Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN VERTIGO

LAPORAN PENDAHULUAN
DAN
ASUHAN KEPERWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO

Disusun Oleh :
Pitriono

(S10034)

PRODI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah
mengami vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya
memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai
pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik.
Kasus vertigo di Amerika adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih
banyak daripada pria. Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu diatas
50 tahun.
Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari kejadian atau
trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari kejadian atau
trauma tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini sebaiknya harus segera
ditangani, karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu system lain yang ada di tubuh
dan juga sangat merugikan klien karena rasa sakit atau pusing yang begitu hebat. Terkadang
klien dengan vertigo ini sulit untuk membuka mata karena rasa pusing seperti terputar-putar.
Ini disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.
Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya dirasa sangat
penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta pemberian asuhan

keperawatan yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini dapat berkurang dan
masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa mengantisipati akan hal tersebut.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan laporan pendahuluan tentang vertigo ini adalah agar mahasiswa
mampu secara kognitif, afektif serta motorik dalam menyusun asuhan keperawatan pada
klien vertigo. Dengan demikian, mahasiswa bisa menerapkan asuhan keperawaan yang sudah
dibuat secara komprehensif sehingga dapat membantu proses penyembuhan klien secara tepat
dan cepat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan
orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan
mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai
sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato sensorik
(propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3
sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Padavertigo, penderita merasa
atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan
yang dialami biasanya berputar namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa
ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan
adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata.
(Lumban Tobing. S.M, 2003)
Vertigo dapat adalah salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam
sehingga menyebabkan penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di
sekelilingnya menjadi serasa 'berputar' ataupun melayang. Vertigo menunjukkan
ketidakseimbangan dalam tonus vestibular. Hal ini dapat terjadi akibat hilangnya masukan
perifer yang disebabkan oleh kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau juga dapat
disebabkan oleh kerusakan unilateral dari sel inti vestibular atau aktivitasvestibulocerebellar.
(www.wikipedia.com)
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala, penderita
merasakan benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak naik turun
karena gangguan pada sistem keseimbangan. (Arsyad Soepardi efiaty dan Nurbaiti, 2002)
B. Etiologi
1. Otologi 24-61% kasus
a) Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

b)
c)
d)
2.
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
3.
a)
b)
c)
d)
e)
f)
4.
a)
b)
c)
d)
5.

Meniere Desease
Parese N VIII Uni/bilateral
Otitis Media
Neurologik 23-30% kasus
Gangguan serebrovaskuler batang otak/ serebelum
Ataksia karena neuropati
Gangguan visus
Gangguan serebelum
Gangguan sirkulasi LCS
Multiple sklerosis
Vertigo servikal
Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskuler
Tekanan darah naik turun
Aritmia kordis
Penyakit koroner
Infeksi
< glikemia
Intoksikasi Obat: Nifedipin, Benzodiazepin, Xanax,
. Psikiatrik > 50% kasus
Depresi
Fobia
Anxietas
Psikosomatis
Fisiologik
Melihat turun dari ketinggian.

C. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu Perasaan berputar yang kadang-kadang
disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat,
nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng
(dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah
tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien
akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling
dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang
tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10
detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.Penderita
biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan
gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus
atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan

berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan,
tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi
kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan
akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada
pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak
ada paresis kanal.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah dengan melakukan
manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh
pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan
didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :
Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau
lingkungan
Merasakan mual yang luar biasa
Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual
Gerakan mata yang abnormal
Tiba - tiba muncul keringat dingin
Telinga sering terasa berdenging
Mengalami kesulitan bicara
Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan berputar
Pada keadaan tertentu, penderita juga bisa mengalami ganguuan penglihatan
(http://perawatyulius.blogspot.com)

D. Komplikasi
1. Cidera fisik
Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan akibat terganggunya saraf
VIII (Vestibularis), sehingga pasien tidak mampu mempertahankan diri untuk tetap berdiri
dan berjalan.
2. Kelemahan otot
Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas. Mereka lebih sering
untuk berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang terlalu lama dan gerak yang terbatas
dapat menyebabkan kelemahan otot.
E. Patofisiologi dan Pathway
Vertigo disebabkan dari berbagai hal antara lain dari otologi seperti meniere, parese N VIII,
otitis media. Dari berbagai jenis penyakit yang terjadi pada telinga tersebut menimbulkan
gangguan keseimbangan pada saraf ke VIII, dapat terjadi karena penyebaran bakteri maupun
virus (otitis media).

Selain dari segi otologi, vertigo juga disebabkan karena neurologik. Seperti gangguan visus,
multiple sklerosis, gangguan serebelum, dan penyakit neurologik lainnya. Selain saraf ke VIII
yang terganggu, vertigo juga diakibatkan oleh terganggunya saraf III, IV, dan VI yang
menyebabkan terganggunya penglihatan sehingga mata menjadi kabur dan menyebabkan
sempoyongan jika berjalan dan merespon saraf ke VIII dalam mempertahankan
keseimbangan.
Hipertensi dan tekanan darah yang tidak stabil (tekanan darah naik turun). Tekanan yang
tinggi diteruskan hingga ke pembuluh darah di telinga, akibatnya fungsi telinga akan
keseimbangan terganggudan menimbulkan vertigo. Begitupula dengan tekanan darah yang
rendah dapat mengurangi pasokan darah ke pembuluh darah di telinga sehingga dapat
menyebabkan parese N VIII.

F.

a)
b)
c)
d)
e)
a)
b)
c)
a)
b)

Psikiatrik meliputi depresi, fobia, ansietas, psikosomatis yang dapat mempengaruhi tekanan
darah pada seseorang. Sehingga menimbulkan tekanan darah naik turun dan dapat
menimbulkan vertigo dengan perjalanannya seperti diatas. Selain itu faktor fisiologi juga
dapat menimbulkan gangguan keseimbangan. Karena persepsi seseorang berbeda-beda.
Pemeriksaan Penunjang
Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan
diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan mata
Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
Pemeriksaan neurologik
Pemeriksaan otologik
Pemeriksaan fisik umum
2. Pemeriksaan khusus
ENG
Audiometri dan BAEP
Psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan
Radiologik dan Imaging
EEG, EMG

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :
a) Anti kolinergik
Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam

b) Simpatomimetika
Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit
c) Menghambat aktivitas nukleus vestibuler
Golongan antihistamin
Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah :
i.
Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam
ii.
Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.
Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah.
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri dari :
a) Terapi kausal
b) Terapi simtomatik
c) Terapi rehabilitatif
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a) Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam dalam
kamar gelap selama 1-2 hari pertama.
b) Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan subyektif vertigo
pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis. Pasien
dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan mata pada suatu obyek yang dekat,
misalnya sebuah gambar atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada
berbaring dengan kedua mata ditutup.
c) Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya vertigo,
maka rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual yang
kuat.
d) Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah dehidrasi.
e) Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut yang belum
dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua. Pasien merasa sakit
berat dan sangat takut mendapat serangan berikutnya. Sisi penting dari terapi pada kondisi ini
adalah pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar
gangguan vestibular akut lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan
bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah
beberapa hari.
f) Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan ini untuk
rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibular akut.
(http://niarahayu9.blogspot.com)
H. Asuhan Keperawatan sesuai teori
1. Pengkajian data keperawatan
a) Aktivitas / Istirahat

b)

c)

d)

e)

f)

Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia,
bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala, sakit kepala yang hebat saat perubahan
postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
Sirkulasi
Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak
kemerahan
Integritas Ego
Faktor faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan ketidakmampuan,
keputusasaan, ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama
sakit kepala, mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
Makanan dan cairan
Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur,
daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah,
anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan
Neurosensoris
Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi,
trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap
cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi
tempore, perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus,
penurunan refleks tendon dalam, papiledema.
Nyeri/ kenyamanan
Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster,
tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus
menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis,
gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.

g)

Keamanan
Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia,
paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
h) Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit
i) Penyuluhan/ Pembelajaran
Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain
termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.
2.
a.
b.
c.
d.
e.

