Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Karies dan cedera akibat trauma pada gigi masih sangat umum ditemukan pada anak dan
perawatan kerusakan yang luas yang ditimbulkannya masih merupakan bagian utama dari
praktik kedokteran gigi anak. Tujuan utama perawatan operatif pada anak adalah mencegah
meluasnya penyakit gigi dan memperbaiki gigi yang rusak sehingga dapat berfungsi kembali
secara sehat, sehingga integritas lengkung geligi dan kesehatan jaringan mulut dapat
dipertahankan.7
Perawatan pulpa pada gigi sulung dapat dianggap upaya preventif karena gigi yang telah dirawat
dengan berhasil dapat dipertahankan dalam keadaan nonpatologis sampai saat tanggalnya yang
normal. Dengan demikian, lengkung geligi dapat dipertahankan dalam keadaan utuh, fungsi
pengunyahan dipertahankan, infeksi dan peradangan kronis dapat dihilangkan sehingga
kesehatan jaringan mulut yang baik dapat dipertahankan. Untuk mencapai tujuan ini, telah
dikembangkan beberapa perawatan endodontik konservatif sebagai perawatan alternatif selain
pencabutan gigi salah satu perawatan pulpa konservatif pada gigi sulung adalah pulpotomi.3
Pulpotomi adalah salah satu perawatan umum dari lesi karies yang menyebabkan pulpa terbuka
serta bebas dari gejala dari gigi sulung, prosedur membantu untuk mempertahankan integritas
gigi primer yang memiliki inflamasi terbatas pada pulpa koronal. Tujuan utamanya adalah untuk
melestarikan pulpa radikuler, memelihara vitalitas dan akhirnya untuk mempertahankan gigi.
Perawatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik termasuk elektrosurgeri
(ES), Er: YAG Laser atau dressing dengan menggunakan bahan seperti formocresol (FC),
kalsiumhidroksida, Mineral Trioxide Aggregate, dan ferri sulfat (FS) . Banyak teknik lain telah
diusulkan, tetapi sebuah ulasan sistemik yang luas tidak bisa memberikan bukti konklusif untuk
teknik yang paling tepat.5
Dalam makalah ini akan dilaporkan mengenai perawatan endodontik pada gigi sulung akibat
karies besar pada pasien anak agar mengetahui secara jelas indikasi, kontraindikasi, bahan yang
digunakan dalam penatalaksanaan dan mekanisme prosedur yang tepat untuk kasus tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Pulpotomi
Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh penempatan
obat di atas orifise yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa jaringan
pulpa vital pada akar gigi. Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa.
Biasanya jaringan pulpa di bagian mahkota yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk
membantu menyembuhkan dan mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar.2,3,10
Pulpotomi bertujuan untuk mempertahankan vitalitas gigi, menghindari rasa sakit dan
pembengkakan, dan pada akhirnya untuk mempertahankan gigi.7 Pulpotomi dapat dipilih sebagai
perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya
gigi tersebut untuk dicabut. Pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa
menimbulkan simtom-simtom khususnya pada anak-anak.3,8
Prosedur pulpotomi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik termasuk
elektrosurgeri (ES), Er: YAG Laser atau dressing dengan menggunakan bahan seperti
formocresol (FC), kalsiumhidroksida, Mineral Trioxide Aggregate (MTA), dan ferri sulfat (FS) .
Banyak teknik lain telah diusulkan, tetapi sebuah ulasan sistemik yang luas tidak bisa
memberikan bukti konklusif untuk teknik yang paling tepat. 5 Bahan ideal yang digunakan dalam
teknik pulpotomi harus memiliki beberapa syarat seperti bakterisida, tidak berbahaya untuk pulp
dan struktur sekitarnya, merangsang penyembuhan pulp radikuler dan tidak mengganggu proses
fisiologis resorpsi akar.3,12
Indikasi pulpotomi vital
Secara umum Indikasi perawatan pulpotomi adalah perforasi pulpa karena proses karies atau
proses mekanis pada gigi sulung vital, tidak ada pulpitis radikular, tidak ada rasa sakit spontan
maupun menetap, panjang akar paling sedikit masih dua pertiga dari panjang keseluruhan, tidak
ada tanda-tanda resorpsi internal, tidak ada kehilangan tulang interradikular, tidak ada fistula,
perdarahan setelah amputasi pulpa berwarna pucat dan mudah dikendalikan. 3 Selain itu
indikasinya adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada pencabutan,

untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks akar belum terbentuk
sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi.1,2
Secara terperinci indikasi pulpotomi vital adalah sebagai berikut.
1)

Gigi sulung dan gigi tetap muda vital, tidak ada tanda tanda gejala peradangan pulpa

dalam kamar pulpa.


