Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

CLOSE FRACTURE SUPRACONDYLER HUMERUS


Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgical
Di ruang 19 RSSA Malang

Disusun Oleh:
UZZY LINTANG SAVITRI
NIM 140070300011160

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
LAPORAN PENDAHULUAN
CLOSE FRACTURE SUPRACONDYLER HUMERUS
I.

DEFINISI
Fraktur menurut smeltzer (2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan

ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang

lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Menurut sjamsuhidayat (2005), faktur
atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/ atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sementara doenges
(2000) memberikan batasan, faktur adalah pemisahan atau patah tulang. Fraktur
adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik
(price,1995). Sedangkan fraktur menurut reeves (2001), adalah setiap retak atau
patah pada tulang yang utuh.
Fraktur suprakondilus merupakan salah satu jenis fraktur yang mengenai
daerah

elbow

(siku),

dan

sering

ditemukan

pada

anak-anak.

Fraktur

suprakondilus adalah fraktur yang mengenai humerus bagian distal di atas kedua
kondilus.
Fraktur humerus suprakondiler adalah fraktur tulang suprakondiler adalah
jenis yang paling umum dari fraktur yang terjadi pada siku. Terjadi melalui
lempeng pertumbuhan dari humerus (di atas sendi siku). Penyebab paling umum
dari cedera ini adalah jatuh yang mengenai lengan yang dalam keadaan
terpelintir ke atas. Cedera ini paling sering terjadi pada anak berusia antara 5
hingga 7 tahun.
II. KLASIFIKASI
Menurut smeltzer (2002), jenis jenis fraktur :
a. Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal).
b. Fraktur tidak komplet adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis
tengah tulang.

c. Fraktur tertutup (fraktur simpel) tidak menyebabkan robeknya kulit.


Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0
: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan
lunak sekitarnya.
2) Tingkat 1
: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
3) Tingkat 2

: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak

bagian dalam dan pembengkakan.


4) Tingkat 3
: Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata
dan ancaman sindroma kompartement.

d. Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) merupakan fraktur dengan luka


pada kulit atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka
digradasi menjadi :
1. grade I dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya
2. grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif
3. grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan
lunak ekstensif, merupakan yang paling berat.
Derajat patah tulang terbuka :
1) Derajat I: Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen
minimal.
2) Derajat II: Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi
fragmen jelas.
3) Derajat III: Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.

Menurut

smeltzer

(2002),

terdapat

berbagai

jenis

khusus

fraktur berdasarkan

pergeseran antomis fragmen tulang (fraktur bergeser/tidak bergeser):


a.

Greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedangkan sisi
lainnya membengkok

b. Kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen


c.

Impaksi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang


lainnya.

d. Transversal adalah fraktur sepanjang garis tengah tulang


e. Oblik adalah fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih
tidak stabil dibanding transversal)
f.

Spiral adalah fraktur memuntir seputar batang tulang

g.
g.

Depresi

adalah

fraktur

dengan fragmen patahan


terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah)

h.

Kompresi adalah fraktur


dimana

tulang

mengalami

kompresi (terjadi pada tulang belakang)

i.

Patologik adalah fraktur


yang

terjadi

tulang

berpenyakit

tulang, penyakit paget, metastasis tulang, tumor)

pada

daerah
(kista

j.

Avulsi
adalah
tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya.

k. Impaksi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang


lainnya.

l.

Epifiseal

III.

adalah

fraktur melalui epifisis

ETIOLOGI
Fraktur

langsung,

disebabkan

oleh

pukulan

gaya meremuk, gerakan puntir

mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (smeltzer, 2002). Umumnya


fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada
umur di bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan,
atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, sedangkan
pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki
yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait
dengan perubahan hormon pada menopause (reeves, 2001).

Menurut Oswari E, (1993) ; Penyebab Fraktur adalah :


1. Kekerasan langsung; Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada
titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah
biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot: Patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan
penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur

1)

Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.

2)

Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya
tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,

IV.

elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.


PATOFISIOLOGI
Fraktur terjadi bila ada interupsi dari kontinuitas tulang. Biasanya, fraktur di

sertai cidera jaringan di sekitar yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan
persarafan.Fraktur bisa juga di sebabkan karena trauma ataupun karena suatu
penyakit,

missal

osteoporosis.

Trauma

yang

terjadi

pada

tulang

dapat

menyebabkan fraktur dan akan mengakibatkan seseorang memiliki keterbatasan


gerak, ketidakseimbangan dan nyeri pergerakan jaringan lunak yang terdapat di
sekitar fraktur, missal pembuluh darah, saraf, dan otot serta organ lainnya yang
berdekatan dapat di rusak. Pada waktu trauma ataupun karena mencuatnya
tulang yang patah, apabila kulit sampai robek akan mengakibatkan luka terbuka
dan akan mengakibatkan seseorang beresiko terkena infeksi.
Tulang memiliki banyak pembuluh darah ked lam jaringan lunak atau luka
yang terbuka. Luka dan keluarnya darah dapat mempercepat pertumbuhan
bakteri.
Pada osteoporosis secara tidak langsung mengalami penurunan kadar
kalsium dalam tulang. Dengan berkurangnya kadar kalsium dalam tulang lama
kelamaan tulang menjadi rapuh sehingga hanya trauma minimal saja atau tanpa

trauma sedikitpun akan mengakibatkan terputusnya kontinuitas tulang yang di


sebut fraktur.
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan
membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk
oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
a. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak
dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini
berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
b. Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro
kartilago yang berasal dari periosteum, endosteum, dan bone marrow yang
telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk
ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi
dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang
baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini
berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung
frakturnya.
c. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan
osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk
tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan
osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel
tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan
kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan
periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih
padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu
setelah fraktur menyatu.
d. Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang
berubah

menjadi

lamellar.

Sistem

ini

sekarang

cukup

kaku

dan

memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur,


dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara
fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan
mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban
yang normal.

e. Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama
beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses
resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih
tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang
tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk
struktur yang mirip dengan normalnya

Fraktur suprakondilus biasanya ditemukan pada anak-anak. Fragmen distal


dapat bergeser ke posterior atau anterior. Pergeseran posterior menunjukkan
cedera yang luas, biasanya akibat jatuh pada tangan yang terentang. Humerus
patah tepat di atas kondilus. Fragmen distal terdesak ke belakang dan (karena
lengan bawah biasanya dalam pronasi) terpuntir ke dalam. Ujung fragmen
proksimal yang bergerigi menyodok jaringan lunak ke bagian anterior, kadangkadang mencederai arteri brakialis atau saraf medianus. Pergeseran anterior
yang jauh lebih jarang terjadi diperkirakan akibat benturan langsung (misalnya,
jatuh pada siku) saat siku dalam keadaan fleksi.

V.

MANIFESTASI KLINIS

Gejala umum fraktur menurut Smeltzer (2002) adalah


1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen
tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang direncanakaan untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tualng.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap
rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai
menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba). Ektremitas yang bisa
diketahui dengan membandingkan ektremitas normal. Ektremitas tak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada intregitas
tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur tulang panjang dapat terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5- 5 cm ( 1-2
inchi).

4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang


dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa jadi baru
terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.
VI. KOMPLIKASI
a. Komplikasi Awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan
parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot,
saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips
dan bebatan yang terlalu kuat.
3) Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak
yang

dihasilkan

bone

marrow

kuning

masuk

ke

aliran

darah

dan

menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan


gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
4) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena
penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak
atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan
adanya Volkmans Ischemia.
6) Shock

Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya


permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini
biasanya terjadi pada fraktur.
b. Komplikasi Dalam Waktu Lama
1) Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan
karena penurunan suplai darah ke tulang.
2) Nonunion
Nonunion

merupakan

kegagalan

fraktur

berkonsolidasi

dan

memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi
fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
Malunion
meningkatnya

merupakan
tingkat

penyembuhan

kekuatan

dan

tulang

perubahan

ditandai

bentuk

dengan

(deformitas).

Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.


VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3
dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2
proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan
proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi
yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan xray harus atas dasar indikasi

kegunaan pemeriksaan penunjang dan

hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada xray:

(1) Bayangan jaringan lunak.


(2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik
atau juga rotasi.

(3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.


(4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya
seperti:

(1)

Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur


yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan
kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja
tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

(2)

Myelografi:

menggambarkan

cabang-cabang

saraf

spinal

dan

pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan


akibat trauma.
(3)

Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak


karena ruda paksa.

(4)

Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara


transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang
rusak.

b) Pemeriksaan Laboratorium
(1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
(2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase

(LDH-5),

Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap


penyembuhan tulang.

c) Pemeriksaan lain-lain
(1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.

(2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.

(3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan


fraktur.

(4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena
trauma yang berlebihan.

(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.

(6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.


(Ignatavicius, Donna D, 1995)
VIII. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pengelolaan penderita yang terluka parah memerlukan penilaian yang cepat


dan pengelolaan yang tepat guna menghindari kematian. Pada penderita trauma,
waktu sangat penting, karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah
dilaksanakan. Proses ini dikenal sebagai initial assessment yang secara garis
besar terdiri dari primary survey dan secondary survey.
a. Primary survey. Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi
berdasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme trauma.
Tanda vital dinilai secara cepat dan efisien.

Airway
Pada evaluasi awal penderita trauma, yang pertama kali harus dinilai
adalah jalan nafas. Penilaian ini untuk mengetahui adanya obstruksi
saluran nafas seperti benda asing, adanya fraktur mandibula atau
kerusakan trakea yang dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas.
Usaha untuk membebaskan jalan nafas dapat dengan cara jaw thrust
ataupun chin lift. Proteksi vertebra servikalis merupakan hal penting.

Breathing
Perlu diperhatikan dan dilihat secara keseluruhan daerah thoraks untuk
menilai ventilasi. Jalan nafas yang bebas bukan berarti ventilasi cukup.
Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada,
dan diafragma. Dada penderita dibuka untuk melihat ekspansi
pernafasan. Perkusi untuk menilai adanya udara atau darah dalam
rongga dada. Auskultasi untuk memastikan masuknya udara ke dalam
paru. Bila ada gangguan atau instabilitas kardiovaskuler, respirasi, atau
gangguan neurologis, kita harus melakukan ventilasi dengan bantuan
alat pernafasan.

Circulation
Sirkulasi dan control perdarahan meliputi dua hal yaitu :
Volume darah dan output jantung
Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada trauma.
Ada tiga tanda klinis yang dengan cepat dapat menunjukkan adanya
tanda-tanda hipovolemik yaitu kesadaran, warna kulit, dan nadi.
Perdarahan
Perdarahan luar harus diatasi dengan balut tekan. Jangan
melakukan pengikatan dengan bahan seperti karet, verban, dan
sebagainya karena dapat menyebabkan kematian anggota gerak.

Disability
Disability merupakan evaluasi neurologis secara cepat setelah satu
survey awal. Dengan evaluasi ini kita dapat menilai tingkat kesadaran,
besar, dan reaksi pupil. Evaluasi ini menggunakan metode AVPU yaitu :

: alert, sadar

: vocal, respon terhadap stimuli vocal

: painful, adanya respon hanya pada rangsang nyeri

: unresponsive, tidak ada respon sama sekali

Exposure
Untuk melakukan pemeriksaan secara teliti, pakaian penderita harus
dilepas, selain itu perlu dihindari terjadinya hipotermi

b. Secondary survey
Secondary survey baru dilakukan setelah primary survey selesai, resusitasi
dilakukan dan ABC nya penderita dipastikan membaik. Survey sekunder
adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe examination) , termasuk
re-evaluasi pemeriksaan tanda vital. Pada survey sekunder ini dilakukan
pemeriksaan neurologis lengkap termasuk mencatat skor GCS bila belum
dilakukan dalam primary survey. Prosedur khusus seperti laboratorium dan
radiologis dapat dilakukan.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitive,


prinsip pengobatan pada fraktur ada empat (4R) yaitu :
1. Rekognisi (Pengenalan )
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan
diagnosa dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan
terasa nyeri sekali dan bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan
diskontinuitas integritas rangka. fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan
bengkak.
2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen
tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya
untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara
optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau
reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan

perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila
cedera sudah mulai mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).
3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus
diimobilisasi, atau di pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu,
pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat di gunakan
untuk fiksasi intrerna yang brperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi
fraktur.

Fiksasi

eksterna

adalah

alat

yang

diletakkan

diluar

kulit

untuk

menstabilisasikan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal
perkutaneus menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat
fraktur dan pin tersebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan
eksternal bars. Teknik ini terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur
pada tulang tibia, tetapi juga dapat dilakukan pada tulang femur, humerus dan
pelvis (Mansjoer, 2000).
4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari
atropi atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai
melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan
mobilisasi (Mansjoer, 2000).

Penatalaksanaan bedah ortopedi


Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskeletal harus menjalani
pembedahan untuk mengoreksi masalahnya. Masalah yang dapat dikoreksi
meliputi stabilisasi fraktur, deformitas, penyakit sendi, jaringan infeksi atau
nekrosis, gangguan peredaran darah (mis; sindrom komparteman), adanya
tumor. Prpsedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi Reduksi Terbuka
dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and Fixation). Berikut
dibawah ini jenis-jenis pembedahan ortoped dan indikasinya yang lazim
dilakukan :
Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang
patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang
patah
Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup,
plat, paku dan pin logam
Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog)
untuk memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang
yang berpenyakit.

Amputasi : penghilangan bagian tubuh


Artroplasti : memperbaiki masalah sendi dengan artroskop (suatu alat yang
memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar)
atau melalui pembedahan sendi terbuka
Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak
Penggantian sendi : penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau
sintetis
Penggantian sendi total : penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendi
dengan logam atau sintetis
Transfer tendo : pemindahan insersi tendo untuk memperbaiki fungsi
Fasiotomi : pemotongan fasia otot untuk menghilangkan konstriksi otot atau
mengurangi kontraktur fasia. (Ramadhan: 2008)
3. Terapi Medis
Pengobatan dan Terapi Medis
a. Pemberian anti obat antiinflamasi seperti ibuprofen atau prednisone
b. Obat-obatan narkose mungkin diperlukan setelah fase akut
c. Obat-obat relaksan untuk mengatasi spasme otot
d. Bedrest, Fisioterapi
(Ramadhan: 2008)
IX. ASUHAN KEPERAWATAN
Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau
metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5
tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian

merupakan

tahap

awal

dan

landasan

dalam

proses

keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang


masalah-masalah
tindakan

klien

sehingga

keperawatan.

dapat

Keberhasilan

memberikan
proses

arah

terhadap

keperawatan

sangat

bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:


2. Pengumpulan Data

1)

Anamnesa

a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa
yang

dipakai,

status

perkawinan,

pendidikan,

pekerjaan,

asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa


medis.

b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah
rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan

lamanya

serangan.

Untuk

memperoleh

pengkajian

yang

lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:

(1)

Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi


yang menjadi faktor presipitasi nyeri.

(2)

Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau


digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut,
atau menusuk.

(3)

Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda,


apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana
rasa sakit terjadi.

(4)

Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang


dirasakan klien, bisa berdasarkan

skala nyeri atau klien

menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi


kemampuan fungsinya.

(5)

Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah


bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

c) Riwayat Penyakit Sekarang


Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab
dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana
tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya
penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan
yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu,
dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa
diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D,
1995).

d) Riwayat Penyakit Dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab
fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut
akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker
tulang

dan

penyakit

pagets

yang

menyebabkan

fraktur

patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu,


penyakit

diabetes

dengan

luka

di

kaki

sangat

beresiko

terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes


menghambat proses penyembuhan tulang

e) Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit
tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).

f) Riwayat Psikososial
Merupakan

respons

emosi

klien

terhadap

penyakit yang

dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat


serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehariharinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
(Ignatavicius, Donna D, 1995).

g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan


(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada

kasus

fraktur

akan

timbul

ketidakutan

akan

terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani


penatalaksanaan
penyembuhan

kesehatan

tulangnya.

Selain

untuk
itu,

membantu

pengkajian

juga

meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat


steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium,
pengkonsumsian

alkohol

yang

bisa

mengganggu

keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga


atau tidak. (Ignatavicius, Donna D,1995).

(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme


Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan

penyebab

masalah

muskuloskeletal

dan

mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat


terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari
yang

kurang

merupakan

faktor

predisposisi

masalah

muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga


obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.

(3) Pola Eliminasi


Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada
pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji
frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada
kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.

(4) Pola Tidur dan Istirahat


Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan
gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan
kebutuhan

tidur

klien.

Selain

itu

juga,

pengkajian

dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,


kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat
tidur (Doengos. Marilynn E, 2002).

(5) Pola Aktivitas


Karena

timbulnya

semua bentuk

nyeri,

kegiatan

keterbatasan

klien

menjadi

gerak,

berkurang

maka
dan

kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal


lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama
pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan
beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang
lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).

(6) Pola Hubungan dan Peran


Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
(Ignatavicius, Donna D, 1995).

(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri


Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).

(8) Pola Sensori dan Kognitif


Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama
pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain
tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak

mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri


akibat fraktur. (Ignatavicius, Donna D, 1995).

(9) Pola Reproduksi Seksual


Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa
melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat
inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami
klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya
termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius,
Donna D, 1995).
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan
dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan
fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien
bisa tidak efektif.
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.
Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak
klien

2) Pemeriksaan Fisik
Dibagi

menjadi

generalisata)
pemeriksaan
melaksanakan

dua,

untuk

pemeriksaan

mendapatkan

setempat
total

yaitu

(lokalis).

care

karena

gambaran

Hal

ini

ada

perlu

umum

(status

umum
untuk

kecenderungan

dan
dapat

dimana

spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi


lebih mendalam.

a) Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat
adalah tanda-tanda, seperti:
(a) Kesadaran

penderita:

apatis,

sopor,

koma,

gelisah,

komposmentis tergantung pada keadaan klien.


(b) Kesakitan,

keadaan

penyakit:

akut,

kronik,

ringan,

sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.


(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan
baik fungsi maupun bentuk.
(2)Secara sistemik dari kepala sampai kelamin

(a) Sistem Integumen


Terdapat

erytema,

suhu

sekitar

daerah

trauma

meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.


(b)Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris,
tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
(c) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan,
reflek menelan ada.
(d)Muka
Wajah

terlihat

menahan

sakit,

lain-lain

tidak

ada

perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris,


tak oedema.
(e)Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis
(karena tidak terjadi perdarahan)
(f) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak
ada lesi atau nyeri tekan.
(g)Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h)Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
(i) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada
simetris.
(j) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan

meningkat,

tergantung

pada

reguler

riwayat

atau

penyakit

tidaknya

klien

yang

berhubungan dengan paru.


(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara

ketok

sonor,

tambahan lainnya.
(4) Auskultasi

tak

ada

erdup

atau

suara

Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara


tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
(k)Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
(l) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak
teraba.
(3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4) Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
(m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada
kesulitan BAB.

b) Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal
terutama

mengenai

status

neurovaskuler

(untuk

status

neurovaskuler 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse,


Pergerakan).

Pemeriksaan

pada

sistem

muskuloskeletal

adalah:
(1)Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
(b) Cape au lait spot (birth mark).
(c) Fistulae.
(d) Warna

kemerahan

atau

kebiruan

(livide)

atau

hyperpigmentasi.
(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal
yang tidak biasa (abnormal).

(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)


(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
(2)Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
(a) Perubahan

suhu

disekitar

trauma

(hangat)

dan

kelembaban kulit. Capillary refill time Normal 3 5


(b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi
atau oedema terutama disekitar persendian.
(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan
(1/3 proksimal, tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan
yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang.
Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan,

maka

sifat

benjolan

perlu

dideskripsikan

permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar


atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(3)Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah

melakukan

pemeriksaan

feel,

kemudian

diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat


apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan
sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan
ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0
(posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau
tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan
pasif. (Reksoprodjo, Soelarto, 1995)

3.

Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera
jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
b. Gangguan

pertukaran

perubahan

membran

gas

b/d

perubahan

alveolar/kapiler

aliran

darah,

(interstisial,

edema

emboli,
paru,

kongesti)
c. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri,
terapi restriktif (imobilisasi)
d. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen,
kawat, sekrup)
e. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit,
taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
f.

Kurang

pengetahuan

tentang

kondisi,

prognosis

dan

kebutuhan

pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap


informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi
yang ada
(Doengoes, 2000)
4. Intervensi Keperawatan
a.

Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema,


cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3x24 jam, klien
mengatakan nyeri berkurang atau hilang
Kriteria Hasil: klien menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi
dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan
penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai
indikasi untuk situasi individual
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

imobilasasi

RASIONAL

bagian Mengurangi nyeri dan mencegah

yang sakit dengan tirah baring, malformasi.


gips, bebat dan atau traksi
2. Tinggikan posisi ekstremitas yang
terkena.
3. Lakukan dan awasi latihan gerak

Meningkatkan

aliran

balik

vena,

mengurangi edema/nyeri.
Mempertahankan

kekuatan

otot

pasif/aktif.

dan

meningkatkan

sirkulasi

vaskuler.
4. Lakukan

tindakan

meningkatkan

untuk

kenyamanan Meningkatkan

(masase, perubahan posisi)

sirkulasi

umum,

menurunakan area tekanan lokal


dan kelelahan otot.

5. Ajarkan

penggunaan

teknik

manajemen nyeri (latihan napas

Mengalihkan

perhatian

terhadap

dalam, imajinasi visual, aktivitas

nyeri,

meningkatkan

kontrol

dipersional)

terhadap

nyeri

yang

mungkin

berlangsung lama.
6. Lakukan kompres dingin selama
fase akut (24-48 jam pertama)

Menurunkan

sesuai keperluan.

mengurangi rasa nyeri.

7. Kolaborasi

pemberian

edema

analgetik

sesuai indikasi.

Menurunkan

nyeri

mekanisme
8. Evaluasi

keluhan

dan

nyeri

melalui

penghambatan

(skala, rangsang nyeri baik secara sentral

petunjuk verbal dan non verval,

maupun perifer.

perubahan tanda-tanda vital)


Menilai

perkembangan

masalah

klien.
b.

Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah,


emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema
paru, kongesti)
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien


akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi

Kriteria Hasil: klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam
batas normal
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Instruksikan/bantu latihan napas Meningkatkan ventilasi alveolar dan


dalam dan latihan batuk efektif.

perfusi.

2. Lakukan dan ajarkan perubahan Reposisi meningkatkan drainase


posisi yang aman sesuai keadaan

sekret dan menurunkan kongesti

klien.

paru.

3. Kolaborasi

pemberian

obat Mencegah terjadinya pembekuan

antikoagulan (warvarin, heparin) darah pada keadaan tromboemboli.


dan kortikosteroid sesuai indikasi.

Kortikosteroid telah menunjukkan


keberhasilan untuk
mencegah/mengatasi emboli lemak.

4. Analisa pemeriksaan gas darah,


Hb,

kalsium,

LED,

lemak

dan

trombosit

Penurunan PaO2 dan peningkatan


PCO2 menunjukkan gangguan
pertukaran gas; anemia,
hipokalsemia, peningkatan LED dan
kadar lipase, lemak darah dan
penurunan trombosit sering
berhubungan dengan emboli lemak.

5. Evaluasi frekuensi pernapasan dan


upaya

bernapas,

perhatikan Adanya takipnea, dispnea dan

adanya stridor, penggunaan otot

perubahan mental merupakan tanda

aksesori pernapasan, retraksi sela dini insufisiensi pernapasan,


iga dan sianosis sentral.

mungkin menunjukkan terjadinya


emboli paru tahap awal.

c.

Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler,


nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien
dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat
paling tinggi
Kriteria

Hasil:

Klien

dapat

mempertahankan

posisi

fungsional

meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi


bagian

tubuh

menunjukkan

tekhnik

yang

memampukan

melakukan aktivitas
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas Memfokuskan perhatian,


rekreasi terapeutik (radio, koran,

meningkatakan rasa kontrol

kunjungan teman/keluarga) sesuai diri/harga diri, membantu


keadaan klien.

menurunkan isolasi sosial.

2. Bantu latihan rentang gerak pasif Meningkatkan sirkulasi darah


aktif pada ekstremitas yang sakit

muskuloskeletal, mempertahankan

maupun

tonus otot, mempertahakan gerak

yang

sehat

sesuai

keadaan klien.

sendi, mencegah kontraktur/atrofi


dan mencegah reabsorbsi kalsium
karena imobilisasi.

3. Berikan papan penyangga kaki,

Mempertahankan posis fungsional

gulungan trokanter/tangan sesuai ekstremitas.


indikasi.
Meningkatkan kemandirian klien
4. Bantu dan dorong perawatan diri
(kebersihan/eliminasi)

dalam perawatan diri sesuai kondisi

sesuai keterbatasan klien.

keadaan klien.
Menurunkan insiden komplikasi
5. Ubah posisi secara periodik sesuai
keadaan klien.

kulit dan pernapasan (dekubitus,


atelektasis, penumonia)
Mempertahankan hidrasi adekuat,
men-cegah komplikasi urinarius dan

6. Dorong/pertahankan

asupan konstipasi.

cairan 2000-3000 ml/hari.


Kalori dan protein yang cukup
7. Berikan diet TKTP.

diperlukan untuk proses


penyembuhan dan mempertahankan fungsi fisiologis tubuh.
Kerjasama dengan fisioterapis perlu

8. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi


sesuai indikasi.
9. Evaluasi

kemampuan

untuk menyusun program aktivitas


fisik secara individual.

mobilisasi

klien dan program imobilisasi.

Menilai perkembangan masalah


klien.

d. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi


(pen, kawat, sekrup)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam klien
menyatakan ketidaknyamanan hilang,
Kriteria Hasil: klien menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah
kerusakan

kulit/memudahkan

penyembuhan

sesuai

indikasi,

mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi


terjadi
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan tempat tidur yang Menurunkan risiko kerusakan/abrasi


nyaman

dan

bersih,

aman

alat

tenun

(kering, kulit yang lebih luas.


kencang,

bantalan bawah siku, tumit).


Meningkatkan sirkulasi perifer dan
2. Masase

kulit

terutama

daerah meningkatkan kelemasan kulit dan

penonjolan tulang dan area distal

otot terhadap tekanan yang relatif

bebat/gips.

konstan pada imobilisasi.


Mencegah gangguan integritas kulit

3. Lindungi

kulit

dan

gips

pada

daerah perianal

dan jaringan akibat kontaminasi


fekal.
Menilai perkembangan masalah

4. Observasi

keadaan

kulit, klien.

penekanan gips/bebat terhadap


kulit, insersi pen/traksi.

e.

Risiko

infeksi

b/d

ketidakadekuatan

pertahanan

primer

(kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi


tulang
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam klien
mencapai penyembuhan luka sesuai waktu
Kriteria hasil: bebas drainase purulen atau eritema dan demam
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Lakukan
dan

perawatan

perawatan

pen

luka

steril
sesuai

RASIONAL
Mencegah infeksi sekunderdan
mempercepat penyembuhan luka.

protokol
Meminimalkan kontaminasi.
2. Ajarkan

klien

untuk

mempertahankan

sterilitas Antibiotika spektrum luas atau

insersi pen.

spesifik dapat digunakan secara


profilaksis, mencegah atau

3. Kolaborasi pemberian antibiotika mengatasi infeksi. Toksoid tetanus


dan

toksoid

tetanus

sesuai

untuk mencegah infeksi tetanus.

indikasi.
Leukositosis biasanya terjadi pada
proses infeksi, anemia dan
4. Analisa

hasil

laboratorium
lengkap,

pemeriksaan
(Hitung

LED,

peningkatan LED dapat terjadi pada

darah

Kultur

osteomielitis. Kultur untuk

dan

mengidentifikasi organisme

sensitivitas luka/serum/tulang)

penyebab infeksi.
Mengevaluasi perkembangan

5.

Observasi
tanda vital dan

tanda- masalah klien.


tanda-tanda

peradangan lokal pada luka.

h.

Kurang
kebutuhan

pengetahuan
pengobatan

tentang

b/d

kurang

kondisi,

prognosis

terpajan

atau

dan
salah

interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang


akurat/lengkapnya informasi yang ada.
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien


akan menunjukkan pengetahuan meningkat

Kriteria hasil : klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya


INTERVENSI KEPERAWATAN
1.

RASIONAL

Kaji kesiapan klien mengikuti Efektivitas proses pemeblajaran


program pembelajaran.

dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan


mental klien untuk mengikuti
program pembelajaran.

2.

Diskusikan metode mobilitas Meningkatkan partisipasi dan

dan ambulasi sesuai program

kemandirian klien dalam

terapi fisik.

perencanaan dan pelaksanaan


program terapi fisik.

3.

Ajarkan

tanda/gejala

klinis Meningkatkan kewaspadaan klien

yang memerluka evaluasi medik untuk mengenali tanda/gejala dini

4.

(nyeri berat, demam, perubahan

yang memerulukan intervensi lebih

sensasi kulit distal cedera)

lanjut.

Persiapkan
mengikuti

terapi

bila diperlukan.

klien

untuk Upaya pembedahan mungkin

pembedahan

diperlukan untuk mengatasi maslaha


sesuai kondisi klien.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Edisi 8 Vol 3.
Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Ed, 3. Jakarta: EGC
Editor, Aru W Sudoyo dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi V.
Jakarta: Interna Publishing
Dongoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Editor, R. Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses dan
Praktik Edisi 4 Vol.1. Jakarta: EGC
Price, Silvia Anderson dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi. Konsep Klinis
Proses-Proses penyakit Edisi Vol. 2. Jakarta: EGC
Price A S, Wilson. 2006. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses penyakit Edisi
Vol. 2. Jakarta: EGC
Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang : Bintang
Lamupate.
Smeltzer Suzanne, C . 2002. Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart.
Jakarta: EGC
Tambayong, Jan. 2000 . Patofisiologi. Jakarta: EGC
Wilkinson M J. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Ktriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC