Anda di halaman 1dari 50

Perdarahan Post Partum et

causa sisa plasenta


Imelda Suryadita
112014332

Kasus

Pada tanggal 21 Mei 2015, pasien datang ke UGD Rs.


Simpangan Depok pukul 04.00 WIB dengan keluhan
perdarahan jalan lahir yang cukup banyak sejak pukul

03.00 pada saat menyusui. Darah yang keluar berwarna


merah segar dan terdapat gumpalan-gumpalan darah
berwarna hitam. Pasien mengeluh lemas dan tidak dapat
berjalan serta merasa nyeri di perut bagian bawah.

Pada tanggal 12 Mei 2015 pukul 01.30 pasien

melahirkan secara normal di bantu oleh bidan. Selama 6


hari setelah melahirkan pasien hanya keluar flek saja.
Dari UGD pasien di rujuk ke poli kebidanan Rs.
Simpangan depok untuk di lakukan tindakan lebih lanjut.

Identitas
Nama lengkap : Ny. A

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat/tanggal lahir : Bogor, 13

Suku Bangsa : Betawi

Desember 1986
Status Perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SMP

Alamat : Kp. Cilangkap, RT 01 RW 02.

G2

P2

A0

Tapos
Nama Lengkap : Bpk. D

Pekerjaan : Buruh pabrik

Umur

Alamat

: 30 tahun

Tapos

: Kp. Cilangkap, RT 01 RW 02.

Pemeriksaan Fisik:
Kesadaran

: Compos mentis
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi
: 104 x/menit
Suhu
: 36 oC
RR
: 24 x/menit, abdominal torakal
Konjungtiva: Anemis
Akral
: dingin
Tinggi

fundus : 1 jari di atas umbilikus, keras

Inspeksi

vagina: keluar darah cukup banyak

merah segar bercampur gumpalan darah


berwarna hitam.

Diambil dari : Autoanamnesis

Tanggal : 21 Mei 2015

Keluhan utama :
Perdarahan jalan lahir sejak 5 jam SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang :
perdarahan jalan lahir yang cukup banyak sejak pukul 03.00
pada saat menyusui. Darah yang keluar berwarna segar dan
terdapat gumpalan-gumpalan darah berwarna hitam. Pasien
mengeluh lemas dan tidak dapat berjalan serta merasa
nyeri di perut bagian bawah. 1 minggu sebelumnya pasien
melahirkan secara normal di bantu oleh bidan

RPD
Alergi

Ikan Laut, daging ayam,

telur.
Gastritis
Campak

Riwayat kehamilan
Kehamilan I : Usia kandungan 39 minggu, anak lakilaki, lahir tahun 2007 secara normal melahirkan di
bidan.
Kehamilan II

: Usia kandungan 39 minggu,

Komplikasi kehamilan terdahulu :


Setelah kelahiran anak pertama, pasien
mengalami perdarahan di karenakan
tertinggalnya sebagian jaringan plasenta di

HPHT
Haid

terakhir

Jumlah

: 6 Agustus 2014

dan lamanya: Jumlahnya normal

/tidak
lamanya

5 hari

Teratur/tidak

: Teratur

Nyeri/tidak

: Nyeri

Menarche

: 11 Tahun

Taksiran

: 13 Mei 2015

partus

Persalinan
N Waktu

Jenis

Cara

BBL

o kelahiran kelami persalina


n
1

2007

badan
Normal

laki
2

2015

Peremp
uan

Keadaan

n
Laki-

Panjan

3400

50 cm

Sehat

54 cm

Sehat

gram
Normal

3400
gram

Kontrasepsi

Suntikan 3 bulan
Berat

Badan

Berat

badan rata-rata (kg) : 45 kg


Berat tertinggi kapan
: 65 kg
Berat badan sekarang
: 55 kg

Pemeriksaan jasmani
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 55 kg
Tekanan darah
: 130/80 mmHg
Nadi
: 104 x/menit
Suhu
: 36 oC
Pernapasan (frekuensi dan tipe) : 24 x/menit, abdominal
torako
Keadaan gizi
: Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Sianosis
: tidak ada
Akral
: dingin
Edema umum
: tidak ada
Cara berjalan
: tidak dapat berjalan
Mobilisasi (aktif/pasif)
: Saat tiba di rumah sakit dan
segera sesudah kuretase mobilisasi pasif. Lima jam setelah
tindakan kuretase mobilisasi aktif, pasien dapat berjalan.

