Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Kegiatan


Pada saat ini, pertumbuhan teknologi telekomunikasi di Indonesia

berkembang dengan sangat pesat. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan


akan jasa komunikasi di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta
ini. Oleh karena itu diperlukanlah suatu jaringan komunikasi yang memiliki akses
berkecepatan tinggi, handal, murah dan efisien untuk melayani besarnya
penggunaan jasa komunikasi.
Dalam perkembangannya, telekomunikasi tidak akan terlepas dari sistem
sistem pendukung seperti sistem sentral dan sistem transmisi. Sistem transmisi
adalah komponen utama telekomunikasi yang berfungsi melewati suatu sinyal
informasi berupa suara, data, gambar maupun video dari satu tempat ke tempat
yang dituju.
Salah satu divisi PT Telekomunikasi Indonesia, divisi Infratel melakukan
pembaruan pada sistem transmisi dengan dilakukan pemindahan link atau biasa
disebut dengan change over (CO). CO dilakukan karena adanya pemindahan
sentral atau biasa disebut dengan rehosting. Rehosting dilakukan karena adanya
penonaktifan sentral yang berada di Gandaria yang kemudian sentral dipindahkan
ke sentral yang berada di Gambir.
Salah satu yang akan di-CO adalah link E1 yang menghubungkan antara
Sentral Telepon Otomat (STO) Cisalak dengan sentral yang berada di Gandaria.
Oleh karena itu, pada laporan ini penulis akan membahas mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan CO link E1 Cisalak dalam rangka rehosting sentral Gandaria ke
sentral Gambir.
1.2

Ruang Lingkup Kegiatan


Kegiatan praktik kerja lapangan di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk ini

dilaksanakan di Area Network (ArNet) Jatinegara divisi transmisi. Divisi


transmisi disini hanya menangani permasalahan mengenai sistem transmisi antar
sentral di area Jakarta Timur saja. Kegiatan yang dilakukan berupa penanganan
gangguan, perawatan dan perbaikan sistem transmisi.

1.3

Waktu dan Tempat Kegiatan


Kerja praktek ini dilakukan pada tanggal 13 Juni 2012 hingga 06 Agustus

2012. Adapun tempat pelaksanaan kerja praktek dilakukan di PT. Telekomunikasi


Indonesia, Tbk (PT.TELKOM) Divisi Infratel Area Network Jatinegara Sub Divisi
Transmisi yang berlokasi di Jalan DI.Panjaitan kav.42, Jatinegara, Jakarta Timur
13410.
1.4

Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dari penulisan laporan praktek kerja lapangan di PT. TELKOM

Indonesia, Tbk, Area Network (ArNet) Jatinegara bagian Transmisi, adalah :


1.

Mahasiswa dapat mengerti dan memahami berbagai hal dalam bidang teknik
telekomunikasi, manajemen, organisasi, tata cara kerja, dan operasional suatu
perusahaan.

2.

Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh dari kampus.

3.

Mahasiswa dapat melakukan change over link dengan menggunakan kabel


penghubung 2MBps untuk rehosting sentral.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Electronic Wahler System Digital (EWSD)


EWSD telah diproduksi oleh PT. INTI dengan lisensi SIEMENS AG

Jerman dan digunakan sebagai sentral telepon digital di Indonesia. EWSD


merupakan sentral telepon SPC digital yang dapat menyalurkan tidak hanya sinyal
pembicaraan telepon tetapi dapat juga menyalurkan sinyal data, teks maupun
gambar.
Komponen microelectronic mengubah sinyal analog ( suara, data, gambar)
menjadi kode format digital yang dikirimkan dalam bentuk PCM words. Sistem
digital juga memungkinkan penggunaan satu saluran fisik sistem 4 kawat yang
dapat menyalurkan secara serentak beberapa kanal pembicaraan telepon sekaligus
pada jalur Switching Netwok ( SN ), dengan menggunakan teknik Time Switch dan
Space Switch.
EWSD adalah sebuah sistem yang dapat memenuhi berbagai aplikasi baik
ditinjau dari ukuran, bentuk, jangkauan servis serta variasi perangkat terminalnya.
Arsitektur perangkat sentral EWSD secara garis besar dapat dibagi dalam 4
subsistem yaitu:
1. Digital Line Unit (DLU) dan Line Trunk Group (LTG)
DLU merupakan perangkat fungsional yang menjadi terminal bagi jalur
pelanggan. Pada dasarnya sebagai pengkonsentrasi jalur pelanggan/trafik pada
suatu node jaringan, dengan demikian mengurangi panjang jalur pelanggan
sehingga mengurangi biaya yang terdistribusi pada jaringan dan akan
meningkatkan kualitas transmisi. Perkembangan EWSD pada saat ini, untuk port
pelanggan lebih efisien jika diterminasi pada DLU. DLU dapat dipasang secara
lokal atau remote terhadap sentral. Pada perkembangannya yang diterapkan adalah
DLU remote, sedangkan untuk DLU lokal telah jarang digunakan.
LTG berfungsi sebagai antarmuka antara saluran pelanggan DLU, pelanggan
analog atau trunk dengan SN. Perangkat yang tersambung ke LTG yaitu
pelanggan analog, trunk analog, trunk digital, operator DSB, alat-alat tes

