Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan


Masyarakat
Topik : TB dan DM
Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas Pandaan
Kabupaten Pasuruan

disusun oleh :
dr. Dwi Nanda S. Arif W.

Program Dokter Internsip Indonesia


Kabupaten Pasuruan
Jawa Timur

Halaman Pengesahan
Laporan Upaya Kesehatan Masyarakat
Laporan F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat
Topik : TB dan DM
Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas Pandaan
Kabupaten Pasuruan

disusun oleh :
dr. Dwi Nanda S. Arif W.
Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

2014

Oleh
Pembimbing Dokter Internsip Puskesmas Pandaan

dr. Titin Yuliani


NIP. 197605012010012004

LATAR
BELAKANG

PERMASALA
HAN

Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular


dan menahun dan bisa berakibat fatal, disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium
bovis,
dan
mycobacterium
africanum.
Pada
penghujung tahun 2013, 8.6 juta penduduk di dunia
telah terinfeksi TB dan kurang lebih 1,3 meninggal
oleh karena TB itu sendiri maupun dari penderita HIV
dengan TB.
Indonesia merupakan negara berkembang dengan
jumlah kasus TB aktif sebanyak 322.882 kasus,
menjadi negara peringkat ke empat didunia dengan
kasus TB terbanyak.
Gambaran Klinis, pada awalnya penderita hanya
merasakan kondisi badan yang tidak enak dan batuk
terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau
lebih. Jumlah dahak biasanya akan bertambah
banyak sejalan dengan perkembangan penyakit.
pada akhirnya dahak akan berwarna kemerahan
karena mengandung darah. Masa inkubasi dari TB
berkisar antara 4-12 minggu.
Salah satu gejala yang paling sering ditemukan
adalah berkeringat di malam hari tanpa aktifitas.
Keluhan dapat berupa demam, malaise, penurunan
berat badan, nyeri dada, batuk darah, dan sesak
napas. Sesak napas merupakan pertanda adanya
udara (pneumotoraks) atau cairan (efusi pleura) di
dalam rongga pleura, sekitar sepertiga penderita
infeksi ditemukan dengan efusi pleura.
Pada anak-anak, kelenjar getah bening menjadi
besar
dan
menekan
tabung
bronkial
dan
menyebabkan
batuk
atau
bahkan
mungkin
menyebabkan
penciutan
paru-paru.
Terkadang
bakteri naik ke saluran getah bening.
Pencegahan dengan imunisasi BCG merupakan
pencegahan terbaik, serta menggunakan sinar UV
efektif untuk membunuh bakteri, diharapkan bagian
rumah terpapar dengan sinar matahari dan memiliki
ventilasi yang baik.
Pola hidup yang sehat juga ditekankan agar warga
memiliki ketahanan tubuh yang baik dan tidak
mudah sakit.
Ditemukan pasien dengan TB di wilayah kerja
Puskesmas pembantu (pustu) Desa Kemirisewu, oleh
karenanya dilakukan penyuluhan mengenai TB, agar
diharapkan para kader dapat mengenali lebih dini
warga di lingkungannya dengan tanda dan gejala TB
untuk kemudian memunculkan kesadaran untuk
berobat.

PERENCANA Melakukan intervensi secara pasif maupun aktif.


Penemuan penderita secara pasif
AN
DAN
penemuan
penderita berdasarkan adanya orang
PEMILIHAN

INTERVENSI

yang datang
mencari
pengobatan
ke
puskesmas/sarana
kesehatan lainnya
atas kemauan sendiri atau saran orang lain.
Di

Penemuan penderita secara aktif


pemeriksaan dilakukan jika ada anggota keluarga
dinyatakan
sakit demam berdarah. Ditujukan pada semua
anggota keluarga
yang tinggal serumah dengan penderita dan
tetangga di
sekitarnya.

PELAKSANA
AN

Telah dilakukan penyuluhan di kediaman salah


satu kader Desa Kemirisewu pada hari Rabu, 18 Juni
2014. Dalam pertemuan rutin kader, peserta
diberikan penjelasan mengenai
apa itu TB,
bagaimana gejala dan keluhannya, dan pencegahan
yang bisa dilakukan, macam TB yang bisa terjadi.
Penyuluhan dimulai pukul 10.00-12.00, dihadiri oleh
sekitar ?? orang yang terdiri dari kader posyandu,
posbindu dan bidan desa.
Dalam pertemuan ini, juga dilakukan diskusi dan
tanya jawab. Dari penyampaian materi, ternyata
banyak pertanyaan yang mengemuka, seperti apa
yang
menyebabkan
TB,
bagaimana
cara
penularannya, bagaimana mengetahui kondisi anak
apabila terpapar dengan TB.
Kesimpulan yang bisa didapatkan dari penyuluhan
ini adalah beberapa kader tampak telah mengetahui
benar gejala dan cara penyebaran TB, namun untuk
upaya pencegahan dan pola hidup sehat secara
keseluruhan masih perlu ditingkatkan.