Inspeksi

Vagina : Di sekitar perineum

tampak bekas jahitan


Keluar darah segar dan gumpalan darah
berwarna hitam cukup banyak dari
vagina
Colok

Vagina

: Tidak di lakukan.

Pemeriksaan penunjang
Hb

: 6,3 g%

Leukosit

: 15.400 mm3

Hematokrit:
Trombosit
HCG

22 %
: 382.000mm3

: Negatif

Golongan

darah : AB/ Rh +

Hasil USG

Diagnosis kerja
P2A0 dengan Perdarahan Pasca Persalinan ec Sisa
Plasenta dan Anemia ( postpartum 1 minggu).

Dasar diagnosis

: dari hasil anamnesis pasien

terjadi perdarahan jalan lahir postpartum 1 minggu,


lemas,

tidak

pemeriksaan

dapat
fisik

berjalan

pasien

(limbung).

tampak

anemis.

Hasil
Hasil

pemeriksaan penunjang Hb 6,3 g%, Ht 22 %. hasil


USG terlihat sisa jaringan plasenta yang tertinggal.

Penatalaksanaan yang di
lakukan di RS

Pasang infus 2 jalur dan lakukan pemeriksaan darah


rutin

Memberi oksigen canul 5L

Dilakukan pemeriksaan USG

Oksitosin 20unit dalam 500 cc RL dengan 40 tetes


permenit

Bolus Dexametasone 2 ampul (10ml) , dan ganti


cairan dg NaCl sebelum transfusi darah

Transfusi darah 2 kantong (500 cc).

Lanjut penatalaksanaan

Antibiotik sefotaksim 1 gr bolus IV.

Dilakukan tindakan kuretase.

Bolus 1 ampul ( 1ml) methergin ( 200 mikrogram)

Observasi keadaan pasien setelah kuret.

Berikan sulfat ferosus 600mg/hari selama 10 hari


dan asam mefenamat tab. 500 mg 3x1 selama 5
hari

Edukasi gizi :
Ibu di sarankan banyak mengkonsumsi
makan - makanan yang bergizi dan
meminum obat yang telah di berikan
secara tepat.

Prognosis
Wanita

dengan perdarahan

pascapersalinan seharusnya tidak


meninggal akibat perdarahannya
.

Follow
Up
Pukul 09.00
S = pasien masih merasa lemas, pusing dan mual setelah
kuret.
O=

Tekanan darah : 110/70 mmHg


Nadi : 76 x/menit
RR : 22X/menit
Suhu : 37,5 derajat celcius
Tinggi fundus : 2 jari di bawah tali pusat
Perdarahan pervaginam : +

A = perdarahan postpartum sekunder ec sisa plasenta


P = sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari dan asam
mefenamat tab. 500 mg 3x1 selama 5 hari

Pukul 12.30
S = pasien masih merasa lemas, pusing dan
mual setelah kuret, penglihatan berkunangkunang.
O =
Tekanan darah : 170/100 mmHg
Nadi : 86 x/menit
RR : 24X/menit
Suhu : 37,5 derajat celcius
Tinggi fundus : 2 jari di bawah tali pusat
Perdarahan pervaginam : +
A = perdarahan postpartum sekunder ec sisa
plasenta
P = sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari
dan asam mefenamat tab. 500 mg 3x1 selama 5
hari