Automatic Test Equipment (ATE:ST) dan Subscriber Line Measuring System


(SULIM). LTG mempunyai tiga fungsi utama yaitu fungsi pemrosesan panggilan,
fungsi pengawasan dan perlindungan, fungsi operasi dan pemeliharaan.
LTG dapat memproses semua jenis persinyalan yang telah direkomendasikan
oleh International Telecommunication UnionTelecommunication (ITU-T). LTG
dapat juga mengubah persinyalan dengan bebas untuk diteruskan melalui SN ke
LTG lainnya misalnya sinyal yang datang MFCR2, dikirimkan kembali dalam
bentuk decadic. Echo Supressor dapat juga ditambahkan pada LTG. LTG bekerja
sesuai dengan perangkat lunak yang telah diprogramkan di CP.
Satu LTG tersambung dengan SN melalui jalur highway 8 MBit/s (128 time
slot) yang terdiri dari 127 time slot untuk pembicaraan dan 1 time slot untuk
kontrol data. Setiap time slot mempunyai kecepatan bit 64 kbit/s. Karena SN
duplikat, maka ada dua highway yang menyambungkan LTG dengan dengan SN,
tetapi LTG hanya mengambil time slot pembicaraan dari SN yang aktif saja.
LTG mempunyai beberapa perangkat fungsional yang terdiri dari: Group
Processor (GP), Group Switch (GS), Speech Multiplexer (SPMX), Link Interface
Unit (LIU), Signalling Unit (SU), Digital Interface Unit (DIU), dan Line Trunk
Unit (LTU) seperti pada Gambar 2.1.
2 Mbps

SU

DLU, PBX, atau trunk

LTU

SN
GS
atau SPMX

LIU

8 Mbps

LTUn)*

*) n 4

GP

Gambar 2.1. Line Trunk Group


2. Switching Network (SN)
SN adalah perangkat jaringan penghubung dalam jaringan penyambung
digital, sinyal suara dari pemanggil kepada terpanggil dan sebaliknya dikirim

secara terpisah. Prinsip penyambungan SN terdiri dari prinsip kontak waktu (time
switching) dan prinsip kontak ruang (space switching). Sedangkan kontruksi SN
terdiri dari tingkatan waktu (time stage) dan tingkatan ruang (space stage). Pada
time stage terjadi proses time switch, yaitu informasi 8 bit akan berubah time slotnya dan multiplex line-nya. Pada space stage terjadi proses space switch, yaitu
informasi 8 bit akan berubah multiplex line-nya saja. Time stage dikemas pada
Time Stage Module (TSM), space stage dikemas pasa Space Stage Module (SSM).
SN inilah yang melakukan penyambungan panggilan antara dua pelanggan.
3. Coordination Processor (CP)
CP berfungsi untuk mengkoordinasi semua perangkat peripheral, memilih
jalur pembicaraan untuk menangani database dan proses-proses konfigurasi. Jadi,
CP bisa disebut sebagai prosesor peripheral.
4. Common Channel Signaling Network Control (CCSN)
CCNC berfungsi memproses pensinyalan yang pada dasarnya sebagai usaha
untuk membangun suatu hubungan dua pelanggan. CCS7 adalah metode
pensinyalan secara digital yang direkomendasikan oleh ITU-T dengan
menggunakan kanal khusus yang terpisah dengan kanal informasi. Gambar 2.2
menunjukkan diagram blok dari sentral EWSD.
Akses

Switching

DLU

LTG

GP

LTG

GP

DLUC

Common Channel Signalling


CCNC
Koordinasi
EM
OMT

CP

CCNP

SN

SYP
MB
CCG

SGC

Gambar 2.2 Diagram Blok EWSD

2.2

Digital Distribution Frame (DDF)


DDF merupakan perangkat distribusi antara multiplekxer digital dengan

perangkat tukar menukar yang digunakan pada multiplexer equipment digital atau
pelayanan suara. DDF melaksanakan fungsifungsi seperti koneksi kabel, kabel
patch dan uji loop yang mentransmisikan sinyal digital.
DDF berfungsi sebagai alat untuk me-loop kan koneksi antara TX dan RX
dari kabel E1 dalam bertukaran data. Dalam protocol pensinyalan, akan ada yang
terhubung dalam satu garis karena RX dari provider akan menuju ke TX costumer
yang menggunakan fasilitas ini.
Jenis DDF itu sendiri ada dua yaitu K52 dan K57. Gambar 2.3
menampilkan salah satu bentuk DDF K52

Gambar 2.3. DDF K-52


2.3

Pulse Code Modulation Meter (PCM meter)


PCM meter adalah alat ukur yang membantu dalam pengecekkan suatu

kanal yang sudah dilakukan change over. Dari alat ukur ini maka dapat diketahui
apakah antar kanal sudah terhubung dengan baik atau belum. PCM meter juga
dapat digunakan untuk mengetahui, apakah kanal sudah terisi dengan data atau
belum, PCM meter mempunyai berbagai jenis dan salah satunya ditunjukkan pada
Gambar 2.4.

Gambar 2.4. PCM meter


Pada PCM meter terdapat beberapa istilahistilah , seperti:
a. No Signal : Tidak ada sinyal atau koneksi pada ADM.
b. AIS

: Alarm Indicating Signal. Salah satu hubungan ada yang putus.

c. No Frame : Data tidak ada (tidak ada voice).


d. No MF/No Flag : Terdapat sinyal atau koneksi pada ADM
e. Distant Alarm : Adanya 1 sentral yang jatuh (overload) pada hubungan 2
sentral.
f. Distant MF Alarm :
g. Signal Impaired : Adanya titik sambung yang menempel dengan ground.
Ketentuan dari PCM meter pada setiap TX dan RX pada suatu kanal yang
dilakukan aktivasi :
a. Ketentuan untuk kanal yang belum terhubung atau mengalami gangguan yaitu
dengan munculnya No Signal, No Frame, AIS, Distant Alarm, Distant MF
Alarm, atau

Error pada salah satu Signal TX atau RX. Gambar 2.5

menunjukkan kanal yang mengalami gangguan:

Gambar 2.5 Hasil pada PCM meter yang menunjukkan kanal


mengalami gangguan.

