Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID


DI RUANG SAKURA RSUD KABUPATEN BULELENG
I.

Definisi
Demam Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus, yang disebabkan

oleh salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B, salmonella


paratyphi C, paratifoid biasanya lebih ringan, dengan gambaran klinis sama. (Widodo
Djoko, 2009 dalam Inawati, 2013 ).

Demam tifoid adalah penyakit sistemiik yang disebabkan oleh bakteri


ditandai ditandai dengan demam insidious yang berlansung lama, sakit kepala,
dan

badan

lemah

anokresia

Bradikardi

relative,

serta

splenomegaly

(james Chin, 2006 dalam Inawati, 2013)

II.

Etiologi
Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa, basil gram negatif,

bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurngnya 3


macam

antigen

yaitu

antigen

(somatic

terdiri

dari

zat

komplek

lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Dalam serum penderita


terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

III.

Patofisiologi
Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama

makanan dan minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan

sebagian ada yang lolos (hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag
payer) dan mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer
dan mengakibatkan perdangan setempat, kemudian kuman melalui pembuluh
darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati dan limfe.
Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak
difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga
menyebar ke organ lain, terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan
yang mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga
terjadi diare. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan
demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi
mudah lelah.
Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan
roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi
hepatospleno megali. Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal
(perdarahan usus, perfarasi, peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia,
meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).

IV.

Manifestasi Klinis
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika

dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang
tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama 30
hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan

gejala prodomal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
tidak bersamangat kemudian menyusul gejala klinis sbb:
Demam

Berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu


tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama duhu berangsur-angsur
meningkat, biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore
dan malam hari. Pada minggu ke-2 penderita terus demam dan minggu ke3 penderita demamnya berangsur-angsur normal.
Gangguan pada saluran pencernaan

Nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah putih
kotor (coated tongue) ujung dan tepi kemerahan, perut kembung, hati dan
limpa membesar. disertai nyeri pada perabaan
Gangguan kesadaran

Kesadaran menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis


sampai samnolen.
Disamping gejala-gejala tersebut ditemukan juga pada penungggungdan anggota
gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil
dalam kapiler kulit.

V.

Pathways
Makanan terkontaminasi salmonella
Mulut
HCL (lambung)
Hidup

Tidak hidup

usus terutama plag peyer


kuman mengeluarkan endotoksin
Bakteiema primer
Difogosit

Tak difogosit

mati

bakteriema sekunder

Pembuluh darah kapiler


Procesia
pada kulit

Tidak
hiperemi

Usus halus

Hipotalamus

Hepar

peradangan

menekan
termoreguler

hipotasplenom

Malababsorbsi nutrien

Hipertermi
Endotoksin
merusak hepar

Hiperperistaltik usus
cepat lelah
intoleransi aktifitas

diare
bedrest
konstipasi

VI.

reinterkasi usus
Komplikasi

Diagnosa
IntestinalKeperawatan

1.

perdarahan usus
-Hipertermi
Revolusi
b/d proses
Peritonitis

2.

Nyeri akut b/d agen injuri fisik

infeksii

Ekstraintestinal
Pneumonia
Meningitis
kolesistitis
Neuropsikiatrik

SGOT/SGPT

3.

Sindrom defisit self care b.d kelemahan, Bedrust

4.

Risiko infeksi b/d imunitas tubuh menurun, prosedur invasive.

5.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

6.

PK: Perdarahan

VII.

Intervensi
1

HHipertermi b/d prosesSetelah dilakukan tindakanTermoregulasi


infeksi
keperawatan selama.x
Pantau suhu klien (derajat
24
jam
menujukandan
pola)
perhatikan
temperatur dalan batasmenggigil/diaforsis
normal dengan kriteria: Pantau suhu lingkungan,
Bebas dari kedinginan
batasi/tambahkan
linen
Suhu tubuh stabil 36-37 C tempat
tidur
sesuai
indikasi
Berikan kompres hangat
hindari penggunaan akohol
Berikan minum sesuai
kebutuhan

Kolaborasi
untuk
pemberian antipiretik
Anjurkan menggunakan
pakaian tipis menyerap
keringat.
Hindari selimut tebal

Nyeri akut b/d agenSetelah dilakukan AsuhanManajemen nyeri :


injuri fisik
keperawatan
.
jam
Lakukan pegkajian nyeri
tingkat kenyamanan kliensecara
komprehensif
meningkat dg KH:
termasuk
lokasi,
Klien melaporkan nyerikarakteristik,
durasi,
berkurang dg scala 2-3
frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi.
Ekspresi wajah tenang

Observasi
reaksi
klien dapat istirahat dan
nonverbal dari ketidak
tidur
nyamanan.
v/s dbn

Gunakan
teknik
komunikasi
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman nyeri klien

Sindrom defisit selfSetelah

sebelumnya.
Kontrol
faktor
lingkungan
yang
mempengaruhi
nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
Kurangi faktor presipitasi
nyeri.
Pilih dan lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologis/non
farmakologis)..
Ajarkan teknik non
farmakologis (relaksasi,
distraksi
dll)
untuk
mengetasi nyeri..
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
Evaluasi
tindakan
pengurang nyeri/kontrol
nyeri.
Kolaborasi dengan dokter
bila ada komplain tentang
pemberian analgetik tidak
berhasil.
Administrasi analgetik :.
Cek program pemberian
analogetik; jenis, dosis,
dan frekuensi.
Cek riwayat alergi..
Tentukan
analgetik
pilihan, rute pemberian
dan dosis optimal.
Monitor TV
Berikan analgetik tepat
waktu terutama saat nyeri
muncul.
Evaluasi
efektifitas
analgetik, tanda dan gejala
efek samping.

dilakukanSelf Care Assistence

care b.d kelemahan,askep ......


jam ADLs
Bantu ADL klien selagi
Bedrust
terpenuhi dg KH:
klien
belum
mampu
Klien bersih, tidak bau
mandiri
Kebutuhan sehari-hari
Pahami semua kebutuhan
terpenuhi
ADL klien

Pahami bahasa-bahasa
atau pengungkapan non
verbal
klien
akan
kebutuhan ADL

Libatkan klien dalam


pemenuhan ADLnya

Libatkan orang yang


berarti
dan
layanan
pendukung
bila
dibutuhkan
Gunakan sumber-sumber
atau fasilitas yang ada
untuk mendukung self
care

Ajari klien untuk


melakukan
self
care
secara bertahap

Ajarkan penggunaan
modalitas
terapi
dan
bantuan mobilisasi secara
aman (lakukan supervisi
agar
keamnanannya
terjamin)

Evaluasi kemampuan
klien untuk melakukan
self care di RS
Beri reinforcement atas
upaya dan keberhasilan
dalam melakukan self
care
Risiko infeksi b/dSetelah dilakukan asuhanKonrol infeksi :
imunitas
tubuhkeperawatan jam tidak Bersihkan lingkungan
menurun,
prosedurterdapat
faktor
risikosetelah dipakai pasien
invasive.
infeksi dan dg KH:
lain.
Tdk ada tanda-tanda Batasi pengunjung bila
infeksi
perlu.
AL normal
Intruksikan
kepada
V/S dbn
pengunjung
untuk
mencuci
tangan
saat

berkunjung
dan
sesudahnya.
Gunakan sabun anti
miroba untuk mencuci
tangan.
Lakukan cuci tangan
sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.
Gunakan baju dan sarung
tangan
sebagai
alat
pelindung.
Pertahankan lingkungan
yang
aseptik
selama
pemasangan alat.
Lakukan dresing infus
dan dan kateter setiap hari
Sesuai indikasi
Tingkatkan intake nutrisi
dan cairan
berikan antibiotik sesuai
program.
Proteksi
terhadap
infeksi
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal.
Monitor hitung granulosit
dan WBC.
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi..
Pertahankan
teknik
aseptik
untuk
setiap
tindakan.
Inspeksi kulit dan mebran
mukosa
terhadap
kemerahan, panas.
Ambil kultur, dan
laporkan bila hasil positip
jika perlu
Dorong istirahat yang
cukup.
Dorong peningkatan
mobilitas dan latihan.
Instruksikan klien untuk

minum antibiotik sesuai


program.
Ajarkan keluarga/klien
tentang tanda dan gejala
infeksi.
Laporkan kecurigaan
infeksi.
5

Ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhanManajemen Nutrisi


nutrisi kurang darikeperawatan jam klien

Kaji adanya alergi


kebutuhan tubuh
menunjukan status nutrisimakanan.
adekuat dengan KH:

Kaji makanan yang


BB stabil,
disukai oleh klien.
nilai laboratorium terkait

Kolaborasi team gizi


normal,
untuk penyediaan nutrisi
tingkat energi adekuat,
terpilih sesuai dengan
masukan nutrisi adekuat kebutuhan klien.

Anjurkan klien untuk


meningkatkan
asupan
nutrisinya.

Yakinkan diet yang


dikonsumsi mengandung
cukup
serat
untuk
mencegah konstipasi.
Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori.
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi.

Monitor Nutrisi
Monitor
BB
jika
memungkinkan
Monitor respon klien
terhadap situasi yang
mengharuskan
klien
makan.
Jadwalkan pengobatan
dan
tindakan
tidak
bersamaan dengan waktu
klien makan.
Monitor adanya mual
muntah.
Monitor
adanya
gangguan dalam input

makanan
misalnya
perdarahan, bengkak dsb.
Monitor intake nutrisi
dan kalori.
Monitor kadar energi,
kelemahan dan kelelahan.
6

VIII.

PK: Perdarahan

Setelah dilakukan askep Pantau tanda dan gejala


jam
perawat
akanperdarahan post operasi.
menangani
atau
Monitor V/S
mengurangi
komplikasi
Pantau laborat HG, HMT.
daripada perdarahan
AT
kolaborasi untuk tranfusi
bila terjadi perdarahan
(hb < 10 gr%)
Kolaborasi dengan dokter
untuk terapinya

Pantau daerah yang


dilakukan operas

Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium antara


lain sebagai berikut:
a.

Pemeriksaan darah tepi

b.

Pemeriksaan sumsum tulang

c.

Biakan empedu untuk menemukan salmonella thyposa

d.

Pemeriksaan widal digunakan untuk membuat diagnosis


tifus abdominalis yang pasti

IX.

Penatalaksanaan

Pengobatan/penatalaksaan pada penderita typus abdominalis adalah sebagai


berikut:
1.

Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta

2.

Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi

3.

Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu

4.

Diet makanan harus mengandung cukup cairan dan tinggi protein

5.

Obat Kloramfenikol

X.

Komplikasi
Komplikasi dapat dibagi dalam :
1.

Komplikasi intestinal
a.

Perdarahan usus

b.

Perforasi usus

c.

Ileus paralitik

2.

Komplikasi ekstra intestinal.


a.

Kardiovaskuler : kegagalan

sirkulasi

perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis,


dan tromboflebitie.
b.

Darah

anemia

hemolitik,

tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik


c.

Paru : pneumoni, empiema, pleuritis.

d.

Hepar dan kandung empedu : hipertitis


dan kolesistitis.

e.

Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis,


dan perinefritis.

f.

Tulang

oeteomielitis,

periostitis,

epondilitis, dan arthritis.


g.

Neuropsikiatrik

delirium,

meningiemus, meningitie, polineuritie,perifer, sindrom GuillanBarre, psikosis dan sindrom katatonia.


Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi.
Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum,
terutama bila perawatan pasien kurang sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. EGC : Jakarta
Inawati, 2013. Demam tifoid departemen patologi anatomi. FKU Wijaya Kusuma,
Surabya

Nelwan RHH, 2012. Tata laksana terkini demam tifoid. FKUI?RSCM. Jakarta

Beri Nilai