MONITORIN
G
DAN
EVALUASI

Secara keseluruhan, penyuluhan berjalan lancar


dan tanpa hambatan. Tidak ada gangguan teknis
yang terjadi selama penyuluhan berlangsung. Para
kader kesehatan juga merespon dengan baik,
ditandai dengan tingginya angka pertanyaan dan
tanggapan yang diberikan pada sesi tanya jawab.
Tuberkulosis atau yang dikenal dengan TB
(masyarakat masih menyebutnya dengan TBC) masih
menjadi ancaman bagi masyarakat dengan kondisi
ekonomi menengah kebawah. Kurangnya kesadaran
untuk hidup bersih dan sehat, disertai dengan
konsumsi gizi yang baik masih kurang, menyebabkan
TB menjadi merebak di masyarakat. Dominasi warga
Kemirisewu usia produktif bekerja sebagai buruh
pabrik dan usia tua sebagai petani atau buruh tani
dan tanpa pekerjaan turut berperan serta terhadap
kelangsungan TB.

Penanganan TB secara medis dan non-medis


dilakukan berupa pemberian penyuluhan bahwa TB
merupakan penyakit kronis yang ada obatnya dan
dapat dicegah dengan berbagai cara yang telah
disebutkan sebelumnya yakni dengan imunisasi dan
PHBS. Diharapkan dengan pola pengenalan dini
terhadap tanda dan gejala TB mampu menekan
jumlah kasus baru TB.

Komentar/Umpan Balik:

Topik 2. DM
LATAR
BELAKANG

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit


gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan
proteinyang dihubungkan dengan kekurangan secara
absolut atau relatif dari kerja atau sekresi insulin yang
bersifat
kronis
dengan
ciri
khas
hiperglikemia/peningkatan kadar glukosa darah di atas
nilai normal. DM tipe 2 adalah jenis DM yang paling
banyak ditemukan di masyarakat.
Menurut data WHO,Indonesia menempati
urutan keempat jumlah penderita Diabetes terbesar di
Dunia.Pada tahun 2000 terdapat sekitar 5,6 juta penduduk
Indonesia yang mengidap Diabetes .Jumlah penderita
Diabetes di derah perkotaan Indonesia pada tahun 2003
adalah 8,2 juta orang,sedangkan di pedesaan 5,5 juta
orang.Diperkirakan,1 dari 8 orang di Jakarta mengidap
Diabetes.Tingginya jumlah penderita di daerah perkotaan
antara lain disebabkan gaya hidup.
Kini DM menjadi salah satu masalah kesehatan
yang besar. Data dari studi global menunjukkan bahwa
jumlah penderita DM pada tahun 2011 telah mencapai
366 juta orang, dan diperkirakan akan meningkat menjadi
522 juta pada tahun 2030.International Diabetes
Federation (IDF) memperkirakan bahwa sebanyak 183
juta orang tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM.
Sebesar 80% orang dengan DM tinggal di negara
berpenghasilan rendah dan menengah. Sebagian besar
penderita DM berusia antara 40-59 tahun.
Etiologi DM tipe 2 merupakan multifaktor yang
belum sepenuhnya terungkap dengan jelas. Faktor genetik dan
pengaruh lingkungan cukup besar dalam menyebabkan
terjadinya DM tipe 2, antara lain obesitas, diet tinggi lemak
dan rendah serat, serta kurang gerak badan. Obesitas atau

kegemukan merupakan salah satu faktor pradisposisi utama.


Berbeda dengan DM Tipe 1, pada penderita DM
Tipe 2, terutama yang berada pada tahap awal, umumnya dapat
dideteksi jumlah insulin yang cukup di dalam darahnya, di
samping kadar glukosa yang juga tinggi. Jadi, awal
patofisiologis DM Tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya
sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau
tak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim
disebut sebagai Resistensi Insulin
Di samping resistensi insulin, pada penderita DM
Tipe 2 dapat juga timbul gangguan sekresi insulin dan produksi
glukosa hepatik yang berlebihan. Namun demikian, tidak
terjadi pengrusakan sel-sel Langerhans secara otoimun
sebagaimana yang terjadi pada DM Tipe 1.
Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun
demikian ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai
isyarat kemungkinan diabetes. Gejala tipikal yang sering
dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang
air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (banyak
makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan
penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu,
kesemutan pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal yang
seringkali sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan
menurun tanpa sebab yang jelas
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat
menimbulkan komplikasi akut dan kronis.Antara lain
komplikasi hipoglikemia, hiperglikemia, komplikasi mikro dan
makrovaskular.
Penatalaksanaan diabetes meliputi pengaturan diet,
olahraga, dan terapi obat.
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan
penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah
makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal
karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi
baik sebagai berikut:

Karbohidrat : 60-70%

Protein : 10-15%

Lemak : 20-25%
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan,
status gizi, umur, stres akut dan kegiatan fisik, yang pada
dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat
badan ideal. Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat
mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel
terhadap stimulus glukosa. Selain jumlah kalori, pilihan jenis
bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan.
Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan
melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan yang
berasal dari bahan nabati, yang mengandung lebih banyak
asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh.
Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan, ayam
(terutama daging dada), tahu dan tempe, karena tidak banyak
mengandung lemak.
Masukan serat sangat penting bagi penderita

PERMASALAHAN

diabetes, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Di samping


akan menolong menghambat penyerapan lemak, makanan
berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat
membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita
DM tanpa resiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu
makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar
umumnya kaya akan vitamin dan mineral.
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan
menjaga kadar gula darah tetap normal. Beberapa contoh olah
raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi,
bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Olahraga aerobik ini
paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari
didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri
pendinginan antara 5-10 menit. Olah raga akan memperbanyak
jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam
tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.
Obat-obat hipoglikemik oral terutama ditujukan
untuk membantu penanganan pasien DM Tipe 2. Pemilihan
obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan
keberhasilan terapi diabetes. Bergantung pada tingkat
keparahan penyakit dan kondisi pasien, farmakoterapi
hipoglikemik oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu
jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat. Pemilihan dan
penentuan rejimen hipoglikemik yang digunakan harus
mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes (tingkat
glikemia) serta kondisi kesehatan pasien secara umum
termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada.
Ditemukan pasien di wilayah kerja Puskesmas pembantu
Kemirisewu yang terkena Diabetes Mellitus Type 2, akan
dilakukan penyuluhan untuk memperbaiki kualitas hidup
penderita DM type 2 dan meningkatkan pengetahuan warga
tentang penyakit diabetes mellitus type 2.

Melakukan intervensi secara pasif maupun aktif.


PERENCANAAN
Penemuan penderita secara pasif
DAN PEMILIHAN
penemuan penderita berdasarkan adanya orang yang datang
INTERVENSI

mencari pengobatan ke puskesmas/sarana kesehatan lainnya


atas kemauan sendiri atau saran orang lain.
Penemuan penderita secara aktif
pemeriksaan dilakukan jika ada anggota keluarga dengan
gejala diabetes mellitus type 2. Ditujukan pada masyarakat
pandaan dengan faktor resiko diabetes mellitus type 2.

PELAKSANAAN

Telah dilakukan penyuluhan di kediaman salah


satu kader Desa Kemirisewu pada hari Rabu, 18
Juni 2014. Dalam pertemuan rutin kader, peserta
diberikan penjelasan mengenai apa itu DM,
bagaimana
gejala
dan
keluhannya,
dan
pencegahan yang bisa dilakukan, bagaimana pola
diet yang baik untuk penderita DM. Penyuluhan
dimulai pukul 10.00-12.00, dihadiri oleh sekitar ??

orang yang terdiri dari kader posyandu, posbindu


dan bidan desa.
Dalam pertemuan ini, juga dilakukan diskusi dan tanya
jawab. Dari penyampaian materi, ternyata banyak pertanyaan
yang mengemuka, seperti penyebab diabetes mellitus, faktor
resiko, dan gaya hidup yang mempengaruhi diabetes mellitus.
Kesimpulan yang bisa didapatkan dari penyuluhan ini
adalah masih kurangnya tingkat pengetahuan ibu-ibu kader
mengenai penyakit diabetes mellitus dan gaya hidup yang dapat
mempengaruhi penyakit ini.

MONITORING
DAN EVALUASI

Secara keseluruhan, penyuluhan berjalan lancar dan tanpa


hambatan. Tidak ada gangguan teknis yag terjadi selama
penyuluhan berlangsung. Para kader kesehatan juga merespon
dengan baik, ditandai dengan tingginya angka pertanyaan dan
tanggapan yang diberikan pada sesi tanya jawab.
Penatalaksanaan diabetes Mellitus dengan pengaturan
diet, aktivitas tubuh, dan terapi farmakologi dibutuhkan untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita. Dengan adanya
penyuluhan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
masyarakat terhadap penyakit ini dan meningkatkan kualitas
hidup penderita.

Kemirisewu, 18 Juni 2014


Kepala Desa Kemirisewu

Pendamping

Supaat

dr. Titin Yuliani


Pelaksana

Dwi Nanda S.A.W, dr