Anda di halaman 1dari 7

Anak yang Hilang

Asri meneguk lagi minuman beralkohol yang berada di hadapannya, dia sama sekali
tidak memperdulikan hingar bingar orang yang berada di sekitarnya. Musik yang mengehentakhentak, suara tawa dari berbagai sudut, orang-orang yang menari dengan gilanya, sudah
menjadi hal yang biasa bagi asri.

Fanny : Hey sri, tumben lu malem ini minum banyak banget?( Asri hanya diam tidak
tidak menjawab, mulutnya masih saja menegak minuman beralkohol itu hingga
tidak bersisa lagi)
Asri

: Pesenin gua satu gelas lagi fann!

Fanny : lu, udah minum tiga gelas, masih mau minum lagi? Entar kalau gua bawa lu
pulang dengan keadaan mabuk begini bisa dibunuh bokap lu!
Asri

: Aahh! Masa bodo sama bokap! Pesenin gua satu lagi!!!! Cepetan!!!!( sambil
menyodorkan gelasnya pada fanny. Fanny hanya bisa menghela nafas melihat
keadaan sahabatnya yang satu ini)

Fanny : Udah cukup lu minumnya, ayo sekarang gua anter lu pulang!( fanny berusaha
menyeret asri, tapi asri menyeret tubuhnya dan kembali ke sofa)
Asri

: Gue enggak mau pulang, gua mau di sini! Ini dunia gue ! kalau lu mau pulang.
Lu pulang aja sendiri !!!

Fanny : Gue bisa dihabisin sama bokap lu ntar, kalau lu gue tinggalin di sini !
Asri

: Ah, Persetan dengan bokap gue !

Fanny : Oke deh, lu pilih, gua anter pulang sekarang atau lu mau gua telpon bokap lu ?(
ancam fanny yang mulai kehabisan kesabaran dengan sahabatnya yang satu ini)
Asri

: Oke, oke gua pulang sekarang( berusaha berdiri dan berjalan dengan
terhuyung-huyung. Baru beberapa langkah asri menabrak seorang lelaki)

Robby: Hey lu engga kenapa napa ?( memegang sikut asri yang hampir terjatuh. Asri
hanya mengangguk angguk tidak peduli, fanny yang melihat langsung memapah
sahabatnya)
Fanny : Sorry yah, dia lagi mabuk.
Robby: Its ok. Butuh bantuan?( melepaskan pegangan pada asri)
Fanny : Thanks, tapi gak usah, gua bisa sendiri kok( memapah asri dari hingar bingar)

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati mereka hingga hilang dari balik pintu
keluar.

Keesokan harinya di kamar Asri.


Parjo : Non asri ayo bangun, udah pagi.( mengguncang tubuh asri yang masih terlelap
di kasurnya. Perlahan asri membuka matanya, kepalanya terasa sangat berat
dan dunia seakan berputar)
Asri

: Udah jam berapa mas?

Parjo : Udah jam 6 non, entar non terlambat sekolah lho( seraya membereskan kamar
asri yang terlihat seperti kapal pecah. Asri tidak bergeming dari kasurnya,
kepalanya masih tidak bisa diajak kompromi)
Asri

: Ayah udah berangkat mas?

Parjo : Udah non, baru saja. Ayah non marah banget non pulang dengan keadaan
mabuk tadi malam.( Jelas mas parjo masih membersihkan kamar asri. Asri
hanya menghela nafas panjang, kemudian berusaha bangun dari kasurnya.
Dengan langkah gontai dan terhuyung huyung asri berjalan menuju kamar mandi
untuk mempersiapkan diri ke sekolah)
Asri

: Mas, aku berangkat yah( seraya menyambar roti panggang gosong yang
terletak di atas meja makan)

Parjo : Eeh, non! Minum susu coklatnya dulu( menyusul asri sambil memegang
segelas susu coklat yang hangat dan menyodorkannya pada asri. Dengan sekali
teguk asri segera menghabiskan susu coklatnya)
Asri

: Aduuh mas, kenapa selalu kemanisan sih( belum sempat mas parjo menjawab,
Asri sudah pergi ke sekolah. Mas parto hanya bisa mengelus-elus dadanya
melihat nona kesayangannya selalu bertingkah seperti itu setiap pagi hingga ia
tidak pernah sempat menjelaskan sesuatu hal yang penting untuk asri)

Asri

: Ah, mas mesti selalu deh buat roti gosong

Tidak biasanya asri menegak minuman beralkohol sebanyak tadi malam, biasanya asri
hanya meneguk sedikit untuk menghangatkan badan dan turut berdansa hanya untuk melepas
stress. Tapi asri memiliki alasannya, kenapa ia minum sebanyak itu hingga mabuk. Ada hal
yang ingin asri lupakan meskipun sampai saat ini ia masih mengingatnya.