Diagnosa Keperawatan
Resiko jatuh b.d kerusakan keseimbangan (N. VIII)
Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Resiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat

3. Intervensi Keperawatan
a) Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah risiko jatuh dapat
teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya
2) Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh
Intervensi
Rasional
1. Kaji tingkat energi yang dimiliki klien 1. Energi yang besar dapat memberikan
2. Berikan terapi ringan untuk
keseimbangan pada tubuh saat istirahat
mempertahankan kesimbangan
2. Salah satu terapi ringan adalah
3. Ajarkan penggunaan alat-alat alternatif
menggerakan bola mata, jika sudah
dan atau alat-alat bantu untuk aktivitas
terbiasa dilakukan, pusing akan
klien.
berkurang.
4. Berikan pengobatan nyeri (pusing)
3. Mengantisipasi dan meminimalkan
sebelum aktivitas
resiko jatuh.
4. Nyeri
yang
berkurang
dapat
meminimalisasi terjadinya jatuh.
b) Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi
aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Meyadari keterbatasan energi
2) Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas
3) Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
4) Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
Intervensi
Rasional
1. Kaji respon emosi, sosial, dan
1. Respon emosi, sosial, dan spiritual
spiritual terhadap aktivitas
mempengaruhi kehendak klien dalam
2. Berikan motivasi pada klien untuk
melakukan aktivitas
melakukan aktivitas
2. Klien dapat bersemangat untuk melakukan
3. Ajarkan tentang pengaturan aktivitas aktivitas
dan teknik manajemen waktu untuk 3. Energi yang tidak stabil dapat menghambat
mencegah kelelahan.
dalam melakukan aktivitas, sehingga perlu
4. Kolaborasi dengan ahli terapi
dilakukan manajemen waktu
okupasi
4. Terapi okupasi dapat menentukan tindakan
alternatif dalam melakukan aktivitas.
c) Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah kurang nutrisi
dapat sedikit teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien tidak merasa mual muntah
2) Nafsu makan meningkat
3) BB stabil atau bertahan
Intervensi
Rasional
1. Kaji kebiasaan makan yang disukai 1. Kebiasaan makan yang disukai dapat
klien
meningkatkan nafsu makan
2. Pantau input dan output pada klien 2. Untuk memantau status nutrisi pada klien
3. Ajarkan untuk makan sedikit tapi 3. Mempertahankan status nutisi pada klien
sering
agar dapat meningkat atau stabil.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi
4. Ahli gizi dapat menentukan makanan yang
tepat untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi
pada klien.
d) Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah gangguan perepsi
sensori pendengaran dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat memfokuskan pendengaran
2) Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan
3) Pendengaran adekuat
Intervensi
Rasional
1. Kaji tingkat pendengaran pada klien1. Mengetahui tingkat kemaksimalan
2. Lakukan tes rinne, weber, atau
pendengaran pada klien untuk menentukan
swabah untuk mengetahui
terapi yang tepat.
keseimbangan pendengaran saat 2. Mengetahui keabnormalan yang terjadi
terjadi tinitus
akibat tinitus
3. Ajarkan untuk memfokuskan
3. Mempertahankan keadekuatan pendengaran
pendengaran saat terjadi tinitus
4. Memaksimalkan pendengaran pada klien
4. Kolaborasi penggunaan alat bantu
pendengaran
e) Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah koping individu
tidak efektif dapat teratsi.
Kriteria Hasil :
1) Klien dapat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran
2) Klien dapat mengatasi dengan tindakan mandiri
Intervensi
Rasional

1. Kaji kemampuan klien dalam


1.
mempertahankan keadekuatan
pendengaran
2.
2. Berikan motivasi dalam menerima
keadaan fisiknya
3.
3. Ajarkan cara mengatasi masalah
pendengaran akibat pusing yang 4.
diderita
4. Kolaborasi pemberian antidepresan
sedatif, neurotonik, atau transquilizer
serta vitamin dan mineral.

Mengetahui batas maksimal kemampuan


pendengaran klien
Klien tidak mengalami depresi akibat
keadaan fisiknya
Pusing yang terjadi dapat memunculkan
tinitus
Obat untuk mengatasi tinitus.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad soepardi, efiaty dan Nurbaiti.2002. Buku ajar ilmu kesehatan telingahidung tenggorok
kepala leher edisi ke lima. Jakarta : Gaya Baru
Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo Tujuh Keliling, Jakarta : FK UI
Rahayu, Nira.2011. Neuronitis Vestibular. (http://niarahayu9.blogspot.com).Onlinediakses
pada 22 oktober 2012.Pukul 23.50 WIB
Santosa, Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.Alih bahasa.Jakarta
: Prima Medika
Wilkinson, Judith M.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC

BAB III
ASUHAN KEPERWATAN SISTEM NEUROBEHAVIOUR
PADA Tn.S DENGAN VERTIGO DI RUANG MAWAR I
RSUD KARANGANYAR

Tgl/Jam MRS
Tgl/Jam Pengkajian
Metode Pengkajian
Diagnosa Medis

: 20 Oktober 2012/10.00 WIB


: 22 Oktober 2012/09.30 WIB
: Autoanamnesa dan Alloanamnesa
: Vertigo dan Hipertensi

I.
BIODATA
1. Identitas Klien
Nama Klien
: Tn.S
Alamat
: Supan 2/14 Tegalgedhe, Karanganyar
Umur
: 58 th
Agama
: Islam
Status Perkawinan
: Kawin
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Peternak
2. Identitas Penanggung jawab
Nama
: Ny.S
Umur
: 54 th
Pendidikan
: Tamat SMP
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Alamat
: Supan 2/14 Tegal Gede, Karanganyar
Hubungan dengan klien : Istri
II.
RIWAYAT KEPERAWATAN
1. Keluhan Utama
Pusing seperti berputar-putar, panas dingin, tidak nafsu makan, tidak bisa tidur.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh kepala pusing berputar,
nyeri kedua pipi hingga sekitar mata, sakit bertambah saat pasien menunduk dan duduk,
badan panas dingin, dan leher terasa cengeng/pegel-pegel.
Kemudian dibawa ke puskesmas dan hasilnya tidak ada perubahan dan akhirnya dibawa ke
RSUD Karanganyar melalui UGD. Pasien terpasang infus Rl 20tpm, dan diambil sempel
darah, TD : 225/120 mmHg, S : 38C, RR : 24x/menit.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya Tn.S belum pernah mengalami penyakit ini, namun dulu pernah menderita
penyakit hipertensi dan pernah berobat ke THT untuk operasi sinus maksilaris.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Didalam keluarga Tn.S tidak ada yang memiliki penyakit yang sama seperti yang Tn.S derita
saat ini. Namun untuk hipertensi diduga didapatkan melalui keturunan, karena ayah dari Tn.S
juga mengalami penyakit hipertensi.
Genogram :

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Memiliki riwayat hipertensi
: Pasien (Tn.S)
: Tinggal serumah

5. Riwayat Kesehatan Lingkungan


Kesehatan lingkungan Tn.S cukup terawat dan orang-orang disekitarnya paling umum
memiliki penyakit hipertensi namun untuk penyakit pusing hebat yang diderita Tn.S tidak ada
yang mengalami.
III.

PENGKAJIAN POLA KESEHATAN FUNGSIONAL

1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan


Klien mengatakan sehat itu sangat berarti bagi kehidupan. Tanpa kesehatan orang tidak akan
bisa melakukan kegiatan sehari-hari, maka keluarga Tn.S selalu membawa anggota keluarga
yang sakit ke tempat dokter untuk diperiksa, bahkan sampai kerumah sakit untuk
mendapatkan pengobatan yang rutin.
2. Pola Nutrisi/Metabolik
KETERANGAN
SEBELUM SAKIT
SELAMA SAKIT
Frekuensi
3 x sehari
3 x sehari
Jenis
Nasi putih, sayur, gorengan, Bubur, kuah, air putih,
buah kadang-kadang, air
putih.
Porsi
1 porsi habis
porsi
Keluhan
Tidak ada
Mual, tidak nafsu makan,
dan lidah terasa pahit serta
tidak makan selama 3 hari
terhitung saat 1 hari sebelum
masuk RS
Antropometri
: BB : 64 kg, TB : 163 cm, IMT : 24,08 Kg/BB
Biochemical
: Hct : 42 % Hb : 12,8 g/dL
Clinical sign
:
Rambut : sedikit lengket, kusam, terdapat ketombe.
Mata
: konjugtiva tidak anemis, pupil isokor, sclera tidak ikterik
Kulit
: lembab, turgor kurang elastis.
Pasien merasa mual muntah
Dietary history : Pasien tidak memiliki diet khusus. Selain itu pasien suka
makan kangkung dan sayur lodeh.
3. Pola Eliminasi
Eliminasi Alvi (BAB)
KETERANGAN
SEBELUM SAKIT
SELAMA SAKIT
Frekuensi
1x sehari
3 hari sekali
Konsistensi
Lunak berbentuk
Sedikit Keras
Bau
Khas
Khas
Warna
Kuning
Kuning kecoklatan, tidak ada
darah
Keluhan
Tidak ada
Sulit BAB
Eliminasi Urin
KETERANGAN
Frekuensi
Pancaran

SEBELUM SAKIT
4-6x/hari
Kuat

SELAMA SAKIT
3-5x/hari
lemah

Jumlah
Bau
Warna
Perasaan setelah BAK
Keluhan
Total produksi urin

200 cc sekali BAK


Khas
Kuning jernih
Lega
Tidak ada
800-1200 cc/hari

200 cc sekali BAK


Amoniak
Kuning kecoklatan
Lega
Tidak ada
600-1000 cc/hari

ANALISA KESEIMBANGAN CAIRAN SELAMA PERAWATAN


Intake
Output
Minum 1200 cc
Urine 1000 cc
Makanan 200 cc
Feses 100 cc
Infus 500 cc
IWL 10 x 64 kg = 640 cc
Total 1900 cc
Total 1740 cc

4. Pola Aktifitas dan Latihan


Kemampuan perawatan diri
Makan/minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas ditempat tidur
Berpindah
Ambulasi/ROM
5. Pola Istrahat Tidur
KETERANGAN
Jumlah jam tidur siang
Jumlah jam tidur malam
Pengantar tidur (penggunaan
obat tidur)
Gangguan tidur

Perasaan waktu bangun


Kondisi mata

6. Pola Kognitif Perseptual

0
V
V
V
V
V
V
V

Analisa
Intake 1900 cc
Output 1740 cc
Balance : intake > output

SEBELUM SAKIT
8 jam
Tidak ada

SELAMA SAKIT
jam
3-5 jam
Ada

Tidak ada

sering terbangun karena


nyeri pada pipi, lingkungan
kurang tenang.
Masih merasa ngantuk
Berkantung

Nyaman
Tidak berkantung

Klien dapat berbicara dengan lancar, melihat seperti berputar-putar, menjawab pertanyaan
dengan tepat saat ditanya, penciuman baik, lidah terasa pahit, merasa mual-mual, dapat
mengidentifikasi tes raba, merasa badannya panas dingin. Selain itu klien juga merasa nyeri.
P : nyeri karena vertigo,
Q :seperti ditarik-tarik,
R: kedua pipi sampai sekitar mata,
S:9
T : saat menundukkan dan duduk
7. Pola persepsi Konsep Diri
a. Gambaran diri/citra tubuh
Pasien tidak suka dengan pusing yang seakan menarik wajahnya.
b. Ideal diri
Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan dapat segera pulang.
c. Harga diri
Tn.S mengatakan malu dengan istrinya karena tidak bisa menafkahi istrinya karena keadaan
sakit yang dia alami saat ini.
d. Peran diri
Tn.S mengatakan saya tidak bisa bekerja lagi. Untuk saat ini justru istri saya yang harus
bekerja untuk biaya perawatan di rumah sakit.
e. Identitas diri
Tn.S mengatakan dia sebagai kepala keluarga didalam keluarganya, yang seharusnya dapat
memberikan sandang, papan, dan pangan.
8. Pola Seksual dan Seksualitas
Tn.S mengatakan terkadang masih melakukan hubungan dengan istrinya jika kondisi mereka
memungkinkan.
9. Pola Peran dan Hubungan
Hubungan dengan kelurga harmonis dan tidak ada maslah yang mengakibatkan kekacauan
dalam rumah tanggannya. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga baik sehingga saat salah
satu anggota warga ada yang sakit mereka saling menjenguk.
10. Pola Manajemen dan Koping Stres
Saat terjadi nyeri pasien hanya mampu menahan nyeri dan berusaha untuk tidur. Karena Tn.S
sakit yang berusaha membayar biaya perawatan adalah istrinya.
11. Sistem Nilai dan Keyakinan
Ny.S mengatakan yakin bahwa suaminya dapat sembuh, Ny.S selalu berdoa agar suaminya
lekas diberikan kesembuhan.
IV.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan/Penampilan Umum
Kesadaran
: Composmentis
TTV
:
a) TD : 170/100 mmHg

b)
c)
d)
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
1)

2)

Pernafasan :
Frekuensi : 22x/menit
Irama
: teratur
Suhu : 38C
Nadi :
Frekuensi : 96x/menit
Irama
: teratur
Kekuatan : kuat
Pemeriksaan Fisik Head to Toe
Kepala, Rambut : warna hitam sedikit beruban, rambut lengket, dan kusam, tidak ada kutu,
terdapat ketombe.
Mata
:
Palpebra
: tidak udem, tidak petosis
Konjungtiva
: konjungtiva tidak anemis
Pupil
: isokor
Sclera
: tidak ikterik
Reflek terhadap cahaya : +
Tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
Hidung
: lembab, bersih, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut
: bibir lembab, mukosa mulut sedikit kotor, tidak ada sariawan
tidak ada gigi berlubang.
Telinga
: sedikit kotor, sedikit serumen, kadang-kadang terjadi tinitus.
Leher
: tidak terjadi pembesaran kelenjar limfe, tidak terjadi kaku
Kuduk
Dada
:
Paru-paru
-Inspeksi : Bentuk dada simetris
-Palpasi
: Vocal premitus getaran kanan kiri sama
-Perkusi
: Sonor pada seluruh lapang paru
-Auskultasi : Vesikuler pada seluruh area paru, tidak ada suara nafas tambahan, inspirasi lebih
pendek dari ekspirasi.
Jantung
-Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
-Palpasi
: IC teraba di ICS 5 mid clavicula
-Perkusi
: Pekak, konfigurasi jantung dalam batas normal
-Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan.

h. Abdomen
:
-Inspeksi
: warna sawo matang, jaringan parut tidak
terlihat, umbilicus kotor.
-Auskultasi
: 30x/menit

-Perkusi
-Palpasi
i.

V.

: thympani
: tidak ada nyeri tekan

Ekstremitas
Atas
Kekuatan otot kanan dan kiri
:4
ROM kanan dan kiri
: Aktif
Perubahan bentuk tulang
: Tidak ada perubahan bentuk tulang
Perabaan Akral
: Hangat
Pitting edema
: tidak ada
Analisa : tidak ada kelainan pada ekstremitas.
Bawah
Kekuatan otot kanan dan kiri
:4
ROM kanan dan kiri
: Aktif
Perubahan bentuk tulang
: Tidak ada perubahan bentuk tulang
Perabaan Akral
: Hangat
Pitting edema
: tidak ada
Analisa : tidak ada kelainan pada ekstremitas bawah.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hari/Tanggal/ Jenis
Jam
Pemeriksaan
Senin, 22 1. Ro Thorax
oktober 20122. Ro Sinus
09.00 WIB
Paranasal
3. EKG

Keterangan Hasil
Tidak ada bercak-bercak, tidak ada fraktur ic
Penebalan mukosa sinus maksilaris duplek
Tidak ada kelainan jantung

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Nilai Normal
Hari/Tgl/Jam
Jenis
dan satuan
Pemeriksaan
Senin, 22
GDS
100 s/d 150 mg
Oktober 2012 Hb
14-18 g/dL
09.00 WIB
Leukosit
5000-10000/mm
Eritrosit
4,5-5,5 juta/mm
Hct
40-43 %
Eosinofil
1-3 %
Basofil
0-1 %
Batang
2-6 %
Segmen
50-70 %

Hasil
127 mg
12.8 g/dL
6000/mm
4800000/ mm
42 %
0%
0%
0%
69

Keterangan
Normal
Turun
Normal
Normal
Normal
Turun
Normal
Turun
Normal

Limfosit
Monosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC

VI.

TERAPI MEDIS
Hari/ Tangga
Jam
Senin,
22/10/2012

20-40 %
2-8 %
150000-300000 mm
82-92 mikron 3
27-32 piko gram
32-37 %

27 %
4%
214000 mm
88 mikron 3
31 Piko gram
36 %

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Jenis Terapi

Dosis

Golongan &
Kandungan

Fungsi &
Farmakologi

Cairan IV :
Infus RL

16 tpm

Cairan elektrolit

Keseimbangan
cairan dan
elektrolit dalam
tubuh

Ranitidin

25 mg

Obat saluran cerna

Terapi tukak
lambung,
mengatasi mual

- Captopril

25 mg

Antihipertensi

Mengobati
hipertensi ringan
s/d sedang

- Sohobion

100 mg

Vitamin B

Terapi defisiensi
Vit B1, B6, & B12

6 mg

Antineoplastik,
Imunosupresan

Mengobati vertigo
dan yang
berhubungan
dengan gangguan
keseimbangan

Obat Peroral :

e)

- Mertigo

Obat Parenteral
Obat Topikal
VII.

ANALISA DATA
No Hari/tgl/jam Data Fokus

Problem

Etiologi

TTD

Senin,
22-10-2012
09.30 WIB

1.
2.
3.
4.
5.

6.
22-

Senin,
10-2012
09.30 WIB

1.
2.
3.
4.

Senin,
22-10-2012
09.30 WIB

DS:
pasien mengatakan pusing
berputar-putar.
P: nyeri karena vertigo
Q : seperti ditarik-tarik
R : kedua pipi sampai sekitar
mata
S:9
T : Saat duduk / menunduk
DO:
TD : 170/100 mmhg
S : 380C
N : 96x/mnit
RR : 22x/mnit
Pasien tampak meringis
kesakitan
Pasien tampak resah
DS :
Pasien mengatakan nafsu
makan berkurang, mual
muntah, dan lidah terasa pahit
serta tidak makan selama 3 hari
dan hanya minum air putih.
DO :
A : BB : 64kg, TB : 163 cm,
IMT : 24,08 kgBB
B:
Hct : 42 %
Hb : 12,8 g/dL
C:
Pasien tampak mual muntah
Turgor kurang elastis
Pasien tampak lemas
Konjungtiva tidak anemis
D : Menghabiskan porsi
makan

Gangguan
rasa
nyaman (nyer
i akut)

Agen cedera
biologi

Resiko nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh

Tidak
adekuatnya
intake makanan

DS :
Pasien mengatakan susah tidur,
tidur siang 1/2 jam dan tidur
malam hanya 3-5 jam dan

Gangguan
pola tidur

Fisiologi
(pusing seperti
berputar-putar)

1.
2.
3.
4.
5.
4.

Senin,
22-10-2012
09.30 WIB

1.
2.
3.
4.
5.
6.
5.

Senin,
22-10-2012
09.30 WIB

1.
2.
3.
4.

VIII.
1.
2.
3.
4.

mudah terbangun karena nyeri,


perasaan setelah bangun masih
mengantuk
DO :
TD : 170/100mmhg
S : 38oC
N : 96 x/ mnit
Mata berkantung
Pasien tampak mengantuk
DS :
Pasien mengatakan pusing
seperti berputar-putar dan
tambah parah jika digunakan
untuk menunduk dan duduk.
DO :
Kerusakan keseimbangan
170/100 mmHg
Agen antihipertensi
Tidak familiar terhadap
ruangan
Tidak ada pengawasan saat ke
kamar mandi
Tidak ada pegangan menuju
kamar mandi
DS :
Pasien mengatakan badanya
merasa panas dingin.

Resiko Jatuh

Gangguan
kesesimbangan
N VIII

Hipertermi

Ketidakefektifa
n kerja
hipotalamus

DO :
Suhu : 38C
Akral hangat
Banyak berkeringat
AL : 6000/mm

PRIORITAS DIAGNOSA
Resiko jatuh b.d Gangguan keseimbangan N VIII
Hipertermi b.d Ketidakefektifan kerja hipotalamus
Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) b.d Agen cedera biologi
Gangguan pola tidur b.d Fisiologi (nyeri seperti berputar-putar)

5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Tidak adekuatnya intake makanan.
IX.

RENCANA KEPERAWATAN
No Hari/
Diagnosa
.
Tgl/Jam Keperawatan
1.
Senin/
Resiko jatuh b.d
22
Gangguan
oktober
keseimbangan N
2012/
VIII
10.00
WIB

1.

2.

3.

4.
5.

Tujuan dan KH

Intervensi

Setelah dilakukan
1.
tindakan
keperawatan
selama 2x24 jam
masalah resiko
jatuh dapat
2.
teratasi dengan
kriteria hasil
sbb :
3.
Tidak terjadi
jatuh atau cidera
fisik
Pasien dapat
beraktivitas dan 4.
atau ambulasi
dengan tenang
Pasien terjaga 5.
keamanannya
dalam
beraktivitas
6.
TD : 140/90
mmHg
Pasien dapat 7.
mengenali
lingkungan
diruangan

Kaji tingkat 1.
aktivitas yang
dijalani pasien
selama di rumah2.
sakit.
Observasi
perilaku jalan
pasien
Observasi
3.
tempat yang
biasa dilalui
pasien untuk 4.
beraktivitas
Naikkan
restrain jika
perlu
5.
Dampingi
pasien saat
berjalan
Beritahu pasien6.
dan keluarga
akibat dari jatuh
Beritahu pada 7.
keluarga pasien
untuk tetap
menjaga atau 8.
mengawasi
aktivitas pasien
8. Ajarkan pada
pasien untuk
menggunakan 9.
alat-alat
alternatif dalam
beraktivitas
9. Kolaborasi
penggunaan alat

Rasional
Mengidentifikasi
kategori aktivitas
yang dijalani pasien.
Karakteristik jalan
dapat menentukan
keadaan pasien,
memerlukan bantuan
atau tidak
Keadaan tempat yang
kurang baik dapat
menimbulkan jatuh
Mengantisipasi
terjadinya jatuh saat
pasien banyak
bergerak
Saat pasien akan
jatuh ada yang
membantu menopang
tubuhnya
Pasien dan keluarga
dapat memahami
bahaya jatuh
Mengidentifkasi
tanda-tanda terjadinya
jatuh
Pasien dapat
menggunakan
perantara untuk
berjalan seperti kursi,
bed, dll
Keselamatan pasien
saat beraktifitas
terjaga.

TTD

2.

Senin/
22
oktober
2012/
10.00
WIB

Hipertermi b.d
Ketidakefektifa
n kerja
hipotalamus

1.

2.
3.

3.

Senin/
22
oktober
2012/
10.00
WIB

Gangguan rasa
nyaman (nyeri
akut) b.d Agen
cidera biologi

1.

2.
3.
4.
5.

Setelah dilakukan
1.
tindakan 2x24
jam masalah
hipertermi dapat2.
teratasi dengan
kriteria hasil
3.
sbb :
Suhu turun
menjadi 364.
37,5C
Pasien tidak
merasa resah 5.
RR dalam batas
normal 1824x/menit dan
tidak mengalami
distres dalam
pernafasan
Setelah dilakukan
1.
tindakan
keperawatan
2.
selama 3x24 jam
masalah
3.
keperawatan
gangguan rasa
nyaman nyeri
dapat
diminimalkan 4.
dengan KH sbb :
Pasien sudah
tidak meringis
kesakitan
Skala nyeri
menjadi 6
5.
TD : 140/70
mmHg
6.
0
S : 36-37,5 C
N : 60100x/menit

bantu untuk
beraktivitas
Observasi VS 1.
pasien 4 jam
sekali
Lakukan
2.
kompres hangat
Anjurkan untuk
memakai baju 3.
tipis
Anjurkan
asupan cairan 4.
oral
Kolaborasi
penggunaan 5.
obat antipiretik

Tanda-tanda kejang
demam dapat
diketahui dari VS
Agar tubuh terjadi
vasodilatasi dan suhu
dapat turun
Memudahkan
sirkulasi udara untuk
menurunkan suhu
Dehidrasi dapat
memperparah
hipertermi
Obat penurun suhu
tubuh.

Kaji nyeri
1.
(PQRST)
Kaji keluhan
pasien tiap hari2.
Berikan posisi
nyaman sesuai
dengan
3.
kebutuhan
pasien
Ajarkan terapi
untuk
pengurangan 4.
nyeri
(mengubah
posisi kepala)
Ajarkan tekhnik
relaksasi
5.
Kolaborasi
dengan
pemberian obat
analgesik
dan
6.

Mengetahui skala
nyeri dan keadaan
nyeri secara holistik
Mengetahui tingkat
penurunan nyeri
untuk sembuh
Posisi yang nyaman
dapat sedikit
mengubah persepsi
nyeri yang dirasa
pasien
Kebiasaan mengubah
posisi kepala secara
bertahap dapat
menurunkan nyeri
atau pusing.
Dengan teknik
relaksasi dapat
mengurangi rasa
nyeri
Obat penghilang rasa

4.

Senin/
22
oktober
2012/
10.00
WIB

5.

Senin/
22
oktober
2012/
10.00
WIB

6. RR : 1824x/menit
7. Pasien merasa
nyaman
Gangguan pola
Setelah dilakukan
1.
tidur b.d
tindakan
Fisiologi
keperawatan
2.
(pusing yang
selama 2x24 jam
berputar-putar)
masalah
keperawatan
3.
gangguan pola
tidur dapat
teratasi dengan 4.
KH sbb:
1. Konjungtiva
tidak anemis
2. Mata tidak
5.
berkantung
3. Dapat tidur 4-6
jam
4. Tidur nyenyak
tidak mudah
terbangun
6.
5. Nadi : 60-100
mmHg
6. TD : 140/90
mmHg
7.

mertigo

Kaji jumlah jam1.


tidur pasien
Mengobservasi2.
intensitas tidur
pasien
3.
Ciptakan
lingkungan yang
nyaman
4.
Jelasakan
pentingnya tidur
yang adekuat 5.
untuk kesehatan
Beritahu pada
keluarga untuk
memberikan 6.
pijatan yang
nyaman saat 7.
memulai tidur
Kolaborasi
dengan
pemberian
sedatif
Diskusikan
dengan dokter
tentang perlunya
meninjau
kembali
program
pengobatan jika
berpengaruh
pada pola tidur.
Resiko nutrisi
Setelah dilakukan
1. Pantau intake 1.
kurang dari
tindakan
dan output pada
kebutuhan tubuh keperawatan
pasien
b.d tidak
selama 3x24 jam2. Timbang BB 2.
adekuatnya
masalah nutrisi
pasien
intake makanan kurang dari
3. Anjurkan
3.

nyeri dan obat untuk


vertigo

Mengetahui berapa
jam tidur pasien
Mengetahui tingkat
insomnia pasien
Menciptakan suasana
rileks yang bisa
mempermudah tidur
Karena saat tidur
tubuh melakukan
metabolisme
Kenyamanan tubuh
pasien dapat
membantu proses
memulai tidur
Untuk membantu
tidur pasien
Tidur dapat stabil dan
obat tidak
membahayakan bagi
tubuh pasien

Mengetahui
keseimbangan nutrisi
pada tubuh pasien
Untuk memantau BB
pasien
Menaikkan BB

1.
2.
3.
4.
5.
6.

X.

kebutuhan tubuh
dapat teratasi
dengan KH sbb :4.
Nafsu makan
bertambah
BB tidak
berkurang
Turgor elastis
Pasien tidak
5.
merasa lemas
Makan 1 porsi
habis
Tidak ada mual
muntah
6.

makan sedikit
tapi sering
4.
Beritahu pada
pasien dan
5.
keluarga untuk
makan makanan
yang disukai
pasien
6.
Beritahu pasien
atau keluarga
tentang
makanan yang
bergizi dan tidak
7.
mahal
Ajarkan metode
untuk
perencanaan
makan
7. Kolaborasi
8.
dengan ahli gizi
8. Laporkan pada
dokter jika
pasien menolak
makan

TINDAKAN KEPERAWATAN/IMPLEMENTASI
No Tgl/jam
No.
Implementasi
Dx
1
Senin,
3
Mengkaji nyeri (PQRST)
22-102012
10.30
WIB

pasien
Agar nafsu makan
pasien bertambah
Selain mendapatkan
gizi yang baik hal ini
dapat pula
menghemat biaya
Melakukan hal-hal
yang biasa klien
lakukan saat makan
agar nafsu makan
meningkat
Mengetahui diet
pasien dan
menentukan makanan
yang banyak
mengandung gizi
yang cukup
Dokter dapat
menentukan obat
pengganti nutrisi
yang cukup dan atau
dokter memberikan
obat penambah nafsu
makan.

Respon klien
S : pasien mengatakan pusing
berputar-putar
P : nyeri karena vertigo
Q : seperti di tusuk-tusuk
R : nyeri kedua pipi hingga
sekitar mata
S:9
T : saat duduk/ menunduk
O : -Pasien tampak meringis
kesakitan

TTD

10.45
WIB

11.30
WIB

1, 2,
3,4

13.00
WIB

13.10
WIB

Selasa,
23-102012
09.00

Memberikan posisi yang S : pasien mengatakan lebih


nyaman
nyaman dengan posisi yang
diberikan perawat
O: -Pasien terlihat lebih
nyaman
-Pasien tampak tenang
Memberikan kompres air
hangat
S : Pasien mengatakan mau
dikompres
O : Suhu 38,3C
Pasien tampak resah
Mengkaji tingkat aktivitas
yang dijalani pasien
S : Pasien mengatakan saat
selama di rumah sakit.
dirumah sakit hanya tidur dan
ke kamar mandi
O : Pasien tampak ingin
melakukan aktivitas secara
mandiri
Melakukan pemeriksaan
TTV
S:O : suhu 37,9C
TD : 170/100 mmHg
RR : 22x/menit
N : 86x/menit
Menganjurkan makan
sedikit tapi sering
S : pasien mengatakan mau
melakuakam
O : pasien tampak kooperatif.
Menjelaskan pentingnya
tidur
S : klien mengatakan ingin tidur
tapi sulit.
O : klien tampak mengantuk
Adanya kantung mata
Mengajarkan mengubah
posisi kepala sesering
S : Pasien mengatakan mau
mungkin sebagai terapi
mencobanya
penghilang pusing
O : pasien tampak kooperatif
Memvalidasi nyeri pada
S : pasien mengatakan nyerinya
pasien
masih terasa hebat dan seperti
berputar-putar
O : Wajah pasien tampak

WIB

meringis kesakitan
-Qualitas seperti ditarik-tarik
-Skala 8

10.00
WIB

Memantau intake dan


output pada pasien

S : pasien mengatakan sudah


minum sekitar 3 gelas
O : input cairan 900 cc
Memberitahu pada pasien S : Pasien mengatakan ya
dan keluarga untuk makan O : Pasien tampak kooperatif
makanan yang disukai
pasien
Melakukan pemeriksaan
S : Pasien mengatakan ya
TTV
O : suhu 36,4C
TD : 150/90 mmHg
RR : 20x/menit
N : 80x/menit

11.30
WIB

1,2,
3,4

13.00
WIB

Mengobservasi intensitas
tidur pasien

Memberitahu pada
keluarga untuk
memberikan pijatan yang
nyaman saat memulai
tidur

15.10
WIB

S : Pasien mengatakan mau


Mengajari teknik relaksasi diajari
O : pasien terlihat kooperatif,
wajah tampak meringis
kesakitan karena nyeri.

16.00
WIB

S : Pasien mengatakan sudah


mengerti
O : Pasien tampak sudah
melakukan dan sudah paham

16.30
WIB

1,2,
3,4

Mengajarkan pada pasien


untuk menggunakan alatalat alternatif dalam
beraktivitas
Melakukan pemeriksaan
TTV

S : pasien mengatakan belum


bisa tidur
O : mata pasien masih terlihat
berkantung, pasien tampak
mengantuk.
S : Istri pasien mengatakan
sudah melakukan pijatan
O : Pasien dan keluarga tampak
resah

S:O : Suhu 38,2 C


N : 84x/menit

17.55
WIB

Rabu,
24-122012
10.00
WIB

Memberikan injeksi
Ranitidin. Menganjurkan
untuk minum parasetamol
per oral.
Memvalidasi nyeri pada
pasien

Memvalidasi kemampuan
tidur pasien

TD : 140/80 mmHg
RR : 22x/menit
S : Pasien mengatakan sedikit
sakit saat diinjeksi
O : Ranitidin masuk 25mg/ml
Paracetamol masuk
500mg/oral
S : Pasien mengatakan masih
nyeri pada wajahnya dan terasa
berputar-putar serta seperti
ditarik-tarik
O : Pasien tampak bingung dan
kesakitan
Quality : seperti ditarik-tarik
Skala 8
S : Pasien mengatakan semalam
bisa tidur tapi dengan bantuan
obat tidur
O : Pasien tampak segar,
kantung mata tidak ada

11.20
WIB

Memberitahu pasien
tentang makanan yang
banyak mengandung
karbohidrat dan gizi yang
cukup

S : Pasien mengatakan sudah


cukup mengerti atau paham
tentang jenis-jenis makanan
tersebut.
O : pasien tampak mengerti,

12.00
WIB

1,2,3,
4

Melakukan pemeriksaan
TTV

13.20
WIB

Memotivasi pasien untuk


tetap makan sesering
mungkin.

S : Pasien mengatakan
berkenan untuk dilakukan
pemeriksaan TTV
O : suhu 37C ,
TD : 110/70 mmHg
RR : 22X/menit
N : 88x/menit
S : pasien mengatakan ya
O : Pasien tampak kooperatif.

21.10
WIB

1, 5

Memberikan injeksi
Mecobalamin 500g

S:O : Pasien tampak kesakitan


saat

3, 4

XI.

CATATAN KEPERAWATAN
Hari/Tgl/Jam No.Dx
Senin, 221
10-2012
14.00 WIB

Menciptakan lingkungan
yang nyaman
(membaringkan pasien
tanpa bantal ditempat
tidur dan membersihkan
seprei)

diinjeksi
-Mecobalamin masuk
500g
- Pasien tidak alergi obat
Mecobalamin
S : Pasien merasa lebih baik
tapi tetap merasa sedikit nyeri
O : Skala nyeri 7
Quality : seperti ditarik-tarik
Sprei bersih

Evaluasi
S : Pasien mengatakan belum bisa ke kamar mandi karena
pusing
O: Pasien tampak lemah
Kekuatan otot ekstremitas bawah 3
Pasien menggunakan bantuan minimal
A : Masalah resiko jatuh belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi

S : Pasien mengatakan badannya masih panas


O : Suhu 38C
N : 86x/menit
RR : 22x/menit
TD : 170/100 mmHg
Akral teraba hangat
A : Masalah hipertermi belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (2, 5)

S : Pasien mengatakan masih terasa nyeri atau pusing


seperti berputar-putar dan mata seakan-akan tertarik
kedalam
O : Pasien tampak bingung, takut, dan cemas
TD : 170/100 mmHg, Suhu 38C
A : Masalah nyeri belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (3,4,5)

S : pasien mengatakan masih tidak bisa tidur

Ttd

O : klien tampak mengantuk, mata berkantung


A : masalah gangguan pola tidur belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (3,4,5)

Selasa, 2310-2012
20.00 WIB

S : Pasien mengatakan makan selalu tidak habis


O : makan hanya habis porsi saja (150 cc/tiap kali
makan)
A : Masalah nutrisi belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (5,6,7)

S : Pasien mengatakan sudah berjalan sendiri ke kamar


mandi
O : kekuatan otot pasien 4
Pasien tampak semangat dalam berjalan meski menahan
nyeri/pusing
A : Masalah resiko jatuh belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (2,5,6,7,8)

S : Pasien mengatakan badanya panas lagi


O : Suhu 38,2C
Nadi 84x/menit
RR : 22x/menit
TD : 140/80 mmHg
A : Masalah hipertermi belum teratasi
P : lanjutkan intervensi (2, 5)

S : Pasien mengatakan masih nyeri di wajah seperti ditariktarik


O : klien tampak meringis kesakitan, skala nyeri 8
A : Masalah nyeri belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (2, 3, 4)

S : Pasien mengatakan tidur tidak nyenyak dan sering


terbangun
O : Pasien tampak bingung dan resah
TD : 140/80 mmHg
Suhu 38,2 C
A : Masalah gangguan pola tidur belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (3,5,6)

Rabu, 24-102012
08.00 WIB

S : Pasien mengatakan nafsu makan meningkat


O : makan habis porsi, tidak ada mual
A : masalah resiko nutrisi sedikit teratasi
P : pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan ke kamar mandi minta didampingi


istrinya karena takut jatuh
O : TD : 110/70 mmHg
N : 88x/menit
RR : 22x/menit
A : Masalah resiko jatuh teratasi
P : pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan badanya sudah tidak panas


O : Suhu 37C
TD : 110/70 mmHg
N : 88x/menit
RR : 22x/menit
A : Masalah hipertermi teratasi
P : Pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan masih nyeri dan pusing, apalagi saat


digunakan duduk atau berdiri
O : Pasien tampak resah, skala nyeri 7
TD : 110/60 mmHg
N : 88x/menit
RR : 22x/menit
A : Masalah nyeri belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi (2, 3, 4)

S : Pasien mengatakan sudah dapat tidur meskipun hanya 5


jam
O : Pasien tampak tidak mengantuk lagi, tidak ada kantung
mata
TD : 110/70 mmHg
A : Masalah gangguan pola tidur teratasi
P : Pertahankan intervensi

S : Pasien mengatakan jika makan sudah habis 1 porsi dan


tidak mual.
O : Intake meningkat dari porsi menjadi 1 porsi

A : masalah resiko nutrisi teratasi


P : Pertahankan intervensi

PATHWAY KONSEP

Otologi

Neurologik

-Meniere,

-Gangguan Visus

-Parese N VIII

-MS

-Otitis media

-Ggn Serebelum

Menyerang

N. III, IV, VI terganggu

Hipertensi

Telinga bagian

Psikiatrik

Fisiologi

(Depresi, Ansietas
Fobia, Psikosomatis)

Gangguan
keseimbangan

tekanan darah

Mual, muntah

naik turun

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Dalam

mata menjadi kabur


Diteruskan ke

Tinitus

keseimbangan terganggu

pembuluh darah telinga

Gangguan persepsi sensori pendengaran


Tidak mampu berfokus pada
Pikiran

Pasokan darah
ke N.VIII tidak stabil
Keseimbangan terganggu

Gangguan proses fikir

Bakteri menginfasi SSP

Intoleransi aktivitas
Menyebar ke N. VIII

Resiko Jatuh
N.VIII terganggu

Sempoyongan

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Dilakukan dengan cara wawancara.Menggali informasi dari pasien langsung (Autoanamnesa)
dan informasi dari keluarga pasien (Alloanamnesa) serta dengan data-data dari rekam medik
pasien yang selalu digunakan dalam segala aspek atau tindakan yang pernah dilakukan
terhadap pasien.
Menurut Prof.Dr.Zullies Ikawati, Apt Vertigo disebabkan karena gangguan keseimbangan di
telinga bagian dalam atau mungkin di otak. Bentuk paling sering dari vertigo adalah Benign
Paroxymal Positional Vertigo (BPPV), yaitu adanya ilusi gerakan yang disebabkan oleh
gerakan kepala secara mendadak atau gerakan kepala ke arah tertentu. Jenis seperti ini
umumnya tidak berat dan dapat teratasi. Pada umunya penderita akan merasakan sensasi
gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan yang berputar. Selain itu,
kadang ada juga yang disertai gejala mual muntah, berkeringat, dan gerakan mata yang
abnormal. Gejala ini bisa terjadi dalam satuan menit atau jam, dapat bersifat konstan atau
episodik (kadang-kadang). Ada pula yang merasakan telinga berdenging, gangguan
penglihatan, lemah, sulit bicara, atau kesulitan berjalan(Ikawati, 2010)
Namun pada pasien yang menjadi kasus kelolaan ini mengalami pusing yang berputar-putar
serta bagian sekitar mata seperti ditarik-tarik kedalam. Suhu tubuh yang selalu tinggi dan
derajat angkanya naik turun tapi tetap konstan termasuk kedalam hipertermi. Pasien
merasakan tubuhnya menggigil dan banyak mengeluarkan keringat. Selama sakit nafsu
makan pasien turun, hal itu dikarenakan adanya mual muntah yang dirasa pasien. Lima hari
pasien hanya minum air putih dan enggan untuk mengkonsumsi nasi. Herannya dengan
kondisi lemah yang dialami pasien ini masih dapat melakukan ADL secara mandiri, meskipun
nyeri (pusing) yang dialami ini lebih hebat dari nyeri yang dialami sebelumnya. Pasien juga
memiliki riwayat pengobatan penyakit sinus yang dideritanya sejak beberapa tahun yang lalu.
Pemeriksaan fisik pada pasien dengan vertigo meliputi :

1. Nistagmus
2. Pemeriksaan neurologis dengan perhatian khusus pada :
a) Posturografi : tes Romberg yang dipertajam, past-pointing test, Manuver Nylen-Barany atau
Dix-Hallpike
b) Tes kalorik
c) Saraf-saraf kranal
d) Fungsi motorik dan sensorik
3. Pemeriksaan penunjang meliputi :
a) Laboratorium : darah lengkap, profil lipid, asam urat, dan hemostasis
b) Foto Rontgen servikal
c) Neurofisiologi sesuai indikasi : EEG (elektroensefalografi), ENG (elektronistagmografi),
EMG (elektromiografi), BAEP (Brainstem Auditory Evoked Potential) dan audiometri
d) Neuroimaging seperti CT scan, MRI, dan ateriografi untuk mengetahui keadaan lesi atau
tidaknya bagian kepala yang mempengaruhi saraf.
(Dewanto, dkk.2009)
Pada pasien kelolaan hanya dilakukan pemeriksaan rontgen dan laboratorium untuk
mendukung diagnosa pada pasien, karena dilihat dari tanda-tanda yang ada pasien positif
menderita vertigo.
B. Diagnosa
Setiap pasien dengan vertigo pasti memiliki keluhan yang berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya. Namun sebagian besar pasien mengalami kejadian yang sama. Untuk keluhan
yang berbeda akan memunculkan diagnosa keperawatan yang berbeda pula. Berikut adalah
diagnosa keperawatan utama pada pasien dengan vertigo
1. Risiko terhadap cedera berhubungan dengan perubahan mobilitas karena gangguan cara
berjalan dan vertigo.
2. Kerusakan penyesuaian berhubungan dengan ketidakmampuan merubah gaya hidup yang
diperlukan karena sifat vertigo yang tidak dapat diperkirakan
3. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan haluaran cairan,
perubahan masukan, dan obat.
4. Kurang perawatan diri : makan, mandi/higiene, berpakaian/berdandan, toileting,
berhubungan dengan disfungsi labirin dan episode vertigo.
5. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap, atau perubahan pada status kesehatan dan
efek ketidakmampuan dari vertigo. (Baughman,2000)
Dari berbagai diagnosa diatas hanya ada satu yang sesuai dengan diagnosa keperawatan pada
pasien kasus kelolaan yaitu risiko terhadap cedera. Namun diagnosa lain bertolak belakang.
Karena pada kasus kelolaan muncul diagnosa sebagai berikut :
1. Resiko jatuh b.d Gangguan keseimbangan N VIII
Diagnosa ini diambil karena pada pasien selalu aktif untuk melakukan ADL sendiri seperti ke
kamar mandi yang dilakukan secara mandiri tanpa ada seseorang yang mengawalnya.
Sehingga resiko kemungkinan untuk jatuh sangat besar terkait dengan kondisi pasien yang
lemah dan merasa pusing seperti berputar.

2. Hipertermi b.d Ketidakefektifan kerja hipotalamus


Pada pasien mengalami panas dan keluar keringat dingn serta suhu tubuh pasien selalu tinggi.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) b.d Agen cedera biologi
Kemungkinan pada pasien terjadi cedera pada bagian syarafnya karena dari hasil
pemeriksaan Rontgen sinus mengalami penebalan dan kemungkinan dapat menganggu saraf
nervus vestibularis sehingga timbul nyeri tiba-tiba dan terjadi vertigo.
4. Gangguan pola tidur b.d Fisiologi (nyeri seperti berputar-putar)
Karena tingkat nyeri yang skalanya tinggi (skala nyeri pasien 9). Sangat mengganggu pola
tidur pasien. Pasienpun susah untuk memulai tidur. Bahkan tidur malam hanya dirasakan
kurang lebih 2 jam saja.
5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Tidak adekuatnya intake makanan.
Timbulnya mual disertai muntah menjadi alasan utama untuk menegakan diagnosa resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Selain itu disertai adanya intake yang tidak stabil karena
pasien hanya minum banyak dan tidak makan selama lima hari.

C. Pathway Kasus
Bakteri/Virus masuk saluran nafas (hidung)

Sinusitis

Penebalan sinus maksilaris

Bakteri masuk melalui


Saluran Eustacius

Menuju koklea ditelinga

Mengganggu jaringan sekitar sinus

nyeri pada pipi

mengganggu

jaringan sekitar mata


Dan sekitar mata

Gangguan Pola
Tidur
Nyeri Akut
Vestibularis terganggu

mata menjadi kabur dan


Timbul kekakuan
Inflamas

i
Gerak bola mata menjadi lambat
Suhu tubuh

Keseimbangan terganggu

meningkat

Pusing berputar

Hipertermi
Jalan sempoyongan
Respon fisiologis

Resiko Jatuh

Mual & muntah

Nafsu makan turun

Resiko Nutrisi Kurang dari


Kebutuhan Tubuh

D. Intervensi
Sasaran pasien mencakup tetap bebas dari setiap cedera yang berkaitan dengan
ketidakseimbangan dan atau jatuh : menyesuaikan pada modifikasi gaya hidup untuk
mengurang ketidakmampuan dan menguatkan kontrol dan kemandirian, mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit, tidak mengalami ansietas yang berkelanjutan serta
mampu untuk melakukan ADL (Baughman, 2000)
Pada rencana keperawatan lebih menekankan pada rencana keperawatan untuk mengatasi
diagnosa yang muncul lebih dominan. Perawat lebih mengutamakan tindakan mandiri
perawat daripada tindakan kolaborasi. Meskipun tindakan mandiri perawat lebih kecil
presentase untuk mencapai keberhasilan, namun jika tetap dilakukan secara berangsur-angsur
akan menciptakan kesembuhan atau sedikit teratasinya keluhan yang muncul.
Pada pasien kasus kelolaan lebih diutamakan untuk mengatasi resiko jatuh karena bahaya dari
jatuh akan memunculkan komplikasi yang serius pada pasien serta menambah keluhan yang
dirasa pasien. Untuk mengatasi nyeri (pusing) dilakukan setelah hipertermi dapat teratasi.
Karena lebih mudah mengatasi hipertermi daripada nyeri yang muncul. Untuk mengatasi
nyeri (pusing) akan dilakukan proses terapi sederhana. Gangguan pola tidur akan dilakukan
tindakan pemberian lingkungan yang nyaman dan resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
akan lebih ditekankan pada pemberian pendidikan kesehatan pada pasien untuk mengubah
kebiasaan makan serta pemberian motivasi tetap makan karena kesembuhan dimulai dari
nutrisi yang baik.
E. Implementasi
Pada kasus vertigo sentral, karena disebabkan gangguan vaskuler, penatalaksanaanya sesuai
dengan tatalaksana pada kasus stroke. Pada vertigo penatalaksanaanya terdiri dari terapi
kausal, terapi simtomatik, terapi rehabilitasi yaitu dengan menggunakan metode BrandDaroff, serta dilakukan operasi. Prosedur operasi dilakukan bila proses reposisi kanalis tidak
berhasil. Berikut contoh-contoh obat antivertigo :
1. Penyekat Kalsium : Flunarisin 5-10 mg diberikan 1x sehari, Sinarisin 25 mg diberikan 3x
sehari.
2. Antihistamin : Prometasin 25-50 mg diberikan 3x sehari, Dimenhidrat 50 mg diberikan 3x
sehari.
3. Antikolenergik : Skopolamin 0,6 mg diberikan 3x sehari, Atropin 0,4 mg diberikan 3x sehar.
4. Monoaminergik : Amfetamin 5-10 mg diberikan 3x sehari, Efedrin 25 mg diberikan 3x
sehari.
5. Phenotiazine : Proklorperasin 3 mg diberikan 3x sehari, Klorperasin 25 mg diberikan 3x
sehari
6. Benzodiazepin : Diazepam 2-5 mg diberikan 3x sehari.
(Dewanto, 2009.Hal.113-114)
Penatalaksanaan diet diberikan minuman atau makanan rendah natrium yaitu 2000 mg per
hari. Selan itu dianjurkan untuk menghindari alkohol, nikotin, dan kafein. Sedangkan

penatalaksanaan bedah dilakukan 3 cara yaitu : Dekompresi atau pirai kantung endolimfatik,
Labirinektomi (penghancuran telinga dalam), dan terakhir dilakukan pembedahan Seksi saraf
vertibular (saraf kranial ke-8). (Baughman, 2000)
Sedangkan pada pasien ini selain diberikan tindakan mandiri perawat pasien juga diberikan
terapi farmakologi. Terapi yang diberikan antara lain :
Jenis Terapi
Dosis
Golongan &
Fungsi & Farmakologi
Kandungan
Cairan IV :
Infus RL
16 tpm Cairan elektrolit
Keseimbangan cairan dan
elektrolit dalam tubuh
Ranitidin

25 mg

Obat saluran cerna

Terapi tukak lambung,


mengatasi mual

- Captopril

25 mg

Antihipertensi

Mengobati hipertensi ringan


s/d sedang

- Sohobion

100 mg

Vitamin B

Terapi defisiensi Vit B1, B6, &


B12

6 mg

Antineoplastik,
Imunosupresan

Obat Peroral :

b)

- Mertigo

Mengobati vertigo dan yang


berhubungan dengan gangguan
keseimbangan
Terapi diatas diberikan menurut keluhan yang dialami pasien dan hanya ada satu obat
antivertigo yaitu mertigo yang menjadi terapi utama penangan vertigo.
F. Evaluasi
Pada pasien vertigo yang dikelola setelah dilakukan tindakan keperawatan berikut dengan
kolaborasi yang diberikan, diagnosa keperawatan yang dapat teratasi meliputi nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh, hipertermi, gangguan pola tidur, dan resiko jatuh pada pasien dapat
diantsipasi. Sedangkan diagnosa yang belum dapat teratasi adalah masalah nyeri atau pusing
yang berputar-putar. Pasien mengatakan bahwa nyerinya akan hilang sejenak setelah
diberikan suntikan, namun setelah itu nyeri akan kembali dan akan lama dirasakan oleh
pasien.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap penyakit yang sama memiliki manifestasi yang berbeda-beda. Seperti halnya pada
penyakit vertigo ini yang memunculkan diagnosa keperawatan yang berbeda karena setiap
diagnosa yang ditegakkan diambil dari dasar keluhan pasien. Teori dan praktek adalah hal
yang berhubungan, jika pada berbagai literatur telah disampaikan mengenai penyakit vertigo
yang memberikan tanda dan gejala sesuai penyakit. Ternyata sebagian besar tanda dan gejala
itu sama dengan realitas yang ada. Namun menurut pendapat prof.Dr.Zullies Ikawati, Apt
yang mengatakan bahwa vertigo dengan jenis pusing yang berputar dapat diatasi dengan
mudah mungkin beda penatalaksanaanya. Bukti nyata pasien dengan vertigo BPPV tidak
mudah untuk disembuhkan. Pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya dan
sempat sembuh tapi tidak dapat sembuh total. Pasien telah diberikan berbagai obat selama
kurang lebih satu minggu untuk mengatasi pusing yang dideritanya namun hasilnya pasien
tetap merasa pusing, meskipun pusing yang dideritanya sedikit turun.
B. Saran
Pasien dengan penyakit apapun pasti ada kalanya obat yang dapat menyembuhkan penyakit
tersebut. Oleh karenanya jika pasien dengan vertigo ini sulit untuk disembuhkan hendaknya
setiap tindakan keperawatan baik mandiri perawat maupun kolaborasi harus dilakukan secara
bertahap dan jangan sampai berhenti. Pasien vertigo ini telah merasakan nyeri atau pusingnya
sedikit turun setelah diberikan injeksi. Dari informasi pasien tersebut kita dapat memberikan

terapi obat injeksi sesuai yang telah diberikan pada pasien agar nyeri yang dirasakan tidak
kembali ke episode nyeri awal yang dirasakan.

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C.2000.Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku dari Brunner &


Suddarth.Jakarta : EGC
Dewanto, George...[et al.].2009.Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit
Saraf.Jakarta : EGC
Ikawati, Zullies.2010.Resep Hidup Sehat.Yogyakarta : Kanisius
Santosa, Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.Alih bahasa.Jakarta
: Prima Medika
Wilkinson, Judith M.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC