Anda di halaman 1dari 87

PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK

PADA LANSIA OSTEOARTHRITIS DIPANTI SOSIAL TRESNA


WHERDA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN
SELATAN BANJARBARU
TAHUN 2015
SKRIPSI

ASMARA ARI SANDI


NPM.11312 AS1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2015

ii

PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK


PADA LANSIA OSTEOARTHRITIS DIPANTI SOSIAL TRESNA
WHERDA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN
SELATAN BANJARBARU
TAHUN 2015
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan
Pada Program Studi S1 Keperawatan

Oleh:
ASMARA ARI SANDI
NPM. 11312 AS1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2015

iii

iv

vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama mahasiswa
: Asmara Ari Sandi
NPM
: 11312 AS1
Prodi
: S1 Keperawatan
Jenis Karya
: Skripsi
Sebagai civitis akademik Stikes Muhammadiyah Banjarmasin, yang turut serta
mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Hak Bebas Royalti atas karya
ilmiyah saya berjudul :
Pengaruh Senam Lansia Terdahap Aktivitas Fisik Pada Lansia Osteoarthritis di
Panti Sosial Tresna Wherda Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan
Banjarbaru Tahun 2015
Dengan adanya Hak Bebas Royalti ini maka, Stikes Muhammadiyah Banjarmasin
mempunyai kebebasan secara penuh untuk menyimpan, melakukan editing,
mengalihkan ke format/media yang berbeda, melakukan kelolaan berupa
database, serta melakukan publikasi tugas akhir saya ini dengan pertimbangan
tetap mencantumkan nama penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta
Peryataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di
: Banjarmasin
Pada Tanggal :
Agustus 2015
Saya yang menyatakan,

(Asmara Ari Sandi)

vii

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
BANJARMASIN
Skripsi, 24 Agustus 2015
Asmara Ari sandi
NPM: 11312 AS1
Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktivitas Fisik Lansia Pada Penderita
Osteoarthritis Di Panti Tresna Werdha Banjar Baru tahun 2015
ABSTRAK
Permasalahna pada lansia cukup banyak salah satunya osteoartrhitis yang dapat
mengganggu aktivitas fisik lansia. Osteoarthritis cukup mengganggu aktivitas
fisik lansia, salah satu cara mengatasi osteoarthritis dengan mengikuti senam
lansia.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap aktivitas
fisik lansia pada penderita Osteoartritis.
Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experiment dengan rancangan pretest
posttest. Populasi penelitian ini adalah seluruh lansia di Panti Tresna Werdha
Banjarbaru yang memiliki masalah osteoartritis dengan jumlah 15 responden
yang diberikan intervensi senam lansia. Penelitian ini menggunakan metode
random dengan uji wilcoxson.
Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan sebelum dan sudah senam lansia
yang di lakukan dengan uji wilcoxson di dapatkan hasil 0.001 hasil tersebut
kurang dari alfa p0,05, dengan kata lain ada pengaruh senam lansia terhadap
aktivitas fisik lansia pada penderita osteoarthritis.

Kata kunci
Kepustakaan

: Aktivitas Fisik,Osteoartritis, Senam Lansia


: 45 (2004-2015)

KATA PENGANTAR
vi

viii

Assalamualaikum.wr.wb.
Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang tiada
pernah berhenti dicurahkan kepada semua hamba-Nya yang mau berdoa dan
berusaha tiada henti. Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis haturkan pada
junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Atas kekuatan dan kemampuan yang
diberikan-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Bapak M. Syafwani, S.Kep.,M.Kep.,Sp.Jiwa selaku ketua Sekolah Tinggi


Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin dan juga sebagai pembimbing I
yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan perbaikan dalam hal
materi, petunjuk maupun saran kepada penulis.

2.

Bapak Solikin, Ns.,M.Kep.,Sp.KMB selaku Ketua Program Studi S1


Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.

3.

Ibu Noor Amaliah, S.Kep.,Ns selaku Pembimbing Akademik (PA) yang


sangat berjasa dalam proses perkuliahan penulis selama kurang lebih 4 tahun
ini.

4.

Bapak Suroto,SKM.,M.kes selaku pembimbing II tentang

metodologi

penelitian sekaligus pembimbing teknik penulisan yang telah memberikan


bimbingan tentang cara metodologi penelitian dan teknik penulisan yang
baik.
5.

Bapak dan Ibu dosen pengajar beserta staf Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin yang selama ini banyak
memberikan bekal pengetahuan kepada penulis dan telah membantu
demi lancarnya segala urusan dalam penelitian ini.

6.

Bapak Poniman dan Ibu Sriwulan selaku orang tua serta keluarga besar yang
sangat peneliti sayangi, yang terus mendoakan dan memberikan dukungan
serta memfasilitasi untuk keberhasilan penulis.
vii

ix

7.

Teman-teman khususnya Laila Fitriana, Ade Saputra, Irinne Gustina Arnisty


terima kasih kalian telah memberikan semangat dan motivasi dalam penulisan
penelitian ini.

8.

Keluarga perawat kelas E khususnya M.Anas Ali, Maulana Sam Ariskandar ,


Andre, Ikhwan, Haidir dll yang selalu menghadirkan semangat dan juga
bantuan untuk kelancaran penelitian ini.

9.

Teman-teman S.1 Keperawatan Ners A, kebersamaan kita selama 4 tahun ini


telah memberikan warna dalam hidup ini. Terimakasih telah menjadi teman
terbaik.

Penulis sadar bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mengucapkan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada dalam
penyusunan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapakan banyak terimakasih dan skripsi ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan penulis sendiri khususnya.

Banjarmasin,

Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................................
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ...........................................................
PERNYATAAN ORISINIL PENELITIAN .................................................
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..........................................
ABSTRAK .....................................................................................................
KATA PENGANTAR ..................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
DAFTAR TABEL .........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

i
ii
iii
iv
v
vi
vii
ix
xi
xii
xiii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................
1.3 Tujuan .......................................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................
1.5 Penelitian Terkait ......................................................................

1
3
4
4
5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Lansia ........................................................................
2.2 Masalah yang Terjadi pada Lansia ........................................
2.3 Konsep Senam Lansia ............................................................
2.4 Aktivitas Fisik pada Lansia ....................................................
2.5 Kegiatan Sehari-hari pada Lansia ..........................................
2.6 Bentuk Gangguan pada Lansia .............................................
2.7 Osteoarthritis
2.8 Keterkaitan Senam Lansia dengan Aktivitas Fisik Lansia ....
2.9 Kerangka Teori Penelitian .....................................................
2.10 Kerangka Konsep Penelitian ..................................................
2.11 Hipotesa/Pertanyaan Penelitian .............................................

6
8
11
16
18
19
22
30
31
32
32

BAB 3 METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian ....................................................................
3.2 Definisi Operasional ...............................................................
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling .............................................
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................
3.5 Jenis Senam yang digunakan....................................................
3.6 Langkah-langkah Penelitian ....................................................
3.7 Alat Pengumpulan Data .........................................................
3.8 Teknik Pengambilan Data ......................................................
3.9 Teknik Analisa Data ...............................................................
3.10 Etika Penelitian ......................................................................

33
34
34
36
36
36
37
37
38
39

ix

xi

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Lokasi Penelitian ......................................................................
4.2 Karakteristik Responden............................................................
4.3 Pembahasan...............................................................................
4.4 Keterbatasan Penelitian ............................................................
4.5 Implikasi Hasil Penelitian Bidang Keperawatan ......................

40
43
46
51
51

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ...............................................................................
5.2 Saran .........................................................................................

52
52

DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL
3.1 Definisi Operasional .................................................................................. 34
4.1 Luas Wilayah Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera ........................ 41
4.2 Jumlah Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera .......... 42
4.3 Sumber Daya Tenaga PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Tahun 2015 ...... 42
4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................................ 43
4.5 Karakteristik Responden Berdasarakan Umur ............................................ 44
4.6 Kondisi Aktifitas Sebelum Senam Lansia .................................................... 44
4.7 Kondisi Aktifitas Sesudah Senam Lansia ..................................................... 45
4.8 Hasil Analisis Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktifitas Fisik Pada
Lansia Osteoarthritis.......................................................................................45

xi

xiii

DAFTAR GAMBAR

Kerangka Konsep Penelitian .............................................................................. 31

xii

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Jadwal Kegiatan Penelitian

Lampiran 2

Surat izin Penelitian

Lampiran 3

Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 4

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 5

Lembar Observasi

Lampiran 6

Data Hasil Penelitian

Lampiran 7

Lembar Konsultasi

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia
adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Hampir
setiap tahunnya negara Indonesia selalu menempati peringkat keempat dunia,
untuk kategori penduduk orang berusia lanjut terbanyak di dunia yaitu setelah
Cina, India, dan Amerika Serikat (AS) (Nugroho,2002).

Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu
masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap
individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahan-perubahan pada
struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ dan sistem yang ada
pada tubuh manusia.

Proses ini menjadikan kemunduran fisik maupun psikis. Kemunduran psikis


ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, penurunan pendengaran,
penglihatan memburuk, gerakan lambat, dan kelainan berbagai fungsi organ
vital. Sedangkan kemunduran psikis terjadi peningkatan sensitivitas
emosional, menurunnya gairah, bertambahnya minat terhadap diri, dan minat
kegiatan rekreasi tidak berubah (hanya orientasi dan subyek saja yang
berbeda).

Ada 2 proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan secara
sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada tingkat
sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan akibat faktor
lingkungan fisik dan sosial, stres fisik/psikis, serta gaya hidup dan diet dapat
mempercepat proses menjadi tua.
Lanjut usia (lansia) sebagai tahap akhir dari siklus kehidupan manusia, sering
diwarnai dengan kondisi hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Jumlah
1

penduduk lanjut usia diperkirakan 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan mencapai 1,2 milyar. Di negara maju
seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia 1000 orang perhari.

Pada tahun 2020 jumlah penduduk lansia di Indonesia diperkirakan sebesar


28,8 juta jiwa dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Menkokesra,2007).

Pertambahan penduduk lansia secara bermakna akan disertai oleh berbagai


masalah dan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan lansia, baik
dalam individu maupun bagi keluarga dan masyarakat antara lain meliputi
fisik, biologis dan mental. Mengingat lansia sangat memerlukan perhatian
khusus sesuai keberadaannya. Usaha untuk memperbaiki fungsi organ dapat
ditempuh dengan cara aktivitas fisik atau olah raga yang teratur dan
berkesinambungan.

Menurut Hardin (2006), peneliti dari Arthritis Foundation, Atlanta, AS


olahraga membuat berat badan turun dan ini baik bagi sendi agar tidak kaku
dan otot lebih kuat. Maka olah raga yang disarankan untuk para Lansia antara
lain berjalan kaki, senam, aerobik dan olahraga ringan lainnya.

Ditinjau dari kecenderungan masalah berbagai penyakit pada lanjut usia


merupakan golongan yang rawan terhadap masalah penyakit degeneratif.
Karena pada lansia terjadi penurunan kegiatan sel-sel tubuh, maka perlu
mendapat keseimbangan dari kebutuhan dalam memperbaiki fungsi organ
dengan cara olahraga yang teratur.Dengan olah raga yang teratur seperti
dilakukannya senam lansia.

Salah satunya yang sering diderita para lansia karena penurunan kerja
jantung, tetapi terkadang ada lansia yang kurang berperan aktif dalam
aktifitas senam lansia dikarenakan keterbatasan fisiknya, tetapi sebagai tenaga
kesehatan harus mempunyai solusi agar

tetap menyamaratakan untuk

memberikan pelayanannya yang terbaik pada lansia di PSTW Budi Sejahtera


Banjarbaru.

Sesuai dengan pengalaman pada saat studi pendahuluan di Panti Sosial


Tresna Wherda Budi Sejahtera Banjarbaru. Jumlah lansia yang mengalami
penyakit osteoartrhitis ada 15 orang lansia dan yang mengalami penyakit
osteoarthritis mengikuti senam setiap 1 kali dalam seminggu. Dari hasil
wawancara didapat aktivitas yang diberikan secara rutin senam lansia yang
diberikan setiap 1 kali dalam seminggu oleh instruktur yang sudah
profesional kurang lebih berjumlah 1 orang untuk memberikan senam lansia
didalam Panti Sosial Tresna Werda Budi Sejahtera Banjarbaru sebagai
aktivitas fisik agar dapat menjaga kesehatan lansia tetap dalam keadaan
bugar dan mengurangai dari penyakit osteoartrhitis.
Jadi, senam lansia ini dapat mengurangi resiko terjadinya osteoatrhitis pada
lansia dan dapat mengidentifikasi hasil dari senam lansia terhadap aktifitas
pada lansia pre dan post melakukan kegiatan senam lansia yang dilakukan
secara rutin setiap 1 kali dalam seminggu.

Berdasarkan pengalaman dan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian dengan judul Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktifitas Fisik
Pada Lansia Osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam
penelitian ini adalah :
Apakah ada pengaruh senam lansia terhadap aktifitas fisik pada lansia
osteoatritis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Umum
Menjelaskan Pengaruh Senam Lansia Terhadap Aktivitas Fisik Pada
Lansia Osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.
1.3.2 Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi aktifitas fisik sebelum diberikan senam lansia
pada lansia osteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.
1.3.2.2 Mengidentifikasi aktifitas fisik sesudah diberikan lansia pada
lansia oteoatrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.
1.3.2.3 Menganalisa pengaruh senam lansia terhadap aktifitas fisik
lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis atau Akademis
Didalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan
informasi bagi petugas di Panti maupun instruktur senam lansia tentang
manfaat dari keefektifan senam lansia yang diberikan secara benar,
sehingga dapat bermanfaat untuk kesehatan jantung para lansia dan
dapat menjaga kebugaran serta mengisi waktu aktifitas yang membuat
para lansia terhindar dari stress.

1.4.2 Manfaat Praktis


Manfaat penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memberikan
masukan dalam hal mengidentifikasi dari pengaruh aktifitas fisik yaitu
senam lansia terhadap aktifitas pada lansia yang dilakukan pemeriksaan
pre dan post, untuk dapat memantau aktifitas fisik selalu dalam batas
normal, sehingga para lansia terhindar dari penyakit jantung terutama
osteoatrhitis khususnya pada lansia di PSTW Budi Sejahtera
Banjarbaru.

1.5 Penelitian Terkait


Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Margiyati,2010) tentang
Pengaruh Senam Lansia terhadap aktifitas fisik pada Lansia Penderita
Hipertensi di Posyandu Lansia Ngudi Waras, Dusun Kemloko, Desa Bergas
Kidul. Penelitian ini menggunakan desain Pra Eksperimental One Group
Pretest-Posttest Design. Untuk jumlah populasinya berjumlah 60 responden
serta sampel yang diambil berjumlah 12 responden dengan teknik purposive
sampling. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah
desain yang digunakan menggunakan desain Quasi Eksperimen serta jumlah
populasi yang berbeda yaitu 107 responden dan jumlah sample yang diambil
berjumlah 20 responden. Pengambilan sampling sama dengan menggunakan
purposive sampling serta uji statistik menggunakan software SPSS 17.0.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Lansia
2.1.1 Definisi
Pengertian lansia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik
yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai
mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa. Ketika kondisi
hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan
memasuki selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi manusia yang
normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam
setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi
lingkungannya (Darmojo, 2004).

Lanjut Usia (Lansia) adalah orang tua yang berusia 55 tahun keatas
(Depkes RI,2001). Ketika usia pensiun ditentukan pada usia 65 tahun
melalui legislasi Social Security pada tahun 1930-an, maka masyarakat
Amerika menerima usia 65 tahun sebagai awal usia tua, ini
menunjukkan definisi kronologis usia yang paling sering dipakai dalam
masyarakat. Namun, usia fungsional dan fisiologis berbeda dari satu
individu dengan lainnya dan karenanya tidak bisa distandardisasi.
(Menurut Nugroho, Wahjudi.2000).

2.1.2 Batasan-Batasan Lanjut Usia (Menurut Nugroho, Wahjudi.2000)


Mengenai kapankah orang disebut Lansia, sulit dijawab secara
memuaskan.
Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur.
2.1.2.1 Departemen Kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut :
a. Kelompok menjelang usia lanjut (45-54 tahun) sebagai masa
vibrilitas.
b. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai senium.
6

c. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO sebagai


presenium.
d. Kelompok usia lanjut (kurang dari 65)

2.1.2.2 Lanjut Usia meliputi :


a. Usia pertengahan (midlle age) antara kelompok usia 45
sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
2.1.2.3 Menurut Pasal 1 Undang-undang No.4 Tahun 1965:
Seseorang dinyatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut
setelah yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak
mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk
keperluan hidupnya sehari-hari, dan menerima nafkah dari
orang lain.

2.1.2.4 Proses Penuaan dan Perubahan yang Terjadi pada Lansia


(Menurut Mubaroq, W.i. 2010)

2.1.3 Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan,
yaitu masa anak, masa dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari
oleh setiap individu. Pertambahan usia akan menimbulkan perubahanperubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai sel/jaringan/organ
dan sistem yang ada pada tubuh manusia.
Ada dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan
secara sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan
pada tingkat sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses
penuaan akibat faktor lingkungan fisik dan sosial, stres fisik/psikis,

serta gaya hidup dan diet dapat mempercepat proses menjadi tua.Secara
umum, perubahan fisiologis proses penuaan adalah sebagai berikut :
a. Perubahan mikro merupakan perubahan yang terjadi dalam sel
seperti :
1) Berkurangnya cairan dalam sel.
2) Berkurangnya ukuran sel.
3) Berkurangnya jumlah sel.
b. Perubahan makro, yaitu perubahan yang jelas dapat diamati atau
terlihat seperti:
1) Erosi pada permukaan sendi-sendi
2) Terjadinya osteoporosis
3) Otot-otot mengalami atrofi
4) Presbiopi
5) Adanya arteriosklerosis
6) Menopouse pada wanita
7) Kulit tidak elastis
8) Rambut memutih.

2.2 Masalah Yang Terjadi Pada Lansia


Secara individu, pengaruh proses menusa dapat menimbulkan bebagai
masalah fisik baik secara fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomis.
Dengan semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran
terutama dibidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan
pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya
gangguan didalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat
meningkatkan ketergantungan yang memerlukan orang lain.

Lanjut usia tidak saja ditandai dengan kemunduran fisik, tetapi dapat pula
berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan
sosialnya akan semakin berkurang hal mana akan dapat mengakibatkan

berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan


dampak pada kebahagiaan seseorang (Stanley, 2007).

Pada usia mereka yang telah lanjut, sebagian diri mereka masih mempunyai
kemampuan untuk bekerja. Permasalahannya yang dapat timbul adalah
bagaimana memfungsikan tenaga dan kemampuan mereka tersebut didalam
situasi keterbatasan kesempatan kerja.

Masalah-masalah pada lanjut usia di kategorikan ke dalam empat besar


pendertaan lanjut usia yaitu imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental,
dan inkontinensia.

2.2.1 Imobilisasi dapat disebabkan karena alasan psikologis dan fisik. Alasan
psikologis diantaranya apatis, depresi, dan kebingungan. Setelah faktor
fsikologis, masalah fisik akan terjadi sehingga memperburuk kondisi
imobilisasi tersebut dan menyebabkan komplikasi sekunder (Watson,
2003).
faktor

fisik

yang

menyebabkan

imobilisasi

mencakup

frakturekstremitas, nyeri pada pergerakan artrithis, paralis dan


penyakit serebrovaskular, penyakit kardiovarkular yang menimbulkan
kelelahan yang ekstrim selama latihan, sehingga tidak terjadi
ketidakseimbangan. Selain itu penyakit seperti parkinson dengan
gejala tumor dan ketidakmampuan untuk berjalan merupakan
penyebab imobilisasi.

2.2.2 Ketidakstabilan adalah jatuh karena kejadian ini sering dialami oleh
lanjut usia dimana wanita yang jatuh, dua kali lebih sering dibanding
pria. Jatuh adalah sesuatu kejadian yang di laporkan penderita atau
saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang
mendadak terbaring dan terduduk dilantai tau tempat yang lebih

10

rendah dengan atau tanpa kehilangan kesdaran atau luka yang akibat
jatuh dapat menyebabkan imobilisasi (Watson, 2003).

2.2.3 Gangguan mental merupakan yang sering terjadi sehubungan dengan


terjadinya kemerosotan daya ingat. Beberapa kasus iniberhubungan
dengan penyakit-penyakit yang merusak jaringan otak, sehingga
kebanykan maslah turunnya daya ingat lanjut usia bukanlah sebagai
akibat langsung proses penuan tetapi karena penyakit.

Sebagian besar lanjut usia memerlukan perawatan karena menderita


gangguan mental. Konfusi (kebingungan) adalah maslah utama
mempunyai konsekuensi untuk semua aktivitas sehari-hari. Lanjut
usia yang mengalami konfusi tidak akan mampu untuk makan, tidak
mampu mengontrol diri, bahkan menunjukan prilaku yang agresif
sehingga lanjut usia memerlukan perawatan lanjutan usia mengatasi
ketidakmampuan dan keamanan lingkungan tempat tinggal lanjut usia
secara umum. Bantuan yang diberikan adlah melalui petugas panti
dan dukungan keluarga (Watson, 2003).

2.2.4 Insiden inkontinensia biasanya meningkat pada lanjut usia yang


kehilangan kontrol berkemih dan defakasi. Hal ini berhubungan
dengan faktor akibat penuaan dan faktor nutrisi seperti yang telah
dijelaskan diatas adalah efek dari imobilisasi.

Inkontinensia lebih banyak diderita oleh perempuan dari pada lakilaki. Wanita yang melahirkan anak dengan otot dasar panggul yang
lemas, menjadi penyebab inkotinensia. Pada laki-laki, penyebab
umumnya adalah pembesaran kelenjar prostat dan diperlukan prosedur
bedah untuk menangani kondisi tersebut (Watson, 2003).

11

2.3 Konsep Senam Lansia


2.3.1 Definisi
Senam berasal dari kata yunani yaitu gymnastic, gymnos berati
telanjang dimana pada zaman tersebut orang yang melakukan senam
harus bertelanjang, dengan maksud agar keleluasaan gerak dan
pertumbuhan badan yang dilatih dapat terpantau.

Senam adalah aktivitas fisik yang dilakukan baik sebagai cabang


olahraga tersendiri maupun sebagai latihan untuk cabang olahraga
lainnya.

Pengertian lansia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik


yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai
mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai
kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup
berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki
selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi manusia yang normal,
siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap
fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi
lingkungannya (Darmojo, 2004).

Jadi, senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan
terarah serta yang diikuti oleh lansia yang dilakukan dengan maksud
meningkatkan kemampuan fungsional raga. Senam lansia ini dirancang
secara khusus untuk melatih bagian-bagian tubuh serta pinggang, kaki
serta tangan agar mendapatkan peregangan bagi para lansia, namun
dengan gerakan yang tidak berlebihan. Jika diperhatikan, senam lansia
tidak membuat pesertanya banyak bergerak seperti olahraga aerobik,
tujuannya adalah agar stamina dan energi para lansia tidak terkuras
habis.

12

2.3.2 Manfaat Senam Lansia


Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat bermanfaat
untuk menghambat proses degeneratif/ penuaan. Senam ini sangat
dianjurkan untuk mereka yang memasuki usia pralansia(45 tahun) dan
usia lansia (65 tahun ke atas).

Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan


fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas
dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Tingkat kebugaran di
evaluasi dengan mengawasi kecepatan denyut jantung waktu istirahat
yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi supaya lebih bugar.
Kecepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus menurun.

Dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia merasa


berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran
tetap segar. Selain itu memperlancar proses degenerasi karena
perubahan usia, mempermudah untuk

menyesuaikan kesehatan

jasmania dalam kehidupan( Adaptasi), dan fungsi melindungi, yaitu


memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya
tuntutan, misalnya sakitSebagai rehabilitas pada lanjut usia terjadi
penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal,
toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya peningkatan lemak
tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat
mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan
dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti
senam lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti
hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan
(Darmojo, 2001; 81).

13

2.3.3 Jenis-Jenis Senam Lansia


2.3.3.1 Senam kebugaran Lansia
Jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia antara lain
adalah senam lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu
tubuh tetap dan segar karena melatih tulang tetap kuat,
mendorong

jantung

bekrja

optimal,

dan

membantu

menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh.


Dapat dikatakan bugar, atau dengan perkataan darah baik
sehingga tubuh jasmani yang baik bila jantung dan peredaran
darah baik sehingga tubuh seluruhnya dapat menjalankan
fungsinya dalam waktu yang cukup lama.
2.3.3.2 Senam otak
Manfaat dari senam otak antara lain : melepas otak dari
ketegangan, meningkatkan kecerdasan akademik, mengurangi
stress, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kemampuan
berbahasa, memperbaiki kondisi emosional yang berpengaruh
pada kondisi sosial.
2.3.3.3 Senam osteoporosis
Kendati osteoporosis dikenal sebagai penyakit silent killer
(pembunuh tersembunyi), tidak berarti kedatangannya tidak
bisa diantisipasi.osteoporosis sebenarnya bisa dicegah, tetapi
dengan beberapa persyaratan. Untuk mencegah osteoporosis,
maka kebiasaan merokok, minum kopi, alkohol dan soft drink
harus

di

kurangi.

Sebaliknya

harus

membiasakan

mengkonsumsi makanan mengandungkalsium tinggi seperti


teri, udang rebon, kacang-kacangan, tempe atau minum susu.
Kenapa harus mengkonsumsi kalsium merupakan elemen
mineral yang paling banyak dibutukan untuk kesehatan tulang.

Tetapi, yang perlu diingat dalam mencegah osteoporosis, gizi


saja tanpa dibarengi oleh latihan fisik ternyata fisik tidak cukup.

14

Untuk itu ada senam osteoporosis untuk mencegah dan


mengobati terjadinya pengeroposan tulang. Daerah yang rawan
osteoporosis adalah area tulang punggung, pakngkal paha dan
pergelangan tangan.
2.3.3.4 Senam hipertensi
Olahraga atau senam hipertensi adalah bagian dari usaha untuk
mengurangi berat badan dan mengelola stress dua faktor yang
mempertinggal resiko hipertensi.
2.3.3.5 Senam diabetes mellitus
Variasi gerakan dalam senam diabetes cukup banyak. Senam
tersebut dapat mengelola semua organ tubuh manusia, mulai
otak hingga ujung kaki. Sebab, dampak penyakit kencing manis
menyerang seluruh tubuh, dampak paling ringan adalah kaki
kesemutan. Sedangkan yang terparah adalah menderita stroke.
Karena manfaatnya banyak, senam diabetes tidak hanya
diperuntukan bagi kalangan diabetes. Tapi, senam itu juga bisa
dilakukan oleh orang yang belum jadi penderita diabetes.
Tujuannya, mencegah agar tak terkena penyakit tersebut.
2.3.3.6 Olahraga rekreatif atau jalan santai
Liburan adalah waktu yang paling banyak ditunggu setiap orang
walaupun untuk liburan banyak hal yang bisa dilakukan dari
mulai yang sederhana sampai liburan yang memakan biaya
tinggi,

tetapi

hal

itu

bukan

masalah

sepanjang

kita

memfokuskan pada aspek positif liburan terutama untuk


kesehatan. Peneliti telah menunjukan liburan ternyata sangat
dianjurkan oleh para dokterkarena memiliki pengaruh terhadap
kesehatan.

15

2.3.4 Prinsip Senam Lansia


2.3.4.1 Gerakan bersifat dinamis (berubah-ubah)
2.3.4.2 Bersifat progresif (bertahap meningkat)
2.3.4.3 Adanya pemanasan dan pendinginan pada setiap latihan
2.3.4.4 Lama latihan berlangsung 15-60 menit
2.3.4.5 Frekuensi latihan perminggu minimal 3 kali dan optimal 5 kali

2.3.5 Langkah - langkah Penelitian


2.3.5.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda
2.3.5.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll
2.3.5.3 Persiapan lansia
2.3.5.4 langkah langkah senam
a. Pemanasan (10 menit)
1) Berdiri tegak, menghadap kedepan
2) Jalan ditempat dengan hitungan 4x8 hitungan
3) Jalan maju, mundur, gerakan kepala menengok samping,
miringkan kepala menundukan kepala 8x8
4) Melangkahkan

satu

langkah

kesamping

dengan

menggerakkan bahu 8x8


5) Dorong tumit kanan kedepan bergantian dengan tumit kiri,
angkat kaki, tekuk lengan 8x8
6) Peregangan dinamis dengan jalan ditempat hitungan 8x8
7) Gearakan perenggangan dinamis dan statis hitungan 8x8
2.3.5.5 Pendinginan (10 menit )
2.3.5.6 Manfaat senam yang saya teliti di atas tersebut untuk
mendapatkan kesegaran jasmani yang baik pada lansia, karena
orang yang melakukan senam, peredaran darah akan lancar dan
lansia merasakan rasa gembira.

16

2.3.6 Langkah - langkah kegiatan senam


2.3.6.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda
2.3.6.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll
2.3.6.3 Persiapan lansia
2.3.6.4 langkah langkah senam
a.

Jalan di tempat (2 x 8)

b.

Angguk kepala (2 x 8)

c.

Tengok kepala kiri kanan (2 x 8)

d.

Patahkan kepala kiri kanan (2 x 8)

e.

Angkat bahu kiri (1 x 8)

f.

Angkat bahu kanan (1 x 8)

g.

Angkat kedua bahu (2 x 8)

h.

Buka kaki, tangan pegang di depan (1 x 8)

i.

Buka kaki, tangan di atas (1 x 8)

j.

Buka kaki, tangan ke bawah (1 x 8)

k.

Badan condong kekiri, tangan ke atas (2 x8) dan sebaliknya

l.

Pegang siku kanan kiri (2 x 8)

m. Telapak tanagn dibelakang (2 x 8)


n.

Telapak tangan kanan dan kiri (2 x 8)

o.

Jalan di tempat dan ambil nafas (2 x 8)

p.

Peralihan jalan ditempat (1 x 8)

q.

Langkah kaki kanan dan kiri (1 x 8)

r.

Jalan ditempat (1 x 8)

s.

Langkah kaki kanan kiri (1 x 8)

2.4 Aktifitas Fisik Pada Lansia


2.4.1 Definisi
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi
untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu, dan
lain sebagainya. Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang

17

melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang serta yang ditujukan untuk


meningkatkan kebugaran jasmani disebut olahraga. Manfaat olahraga
pada lansia antara lain dapat memperpanjang usia, menyehatkan
jantung,otot, dan tulang, membuat lansia lebih mandiri, mencegah
obesitas,mengurangi

kecemasan

dan

depresi,

dan

memperoleh

kepercayaan diri yang lebih tinggi (Farizati, 2002).

Perkumpulan senam lansia Indonesia misalnya beranggotakan ribuan


orang yang sebagian besar para lansia latihan fisik akan memberi
manfaat baik pada fisik maupun kejiwaan.

2.4.1.1 Manfaat Fisik


Manfaat fisik didapat karena aktivitas fisik akan menguatkan
otot jantung dan memperbesar bilik jantung. Kedua hal ini akan
meningkatkan efesiensi kerja jantung. Elastisitas pembuluh
darah akan meningkat sehingga jalannya darah akan lebih
lancar dan tercegah pula keadaan tekanan darah tinggi dan
penyakit jantung koroner. Lacarnya pembuluh darah juga akan
membuat lancar pula pembuangan zat sisa sehingga tidak
mudah lelah. Otot rangka akan bertambah kekuatan, kelentukan
dan daya tahannya, sehingga mendukung terpeliharanya
kelincahan serta kecepatan reaksi. Dengan kedua hal ini
kecelakaan lebih dapat terhindarkan. Kekuatan akan kepadatan
tulang akan bertambah karena adnya tarikan otot sewaktu
latihan fisik, dan tercegahnya pengeroposan tulang. Persendian
akan terasa lentur,sehingga gerakan sendi tidak akan terganggu.
Dengan manfaat fisik ini, berbagai penyakit degeneratif
(misalnya : jantung, hipertensi, diabetes mellitus, rematik) akan
tercegah atau sedikit teratasi. Berat badan tubuh terpelihara dan
kebugaran akan bertambah sehingga produktivitas akan
meningkatkan dan dapat menikmatimasa tua dengan bahagia.

18

2.4.1.2 Manfaat Kejiwaan


Beberapa ahli mendapatkan kesimpulan bahwa aktivitas fisik
dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih tenang, kurang
dan kecemasan. Latihan fisik akan membuat seseorang lebih
kuat menghadapi stres dan gangguan hidup sehari-hari, lebih
dapat berkonsentrasi, tidur lebih nyenyak. Hal ini disebabkan
karena gerakann fisik bisa digunakan untuk memproyeksikan
ketegangan, sehingga setelah latihan, orang merasa ada beban
jiwa yang terbebaskan. Disamping iu penurunan kadar garam
dan peningkatan kadar epineprhin serta endorphin membuat
orang merasa bahagia, tenang dan percaya diri.

2.5 Kegiatan Sehari-hari pada Lansia


2.5.1 Mandi
Tidak menerima bantuan (masuk dan keluar bak mandi sendiri jika
mandi

dengan

menjadi

kebiasaan),

menerima

bantuan

untuk

mandihanya satu bagian tubuh (seperti punggung atau kaki), menerima


bantuan mandi lebih dari satu bagian tubuuh (atau tidak dimandikan).
2.5.2 Berpakaian
Mengambil baju dan memakai baju dengnan lengkap tanpa bantuan,
kecuali mengikat tali sepatu, menrima bantuan dalam memakai baju,
atau membiarkan sebagian tetap tidak berpakaian.
2.5.3 Ke kamar kecil
Pergi kekamar kecil membersihkan diri, dan merapikan baju tanpa
bantuan (dapat menggunakan objek untuk menyokong seperti tongkat,
walker, atau kursi roda, dan dapat mengatur bedpan malam hari atau
bedpan pengosongan pada pagi hari, menriamaa bantuan kekamar kecil
membersihkan

diri,

atau

dalam

merapikan

pakaian

sesudah

eliminasi,atau menggunakan bedpan atau pispot pada malam hari, tidak


ke kamar kecil untuk proses eliminasi.

19

2.5.4 Berpindah
Berpindah dari tempat tidur seperti berpindah ke dan dari kursi tanpa
bantuan (mungkin menggunakan alat/objek untuk mendukung spserti
tempat atau alat bantu jalan), berpindah ke dan dari tempat tidur atau
kursi dengan bantuan, bergerak naik atau turun dari tempat tidur.
2.5.5 Kontinen
Mengontrol perkemihan dan defekasi dengan komplit oleh diri sendiri,
kadang-kadang

mengalami

ketidakmampuan

untuk

mengontrol

perkemihan dan defekasi, pengawasan membantu mempertahankan


control urin atau defekasi, kateter digunakan atau kontnensa.
2.5.6 Makan
Makan sendri tanpa bantuan, makan sendiri kecuali mendapatkan
bantuan dalam mengambil makanan sendri, menerima bantuan dalam
makan sebagian atau sepenuhnya dengan menggunakan selang atau
cairan intravena.

2.6 Bentuk Gangguan Pada Lansia


2.6.1 Demensia
Demensia adalah suatu gangguan intelektual / daya ingat yang
umumnya progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada
orang yang berusia > 65 tahun.
2.6.2 Stres
Gangguan stres merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia.
Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi atau stres tetapi
suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang
dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi pada
lansia dengan dewasa muda berbeda dimana pada lansia terdapat
keluhan somatik.
2.6.3 Skizofrenia
Skizofrenia biasanya dimulai pada masa remaja akhir / dewasa muda
dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita skizofrenia

20

lambat dibanding pria. Perbedaan onset lambat dengan awal adalah


adanya skizofrenia paranoid pada tipe onset lambat.

2.6.4 Gangguan Delusi


Onset usia pada gangguan delusi adlah 40 55 tahun, tetapi dapat
terjadi kapan saja. Pada gangguan delusi terdapat waham yang tersering
yaitu : waham kejar dan waham somatik.
2.6.5 Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah berupa gangguan panik, fobia, gangguan
obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, gangguan stres akut,
gangguan stres pasca traumatik. Onset awal gangguan panik padalansia
adalah jarang, tetapi dapat terjadi. Tanda dan gejala fobia pada lansia
kurang serius dari pada dewasa muda, tetapi efeknya sama, jika tidak
lebih dapat menimbulkan debilitasi pada pasien lanjut usia. Teori
eksistensial menjelaskan kecemasan tidak terdapat stimulas yang dapat
didentifikasi secara spesifik bagi perasaan yang cemas secara kronis.

Kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya.


Orang mungkin menghadapi pikiran kematian dengan rasa putus asadan
kecemasan, bukan dengan ketenangan hati dan rasa integritas.
Kerapuhan sistem saraf anotomik yang berperan dalam perkembangan
kecemasan setelah suatu stresor yang berat. Gangguan stres lebih sering
pada lansia terutama jenis stres pasca traumatik karena pada lansia akan
mudah terbentuk suatu cacat fisik.
2.6.6 Gangguan Somatiform
Gangguan somatiform ditandai oleh gejala yang sering ditemukan pada
pasien > 60 tahun. Gangguan biasanya kronis dan prognosis adalah
berhati-hati. Untuk mententramkan pasien perlu dilakukan pemeriksaan
fisik ulang sehingga ia yakin bahwa merka tidak memiliki penyakit
yang mematikan. Terapi pada gangguan ini adalah dengan pendekatan
psikologis dan farmakologis.

21

2.6.7 Gangguan Penggunaan Alkohol dan Zat lain


Riwayat minum / ketergantungan alkohol biasanya memberikan riwayat
minum berlebihan dimulai pada masa remaja / dewasa. Mereka
biasanya memiliki penyakit hati. Sejumlah besar lansia dengan riwayat
penggunaan alkohol terdapat penyakit dimensia yang kronis seperti
ensefalopati wernicke dan sindrima korsakoff. Presentasi klinis pada
lansia termasuk terjatuh, konfusi, heiginis pribadi yang buruk,
malnutrisi dan efek pemaparan. Zat yang dijualbeban seperti kafein dan
nikotin sering disalahgunakan. Di sini harus diperhatikan adanya
gangguan gastrointestiral kronis pada lansiapengguna alkohol maupun
tidak obat-obat sehingga tidak terjadi sesuatu penyakit medik (
Darmojo, 2006 ).
2.6.8 Gangguan Tidur / Insomnia
Usia lanjut adalah faktor tunggal yang paling sering berhubungan
dengan peningkatan prevalensi gangguan tidur atau insomnia.fenomena
yang sering dikeluhkan lansia daripada usia dewasa muda adalah
gangguan tidur, ngantuk siang hari dan tidur sejenak di siang hari
( Nugorho, 2008 ).

Secara klinis, lansia memiliki gangguan pernafasan yang berhubungan


dengan tidur dan gangguan pergerakan akibat medikasi yang lebih
tinggi dibanding dewasa muda. Disamping perubahan sistem regulasi
dan fisiologis,penyebab gangguan tidur primer pada lansia insomnia.
Selain itu gangguan mental lain, kondisi medis umum, faktor sosial dan
lingkungan. Gangguan tersering pada lansia pria adalah gangguan
Rapid Eye Movement (REM). Hal yang menyebabkan gangguan tidur
juga termasuk adanya gejala nyeri, nokturia, sesak nafas, nyeri perut (
Nugorho, 2008 ).

Keluhan utama pada lansia sebenarnya adalah lebih banyak terbangun


pada dini hari dibandingkan dengan gangguan dalam tidur.perburukan

22

yang

terjadi

adalah

perubahan

waktu

dan

konsolidasi

yang

menyebabkan gangguan pada kualitas tidur pada lansia.


Berdasarkan The National Old Peoples Walfare Council di Inggris
menyebutkan bahwa penyakit atau gangguan umum pada lanjut usia
meliputi depresi mental, gangguan pendengaran, bronkitis kronis,
gangguan pada tungkai/sikap berjalan, gangguan pada koksa/sendi
panggul, anemia, demensia, gangguan pengelihatan, ansetas/kecemasan,
dekompensasi kordis, diabetes mellitus, osteomalasia, hipotiroidisme
dan gangguan defakasi.
2.6.9 Gangguan Aktivitas Dasar Sehari-hari
Permasalahan yang sering dialami oleh lansia adalah kemunduran
dibidang fisik-biologis yang berhubungan dengan gangguan aktivitas
yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal
ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan di dalam hal mencukupi
kebutuhan

hidupnya

sehingga

dapat

jlljkkjmengakibatkan

ketergantungan yang memerlukan bantuan orang lain.

2.7 Osteoartritis
2.7.1 Definisi
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif kronik non
inflamasi yang berkaitan dengan kerusakan kartilogi sendi. Penyakit ini
bersifat progresif lambat, ditandai dengan adanya degenerasi tulang
rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepinya, sklerosis tulang subkondral,
perubahan pada membran sinoval, disertai nyeri, biasanya setelah
aktivitas berkepanjangan, dan kekakuan, khususnya pada pagi hari atau
setelah aktivitas. Penyakit ini disebut juga degenerative arthritis,
hypertrophic arthritis, dan degenerative joint disease. Osteoartritis
adalah bentuk artritis yang paling umum terjadi yang mengenai mereka
di usia lanjut atau usia dewasa dan salah satu penyebab terbanyak
kecacatan di negara berkembang.

23

2.7.2 Klasifikasi
Osteoartritis diklasifikasikan oleh Altman et al menjadi 2 golongan
yaitu OA primer dan OA sekunder.

2.7.7.1 Osteoartritis Primer


Osteoartritis primer atau OA idiopatik belum diketahui
penyebabnya dan tidak berhubungan dengan penyakit sistemik
maupun proses perubahan lokal pada sendi. Meski demikian,
osteartritis primer banyak dihubungkan pada penuaan. Pada
orang tua, volume air dari tulang muda meningkat dan susunan
protein tulang mengalami degenerasi. Akhirnya, kartilogi mulai
degenerasi dengan mengelupas atau membentuk tulang muda
yang kecil. Pada kasus-kasus lanjut, ada kehilangan total dari
bantal

kartilogi

antara

tulang-tulang

dan

sendi-sendi.

Penggunaan berulang dari sendi-sendi yang terpakai dari tahun


ke tahun dapat membuat bantalan tulang mengalami iritasi dan
meradang, menyebabkan nyeri dan pembengkakan sendi.
Kehilangan bantalan tulang ini menyebabkan gesekan antar
tulang, menjurus pada nyeri dan keterbatasan mobilitas sendi.
Peradangan dari kartilogi dapat juga menstimulasi pertumbuhanpertumbuhan tulang baru yang terbentuk di sekitas sendi-sendi.

Osteoartritis primer ini dapat meliputi sendi-sendi perifer (baik


satu maupun banyak sendi), sendi interphalang, sendi besar
(panggul,lutut),

sendi-sendi

kecil

(carpometacarpal,

metacarpophalangeal), sendi apophyseal dan atau intervertebral


pada tulang belakang, maupun variasi lainnya seperti OA
inflamatorik erosif, OA generalisata, chondromalacia patella,
atau Diffuse Idiopathic Skeletal Hyperostosis (DISH).

24

2.7.7.2 Osteoartritis Sekunder


Osteartritis sekunder adalah OA yang disebebkan oleh penyakit
atau kondisi lainnya, seperti pada post-traumatik, kelainan
kongenital dan pertumbuhan (baik lokal maupun generalisata),
kelaina tulang dan sendi, penyakit akibat deposit kalsium,
kelainan endikrin, metabolik, inflamasi,imobilitas yang terlalu
lama, serta faktor resiko lainnya seperti obesitas, operasi
berulang kali pada struktur-struktur sendi, dan sebagainya.

2.7.3 Epidemiologi Osteoartritis


Osteoartritis merupakan penyakit sendi pada orang dewasa yang paling
umum di dunia. Felson (2008) melaporkan bahwa satu dari tiga orang
dewasa memiliki tanda-tanda radiologis terhadap OA. OA pada lutut
merupakan tipe OA yang paling umum dijumpai pada orang dewasa.
Penelitin epidemiologi dari Joern ey al (2010) menemukan bahwa
oarang dewasa dengan kelompok 60-64 tahun sebanyak 22%. Pada pria
dengan kelompok umur yang sama, dijumpai 23% menderita OA. Pada
lutut kanan, sementara 16,3% sisanya didapati menderita OA pada lutut
kiri. Berbeda halnya pada wanita yang terdistribusi merata, dengan
insiden OA pada lutut kanan sebanyak 24,2% dan pada lutut kiri
sebanyak 24,7%.

2.7.4 Patogenesis Osteoartritis


Osteoartritis selama ini di pandang sebagai akibat dari suatu proses
ketuan yang tidak dapat dihindari. Namun, peneltian para pakar
sekarang menyatakan bahwa OA ternyata merupakan penyakit
gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan
struktur proteoglikan kartilago yang menyebabkan belum diketahui.
Jejas mekanis dan kimiawi diduga merupakan faktor penting yang
merangsang terbentuknya molekul abnormal dan produk degradasi
kartilago di dalam cairan sinovial sendi yang mengakibatkan terjadi

25

inflamasi sendi, kerusakan kondrosit, dan nyer. Jejas mekanik dan


kimiawi pad sinovial sendi yang terjadi multifaktorial antara lain karena
faktor umumr, humoral, genetik, obesitas, stress mekanik atau
penggunaan sendi yang berlebihan, dan defek anotomik.

Kartilago sendi merupakan terget utama perubahan degeneratif pada


OA. Kartilago sendi ini secara umum berfungsi untuk membuat gerakan
sendi bebas gesekan karena terendam dalam cairan sinovial dan sebagai
absorb shok, penahan bebandari tulang. Pada OA, terjadi gangguan
homeostasis dari metabolisme kartilago sehingga terjadi kerusakan
struktur proteoglikan kartilago, erosi tulang rawan, dan penurunan
cairan sendi.

Tulang rawan (kartilago) sendi dibentuk oleh sel kondrosit dan matriks
ekstraseluler, yang terutama terdiri dari air (65%-80%), proteoglikan,
dan jaringan kolagen. Kondrosit berfungsi mensintesis jaringan lunak
kolagen tipe II untuk penguat sendi dan proteoglikan untuk membuat
ajringan tersebut elastis, serta memelihara matriks tulang rawan
sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik.
Kartilago tidak memiliki pembuluh darah sehingga proses perbaikan
pada kartilago berbeda dengan jaringan-jaringan lain. Di kartilago,
tahap perbaikannya sangat terbatas mengingat kurangnya vaskularisasi
dan respon inflamasi sebelumnya.

Secara umum, kartilago akan mengalami replikasi dan memproduksi


matriks baru untuk memperbaiki diri akibat jejas mekainis maupun
kimiawi. Namun dengan hal ini, kondrosit gagal mensintesis matriks
yang berkualitas dan memelihara keseimbangan antara degredasi dan
sintesis matriks ekstraseluler, termasuk produksi kolagen tipe I, III, VI,
dan X yang berlebihan dan sintesis proteoglikan yang pendek.
Akibatnya, terjadi perubahan pada diameter dan orientasi serat kolagen

26

yang mengubah biomekanik kartilago, sehingga sendi kehilangan sifat


kompresbilitasnya.
Beberapa keadaan seperti trauma / jejas mekanik menginduksi
pelepasan

enzim

degradasi,

seperti

strimelysin

dan

Matrix

Metalloproteinasis (MMP). Stromelysin mendegradasi proteglikan,


sedangkan MMP mendegredasi proteoglikan dan kolagen matriks
ektraseluler. MMP diproduksi oleh kondrosit, kemudian diaktifkan
melalui

kaskade

yang

melibatkan

proteinase

serin

(aktivator

plasminogen), radikal bebas, dan beberapa MMP tipe membran.


Kaskade enzimatik ini dikontrol oleh berbagai inhibator, termasuk
TIMP dan inhibator aktivator plasminogen. Tissue inhibator of
metalloproteinases (TIMP) yang umumnya berfungsi menghambat
MMP tidak dapat bekerja optimal karena di dalam rongga sendi ini
cenderung bersifat asam oleh karena stromelysin (pH 5,5), sementara
TIMP baru dpat bekerja optimal pada pH 7,5.

2.7.5 Diagnosis Osteoartritis


Diagnosis OA didasarkan pada gambaran klinis yang dijumpai
(Soerosos, 2006).

2.7.5.1 Tanda dan Gejala Klinis


Pada umumnya, pasien OA mengatakan bahwa keluhankeluhan yang dirasakannya telah berlangsung lama, tetapi
berkembang secara perlahan Berikut adalah keluhan yang dapat
dijumpai pada pasien OA :
a.

Nyeri Sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama pasien. Nyeri
biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang
dengan istirahat. Beberapa gerakan dan tertentu terkadnag
dapat menimbulkan rasa nyeri yang melebihi gerakan lain.
Perubahan ini dapat ditemuakan meski OA masih tergolong

27

dini (secara radiologis). Umumnya bertamba berat dengan


semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya bisa
digoyangkan dan menjado kontraktur, hambatan gerak
dapat konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris
(salah satu arah gerakan saja) (Soeroso, 2006)..

Kartilago tidak mengandung serabut dan kehilangan


kartilago pada sendi tidak diikuti denagn timbulnya nyeri.
Sehingga dpat diasumsikan bahwa nyri yang timbul pada
OA berasal dari luar kartilago (Felson,2008).

Pad apenelitian dengan menggunakan MRI, didapat bahwa


summber dari nyeri yang timbul diduga bersal dari
peradangan sendi (senovitis), efusi sendi, dan edema
sumsun tulang (Felson, 2008).

Osteofit merupakan salah satu penyebab timbulnya nyeri.


Ketika osteofit tumbuh, inervasi neurovaskular menembusi
bagian dasar tulang hingga ke kartilago dan menuju ke
osteofit yang sedang berkembang hal ini menimbulkan
nyeri (Felson, 2008).

Nyeri dapat timbul dari bagian diluar sendi, termasukk


bursae di dekat sendi. Sumber nyeri yang umum di lutut
adalah akibat dari anserine bursitis dan sindrom iliotibial
band (Felson, 2008).

b.

Hambatan Gerakan Sendi


Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara
perlahan sejalan dengan pertambahan rasa nyeri (Soeroso,
2006).

28

c.

Kaku Pagi
Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah pasien berdiam
diri atau tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di
kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama, bahkan
setelah bangun tidur di pagi hari ( Soeroso, 2006).

d.

Krepitasi
Krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang
sakit. Gejala ini umum dijumpai pada pasien OA lutut. Pada
awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang
patah atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa.
Seiring dengan perkembangan penyakit, krepitasi dapat
terdengar hingga jarak tertentu. (Soeroso,2006).

e.

Pembesaran Sendi (deformitas)


Sendi yang terkena secara perlahan dapat membesar
(Soeroso, 2006).

f.

Pembengkakan Sendi yang Asimetris


Pembengkakan sendi yang timbul dikarenakna terjadi efusi
pada sendi yang biasanya tidak banyak ( < 100 cc) atau
karena adanya osteofit, sehingga bentuk permukaan sendi
berubah (Soeroso, 2006).

g.

Tanda-tanda Peradangan
Tanda-tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan,
gangguan gerak, rasa hangat yang merata, dan warna
kemerahan) dapat dijumpai pada OA karena adanya
synovitis. Biasanya tnda-tanda ini tidak menonjol dan
timbul pada perkembangan penyakit yang lebih jauh. Gejala
ini dijumpai pada OA lutut (Soeroso,2006).

29

h.

Perubahan Gaya Berjalan


Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien dan
merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien
OA, terlebih pada pasien lanjut usia. Keadaan ini selalu
berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat
badan terutama pada OA lutut (Soeroso, 2006).

2.7.6 Pemeriksaan Diagnostik


Pada penderita OA, dilakukan pemeriksaan radiografi pada sendi
yang terkena sudah cukup unutk memberikan suatu gambaran
diagnostik. Gambaran Radiografik sendi yang menyokong diagnosis
OA adalah :
a. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat
pada bagian yang menanggung beban sperti lutut).
b. Peningkatan densitas tulang subkondral (sklerosis).
c. Kista pada tulang.
d. Osteofit pada pinggir sendi.
e. Perubahan strukut anatomi sendi.
Berdasarkan temuan-temuan radiografik diatas, maka OA dapat
diberikan suatu derajat. Kriteria OA berdsarkan temuan
radiografik dikenal sebagai kriteria Kellgren dan Lawrence yang
membagi OA dimulai dari tingkat ringan hinggatingkat berat.
Perlu diingat bahwa pada awal penyakit, gambaran radiografis
sendi masih terlihat normal (Felson, 2006).

2.7.7 Pemeriksaan Laboratorium


Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak
berguna. Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas-batas normal.
Pemeriksaan imunologi masih dalam batas-batas normal. Pada OA yang
disertai peradangan sendi dapat dijumpai peningkatan ringan sel

30

peradangan ( < 8000 / m) dan peningkatan nilai protein (Soeroso,


2006).

2.7.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada

OA bertujuan

untuk

mengontrol

nyeri,

memperbaiki fungsi sendi yang terserang, menghambat progresifitas


penyakit, serta edukasi pasien.

2.9 Keterkaitan Senam Lansia dengan Aktivitas fisik lansia


Fase menurunnya kemampuan akal dan fisik yang di mulai dengan adanya
beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia
mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan
anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan
fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu lansia, kemudian mati. Bagi
manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan
baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan
kondisi lingkungannya.

Dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia merasa


berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran tetap
segar. Selain itu memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia,
mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmania dalam kehidupan(
Adaptasi), dan fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam
fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalnya sakitSebagai rehabilitas
pada lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut
jantung maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya
peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia
dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan
dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti senam
lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi,
diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan.

31

Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh
berulang-ulang serta yang ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani
disebut olahraga. Manfaat olahraga pada lansia antara lain dapat
memperpanjang usia, menyehatkan jantung,otot, dan tulang, membuat lansia
lebih mandiri, mencegah obesitas,mengurangi kecemasan dan depresi, dan
memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi.

2.10 Kerangka Teori Penelitian


Kerangka teori adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan
suatu teori dengan faktor-faktor yang penting diketahui dalam suatu
penelitian. sebagai kerangka teori dalam penelitian ini adalah

Pengaruh

Senam Lansia aktivitas yang saling terkait untuk melihat fungsi dari Senam
Lansia terhadap aktifitas fisik.(Menurut Notoatmodjo,2010).

Input
Lansia

1. Pembagian usia lansia:


a. Usia pertengahan (midlle
age) ialah kelompok usia
45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly)
antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old)
antara 75 dan 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very
old) diatas 90 tahun.
2. Jenis kelamin
a. Pria

Proses
Senam Lansia:
1. Pre test
2. Post test

a. Berjalan kaki
b. Senam jantung
sehat.

c. Aerobik
d. Senam
osteoporosis

e. Olahraga ringan
lainnya.

b. Wanita

Gambar 2.1: Kerangka Teori

Output
Aktivitas Fisik

1. Kegiatan sehari-hari
a. Makan
b. Berpindah tempat
c. Ke kamar kecil

32

2.11 Kerangka Konsep Penelitian


Merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang
peneliti menyusun teori atau singkatnya kerangka konsep membahas saling
ketergantungan antara variable yang dianggap perlu untuk melengkapi
dinamika situasi atau hal yang sedang akan diteliti (Alimul,2007).
Berdasarkan teori yang telah diuraikan pada tinjauan pustaka, maka kerangka
konsep dalam penelitian ini dapat menggambarkan pada gambar dibawah ini :
Pengaruh senam Lansia terhadap aktivitas fisik pada lansia di PSTW Budi
Sejahtera Banjarbaru.

Senam Lansia

Aktivitas Sebelum

Aktivitas Sesudah

Gambar 2.2: Kerangka konsep

Keterangan : Diteliti
Berhubungan

2.12 Hipotesa/Pertanyaan penelitian


Ada pengaruh bermakna antara pengaruh senam lansia terhadap aktivitas fisik
pada lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.

33

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Rancangan penelitian merupakan hasil dari suatu tahap keputusan yang dibuat
oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan.
Rancangan sangat erat

dengan kerangka konsep sebagai petunjuk

perencanaan pelaksanaan suatu penelitian (Nursalam, 2003).

Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen semu (Quasi


Experiment Design) artinya desain ini tidak mempunyai pembatasan yang
ketat terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol
ancaman-ancaman validitas. Dalam hal ini kecuali, penelitian mempunyai
keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang),
pre test dan post test.
Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

Pre test

Perlakuan

O1

Post test
O2

Keterangan:
1. O1 : Pre test untuk mengetahuai aktivitas fisik pada lansia osteoarthritis
sebelum di lakukan senam lansia.
2. X

: Perlakuan (Senam Lansia).

3. O2 : Post test untuk mengetahui perubahan aktivitas fisik pada lansia


osteoarthritis setelah di lakukan senam lansia.

23

34

3.2 Definisi Operasional


Definisi Operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau
pengamatan

terhadap

variabel-variabel

yang

bersangkutan

serta

pengembangan instrumen (observasi). Definisi operasional penelitian ini


adalah :
Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional
Variabel

Definisi

Paremeter

Dependen:

Aktivitas fisik

Kegiatan sehari-hari

Aktivitas

adalah setiap

- Makan

fisik

gerakan tubuh

- Berpindah tempat

a.Pre test

yang

- Ke kamar kecil

b.Post test

membutuhkan

Alat ukur

Skala

Kategori

Observasi

Ordinal

- Baik (7-9)
- Cukup
(4-6)
- Kurang
(0-3)

energy untuk
mengerjakannya.
Independen:

Senam lansia

Senam

adalah

diberikannya senam 1

musik dan

lansia

serangkaian

hari dalam seminggu

panduan

gerak nada yang

selama 3 minggu

instruktur

teratur dan

- Frekuensi,

- Durasi, selama

terarah serta

melaksanakan senam

yang diikuti oleh

lansia diberikan

lansia yang

waktu > 20 menit

dilakukan dengan

Suara

senam

- Lamanya, mengikuti

meningkatkan

senam lansia sampai

kemampuan

waktu yang

fungsional raga.

dibataskan

3.3 Populasi, Sampel dan Sampling


Populasi adalah setiap subyek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
Populasi merupakan seluruh subyek atau obyek tertentu yang akan diteliti.
Bukan hanya subyek atau obyek yang dipelajari saja tetapi seluruh
karakteristik atau sifat yang dimiliki subyek atau obyek tersebut (Hidayat,
2003). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lansia yang

35

memiliki riwayat dengan osteartrhitis di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru


yang berjumlah 15 lansia dari kapasitas penampungan maksimal berjumlah
112 lansia yang sudah dibagi menjadi satu kelompok untuk mengikuti senam
lansia dengan kriteria yang telah ditentukan peneliti di PSTW Budi Sejahtera
Banjarbaru. (Nursalam, 2003).

Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subyek
penelitian (Nursalam,

2003). Sampel adalah sebagian jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, bila populasi besar dan
peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi misalnya
keterbatasan dana, tenaga dan waktu maka peneliti menggunakan sampel
yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2003).

Sampling adalah suatu praktek statistk yang berhubungan dengan pemilihan


observasi individual yang ditujukan untuk memahami populasi yang terkait,
khususnya untuk kepentingan pembuatan inferensi statistic.

Dalam Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple random


sampling dengan cara peneliti membuat one group. Jadi sampel yang diambil
dalam penelitian ini berjumlah 15 Responden dengan satu kelompok yang
akan diberi perlakuan di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru.
Kriteria sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
3.3.1 Kriteria Inklusi
3.3.1.1 Lansia ikut senam sebanyak 3 kali.
3.3.1.2 Lansia ikut senam senam minimal 20 menit.
3.3.1.3 Lansia ikut senam dengan serius.
3.3.1.4 Lansia bisa ikut mandiri dalam senam.

36

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di Panti Sosial Tresna Werda Banjarbaru.
Alasan peneliti memilih tempat tersebut karena PSTW Budi Sejahtera
Banjarbaru merupakan panti dengan jarak yang paling dekat dari panti yang
lain di daerah Banjarbaru. Penelitian ini akan dilakukan dalam waktu satu
bulan dengan pengolahan data yang didapat selama penelitian di PSTW Budi
Sejahtera Banjarmasin.

3.5 Jenis Senam yang digunakan


3.5.1 Senam kebugaran Lansia
Jenis olahraga yang bisa dilakukan pada lansia antara lain adalah senam
lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh tetap dan segar
karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal,
dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam
tubuh. Dapat dikatakan bugar, atau dengan perkataan darah baik
sehingga tubuh jasmani yang baik bila jantung dan peredaran darah baik
sehingga tubuh seluruhnya dapat menjalankan fungsinya dalam waktu
yang cukup lama.

3.6 Langkah - langkah Penelitian


3.6.1 Persiapan tempat atau halaman di Panti Wherda
3.6.2 Persiapan alat seperti, kaset recorder, leptop dll
3.6.3 Persiapan lansia
3.6.4 langkah langkah senam
3.6.4.1 Pemanasan (10 menit)
a. Jalan di tempat (2 x 8)
b. Angguk kepala (2 x 8)
c. Tengok kepala kiri kanan (2 x 8)
d. Patahkan kepala kiri kanan (2 x 8)
e. Angkat bahu kiri (1 x 8)
f. Angkat bahu kanan (1 x 8)

37

g. Angkat kedua bahu (2 x 8)


h. Buka kaki, tangan pegang di depan (1 x 8)
i. Buka kaki, tangan di atas (1 x 8)
j. Buka kaki, tangan ke bawah (1 x 8)
k. Badan condong kekiri, tangan ke atas (2 x8) dan sebaliknya
l. Pegang siku kanan kiri (2 x 8)
m. Telapak tanagn dibelakang (2 x 8)
n. Telapak tangan kanan dan kiri (2 x 8)
o. Jalan di tempat dan ambil nafas (2 x 8)
p. Peralihan jalan ditempat (1 x 8)
q. Langkah kaki kanan dan kiri (1 x 8)
r. Jalan ditempat (1 x 8)
s. Langkah kaki kanan kiri (1 x 8)
3.6.4.4 Pendinginan (10)
3.6.4.5 Manfaat senam yang saya teliti di atas tersebut untuk
mendapatkan kesegaran jasmani yang baik pada lansia, karena
orang yang melakukan senam, peredaran darah akan lancar dan
lansia merasakan rasa gembira.

3.7 Alat Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian berupa: observasi
Karena, data yang akan dikumpulkan menyangkut pemeriksaan fisik seperti
pengukuran aktivitas fisik pada lansia yang Osteoartrhitis pre test dan post
test setelah diberikan perlakuan yaitu Senam lansia terhadap aktivitas fisik
pada lansia osteoartrhitis yang sudah dibentuk menjadi satu kelompok.
Alat yang digunakan dalam penelitian observasi aktivitas fisik dihitung
berdasarkan kesesuaian kunci jawaban setiap pertanyaan yang cocok, jika
jawaban baik maka nilainya , jika jawaban cukup nilainya 0, begitu juga bila
jawabannya kurang nilainya 0.

38

3.8 Teknik Pengambilan Data


Pengambilan data adalah suatu proses pendekatan pada subyek dan proses
pengambilan karakteristik subyek yang diperlukan dalam penelitian
(Nursalam, 2003). Metode pengambilan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mengumpulkan data berupa pengamatan observasi
(Observasi Eksperimental). Dalam observasi ini observee dicoba atau
dimasukkan ke dalam suatu kondisi atau situasi tertentu (Notoatmodjo, 2010).

Prosedur pengambilan data yang dilakukan secara langsung pada subyek yang
dirawat di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru. Pertama yang dilakukan peneliti
ialah mengidentifikasi tempat penelitian dan populasi target kemudian
mengajukan surat permohonan izin untuk mengadakan penelitian. Persetujuan
telah didapatkan kemudian penelitian melakukan pendekatan kepada calon
responden, bila mendapat persetujuan maka responden bersedia dengan
menandatangani surat persetujuan. Peneliti kemudian bekerja sama dengan
instruktur senam yang sudah profesional untuk memberikan perlakuan pada
responden yang memenuhi kriteria pada kelompok yang di berikan perlakuan.

3.9 Teknik Analisa Data


Analisa bevariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga
berhubungan atau berkorelasi. Penelitian ini menggunakan rumus Wilcoxson
yaitu uji nonparametrik merupakan alat uji statisktik yang digunakan untuk
menguji hipotesis komparatif (uji beda) bila datanya berskala numerik pada
dua sampel berhubungan (related). Menurut Algifari (2003).
Sebuah sampel dikatakan related apabila dalam sebuah penelitian, peneliti
hanya menggunakan satu sampel, namun diberi perlakuan (treatment) lebih
dari satu kali.

39

Rumus Wilcoxson :
Z=

(
(

)
)(

Keterangan :
Z = Nilai hitung

n = Nilai yang tidak sama

T = Jumlah rangking terkecil

3.10 Etika Penelitian


Etika penelitian bertujuan untuk melindungi hak-hak responden untuk
menjamin kerahasiaan identitas responden dan kemungkinan terjadinya
ancaman terhadap responden.

Dalam

melakukan

penelitian,

peneliti

mendapat

rekomendasi

dari

institusinya atas pihak lain mengajukan permohonan izin kepada


institusi/lembaga setempat penelitian. Menurut Notoatmodjo (2010).

Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan


menekankan masalah etika yang meliputi :
3.8.1 Informed consent
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti
yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan
manfaat penelitian, bila subyek menolak maka penelitian tidak
memaksakan dan tetap menghormati hak-hak subyek.

3.8.2 Anonymity (tanpa nama)


Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama
respon, tetapi lembar tersebutr diberikan kode.

3.8.3 Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok
data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

40

BAB 4
HASIL PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian


4.1.1 Panti Sosial Tersna Werdaha Budi Sejahtera Banjarbaru
Panti Sosil Tresna Werdha Budi Sejahtara Provinsi Kalimantan Selatan
Di Banjarbaru yaitu salah satu usaha pemerintah dalam penanganan
lanjut usia terlantar melalui program pelayanan dalam panti dengan
harapan lanjut usia dapat menikmati hidupnya dalam panti berupa
pelayanan pengasramaan, jaminan hidup seperti makan, minum dan
pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian waktu luang termasuk
rekreasi,

bimbingan

sosial,

mental

dan

agama

serta

latihan

keterampilan.

Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera Provinsi


Kalimantan Selatan Di Banjarbaru berdiri pada tahun 1977 dengan
nama Sasana Trena Werdha Rawa Sejahtera, yang berlokasi di jalan A.
Yani Km. 18.700 kelurahan landasan ulin barat dengan daya tampung
50 orang. Mengingat kondisi bangunan kurang memenuhi syarat maka
sejak tahun 1981 dipindahkan ke lokasi yang baru yaitu di jalan A.Yani
Km 21.700 Landasan Ulin Tengah Banjarbaru dengan nama Panti
Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera sesuai dengan SK
Mensos Nomor: 6 HUK/ tanggal 5 februari 1994 dengan kapasitas daya
tamping 100 orang.
Berdasarkan SK Gubernur Kalimantan selatan Nomor: 026/DIKDAKEU/2002 tanggal 16 Januari 2002, PSTW Pembimbing Budi Sejahtera
Landasan Ulin Banjarbaru.

40

41

Tabel 4.1 Luas Wilayah Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera
Banjarbaru Tahun 2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Bangunan
Kantor
Aula
Wisma tamu
Poliklinik
Wisma (13)
Dapur
Mushala
Gudang
Rumah dinas (7 buah)
Pos jaga

Luas wilayah (m2)


500
250
70
100
90-135
220
80
48
24

4.1.2 Gambaran Umum Lanjut Usia di Lokasi Penelitian


Kapasitas lanjut usia di Panti Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi
Kalimantan Selatan Banjarbaru sesuai dengan peraturan Gubernur
Kaliamantan Selatan No 8 tahun 2010 yaitu berjumlah 110 orang.
Berdasarkan penelitian pada tanggal 17- 31 Juli 2015 jumlah lanjut usia
sebanyak 112 orang, yang terdiri dari 62 orang perempuan dan 50 lakilaki. Jumlah lanjut usia di masing-masing wisma menurut jenis kelamin
dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

42

Tabel 4.2 Jumlah Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi
Sejahtera Banjarbaru
No

Wisma

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Dahlia
Teratai
Seroja
Melati
Sakura
Flamboyant
Anggrek
Mawar
Isolasi A
Isolasi B
Aster
Cempaka
Kenanga
Nusa indah
Total

Jumlah Lanjut Usia


Laki-Laki
Perempuan
0
7
0
8
10
0
0
8
0
9
9
0
7
0
0
7
0
8
5
0
10
0
0
9
0
6
9
0
50
62

Tabel 4.3 Sumberdaya Tenaga PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Tahun


2015
No
Sumber Daya Tenaga Kerja
Jumlah (Energi)
Pegawai negeri sipil (PNS)
1
Pejabat Structural
3
2
Pejabat Fungsional
5
3
Staf
Tenaga Honorer
1
Tenaga Honorer
19
Tenaga Pendukung
1
Satpam
4
2
Pengasuh
11
3
Dokter
1
4
Perawat
3
5
Ahli Gizi
1
6
Juru Masak
3
7
Tukang Kebun
1
8
Clanning Service
2
9
Tukang Cuci
1
Jumlah
85

43

Fasilitas dan pelayanan yang dilakukan di dalam dan di luar gedung


Panti Sosial Tresna Werdha Banjarbaru, yaitu dengan melaksanakan
kegiatan diantaranya:
4.1.2.1 Pelayanan sosial, berupa bimbingan individual atau kelompok.
4.1.2.2 Pelayanan fisik, berupa senam kesegaran jasmani dan kerja
bakti

bagi

para

lanjut

usia

yang

kondisi

fisiknya

memungkinkan.
4.1.2.3 Pelayanan psikososial, berupa kegiatan penyaluran bakat/hobi
dan pengisian waktu luang.
4.1.2.4 Pelayanan spiritual/keagamaan, berupa bimbingan rohani dn
ibadah.
4.1.2.5 Pelayanan pendamping, berupa mendampingi kegiatan seharihari.
4.1.2.6 Pelayanan pemakaman, berupa pengurusan jenazah.

4.2 Karakteristik Responden


4.2.1 Karakteristik responden
Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 15 responden diambil
pada bulan 17 Juli 2015. Karakteristik responden peneliti meliputi jenis
kelamin dan usia.

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


No
Jenis kelamin
Frekuensi
Persen (%) Kumulatif (%)
1
perempuan
3
20.0
20.0
2
Laki-laki
12
80.0
100.0
Total
15
100.0
Dari data tabel 4.4 diatas nilai data responden berdasarkan jenis
kelamin mayoritas responden terbanyak adalah laki-laki sebanyak 12
orang (80%)

44

Tabel 4.5 Kakteristik Responden Berdasarkan Umur


No
Usia
Frekuensi
Persen (%)
1
65
1
6.7
2
67
1
6.7
3
68
2
13.3
4
69
1
6.7
5
70
1
6.7
6
72
2
13.3
7
73
1
6.7
8
74
1
6.7
9
75
2
13.3
10
76
1
6.7
11
78
1
6.7
12
80
1
6.7
Total
15
100

Dari data tabel 4.5 diatas nilai data responden berdasarkan umur
mayoritas responden terbanyak adalah 72 dan 75 tahun yaitu masingmasing 2 orang yaitu dengan masing masing 13.3% .

4.2.2 Analisis Univariat


4.2.2.1 Gambaran Aktifitas Fisik Sebelum Senam Lansia
Analisis univariat dalam penelitian ini adalah mengemukakan
kondisi aktifitas lansia. Penelitian ini menggunakan 15 sampel,
dilakukan pengukurang nilai peningkatan aktifitas anara sebelum
perlakuan dan sesudah perlakuan. Berikut hasil responden
sebelum dan sesudah senam lansia.

Tabel 4.6 Kondisi Aktifitas Fisik Sebelum Senam Lansia di


PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru
No
Katagori
Frekuensi
Persen (%)
1 Baik
1
6.7
2 Cukup
11
73.3
3 Kurang
3
20
Total
15
100

45

Dari tabel 4.6 diatas di dapatkan

mayoritas skor aktivitas

responden sebelum senam lansia terbanyak adalah cukup


sebanyak 11 orang yaitu 73.3%.

4.2.2.2 Gambaran Aktifitas Fisik Sesudah Senam Lansia


Tabel 4.7 Kondisi Aktifitas Fisik Sesudah Senam Lansia di
PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru
No
Katagori
Frekuensi
Persen (%)
1 Baik
11
73.3
2 Cukup
3
20
3 Kurang
1
6.7
Total
15
100.

