Anda di halaman 1dari 24

https://www.academia.

edu/17087158/Tugas_Polmas_Nov_2014
OPTIMALISASI PERAN BHABINKAMTIBMAS GUNA MEMINIMALISIR
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DALAM RANGKA
TERWUJUDNYA SITUASI KAMTIBMAS YANG KONDUSIF
BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Globalisasi telah membawa perubahan yang cepat pada berbagai
aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, politik, budaya dan lain-lain.
Perkembangan global tersebut telah berpengaruh pada sikap dan perilaku
setiap warga negara termasuk perkembangan dimensi kejahatan yang
sudah tidak mengenal dimensi wilayah (borderless), dimensi waktu (terjadi
sangat cepat dan sangat cepat pula menghindar/escape), dimensi masalah
(dalam arti bentuk kejahatan, modus operandi dan pelaku kejahatan yang
semakin kompleks/complicated) yang melibatkan antar bangsa dan antar
bidang kehidupan. Arus informasi serta komunikasi global telah mampu
membangun suatu dimensi baru yang bertumpu pada demokrasi dan HAM,
sehingga menampilkan kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum
yang terkadang dalam pelaksanaannya tanpa mengindahkan aturan-aturan
serta ketentuan yang berlaku dan bahkan diikuti dengan tindakan
kekerasan/anarkis yang akan dapat berubah menjadi ancaman bagi
persatuan dan kesatuan bangsa, yang pada akhirnya menuntut peran Polri
dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat luas, dalam hal ini
masyarakat menuntut terwujudnya situasi kamtibmas yang kondusif.
Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan
yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri.
menurut pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan
terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksualm psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum
perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban

2
justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah
tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai
hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan
suami, dan anak bahkan pembantu rumah tangga, tinggal di rumah ini.
Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut
dengan struktur budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami.
Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan oleh negara
dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta
menindak pelakunya.
Pelibatan masyarakat secara nyata dalam rangka menjaga keamanan
dan ketertiban telah berlangsung sekian lama yang dikenal dengan sistem
keamanan swakarsa, namun dirasakan belum dapat dilaksanakan secara
optimal, belakangan atas adanya kerjasama Polri dan JICA, dilakukan
pelatihan Community Policing atau dikenal dengan Pemolisian Masyarakat
(Polmas) untuk memberikan pengetahuan kepada Polri dalam meningkatkan
peran serta masyarakat dalam tugas Polri. Polmas sebagai strategi adalah
Model perpolisian yang menekankan kemitraan yang sejajar antara
petugas Polmas dengan masyarakat lokal dalam menyelesaikan dan
mengatasi setiap permasalahan sosial yang mengancam keamanan dan
ketertiban masyarakat serta ketenteraman kehidupan masyarakat setempat
dengan tujuan untuk mengurangi kejahatan dan rasa ketakutan akan terjadi
kejahatan serta meningkatkan kualitas hidup warga setempat. Salah satu
cara untuk menampung, mengatasi dan menyelesaikan masalah pada
masyarakat

setempat adalah dengan

cara

ditempatkannya

petugas

Bhabinkamtibmas di tiap-tiap desa / kelurahan . Dalam pelaksanaan, peran


Bhabinkamtibmas ini dalam menangani kasus-kasus kekerasan dalam
rumah tangga dianggap masih kurang optimal, karena masyarakat masih
menggantungkan dengan keberadaan anggota Bhabinkamtibmas tersebut,
sehingga perlu dioptimalkan perannya sehingga dapat berperan dalam
mencegah munculnya faktor-faktor yang berpotensi mendorong lahirnya
kejahatan terutama kekerasan dalam rumah tangga, guna mendukung
terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat.

3
2.

Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, yang menjadi permasalahan
dalam penulisan Naskah Karya Perorangan ini adalah, Belum optimalnya
peran

Bhabinkamtibmas

guna

meminimalisir

KDRT

dalam

rangka

mendukung terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif.


3.

Pokok-pokok persoalan
Untuk memudahkan dalam pembahasan permasalahan tersebut diatas,
maka dirumuskan pokok-pokok persoalan dalam Naskah Karya Perorangan
ini sebagai berikut :
a. Belum adanya kesamaan pemahaman tentang Bhabinkamtibmas ?
b. Masih kurangnya keterampilan pengemban fungsi Polmas pada
Bhabinkamtibmas ?
c. Belum baiknya pola pengangkatan dan penempatan pengemban fungsi
Bhabinkamtibmas ?

4.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembahasan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini dibatasi
pada

upaya

Kapolrestro

Tangerang

dalam

mengoptimalkan

peran

Bhabinkamtibmas guna mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban


masyarakat dalam rangka terwujudnya situasi Kamtibmas yang kondusif di
wilayah hukum Polres Metro Tangerang.
5.

Tata Urut
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI
BAB VII

:
:
:
:
:
:
:

PENDAHULUAN
KAJIAN KEPUSTAKAAN
PERAN BHABINKAMTIBMAS SAAT INI
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERAN BHABINKAMTIBMAS YANG DIHARAPKAN
UPAYA OPTIMALISASI PERAN BHABINKAMTIBMAS
PENUTUP

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

4
6.

Konsepsi Pemolisian / Perpolisian Masyarakat1


Adalah penyelenggaraan tugas kepolisian yang mendasari kepada
pemahaman bahwa untuk menciptakan kondisi aman dan tertib tidak
mungkin dilakukan oleh Polri sepihak sebagai subjek dan masyarakat
sebagai objek, melainkan harus dilakukan bersama oleh Polisi dan
masyarakat dengan cara memberdayakan masyarakat melalui kemitraan
Polisi dan warga masyarakat, sehingga secara bersama-sama mampu
mendeteksi gejala yang dapat menimbulkan permasalahan di masyarakat,
mampu mendapatkan solusi untuk mengantisipasi permasalahannya dan
mampu memelihara keamanan serta ketertiban di lingkungannya. Polmas
secara sederhana adalah konsep Polmas (Community Policing) ala
Indonesia atau Siskamswakarsa (Indonesia) yang disesuaikan dengan
model kekinian (kontemporer), sebagaimana disahkan dengan Surat
Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/737/2005 tanggal 13 Oktober 2005, yang
diperbaharui menjadi Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia No. 7 Tahun 2008 tanggal 13Oktober 2008 tentang Pedoman
Dasar

Strategi

dan

Implementasi

Pemolisian

Masyarakat

dalam

penyelenggaraan tugas Polri.


7.

Hanjar Kebijakan dan Strategi Polmas


Strategi Polmas adalah implementasi pemolisian proaktif yang
menekankan kemitraan sejajar antara polisi dan masyarakat dalam upaya
pencegahan dan penangkalan kejahatan, pemecahan masalah social yang
berpotensi menimbulkan gangguan Kamtibmas dalam rangka meningkatkan
kepatuhan hukum dan kwalitas hidup masyarakat. Sesuai dengan Peraturan
Kapolri Nomor 7 tahun 2008 tanggal 13 Oktober 2008 tentang Pedoman
Dasar

Strategi

Penyelenggaraan

dan

Implementasi

tugas

Polri.

Pemolisian

Polmas

atau

Masyarakat
community

dalam
policing

diterjemahkan Pemolisian Masyarakat atau Perpolisian Masyarakat. Policing


diartikan sebagai :
a.
penyelenggaraan
operasionalisasi

Perpolisian,
fungsi
(taktik/

yaitu

segala

Kepolisian,
tekhnik)

tidak

fungsi

hal

ihwal

hanya

Kepolisian

tentang

menyangkut
tetapi

juga

pengelolaan fungsi Kepolisian secara menyeluruh mulai dari tataran


1

Perkap No. 7 Tahun 2008, Pedoman dasar strategi dan Implementasi Polmas, Mabes Polri, Jakarta,
2008.

5
menajemen puncak sampai dengan manajemen lapis bawah, termasuk
b.

pemikiran-pemikiran filsafati yang melatarbelakanginya.


Pemolisian, yaitu pemberdayaan segenap komponen
dan segala sumber daya yang dapat dilibatkan dalam pelaksanaan
tugas atau fungsi Kepolisian guna mendukung penyelenggaraan fungsi

c.

Kepolisian agar mendapatkan hasil yang lebih optimal.


Polmas diterapkan dalam komunitas-komunitas atau
kelompok masyarakat yang tinggal di dalam suatu lokasi tertentu
ataupun

lingkungan

komunitas

berkesamaan

profesi

(misalnya

kesamaan kerja, keahlian, hobi, kepentingan, dan sebagainya),


sehingga warga masyarakatnya tidak harus tinggal di suatu tempat
yang sama, tetapi dapat saja tempatnya berjauhan sepanjang
komunikasi antara warga satu sama lain berlangsung secara intensif
atau adanya kesamaan kepentingan. Misalnya kelompok ojek, hobi
burung perkutut, pembalap motor, hobi komputer dan sebagainya yang
d.

semuanya bisa menjadi sarana penyelenggara Polmas.


Tujuan Polmas adalah terwujudnya kemitraan polisi
dan masyarakat yang didasari kesadaran bersama dalam rangka
menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan dan
ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa aman, tertib dan tentram

e.

serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.


Kemitraan polisi dan masyarakat meliputi mekanisme
kemitraan yang mencakup keseluruhan proses manajemen, mulai dari
perencanaan, pengawasan, pengendalian, analisis, dan evaluasi atas
pelaksanaannya.

Kemitraan

tersebut

merupakan

proses

yang

berkelanjutan yang dilaksanakan pada setiap kesatuan kewilayahan


dengan harapan antara polisi dengan masyarakat dapat mencegah dan
8.

mengatasi permasalahan masyarakat secara bersama-sama.


Analisis SWOT2
Analisis SWOT, Freddy Rangkuti dalam Analisis SWOT tehnik
membedah kasus bisnis (Jakarta : 2002; 18-19) menyatakan Analisis SWOT
merupakan alat untuk memformulasikan strategi. Oleh karena itu analisis
SWOT merupakan identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang

Freddy Rangkuti, Analisis SWOT, Teknik membedah kasus bisnis reorientasi konsep pencapaian
strategik, Jakarta, 2006.

6
dapat memaksimalkan kekuatan (Strenghts) dan peluang (opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses)
dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategi ini selalu
berkaitan dengan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan. Dengan demikian
perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor
strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam
kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut sebagai Analisis Situasi. Model
yang paling populer untuk analisis situasi ini adalah analisis SWOT.

BAB III
PERAN BHABINKAMTIBMAS SAAT INI
Sebagai suatu konsep dari pemolisian masyarakat, pelaksanaan Polmas
tentunya harus fleksibel, sehingga Polmas mampu diterapkan dalam kondisi
sosial budaya yang ada. Keragaman sosial budaya yang ada menuntut adanya
kreatifitas personil Polri untuk dapat memahami tentang sosial budaya yang ada
dan tengah berkembang di masyarakat sehingga penerapan Polmas dapat seiring
dan sejalan dengan kepentingan masyarakat. Sampai saat ini, sebagian besar
masyarakat masih belum mengetahui apalagi memahami arti dari penerapan
Polmas.

Sosialisasi yang dilakukan oleh Personil Polri masih belum sesuai

dengan harapan. Dengan keadaan seperti ini, akan sangat kecil masyarakat akan
bisa melakukan kemitraan dengan Polisi. Ketiadaan kemitraan membuat
masyarakat tidak pernah melibatkan Polisi apabila mengalami tindak pidana atau

7
permasalahan-permasalahan lainnya yang ada di masyarakat berkaitan dengan
keamanan dan ketidaktertiban. Salah satu bentuk kreatifitas yang dapat dilakukan
oleh Polri guna membangun kemitraan dengan masyarakat adalah dengan
menempatkan bhabinkamtibmas pada tiap-tiap desa ataupun kelurahan.
Sekilas akan disajikan tentang gambaran umum Polrestro Tangerang yang
Wilayah Hukum nya membawahi 8 (Delapan) Polsek terdiri dari 13 Kecamatan.
Dan terletak antara 66 sampai dengan LS 10813 dan 10636 BT sampai
dengan 10642 BT. Kota Tangerang menempati areal seluas : 183.370 Km 2
yang terdiri dari:
Kecamatan
:
13 buah
Polres
:
1 buah
Polsek
:
8 buah
Pospol
:
13 buah
Kelurahan
:
104 buah
RW
:
659 buah
RT
: 3.250 buah
Dengan jumlah penduduk Kota Tangerang tercatat sejumlah 1.531.666 jiwa
dengan penyebaran pada 8 wilayah Polsek. Dengan luas wilayah dan jumlah
penduduk tersebut, Data kasus KDRT di Polrestro Tangerang adalah sebagai
berikut :
NO
1

JENIS PRISTIWA

TAHUN 2013
CT
CC
17
14
17
14

JAN S/D OKT TA 2014


CT
CC
15
11
15
11

KDRT
JUMLAH
Data lapsat Polrestro Tangerang
Kekuatan personnel Bina Mitra hanya 13 orang dengan didukung oleh
petugas Babinkamtibmas sebanyak 20 orang, sedangkan ratio perbandingan Polri
dengan penduduk 1 : 1.652. Kemudian disebutkan bahwa adanya Penunjukan
Polsekta Cipondoh sebagai Pilot Project dalam mengembangkan Polmas dengan
cara pemasangan plang nama Anggota Babinkamtibmas di Rumah masing
masing guna membuka layanan pengaduan baik masalah Sosial maupun Tindak
Pidana hal ini di maksudkan bahwa Polri secara Proaktif melakukan Interaksi dan
Komunikasi serta peduli dan Empati serta Shaing dengan Masyarakat dimana
Anggota tersebut tinggal sehingga selain meningkatkan Quick Respon juga
memberikan dampak bagi meningkatnya kepercayaan Masyarakat terhadap Polri.
Secara Kuantitas mengacu kepada struktur Organisasi Polri yang baru, maka
DSPP Polres Metropolitan Tangerang berjumlah 1.510 orang, saat ini Riil 1.304

8
orang sehingga masih mengalami kekurangan 206 Personil. (Berdasarkan
Lapsat Polrestro Tangerang)
Menilik pada Data Laporan Kesatuan Polrestro Tangerang tersebut, dapat
diketahui

bahwa

Kapolrestro

masih

belum

optimal

memerankan

Bhabinkamtibmas guna mendukung terciptanya keamanan dan ketertiban


masyarakat. Dengan jumlah kriminalitas yang terjadi tersebut, dan kurangnya
jumlah personil seharusnya Kapolrestro mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas
di

wilayah

hukum

Polrestro

Tangerang.

Namun

kenyataannya,

peran

Bhabinkamtibmas belum diberdayakan secara optimal. Hal ini terjadi karena :


9.

Pemahaman tentang Bhabinkamtibmas.


a. Beroperasi

dibawah

filosofi

bahwa

pelayanan

polisi

dilakukan

berdasarkan peraturan-peraturan atau piranti lunak yang terasa sangat


dipaksakan.
b. Penempatan yang tidak permanen. Secara kuantitas terhadap pelibatan
personil yang ada untuk menerapkan Polmas sebagai suatu falsafah
tentunya dapat dilaksanakan tetapi sebaliknya yaitu jumlah personil
terbatas apabila menempatkan petugas Polmas secara permanen
sebagai suatu strategi. Umumnya proses rekrutmen petugas Polmas
berorientasi pada kuantitas atau yang penting jumlahnya memadai tanpa
menyertakan pentingnya pemikiran secara kualitas.
c. Patroli. Pelaksanaan kegiatan patroli yang dilaksanakan cenderung
hanya melaksanakan tugas pemenuhan jadwal patroli, petugas patroli
kurang menyentuh masyarakat, sehingga yang terjadi adalah kurang
adanya interaksi antara polisi dan masyarakat secara utuh serta
kurangnya informasi dari masyarakat. Dengan kebiasaan semacam ini
maka akan membuat jarak yang semakin jauh

antara polisi dan

masyarakat. Demikian juga mengenai informasi yang masuk, polisi akan


ketinggalan dalam mendapatkan informasi dari masyarakat.
d. Reaktif. Polisi cenderung dengan pendekatan reaktif ibarat mobil
pemadam kebakaran. Artinya polisi datang ke TKP ketika adanya laporan
atau pengaduan dari masyarakat. Jika tidak ada laporan atau pengaduan
cenderung polisi hanya duduk-duduk di kantor.

9
e. Belum adanya kemitraan dengan masyarakat bahkan cenderung
menjaga jarak dengan masyarakat dan tidak bertanggung jawab kepada
masyarakat yang dilayaninya.
f. Pemecahan masalah. Dalam mengimplementasikan strategi Polmas
tersebut, saat ini cenderung menggunakan cara-cara baku seperti
keharusan adanya Bhabinkamtibmas
ditiap

desa

maupun

kelurahan

relatif sulit untuk dilaksanakan


dan

kalaupun

sudah

adak,

pemanfaatannya sebagai kemitraan Polisi dan masyarakat masih kurang


dioptimalkan dan hanya sebagai formalitas belaka.
10.

Ketrampilam pengemban fungsi Bhabinkamtibmas


Pengemban Fungsi Bhabinkamtibmas yang ada belum memiliki
keterampilan bekerjasama dengan masyarakat yang memadai, antara
lain sebagai berikut.
a.

Keterampilan komunikasi
1)

Komunikasi verbal (lisan), masih menunjukan intonasi arogansi

2)

Malas untuk mendengarkan.

3)

Kurang bisa memberikan presentasi.

b.

Keterampilan untuk memecahkan masalah


1)

Kurang bisa mengidentifikasi masalah konflik sosial didaerah.

2)

Kurang

bisa

mengidentifikasi

hambatan

dan

penyebab

timbulnya masalah.
3)

Kurang bisa mengembangkan responden dan solusi yang


efektif.

c.

Keterampilan kepemimpinan
1)

Belum bisa menerapkan Intensif training pada jam-jam


pimpinan.

2)

Kurang dapat mempertimbangkan resiko dan tanggung jawab.

3)

Kurang dapat memberikan motivasi.

4)

Kurang dapat memanajemen waktu.

d.

e.

Keterampilan membangun tim.


1)

Kurang memiliki keterampilan dalam pertemuan.

2)

Kurang memiliki keterampilan identifikasi sumber daya.


Keterampilan melakukan negosiasi

10
1)

Belum meiliki keterampilan mendampingi masyarakat untuk


menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat.

2)

Belum memiliki ketermpilan menyelesaikan konflik sosial dalam


peranan sebagai petugas penegak hukum, ketika berurusan
dengan orang-orang yang sedang berkonflik.

11.

Pola

pengangkatan

dan

penempatan

pengemban

fungsi

Bhabinkamtibmas
a. Personil Polri belum memenuhi persyaratan sebagai petugas
Bhabinkamtibmas dan belum mengikuti pelatihan Polmas, tidak
diangkat sebagai jabatan fungsional dengan surat keputusan Kapolda
namun oleh Skep Kapolres, selanjutnya langsung di tempatkan
menjadi petugas Bhabinkamtibmas di desa maupun dikelurahan.
Belum adanya pembagian pengemban fungsi Polmas berupa jabatan
Fungsional yang di kelompokkan menjadi 4 (empat) golongan terdiri
dari : Petugas Polmas, Supervisor / Penyelia Polmas, Pembina
b.

Polmas dan Pengembang Polmas.


Pengangkatan dan penempatan pengemban fungsi Polmas belum
berdasarkan kemampuan dasar operasional Polmas yang harus

c.

dimiliki.
Kedudukan pengemban fungsi Bhabinkamtibmas adalah di desa-desa

d.

/ kelurahan-kelurahan.
Pelaksanaan tugas Polmas

bersifat

tidak

permanen

(masih

melaksanakan tugas rangkap), dan tidak ada pertimbangan khusus


mengenai lamanya penugasan.

11

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
12. Faktor Internal
a.

Kekuatan
1) Adanya legitimasi Polri sebagai pemelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, yang diatur dalam Undang-undang No. 2
2)

Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.


Dengan adanya Grand Strategi Polri 2005 2025, Pemimpin Polri
bersama-sama dengan anggota Polri telah ada komitmen untuk
mewujudkan visi Polri yakni Polri yang profesional, bermoral dan

3)

modern serta membangun kedekatan Polri dengan masyarakat.


Adanya program pendidikan / kerja sama SDM Polri tentang
pendidikan luar negeri untuk lebih meningkatkan kemampuan dan

4)

pemahaman anggota tentang konsep Perpolisian Masyarakat.


Adanya reformasi internal dalam tubuh Polri dengan terwujudnya
perubahan dibidang struktur, instrument dan kultur yang sangat
mendukung dalam mewujudkan Polmas.

b.

Kelemahan
1)

Program Perpolisian Masyarakat memerlukan waktu dan proses


yang lama dan berkesinambungan, sehingga banyak anggota
menjadi

jenuh

dan

bosan,

akhirnya

tidak

serius

dalam

melaksanakan kegiatan Perpolisian Masyarakat.


2)

Masih banyak anggota Polri yang belum memahami tentang


hakekat dan filosofi Perpolisian Masyarakat sehingga dalam
penerapannya

tidak

sesuai

dengan

konsep

Perpolisian

Masyarakat yang diharapkan.


3)

Masih banyak anggota yang melaksanakan gaya pemolisian yang


re-aktif dan tidak berorientasi pada problem solving / pemecahan
masalah

hingga

mengakibatkan

petugas

Polmas

kurang

12
mengetahui

permasalahan

yang

terjadi

dalam

masyarakat

diwilayah tugasnya.
4)

Masih belum benarnya pola pengangkatan dan penempatan


Pengemban Fungsi Polmas.

13. Faktor Eksternal


a.

Peluang
1) Program pemerintah tentang Good Governance merupakan
peluang untuk Polri untuk merubah paradigma Polri sehingga
2)

dapat terwujud watak Polisi yang sipil.


Dukungan dari pemerintah dan DPR terhadap Polri cukup besar,
untuk

melaksanakan

tugas

pokoknya,

meliputi

memelihara

Kamtibmas, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan,


3)

pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.


Adanya
dukungan
dalam
maupun
luar

negeri

dari

organisasi/instansi lain dalam pengimplementasian Polmas (IOM,


4)

JICA, dan lain lain).


Adanya dukungan LSM, dan Parpol terhadap Polri menuju
paradigma Polri sebagai Polisi Sipil yang demokratis.

b.

Kendala
1) Adanya pemberitaan media massa yang kurang proporsional dan
2)

tidak objektif yang dapat menghambat pelaksanaan Polmas.


Masih ada anggapan sebagian masyarakat yang menganggap
bahwa tanggung jawab masalah kamtibmas adalah menjadi tugas

3)

dan tanggung jawab Polisi.


Masyarakat masih belum bisa menerima kehadiran Polisi karena
trauma dengan kejadian-kejadian yang menimpa mereka terkait
dengan tindakan yang telah dilakukan oleh oknum-oknum Polri

4)

yang mengakibatkan masyarakat menjadi kurang simpati.


Masih kurangnya Kesadaran hukum masyarakat sehingga kurang
mendukung tugas Polri dalam mengembangkan Perpolisian
Masyarakat.

BAB V
PERAN BHABINKAMTIBMAS YANG DIHARAPKAN

13
Konsep Community Policing dalam penyelenggaraan tugas Polri disesuaikan
dengan

karakteristik

dan

kebutuhan

masyarakat

Indonesia,

tanpa

mengenyampingkan kemungkinan penggunaan penterjemahan istilah yang


berbeda terutama bagi keperluan akademis, secara formal oleh jajaran Polri,
model tersebut diberi nama Pemolisian / Perpolisian Masyarakat dan
selanjutnya secara konseptual dan operasional disebut Polmas. Polmas dalam
penyelenggaraan tugas Polri, adalah sebagai filosofi kebijaksanaan dan strategi
organisasional yang mendorong terciptanya suatu kemitraan baru antara
masyarakat dengan Polisi. Disini, Polisi dan masyarakat bekerjasama sebagai
mitra untuk mengidentifikasi, menentukan skala prioritas dan memecahkan
masalah-masalah yang sedang dihadapi seperti tindak kejahatan, ketakutan akan
tindak kejahatan, ketidaktertiban sosial dan ketidak tertiban fisik, serta
kekurangan/ persoalan masyarakat secara keseluruhan dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup di wilayah dimana Polmas diterapkan.
Guna mempercepat terwujudnya kemitraan antara Polisi
masyarakat,

maka

dibentuklah

Bahbinkamtibmas.

Dengan

dengan

dibentuknya

Bhabinkamtibmas akan tercipta suatu komunikasi timbal balik antara masyarakat


dan Polisi sehingga tercipta hubungan yang erat dan saling membutuhkan.
Namun terbentuknya Bhabinkamtibmas tersebut tidak serta merta dapat
mewujudkan kemitraan antara Polisi dengan Masyarakat. Ada beberapa hal yang
harus dipenuhi antara lain :
14. Pemahaman tentang Bhabinkamtibmas.
a.

Filosofi. Polisi yang menganut filosofi meyakini bahwa Polmas adalah


cara pemolisian yang benar. Strategi pemolisian disusun berdasarkan
prinsip-prinsip Polmas, terutama mengembangkan kemitraan dengan
masyarakat yang dilayani dan pemecahan masalah bersama oleh polisi
bersama warga, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh berbagai fungsi
kepolisian baik pembinaan, operasional, maupun pada setiap tingkat
organisasi kepolisian harus mengacu pada filosofi Polmas.

b.

Permanen. Polmas mengharuskan penempatan anggota sebagai


petugas Polmas secara tetap (antara 3-4 tahun) pada suatu komunitas,
lingkungan, wilayah, atau desa. Dengan demikian mereka mempunyai
waktu dan kesempatan yang cukup untuk secara berkelanjutan
membangun kepercayaan sebagai prasyarat terjalinnya kemitraan

14
dengan warga. Penempatan secara tetap berarti bahwa petugas
Polmas tidak dikenakan rotasi dan tidak diberi penugasan lain di luar
daerah tugasnya.
c.

Patroli. Salah satu kegiatan utama petugas Polmas adalah berpatroli


jalan kaki dan bersepeda di lingkungan warga dalam daerah tugasnya.
Tujuannya adalah untuk membebaskan para petugas dari kungkungan
mobil patroli yang bergerak cepat, patroli juga dilaksanakan dengan
berbagai kendaraan lambat lainnya. Kunjungan pada tokoh warga
setempat merupakan bagian yang sangat penting dari kegiatan patroli.
Patroli seperti ini akan meningkatkan interaksi petugas dengan warga
dan akan lebih banyak informasi yang didapat.

d.

Proaktif. Sebagai bagian dan pemberian pelayanan Polisi secara


penuh, Polmas menyeimbangkan antara reaksi cepat terhadap
kejahatan dan situasi darurat dengan kegiatan proaktif dalam bentuk
pemecahan masalah untuk mencegah agar masalah yang ada tidak
berkembang menjadi berkembang.

e.

Kemitraan. Prinsip ini mendukung pengembangan kemitraan yang


sejajar antara Polisi dengan berbagai kelompok warga yang ada untuk
bekerjasama dan berkonsensus dalam memecahkan masalah. CP
menuntut dibangunnya kemitraan baru Polisi dengan warga didasarkan
pada saling menghargai, persamaan, tulus dan setara. Sebelum
kemitraan dapat dicapai terlebih dahulu perlu dibangun saling percaya
(trust) antara warga dengan Polisi.

f. Pemecahan

Masalah.

Yang

dimaksud

dengan

masalah

adalah

sekelompok kejadian yang serupa dalam beberapa karakteristik dan


merupakan keprihatinan dari Polisi dan warga (a group of insidents that
are similar in one or more ways and are of concern to the police and the
Public. Goldstein, 1979). Pemecahan masalah adalah suatu proses
untuk mengidentifikasi dan menetapkan dengan cara kerja sama,
masalah warga secara spesifik beserta penyebab-penyebabnya.
Dengan demikian maka pemecahan masalah yang sesuai dapat
dirancang. Keberhasilan pemecahan masalah dapat dilihat dari hasil
kualitatif yaitu tuntasnya masalah yang dihadapi dan tidak hanya pada
hasil kuantitatif yaitu jumlah kasus yang berhasil ditangani. Dengan

15
adanya Bhabinkamtibmas, maka segala permasalahan masyarakat
dapat teridentifikasi kemudian dilakukan analisa dan ditemukan solusi
yang tepat sesuai dengan sumber daya yang tersedia. Jadi tidak hanya
sekedar formalitas saja.
15. Keterampilan pengemban fungsi Polmas pada Bhabinkamtibmas
Untuk menjadi petugas Polmas yang baik guna mempercepat
terwujudnya kemitraan antara Polisi dengan masyarakat, maka diperlukan
keterampilan bekerjasama dengan masyarakat sebagai berikut.
a.

Pengemban Fungsi Polmas harus memiliki keterampilan komunikasi,


yang meliputi :
1)

Komunikasi

verbal

(lisan).

Keterampilan

berkomunikasi lisan dengan baik dalam arti memiliki tatakrama


dan sopan santun serta tidak menunjukan oragansi sebagai Polisi.
Dengan

keterampilan

ini, dapat

menimbulkan

empati

dari

masyarakat sehingga akan mempercepat terwujudnya kemitraan


antara Polisi dengan masyarakat.
2)

Keterampilan mendengarkan. Pengemban fungsi


Polmas harus mau mendengarkan semua keluhan dan masukan
dari masyarakat.

3)

Keterampilan
Keterampilan

presentasi

memberikan
adalah

keterampilan

presentasi.
memberikan

penjelasan dan gambaran tentang sesuatu yang ingin diketahui


oleh masyarakat. Keterampilan ini penting agar tidak terjadi salah
persepsi atau salah memberikan penjelasan tentang sesuatu yang
ingin diketahui oleh masyarakat tersebut.
b.

Pengemban Fungsi Polmas juga harus memiliki keterampilan untuk


memecahkan masalah, yang meliputi :
1)

Mengidentifikasi masalah konflik sosial didaerah.

2)

Mengidentifikasi hambatan dan penyebab timbulnya masalah.

3)

Mengembangkan responden dan solusi yang efektif.

Hal ini penting guna menemukan akar permasalahan yang terjadi di


daerah tersebut selanjutnya mencari solusi yang tepat terhadap
permasalahan tersebut.

16
c.

Pengemban

Fungsi

Polmas

juga

harus

memiliki

keterampilan

kepemimpinan, yang meliputi :


1)

Intensif training pada jam-jam pimpinan.

2)

Mempertimbangkan resiko dan tanggung jawab.

3)

Keterampilan dinamika kelompok dan motivasi.

4)

Keterampilan manajemen waktu.

Hal ini penting, guna merencanakan kegiatan yang harus dilakukan


oleh pengembang fungsi polmas lainnya. Pelatihan berguna untuk
meningkatkan keterampilan begitu juga halnya dengan keterampilan
mempertimbangkan resiko dan lain-lain. Dengan keterampilan ini, maka
Pengemban Fungsi Polmas dapat memperkirakan daerah-daerah mana
saja yang rawan dan apa kegiatan yang harus dilakukan.
d.

Pengemban

Fungsi

Polmas

juga

harus

memiliki

keterampilan

membangun tim, yang meliputi :


1)

Keterampilan dalam pertemuan.

2)

Keterampilan identifikasi sumber daya.

Hal ini penting, karena tidak semua orang / polisi mampu berbicara di
depan umum dan mempresentasikan / menjelaskan keinginan atau
tujuan dari kehadiran Polisi di daerah tersebut. Dengan kemampuan
identifikasi sumber daya, maka Pengemban Fungsi Polmas mampu
menentukan langkah-langkah apa yang harus dilakukan sesuai dengan
sumber daya yang ada pada daerah tersebut.
e.

Pengemban

Fungsi

Polmas

juga

harus

memiliki

keterampilan

melakukan negosiasi, yang meliputi :


1)

Keterampilan mendampingi masyarakat untuk menyelesaikan


konflik yang terjadi dalam masyarakat.

2)

Ketermpilan menyelesaikan konflik sosial dalam peranan sebagai


petugas penegak hukum, ketika berurusan dengan orang-orang
yang sedang berkonflik.

Hal ini penting guna menyelesaikan konflik yang terjadi dalam


masyarakat sehingga didapat solusi yang tepat yang mengakomodir
keinginan semua pihak yang bersengketa.
16. Pola pengangkatan dan penempatan Bhabinkamtibmas

17
a.

Personil Polri telah memenuhi persyaratan sebagai petugas Polmas


dan sudah mengikuti pelatihan Polmas, diangkat jabatan fungsional
dengan surat keputusan Kapolda, selanjutnya langsung di tempatkan
menjadi petugas Polmas di masing-masing desa kelurahan/kawasan.
Pengemban fungsi Polmas merupakan jabatan Fungsional yang

di

kelompokkan menjadi 4 (empat) golongan terdiri dari : Petugas Polmas,


Supervisor / Penyelia Polmas, Pembina Polmas dan Pengembang
b.

Polmas.
Pengangkatan dan penempatan pengemban fungsi Polmas harus
memiliki kemampuan dasar operasional Polmas, antara lain :
1)

Petugas Polmas berpangkat Bintara sampai dengan


Inspektur dengan kemampuan pengetahuan dasar Polmas.

2)

Supervisor/Penyelia berpangkat Brigadir Satu sampai


Ajun

Komisaris

Polisi

dengan

kemampuan

Kontrol

dan

pengawasan.
3)

Sedangkan untuk Pembina berpangkat Ajun Komisaris


Polisi sampai dengan Komisaris Polisi dengan kemampuan
Pengetahuan tentang manajemen operasional tingkat dasar.

c.

Kedudukan

Bhabinkamtibmas

adalah

Petugas

Polmas

yang

berkedudukan di Desadesa / Kelurahan kelurahan dan Kawasan


tertentu, sedangkan Supervisor / Penyelia berkedudukan di Polsek /
Polres,
d.

untuk

Pembina

berkedudukan

Pengembang berkedudukan di Polda.


Pelaksanaan tugas Bhabinkamtibmas

di

bersifat

Polres

sedangkan

permanen

(tidak

melaksanakan tugas rangkap), dan lamanya bertugas minimal 3 (tiga)


tahun di suatu wilayah penugasan kecuali karena pertimbangan khusus
dapat dimutasikan dalam rangka promosi / demosi jabatan.
BAB VI
UPAYA OPTIMALISASI PERAN BHABINKAMTIBMAS
Polmas merupakan perwujudan pemolisian sipil untuk menciptakan dan
menjaga kamtibmas. Ada tiga hal yang menjadi konsepsi pemolisian pada
masyarakat. Pertama, polisi bersama-sama dengan masyarakat mencari jalan
keluar atau menyelesaikan masalah sosial (terutama masalah keamanan) yang
terjadi dalam masyarakat. Analoginya, posisi polisi dengan warga komuniti dalam

18
membangun kemitraan adalah setara, yakni polisi bersama-sama dengan warga
dalam upaya untuk mencari solusi dalam menangani berbagai masalah sosial
yang terjadi dalam masyarakat. Kedua, polisi senantiasa berupaya untuk
mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya gangguan kriminalitas.
Polisi memposisikan diri di bawah masyarakat, yaitu polisi dapat memahami
kebutuhan rasa aman masyarakat yang dilayaninya. Ketiga, polisi lebih
mengutamakan pencegahan kriminalitas (crime prevention). Ini mengindikasikan
bahwa posisi polisi di atas, yaitu polisi dapat bertindak sebagai aparat penegak
hukum yang dipercaya oleh warga masyarakat dan perilakunya dapat dijadikan
panutan oleh warga yang dilayaninya. Polisi sebagai petugas dalam Perpolisian
Komuniti mengidentifikasikan warga yang taat dan patuh hukum dan diajak tidak
hanya untuk mengamankan dirinya tetapi juga warga komunitinya dan polisi
berupaya membentuk jejaring (network)3.
Konsep

Polmas

dalam

penyelenggaraannya,

disesuaikan

dengan

karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia serta wilayah operasional


Polmas. Dalam hal ini, polisi dan masyarakat bekerja sama sebagai mitra untuk
mengidentifikasi, menentukan skala prioritas dan memecahkan masalah-masalah
yang sedang dihadapi masyarakat. Namun demikian, wilayah operasionalisasi
Polmas adalah lingkup wilayah yang kecil (Kelurahan atau RW) dengan tetap
menitik beratkan kepada orientasi pada masyarakat yang dilayaninya (polisi
cocok

dengan

masyarakat),

sehingga

polisi

diharapkan

mampu

untuk

menganalisis dan mengantisipasi segala bentuk ganguan kamtibmas baik yang


sedang terjadi maupun yang akan terjadi serta mampu membangkitkan peran
serta masyarakat dalam menciptakan Kamtibmas.
Selama ini, ada beberapa perbedaan persepsi tiap-tiap Kewilayahan (Polda)
dalam memandang Polmas sebagai konsep dan strategi. Berbagai program
pendekatan dengan masyarakat seperti Polantas Goes To Campus, SIM Corner,
Samsat Drive Thru, dan lain-lain sering dianggap sebagai impelementasi dari
Polmas. Padahal itu masih sebatas pada program pemolisian masyarakat
sebagai upaya pencerahan pada masyarakat terhadap masalah-masalah
kepolisian4. Sedangkan konsep Polmas sudah lebih fokus pada upaya
pencerahan masalah kepolisian terhadap komunitas-komunitas masyarakat,
3
4

Muradi. 2009, Penantian Panjang Reformasi Polri, Yogyakarta: Tiara Wacana.


Chrysnanda DL.dalam makalah Polmas dan Masalah Masyarakat Hukum Adat di Indonesia, 8
Desember 2009

19
semisal komunitas masyarakat petani, nelayan, pesantren, kampus, dan lain-lain
yang cara dan metodenya akan berbeda-beda karena problem yang dihadapi
setiap komunitas juga tidak sama.
Sebagaimana dijabarkan diatas bahwa guna mempercepat terwujudnya
kemitraan antara Polisi dengan Masyarakat dengan lingkup wilayah yang kecil,
maka

ditempatkanlah

Bhabinkamtibmas

di

desa

maupun

dikelurahan,

diharapakan akan terjalin komunikasi intensif antara Polisi sebagai pengemban


fungsi

Polmas

dengan

Bhabinkamtibmas

dengan

masyarakat.
masyarakat

Komunikasi
dapat

yang

mengetahui

intens

anatar

secara

persis

permasalahan yang terjadi di daerah tersebut,, yang salah satu kasusnya adalah
KDRT, kemudian ditindak lanjuti dengan bekerjasama dengan masyarakat dalam
mengatasi permasalahan tersebut, sehingga dapat menjaga kehidupan yang
aman dan tentram di wilayah tersebut. Dengan adanya Bhabinkamtibmas
masyarakat mempunyai akses dalam memberikan saran maupun informasi yang
berguna bagi arah pelaksanaan tugas operasional Bhabinkamtibmas,.
Ketidaktepatan

pemahaman

konsep

Bhabinkamtibmas

sekarang

ini

berdampak negatif pada tataran skala sosial makro, dimana masyarakat menjadi
sangat bergantung pada polisi.. Sebagai contoh bila tidak dicek patroli malam
oleh Bhabinkamtibmas, maka petugas ronda malam tidak menjalankan tugasnya
dengan baik. Karena itu Polri harus merumuskan Polmas secara tepat baik yang
terkait dengan internal maupun eksternal dengan bagaimana upayanya dalam
menciptakan jaringan-jaringan yang luas di masyarakat, bukan sekedar
menyadarkan masyarakat untuk memiliki daya cegah dan daya tangkal terhadap
gangguan kamtibmas dan menjadi partner dari polisi saja, tetapi juga kesadaran
terhadap wawasan kamtibmas dalam melakukan aktivitasnya. Polmas agar
dirancang pola kolektifitasnya dalam memperluas jaringan kinerja dan sinergi
kepolisian

pada

komunitas-komunitas

masyarakat.

Sehubungan

dengan

persoalan yang diidentifikasikan dalam Naskah Karya Perorangan ini, maka


penulis akan membahas upaya optimalisasi peran Bhabinkamtibmas guna
meminimalisir KDRT dalam rangka mendukung terciptanya keamanan dan
ketertiban masyarakat yang kondusif, sebagai berikut :
17. Pemahaman tentang Bhabinkamtibmas.

20
Untuk meningkatkan pemahaman tentang Bhabinkamtibmas, maka
perlukan dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Mensosialisasikan falsafah strategi, prinsip-prinsip dan programb.

program Polmas dalam lingkungan Polri dan masyarakat.


Penerapan Polmas sebagai suatu falsafah diimplementasikan dalam
pelaksanaan tugas masing-masing satuan fungsi operasional Polri
termasuk tampilan setiap personel Polri dalam kehidupan social

c.

kemasyarakatan.
Menyelenggarakan fungsi pembinaan Polmas secara terstruktur dalam
suatu wadah organisasi tersendiri yang dapat dihimpun bersama

d.

fungsi-fungsi terkait.
Mendorong percepatan penciptaan kondisi internal yang kondusif
dalam rangka menumbuh kembangkan kepercayaan masyarakat

e.

terhadap Polri.
Memedomani buku Manual Polmas yang diterbitkan IOM. Sebagai
pedoman, implementasinya sangat tergantung pada situasi dan

f.

kondisi yang dihadapi


Menetapkan indikator keberhasilan/keefektifan program Polmas yang
meliputi :
1) Intensitas kegiatan forum baik kegiatan pengurus maupun keikut

g.

2)

sertaan warganya
Kemampuan forum menemukan dan mengidentifikasikan akar

3)

masalah.
Kemampuan petugas Polmas dalam penyelesaian masalah

termasuk konflik/pertikaian antar warga.


4) Kemampuan mengkomodir/menanggapi keluhan masyarakat.
5) Intensitas dan ekstensitas kunjungan warga oleh petugas Polmas
Melakukan audit internal terhadap masalah-masalah yang dihadapi
dilingkungannya melalui survey berkala. Kemudian menganalisa hasil

h.

audit dan menginformasikan hasil audit kepada anggota.


Menyusun rencana kerja perubahan internal berdasarkan hasil audit
dan mengimplementasikan rencana kerja tersebut serta melakukan
evaluasi kemajuannya.

18. Keterampilan

pengemban

fungsi

Bhabinkamtibmas

dalam

menyelesaikan kasus KDRT


a. Mendidik dan melatih master trainers khusus kasus KDRT, sebagai
agen perubahan yang nantinya bertugas untuk mendidik para petugas

21
Polmas dan petugas Polisi pada satuan kewilayahan dan satuan fungsi
b.

lainnya.
Menyiapkan petugas Polmas yang akan mengawaki pelaksanaan
program penanganan kasus KDRT, baik dengan meningkatkan
kemampuan Babinkamtibmas yang sudah mempunyai kualifikasi
penanganan kasus KDRT maupun

c.

mendidik petugas baru agar

memiliki keterampilan sebagaimana yang disebutkan diatas.


Menyelenggarakan program-program pendidikan dan pelatihan Polmas
tentang penanganan kasus KDRT secara bertahap sesuai dengan

d.

kualifikasi yang dibutuhkan.


Melakukan program pelatihan

khusus

tentang

Polmas

khusus

penanganan kasus KDRT setiap tahun dalam rangka penyegaran


pengetahuan dan/ regenerasi petugas Polmas.
19. Pola pengangkatan dan penempatan Bhabinkamtibmas
a) Penambahan kekuatan personel Polri harus secara

bertahap

memperhitungkan pemenuhan kebutuhan tenaga petugas Polmas,


sehingga setiap desa/ kelurahan dapat terisi dengan sekurangb)

kurangnya seorang petugas Polmas.


Pemilihan personel untuk ditugaskan sebagai petugas Polmas harus
memperhitungkan latar belakang pengalaman tugas pada satuansatuan fungsi operasional dan aspek moral/ kepribadian yang

c)

mendukung misinya sebagai petugas Polmas.


Sistem pembinaan personel harus menjamin terbukanya peluang
peningkatan karier yang pro-aktif bagi petugas/ Pembina Polmas yang

d)

dinilai berhasil membina dan mengembangkan Polmas.


Menempatkan secara tetap pengemban fungsi Bhabinkamtibmas

e)

tertentu dalam jangka waktu yang cukup lama.


Penempatan pengemban fungsi Polmas harus dipadukan dengan
sistem penempatan local boy on local job. Hal ini lebih efektif
mengingat Polri yang tinggal di tempat tersebut akan lebih mengetahui

f)

tentang keadaan / situasi wilayah tersebut.


Mengembangkan program Polmas dalam wilayah/kawasan yang
ditetapkan oleh masing-masing Polres secara prioritas.

22

BAB VII
PENUTUP
20. Kesimpulan
Untuk mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusif, maka harus
didukung dengan terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat, oleh
karena itu perlu dilakukan optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai
pelaksana

fungsi

Polmas.

Hal

ini

dapat

dilakukan

dengan

cara

mengoptimalkan beberapa hal antara lain :


a. Pemahaman tentang Bhabinkamtibmas, dengan cara :
1) Mensosialisasikan falsafah strategi, prinsip-prinsip dan program2)

program Polmas.
Penerapan Polmas sebagai suatu falsafah diimplementasikan
dalam

3)
4)
5)
6)
7)
8)
b.

pelaksanaan

tugas

masing-masing

satuan

fungsi

operasional Polri.
Menyelenggarakan fungsi pembinaan Polmas secara terstruktur.
Mendorong percepatan penciptaan kondisi internal yang kondusif.
Memedomani buku Manual Polmas yang diterbitkan IOM.
Menetapkan indikator keberhasilan/keefektifan program Polmas
Melakukan audit internal.
Menyusun rencana kerja perubahan internal.

Keterampilan pengemban fungsi Bhabinkamtibmas dengan cara :


1) Mendidik dan melatih master trainers.
2) Menyiapkan petugas Polmas yang akan mengawaki pelaksanaan
3)

program Polmas.
Menyelenggarakan program-program pendidikan dan pelatihan
Polmas secara bertahap.

23
4)

Memasukan kurikulum setiap program pendidikan pertama dan


pengembangan umum harus mencakup mata pelajaran/ mata

5)

kuliah Polmas.
Melakukan program pelatihan khusus tentang Polmas setiap
tahun.

c.

Pola

pengangkatan

dan

penempatan

pengemban

fungsi

Bhabinkamtibmas, dengan cara :


1) Penambahan kekuatan personel Polri secara bertahap.
2) Pemilihan personel untuk ditugaskan sebagai petugas Polmas
3)

sesuai latar belakang pengalaman tugas.


Sistem pembinaan personel harus menjamin terbukanya peluang

4)

peningkatan karier.
Menempatkan secara tetap pengemban fungsi Bhabinkamtibmas

5)

tertentu dalam jangka waktu yang cukup lama.


Penempatan pengemban fungsi Polmas harus dipadukan dengan

6)

sistem penempatan local boy on local job.


Mengembangkan program Polmas dalam wilayah/kawasan secara
prioritas.

21. Rekomendasi
a.

Kapolres perlu membangun komunikasi dalam bentuk forum dialog


antara Polri dengan pemerintah daerah, terutama dengan lembaga
legislatif daerah dan para elite politik guna memantapkan perpoisian
masyarakat di wilayah hokum Polrestro Tangerang.

b.

Kapolres

melalui

Polda

meminta

kepada

Mabes

Polri

untuk

mengadakan Pendidikan/pelatihan untuk menyiapkan para pelatih


c.

(Master trainers) maupun petugas Polmas


Mabes Polri perlu membuat blue print pembinaan karier terhadap
pengemban fungsi Polmas yang secara berjenjang dari tingkat desa /
kelurahan sampai dengan supervisor dan pembina Polmas tingkat
Polres dan seterusnya.

DAFTAR PUSTAKA

24

Rangkuti, Freddy, 2002, Analisis SWOT tehnik membedah kasus bisnis. Jakarta.
Muradi, 2009, Penantian Panjang Reformasi Polri, Yogyakarta : Tiara Wacana
Chrysnanda DL., dalam makalah Polmas dan Masalah Masyarakat Hukum Adat
di Indonesia, 8 Desember 2009
Lihawa, Ronny, 2005, Memahami Community Policing, Jakarta : YPKIK
Rahardjo, Satjipto, 2007, Membangun Polisi Sipil; Perspektif Hukum, Sosial, dan
Kemasyarakatan, Jakarta : PT. Kompas-Gramedia
Hanjar Kebijakan dan Strategi Polmas
PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik
Indonesia
Perkap No. 7 Tahun 2008 tentang Pedoman dasar strategi dan Implementasi
Polmas, Mabes Polri, Jakarta, 2008
Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/737/2005 tanggal 13 Oktober 2005