b. Sedangkan untuk kanal yang sudah terhubung dengan baik atau sudah dapat
menyalurkan sebuah data yaitu dengan munculnya No Multiframe atau AIS
64. Gambar 2.6 menunjukkan kanal yang baik :

Gambar 2.6 Hasil PCM meter yang menunjukkan kanal yang baik.
2.4

E1
E1 atau sirkuit E-1 (Inggris: E-carrier) adalah nama format transmisi

digital dengan 30 kanal suara digital berkecepatan 2,048 Mbps. E1 merupakan


standar yang dipakai di Eropa dan Indonesia. Standar E1 ini ekivalen dengan
standar T1 yang dipakai di Amerika, dengan perbedaan T1 menggunakan 24 kanal
suara digital dengan kecepatan 1,554 Mbps.
Saluran ini berbentuk saluran telepon khusus dan digunakan pada awalnya
untuk sambungan trunk antar sentral telepon. Namun sekarang mulai banyak
disewakan oleh perusahaan telekomunikasi untuk jalur komunikasi data. Gambar
2.7 menunjukkan perbandingan kabel E1 atau RJ48, dan kabel RJ45 atau Fast
Ethernet.

Gambar 2.7 Perbandingan antara RJ45 dengan kabel E1

Dari Gambar 2.7 dapat kita lihat perbedaannya yang sangat mencolok,
yaitu dari sisi:
1.

Jumlah Kabel

2.

Warna Kabel
Disebelah kiri adalah kabel RJ45 yang memiliki jumlah 8 kabel dan 2 tipe
warna (belang & polos), sedangkan disebelah kanan adalah kabel E1 yang
berjumlah 4 kabel dan dilapisi kertas alumunium yang kemudian baru dibungkus
serat kawat tipis yang melingkari isi keseluruhan kabel.
2.5

Perangkat Muliplex Synchronous Digital Hierarchy (SDH)


Perangkat multiplex berfungsi untuk memungkinkan beberapa sinyal

komunikasi menggunakan sebuah channel tranmisi secara bersama-sama. 19


perangkat multiplex ini dilengkapi dengan pemonitoran secara software, sehingga
pemonitoran perangkat lebih fleksibel. Perangkat multiplex memiliki hierarki
tingkatan yang ditunjukkan Gambar 2.8.

Gambar 2.8. Hierarki Perangkat Multiplex


Perangkat MUX diatas menggunakan teknologi SDH. Teknologi SDH
merupakan teknologi pemultipleksan dimana suatu standar transmisi optik sinkron
yang dapat digunakan sebagai interface untuk berbagai jenis sinyal dengan
kecepatan tinggi secara efisien, termasuk sinyal kecepatan rendah yang telah ada.

10

Pada level hirarki SDH dikenal dengan nama Synchronous Transport


Module Level ke N (STM-N). SDH merupakan hierarki pemultipleksan yang
berbasis transmisi sinkron disalurkan melalui jaringan transmisi fisik. Penggunaan
teknologi SDH dirancang untuk mampu mengatasi perubahan layanan berbasis
pita sempit menjadi layanan pita lebar. Selain itu penggunaannya dapat
meningkatkan kehandalan jaringan dan mengurangi kebutuhan kabel serat optik
karena biasanya digunakan pada area bisnis serta layanan dengan laju bit yang
tinggi. Laju bit rate SDH yaitu :

STM-1 dengan laju bit 155.520 Mbps.

STM-4 dengan laju bit 622.080 Mbps.

STM-16 dengan laju bit 2488.320 Mbps.

STM-64 dengan laju bit 9953.28 Mbps.


Gambar 2.9 menunjukkan contoh perangkat Multiplex yang berada pada
ArNet Jatinegara.

Gambar 2.9. Perangkat Multiplex

11

BAB III
HASIL PELAKSANAAN PKL
3.1 Unit Kerja Lapangan
Sebagai perusahaan yang menyediakan jasa telekomunikasi yang
profesional, PT. TELKOM,Tbk mempunyai beberapa divisi, yaitu :

Infrastructure Telecommunication (INFRATEL)

Research & Development Center (RD)

Human Resources Development Center (HRD)

Maintenance Service Center (MS)

Carrier Intercarrier Service (Divisi CIS)

Divisi Multimedia (DMM)

Divisi Enterprise (DIVES)

Divisi Regional (DIVRE), terdiri dari 7 DIVRE yaitu Divre 1 Sumatera, Divre
2 Jakarta, Divre 3 Jawa Barat,Divre 4 Jawa Tengah & DIY, Divre 5 Jawa
Timur, Divre 6 Kalimantan, Divre 7 Kawasan Timur Indonesia.

Divisi TELKOM Flexi (DTF)


Pada pelaksanaan praktik kerja lapangan ini di laksanakan di PT. Telkom

divisi Infrastruktur Telekomunikasi (INFRATEL). Divisi INFRATEL merupakan


salah satu unit bisnis PT. TELKOM yang berkedudukan di Jakarta. Divisi
INFRATEL berkewajiban untuk melayani jasa telekomunikasi melalui produk dan
infrastruktur jaringan dengan cakupan wilayah nasional dan regional dan bertugas
untuk membangun infrastruktur telekomunikasi PT. TELKOM. Divisi INFRATEL
ini, membawahi Network Regional (NETRE). Di Indonesia terdapat 8 NETRE
yang salah satunya adalah NETRE Jakarta. Sedangkan Network Regional Jakarta
memiliki 9 Area Network (ArNet), salah satunya adalah ArNet jatinegara yang
mana adalah lokasi dari pelaksanaan praktik kerja lapangan ini.
Pada Area Network Jatinegara terdapat 5 bagian utama yang masingmasing dipimpin oleh seorang Asisten Manager yang tersusun dalam struktur
organisasi yang terdapat dalam lampiran. Kelima bagian utama tersebut, yaitu :
1

Divisi Energi

12

Divisi Sentral

Divisi Transmisi

Divisi Multimedia

Divisi Administrasi

Transmisi Area Network (ArNet) Jatinegara berfungsi sebagai pusat


network dari Jakarta Timur dimana dari sinilah pusat informasi dikirimkan ke
ArNet yang lain atau Sentral Telepon Otomat (STO) yang termasuk cakupan
ArNet Jatinegara. Transmisi Area Network Jatinegara memiliki beberapa STO dan
High Risk Building (HRB), yang berfungsi sebagai sentral untuk menghubungkan
satu tempat dengan tempat lain, kemudian disalurkan langsung ke pelanggan.
Berikut STO dan HRB yang merupakan bagian operasi ArNet Jatinegara :
1. STO Jatinegara

10. STO Pulo Gebang

2. STO Cawang

11. STO Kranggan

3. STO Tebet

12. STO Cibubur

4. STO Kelender

13. STO Pondok Gede

5. STO Pondok Kelapa

14. STO Cisalak

6. STO Kelapa Gading

15. STO Rawamangun

7. STO Pasar Rebo

16. HRB Buaran Telkomsel

8. STO Penggilingan

17. HRB Taman Rasuna Said

9. STO Gandaria
3.2 Ringkasan Praktek Kerja Lapangan (Log Book)
Pelaksanaan praktek kerja lapangan ini dilakukan selama 37 hari kerja di
ArNet Jatinegara divisi transmisi. Kegiatan awal PKL ialah pengenalan dan
adaptasi lingkungan kerja. Pengenalan tersebut meliputi peraturan selama bekerja
dan divisi-divisi yang terdapat di ArNet Jatinegara seperti divisi backbone,
transmisi, sentral, dan multimedia.
Divisi transmisi merupakan divisi yang memiliki banyak kegiatan di
lapangan. Sebelum ke lapangan terlebih dahulu diberi pembekalan ilmu transmisi,
pengenalan perangkat, dan pengenalan ruang kerja. Selama melaksanakan praktik
kerja lapangan di divisi transmisi terdapat beberapa pekerjaan mengenai saluran

13

transmisi yang menghubungkan antar STO area Jakarta Timur. Kegiatan tersebut
berupa:

Penyambungan kontingensi, dilakukan pemasangan kabel patch core


cadangan pada beberapa jalur transmisi seperti jalur yang menghubungkan
STO Tebet dengan Semanggi 1, Kebayoran-Gambir dan lain-lain. Hal ini
dilakukan agar meminimalisir waktu perbaikan jika terjadi kerusakan pada

jalur eksisting.
Maintenance, dilakukan pembersihan perangkat-perangkat transmisi di setiap
STO secara berkala. Hal ini ditujukan agar setiap perangkat bersih dari debu ,

sehingga mampu bekerja secara optimum dan memperpanjang umur perangkat


Labelisasi, dilakukan dengan memberikan label pada perangkat. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah dalam pengerjaan jika sewaktu-waktu terjadi

gangguan
Change Over, dilakukan jika terdapat permintaan. Ada beberapa hal yang
menyebabkan change over harus dilakukan salah satunya adalah penonaktifan
sentral yang berada di Gandaria. Hal ini dilakukan agar komunikasi pelanggan

tetap dapat terjalin


Penyambungan fiber optic , dilakukan penyambungan kabel optik pada ruang
Jatabek menuju ruang Backbone pada ArNet Jatinegara. Penyambungan ini
dilakukan dikarenakan panjang serat optik yang telah ada tidak mencukupi.
Proses penyambungan menggunakan alat bantu berupa fusion splicer sebagai

alat penyambung fiber optic dan fiber cleaver sebagai alat potong fiber optic
Pendeteksian lokasi kesalahan, dilakukan saat alarm menyala pada perangkat
transmisi ArNet Jatinegara. Perangkat tersebut berhubungan dengan perangkat
transmisi Semanggi 2. Pendeteksian ini dilakukan dengan mendeteksi secara
lokal terlebih dahulu (antar perangkat transmisi pada ArNet Jatinegara).
Setelah dilakukan pendeteksian hasil yang didapat ialah kondisi baik pada
ArNet Jatinegara, sehingga lokasi adanya gangguan terdapat pada sistem
transmisi STO Semanggi 2.

3.3

Pembahasan Hasil PKL

14

Change Over (CO) atau yang biasa disebut migrasi merupakan proses
pemindahan link dari satu sistem ke sistem yang lain. Sistem yang akan dirubah
ini merupakan sistem sentral yang mempunyai dua side, yakni side 0 (link
existing) dan side 1 (link contingency). Kedua side tersebut mempunyai fungsi
yang sama tetapi dari keduanya hanya ada 1 side yang bersifat aktif dan yang
lainnya bersifat pasif. Proses CO dilakukan dengan mengeksekusi satu persatu
dari kedua side tersebut.
Change Over (CO) link E1 STO Cisalak STO Gandaria menjadi STO
Cisalak STO Gambir dilakukan dalam rangka penonaktifan sentral yang berada
di STO Gandaria, sentral tersebut akan dialih fungsikan oleh PT Telkom. Dengan
dinonaktifkannya sentral tersebut maka harus dilakukan rehosting sentral yang
semula berada di STO Gandaria menjadi bersentral di STO Gambir. Pada sisi
transmisi dilakukan CO secara fisik link E1 2 MBps. Pada STO Cisalak terdapat
17 link yang harus dilakukan CO.
Pada laporan ini, akan dijelaskan perencanaan dan pelaksanaan CO dari
ADM dan DLU sentral pada STO Cisalak. Konfigurasi link E1 sebelum dilakukan
rehosting terlihat

pada Gambar 3.1, sedangkan konfigurasi link E1 yang

direncanakan dilakukan rehosting terlihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.1 Link Cisalak Gandaria sebelum di rehosting

15

Gambar 3.2 Perencanaan Link Cisalak Gambir yang akan di-rehosting


3.3.1

Persiapan CO
Pada tahap ini mempersiapkan seluruh perlengkapan yang diperlukan

seperti data rehosting, DDF K-52, alat ukur, alat kerja dan alat pendukung lainnya.
Berikut persiapan yang dilakukan sebelum melakukan CO:
1. Data rehosting
Sebelum melakukan CO diperlukan data yang digunakan untuk menentukan
jalur/kanal

yang

kemungkinan

akan

terjadinya

dihubungkan
kesalahan

antar
dalam

ruas,

sehingga

pelaksanaan

memperkecil

CO.

Tabel

3.1

menampilkan data rehosting Cisalak Gambir 1F.


Tabel 3.1 Data Rehosting Cisalak-Gambir 1F
GANDARIA
B

REMOTE
DL

GAMBIR Node A ( Csa )

1F

Node B ( Gb )

DIU

DIU

U
Cisalak

110

(CSLA)
17 DLU

U
0-57-0
0-59-1
0-58-0

ADM : 01-01-08-10
ADM : 01-01-08-09
39 CO ADM : 01-01-

ADMU : 01-08-10
ADMU : 01-08-09
ADMU : 01-08-04

4-30-1
4-32-0
4-31-1

0-57-1
0-59-0

08-04
ADM : 01-01-08-18
41 CO ADM : 01-01-

ADMU : 01-08-18
ADMU : 01-08-16

4-32-1
4-33-0

0-58-1
1-4-0
1-5-0
1-4-1
1-5-1
1-6-0
1-7-0

08-16
ADM : 01-01-08-15
ADM : 01-01-08-32
ADM : 01-01-08-19
ADM : 01-01-08-17
ADM : 01-01-08-20
ADM : 01-01-08-27
ADM : 01-01-08-23

ADMU : 01-08-15
ADMU : 01-08-32
ADMU : 01-08-19
ADMU : 01-08-17
ADMU : 01-08-20
ADMU : 01-08-27
ADMU : 01-08-23

4-34-0
4-33-1
4-34-1
4-35-0
4-36-0
4-35-1
4-36-1

120

130
210
220
230

FUNGSI
DL
660

CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU

670
CCS DLU
CCS DLU
680
690
700
710

CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU

16

240
250
440
450
460
530
670
680
690
700
110
0

1-6-1
1-7-1
1-21-0
1-22-0
1-36-1
1-37-1
0-41-0
0-42-0
0-41-1
0-43-0
1-60-0
1-62-0
2-36-0
2-46-1
2-36-1
1-62-1
2-38-0
2-39-0
2-38-1
2-39-1
3-9-0

ADM : 01-01-08-28
ADM : 01-01-08-24
ADM : 01-01-08-31
ADM : 01-01-08-02
ADM : 01-01-08-01
ADM : 01-01-08-03
ADM : 01-01-08-05
ADM : 01-01-08-07
ADM : 01-01-08-06
ADM : 01-01-08-08
ADM : 01-01-08-21
ADM : 01-01-08-22
ADM : 01-01-08-11
ADM : 01-01-08-12
ADM : 01-01-08-25
ADM : 01-01-08-26
ADM : 01-01-08-29
ADM : 01-01-08-30
ADM : 01-01-08-33
ADM : 01-01-08-34
22 CO ADM : 01-01-

ADMU : 01-08-28
ADMU : 01-08-24
ADMU : 01-08-31
ADMU : 01-08-02
ADMU : 01-08-01
ADMU : 01-08-03
ADMU : 01-08-05
ADMU : 01-08-07
ADMU : 01-08-06
ADMU : 01-08-08
ADMU : 01-08-21
ADMU : 01-08-22
ADMU : 01-08-11
ADMU : 01-08-12
ADMU : 01-08-25
ADMU : 01-08-26
ADMU : 01-08-29
ADMU : 01-08-30
ADMU : 01-08-33
ADMU : 01-08-34
ADMU : 01-08-13

4-37-0
4-38-0
4-37-1
4-38-1
4-39-0
4-40-0
4-39-1
4-40-1
4-41-0
4-58-0
4-41-1
4-58-1
4-59-0
4-61-0
4-59-1
4-61-1
1-41-0
1-43-1
1-42-0
1-41-1
1-43-0

3-10-0

08-13
ADM : 01-01-08-14

ADMU : 01-08-14

1-42-1

720
730
740
750
760
770
780
790
800
810

CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU
CCS DLU

820
CCS DLU

2. Alat Ukur dan Alat Kerja serta Alat Pendukung Lainnya


Persiapan alat-alat ini berfungsi agar mempermudah pelaksanaan CO dan
meminimalisir waktu dalam pelaksanaan CO. Alat ukur dan alat kerja yang
digunakan antara lain :
a. PCM meter
PCM meter adalah alat ukur kanal K-52 yang membantu dalam mengecek dan
memonitor keadaan sebuah kanal ADM atau DLU sebelum dan sesudah dilakukan
CO. Gambar 3.3 menunjukkan PCM meter yang digunakan.

Gambar 3.3 PCM meter


b. Tone Generator dan Amplifier Probe
Tone Generator dan Amplifier Probe berfungsi untuk mengidentifikasi atau
mencari pasangan kabel penghubung 2 MBps yang sesuai antara kanal ADM dan
kanal DLU. Pencarian ujung pasangan kabel penghubung 2 MBps ini dilakukan

17

jika terdapat ketidak sesuaian antara data rehosting dengan keadaan fisik. Gambar
3.4 menunjukkan Tone Generator dan Amplifier Probe yang digunakan.

Gambar 3.4 Tone Generator dan Amplifier Probe


c. Digital Distribution Frame (DDF) K-52
Perangkat DDF sangat penting dalam melakukan CO link, karena DDF
berfungsi

sebagai

penghubung

Tx

dan

Rx

antar

perangkat-perangkat

telekomunikasi. Gambar 3.5 menunjukkan perangkat DDF K-52.

Gambar 3.5 DDF- K52


d. Kabel Penghubung 2 MBps
Kabel penghubung 2 MBps salah satu hal yang utama dalam pelaksanaan CO
link, karena kabel inilah yang berfungsi untuk menghubungkan antara ADM
dengan DLU sentral. Gambar 3.6 menunjukkan kabel penghubung 2 MBps yang
digunakan.

Gambar 3.6 Kabel penghubung 2MBps


e. Tool Kit

18

Tool Kit merupakan seperangkat alat kerja yang digunakan untuk mendukung
proses CO, alat-alat tersebut antara lain :
Kabel Loop 2 MBps, digunakan sebagai alat bantu pada pengeloop-an ADM.

Jika ADM mengalami gangguan.


Kabel Ties, digunakan untuk membantu penandaan fisik berdasarkan data

rehosting pada Tabel 3.1. Alat ini memiliki warna yang beragam.
Isolir, digunakan untuk menjatuhkan atau memutuskan sinyal yang dikirim
atau diterima. Ini digunakan untuk membantu pengecekan data dengan

keadaan fisik.
Light Emitting Diode (LED), digunakan untuk indicator dalam pengecekan

fisik.
Tang Potong, digunakan untuk memotong kabel 2 MBps sesuai dengan yang

dibutuhkan.
Tang Pengupas, digunakan untuk membantu mengupas kabel penghubung 2

MBps sebelum dihubungkan pada DDF K-52.


Insertion Tool, digunakan untuk membantu menarik, menekan, dan
menghubungkan Tx-Rx pada DDF K-52. Gambar 3.7 menunjukkan tool kit
yang digunakan.

Gambar 3.7 Tool Kit yang digunakan a) kabel loop 2 MBps, b) Kabel ties,
c) Isolir, d) LED, e) Tang potong, f) Tang kupas, g) Insertion tool
3. Kanal ADM dan DLU
Persiapan yang dilakukan adalah dengan memberi tanda menggunakan kabel
ties pada ADM dan DLU sesuai dengan data rehosting Tabel 3.1. Hal ini

19

dimaksudkan agar tidak ada kesalahan pada saat pengeksekusian CO. Gambar 3.8
menunjukkan kanal-kanal yang telah ditandai.

Gambar 3.8 DLU sentral yang ditandai dengan kabel ties


3.3.2

Pelaksanaan CO
Setelah melakukan tahap perencanaan, persiapan alat ukur dan alat kerja

telah selesai di lakukan, maka tahap berikutnya adalah tahap pelaksanaan. Pada
tahap ini ada beberapa yang dilakukan, yaitu:
1. Pelurusan Lokal STO Cisalak
Pelurusan dilakukan dengan mencocokkan data rehosting Tabel 3.1 dengan
keadaan fisik E1. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadi kesalahan pada saat
pengeksekusian. Pelurusan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
a. Menggunakan LED dan Isolir
Memonitoring sisi ADM 16 yang terhubung dengan sisi transmisi dengan
menggunakan LED, sedangkan pada DLU sentral yang dituju diisolir dengan
menggunakan alat isolir. Jika cocok antara ADM 16 dengan DLU sentral yang
dituju maka LED akan mati, jika tidak cocok maka LED akan tetap menyala.
b. Menggunakan PCM meter dan Isolir
Memonitoring sisi ADM 16 yang terhubung dengan sistem transmisi dengan
menggunakan PCM meter sedangkan DLU sentral diisolir dengan menggunakan
alat isolir berdasarkan data rehosting Tabel 3.1. Gambar 3.9 menunjukkan ADM
16 dimonitor menggunakan PCM meter. Gambar 3.10 PCM meter menunjukkan
ADM 16 dalam keadaan normal. Pada pembacaan PCM meter, display
menunjukkan tanda bintang yang berarti adanya trafik atau pelanggan sedang
melakukan komunikasi. Indikator No MF/No Flag menyala yang berarti sinyal
yang dikirimkan dari Tx DLU sentral diterima oleh Rx ADM 16 dan sinyal yang
dikirim dari Tx ADM 16 diterima oleh Rx DLU sentral. Gambar 3.11
menunjukkan DLU sentral dalam keadaan diisolir. Jika data rehosting dengan

20

keadaan fisik sesuai maka pada PCM meter akan menunjukkan seperti Gambar
3.12. Indikator No Signal muncul karena sinyal di DLU sentral diputus sehingga
sinyal tidak sampai ke ADM 16.

