Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber
dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini
merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik
dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Sumber yang sangat
otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW. Allah
telah menganugerahkan kepada para pendahulu yang selalu menjaga Al-Quran dan hadits
Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian
diantara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Al-Quran dan ilmunya yaitu para
mufassir, dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadits Nabi dan
ilmunya, mereka adalah para ahli hadits. Salah satu bentuk nyata para ahli hadits ialah dengan
lahirnya istilah Ulumul Hadits (Ilmu Hadits) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang
penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadits-hadits Nabi SAW.
Secara garis besar ilmu hadits dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits Riwayah dan
ilmu hadits Dirayah. Jika ilmu hadits Riwayah membahas materi hadits yang menjadi
kandungan makna, maka ilmu hadits Dirayah mengambil pembahasan mengenai kaidahkaidahnya, baik yang berhubungah dengan sanad atau matan hadits. Kedua pengetahuan
tersebut sama-sama penting. Sebab dengan ilmu yang pertama, setiap muslim yang ingin
mengikuti jejak laku dan teladan Rasulullah , harus menguasai ilmu tersebut. Sementara itu
dengan menguasai ilmu yang kedua, setiap muslim dan siapapun yang mempelajari dengan
baik akan mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel tentang hadits Nabi/ Rasulullah
saw. Di bawah ini akan dibahas tentang pengertian ilmu hadits, sejarah perkembangan ilmu
hadits, serta cabang-cabangnya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Ilmu Hadits
2. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu Hadits
3. Apa pengertian ilmu hadits Riwayah
4. Apa pengertian ilmu hadits Diroyah
5. Apa cabang-cabang dari ilmu Hadits
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pengertian Ilmu Hadits
2. Mengetahui sejarah perkembangan ilmu Hadits
3. Mengetahui pengertian ilmu hadits Riwayah
4. Mengetahui pengertian ilmu hadits Diroyah
5. Mengetahui cabang-cabang ilmu Hadits
1

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Ilmu Hadits

Ilmu hadits yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits
mengandung dua kata yaitu Ulum dan al-Hadits kata ulum dalam bahasa Arab adalah
bentuk jamak dari ilm yang berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadits menurut bahasa
mengandung berbagai makna diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang
sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah apa yang disandarkan
kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat atau sirah beliau baik
sebelum kenabian atau sesudahnya. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadits adalah
perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah
kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud
dengan hadits adalah mengerjaka napa yang menjadi konsekuensinya, dan ini tidak dapat
dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan
al-Hadits ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu
Ulumul Hadits yang memiliki pengertian ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan
Hadits Nabi SAW.
Pada mulanya, ilmu hadits memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing
berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadits Nabi SAW dan para perawinya seperti Ilmu alHadits al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al- Asma wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmuilmu hadits secara parsial dilakukan, khususnya oleh para ulama abad ke-3H. Misalnya
Yahya ibn Main (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Saad (230H/844M)
menulis Al-Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-Ilal dan Al-Nasikh wal
Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial
tersebut disebut dengan Ulumul Hadits, karena masing-masing membicarakan tentang Hadits
dan para perawinya. Akan tetapi pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai
digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang
berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudahdigabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut
tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis,sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi
penggunaan lafadz jamak Ulumul Hadits setelah keadaannya menjadi satu adalah
mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan
makna lafadz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi
nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalah Musthalahul Hadits.1

http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html

B.

Macam-Macam Ilmu Hadits

Secara umum, ulama Hadits membagi ilmu Hadits ke dalam dua bagian, yaitu ilmu
Hadits Riwayah dan ilmu Hadits Diroyah.
1) Ilmu Hadits Riwayah
Ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan
sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan atau sifatsifat beliau sendiri, secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan.2 Menurut Ulama
Hadits, ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang membicarakan perihal cara-cara
meriwayatkan apa yang disandarkan kepada Nabi SAW (baik berupa perkataan,
perbuatan, taqrir, keadaan, pribadi dan akhlak beliau) secara cermat dan mendalam.
Ada tiga pendapat Ulama mengenai pengertian ilmu hadits Riwayah. Ulama-ulama
tersebut diantaranya Ibn al-Afkani, Ajjaj al-Khathib, dan Zhafar Ahmad ibn Lathif alUtsmani al-Tahanawi. Berikut penjabarannya :
a) Ibn Al-Akfani. Sebagaimana yang dikutip oleh Al-Suyuti, ilmu hadits Riwayah
adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi dan
perbuatannya, pencatatannya, serta penguraian lafadz-lafadznya.
b) Ajjaj al-Khatib. Ilmu hadits Riwayah yaitu ilmu yang membahas tentang
pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW,
berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah,
atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti dan terperinci.
c) Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi. Menurut beliau di dalam
Qawa`id fi `Ulum al-Hadits, ilmu hadits Riwayah ialah ilmu yang dapat diketahui
dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasulullah serta periwayatan,
pemeliharaan dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi SAW serta periwayatan,
pencatatan, dan penguraian lafadz-lafadznya.
Sedangkan menurut Kitab Musthalah Hadits, ilmu hadits Riwayah diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari perkataan, perbuatan, taqrir (sikap diam) dan sifat-sifat Nabi SAW.
Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ilmu hadits Riwayah pada dasarnya adalah
membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan dan penulisan atau pembukuan
hadits Nabi SAW. Ilmu hadits Riwayah dibagi menjadi 4 macam, yaitu :
Hadits Qauli, ialah perkataan Nabi SAW. Nabi Muhammad SAW bersabda :
Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung pada niatnya. Biasanya
menggunakan atau .
Hadits Fili, ialah perbuatan Nabi. Misalnya Nabi Muhammad SAW
bersembahyang sebelum dhuhur 4 rokaat dan sesudahnya 4 rokaat. Biasanya
memakai
Hadits Taqriri, ialah ketidak ingkaran Nabi pada perkataan atau perbuatan
shahabat. Misalnya hadits : Saya melihat Rasulullah SAW menutupi saya dan
2

Syaikh Manna Al-Qaththan, PENGANTAR STUDI ILMU HADITS, 2005, Jakarta, hal. 73

saya melihat pada orang orang habasyah yang sedang bermain dimasjid (Nabi
tidak melarang dan tidak menyuruh
Hadits Shifati, ialah sifat-sifat Nabi. Diantara sifat mulai Rasulullah ialah beliau
adalah manusia yang memiliki sifat penyabar yang sangat luar biasa.
Objek kajian Ilmu Hadits Riwayah adalah Hadits Nabi SAW dari segi periwayatannya
dan pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:
Cara periwayatan Hadits, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara
penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lainnya;
Cara pemeliharaan Hadits, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan dan
pembukuannya.
Sedangkan tujuan dan urgensi ilmu ini adalah pemeliharaan terhadap Hadits Nabi
SAW agar tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam
proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya.
2) Ilmu Hadits Diroyah
Ilmu hadits dirayah yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah (patokan), yang
dengan kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan diriwayatkan
(marwiy) dari segi diterima atau ditolaknya.3 Para ulama memberikan definisi yang
bervariasi terhadap Ilmu Hadits Dirayah ini. Akan tetapi, apabila dicermati definisidefinisi yang mereka kemukakan, terdapat titik persamaan diantara satu dan yang lainnya,
terutama dari segi sasaran kajian dan pokok bahasannya. Beberapa ulama yang
mendefinisikan ilmu hadits Diroyah adalah sebagai berikut:
a) Ibn al-Afkani. Ilmu hadits Diroyah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui
hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hokum hukumnya, keadaan
para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu
yang berhubungan dengannya.
b) Imam al-Suyuti. Ilmu hadits Diroyah adalah kegiatan periwayatan sunnah
(Hadits) dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat
tahdits, yaitu perkataan seorang perawi haddatsana fulan, (telah menceritakan
kepada kami si fulan), atau ikhbar, seperti perkataannyaakhbarana fulan, (telah
mengabarkan kepada kami si fulan).
c) M. `Ajjaj al-Khatib. Ilmu hadits Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan
masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi (orang yang meriwayatkan
hadits) dan marwi (segala sesuatu yang diriwayatkan) dari segi diterima atau
ditolaknya.
Menurut kitab Musthalah Hadits, ilmu hadits Diroyah adalah ilmu yang mempelajari
tentang kaidah-kaidah untuk mempelajari hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan
menyampaikan hadits dan sifat-sifat perawinya. Oleh karena itu yang menjadi objek kajian
ilmu ini adalah keadaan matan, sanad dan rawi hadits.
3

Ibid.

C.

Perkembangan Ilmu Hadits

Selama dua puluh tiga tahun Rasulullah SAW mencurahkan segala aktifitasnya untuk
mendakwahkan Islam kepada umat manusia sehingga belahan dunia (Arab) tersinari oleh
agama yang hanif ini.4 Perkembangan ilmu hadits selalu beriringan dengan pertumbuhan
pembinaan hadits itu sendiri. Hanya saja ia belum wujud sebagai suatu disiplin ilmu yang
berdiri sendiri. Pada saat Rasulullah SAW masih hidup ditengah-tengah kaum muslimin, ilmu
ini masih wujud dalam bentuk prinsip-prinsip dasar yang merupakan embrio bagi
pertumbuhan ilmu hadits dikemudian hari. Misalnya tentang pentingnya pemeriksaan dan
tabayyun terhadap setiap berita yang didengar atau pentingnya persaksian orang adil dan
sebagainya. Allah SWT berfirman:





)6(
Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang fasik membawa berita,
maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu
kaum tanpa mengetahui keadaannya yang membuat kamu menyesal atas perbuatanmu
itu. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6).
Sedangkan dalam sunnah, Rasulullah SAW bersabda:
Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu berita, yaitu hadits lalu ia
menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang
menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (HR. Ibnu Majah)
Dalam upaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya para sahabat telah
menetapkan hal-hal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaanyya,
terutama jika mereka meragukan kebenaran si pembawa berita. Dalam pendahuluan kitab
Shaih Muslim, diturunkan dari Ibnu Sirin, dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah
menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata,
sebutkanlah pada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepadamu.
Berdasarkan hal ini maka suatu berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui
sanadnya. Karena itu muncullah ilmu Jarah wa Tadil, yaitu ilmu mengenai ucapan para
perawi, cara untuk mengetahui bersambung (muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad,
mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Muncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan
dari hadits sebagai perawi meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang
tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak,
sehingga muncul berbagai pembahasan di dalam banyak cabang ilmu yang terkait dengan
hadits, baik dari aspek kedhabitan (validitas)nya, tata cara menerima dan menyampaikannya,
pengetahuan tentang hadits-hadits yang nasikh dari hadits-hadits yang mansukh, dll. Semua
itu masih disampaikan ulama secara lisan. Lalu masalah itupun semakin berkembang dan
selanjutnya ilmu hadits ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap di
4

Warsito, Lc, PENGANTAR ILMU HADITS UPAYA MEMAHAMI SUNNAH, 2001, Bogor, hal. 45

berbagai tempat dalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, misalnya ilmu
ushul fiqih dan ilmu hadits (Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm karangan Imam Syafii).
Sesudah generasi al-Syafii, banyak sekali ulama yang menulis ilmu hadits, misalnya
Ali bin al-Madini menulis kitab Mukhtalif al-Hadits, Ibnu Qutaibah (wafat 276H ) menyusun
kitab Tawil Mukhtalif al-Hadits. Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya, AlTurmudzi menulis al-Asma wa al-Kuna, Muhammad bin Saad menulis al-Thabaqat alKubra. Demikian pula al-Bukhari menulis tentang rawi-rawi yang lemah dalam kitab alDluafa. Banyaknya ulama yang menulis tentang persoalan yang menyangkut ilmu hadits
pada abad ke-3H ini, dapat difahami mengapa abad ini disebut sebagai awal kelahiran Ilmu
Hadits, walaupun tulisan yang ada belum membahas ilmu hadits secara lengkap dan
sempurna.
Penulisan ilmu hadits secara lebih lengkap baru terjadi ketika Al-Qadli Abu
Muhammad al-Hasan bin Abd. Rahman al-Ramahurmudzi (wafat 360 H) menulis buku AlMuhaddits al-Fashil Baina al-Rawi wa al-Wai. Kemudian disusul al-Hakim al-Naisaburi
(wafat 405 H) menulis Marifatu Ulum al-Hadits,al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi menulis
kitab Al-Jami li Adab al-Syaikh wa al-Sami, al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayat dan al-Jami li
Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami.
D.

Cabang-Cabang Ilmu Hadits

Cabang-cabang ilmu hadits dikelompokkan sebagai berikut:


a)

Ilmu Rijal al-Hadits


Ilmu pengetahuan yang dalam ilmu itu dibahas hal ihwal dan sejarah kehidupan
(biografi) para perawi dari kalangan Shahabat, tabiin dan tabiit-tabiin.5

b)

Ilmu Jarh wa Tadil


Ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan para rawi dan segi diterima
atau tidaknya riwayat-riwayat mereka. Maksudnya adalah sifat-sifat yang harus
dipunyai sebagai syarat dapat diterimanya sesuatu yang diriwayatkan. Ada sifat pokok
bagi periwayatan, yaitu adil dan dhabit. Ilmu Jarh wa Tadil ini dikelompokkan oleh
sebagian ulama ke dalam ilmu hadits yang pokok pembahasannya berpangkal kepada
sanad dan matan.

c)

Ilmu Tarikh Ruwat


Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan
mereka terhadap hadits. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam
pada aspek kesejahteraan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan.6

5
6

Drs. H. Asyhari Akhmad, ILMU HADITS, 2002/2003, Kebumen, hal. 3


http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/06/Musthalah-Hadits.pdf/html

d)

Ilmu Ilalil Hadits


Ilmu yang membahas tentang yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi yang
mencacatkan suatu hadits. Seperti memutashilkan (menganggap bersambung) suatu
hadits yang sebenarnya sanad itu muntathi (terputus), merafakan (mengangkat samapi
kepada Nabi) berita yang mauquf (yang hanya sampai pada shahabat), menyisipkan
suatu hadits pada hadits yang lain, meruwetkan sanad dengan matannya, dan lain
sebaginya.

e)

Ilmu Nasikh wal Mansukh


Ilmu yang di dalamnya membahas hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang
menasikhkannya.

f)

Ilmu Asbabi Wurudil Hadits


Suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui sebab-sebab Nabi menurturkan sabdanya
dan masa-masa Nabi menuturkannya.

g)

Ilmu Gharibil Hadits


Ilmu untuk mengetahui dan menerangkna makna yang terdapat pada lafadz-lafadz
hadits yang sulit dipahami atau tidak diketahui apa arti dan maksudnya, karena lafadzlafadz tersebut jarang digunakan atau bahkan tidak digunakan lagi dalam pergaulan
sehai-hari.

h)

Ilmu Thobaqothur Ruwah


Ilmu pengetahuan yang dalam pembahasannya ditunjukkan kepada kelompok orangorang yang berterikat dalam satu alat pengikat yang sama. Misalnya pengelompokkan
(penggolongan) karena perjumpaan dengan Nabi yang disebut Shahabat. Shahabat ini
dimasukkan dalam tobaqoh pertama rawi-rawi hadits, yang berjumpa dengan shahabat
termasuk thobaqoh kedua, yang berjumpa dengan tabiin termasuk thobaqoh ketiga,
dan seterusnya.7

i)

Ilmu Al Tashif
Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah
titik atau sakalnya atau bentuknya.

j)

Ilmu Muktalif Al Hadits


Ilmu yang membahas hadits-hadits yang bertentangan atau berlawanan. Cara kerja ilmu
ini adalah dengan menghilangkan pertentangan tersebut atau mengkompromikan antara
keduanya, sebagaimana yang dilakukan terhadap hadits-hadits yang sulit dipahami isi
atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemuskilan atau kesulitannya serta
menjelaskan hakikatnya.

Op.cit.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Ilmu hadits yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadits
mengandung dua kata yaitu Ulum dan al-Hadits kata ulum dalam bahasa Arab adalah
bentuk jamak dari ilm yang berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadits menurut bahasa
mengandung berbagai makna diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang
sedikit dan banyak. Pengertian Ulumul Hadits yaitu ilmu-ilmu yang membahas atau
berkaitan dengan Hadits Nabi SAW.
Secara garis besar ilmu hadits dibagi menjadi dua, yaitu ilmu hadits Riwayah dan
Diroyah. Ilmu hadits Riwayah adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang
penukilan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan
atau sifat-sifat beliau sendiri, secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sedangkan Ilmu hadits Dirayah yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah
(patokan), yang dengan kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan
diriwayatkan (marwiy) dari segi diterima atau ditolaknya.
Cabang-cabang dari ilmu hadits diantaranya: ilmu Rijal al-Hadits, ilmu Jarh wa
Tadil, ilmu Tarikh Ruwat, ilmu Ilalil Hadits, ilmu Nasikh wal Mansukh, ilmu Asbabi
Wurudil Hadits, ilmu Gharibil Hadits, ilmu Thobaqothur Ruwah, ilmu Al Tashif, ilmu
Muktalif Al Hadits. Selain itu, perlu ditambahkan bahwa pentingnya mempelajari serta
memahami Ulumul Hadits ialah kita akan terhindar dari mengamalkan suatu riwayat
yang salah dan karenanya dapat dengan tepat mengamalkan sunnah Nabi dan
melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum yang dikandungnya.

3.2

Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
kami menyarankan kepada teman-teman sesama mahasiswa untuk mencari informasi
lain sebagai tambahan dari apa yang telah kami uraikan di atas.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://www.academia.edu/5727527/Ilmu_Hadis_Sejarah_dan_Perkemba
ngannya.
2. https://www.academia.edu/9838458/Sejarah_perkembangan_dan_cabang
-cabang_ilmu_hadis.
3. Asyhari Akhmad M.A, Drs. H. 2002/2003. ILMU HADITS. Kebumen:
STAINU.
4. http://alhikmah.ac.id/wp-content/uploads/2011/06/Musthalah-Hadits.pdf/html.
5. Al-Qaththan, Syaikh Manna. 2005. PENGANTAR STUDI ILMU HADITS.
Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.