Saat pulang sekolah


Fanny : Sri, lu mau ke bar lagi?

Asri

: Iya, tapi gue mau pulang dulu, mau ganti baju( sambil menyampirkan tas
selempangan di lengannya)

Fanny : Oke deh, gua jemput seperti biasa ?


Asri

: Boleh, yuk pulang.( kemudian berjalan menuju parkiran diikuti fanny)

Siang itu asri baru pulang dari sekolahnya, tidak seperti biasanya, mobil ayahnya sudah
terparkir di garasinya. Tentu saja itu membuat asri senang dapat bertemu dengan ayahnya. Tapi
apa yang dilihat asri di ruang tamu adalah sesuatu yang sangat tak ingin asri lihat, ayahnya
sedang mengobrol dengan sekretarisnya, sekretaris fiona. Gadis yang sangat asri benci. Di
mata asri sekretaris fiona selalu berusaha mendekati ayahnya, seperti saat ini, sekretaris fiona
tertawa centil mendengar gurauan ayahnya dan beberpa kali mencubit lengan ayahnya itu.
Fiona : Pak, non asri sudah pulang tuh.

Ayah : Lho, asri udah pulang toh.


Asri

: Ya ( menatap tajam pada sekretaris yang tersenyum manis padanya, dengan


tatapan dingin asri berlalu dari ruangan tersebut)

Ayah : Sri, ada tamu kok malah engga disapa ?


Asri

: Tamu siapa maksunya ? kalau ayah maksud tamunya dia, buat aku dia bukan
tamu yah. Tapi setan yang numpang lewat doang !

Ayah : Asri ! kamu yang sopan yah!


Fiona : udah gapapa, pak. Jangan dimarahin non asri nya namanya juga anak muda,
pak.
Ayah : gapapa kok, anak ini udah keterlaluan, udah kurang ajar ! gak sopan sama
yang lebih tua !
Asri

: Aku sopan kok yah, kalau bukan sama dia.

Ayah : Siapapun tamu ayah dan dia lebih tua dari kamu, kamu harus tetap sopan tidak
peduli kamu suka atau tidak!
Asri

: Ohh gitu. Ahh lupaaa ayah kan selalu belain dia daripada anaknya sendiri.

Ayah : Asri!
Asri

: Kenapa yah? Kalau ayah mau nikah sama dia sih engga apa-apa tapi asri
ogah. Cewek menjijikan kayak gini.( Belum sempat asri menyelesaikan

kalimatnya, tangan kanan ayahnya sudah melayang. PLLAAKK asri memegang


pipi kirinya yang memerah)
Ayah : Sekarang masuk ke kamarmu!!!!( Asri menatap ayahnya engan kesl, air
matanya mengenang di pelupuk mata gadis itu)
Asri

: Kenapa harus bunda yang pergi? Kenapa gak ayah aja? Asri benci ayah!!
( mengambil langkah seribu menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya.
Ayahnya hanya terkesiap mendengar kalimat yang dilontarkan asri)

Malam hari di rumah asri


Ayah : Asri, mau kemana kamu dengan pakaian seperti itu?( Asri hanya melengos
mendapati ayahnya yang berada di ruang keluarga.)
Asri

: Bukan urusan ayah.

Ayah : Ini urusan ayah, kamu anak ayah! Ganti bajumu!


Asri

: Kenapa aku harus mengikuti perintah ayah? Jadi ayah masih menganggap aku
anak ayah? Bagus deh kalau gitu. Tapi sayangnya aku enggak. Buat aku ayah
itu bukan ayah yang terbaik, jadi aku juga gak akan menuruti ayah.