Pukul 13.30
S = keadaan ibu lebih membaik, sedikit agak pusing,
sudah dapat berjalan.
O=

Tekanan darah : 160/90 mmHg

Nadi : 69 x/menit
RR : 22X/menit
Suhu : 37,5 derajat celcius
Tinggi fundus : 2 jari di bawah tali pusat
Perdarahan pervaginam : +
A = perdarahan postpartum sekunder ec sisa plasenta
P = sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari

Perdarahan Post Partum

perdarahan >500 ml setelah bayi dan


plasenta lahir

menyebabkan

Sifat perdarahan PPP bisa


banyak, bergumpal-gumpal

perubahan tanda-tanda vital: sampai menyebabkan syok atau

Kesadaran menurun,

pucat,

limbung,

berkeringat dingin,

terus merembes sedikit demi


sedikit tanpa henti.
PPP bukan suatu diagnosis tetapi
suatu kejadian yang harus di cari
penyebabnya

sesak napas,

serta tensi <90 mmHg dan nadi > 100x/menit,


maka penanganan harus segera di lakukan

Perdarahan Post Partum

Perdarahan Post Partum

Primer
Definisi :

Sekunder

Pendarahan berlangsung

Pendarahan post partum

dalam 24 jam dengan pertama

setelah 24 jam pertama

jumlah 500cc atau lebih.

dengan jumlah 500cc atau lebih.

Penyebab :

Retensio plasenta

Tertinggalnya sebagian
plaseta atau membrannya.

Robekan jalan lahir :

Ruptura uteri inkomplet atau


-

Atonia uteri

Perlukaan terbuka kembali

komplet

dan menimbulkan

Perlukaan servikal

pendarahan.

Perlukaan vagina atau vulva


-

Perlukaan perineum

Infeksi pada tempat


implantasi plasenta.

Etiologi

proses dasar, yang disingkat 4 T, baik tunggal ataupun gabungan:

tone (kontraksi uterus yang buruk setelah persalinan),

tissue (retensi sisa hasil konsepsi atau bekuan darah , Bila sebagian
dari plasenta masih tertinggal dalam uterus disebut rest-plasenta),

trauma (pada saluran genital), atau

thrombin (abnormalitas pembekuan darah)

Sisa plasenta

Sisa plasenta bisa diduga kala uri


(kala III) berlangsung tidak lancar.

Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi


ke dalam rahim dengan cara
manual/digital atau kuret dan
pemberian uterotonika.

Anemia yang ditimbulkan setelah


perdarahan dapat diberi transfusi
darah sesuai dengan keperluannya.

Tranfusi Darah

PRC

Hb di bawah 6-7 g/dL menurunkan pasokan O2 ke


jaringan.

digunakan untuk mengatasi syok hemoragik

Tujuan transfusi darah pada keadaan ini adalah


restorasi cairan intravaskular yang hilang dan
pemulihan kapasitas membawa oksigen oleh sel darah
merah

INDIKASI TRANFUSI
Hb < 10g/dL disertai
pendarahan aktif

Untuk pasien pre


operasi nilai
ambang batas
transfusi
Hb <8g/dL ( tidak berisiko
iskemia)
< 10g/dL (berisiko
iskemia)

Hb < 8 / < 7 g/dL ps


dengan penyakit kronis
+ gejala hipoksia
(sesak, palpitasi,
pusing, gelisah)

Tidak dianjurkan
Transfusi profilaksis

Retensio plasenta

Faktor predisposisi terjadinya


plasenta akreta adalah
plasenta previa, bekas secsio
sesarea, pernah kuret
berulang, dan multiparitas

Tanda plasenta lepas


Uterus

makin menonjol

Keluar

darah lebih banyak

Pemanjangan

tali pusat

Robekan jalan lahir

Dihindari memimpin persalinan pada saat


pembukaan serviks belum lengkap
traumatik

Perdarahan yang terjadi saat kontraksi uterus


baik, biasanya terjadi karena robekan atau
sisa plasenta.

