Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tuntutan terhadap terwujudnya good governance di setiap sektor kini semakin gencar

diterapkan. Hal ini diketahui dengan banyaknya penelitian mengenai terjadinya krisis
ekonomi di negeri ini yang ternyata disebabkan oleh buruknya pengelolaan perusahaan (bad
governance) pada sebagian besar pelaku ekonomi (publik atau swasta) di Indonesia. Para
pelaku dan pemerintah sering menempatkan pasar modal sematamata hanya sebagai alat
atau media penghimpunan dana pembangunan dan kurang memberikan perhatian pada
fungsifungsi yang tak kalah pentingnya dari penghimpunan dana. Selain itu pasar modal
dapat dimanfaatkan pula untuk penyebaran kepemilikan saham, restrukturisasi usaha,
pengembangan good corporate governance dan motor keterbukaan melalui prinsip
transparansi dan full disclosure. Salah satu pelaku ekonomi didalam pasar modal adalah
perusahaanperusahaan yang berbadan hukum Perseroaan Terbatas, dimana untuk
mengembangkan usahaanya perusahaan perusahaan ini dapat menawarkan atau menjual
saham kepada masyarakat melalui penawaran perdana saham yang lebih sering disebut Initial
Publik Offering (IPO). IPO ini dilakukan melalui pasar modal lewat bursa efek. Pemegang
saham merupakan pemilik perusahaan yang terpisah dari manajemen perusahaan. Dimana
pihak manajemen perusahaan berkewajiban mempertanggung jawabkan dana yang telah
dipercayakan kepada mereka. Laporan keuangan perusahaan adalah salah satu alat yang
digunakan untuk mengetahui kinerja perusahaan yang dikelola oleh manajemen. Laporan
keuangan tidak hanya digunakan untuk keperluan manajemen perusahaan saja, tetapi juga
dimanfaatkan oleh para investor atau pihak luar yang berkepentingan untuk menilai
pengelolaan dana yang dilakukan oleh manajemen perusahaan.
Untuk itu pihak manajemen perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga agar
pertanggung jawaban keuangan yang disajikan kepada pihak luar yang berkepentingan dapat
dipercaya. Demikian pula pihak luar yang berkepentingan untuk memperoleh keyakinan
bahwa laporan keuangan yang disajikan dapat dipercaya sebagai pengambilan keputusan
memerlukan pula jasa pihak ketiga. Untuk itu profesi akuntan publik diperlukan untuk
melakukan audit atas laporan keuangan dan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap
informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Kualitas
1

Laporan keuangan (financial statement) adalah hasil akhir dari proses kegiatan akuntansi atau
suatu ringkasan dari transaksi keuangan. Laporan keuangan disusun untuk memberikan
informasi tentang posisi harta, utang, dan modal yang terjadi dalam rumah tangga perusahaan
serta laba dan ruginya. Penyusunan laporan keuangan dimaksudkan untuk mengarah pada
tujuan tertentu. Tujuan laporan keuangan secara umum adalah memberikan informasi tentang
posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi. Di
samping itu juga untuk menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas
penggunaan sumber daya-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Melalui peran auditor diharapkan dapat memabantu manajemen dalam melaksanakan
tugas pokoknya di masa lalu dan rencana kegiatan diwaktu yang akan datang. Auditor
eksternal memiliki posisi yang sangat strategis untuk membantu perusahaan

dalam

menegakkan Good governance dan sekaligus mendorong peningkatan pelayanan terhadap


publik, salah satunya yaitu meneliti dan mengevaluasi bekerjanya sistem akuntansi,
di samping menilai seberapa jauh kebijakan dan program kerja manajemen yang dijalankan
memiliki peran yang penting dalam perusahaan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka
disusunlah makalah yang berjudul Kualitas Pelaporan Keuangan serta Peran Auditor
Eksternal dalam Good Corporate Governance.
1.2

Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah kualitas pelaporan keuangan perusahaan?
1.2.2 Bagaimanakah peran auditor eksternal dalam Good Corporate Governance?

1.3

Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui kualitas pelaporan keuangan perusahaan.
1.3.2 Untuk mengetahui peran auditor eksternal dalam Good Corporate Governance.

1.4

Manfaat Penulisan
1.4.1 Mengetahui Kualitas Pelaporan Keuangan Perusahaan.
1.4.2 Mengetahui peran auditor eksternal dalam Good Corporate Governance.

BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1

Kualitas Pelaporan Keuangan


Pengertian kualitas pelaporan keuangan hingga saat ini masih beragam, namun pada

prinsipnya pengertian kualitas pelaporan keuangan dapat dipandang dalam dua sudut
pandang.

Pandangan

pertama

menyatakan

bahwa

kualitas

pelaporan

keuangan

berhubungan dengan kinerja keseluruhan perusahaan yang tercermin dalam laba


perusahaan. Pandangan ini menyatakan bahwa laba yang berkualitas tinggi
terefleksikan pada laba yang dapat berkesinambungan {sustainable) untuk

suatu periode yang lama.


Pandangan kedua menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan
dengan

kinerja pasar

modal

yang

diwujudkan

dalam

berkaitan

bentuk imbalan,

sehingga hubungan yang semakin kuat antara laba perusahaan dengan


imbalan menunjukkan informasi pelaporan keuangan yang tinggi (Ayres
1994).
Pandangan pertama menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan berkaitan erat
dengan kinerja perusahaan yang diwujudkan dalam laba perusahaan yang diperoleh pada
tahun berjalan. Pelaporan keuangan dikatakan tinggi/berkualitas jika laba tahun berjalan
dapat menjadi indikator yang baik untuk laba perusahaan di masa yang akan datang (Lev
dan Thiagarajan 1993; Penman dan Zhang 1999; Richardson et al. 2001; Beneish dan
Vargus 2002; Richardson 2003). Implikasi dari pandangan tersebut menunjukkan bahwa
fokus pengukuran kualitas pelaporan keuangan perusahaan tersebut berkaitan dengan sifatsifat pelaporan keuangan. Pandangan kedua menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan
berkaitan dengan kinerja saham perusahaan di pasar modal. Hubungan yang semakin kuat
antara laba dengan imbalan pasar menunjukkan informasi pelaporan keuangan tersebut
semakin tinggi (Lev dan Thiagarajan 1993; Chan et al. 2004).
Pendekatan

pertama

berkaitan

dengan

kajian

faktor- faktor

penentu

yang

menghasilkan pelaporan keuangan yang berkualitas. Fokus pendekatan ini berkaitan


dengan faktor-faktor internal perusahaan yang terkait dengan faktor inheren atau faktor
intrinsik yang melekat di perusahaan itu sendiri, yang di berbagai penelitian disebut
sebagai faktor spesifik atau karakteristik perusahaan. Faktor-faktor tersebut adalah
faktor-faktor innate dinamis [siklus

operasi, volatilitas

penjualan],

statis

[ukuran

perusahaan,

umur

perusahaan], kinerja perusahaan

[proporsi rugi], risiko institusi

[likuiditas, leverage ], dan risiko lingkungan [klasifikasi industri]).


Pendekatan kedua berkaitan dengan faktor eksternal yang merupakan respons
pemakai informasi pelaporan keuangan yaitu sejauh mana informasi pelaporan keuangan
direspon oleh para pemakai laporan keuangan. Salah satu pemakai utama laporan
keuangan

adalah

investor

yang

baginya

ketersediaan informasi

yang

ditawarkan

diharapkan dapat mengurangi asimetrik informasi. Pelaporan keuangan yang berkualitas


memiliki peranan yang besar, Good Corporate Governance (GCG) berperan membantu
perusahaan menyajikan pelaporan keuangan yang berkualitas. Dengan melihat pelaporan
keuangan, investor dapat mengambil keputusan untuk berinvestasi atau tidak. Good
Corporate Governance (GCG) merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk
mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan
pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan
nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para
stakeholder lainnya. Selain itu, perhatian yang diberikan investor terhadap GCG sama
besarnya dengan perhatian terhadap kinerja keuangan perusahaan, karena dengan adanya tata
kelola perusahaan yang baik, maka perusahaan akan memiliki kinerja keuangan yang baik
pula.
Laporan keuangan disusun untuk memberikan informasi tentang posisi aset, liabilitas
dan ekuitas yang terjadi dalam rumah tangga perusahaan serta laba dan ruginya. Penyusunan
laporan keuangan dimaksudkan untuk mengarah pada tujuan tertentu. Tujuan laporan
keuangan secara umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja
perusahaan, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan
pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi. Di samping itu
juga untuk menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan
sumber daya-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
2.1.1 Karakteristik Laporan Keuangan
Ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai
disebut dengan sifat atau karakteristik kualitatif. Sifat kualitatif laporan keuangan tersebut di
antaranya meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.

Dapat dipahami, artinya laporan keuangan mudah untuk dipahami oleh pemakai.

b.

Relevan, artinya laporan keuangan harus sesuai dengan tujuan operasional


perusahaan dan memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan
keputusan.

c.

Materialitas, artinya suatu laporan atau fakta dipandang material apabila kelalaian
dalam mencantumkan atau kesalahan mencatat informasi dapat memengaruhi
keputusan ekonomi pemakai dengan analisis bahwa keadaan lain sebagai bahan
pertimbangan lengkap.

d.

Keandalan (reliable), artinya informasi laporan keuangan harus bebas dari


pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan
pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithful representation).

e.

Penyajian jujur, artinya informasi akuntansi harus menggambarkan kejujuran


transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan atau secara wajar dapat
diharapkan untuk disajikan.

f.

Substansi mengungguli bentuk (substance over form) artinya jika dimaksudkan


untuk menyajikan informasi dengan jujur, maka transaksi perlu dicatat dan
disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, bukan hanya bentuk
hukumnya.

g.

Netralitas, artinya informasi akuntansi harus diarahkan pada kebutuhan umum


pemakai, tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu.

h.

Konservatisme, artinya informasi yang disajikan mengandung unsur kehati-hatian


pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian.

i.

Kelengkapan, artinya informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam


batasan materialitas dan biaya.

j.

Dapat dibandingkan, artinya informasi akuntansi harus dapat dibandingkan


dengan laporan periode sebelumnya serta dapat dibandingkan dengan perusahaan
lain yang sejenis.

2.1.2 Jenis Laporan Keuangan


Laporan keuangan yang lengkap terdiri atas komponen-komponen berikut ini.
a.

Laporan Posisi Keuangan, yaitu laporan yang menggambarkan posisi keuangan,


baik aset, liabilitas, maupun ekuitas suatu perusahaan selama periode tertentu.

b.

Laporan Laba/Rugi, yaitu laporan yang menggambarkan jumlah penghasilan dan


beban suatu perusahaan selama suatu periode.

c.

Laporan perubahan ekuitas, yaitu laporan yang berisi tentang perubahan ekuitas
yang menunjukkan penambahan atau berkurangnya kekayaan selama periode
tertentu (aktiva bersih).

d.

Laporan arus kas, yaitu laporan mengenai arus kas selama periode tertentu yang
diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas
pendanaan.

2.1.3 Fungsi Laporan Keuangan


Berdasarkan definisi dan jenis laporan keuangan, maka laporan keuangan dapat
berfungsi sebagai:
a.

alat perencanaan, pengendalian kegiatan perusahaan, dan dasar pembuatan


keputusan bagi pimpinan perusahaan.

b.

laporan

selama

menjalankan

perusahaan

yang

benar-benar

dapat

dipertanggungjawabkan kepada pemilik perusahaan dan pihak lain di luar


perusahaan yang membutuhkan laporan tersebut.
2.2

Peran Auditor Eksternal dalam Good Corporate Governance


Audit eksternal adalah audit terpisah dari perusahaan yang disewa oleh perusahaan

untuk memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang disusun telah mengikuti
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor eksternal adalah orang yang
melakukan audit eksternal pada sebuah organisasi/perusahaan. Audit eksternal pada
perusahaan dilakukan dengan mengecek dokumen-dokumen dan catatan-catatan serta
peralatan elektronik dan pengendalian komputer.
De Angelo (1981) dalam Lin dan Liu (2009) menyebutkan bahwa auditor eksternal
memegang peranan di dalam menentukan kredibilitas suatu informasi laporan keuangan maka
kualitas audit merupakan hal yang sangat penting. Kualitas audit merupakan faktor yang
sangat sulit untuk diukur secara langsung, dimana salah satu proksi yang biasa digunakan
untuk mengukur kualitas audit adalah ukuran dari kantor akuntan publik. Semakin besar
ukuran suatu kantor akuntan publik, maka akan lebih baik pula kualitas audit yang disediakan
oleh kantor akuntan publik tersebut. Kualitas dari audit yang independen memiliki pengaruh
terhadap tata kelola perusahaan. Hal ini menyebabkan pemilihan auditor merupakan
keputusan penting dan harus dipertimbangkan secara matang oleh perusahaan.
Ashbaugh dan Warfield (2003) menyatakan bahwa auditor ekternal memainkan
sebuah peran dalam tata kelola perusahaan sebagai alat pengawasan yang penting dalam
6

proses pelaporan keuangan. Sanda, et al., (2005) dalam Obe (2012) menyebutkan bahwa Ttta
kelola perusahaan yang baik salah satunya diwujudkan dalam bentuk transparasi keuangan
perusahaan. Tata kelola perusahaan yang baik dapat dilihat dari mekanisme tata kelola
perusahaan yang diterapkan (Good Corporate Governance). Mekanisme tata kelola
perusahaan (Good Corporate Governance) adalah syarat-syarat pelaksanaan sistem dalam
suatu perusahaan dimana berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan tersebut
dapat memastikan pihak manajer dan pihak internal perusahaan lainnya dapat memenuhi
kepentingan stakeholders ( Sanda, et al., 2005 dalam Obe, 2012 ).
Dennis dan McConnell (2003) dalam Ferry (2010) membedakan mekanisme Good
Corporate Governance menjadi dua bagian yaitu internal dan eksternal, dimana mekanisme
internal dilakukan oleh dewan direksi perusahaan, dewan komisaris dan komite audit yang
dimiliki oleh perusahaan serta struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan. Sedangkan
mekanisme eksternal dari mekanisme tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance)
menurut Dennis dan McConnell (2003) adalah lebih kepada pengaruh dari pasar untuk
pengendalian pada perusahaan tersebut dan sistem hukum yang berlaku.
Dalam hubungan dengan eksternal auditor, perusahaan menetapkan kebijakankebijakan sebagai berikut:
a) RUPS berwenang menunjuk auditor eksternal dari calon yang diajukan oleh komisaris
berdasarkan usulan dari komite audit (apabila ada);
b) Komite Audit (apabila ada) melalui komisaris wajib menyampaikan kepada RUPS
alasan pencalonan tersebut dan besarnya honorarium yang diusulkan untuk auditor
eksternal;
c) Auditor Eksternal harus bebas dari pengaruh komisaris, direksi maupun pihak yang
berkepentingan di perusahaan;
d) Perusahaan wajib menyediakan semua catatan akuntansi dan data penunjang yang
diperlukan sehingga memungkinkan auditor eksternal memberikan pendapatnya
tentang kewajaran dan kesesuaian laporan keuangan perusahaan dengan standar
laporan keuangan Indonesia.

Berdasarkan kerangka pemikiran, maka keterkaitan antar auditor eksternal, auditor


internal, dan pelaksanaan GCG dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut :

Auditor Eksternal
Auditor Internal
Penerapan Standar Umum
Independence
Penerapan Standar PekerjaanKemampuan
Lapangan profesional Lingkup Pekerjaan
Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan
Penerapan Standar Pelaporan
Manajemen Bagian Audit Internal

Pelaksanaan
Good Corporate Governance
Transparansi Kemandirian
Akuntabilitas
Pertanggung jawaban
Kewajaran

2.2.1 Fungsi Auditor Eksternal


Beberapa fungsi auditor eksternal yaitu:
1
2
3

Membentuk dan menyatakan pendapat atas laporan keuangan.


Mendokumentasikan semua penilaian dan simpulan yang telah dicapai.
Memastikan sifat cakupan tugas yang dilaksanakan oleh pemeriksa internal untuk
manajemen

dan

memastikan

apakah

manajemen

mempertimbangkan

rekomendasi pemeriksaan internal dan bagaimana rekomendasi tersebut


4

dibuktikan.
Memastikan bahwa pekerjaan pemeriksaan internal dilaksanakan oleh orang yang

telah menjalani pelatihan yang cukup dan mempunyai keahlian sebagai auditor.
Memastikan apakah pekerjaan pemeriksa internal telah secara baik direncanakan,
disupervisi, ditelaah, dan didokumentasikan.

Menguji pekerjaan pemeriksa internal, termasuk pengujian kembali item yang


telah diuji sendiri oleh pemeriksa internal, pengujian item yang sama serta
observasi dari prosedur yang diikuti oleh pemeriksa internal.
Tujuan pemeriksaan auditor

eksternal adalah untuk dapat memberikan pendapat

mengenai kewajaran laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen perusahaan.
Laporan Eksternal Auditor berisi opini mengenai kewajaran laporan keuangan, selain itu
berupa management letter, yang berisi pemberitahuan kepada manajemen mengenai
kelemahan dan pengendalian intern beserta saran-saran perbaikannya.
Pelaksanaan pemeriksaan berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik yang
ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia. Pemeriksaan ekstern dilakukan secara
sampling, karena waktu yang terbatas dan akan terlalu tinggi audit fee jika pemeriksaan
dilakukan secara rinci. Pemeriksaan ekstern dipimpin oleh (penanggung jawabnya adalah)
seorang akuntan publik yang terdaftar dan mempunyai nomor register (registered public
accountant). Sebelum menyerahkan laporannya, eksternal auditor terlebih dahulu harus
meminta "Surat Pernyataan Klien"(Client Representation Letter). Eksternal Auditor hanya
tertarik pada kesalahan-kesalahan yang material, yang bisa mempengaruhi kewajaran laporan
keuangan.

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
3.1.1 Ada 2 pandangan dalam mengartikan kualitas pelaporan keuangan yaitu : 1)
kualitas laporan keuangan berhubungan dengan kinerja keseluruhan perusahaan
yang

tercermin dalam laba perusahaan, dan 2) kualitas pelaporan keuangan

berkaitan dengan kinerja pasar modal yang diwujudkan dalam bentuk


imbalan, sehingga hubungan yang semakin kuat antara laba perusahaan
dengan imbalan menunjukkan informasi pelaporan keuangan yang tinggi.
3.1.2 Audit eksternal adalah audit terpisah dari perusahaan yang disewa oleh
perusahaan untuk memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan yang disusun
telah mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan Eksternal
Auditor berisi opini mengenai kewajaran laporan keuangan, selain itu berupa
management letter, yang berisi pemberitahuan kepada manajemen mengenai
kelemahan dan pengendalian intern beserta saran-saran perbaikannya.
3.2

Saran
3.2.1 Kepada

pemerintah

agar

menerapkan

prinsip-prinsip

Good

Corporate

Governance di pemerintahan. Hal ini demi terwujudnya pemerintah yang bersih


dan berwibawa.
3.2.2 Kepada perusahaan agar melaporkan laporan keuangannya sesuai dengan
karakteristik laporan keuangan agar menciptakan kualitas pelaporan keuangan
yang baik sehingga dapat digunakan oleh para stakeholder dalam pengambilan
keputusan.
3.2.3 Kepada Kantor Akuntan Publik agar tetap melakukan tugasnya sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik.

10

KASUS PT TELKOM Tbk


I

PROFILE PERUSAHAAN
PT

Telekomunikasi

Indonesia

Tbk

(Persero) biasa

disebut Telkom

Indonesia atau Telkom saja adalah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa
dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Telkom mengklaim sebagai
perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap
sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.
Telkom merupakan salah satu persuhaan terbesar dan tertua Indonesia dalam bidang
telekomunikasi yang sudah didirikan sejah zaman Kolonial pada tahun 1882 yang
menyediakan layanan telegraf dan pos. Sebelum tahun 2000 Telkom memonopoli
telekomunikasi Indonesia, sehingga pemerintah menetapkan UU tentang telekomunikasi.
Pemerintah Indonesia melakukan deregulasi sehingga Telkom tidak lagi menguasai
telekomunikasi Indonesia.
Telkom merupakan salah satu BUMN yang sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah
Indonesia (52,47%), dan 47,53% dimiliki oleh Publik, Bank of New York, dan Investor dalam
Negeri. Telkom juga menjadi pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan,
termasuk PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Direktur Utama Telkom saat ini adalah Alex Janangkih Sinaga, menggantikan Arief
Yahya yang telah menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Jokowi. Telkom sebagai
perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi dengan VISInya yaitu TIMES selalu
melakukan inovasi-inovasi di bidang telekomunikasi di Indonesia. Salah satunya yaitu anak
perusahaan dari telkom yaitu Telkomsel yang bergerak di bidang telekomunikasi seluler.
Telkomsel memiliki jaringan hampir di seluruh Indonesia dan selalu melakukan penambahan
BTS di daerah-daerah yang masih jarang sinyal. Oleh karena itu banyak pengguna telepon
seluler di daerah-daerah yang menggunakan operator Telkomsel daripada operator lain.
PT Telkom memiliki omset lebih dari 60 triliun dan menciptakan target omset mencapai
80 trilliun dalam tahun 2013. Selain membuka beberapa anak perusahaan, Telkom juga selalu
menyuguhkan aneka produk layanan terbaru yang diperlukan oleh masyarakat. Salah satunya
adalah telekom sigma, sebuah anak perusahaan baru yang berkembang ke arah edutainment
11

dan media informasi pendidikan. Anak perusahaan Telkom ini pun telah meraih omset yang
luar biasa besar, yaitu 500 milyar dalam satu tahun. Selain omset besar, perusahaan yang
menjadi pelopor usaha komunikasi di Indonesia ini juga terus mengembangkan sistem
pelayanan kepada pelanggan. Kini, customer service Telkom tidak hanya dapat dihubungi
selam 24 jam melalui media telepon saja, melainkan juga telah membuka layanan komunikasi
melalui website yang disediakan oleh provider Telkom itu sendiri.

Visi Misi
Visi
To become a leading Telecommunication, Information, Media, Edutainment & Services
(TIMES) Player in the Region.
Misi
1.

To Provide TIME Services with Excellent Quality & Competitive Price.

2.

To be the Role Model as the Best Managed Indonesian Corporation.

Corporate Values (5C):


- Commitment to Long Term
- Customer First
- Caring Meritocracy
- Co creation of win-win partnership
- Collaborative Innovation
II

KRONOLOGI KASUS
Untuk pertama kalinya di Indonesia terjadi kasus perselisihan auditor. KAP Eddy

Pianto partner Grant Thornton (GT) adalah auditor laporan keuangan tahun 2002 PT Telkom,
sementara KAP Hadi Sutanto merupakan auditor anak perusahaan PT Telkom, yakni PT
Telkomsel. Hadi Sutanto yang merupakan partner Pricewaterhouse Coopers (PwC) kemudian
12

ditunjuk Telkom untuk melakukan audit ulang laporan keuangan 2002 Telkom setelah
laporan itu ditolak komisi pengawas pasar modal Amerika Serikat (US Securities and
Exchanges-SEC). Telkom berkewajiban menyampaikan laporan keuangan tahunan ke US
SEC karena saham Telkom diperdagangkan juga di bursa saham New York.
Inti persoalan dari kasus ini adalah Eddy Pianto Simon dari KAP Eddy Pianto merasa
dirugikan KAP Hadi Sutanto karena dinilai menghambat karier dan kerja penggugat. Itu
karena KAP Hadi Sutanto tidak mengizinkan KAP Eddy Pianto untuk menggunakan
pendapat KAP Hadi Sutanto dalam hasil auditnya terhadap PT Telkomsel (anak perusahaan)
ke dalam laporan audit (konsolidasi) PT Telkom. Hal inilah yang dianggap Eddy Pianto
sebagai salah satu alasan SEC menolak laporan keuangan tahun 2002 Telkom auditan KAP
Eddy Pianto.
Pada tanggal 16 Juli 2008, Eddy mengirim surat ke Ketua IAI, Achmadi Hadibroto.
Surat itu perihal Pengaduan atas perlakuan tidak sehat yang diterima KAP Drs Eddy Pianto
(EP) dari KAP Drs Hadi Sutanto (HS). Dalam surat setebal lima halaman itu, Eddy
menjelaskan kronologi kasus yang membuat namanya tercemar. EP merasa sebagai pihak
yang mengalami kerugian, baik moril maupun materiil yang diakibatkan, baik langsung
maupun tidak langsung akibat penolakan LK Telkom 2002 oleh US SEC tersebut. Beberapa
pihak juga menilai bahwa kasus Telkom ini merupakan pertarungan antara dua KAP besar.
Yang dimaksud KAP besar adalah GT dengan PwC. GT adalah auditor firm masuk dalam
jajaran nomor tujuh dunia. Sedangkan, PwC masuk dalam jajaran the big four.
Awalnya, ketika menerima penugasan sebagai auditor PT Telkom (2002), tak ada
persoalan yang dialami EP.Termasuk dengan HS, yang pada saat bersamaan menjadi auditor
PT Tekomsel. Pada Januari dan Februari 2003, kedua belah pihak saling komunikasi, dan
tukar-menukar dokumen.EP mengirimkan Audit Instructions kepada HS.Sebaliknya, HS
mengirimkan laporan-laporan yang diminta EP sesuai Audit Instructions.HS juga mengirim
dokumen yang menyatakan, sebagai auditor Telkomsel, HS independen.
Pada 17 Maret 2003, EP memberi tahu HS bahwa laporan audit Telkom akan
dikeluarkan pada 25 Maret 2003. EP menyatakan akan melakukan reference terhadap hasil
audit Telkomsel. Disinilah, hubungan EP dan HS kelihatan tidak sehat. Menjawab surat EP
itu, HS menyatakan, tidak memberi izin kepada EP untuk me-refer hasil auditnya atas
Telkomsel. Anehnya, pada 25 Maret 2003, HS mengirimkan copy audit report Telkomsel
untuk dikonsolidasikan ke LK Telkom. Dalam surat pengantarnya, HS sama sekali tidak
menyebut kata-kata yang tidak mengizinkan EP menggunakan hasil auditnya atas Telkomsel
sebagai acuan dalam LK Telkom konsolidasi.
13

Namun, pada tanggal 31 Maret, HS kembali menegaskan surat tanggal 24 Maret. HS


juga mengirim surat yang bernada sama kepada Presiden Komisaris dan Ketua Komite Audit
Telkomsel, pada 9 April. AU 543 menurut penafsiran HS adalah EP harus mendapatkan izin
dari HS sebelum me-refer hasil audit PT Telkomsel ke dalam hasil audit PT Telkom.
Sedangkan menurut EP AU 543 sebenarnya memperbolehkan EP untuk mengacu kepada
opini HS tanpa perlu izin. EP mempunyai keyakinan bahwa HS telah menginterpretasikan
AU 543 secara keliru, yang mengakibatkan keputusan SEC yang merugikan Telkom. AU 543,
seperti halnya Standar Pemeriksaan Akuntan Publik (PSA 543), tidak mengharuskan EP
minta izin, melainkan cukup mengkomunikasikannya saja. Izin dari auditor perusahaan anak
dibutuhkan, bilamana nama auditor dicantumkan dalam LK konsolidasi.
Kedua, HS dalam suratnya tanggal 31 Maret, mencampuradukkan antara izin agar EP
dapat mengacu pekerjaan HS dengan izin agar Telkom dapat memasukkan opini HS di
dalam laporan 20-F. Dalam surat tanggal 31 Maret, HS menyatakan, izin tersebut
berhubungan dengan laporan Form 20-F. Padahal, akuntan tahu, izin untuk Form 20-F
seharusnya ditujukan kepada manajemen Telkom, bukan kepada auditornya, EP.
Tetapi, karena surat HS tanggal 24 Maret yang menolak memberi izin, pada 5 Juni,
SEC mengirim surat kepada manajemen Telkom. Isinya, antara lain menyatakan, karena tidak
ada izin dari HS, seharusnya EP melakukan qualifikasi atau disclaimer terhadap LK Telkom
2002.SEC juga menyatakan, EP tidak mendemonstrasikan kompetensinya dalam menerapkan
US GAAS. Karena alasan itu, SEC menolak laporan Form 20-F.
Keputusan SEC itu membuat Eddy dan partnernya Grant Thornton Indonesia bingung.
Karena, sebelum mengirim surat ke manajemen Telkom itu, SEC sudah minta dilakukan
credentialling review terhadap EP, pada 22 Mei. Heinz & Associates LLP dari Denver,
Colorado, AS ditunjuk sebagai pelaksana.
Inilah yang kemudian menyiratkan ada konspirasi tingkat tinggi dalam kasus Telkom
ini, yang melibatkan pejabat SEC dan pejabat PwC. Apalagi, kemudian diketahui, Telkom
akhirnya menunjuk PwC untuk melakukan review atas audit yang dilakukan EP. Pejabat SEC
yang menangani Telkom adalah Craig C. Olinger, Deputy Chief Accountant SEC. Dia adalah
bekas anak buah Wayne Carnall, yang kini menjadi Senior Executive PwC.
Pada 21 Juni 2003, Eddy mengirim surat ke SEC untuk menjelaskan interpretasi yang
benar atas AU 543. Pada 25 Juni, Eddy melanjutkan teleconference dengan SEC. Dalam
teleconference itu, tidak ada sanggahan dari SEC mengenai interpretasi Eddy atas AU 543.
Tetapi SEC kadung menolak laporan Form 20-F Telkom, dan manajemen Telkom sudah

14

terlanjur menyatakan, (pada 11 Juni) LK Telkom 2002 sebagai unaudited, serta menunjuk
PwC (HS) sebagai auditor untuk me-review LK Telkom 2002.
Bagi Eddy, perlakuan tidak sehat dari KAP Hadi Sutanto (HS) bukan hanya merugikan
Telkom dan namanya, tetapi juga menyangkut kelangsungan usahanya, KAP Eddy Pianto
(EP). Ini pula yang dituntut Eddy kepada organisasi profesi, IAI. Yakni, demi membersihkan
namanya, bukan hanya kepada Bapepam, Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan dan
perusahaan yang bakal menggunakan jasa auditnya, tetapi kepada masyarakat luas.
III

PEMBAHASAN KASUS
Bahwa berdasarkan Surat Bapepam kepada KAP Eddy Pianto Nomor : S-

1381/PM/2003 tanggal 16 Juni 2003 perihal Kewajiban untuk Tidak Melakukan Kegiatan
Usaha di Bidang Pasar Modal, Bapepam mewajibkan Eddy Pianto Simon, partner KAP Eddy
Pianto, untuk tidak melakukan kegiatan usaha di pasar modal terhitung sejak tanggal surat ini
sampai diputuskan lebih lanjut oleh Bapepam. Keputusan tersebut didasarkan pada penolakan
Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom tahun Buku 2002 oleh SEC yang menyebabkan
perdagangan saham PT. Telkom yang tercatat di New York Stock Exchange dalam bentuk
IDR dihentikan sementara dan diduga menyebabkan harga saham PT. Telkom di Bursa Efek
Jakarta turun secara signifikan dari harga penutupan sehari sebelumnya, serta memberikan
pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan Indeks Harga Saham Gabungan. Maka
KAP Jimmy Budhi menjadi pengganti KAP Eddy Pianto.
Manajemen Telkom Kurang Hati-hati
Itu baru dari segi besar dan rumitnya pekerjaan mengaudit LK TLKM, belum termasuk
kompetensi KAP Eddy Pianto untuk mengaudit LK emiten yang tercatat di Bursa New York.
Di pasar modal Indonesia, KAP Eddy Pianto yang sudah terdaftar di Bapepam dan Depkeu,
hasil auditnya tak bermasalah. Tapi Bapepam AS (US SEC) memiliki aturan dan kriteria
tersendiri bagi auditor yang bisa mengaudit LK emiten yang tercatat di NYSE.
Seorang sumber lain menunjukkan, betapa Eddy Pianto dan manajemen TLKM tidak
hati-hati dalam masalah ini. Dia menduga, manajemen TLKM sedang sibuk dengan lobi-lobi
berkaitan dengan tarif dan lain sebagainya. Tetapi, ketika mendapat pemberitahuan dari GT
International pada Desember bahwa kemitraan antara GT International dengan GT Indonesia
dan Eddy Pianto akan putus dan efektif pada 31 Maret 2003.
Nyatanya, manajemen TLKM tetap kekeh melanjutkan KAP Eddy Pianto sebagai
auditor dan Eddy Pianto juga tenang-tenang saja bekerja. Kalau Eddy Pianto dan PT GT
Indonesia bertanggung jawab, harusnya mereka tahu diri.
15

Terjadi pelanggaran kode etik dan praktik persaingan tidak sehat antar KAP Drs. Hadi
Sutanto & Rekan yang mengaudit laporan keuangan PT. Telkomsel tahun buku 2002 dimana
tidak bersedia terasosiasi dengan pekerjaan audit KAP Eddy Pianto untuk menghindari risiko
yang dapat merugikan jika terasosiasi dengan pekerjaan audit KAP Eddy Pianto dalam Form
20-F PT. Telkom karena keraguan kelayakan hak berpraktek KAP Eddy Pianto dihadapan US
SEC. Kejadian ini dianggap melanggar kode etik karena KAP Drs. Hadi S. & Rekan tidak
memiliki wewenang untuk menilai kualifikasi KAP lainnya untuk berpraktek dihadapan US
SEC. Hal tersebut juga pelanggaran kode etik atas ancaman akibat dari keadaan yang
menghalangi untuk bertindak obyektif karena sebenarnya atau tekanan, termasuk upaya
mempunyai pengaruh yang tidak semestinya dilakukan akuntan profesional yang seharusnya
memenuhi prinsip-prinsip dasar yaitu integritas.

DAFTAR PUSTAKA
http://journal.wima.ac.id/index.php/JIMA/article/view/242/237(Diakses

tanggal

28

November 2015)
http://www.ilib.usm.ac.id/.../B210-20150706085951-8-ArtikelAuditorEksternal.pdf(Diakses
tanggal 28November 2015)
16

http://www.inti.co.id/who-we-are/e-files/Laporan/pedoman_gcg.pdf(Diakses

tanggal

28

November 2015)
http://coretanauditor.blogspot.co.id/2014/11/mungkin-ada-yang-masih-bingung.html (diakses
1 Desember 2015)
http://hestiayua.blogspot.co.id/2014/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html (diakses
1 Desember 2015)
http://ssbelajar.blogspot.co.id/2012/04/kualitas-laporan-keuangan.html (diakses 1 Desember
2015)
http://ssbelajar.blogspot.co.id/2012/04/kualitas-laporan-keuangan.html (diakses 1 Desember
2015)
https://yuliasilvianti.wordpress.com/2011/02/22/peran-akuntan-publik-dalam-mewujudkangood-corporate-governance-di-pasar-modal-indonesia/ (diakses 1 Desember 2015)
http://www.telkom.co.id/UHI/UHI2011/ID/0402_profil.html (diakses tanggal 1 Desember
2015)=
https://id.scribd.com/doc/245620254/Kasus-Telkom-1 (diakses tanggal 1 Desember 2015)
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Juni 2009, Vol. 6, No. 1, hal 20 22
Jurnal PengaruhAuditorEksternal danAuditorInternal pada Pelaksanaan
Good Corpoorate Governance, Volume9,No.1,Juni2010,Hal.3747

17