Anda di halaman 1dari 26

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN AZAS PEMBELAJARAN


DOSEN : Azza Nuzullah Putri, M.Pd

OLEH:

1.

JULIAH

: 140384205041

2.

ZAINAB

: 140384205015

3.

ANISA IRVIA

: 140384205021

4.

SRI WAHYUNI

: 140384205018

5.

BAYU PUTRA WIBOWO

: 140384205049

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2015

KATA PENGANTAR

Bismillahhirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena


atas rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah tentang, Prinsip-prinsip
Belajar dan Azas Pembelajaran. Tugas ini kami susun guna memenuhi salah satu
tugas mata kuliah dalam mata kuliah, Belajar Dan Pembelajaran . Secara
khusus, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Azza Nuzullah Putri, M.Pd,
Dosen Pembimbing, sekaligus Dosen mata kuliah Belajar Dan Pembelajaran
FKIP Jurusan Biologi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan juga
ucapan terima kasih kepada rekan rekan yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari dalam tulisan kami ini masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, kami senantiasa mengharapkan masukan dari Dosen dan rekan rekan
semua demi penyempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini
bermanfaat untuk kita semua.

Tanjungpinang,15 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................5
1.3 Tujuan.............................................................................................................5
BAB II.....................................................................................................................6
2.1 Pengertian asas dan prinsip pembelajaran......................................................6
2.2 Prinsip-Prinsip Belajar...................................................................................7
2.3 Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Siswa...............................................11
2.4 Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Guru................................................14
2.5 Asas-Asas Pembelajaran...............................................................................18
BAB III..................................................................................................................24
3.1 Kesimpulan...................................................................................................24
3.2 Saran.............................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Moh. Surya (1997) : belajar diartikan sebagai suatu proses yang
dilakukan

oleh

individu

untuk

memperoleh

perubahan

perilaku

baru

secarakeseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam


berinteraksi dengan lingkungannya. Witherington (1952) : belajar merupakan
perubahan dalam kepribadianyang di manifestasikan sebagai pola-pola respons
yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan
kecakapan. Gage & Berliner : belajar adalah suatu proses perubahan perilaku
yangmuncul karena pengalaman.
Wingkel, 1987 : belajar. adalah suatu aktifitas mental & psikis dalam
berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku pada diri
sendiri.Belajar adalah suatu proses/usaha sadar yang dilakukan oleh individu
untuk menghasilkan perubahan tingkah laku baikdalam aspek kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap dan nilai) maupun psikomotor (keterampilan)
sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan pembelajaran menurut Gagne dan Briggs (1979:3) : pembelajaran
adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang
berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk
mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat
internal.
Dalam pembelajaran tentunya terdapat asas serta prinsip-prinsip belajar
yang merupakan landasan berpikir,landasan berpijak, dan sumber motivasi agar
proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan
peserta didik.Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik
bagi siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
Berikut ini prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961)
adalah :1. Prinsip Kesiapan (Readinees)Proses belajar dipengaruhi kesiapan siswa.
Yang dimaksud dengan kesiapan siswaialah kondisi yang memungkinkan ia dapat
belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)Tujuan dalam belajar diperlukan untuk

suatu proses yang terarah. Motivasi adalahsuatu kondisi dari pelajar untuk
memprakarsai

kegiatan,

mengatur

arah

kegiatan

itudan

memelihara

kesungguhan.3. Prinsip Persepsi Seseorang cenderung untuk percaya sesuai


dengan bagaiman ia memahami situasi.Persepsi adalah interpertasi tentang situasi
yang hidup. Setiap individu melihat duniadengan caranya sendiri yang berbeda
dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian asas dan prinsip pembelajaran?
2. Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran?
3. Apa saja implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa?
4. Apa saja implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru?
5. Apa saja asas-asas pembelajaran?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui asas dan prinsip pembelajaran
2. Mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran
3. Mengetahui implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa
4. Mengetahui implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru
5. Mengetahui asas-asas pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian asas dan prinsip pembelajaran


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Asas adalah hukum dasar; suatu
kebenaran yang menjadi pokok dasar. Sedangkan prinsip adalah asas atau dasar
yang dijadikan pokok berpikir, bertindak, dan sebagainya.

Jadi, dapat

disimpulkan bahwa asas dan prinsip sebenarnya adalah sama, karena menjadi
pokok dasar baik bertindak maupun berpikir.
Pembelajaran (instruction) adalah suat usaha untuk membuat peserta didik
belajar atau suat kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Dengan kata lain,
pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar.
Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam
manipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta
didik. Pembelajaran disebut juga kegiatan pembelajaran (instruksional) adalah
usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri
secara positif dalam kondisi tertentu. Dengan demikian inti dari pembelajaran
adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada
peserta didik. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan
kegiatan belajar pada para peserta didiknya. Dalam UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi, asas-asas pembelajaran adalah prinsip-prinsip umum yang harus
dikuasai oleh guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar atau dengan kata
lain asas-asas pembelajaran adalah suatu yang dijadikan dasar berpikir dan
bertindak untuk menciptakan proses belajar.

2.2 Prinsip-Prinsip Belajar


Prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan
perhatian

dan

motivasi,

keaktifan,

keterlibatan

langsung/berpengalaman,

pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.


1.

Perhatian dan motivasi

Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian


terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran itu dirasakan
sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk
mempelajarinya. Motivasi adalah tenaga yang digunakan untuk menggerakkan
dan mengarahkan aktivitas seseorang. Menurut H.L. Petri, motivation is the
concept we use when we describe the force action on or within an organism to
initiate and direct behavior. Motivasi data merupakan tujuan pembelajaran.
Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan
hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam
bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.
Motivasi erat kaitannya dengan minat.siswa yang memiliki minat terhadap
sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan
demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi
juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang di anggap penting dalam kehidupan. Nilainilai tersebut mengubah tingkah laku dan motivasinya.Motivasi dapat bersifat
internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni
datang dari orang lain. Motivasi dibedakan menjadi dua:
a)
Motif intrinsik.
Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang
dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa dengan sungguh-sungguh mempelajari
mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya.
b)
Motif ekstrinsik.
Motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang
dilakukannya tetapi menjadi penyerta. Contohnya siswa belajar dengan sungguhsungguh bukan dikarenakan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi
didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Keinginan naik
kelas atau mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif ekstrinsik dapat berubah menjadi motif intrinsik yang disebut transformasi
motif. Sebagai contoh, seseorang belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga

Kependidikan

(LPTK)

karena

menuruti

keinginan

orang

tuanya

yang

menginginkan anaknya menjadi seorang guru. Mula-mula motifnya adalah


ekstrinsik, yaitu untuk menyenangkan hati orang tuanya,tetapi setelah belajar
beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan
senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu semula ekstrinsik
menjadi intrinsik.
2.

Keaktifan
Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat

dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa belajar adalah
menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif
harus datang sendiri.Guru sekedar pembimbing dan pengarah.Menurut teori
kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah
informasi, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.
Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan
sesuatu. Dalam proses balajar mengajar anak mampu mengidantifikasi,
merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan
dan menarik kesimpulan.
Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan.
Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik bisa
berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan
sebagainya. Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah
pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan
dan kegiatan psikis yang lain.
3.

Keterlibatan langsung/berpengalaman
Menurut Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang

dituangkan dalam kerucut pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang


paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Belajar secara langsung
dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus
menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap

hasilnya. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun
kelompok dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak
sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak
hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan
dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dalam
penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan
juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4.

Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada

pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal,


merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka
daya-daya tersebut akan berkembang. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya
law of exercise, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan
hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatanpengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Pada teori psikologi Conditioning, respons akan timbul bukan karena oleh
stimulus saja tetapi oleh stimulus yang di kondisikan, misalnya siswa berbaris
masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah.Ketiga teori tersebut
menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan
tujuan yang berbeda. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah
pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat
dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan
masih relevan sebagai dasar pembelajaran.
5.

Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa

siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis.
Dalam situasi siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu
terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk
mengatasi

hambatan

itu

yaitu

dengan

mempelajari

bahan

belajar

tersebut.Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah


untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah
yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan
tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh.
Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan
motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak
menyenangkan.
6.

Balikan dan penguatan


Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama

ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada
teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant
conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari teori belajar ini adalah
law of effectnya Thorndike.Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan
nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar
lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau
penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu
ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak
untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape
conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode
penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan dan penguatan.
7.

Perbedaan individu
Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa

yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya.
Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem
pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan
masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas

10

dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan


yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pembelajaran klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat
diperbaiki dengan beberapa cara, misalnya:

Penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi


Penggunaan
metode

instruksional
Memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa

pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang


Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan
kemampuan siswa
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tampak dalam setiap

kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.

2.3 Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Siswa


Siswa

sebagai

primus

motor

(motor

utama)

dalam

kegiatan

pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya
prinsip-prinsip belajar.

1)

Perhatian dan motivasi


Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan

yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Siswa diharapkan selalu


melatih inderanya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam proses
pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat ini merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373).
Implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa
motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan

11

mengembangkan secara terus-menerus. Untuk dapat membangkitkan dan


mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus-menerus, siswa dapat
melakukannya dengan menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak
dicapai, menanggapai secara positif pujian/dorongan dari orang lain, menentukan
target/sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya. Dari
contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan dan membangkitkan motivasi
belajar, dapat ditandai bahwa perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis.
2)

Keaktifan
Sebagai primus motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan

belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan
belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara
efektif, pebelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional.
Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari
sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil
dari suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku
sejenis lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.
3)

Keterlibatan langsung/berpengalaman
Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri.

Tidak ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya


(Davies, 1987:32). Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segansegan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Bentukbentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi
siswa, misalnya siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa melakukan reaksi
kimia, dan perilaku sejenisnya. Perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam
kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa.
4)

Pengulangan
Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar

secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32). Dari pernyataan inilah

12

pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya


prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia
mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan.
Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan
pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi
prinsip pengulangan unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal
latihan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun
terjadinya peristiwa sejarah.
5)

Tantangan
Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa

diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi


untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat lebih baik (Davies, 1987:32). Hal ini
berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memproses dan
mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi prinsip
tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan
adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses dan mengolah pesan.
Selain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala
permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan
implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan eksperimen,
melaksanakan tugas terbimbing ataupun mandiri, atau mencari tahu pemecahan
suatu masalah.

6)

Balikan dan penguatan


Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan,

apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki
pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan
penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak
bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement) (Davies,

13

1987:32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhan untuk memperoleh
balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk
memperoleh

balikan

penguatan

bentuk-bentuk

perilaku

siswa

yang

memungkinkan diantaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan


kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang dicapai, atau
menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang jelek.
7)

Perbedaan individual
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu

dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo
(kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi
kecepatan belajar (Davies, 1987:32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan
siswa lain akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi
dirinya sendiri.
2.4 Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Guru
1.

Perhatian dan motivasi


Implikasi prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku

sebagai berikut:
1) Guru menggunakan metode secara bervariasi.
2) Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang
diajarkan.
3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
4) Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing

(direction

question).
Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku
yang diantaranya adalah:
1) Memilih bahan ajar sesuai minat siswa.
2) Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
3) Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin
memberitahukan hasilnya kepada siswa.
4) Memberikan pujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang
memeberikan respons terhadap pertanyaan yang diberikan.

14

5) Memberitahukan nilai guna dari pelajarang yang sedang dipelajari


siswa.
2.
Keaktifan
Untuk dapat menimbulkan belajar pada diri siswa, maka guru diantaranya dapat
melaksanakan perilaku-perilaku berikut:
1) Menggunakan multi metode dan multi media,
2) Memberikan tugas secara individual dan kelompok,
3) Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam
kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang).
4) Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal
yang kurang jelas, serta
5) Mengadakan tanya jawab dan diskusi.
3.

Keterlibatan langsung/berpengalaman
Perilaku sebagai implikasi prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman

diantaranya adalah:
1) Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran
individual dan kelompok kecil.
2) Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan denagn
demonstrasi.
3) Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
4) Memberiakan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan
psikomotorik yang dicontohkan.
5) Melibatkan siswa mencari informasi/ pesan dari sumber informasi di luar
kelas atau di luar sekolah.
6) Melibatkan siswa dalam merangkum dan menyimpulkan informasi pesan
pembelajaran.
4.

Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara

kegiatan pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan


yang tidak membutuhkan pengulangan.
Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan diantaranya
adalah:
1) Merancang pelaksanaan pengulangan
2) Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan
3) Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang

15

4) Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan dan


5) Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.
5. Tantangan
Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tanatngan di antarnya adalah :
1) Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara individual atau
dalam kelompok kecil (3-4 orang).
2) Memberikan tugas pada siswa

memecahkan

masalah

yang

membutuhkan informasi dari orang lain di luar sekolah sebagai sumber


informasi.
3) Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang
telah disajikan.
4) Mengembangkan bahan pembelajaran (teks, hard out, modul, dan yang
lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapat tantangan
didalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan
secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber
lain.
5) Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan
generalisasi sendiri.
6) Guru merancang

dan

mengelola

kegiatan

diskusi

untuk

menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam topic


diskusi.
6.

Balikan dan penguatan


Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru berwujud perilaku-

perilaku yang diantaranya adalah:


1) Memberitahu jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan
yang telah dijawab siswa secara benar ataupun salah.
2) Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberiakn kepada
siswa pada waktu yang telah ditentukan.
3) Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah,
laporan, klipping pekerjaan rumah), berdasarkan hasil koreksi guru
terhadap hasil kerja pembelajaran.

16

4) Memberikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh


guru, disertai skor dan catatan-catatan nagi pebelajar.
5) Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang telah diraih
setiap siswa berdasrakan skor yang dicapai dalam tes.
6) Memberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada
siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7) Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil
menyelesaikan tugas.
7.

Perbedaan Individual
Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-

perilaku yang di antaranya adalah:


1) Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat
melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.
2) Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan
pembelajaran.
3) Mengenali karakteristik setisp siswa sehingga dapat melakukan
perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan dan
4) Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang
membutuhkan.
2.5 Asas-Asas Pembelajaran
1. Peragaan
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud
memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga
dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan diharapkan
proses pengajaran terhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata
yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya. Untuk itu sangat
diperlukan peragaan dalam pengajaran terutama terhadap siswa pada tingkat
dasar.
Penerapan

asas-asas

peragaan

dalam

kegiatan

belajar

menyangkut beberapa aspek:


a. Penggunaan bermacam-macam alat peraga.
b. meragakan pelajaran dengan perbuatan, percobaan-percobaan.

17

mengajar,

c. Membuat poster-poster, ruang eksposisi dan lain sebagainya.


d. Menyelenggarakan karya wisata.
Dasar psikologi penerapan asas peragaan tersebut yakni, suatu hal akan
lebih berkesan dalam ingatan siswa bila melalui pengalaman dan pengamatan
langsung anak itu sendiri. Ada dua macam peragaan: Peragaan langsung, dengan
menggunakan benda aslinya atau mengadakan percobaan-percobaan yang bisa
diamati oleh siswa. Peragaan tidak langsung, dengan menunjukkan benda tiruan
atau suat model. Contoh: gambar, boneka, film, foto dan sebagainya.

2. Minat dan Perhatian


Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar, tanpa
adanya perhatian tidak mungkin akan terjadi belajar, perhatian akan timbul dari
siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhanya.
Minat dan perhatian merupakan gejala jiwa yang selalu berkaitan, seorang siswa
yang berminat dalam belajar akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran
tersebut. Akan tetapi terkadang perhatian siswa akan hilang jika tidak ada minat
dalam pelajaran yang diajarkan, oleh karena itu diperlukan kecakapan seorang
guru untuk membangkitkan minat dan perhatian peserta didik. Untuk
membangkitkan perhatian dan minat yang disengaja guru harus:
a. Dapat menunjukkan pentingnya bahan pelajaran yang disajikan bagi siswa.
b. Berusaha menghubungkan apa yang diketahui siswa dengan bahan yang
disajikan.
c. Merangsang siswa agar melakukan kompetisi belajar yang sehat, berusaha
menghindarkan hukuman.
d. Mengajar dengan persiapan yang baik, menggunakan meia,menghindari hal-hal
yang tidak perlu, mengadakan selingan sehat.
3. Motivasi
Motivasi bersal dari bahasa latin movere, yang berarti menggerakkan.
Berdasarkan pengertian ini, makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski

18

(1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau


menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah serta ketahanan pada
tingkah laku tersebut. Sedangkan Imron (1996) menjelaskan, bahwa motivasi
berasal dari bahasa inggris motivation, yang berarti dorongan pengalasan dan
motivasi. Motivasi adalah dorongan bagi seseorang untuk kekuatan melakukan
sesuatu dengan penuh semangat, yang berasal dari diri sendiri disebut motivasi
instrinsik, kemudian dorongan dari luar disebut motivasi ekstrinsik.
Motivasi instrinsik, misalkan saja siswa belajar bersungguh-sungguh untuk
menguasai pelajaran yang diajarkan. Kemudian motivasi ekstrinsik dapat
dilakukan oleh guru, sehubungan dengan itu S. Nasution membedakan macammacam motivasi sebagai berikut:
1. Memberi angka, angka yang baik bagi mereka merupakan motivasi dalam
kegiatan belajar.
2. Hadiah, dapat membangkitkan motivasi dalam hal pekerjaan atau belajar,
namun hadiah dapat merusak jiwa manakala membelokkan pikiran dan jiwa dari
tujuan yang sebenarnya.
3. Persaingan, dalam waktu tertentu dapat meningkatkan motivasi , dapat
mempertinggi hasil belajar anak bilamana dilakukan dengan cara positif.
4. Tugas yang menantang, memberi tugas yang menantang mendorong siswa
untuk belajar secara serius.
5. Pujian, merupakan motivasi yang baik bila diberikan dengan benar dan
beralasan.
6. Teguran dan kecaman, digunakan untuk memperbaiki kesalahan anak,
hendaknya diberikakn secara bijaksana dan dapat menjadikan anak menyadari
kesalahnya.
7. Celaan, secara psikologis dapat merusak jiwa anak, anntara lainmenjadi
frustrasi dalam belajarnya dan menimbulkan dendam terhadap guru.
8. Hukuman, sama halnya dengan celaan, juga dapat menimbulkan kekecewaan
dalam diri anak dan perasaan dendam.
4. Apersepsi

19

Apersepsi berasal dari kata apperception (Inggris), yang berarti menafsirkan buah
pikiran, menyatukan dan mengasimilasikan suat pengamatan dengan pengalaman
yang telah dimiliki dan dengan demikian memahami dan menafsirkanya.
Ahli psikologi mendenifisikan apersepsi adalah bersatunya memori yang lama
dengan yang baru pada saat tertentu. Untuk menetapkan asas-asas apersepsi dapat
diikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Sebelum pelajaran dimulai guru mencari titik tolak untuk menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa dengan cara mengajukan pertanyaan.
b. Dalam menjelaskan pelajaran dapat digunakan teknik induktif, yaitu dari
contoh menuju hukum, dari yang khusus menuju yang bersifat umum, dari
konkret ke abstrak.
5. Korelasi dan Konsentrasi
Yang dimaksud dengan korelasi disini adalah hubungan antara mata pelajaran
yang satu dengan yang lainnya yang berfungsi untuk menguatkan pengetahuan
yang dimiliki oleh siswa, juga dapat menimbulkan minat dan perhatian siswa.
Hendaknya guru juga menghubungkan pelajaran dengan realita sehari-hari.
Ada tiga tahapan dalam pelaksanaanya, yakni:
a. Tahap inisiasi, guru dapat menarik perhatian siswa dengan alat peraga, supaya
kelas dapat memiliki topik, siswa dibentuk kelompok dan tiap kelompok diberi
permasalahanya masing-masing.
b. Tahap pengembangan, pada tahap hal ini kelompok-kelompok diterjunkan
langsung kelapangan untuk mencari sumber data untuk materi diskusi, laporan
ditulis lengkap, para siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif dan guru
bertindak sebagai pedamping.
c. Tahap kulminasi, sebagai tahap akhir, setelah semua kelompok dapat
menyelesaikan laporan yang mereka buat maka diadakan diskusi kelas atau
diskusi panel, dan diharapkan para siswa dapat berperan aktif.
6. Kooperasi

20

Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi


semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru
atau diarahkan oleh guru. Kooperatif menggambarkan makna yang lebih luas,
yaitu menggambarkan keseluruhan proses sosial dalam belajar dan mencangkup
pula pengertian kolaborasi.
Adapun pengelompokan kelompok itu biasanya didasarkan pada: a.
adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya, b. kemampuan belajar
siswa, c. memperbesar partisipasi siswa, d. pembagian tugas dan kerja sama.
Yang dimaksud dengan kooperasi di sini adalah belajar atau bekerja sama
(kelompok). Hal ini dianggap penting untuk menjalin hubungan sosial antara
siswa yang satu dengan yang lainnya, juga hubungan guru dengan siswa.
Adapun keuntungan-keuntungan kooperatif antara lain:
a. Hasil belajar lebih sempurna bila dibandingkan dengan belajar individual.
b. Pendapat yang dituangkan dalam kelompok lebih meyakinkan dibandingkan
pendapat individual.
c. Dengan kerja sama yang dilakukan oleh siswa dapat mengikat tali persatuan,
tanggung jawab bersama, rasa memiliki, dan menghilangkan egoisme.
Ada beberapa jenis kerja sama, William Burton membagi kelompok kerja sama
tersebut antara lain:
a. Kerja Kelompok, untuk memecahkan suatu problem, menganalisis masalah,
pembagian tugas, kegiatan penyelidikan, dan kesimpulan.
b. Diskusi kelompok, diskusi ini tidak sama dengan debat tetapi selalu
mengutamakan pemecahan masalah.
Untuk mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif
harus diterapkan, lima unsur tersebut adalah:
a. Positive interdependensi (saling ketergantungan positif).
b. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan).
c. Face to face promotive interaction (interaksi promotif).
d. Interpersonal skill (komunikasi antar anggota).
e. Group Processing (pemrosesan kelompok).

21

Pembelajaran kooperatif merupakan proses atau metode yang tidak hanya


mengutamakan

tercapainya kualitas siswa yang kognitif melainkan untuk

mengembangkan kemampuan lainnya seperti kesadaran siswa menyadari hakikat


dirinya sendiri, hakikat hubungannya dengan orang lain dan lingkungan.
7. Individualisme
Asas individualitas pada hakikatnya bukan lawan dari kooperasi. Asas ini
dilatarbelakangi oleh perbedaan siswa baik dalam menerima, memahami,
menghayati, menganalisis dan kecepatan mereka menerima pelajaran yang
disampaikan oleh seorang guru. Di samping itu para siswa juga berbeda dalam
bentuk fisik ataupun mental , oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru
menyesuaikan kondisi siswa dengan materi yang diajarkan. Untuk menyesuaikan
kondisi siswa dapat dilakukan pengelompokan, misalkan saja menjadi tiga,
kelompok A, B dan C. Guru membuat pengelompokan siswa atas dasar
kemampuan yang relatif sama, menerapakan cara belajar tuntas, mengembangkan
proses belajar mandiri. Beberapa cara penggunaan sumber lingkungan:
a. Membawa siswa keluar lingkungan kelas, misal karyawisata.
b. Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas, misal benda-benda,
Resources person.
Cara-cara menyelesaikan pelajaran dengan kesanggupan individual:
a. Pengajaran individual, siswa diberikan tugas menurut kemampuan masingmasing.
b. Tugas tambahan, diberikan pada siswa yang lebih pandai disamping tugas yang
bersifat umum dengan demikian kondisi kelas dapat terpelihara.
c. Pengajaran proyek, siswa mengerjakan sesuatu yang sesuai minat dan
kesanggupan.
d. Pengelompokan menurut kesanggupan, kelas dibagi beberapa kelompok dengan
kesanggupan yang sama.
8. Evaluasi

22

Yang dimaksud evaluasi di sini adalah penilaian guru terhadap proses


kegiatan belajar-mengajar. Penilaian tersebut untuk mengetahui sejauh mana
tujuan pengajaran sudah tercapai, selain itu pula untuk mengetahui hambatanhambatan yang terjadi. Evaluasi tidak hanya dilaksanakan pada akhir semester
saja tetapi setiap jam juga bisa karena akan berguna untuk mengetahui kemajuan
hasil belajar. Pelaksanaan evaluasi berkenaan dengan dua aspek yaitu aspek guru
dan aspek belajar siswa.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses
belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun
sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar
siswa yang bersifat internal. Gagne dan Briggs (1979:3)
Prinsip belajar adalah landasan berpikir,landasan berpijak, dan sumber
motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik
dengan peserta didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya
pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi guru dalam upaya mencapai hasil
yang diinginkan.
Berikut ini prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B.
(1961) adalah Prinsip Kesiapan (Readinees) Proses belajar dipengaruhi kesiapan
siswa. Yang dimaksud dengan kesiapan siswa ialah kondisi yang memungkinkan
ia dapat belajar, Prinsip Motivasi (Motivation) Tujuan dalam belajar diperlukan
untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk
memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itudan memelihara kesungguhan,
Prinsip Persepsi Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaiman ia
memahami situasi. Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup. Setiap

23

individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain.
Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu.
Secara umum, prinsip-prisip belajar yaitu : Perhatian dan Motivasi,
Keaktifan, Keterlibatan langsung atau pengalaman, Pengulangan, Tantangan,
Balikan dan penguatan (law of effect), Perbedaan individual.

24

3.2 Saran
Dapat di sadari makalah yang tersusun ini masih sangat banyak
kekurangan dan masih jauh pula dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran, untuk
lebih baik makalah yang disusun ini.

25

DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Remaja Rosdakarya
Komsiyah, Indah. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Teras
Nasution, Didaktik. 2010. Asas-asas Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
http//blog.unsri.ac.id/download1/15206.pdf
http://blog.tp.ac.id/pdf/tag/makalah-prinsip-prinsip-belajar-danpembelajaran.pdf
http://blogelearning.unesa.ac.id/pdf-archive/prinsip-belajar-dan-asas-asaspembelajaran-dalam-bentuk-pdf.pd

26