Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN

Faktor Resiko Furunkulosis

Oleh :
Franciscus Sanjaya

(0970121033)

Pembimbing :
dr. I Made Sudarjana Sp.KK

DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SANJIWANI
GIANYAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Furunkel merupakan salah satu bentuk dari pioderma yang sering dijumpai, dan
penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi. Secara
umum penyebab furunkel adalah kuman gram positif, yaitu Stafilokokus dan
Streptokokus.1,2
Furunkel dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, predileksi terbesar penyakit
ini pada daerah berambut yang sering bergesekan wajah, leher, ketiak, pantat atau
paha. Setiap orang memiliki potensi terkena penyakit ini, namun beberapa orang
dengan penyakit diabetes, sistem imun yang lemah, jerawat atau problem kulit
lainnya memiliki resiko lebih tinggi. Gambaran klinis penyakit ini adalah
timbulnya nodul kemerahan berisi pus, panas dan nyeri. Diagnosis furunkel dapat
ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang dikonfirmasi dengan pewarnaan
gram dan kultur bakteri.3
Furunkel dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius. Masuknya
Staphylococcus aureus ke dalam aliran darah menimbulkan bakteremia. Pada
tahap akhir, mengakibatkan sepsis yang dapat menjadi osteomielitis, akut
endokarditis, dan abses otak. Manipulasi pada lesi akan mempermudah
menyebarnya infeksi melalui aliran darah. Tetapi, komplikasi tersebut jarang
terjadi. 3
Penatalaksanaan furunkel meliputi pengobatan topikal, sistemik, dan
pengobatan penyakit yang mendasari. Umumnya penderita sembuh dengan terapi
adekuat tersebut, namun ada beberapa penderita yang mengalami rekurensi yang
membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan
sekitarnya. Furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat. Jika lebih dari
satu tempat disebut furunkulosis. Furunkulosis dapat disebabkan oleh berbagai
faktor antara lain akibat iritasi, kebersihan yang kurang, dan daya tahan tubuh
yang kurang. Infeksi dimulai dengan adanya peradangan pada folikel rambut di
kulit (folikulitis), kemudian menyebar kejaringan sekitarnya.1,3 Karbunkel adalah
satu kelompok beberapa folikel rambut yang terinfeksi oleh Staphylococcus
aureus, yang disertai oleh keradangan daerah sekitarnya dan juga jaringan
dibawahnya termasuk lemak bawah kulit.4

Gambar 1. Furunkel. 5
Epidemiologi
Penyakit ini memiliki insidensi yang rendah. Belum terdapat data spesifik
yang menunjukkan prevalensi furunkel. Furunkel umumnya terjadi pada anakanak, remaja sampai dewasa muda. 2

Gambar 2. Furunkulosis. 6

Gambar 3. Karbunkel 3
Etiologi
Permukaan kulit normal atau sehat dapat dirusak oleh karena iritasi, tekanan,
gesekan, hiperhidrosis, dermatitis, dermatofitosis, dan beberapa faktor yang lain,
sehingga kerusakan dari kulit tersebut dipakai sebagai jalan masuknya
Staphylococcus aureus maupun bakteri penyebab lainnya. Penularannya dapat
melalui kontak atau auto inokulasi dari lesi penderita. Furunkulosis dapat menjadi
kelainan sistemik karena faktor predisposisi antara lain, alcohol, malnutrisi,

diskrasia darah, iatrogenic atau keadaan imunosupresi termasuk AIDS dan


diabetes mellitus.3
Patogenesis
Kulit memiliki flora normal, salah satunya S.aureus yang merupakan flora residen
pada permukaan kulit dan kadang-kadang pada tenggorokan dan saluran hidung.
Predileksi terbesar penyakit ini pada wajah, leher, ketiak, pantat atau paha. Bakteri
tersebut masuk melalui luka, goresan, robekan dan iritasi pada kulit. Selanjutnya,
bakteri tersebut berkolonisasi di jaringan kulit. Respon primer host terhadap
infeksi S.aureus adalah pengerahan sel PMN ke tempat masuk kuman tersebut
untuk melawan infeksi yang terjadi. Sel PMN ini ditarik ke tempat infeksi oleh
komponen bakteri seperti formylated peptides atau peptidoglikan dan sitokin TNF
(tumor necrosis factor) dan interleukin (IL) 1 dan 6 yang dikeluarkan oleh sel
endotel dan makrofag yang teraktivasi. Hal tersebut menimbulkan inflamasi dan
pada akhirnya membentuk pus yang terdiri dari sel darah putih, bakteri dan sel
kulit yang mati. 3
Didapatkan keluhan utama dan keluhan tambahan pada perjalanan dari
penyakit furunkel. Lesi mula-mula berupa infiltrat kecil, dalam waktu singkat
membesar kemudian membentuk nodula eritematosa berbentuk kerucut.
Kemudian pada tempat rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata
bisul. Nodus tadi akan melunak (supurasi) menjadi abses yang akan memecah
melalui lokus minoris resistensi yaitu di muara folikel, sehingga rambut menjadi
rontok atau terlepas. Jaringan nekrotik keluar sebagai pus dan terbentuk fistel.
Karena adanya mikrolesi baik karena garukan atau gesekan baju, maka kuman
masuk ke dalam kulit. Beberapa faktor eksogen yang mempengaruhi timbulnya

furunkel yaitu, musim panas (karena produksi keringat berlebih), kebersihan dan
hygiene yang kurang, lingkungan yang kurang bersih. Sedangkan faktor endogen
yang mempengaruhi timbulnya furunkel yaitu, diabetes, obesitas, hiperhidrosis,
anemia, dan stres emosional.2

Gambar 4. Klasifikasi dari infeksi bakterial pada folikel rambut

Gejala Klinis
Mula-mula nodul kecil yang mengalami keradangan pada folikel rambut,
kemudian menjadi pustule dan mengalami nekrosis dan menyembuh setelah pus
keluar dengan meninggalkan sikatriks. Awal juga dapat berupa macula eritematosa
lentikular setempat, kemudian menjadi nodula lentikular setempat, kemudian
menjadi nodula lentikuler-numular berbentuk kerucut.4
Nyeri terjadi terutama pada furunkel yang akut, besar, dan lokasinya di
hidung dan lubang telinga luar. Bisa timbul gejala kostitusional yang sedang,
seperti panas badan, malaise, mual. Furunkel dapat timbul di banyak tempat dan
dapat sering kambuh. Predileksi dari furunkel yaitu pada muka, leher, lengan,
pergelangan tangan, jari-jari tangan, pantat, dan daerah anogenital.7

Gambar 5. Furunkel pada belakang telinga.


Diagnosa
Diagnosa dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan klinis,
pemeriksaan bakteriologi dari sekret.2
a. Anamnesa
Penderita datang dengan keluhan terdapat nodul yang nyeri. Ukuran nodul
tersebut meningkat dalam beberapa hari. Beberapa pasien mengeluh demam dan
malaise.4
b. Pemeriksaan Fisik
Terdapat nodul berwarna merah, hangat dan berisi pus. Supurasi terjadi
setelah kira-kira 5-7 hari dan pus dikeluarkan melalui saluran keluar tunggal
(single follicular orifices). Furunkel yang pecah dan kering kemudian membentuk
lubang yang kuning keabuan ireguler pada bagian tengah dan sembuh perlahan
dengan granulasi.8

c. Pemeriksaan Penunjang
Furunkel biasanya menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan histologis dari
furunkel menunjukkan proses inflamasi dengan PMN yang banyak di dermis dan

lemak subkutan. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang


dikonfirmasi dengan pewarnaan gram dan kultur bakteri. Pewarnaan gram
S.aureus akan menunjukkan sekelompok kokus berwarna ungu (gram positif)
bergerombol seperti anggur, dan tidak bergerak. Kultur pada medium agar MSA
(Manitot Salt Agar) selektif untuk S.aureus. Bakteri ini dapat memfermentasikan
manitol sehingga terjadi perubahan medium agar dari warna merah menjadi
kuning. Kultur S. aureus pada agar darah menghasilkan koloni bakteri yang lebar
(6-8 mm), permukaan halus, sedikit cembung, dan warna kuning keemasan. Uji
sensitivitas antibiotik diperlukan untuk penggunaan antibiotik secara tepat.3

Gambar 6. Gambaran Mikroskopik S.aureus dengan Pengecatan Gram.

Gambar 7. Hasil Kultur S. aureus dalam Medium MSA.

Gambar 8. Hasil Kultur S.aureus dalam Medium Agar Darah

Diagnosa Banding

a. Hidradenitis Suppurativa
Hidradenitis suppurativa (apokrinitis) sering membuat salah diagnosis
furunkel. Berbeda dengan furunkel, penyakit ini ditandai oleh abses steril dan
sering berulang. Selain itu, daerah predileksinya berbeda dengan furunkel yaitu
pada aksila, lipat paha, pantat atau dibawah payudara. Adanya jaringan parut yang
lama, adanya saluran sinus serta kultur bakteri yang negatif memastikan diagnosis
penyakit ini dan juga membedakannya dengan furunkel. 6
b. Folikulitis
Folikulitis merupakan peradangan pada folikel rambut yang disebabkan
oleh infeksi Staphylococcus aureu. Adanya bercak kehitaman di tengah lesi
membedakannnya dengan furunkel.

Penatalaksanaan
Pada furunkel di bibir atas, pipi dan karbunkel pada orang tua sebaiknya
dirawat inapkan. Pengobatan topikal, bila lesi masih basah atau kotor dikompres
dengan solusio sodium chloride 0,9%. Bila lesi telah bersih, diberi salep natrium
fusidat atau framycetine sulfat kassa steril. 2,4
Antibiotik sistemik mempercepat resolusi penyembuhan dan wajib
diberikan pada seseorang yang beresiko mengalami bakteremia. Antibiotik
diberikan selama tujuh sampai sepuluh hari. Lebih baiknya, antibiotik diberikan
sesuai dengan hasil kultur bakteri terhadap sensitivitas antibiotik.3

10

Diambil dari Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7 th Edition. 2008


Tindakan insisi dapat dilakukan apabila telah terjadi supurasi. Higiene
kulit harus ditingkatkan. Jika masih berupa infiltrat, pengobatan topikal dapat
diberikan salep antibotik. Adanya penyakit yang mendasari seperti diabetes
mellitus, harus dilakukan pengobatan yang tepat dan adekuat untuk mencegah
terjadinya rekurensi.2,4
Tabel 2. Manajemen furunkulosis atau karbunkel rekuren
Evaluasi penyebab yang mendasari dengan teliti
- Proses sistemik
- Faktor-faktor predisposisi yang terlokalisasi spesifik: paparan zat industri (zat
kimia, minyak).
- Higiene yang buruk.
- Sumber kontak Staphylococcus: infeksi piogenik dalam keluarga, olahraga
kontak seperti gulat, autoinokulasi.
- Stahphylococcus aureus dari hidung : disini tempat dimana penyebaran
organisme ke tempat tubuh yang lain.terjadi. Frekuensi dari bawaan nasal
bervariasi : 10%-15% pada balita 1 tahun, 38% pada mahasiswa, 50% pada
dokter RS dan siswa militer.

11

Perawatan kulit secara umum: tujuannya adalah mengurangi jumlah S.aureus


pada kulit. Perawatan kulit pada kedua tangan dan tubuh dengan air dan sabun
adalah penting. Sabun antimikrobial yang mengandung providone iodine atau
benzoyl peroxide atau klorheksidin 4% dapat digunakan untuk mengurangi
kolonisasi stafilokokus pada kulit.. Handuk yang terpisah harus digunakan dan
secara hati-hari dicuci dengan air panas sebelum digunakan.
Jenis Pakaian : pakaian yang menyerap keringat, ringan dan longgar harus
digunakan sesering mungkin. Sejumlah besar stafilokokus sering berada pada
seprai dan pakaian dalam pasien dengan furunkulosis atau karbunkel dan dapat
menyebabkan reinfeksi pada pasien dan infeksi pada anggota keluarganya.
Pakaian secara terpisah dicuci dalam air hangat dan diganti tiap hari.
Pertimbangan umum: beberapa pasien tetap memiliki siklus lesi rekuren.
Kadang-kadang, masalah dapat diperbaiki atau dihilangkan dengan menyuruh
pasien agar tidak melakukan pekerjaan rutin regular. Terutama pada individu
dengan stres emosional dan kelelahan fisik. Liburan selama beberapa minggu,
idealnya pada iklim sejuk atau kering akan membantu dengan cara menyediakan
istirahat dan juga menyisihkan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan
program perawatan kulit.
Pertimbangkan hal yang bertujuan eliminasi S.aureus (yang `peka methicillin
maupun yang resisten methicillin) dari hidung (dan kulit) :
- Penggunaan salep lokal pada vestibulum nasalis mengurangi S.aureus pada
hidung dan secara sekunder mengurangi sekelompok organisme pada kulit,
sebuah proses yang menyebabkan furunkulosis rekuren. Pemakaian secara
intranasal dari salep mupirocin calcium 2% dalam base paraffin yang putih dan

12

lembut selama 5 hari dapat mengeliminasi S.aureus pada hidung sekitar 70%
pada individu yang sehat selama 3 bulan. Resistensi stafilokokus terhadap
mupirocin hanya didapatkan pada 1 dari 17 pasien. Profilaksis dengan salep
asam fusidat yang dioleskan pada hidung dua kali sehari setiap minggu keempat
pada pasien dan anggota keluarganya yang merupakan karier strain infeksius
S.aureus pada hidung (bersamaan dengan pemberian antibiotik anti-stafilokokus
peroral selama 10-14 hari pada pasien) telah terbukti dengan beberapa
keberhasilan.
- Antibiotik oral (misalnya rifampin 600 mg PO tiap hari selama 10 hari) efektif
dalam mengeradikasi S.aureus untuk kebanyakan nasal carrier selama periode
lebih dari 12 minggu. Penggunaan rifampin dalam jangka waktu tertentu untuk
mengeradikasi S.aureus pada hidung dan menghentikan siklus berkelanjutan
dari furunkulosis rekuren adalah beralasan pada pasien yang dengan pengobatan
lain gagal. Namun, strain yang resisten rifampin dapat muncul dengan cepat
pada terapi seperti itu. Penambahan obat kedua (dikloxacillin bagi S.aureus
yang peka methicillin; trimethoprim-sulfametaxole, siprofloksasin, atau
minoksiklin bagi S.aureus yang resisten methicillin) telah digunakan untuk
mengurangi resistensi rifampin dan untuk mengobati furunkulosis rekuren.

13

BAB III
Diambil dari Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7 th Edition. 2008
LAPORAN KASUS
3.1. Identitas Pasien
Nama
Umur
JenisKelamin
Alamat
Pekerjaan
Suku
Bangsa
Agama
Status perkawinan
Tanggal pemeriksaan

: Kadek Andika Putra


: 7 tahun
: Laki - laki
: Dajan Rurung Batubulan
: Pelajar
: Bali
: Indonesia
: Hindu
: Belum menikah
: 11 November 2014

No RM
No HP

: 419046
: 081999436358

3.2. Anamnesis
Keluhan utama
Muncul benjolan pada wajah
Perjalanan penyakit
Pasien datang dengan keluhan muncul benjolan pada wajah. Keluhan
dirasakan sejak 7 hari sebelum pemeriksaan. Keluhan awalnya dirasakan sebagai
kulit yang kemerahan, lalu timbul benjolan sebanyak satu buah pada kelopak mata
atas kanan, setelah itu benjolan bertambah banyak. Benjolan berukuran kecil dan
berisi cairan kekuningan didalamnya, dan apabila ditekan akan keluar cairan
seperti nanah dan darah. Pasien hanya diolesi

minyak tradisional untuk

meringankan keluhan, namun tidak membaik.


Keluhan disertai rasa nyeri yang timbul bersamaan muncul dengan
timbulnya benjolan. Nyeri dirasakan seperti ditusuk tusuk. Keluhan diperberat
saat ditekan. Rasa gatal disangkal oleh pasien.
Riwayat pengobatan
Pasien sudah pernah berobat ke Puskesmas, diberikan terapi salep dan tablet
( pasien tidak ingat nama obatnya ) namun keluhan malah bertambah banyak.
Riwayat penyakit dahulu

14

Pasien menyangkal pernah mengalami keluhan muncul benjolan pada wajah


sebelumnya. Pasien sering menderita sakit batuk, pilek disertai panas dan hanya
diterapi ke Puskesmas.
Riwayat penyakit kronis
Riwayat penyakit kronis disangkal oleh orang tua pasien.
Riwayat penyakit dalam keluarga
Keluhan muncul benjolan yang sama dengan pasien dikeluarga disangkal oleh
orang tua pasien.
Riwayat Sosial
Pola Mandi
Pasien merupakan siswa di sebuah Sekolah Dasar dengan pola
mandi yang kurang yaitu hanya sekali setiap harinya, itupun
apabila ibu pasien memandikannya. Pada pagi hari sebelum
berangkat sekolah, pasien tidak pernah mandi karena orang tuanya

sudah berangkat kerja pagi - pagi sebelum pasien bangun.


Pola Makan
Pasien hanya diberi makan oleh neneknya yang kurang mengetahui
tentang gizi yang lengkap dan seimbang. Biasanya pasien hanya

diberi makan nasi dan krupuk saja, agar pasien mau makan.
Pola bermain
Pasien sehari hari sering bermain di tanah dan tidak pernah
mencuci tangan sebelum maupun setelah bermain.

Orang Tua
Orang tua pasien merupakan buruh bangunan yang sehari hari
sudah bekerja sejak pukul 05.00. Orang tua tidak sempat
memperhatikan makan maupun kebersihan pasien.

3.3. Pemeriksaan Fisik


Status present
: dalam batas normal
Status general
: dalam batas normal
Status dermatologi
:
Efloresensi
: Nodul diatas kulit eritema, multiple berukuran lentikuler,
berbentuk kerucut, soliter beberapa tampak

konfluens

dengan dinding tegang berisi cairan purulent dengan kulit

15

meradang sekitarnya, regional pada regio frontalis, nasalis


dan bilateral palpebra superior et inferior.
3.4. Diagnosa Banding
1. Furunkulosis
2. Folikulitis
3. Hidradenitis supuratif
3.5. Resume
Pasien laki - laki berusia tujuh tahun datang dengan keluhan muncul benjolan
seperti bisul pada dahi sejak tujuh hari sebelum pemeriksaan. Awalnya timbul satu
bintik kecil berwarna kemerahan lalu kemudian timbul benjolan seperti bisul
tersebut. Bisul dirasakan nyeri apabila ditekan. Pasien telah mendapatkan
pengobatan dari Puskesmas berupa salep dan tablet. Pasien tidak memiliki riwayat
alergi maupun riwayat penyakit atopi. Pasien kurang menjaga higienitas diri
sendiri dan kurang memperhatikan kebutuhan gizi.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan status present dalam batas normal,
status general dalam batas normal. Pada status dermatologi didapatkan nodul
diatas kulit eritema, multiple berukuran lentikuler, berbentuk kerucut, diskreet
beberapa tampak konfluens dengan dinding tegang berisi cairan purulent dengan
kulit meradang sekitarnya regional pada regio frontalis, nasalis dan bilateral
palpebra superior et inferior.
3.6 Diagnosis Kerja
Furunkulosis
3.7 Penatalaksanaan
Medikamentosa
* Gentamycin zalf dioleskan tiap 12 jam pada lesi
* Erythromycin tablet 125 mg setiap 8 jam
Non Medikamentosa
Hindari menggaruk didaerah lesi
Higienitas dijaga dengan cara mandi minimal 2 kali sehari dengan
menggunakan sabun mandi
Nutrisi di tingkatkan dengan pemberian gizi yang cukup dan seimbang.
Kontrol apabila keluhan tidak membaik

16

3.8. Prognosis
Prognosis baik bila terapi dilakukan secara adekuat dan mengatasi serta
mengeliminasi faktor predisposisi

17

BAB IV
PEMBAHASAN
Furunkel adalah radang folikel rambut dan sekitarnya, jika muncul lebih dari satu
buah disebut furunkulosis dengan kriteria diagnosis pasien dengan keluhan timbul
benjolan seperti bisul dan dirasakan nyeri. Pada kasus ini pasien datang dengan
keluhan timbul benjolan seperti bisul dan disertai rasa nyeri.
Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan daerah lesi biasanya mengenai
daerah berambut yang sering bergesekan seperti wajah, leher, aksila dan pantat.
Effloresensi yang akan ditemukan adalah nodus eritematosa berbentuk kerucut
dengan ditengahnya terdapat pustule. kemudian melunak menjadi abses. Pada
pasien Nodul diatas kulit eritema, multiple berukuran lentikuler, berbentuk
kerucut soliter beberapa tampak konfluens dengan dinding tegang berisi cairan
purulent dengan kulit meradang sekitarnya regional pada regio frontalis, nasalis
dan bilateral palpebra superior et inferior.
Furunkel merupakan penyakit yang sangat dekat kaitannya dengan sosio
ekonomi.

Selain

itu

juga

sering

diderita

oleh

penderita

diabetes,

immunocompromised, higienitas dan nutrisi yang kurang. Pada pasien didapatkan


berat badan dua puluh kilogram dan tinggi badan seratus dua puluh lima
sentimeter dengan perhitungan Body Mass Index (BMI) 12.82. Dengan postur
seperti itu, pasien dapat dikatakan mengalami gizi kurang. Berdasarkan kurva
Center for Disease Control and Prevention ( CDC ) yang dikeluarkan tahun 2010
didapatkan bahwa berat badan dan BMI dibawah persentil 50, dimana artinya
pasien kurang gizi. Untuk kurva 1, seharusnya berat pasien berusia 7 tahun adalah
25 Kilogram, sedangkan pasien hanya memiliki berat 25 kilogram. Sedangkan
untuk BMI ( kurva 2), BMI seusia 7 tahun biasanya didapatkan pada kisaran 15,2
Kg/M2 , namun pada pasien hanya didapatkan BMI sebesar 12, 82 Kg/M2 .
Dalam hal higienitas, pasien kurang diperhatikan mengenai higienitasnya.
Pasien merupakan siswa SD dengan higienitas dan pola makan yang buruk. Hal
ini disebabkan oleh karena kurangnya perhatian dari kedua orang tua yang sibuk
bekerja. Hal ini perlu diberikan nasehat sehinga pasien bisa cepat sembuh dan
kejadian furunkel tidak rekurens.

18

Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakuan adalah pemeriksaan darah


untuk mencari leukositosis. Selain itu dapat dilakukan pula dengan pemeriksaan
histologis yaitu dengan pewarnaan gram dan kultur bakteri. Selain untuk
keperluan diagnosis yang tepat, juga nantinya akan dipergunakan dalam terapi
pasien. Apabila sudah ditemukan bakteri pada kultur, klinisi dapat menentukan
antibiotik yang selektif untuk kuman tersebut. Selain itu juga dapat mengurangi
resiko muncul kuman yang

resistan terhadap antibiotika jenis tertentu. Pada

pasien tidak dilakukan pemeriksaan penunjang dan hanya diberikan terapi


antibiotika berdasarkan pengalaman empiris.
Penatalaksanaan umum dari furunkel, jika sedikit cukup dengan
antibiotika topikal. Jika banyak digabung dengan antibiotika sistemik. Jika
berulang harus dicari faktor resiko lain. Pada pasien diberikan kombinasi
antibiotika topikal Antibiotika sistemik. Dosis Erithromycin adalah 30 - 50
mg.KgBB / hari tiap 6 jam. Berdasarkan Fitzpatrick's Dermatology in General
medicine. Antibiotika lini pertama pengobatan furunkel adalah mupirocyn untuk
topical an dicloxacin untuk sistemik. Lini kedua apabila pasien alergi penisilin
adalah Azithromycin, Clindamycin dan Erithromycin. Pada pasien diberikan
Gentamisin Cream dan Erithromycin dengan dosis 125 mg tiap 8 jam. Pasien
dengan berat 20 kilogram seharusnya masih bisa diberikan Erithromycin dengan
dosis sampai 150 mg / kali pemberian tiap 6 jam.
Yang paling penting dalam penatalaksanaan furunkel adalah KIE pasien.
Pasien perlu menjaga higienitas diri dengan cara mandi minimal dua kali sehari
dengan menggunakan sabun mandi. Pola makan juga harus diperhatikan yaitu
dengan memberikan gizi yang lengkap dan seimbang atau yang terdapat dalam
empat sehat lima sempurna. Orang tua pasien juga harus meluangkan waktu demi
kesehatan anaknya, karena apabila mencari uang tanpa memperhatikan anak.
Maka biaya yang akan muncul untuk pengobatan akan lebih banyak dari pada
pemasukan.

19

Kurva 1. usia 2 - 20 tahun ( Laki - laki )


Tinggi dan berat menurut umur

20

Kurva 1. usia 2 - 20 tahun ( Laki - laki )


BMI menurut umur

BAB V
SIMPULAN

21

Telah dilaporkan satu kasus furunkulosis pada laki - laki berusia 7 tahun yang
diduga terjadi karena pasien mengalami gizi kurang. Furunkulosis mengenai
daerah wajah. Pasien menjalani terapi rawat jalan dan diberikan antibiotika topikal
dan sistemik, selain itu juga diberikan KIE agar penyakitnya segera sembuh dan
tidak rekurens.

DAFTAR PUSTAKA

22

1. Djuanda A. Pioderma. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010. hal 60.
2. Abdullah, Benny. Furunkulosis. In: Dermatologi Pengetahuan Dasar dan Kasus
di Rumah Sakit. SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Haji.Surabaya.
2009. hal 113-115.
3. Timothy G. Bacterial Infection. In: Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th Edition. United States of America: The McGraw-Hill Companies.
2008. pp 1689-1702.
4. Suyoso Sunarso, dkk. Furunkel. In: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-3. Surabaya: Fakultas Kedokteran Unair.
2005. Hal 29-32.
5. Sterry, Wolfram et al. Bacterial Desease. In: Thieme Clinical Companions
Dermatology. 5th edition. New York: Georg Thieme Veriag. 2006. pp 73-75.
6. http://www.dermis.net/dermisroot/en/26832/image.htm diakses pada tanggal 12
Mei 2012.
7. Murtiastutik Dwi (editor), dkk. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-2
Cetakan kedua. Surabaya: Dep/SMF Kulit dan Kelamin FK UNAIR/RSUD
dr.Soetomo. 2010. Hal 30-32.

LAMPIRAN

23

Gambar 1

Klinis pasien

24