Ayah : Apa? Kamu berani ngomong seperti itu sama ayah?( asri hanya menatap dingin
kemudian pergi keluar) Asri, ayah bilang kembali nak!!! (asri tetap berjalan
hingga hilang dari balik pintu. Ayahnya menghela nafas panjang, tanpa ia sadari
air matanya menggenang di pelupuk matanya)
Fanny : Yok sri, kenapa wajah lu kusut gitu? (Asri hanya mengangkat bahunya tidak
berani menjawab. Fanny hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya melihat
sahabatnya ini).
Sepanjang perjalanan asri hanya diam sambil menatap pemandangan yang dilaluinya.
Ia tahu kata-katanya terlalu kasar untuk ayahnya. Tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari
mulutnya. Bagi asri. Ayahnya itu sudah berubah. Sejak kematian ibunya, ayahnya terlalu sibuk
kesana kemari, kerja, kerja , dan kerja. Asri tahu, bukan salah ayahnya, ibunya meninggal,
ayahnya berusaha keras mencari uang yang banyak untuk asri. Tetapi asri juga ingin seperti
anak-anak lainnya yang mendapat perhatian oleh ayahnya.
Sudah berkali-kali ayahnya selalu melupakan janjinya, hingga akhirnya asri menyerah
dan melupakan janji yang dibuat ayahnya itu. Hubungan mereka merenggang dan bertambah
buruk sejak kehadiran sekretaris Fiona. Asri tahu ayahnya berusaha mendekatinya lagi, tapi asri
takut untuk kecewa lagi, dan untuk melepaskan beban itu, asri memilih bersenang-senang,
seperti saat ini.

Di bioskop
Fanny : Woy sri, tuh cowok ngeliatin lu trerus deh. Itu cowok yang kemaren lu tabrak
pas lu mabok lho sri.
Asri

: Masa sih ?

Fanny : Iya, kayaknya dia suka sama lu deh, tuh dia lagi ke sini.
Asri

: Ah, yang bener? Paling dia mau ngehampirin temennya.( belum sempat fannya
membalas, punggung asri ditepuk dari belakang. Asri mendapati pemuda tampan
itu berdiri di belakangnya)

Robby: Hey!
Asri

: Ohh, Hay!

Robby: Gue robby.


Asri

: Gue asri dan ini fanny (lengan fanny untuk beriri di sebelahnya)

Robby: Oh, udah gak mabuk lagi kan ?( tanya robby dengan senyum mautnya.
Membuat kedua pipi asri bersemu merah)
Asri

: Sorry yah kemaren

Robby: Iya gapapa. Duduk yuk? Gue traktir deh


Asri

: Boleh.

Fanny : Eh, gue di sini aja deh, gue masih mau ngedance nih (melepaskan genggaman
tangan asri)
Asri

: Tapi fan

Fanny : Udah sana lu kenalan sama cowok ganteng.( sambil mendorong bahu asri. Asri
hanya mengangguk dan mengikuti robby dengan ragu)
Robby: Ayo duduk. Udah gue pesenin minum kok.( sambil menepuk tempat di
sebelahnya)
Beberapa lama robby dan asri menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bertukar
cerita. Asri beberapa kali tertawa mendengar candaan robby, sampai seorang waitress
mengantarkan pesanan minuman mereka. Asri yang terlalu banyak tertawa langsung menegak
minumannya hingga habis. Tiba-tiba saja tubuhnya seakan melayang dan dunia di sekelilingnya
berputar.

Robby: Ada apa sri? ( sambil memegang sikut asri. Asri memandang pemuda itu
kemudian menggelengkan kepalanya)
Asri

: Engga apa, kepala gua cuman sakit aja.

Robby: Lu tidur dulu aja sri (menarik asri dan meletakan kepalanya dI lengan pemuda
itu. Asri menutup matanya berusaha melawan gelombang vertigo yang aneh itu,
tiba-tiba ia merasakan sesuatu)
Asri

: Gu..guee udah engga apa-apa rob, thanks yah( disambut senyuman robby)

Robby: Tapi lu masih pucet sri, udah istirahat aja dulu.


Asri

: Gue pulang aja deh rob. (mendorong pemuda itu menjauh,tapi robby malah
menggenggam tangannya dengan erat. Asri berusaha melepaskannya, tapi
tenaganya terlalu lemah)

Belum sempat asri berteriak, pemuda itu telah hilang dari hadapannya dan BUGG!! Asri
menoleh ke sumber suara. Robby sudah tergeletak di lantai sambil memegang bibirnya yang
berdarah kemudian orang berpakaian serba hitam menyeret robby keluar dari bar itu.

Suwandy
Asri

: Maaf, apakah nona baik-baik saja?

: Kau siapa?

Suwandy

: Saya disuruh ayah non untuk mengawasi nona (membantu asri berdiri
dengan benar)

Asri

: Ayahku??(tak percaya)

Suwandy

: Ayah non sangat memperhatikan non ( tersenyum)

Fanny

: Asri! Lu gapapa sri ? sorry ya, gue ninggalin lu (memeluk asri)

Asri

: Gue gapapa kok fan, thanks yah.

Suwandy

: Non, maaf menyela. Tapi saya membawa kabar untuk non, tentang ayah
non. Ayah non baru saja mengalami kecelakaan. Dan sekarang sedang
koma di rumah sakit. (Sesaat asri terdiam, otaknya masih menyerap
setiap kata lelaki itu)

Asri

: A ayaahku? Koma? Apakah kamu yakin?

Suwandy

: Saya yakin non, sebab saya baru saja menerima kabar dari mas parjo.

Sekejap saja Asri merasa dunianya berubah menjadi gelap. Dia pingsan di
tempat.

1 minggu kemudian
Asri menatap ayahnya yang masih saja menutup matanya, kemudian menghela nafas
panjang. Sudah satu minggu ayahnya koma dan belum sadar. Ayahnya mengalami kecelakaan
parah ketika sedang perjalanan menuju kantornya untuk meeting mendadak, ayahnya begitu
cemas mengkhawatirkan asri. Kebetulan mobilnya dikemudikan sendiri. Semua itu asri ketahui
dari mas parjo. Asri masih mengingatnya dengan sangat jelas, pernyataan yang dikatakan oleh
mas parjo seminggu lalu saat asri siuman dari pingsannya.

Parjo : Non, ayah non benar-benar memperhatikan non. Tuan sangat sayang pada non
asri. Semenjak kematian nyonya, ibunda non. Yang tuan pikirkan hanya
membuat non asri bahagia, karena itu tuan terus bekerja agar kebutuhan non
tercukupi. Tapi ternyata tuan salah, dan tuan sangat ingin memperbaiki
hubungan tuan sama non. Mungkin non asri tidak mempercayai ini, tapi setiap
pagi yang membuat sarapan adalah tuan, tuan selalu bangun lebih pagi dan
membuatkan nona sarapan. Tuan juga selalu tidur paling belakangan, menunggu
sampai nona benar-benar tidur. Tuan sellau memikirkan nona.
Penjelasan mas parjo yang panjang lebar membuat asri tersadar, dialah yang salah.
Tanpa ia sadari, asri memberi jarak untuk ayahnya, menutup setiap jalan bagi ayahnya yang
berusaha untuk masuk dan memperbaikinya hanya karena asri terlalu takut untuk dikecewakan
lagi oleh ayahnya. Perlahan air mata mengalir di kedua pipinya.

Asri

: Ayah, asri minta maaf. Asri salah pada ayah, asri terlalu takut untuk ayah
kecewakan lagi terima kasih ayah, asri selalu bangga pada ayah. Ayah selalu
berusaha menjadi yang terbaik sejak bunda tiada. I love you. Cepat bangun yah,
kita perbaiki dari awal lagi

Surga seakan mendengar penyesalan asri. Perlahan kedua kelopak mata lelaki
separuh baya itu terbuka perlahan, dan menatap tepat ke arah asri.

Ayah : Asri.
Di sekolah
Fanny : Asrii, hari ini lu ke bar lagi ga ?
Asri

: Enggak, gue mau kencan

Fanny : Hah ? Emang lu mau kencan sama siapa ? (Asri menunjuk dagunya ke arah
parkiran. Fanny hanya mengelengkan kepalanya dan tersenyum pada asri.)
Good luck deh sri, besok ceritain yaaa ( menepuk bahu sahabatnya yang
disambut anggukan ceria asri. Dengan seribu langkah asri menuju parkiran) Lu
emang udah berubah sri.
Asri

; Ayahhhhh !!!!!!!!!!!!!!