P. 1
Kliping Terorisme Beserta Komentarnya

Kliping Terorisme Beserta Komentarnya

|Views: 3,605|Likes:
Dipublikasikan oleh HANDIK ZUSEN
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu

More info:

Published by: HANDIK ZUSEN on Mar 31, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2013

pdf

text

original

Sumber : http://www.tribunbatam.co.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=39914&Itemid=1118, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Deradikalisasi Cegah Teror
SEHARI menjelang perayaan Natal, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror berhasil menangkap buron kasus terorisme, Baridin alias Bahrudin Latif. Penangkapan mertua Noordin M Top (gembong teroris yang tewas ditembak polisi di Solo, Jawa Tengah) tersebut dilakukan di wilayah Kabupaten Garut, Kamis (24/12). Sejak menjadi buron, Baridin bersembunyi di sebuah gubuk berukuran 2X3 meter di Kampung Banyuasih, Kecamatan Cikelet, Garut. Selama tinggal di kawasan tersebut, mulai Agustus 2009, Baridin mengaku bernama Usman dan aktif dalam kegiatan warga setempat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Baridin merupakan tokoh cukup penting dalam jaringan terorisme di Indonesia. Pertengahan tahun 2009 lalu, polisi mendapat temuan sejumlah bahan peledak yang disembunyikan Baridin di belakang rumahnya, Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Namanya langsung mencuat setelah polisi mendapat keterangan bahwa Baridin mengawinkan anak perempuannya, Arina Rachmawati, dengan pimpinan jaringan teroris Noordin M Top. Baridin bersama istri dan Arina kabur dari rumahnya di Cilacap pada 20 Juli 2009 atau tiga hari sebelum Densus 88 melakukan penggerebekan, sehingga sejak saat itu ia menjadi buron polisi. Penangkapan Baridin tentu saja merupakan sebuah momentum untuk mengungkap lebih dalam jaringan terorisme di Indonesia yang diyakini mulai kocar-kacir setelah tewasnya Noordin M Top dan kawan-kawannya di Solo. Sebelum tewas, Noordin Cs diketahui telah melakukan proses kaderisasi di beberapa daerah. Penangkapan Baridin dan sejumlah orang, serta tewasnya para tersangka kasus terorisme bukan resep mujarab untuk memberantas kelompok tersebut. Law enforcement alias penegakan hukum hanya akan efektif manakala diikuti oleh gerakan deradikalisasi (mencegah munculnya kelompok radikal dan mengembalikan mereka pada kehidupan normal) yang terintegerasi dan kontinyu. Selama ini gerakan deradikalisasi hanya dilakukan oleh jajaran Polri dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Belum menjadi sebuah gerakan nasional yang melibatkan instansi terkait seperti Departemen Agama, Departemen Sosial, Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi. Departemen Hukum dan HAM, serta instansi terkait lainnya.

2 Upaya deradikalisasi di negara-negara lain, seperti Arab Saudi, sudah demikian terprogram dan mendapatkan dukungan dana besar. Akar persoalan sehingga memunculkan kelompok radikal bukan hanya menyangkut masalah ekonomi semata tetapi terkait banyak sekali faktor yang saling kait mengait. Tim dari Polri baru berkonsentrasi melakukan proses deradikalisasi terhadap para tersangka/terdakwa, terpidana, dan mantan narapidana kasus terorisme. Karena berbagai keterbatasan, Polri tidak mampu menjangkau anggota kelompok-kelompok radikal yang belum terlibat dalam aktivitas terorisme. Kelompok-kelompok radikal biasanya melakukan aktivitas secara tertutup dan eksklusif sehingga sulit dideteksi keberadaannya di tengah masyarakat. Kalaupun masyarakat mencurigai adanya kelompok radikal, tidak mudah untuk mendeteksi secara lebih dalam kegiatan mereka karena menutup diri dari masuknya orang luar. Penanganan yang kurang tepat terhadap kelompok semacam itu akan memicu terjadinya ketegangan dan masalah sosial. Oleh karena itu perlu sebuah gugus tugas terintegerasi, terdiri dari para pakar di bidangnya serta instansi terkait, untuk mendekati, membina, dan mengembalikan kelompok bersangkutan kepada kehidupan normal. Masyarakat juga perlu mendapat edukasi secara terus menerus dalam mendeteksi keberadaan kelompok radikal dan para buron kasus terorisme. Dari hasil pemeriksaan terhadap para buron yang tertangkap, mereka dapat menghindar dari kejaran aparat karena mendapat perlindungan dari kelompok radikal. Kelompok radikal dan jaringan teroris memang sulit dibedakan, meskipun sebenarnya berbeda. Apalagi dalam kenyataan, kelompok radikal menjadi sumber kaderisasi dan pemasok anggota jaringan terorisme. Keduanya berpotensi merusak keharmonisan kehidupan sosial masyarakat negeri ini yang sangat majemuk, terutama dari segi agama. Sikap toleransi dan menghormati kemajemukan merupakan harga mati agar negeri ini terbebas dari teror. (Sabtu, 26 Desember 2009) Komentar : Fenomena keberhasilan proses kaderisasi yang dilakukan oleh Noordin M. Top dalam merekrut anggota-anggota baru dalam jaringan teroris JI di Indonesia, termasuk perekrutan para pelaku bom bunuh diri (Martir) yang terungkap sebagai fakta hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh Polri melalui Densus 88/AT serta Satgas Bom Polri merupakan bukti dari tingginya tingkat bahaya penyebaran pemikiran radikal para teroris JI dengan cara menyimpangkan konsep-konsep ajaran Islam, khususnya dalam hal Jihad. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah menaruh perhatian terhadap upaya-upaya deradikalisasi terorisme (pre-emtif dan preventif) guna mencegah berkembangnya paham terorisme di Indonesia disamping pelaksanaan upaya-upaya penegakan hukum (represif). Apabila upaya-upaya deradikalisasi terorisme tersebut dilakukan secara optimal oleh pemerintah Indonesia maka niscaya hal tersebut akan lebih memberikan sumbangsih

3 positif dalam pemberantasan terorisme di Indonesia daripada hanya sekedar mengutamakan upaya-upaya penegakan hukum melulu. Disamping itu, dengan optimalisasi upaya-upaya deradikalisasi terorisme tersebut, maka cost akibat kerugian yang ditimbukan oleh aksi terorisme dapat dihindari sejauh mingkin. Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/12/06/Buku/index.html, diakses pada tanggal 30 Januari 2010.

Membendung Terorisme Deradikalisasi

dengan

Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, dan merasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan. Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudah tewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian, terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengan keyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti. Dalam bukunya, Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jenderal) Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadap keamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukan kajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalam menumpas terorisme. Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untuk meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu di hadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis atau ekstrem sebagai fenomena global. Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya di kalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. Fundamentalisme Kristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hingga kini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukung utama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadi harus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan. Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasi geopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwa Palestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsa Yahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu. Adapun fundamentalisme Islam--yang sangat dirasakan akhir-akhir ini--justru terjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu,

4 dalam praktek, jihad--sebagai ajaran agama yang suci--menjelma menjadi perilaku kekerasan yang dibungkus dengan teror. Komisaris Besar Petrus Reinhard Golose sepakat dengan Hendro. Dalam bukunya, Deradikalisassi Terorisme, ia menyebut beberapa gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama. Seperti ekstremisme Sikh di India, Aum Shinrikyo di Jepang, Timothy McVeigh di Amerika, Irish Republican Army (IRA) di Irlandia Utara, Moro Islamic Liberation Front dan Abu Sayyaf Group di Filipina, dan gerakan Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. Latar belakang kedua penulis--yang banyak berhubungan dengan penanganan terorisme di Indonesia--menjadi nilai lebih dari buku yang mereka tulis. Sejak dari bagian I, misalnya, Hendro--yang juga mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)-mengajak pembaca menyelami alam pikiran para teroris secara gamblang dan detail. Bahasa Hendro khas seorang komandan yang menjelaskan perihal terorisme kepada anak buahnya. Misalnya ketika ia menjelaskan struktur organisasi dan strategi kaum teroris. Bahwa hampir semua kelompok teroris memiliki pusat komando yang terkadang berlokasi di luar negeri, sehingga mereka sulit tertangkap. Tak lupa Hendro juga memaparkan kelemahan mereka ketika mereka mengalami perpecahan, yang mengakibatkan kemungkinan terjadinya distorsi informasi internal. Kelemahan ini tentu saja menguntungkan aparat negara dalam operasi penumpasan. Namun, sayang, Hendro tidak secara detail menyebut strategi yang pas untuk memberantas mereka. Pembaca dipersilakan menyimpulkannya sendiri. Sebaliknya Petrus Golose--perwira aktif kepolisian yang juga anggota Satuan Tugas Bom Markas Besar Kepolisian RI--menyampaikan usul konkret untuk memberantas terorisme, khususnya dengan cara deradikalisasi. Dalam bukunya setebal 145 halaman, Petrus menjelaskan pentingnya deradikalisasi terorisme. Baginya, penangkapan, pemidanaan, bahkan eksekusi mati hanya merupakan solusi sesaat belaka. Sebab, organisasi teroris cukup giat bermetamorfosis, berubah bentuk menjadi sel-sel aktif yang menebar paham radikal secara laten. Tak hanya menawarkan teori, Petrus juga menampilkan sejumlah pengalaman polisi dalam melakukan program deradikalisasi yang dilakukan sejak 2004. Usul deradikalisasi Petrus rupanya merupakan adopsi dari program serupa di Arab Saudi, Mesir, Yaman, dan Singapura. Tentunya setelah disesuaikan dengan karakter penduduk Indonesia. Paparan Hendro dan Petrus tentu sangat bermanfaat, meskipun operasi pemberantasan terorisme selama ini belum sesuai dengan harapan banyak pihak. Gerakan kaum teroris belum lenyap sampai ke akar-akarnya. Pertengahan Juli lalu, misalnya, bom meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan. Karena itu, ada baiknya program deradikalisasi dilanjutkan. l ERWIN DARIYANTO (06/12/2009) Komentar :

5 Konsep deradikalisasi terorisme yang dikemukakan oleh Jenderal TNI (Purn.) AM. Hendropriyono maupun Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose merupakan konsep modern dalam pemberantasan terorisme. Konsep tersebut telah banyak diterapkan di negara-negara maju dengan dukungan anggaran yang cukup besar mengingat seriusnya eskalasi ancaman terorisme terhadap stabilitas keamanan di tiap negara di dunia saat ini. Indonesia yang merupakan salah satu negara sasaran aksi terorisme, khususnya oleh jaringan/kelompok JI, hingga saat ini belum menaruh perhatian serius terhadap pelaksanaan deradikalisasi terorisme tersebut. Deradikalisasi terorisme di Indonesia saat ini baru digagas dan dilaksanakan secara mandiri oleh Polri melalui tim deradikalisasi terorisme Polri. Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/08/20/131457/1186299/10/petrus-goloseprogram-deradikalisasi-teroris-baru-secuil-dilakukan, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Petrus Golose: Program Deradikalisasi Teroris Baru Secuil Dilakukan
Novi Christiastuti Adiputri - detikNews Jakarta - Untuk memberantas para pelaku teror tidak hanya dilakukan dengan penangkapan. Upaya deradikalisasi mereka melalui pembinaan di tahanan juga dinilai penting. Tapi sayangnya hal ini belum diperhatikan. "Deradikalisasi sebenarnya sudah dilakukan, namun hanya secuil, hanya di LP Narkotika," kata penulis buku 'Deradikalisasi Teroris' Kombes Pol Petrus R Golose usai diskusi di Kampus UI, Depok, Kamis (20/8/2009). Untuk itu, upaya deradikalisasi atau membuat para tahanan eks kasus teroris tidak kembali ke pemikiran semula, perlu adanya payung hukum yang jelas. "Kalau pun bukan payung hukum, bisa berupa program dari pemerintah. Karena kalau hanya mengikuti pemidanaan setelah ditangkap, beberapa tahun mereka pasti kembali lagi," jelas Petrus yang juga menjabat sebagai Kasat Cyber Crime di Mabes Polri ini. Sementara itu hal senada disampaikan Kepala Desk Antiteror Polhukam Ansya'ad Mbai. Menurut dia program deradikalisasi perlu dijadikan program nasional. "Karena kita harus obyektif bahwa deradikalisasi perlu didukung dasar hukum yang kuat contohnya tentang masa penahanan dan penangkapan yang perlu diperpanjang. Di Prancis, teroris saja bisa ditahan 2-3 tahun," jelasnya. Melakukan upaya deradikalisasi juga tidak bisa dilakukan parsial, hanya polisi saja. Tapi perlu juga pihak lain seperti Departemen Agama. "Menko Polhukam juga telah mendesak beberapa pihak untuk melakukan ini melalui

6 penyebaran buku Islam moderat di beberapa LP. Kita memang selalu dianggap terdepan tapi dibanding negara lain kita terlembek," jelasnya. (Kamis, 20/08/2009) Komentar : Konsep deradikalisasi terorisme dikemukakan oleh Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose secara detail dalam bukunya yang berjudul ”Deradikalisasi Terorisme : Humanis, Soul Approach dan Menyentuh Akar Rumput”. Ide tentang deradikalisasi terorisme tersebut dilatarbelakangi pengalaman maupun perenungan akademis Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose, mengingat yang bersangkutan merupakan salah satu master mind pemberantasan terorisme di Indonesia, khususnya melalui Satuan Tugas Bom Polri yang didukung dengan kualitas akademisnya selaku doktor di bidang ilmu kepolisian. Tujuan utama dari konsep deradikalisasi tersebut menurut Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose terutama adalah untuk menghentikan siklus terorisme yang tiada henti (vendetta cycle). Upaya pemidanaan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme. Kekerasan (dalam hal ini perbuatan terorisme) yang dibalas dengan kekerasan (dalam hal ini upaya pemidanaan oleh negara) hanya akan menimbulkan dendam (vendetta) tak berkesudahan. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan baru yang dapat menyelesaikan terorisme sampai ke akar rumput (grass root) secara humanis dan dapat menjangkau jiwa para teroris agar dapat mengalami proses perubahan dari jiwa yang kelam, penuh dendam dan strategi radikal, menjdai tercerahkan kembali dengan ajaran islam yang hakiki (mengingat hingga saat ini kejadian teror di Indonesia yang menonjol adalah dilakukan oleh kelompok JI (Al Jama’ah Al Islamiyah) dengan motivasi Jihad yang dilandasi pemahaman yang salah). Namun demikian, pelaksanaan deradikalisas terorisme tersebut di Indonesia belum optimal dikarenakan antara lain deradikalisasi dimaksud baru dilaksanakan oleh Polri saja dan belum mendapatkan dukungan pemerintah sebagaimana program deradikalisasi pada pelaku narkoba yang memang telah mejadi program nasional melalui pembangunan berbagai fasilitas rehabilitasi bagi pengguna narkoba. Oleh karena itu, melalui bukanya tersebut, Kombes Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose hendak menawarkan strategi deradikalisasi terorisme di Indonesia sebagai desai mutakhir yang dapat dijadikan program nasional dalam pemberantasan terorisme di Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak terkait, diantaranya Departemen Agama, Depkumham, Depsos, dll. Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0407/29/opi02.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Urgensi Asas Retroaktif pada UU No. 16/2003
Oleh Andry Wibowo, Sik,MH

7 Setelah menuai penghargaan dunia internasional, pemerintah Indonesia, berkaitan dengan penegakan hukum terhadap para terorisme pelaku tragedi bom Bali, masyarakat dikejutkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan berlakunya UU No. 16/2003 mengenai Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 2 Tahun 2002 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali. Adapun alasan utama yang dikemukan oleh lima orang hakim konstitusi adalah bahwa peledakan bom di Bali tidak dapat diketegorikan sebagai kejahatan luar biasa yang dapat dikenai prinsip hukum retroaktif. Meski keputusan MK itu sudah berlaku dan harus ditaati, tetap saja hal itu mengejutkan dan mencederai rasa keadilan korban dan keluarganya sekaligus meningkatkan kembali kecemasan masyarakat bahwa pelaku Bom Bali akan mendapatkan impunitas atas dasar keputusan tersebut. Keputusan ini pun sesungguhnya kurang mencerminkan penghargaan terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menyelesaikan kasus Bom Bali tersebut. Urgensi Asas Retroaktif Pemberlakuan Perpu No. 1 dan 2 tahun 2002 tidak terlepas dari berbagai masalah yang menyertai keberadaannya dalam sistem hukum pidana, memang sejak awal diundangkannya terjadi pro-kontra sebagai instrumen hukum pidana dalam kasus Bom Bali yang telah menewaskan lebih kurang 200 (dua ratus) orang dari berbagai latar kewarganegaraan. Penolakan atas diberlakukannya Perpu No. 1 dan 2 tahun 2002 tersebut dikarenakan Perpu tersebut menerapkan asas retroaktif (berlaku surut) bagi para pelaku bom Bali di mana hal ini dianggap tidak sesuai dengan asas legalitas pasal 1 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Penerapan ini pun dianggap melanggar prinsip-prinsip penghargaan terhadap hak asasi manusia yang melekat pada setiap orang. Tetapi penyimpangan tersebut sesungguhnya telah dilakukan secara hati-hati oleh pemerintah Indonesia yang juga secara aktif berkonsultasi dengan lembaga legislatif dalam merumuskan dan kemudian memberlakukannya. Penyimpangan terhadap hak asasi para pelaku bom Bali ditempuh untuk melindungi hak asasi sebagian masyarakat Indonesia yang lebih banyak, di mana hak asasi mereka telah direngut oleh adanya pengeboman itu, yang telah secara nyata mengakibatkan hilangnya nyawa ratusan orang dan telah merampas hak untuk mendapatkan rasa aman milik masyarakat luas. Aspek yuridis yang umum dikemukakan oleh mereka yang menolak diberlakukannya Perpu No. 1 dan No. 2 tahun 2002 tersebut adalah Pasal 28 I ayat 1 Amandemen ke-4 UUD 1945 yang berbunyi: ”Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diketahui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun”. Pernyataan ini diperkuat oleh bunyi pasal 4 UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM. Tetapi permasalahan ini tidak berhenti pada pernyataan kedua pasal tersebut, karena pada kenyataannya penjelasan Pasal 4 No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM menyatakan: ”Yang dimaksud dengan ”dalam keadaan apa pun” termasuk keadaan perang, sengketa bersenjata, dan atau keadaan darurat. Yang

8 dimaksud dengan ”siapa pun” adalah Negara, Pemerintah dan atau anggota masyarakat. Hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dapat dikecualikan dalam hal pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang digolongkan ke dalam kejahatan terhadap kemanusiaan”. Dari pasal ini jelas sesungguhnya penerapan asas retroaktif diperbolehkan khususnya untuk penanganan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu Bagir Manan Ketua Mahkamah Agung berpendapat bahwa ”Penyimpangan terhadap prinsip non-retroaktif ini diperkenankan apabila dibenarkan oleh hukum internasional”. Kejahatan Kemanusiaan Menurut hemat penulis, kasus bom Bali tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan. Hal ini dilihat dari adanya korban jiwa yang diperkirakan berjumlah 200 orang, yang kesemuanya ialah warga sipil atau setidak-tidaknya patut diduga terdiri dari warga sipil. Sehingga kemudian dapat dibandingkan bahwa dalam peristiwa peledakan bom Bali, para tersangka didakwakan telah melanggar pasal 6 Perpu No. 1 tahun 2002 Pasal 6: ”Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun”. Pengertian pasal tersebut juga memenuhi unsur pelanggaran HAM berat kategori kejahatan terhadap kemanusiaan yang tercantum dalam pasal 9 UU No. 26 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia huruf a yaitu: pembunuhan sebagai bagian dari serangan yang meluas dan sistematik dan diketahui ditujukan langsung terhadap warga sipil. Sehingga kemudian, keberadaan pasal mengenai berlaku surutnya Perpu Anti Terorisme ini merupakan pencerminan kaitan antara HAM dan terorisme yang dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ”covering both sides” yang ditinjau baik dari korban maupun pelaku teror agar kepentingan kedua pihak tadi sama-sama terjamin oleh hukum dari sisi korban, terorisme merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Yang terkait dengan hal ini, antara lain hak-hak individual seperti hak untuk hidup bebas dari rasa takut dan kebebasan dasar. Terkait pula ancamanancaman terhadap hak-hak kolektif seperti rasa takut yang bersifat luas, berbahaya bagi kehidupan demokrasi, integritas teritorial, keamanan nasional, stabilitas pemerintahan yang sah, pembangunan sosial ekonomi, ketenteraman masyarakat warga (civil society) yang pluralistik, harmoni dalam kehidupan internasional. Kasus bom Bali jelas tergolong tindak pidana terorisme yang bersifat mala per se, yang ditujukan dan diperhitungkan oleh pelakunya untuk memprovokasi suatu negara dengan melakukan teror terhadap masyarakat umum. Dalam sudut pandang perlindungan HAM, sesungguhnya pelaku tindak pidana terorisme, seorang tersangka pelaku tindak pidana terorisme tidak kehilangan hak untuk memperoleh bantuan hukum. Dengan demikian teranglah sudah bahwa terorisme dalam bentuk sebagaimana terjadi dalam peristiwa peledakan bom di Bali memenuhi unsur-unsur kejahatan kemanusiaan, sehingga terhadapnya dapat diberlakukan hukum yang berlaku surut (retroaktif). (29 Juli 2004)

9 Penulis adalah Kapolsek Metro Koja, Jakarta Utara Komentar : Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh penulis berita tersebut diatas bahwa sebenarnya terhadap peristiwa terorisme Bom Bali I selayaknya dapat diterapkan asas retroaktif sebagaimana yang dinyatakan dalam UU No. 16/2003 mengenai Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 2 Tahun 2002 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali. Pendapat dimaksud selaras dengan pendapat 4 Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang memberikan dessenting opinion dari keseluruhan 9 Hakim MK yang mengadili permohonan judicial review atas undang-undang tersebut. Pertimbangan 4 Hakim MK yang memberikan dessenting opinion tersebut adalah sebagai berikut : ”Penerapan undang-undang anti terorisme secara retroaktif hanya kepada kasus bom Bali, sangatlah tepat karena jelas unsur motif dari kasus tersebut dan unsur target perbuatannya yaitu menimbulkan teror atau rasa takut masyarakat, sedangkan pada kasus lain motifnya berbeda. Peristiwa Peledakan Bom di Bali, dilakukan pada suasana dunia diguncang oleh tindakan terorisme yang menjadi perhatian penting masyarakat dunia secara keseluruhan yang telah menggunakan tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan jiwa tanpa memilih-milih siapa yang menjadi korbannya yang tidak terbatas pada bangsa dan korban jiwa, tetapi juga perusakan bahkan penghancuran dan pemusnahan harta benda, lingkungan hidup, sumbersumber ekonomi, dan juga dapat menimbulkan kegoncangan social dan politik, bahkan dapat meruntuhkan eksistensi suatu bangsa. Sesuai dengan amanat sebagaimana dikemukakan dalam Pembukaan UUD 194, Negara berkewajiban untuk melindungi setiap warganegaranya dari setiap ancaman kejahatan baik bersifat nasional, transnasional apalagi bersifat internasional. Negara juga berkewajiban untuk mempertahankan kedaulatan dirinya serta memelihara keutuhan dan integritas nasionalnya dari setiap bentuk ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar. UU Nomor 16 tidak membuat tindak pidana baru, karena semua tindak pidana yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor 16 adalah perbuatan yang dilarang oleh KUHP, maupun Konvensi Internasional yang telah berlaku, dan ini terlihat pada perbuatan-perbuatan yang dirumuskan dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 19. Pelaku dalam Peristiwa Peledakan Bom di Bali, semua sadar dan tahu bahwa perbuatan mereka ini diancam hukuman oleh undang-undang, dan juga pelaku tahu dan sadar perbuatannya akan menimbulkan korban yang banyak, khususnya ditujukan ke bangsa lain (kulit putih), berarti telah mengandung rasa kebencian terhadap orang asing, ini berarti suatu perbuatan yang immorality (bertentangan dengan moralitas).” Penerapan asas retroaktif pada undang-undang anti teror tersebut sebenarnya juga dianut dalam berbagai konvensi internasional yang juga diterapkan dalam undangundang anti teror di berbagai negara, misalnya di Amerika Serikat dan Malaysia dengan ISA-nya (Internal Security Act) dan di Indonesia pun sebenarnya juga menerapkan asas dimaksud dalam UU No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM, dengan pertimbangangan bahwa terhadap kejahatan yang dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) lebih besar kepentingannya untuk ditegakkan dengan tidak dihalangi / dihambat oleh suatu ketentuan apapun termasuk

10 dalam hal ketentuan umum bahwa ”tidak ada peraturan perundang-undangan yang berlaku surut”, sebagimana penjelasan pasal 4 UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM bahwa hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dapat dikecualikan dalam hal pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang digolongkan ke dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. Oleh karena itu, selayaknya pemerintah pun tidak tinggal diam terhadap situasi yang demikian dengan melakukan kajian lebih lanjut beserta pihak-pihak terkait guna membahas urgensi penerapan asas retroaktif dimaksud dalam ketentuan perundang-undangan Indonesia untuk kejahatankejahatan tertentu dengan tetap mengikuti / mematuhi prinsip-prinsip hukum yang dianut secara internasional. Sumber : http://www.pewarta-indonesia.com/Warta-Berita/Nasional/indonesia-tidakpunya-kebijakan-pemberantasan-terorisme.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Indonesia Tidak Punya Kebijakan Pemberantasan Terorisme
Ikhwan Mansyur Situmeang Pewarta-Indonesia, Indonesia membutuhkan kebijakan pemberantasan terorisme menyangkut kelembagaan dan instrumennya, tidak sekadar membentuk atau menggiatkan kembali satuan anti-teror. Kelambatan Presiden mengeluarkan kebijakan justru membuka persaingan, seperti antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian RI (Polri), yang melemahkan pemberantasan terorisme. Kebijakan tersebut menjadi payung yang mempertegas batasan dan koordinasi tugas dan fungsi kelembagaan dan instrumennya di masa mendatang mengingat ancaman terorisme makin berkembang dengan berbagai varian dan model. Diperlukan tahapan yang mendetail dan gambaran yang seutuhnya betapa penting menjaga eksistensi negara dan masyarakat Indonesia dari ancaman terorisme. Demikian kesimpulan Perspektif Indonesia Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bertema “Perlukah Desk Anti-Teror TNI?” bekerjasama dengan Radio Smart FM 95,9 FM, Jumat (14/8), di Pressroom DPD lantai 1 Kompleks Parlemen, Senayan—Jakarta. Narasumbernya, Koordinator Kaukus Daerah Pasca-Konflik DPD dan Sekretaris Kelompok DPD di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang juga anggota DPD asal Sulawesi Tengah M Ichsan Loulembah, Deputi I Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) yang mantan Kepala Staf Teritorial TNI dan Wakil Ketua MPR Agus Widjojo, serta Ketua Yayasan Lembaga bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) A Patra M Zen. Di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa (11/8), Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyatakan, TNI menggiatkan kembali desk anti-teror untuk membantu Polri menangani pemberantasan terorisme. Desk bertugas mengumpulkan informasi teroris, mengkaji, serta memberi informasi kepada satuan-satuan di atasnya serta memberlakukan kontra-intelijen, termasuk pendeteksian. Desk anti-teror berdiri sejak tahun 2005 saat Djoko menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat, mulai dari Komando Daerah Militer (Kodam), Komando Distrik

11 Militer (Kodim), hingga Komando Rayon Militer (Koramil). Pendeteksian dilakukan satuan intelijen dan satuan teritorial yang melibatkan bintara pembina desa (babinsa) di seluruh desa dan kelurahan. “Otoritas politik kita harus mengembangkan satu konsep yang solid agar menjadi payung,” ujar Ichsan. Tetapi konsep tersebut tidak meniru kebijakan antiteror war on terrorism ala Presiden George W Bush yang antara lain menyediakan fasilitas penjara yang dikelola militer Amerika Serikat (AS) di Teluk Guantanamo, Kuba, kemudian menyadap jaringan komunikasi warga AS tanpa surat perintah, menggunakan metode interogasi Agensi Intelijen AS (CIA) yang ‘keras’, serta menahan warga AS tanpa tuduhan. Agus juga mengatakan, “Kita belum memiliki kebijakan melawan terorisme yang dirumuskan Pemerintah. Polri dan TNI sama-sama instrumen, pelaksana. Jadi, kebijakan kita kosong.” Menurutnya, keterlibatan TNI memberantas terorisme harus sesuai ketentuan. “Bukan persoalan TNI tidak boleh membantu atau harus membantu.” Meskipun banyak kalangan menganggap keadaan kini masih sama seperti dulu tanpa menyadari reformasi TNI. Misalnya, kalau dulu TNI berbuat apa pun demi menjamin keamanan maka sekarang pun tidak dipersoalkan. Bagi Patra, kelambatan Presiden mengeluarkan kebijakan merupakan kesalahan karena pemberantasan terorisme makin kisruh dan legalitas Polri dipertanyakan sebagai kesatuan yang berwenang memberantas terorisme di Indonesia. Aparat yang seharusnya berkoordinasi justru bersaing atau berkompetisi yang tak jarang satu sama lain konflik atau bentrok, khususnya antara TNI dan Polri—apalagi setelah kedua institusi berpisah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme atau UU Anti Terorisme mempertegas kewenangan Polri sebagai unsur utama dalam pemberantasan tindak pidana terorisme, sedangkan TNI dan BIN menjadi unsur pendukung saja dari pemberantasan tindak pidana terorisme. Karenanya, Panglima TNI tidak harus mengeluarkan pernyataan terbuka mengenai keterlibatan TNI. “Dia tidak bisa begitu. Kami tidak memasalahkan keterlibatan TNI. Bagaimana prosedurnya? Harus diperjelas,” ujarnya. Patra menyepakati pernyataan Agus. Kalaupun TNI harus dilibatkan maka pelibatan tersebut harus sesuai ketentuan agar menghindari penyalahgunaan yang melahirkan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hukum humanitarian dan hak asasi manusia (HAM). “Agar mereka tidak disalahkan dan menanggung pelanggaran HAM berat. Kami tidak memperkarakan niat TNI,” ujarnya. “TNI merupakan hanya salah satu alat negara. Apakah mereka yang pokok, bukan Depdagri yang cocok atau institusi lain seperti Depdiknas?” Ia menyatakan, kini merupakan momentum perumusan kebijakan memerangi terorisme dan memperjelas prosedur perbantuan TNI kepada Polri agar tidak disalahgunakan. Keliru jika keterlibatan TNI mengandaikan pelunturan kepercayaan masyarakat kepada polisi atau ketidakbecusan polisi memberantas terorisme. Ichsan juga menyepakati pendapat Agus dan Patra. Ia mengkhawatirkan keterlibatan TNI menggambarkan kerisauan yang berimplikasi kepada ketakutan. “Kalaupun desk

12 anti-teror kembali digiatkan tidak boleh dikoordinir TNI. Niat baik tidak bisa diukur, apalagi kepekaan dan tanggung jawab masing-masing level TNI yang berbeda-beda,” ujarnya. Legalitas Polri sebagai kesatuan yang berwenang memberantas terorisme di Indonesia ditegaskan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2001 yang menjadi UU 15/2003. Tetapi, peran Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror (AT) Polri dianggap memonopoli memberantas terorisme di Indonesia karena institusi lain yang memiliki organisasi anti-teror tidak mendapat porsi yang memadai dan tidak terberdayakan. Padahal, hampir semua angkatan dan kepolisian, juga badan intelijen memiliki struktur organisasi anti teror. TNI AD memiliki Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) bernama Group 5 Anti-Teror dan Detasemen 81 yang tergabung dalam Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elit TNI AD; TNI AL memiliki Detasemen Jalamangkara (Denjaka) yang tergabung dalam Korps Marinir; TNI AU memiliki Detasemen Bravo (DenBravo) yang tergabung dalam Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU, pasukan elit TNI AU; sedangkan Badan Intelijen Negara (BIN) juga memiliki desk gabungan yang merupakan representasi kesatuan anti-teror. (Jumat, 14 Agustus 2009) Sumber: Siaran pers Sekretariat Jenderal DPD RI Komentar : Polemik terkait dengan peran TNI dalam pemberantasan terorisme selalu mengemuka di Indonesia terutama ketika terjadinya peristiwa pemboman, antara lain sebagaimana polemik yang terjadi seiring peristiwa pemboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton 2009 lalu. Berbagai komentar dikemukakan berbagai pihak, antara lain yang menamakan dirinya sebagai pengamat terorisme maupun para petinggi TNI serta purnawirawan TNI yang menyatakan bahwa terjadinya peristiwa terorisme di Indonesia yang berulang adalah akibat lemahnya intelijen Polri dalam mendeteksi jaringan terorisme di Indonesia sehingga para pihak dimaksud mengemukakan konsep penanggulangan terorisme dengan upaya pelibatan TNI melalui satuan-satuan anti teror yang dimiliki oleh TNI. Menurut pendapat penulis, pernyataan pihak-pihak dimaksud diakibatkan para pihak dimaksud tidak memahami konsep supremasi negara hukum dimana supremasi hukum harus ditegakkan dan dalam upaya penegakkan tersebut, secara universal di negara mana pun, kepolisian lah yang berperan utama, demikian juga di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan ancaman terorisme termasuk dalam kategori gangguan keamanan yang domain kepolisian untuk menanggulanginya dengan upaya penegakan hukum. Pada prinsipnya, selama Polri masih dapat menanggulangi berbagai gangguan keamanan yang terjadi di Indonesia, maka pihak TNI pun tidak berwenang untuk melakukan upaya yang termasuk dalam domain penegakan hukum. Sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, maka pihak TNI dapat dilibatkan dalam hal penanggulangan terorisme. Keterlibatan TNI dalam suatu kegiatan penegakan hukum akan memiliki legalitas jika telah dilandasi dengan ketentuan perundang-undangan yang ada. Hal tersebut telah diatur, baik dalam UU No. 2 tahun 2002 tentang Polri, UU No. 3 tahun 2002 tentang TNI dan UU No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan

13 Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang. Dalam dunia militer, keterlibatan pihak militer dalam kegiatan diluar domain pihak militer tersebut dikenal istilah miilitary operation other than war (MOOTW).

Sumber : http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-ariefbudiman02.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Arief Budiman:

“Amerika dan Militer Lebih Diuntungkan”
BOM meledak di Bali dan Australia pun tersengat. Ledakan di pusat pariwisata pulau dewata itu disebutkan mengakibatkan jatuhnya korban terbanyak dari warga negara Kangguru. Klaim ini telah menyebabkan respon luar biasa dari masyarakat dan politisi di sana. Sejumlah media melaporkan munculnya sentimen negatif kepada orang Indonesia yang berada di negara ini. Banyak pihak yang menilai, respon masyarakat Australia itu agak berlebihan. Sebab dalam peristiwa Bali, Indonesia sesungguhnya justru menjadi korban paling parah. Tidak saja sejumlah warga negaranya ikut tewas, tapi tragedi ini juga menghancurkan pariwisata Bali, suramnya masa depan perekonomian nasional, dan seolah mempertegas tudingan banyaknya teroris yang berkeliaran di sini. Pemerintah Indonesia sendiri kemudian bergerak cepat. Dalam hitungan hari, mereka mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Antiterorisme. Ada yang memuji langkah cepat ini, namun tak sedikit yang khawatir: Perpu ini membahayakan demokrasi kita. Dengan pasal-pasalnya yang longgar, peraturan ini bisa menjerat banyak orang dengan tuduhan pelaku teror. Sesungguhnya, Sosiolog Indonesia yang kini mengajar di Universitas Melbourne, Australia, Arief Budiman, sempat memuji Pemerintah. Karena tak buru-buru mengeluarkan pernyataan soal bom Bali itu. Belakangan ia “meralat” pujiannya. Lelaki yang terlahir dengan nama Soe Hok Djin itu mengatakan, seharusnya pemerintah tak perlu mengeluarkan Perpu Anti-terorisme. “Sesuatu yang tak pantas dimunculkan di zaman reformasi,” katanya tentang perundangan darurat itu. Peraih gelar Phd di bidang Sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini mengemukakan pendapatnya tentang Perpu Anti terorisme kepada Budi Riza dari Tempo News Room. Dalam percakapan yang dilakukan dua kali itu -- pertama sesudah ledakan dan kedua setelah Perpu diundangkan—Arief juga menyinggung soal respon masyarakat dan pemerintah Australia. Berikut petikannya.

14 Dalam pandangan Anda, bagaimana sikap pemerintah Australia terhadap kasus ledakan bom di Kuta, Bali? Pemerintah Australia terlalu sibuk mengurus orang Australia. Dalam wawancara dengan media Australia saya katakan agar pemerintahan John Howard (Perdana Menteri Australia, red.) jangan terlalu emosional. Orang Indonesia juga banyak yang menderita dan menjadi korban. Belum lagi dampak ekonominya (akibat bom Bali itu). Akibat peristiwa ini Indonesia jadi dikesankan sebagai negeri teroris, padahal banyak muslim Indonesia yang moderat. John Howard jangan buat statement-statement yang nggak karu-karuan. Sejauh ini sikap pemerintah Australia oke. Bagaimana dengan pers mereka? Pers Australia banyak meliput korban dari Australia. Semestinya, menurut saya, perlu juga mereka meliput korban lainnya, seperti dari Indonesia. Ada media Australia yang meliput kekurangan rumah sakit-rumah sakit di Bali. Dalam kondisi seperti ini, menurut saya jadi aneh, nggak proporsional. Rumah sakit negara ketiga dibandingkan dengan rumah sakit negara maju (Australia, red.). Adakah dampak kejadian ini bagi hubungan Indonesia dan Australia di masa depan? Nggak banyak. Kejadian ini dilihat (oleh Australia) sebagai gerakan Al-Qaidah. Mereka (orang Australia, red.) tanya, kenapa Indonesia pengamanannya nggak ketat? Bom seperti itu kok bisa lolos? Ya, polisi dan TNI kan memang nggak profesional. Lagi pula ancaman bom di Indonesia sudah sering. Jadi nggak tahu mana ancaman yang benar dan tidak. Betulkah muncul sentimen anti-Indonesia dalam masyarakat Australia? Kelihatannya baik aja. Belum ada sentimen seperti itu. Emosional memang. Di Universitas Melbourne, mahasiswa asal Indonesia dikumpulkan dan diberi pengarahan. Pihak universitas berjanji untuk membantu jika ada yang membutuhkan bantuan. Ada cerita memang, seorang teman datang ke sebuah kafe. Kemudian ada orang Australia duduk-duduk di sana dan bilang,”That’s a bloody Indonesian Moslem.” Tapi sejauh ini keadaan tenang. Ketika proses jajak pendapat Timor-Timur (tahun 1999, red.), kejadiannya lebih ngeri. Tapi sekarang ini orang Indonesia sudah berani bilang, ”Saya orang Indonesia.” Pemerintah Indonesia, dengan persetujuan DPR, dalam waktu enam hari setelah peledakan bom di Bali mengeluarkan Perpu Anti-terorisme. Menurut Anda, apakah sikap ini tak terlalu reaktif? Saya justru melihat ini akibat tekanan dari luar, dari Amerika. Dan itu berbahaya buat kita, karena mengancam demokratisasi. Intinya, dengan Perpu Anti-terorisme orang bisa ditangkap dan diperiksa tanpa bukti-bukti dulu. Itu berbahaya. Sebenarnya kita jadi mundur lagi. Pada waktu reformasi kita mencabut UU anti-subversi, sekarang malah mengeluarkan Perpu Anti-terorisme, yang intinya sama. Jadi sepertinya kita masuk lagi ke zaman Orde Baru. Saya kira ini karena tekanan Amerika. Apakah ini berarti Anda menilai keluarnya Perpu ini terburu-buru?

15 Bukan terburu-buru lagi. Pertama, Perpu ini keluarnya cepat sekali. Dan kedua, tidak pantaslah hal itu dilakukan di zaman reformasi. Memang ada peristiwa Bali, tapi nggak harus pakai Perpu Anti-terorisme. Kalau pemerintah kerja sungguh-sungguh, sebenarnya kasus teror bisa diungkap. Persoalannya, selama ini teror yang kecilkecilan nggak terungkap. Dari bom-bom yang meledak di malam Natal 2000 sampai di gedung BEJ, semuanya nggak pernah terungkap. (Saya kira) yang jadi masalah di sini adalah profesionalisme polisi dan militer. Hal lain adalah adanya pertentangan perundangan. Menurut aturan, Peraturan Pemerintah berada di bawah undang-undang, dan tidak boleh bertentangan. Undangundangnya sendiri mengatakan menghormati hak asasi manusia. Tidak boleh orang ditangkap tanpa ada bukti kesalahan. Jadi mestinya Perpu itu sekarang batal demi hukum. Mestinya, Mahkamah Agung digebrak-gebrak ini supaya mengatakan Perpu itu batal karena bertentangan dengan undang-undang di atasnya. Betulkah dengan keluarnya Perpu ini, militer dan intelijen kita kembali mendapat angin seperti zaman Orde Baru? Dengan sendirinya. Kalau dia praktekkan itu, dia punya dasar hukum. Sekarang tergantung pada civil society kita. Kelompok mahasiswa dan intelektual yang harus berteriak-teriaklah. Termasuk parlemen, kalau mereka benar-benar punya komitmen terhadap demokrasi. Sejauh ini yang berteriak baru LSM dan beberapa tokoh intelektual. Seharusnya lebih keras lagi, apalagi ada dasar kelemahan hukum dari perpu itu. Jadi sekarang bola berada di kaki militer dan intelijen dalam isu terorisme? Ya, secara legal. Dan legitimasi ada di situ. Apa ini berarti menguatkan kembali posisi militer dalam kehidupan berbegara? Saya lihat sekarang ini semangat reformasi masih kuat sehingga mungkin militer akan sedikit mengalami kesulitan, sehingga berhati-hati (dalam bertindak). Yang jelas, secara formal, militer sekarang dikembalikan ke posisi Kopkamtib dulu. Apalagi definisi terorisme itu sangat luas itu. Ancaman-ancaman kekerasan yang bisa menakutkan banyak orang bisa dianggap teror. Bisa aja demo-demo buruh dianggap terorisme. Bisa sangat melebar dan definisinya tidak jelas. Sejauh ini definisi terorisme sendiri tidak pernah coba dirumuskan? Mungkin disengaja. Sebenarnya perangkat hukum kita bisa menjaring pelaku teror. Kalau militer kita profesional, yang dulu-dulupun bisa terungkap. Masalah terorisme di Indonesia biasanya bukan masalah mencari siapa yang salah, tapi, apakah terorisme itu ada kaitan dengan militer itu sendiri. Berdekatan dengan keluarnya Perpu Anti-terorisme, Pemerintah juga mengeluarkan surat penahanan untuk Abu Bakar Baasyir. Padahal selama ini pemerintah terkesan enggan melakukannya, karena khawatir berdampak secara politis dengan kelompok-kelompok Islam di Indonesia. Sejauh mana penangkapan ini akan menimbulkan masalah?

16 Betul. Yang saya khawatirkan, kebijakan Pemerintah ini terlalu memukul kelompok Islam. Ini juga karena tekanan dari luar. Sebab kalau melihat performance-nya selama ini, Megawati nggak bergerak kecuali dia dipaksa. Nah ini saya lihat karena banyak tekanan dari luar, termasuk tekanan ekonomi, CGI (Consultative Group On Indonesia, lembaga negara donor bagi Indonesia, red.), yang batal menyelenggarakan rapatnya di Indonesia. Kelihatannya, asumsi saya, ada permainan besar di belakangnya. Bahayanya, harus dibedakan antara terorisme dan Islam. Kalau pemerintah Indonesia memperlakukan begitu (menyamaratakan) karena mengikuti tekanan internasional, saya khawatir seluruh komponen Islam di Indonesia justru bersatu untuk melawan Pemerintah atau siapapun yang dianggap memberi tekanan. Mayoritas Islam di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiyah, itu kan sesungguhnya moderat. Yang ekstrim itu kecil sekali. Tapi kalau yang diserang Islam, ada permusuhan terhadap Islam, semuanya jadi bersatu. Kemarin kan Gus Solah (Solahuddin Wahid, red.) menjenguk Baasyir. Padahal, saya kira hampir pasti, Gus Solah itu nggak setuju dengan pandangan-pandangan Islam Baasyir. Nah, apakah ini indikasi orang moderatpun marah kalau tokoh Islam diperlakukan kayak begitu? Selama ini terkesan ada kerancuan dengan menyamakan antara kelompok Islam yang dianggap radikal dan Al Qaidah. Pendapat Anda? Ya, harus dibuktikan dulu ada tidaknya hubungan antara kelompok radikal dan Al Qaidah. Kalau menurut saya, kelompok radikal di Indonesia paling menggunakan bom rakitan kecil. Tapi kejadian di Bali itu terlalu besar. Kelompok muslim Indonesia sendiri menuduh peledakan bom di Bali sebagai rekayasa Amerika Serikat? Secara teoritis bisa aja. Tapi kalau Amerika sampai ketahuan (melakukan rekayasa), resikonya besar sekali. Bisa habis reputasinya di kalangan negara-negara Barat. Mengorbankan orang Barat untuk kepentingan politisnya. Tapi kalau nekat bisa saja. Saya sendiri melihat ada dua pihak yang mungkin melakukan ini: militer atau teroris internasional. Bom yang digunakan kan tipe C4 (bom plastik berkekuatan besar, red.). Bom jenis ini hanya dimiliki militer. Kalau benar militer yang melakukan, motivasinya nggak jelas. Ada yang mengatakan tujuannya untuk menumpas kekuatan Islam kemudian melakukan operasi militer ke Aceh menumpas GAM. Tapi kelemahan teori ini, posisi militer pada masa pemerintahan Mega sekarang kan justru sedang diuntungkan. Kalau teroris internasional lebih jelas motivasinya. Tujuannya untuk memberi peringatan kepada Amerika dan Eropa untuk tidak kurang ajar kepada Islam. Ngejarngejar dengan cara yang kasar. Pesannya, kira-kira, “kalau ini tetap lakukan, kami (teroris internasional) bisa balas bunuh.” Banyak titik-titik rawan di seluruh dunia. Kelompok ini juga, menurut saya, punya dana dan profesional. Jadi, siapa yang diuntungkan dengan bom Bali ini? Kelompok Islam jelas dirugikan, terutama yang moderat, karena jadi ikut dianggap radikal. Secara logis, saya pribadi cenderung melihat Amerika dan militer lebih diuntungkan. Tapi saya juga sadar, dari analisis resiko, teori ini lemah. Resikonya terlalu besar buat mereka.

17

Komentar : Terjadinya pro dan kontra pada masa-masa awal dikeluarkannya Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tersebut dikarenakan terutama akibat diterapkannya sistem inquisitor dalam hukum acara pidana terorisme, yaitu suatu sistem hukum acara pidana yang menyimpang dari KUHAP yang menganut sistem aquisator. Penerapan sistem inquisitor tersebut dikhawatirkan oleh banyak pihak akan menyebabkan berbagai pelanggaran HAM terutama oleh pihak kepolisian dalam upaya penanggulangan terorisme sebagaimana nampak dalam pasal-pasal Perpu No. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tersebut, antara lain : a. Pasal 25 : (1) Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme, dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. Untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan, penyidik diberi wewenang untuk melakukan penahanan terhadap tersangka paling lama 6 (enam) bulan. Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen.

(2)

b.

Pasal 26 : (1)

c.

Pasal 28 : Penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) untuk paling lama 7 x 24 (tujuh kali dua puluh empat) jam.

d.

Pasal 31 : (2) Tindakan penyadapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, hanya dapat dilakukan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.

Penggunaan asas inquisitor dalam regulasi penegakan hukum terhadap terorisme tidak hanya dianut oleh Indonesia, melainkan dianut secara internasional. Hal tersebut dikarenakan tindak pidana terorisme dikategorikan sebagai extra ordinary crime sehingga penanganannya pun memerlukan cara-cara yang extra ordinary dengan landasan hukum yang dapat mendukungnya.

18 Sumber : http://www.kompas-tv.com/content/view/8154/2/, diakses pada tanggal 30 Januari 2010. Perjalanan Amrozi Cs, Dari Bom Bali I Sampai Eksekusi Mati Sabtu 12 Oktober 2002 sekitar pukul 23.15 Wita, ledakan dahsyat mengguncang klub malam Sari Club dan restorn Paddy's di Jalan Legian, Kuta Bali. Ledakan ini bahkan terdengar sampai ke pusat kota Denpasar. Akibat ledakan bom tersebut 180 orang yang sebagian warga asing tersebut tewas seketika. Setelah kejadian ledakan bom tersebut, polisi membuat sketsa tiga tersangka pelaku kasus bom Bali. Aksi ledakan bom ini dinilai sebagai perbuatan teroris setelah satu tahun tragedi WTC di Amerika Serikat. Akhir Oktober 2002, polisi mengantongi tiga nama tersangka bom Bali. Rabu 6 November polisi menangkap Amrozi, warga Lamongan Jawa Timur yang merupakan pemilik mobil Mitsubishi L 300 yang dijadikan bom mobil di Sari Club dan Paddy's. Saat ditangkap, Amrozi mengaku ada empat orang lain yang terlibat kasus bom Bali 1. Rabu 13 November Amrozi merekam pesan bahwa adiknya Ali Imron, dan kakaknya Ali Gufron alias Mukhlas juga terlibat aksi bom Bali. Kamis 21 November, Imam Samudera ditangkap di pelabuhan Merak, Banten, saat akan pergi ke Pekanbaru dengan bus umum. Imam dan Mukhlas merupakan dalang teror bom Bali 12 Oktober 2002. Selasa 3 Desember, Mukhlas ditangkap di Klaten Jawa Tengah. Polisi menyatakan Mukhlas adalah koordinator Jemaah Islamiyah (JI) wilayah Asia Tenggara. Tahun 2003, Amrozi bin H Nurhasyim dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar. Selanjutnya pada Rabu 10 September Abdul Aziz alias Imam Samudera dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar. Pada Kamis 2 Oktober giliran Ali Ghufron bin H Hasyim alias Mukhlas dijatuhi hukuman mati juga. Setelah berupaya meminta Peninjauan Kembali (PK) akhirnya Imam Samudera, Amrozi dan Ali Ghufron dieksekusi mati pada dinihari tadi. Habis sudah perjalanan ketiga tersangka mati kasus Bom Bali satu ini.( Minggu, 09 November 2008) Komentar : Efek Bom Bali I terhadap stabilitas keamanan, politik, ekonomi dan sosial Indonesia, khususnya Bali sangatlah besar. Bom Bali I merupakan Bom yang berskala terbesar di Indonesia saat itu, yaitu dalam hal kerugian matriil maupun korban jiwa, dibandingkan dengan kejadian-kejadian pemboman sebelumnya. Dunia internasional pun bereaksi keras terhadap kejadian Bom Bali I tersebut. Di satu sisi, para pemimpin negara-negara di dunia, mengutuk para pelaku pemboman tersebut, namun di satu sisi lainnya pula, para pemimpin negara-negara tersebut menuntut pertanggungjawaban

19 pemerintah Indonesia untuk dapat segera mengungkap para pelaku peristiwa dimaksud. Polri selaku pemangku tanggung jawab utama terhadap keamanan pun, saat itu segera melakukan langkah-langkah strategis guna mengungkap kejadian dimaksud, antara lain dengan membentuk Satgas Bom Polri yang personelnya terdiri dari gabungan personel Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polda Bali dan beberapa kesatuan lainnya. Dengan kerja keras serta keseriusan yang tinggi, maka Satgas Bom Polri pun berhasil mengungkap kejadian dimaksud dalam waktu kurang dari satu bulan, sehingga memunculkan apresiasi dari dunia internasional, baik terhadap pemerintah Indonesia pada umumnya, maupun terhadap Polri pada khususnya. Atas keberhasilan Polri tersebut, maka dunia internasional pun kembali memberikan sentimen positif terhadap aspek keamanan di Indonesia sehingga berdampak positif pula terhadap sektor-sektor riil lainnya, terutama sektor perekonomian Indonesia. Sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2005/10/03/brk,20051003-67462,id.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

BPS: Bom Bali II Tak Separah Bom Bali I
TEMPO Interaktif, Jakarta:Peristiwa ledakan bom Bali kedua yang terjadi Sabtu (2/10) diperkirakan tidak akan terlalu berdampak parah pada kondisi pariwisata Indonesia. “Pasti berdampak, tapi akan berkurang. Tidak separah kejadian bom Bali yang pertama,“ kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Muljono Muah dalam konferensi pers dengan wartawan di Gedung BPS Jakarta, Senin (3/10). Pasalnya, lanjut Muljono, wisatawan sudah mulai terbiasa dengan kejadian bom yang belakangan ini sering terjadi di beberapa kota. Meski demikian pada Oktober-November diperkirakan akan terjadi penurunan jumlah wisatawan, mengingat pada bulan itu merupakan bulan low season. “Mulai naik lagi pada Desember. Di situ baru bisa kami lihat apakah akan banyak penundaan atau tidak. Tapi saya rasa tidak,“ kata dia. BPS mencatat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bali pada Agustus 2005 mengalami penurunan, yakni dari 165.100 orang menjadi 163.600 orang atau turun 0,93 persen. Sementara jumlah wisman yang datang ke Indonesia melalui 13 pintu masuk pada Agustus 2005 mencapai 392.200 orang. Jumlah wisman ini juga turun sebesar 2,99

20 persen dibanding wisman Juli 2005 sebanyak 404.300 orang. (Senin, 03 Oktober 2005) Komentar : Setelah peristiwa Bom Bali I dapat diungkap oleh Polri dengan menangkap beberapa pelakunya, antara lain Abdul Azis alias Imam Samudra, Ali Gufron alias Muklas dan Amrozi, ternyata Indonesia belum aman dari teror bom, terbukti dengan terjadinya Bom Bali II. Hal tersebut dikarenakan antara lain beberapa pelaku Bom Bali I belum tertangkap, terutama para aktor intelektualnya, yaitu Dr. Azhari dan Noordin M. Top. Terjadinya Bom Bali II kembali memberikan efek yang cukup signifikan terhadap sentimen dunia internasional kepada Indonesia dimana Indonesia yang menuju arah negatif bahwa keamanan di Indonesia sangat lemah dan rentan akan ancaman terorisme. Namun, sentimen negatif tersebut tidak berlangsung lama yaitu dengan adanya keberhasilan Polri dalam mengungkap kasus Bom Bali II tersebut. Sehingga dampak positif pun berpengaruh pada pulihnya sektor kepariwisataan di Bali yang merupakan sektor utama penyokong perekonomian masyarakat Bali. Sumber : http://www.detiknews.com/read/2009/07/17/161326/1167206/10/kapolri-jakartasiaga-i, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Bom JW Marriott Kapolri: Jakarta Siaga I
Didi Syafirdi - detikNews Jakarta - Dua buah bom meledak di Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan. Kejadian ini membuat Jakarta ditetapkan dalam status siaga I. "Siaga satu tapi kondusif," kata Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjenguk korban di RS MMC, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Jumat (17/7/2009). MMC merawat 36 korban bom Marriot dan Ritz Carlton yang terjadi pagi tadi dengan rincian 18 WNI dan 18 WNA. Seorang korban bernama Rinaldi Domanik yang merupakan petugas security Bank Panin sudah boleh pulang dan telah meninggalkan RS MMC. 9 Korban harus menjalani operasi. Mereka terdiri dari 7 WNA yakni Kevin, Peter, Scott Miriles, Simon Louis, Gary Ford, Cindy, Andrew. Sedangkan 2 lagi adalah warga negara Indonesia (WNI) yakni Dadang Hidayat dan Sudargo. Komentar :

21

Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton dijadikan sasaran terorisme oleh para teroris dikarenakan para teroris menganggap bahwa Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton tersebut merupakan representasi kekuasaan negara asing, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Hal tersebut terungkap dari fakta yang didapatkan oleh Polri, dalam hal ini Densus 88 / Anti Teror ketika berhasil melakukan penangkapan terhadap para teroris yang terlibat dalam pemboman Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton, yaitu dalam bentuk rekaman video yang berisi testimoni pelaku Bom Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton. Pada saat terjadinya Bom Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton tersebut, maka untuk kesekian kalinya banyak komentar dari para pengamat melalui media pers, baik elektronik maupun cetak, khususnya pengamat di bidang intelijen, yang cenderung mendeskreditkan Polri dengan menyatakan bahwa intelijen Polri lemah sehingga Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton lolos dari pantauan dan dijadikan sasaran bom oleh para teroris. Namun, dalam waktu yang singkat, yaitu kurang lebih satu bulan, Polri mampu menjawab pernyataan-pernyataan para “komentator” tersebut bahwa Polri “tidak lemah” dengan adanya keberhasilan Densus 88 /AT yang melakukan penangkapan terhadap para pelaku pemboman Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton lengkap beserta barang bukti yang terkait, bahka dengan adanya keberhasilan pengungkapan kasus Bom Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton tersebut, selanjutnya Polri mampu mengembangkan hasil penyelidikan dan penyidikan dengan menangkap para pelaku terorisme di Jatiasih yang telah mempersiapkan bom untuk melakukan pemboman terhadap Presiden RI di Cikeas. Sumber : http://www.antaranews.com/view/?i=1248148216&c=NAS&s=POL, tanggal 31 Januari 2010. diakses pada

Polisi Belum Pastikan Ledakan Bom

Tersangka

Jakarta, (ANTARA News) - Tim Penyidik Polri hingga kini belum dapat memastikan identitas tersangka kasus ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan (17/7) termasuk kemungkinan keterlibatan buronan berbagai kasus terorisme Noordin M Top, seorang warga negara Malaysia dalam kasus itu. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Chryshnanda Dwi Laksono di Jakarta, Selasa, mengatakan, tim penyidik masih mengumpulkan sejumlah bukti terkait dengan kedua kasus itu. Menurut dia, bukti-bukti itu masih diperlukan untuk mendukung proses penyidikan agar dapat menentukan pelaku peledakan bom yang menewaskan sembilan orang dan melukasi ratusan orang itu.

22

Bahkan, tim identifikasi hingga kini masih terus berada di lokasi kejadian untuk mengumpulkan barang-barang bukti dan mempelajari kejadian yang sebenarnya serta mencocokkan data yang ada dengan kondisi di lapangan. Sebelumnya, dua ledakan bom menghantam kedua hotel itu pada pukul 07:45 WIB dan 07:47 menit. Polisi telah menyatakan bahwa ledakan berasal dari bom bunuh diri oleh seseorang yang menyamar sebagai tamu hotel. Sejumlah stasiun televisi di Indonesia menayangkan secara berulang adanya seseorang membawa tas dan topi yang diduga menjadi eksekutor bom bunuh diri di JW Marriot. Polisi menduga bahwa eksekutor bom bunuh diri adalah seseorang bernama N namun untuk memastikan masih membutuhkan kepastian dari dokter forensik sebab diduga eksekutor ikut tewas dalam kejadian itu. Dari berbagai kasus ledakan bom baik di Kedubes Australia (2004), JW Marriot (2003), Bom Bali I (2002) dan Bom Bali II (2005), nama dua warga negara Malaysia yakni Azahari dan Noordin M Top dijadikan tersangka utama dalam kasus itu. Azahari telah tewas dalam kontak tembak dengan Polri di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005, sedangkan Noordin masih buron.( Selasa, 21 Juli 2009)

Komentar : Pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya saat itu (saat terjadinya Bom Hotel JW Marriot dan The Ritz Carlton) yaitu Kombes Pol. Chryshnanda Dwi Laksono terkait dengan peristiwa bom tersebut merupakan cerminan dari profesionalisme Polri dalam hal pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana, yaitu dengan memberikan penjelasan kepada publik bahwa Polri tengah berupaya secara serius dan optimal dengan berdasarkan prinsip scientific crime investigation dalam mengungkap kejadian pemboman tersebut, tidak justru memberikan komentar yang dapat meresahkan publik sebagaimana yang diutarakan pihak-pihak yang mengaku sebagai pengamat intelijen yang cenderung mencari pihak-pihak tertentu untuk dipersalahkan terkait dengan kejadian pemboman dimaksud. Dalam hal ini nampak bahwa peran bidang humas Polri memiliki peran penting dalam melakukan komunikasi secara efektif dan efisien dengan publik terutama dalam kasus terorisme yaitu paling tidak dapat memberikan perasaan tenang kepada masyarakat serta mengurangi efek psikologis akibat terorisme tersebut dengan selalu melakukan update yang relavan tentang upaya-upaya pihak kepolisian dalam mengungkap suatu kasus terorisme.

23 Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/24/NAS/mbm.20090824.NAS13 1217.id.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010. Detasemen Khusus 88

Veteran Pemburu Noor Din
Polisi aktif dan purnawirawan dilibatkan dalam melacak jejak komplotan teroris. Masalah keberuntungan. RUANG pertemuan Bumiputera, di lantai dua gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis pagi pekan lalu, seperti berubah jadi ajang reuni polisi dan teroris. Hampir seperempat kursi di auditorium itu diisi para polisi spesialis antiteror. Sebagian tampil necis dengan berjas dan dasi. Sementara para eks napi kasus terorisme rata-rata berpeci dan berbaju koko. ”Mereka ini alumni Afganistan,” kata mantan Kepala Detasemen Khusus 88 Mabes Polri, Brigjen (Purnawirawan) Suryadharma, yang membawa mereka ke kampus Depok. Dua kelompok yang pernah berhadap-hadapan di lapangan itu pekan lalu bertemu tanpa ketegangan. Mereka memenuhi undangan Komisaris Besar Dr Petrus Reinhard Golose, salah satu pentolan Satuan Tugas Bom Mabes Polri, yang meluncurkan buku berjudul Deradikalisasi Terorisme: Humanis, Soul Approach, dan Menyentuh Akar Rumput. Dalam buku itu, Petrus menjelaskan dengan detail konsep dan latar belakang program deradikalisasi eks napi dan tersangka teroris yang dilakukan polisi. Sesekali ledakan tawa terdengar tatkala Petrus melemparkan lelucon ringan di hadapan para koleganya. ”Pekerjaan saya sekarang peneliti, sedangkan polisi hanya hobi.” Sebagian besar polisi yang hadir adalah atasan dan rekan kerja Petrus di Satuan Tugas Bom Mabes Polri. Ada Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gorries Mere, eks Kepala Satgas Brigjen Suryadharma, rekannya sesama anggota Satgas Komisaris Besar Tito Karnavian, dan sederet perwira polisi lainnya. Lebih dari lima tahun bekerja sama di lapangan, memburu target-target teroris kelas kakap, membuat mereka amat dekat. Tak mengherankan, bila bertemu, biasanya mereka langsung berpelukan dan saling menempelkan pipi kanan dan kiri. Merekalah ujung tombak polisi menguak jaringan pelaku teror bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, pertengahan Juli lalu. Sebagai veteran pemburu teror, para anggota Satgas hafal betul standar operasi dan model pelarian kelompok Noor Din M. Top. ”Ibaratnya, cukup dengan mencium bau tempat kejadian perkara saja, mereka sudah tahu siapa yang bermain,” kata sumber Tempo di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. SATGAS Bom pertama kali dibentuk untuk menyelidiki kasus peledakan bom di sejumlah gereja pada malam Natal akhir Desember 2001. Satuan tugas ini kemudian tenar setelah berhasil membongkar pelaku peledakan bom di Bali, setahun kemudian. Juni 2003, setelah UU Anti-Terorisme disahkan, Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar

24 membentuk Detasemen Khusus 88 Antiteror. Sebagian besar punggawa Detasemen diambil dari pentolan-pentolan Satgas Bom. Keberadaan Satgas sempat dipertahankan, meski sudah ada Detasemen 88. Bahkan keberadaannya diperbarui dengan sebuah surat penugasan di era kepemimpinan Kapolri Jenderal Sutanto, Maret 2007. Saat itu, struktur Satgas terdiri atas penasihat, ketua Satgas, ketua tim penyidik, dan ketua tim penyelidik. Total ada lebih dari 150 polisi yang tergabung. Asalnya beragam, di antaranya dari Polda Sulawesi, Bali, Banten, sampai Kalimantan Selatan. Kemampuan mereka macam-macam, mulai dari gegana, narkoba, brimob, sampai cybercrime. Namun belakangan Satgas Bom akhirnya melebur ke dalam struktur Detasemen. ”Sekarang organisasinya di bawah Detasemen Khusus 88,” kata Kepala Bidang Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Komisaris Besar I Ketut Untung Yoga Ana, ketika dihubungi pekan lalu. Jika ada peledakan bom atau aksi teror lain, kata dia, barulah Detasemen membentuk satgas baru yang khusus bertugas menyelidiki kasus itu. Setelah dua bom meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, 17 Juli lalu, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menugasi para veteran ini turun gunung. Gorries Mere diminta menjadi penasihat Satgas, sedangkan Suryadharma berperan seperti konsultan informal, yang membantu analisis dan diskusi tim penyidik. Sayangnya mereka tutup mulut ketika ditanya detail penugasan ini. Suryadharma, yang ditemui seusai acara peluncuran buku Petrus Golose, menolak memberikan konfirmasi. ”Saya tidak mau bicara tentang itu,” katanya. Pada saat mengumumkan hasil penyerbuan polisi di Jatiasih, Bekasi; dan Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Agustus lalu, Bambang Hendarso secara khusus memuji kinerja mereka. ”Saya bangga dengan anak-anak saya di lapangan,” katanya. Dua pentolan tim, kata Bambang, masih sakit ketika operasi penyerbuan disiapkan. Namun mereka tetap memaksakan diri hadir pada saat penyerbuan. ”Kombes Tito masih dirawat di RS Pondok Indah. Belum sembuh, tapi ia sudah cabut infusnya dan datang ke lokasi,” kata Bambang. Yang disebutnya adalah Tito Karnavian, salah seorang pentolan Satgas yang dulu pernah sukses menangkap Tommy Soeharto, buron pembunuh hakim agung Syafiuddin. Menurut sumber Tempo di Mabes Polri, ada pembagian tugas yang jelas antara Satgas Bom dan Detasemen Khusus 88. Semua operasi Satgas, misalnya, diarahkan hanya untuk memburu dan menangkap kelompok inti Jamaah Islamiyah: Noor Din M. Top dan lingkaran terdekatnya. Sedangkan tugas Densus 88 adalah mengejar semua tersangka teroris lainnya, mulai dari kelompok pinggiran, simpatisan, sampai pembantu aksi teror. ”Penanganan kelompok Poso, Ambon, Palembang, atau kelompok Negara Islam Indonesia, misalnya, adalah bagian Densus 88,” katanya. Pembagian tugas ini cocok dengan skala dan sebaran kekuatan Densus yang kini sudah merata ada di semua kepolisian daerah. Anggota Satgas Bom bisa berada dalam operasi pengejaran selama berbulan-bulan. ”Operasi kami tidak pernah terputus,” kata satu perwira Satgas Bom. Hanya ada satu

25 hambatan: kadang mereka harus mengikuti penugasan ke bagian lain. ”Soalnya, kalau tidak menduduki jabatan struktural, karier mereka bisa mentok,” kata sumber Tempo di Detasemen Khusus 88. SEJAK buron tujuh tahun lalu, tiga kali sudah Noor Din hampir tercokok Satgas Bom. Penggerebekan polisi di kamar kos Noor Din di Bandung, November 2003, misalnya, sudah hampir membuahkan hasil. Sayangnya, Noor Din dan Azahari berhasil menyelinap sesaat sebelum tempat persembunyian mereka diserbu. Agustus setahun kemudian, Satgas Bom kembali mencium jejak Noor Din di Cengkareng, Tangerang. Saat itu diduga Noor Din hendak meledakkan Bandara Soekarno-Hatta. Tiga hari sebelum operasi, buron ini meloloskan diri. Rupanya, Noor Din memeriksa tempat persembunyiannya setiap dua hari sekali. Jika ada hal mencurigakan sedikit saja, dia memilih menghilang. November 2005, Noor Din lagi-lagi lolos dari lubang jarum di Semarang. Padahal saat itu seluruh jaringannya di sana dapat dicokok polisi. Mengapa begitu sulit membekuk buron satu ini? ”Ia dilindungi oleh jaringan penganut ideologinya. Ini yang membuat dia mudah bersembunyi,” kata satu penyidik polisi. Ada satu faktor lagi yang membuat Noor Din masih bebas berkeliaran. ”Faktor keberuntungan,” kata sumber Tempo di Satgas Bom. ”Tapi hanya masalah waktu, sebelum dia tertangkap,” katanya yakin. (24 Agustus 2009) Komentar : Kinerja Satgas Bom Polri maupun Densus 88 / Anti Teror dalam pengungkapan berbagai kasus terorisme di Indonesia telah mendapatkan apresiasi dari dunia internasional yang selanjutnya juga turut membawa dampak positif bagi citra Indonesia di dunia internasional pada umumnya maupun citra Polri sendiri pada khususnya. Dengan berbagai keberhasilan tersebut, berbagai pihak kepolisian dari negara maju banyak yang memberikan bantuan bagi Polri terutama terkait dengan program kerjasama pemberantasan terorisme, antara lain dalam hal pelatihan bagi para anggota Polri dari pemerintah Amerika Serikat melalui ICITAP (International Criminal Investigative Trainning Assistance Program), pendirian JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation) di Komplek AKPOL Semarang yang merupakan pusat pelatihan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana yang berasal dari donasi beberapa negara seperti Australia, Jerman, Belanda, dll serta berbagai program bantuan maupun kerjasama lainnya. Secara internal, pimpinan Polri pun telah memberikan reward bagi para personel Satgas Bom Polri maupun Densus 88, antara lain dalam bentuk KPLB (Kenaikan Pangkat Luar Biasa) serta promosi jabatan serta kemudahan dalam mengikuti pendidikan pengembangan di tubuh Polri.

Sumber :

26 http://www.antaranews.com/berita/1253183363/polri-pastikan-noordin-m-top-tewas, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Polri Pastikan Noordin M Top Tewas
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Kepolisian RI (Polri) Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memastikan Noordin M Top, buronan berbagai kasus terorisme yang sudah sembilan tahun diburu, tewas dalam penangkapan di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah pada Kamis. Kapolri mengatakan hal itu saat memberikan keterangan pers di Markas Besar Polri pada Kamis sore didampingi Wakapolri Komjen Pol. Makbul Padmanegara, Deputi Operasi Irjen Pol. SY Wenas dan para petinggi Polri lainnya. Menurut Kapolri, kepastian bahwa salah satu jenazah yang tewas dalam penangkapan tersebut adalah Noordin diperoleh setelah polisi melihat kecocokan antara data sidik jari Noordin yang dimiliki Polri dengan sidik jari salah satu jenazah. "Sidik jari Noordin diperoleh dari Kepolisian Diraja Malaysia dicocokan dengan sidik jari jenazah dan ternyata ada 14 titik kesamaan baik jari kanan maupun kiri," katanya. Penentuan identifikasi jenazah dengan sidik jari itu, katanya, sudah bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis formal. "Hasil identifikasi menunjukkan dia adalah Noordin M Top, buronan sembilan tahun yang merupakan target utama selama ini," ujarnya. Kendati identifikasi dengan pencocokan sidik jari telah valid namun Polri tetap melakukan uji DNA (Deoxiribonucleic Acid) yang hasilnya diketahui dalam waktu 20 jam. Kapolri menjelaskan pula bahwa selain menembak mati Noordin, dalam insiden penangkapan itu polisi juga menembak mati tiga tersangka lain yakni Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Hadi Susilo dan Aryo Sudarso alias Aji. Agus adalah residivis dalam kasus pemboman gedung Kedutaan Besar Australia tahun 2004 yang divonis tujuh tahun penjara namun hanya menjalani hukuman selama empat tahun karena dibebaskan secara bersyarat setelah mendapat remisi. Agus, yang juga diduga meracik bom yang meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, lolos dalam penangkapan polisi di Solo pada 16 Agustus 2008. Dia juga merencanakan ledakan bom yang telah dipersiapkan di Jati Asih, Bekasi, namun terbongkar polisi pada 16 Agustus 2008. Sedangkan Hadi Susilo adalah orang yang menyewa rumah dan diduga ikut menyediakan tempat persembunyian bagi Noordin M Top.

27

Aryo Sudarso alias Aji adalah perakit bom yang juga terlibat dalam jaringan terorisme adalah sebagai penyedia bahan peledak dan menyembunyikan buronan. Istri Hadi Susilo yang bernama Munawaroh terluka dalam insiden penembakan itu karena posisinya sangat dekat dengan tersangka lain. Kapolri menjelaskan, Munawaroh yang tengah hamil kini dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati karena tertembak di kaki. Menurut Kapolri, Munawaroh sudah berulangkali diminta keluar dari rumah namun tidak mengindahkan peringatan aparat sehingga akhirnya terkena peluru saat ada insiden penembakan oleh aparat kepolisian. Kapolri menjelaskan pula bahwa polisi juga menangkap dua tersangka teroris lain yakni Rahmat Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu di Pasar Gading, Solo, sekitar lima jam sebelum penangkapan di Mojosongo. Menurut Kapolri, penangkapan Bejo dan Kedu menjadi petunjuk keberadaan Noordin M Top dan kawan-kawannya di salah satu rumah di Kepuhsari, Mojosongo. Pada Rabu (16/9) pukul 23.30 WIB, polisi telah mengepung rumah yang menjadi tempat persembunyian Noordin dan kawan-kawan sambil mengevakuasi warga yang tinggal berdekatan dengan rumah tersebut. Sekitar pukul 24.00 WIB, polisi mendobrak pintu rumah persembunyian namun disambut dengan rentetan tembakan sehingga polisi mundur namun tetap mengepung rumah itu. Sejumlah upaya untuk mendorong mereka menyerahkan diri dilakukan namun tak berhasil, malah dibalas tembakan dari dalam rumah. Hingga menjelang subuh kontak tembak masih terjadi dan para tersangka termasuk Noordin terpojok di salah satu kamar mandi sehingga polisi kemudian menjebol kamar mandi dan melumpuhkan Noordin dan kawan-kawan dengan tembakan. Kapolri mengatakan, di dalam rumah itu polisi menemukan 200 kilogram bahan peledak, senjata laras panjang jenis M16 lengkap dengan amunisi dan berbagai dokumen. Polisi juga menemukan satu bom tangan yang telah aktif dan satu granat yang sudah ditarik pelatuknya namun granat dan bom itu telah dihancurkan karena sangat berbahaya jika disita dalam bentuk utuh. Kapolri menegaskan, Noordin, sebagaimana rekannya Doktor Azahari yang tewas tertembak di Malang tahun 2005, selalu menggunakan senjata api jenis Bareta penuh peluru. Menurut dia, selanjutnya Polri akan bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri,

28 Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia dan KBRI di Malaysia untuk memulangkan jenazah Noordin kepada keluarga.(Kamis, 17 September 2009) Komentar : Keberhasilan Polri dalam menemukan keberadaan Noordin M Top setelah kurang lebih ditetapkan sebagai buronan dalam beberapa kasus terorisme, baik oleh Polri maupun pihak kepolisian luar negeri, antara lain oleh FBI, yang selanjutnya dalam upaya paksa guna menangkap Noordin M Top tersebut terjadi perlawanan oleh Noordin M Top dan jaringannya terhadap Densus 88 / AT hingga mengakibatkan tewasnya Noordin M Top dan beberapa anggota JI merupakan prestasi besar Polri pada khususnya dan Pemerintah Indonesia pada umumnya dalam hal pemberantasan terorisme. Jaringan JI di Indonesia merupakan afiliasi dari jaringan terorisme internasional Al Qaeda sehingga keberadaan sel-sel jaringan JI di Indonesia pun mendapatkan perhatian serius tidak saja dari Polri, namun juga dari pihak-pihak kepolisian luar negeri yang hingga saat ini turut mendukung upaya Polri dalam pemberantasan terorisme di Indonesia dengan berbagai program kerja baik dalam hal teknis, taktis maupun administratif, antara lain bantuan dari pemerintah Australia berupa seperangkat peralatan tes DNA untuk Polri. Keberadaan peralatan tes DNA tersebut sangat bermanfaat dalam rangka identifikasi para pelaku terorisme khususnya pelaku bom bunuh diri karena dengan tes DNA tersebut dapat ditetapkan secara pasti tentang identitas seorang pelaku terorisme / bom bunuh diri walaupun kondisi tubuhnya sudah hancur lebur. Eksistensi Densus 88 / AT Polri dalam memberantas terorisme tidak hanya sebatas pada upaya represif dimana upaya-upaya yang dilakukan hanya setelah terjadinya upaya pengeboman-pengeboman oleh jaringan terorisme, tetapi juga termasuk upaya preventif, antara lain dalam hal keberhasilan Polri menggagalkan upaya pengeboman di Palembang maupun rencana pengeboman Presiden RI di Cikeas. Sumber : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/11/tgl/09/time/181 823/idnews/475362/idkanal/10, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Penyergapan Teroris di Terdengar 2 Kali Ledakan Keras

Batu

Budi Hartadi - detikNews Batu - Hingga pukul 17.50 WIB, Rabu (9/11/2005), situasi di perumahan Flamboyan, Kota Batu, Malang masih mencekam. Kekuatan polisi untuk menyergap tersangka teroris yang bersembunyi di rumah itu ditambah. Sempat terdengar dua kali ledakan keras. Ledakan keras itu terjadi sekitar pukul 15.40 WIB, setelah aparat kepolisian dan tersangka pelaku terorisme saling adu tembak. Ledakan terjadi dua kali. "Ledakannya cukup keras," kata Sucipto, salah seorang warga perumahan Flamboyan. Akibat ledakan tersebut, asap tebal berwarna hitam mengepul di rumah yang terletak di Jl. Flamboyan Raya, Kota Batu itu. Belum diketahui secara pasti alamat rumah

29 persembunyian tersangka pelaku terorisme itu. Wartawan tidak diperbolehkan mendekati lokasi oleh polisi. Wartawan hanya diperbolehkan berkumpul di depan gerbang yang terletak 500 meter dari lokasi. Aparat kepolisian yang terlibat dalam penyergapan tersangka pelaku terorisme ini adalah Polres Batu, Polwil Malang, dan Detasemen Khusus (Densus) 88, pasukan khusus dari Mabes Polri yang ditugasi menguber tersangka terorisme. Saat melakukan penyergapan, pada awalnya kekuatan polisi hanya 20 personel. Mereka membawa senjata laras panjang dan laras pendek. Ada yang mengenakan pakaian dinas, banyak pula yang mengenakan pakaian preman. Dan tampaknya, hingga kini, tersangka pelaku terorisme ini belum berhasil diciduk, meski telah terjadi adu tembak dan ledakan keras. Pukul 17.30 WIB, sekitar 15 personel polisi kembali didatangkan ke lokasi. Mereka mengenakan rompi antipeluru dan menyandang senjata serbu SS-1. Belum ada keterangan resmi dari pejabat Polri tentang penyergapan tersangka pelaku terorisme ini. Juga belum diketahui, siapa tersangka teroris yang berada di rumah tersebut yang menjadi target polisi. Yang jelas, saat ini, pintu gerbang perumahan Flamboyan sudah diblokir polisi. Sementara ratusan warga tampak menonton aksi polisi dari depan gerbang perumahan. Di dekat lokasi tampak disiagakan 1 mobil ambulans. Mobil patroli polisi juga disiagakan. 6 Buah mobil polisi yang berplat M dan B juga tampak diparkir di perumahan ini. (Rabu, 09/11/2005) Komentar : Pada saat pemberitaan tersebut dirilis, memang informasi tentang identitas pelaku terorisme yang disergap oleh Polri tersebut masih dirahasiakan dan baru diungkapkan setelah penyergapan tersebut berhasil diselesaikan. Pelaku terorisme yang disergap di Kota Batu tersebut adalah Dr. Azhari yang merupakan buronan dari serangkaian peristiwa terorisme di Indonesia. Dr. Azhari tewas dalam penyergapan tersebut akibat bom bunuh diri yang dilakukannya. Kepastian terkait identitas Dr. Azhari diperoleh dari hasil pemeriksaan data pembanding sidik jarinya yang dimiliki oleh Polri. Sebelum tertangkap, Dr. Azhari telah ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polri maupun kepolisian luar negeri terutama FBI. Mengingat Dr. Azhari adalah termasuk dalam DPO utama bersama Noordin M. Top beserta beberapa pelaku terorisme lainnya saat itu, maka Polri pun menawarkan hadiah bagi masyarakat yang dapat memberikan informasi valid tentang keberadaan Dr. Azhari berupa uang Rp. 2.000.000.000,-. Namun ternyata upaya tersebut tidak membuahkan hasil dikarenakan memang pergerakan Dr. Azhari beserta jaringannya sangat militan dan tertutup serta didukung oleh sikap masyarakat yang cenderung apatis terhadap lingkungannya sehingga Polri harus berupaya ekstra keras dalam menemukan posisi Dr. Azhari setelah sekian tahun.

Sumber : http://www.antaranews.com/view/?i=1247807959&c=NAS&s=HUK, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Rentetan Ledakan Bom di Indonesia

30 Jumat, 17 Juli 2009 12:19 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | Dibaca 1822 kali Seorang korban ledakan bom JW Marriot sedang dipindahkan dari RS MMC Kuningan ke RSPP, Jakarta, Jumat (17/7). (ANTARA/Fanny Octavianus) Singapura, (ANTARA News) - Ledakan bom di dua hotel di wilayah bisnis Jakarta, Mega Kuningan, pada Jumat 17 Juli merupakan kasus terbaru dalam rentetan ledakan di Indonesia. Reuters mencatat kasus-kasus bom besar di Indonesia terjadi pada :
• • • • • • • • • • •

1 Agustus 2000 - di Jakarta yang menyebabkan dua tewas dan puluhan luka, antara lain Duta Besar Filipina. 13 September 2000 - ledakan di Bursa Efek Jakarta yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya. 24 Desember 2000 - serangkaian ledakan bom pada malam Natal di Jakarta dan berbagai tempat lain yang menyebabkan 17 tewas dan sekitar 100 cedera. 12 Oktober 2002, edakan di Bali menewaskan 202 orang, sebagian besar wisatawan asing termasuk 88 dari Australia. 5 Desember 2002 ledakan di restoran McDonald di Makassar menewaskan tiga orang. 5 Agustus 2003 - bom meledak di luar hotel JW Marriott Jakarta menewaskan 12 orang termasuk seorang WN Belanda dan melukai 150 lainnya. 10 Januari 2004 - mpat orang tewas akibat ledakan bom di kafe karaoke di Palopo, Sulawesi. 9 September 2004 - bom berkekuatan tinggi meledak di dekat Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan menewaskan 10 WNI serta melukai 100 lainnya. 13 November 2004 - satu ledakan di dekat kantor polisi di Poso, Sulawesi menewaskan lima orang. 28 Mei 2005 - dua bom meledak di pasar Sentral di Tentena, Poso, menewaskan 22 orang. 2 Oktober 2005 - tiga bom bunuh diri di Bali menewaskan 20 orang termasuk beberapa wisatawan asing.

Komentar : Data rentetan peristiwa pemboman di Indonesia tersebut diatas merupakan fakta bahwa para pelaku terorisme di Indonesia masih eksis dalam suatu bentuk jaringan global bahkan terhubung dengan jaringan terorisme internasional. Hal tersebut terbukti berdasarkan fakta hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh Polri melalui Satgas Bom Polri dan Densus 88 / AT Polri yang menemukan berbagai dokumen tentang struktur jaringan Jama’ah Islamiyah di Indonesia yang memiliki afiliasi dengan Jaringan Al Qaeda. Fakta hasil penyelidikan dan penyidikan Polri juga menunjukkan bahwa berbagai peristiwa pemboman tersbut diatas memiliki hubungan satu sama lain, baik dalam hal jaringan pelaku terorismenya, modus operandi yang digunakan, dll. Berdasarkan pengakuan para teroris pelaku pemboman yang tertangkap oleh Polri, didapatkan fakta bahwa alasan utama yang melatarbelakangi pemboman tersebut adalah untuk menyerang kepentingan pihak asing di Indonesia, terutama negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat dan Sekutunya yang dianggap sebagai “musuh utama” dari jaringan terorisme Al Qaeda.

31 Sumber : http://www.tempo.co.id/harian/fokus/2003/2,1,11,id.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

Dewan Keamanan PBB Keluarkan Resolusi
TEMPO Interaktif, New York: Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi untuk mengutuk pengeboman di Bali, Sabtu (12/10) malam, yang tercatat serangan teroris terbesar pasca tragedi 11 September 2001 dengan korban 181 tewas dan 309 cidera. Resolusi itu selain untuk memberi dukungan pada Indonesia, juga agar pemerintah Indonesia bersungguh-sungguh dalam memecahkan masalah aksi teroris. Resolusi ini ditandatangani 191 negara yang tergabung dalam PBB. Dewan meminta setiap negara mendukung perang dengan terorisme melalui penghentian dan pemotongan dana. “Juga, menghentikan jalur perjalanan dari organisasi teroris. Tiap negara harus ikut andil dalam menjalankan program itu,” ujar Jeremy Greenstock, Perwakilan Inggris di Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip CNN di New York, Senin (15/10). Ketua Komite Pencegahan Terorisme itu juga menggarisbawahi komitmen tiap anggota PBB untuk memerangi terorisme usai tragedi 11 September 2001 yang melumat Gedung World Trade Center di New York, dengan korban ribuan orang tewas. Kini, peristiwa yang mengerikan itu terjadi di Bali. "Pemerintah Inggris memutuskan peristiwa itu sebagai serangan besar dan menakutkan dan perlu mendapat perhatian Dewan Keamanan PBB,” kata Greenstock. Dia berkata resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut diantaranya karena usulan Inggris, satu dari lima negara yang punya hak veto. “Kami senang mendukung pemerintah Indonesia,” katanya. Resolusi Dewan Keamanan PBB itu sekaligus dukungan terbesar dunia internasional bagi Indonesia agar tidak ragu-ragu memerangi terorisme. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan mengaku terkejut dan tidak menyangka serangan bom teroris meledak dahsyat di Bali yang selama ini amat tenar sebagai tempat aman wisata. Saat berkunjung ke Cina, Annan mengutuk semua kekerasan terhadap masyarakat sipil. (Purwanto – Tempo News Room; 16-10-2002) Komentar : Dikeluarkannya resolusi oleh PBB yang mengutuk Bom Bali I tersebut merupakan bukti nyata keseriusan perhatian dunia internasional terhadap permasalahan terorisme global, artinya bahwa permasalahan terorisme yang terjadi di negara manapun tidak lagi dianggap sebagai permasalahan parsial yang harus ditanggulangi oleh negara yang menjadi target terorisme atau yang telah mengalami peristiwa terorisme, namun permasalahan terorisme tersebut telah dijadikan sebagai permasalahan global yang harus ditanggulangi secara komprehensif oleh seluruh negara di dunia secara bersama-sama.

32 Berdasarkan resolusi PBB tersebut, direkomendasikan bahwa dalam penanganan terorisme, setiap negara harus menempuh upaya-upaya yang tidak saja dilakukan pasca terjadinya peristiwa teror (represif), namun juga mengupayakan tindakantindakan yang bersifat prevenftif, diantaranya Dewan meminta setiap negara mendukung perang dengan terorisme melalui penghentian dan pemotongan dana (countering the finenacing of terrorisme) serta menghentikan jalur perjalanan dari organisasi teroris. Metode penghentian dan pemotongan dana terorisme saat ini telah menjadi perhatian utama PBB yang selanjutnya juga direkomendasikan agar dilaksanakan di setiap negara mengingat kelangsungan berbagai aksi terorisme mutlak terkait dengan ketersediaan dana untuk mendukungnya, sebagaimana yang terbukti dalam penyelidikan dan penyidikan Polri terhadap kegiatan terorisme yang dilakukan oleh Imam Samudra, cs yang diantaranya didukung oleh dana yang didapat dari hasil perampokan, yaitu sebagaimana yang terungkap di Banten, dimana Imam Samudra, cs melakukan perampokan terhadap toko mas untuk memenuhi dana operasional kegiatan terorismenya. Sumber : http://www.kapanlagi.com/h/0000106083.html, diakses Januari 2010. pada tanggal 31

DPR Ratifikasi Terorisme

Konvensi

Internasional

Pemberantasan

Kapanlagi.com - Rapat Paripurna DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno di DPR pada Selasa mengesahkan RUU Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris 1997 dan RUU Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999 menjadi undang-undang. Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Theo L Sambuaga dalam laporan di depan hadirin rapat paripurna DPR mengatakan, semua fraksi DPR di Komisi I DPR sepakat untuk membawa kedua RUU itu untuk dibahas dalam Rapat Paripurna DPR untuk disahkan. Theo mengatakan, dengan meratifikasi kedua konvensi internasional itu berarti Indonesia semakin punya komitmen untuk melakukan pemberantasan aksi terorisme dan pendanaannya. "Indonesia juga aktif melakukan kerjasama dengan negara lain dalam memberantas terorisme dan pendanaannya," katanya. Ratifikasi terhadap kedua konvensi internasional itu, tambah Theo, menjadi landasan bagi Indonesia untuk memperkaya hukum nasional dan bermanfaat bagi penguatan hukum kerjasama internasional dalam pemberantasan terorisme. Juru bicara Fraksi Partai Golkar Antarini Malik dalam menyampaikan pandangan fraksinya mengatakan, terorisme merupakan ancaman serius bagi kedaulatan negara dan perdamaian dunia.

33 "Dalam konteks Indonesia, terorisme merupakan ancaman keutuhan wilayah," katanya. Antarini menambahkan, korban terorisme telah banyak sehingga aksi terorisme harus diberantas dan ditanggulangi. "FPG setuju meratifikasi kedua konvensi internasional ini, karena dengan demikian ruang gerak terorisme akan dipersempit," katanya. Effendi MS Simbolon, juru bicara Fraksi PDIP, menyatakan terorisme merupakan masalah sosial trans nasional sehingga penanganannya harus dengan melakukan kerjasama internasional. Terorisme masih akan menjadi ancaman di masa depan, bahkan dengan senjata yang semakin canggih untuk membunuh korbannya secara mengerikan. Pencegahan aksi terorisme dan pendanaannya merupakan keharusan. Indonesia telah menjadi korban aksi terorisme sehingga Fraksi PDIP setuju untuk mengesahkan RUU Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman Oleh teroris 1997 dan RUU Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan terorisme 1999. FPDIP, kata Effendi, meratifikasi kedua konvensi internasional itu namun juga memandang perlu untuk memberantas terorisme dengan mencari akar-akar masalahnya. Dalam kesempatan tersebut, Effendi juga menyatakan terimakasih terhadap semua pihak yang telah memberikan masukan bagi pembahasan kedua konvensi internasional itu. Fraksi-fraksi lain di DPR, melalui juru bicara masing-masing, juga menyatakan pandangan meraka yang senada dengan kedua fraksi besar itu. Mereka menyetujui kedua RUU itu menjadi UU karena diperlukan bagi upaya mencegah dan memberantas terorisme yang anti humanisme. (7 Maret 2006) Komentar : Indonesia melalui para wakil rakyatnya telah menyadari besarnya ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan terorisme. Oleh karenanya, melalui para wakil rakyat tersebut, pemerintah Indonesia pun berupaya untuk menyelaraskan gerak dan langkahnya dengan dunia internasional melalui upaya ratifikasi Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris 1997 dan Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme 1999 menjadi undang-undang. Pengesahan kedua konvensi dimaksud adalah untuk memperkuat aspek legalitas dalam upaya pemberantasan terorisme yang dilakukan oleh aparat penegak hukum di Indonesia. Disamping itu, hal tersebut juga akan memberikan keuntungan tersendiri bagi pemerintah RI, antara lain dapat dijadikan landasan kerjasama internasional dengan negara-negara lain dalam hal pemberantasan terorisme.

34 Sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/38802-bom_meledak__191_tewas

Sepuluh bom meledak di dalam empat kereta komuter di Madrid, 11 Maret 2004
Rabu, 11 Maret 2009, 06:10 WIB Nenden Novianti, Edwin Solahuddin VIVAnews – Sebanyak 191 orang tewas dan 1.800 lainnya terluka saat sepuluh bom meledak di dalam empat kereta komuter di ibukota Spanyol, Madrid, pada 11 Maret 2004. Menurut laman stasiun televisi berita BBC, serangan bom simultan tersebut terjadi di dalam empat kereta komuter yang berjalan antara stasiun Alcala de Henares menuju stasiun Atocha di pusat kota Madrid. Serangan bom di pagi hari tersebut berlangsung hampir bersamaan dalam selang waktu dua menit. Tiga ledakan pertama terjadi di dalam kereta nomor 21431 di stasiun Atocha pada pukul 07.37 pagi. Tiga bom berikutnya meledak pada pukul 07.38 di dalam kereta 21435 yang ada di stasiun El Pozo dan kereta 21713 yang ada di stasiun Santa Eugenia. Empat bom sisanya meledak satu menit kemudian di dalam kereta 17305 yang tengah melaju menuju stasiun Atocha. Akibat ledakan beruntun yang terjadi tiga hari sebelum pemilu Spanyol tersebut, 191 penumpang kereta tewas dan 1.800 lainnya terluka. Untuk menolong para korban, pemerintah Madrid langsung mendirikan posko kesehatan darurat di luar stasiun Atocha. Awalnya, pemerintah Spanyol menuding gerilyawan Basque sebagai pelaku serangan. Namun tuduhan tersebut dibantah kelompok separatis Basque, ETA, yang menyalahkan elemen Arab di negaranya sebagai pelaku serangan. Bantahan kelompok ETA tersebut dikuatkan hasil penyelidikan pihak kepolisian Spanyol yang menyalahkan kelompok militan asal Maroko, Aljazair dan Syria sebagai pelaku pengeboman. Akibat serangan teroris terbesar di Eropa sejak pengeboman Lockerbie tersebut, PM Jose Maria Aznar dari Partai Populer kalah dalam pemilu, digantikan oleh Jose Luis Rodriguez Zapatero dari Partai Sosialis. Komentar : Berdasarkan hasil temuan bukti yang didapat oleh pihak kepolisian Spanyol dalam kasus pemboman kereta di Madrid, menunjukan bahwa aktor di balik pemboman tersebut adalah kelompok Brigadir Abu Hafts Al Masri. Motivasi utama dari pelancaran aksi terorisme tersebut adalah untuk melakukan protes terhadap kebijakan

35 luar negeri pemerintah Spanyol yang mendukung agresi Amerika Serikat terhadap Irak. Fakta tersebut merupakan fakta yang menunjukkan salah satu motivasi dari suatu kegiatan terorisme, yaitu motivasi terkait dengan bidang politik. Motivasi di bidang politik tersebutlah yang sebagian besar mendasari dilakukannya aktivitas terorisme di dunia. Kelompok teroris lain yang mendasarkan motivasi utamanya dalam melakukan kegiatan terorisme terkait dengan kebijakan-kebijakan politik suatu negara adalah kelompok AL-Qaeda. Al-Qaeda merupakan kelompok teroris yang paling aktif melancarkan aksinya saat ini dengan dilandasi motivasi utama terkait dengan kebijakan luar negeri pemerintah Amerika Serikat yang dianggap merugikan eksistensi umat Islam, antara lain dukungan pemerintah AS terhadap pemerintah Israel dalam konfik antara Israel dan Palestina, operasi militer AS dan sekutunya di Afganistan, operasi militer AS di Irak, dll. Salah satu aksi fenomenal yang dilancarkan kelompok Al-Qaeda untuk menunjukkan protesnya terhadap kebijakan luar negeri pemerintah AS adalah dengan melakukan pembajakan terhadap 4 pesawat komersil yang selanjutnya ditabrakkan ke 2 menara WTC, gedung pusat pertahanan AS di Pentagon dan satu lagi dijatuhkan sekitar pensyllvania. Hal yang menarik dari peristiwa pemboman kereta di Madrid oleh kelompok Brigadir Abu Hafts Al Masri adalah dikarenakan aksi mereka tersebut terinspirasi dengan konsep jihad yang digunakan kelompok Al-Qaeda. Sumber : http://www.inilah.com/berita/selamat-pagi-indonesia/2009/07/27/133720/atasiterorisme-dengan-keadilan-sosial/, diakses pada tanggal 30 Januari 2010. Atasi Terorisme dengan Keadilan Sosial HUKUMAN mati tidak secara otomatif membuat gerakan terorisme mati. Gerakan teror ini telah hidup di berbagai negara dengan latar belakang berbagai agama. Namun aksi ini lekat dengan ketidakadilan sosial dan kesejahteraan. Terorisme menjadi sulit dimengerti karena efeknya bisa luar biasa besar. Meski, itu dijalankan orang yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tinggi. Tanpa pendidikan yang memadai sekalipun, seseorang bisa melakukan aksi terorisme yang menggetarkan dunia dan berimplikasi sangat luas. John W Morehead dalam "Armageddon Enters the New Age of Terrorism: A Commentary on Terrorism and Religion" (September 2001) menampilkan fakta tindak terorisme yang dikaitkan dengan agama, tentu dari berbagai agama. Sebagaimana dicatat Made Ayu Nita Trisna Dewi (Ay Yauwk Nio), seorang aktivis perdamaian Taiwan, para teroris berlatar berbagai agama. Dari bendera Hindu, misalnya, ditampilkan tokoh Bhagwan Shree Rajneesh, pemimpin kelompok Rajneespuram.

36 Dia pada September 1984 menggegerkan Amerika Serikat (AS) karena memerintah para pengikutnya untuk meracuni restoran The Dalles di Oregon. Akibatnya, 750 orang yang makan di restoran itu sakit. Dari agama Shinto, misalnya, kita masih ingat akan tragedi gas sarin yang ditaburkan oleh kelompok Aum Shinrikyo di subway di Tokyo, Maret 1995, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 5.000 orang. Lalu, dari bendera Kristen, Morehead menampilkan kelompok teroris yang sangat terkenal di AS dengan sebutan Christian Identity Movement. Gerakan itu membawa misi superioritas orang kulit putih (Arya dan Anglo Saxon) sebagai bangsa terpilih, dan AS merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. Akibatnya, mereka sangat anti-Yahudi dan pendatang selain kulit putih. Bahkan, mereka punya kristologi konyol bahwa Yesus itu bukan orang Yahudi, tetapi berdarah Arya. Gerakan tersebut juga yakin akan masa depan yang rasialis bahwa akan terjadi perang suci antara kelompok mereka dengan Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Tentu, dengan kemenangan akhir diraih kelompok mereka. Pada 1987, gerakan itu dituding menebar racun pada suplai air untuk dua kota besar di AS, tetapi bisa digagalkan. Salah satu nama terkenal dari gerakan itu adalah Timothy McVeigh, tertuduh pengeboman Gedung Federal di Oklahoma 1995. Dari Yahudi, Morehead menampilkan, sejak kemunculannya, selalu ada kelompokkelompok radikal dari agama itu seperti Zelot yang menentang penjajahan Romawi dan Lubavitch Hasidic Movement. Juga, beragam kelompok ultra ortodoks yang meyakini bahwa Tuhan hanya memilih bangsa Yahudi dan akan memenangkan perang suci dengan setiap kelompok yang melawan Israel. Dari sisi Islam, Cendekiawan muslim Azyumardi Azra berpendapat, memang tidak ada landasan teologi dalam Islam untuk melakukan teror. Meski begitu, Azyumardi tidak menolak kenyataan bahwa dalam sejarah Islam terdapat kelompok-kelompok tertentu dari kalangan muslimin yang melakukan teror dan kekerasan. Dalam kaitan terorisme ini, betapa pentingnya membangun ekonomi yang adil dan merata dalam upaya mengikis kemiskinan dan kesenjangan. Belajar dari hasil kerja Hernando de Soto, ekonom dan pakar sektor informal asal Peru dan peraih Nobel Perdamaian 2006 Muhammad Yunus, kita bisa mengikis terorisme itu. Muhammad Yunus melalui program kredit mikro yang giat dia salurkan sejak 1974 sampai 2007 berhasil mengentaskan sekitar 6 juta warga Bangladesh dari kemiskinan. Yunus sangat yakin kemiskinan membuat orang gampang direkrut untuk menjadi teroris atau terdorong sendiri untuk berbuat kriminal. Ucapan Yunus terbukti. Sampai saat ini, warga Bangladesh tidak terseret rayuan jaringan teroris yang justru merajalela di dua negara tetangganya, India dan Pakistan.

37 Pola kerja yang mirip dengan tindakan Yunus juga dipraktikkan Hernando de Soto. Dalam buku The Other Path terbitan 2002, de Soto memaparkan pemberdayaan sektor informal, yang menjadi pilar utama kegiatan ekonomi mayoritas rakyat Peru. Aksinya itu bukan hanya signifikan memompa PDB negara, namun juga memudarkan pengaruh gerakan gerilyawan pengacau keamanan, Shining Path, yang merajalela sejak dekade 1980-an. Terorisme adalah efek sampingan dari kesenjangan dan ketidakadilan sosial, kemiskinan dan kekecewaan. Dan itu bisa diatasi dengan kerja keras kita mengikis dan memberantas kemiskinan. (27/07/2009) Komentar : Konsep penerapan sanksi hukuman atas berbagai tindak pidana yang ada di dunia saat ini secara umum dilandasi oleh konsep deterrence theory yang dikemukakan oleh Cesare Beccaria dan Jeremy Bentham yang menyatakan bahwa dalam rangka menimbulkan efek jera atas suatu kejahatan maka terhadap pelaku kejahatan tersebut harus diberikan penghukuman yang memenuhi prinsip certainty (kepastian), celerity (kecepatan), dan severity (membebani/berat-ringan), oleh karena itulah dalam perspektif penerapan sanksi berupa hukuman mati, maka dalam hal ini prinsip yang diutamakan adalah terkait dengan beratnya akibat suatu kejahatan sehingga diperlukan hukuman yang berat pula. Terkait dengan penerapan hukuman mati tersebut, termasuk dalam penghukuman terhadap para pelaku terorisme, memang banyak menuai pro dan kontra dengan berbagai alasan dan pertimbangan masingmasing. Dalam pandangan penulis, penerapan hukuman mati atas suatu kejahatan tertentu, termasuk dalam hal ini adalah terorisme, masih relevan dan diperlukan mengingat beberapa pertimbangan, antara lain : 1) Mahkamah Internasional hingga saat ini pun masih menerapkan hukuman mati atas kejahatan-kejahatan tertentu, khususnya kejahatan terhadap kemanuasiaan (crime against humanity), seperti halnya dalam penghukuman Saddam Husein. Dalam setiap kejadian Terorisme selalu menimbulkan kerugian dalam skala besar, baik dalam hal korban jiwa maupun kerugian materiil, belum lagi dampak lainnya, antara lain terhadap kondisi psikologis para korban yang selamat dan keluarganya maupun para keluarga korban yang meninggal, penurunan kondisi perekonomian, sosial dan pariwisata negara yang menjadi taget terorisme, dll.

2)

Namun demikian, pelaksanaan penghukuman (punishment) tersebut tidak dapat berjalan dengan sendirinya, melainkan tetap harus diiringi dengan upaya-upaya lainnya guna menjamin tidak terulangnya suatu kejahatan, baik oleh orang yang pernah melakukan kejahatan tersebut sendiri (special deterrence) maupun oleh orang lain yang belum pernah melakukan kejahatan tersebut (general deterrence). Berbagai kajian telah dilakukan oleh para ahli dalam rangka mencari akar permasalahan terorisme sehingga muncullah berbagai definisi tentang terorisme beserta analisa terkait dengan latar belakang yang meyebabkan terjadinya terorisme termasuk solusisolusi yang dikemukakan dalam rangka penaggulangannya. Salah satu konsep

38 penanggulangan terorisme mutakhir adalah ”deradikalisasi”, yaitu upaya untuk mengeliminasi pola pikir maupun tindakan radikal yang dianut oleh para pelaku terorisme maupun diluar pelaku terorisme yang berpotensi dipengaruhi / terpengaruh paham radikal kelompok terorisme tertentu. Konsep deradikalisasi tersebut telah dijalankan secara serius oleh beberapa negara dengan didukung oleh sejumlah anggaran negara, namun di Indonesia belum demikian halnya, karena deradikalisasi masih dijalankan secara mandiri oleh Polri. Menurut pendapat penulis, saat ini sudah waktunya pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pelaksanaan konsep deradikalisasi tersebut secara komprehensif karena dengan menerapkan konsep tersebut maka sebenarnya pemerintah pun diuntungkan dalam hal operational cost yang dikeluarkan dibandingkan apabila sekedar melakukan upaya-upaya yang bersifat represif melalui penegakan hukum.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->