja
(makroskopis) yang harus diamati, karena setiap kayu mungkin saja terlihat sama
apabila dilihat dari luarnya (makroskopisnya), namun setelah diamati pada bagian
mikroskopisnya ternyata adanya perbedaan mendasar antara pohon yang satu
dengan pohon yang lainnya.

Untuk mempelajari suatu pohon kita tidak cukup hanya mempelajari


bagian luarnya saja (makroskopis), namun kita juga harus mengidentifikasi ciri
dari struktur mikroskopis kayunya juga agar terlihat jelas perbedaan mendasar
dari kayu satu dengan kayu lainnya.
1.2. Tujuan
1. Menentukkan persentase kayu teras, kayu gubal, dan kebundaran batang
Suren (Toona sinensis).
2. Menentukkan umur kayu Suren (Toona Sinensis) dengan menghitung
lingkaran tahun.
3. Menentukkan ciri-ciri pembuluh/pori, jenis parenkim, dan tipe jari-jari
sampel kayu jenis Angiospermae (Hardwood).
4. Menentukkan arah saluran interseluller sampel kayu Pinus sp.

BAB 2
CARA KERJA

2.1. Jaringan Xylem, Kebundaran Batang, dan Lingkaran Tumbuh


Untuk cara kerja yang pertama adalah cara kerja untuk metode pengkuruan
proporsi kayu gubal dan kayu teras serta kebundaran batang. Pertama-tama adalah
disiapkan disk (lempengan kayu) millimeter blok dan kalkir/plastik transparansi,
setelah itu dipasangkan plastik ke disk dan digambarkan batas antara kayu gubal
dan kayu teras. Digunting batas luar kayu (gubal) dan dijiplak atau digambarkan
pada kertas milimeter blok, dan dilakukan pula cara tersebut pada kayu teras.
Setelah digambar, lalu dihitung luas daerah kayu teras dan luas kayu secara
keseluruhan. Luas kayu dapat dihitung dengan ketentuan:
1. Kurang dari 0,25cm2 dihitung 0,2cm2
2.Antara 0,3-0,7cm2 dihitung 0,5cm2
3. Lebih dari 0,75cm2 dihitung 1cm2
Setelah itu kayu digambar, ditandai jari-jari empulurnya dan jari-jari empulur
dijadikan sebagai pusatnya. Dihitung jarak terjauh dari jari-jari empulur untuk
dihitung pada bagian luas kayu silindris dengan rumus r2. Persentase kayu
teras dapat dihitung menggunakan rumus:
Luas Kayu Teras =

luas kayu teras


x 100
luas kayu secarakeseluruhan

Kayu Gubal (%) = 100% - Persentase Kayu Teras


untuk menghitung kebundaran batang, sebelumnya harus mengetahui jari-jari
dari pohon tersebut. Setelah itu dapat menggunakan rumus:
Kebundaran Batang (%) =

Luas Kayu Secara Keseluruhan


x 100
Luas Kayu Silindris

2.2. Identifikasi Struktur Kayu


2.2.1. Identifikasi Struktur Kayu Jenis Angiospermae (Hardwood)
Dua sampel kayu diberikan pada kami jenis angiospermae (hardwood), yang
pertama Mindi atau Melia azedarach dan yang kedua adalah Jabon atau
Antochepalus cadamba. Untuk cara kerja identifikasi struktur kayu adalah
pertama-tama diambil contoh kayu dengan ukuran 2 x 2 x 10 cm, lalu disayat
dengan pisau pada penampang melintang dan disayat hampir sejajar dengan
penampangnya. Diamati bekas sayatan tersebut menggunakan loupe, dan
ditentukan tipe jari-jari kayu, pembuluh serta parenkim. Diamati juga saluran
damar atau endapan-endapan yang ada dalam kayu bila ada. Digambar dan
dituliskan sifat/ciri yang ada dari hasil pengamatan tally sheet yang telah
disediakan. Untuk pengamatan pada penampang radial, disayatnya harus sejajar
3

