Anda di halaman 1dari 2

Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk

komplikasi kronik Diabetes mellitus berupa


luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat
disertai adanya kematian jaringan setempat.
Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada
permukaan kulit karena adanya komplikasi
makroangiopati sehingga terjadi vaskuler
insusifiensi dan neuropati, yang lebih lanjut
terdapat luka pada penderita yang sering
tidak dirasakan, dan dapat berkembang
menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob
maupun anaerob

glukosa darah tidak terkendali akan terjadi


komplikasi kronik yaitu neuropati,
menimbulkan perubahan jaringan syaraf
karena adanya penimbunan sorbitol dan
fruktosa sehingga mengakibatkan akson
menghilang, penurunan kecepatan induksi,
parastesia, menurunnya reflek otot, atrofi
otot, keringat berlebihan, kulit kering dan
hilang rasa, apabila penderita diabetes
mellitus tidak hati-hati dapat terjadi trauma
yang akan meneybabkan lesi dan menjadi
ulkus kaki diabetes (Waspadji, 2006).

Jenis-jenis ulkus kaki diabetic Ulkus kaki


diabetic dibedakan atas 2 kelompok yaitu :
(Edmon, 2006)
1.Ulkus neuropatik
Kaki teraba hangat dan perfusi masih baik
dengan pulsasi masih teraba, keringat
berkurang, kulit kering dan retak.
2. Ulkus neuroiskemik
Kaki teraba lebih dingin, tidak teraba pulsasi,
kulit tipis, halus dan tanpa rambut, ada atrofi
jaringan subkutan, klaudikasio intermiten dan
rest pain mungkin tidak ada karena neuropati .

Menurut Medicare, prevalensi diabetes sekitar


10% dan 90% diantaranya adalah penderita
diabetes tipe II. Neuropati diabetik cenderung
terjadi sekitar 10 tahun setelah menderita
diabetes, sehingga kelainan kaki diabetik dan
ulkus diabetes dapat terjadi setelah waktu itu.

Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala ulkus kaki diabetes seperti
sering kesemutan, nyeri kaki saat istirahat.,
sensasi rasa berkurang, kerusakan jaringan
(nekrosis), penurunan denyut nadi arteri
dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki
menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal dan
kulit kering (Misnadiarly, 2006 ; Subekti,
2006).
3.4 Diagnosis Kaki Diabetes
Diagnosis kaki diabetes meliputi :
1. Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi kaki untuk mengamati terdapat
luka/ulkus pada kulit atau jaringan tubuh pada
kaki, pemeriksaan sensasi vibrasi/rasa
berkurang atau hilang, palpasi denyut nadi
arteri dorsalis pedis menurun atau hilang.
2 Pemeriksaan Penunjang : X-ray,
EMG(Electromyographi) dan pemeriksaan
laboratorium untuk mengetahui apakah ulkus
kaki diabetes menjadi infeksi dan menentukan
kuman penyebabnya (Waspadji, 2006).
3.5 Patogenesis Kaki Diabetes
Salah satu akibat komplikasi kronik atau
jangka panjang diabetes mellitus adalah ulkus
kaki diabetes. Ulkus kaki diabetes disebabkan
adanya tiga faktor yang sering disebut trias
yaitu : iskemik, neuropati, dan infeksi. Pada
penderita diabetes mellitus apabila kadar

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan darah : lekositosis mungkin
menandakan adanya abses atau infeksi
lainnya pada kaki.
Profil metabolik : pengukuran kadar glukosa
darah, glikohemoglobin dan kreatinin serum
membantu untuk menentukan kecukupan
regulasi glukosa dan fungsi ginjal
Pemeriksaan laboratorium vaskuler
noninvasif : Pulse Volume Recording(PVR),
atau plethymosgrafi.
Epidemiologi
Prevalensi penderita ulkus diabetika di
Indonesia sebesar 15% dari penderita DM. Di
RSCM, pada tahun 2003 masalah kaki
diabetes masih merupakan masalah besar.
Sebagian besar perawatanDM selalu terkait
dengan ulkus diabetika. Angka kematian dan
angka amputasimasih tinggi, masing-masing
sebesar 32,5% dan 23,5%. Nasib penderita
DM paska amputasi masih sangat buruk,
sebanyak 14,3%akan meninggal dalam
setahun paska amputasi dan sebanyak 37%
akan meninggal 3 tahun paskaamputasi.
Penelitian cross sectionaldi RS Dr. Kariadi oleh
Yudha dkk. menunjukkan bahwa penderita
ulkus diabetika 84,62% terdapat dislipidemia,
pada penderita ulkus diabetika dengan
dislipidemia kadar kolesterol lebih tinggi
secara bermakna (p=0,045) dan kadar
trigliserida lebih tinggi secara bermakna
(p=0,002) dibandingkan dengan penderita DM
tanpa dislipidemia. Penelitian pada tahun
2002 oleh Waspadai menghasilkan bahwa
kadar trigliserida merupakan faktor risiko
terjadi penyakit pembuluh darah perifer yang

dapat mengakibatkan terjadinya ulkus


diabetika
Tanda dan gejala ulkus diabetika yaitu :
a.Sering kesemutan.
b.Nyeri kaki saat istirahat.
c.Sensasi rasa berkurang.
d.Kerusakan Jaringan (nekrosis).
e.Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis,
tibialis dan poplitea.
f.Kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku
menebal.
g.Kulit kering
Bila ulkus disertai osteomielitis
penyembuhannya menjadi lebih lama dan
sering kambuh. Maka pengobatan
osteomielitis di samping pemberian antibiotika
juga harus dilakukan reseksi bedah.
Antibiotika diberikan secara empiris, melalui
parenteralselama 6 minggu dan kemudain
dievaluasi kembali melalui foto radiologi.
Apabila jaringan nekrotik tulang telah
direseksi sampai bersih pemberian antibiotika
dapat dipersingkat,biasanya memerlukan
waktu 2 minggu.
a. Faktor-faktor risiko yang tidak dapat
diubah :
1)Umur 60 tahun.
2)Lama DM 10 tahun.
b. Faktor-Faktor Risiko yang dapat diubah :
(termasuk kebiasaan dan gaya hidup)
1)Neuropati (sensorik, motorik, perifer).
2)Obesitas.
3)Hipertensi.
4)Glikolisasi Hemoglobin (HbA1C) tidak
terkontrol.
5)Kadar glukosa darah tidak terkontrol.
6)Insusifiensi Vaskuler karena adanya
Aterosklerosis yang
disebabkan :
a)Kolesterol Total tidak terkontrol.
b)Kolesterol HDL tidak terkontrol.
c) Trigliserida tidak terkontrol.
7) Kebiasaan merokok.
8 )Ketidakpatuhan Diet DM.
9) Kurangnya aktivitas Fisik.
10) Pengobatan tidak teratur.
11 )Perawatan kaki tidak teratur.
12) Penggunaan alas kaki tidak tepat
http://eprints.undip.ac.id/18866/1/Rini_Tri_Hast
uti.pdf
Atrofi otot yaitu terjadinya pengurangan
ukuran otot, ketegangan dan kekuatan otot

yang disebabkan oleh mengecilnya serabutserabut otot. Segala jenis kerusakan pada
neuron motorik akan menyebabkan terjadinya
atrofi otot secara bertahap. Misalnya virus
polio yang menyerang saraf otak dan sumsum
tulang belakang menyebabkan paralisis dan
atrofi otot.
Distrofi otot yaitu penyakit menurun yang
disebabkan oleh mutasi gen yang
bertanggung jawab untuk sintesis protein otot,
sehingga otot menjadi lemah.
Umumnya terjadi pada laki-laki umur antara 3
7 tahun
2.Tetanus yaitu terjadinya kontraksi otot
seluruh tubuh yang kuat dalam waktu tetentu,
disebabkan oleh stimulus racun yang
dikeluarkan oleh Clostridium tetani. Penyakit
ini menyebabkan 40-60 dari 100 orang yang
terinfeksi tetanus, sehingga penting untuk
dilakukan imunisasi.
3.Atrofi otot
yaitu terjadinya pengurangan ukuran otot,
ketegangan dan kekuatan otot yang
disebabkan oleh mengecilnya serabut-serabut
otot. Segala jenis kerusakan pada neuron
motorik akan menyebabkan terjadinya atrofi
otot secara bertahap. Misalnya virus polio
yang menyerang saraf otak dan sumsum
tulang belakang menyebabkan paralisis dan
atrofi otot.
4.Hipertrofi yaitu membesarnya otot yang
disebabkan oleh aktivitas berat otot yang
dilakukan secara terusmenerus. Otot yang mengalami hipertrofi,
diameter
serabut ototnya meningkat dan jumlah zat
yang terdapat di dalam otot juga bertambah.
5.Hiperplasia
yaitu membesarnya otot yang disebabkan
karena jumlah serabut otot bertambah, tetapi
tidak disebabkan karena membesarnya
serabut otot.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND.
_BIOLOGI/196805091994031KUSNADI/BUKU_S
AKU_BIOLOGI_SMA,KUSNADI_dkk/Kelas_XI/4._S
.Gerak/bab_4_gerak_pada_hewan.pdf