Dari tabel 4.7 diatas di dapatkan mayoritas skor aktivitas


responden sesudah senam lansia yang adalah baik sebanyak 11
orang yaitu 73.3%.

4.2.3 Analisis Bivariat


4.2.3.1 Anilisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis yang
dirumuskan dalam peneltian. Uji hipotesis dengan menggunakan
uji wilcoxson.

Tabel 4.8 Hasil Analisis Pengaruh Senam Lansia Terhadap


Aktivita Fisik Pada Lansia Osteoartritis
Setelah Senam
Sebelum
Total
Baik
Cukup
Kurang
f

Baik

100

100

Cukup

10

90,9

9,1

11

100

Kurang

66,7

33,3

100

Total

11

73.3

20.0

6.7

15

100.0

p Value = 0,001; = 0,05

46

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum senam lansia


dengan kategori cukup namun setelah senam dengan kategori
baik sebanyak 10 orang (66.7%). Hasil uji wilcoxson diatas pada
tabel 4.8 dapat disimpulkan bahwa hasil dari nilai signifikan
didapatkan sebesar 0.001 Hal ini menandakan bahwa nilai
tersebut lebih kecil dari alfa yaitu p 0,05, dalam hal ini Ha
diterima dan Ho ditolak artinya ada pengaruh senam lansia
terhadap aktivitas fisik pada lansia osteoartitis di Panti Sosial
Tresna Wherda Budi Sejahtera Banjarbaru.

4.3 Pembahasan
4.4.1 Kondisi aktivitas fisik sebelum melakukan senam lansia pada lansia
osteoatritis.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas
responden di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera
Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru sebelum dilakukan intervensi
didapatkan mayoritas aktivitas responden sebelum senam lansia dengan
kategori cukup sebanyak 11 orang (73.3%).

Dari 15 orang 3 diantaranya kurang dalam aktivitas fisik, hal ini di


dalam

index makan, lansia yang setelah makan mereka tidak dapat

mencuci piring sendiri, mereka merasa sakit kalau melipat kakinya


terlalu lama karena dalam mencuci piring harus melipat kaki terlebih
dahulu. Hal ini sesuai dengan hasil observasi tentang Lansia mencuci
piring sendiri sehabis makan tanpa bantuan dengan jawaban kurang
terbanyak. Dalam index berpindahtempat lansia tidak dapat berjalan
terlalu jauh, sering mengeluh sakit jika berjalan jauh.ini sesuai dengan
jawaban lansia berpindah tempat dari wisma ke wisma yang lain dengan
jawaban terendah dari index berpindah tempat. Dalam index kekamar
kecil lansia mencuci pakainnya dengan bantuan orang lain.

47

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang membutuhkan energi


untuk mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu, dan
lain sebagainya. Aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang
melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang serta yang ditujukan untuk
meningkatkan kebugaran jasmani disebut olahraga. Manfaat olahraga
pada lansia antara lain dapat memperpanjang usia, menyehatkan
jantung,otot, dan tulang, membuat lansia lebih mandiri, mencegah
obesitas,mengurangi

kecemasan

dan

depresi,

dan

memperoleh

kepercayaan diri yang lebih tinggi (Farizati, 2002).

Manfaat fisik didapat karena aktivitas fisik akan menguatkan otot


jantung dan memperbesar bilik jantung. Kedua hal ini akan
meningkatkan efesiensi kerja jantung. Elastisitas pembuluh darah akan
meningkat sehingga jalannya darah akan lebih lancar dan tercegah pula
keadaan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner. Lancarnya
pembuluh darah juga akan membuat lancar pula pembuangan zat sisa
sehingga tidak mudah lelah. Otot rangka akan bertambah kekuatan,
kelentukan dan daya tahannya, sehingga mendukung terpeliharanya
kelincahan serta kecepatan reaksi. Dengan kedua hal ini kecelakaan
lebih dapat terhindarkan. Kekuatan akan kepadatan tulang akan
bertambah karena adnya tarikan otot sewaktu latihan fisik, dan
tercegahnya

pengeroposan

tulang.

Persendian

akan

terasa

lentur,sehingga gerakan sendi tidak akan terganggu. Dengan manfaat


fisik ini, berbagai penyakit degeneratif (misalnya : jantung, hipertensi,
diabetes mellitus, rematik) akan tercegah atau sedikit teratasi. Berat
badan tubuh terpelihara dan kebugaran akan bertambah sehingga
produktivitas akan meningkatkan dan dapat menikmatimasa tua dengan
bahagia.

Beberapa ahli mendapatkan kesimpulan bahwa aktivitas fisik dapat


menyebabkan seseorang menjadi lebih tenang, kurang dan kecemasan.

48

Latihan fisik akan membuat seseorang lebih kuat menghadapi stres dan
gangguan hidup sehari-hari, lebih dapat berkonsentrasi, tidur lebih
nyenyak. Hal ini disebabkan karena gerakann fisik bisa digunakan
untuk memproyeksikan ketegangan, sehingga setelah latihan, orang
merasa ada beban jiwa yang terbebaskan. Disamping iu penurunan
kadar garam dan peningkatan kadar epineprhin serta endorphin
membuat orang merasa bahagia, tenang dan percaya diri.

Perkumpulan senam lansia Indonesia misalnya beranggotakan ribuan


orang yang sebagian besar para lansia latihan fisik akan memberi
manfaat baik pada fisik maupun kejiwaan.

4.4.2 Kondisi aktivitas fisik sesudah melakukan senam pada lansia


osteoatritis.
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas
responden di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Sejahtera
Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru sesudah dilakukan intervensi
di dapatkan mayoritas aktivitas

responden sesudah senam lansia

dengan kategori baik sebanyak 11 orang (73.3%).

Sesudah perlakuan senam kebugaran yang diberikan kepada lansia


terdapat perubahan dari yang kurang 3 orang menjadi 1 orang saja. Dari
index makan lansia sudah dapat mencuci piring sendiri sehabis makan
tanpa bantuan orang lain, dari index berpiindah tempat lansia sudah
mengalami penurunan nyeri saat berjalan jauh sehingga lansia dapat
berpindah tempat dari wisma kewisma yang lain, dan dari index ke
kamar kecil lansia sudah dapat mencuci pakaiannya sendiri meskipun
pakain yang dicuci tidaklah terlalu bersih tetapi hal ini menunjukkan
perubahan sesudah lansia tersebut melakukan senam.

49

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum dengan


mengikuti senam dapat meningkatkan aktivitas fisik pada penderita
osteoarthritis, dengan mengikuti senam lansia minimal 20 menit seperti
halnya menurut Suroto (2004) Senam lansia dilaksanakan selama
minimal 20 menit dan 1 kali dalam seminggu secara teratur dan terukur.
Senam lansia dapat menjadi program kegiatan olahraga rutin yang dapat
dilakukan di posyandu lansia atau di rumah dalam lingkungan
masyarakat. Senam lansia dilakukan dengan senang hati untuk
memperoleh hasil latihan yang lebih baik yaitu kebugaran tubuh dan
kebugaran mental seperti lansia merasa berbahagia, senantiasa
bergembira, bisa tidur lebih nyenyak dan pikiran tetap segar.

4.4.3 Pengaruh senam lansia terhadap aktivitas fisik lansia osteoatritis.


Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum senam
dengan kategori cukup dan setelah senam dengan kategori baik ada 10
orang (66,7%). Senam lansia ini dapat meningkatkan aktivitas fisik
pada lansia osteoarthritis dengan melakukanya minimal >20 menit.
Perbedaan sebelum melakukan senam dan setelah melakukan senam
dapat dilihat pada tabel 4.8. dari hasil statistic mengunakan wilcoxson
didapatkan bahwa nilai p (0,001) < nilai (0,05) maka H0 ditolak yang
berarti secara statistic ada pengaruh senam lansia terhadap aktivitas
fisik pada lansia osteoarthritis pada tingkat kesalahan 5%.

Namun, masih ada seorang lansia sebelum senam dengan kategori


kurang dan setelah senam dengan kategori kurang. Hal ini di karenakan
pada saat melakukan senam lansia tersebut dalam waktu kurang dari 15
menit sudah berhenti senam lansia yang baik dilakukan secara
terencana dan terstruktur minimal 20 menit, ini bertujuan agar dapat
meningkatkan kebugaran jasmani, menyehatkan jantung, otot, dan
tulang.

50

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara kualitatif dan kuantitatif


pada senam lansia dapat meningkatkan aktivitas fisik pada lansia
osteoarthritis setelah dilakukan intervensi. Hal tersebut bisa disebabkan
karena dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia
merasa berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak,
pikiran tetap segar. Selain itu memperlancar proses degenerasi karena
perubahan usia, mempermudah untuk

menyesuaikan kesehatan

jasmania dalam kehidupan (Adaptasi), dan fungsi melindungi, yaitu


memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya
tuntutan, misalnya sakit sebagai rehabilitas pada lanjut usia terjadi
penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal,
toleransi latihan, kapasitas aerobic dan terjadinya peningkatan lemak
tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat
mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan
dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan/ olahraga seperti
senam lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti
hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan
(Darmojo, 2001; 81).

Bagi orang berusia lanjut, dimana penurunan fleksibilitas sendi dari usia
30 sampai 30 tahun bisa mencapai 40 sampai 50% di anjurkan aktivitas
bergerak bebas pada kesendian untuk mencegah proses degenerasi
dengan gerakan yang tidak menimbulkan beban berlebihan pada otot,
sehingga ada kesempatan otot untuk melakukan pemulihan pada tahap
awal (wold 2004).

Latiahan senam menurut Cooper dalam Sumosardjono (1992) akan


meningkatkan efesiensi paru-paru dan kerja jantung. Aktivitas
bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan komponen
kebugaran dasar meliputi ketahanan kadiorespiratori (jantungparu

51

peredaran darah), lemak tubuh kekuatan otot dan ketentuan (Glam &
Teh, 1993).

Aktivitas fisik menyebabkan sistem kardiovaskuler dan respirasi


bekerja secara terpadu untuk memenuhi kebutuhan O2 jaringan yang
aktif, serta untuk dapat mengeluarkan CO2dan panas yang terpenduk
selama latiahan (Gallo & Andersen, 1995). Komponen aktivitas
kebugaran meliputi keberdayaan mandiri, keuntungan fungsional atau
latihan bertahan (kecepatan gerak sendi dan ROM), daya tahan,
kelenturan dan keseimbangan (Darmojo, 2004).

4.4 Keterbatasan penelitian


Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu
4.4.1

Penelitian ini terbatas dalam hal pengendalian faktor-faktor penyebab


yang

dapat

mempengaruhi.

Misalnya

peneyebab

munculnya

osteoarthritis seperti usia, genetik, trauma pada tulang, aktivitas


olahraga berlebihan, obesitas dan lain-lain lain. Beda penyebab yang
muncul maka beda pula lama proses penyembuhanya. Mungkin ini
sebabnya sesudah dilakukan senam lansia terhadap aktivitas fisik pada
lansia osteoarthritis lalu dilakukan pengukuran ada sebagian sampel
yang mengalami peningkatan aktifitas secara drastik, da nada data
yang hanya sedikit mengalami peningkatan aktifitas.
4.4.2

Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas fisik yang mungkin


mempengaruhi terjadinya osteoarthritis tidak di kaji pada penelitian
ini.

4.5 Implikasi Hasil Penelitian Bidang Keperawatan


Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam bidang keperawatan terutama
mengenai penanganan osteoatritis. Hasil penelitian ini juga akan berdampak
baik terhadap orang-orang yang mengalami masalah osteoatritis pada lansia.
Dengan mengunakan senam yang sangat bermanfaat.