dengan salah satu jari-jari kayu, dan untuk mendapatkan pengamatan pada
penampang tangensial maka disayatnya harus tegak lurus dengan salah satu jarijari kayu. Setelah itu baru diidentifikasi untuk bagian pembuluh/pori, bagian
parenkimya dan jumlah jari-jarinya.
2.2.2. Identifikasi Struktur Kayu Jenis Pinus sp. (Softwood)
Pada kayu softwood, jenis Pinus sp yang akan diamati pada pengamatan
bagian ini. Untuk cara kerja identifikasi struktur kayu adalah pertama-tama
diambil contoh kayu dengan ukuran 2 x 2 x 10 cm, lalu disayat dengan pisau pada
penampang melintang dan disayat hamper sejajar dengan penampangnya. Diamati
bekas sayatan tersebut menggunakan loupe, dan ditentukan tipe jari-jari kayu,
pembuluh serta parenkim. Diamati juga saluran damar atau endapan-endapan
yang ada dalam kayu bila ada. Digambar dan dituliskan sifat/ciri yang ada dari
hasil pengamatan tally sheet yang telah disediakan. Untuk pengamatan pada
penampang radial, disayatnya harus sejajar dengan salah satu jari-jari kayu, dan
untuk mendapatkan pengamatan pada penampang tangensial maka disayatnya
harus tegak lurus dengan salah satu jari-jari kayu. Setelah itu baru diidentifikasi
untuk bagian pembuluh/pori, bagian parenkimya dan jumlah jari-jarinya.

BAB 3
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan


Data yang didapatkan dari hasil pengukuran kayu Toona sinesis yang dihitung
menggunakan milimeter blok, kemudian dihitung menggunakan rumus yang telah
ada. Untuk data terlampir pada lampiran. Setelah didapatkan data tersebut maka
selanjutnya adalah dihitung luas bidang keseluruhan, luas bidang teras, luas
bidang gubal. Untuk kelompok kami didapatkan hasil untuk luas bidang
keseluruhan yaitu 442,5, luas kayu teras didapatkan 56,35%, luas kayu gubalnya
adalah 43,7%.
Untuk menghitung luas kayu silindris diperlukan perhitungan jari-jari terbesar
dari kayu tersebut dengan empulur sebagai titik tengahnya. Pada kelompok kami
didapatkan jari-jari pohon tersebut sebesar r=14,2. Lalu didapatkan luas kayu
silindris sebesar 633,5, kebundaran batangnya adalah 69,85%.
Selanjutnya kelompok kami menghitung lingkaran tahun pada kayu Toona
sinensis dengan cara melihat banyaknya lingkaran yang berada pada batang kayu
tersebut. Pada kelompok kami terlihat ada sembilan lingkaran tahun yang terlihat
pada kayu Toona sinesis.
Untuk pengamatan selanjutnya yaitu mengidentifikasi struktur kayu (ciri-ciri
makroskopis). Yang pertama adalah kayu Mindi atau Melia azedarach. Pada
pengamatan kayu ini, ada beberapa ciri-ciri yang terlihat yaitu pada bagian
pembuluh porinya dan jari-jarinya. Untuk pola penyebaran berbentuk tata lingkar,
untuk susunan dan gabungan berbentuk soliter. Untuk jumlah pori per satuan luas
adalah sedang (5-10 pori) dan untuk bagian jari-jarinya adalah jarang (4-5/mm).
Untuk parenkim yaitu berbentuk parenkim pita marginal. Untuk gambar sayatan,
baik penampang lintang, radial dan tangensial terdapat pada lampiran.
Selanjutnya adalah pengamatan pada kayu Jabon atau Antocephalus
cadamba. Pada kayu ini pengamatannya sama seperti pada kayu Mindi, yaitu
diamati bagian pembuluh/ pori dan jari-jarinya. Pada pola penyebaran berbentuk
tata baur, pada susunan dan gabungan berbentuk soliter, jumlah pori per satuan
luas yaitu sedikit (< 5 pori) dan jari-jarinya sangat jarang (< 3/mm). Untuk
gambar baik penampang lintang, penampang radial dan penampang tangesial
terdapat pada lampiran.
Pengamatan yang terakhir adalah pengamatan pada pohon pinus sp. Untuk
bagian pola penyebarannya adalah tata baur, susunan dan gabunganya berbentuk
soliter, jumlah pori per satuan luas yaitu sedikit (< 5 pori). Untuk saluran
interselluler/getah/dammar memiliki arah aksial yang tersebar. Untuk gambar
terdapat pada lampiran, baik penampang lintang, penampang radial, penampang
tangensial.
Table 3.1 Tabel data ciri-ciri makroskopis hardwood
5