Semua sumber perdarahan harus di hentikan.

Atoni uteri

Keadaan lemahnya tonus/ kontraksi Rahim yang menyebabkan


uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat
implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.

Predisposisi

Regangan rahim berlebihan (gemeli, polihidramnion, anak terlalu


besar)

Kelelahan akibat persalinan lama

Kehamilan grande-multipara

Keadaan sebelumnya anemis

Mioma uteri

Infeksi intrauterina

Ada riwayat atoni uteri sebelumnya

Epidemiologi
Penyebab

Persentase

Atonia Uteri

50-60%

Sisa plasenta

23-24%

Retentio plasenta

16-17%

Laserasi jalan lahir

0,4-0,5%

Kelainan darah

0,5-0,8%

Penatalaksanaan
pencegahan,

penghentian

perdarahan

dan

mengatasi syok (ABC')

Perhatikan cara mengatasi syok (ABC)

koreksi hipovolemia (resusitasi cairan)

memberikan oksigen dengan masker,

monitoring tanda vital

memasang kateter untuk memonitor jumlah urin yang


keluar.

Monitoring saturasi oksigen juga perlu dilakukan.


Darah diambil untuk pemeriksaan rutin, golongan darah
dan skrining koagulasi

Penatalaksanaan
Manajemen
Uterotonika

Aktif Kala III

pemberian

misoprostol 600 g

oral atau sublingual bila dengan


uterotonika yaitu oksitosin dan
ergometrin perdarahan tidak
dapat dihentikan

kuret

Pesetujuan tindakan medic

Persiapan sebelum tindakan

Pasien

1. Cairan dan selang infus sudah terpasang. Perut bawah dan lipatan paha sudah di
bersihkan dengan air dan sabun
2. Uji fungsi dan kelengkapan alat resusitasi kardiopulmoner
3. Siapkan kain alas bokong, sarung kaki, dan penutup perut bawah
4. Medikamentosa
Analgetika (penthidin 1-2 mg/kgBB, ketamine HCL 0,5 mg/kgBB, tramadol 1-2
mg/kgBB)
Sedativa (diazepam 10 mg)
Atropine sulfas 0,25-0,50 mg/ml
5. Larutan antiseptic (providon iodin 10%)
6. Oksigen dengan regulator
7. Instrument
Cunam tampon = 1
Klem ovum lurus = 2
Sendok kuret pacapersalinan = 1
Speculum slims atau L dan kateter = 2 dan 1
Tabung 5 ml dan jarum suntuk no 23 = 2

Penolong (operator dan asisten)


1. Baju kamar tindakan, apron, masker dan
kacamata pelindung = 3 set
2. Sarung tangan steril = 4 pasang
3. Alas kaki sepatu/ boot karet = 3 pasang
4. Instrument
a. Lampu sorot = 2
b. Mangkok logam = 2
c. Penampung darah dan jaringan = 1

Pencegahan infeksi sebelum tindakan

D Tindakan
1. Instruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik
2. Bila penderita tidak dapat berkemih lakukan kateterisasi
3. Setelah kandung kemih di kosongkan, lakukan pemeriksaan
bimanual. Tentukan besar uterus dan bukaan serviks.
4. Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarrung tangan dengan
larutan klorin 0,5%
5. Pakai sarung tangan steril
6. Pasang speklum Sims atau L, masukan bilahnya secara vertical
kemudian putar kebawah.
7. Pasang spekulum Sims berikutnya dengan jalan memasukan
bilahnya secara vertical kemudian putar dan tarik ke atas
sehingga portio tampak jelas
8. Meminta asisten untuk memegang speculum atas dan bawah,
pertahankan pada posisinya semula.

9.

Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah di basahi dengan


larutan antiseptic, kemudian bersihkan lumen vagina dan porsio.
Buang kapas tersebut dalam tempat sampah yang tersedia,
kembalikan cunam ketempat yang tersedia.

10.

Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio pada jam 12

11

Setelah portio terpegang baik, lepaskan speculum atas.

12

Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret


pascapersalinan dengan tangan kanan, pegang di antra ibu jari dan telunjuk,
kemudian masukan hingga menyentuh fundus.

13.

Minta asisten untuk memegang gagang klem ovum, letakkan telapak tangan
pada fundus uteri.

Memasukan lengkung sendok kuret sesuai dengan lengkung kavum uteri


kemudian lakukan pengerokan dinding uterus bagian depan searah jarum
jam secara sistematis. Keluarkan jaringan palasenta dari kavum uteri.

Masukan ujung sendok sesuai dengan lengkung kavum uteri setelah


sampai fundus putar 180 deraja, lalu bersihkan dinding belakang
uterus.keluarkan jaringan yang ada.

14

Kembalikan sendok kuret ketempat semula, gagang klem


ovum di pegang kembali oleh operator

15

Ambi kapas beri antiseptic dengan cunam tampon,


bersihkan darah dan jaringan pada lumen vagina

16

Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio

17

Lepaskan speculum bawah

18

Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan


sarung kaki, masukan kedalam wadah yang berisi larutan
klorin 0,5%.

19

Bersihkan cemaran darah dan carian tubuh dengan


larutan antiseptik

Dekontaminasi
Cuci tangan pasca tindakan
Perawatan pasca tindakan

Instrumen kuret

Komplikasi
Syok

kardiogenik hipoperfusi pd

organ vital
Syok

hipovolemik dehidrasi

Syok

hemoragik >> kehilangan darah

Kematian

yang di sebabkan oleh

kerusakan multi organ

Volume
sirkulasi <<
Volume darah
merah <<

Respon simpatis
(takikardi,kontraktil jantung meningkat,
vasokontriksi perifer

O2 <
Hipoksia

Kematian multi
organ

Anaerob

Endotoksin
menyebar ke
seluruh organ

Asidosis

Terlepas radikal
O2 kematian
sel

Pencegahan
Melakukan

secara rutin manajemen aktif

kala III.
Pemberian

misoprostol peroral 2-3 tablet

(400-600 ug) segera setelah bayi lahir.

Diskusi
Pasien

tersebut mengalami perdarahan hebat 1

minggu setelah melahirkan dan selama 6 hari


SMRS keluar darah pervaginam (merembes)
yang menyebabkan pasien kehilangan banyak
darah. Perdarahan yang terus terjadi di
karenakan masih terdapat sisa plasenta di
uterus pasien sehingga uterus tidak berkontraksi
dengan baik.

Dengan di dukung oleh pemeriksaan fisik pasien tampak

pucat, lemas, anemis, dan pemeriksaan penunjang Hb


6,3 g% (Anemia) hal tersebut di indikasikan untuk
transfusi darah.

Pasien lemas dan merasa pusing karena suplai oksigen ke


otak berkurang yang di sebabkan oleh perdarahan hebat
dari sisa plasenta di uterus tersebut. Maka dari itu harus
dilakukan pembersihan sisa-sisa plasenta agar
perdarahan dapat di atasi.

Saat pasien datang di dapatkan tekanan darah 130/80


mmHg, dan di dapat kan takikardi nadi 104x/ menit ,

akral dingin karena kompensasi tubuh kehilangan darah,.

Kesimpulan

Perdarahan post partum harus di tangani


dengan tindakan yang cepat dan tepat
terutama penghentian perdarahan dan

mengatasi syok. Setelah persalinan selesai


maka keadaan di sebut aman bila
kesadaran dan tanda-tanda vital ibu baik,
kontraksi uterus baik, dan tidak ada
perdarahan aktif/ merembes dari vagina.