Gambar 3.9 ADM 16 dimonitor dengan PCM meter

Gambar 3.10 ADM 16 dalam kadaan normal

Gambar 3.11 DLU sentral diisolir dengan alat isolir

21

Gambar 3.12 Sinyal DLU sentral diputus


c. Menggunakan Tone Generator dan Amplifier Probe
Cara ini merupakan pilihan terakhir jika dengan cara sebelumnya tidak
ditemukan kecocokan antara ADM 16 dengan DLU sentral. Cara menggunakan
alat Tone Generator dan Amplifier Probe adalah ADM 16 yang dicari tujuan DLU
sentralnya diisolir dengan alat isolir dan bagian A dan B dari ADM 16 dijepit
dengan menggunakan crocodile yang tersambung dengan Tone Generator seperti
pada Gambar 3.13, kemudian menekan tombol yang berada pada Amplifier Probe
lalu didekatkan pada DLU sentral. Jika ditemukan DLU sentral yang cocok
dengan ADM 16 yang dicari maka Amplifier Probe akan berbunyi nyaring. Untuk
memastikan DLU sentral itu yang cocok dengan ADM 16, DLU sentral yang
ditemukan ditutup atau dihalangi dengan jari dan menjauhkan Amplifier Probe
dengan tetap menekan tombol pada Amplifier Probe dari DLU sentral maka
Amplifier Probe akan tetap berbunyi nyaring. Jika bukan maka Amplifier Probe
tidak akan berbunyi. Gambar 3.14 menunjukkan penggunaan Tone Generator dan
Amplifier Probe.

22

Gambar 3.13 A dan B ADM 16 dijepit dengan Tone Generator

Gambar 3.14 Menggunakan Tone Generator dan Amplifier Probe


2. Kabel Penghubung 2 MBps
Setelah data rehosting sesuai dengan keadaan fisik, hal yang selanjutnya
dilakukan adalah kabel penghubung 2 MBps yang baru. Kabel yang disiapkan
sejumlah link yang akan di CO. Sebanyak 17 link yang akan dieksekusi di STO
Cisalak, sehingga kabel yang perlu disiapkan adalah 17 pasang kabel penghung.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam persiapan kabel penghubung, yaitu:
a. Mengukur kabel penghubung dengan menarik kabel penghubung tersebut
sepanjang jarak ADM dan DLU yang akan di CO.
b. Mengurutkan kabel penghubung yang telah diukur. Hal ini dilakukan agar
tidak terjadi kesalahan pada urutan nomor kabel saat eksekusi. Gambar 3.15
menunjukkan urutan kabel.

Gambar 3.15 Urutan kabel penghubung 2 MBps


c. Memasukkan kabel-kabel yang telah berurutan kedalam rak DDF yang telah
ada dan memasukkan ke kuping rak terminal ADM 16 terdekat.
3.3.3

Pengeksekusian CO
Setelah tahap persiapan selesai dilakukan maka selanjutnya adalah

pengeksekusian CO. CO dilakukan dengan mengeksekusi satu persatu E1. Ada


beberapa tahap yang dilakukan dalam mengeksekusi, yaitu:
1. Penyambungan kabel penghubung pada ADM 16
Penyambungan kabel penghubung yang telah disiapkan berdasarkan data
rehosting pada Tabel 3.1. Sebelum dipasang pada ADM 16, terlebih dahulu ujung

23

kabel yang akan disambung dikupas menggunakan tang pengupas berukuran 0,75
mm2. Tang pengupas yang digunakan harus sesuai dengan ukuran diameter kabel,
hal ini ditujukan agar kabel bagian dalam tidak ikut putus saat pengupasan.
Gambar 3.16 menunjukkan kabel yang telah dikupas.

Gambar 3.16 Pengupasan kabel penghubung 2 MBps


Setelah kabel dikupas selanjutnya adalah menyambung kabel pada terminal
ADM 16 dengan bantuan insertion tool. Cara menyambungnya adalah dengan
mengurutkan kabel yang telah dikupas sesuai dengan aturan yang ditunjukkan
pada Tabel 3.2 dan mengapit serta mendorong kabel dengan insertion tool dengan
kuat-kuat agar kabel yang tersisa terputus dan terpasang dengan kuat.
Tabel 3.2 Pengurutan kabel 2Mbps pada Perangkat ADM
TX
A

RX
G

Ket : A = coklat
B = putih
G = abu2/kawat
2. Penyambungan kabel penghubung pada DLU sentral
Setelah menyambung kabel pada ADM 16 selesai tahap selanjutnya adalah
dengan menyambung kabel pada ujung sisi lain dari kabel yang sama pada DLU
sentral. Penyambungan pada DLU sental ini harus dilakukan dengan cepat agar
pelanggan tidak mengalami gangguan. Gambar 3.17 menunjukkan konfigurasi
penempatan pemasangan kabel pada DLU.

24

Gambar 3.17 Konfigurasi penempatan kabel pada Tx-Rx DLU


Untuk mempermudah dalam penyambungan dapat menggunakan LED sebagai
indicator untuk mengetahui kabel mana yang harus terhubung dengan Tx/Rx pada
DLU sentral. Cara menggunakan LED-nya adalah dengan mendekatkan LED
dengan kabel yang akan disambung. Gambar 3.18 menunjukkan penggunaan LED
sebagai indicator.

Gambar 3.18 Penggunaan LED sebagai Indikator


Jika LED menyala berarti kabel terhubung dengan Tx pada ADM 16 sehingga
kabel disambungkan pada Rx DLU sentral. Namun, jika LED mati berarti kabel
terhubung dengan Rx pada ADM 16 sehingga kabel disambungkan pada Tx DLU
sentral. Gambar 3.19 menunjukkan konfigurasi Tx-Rx menggunakan LED.

Gambar 3.19 Konfigurasi Tx-Rx ADM dan DLU


Setelah yakin dengan penempatan Tx dan Rx dengan benar selanjutnya
melakukan penyambungan dengan mengurutkan kabel berdasarkan Tabel 3.2 dan

25

menjepit serta mendorong kabel menggunakan insertion tool seperti pada Gambar
3.20.