Jenis kayu

Pembuluh/Por
i

Susunan
dan
Gabunga
n

Jumlah
pori
per
satuan
luas
(mm2)

Jarijari

Saluran
Interselluler
/getah/dama
r

Melia
azedarach

Tata lingkar

Soliter

Sedang
(5-10
pori)

Jarang
(45/mm)

Antocephalu
s cadamba

Tata baur

Pasangan

Sedikit
(< 5
pori)

Sangat
jarang
(<
3/mm)

Pinus sp

Tata baur

soliter

Sedang
(5-10
pori)

Jarang
(45/mm)

Aksial
secara
tersebar

3.2 Pembahasan
3.2.1. Jaringan Xylem, Kebundaran Batang, dan Lingkaran Tumbuh
Xilem berfungsi sebagai mengangkut air dari tanah serat zat yang terlarut di
dalamnya. Untuk xilem terbagi menjadi dua yaitu xilem sekunder dan xilem
primer. Bila xilem primer terdiri dari jenis sel yang sama dengan pada xilem
sekunder yakni unsur trakeal (trakea dan trakeid), serat dan sel parenkim. Tetapi
semua sel itu tidak tersusun dalam sistem aksial dan radial karena tidak
mengandung jari-jari empulur. Pada batang, daun dan bagian bunga, xilem primer
serta floem yang ada padanya tersusun dalam berkas pembuluh atau ikatan
pembuluh dalam batang. Panel tersebut sering disebut jari-jari medulla dan
dianggap merupakan bagian jaringan dasar.
Untuk xilem sekunder system aksial terdiri dari sel atau deretan sel yang
sumbu panjangnya terletak sejajar sumbu batang dan akar. System radial terdiri
dari sejumlah sel terletak dalam bidang horizontal yang arahnya radial, dalam
batang dan akar. Pada potongan melintang batang sering menampakkan bagian
tengah yang lebih gelap dan dikelilingi oleh bagian luar yang lebih terang/muda
warnanya, yaitu:
a. Kayu Gubal (sapwood), untuk warna kayu gubal memiliki warna yang lebih
terang, berada pada bagian pinggir kayu, terdiri atas sel-sel yang masih hidup

terletak disebelah dalam kambium. Berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat
penimbunan zat-zat mengandung gizi (IL Rahman, 2010).
b. Kayu Teras (heartwood), untuk warna kayu teras memiliki warna lebih gelap
dibandingkan dengan kayu gubal. Terletak dibagian tengah dan sel-selnya telah
mati, namun masih berfungsi untuk menunjang pohon. Untuk kekuatan kayu,
kayu teras lebih kuat dibandingkan dengan kayu gubal (IL Rahman, 2010).

Gambar 3.1 Bagian-bagian kayu


(Sumber : http://3.bp.blogspot.com/-ZVNc3VLR-1E/UHRQotJd_I/AAAAAAAAAB0/gSBPd0mQVpc/s1600/New+Picture1.png)

Ada pula yang disebut dengan lingkaran tahun/tumbuh yang terdiri atas satu
pita gelap untuk musim kemarau dan satu pita terang untuk musim hujan yang
menggambarkan musim yang berlangsung dalam satu tahun, dan pada pohon juga
sebagai penentu umur pohon tersebut. Namun kita pun tidak dapat menarik
kesimpulan bahwa garis-garis pada pohon merupakan lingkaran tahun,
dikarenakan bisa saja dalam waktu setahun tersebut musimnya berubah-ubah,
maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai lingkaran tumbuh. Selain itu adapula
yang dinamakan dengan kayu awal (earlywood) dan kayu akhir (latewood).
a. Kayu awal (earlywood) memiliki ukuran diameter yang lebih besar dan
merupakan kayu pada awal musim pertumbuhan di daerah tropis yaitu musim
kemarau.
b. Kayu akhir (latewood) memiliki ukuran yang lebih kecil di daerah tropis yaitu
musim hujan.