52

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan oleh
peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi aktivitas fisik terhadap
osteoatritis pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha PSTW Banjarbaru
adalah sebagai berikut:

5.1.1 Kondisi aktivitas fisik sebelum mengikuti senam lansia pada lansia
osteoatritis di dapatkan mayoritas katagori aktivitas responden sebelum
senam lansia terbanyak adalah cukup sebanyak 11 orang yaitu 73,3%.
5.1.2 Kondisi aktivitas fisik sesudah mengikuti senam lansia pada lansia
osteoatritis di dapatkan mayoritas katagori aktivitas responden sesudah
senam lansia yang adalah baik sebanyak 11 orang yaitu 73.3%.
5.1.3 Ada Pengaruh senam lansia terhadap aktivitas fisik lansia osteoatritis
dengan nilai signifikan didapatkan sebesar 0,001. Hal ini menandakan
bahwa nilai tersebut lebih kecil dari alfa yaitu P 0,05.
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan penelitian yang diberikan tersebut peneliti dapat
memberikan saran sebagai berikut:
5.2.1 Bagi Instansi Terkait
Diharapkan dapat memanfaatkan senam lansia sebagai salah satu cara
mengatasi aktivitas fisik.
5.2.2 Bagi STIKES Muhammadiyah Banjarmasin
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk semua mahasiswa
yang membacanya, agar dapat mengetahui bahwa selain pengobatan
medis, dengan mengunakan senam juga bisa mengatasi aktivitas fisik.

52

53

5.2.3 Bagi Peneliti Lain


Bagi peneliti selanjutnya, sebagai sarana informasi dan dapat
dikembangkan dengan penelitian sederhana dan murah,
meneliti hubungan obesitas dengan kejadi ostoatritis.

dan bisa

54

DAFTAR RUJUKAN
Sukartini, Nursalam. (2009). Manfaat Senam Tera Terhadap Kebugaran Lansia,
Vol.8, No.3, hal 153-158
Suroto. (2004). Buku Pegangan Kuliah (Pengertian Senam, Manfaat Senam, Dan
Urutan Gerakan).Semarang:UNDIP
Stanley, M. (2007). Buku ajar keperawatan gerontik. Edisi 2, Jakarta:EGC
Rachmi,U.,Dkk. (2001). Pedoman advokasi kesehatan olahraga.Depkes RI,Jakarta
Potter, Patricia A, (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses,
dan praktik. Yasmin (penerjemah). Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C dan Bare B.G. (2002). Keperawatan Medikal-Bedah,Vol 1 edisi
8.Cetakan I,Jakarta:EGC
Guyton, A.C.(1990). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit (Human
physiology and mechanisms of disease, Edisi 3,Jakarta:EGC
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka
Cipta
Sugiyono. (2009). Statistik Nonparametris untuk Penelitian. Cetakan ke-7,
Surabaya: CV.ALFABETA
Sugiyono. (2010). Statistik Nonparametris untuk Penelitian. Cetakan ke-8,
Surabaya: CV.ALFABETA
Watson, R.( 2002). Anatomi dan fisiologi untuk perawat.Edisi 10, Jakarta: EGC
Dahlan, M.S. (2011). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif,
Bivariat, dan Multivariat, Dilengkapi dengan Aplikasi degan
menggunakan SPSS, Edisi 5. Jakarta: Salemba Medika
Algifari. (2003). Statistik Induktif (untuk ekonomi dan Bisnis), Edisi 2.
Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Azizah, L.M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia, Edisi pertama, Yogyakarta:
Graha Ilmu
Nugroho, W. (2000). Keperawatan gerontik, Edisi-2, Jakarta: EGC
Mubarak, W.I. (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas (Konsep dan Aplikasi).
Jakarta: Salemba Medika

55

Sukartini. (2009). Manfaat senam tera terhadap kebugaran lansia. Jurnal


Penelitian. Med.Eksakta, Vol.8, No.3, 153-158
Ayu. (2012). Pemberian intervensi senam lansia pada lansia dengan nyeri lutut.
Jurnal Nursing Studies, Vol.1, No.1, 60-65
Nugraha. (2001). Efektifitas latihan senam jantung sehat seri II terhadap
pencegahan kelainan jantung dan peningkatan tingkat kesegaran
jasmani. Jurnal penelitian, Vol.7
Hikmaharida. (2011). Pengaruh senam Tai Chi terhadap tekanan darah wanita
berusia 50 tahun ke atas. FK Undip
Anwar, D.I, http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/tentang-senam lansia.html,
diperoleh 11 Oktober 2012)
Farizati Karim. 2002. Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan.
Depkes RI.
Wijayakusuma hembing 2007 atasi rematik dan asam urat ala hembing Jakarta:
puspa swara
Yatim faisal 2006 penyakit tulang dan persendian arthritis atau arthralgia
Jakarta:pustaka popular obor
Putra B M & srikandi W 2010 the book of antiagung rahasia awet muda MINDBODY-SPIRIT Jakarta: elex media komputindo

56

JADWAL DAN KEGIATAN PENELITIAN


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kegiatan

April
Mei
Juni
Juli
Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Memilih dan meajukan judul


Studi pendahuluan
Menyusun proposal
Seminar proposal
Revisi proposal
Pelaksanaan Penelitian
Penyusunan laporan
Seminar skripsi
Revisi skripsi
Mengumpulkan naskah skripsi

Banjarmasin, Agustus 2015


Peneliti

Asmara Ari Sandi

57

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

JUDUL PENELITIAN

PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA


OSTEOARTRITIS DI PANTI SOSISAL TRESNA WHERDA BUDI SEJAHTERA
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BANJARBARU
TAHUN 2015

KepadaYth. (Responden)
AssalamualaikumWr. Wb.
Nama saya Asmara Ari Sandi (11312 AS1), mahasiswa Program Studi S1
Keperawatan

NersA

Sekolah

Tinggi

Ilmu

Kesehatan

Muhammadiyah

Banjarmasin. Saya bermaksud mengadakan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan


sebagai salah satu kegiatan dalam penyelesaian tugas akhir Program Studi S1
Keperawatan

NersA

Sekolah

Tinggi

Ilmu

Kesehatan

Muhammadiyah

Banjarmasin untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan.


Untuk keperluan di atas saya mohon kesediaan Saudara/i untuk menjadi
responden. Semua data yang terkumpul akan dirahasiakan dan tanpa nama.
Partisipasi saudara/i adalah secara sukarela tanpa adanya paksaan, apa bila
anda berkenan menjadi responden. Atas partisipasi Saudara/i, saya ucapkan
terimakasih. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran pahala yang berlipat
ganda kepada Saudara/i. Amin
WassalamualaikumWr. Wb.
Peneliti,

Asmara Ari Sandi

58

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA


OSTEOARTRITIS DI PANTI SOSIAL TRESNA WHERDA BUDI SEJAHTERA
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BANJARBARU
TAHUN 2015

Oleh
Asmara Ari Sandi
11312 ASI

Setelah membaca maksud dan tujuan dari peneliti ini, maka saya dengan sadar
menyatakan: bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
Tandatangan saya di bawah ini sebagai bukti kesediaan saya menjadi responden.

No. Responden

Hari/Tanggal

Tanda tangan

59

LEMBAR OBSERVASI
SENAM LANSIA

Umur

:.

Ruangan :...............................

Jenis Kelamin

:.

Tanggal :.......................2015

1. Lansia senam pagi


Melakukan senam dengan mandiri
Senam dengan bantuan bantuan alat
Senam dengan bantuan perawat
Senam dengan bantuan teman sebaya
2. Lansia dapat mengikuti senam dengan waktu
> 20 menit
20 menit
15 menit
< 15 menit
3. Lansia Aktif / Tidak dalam melakukan senam
Aktif
Ku

60

LEMBAR OBSERVASI
KEGIATAN SEHARI - HARI

Umur

:.

Ruangan

:...............................

Jenis Kelamin

:.

Tanggal

:.......................2015

Index Makan
1. Lansia makan tanpa bantuan dari orang lain
Baik

Cukup

Kurang

2. Lansia menerima bantuan dalam makan sebagian atau sepenuhnya


Baik

Cukup

Kurang

3. Lansia mencuci piring sendiri sehabis makan tanpa bantuan


Baik

Cukup

Kurang

Index Berpindah Tempat


1. Lansia dapat berpindah dari tempat tidur dan sebaliknya tanpa bantuan
Baik

Cukup

Kurang

2. Lansia berpindah tempat dari wisma kewisma yang lain


Baik

Cukup

Kurang

3. Lansia berpindah tempat tidak menggunakan bantuan


Baik

Cukup

Kurang

Index Kekamar Kecil


1. Lansia mandi tanpa bantuan orang lain
Baik

Cukup

Kurang

2. Lansia mencuci pakaiannya tanpa bantuan orang lain


Baik

Cukup

Kurang

3. Lansia biasa ke kamar kecil sendiri tanpa bantuan orang lain


Baik

Cukup

Kurang

61

62

63

64

65

NPar Tests
[DataSet1] E:\BAB 4\pengaruh senam lansia terhadap aktifitas.sav

Wilcoxon Signed Ranks Test


Ranks
N
setelah senam sebelum senam

Negativ e Ranks
Positiv e Ranks
Ties
Total

a. setelah senam < sebelum senam


b. setelah senam > sebelum senam
c. setelah senam = sebelum senam

Test Statisticsb

Z
Asy mp. Sig. (2-tailed)

setelah
senam sebelum
senam
-3.464a
.001

a. Based on positiv e ranks.


b. Wilcoxon Signed Ranks Test

12a
0b
3c
15

Mean Rank
6.50
.00

Sum of Ranks
78.00
.00

66

Frequencies
[DataSet1] E:\BAB 4\pengaruh senam lansia terhadap aktifitas.sav

Statistics

Valid
Missing

jenis kelamin
15
0

usia
15
0

sebelum
senam
15
0

waktu senam
15
0

setelah
senam
15
0

Frequency Table
jeni s kelamin

Valid

perempuan
laki-laki
Total

Frequency
3
12
15

Percent
20.0
80.0
100.0

Valid Percent
20.0
80.0
100.0

Cumulat iv e
Percent
20.0
100.0

usia

Valid

65
67
68
69
70
72
73
74
75
76
78
80
Total

Frequency
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
1
15

Percent
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
6.7
100.0

Valid Percent
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
13.3
6.7
6.7
6.7
100.0

Cumulat iv e
Percent
6.7
13.3
26.7
33.3
40.0
53.3
60.0
66.7
80.0
86.7
93.3
100.0

67

waktu senam

Valid

20 menit
>20 menit
Total

Frequency
8
7
15

Percent
53.3
46.7
100.0

Valid Percent
53.3
46.7
100.0

Cumulat iv e
Percent
53.3
100.0

sebelum senam

Valid

baik
cukup
kurang
Total

Frequency
1
11
3
15

Percent
6.7
73.3
20.0
100.0

Valid Percent
6.7
73.3
20.0
100.0

Cumulativ e
Percent
6.7
80.0
100.0

setelah senam

Valid

baik
cukup
kurang
Total

Frequency
11
3
1
15

Percent
73.3
20.0
6.7
100.0

Valid Percent
73.3
20.0
6.7
100.0

Cumulativ e
Percent
73.3
93.3
100.0

68

Crosstabs
[DataSet1] E:\BAB 4\pengaruh senam lansia terhadap aktifitas.sav

Case Processing Summary

Valid
N
sebelum senam
* setelah senam

Percent
15

100.0%

Cases
Missing
N
Percent
0

.0%

Total
N

Percent
15

sebelum senam * setelah senam Crosstabulation


setelah senam
cukup
1
0
6.7%
.0%
10
1
66.7%
6.7%
0
2
.0%
13.3%
11
3
73.3%
20.0%

baik
sebelum
senam

baik
cukup
kurang

Total

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

kurang
0
.0%
0
.0%
1
6.7%
1
6.7%

Total
1
6.7%
11
73.3%
3
20.0%
15
100.0%

100.0%

69

Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

item 1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1

Lembar Observasi Aktivitas Sehari-hari Sebelum Perlakuan


item 2 item 3 item 4 item 5 item 6 item 7 item 8
1
0
0
0
0
1
1
1
0
0
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
1
0
1
1
0
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
1
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
1
1

item 9
0
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1

jumlah
4
5
5
5
6
4
5
5
6
5
4
6
6
6
4

kategori
cukup
cukup
cukup
cukup
cukup
cukup
kurang
cukup
cukup
kurang
cukup
kurang
cukup
baik
cukup

70

responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

item 1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1

Lembar Observasi Aktivitas Sehari-hari Sesudah Pelakuan


item 2
item 3
item 4
item5
item 6
item7 item8
1
0
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
0

item9
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1

jumlah
5
7
7
8
7
9
6
8
9
6
9
6
8
9
7

kategoi
cukup
baik
baik
baik
baik
baik
kurang
baik
baik
cukup
baik
cukup
baik
baik
baik

71

72

73