Gambar 3.20 Cara menghubungkan dengan bantuan insertion tool


3. Monitoring trafik
Setelah melakukan penyambungan di kedua sisi selesai, selanjutnya adalah
memonitor keadaan link baru dengan menggunakan PCM meter. Memonitornya
dengan cara menghubungkan PCM meter ke salah satu ADM 16 yang telah
diperbaharui link-nya seperti Gambar 3.21.

Gambar 3.21 ADM 16 sedang dimonitoring


Jika link baru dalam keadaan baik maka pada display PCM meter akan
nampak tanda bintang (*) lebih dari dua seperti terlihat pada Gambar 3.22.

26

Gambar 3.22 PCM meter menunjukkan trafik link baik


Terlihat pada Gambar 3.23 muncul indicator No MF/No Flag yang berarti link
dalam keadaan baik. Untuk memastikan link dalam keadaan baik juga dapat
dilakukan dengan menggunakan earphone. Cara menggunakan earphone adalah
dengan menghubungkan earphone ke PCM meter lalu kursor pada PCM meter
disorotkan pada tanda bintang yang muncul pada display. Jika link dalam keadaan
baik dan telah aktif kembali maka pada earphone akan terdengar percakapan
pelanggan.
Dengan hasil yang telah didapat dari PCM meter dapat disimpulkan bahwa
link STO Cisalak dengan STO Gambir telah terhubung dengan baik dan telah
normal kembali.
3.4 Identifikasi Kendala yang Dihadapi

Selama menjalani PKL terdapat banyak keterampilan dan pengalaman yang


diperoleh, seperti:

Dapat

melakukan

penarikan

dan

pemasangan

kabel

kontingensi.

Kontingensi merupakan kabel yang ditarik untuk memberi cadangan kabel


agar jika terjadi kerusakan dapat diatasi dengan segera. Kabel yang biasa

digunakan adalah kabel patch core.


Dapat melakukan perawatan terhadap perangkat-perangkat transmisi yang
digunakan. Perawatan dilakukan secara berkala dengan tujuan menjaga

perangkat dari debu atau kotoran lainnya.


Dapat melakukan change over secara fisik di bagian transmisi, baik dari
proses persiapan sampai proses eksekusi. Change over ini dilakukan dalam

rangka rehosting atau pemindahan sentral.


Dapat menggunakan alat ukur dan alat-alat penunjang pekerjaan selama di
divisi transmisi seperti PCM meter, tone generator dan amplifier probe,

fusion splicer, fiber cleaver,Optical Power Meter dan Optical Laser Source.
Dapat menyambung serat optik dengan menggunakan alat fusion splicer dan

memotong serat optik menggunakan fiber cleaver.


Dapat mendeteksi gangguan yang terjadi jika alarm pada perangkat aktif.
Pendeteksian ini dilakukan untuk mengetahui titik kesalahan dengan
menggunakan alat tone generator, amplifier probe, kabel loop, isolir dan
PCM meter.

27

Dapat melakukan pelabelan perangkat-perangkat telekomuniasi. Pelabelan


dilakukan untuk mempermudah pendataan.
Tetapi dalam pelaksanaan tugas tidak selamanya berjalan lancar sesuai

dengan keinginan. Ada beberapa kendala yang ditemui, yaitu:


3.4.1 Kendala Pelaksanaan Tugas
Kendala yang ditemui selama PKL antara lain:
a. Dalam pelaksanaan Change Over, pembimbing tidak memperbolehkan
praktikan melakukan eksekusi. Hal ini dikarenakan dalam pengeksekusian
diperlukan tenaga ahli agar pemutusan hubungan komunikasi tidak memakan
banyak waktu.
b. Terdapat beberapa data kelengkapan laporan PKL yang tidak diberikan oleh
pihak perusahaan kepada praktikan. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan
kerahasiaan perusahaan.
3.4.2 Cara Mengatasi Kendala
Cara yang dilakukan untuk mengatasi kendala yaitu dengan melakukan halhal sebagai berikut:
a. Memperhatikan pembimbing selama melakukan eksekusi change over. Setelah
eksekusi selesai menanyakan dengan detail mengenai tahap-tahap , hal-hal apa
saja yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan dalam melaksanakan
eksekusi.
b. Meminta gambaran umum oleh pembimbing berkaitan dengan kelengkapan
data untuk laporan PKL.

28

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil praktek kerja lapangan dan pembuatan laporan kerja ini,
maka didapat kesimpulan sebagai berikut :
1. Change over link pada ruas Cisalak Gandaria dilakukan karena adanya
rehosting sentral yang semula berada di Gandaria berpindah ke Gambir 1F.
2. Untuk melakukan change over harus melalui beberapa tahapan mulai dari
persiapan hingga proses monitoring menggunakan PCM meter.
3. Dalam penyambungan kabel penghubung 2 MBps pada setiap kanal ADM
harus dalam keadaan lurus, pengertiannya dalam keadaaan lurus adalah antar
kanal ADM TX-RX nya harus sesuai dengan ketentuan.
4. Hasil dari PCM meter yang paling utama adalah tidak ada No Signal, AIS
maupun Distant Alarm. Dengan tidak adanya itu semua, maka kanal ADM
sudah dapat digunakan atau sudah tersambung.
5. Link E1 STO Cisalak STO Gambir telah kembali normal setelah dilakukan
CO dengan ditandai telah adanya trafik yang ditujukkan oleh PCM meter dan
indikator NoMF/No Flag menyala.
4.2 Saran
1. Sebaiknya data tertulis sesuai dengan data fisik pada lapangan. Hal ini
bertujuan untuk mempermudah dalam pengerjaan jika diperlukan perubahan
atau perbaikan.
2. Sebaiknya dilakukan pengecekan nilai Bit Error Rate pada link yang akan
digunakan agar tidak terjadi banyak kesalahan setelah pemindahan link.