Gambar 3.2 Latewood dan earlywood


(Sumber : http://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://petrifiedwoodmuseum.org/Images/SequoiaGrowthRingsLabel560.jpeg&imgrefurl=http://petrifi
edwoodmuseum.org/AnatomySequoiaGrowthRings.htm&h=420&w=560&tbnid=wCCUAGgZdnZLTM:&do
cid=eEKxMfI2mZqj3M&ei=ZFwJVqmjF5KJuwSsprKoBQ&tbm=isch&ved=0CCkQMygQMBBqFQoTCKn
lqrCFmsgCFZLEjgodLJMMVQ)

Lingkaran tahun (Annual Ring), lingkaran tumbuh nampak karena adanya


kayu awal dan kayu akhir, kayu awal adalah kayu yang terbentuk pada saat
kondisi pertumbuhan baik. Sel-sel pada kayu awal berongga besar, berdinding
tipis dan diameter sel besar. Kayu akhir adalah kayu yang terbentuk dimana
kondisi pertumbuhan sudah rendah, sel-sel kayu akhir berongga kecil, berdinding
tebal dan diameter sel kecil (Khukuh Franjaya, 2012). Untuk kebundaran batang
didapatkan dari rumus pembagian antara luas kayu keseluruhan dibagi dengan
luas kayu silindris dikali dengan seratus persen.
3.2.2 Identifikasi Struktur Kayu
3.2.2.1. Identifikasi Struktur Kayu Jenis Angiospermae (Hardwood)
Pada pengamatan kayu Mindi atau Melia azedarach ditemukan ciri-ciri
makroskopis pada pola penyebarannya berbentuk tata lingkar, susunan dan
gabungannya berbentuk soliter, untuk jumlah pori per satuan luas (mm2)
berukuran sedang (5-10 pori), parenkimnya berbentuk parenkim pita marginal dan
jari-jarinya jarang ( 4-5/mm). Kayu mindi memiliki tekstur yang menyerupai kayu
jati atau mahoni. Di masyarakat kayu mindi sudah meluas, diantaranya digunakan
untuk perabot rumah tangga, kusen, gelagar, perahu, papan dan bangunan di
bawah atap, untuk panil-panil kayu dan juga beberapa sortimen kayu
(Martawijaya, 1989).
Untuk sifat makroskopis tekstur adalah kesan permukaan kayu ditunjukkan
oleh besar-kecilnya diameter sel-sel penyusunnya (Haygreen dan Bowyer 1986).

Menurut Pandit (2002), ukuran pori tersebut termasuk dalam kelas sedang dan
oleh karena itu kayu mindi dapat dinyatakan memiliki tekstur agak kasar. Selain
itu, kayu mindi memiliki serat yang lurus dan tidak memiliki saluran damar.
Untuk sifat mikroskopis pori atau pembuluh yang terlihat pada penampang
lintang berbentuk bulat sampai oval. Pola penyebaran pori tersebar menurut pola
tata lingkar yaitu pembuluh yang berdiameter besar tersusun dalam deret
konsentrik pada awal lingkar tumbuh sedangkan pembuluh kecil tersusun dalam
deret konsentrik pada awal lingkaran tumbuh dan susunan porinya soliter.
*Tabel 3.1 Hasil pengukuran pori
No.

Elemen pori

Nilai

1.

Pori-pori pada diameter tangensial

139,72m

2.