2)

Terbukanya pulpa saat ekskavasi jaringan karies / dentin lunak prosedur pulp capping

indirek yang kurang hati hati, faktor mekanis selama preparasi kavitas atau trauma gigi dengan
terbukanya pulpa.
3)

Gigi masih dapat dipertahankan / diperbaiki dan minimal didukung lebih dari 2/3 panjang

akar gigi.
4)

Tidak dijumpai rasa sakit yang spontan maupun terus menerus.

5)

Tidak ada kelainan patologis pulpa klinis maupun rontgenologis.

Kontraindikasi pulpotomi vital


Secara umum kontraindikasi pulpotomi adalah sakit spontan, sakit pada malam hari, sakit pada
perkusi, adanya pembengkakan, fistula, mobilitas patologis, resorpsi akar eksternal patologis
yang luas, resorpsi internal dalam saluran akar, radiolusensi di daerah periapikal dan
interradikular, kalsifikasi pulpa, terdapat pus atau eksudat serosa pada tempat perforasi, dan
perdarahan yang tidak dapat dikendalikan dari pulpa yang terpotong. 3 Selain itu,
kontraindikasinya adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan penyakit jantung
kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, kehilangan
tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi.1, 7
Secara terperinci kontraindikasi untuk jenis pulpotomi adalah sebagai berikut.
1)

Rasa sakit spontan.

2)

Rasa sakit terutama bila diperkusi maupun palpasi.

3)

Ada mobiliti yang patologi.

4)

Terlihat radiolusen pada daerah periapikal, kalsifikasi pulpa, resorpsi akar interna maupun

eksterna.

5)

Keadaan umum yang kurang baik, di mana daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat

rendah.
6)

Perdarahan yang berlebihan setelah amputasi pulpa.

Reaksi berbagai macam bahan pelindung pulpa dalam teknik perawatan pulptomi
Formokresol pertama kali diperkenalkan oleh Sweet dengan tingkat keberhasilan 97 % bahan ini
dianggap memiliki sebagai gold standard. Bahan aktif dari formokresol yaitu 19% formaldehid,
35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air. Trikresol merupakan bahan aktif yang kuat dengan
waktu kerja pendek dan sebagai bahan antiseptic untuk membunuh mikroorganisme pada pulpa
gigi yang mengalami infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid berpotensi untuk memfiksasi
jaringan.6,7,11 Formokresol telah menjadi bahan yang paling umum digunakan pada pulpotomi
gigi molar sulung selama enam dekade terakhir ; terdapat beberapa kerugian yang signifikan
misalnya sitotoksisitas , potensi Mutagenisitas dan sensitisasi imun telah menjadi penyebab
keprihatinan. Sehingga dokter lebih memilih menggunakan untuk metode alternatif yang lebih
bio compatible.
Ferric sulfat merupakan agen hemostatik dalam prosedur pulpotomi. Pada kontak dengan darah,
ferric sulfat membentuk kompleks ion protein besi, dan membran kompleks ini mengunci
potongan pembuluh darah secara mekanis, memproduksi hemostasis. Oleh karena itu bertindak
dengan menghalangi aliran darah kapiler dan dengan demikian terbentuk hemostasis tanpa
pembentukan gumpalan. Dalam laporan penelitian penerapan besi sulfat di pulpotomi geraham
sulung manusia dengan tingkat keberhasilan klinis dan radiografi 100 % dan 97 % , masingmasing tidak ada kekhawatiran efek tentang beracun atau berbahaya dari besi sulfat yang telah
tercatat dalam literatur kedokteran gigi yang ada.5
Elektro Surgical sebagai pulpotomi non farmakologi teknik yang telah terdokumentasi dengan
baik dan telah terbukti memiliki manfaat besar. Electro surgical telah diusulkan untuk pulpotomi
yang secara prosedur berfungsi dengan cara memotong dan membuat jaringan lunak koagulasi
dengan cara radiowaves frekuensi tinggi melewati sel-sel jaringan. Electro surgical pulpotomi
tampaknya memiliki manfaat yang banyak. Pembatasan penetrasi pulpa hanya beberapa dalam
lapisan sel, ada visualisasi yang baik dan homeostasis tanpa koagulasi kimia atau keterlibatan
sistemik. Kurang memakan waktu dibandingkan dengan pendekatan formocresol. 13 Pembatasan
penetrasi dalam jaringan pulpa memungkinkan jaringan dibawahnya tetap vital sehingga dapat

memacu terjadinya barier kalsium dentinal bridge. Tidak ada perbedaan signifikan perbedaan
antara tingkat keberhasilan untuk teknik pulpotomi electrosurgical dan formokresol. Dalam
evaluasi pasca operasi dalam gambaran klinis dan X ray. Tidak ada perbedaan yang signifikan
antara kedua teknik setelah enam bulan.5
Kalsium hidroksida pertama kali di perkenalkan oleh herman sebagai salah satu obat yang dapat
memacu penyembuhan biologis dan pembentukan barier jaringan kertas diatas pulpa radikular
yang telah diamputasi. Karena sifat basa (pH 12), bahan ini sangat kaustik sehingga bila
berkontak dengan pulpa vital akan menyebabkan nekrosis pada lapisan superficial pulpa. Sifat
iritasinya nampak berhubungan dengan kemampuan dalam menstimulasi terbentuknya barier
kalsium, daerah nekrosis pada lapisan superficial pulpa di bawa kalsium hidroksida ini
dipisahkan dari jaringan pulpa sehat dibawahnya dengan warna gelap terdiri atas elemen basofil
dalam kalsium hidroksid. Daerah berprotein yang asli masih tetap ada. Namun berhadapan
dengan daerah ini terdapat daerah baru yang teridiri atas jaringan ikat kasar yang dapat
disamakan dengan tipe tulang primitive. Pada bagian perifer jaringan ikat baru ini, tampak
berjajar sel-sel yang mirip odontoblas. Satu bulan setelah perawatan secara radiografis terlihat
jembatan kalsium. Jembatan kalsium ini terus meningkat ketebalannya selama periode 12 bulan
berikutnya. Jaringan pulpa di bawah jembatan kalsium tetap vital dan pada dasarnya bebas dari
sel inflamasi.3
Trioksida mineral agregat telah digunakan untuk pulp capping , pulpotomi dan perforasi saluran
akar pada gigi permanen. Trioksida mineral agregat memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi
bila digunakan sebagai pelindung apikal pada gigi permanen . 4 Trioksida mineral agregat terdiri
dari trikalsium silikat , oksida bismut , tetra kalsium alumino ferit dan kalsium sulfat dehidrasi.
Dalam kaitannya dengan air bubuk menjadi terhidrasi dan membentuk gel koloid dengan pH
12,5 mirip dengan kalsium hidroksida dan mampu menutup saluran akar dalam keadaan lembab
dengan rapat. Penerapan klinis trioksida mineral agregat di pulpotomi gigi sulung telah diteliti
dan hasil yang serupa dengan yang dilaporkan formokresol. Sebagai trioksida mineral agregat
memiliki efek antimikroba, dapat dihipotesiskan bahwa properti ini juga akan menguntungkan
sisa jaringan pulpa dari kerusakan karena bakteri residual. Vitalitas pulpa serta fungsi fisiologis
yang telah dilaporkan sebagai dipertahankan bila pulpa telah diobati dengan MTA di beberapa
penyelidikan sebelumnya.4

Prosedur perawatan pulpotomi vital


Prosedur pulpotomi meliputi pengambilan seluruh pulpa bagain korona gigi dengan pulpa
terbuka karena karies yang sebagaian meradang, diikuti dengan peletakkan obat-obatan tepat di
atas pulpa yang terpotong. Setelah penempatan obat, selanjutnya dapat dilakukan penumpatan
permanen. Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan.3
Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan jika dibantu
dengan penggunaan anastesi lokal. Dalam hal ini tekniknya merupakan amputasi pulpa vital. 7
Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah
sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa
dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar.9

Gambar 1. Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan. (1). Ekskavasi karies, (2).
Buang atap kamar pulpa, (3). Buang pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator, (4). Pemotongan pulpa di orifis
dengan bor bundar kecepatan rendah, (5). Pemberian formokresol selama 5 menit, (6). Pengisian kamar pulpa
dengan campuran zinc oxide, (7). Gigi yang telah di restorasi. 7

Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak
ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+) dan pada gambaran radiografik lebih baik
dibandingkan dengan foto awal. Tanda pertama kegagalan perawatan adalah terjadinya resorpsi
internal pada akar yang berdekatan dengan tempat pemberian obat. Pada keadaan lanjut diikuti
dengan resorpsi eksternal.3
Pada molar sulung, radiolusensi berkembang di daerah apeks bifurkasi atau trifurkasi, sedangkan
pada gigi anterior di daerah apeks atau di sebelah lateral akar. Apabila infeksi pulpa sampai
melibatkan benih gigi pengganti, atau gigi mengalami resopsi internal atau eksternal yang luas,
maka sebaiknya dicabut.10

BAB III
LAPORAN KASUS

Seorang pasien pria berusia 9 tahun dating ke RSGMP Trisakti bersama orang tuanya pada
tanggal 24 april 2013 dengan keluhan gigi belakang bawah kiri sakit ketika makan manis atau
minum dingin sejak 1 tahun sebelumnya sampai pada saat kunjungan.
Anamnesis riwayat kesehatan sebelum lahir sebagai berikut ; Ibu pasien tidak pernah menderita
penyakit dan tidak mendapat pengobatan antibiotik sewaktu mengandung anak tersebut. Makan
vitamin dan mineral (kalsium) dalam jumlah yang cukup selama mengandung anak tersebut
berupa pil merah dan pil hijau. Tidak tahu apakah makan tablet/obat yang mengandung fluor
selama mengandung anak tersebut
Anamnesis riwayat kesehatan waktu lahir sebagai berikut ; anak lahir cukup bulan yaitu 9 bulan
3 hari, lahir spontan tanpa bantuan alat. Keadaan anak saat lahir normal dengan berat badan 2,8
kg dan tinggi badan 49 cm
Anamnesis setelah lahir dan masa anak sebagai berikut ; tidak pernah minum A.S.I, minum susu
botol merk pediasure selama 2 tahun, tidak menghisap dot, tidak pernah menderita penyakit
rheumatik fever, diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, haemophilia dan hepatitis
infectiosa, tidak sedang dalam perawatan dokter, tidak mudah terluka dan perdarahan mudah
berhenti, perdarahan tidak sukar berhenti, tidak tahu apakah pernah mendapatkan obat penicillin,
tidak alergi terhadap aspirin (bodrexyn tablet) dan anastetichum (pernah disunat) tetapi tidak
tahu alergi terhadap sulfa, penicillin, tetracycline dan barbiturate, tidak alergi terhadap
udang/kepiting, ikan dan telur, sering menderita sakit gigi dan gusinya tidak mudah berdarah,
tidak menghisap ibu jar/jari lain, tidak memiliki saudara laki-laki dan perempuan, tidak sukar
bergaul dengan anak lain, dapat mengikuti pelajaran disekolah dengan baik, tidak pernah ke
dokter gigi dan tidak takut pada dokter gigi.

Tingkah laku pada kunjungan pertama positif. Dilakukan pemeriksaan ekstra oral dengan hasil
sebagai berikut ; bentuk muka square tapering dan simetris, tidak ada kelainan pada pinggiran
rahang, pipi, kelenjar submandibula kanan dan kiri, bibir, dan kelenjar pada leher. Dilakukan
pemeriksaan intraoral dengan hasil sebagai berikut ; tidak ada kelainan pada daerah mukosa pipi
kiri dan kanan, gingival, palatum, pocket, dasar mulut, lidah, frenulum, tidak ada karang gigi
serta ditemukan plague pada seluruh permukaan.

Pemeriksaan Gigi Geligi


2
5.5
8
8
0
8
1.8 1.7 1.6 1.5
4.8 4.7 4.6 4.5
8
8
2
8
8.5
2
KANAN

0
5.4
8
1.4
4.4
8
8.4
2

0
5.3
8
1.3
4.3
8
8.3
0

8
5.2
0
1.2
4.2
0
8.2
8

8
5.1
0
1.1
4.1
0
8.1
8

8
6.1
0
2.1
3.1
0
7.1
8

8
6.2
0
2.2
3.2
0
7.2
8

0
6.3
8
2.3
3.3
8
7.3
0

0
6.4
8
2.4
3.4
8
7.4
2

2
KIRI
6.5
8
2
8
8
2.5 2.6 2.7 2.8
3.5 3.6 3.7 3.8
8
2
8
8
7.5
2

Keterangan :
Gigi Sehat

:0

Tambalan

:6

Karies

:2

Tidak ada gigi (klinis)

:8

Tambalan & Karies

:4

Lain-lain

:9

Gigi
55

Sond.
+

Perk.

Druk.

Ch/Pt.

Diagnosa
Karies Mencapai

Renc. Ther
Pro endodontic

Pulpa Non Vital

SSC
Pro konservasi
Tumpatan GIC kelas I
Preventive resin

65

Karies Enamel

26

Iritasi Pulpa

restoration
Preventive resin

36

Iritasi Pulpa

restoration
Pro konservasi

75

Karies Dentin

74

Karies Enamel
Karies Mencapai

tumpatan GIC kelas I


Pro endodontic

84

Pulpa Non Vital


Karies Mencapai

SSC
Pro endodontic

85

Pulpa Non Vital

SSC
Preventive resin

46

Iritasi Pulpa

Tumpatan GIC kelas II


Pro konservasi

restoration

E. DIAGNOSAS KELUHAN UTAMA : 75 Karies dentin Pro konservasi tumpatan Glass


Ionomer Cement kelas II
F. RENCANA PERAWATAN MENURUT PRIORITAS :
Perawatan/Kegiatan
1. Removal of plaque and
calculus
2. Temporary Filling

Gigi
Seluruh Gigi
55, 75, 84, 84

3. DHE
4. Pit dan Fissure sealent
5. Topical Aplication Fluor
6. Permanent Filling
7. Periodical Checking

Alasan
Control of disease
Control of disease
Patient education and
motivation
Development of host

16
Seluruh Gigi
55, 65, 26, 36, 75, 74, 84,
85,46

resistance
Development of host
resistance
Restoration of function
Maintenance of oral health

Tahap penatalaksanaan karies dentin pada gigi 75


Kunjungan pertama
Saat pertama kali datang ke RSGMP Trisakti pada tanggal 24 april 2013, dilakukan
anamnesis terhadap orang tua pasien, pemeriksaan klinis, dan memberi penjelasan kepada
pasien rencana perawatan yang terbaik pada gigi yang di keluhkan sakit. Pada kunjungan
pertama dilakukan pengisian status dan Dental Health Education. Dental Health
Education disini berisi instruksi, edukasi, dan motivasi kepada pasien dan ibu pasien.
Ditemukan adanya karies pada gigi belakang bawah kiri. Pasien mengeluhkan rasa sakit
ketika makan sejak satu tahun yang lalu sampai sekarang. Kemudian dilakukan
penegakan diagnosis dengan test sondasi; + , perkusi; -, druk; - dan chlor etil; + . Dari
hasil test tersebut dapat dapat didiagnosis gigi tersebut adalah karies dentin. Orang tua
pasien diberikan penjelasan tentang rencana perawatan serta surat persetujuan Informed
Consent. Rencana perawatannya berupa penumpatan GIC kelas II yang dapat berubah
menjadi suatu prosedur pulpotomi saat karies tersebut telah mencapai tanduk pulpa
sehingga menimbulkan gambaran berupa titik perdarahan pin-point. Ketika dilakukan

perawatan berupa pembersihan karies dari gigi tersebut terlihat titik perdarahan atau pinpoint sehingga dilakukan prosedur pulpotomi berupa anastesi lokal untuk menghilangkan
rasa sakit disaat pembuangan atap kamar pulpa dan pemotongan pulpa di kamar pulpa,
pembuangan atap kamar pulpa dengan menggunakan bur highspeed, pemotongan pulpa
dikamar pulpa sampai batas orifice dengan menggunakan instrument ekskavator
berukuran kecil. Pemberian formokresol selama 5 menit, lapisan tipis zinc oxide eugenol
serta penempatan semen zinc phospat di lantai pulpa dan orifice untuk mencegah suatu
kebocoran dari mahkota.

Gambar 2. Pembersihan karies gigi yang besar sehingga terlihat titik perdarahan atau pin-point.

B.

C.

Gambar 3. Persiapan bahan yang dipakai dalam prosedur pulpotomi. A. Berupa anastesi topical, syringe pehacaine
dan formocresol, B. Aplikasi anastesi topical untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan dari insersi syringe pehacain.
C. Deponir cairan pehacaine kedalam jaringan agar gigi tersebut tidak sakit ketika dilakukan perawatan pulpotomi.

A.

B.

C.

Gambar 4. Prosedur perawatan pulpotomi pada gigi 75. A. Pembuangan atap pulpa disertai dengan pembentukan
akses kavitas. B. Pemotongan pulpa di kamar pulpa dan orifice dengan ekskavator kecil. C. Kontrol perdarahan
dengan cotton-pellet kemudian keadaan ini akan menentukan keberhasilan dari perawatan jika perdarahan dari pulpa
dapat berhenti maka bisa dilanjutkan ke tahapan berikutnya sebaliknya ketika perdarahan dari pulpa tidak dapat
berhenti maka perawatan tersebut akan menjadi sebuah prosedur pulpektomi.

A.

B.
C.

Gambar 5. Prosedur perawatan pulpotomi pada gigi 75. A. Jaringan pulpa yang tersisa di orifice di fiksasi dengan
cairan formokresol, tindakan ini bertujuan agar jaringan pulpa yang berada dibawah jaringan terfiksasi tetap vital.
B.Persiapan alat dan bahan untuk dressing dan barier dari orifice berupa zinc fosfat. C.Jaringan yang berhasil
terfiksasi akan berwarna kecoklatan.

A.

B.

C.

Gambar 6. Prosedur perawatan pulpotomi pada gigi 75. A. Aplikasi Zinc Oxide Eugenol konsistensi pasta sebagai
bahan pelindung pulpa. B. Aplikasi semen Zinc Fosfat sebagai seal-barrier dari orifice. C.Pemberian kapas dan
Tumpatan sementara berupa Zinc Oxide Eugenol

Di berikan instruksi kepada pasien dan orang tua bahwa mungkin gigi akan terasa kurang enak
dalam beberapa hari dan untuk itu ketika ada gejala yang menetap dalam waktu yang lama, di
anjurkan kepada pasien untuk datang kembali agar dilakukan devitalisasi pulpa dan selanjutnya
di laksanakan perawatan pulpa yang lebih radikal atau pencabutan gigi.
Kunjungan Kedua
Dilakukan kontrol 1 minggu untuk mengevaluasi prosedur pulpotomi yakni pada tanggal 2
Mei2013. Dilakukan anamesis kepada pasien dan orang tua tentang gigi yang dirawat. Pasien
tidak merasakan sakit ketika gigi tersebut di pakai makan atau minum dingin. Selanjutnya
dilakukan pemeriksaan klinis pada gigi yang di rawat. Dari hasil pemeriksaan klinis menunjukan
tumpatan sementara masi utuh tidak ada kebocoran, daerah sekitar gingival dari gigi yang
dirawat tidak menunjukan adanya gejala infeksi berupa fistel atau abses, ketika dilakukan tes
berupa perkusi dan palpasi pasien tidak merasakan adanya rasa sakit.
Dari hasil anamesis dan pemeriksaan klinis dapat disimpulkan bahwa perawatan pulpotomi yang
dilakukan telah berhasil. Setelah perawatan telah dinilai sukses tumpatan tersebut dapat diganti
dengan tumpatan tetap berupa GIC.

A.

B.

C.

Gambar 7. Kontrol dan evaluasi prosedur pulpotomi. A.Tumpatan sementara masi utuh. B.Gigi yang telah di
bersihkan dari tumpatan sementara dan terlihat gingival bagian bukal tidak ada gambaran klinis berupa abses atau
fistel. C. Gigi yang telah di bersihkan dari tumpatan sementara dan terlihat gingival bagian lingual tidak ada
gambaran klinis berupa abses atau fistel.

A.

B.

Gambar 8. Tumpatan sementara dari gigi yang dirawat diganti dengan GIC agar gigi tersebut bisa menggembalikan
fungsi mastikasi. A dan B. GIC di tambal pada kavitas sampai permukaan oklusal serta di bentuk menyerupai
anatomi gigi.

BAB III
PEMBAHASAN

Sebuah kasus berupa karies pada gigi 75 dengan diagnosis karies dentin kelas II, yang diagnosis
tersebut ditentukan dari pemeriksaan klinis dan anamnesis. Pemilihan rencana perawatannya
berupa restorasi Glass Ionomer Cement (GIC) kelas II. Pada saat dilakukan pembersihan karies,
kavitas tersebut menunjukan adanya gambaran klinis berupa pin point atau titik perdarahan.
Gambaran klinis pin point atau titik perdarahan merunujukan kavitas telah mencapai tanduk
pulpa, keadaan terjadi karena karies yang besar sehingga mendekati tanduk pulpa dan faktor
kelalaian (iatrogenic) dokter gigi tidak hati-hati dalam melakukan prosedur pembersihan karies
yang menyebabkan tanduk pulpa terbuka dan mempunyai gambaran klinis berupa titik
perdarahan / pin-point. Pemilihan perawatan pulpotomi ini didukung dengan pemeriksaan klinis
yang tidak ada tanda gejala pulpitis radikular dan tidak ada rasa sakit spontan maupun menetap.
Pemilihan teknik perawatan pulpotomi yang dipilih dalam kasus ini yaitu dengan menggunakan
pelindung pulpa dengan bahan formokresol (FC). Formokresol merupakan obat yang paling
popular terutama dimana penggunaannya yang cukup mudah, mudah dan murah didapat di

bandingkan dengan bahan-bahan pulpotomi lainnya dan disertai tingkat keberhasilannya yang
tinggi.
Perawatan pulpa berupa pulpotomi gigi sulung dianggap yang dilaksanakan pada kasus ini
adalah upaya preventif karena gigi yang telah dirawat dengan berhasil dipertahankan dalam
keadaan non-patologis sampai saat tanggalnya normal atau tidak terjadi premature loss. Dengan
demikian, lengkung geliginya dapat dipertahankan dalam keadaan utuh serta fungsi pengunyahan
dapat dipertahankan.
Penilaian sebelum perawatan penting sekali untuk menentukan apakah sebuah gigi merupakan
indikasi untuk perawatan pulpa konservatif yang bertujuan mempertahankan vitalitas pulpa dan
perawatan pulpa radikal. Perawatan pulpa konservatif terdiri dari perlindungan pulpa indirek,
perawatan pulpa direk dan pulpotomi. Perawatan pulpa radikal ialah pulpektomi diikuti dengan
pengisian saluran akar.
Pasien dan orangtuanya perlu diberitahu bahwa mungkin gigi terasa kurang enak dalam beberapa
hari dan untuk itu dianjurkan untuk memberikan analgetik yang tepat kepada anak. Bila gejala
tersebut, menetap dalam jangka waktu yang lebih lama, di anjurkan kepada pasien untuk datang
kembali agar dilakukan devitalisasi pulpa dan selanjut nya dilaksanakan perawatan pulpa yang
lebih radikal atau pencabutan gigi
Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak
ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+) dan pada gambaran radiografik lebih baik
dibandingkan dengan foto awal. Tanda pertama kegagalan perawatan adalah terjadinya resorpsi
internal pada akar yang berdekatan dengan tempat pemberian obat. Pada keadaan lanjut diikuti
dengan resorpsi eksternal.3
Pada molar sulung, radiolusensi berkembang di daerah apeks bifurkasi atau trifurkasi, sedangkan
pada gigi anterior di daerah apeks atau di sebelah lateral akar. Apabila infeksi pulpa sampai
melibatkan benih gigi pengganti, atau gigi mengalami resopsi internal atau eksternal yang luas,
maka sebaiknya dicabut.10

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pulpotomi

adalah

salah

satu

perawatan

umum

dari

lesi

karies

yang

menyebabkan pulpa terbuka serta bebas dari gejala dari gigi sulung, prosedur
membantu untuk mempertahankan integritas gigi primer yang memiliki
inflamasi terbatas pada pulpa koronal. Penilaian sebelum perawatan penting sekali untuk

menentukan apakah sebuah gigi merupakan indikasi untuk perawatan pulpotomi. Teknik
perawatan pulpotomi yang dipilih dalam kasus ini yaitu dengan menggunakan dressing seperti
bahan formocresol (FC). Formokresol merupakan obat yang paling popular terutama dimana
penggunaannya yang cukup mudah dan tingkat keberhasilannya yang tinggi.

B. Saran
Sebagai seorang calon/dokter gigi harus mengetahui penilaian yang tepat sebelum perawatan
penting sekali untuk menentukan apakah sebuah gigi merupakan indikasi untuk perawatan
pulpotomi. Serta dapat memberi penjelasan dan pengertian mengenai teknik perawatan
pulpotomi kepada pasien dan orangtua, juga memberi instruksi, motivasi dan edukasi seperti
menjaga kebersihan mulut, menjaga pola makan serta nutrisi.

Tanggal, July 2014


Modul Penyakit dan Kelainan Gigi Anak
Preseptor;

Prof.DR.drg. E.Arlia Budianti,


SU, SpKGA

Daftar Pustaka

1. Andlaw RJ, Rock WP. A Manual of Paediatric Dentistry, 4th Edition, Churchill
Livingston. 1993. Hlm 100110.
2. Bence, R. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Diterjemahkan dari Handbook of Clinical
Endodontics oleh E. H. Sundoro. Jakarta : Penerbit UI. 1990. Hlm 270300.

3. Budiyanti EA. Perawatan endodontic pada anak. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta
2005. Hlm 4054.
4. G. Ansari & M. Ranjpour. Mineral trioxide aggregate and formocresol pulpotomy of
primary teeth: a 2-year follow-up. J Int Endod. 2010. vol 43; 413418.
5. Gisoure EF. Comparison of three pulpotomy agents in primary molars: a randomised
clinical trial. J Iran Endod. 2011. vol ;6(1):11-14.
6.

Finn, S. B. Clinical Pedodontics. 4th edition. Philadelphia : W. B. Saunders. 2003.

7. Kennedys. Operative Paediatric Dentistry, 3rd Edition. 1992. Hlm 182-240.


8. Koch G, Modeer T, Poulsen S, dan Ramussen p. Pediatrics a clinical approach. 2th edition.
Munksgaard, copenhagen. 2009. Hlm 185-201.
9. Mathewson RJ dan Primosch RE. Fundamentals Of Pediatric Dentistry. Ed. Ke-3.
Quintessence Publishing. Cichago. 1995. Hlm 257-254.
10. Withworth JM dan Nunn JH. Pediatrics endodontics in pediatric dentistry. R.R. Welbury
(editor). Oxford. 1997. Hlm 140-149.
11. Welbury, R. R. Paediatric Dentistry. 2nd edition. New York : Oxford UniversityPress.
2001. Hlm 240-260.
12. Cassamasimo P S, Fields, Mctique, Nowak, Pediatric dentistry infancy through
adolescence. Ed ke-5. Elseveir saunders. St Louis, Missouri. 2013. Hlm 340-344.
13. Meligy O, Abdalla E, Baraway S E, El-Tekya M. 2001. Histological
evaluation of electrosurgery and formocresol pulpotomy techniques in
primary teeth in dogs. J Clin Pediatr Dent 26(1): 81-85,

Laporan kasus

Perawatan Pulpotomi pada gigi 75

Pembimbing:
Prof. DR. drg. E. Arlia Budianti, SU, Sp. KGA

Disusun oleh:
Ivan Benedictus Mark Liwu
040.08.071/041.211.086

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS TRISAKTI
2014
Perawatan pulpotomi gigi 75
LAPORAN KASUS

Laporan ini telah diperiksa dan


disetujui pada 17 Juli 2014
Dosen Pembimbing

Prof. DR. drg. E. Arlia Budianti, SU, Sp. KGA