Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
Latar Belakang
1.1 Latar Belakang
Buah dan Sayuran merupakan jenis pangan yang penting untuk kesehatan masyarakat, karena
melengkapi kebutuhan gizi manusia yang berfungsi sebagai sumber vitamin, mineral, protein
nabati, dan serat. Demikian pentingnya arti buah dan sayuran bagi kesehatan, menurut anjuran
gizi sebaiknya mengkonsumsi minimal lima porsi sayuran dan buah setiap hari. Ini berarti
sayuran sebaiknya selalu tersedia pada setiap waktu makan (Khomsan, 2002).
Mengingat pentingnya buah dan sayuran bagi kesehatan, dan semakin meningkatnya
kesadaran gizi masyarakat sehingga minat masyarakat mengkonsumsi buah dan sayuran juga
semakin meningkat, maka jaminan keamanan pangan selalu menjadi pertimbangan utama dalam
perdagangan baik nasional maupun internasional. Disamping itu pemahaman tentang masalah
sanitasi sehingga cara penanganan sayuran sampai ketingkat rumah tangga bisa terjamin
keamanannya dan memenuhi syarat kesehatan.
Keamanan pangan dan mutu produk pertanian (pangan segar) sangat menentukan keamanan,
mutu dan gizi produk selanjutnya setelah produk segar tersebut ditangani, diolah, disimpan,
didistribusikan dan disajikan. Oleh karenanya keamanan pangan merupakan syarat penting yang
harus melekat pada pangan yang hendak dikonsumsi oleh manusia. Keamanan pangan menjadi
perhatian utama bagi organisasi pertanian dan pangan dunia (FAO dan WHO). FAO dan WHO
meminta negara-negara untuk menerapkan standar keamanan dan mutu pangan internasional
untuk melindungi kesehatan dan perdagangan pangan (WHO Press Release, 2001 dalam Badan
Bimas Ketahanan Pangan, 2008).
Pada saat ini buah dan sayuran baik yang diproduksi dalam negeri maupun import yang
beredar dipasaran dan siap dikonsumsi diindikasikan masih banyak mengandung permasalahan
pangan. Kehawatiran ini berkaitan dengan belum terpenuhinya persyaratan keamanan pangan
diantaranya adalah adanya kandungan cemaran Bahan Beracun Berbahaya (B3).
Pestisida sebagai salah satu jenis B3 banyak dipergunakan oleh petani produsen untuk
melindungi tanaman dan hasil panen, tanpa disadari dapat menimbulkan keracunan atau
pencemaran pada buah dan sayuran karena residu yang ditinggalkan.
Penggunaan pestisida pada buah dan sayuran bertujuan untuk mengendalikan populasi hama
dan penyakit supaya tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi. Namun pada kenyataannya

dengan kemajuan teknologi agak sulit untuk dapat meningkatkan produk hasil tanpa penggunaan
pestisida sehingga penggunaannya jadi berlebihan.
Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa residu pestisida pada buah dan sayuran sudah
sampai pada tingkat membahayakan. Hal ini terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
frekuensi penyemprotan, dosis, jenis pestisida yang digunakan serta penyemprotan yang tidak
mengikuti aturan semestinya, seperti melakukan penyemprotan pada saat akan panen (Histifarina
dkk, 2003).

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Pestisida
2.1.1 Pengertian Pestisida
Pestisida (Inggris: pesticide) berasal dari kata pest yang berarti hama dan cide yang
berarti mematikan atau racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara umum pestisida dapat
didefinisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap
sebagai pest yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1973 tentang pengawasan atas peredaran,
penyimpanan dan penggunaan pestisida, pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta
jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
a. Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman,
bagian-bagian tanaman atau hasil pertanian.
b. Memberantas rerumputan
c. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan
d. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman tidak
termasuk pupuk
e. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak
f. Memberantas atau mencegah hama-hama air
g. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah
tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan
h. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah
atau air
Menurut The United States Environtmental Pesticide Control Act, pestisida adalah sebagai
berikut:
1. Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah
atau menangkis gangguan serangga, nematode, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang
dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada
manusia dan binatang.
2. Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau
pengering tanaman (Djojosumarto, 2004).

2.1.2 Penggolongan Pestisida


Pestisida dapat digolongkan menurut berbagai cara tergantung pada kepentingannya, antara
lain: berdasarkan sasaran yang akan dikendalikan, berdasarkan cara kerja, berdasarkan struktur
kimianya dan berdasarkan bentuknya.
Penggolongan pestisida berdasarkan sasaran yang akan dikendalikan yaitu: (Wudianto, 2001)
a. Insektisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang bisa mematikan
semua jenis serangga.
b. Fungisida adalah bahan yang mengandung enyawa kimia beracun dan bisa digunakan
untuk memberantas dan mencegah fungi atau cendawan.
c. Bakterisida mengandung bahan aktif beracun yang bisa membunuh bakteri.
d. Nematisida digunakan untuk mengendalikan nematode atau cacing.
e. Akarisida atau mitisida adalah bahan yang mengandung enyawa kimia beracun,
digunakan untuk membunuh tungau, caplak dan laba-laba.
f. Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan
untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat misalnya tikus.
g. Molukisida adalah pestisida untuk membunuh moluska yaitu siput telanjang, bekicot.
h. Herbisida adalah senyawa beracun yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh tumbuhan
pengganggu yang disebut gulma.
Sedangkan jika dilihat dari cara kerja pestisida tersebut dalam membunuh hama dapat
dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yaitu: (Ekha, 1988)
1. Racun Perut
Pestisida golongan ini pada umumnya dipakai untuk membasmi serangga-serangga
pengunyah, penjilat dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut.
2. Racun Kontak
Pestisida jenis ini membunuh hewan sasaran dengan masuk ke dalam tubuh melalui kulit,
menembus saluran darah dan saluran nafas.
3. Racun Gas
Jenis racun ini disebut juga fumigant, digunakan terbatas pada ruangan-ruangan tertutup.

Menurut Dep.Kes RI Dirjen P2M dan PL 2000 dalam Meliala (2005), berdasarkan struktur
kimia pestisida digolongkan menjadi:
1. Golongan Organochlorin, misalnya DDT, Dieldrin, endrin dan lain-lain.
Golongan ini mempunyai sifat: racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat
lambat larut dalam lemak.
2. Golongan Organophosfat mialnya diazonin dan basudin.
Golongan ini mempunyai sifat: racun yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih
cepat atau kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga
dan memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia
daripada organochlor.
3. Golongan Carbamat termasuk baygon, bayrusil dan lain-lain.
Golongan ini mempunyai sifat: mirip dengan pestisida organofosfat, tidak terakumulasi
dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat diturunkan dan dieliminasi namun
pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang kuat untuk tawon.
4. Senyawa Dinitrofenol misalnya morocidho 40EC
Berperan memacu proses pernafasan sehingga energy berlebihan dari yang diperlukan
akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.
5. Pyretroid
Salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari berbagai ester yang
disebut pyretrin yang diekstraksi dr bunga.
6. Fumigant
Merupakan senyawa atau campuran yang menghasilkan uap atau gas yang mengandung
halogen radikal (Cl, Br dan F) misalnya ethylendibromide, naftalene, metylbromide,
chlorofikrin, fostin dan formaldehid yang berfungsi untuk membunuh serangga, cacing,
bakteri dan tikus.
7. Petroleum
Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga
digunakan sebagai herbisida.
8. Antibiotik
Misalnya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme
mempunyai efek ebagai bakterisida dan fungisida.

Bentuk pestisida yang merupakan formulasi ada berbagai macam. Formulasi ini perlu
dipertimbangkan sebelum membeli untuk disesuaikan dengan ketersediaan alat yang ada,
kemudahan aplikasi, serta efektivitasnya (Wudianto, 2001).
1. Tepung hembus, debu (dust = D)
Bentuk tepung kering yang terdiri atas bahan aktif, misalnya belerang atau dicampur
dengan pelarut aktif yang bertindak sebagai karier atau dicampur bahan-bahan organik
seperti walnut, talk. Dalam penggunaannya pestisida ini harus dihembuskan
menggunakan alat khusus yang disebut duster.
2. Butiran (Granula = G)
Berbentuk butiran padat yang merupakan campuran bahan aktif berbentuk cair dengan
butiran yang mudah menyerap bahan aktif. Penggunaanny cukup ditaburkan atau
dibenamkan disekitar perakaran atau dicampur dengan media tanaman.
3. Tepung yang dapat disuspensi dalam air (wettablebpowder = WP)
Berbentuk tepung kering agak pekat ini belum dapat digunakan langsung, terlebih dahulu
dibasahi air. Hasil campurannya dengan air disebut suspense. Pestisida jenis ini tidak
larut dalam air, melainkan hanya tercampur saja. Oleh karena itu, sewaktu disemprotkan
harus sering diaduk.
4. Tepung yang larut dalam air (water-soluble powder = SP)
Jenis pestisida ini mirip dengan WP, penggunaannya dicampur air. Perbedaannya jenis ini
larut dalam air jadi penggunaannya dalam penyemprotan, pengadukan hanya dilakukan
sekali pada waktu pencampuran.
5. Suspensi (flowable concentrate = F)
Formulasi ini merupakan campuran bahan aktif yang ditambahkan pelarut serbuk yang
dicampur dengan sejumlah air. Hasilnya seperti pasta yang disebut campuran pasta.
6. Cairan (emulsifiable = EC)
Merupakan cairan pekat yang terdiri dari campuran bahan aktif dengan perantara emulsi.
Dalam penggunaannya biasanya dicampur dengan bahan pelarut berupa air.
Hasil pengencerannya disebut emulsi.
7. Ultra Low Volume (ULV)

Merupakan jenis khusus dari formulasi Solution (S). Bentuk murninya merupakan cairan
atau bentuk padat yang larut dalam solven minimum. Konsentrat ini mengandung
pestisida berkonsentrasi tinggi dan diaplikasikan langsung tanpa penambahan air.
8. Solution (S)
Merupakan formulasi yang dibuat dengan melarutkan pestisida kedalam pelarut organic
dan dapat digunakan dalam pengendalian jasad pengganggu secara langsung tanpa perlu
dicampur dengan bahan lain.
9. Aerosol (A)
Merupakan formulasi yang terdiri dari campuran bahan aktif berkadar rendah dengan zat
pelarut yang mudah menguap (minyak) kemudian dimasukkan ke dalam kaleng yang
diberi tekanan gas propelan. Formulasi ini banyak digunakan di rumahtangga, rumah
kaca atau pekarangan.
10. Umpan beracun (Poisonous Bait = B)
Formulasi yang terdiri dari bahan aktif pestisida digabungkan dengan bahan lainnya yang
disukai jasad pengganggu.
11. Powder Concentrate (PC)
Formulasi ini berbentuk tepung, penggunaannya dicampur dengan umpan dan dipasang
diluar rumah. Pestisida jenis ini merupakan golongan Rodentisida yaitu untuk
memberantas tikus.
12. Ready Mix Bait (RMB)
Formulasi ini berbentuk segiempat (blok) besar dengan bobot 300 gram dan blok kecil
dengan bobot 10-20 gram serta pellet. Formulasi ini berupa umpan beracun siap pakai
untuk tikus.
13. Pekatan yang dapat larut dalam air (Water Soluable Concentrate = WSC)
Formulasi berbentuk cairan yang larut dalam air. Hasil pengenceran dengan air disebut
larutan.
14. Seed Treatment (ST)
Formulasi ini berbentuk tepung, dicampur dengan sedikit air sehingga berbentuk pasta.
2.1.3 Karakteristik Pestisida

Efektifitas Pestisida

Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh
yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis yang rendah sehingga memperkecil
dampat buruk terhadap lingkungan.

Selektifitas Pestisida
Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan
untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana
pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain
termasuk musuh alami OPT.

Fototoksisitas Pestisida
Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan
bagi tanaman yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida.
Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan.

Residu Pestisida
Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu yang
terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu
pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT.

Persistensi Pestisida
Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang
memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Resistensi Pestisida
Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi
tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit
terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap
kali aplikasi pestisida.

LD 50 atau Lethal Dosage 50%


Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida
yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida
tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih
pestisida dengan LD 50 yang tinggi.

Kompatibiltas Pestisida

Kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa
menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu.
2.1.4 Dampak Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia
Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja
bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap
manusia dan jasad bukan

target termasuk tanaman, ternak dan organisme berguna

lainnya.Apabila penggunaan pestisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan


kesehatan, orang yang sering berhubungan dengan pestisida, secara lambat laun akan
mempengaruhi kesehatannya. Pestisida meracuni manusia tidak hanya pada saat pestisida itu
digunakan, tetapi juga saat mempersiapkan, atau sesudah melakukan penyemprotan.
Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama dialami oleh orang
yang langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika
sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa
gatal-gatal dan menjadi luka, kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan
kematian. Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja
dan kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun.Kadang-kadang para petani atau pekerja
perkebunan, kurang menyadari daya racun pestisida, sehingga dalam melakukan penyimpanan
dan penggunaannya tidak memperhatikan segi-segi keselamatan. Pestisida sering ditempatkan
sembarangan, dan saat menyemprot sering tidak menggunakan pelindung, misalnya tanpa kaos
tangan dari plastik, tanpa baju lengan panjang, dan tidak mengenakan masker penutup mulut dan
hidung. Juga cara penyemprotannya sering tidak memperhatikan arah angin, sehingga cairan
semprot mengenai tubuhnya. Bahkan kadang-kadang wadah tempat pestisida digunakan sebagai
tempat minum, atau dibuang di sembarang tempat. Kecerobohan yang lain, penggunaan dosis
aplikasi sering tidak sesuai anjuran. Dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang-kadang
ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan, dengan alasan dosis yang rendah tidak
mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui mulut,
kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh
seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan mengakibatkan keracunan kronis.
Keracunan kronis akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat

bersifat karsinogenik (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenik (kerusakan genetik
untuk generasi yang akan datang), dan teratogenik (kelahiran anak cacat dari ibu yang
keracunan).
Pestisida dalam bentuk gas merupakan pestisida yang paling berbahaya bagi pernafasan,
sedangkan yang berbentuk cairan sangat berbahaya bagi kulit, karena dapat masuk ke dalam
jaringan tubuh melalui ruang pori kulit. Menurut World Health Organization (WHO), paling
tidak 20.000 orang per tahun, mati akibat keracunan pestisida. Diperkirakan 5.000 10.000
orang per tahun mengalami dampak yang sangat fatal, seperti mengalami penyakit kanker, cacat
tubuh, kemandulan dan penyakit liver. Tragedi Bhopal di India pada bulan Desember 1984
merupakan peringatan keras untuk produksi pestisida sintesis. Saat itu, bahan kimia metil
isosianat telah bocor dari pabrik Union Carbide yang memproduksi pestisida sintesis (Sevin).
Tragedi itu menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 50.000 orang
dirawat akibat keracunan. Kejadian ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah produksi
pestisida sintesis.
Selain keracunan langsung, dampak negatif pestisida bisa mempengaruhi kesehatan
orang awam yang bukan petani, atau orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan
pestisida. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat sisa racun (residu) pestisida yang ada didalam
tanaman atau bagian tanaman yang dikonsumsi manusia sebagai bahan makanan. Konsumen
yang mengkonsumsi produk tersebut, tanpa sadar telah kemasukan racun pestisida melalui
hidangan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Apabila jenis pestisida mempunyai residu
terlalu tinggi pada tanaman, maka akan membahayakan manusia atau ternak yang mengkonsumsi
tanaman tersebut. Makin tinggi residu, makin berbahaya bagi konsumen.
Pestisida sebagai bahan beracun, termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi
lingkungan dan kesehatan manusia. Pencemaran dapat terjadi karena pestisida menyebar melalui
angin, melalui aliran air dan terbawa melalui tubuh organisme yang dikenainya. Residu pestisida
sintesis sangat sulit terurai secara alami. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida, residunya dapat
bertahan hingga puluhan tahun. Dari beberapa hasil monitoring residu yang dilaksanakan,
diketahui bahwa saat ini residu pestisida hampir ditemukan di setiap tempat lingkungan sekitar
kita. Kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap organisma
bukan sasaran. Oleh karena sifatnya yang beracun serta relatif persisten di lingkungan, maka
residu yang ditinggalkan pada lingkungan menjadi masalah.

Residu pestisida telah diketemukan di dalam tanah, ada di air minum, air sungai, air
sumur, maupun di udara. Dan yang paling berbahaya racun pestisida kemungkinan terdapat di
dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, seperti sayuran dan buah-buahan.Aplikasi
pestisida dari udara jauh memperbesar resiko pencemaran, dengan adanya hembusan angin.
Pencemaran pestisida di udara tidak terhindarkan pada setiap aplikasi pestisida. Sebab hamparan
yang disemprot sangat luas. Sudah pasti, sebagian besar pestisida yang disemprotkan akan
terbawa oleh hembusan angin ke tempat lain yang bukan target aplikasi, dan mencemari tanah,
air dan biota bukan sasaran.
Bahan kimia dari kandungan pestisida dapat meracuni sel-sel tubuh atau mempengaruhi
organ tertentu yang mungkin berkaitan dengan sifat bahan kimia atau berhubungan dengan
tempat bahan kimia memasuki tubuh atau disebut juga organ sasaran. Efek racun bahan kimia
atas organ-organ tertentu dan sistem tubuh:
1.Paru-paru dan sistem pernafasan
Efek jangka panjang terutama disebabkan iritasi (menyebabkan bronkhitis atau
pneumonitis). Pada kejadian luka bakar, bahan kimia dalam paru-paru yang dapat menyebabkan
udema pulmoner (paru-paru berisi air), dan dapat berakibat fatal. Sebagian bahan kimia dapat
mensensitisasi atau menimbulkan reaksi alergik dalam saluran nafas yang selanjutnya dapat
menimbulkan bunyi sewaktu menarik nafas, dan nafas pendek. Kondisi jangka panjang (kronis)
akan terjadi penimbunan debu bahan kimia pada jaringan paru-paru sehingga akan terjadi
fibrosis atau pneumokoniosis.
2.Hati
Bahan kimia yang dapat mempengaruhi hati disebut hipotoksik. Kebanyakan bahan kimia
menggalami metabolisme dalam hati dan olehkarenanya maka banyak bahan kimia yang
berpotensi merusak sel-sel hati. Efek bahan kimia jangka pendek terhadap hati dapat
menyebabkan inflamasi sel-sel (hepatitis kimia), nekrosis (kematian sel), dan penyakit kuning.
Sedangkan efek jangka panjang berupa sirosis hati dari kankerhati.
3.Ginjal dan saluran kencing
Bahan kimia yang dapat merusak ginjal disebut nefrotoksin. Efek bahan kimia terhadap
ginjal meliputi gagal ginjal sekonyong-konyong (gagal ginjal akut), gagal ginjal kronik dan
kanker ginjal atau kanker kandung kemih.
4.Sistem syaraf

Bahan kimia yang dapat menyerang syaraf disebut neurotoksin. Pemaparan terhadap
bahan kimia tertentu dapat memperlambat fungsi otak. Gejala-gejala yang diperoleh adalah
mengantuk dari hilangnyakewaspadaan yang akhirnya diikuti oleh hilangnya kesadaran
karena bahan kimia tersebut menekan sistem syaraf pusat. Bahan kimia yang dapat meracuni
sistem enzim yang menuju ke syaraf adalah pestisida. Akibat dari efek toksik pestisida ini dapat
menimbulkan kejang otot dan paralisis (lurnpuh). Di samping itu ada bahan kimia lain yang
dapat secaraperlahan meracuni syaraf yang tangan dan kaki serta mengakibatkan mati rasa dan
kelelahan.
5.Darah dan sumsum tulang
Sejumlah bahan kimia seperti arsin, benzen dapat merusak sel-seld arah merah yang
menyebabkan anemia hemolitik. Bahan kimia lain dapat merusak sumsum tulang dan organ lain
tempat pembuatan sel-sel darah atau dapat menimbulkan kanker darah.Jantung dan pembuluh
darah (sistem kardiovaskuler).Sejumlah pelarut seperti trikloroetilena dan gas yang dapat
menyebabkan gangguan fatal terhadap ritme jantung. Bahan kimia lain seperti karbon disulfida
dapat menyebabkan peningkatan penyakit pembuluh darah yang dapat menimbulkan serangan
jantung.
6.Kulit
Banyak bahan kimia bersifat iritan yang dapat menyebabkan dermatitis atau dapat
menyebabkan sensitisasi kulit dan alergi. Bahan kimia lain dapat menimbulkan jerawat,
hilangnya pigmen (vitiligo), mengakibatkan kepekaan terhadap sinar matahari atau kanker kulit.
7.Sistem yang lain
Bahan kimia dapat pula menyerang sistem kekebalan, tulang, otot dan kelenjar tertentu
seperti kelenjar tiroid. Petani yang terpapar pestisida akan mengakibatkan peningkatan fungsi
hati sebagai salah satu tanda toksisitas, terjadinya kelainan hematologik,meningkatkan kadar
SGOT dan SGPT dalam darah juga dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah.
2.1.5 Perjalanan Pestisida Setelah Penyemprotan
Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan.
Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan
sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa
mengikuti prinsip 4 tepat. Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah

tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak
diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak
merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida.
Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot.
Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang.
Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :

Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah,
tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran
lingkungan.

Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.

Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif karena pengaruh
cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.

Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah
sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan
menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT
yang terdapat di dalam tanah.

Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah
sehingga mencemari sumber air tanah.

Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk yang tidak aktif atau
tidak beracun.

Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah


akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme.

2.1.6 Dampak Pestisida Terhadap Kesehatan Reproduksi


Penggunaan pestisida sangat berdampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Setiap hari ribuan petani dan para pekerja di pertanian diracuni oleh pestisida dan setiap tahun
diperkirakan jutaan orang yang terlibat dipertanian menderita keracunan akibat penggunaan
pestisida. Dalam beberapa kasus keracunan pestisida langsung, petani dan para pekerja di
pertanian lainnya terpapar (kontaminasi) pestisida pada proses mencampur dan menyemprotkan
pestisida (Pan AP,2001). Di samping itu masyarakat sekitar lokasi pertanian sangat beresiko
terpapar pestisida melalui udara, tanah dan air yang ikut tercemar, bahkan konsumen melalui
produk pertanian yang menggunakan pertisida juga beresiko

terkontaminasi pestisida. Pestisida bisa dikatakan sebagai pencetus timbulnya kanker, tingkat
kesuburan menurun dan gangguan dari terhadap sistem kekebalan tubuh. Kebijakan pertanian
yang berorientasi pada eksport, membuat semakin gencarnya dibuka lahan-lahan perkebunan
baik oleh pihak pemerintah maupun swasta yang sangat tergantung dengan penggunaan
pestisida, buruh perkebunan dan masyarakat tinggal di sekitar juga beresiko tinggi terpapar oleh
pestisida. Pemilik perkebunan dan perusahaan pestisida hanya memikirkan sudah berapa banyak
laba dan keuntungan yang diperoleh, tetapi tidak memikirkan dampak buruk terhadap kesehatan
dan kehancuran lingkungan ketika pestisida disemprotkan.
Peran Perempuan di Pertanian yang begitu besar membuat perempuan juga dominan dan
paling beresiko terhadap dampak pestisida. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan
Pangan Dunia di perserikatan bangsa-Bangsa (FAO), jumlah perempuan yang terlibat di sektor
pertanian meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tenaga kerja perempuan dalam sektor pertanian
mengalami peningkatan hampir empat kali lipat dari tahun 1960 sebanyak 7,43 juta menjadi
20,82 juta orang pada tahun 2000 (Data FAO,2000). Meskipun FAO belum pernah mengeluarkan
data jumlah petani terutama petani perempuan yang terkena dampak pestisida, namun ada
beberapa studi terhadap kasus kasus yang berkaitan dnegan dampak pestisida tersebut.
Di beberapa Negara Asia

ditegaskan bahwa perempuan adalah pekerja utama di

pertanian dan perkebunan, yang berhubungan langsung dengan penggunaan pestisida dalam
pekerjaannya sehari-hari. Seperti di Malaysia, perempuan terlibat di hampir 80 persen dari
50,000 dari pekerjaan umum dan terpaksa menjadi pekerja di perkebunan, dengan sebanyak
30,000 orang yang aktif sebagai penyemprot pestisida di sektor perkebunan sendiri. Para pekerja
di Malaysia sangat beresiko terpapar pestisida karena hampir sehari-hari menggunakan pestisida
seperti Paraquat, Methamidophos dan Monocrotophos. Akibatnya, petani perempuan dan
perempuan buruh perkebunan banyak yang menderita penyakit dan mengalami gangguan
kesehatan yang kronis dan akut. Seperti kuku jari tangan yang membusuk, gatal-gatal, perut mual
dan nyeri, sakit punggung, pusing, nafas sesak, mata kabur/rabun, mudah marah, sakit kepala,
sesak di dada, bengkak, nyeri otot, rasa gatal kulit dan infeksi kulit , bahkan timbulnya kanker.
Di India, pestisida menjadi penyebab utama yang telah membinasakan Hidup penduduk
desa Kasargod, Kerala. Di temukan bahwa selama dua setengah dekade, pestisida jenis
endosulfan telah disemprotkan dilahan perkebunan kacang-kacangan, pohon dan buah jambu
monyet di beberapa desa daerah Kasargod yang dilakukan oleh perusahan perkebunan di Kerala.

Akibatnya penduduk desa di sekitar perkebunan menderita berbagai macam penyakit dan
menderita gangguan kesehatan akibat terpapar pestisida endosulfan. Pada umumnya adalah
gangguan terhadap sistem reproduksi perempuan, seperti kanker rahim dan kanker payudara.
Ditemukan fakta anak-anak yang dilahirkan mengalami cacat fisik, keterlambatan mental, serta
kekebalan tubuh rendah. Selain gangguan terhadap kesehatan, tidak kurang kerusakan yang
terjadi pada lingkungan yang berhasil dicatat adalah ditemukan ikan, lebah madu, kodok, dan
ternak unggas ayam yang mati.Sebuah penelitian lain di India memperkirakan bahwa lebih dari
1000 orang pekerja di perkebunan ini telah terpapar pestisida dalam kurun waktu antara agustus
hingga desember 2001 dan lebih dari 500 orang berakibat kematian, ternyata lebih dari setengah
dari pekerja tersebut adalah perempuan. Penggunaan pestisida besar-besaran di perkebunan
produksi kapas di Warangal wilayah Andhra Pradesh, mengakibatkan masyarakat di daerah
tersebut pelan-pelan telah terpapar oleh pestisida. Mereka mengeluh mengalami gangguan mual,
gangguan usus, sakit dada, sulit bernafas, infeksi kulit, ganguan penglihatan dan ganguan
hormonal. Menurut suatu survei yang terbaru, bekas pekerja IRRI mengalami gangguan serius
seperti timbul bisul yang abdominal, broncitis, rapu tulang, radang paru-paru, kencing manis,
kelumpuhan, gangguan jantung, radang hati, hipertensi, kegagalan ginjal, Parkinsons, asma dan
kanker.
Di Indonesia sendiri, menurut data pertanian tahun 2000 menyatakan 50,28% dari total
jumlah tenaga kerja di sector pertanian atau sebesar 49,60 juta adalah perempuan, kenyataannya
masih sedikit penelitian terhadap tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh pestisida baik itu
pada proses pertanian maupun pada produk makanan. Sehingga hanya beberapa kasus keracunan
pestisida maupun gangguan yang dialami yang disebabkan dampak pestisida yang terungkap.
Beberapa dari kasus gangguan terpapar pestisida yang ditemukan ternyata sebagian besar
penderitanya adalah petani perempuan. Kasus keguguran kehamilan yang dialami oleh salah
seorang petani dari Sumatera Barat akibat penggunaan pestisida Dursban yang dicampur dengan
Atracol, menunjukkan fakta bahwa pestisida sangat berbahaya bagi perempuan terutama bagi
kesehatan reproduksinya. Pestisida dapat meracuni embrio bayi dalam kandungan yang sama
berbahaya seperti meracuni ibunya, bahkan yang belih buruk lagi kerusakan dapat terjadi
sebelum masa kehamilan. Perempuan yang terkena pestisida masa awal kehamilan dapat
mengakibatkan cacat pada bayi.

2.1.7 Cara Pencegahan Penggunaan Pestisida terhadap Kesehatan Manusia


Pengetahuan tentang pestisida yang disertai dengan praktek penyemprotan akan dapat
menghindari petani atau penyemprot dari keracunan. Ada beberapa cara untuk menghindari atau
mencegah terjadinya penya1kit yang disebabkan oleh penggunaan pestisida antara lain:
1.Pembelian pestisida
Dalam pembelian pestisida hendaknya selalu dalam kemasan yang asli, masih utuh dan
ada label petunjuknya.Perlakuan sisa kemasan, Bekas kemasan sebaiknya dikubur atau dibakar
yang jauh dari sumber mata air untuk mengindai pencemaran ke badan air dan juga jangan
sekali-kali bekas kemasan pestisida untuk tempat makanan dan minuman.
2.Penyimpanan
Setelah menggunakan pestisida apabila berlebih hendaknya di simpan yang aman seperti
jauh dari jangkauan anak-anak, tidak bercampur dengan bahan makanan dan sediakan tempat
khusus yang terkunci dan terhindar dari sinar matahari langsung.
3.Penatalaksanaan penyemprotan
Pada pelaksanaan penyemprotan ini banyak menyebabkan keracunan dan penyakit
lainnya oleh sebab itu petani di wajibkan memakai alat pelindung diri yang lengkap setiap
melakukan penyemprotan, tidak melawan arah angin atau tidak melakukan penyemprotan
sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan makan-minum serta merokok di waktu sedang
menyemprot, setiap selesai menyemprot dianjurkan untuk mandi pakai sabun dan berganti
pakaian serta pemakain alat semprot yang baik akan menghindari terjadinya penyakit.
2.2 Bahan Kimia Kontaminasi Lainnya
Kontaminasi karena bahan kimia sering terjadi karena kelalaian atau kecelakaan, seperti
meletakkan pestisida dengan bahan makanan, kelalaian dalam pencucian sayuran atau buah-buahan
sehingga sayur atau buah-buahan tersebut masih mengandung sisa pestisida dan kelalaian memasukkan
bahan kimia yang seharusnya dipakai untuk kemasan dimasukkan ke dalam makanan. Bahan kimia yang
terdapat dalam bahan makanan dengan kadar yang berlebih akan bersifat toksik bagi manusia. Beberapa zat
yang sering menimbulkan keracunan manusia adalah :
1. Zinc, terdapat pada perlatan dapur akan mengalami reduksi bila kontak dengan bahan makan
yang bersifat asam.
2. Insektisida, keracunan ini terjadi karena mengkonsumsi makanan yang masih mengandung
residu pestisida, seperti pada syran dan buah-buahan.

3. Cadmium, keracunan ini bisa terjadi karena Cd yang terdapat pada peralatan dapur dengan
kontak dengan makanan yang bersifat asam.
4. Antimonium, berasal dari perlatan dapur yang dilapisi dengan email kelabu murahan.
2.2.1 Penggunaan Zat Aditif
Zat aditif bahan makanan biasanya digunakan secara sengaja, zat tambahan tadi dapat menyebabkan
makanan lebih sedap, tampak lebih menarik, bau dan rasa lebih sedap, dan makanan lebih tahan lama (awet),
tetapi karena makanan tersebut dapat berbahaya bagi manusia maka disebut zat pencemar.

WHO

mensyaratkan zat tambahan itu seharusnya memenuhi kriteria sebagai berikut :


(1). Aman digunakan
(2). Jumlahnya sekedar memnuhi kriteri pengaruh yang diharapkan
(3). Sangkil secara teknologi
(4). Tidak boleh digunakan utnuk menipu pemakai dan jumlah yang dipakai haruslah minimal.
Pemakaian zat tambahan yang aman digunakan merupakan pertimbangan yang penting, walaupun tidak
mungkin untuk mendapatkan bukti secara mutlak bahwa suatu zat tambahan yang digunakan secara khusus tidak
toksik bagi semua manusia dalam semua kondisi, paling tidak pengujian secara sifat-sifat fisiologis,
farmakologis, dan biokemis pada binatang percobaan yang dusulkan dapat dipaki sebagai dasar yang
beralasan bagi penilaian pemakian suatu zat tambahan pada bahan makanan. Akan tetapi permasalahan
yang sering muncul adalah pihak produsen. Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh produsen
makanan untuk mencegah terjadinya kontaminasi bahan kimia adalah sebagai berikut:
1. Data bahan kimia yang disetujui untuk digunakan di pabrik makanan harus dibuat dan
disahkan oleh orang yang memahami data tsb. Biasanya ini dilakukan oleh personel QA.
Perusahaan dilarang membeli bahan kimia jika bahan kimia tersebut belum masuk dalam
daftar yang disetujui oleh personel QA. Jadi, kita cegah dari awal. Karena, jika bahan
kimia sudah dibeli, maka keberadaan bahan kimia yang seharusnya tidak digunakan
tetapi akhirnya digunakan, dapat terjadi.
2. Ketika kita menggunakan bahan kimia, maka pastikan selalu dilengkapi dengan dokumen
seperti MSDS (Material Safety Data Sheet) dan spesifikasi bahan kimia. Di dalam kedua
dokumen tersebut terdapat komposisi bahan kimia dan tindakan penanganannya,
termasuk langkah apa yang harus kita lakukan seandainya terjadi kecelakaan kerja akibat
bahan kimia yang sedang kita gunakan.

3. Kita harus pastikan kesesuaian karakteristik bahan kimia dengan area yang akan
menggunakan bahan kimia tsb. Bahan kimia seperti pembersih lantai yang baunya sangat
menyengat tentu tidak diperbolehkan digunakan di area produksi. Penggunaan sabun cuci
tangan yang menggunakan parfum pun sekarang sudah ditinggalkan di perusahaan
makanan. Bahan makanan sangat mudah menyerap bau-bauan dan tentu kita tidak ingin
mengkonsumsi snack rasa coklat aroma pembersih lantai yang menyengat.
4. Label. Nampaknya sepele, tapi banyak dari kita yang seringkali melihat penggunaan
bahan kimia tanpa identitas/label sama sekali. Hanya karena tidak ada labelnya, hampir
saja personel pabrik makanan mengkonsumsi bahan kimia alkohol, karena alkohol
tersebut diletakkan dalam kemasan bekas air minum dan tidak diberi label sebagai
alkohol. Kasus lainnya yang pernah terjadi adalah tercemarnya makanan oleh bahan
kimia pembersih kondensor AC sehingga sekitar 500 kg makanan harus dimusnahkan.
Lagi-lagi ini karena tidak adanya label. Jadi, harus selalu kita ingat bahwa label adalah
penting. Terkadang bahan kimia yang berbeda bisa memiliki warna dan aroma yang
sama. Ketika kita lupa memberikan label, maka dapat dipastikan kita tidak akan mampu
membedakan keduanya.
5. Selalu simpan bahan kimia di area yang terpisah dari penyimpanan bahan lainnya. Akses
menuju penyimpanan bahan kimia selalu dijaga, dan hanya orang-orang tertentu sajalah
yang memiliki akses ketempat penyimpanan bahan kimia tersebut.
6. Penggunaan bahan kimia hanya boleh dilakukan oleh personel yang sudah terlatih.

Lakukan training pengenalan dan penggunaan bahan kimia ke personel yang akan
menggunakan bahan kimia tersebut.

BAB III
Kesimpulan

Pestisida dapat didefinisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan


populasi jasad yang dianggap sebagai pest yang secara langsung maupun tidak langsung
merugikan kepentingan manusia.

Penggolongan pestisida antara lain: insektisida, fungisida, bakterisida, nematisida,


akarisida atau mitisida, rodentisida, molukisida dan herbisida.

Damapk pestisida terhadap kesehatan manusia yaitu timbulnya keracunan akut. Cirri-ciri
keracunan akut ini diantaranya sakit kepala, pusing, mual, sakit dada, kudis, muntah,
diare, sakit otot bahkan kematian.

Cara pencegahan penggunaan pestisida terhadap kesehatan manusia diantaranya adalah


pembelian pestisida, penyimpanan dan penatalaksanaan penyemprotan.