Nilai pori-pori per 4 mm2

16-21

*hasil ini didapatkan dari pengamatan bu Marsha yang mempunyai sitasinya,


yang membuktikan pori-pori dari kayu Melia azedarach.
Untuk parenkim jari-jari kayu mindi berupa jari-jari berseri satu sampai tiga
(IAWA, 2008). Menurut Martawijaya dkk (1995) maka jari-jari kayu mindi
termausk kelas sangat sempit (<15m) sampai sempit (15-30m), jumlah jari-jari
jarang ( 4-5/mm). Komposisi jari-jari homoseluler terdiri dari sel baring yang
berbentuk seperti persegi panjang dan memiliki susunan yang teratur.
Pada parenkim aksial dilihat dari penmanpang melintangnya, kayu mindi
memliki parenkim bertipe parenkima selubung yaitu parenkima yang berbentuk
selubung lengkap di sekeliling pembuluh, bundar atau sedikit lonjong (Mandang
dan Pandit, 1977).
Dari hasil pengukuran dan pengamatan, dapat dilihat bahwa kayu mindi
memiliki corak yang cukup bagus, mengering tanpa cacat dan memiliki tekstur
yang sedang (Martawijaya, 1989).
Kayu mindi termasuk jenis kayu yang mempunyai panjang serat yang pendek
yaitu 599,3m dengan diameter serat tipis yang bernilai 6,47 m dan dinding
sel tipis yang bernilai 2,07m. Berbeda dengan penilitian sebelumnya yang
menyebutkan dimensi serat kayu mindi memiliki panjang 830m, diameter serat
14,67m dan dinding sel 2,5m. perbedaan ini mungkin dikarenakan kayu yang
digunakan merupakan kayu juvenile (Praptoyo, 2010).
Untuk selanjutnya merupakan pengamatan kayu Jabon atau Antocephalus
cadamba, pada bagian kayu teras dan kayu tidak dapat dibedakan. Corak kayu
berbentuk garis-garis lurus sampai miring berwarna cokelat, tebal garis 1-2 mm

dengan jarak yang tidak beraturan tampak pada bidang tangensial. Tekstur agak
halus dan merata, arah serat lurus dan kadang-kadang agak berpadu, permukaan
kayu agak mengkilap, kesan raba permukaan kayu agak licin sampai licin dan
kekerasan sedang.
Lingkaran tumbuh tidak jelas. Pembuluh (pori) baur, berganda radial 4 atau
lebih biasa dijumpai. Menurut pribadi ddk, 2010 menyatakan dimensi serat 23,956
, tebal dinding serat 2,788, diameter serat 18,380, bilangan runkel 0,3%, daya
tenun 65%, nisbah mulsteph 41%, koefisien kekakuan 0,12%, dan perbandingan
fleksibilitas 0,77%.
Tipe sel parenkim aksial lebih dari 8 sel per untai. Jari-jari terdiri atas 2
ukuran yang jelas. Jari-jari kecil 1-3 seri dan jari-jari umumnya 4-10 seri.
Komposisi sel jari-jari dengan 1 jalur sel tegak dan atau sel bujur sangkar
marjinal.
Berdasarkan dimensi serat dan turunannya, kayu jabon termasuk dalam kelas
kualitas I untuk bahan baku pulp. Berdasarkan nilai kerapatan, keteguhan luntur,
keteguhan tekan sejajar serat, maka kayu jabon termasuk kedalam kelas kuat IVIII (Rinanda dkk, 2012).
3.2.2.2. Identifikasi Struktur Kayu Jenis Gymnospermae (Softwood)
Pengamatan kayu jenis gymnospermae ini adalah kayu pinus sp. Untuk kayukayu pinus jenis (softwood) batas lingkaran tumbuh tampak lebih jelas
dibandingkan kayu yang termasuk ke dalam kelompok hardwood. Menurut
Haygreen et al. (2003), kejelasan lingkaran tumbuh pada kayu dipengerahui oleh
perubahan struktur yang mendadak pada batas antara kayu awal dan kayu akhir
akibat perubahan musim. Kekurangjelasan lingkaran tumbuh pada jenis hardwood
ini disebabkan oleh bentuk sebaran porinya. Pinus sp memiliki pori baur. Menurut
Haygreen et al (2003), sebaran pori baur menunjukkan tidak adanya perbedaan
atau sedikit perbedaan dalam ukuran dan jumlah pembuluh diseluruh lingkaran
pertumbuhan secara kasat mata serta proporsi kayu awal dan akhir.
Untuk saluran interselluler/getah/dammar memiliki arah yaitu aksial dan
secara tersebar. Untuk sifat makroskopisnya, dikarenakan kayu pinus sp
merupakan kayu softwood maka batas lingkar tumbuhnya lebih terlihat jelas
dibandingkan pohon hardwood.
Table 3.2 Kerapatan dan persentase kayu teras-kayu gubal
Jenis Kayu

Kerapatan kayu (gram/cm3)


Kayu teras

Kayu gubal

10

Persentase (%)
Kayu teras

Kayu gubal

Pinus
merkusii

0,56

0,54

15,79

84,21

Pinus
insularis

0,58

0,57

36,05

63,95

Berdasarkan tabel pengamatan diatas yang didapat dari sitasi, dijelaskan


bahwa serat kayu softwood lebih panjang daripada kayu hardwood yang
mencapai sekitar 500 m. Begitu pula untuk dimensi yang lain yaitu diameter
serat, lumen dan tebal dinding sel masing-masing 51 m, 35,09 m, dan 7,96 m.

BAB 4

11

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan untuk menghitung
persentase kayu teras, kayu gubal, dan kebundaran batang suren
didapatkan hasil untuk persentase kayu teras adalah 56,3%, persentase
kayu gubal adalah 43,7%, dan kebundaran batang suren adalah
69,85%
2. Untuk pengamatan umur kayu suren atau Toona sinensis pada
kelompok kami terdapat sembilan lingkaran tahun. Artinya umur
pohon tersebut dapat dikatakan kurang lebih sekitar Sembilan tahun
3. Untuk ciri-ciri pembuluh pori, jenis parenkim, dan tipe jari-jari kayu
hardwood pada kayu mindi atau Melia azedarach adalah pola
penyebaran berbentuk tata lingkar, susunan dan gabungan berbentuk
soliter, jumlah pori sedang (5-10 pori), parenkim berbentuk parenkim
pita marginal, dan jar-jari agak jarang (4-5/mm). Untuk kayu jabon
atau Antocephalus cadamba pola penyebarannya tata baur, susunan
dan gabungan berbentuk soliter, jumlah pori sedikit (< 5 pori) dan
jumlah jari-jari sangat jarang (< 3/mm).
4. Untuk arah interselluler/getah/dammar kayu pinus sp yang telah kami
amati, terlihat bahwa arahnya aksial yang tersebar.
4.2 Saran
Untuk bagian mengamati struktur mikroskopis batang agak susah, karena
terlalu kecil dan kurang terlihat apabila menggunakan loupe, diperlukan
sekali sayatan lagi agar terlihat jelas.

DAFTAR PUSTAKA

12

Felix Yap, K.H., Konstruksi Kayu, Bina Cipta, Bandung, 1965.


Frick, Heinz, Ilmu Konstruksi Kayu, Yayasan Kansius, Yogyakarta, 1977.
Haygreen JG, R Shmulsky, JL Bowyer. 2003. Forest Product and Wood Science,
An Introduction. USA: The Lowa State University Press.
Hidayat, Estiti, Anatomi Tumbuhan Berbiji, Penerbit ITB, Bandung, 1995.
IAWA. 2008. Identifikasi Kayu: Ciri Mikroskopik untuk Identifikasi Kayu Daun
Lebar. Badan Penelitian dan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hasil Hutan. Bogor.
Mandang, Y.I., Pandit, I.K.N., 1997. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu Mindi
Ekonomi Vol 2 No.2, Puslitbang Hasil Hutan, Bogor 2001.
Martawijaya, A., Kartasujana, Mandang, Y.I., Prawira, S.A., dan Kadir, K., 1989.
Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan. Departemen Kehutanan Indonesia. Bogor.
Pandit, I.K.N., Ramdan, H. 2002. Anatomi Kayu. Pengantar Sifat Kayu Sebagai
Bahan Baku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.
Praptoyo, Harry. 2010. Sifat Anatomi dan Sifat Fisik Kayu Mindi (Melia
azedarach) dari Hutan Rakyat di Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kehutanan, vol IV
No.1

Lampiran
13

Penampang melintang kayu Jabon

Penampang radial kayu Jabon

Penampang tangensial kayu Jabon

Penampang melintang kayu Mindi

Penampang tangensial kayu Mindi

14

Penampang radial kayu Mindi

Penampang melintang kayu Pinus

Penampang radial kayu Pinus

Penampang tangensial kayu Pinus

15