Anda di halaman 1dari 164
a MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH fp Disngkat dari salah-satu kisah nyats yang mengharuken, Ditults-kerbali dari salah-satu film terbaik sepanjang masa. "Baaa, maaa.... Baa.... Maa...."") *) "Moga Bunda Disayang Allah" “Gelap! Melati hanya melihat gelap. Hitar, Kosong, Tak ada warna.... Senyap! Melati hanya mendengar senyap. Sepi, Sendii, Tak ada nada...” ~tere-liye~ DAFTAR ISI Jeruk Panas Special... 7 Merah. Kuning. Hijau... 25 Ribuan Kunang-Kunang ... 41 Tiga Tahun Lalu... 62 Keterbatasan Melati... 85 Pertemuan Pertama ... 107 Satu Minggu Berlalu.., 137 Gadis Lesung Pipit .., 167 Kursi. Kursi. Kursi ... 199 Gadis Berkerudung Lembut .., 227 Boneka Panda .., 245 Tarian Aurora ... 265 Keajaiban Telapak Tangan ... 291 Festival Kembang Api... 11 Epilog ... 329 JERUK PANAS SPESIAL @& Apalagi hendak diucap, kota ini elok nian di pelupuk mata. Begitu indah ketika semburat matahari muncul di kejauhan horizon cakrawala. Membuat jingga hamparan laut yang beriak tenang. Burung camar melengking mengisi senyapnya udara pagi. Ombak pelan menggulung bibir pantai. Buih membasuh butiran pasir yang halus bagai es krim saat diinjak. Bayangan gedung-gedung, pepohonan, tiang listrik, kabel-kabel telepon terlihat = menyenangkan di jalanan lengang. Satu-dua lampu taman berbentuk bola putih-susu masih menyala. Juga lampu neon panjang-panjang di depan ruko. Belum, atau lupa dimatikan. Membuat temaram tapi indah sudut sudut kota, berebut pesona dengan larikan cahaya matahari pagi, Syahdu, Bagai lukisan yang baik, tambahan satu larik saputan warna saja membuat lukisan itu jadi tidak enak lagi dilihat, Jadi jangan coba-coba malah iseng menambahkan objek baru. Di belakang kota, pebukitan seperti sabuk melingkar mengelilingi, Bak ksatria gagah, berdiri kokoh menjaga kota, Hutan hujan tropis lebat menutupi pebukitan, Bagai sehelai beludru Aijau sepanjang mata menatap. Hijau? Ah, tak juga, sepagi ini kabut putih sempurna mengungkung hijaunya dedaunan Membuat pebukitan bagai selimut putin lembut, seperti kapas, seperti busa sabun, seperti entahlah. Yang pasti memberikan nuansa rmelegakan, Kota ini tidak kecil, juga tidak besar. Satu di antara belasan kota khas pelabuhan pesisir selatan yang nyaman, Lembah luas yang subur menghampar dari batas kata hingga pebukitan, menyisakan tanah kosong, daerah pedesaan. Tanah yang hari ini dipenuhi oleh persawahan. Tunggulah setengah jam lagi, saat matahari beranjak dari garis lautan, ketika pagi mulai meninggi, pematang sawah juga mulai dipenuhi petani yang riang menjemput hari. Kepala dengan topi ilalang. Cangkul di pundak, Sepatu bot setinggi lutut, Dan bekal tiga patong pisang-rebus. Bakal nikmat nian, pukul 10.00 nanti istirahat sejenak di pondok rumbia setelah bekerja mem- bersihkan guima, Santai menyeduh segelas kopi hangat sambil menatap berisik burung pipit, kelepak bangau putih, dan lenguh kerbsu berkubang. Sementara itu, di pelelangan ikan dekat pelabuhan, sejak shubuh sudah dipadati nelayan. Nelayan yang setelah semalaman akhirmya pulang dari melaut, Menumpahkan berember-ember wdang sebesar lengan, cumi sebesar tinju, kepiting (rajungan) sebesar buku, dan tidak terhitung ukurannya ikan ikan. Mulai dari sebesar jari (ikan teri), sebesar tampa (ikan pari) hingga ekstra-double-size segede paha (ikan kakap Baronang-ronang). kalau lagi beruntung, malah ada yang pulang membava ‘hiu' sebesar lemari, Bukan main, Harga jualnya setara dengan persediaan solar untuk setahun. Di sini hiu memang mahal, sama bernilai dengan posisinya di lautan sebagai penguasa strata tertinggi rantai makanan. Pemilik ruko-ruko juga mulai membuka partisi depan. Bunyi pintu aluminium di dorong terdengar ber- kereketan. Membuat gigi nyilu. Tapi mereka justru tersenyum, mendesah di sejuknya udara, berdoa lirih semoga hari ini pengunjung lebih banyak dari kemarin. Dan lebih penting lagi, semoga pengunjung pengunjung itu membawa uang lebih banyak juga (plus niat beli pula}. Kan, nggak ada gunanya kalau toke cuma ramai doang, memangnya pasar festival Anak-anak odio rumah oramai beranjak = mandi (sebenamya bandel diteriaki agar mandi), gosok gigi gaya kilat (mana ingat mereka soal iklan menggosok gigi yang benar), menyemburkan busa sabun banyak banyak (bersih nggak bersih yang penting busanya banyak}, kecipak-kecipak, tertawa, kecipak kecipak, terpeleset (mengaduh, meski sejenak kemudian tetap tertawa-tawa). Berganti pakaian sekolah dengan cepst. Memaksi sepatu dengan cepat. Lantas teriak berpamitan. Wushh, macam mobil balap saja.... Pekerja kantoran juga sudah rapi dengan rambut klimis, kemeja lengan panjang wangi, celana katun tersetrika mulus (kelihatan banget dari lipatannya), dan tak lupa sepatu hitam mengkilat. Sempat sarapan. Sempat mencium pipi istri dan anak-anak tercinta, sempat memberi ‘petuah', lantas berpamitan, Menjemput hari, Benarlah! Dalam setengah jam ke depan, kehidupan kota ini baru saja dimulai, Hari baru berikutnya sudah tiba, Sama indah dan menyenangkan dengan hari kemarin, juga hari kemarinnya lagi, juga hari kemarin-kemarinnya lagi, juga hari kemarin kemarin kemarinnya lagi, juga hari kemarin kemarin kemarin kemarin.... Aduh, kebanyakan kemarinnya ya? Cerita ini juga baru saja dimulai, meski di sana-sini sayangnya tidak selaluseindah = kota ini. Menyedihkan malah, bahkan satu-dua membuat nafas terhela panjang. Tapi tak mengapa, semoga dengan begitu justru dapat memberi banyak pelajaran. Semaga... # "Bunda, bangun! Sudah pagi...." Melati berseru sambil melompat riang ke atas ranjang ukuran king-size, Tertawa. Cahaya matahari pagi menyelisik celah krei. Membentuk garis di lantai keramik super-mewah kualitas ekspor. Cahaya yang sealah mengambang bersama kabut, Satu lariknya menimpa wajah Melati. Gadis kecil yang berumur 6 tahun. Mukanya lucu menggemaskan, layaknya kanak-kanak yang selalu senang mendengar kabar apa-saja. Rambut ikalnya mengombak (bandel tidak mau lurus-lurus juga meski disisir berjam-jam), pipinys tembam macam donut. Bola matanya hitam-legam seperti biji buah leci. Dan giginya kecikecil bak gigi kelinci Jangan tanya gurat wajahnya. Kalian akan tertipu meski oleh seringai-bandel-nya. Kalian akan selalu bilang ‘iya' demi menatap senyum manisnya. “Bunda, bangun! Bunda kesiangan, nih!" Jahil Melati menarik selimut ibunya. Berteriak lagi. Tertawa lagi Merangkak lebih dekat, Mengeluarkan sehelai bulu ayam (yang diperolehnys kemarin dari Mang Jeje, tukang kebun). Jahil! Bunda menggeliat, membuka mata, Pelan menyadari pagi. Kemudian tersenyum lebar demi menatap putrinya yang sedang merencanakan ‘persekong- kolan jahat', memsinkan bulu ayam itu ke Iubang hidung-nya, Bunda sebenamya sudah bangun sejak shubuh, Malah sejak pukul dua tadi malam, di sepertiga akhir waktu terbsik yang dijanjikan Menghabiskan isa malam dengan bersimpuh menangis di atas sepotang sajadah. Membuat basah ujung-ujung omukena, Berharap Tuhan akhirnya berbaik-hati memberikan jalan-keluar.... Satu lark cahaya matahari pagi lainnya _menimpa wajah Bunda, Membentuk garis di pipi Bunda. Perempuan berumur empat puluh enam tahun Hampir setengah baya, Wajah yang andaikata semua penat ini tak ada sungguh masih terlihat cantik. Lah, Melati saja begitu menggemaskan, jadi dari mana pula semua gen dak Melati itu berasal? Pasti dari ibunya, kan? Sayang sejak tiga tahun terakhir, sisa-sisa kecantikan masa muda Bunda terhapus oleh getimya kenyataan. Rambutnya memutih, Satu dua malah lebih cepat tereliminasi oleh kurangnya kiriman sms eh perawatan, ding. alias rontok. Sedikit beruntung kemarin Salamah, yang mengurus keperluan rumah membelikan semir rambut, jadi pagi ini Bunda ‘terlihat' lebih muda sepuluh tahun, Hanya saja, tidak ada 'semir untuk ekspresi muka, kerut wajah, atau pudarnya cahaya tatapan mata. Bunda memang selalu terlihat = lembut, me- nyenangkan, wajah yang senantiasa menjanjikan perasaan damai dan tenterarn, wajah keibuan yang memberikan perlindungan, tapi tetap tidak bisa disembunyikan gurat harapan yang dari hari ke hari semakin menipis. Harapan yang mulai dibujuk untuk menerima kenyataan, mengalah atas takdir.... “Bunda, miki apa?" Melati menyeringai. Mernutus lamunan, Bunda mengusap matanya. Melipat dahinya. Seperti baru menyadari sesuatu, Hei! Apa ia tidak salah lihat? Apa semua pemandangan ini sungguh nyata? Melati yang sekerang merangkak ai depannys. Yang nyengir lebar memamerkan gigi kelincinya. Bukankah pemandangan ini ganjil sekali? “Bunda kak melamun? Bunda masih sakit, ya?" Melati bertanya sekali lagi, dengan intonasi suara dan ekspresi wajah sok-serius. Bunda gagap mengangguk, menelan ludah, masih amat terkejut melihat Melati yang tersenyum dengan wajah mendekat. “Idih, dahi Bunda panas banget-" Tangan Melati menyentuh, Ya, sudsh dua hari ini tubuhnya tidak nyaman. Sebenarmnya Bunda tahu persis semua baik-baik saja, tapi perasaan yang semakin sesak, apalagi sejak kejadian dus hari alu membuat fisiknya ikutan tidak nyaman, Sedikit demam. Sedikit flu. Sedikit pusing. Entahlah apa nama penyakit itu. Semuanya sedikit-sedikit. Kalau banyak demam, jelas itu pertanda demarn, Atau banyak batuk, jelas itu penyakit batuk, Kalau sedikit-sedikit, Bunda tidak tahu. Seharusnya selepas shubuh adi ia sudah melakukan banyak hal, Membantu menyiapkan pakaian kerja suaminya, memastikan Melati di kamarnya, memastikan sarapan tersedia, memas- tikan ini itu, Memang semuanya bisa dibilang hanya ‘memastikan', pernak-pernik pekerjaan = rumah tangga sesungguhnya sudah diselesaikan oleh sernbilan pembantu, Tapi Bunda tipikal ibu rumah tangga yang baik, selalu menyibukkan diri, Tidak hanya 'tidur-tiduran' Sayang, selepas shalat shubuh, tubuhnya terasa lemas seka#. Memutuskan beranjak lemah naik ke atas ranjang, berharap bisa kembali tertidur Berharap setelah tidur sebentar fisiknya bisa membaik, tapi sekarang ia malah_ kesiangan. Mungkin suarminya enggan membanqunkan, tidak tega melihat wajah lelahnya. Sepagi ini suaminya pasti sudah pergi ke pabrik, itu berarti hari ini tidak ada ritual kecupan mesra di kening, berparnitan.... Bunda menghela nafas, berusaha duduk ber- sandarkan bantal. "Teeet! Bunda kak masih melamun?" Melati nyengir lebar, tertawa. Tangannya memainkan bulu ayam yang urung buat jahilin Bunda. "Ah-yal Barusan Melati buatkan Bunda air jeruk panas aj dapur...." Gadis kecil itu seperti teringat sesuatu, bola mata hitam biju buah lecinya berkerjap-kerjap lucunya. "“Sebentar, Melati ambilkan, ya!" Tanpa ba-bi-bu lagi Melati sudah gesit lompat dari tempat tidur Piyama birunya bergerak-gerak, rambut ikalnya bergoyang-goyang, ia buru-buru menyeret kakinya yang beralaskan sandal tidur berhias kepala kelinci. Bunda tetap gagap. Sekali lagi menghembuskan nafas panjang. Ya Allah, apa ia tak salah lihat? Apa ini untuk kesekian = kalinya —mimpi-mimpi itu menipunya? Bunda beranjak ingin memperbaiki selimut, Belum sempat. Menelan ludah, Kaget. Melati sudah kembali sambil berjinjit pelan membawa gelas besar. Capat sekali? Hanya sekejap? Bagairnana mungkin? Bukankah capur ada di lantai satu, berjarak 30 meter, melewati dua puluh anak tangga pualam melingkar berplitur dan berukiran mahal? Bunda tak sempat berpikir panjang. Menatap gelas yang dipegang putri semata wayangnya. Uap mengepul perlahan dari cangkir besar, Jeruk panas? Ya, Bunda selalu memberikan secangkir jeruk panas untuk Melati kalau gadis keciInya Sedang flu Membantu =o meminumkannya dengan arnat. sebaaay..., Sekarang? Melati-nya yang menghantarkan segelas jeruk panas. Berhati-hati sekali, takut tumpah, Mengenggam erat-erat piring tatakannya bahkan dengan kedua belah telapak tangan. “Jeruk panas spesial buatan Melati! Silahkan diminum, Nyonya" Melati mengulurkan cangkir itu. Meniru- pelayan yang sering diilihatnya di restoran-restoran. Mata hitam biji buah lecinys begitu memesona, Tersenyum amat manisnya. Amat menggemaskan. Dan Bunda seketika menangis.... Tersedu! Ya Allah, ia tahu sekali, Ini lagilagi mimpi-mimpi itu... Ini lagi-lagi harapan itu... Semuanya terasa sesak, Amat sesak. Kenapa Engkau tega sekall membuatnya seolah nyata? "Xen-nap-pa Bunda menangis?" Melati menyeringai, bingung Aduh, ia kan mau ngasih Bunda jeruk panas.... Kok Bunda malah nangis? Melati kan nggak nakal? Nggak bandel? Nggak teriak-terisk seperti biasanya Rambut ikal Melati bergerak-gerak (karena ia sok-dewasa mengaruk-garuk kepalanya, — sibuk berpikir) Tubuh Bunda malah semakin bergetar, terisak semakin kencang, mencengkeram — ujung-ujung seprai. Lihatlah, putri sermata wayangnya begitu nyata tersenyurm padanya. Kanak-kanak kecilnya begitu nyata mengulurkan cangkir itu, Semua_ ini kejam sekali, ya Allah..,, Sudah setahun terakhir, bahkan semua asa yang tersisa itu tega masuk ke dalam belahan otak tak-sadarnya, melukiskan janji-janji kesembuhan. Merangsek ke dalam mimpi-mimpinys. Semua ini kejam sekali, ya Allah! “aunda kenapa nangis? Air jeruknya 'gak enak, ya? Tapi, kan, Bunda belum minum? Masa’ Bunda tahu kalau ini enggak enak?" Melati melipat dahi, bertanya lagi. Kedua tangannya tetap terjulur, "Ergh, sebentar Melati ‘icip! dulu, ya!" Gadis kecil itu setelah sekian lama bingung menatap ibu-nya tetap tidak bergerak berinisiatif mengambil cangkir itu, menarik lagi tangannya, Wajahnya mengernyit saat menyeruput jeruk panas. Nyengir amat lebamya, “Eh-iya, asam banget.... Tih..." Mengeryit lagi, "Melati lupa ngasih gulanya...." Tertawa malu, "Sebentar Melati ambil guia di dapurt" Gadis kecil itu sekali lagi bergegas turun dari ranjang besar, Buru-buru seakan takut jeruk panas itu seketika dingin dan tidak segar lagi diminum. Sayang, kali ini Melati tidak hati-hati, Kaki kanannyatersangkut ujung selimut. —Limbung Kanak-kanak itu berseru pelan, kaget. Dan dalam hitungan seperseribu detik, air jeruk panas itu tumpah-ruah, Seketika sempurna membasahi wajah Bunda Dan Bunda seketika juga terhangun! ® Sepuluh kilometer dari rumah besar, mewah dan indah di lereng bukit tadi. Di saat yang bersamaan Di sudut kata yang padat, sumpek dan gerah. Nasib! Meski padat dan terlihat agaky¥yuh, sepotong sudut kota ini tetap saja terlinat menarik, Rumah-rumah berhimpitan seperti ratusan jamur merekah di musim penghujan. Melihatnya bagai menyaksikan film-film Amerika Latin yang fal-power dengan budaya gipsi itu, Pemandangan klasik yang hebat! Rumah dua-tiga lantai. Gang-gang sempit, Jendela berternu jendela di lantai dua, Berseberangan, Pot-pot bunga bertebaran di teras-teras atas. Begitu dekat hingga ujung-ujung rantingnya saling bersentuhan. Malah satu-dua kalian dengan mudah bisa melangkah dari satu teras ke teras lainnya Makanya di komplek ini ngetap banget istilah: ‘Pacar Seberang Jendsla’, Yang cewek malu-malu mengintip di balik tirai jendela, yang cowok gaya bermain gitar, kencang-kencang, sudah macam burung cendrawasin yang menggoda pasangan dengan memekarkan ekarnya tinggi-tinggi Matahari juga semakin. tinggi. Gang-gang dipenuhi oleh celoteh amak-anak yang berangkat sekolah Berlarian. Saling menarik tas. Topi, Menarik celana (ada yang merosot, nggak pake gesper sih). Tertawa. Celoteh ibu-ibu yang mengerumuni tukang sayur. Hmm, mereka sih beli sayurnya hanya butuh setengah menit, berseru "Biasa, Bang!" Lantas si Abang sayur yang hafal mati menu Senin-Minggu satu komplek perumahan itu segera mengeluarkan pesanan ibu-ibu tadi. Uang berpindah-tangan Selesai. Tapi lima belas menit berikutnya dihabiskan ibu-ibu untuk =membahas — topik-topik hangat tetangga sekitar. Laporan saksi mata, Live! Keren banget, padahal sebenarnya kata simpelnya yaaa, gos-sip! Jadi kalau mau tahu urusan satu kemplek, interogasi saja tukang sayur! Di salah-satu rumah dekat ibu-ibu berkerumun tadi, persis di lantai dua yang sempurma berbentuk ruangan besar berukuran 6x9 meter tanpa partisi. Ruangan dengan perabotan hanya ranjang kayu kusam, Di atas ranjang kayu tua itu, kusut-masai seorang pemuda. Tertidur telentang. Sendirian, Sembarangan Wajahnya jauh dari rapi. Malah kalau sekilas seram melihatnya. Seperti ngelihat preman terminal bus antar-kota = antar-provinsi. © Kumis — melintang, cambang tak terurus. Rambut panjang bak rocker yang sudah berbulan-bulang tidak keramas. Jangan tanya ada berapa kutu di rambutnya. Mungkin kutunya sudah beranak-pinak lima generasi. Kamar itu seharunya terasa lapang. Apalagi dengan langit-langit tinggi. = Tapi nyatanya pengap. Bagaimana tidak? Jendelanys selalu tertutup rapat 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Padahal jendela besar kamar itu persis menghadap lautan |uas, Jadi kalau pemiliknya mau sedikit saja menyisihkan tenaga membukanya, hamparan elak pemandangan mataharl terbit langsung terbentang sepanjang mata. Buku-buku berserakan di sekitar ranjang tua, Tidak terurus, Digigitin kecoa, dikencingi tikus, Pakaian kotor bergelantungan di dinding, jadi tempat favorit nyamuk bersembunyi. Jeans belel. Kemeja kumal. Kaos cokelat (kecokelatan karena kotor, bukan karena warnanya memang cokelat), Sebuah mesin ketik tua tergeletak di atas meja kecil. Di sebelahnya berdiri termes air panas berwarma hitam. Juga gelas kecil bermotif sncopy. Sisanya berantakan. Pengap. Penghuninya seperti tidak peduli. Juga tidak peduli dengan berisik siaran Jangsung di gang sempit bawah, Tidur dengan tarikan nafas berat. Bau alkohol tercium pekat dari mulut. Pemuda berumur 27 tahun. Tidur dengan sepatu masih di kaki. Baru pulang shubuh tadi. Terlalu lelah, Terlalu penat, Terlalu sesak. Terlalu Begitu saja hidupnya tiga tahun terakhir. Macam kalong. Tidur di siang hari. Berjaga penuh di malam hari, Menghabiskan dingin dan lengangnya malam sambil menggerutu di kedai minuman, bar tengah kota, Duduk di pojok ruangan. Sendirian, Menatap galak ke siapa saja yang mencoba basa-basi bertegur sapa (termasuk waitress genit yang mengantarkan botol bir), Gesture wajah dan gerakan tubuhnya jelas sekali: Pergi/! Biarkan aku sendirit Matahari semakin meninggi. Pemuda kita masih tertidur, Terdengar suara sandal kayu yang diseret di anak tangga menuju kamar besar 6x9 meter itu, Berkeriutan. Rumah itu sudah tua, meski arsitekturnya yang gaya banget (peninggalan rezim kolonial YOC) membuatnya terlihat antik dan slegan. Pemilik rumah, ibu-ibu gendut berusis setengah baya sedang berusaha menaiki anak tangga. Sedikit tersengal membawa tubuhnya. Pelan membuka pintu kamar. Menghels nafas panjang. Sekilas menatap pemuda yang masih tidur tertelentang, Lantas melangkah menuju meja kecil, Mengganti termos lama dengan yang baru, Ia tahu, air-sir ini jarang disentuh, tapi tak mengapa, setidaknya ritual pagi ini memastikan kalau anak-muda ini masih bernatas. Tbu-ibu gendut dengan wajah sabar-keibuan itu sekali lagi menatap sekilas pemuda di atas ranjang sebelum keluar dari kamar. Menatap — prihatin, Menyeka ujung-ujung matanya yang selslu sembab Berbisik pelan di pengapnya langit-langit, "Semoga Engkau akhirnya berbaik hati, Tuhan.... Lihatlah, dalam tidurnya, dalam rabuknya, dalam kondisi seperti ini, wajahnya tetap terlihat amat teduh... Semoga Engkau akhirnya berbaik hati...” & Bunda mengusap wajahnya yang basah. Mengeluh tertahan, Semua ini terasa menyakitkan, Bagaimana tidak? Ketika kalian tahu dan sadar persis apa yang sedang kalian mimpikan ternyata hanyalah sebuah ‘impr’. Bukankah mimpi dalam tidur tidak akan terasa indah lagi saat kalian justru dalam rairpi itu sendiri. menyadari semuanya bohong! Ah, padahal mimpi dalam tidur bisa menjadi obat pengurang rasa sakit dari kenyataan pahit yang panjang, kenapa puls jadi sebsliknya Air jeruk panas membuat kuyup selimut. Tangan Bunda gemetar menyingkapkannya, memandang nanar Melati yang bersungut-sungut di sebelah ranjang, sedang memainkan sehelai bulu ayam “Ba... BAS... MASA..." Berteriak, Bunda mengusap keningnya, Mengambil gelas yang tergeletak tumpah di dekat bantal, Air jeruk ini raungkin disiapkan Salamah tadi pagi. Atau juga oleh suaminya sebelum berangkat. Badannya masih terasa lemah. Mencoba duduk. Beranjak turun dari ranjang. "BAA. MAL. Ada..." Berteriak lagi. Melati mernukul-mukul rmeja dekat ranjang., Menarik gagangtelepon. Melemparnya sembarangan Rambut ikalnya bergoyang-goyang. Baju tidumya berantakan. Tangannya seperti moncong tapir yang mencari-cari semut di dalam lubang pohon, bergerak-gerak, menjalar tidak terkendali, Kepa- lanya bergerak-gerak miring. Matanya yang hitam bagai biji buah leci berputar-putar, “kau sudah bangun, seyang?" Bunda bertanya lemah, berusaha tersenyum, meski selurah qunia tahu senyuman itu percuma, Sama percumanya dengan pertanyaannya barusan, Melati terus meraba-raba, Tidak peduli. Tidak mendengarkan, Tiba di tepi ranjang, menyibak bantal, Mulutnya terbuka, mendesiskan suara yang tak berbentuk kata, Wajah kanak-kanak yang baru bangun tidur itu menjulur ke depan. wWajah yang terlihat tetap menggemaskan, tidak peduli sebesar apapun takdir menyakiti-nya. "Terima-kasih sudah membangunkan Bunda, sayang!" Bunda lembut meraih tangan putri semata wayangnya, Tertatih mencoba berdir, Menghela nafas pelan. Bunda tahu persis tak ada siapa yang membangunkan siapa. Ini hanyalah ritual pagi Melati Mana mengerti Melati tentang tidur dan bangun- “aduh, pakaian Ibu basah! Bassh kenapa?" Terdengar seruan dari bingkai pintu kamar tidur: Salamah bergegas masuk sambil — berseru rada-rada-panik seperti biasanya, Salamah tadi mendengar teriakan Melati dari dapur, bergegas datang. “Tidak apa-apa, Salamah! Basah sedikit. Melati tidak sengaja melemparkan gelas air jeruk!" Bunda menoleh, tersenyum, “aduh, maaf! Seharusnya Salamah — letakkan gelasnya di tempat yang lebih tinggi! aduh, Salamah lupa lagi..." Salamah mendekat rusuh. Berusaha membereskan sisa ‘keributan'. “Pakaian Ibu harus diganti-" "Nanti saja, setelah sarapan." Bunda menggeleng tegas, tetap tersenyum, membantu menyerahkan gelss (beruntung gelas itu menghantam bantal di sebelahnya). Hanya kejadian kecil, Tingkat sabamya tiga tahun terakhir sungguh melesat berpuluh-puluh kali lebih tinggi dibandingkan siapapun, "Ba. Maw. Avo" Melati berseru, sudah berjalan sembarang arah. “Kita sarapan, sayang!" Bunda mendekatinya, gemetar meraih tangan Melati. Membimbingnya berjalan Gemetar? Tangannya terasa lemas. Berpikir mungkin hari ini ia harus memanggil dokter keluarga, Minggu minggu ini ia tidak ingin sakit fagi, Apalagi sakit parah. Selelah apapun otak dan fisiknya, ia tidak ingin sakit.,., Itu akan merepotkan banyak orang. Teringat tiga tahun lalu saat rasa putus asa yang mengungkungnya siang-malam akhirnya rmembuat ia jatuh sakit selama sebulan. Thypus, Saat semua orang sibuk merawatnya, sibuk mengurusnya, Melati yang terkipaken, hampir joncet dari teras lantai dua. Teras indah yang biasa ia gunakan bersama suaminya untuk menatap siluet lampu kota dan berjuta bintang di angkasa, Menatap hamparan persawahan, dan lautan di kejauhan. Teras, yang sekarang ditutup rapat, Tak ada lagi celah di antara tiang-tiang pahatan mahal itu. "Aya, sayang, kita sarapan!" Bunda menggenggam tangan Melati "Ma... A... Ba..." Melati menggerung pelan, tertatih menurut mengikuti langkah Bunda, meski ia tidak tahu, meski ia tidak pernah mengerti kaliraat-kalimat itu. Sambil melangkah, Melati terus sibuk memainkan bulu ayam di tangannys. Selarik cahaya matahari pagi lainnya menerabas jendela kaca membasuh kedua tubuh yang berjalan bersisian menuju pintu kamar itu. Ornamen jendela kaca rmermbuatnya berpendar-pendar. Pertunjukan cahaya yang menawan, "Siana yang kasih bulu ayam, seyang?" Bunda bertanya pelan. Melati hanya menceracau- Merah. Kuning. Hijau ® Langit kelam. Petir menyambar. Ombask bergelombang susul-menyusul menghantam perahu nelayan kapasitas empat puluh orang itu, Sialnya angin yang menderu-deru membuat semakin kelam dan tegang suasana. Berahu itu macarn sabut di galaknya lautan luas.. "PELANKAN! PELANKAN LAJU PERAHU!" Salah satu awak kapal yang berdiri di buritan berteriak kencang. Panik! Nahkoda perahu dengan tangan liat-basah berke- ringatan mencengkeram kemudi, berusaha mengen- dalikan gerak kapal. Mengatupkan gigi geraham. Rahangnya mengeras. Matanya tajam menatap awas. Dahinya berkeringatan. Cemas! "AWAS OMBAK BESAR DI HALUAN KANAN!" Nahkoda memutar kemudi. Melintir, Perahu meliuk, Menghindar. “TAHAN!! AWAS OMBAK!!" Nahkoda sekali lagi membanting kerudi, Pershu berderit. Terangkat ke atas ujung-ujung gelombang lautan, Lantas seperti dibantingkan, berdebam jatuh seiring gerakan liar ombak besar. Lambung kapal bergetar. Tiang-tiang kayu bergemeletukan. Membuat pias seluruh penumpangnya. "CTAR!" Kilat menyambar, Langit gelap tertutup awan mendadak terang-benderang. Semburat cahaya seperti akar serabut melukis langit. Pemandangan yang = memesona _—{sekaliqus mengerikan), Wajah-wajah semakin — gentar. Berpegangan erat apa saja, “AWAS!I!! SEBELSH KIRI!" Teriakan awak kapal terdengar serak. Nahkoda gesit memutar kemudi lagi. Badan-badan menggigil ketakutan. Sejak setengah jam lalu, Badan-badan kecil itu sudah menciut. Pucat-pasi. Tidak ada suara meski hanya decit tertahan. Saling berpegangan tangan erat-erat. Takut! “SEBELSH KANAN!" Awak kapal berteriak lagi. Nahkoda semakin gugup, berusaha memutar cepat kemudi, Badai ini benar-benar menguras segalanya. Kapal terangkat lagi tinggi-tinggi, Lantas sekejap, berdebam lagi, Membuat semakin pias wajah kanak-kanak itu Boneka panda itu akhirnya terjatuh dari genggaman tangan (yang akhirnya melemah karena gentar). Menggelinding pelan di lantai perahu. Mental satu-dua mengikuti gerakan perahu yang semakin tak terkendali, Membal.... Atas.... Bawah Atas..., Bawah... Bergulingan..., Kiri... Kanan Kit... Kanan "GELEGAR!" uruh menyalak, enam detik setelah kilat tadi, berdentum memekakkan telinga, beradu dengan teriakan panik awak perahu nelayan dan penumpangnya, Gerakan boneka panda itu ¢ertahan di dinding kapal.... Gemetar Qintan, setengah-takut setengah-cemas atas nasib bonekanya merangkak — berusaha mengambilnya.... “JANGAN LEPASKAN PEGANGAN, QINTAN!" Gadis kecil itu menoleh takut-takut. Tapi banekanya? Bonekanya? "TETAP DI TEMPAT, QINTAN!" Yang barusan berseru kencang menengahi hingar-bingar suara badai itu, berusaha memegangi tubuh gadis kecil yang sudah setengah merangkak, “DNTUM|" Terlambat. Semua terbanting! Seketika! Dan pemuda 27 tahun dengan cambang buruk, rambut panjang awut-awutan, mulut bau alkohol itu juga terbanting. Jatuh dari tempat tidur tua. JDUT! Kepalanya manghantam sisi-sisi ranjang. Dengan mata merah setengah terbuka, tangan menggapai-gapai, pemuda itu berussha duduk sambil memaki-maki pelan.... Matahari sudah lama tinggi, saking tingginya malah sudah jatuh lagi, Pemuda itu mendesis. Menqusap dahinya yang rada-rada benjut. Merah. Mengusap pipinya yang penuh iler, Jorok! Tidak peduli. Menyeka matanya sekali lagi, Menatap sekitar berkunang-kunang. Senja. Sudah pukul 16.30 Setidaknya begitulah apa yang terbaca dari jam tua bertuliskan kata 'Seiko' di dinding. "Serura paniang di angka enam, jarura pendek di angke delapan.... Ergh.... Jaci, jadi, ergh, jangan! Jangan bantu Qintan! Blar Qintan yang jawab.... Ergh.... Setengah, setengah,.... dduh, Kak Karang Jangan bantu Qintan.., setengah, setengah deignan! iya, kan?” Tertowa lebar, merekah senang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan. Pemuda itu melenguh lemah. Berusaha duduk di pinggir-pinggir ranjang. Mimpi buruk ini... Mimpi buruk lagi! Tiga tahun lamanya.... Dia selalu terbangun oleh mimpi buruk. Haus. Kerangkongannya terasa haus. Mendengus tidak peduli, Maksudnya bukan tidak peduli atas rasa hausnya, tapi berusaha tidak peduli atas potongan kenangan barusan yang melesat memenuhi setiap mili otaknya. Berdiri tertatih, Terhuyung. Nyeri. Badannya terasa nyeri, Kepalanya juga terasa sakit sekali, Melangkah menuju pintu kamar. Kakinya tersangkut salah satu buku tebal di atas lantai kayu, "Simon Freud, Analisis Psikis Anak-Anak". Tidak peduli. Pemuda itu menendang buku tersebut Anak tangga berkeriutan, Berisik. Selalu begini. Tapi, setidaknya ada gunanya juga, suara menjengkelkan ini membuatnya selalu terjaga. Membuatnyas sadar, tidak kehilangan kendali keseimbangan tubuh meski dia pulang dini hari dan amat mabuknya. Terus melangkah menuju dapur. Melewati ruang tengah. Ibu-ibu gendut pemilik rumah menoleh, Meletakkan rajutan di tangan. "Kau sudah bangun, Karang?" Pemuda itu mendengus. Tentu saja! Bagaimana dia bisa berjalan tertatih-tatih kalau masih tidur? Selalu pertanyaan bodoh! Apa orang bule bilang? Just making conversation! Hanya mencoba membuat percakapan. Omong-kosong. Di kota ini kalimat menyebalkan itu disebut basa-basi. Dan itu benar-benar basi tidak ada gunanya. Pemuda kusut-masai itu tidak peduli, terus melangkah menuju dapur, yang terpisah oleh dinding bata tipis dengsn ruang tengsh. Meraih tempat air plastik, Langsung menegak dari leher angsanya, Tumpah, Membasahi kerah baju. Merembes hingga ke bawah. Tbu-ibu gendut itu. berdiri dari kursi rotannya, menatap prihatin. Meski tidak berkata-kata lagi. Hanya memperhatikan. "ada obat sakit kepala?" Menggerutu, Ibu-ibu itu menggeleng pelan. “ada obat sakit kepala? Kepalaku sakit sekalit" Berkata tajam. “Kau setiap hari selalu meminumnya! Terlalu sering, buruk untuk kesehatanmut" "Berikan saja!" Pemuda itu menatap galak, “Kau seharusnya tahu itu, anekkul" Ibu-ibu itu menghela nafas pendek, melangkah mendekat “Berikan saja!" Mendengus “Hingga kapan semua akan terus buruk seperti ini, Karang?" Ibu-ibu gendut itu berusaha mengambil tempat air plastik yang mulai gemetaran dalam genggaman pemuda tersebut, Berkata dengan intonasi terika, persis seperti seorang ibu yang sedih mendengar anaknya membawa kabar tidak lulus WAN, padahal ia tahu persis anaknya sudah siang-malam berjuang belajar. Wajah keibuan yang menatap lemah dan tak mengerti hendak berbuat apa Pemuda itu sekali lagi mendengus tidak peduli Membiarkan tempat air plastik diambil. Melangkah gontai. Kembali menaiki anak tangga yang berkeriutan, berisik. Membuat nyilu di hati. Lima belas detik ke depan, dia akan melemparkan tubuhnya di atas ranjang tua itu lagi. Menyumpahi banyak hal. Lantas berusaha melanjutkan tidur, Tidur hingga malam datang menjelang. Hingga kanak-kanak tetangga rumah yang memakai sarung, berkopiah kembali dari pengajian, Memenuhi jalanan kota. Berlarian di bawah temaram lampu taman, Saling tarik sarung. Merosot, Tertawa bahak (ada yang nggak pakai apapun di balik sarungnya, sih!). Memenuhi gang-gang dengan celoteh, Sementara ibu-ibu yang tadi siang sibuk dengan siaran fangsung -nya, juga sibuk mengeluh kepada suami soal kulkas yang kuno, teve yang kurang gede, atau lemari yang kurang lega. Juga ramai berceloteh! Mendaftar kepemilikan ‘harta-karun’ — tetangga sebelah rumah sambil asyik menyimak sinetron. * ‘wanti, tolong telepon dokter Ryan, Salamah!" Bunda berkata lemah. Tubuhnya juga semakin lelah. Salamah, gadis-tua berumur tiga puluh tahun yang tak lakulaku itu mengangguk, menurut., Ia satu diantara sembilan pembantu di rumah super-mewah itu, Pernbantu yang amat baik. Terlalu setia malah, Gara-gara terlalu setia itulah makanya Salamah tetap men-jomblo. Kakek-buyutnya dulu penjaga rumah keluarga ini, Buyutnya dulu carik rumah ini. Kakeknya dulu tukang kebun keluarga ini. Ayahnya dulu sopir pribadi keluarga ini, Nah, ia mewarisi posisi keren itu ¢meski dengan jabstan beda) Menjadi pembantu andalan. Ibarat playmaker dalam permainan sepak-bola, Salamah kapten kesebelasan. Mana sempat larak-lirik pemuda jomblo lainnya. Tiga tahun lalu pernah sih, ada pemuda kota naksir. Anak muda sederhsna, tapi baik hati. Nggak ganteng-ganteng amat, tapi Salamah suka (kan ia juga nggak cantik-cantik banget) Ketemu pas fastival kembang api. Sempat berlanjut memadu kasih, hampir menikah, Sayang, kejadian Melati hampir loncat dari teras lantai dua itu membuat Salamah benar-benar tak tega meninggalkan Bunda sendirian. Tidak akan pernah. [a bersurmpah akan menjaga keluarga ini seperti leluhurnya (itu petuah parnungkas kakeknya duit)! Salamah benar-benar pembantu tefadan, Hanya satu yang buruk dari tingkah Salamah. Panikan! Amat panikan malah. Lihat pesawat terbang lewat saja disangkanya ada kompeni yang mau nyerbu (maklum, Salamah terlalu. sering dengar cerita almarhum kakeknya tentang perang melawan WOC), "gilang, kalau dokter Ryan ada waktu malam ini tolong datang kemari-" Bunda berkata sambil tersenyum lemah, mematong lamunan Salamah. Toiong datang kemari? Ah, Bunda selalu bisa menghargai orang, meski sepenting dan seberkuasa apapun keluarga mereka. Sslamah mengangguk. Berjanji akan segera menelepon. Melirik jam dinding berbentuk tabung pasir, sudah pukul 17.30, Seharusnya Tuan HK sudah kembali dari pabrik sekarang. Kemana? "Tuan HK kok belum pulang ya, Bu? Ergh, ah-ya Bu, ada telepon dari Tuan HK barusan!" Salamah seperti teringat sesuatu, Ehm, ia juga pelupa, ding (ini kekurangan lainnya)! Bunda menoleh, Bertanya dengan ekspresi muka. "Tuan HK bilang dia ada meeting dengan tamu dari ergh, Je... Je... Jepang ya, Bu?" Salamah bingung. Lupa dari-mana negaranys. Menyalahkan dirinya yang tidak buru-buru mencatat, “Kata Tuan HK, dia pulangnya malam. Ee, jam berapa ya tadi? Ah-ya, mungkin jam sembilanan...." Bunda mengangguk. Tidak penting tamu dari negara manalah. Paling salah-satu rekanan bisnis keluarga mereka, Yang penting suaminya malam ini akan pulang larut. Sudah setahun terakhir suaminya tidak pernah pulang terlambat. Selalu menyempatkan makan malam bersamanya dan Melati, Meski akhir-akhir ini suaminya tidak banyak bicara, hanya menatap prihatin Melati, Pasti bohong! Tidak ada tamu-tamu itu, Suaminya pasti pergi ke manalah, Duduk sendirian, Menatap resah entahlah.... Kejadian dua hari lalu pasti ikut membuatnya terluka. Sama terlukanya seperti dirinya. Sayang, berbeda dengan suaminya yang sehat, sakitnya yang semakin parah sejak tadi pagi membuatnya tidak bisa pergi! ya allah, andaikata pun ia bisa menghilang begitu saja, tak mungkin ia tega melakukannys, kan? "Melati sekarang di mana?" Bunda bertanya pelan, setelah sejenak menatap lamat-lamat motif seprai ranjang. Seekor panda tambun yang disulam dengan benang putih, begitu lembut, selembut kulit putrinyaq “Bersama Suster Tya! Ah-ya, tadi lagi-lagi tidak sengaja menangkap ayam kate Mang Jeje. Kasihan, Bu! Ayarnnya lagi-lagi dicabutin bulunya,... Kenapa bisa-bisanya Melati menangkap ayam itu ya, Bu?" Salamah melipat dahinya. Berpikir, Bunda menghela nafas. Ya! Kenapa bisa-bisanya Melati bisa menangkap ayam itu? Membedakan sendok dan garpu pun putrinya tak mampu... Terbatuk pelan. Tidak apa-apa, hari ini setidaknya Tya dan Mang Jeje bisa mengurus Melati. Menemaninya. Memastikan tidak terjadi apa-apa. "Kau boleh pergi sekarang, Salamah!" Bunda tersenyum, | penuh penghargaan, — Salamah mengangguk senang. Kalau saja Bunda tidak menyuruhnya pergi, ia akan tetap berdiri di situ sampai malam. Kan, setia banget! Matahari senja bersiap menghujam di balik pebukitan, Jingga menghias angkasa, gumpalan awan terlihat ikut memerah, Burung layang-layang melenguh mengisi. langit-langit kota. Terbang dengan formasi tarian mengundang hujan seperti yang dilakukan suku Indian, Percaya atau tidak, formasi terbang burung layang-layang bisa menjadi pertanda turun atau tidaknya hujan (sebenarnya suku Indian itulah yang meniru gerakan burung layang-layang saat meminta hujan dari ‘dewa-dewa'), Lengang. Rumah besar super-mewah di lereng pebukitan itu lengang. Hanya Mang Jeje yang sibuk dengan keran air. Menyiram hamparan rumput taman seluas lapangan bola, Taman yang indah. Penuh bebungaan. Merah, Kuning. Hijau, Atmat tenyenangkan duduk di taman itu. Bisa mernandang persawahan menguning dan atap fumah-rurmah penduduk. Bisa menatap perkotaan dan gedung-gedung tingginya. Bisa memandang lautan biru nan luas. Tya lagi sibuk membujuk Melati melepaskan tembikar China dari genggamannya. Melati seperti biasa mendengus galak, Selalu marah kalau dilarang. Tangan kirinya = yang.—sbbebas menggapai-gapai udara. Mengancam. Bersungut-sungut, Bola matanya yang hitam bagai biji buah leci mendelik. Kemarahan itu kapan saja siap meledak.... "Kembalikan, sayang-" Tya membujuk cemas. "BAMA... MAdA,.." Melati berseru-seru. Menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. “aduh, kembalikan, sayang! Nanti Tya dimarahin Bunda!" "BAAAA" “Jangan dilempar, Melati!" "Bada!" "yg-" "BYSRI" Dalam sekejap tembikar mahal itu menghantam kaca jendela besar berukuran 1x2 meter. Hancur berkeping-keping. Tembikarnya, juga kaca jendelanya. Tya menutup mulutnya. Wajahnya pias. Pucat-pasi. Gentar melihat beling yang berserakan. Bunda terkesiap di atas ranjang kamar tidur lantai dua. Gemetar menyingkap selimut. Gemetar turun dari ranjang. Putrinya baru saja merajuk kembali tanpa glasan, Entah sekarang memecahkan apa, Selalu begitu sepanjang tahun ini. Sadikit-sadikit marah, Sedikit-sedikit melemnparkan apa saja.... & Malam datang menjelang. Di sudut kota dengan gang-gang sempit. Dengan teras lantai dua saling bersentuhan satu sama lain Tbu-ibu gendut pemilik rumah itu sudah dua kali naik ke kamar atas sepanjang hari, Pertama tadi pagi mengantarkan termos air = panas —_sekaligus memastikan apakah pemuda yang dipanggilnya ‘Karang’ itu baik-baik saja. Kedua baru sepuluh menit lalu, meletakkan ransum makan malam. Sepiring nasi hangat mengepul, semangkok sayur bayam dengan bongkahan jagung muda, sepotong ikan tongkol, plus kerupuk dan sebutir jeruk. Karang, pemuda itu masih tidur nyenyak.... Nyenyak? Ah, itu yang terlihat sekilas mata. Lihatlah ekspresi. mukanya lebih detail, betapa wajah yang sebenamya gagah dan tampan itu mengermyit dalam tidumnya. Seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit. Seperti anak kecil yang gentar melihat jarum suntik imunisasi cacar. Ujung-ujung jari Karang bergetar pelan. Nafasnya terdengar. Sebutir keringat (segede jagung) merekah di dahi, Mimpi-mimpi buruk itu! Terlihat nyata! Menyakitkan. Bagaimana tidak sakit? Ketika kalian menyadari bahwa itu semua sungguh sempurna bagai re-run ulang siaran masa lalu yang sesak untuk dikenang. Kalian menyumpahinya Berusaha lari secepat mungkin. Tapi kaki kalian celakanya maski sudah seperti roda kereta bergerak menjejak bantalan besi, tetap saja badan tidak bergerak-gerak. Lari di tempat Karang kembali bermimpi buruk. “Per-gi-lah! Tidak aca lagi yang tersisa di sini" Senyap. Gadis di depannya tidak menjawab, menyeka air mata di pipi dengan ujung kerudung. Kerudung indah berwarna biru muda, Wajah cantik itu terlihat mendung. "&ku mohon, pergilah!" Lengang, Hanya detak jarum jam di dinding terdengar. Ctak! Ctak! Ctak! Ah-ya, tentu saja juga isak-tangis pelan gadis cantik berwajah keturunan itu, Malam baru datang. Taman Bacaan Anak-Anak itu terlihat bercahaya.... Setengah jam Islu baru saja pengunjung imut-imutnya bubar. Sudah sore, waktunya pulang. Besok disambung lagi baca bukunya, dengar dongengnya, atau sekadar main internet bersama kakak-kakak penjaga Taman Bacaan. “Bukankah semua itu sudah selesai....". Terisak, "Tidak ada yang menyalahkanmu," Terisak lagi, "Tidak ada, kan-" Tertawa getir, "Tidak ada yang menyalahkanku? Memangnya itu penting! ~ Memangnya kata orang-orang lebih penting dibandingkan apa yang kurasakan? Kau tahu, setiap detik aku seperti bisa menyaksikan kembali semuanya..., Teriakan mereka! Wajah-wajah ketakutan mereka! Ya Tuhan! Bahkan Jemari tangan mereka yang mermbeku, bibir-bibir mereka yang biru... tubuh-tubuh dingin mengambang... delapan belas-" "Hentikan! Aku mohon!" Gadis berkerudung itu membuang = ingusnya. Berusaha — menghentikan kalimat pemuda itu. Mendengar kalimat sesal itu sungguh menchak hatinya. Apalagi menatap wajah pemuda di hadapannya. Wajah yang dulu begitu riang, begitu menyenangkan. Wajah yang membuatnya jatuh-cinta, Sekarang? Sempurna terkungkung oleh perasaan bersalah. Ya Allah, jika Engkau mengizinkan, ingin sekali ia memeluknya. Memberikan beriaksa empati dan simpati. Memberikan berjuta asa dan gembira. Mermbesarkan hatinya, Memberitahunya lewat sentuhan lembut di pipi kalau dia tidak sendiri melewati masa-masa menyakitkan ini, tidak pernah sendiriary.... Dia akan selalu = memiliki orang-orang yang mencintainya. Lihatlah, sare ini anak-anak tetap riang datang. Semua penduduk kota besar ini juga tetap menghargai, tidak ada yang mengungkit-ungkit lagi kejadian tersebut. Tidak ada... Dan andaikata pun semua orang menyalahkan, masih ada dirinya yang tidak. Gadis berkerudung itu benar-benar menangis sekarang, hatinya bengkak oleh rasa sedih, tidak mengerti, rasa haru, janji-janji.... Andaikata pun semua orang pergi, dia masih punya dirinya, yang akan selalu mencintai maski anapun situasinya..., “Kau... Kau masih memiliki semuanya." Berkata tertahan, Peruda di depannya rmenggeleng, "Kau keliru.... Tidak, Tidak ada lagi yang tersisa. Pergilah, aku mohon.... Aku tidak memiliki lagi kehidupan ini! Tidak ada lagi yang pantas kau harapkan apalagi kau banggakan dariku." Menatap lemah gadis berkerudung. Mendesah resah. Jika diijinkan, dia juga ingin sekali membelai pipi gadis berkerudung biru muda itu, mengusap air matanya. Melinatnya = menangis — sungguh membuatnya tersiksa, Tapi semua sudah selesai. Dia tidak akan bisa melanjutkan hidup sama seperti dulu.... Diatah yang sejak seminggu lala memutuskan untuk pergi! Menjauh dari kenangan buruk itu... Tapi ager semua ini tidak terasa tambah menyakitkan, maka malam ini dia-lah yang meminta ja yang pergi! Si lestung pipi-nya! “aku tidak akan pergi-" Gadis itu tertunduk. Satu bilur air mata jatuh menetes di tegel ruang depan Taman Bacaan "Kau harus pergi!" Berkata pelan. “aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" Gadis itu mendesis putus asa, suaranya serak, Pemuda itu menggigit bibir, menggeleng, mengusap wajahnya, Pembicaraan ini benar-benar sia-sia, Dia tidak akan pernah kuasa bilang secara langsung kalau besok pagi-pagi dia akan pergi dari kota ini, selamanya! Dia tak akan kunjung —_kuasa mengatakannya.... Pemuda itu menatap jalanan depan Taman Bacaan, Lampu mobil yang lewat menerabas dinding kaca, membasuh wajah, Terasa silau! Berusaha memejamkan mata sesaat, Tapi juga seperti ada yang menyentuh wajahnya, berdenging, menerpa-nerpa! Berdenging. karang, pemuda di atas ranjang tua itu mengernyit dalam tidurnya, Terganggu. Tangannya mengibas ngibas jengkel. Benda itu masih terbang berputar di depan “wajahnya, Semakin diusir semakin berani Mendesis mengkal. Karang terbangun, Mata merahnya terbuka, Mimpi itu terputus. Menyumpah nyumpah, meski kali ini bangunnya tidak disertai terjatuh dari ranjang dan kepalanya juga tidak terantuk kayu jati Berdenging. Sudah malam. Sudah gelap. Kepalanya terasa nyeri sekali, Memaki dalam hati. Berusaha duduk. Sialan! Seharusnya berikan saja-lah abat sakit kepala itu padanys, Bodo amat soal bahaya konsumsi abat-obatan secara terus-menerus. Berdenging, Matanya membesar. Kepalanya berputar. Apa pula yang terbang mengganggu tidurnya, Berputar-putar. Seekor kunang-kunang tersesat terbang berputar kebingungan! Kunang-kunang? Terbang di dalam kamarnya? Karang mendengus tidak peduli. Melirk ransum omakan malamnya Beranjak terhuyung ke maja kecil, Mungkin dengan makan, semua nyeri akan pergi. Lagipula perutnya terasa lapar Ribuan Kunang-Kunang & Of sini juga ada kunang-kunang. Tidak hanya seekor, ada cibuean malah. Tidak tersesat. Malah terbang mendenging bersama di sela dedaunan hutan hujan-tropis. Di tengah gelapnya malam, formasi cahaya mereka terlihat menawan, Kerlap. Kerlip. Kerlap. Kerlip, sSalamah yang berdiri di dekat jendela besar kamar Bunda melirik ke luar. Ke arah pertunjukan hebat tersebut. Menyeringai “Papa masih di China, Bun... Ada pertemuan di Perfekture Hanjin, Seminar, simposium, entahlah, tentang pengobatan tradisional, Akupuntur. Aroma terapi. Bunda tahu sekal, kan, Papa oriental-minded banget! Jaci malam ini aku yang menggantikan Papa, nggak pa-pa, kan?" Gadis berkerudung hijau muda itu tersenyum, lembut memeriksa denyut nadi Bunda. "Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.... Kinasih pasti sehebat Papa-nya. Atau malah lebih hebat." Bunda balas tersenyum. Lemah. Menatap tangan tangan yang terampil mengeluarkan peralatan. "Bunda bisa saja! Aku kan baru lulus ujian." Gadis itu tersipu kecil. yang seketika membuat lesung pipi-nya terlihat "Kapan Kinasih tiba?" "“Sudah seminggu, Bun, Sebenarnya dua hari lalu aku sudah mau berkunjung, menjenguk... Tapi masih ada keperluan mengurus jin praktek. Kinasih kangen Bunda. Kangen Melati. Kangen Tuan HK Bahkan aku juga kangen masakan Salamah!" Gadis berkerudung yang dipanggil Kinasih itu tertawa, menaleh ke Salamah yang masih sibuk melirik tarian kunang-kunang di luar sana. "Ergh-Ada apa? Masak air? Apa yang harus Salamah masak?" Salamah gagap mendengar namanya tiba-tiba disebut. "Air panas untuk Ibu lagi?" Kinasin tertawa kecil, melambaikan tangan ke arah Salamah, Bunda menyeringai. "Melati-nys mana, Bun?" "Oi kamar. Sudah tidur. Sepanjang siang terus merajuk. Terus melempar apa saja yang bisa dipegangnya. Berseru-seru marah.... Tadi melempar tembikar Dinasti Tang hadiah Papa-mu. Hancur berkeping-keping." Bunda menjawab pelan, terbatuk “anak yang baik-" Kinasih tetap tersenyum "y-a..." Bunda lamat-lamat menatap langit-langit kamar, berkata pelan dengan suara serak, “Anak yang baik!* Terdiam, Salamah menarik lirikannya dari jendela demi mendengar intonasi kalimat Bunda barusan. Kamar itu hening sejenak. Hanya menyisakan suara gerakan = tangan.—Kinasih = yang. —sediikit canggung-merasa bersalah dengan kalimatnya barusan. "Bagaimana ‘kongis! Melati sekarang, Bun?" Kinasih bertanya hati-hati, Tersenyum tulus. “Keadaannya masih sama buruknya seperti tiga tahun lalu," Bunda mendesah lemah, "Sama buruknys.... Ya allah, sebenarnya kondisinya tambah buruk!" Suara Bunda tercekat Kinasin perlahan duduk = di pinggir_—ranjang Meletakkan stetaskop. Menggenggam jemari Bunda Menatap ikut bersimpati kepadanya. Wajah gadis muda yang merekah oleh kebaikan, Umumya bulan depan baru genap 25 tahun. Baru saja menyelesaikan pendidikan dokter-nya di Ibukota, Wajah keturunan yang cantik. Tersenyum mencoba membesarkan hati. "Melati sekarang setiap hari kerjanya hanya marah, berteriak-teriak. Melempar apa saja_yang dipegangnya. Memukul. Menjambak, 4pa saja, tidak peduli apapun itu..." Bunda menggigit bibir, memaksa matanya agar tidak menangis Sudah lama sekali ia tidak bercerite. Banyak kerabat datang, tetangga perhatian, pembantu pembantu di rumah juga berbaik hati men- dengarkan, tapi kehadiran Kinasih = malam__ ini berbeda, Lihatlah, gadis kecil yang dulu sering bermain ke rumah dibawa Papa-nya, sekarang tumbuh menjadi gadis matang yang cantik, Tidak ada lagi kepang rambut, Yang ada hanya wajah tertutup kerudung berwarna lembut. Tidak ada lagi bekas ingus di pipi habis merajuk. Yang masih ada di sana hanya lesung pipi-nya. Apakah Melati bisa tumbuh se-menawan Kinasih? Bunda mendesah tertahan... "kami tak lelah mencari jalan untuk membantu keterbatasan Melati, Kinasih.... Tapi ya allah, semuanya sia-sia. Benar-benar kesia-siaan besar Bahkan, dua hari lalu.... Que Aart dat..." Bunda terdiam lama. Kinasih pelan mengambil tissue di meja dekat ranjang. Mengelap pipi Bunda, ah saraf tangis itu jelas sekali tidak bisa dipaksa, kalian memang bisa saja tetap terlihat tanpa eskpresi, terlihat kosong, tapi kantong air mata tidak bisa ditahan, akan keluar dengan sendirinya. "... Seminggu terakhir kami menqundang psikiater dan dokter anak-anak dari salah satu rumah sakit termama Ibukota. Tim mereka memiliki reputasi yang baik. Kami amat berharap.... Empat hari pertama Melati sepertinya mulai terkendali, mau menuruti terapi atau entahlah yang dilakukan tim dokter Kami benar-benar berharap sea@itit kabar baik itu akhirnya datang...." Bunda terdiam lagi, wajahnya sedih, tertunduk, pipinya berkedut menahan sedan, "Tetapi di hari kelima, persis dua hari lalu,... Melati tiba-tiba merajuk, Marah! Melati berteriak-teriak saat badannya ditempeli kertas-kertas medis, entahlah,,.. Melati menarik salah satu tangan dokter, dan, dan..." Bunda menelan ludahnya, " Melati menggigit jari salah satu dokter itu. Sampai, sampai nyaris putus...." Bunda — sekarang benar-benar menangis mengingat kejadian itu. Kinasih menghela nafas. Sekali lagi lembut menghapus air di pipi Bunda. Kanak-kanak dengan rambut ikal wajah menggemaskan itu melaku- kannya? Menggigit hampir putus jari seorang dokter? ftu Sener-benar kabar buruk, Salamah sekarang juga benar-benar 100% berhenti dari larak-lirik ke luar jendela. Salamah — tertunduk dalam-dalam, [kut sedih, Lah, gimana tidak? Ia yang repot banget sesiang itu, Membersihkan darah berceceran, Orang-orang berteriak, Grang-orang panik, Melati yang berteriak-teriak marah, melempar apa saja barang yang ditabraknya. Bunda yang berseru-seru, Tuan HK yang berusaha mencengkeram salah satu dokter karena dokter itu berusaha mencengkeram Melati untuk menenangkannya Tetapi bukan kejadian gigit-menggigit itu yang membust Bunda sedih berkepanjangan dua hari ini Bukan karena itu ia malam ini tersedu menangis di depan Kinasih, Bukan. Toh, setahun terakhir Melati memang punya kebiasaan menggigit apa saja (gantungan kunci dari besi saja ia gigit). Jadi Bunda sudah terbiasa melihatnya. Yang membuatnya sedih adalah teriakan salah satu anggota tim dokter ternama itu, "ANAK INI TIDAK MEMBUTUHKAN DOKTER, NYONYA! ANAK IN] MEMBUTUHKAN RUMAH SAKIT JIA!" Juga teriakan-teriakan marah dan panik lainnya, Bersahut-sahutan, Keributan itu berakhir satu jam kemudian. Setelah Melati yang lelah akhimya mengalsh — sendiri, menggerung seperti Iokomotif kereta kehabisan solar di pojokan kamar birunya. Duduk melipat kaki. Merapat ke dinding, Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar redup. Mulutnya mendesis-desis pelan, Jemarinya meraba-raba lantai_ keramik, Mengikuti gurat keramik. Bunda dan Tuan HK berkali-kali minta maaf atas kejadian itu. Tapi hanya dijawab dengan kalimat- kalimat_menusuk dari tim dokter, Kalimat-kalimat yang disusun dari kepala ber-intelektualitas hasil pendidikan tinggi (meski separuhnya disesaki oleh perasaan marah karena rekan mereka terpaksa segera dilarikan ke rumah sakit terdekat). Kalimat yang menyakitkan.... "Sebelum semuanya terlambat, anak ini harus dibawa ke unit konservasi kejiwaan, Tuan HK!" Dokter senior yang memimpin tim berusaha berkata lembut, sok-bersimpati. “Melati tidak gila! Melati tidak gil!" Bunda mematong, berkata lemah berkali-kali, parau. Tuan HK yang duduk di sebelah berusaha menggenggam jemarinya. Menenangkan "Melati sekarang belum gila, Nyonya! Tapi semua keterbatasan ini suatu saat pasti akan membuatnya gila! Ia membutuhkan terapi yang komprehensif—" “Melati tidak gila!* Bunda bergumam tidak terima "Maafkan kami, Nyonya...." Tersenyum tipis- “Melati tidak gila!" Bunda mendesis galak. “Hanya orang gila yang bisa menggigit hampir putus jari orang lain, Nyonya!" Salah satu dokter menyela lebih galak, jengkel Malam itu, bersamaan dengan kembalinya tim dokter dari rumah sakit ternama ke ibukata, malam itu Bunda akhimya harus mendengarkan realita baru tentang permata-hatinya. Sesak, Benar-benar sesak, Ia tahu kalau ia benar, putri meng- gemaskannya task gila. Tetapi ia juga tahu, kalimat-kalimat dokter itu juga benar. Tiga tahun lamanya ia berusaha membujuk hatinya. Tiga tahun lamanya berharap. Tapi kenyataan menyakitkan itu yang akhirnya tiba... Ya allah, tak lelah ia berharap suatu saat keajaiban itu pasti akan datang, Suatu saat janji-Mu pasti akan tiba..,, Bukankah, bukankah Engkau sendiri yang menggurat kalimat indah itu dalam kitab-suci? Sungguh! Dibalik kesulitan pasti ade kemudahan.... Tapi harapan itu harishari ini bagai kabut yang digantang matahari meninggi. Menguap. Bagai sisa-sisa air dalam ember bocor. Menghilang, Bagai rambutnya yang perlahan memutih,... Lelah sekali ditunggu, meski hanya untuk menyisakan sedikit asa bahwa janji kemudshan itu akhirnya pasti tiba! "Melati skan baik-baik saja, Bun... Jika Bunda tetap yakin, maka ia pasti akan baik-baik saja." Kinasih berbisik pelan, Tersenyum. Memotong cerita dua hari lalu. Mencoba membesarkan hati Bunda menatap wajah cantik Kinasih lamat-lamat. Wajah yang tulus bersimpati, Bunda ikut tersenyum, (maski) getir. "Suatu saat Kinasih percaya, bahkan Melati pasti bisa memanggil ‘Bunda’ dengan sempurna, Memeluk, dan menyatakan cintanya kepada Bunda dengan utub-" Bunda sudah mendekap erat Kinasih, Penuh perasaan haru- "Terima-kasih, anakku! Kau sungguh gadis yang baik. Semoga Tuhan memberikan jodoh yang baik bagimu!" Kinasih tersenyum. Mengangguk. Balas merengkuh erat tubuh wanita separuh baya itu, Bunda menangis di dekapannya. Malam itu. Qua doa melingkar berpilin di angkasa. Malam itu dua doa melingkar bertemu di langit kekuasaan-Mu, Dan jawabnya: *¥3°, & "Kau akan pergi kemana, Karang? Ibu-ibut gendut yang sedang merajut di ruang tengah berseru pelan. Just making conversation, again! Lagi-lagi basa basi menyebalkan itu! Karang mendengus tidak peduli, terus menuruni anak tangga yang berisik berkeriutan, Bukankah tiap malam dia selalu pergil Buat apa ditanya lagi? “Kondisi kesehatanmu sermakin buruk, Karang! Sebaiknya malam ini kau beristirahat" Ibu-ibu itu berdiri, Melangkah mendekat, Berusaha mencegah, “Urus saja urusan-mu!" Karang melambaikan tangannya. Jengkel dihalangi. Kepalanya masih nyeri, tapi tidak terlalu lagi. Badannya masih sakit, tapi tidak terlalu juga. Perutnya sudah terisi, jadi mekanisme pencernaan membuat seluruh tubuhnya menjadi hangat. “aku mohon, untuk malam ini saja, bisakah kau tidak keluar?" Pemuda itu tidak menjawab. Tetap melangkah menuju pintu, Tidak peduli, melewati badan besar yang omencoba menahannya, Ibu-ibu gendut kehabisan kata. Ia tidak pernah bisa mencegahnya. Tidak sejak tiga tahun lalu saat anak-muda yang dipanggilnya ‘Karang' itu datang mengetuk pintu rurmahnya Tbu-ibu gendut menghela nafas. Pintu berdebam ditutup. Lengang. Menyisakan celoteh anak-anak yang masih bermain di gang-gang sempit, Juga suara radio dan televisi yang di-stel rada kencang (dangdut-an pula lagunya). Pukul 20.30, Itu berarti hingga delapan jam ke depan, Karang akan berada di luar, Menghabiskan malam berteman mynuman. Duduk sendirian di pojok bar. Menatap galak siapa saja dengan mata merah. Tbu-ibu gendut kembali ke kursi rotan, Melanjutkan merajut. Mendesah ke langit-langit ruang tengah. Ia tinggal sendirian di kota ini, Oulu sempat menikah, tapi tidak punya anak, Suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, Usianya sudah menginjak lima puluh tahun saat itu terjadi, jadi ia tidak tertarik menikah lagi, Memutuskan untuk tinggal sendirian. Toh, selama ini ia tidak pernah merasa kesepian Ta hidup sendiri itu betul, tapi ia tidak pernah merasa kesepian. Berbeda sekali jika kalian berada di tempat ramai (pasar misalnya), tapi kalian merasa kesepian, Yups! Beda benar makna kesepian dan kesendirian, Ia sepanjang sisa umurnya, sibuk merawat rumah warisan suaminya. Rumah tua dua lantai dengan arsitekur kolonial, Berjejer dengan rumah-rumah tua lainnya. Menghabiskan hari dengan merajut pakaian pesanan Ia mengenal Karang yang tiga tahun terakhir tinggal bersamanya sejak Karang masih bertelanjang kaki berlarian menyusuri jalanan kota, Dulu tubuh Karang ringkih, bandel, dan nmekad seperti anak jalanan lainnys. Suaminya renyukel anak-anak. Menyulap rumah mereka menjadi ‘rumah singgah'. Karang! Salah-satu dari belasan anak jalanan yang diurus suaminya, Dan Karang-lah yang tumbuh menjadi anak paling membanggakan. Kanak-kanak itu berubah menjadi anak terpintar di sekolah barunya. Anak tercerdas! Melanjutkan pendidikan di ibukota, Setiap bulan mengirimkan kabar gembira, Tak terbayangkan melinat foto-foto Karang berdiri gagah bersama ratusan lulusan universitas ternama itu. Juga foto-fato kehidupannya. Pekerjaan hebatnya. Kecintaan Karang kepada anak-anak yang diwarisi dari suaminya. Taman Bacaan itu, Sejak suaminya meninggal, membaca surat-surat dari anak-asuhnya menjadi keseharian yang menyenangkan. Dan surat kKarang selalu bernilai berlipat-ganda dibandingkan yang lain. Anak itu benar-benar tumbuh menjadi seseorang. Masa kecilnya yang tidak beruntung berubah menjadi dendary positif, Karang mendirikan belasan Taman Bacaan Anak-Anak di ibukota. Selintas sama seperti rumah singgah milik suaminya dulu, tapi berbeda banyak dari sisi penampilan fisik, konsep, dan entahlah. Banyak yang ia tidak mengerti dari surat-surat Karang, rencana-rencana hebatnya Yang ibu-ibu gendut itu mengerti pasti, Karang amat mencintat kanak-kanak. Bukan karena wajah menggemaskan mereka. Lebih dari itu, karena janji kehidupan yang lebih baik tergenggam dari mereka. Hingga kejadian itu! Tiga tahun lalu. Saat itu ia sedang menghabiskan sore seperti biasa dengan merajut ketika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan. Ia pikir tukang susu yang rajin mengantarkan pesanan. Atau penjual telur asin langganannya. Atau Ketua RT yang mengambil iuran sampah dan keamanan bulanan, Tapi ini terlalu sore untuk jadwal rutin itu semua, Atau ada ibu-ibu tetangga yang punya keperlvan mendadak, Malas membuka pintu, Ternyata yang ada di hadapannya: Karang! Pemuda yang menyandang ransel lusuh, berdiri dengan wajah juga lusuh di bawah bingkai pintu Rajutan di tangannya terlepas. Wajahnya merekah oleh kegembiraan. 1a berseru senangnya, memeluk anak-muda itu... Benar-benar —_ kunjungan tak-terduga. Selama ini anak asuh lainnya sering datang berkunjung, Membawa istri, membawa anak-anak mereka, Tapi Karang tidak pernah pulang sejak sepuluh tahun lalu. Karang yang termuda di antara mereka memang tak pernah lupa mengirimkan satu surat setian bulannya, tapi ia tidak pernah pulang Sekarang, jagoan suami-nya sudah berubah begitu membanggakan.... Lihatlah, berdiri gagah (meski lusuh) di depan pintu rumahnya. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Setidaknya itulah yang ia bace dari surat-surat itu Hingga sebulan —_berlalu. Potongan-potongan kejadian itu akhrinya tersampaikan, Berita-berita di koran. Berita-berita di teve. Cerita terputus-putus dari Karang. Dan kandisi yang — semakin mengenaskan darinya, Wajah yang kosong. Eskpresi muka yang sesak, Malam-malam yang diisi_ mimpi buruk. Igauan Karang (terkadang — berteriak). Siang-siang yang juga diisi mimpi buruk. Celotehan Karang. Kebiasaan mabuk-mabukan, Kehidupan ‘batraan’. Pulang jam satu malam. Pulang jam dua. Pulang jam tiga. Semua itu seperti karir dalam pekerjaan! Dan karir itu tiba di puncaknya saat Karang akhimya baru pulang menjelang shubuh. Tiga tahun melesat tanpa terasa, Tiga tahun yang berat baginya. Karena bagaimana-lah ia pharus menjadi saksi kehidupan menyedihkan anak asuhnya yang dulu arnat dibanggakan. Ribet menjawab pertanyaan tetangga-tetangga sekitar (yang nomor satu soal urusan menggosip). Tak lelah membujuk Karang, bercerita tentang semangat hidup, mengenang kejadian indah saat kanak-kanak mereka dulu. Percuma! Karang semakin tak bisa gikendalikan. Bagaimana ia akan bisa? Kalau ia yang berusaha membantunya sudah sesak duluan melihatnya. Malam ini, lagi-lagi ia tidak bisa mencegahnya pergi menghabiskan waktu dengan kesia-siaan. Esok mungkin juga tidak. Bahkan mungkin tidak skan pernah.... Kesedihan kejadian tiga tahun lalu itu terlalu menyakitkan. Terlalu! Va diiah, berikaniah keajaiban itu,.., Tbu-ibu gendut itu mendesis lirih ke langit-langit ruangan. Berdoa dengan tulus. Kemudian sambil menghela nafas panjang, pelan melanjutkan merajut sweater biru. Malam itu, Tiga doa melingkar berpilin di angkasa. Malam itu tiga doa melingkar bertemu di langit kekuasaan-Mu, Malam itu ada begitu banyak doa yang melesat ke angkasa, Jika kalian melihatnya maka ia akan terlihat seperti jutaan benang-benang terjulur, Tapi untuk yang tiga ini, jawabnya: "va', & "Maat, aku baru diss pulang sekarang!" Tuan HK mengecup lembut dahi istrinya "Tidak apa-apa," Bunda tersenyum, lemah “Bagaimana kandisimu? Kata Salamah sakit-mu menmburuk?" "Sudah baikan, tadi Kinasih datang kemari...." "Kinasih? Si-a-pa?" Tuan HK mengernyit, berpikir sebentar, lantas tersenyum lebar, "Kinasih putri dokter Ryan?" Bunda mengangguk. Wajahnya yang sepanjang siang terlihat pucat mulai memerah, Obat yang diberikan Kinasih sudah bekerja. "Ta sudah menjadi dokter, Sudah tumbuh cantik Gadis berkepang dua yang dulu 9 suka sekali menyembunyikan stetoskop Papa-nya. Kau ingat itu? Bunda tersenyum kecil, beranjak hendak turun dari ranjang, meletakkan kertas dan pulpen yang sejak lima belas menit lalu dipegangnya "Tidak usah, yang! Malam ini kau ber-istirahat saja, biar aku yang menyiapkan keperluanku sendiri!" Tuan HK tersenyum, memberi tanda agar istrinya tetap berbaring di ranjang. "Tidak apa-apa biar kubantu," "Sangan bandel, Nyonya-" Tuan HK tertawa. "aku sudah baikan, kata Kinasih tadi hanya terlalu lelah-" “Apa kubilang? Terlalu lelah, bukan? Kau sudah seharusnya banyak beristirahat, Nyonya! Dasar anak nakal!" Tuan HK tertawa lebih lebar, bergurau sambil melepas jas hitam mahal-nya. Bunda ikut tertawa, menatap lamat-lamat wajah suaminya. Untuk ke-sejuta kalinya mengucap syukur dalam hati, Ia benar-benar beruntung memiliki suami, lelaki yang sedang berdiri di hadapannya, Tuan HK, lelaki separuh baya, dua tahun lebih tua darinya. Wajahnya gagah dan tampan, meski gurat lelah, sedih, penat, sesak itu tak bisa dihilangkan. Yang semakin terlihat kalau dia sedang di rumah Dulu Tuan HK boleh jadi terkenal galak dengan bisnisnya, tapi sejak Melati lahir, Tuan HK berubah banyak. Sejak kejadian tiga tahun lalu itu, Tuan HK berubah lebih banyak lagi. Masih tersisa ketegasan, prinsip, dan apalah seorang fakiclak’ darinya. Tapi separuhnya hanyalah perasaan seorang ayah yang tak lelah berharap anaknya suatu hari bisa tersenyum melihat dunia "Kau sedang menulis apa?" Tuan HK bertanya. Bunda mengambil kertasnya, "Surat!" Tuan HK mengangguk. Tidak bertanya lagi. Sejak tiga tahun lalu istrinya rajin menulis, Surat. Cerita, Diary. Entahlah, Kertas-kertas yang ditumpuk rapi di lermari buku mereka. Sudah sepuluh inchi tebalnya. Setidaknya kebiasaan itu bermanfaat. Sejenak membuat istrinya bisa menumpahkan seluruh kesedihan. “Tadi ada tamu dari Jerman!" Tuan HK melepas kemeja putinnya, mengarmbil handuk dari lerari, "Mereka membicarakan soal kerja-sama pengembangan pabrik pupuk kita~" Bunda menggangguk, Salamah tadi siang bilang dari Je-pang. "AkU dua minggu lagi harus ke Frankurt, yang! Agak lama, Ada banysk yang harus dikerjakan di sana. Mungkin dua atau tiga minggu-" Tuan HK diam sejenak, menatap lembut istrinya, "Mempelajari banyak hal di sana, tidak apa-apa, kan?" Bunda menggeleng. Tidek apa-apa, Suaminya memang sering berpergian. Mengurus _ bisnis keluarga mereka. Diam sejenak, Tuan HK beranjak duduk di pinggir ranjang. Meraih tangan istrinya. Mencium lembut jemari yang dilingkari cincin pernikahan mereka. Untuk ukuran mereka yang sudah beruban, pemandangan itu terlihat amat romantis “Kau sudah makan?" Bunda = mengangguk. Balas menatap wajah suaminya. tu pertanyaan transisi, 1a lebih dari siapapun mengenal tabiat suarminys, Sejak mereka masih pacaran dulu, Sejak masa remaja yang penuh lirikan tersipu omalu.... Ia tahu, jika — ingin membicarakan sesuatu yang penting suaminya akan memulainya dengan pertanyaan transisi. Lengang. Ribuan kunang-kunang semakin ramai berdenging di sela dedaunan di luar sana, Salarmah sekerang bebas menatapnya dari jendela kecil kamamya di lantai satu. Selalu terpesona "Kau tahu, seharusnya aku sudah bisa pulang tadi sore... Maafkan aku, baru pulang sekarang-" Tuan HK berkata pelan. "aku tahu...." Bunda tersenyum, mengangguk Tuan HK menelan ludah. "kau tadi ke-mana menghabiskan sore? Ke pantai? Menggulung celana? Berjalan seperti anak-anak ruda yang bercengkerama di pinggir pantai itu? Berlarian mengejar dan dikejar ombsk?" Bunda tersenyum lagi, bergurau. Tuan HK tertawa kecil, Menggeleng. "Di pabrik-" Bunda menatap lamat, "Hanya di pabrik? Di ruang kerja?" "Tidak juga. Aku tadi naik ke atap pabrik!* Bunda melipat dahinya. Tuan HK tertawa, "Ya, aku tadi naik ke atap pabrik. Susah payah manjat tangga di dinding, Salah satu mandor yang memergokiku berteriak memohon agar aku turun." Bunda memperbaiki posisi duduk — bersandar bantalnya. Maik ke atap pabrik? Ia tahu persis, kalau osedang resah, suarinya selalu pergi menyendiri, Entah kemanalah, ke termpat-tempat tidak terduga, Kejadian dua hari lalu pasti membuatnya resah, Tapi naik ke atap pabrik yang bahkan lebih tinggi dibanding bangunan tertinggi di kota, itu benar-benar tidak terduga? "kau tidak percaya?" Tuan HK nyengir. Bunda tertawa, Mengangguk. Tentu saja ia selaly percaya suaminya. “kau tahu, mandornya sampai berteriak-teriak, ‘Ake mohon, Tuan turunlah! Bagaimana nasi kami semua kalau Tuan kenapa-kenapal’ Dia juga berusaha = memanggil = buruh ~~ lainnya untuk memaksaku turun, jadi terpaksalah ku ancam mandor itu-"| Tuan HK mengusap — rambut berubannya, tertawa kecil. “cau ancam dengan apa?" Bunda bertanya pelan "Kupecat kalau dia teriak-teriak lagi-" Tertawas lebih lebar. Bunda menggenggam jemari suaminya penuh penghargaan, Bersitatap satu sama lain, Mereka sedikit sekali punya waktu menyenangkan seperti ini, tertawa lepas. "Kau tahu, aku duduk di sana hingga fmatahari tenggelam..... Ternyata pemandangannya hebat sekali, Langit merah., Burung — layang-layang, hamparan lautan, semuanya terlihat indah...." Tuan HK mendesah pelan, Ya, pemandangan yang hebat sekali, Membuatnya sejenak bisa tenang. Bisa lupa semua sesak, Apalagi tentang saran dokter senior dari tim rumah sakit ternama itu dua hari lalu.... Bunda ikut menghela nafas pelan. Kamar itu hening, Tuan HK menaleh, menatap keluar jendela, Menatap tarian ribuan kunang-kunang. "Melati sudah tidur?" Menoleh lagi, bertanya. Bunda mengangguk, mesit ia tidak tabu kalau ia Keliru, “sku mandi dulu.... Kalau kau sehat, mungkin kita bisa mandi bersama," Tuan HK beranjak berdiri, melilitkan handuk di leher, tertawa, "Sudah lama kita tidak melakukannya, bersama Melati, bermain sabun banyak-banyak, Terpeleset...." Bunds hanya tersenyum, lemah. Menatap punggung suaminya. @ Pukul 24.00, Bunda sudah jatuh tertidur. Tuan HK juga suclah jatuh tertidur setelah membaca buku tebal sehabis mandi dan makan malam sendirian. Salamah? Sudah lama jatuh tertidur, memeluk bantal guling bermotifkan donald & daisy bebek (iran malah, bikin motifmya jadi aneh). Hampir seluruh penghuni kota indah itu sudah jatuh tertidur, Mernulinkan tenaga untuk menyambut hari esak Tapi tidak bagi penghuni salah satu kamar di lantai dua rumah besar itu, Kamar yang berwarna birv faut. Dipenuhi mainan dari busa dan plastik lentur (karena itulah yang paling aman). Di kamar itu ada ranjang besar yang tidak berangka dan bertiang (karena itu juga yang paling aman). Ada sofa dari butiran plastik yang berubah bentuk sesuai dengan bentuk tubuh yang mendudukinya. Kamar itu milk Melati, Dan malam ini Bunda lagi-lagi keliru, Sejak taci Melati belum tertidur. Ia memang berbaring di atas ranjang. Tapi mulutnya terus menggerung. Mata hitam biji buah lecinya memang terpejam, tapi ia terus menggerak-gerakkan ujung jemarinya di bawah selimut. Setengah jam lalu, Melati melangkah menuju jendela kaca besar kamarnya, Merangkak, Meraba-raba, Tangan mungilnya meraba-raba jendela kaca yang dingin, Mukanya menempel. Mencetak bibir dan hidungnya di kaca tebal, Hembusan nafasnya membuat kabut tipis di kaca, Melati menatap ke depan.... Senyap, Gelap, Hitam, Melati menatap ke arah jutaan kunang-kunang yang terbang Sayang, gadis kecil itu tidak akan pernah bisa melihatnya... Tiga Tahun Lalu @& Hari indah kembali datang. Semburat merah memenuhi kaki cakrawala. Sunrise yang hebat, Pantai kata lengang. Ada sf satu-dua pasangan yang berjalan-jalan di atas pasir lembut yang bak es krim saat diinjak. Terpesona menatap indahnya matahari terbit, Terpesona menatap ombak ber- gulung. Meryilat-jilat mata kaki, Asyik sekali mem- benamkan kaki mereka di hamparan pasir..., Mereka ah omemang turis, jadi rada 'norak' melihat pemandangan hebat ‘tersebut fhabis ngelihat sunrise-nya pakai ‘pose! berpelukan segala, sak-ramantis, hihi) Anak-anak kembali sibuk berangkat sekolah, Berpamitan. Wusshh. Pekerja kantoran bergegas mandi, sarapan dan seterusnya. Petani rang memanggul cangkul. Nelayan lagi-lagi menumpahkan berember tangkapan semalam = suntuk mereka C"Wooili, ada yang dapat hiu, tuh!" Sermua menoleh, Lupa tangkapan = masing-masing. — Bergerambol. seperti menyambut kedatangan artis ibukota). Hanya Karang yang masih tertidur Semalam ia pulang persis saat adzan shubuh berkumandang. Ibu-ibu gendut seperti biasa membukakan pintu, menatap prihatin dengan wajah basah oleh sir wudhu. Karang sempoyongan menaiki anak tangga. Kiri, Kanan. Kiri, Kanan, Berkeriutan. Mencengkeram pegangan. Lantas melemparkan diri! Rebah dengan posisi ‘pesawat terbang’ di atas ranjang, Tidur mendengkur, Karnar itu tidak pernah memerlukan racun nyamuk, karena nyamuknys sudah kadung takut dengan suara dengkur dan bau alkohol dari mulutnya. Lengang. Sepagi ini, ketika selarik cahaya matahari menembus lubang-lubang dinding kayu membentuk bintik seperti bekas tembakan peluru di lantai, Karang masih tertidur Yelap'. Tidak peduli dengan keriuhan gosip di bawah sana. Di sini..., Matahari pagi terasa menyenangkan! Pulau kecil yang indah! Kanopi terbentang di mana-mana. Payung-payung terkembang warna-wami, Kursi-kursi plastik, Pantai dipenuhi turis, Ada yang sibuk bermain wali. Lempar bumerang, Menunggang kuda, Istana pasir. Mengubur diri, Atau sekadar berlarian menyiramkan pasir satu sama lain, Heil Karang bergumam. Ini bukan pantai yang dikenalnya? Sama sekali tidak dikenalnya. Ini pantai yang berbeda. Tidak = pernah_—_diilihatnya. Orang-orang yang berbeda..., Topi-topi pandan lebar, Seruan-seruan ‘Mabuwel', Pakaian-pakaian aneh? Musim panas? Summer Camp? Mana ada coba di kotanya musim panas? Yang ada musim kemarau, musim penghujan, musim duren, musim demo, ergh?? Karang mendesis pelan, apakah ini mimpi-mimpi buruk itu lagi... Tertawa, Rombongan itu tertawa, Ada keluarga kecil di sana, Berdiri di bawah salah satu payung besar warma-warni, Satu-dua-tiga, ergh banyak ternyata, Memakai topi lebar-lebar. Memakai kalung bunga. Seperti keluarga besar. Meski kentara kalau keluarga intinya hanya tiga. Pasangan setengah baya, yang rambut sedikit berubannya tertutup tapi pandan, dan.... Tertawa, Kaki-kaki kecil itu manjejak pasir. Rambut ikalnya bergerak mengombak, Mulutnya yang terbuka memamerkan gigi-gigi kecil. Di tangannya tergenggam sebuah boneke pands.... Karang mendesis lagi. Boneka panda? Tertawa, Kanak-kanak itu menyeringai riang, berusaha mendekat Tbu-nya yang = menjulurkan tangan. Vang lain ramai menepuki. Memberikan applaus, Memberikan semangat. Beberapa turis lain yang dari mukanya terlihat entah dari negara manalah, ikut menoleh, Ikut terpesona menatap kanak-kanak itu. Satu-dua mengeluarkan kamera, akan menjadi foto yang menarik sekali, Tertawa. Seluruh keriangan pantai ini seolah-olah pindah di wajah kanak-kanak menggemaskan itu. Kiri, Kanan. Kiri, Kanan. Kaki kecilnya berlarian mendekat. Membuat jejak di hamparan pasir basah nan lembut. Pipi tambamnya nyengir.... "“JOUT!" Piringan terbang plastik berwarna merah itu tanpa ampun tiba-tiba menghajar_ kepalanya, membuat terjatuh kanak-kanak itu, memutus seluruh kegembiraan. Seketika! “JDUT" Karang juga terjatuh dari ranjangnya Terputus juga mimpinya. Terbangun. Seketika! Seperti biasa, dia langsung menyumpah-nyumpah Bersungut-sungut. Mengusap pipi. Mata Karang liar menatap sekitar, Merah, Rambutnya kusut-masai Selagi ataknya masih ‘booting’, mengembalikan kesadaran, terdengar derit pelan pintu dibuka, Karang menoleh, Ibu-ibu gendut itu! Seperti biasa membawa termos dengan air panas baru. “Kau sudah bangun?" Ibu-ibu gendut melipat dahi, bertanya. Kali ini bukan just making conversation, — Itu benar-benar pertanyaan (dan butuh jawaban), karena lazimnya paling cepat Karang bangun lima jam dari sekarang. Bukan saat jadwal ia mengantarkan termos. Tapi yang ditanya tetap mendengus tidak peduli. Tidak © menjawab Merangkak terhuytng duduk di atas ranjang “Kebetulan kalau kau sudang bangun." Tbu-ibu itu tidak melangkah keluar kamar meski telah meletakkan termos, malah mendekat. Karang mengangkat muka kusutnya. Kebetulan apa? “ada surat untukmu!" Surat? Karang melipat dahinya. "Tadi diantarkan pagi-pagi sekali!" Ibu-ibu gendut mengeluarkan amplop putin dari saku baju dasternya. “Sku tidak tahu dari siapa. Tidak ada nama sispapun di sana kecuali mamamul!" Ibu-ibu gendut menjawab sebelum ditanya. Menjulurkan amplop putih itu. kKarang malas menerimanya. Surat? Sudah_ tiga tahun dia terputus dari kehidupan.... Tidak menyapa maupun disapa. Siapa pula yang sekarang mengirimkan surat padanya? Ibu-ibu gendut sudah balik kanan, Seolah tidak ingin-tahu surat apa dan dari siapa, Padahal ia ingin sekali tahu siapa yang mengirimkan surat itu sejak seseorang mengantarkannya lima belas menit lalu, Ingin sekali melihat Karang membacanya. Berharap surat itu pertands baik bagi anak-asuh suaminys untuk kembali pulih mengenal kehidupannys dulu.... Tapi setelah berpikir dan berhitung sejenak, memutuskan untuk membiarkan Karang sendirian membuka surat itu. Kehadirannya bisa jadi malah merusak suasana hati Karang Ibu-ibu gendut tersenywmn tipis, riang menuruni anak tangga yang (justru) berkeriut menyebalkan. @ Ruang makan rumah besar di lereng pabukitan. "Baa... Ma... Baa..." Melati mengaduk-aduk piring di hadapannya, Ia tidak duduk di kursinya, Tidak pernah. Melati sarapan sambil berdiri, Kakinya sibuk menghentak-hentak lantai. Tangannya meremas-remas (sebenamya ngacak-ngacak) nasi goreng spesial bustan Salamah "Belan-pelan, seyang!" Bunda yang duduk di sebelahnya membantu membenarkan posisi piring Tuan HK menatap sejenak lamat-lamat. Meneruskan makan. Biasanya Melati meski merajuk, meski butiran nasi tumpah di mana-mana, meski meja kotor berserakan, meski makan sambil menggerung, bisa menghabiskan setidaknya separuh makanan di atas piringnya. Tapi pagi ini Melati hanya sibuk mengais-ngais piring itu. Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar cepat “Ayo dimakan, sayang!" Bunda sekali lagi membantu membenarkan posisi piring yang hampir jatuh tersenggol gerakan jemari Melati, “Baas...” Melati terus mengaduk-aduk nasi di atas piring "Makannya yang baik, Melati." Suster Tya yang berdiri di sebelahnya berusaha menyentuh tangan Melati. Membantunya. Melati menggerung marah “piarkan saja, Tya!" Tuan HK berkata pelan. Tya, suster yang baru bekerja dua hari itu menarik nafas, kalau begini bagaimana Melati akan makan? Bunda tersenyum, mengangguk. Jangan pernah sentuh tangan Melati, Biarkan saja. Hanya perbsiki posisi piringnya "ayo, Melati... Pakai tangan bagus!" Suster Tya sekali lagi berusaha membantu Melati. Memegang tangan Melati, berusaha mengajari cara menyuap yang baik, Ia perawat baru, jadi tidak terlslu mengerti aturan mainnya, kan? "BA MA... AAA..." Melati mendadak berteriak kencang, "Eh, copot, copot, copot!" Salamah yang mengantarkan sir jeruk panas buat Bunda ikut berseru-seru panik (sebenarnya kalau ada keributan seperti ini, Salamah juga yang ikut nambahin panik). "Jangan teriak-teriak, seyang!" Bunda tersenyum. Menenangkan Suster Tya yang tadi kaget medengar teriakan Melati, menarik tangannya, Mukanya sedikit pias, lagi-lagi Melati mengannuk, "BAdA!" Melati memukul-mukul meja makan, Marah. “Jangan pukul mejanya, Melati!" Tya takut-takut berusaha menghentikan tangan Melati. "Biarkan, Tya-" Bunda berkata menengahi keributan. Jangan pernah menyentuh tangah Melati yang sedang marah. Itu aturan mainnya. Ia akan semakin marah Tapi Tya yang tidak tahu, masih berusaha memegang tangan Melati, Maka hanya dalam hitungan detik, tangan Melati satunya yang liar meraba-raba meja makan dan berhasil menyentuh ujung piring makanannya bergerak cepat. "PYAR!" Pecah berantakan, Melati melemparkan piring itu tanga ampun ke lantai, "Aduh, Melati jangan dilempar-"| Tyas yang setengah-terkejut, banyskan-gugupnya, berusaha menarik tangan Melati yang masin mencari benda lainnya. Bunda lembut memegangi tangan satunya, "Melati, sayang..." "BAAA.... MA...." Melati meronta-ranta Suster Tya yang pucat sekarang malah tanpa-sadar berusaha mencengkeram bahu Melati. Berusaha menghentikannya. Bunda menghela nafas tertahan. "persihkan belingnya, Salamah! Cepat! Sebelum terkena Melati!" Salamah terbirit-birit mengambil sapu dan pengki. Melati sudah berhasil melepaskan cengkeraman tangan Tya, Yang sekali lagi tetap berusaha menenangkan. Tuan HK menelan ludah, berkata tajam, "Biarkan Tya.... Biarkan!" Tya menatan setengah-bingung, setengah-panik Kalau dibiarkan? Nanti melempar piring lainnya? Aduh, bagaimana ini. Tuan HK menatap tajam... Tya omengusap wajah kebasnya, Serba-salah. Baruntung, Melati yang bersungut-sungut marah sudah melangkah tak jelas arah, meninggalkan meja makan, Menuju anak tangga pualam. Bunda mengikuti, Membujuknya untuk kembali, Percuma Melati hanya menggerung. Sebal, marah, benci, entahlah, (kalau ia mengerti semua perasaan itu!) @ Hari yang indah sekali lagi berlalu. Malam baru saja tiba, disertai hujan deras. Musim penghujan... Karang menuruni anak tanggs. Berkeriutan. Dia baru saja. menghabiskan ransum makan malamnya Jadwalnya untuk pergi. “Cau hendak kemana, Karang?" Ibu-ibu gendut tak lelah bertanya. "Bergi!" Karang mengambil jaket hujan di dinding ruang tengah. “Hujan, Karang!" Tbu-ibu gendut —_berusaha mencegah. “Lucu sekali.., Manusia yang hidupnya merasa selaly febat tapi takut dengan hujan!" Karang menyeringai Ibu-ibu gendut menelan ludah. Sinisme. Ia tahu itu. Sejak tiga tahun lalu, kalau kondisi hati-nya secang membalk, Karang bisa melakukan percakapan satu-dua kalimat (tidak sekadar mendenqus tak peduli). Tapi kalimat-kalimatnya penuh — sinisme kehidupan, Ibu-ibu gendut meletakkan rajutan. Beranjak berdiri. "Tadi surat dari siapa?" Bertanya sambil tersenyum. "Sejak kapan Ibu ingin tahu urusan orang lain? Mau seperti tukang gosip setiap pagi di gang bawah?" Ibu-ibu gendut tertawa pelan, "Tidak. Kau buken orang lain bagiku, Karang!" Karang mencengus, Merapatkan jaket hujan. "Kepalamu masih sakit!" “Lumayan-" Karang omembuka pintu, malas. memperpanjang percakapan, suara hujan deras menderu memenuhi ruangan. Dan sebelum pertanyaan berikutnya keluar, Karang kasar sudah membanting pintu dari luar. Seperti radio yang dipelankan, deru sir menerpa genting, jalanan, dinding, bebatuan seketika berkurang volumenya. Tbu-ibu gendut itu) menghela nafas. Padahal ia ingin sekali tahu surat apa yang diantarkan tadi pagi. Karang sucah pergi, Tidak peduli Apa sebenarmya isi surat itu? Berpikir setengah menit. Lantas memutuskan naik ke kamar atas. Baiklah, ia akan seperti tukang gosip itu, mencari tahu: Liputan langsung dari lokasi kejadian. Hitung-hitung sekalian membersihkan kamar, sudah terlalu kotor dan pengap, sudah terlalu lama tidak diurus, lagipula hanya di malam hari penghuninya pergi- ‘Anak tangga berbunyi menyebalkan seiring kaki melangkah. [bu-ibu gendut membuka jendela kamar. Suara air hujan terdengar menderu, Angin dingin (tapi segar) menerpa masuk. Hamparan lautan terlihat indah. Kerlip lampu perkotaan. Kerlip lampu perahu nelayan dan kapal ferry yang merapat di pelabuhan kata, Mercu-suar di kajauhan. Merapikan buku-buku yang berserakan, Menumpuk baju-baju kotor dari gantungan, melepas seprai. Merperbaiki posisi mesin tik tua di atas meja, Menyeringai. Ini mesin ketik warisan suaminya untuk kKarang. Satu-satunys barang berharga di ruangan ini... Surat itu tergeletak di sebelahnya, sama sekali belum dibuka. Tetap tersegel oleh sticker logo yang amat terkenal itu. [bu-ibu gendut menelan ludah Karang sama sekali tidak mempedulikan surat ini... Baiklah, ia akan melakukannya. Memutuskan berhenti sejenak dari bersih-bersih. Membuka surat itu. Mengeluarkan selembar kertas putih (yang juga berlogo}, Surat itu ditulis tangan. Tulisan yang rapi., Surat itu tidak panjang, hanya satu paragraf. Membacanya dengan penerangan larnpu lima belas watt di langit-langit kamar, “Anakku, seseorang mmenyebut dirimu bagal malsikat di mate anak-ansk.... Kehadiranmu selais membuat mereka bersenandung riang, kehadiran yang bisa menciptakan ‘keajaiban’.... Meski amat malu mengakuinya, harus kami bilang, kami sudah amat berputus-asa.... Berputus asa atas keterbatasan putri tunggal kami. Maukah kau berkenan membantu? Membagi keajaiban itu. Kami mohon dengan segaia kerendahan hati, Jika jawabnya ‘Va’, datanglah ke kediaman kami..." Nama dan alamat keluarga yang mengirimkan surat itu tertulis rapi di bawahnya, Ibu-ibu gendut menyeringai, menahan nafas. la amat mengenal keluarga itu. Bagaimana tidak? Lago di kertas ini tercetak di mana-mana. Barang-barang rumah tangga seperti gayung, ember, hingga pengki dan sapu ijuk. Sabun, deterjen, adal, dan entahlah Juga peralatan elektronik, pupuk, dan lainnya, Sama mengenalnya ibu-ibu gendut itu dengan masalah keluarga tersebut. Kelwarga balk yang malang.... @ Hujan turun semakin lebat. Ruang makan rumah besar di lereng perbukitan itu lengang, irama buncah suara hujan di luar diredam oleh tembok dan jendela kaca. “Melati mana?" Tuan HK bertanya. Malam ini ia pulang seperti biasanya, jadi bisa ikut makan malam bersama istrinya. Sebenarnya kondisi hatinys belum membaik, tapi karena hujan turun sejak sepanjang sore, dia memutuskan untuk pulang sesuai jadwal “Sudah tidur sejak sore tadi, terlalu lelah...." Bunda menjawab pelan, "Hari ini ia akéif sekali!" Tuan HK menelan ludah. Aktif sekali! Mengangguk. Itu konotasi dari Melati ngarmuk-ngarnuk. "“Tya tadi sore minta ijin pulang lebih cepat, Ia mendadak bilang ada keperluan keluarga...." Bunda berkata perlahan sambil pelan memotong-motong makanan di piringnya, "Gadis itu sepertinya tidak akan tahan lama. Seperti perawat-perawat sebelumnya." Tuan HK tidak berkomentar. Tahu persis apa yang menjadi masalah Tya, Ruang makan senyap. Hanya Salamah yang sibuk larak-lirik ke luar jendela sambil menungqui, berdiri di dekat meja, siapa tahu Bunda atau Tuan HK memerlukan sesuatu, “Tadi Kinasih datang lagi, kontrol." Denting suara garpu terdengar pelan, Bunda sebenarnya tidak lapar meski sepanjang siang tidak makan, ia hanya ingin menemani suaminya makan. Itu selalu ia lakukan selama 24 tahun terakhir (dan ia berjanji untuk itu), kecuali kalau sedang sakit. "kinasih sempat menemani Melati siang tadi. Kangen. Tidak sadar bahkan memeluk Melsti, lupa aturan omainnya...." Bunda terdiam sebentar, tertawa getir, "Dan Melati menjambak kerudung sekaligus rambut Kinasih-" Tuan HK menghela meletakkan sendoknya. “Anak itu hari ini ak#* sekali-" Bunda menghela nafas, Buru-buru berdiri, Suaminya sudah selesai, Membantu membereskan piring. Hari ini ada banyak hal yang dipikirkannya.... Tya yang mungkin menyerah menjadi perawat Melati, itu berarti ia harus mencari perawat baru. Memikirkan kalimat dokter senior rumah sakit ibukota beberapa hari lalu, Juga surat itu... Apakeah surat itu sudah tba? Malam beranjak semakin matang. Hujan tak kunjung mereda, Satu jam ke depan, setelah memastikan Melati tertidur di kamarnya, Tuan HK dan Bunda masuk kamar, Bunda seperti biass entahlah menulis apa, Tuan HK membiarkan, meneruskan membaca buku tebalnya, Lantas tertidur, Salamah juga sudah tertidur setengah jam alu, lagi-lagi ngiler. Mang Jeje dan pembantu-pembantu lainnya. Dan hampir seluruh penduduk kota indah itu, Namun ada yang belum tertidur. Bunda lagi-lagi keliru. Melati sama sekali belum tidur. 1a seperti malam-malam sebelumnya memang sudah terbaring di atas ranjang, sudah lelap seperti terihat. Tapi otaknys masin terjaga. Melati menggerung pelan. Jemarinya mengetuk-ngetuk di bawah selimut. [a aktif sekali sepanjang hari Sebenarnya ia aktif sekali sepanjang tahun ini, Seperti ada energi raksasa yang tidak kunjung bisa dilepaskan, Bersemayam di otaknya, Rasa ingin tahu, rasa ingin mengenal, rasa ingin segalanya Yang sayangnya tidak pernah memiliki akses untuk keluar bertahun-tahun, Lima belas menit kemudian, gadis kecil menggemaskan itu pelan setengah mengantuk menyingkap = selimutnya, Rambut ikalnya yang berantakan bergoyang-goyang. Menyeret kakinya menuju jendela, Tangannya terjulur meraba-raba Menyentuh dinginnya kaca. Satu dua bulir air hujan yang tampias menerpa kaca, Melati menempelkan wajahnya. Mata hitam biji buah leci itu berputar-putar ingin tahu. Hidung, dahi, dan mulutnya tercetak di jendela kaca, Nafasnya membuat kabut. Za sungguth ingin tahu.... Melati menatap lamat-lamat. Ke gelapnya malam yang buncah oleh suara hujan.... Sayang, sama seperti malam sebelumnya ketika ia tidak bisa melihat formasi jutaan kunang-kunang. Malam ini, Melati juga sedikit pun tidak bisa mendengar buncah suara hujan di luar... Lengang. Senyap. Kosong. Itulah kehidupannya- & Kaki kanak-kanak berusia sekitar tiga tahun itu lincah berlarian, Tadi takut-takut menyentuh buih ombak yang menijilat-jilat bibir pantai. Setelah berhasil, malah tertawa senang. Ternyata menyenangkan, Ternyata tidak menakutkan seperti yang ia duga, Rombongan yang berteduh santai di bawah payung besar berwarna-warni berseru menyemangati, Salah-seorang yang pastilah ibunya tertawa lebar. Menjulurkan tangannya, Kanak-kanak itu berlarian. Ingin lapor kalau ia bisa senditian menjejak ombak itu. Tidak takut lagi. “anak yang berani-Kemari sayang! Peluk Bunda!" Rambut — ikaInya — bergayang-gayang. — Nyengir mendekat Turis-turis (dengan warna kulit macam-macam) ikut menaleh, Tkut bertepuk-tangan. Amat menggemaskan melihat kanak-kanak itu melangkah. Memeluk boneka pandanya- Keceriaan seluruh pantai pulau kecil terkenal itu pagi ini seperti berpusat pada kanak-kanak yang berlarian menuju pelukan ibu-nya. Jejak kaki tercetak di pasir basah nan lembut..., Bayangan tubuh mungil bergerak menawan.... Pipi tembam, menyeringai lebar (senang sekali diperhatikan).... Waktu seolah berhenti ketika melihatnya.... “IDUT!" Brisbee (piringan terbang) berwarna merah itu) entah dari mananya, tiba-tiba = sudah menghantam dahinya. Memutus semua kesenangan. Seketika, Menghentikan seluruh tawa, “IDUT!" Untuk ke sekian kalinya Karang terjatuh dari ranjang tua, Mermutus mimpinya sekali lagi. Menyumpah-nyumpah, Dahinya lagi-lagi terantuk siku-siku kayu jati. Matanya merah sita menatap sekitar, S-i-l-a-u? "Kau sudah bangun, Karang?" Ibu-ibu gendut itu tersenyum lebar. Karang menaleh. Jendela kamamya sudah terbuka lebar-lebar, Ibu-ibu gendut berdiri di sebelah jendela, Semburat cahaya matahari pagi tanpa ampun membasuh ranjang tua itu. Karang mengomel. Beranjak duduk. Sebenarnya cahaya matahari pagi masih lembut menerpa, tapi untuk mahiduk batman sepertinya, lampu lima watt saja terasa silau. Segera menutup mukanya dengan dua belah telapak tangan. Kepalanya pusing sekali, Dia mungkin baru tertidur satu jam. Terlalu pendek. Terlalu cepat terbangun. Tidak cukup setelah semalaman begadang duduk di pojokan bar. "Ada surat untukmul!" [bu-ibu itu berkata datar. Karang tidak mengangkat kepalanya, Sama sekali tidak tertarik. Sialan. Hari-hari seminggu terakhir benar-benar berjalan. = menyebalkan —_ baginya. Kacau-balau. Dia selalu terbangun lebih cepat dari jadwal biasanya. Terlalu cepat malah. "Kau tidak pernah membuka surat-surat itu, anakku?" Karang menggerutu sebal, Memangnya penting? Melambaikan tangan, Maksudnya, folong tutup kermbali jendela itu, “aku akan menutup jendela, asal sekali saja kau mau membacanya, Karang-" "Buat apa? Bukankah Ibu setiap hari sudah membacanya untukku!" Karang mendengus sebal, menmotong Tbu-ibu gendut menelan ludah, berkata pelan, "Kau tahu, ada kanak-kanak = yang) memerlukan bantuanmu, Karang. Surat itu bilang, Mereka membutuhkan bantuanmu,..." Karang tertawa sinis, “Bantuan? Terakhir kali aku bersama anak-anak aku justru) membunuhnya- Bukankah Ibu tahu itue" Hening sejenak, Jbu-ibu itu) menghela nafas panjang. Sarkasme. Lagi-lagi kalimat itu "Tidak bisakah kau sekali saja menemui mereka? Ini surat ke-tujuh yang mereka kirimkan seminggu terakhir, mereka berharan banyak kau mau datang...." “Buat apa?" Karang menjawab masyqul. "Setidaknya kau mendengarkan apa permintaan mereka-" Karang menyeringai tipis. Permintaan? Omong-kosong. Dia sudah tidak peduli banyak hal sejak tiga tahun lalu. Bodo amat! Meskipun seminggu terakhir ada hal ganjil yang terpaksa dia pedulikan. Seminggu ini entah kenapa dia tidak pernah lagi terbangun oleh mimpi-mimpi buruk itu, Dia terbangun justru oleh mimpi-rmimpi yang tidak dikenalinya.... Sialmya, itu) bukan kabar baik baginya, justru mimpi-mimpi baru ini membuatnya sakit kepala. Membuatnya selalu. bangun lebih cepat. Dan siaInya lagi, di sisa siang dia akan kesulitan untuk melanjutkan tidur. “anakku, tiga tahun terakhir sejak aku tahu apa yang terjadi, aku tidak pernah ingin membicarakan masalah ini... Tidak ingin, karena semua ini bahkan mermbuatku sedih sebelurmn membicarakannya.... Tapi biarlah pagi ini kita bicarakan lagi semuanya-" Tou-ibu gendut itu melangkah mendekat Itu benar. Pagi ini setelah sepanjang minggu berpikir, berhitung masak-masak, ia akhirnya memutuskan untuk membicarakannya. Ia tahu ini menyakitkan. Tidak mudah, Tapi hingga kapan ia hanya berdiam diri, surat-surat ini bisa jadi aval yang baik bagi Karang.... Maka ibu-ibu gendut itu memulainya dengan mermbuka jendela kayu itu lebar-lebar. Perubshan = pertama! — Prolog pembicaraan! Karang mendengus, tetap menatap lantai, memijat kepalanya “karang, kau tahu aku tidak pernah berusaha mencegahmu melakukan apa saja yang hendak kau lakukan selama tiga tahun, Aku hanya diam membiarkanmu tenggelam sendirian dalam semua kesedihan. Tapi tahukah kau, dengan membiarkan kau seperti ini, melihat semua ini tanpa bisa melakukan apapun, aku lebih sedih dari yang kau rasakan.... “Selama tiga tahun aku bahkan tidak pernah membuka jendela ini. Berharap kau akan kermbali seperti yang pernah kukenal lewat surat-surat yang dulu kau kirimkan setiap bulan.... Berharap kau-lah yang akan omembuka jendela ini. Melewati masa-masa menyakitkan itu." Ihu-ibu gendut duduk di sebelah Karang. Menghela nafas. "“Tapi hari-demi-hari berlalu hanya seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Kejadian itu) sudah tertinggal tiga tahun di belakang, anakku,,,. [barat sebuah perjalanan, itu sudah jawsuh — sekali tertinggal-" “yal Jauh sekali) Benar-benar omong-kosong Saking jauhnya, hingga hari ini, setiap detik aku masin bisa melihatnya, jelas-jelas seperti siaran televisi-" Karang berbisik kasar, Memotong dengan suara serak, kerongkongannya terasa haus. “garena kau tak kunjung henti membiarkan qirimu merasa bersaiah, Karang!" Ibu-ibu gendut ikut memotong, dengan suara bergetar "gersalah! Kenapa pula aku harus merasa bersalah? Bukankah pengadilan akhirnya membebaskanku?" Karang tertawa. Sinisme Lengang sejenak, Ibu-ibu = gendut == menatap lamat-lamat wajah kusut di sebelahnya, Kumis dan cambang yang tak terurus, Rambut panjang berantakan, Pakaian kusam yang baru diganti dua-tiga hari sekali, Bau alkohol menyengat, Semua ini terlihat menyedihkan. “Tidakkah kau sejenak saja bisa berdamai dengan masa lslu itu?" ‘Ibu-ibu gendut bertanya pelan, menyentuh lembut lengan Karang Karang tertunduk. Bergumam sebal. Mengusap wajahnya, Berdamai? Its mungkin tidak akan pernah terjadi. Andai dia bisa melakukannya, Andai dia bisa menemukan caranya, Tapi semua itu terlalu menyakitkan, terlalu menyesakkan... Tiga tahun lalu, Kota besar itu, I-b-u-k-o-t-a! Dia merintis mimpi-mimpi besamya, Menukar seluruh masa kecilnya yang menyedihkan (yatim-piatu miskin tak beruntung, kerinduan menyesakkan atas kehadiran Ibu dan Ayah) dengan janji masa depan yang lebih baik, Dia mendirikan belasan Taman Bacaan Anak-anak. Tempat di mana anak-anak akan omendapatkan makna kehidupan — sejati, Kesenangan berbagi, Merasa cukup stas keseharian yang sederhana, Mencintai bekerja keras tanpa mesti kehilangan masa kanak-kanak — yang menggemaskan. Taman Bacaan yang memberikan buku-buku, kelas bercerits, dan — dongeng-dongeng tentang kehidupan. Mengajak anak-anak mencintai alam Mengajarkan mereka chatting, browsing, bagaimana bicara di depan, apa saja.... Siapa yang tidak mengenal dia? Pemuda yang merintis. sendirian semua mimpinya. Anak-snak mengenalnya sebagai kakak yang baik, kakak yang bahkan melihat wajahnya sudah menyenangkan, Kakak yang pandai bercerits. Kakak yang pandai membuat games dan permainan seru, Kakak yang pandai memetik gitar dan bernyanyi. Kakak yang selalu membawa sepotong cokelat sebagai hadiah.... Ibu-ibu di kota mengenal Karang pemuda yang baik, Pemuda yang bisa mendiamkan bayi yang sedang menangis hanya dengan menyentuhnya. Hanya dengan berbisik, Bersenandung, Siapa yang tidak mengenal Karang? Bapak-bapak di kota mengenal Karang permuda yang hebat, Bagaimana tidak? Dia sendirian menampung anak jalanan. Membuat sekolah informal. Menjanjikan masa depan bagi mereka, Percaya sekali janji kehidupan yang lebih baik akan datang dari anak-anak berikutnya. Hingge kejadian buruk itu, Tiga tahun lalu. Berita-berita di koran... Liputan media massa. Perahu nelayan kapasitas empat puluh orang itu terbalik di perairan utara ibu kota, Hari itu, Karang bersama anak-anak salah satu Taman Bacaan-nya berwisata air, Bermain, menyelam melihat indahnya karang-karang dan ribuan ikan wama-warni, Siang yang hebat, penuh gelak-tawa, Siang yang hebat, penuh kesenangan dan kebersamaan, Sayang, sore itu saat perahu nelayan kembali, cuaca buruk mendadak mengungkung lautan. Tanps ba-bi-bu, ombak besar membuat limbung perahu nelayan Terbalik, sempurna menumpahkan seluruh isinya tanpa ampun. Empat awak perahu beserta nmahkodanya selamat, lima kakak-kakak relawan yang mengurus Taman Bacaan selamat, Karang juga selamat. Dua belas anak-anak selamat. Tapi 18 tidak, Delapan belas kanak-kanak —lainnya —meninggal, — Tenggelam. Kedinginan. Bibir = membeku, — Ujung-ujung— jari membiru. Benar-benar menyedihkan. Tubuh-tubuh kecil yang dingin mengapung dengan jaket pelampung, Mencoba bertahan hidup selama satu jam sebelum rombongan helikopter penyelamat tbs, “Pemandangsn yang membust seluruh kota larut dalam kesedihan. Seperti menatap artefak sejarah menyakitkan..., Karang diinterogasi, diperiksa penyidik berhari-hari. Tidak cukup hanya itu, pengadilan menyeretnya bersama nahkoda dan awak perahu nelayan Menuduh mereka tidak-cukup-bertanggung-jawab atas keselamatan anak-anak, Proses pengadilan yang sungguh mengharukan, Proses pengadilan yang mengundang tangis. “kak Karang Tidak Bersalah!" Anak-anak Taman Bacaan mendatangi pengadilan sambil membawa spanduk, Satu-dua malah menangis maju ke depan menyerahkan setangkai bunga. —- Pendapat masyarakat bagai api yang merambat menijalar. Bukungan-dukungan. Tuduhan-tuduhan.... Serusn benci dan simpati berpilin di media massa. Dan vonis itu. akhimya dibacakan, Tidak = ada_—yang menyalahkan dirinya.,., tu benar sekalit Tapi tahukah kalian hal yang paling menyakitkan di dunia bukan ketika orang lain ramai menyalahkan diri kalian, Fapi saat kalian — menyatahkan diri-sendiri.,.. Dan itulah yang terjadi padanya! Dimulailah malam-malam sesak itu. Tiga tahun terakhir, Membakar semua yang dimiliki, kepercayaan, harapan, dan cita-cita.... Karang memutuskan pergi! Tidak tahan lagi meski hanya menatap Taman Bacaan miliknya dari kejauhan. Dia tidak sanggup meneruskan hidup di sans. Wajah delapan belas kanak-kanak itu mermenuhi pelupuk matanya. Wajah Qintan.... Karang memutuskan pulang. Kalau bisa, dia bahkan ingin memutuskan pulang dari kehidupan ini. Tidak peduli itu akan mengorbankan banyak hal, Tidak peau, Lengang. Kamar berukuran 6x9 meter itu senyap, Angin pagi menelisik lewat jendela, Lembut memainkan anak rambut. Karang mengusap matanya. Tidak! Dia sudah lama tidak menangis mengenang kejadian itu, Air-matanya sudah habis, bukan karena— kejadian itu, tapi. sejak kanak-kanaknya, terlanjur habis karena tangis-rindu pada orang-tuanya yang pergi. Yang menangis justru ibu-ibu gendut itu. Pelan “aacalah anakku.... Sekali saja!" Ibu-ibu gendut itu berkata serak, menyerahkan surat baru yang masih disegel oleh sticker berlaga Karang diam. Tangannya tidak bergerak. Dia tidak bodoh (untuk tidak bilang amat cerdas)! tu takdir hebat miliknya. Dia mengenali logo tersebut, sama seperti seluruh penduduk kata ini. Dia juga tahu apa masalah keluarga baik yang malang itu. Jadi tanpa perlu membacanya dia tahu apa maksud surat-surat ini. “Anak malang ini membutuhkan bantuan, anakku!" “la membutuhkan dokter. Bukan seseorang yang bahkan = menurut pengadilan tidak memiliki pendidikan akademis memadai tentang mendidik anak-anak..... Aku tidak = memiliki apapun untuk membantu anak ini-" Kerang berkata pelan. Intonasinya melemah, Dia masih menggerutu, namun sejenak = melihat —ibu-ibu gendut di sebelahnya menangis, sarkasme itu sedikit mereda "kau memiliki segalanya bagi anak-anak, Karang-" Karang oo menyibak =o rambut = panjangnya yang mengenai ujung-ujung mata Mendengus. Segalanya? Omong-kasong! “Kau mencintai mereka lebih dari siapapun, anakku-" Karang tertawa Getir, Tertunduk, "Ya! Aku mencintai kanak-kanak lebih dari siapapun..., Kata bijak itu benar sekali, terlalu mencintai seseorang justru akan membunuhnya!" Ibu-ibu gendut = menghela nafas, Melepaskan pegangannya di lengan Karang, Ikut menatap lantai kayu. "Kau punya Kesempetan untuk memperbaiki masa lalu itu, anakku.... Anak ini membutuhkanmu, Jika Tuhan omenghendaki pengampunan yang kau harapksn, kau pasti bisa membantunya...." Karang tidak menjawab. Mengusap wajah kebasnya untuk ke sekian kali, Pembicaraan itu berakhir tanpa kesimpulan Lima menit kemudian, ibu-ibu gendut itu menuruni anak tangga yang berkeriutan. Sementara Karang sudah membanting jendela = kamar. —_Lantas melemparkan dir di stas ranjang tua, Berharap bisa melanjutkan tidur.. Keterbatasan Melati Langit kelam. Petir menyambar. Ombak bergelombang susul-menyusul menghantam perahu nelayan kapasitas empat puluh orang itu. Sialnya angin yang menderu-deru membuat semakin kelam dan tegang suasana, Perahu ity macam sabut af galeknys iautan luas.. "PELANKAN! PELANKAN LAJU PERAHU!" Salah satu awak kapal yang berdiri di buritan berteriak kencang, Panik! Nahkoda perahu dengan tangan liat-basah berkeri- ngatan mencengkeram kemudi, berusaha mengen- dalikan gerak kapal. Mengatupkan gigi geraham. Rahangnya mengeras, Matanya tajam menatap awas. Dahinya berkeringatan. Cemas! "AWAS OMBAK BESAR DI HALUAN KANAN!" Nahkoda memutar kemudi, Melintir, Perahu meliuk. Menghindar "TAHAN!! AWAS OMBAK!L" Nahkeda sekali lagi membanting kemudi. Perahu berderit. Terangkat ke atas ujung-ujung gelombang lautan. Lantas seperti dibantingkan, berdebam jatuh seiring gerakan liar ombak besar. Lambung kapal bergetar. Tiang-tiang kayu bergermeletukan, Membuat pias seluruh penumpangnya. "CTAR!" Kilat menyambar. Langit gelap tertutup awan mendadak terang-benderang. Semburat cahaya seperti akar serabut melukis — langit. Pemandangan yang memesona —(sekaliqus mengerikan). 'Wajah-wajah = semakin —_ gentar. Berpegangan erat apa saja. "AWASI! SEBELAH KIRI!" Teriakan awak kapal terdengar serak Nahkoda gesit memutar kemudi lagi Badan-badan menggigil ketakutan, Sejak setengah Jam lalu, Badan-badan kecil itu) sudah menciut, Pucat-pasi. Tidak ada suara meski hanya decit tertahan. Saling berpegangan tangan erat-erat Takut! "SEBELAH KANAN!" Awak kapal berteriak lagi. Nahkoda semakin gugup, berusaha mernutar cepat kemudi. Badai ini benar-benar menguras segalanya Kapal terangkat lagi tinggi-tinggi. Lantas sekejap, berdebam lagi Membuat semakin pias wajah kanak-kanak itu. Boneka panda itu akhirnya terjatuh dari genggaman tangan (yang akhirnya melemah karena gentar), Menggelinding pelan di lantai perahu. Mental satu-dua mengikuti gerakan perahu yang semakin tak terkendali, Membal.... Atas.... Bawah... Atas.... Bawah... Bergulingan.... Kiri... Kanan... Kir... Kanani "GELEGARI" Guruh menyalak, enam detik setelah kilat tadi, berdentum memekakkan telinga, beradu dengan teriakan panik awak perahu nelayan dan penumpangnya. Gerakan boneka panda itu tertahan di dinding kapal.... Gemetar Qintan, setengah-takut setengah-cemas atas nasib bonekanya merangkak berusaha mengambilnya “JANGAN LEPASKAN PEGANGAN, QINTAN!" Gadis kecil itu) menoleh = takut-takut Tapi bonekanya? Bonekanya? "TETAP DI TEMPATMU, QINTAN!" Yang barusan berseru kencang menengahi hingar-bingar suara badai itu, berusaha memegangi tubuh gadis kecil yang sudah setengah merangkak, “ONTUM!" Terlambat, Semua terbanting! Ombak besar menggulung. Perahu nelayan itu tanpa ampun terbalik. Teriakan panik terdengar, Seruan-seruan tertahan, Jeritan kanak-kanak., Tubuh-tubuh itu seperti butiran cokelat sebesar kelereng berwarma oranye tumpah dari toples. Berhamburan di atas meja. Sayang meja-nya adalah lautan yang galak melibas apa saja. Percuma jaket pelampung berwarna oranye yang terikat erat di tubuh mereka... "BERPEGANGAN!" Karang tersengal, tersedak air laut, berusaha menarik kanak-kanak yang limbung di tengah ambak. "PEGANG SEBANYAK MUNGKIN ANAK-ANAK!" Karang panik meneriaki kakak-kakak relawan Taman Bacaan lainrya, Suasana benar-benar kacau. Hujan deras bagai ditumpahkan dari langit gelap. Perahu kayu itu pelan mulai tenggelam, miring, terus melesak ke dalam dinginnya lautan. Awak-nya sudah melupakan nasib perahu mereka, sekarang berjibaku menarik anak-snak yang menjerit-jerit di sekitar mereka. Satu tersedak, terminum air. Yang lain menyusul. Terlambat sepersekian detik, tubuh-tubuh kecil itu akan terseret ambak, menjauh entah kemana! Tidak terselamatkan, Teriakan = kanak-kanak yang) takut = membuncah lautan. Karang berhasil memegang jaket pelampung tiga kanak-kanak di dekatnya. Beberapa kakak-kakak lainnya juga berhasil ~memegangi yang lain. Berusaha bertahan di tengah buruknya cuaca, Boneke panda itu mengambang di dekat Karang "QINTAN! QINTAN DI MANA!" Karang terkesian demi melihat boneka panda itu. Tersadarkan oleh sesuatu, Menoleh panik kesana kemari, Berteriak. Yang lain tidak sempat menjawab, terlalu sibuk dengen urusan masing-masing. Berussha terus merapat, berkumpul saling berpegangan tangan Tubuh terbungkus jaket pelampung oranye itu mengambang di dekat Karang. —_Naik-turun. Naik-turun, Bergerak liar seiring§ — ganasnya gelombang lautan, Karang beringas berenang mendekat, dengan terus memegang tiga anak lainnya. Benar-benar sulit. Ormbak besar membuat badannya selalu terbanting. Tapi setelah berjibaku setengah menit, Karang bisa menarik jaket pelampung itu. Qintan tersedak. Mukanya pucat-pasi "PEGANG JAKET K&KAK! PEGANG!" Karang meneriaki tiga anak lainnya, sambil berussha mendekap Qintan, Mengangkat kepala Qintan agar lebih tinggi dar permukaan air laut, Qintan terbatuk, Matanya layu. Sudah terlalu banyak air laut yang masuk dalam perutnya, "Qintan! Bertahanlah, sayang-" Karang panik, Gadis kecil berkepang dua itu terbatuk lagi, Air laut tumpah dari mulutnya, Kepalanya sudah_ terkulai lemah- “aku mohon, Bertahanlah...." Karang berteriak parau. Satu ombak besar menerpa mereka. Terbanting. Kuyup. "Qin-tan... Qin-tan takut Kak Karang-" Gadis kecil itu berbisik dalam dekapan. Rambut berkepangnya luruh ke dahi “Ya allah, aku mohon. Bertahaniah...." | Karang berusaha memperbaiki posisi Gintan. Melepas ikatan jaket pelampung di leher, agar gadis kecil itu bisa bemafas lebih legs. Tiga kanak-kanak lain yang mulai kedinginan menatap amat gentar semua kejadian sambil terus berpegangan erat pada jaket pelampung Karang. Satu ombak lagi menerpa. Membuat anak-anak lain tersedak. Jemari Qintan yang berusaha mencengkeram bahu Karang terlihat membiru, Bibirnya pucat, Matanya semakin redup. “Bertahanlah, Aku mohaon-' Karang mengguneang tubuh Qintan. "Qin-tan.... Qin-tan takut sekali Kak Karang-" Hujansemakin deras. Langit pekat, petir menyambar sekali lagi, semburat cahaya mengukir angkasa. “a-da cacha-ya.... A-da ca-ha-ya, Kak Karang!" Mata Qintan yang tinggal putihnya mendongak menatap langit, Karang seketika gametar menahan sesak. “aku mohon, sayang, Kak Karang di sini... Bertahanlah!" "A-da..., A-da yang da-tang, Kak Karang" Gintan berbisik lirih, kepalanya masih mendongak, mata itu tinggal putihnya. Lihatlah, kanak-kanak yang lain menatap sungguh tak mengerti. Amat takut. Menjadi saksi kepergian yang menyakitkan. Karang sudah gemetar berbisik tidak terkendali, berusaha menenangkan hatinya yang juga ikut gentar. Gemetar memohon "Kak Karang, Ma-ma-Pa-pa da-tang.... Ma-ma Pa-pa da-tang" Gadis itu merekahkan senyumnya di antara bibir pucat membeku. "“Jangan, sayang. Jangan pergi. Kak Karang mohon-" Karang mengguncang tubuh Qintan, "Ma-ma- Pa-pa da-tang..., Me-re-ka da-tang Kak Ka-rang...." sungguh memilukan menjadi saksi kejadian itu, Petir menyambar sekali lagi Membuat semburat akar serabut di angkasa. Pemandangan yang memesona sekaligus mengiris hati. Dan persis saat semburatnya hilang, kepala Qintan terkulal lemah dalam pelukan Karang, Ia sudah p-e-r-g-i.. Karang mendesis, Matanya berputar menatap sekitar penuh sejuta sesal, Karang sesak oleh sejuta tanya. Dia ingin berteriak sekuat tenaga Berteriak sekuat yang bisa dia lakukan. Tapi suaranya hilang sudah di kerongkongan, suara itu hanya menjadi untai keluh tertahan saat tiba di mulut, Suara itu hanya menjadi sedu. Tergugu. Kerang mendekap tubuh Qintan erat-erat..., Menangis. Tersedan Petir menyambar lagi. Silau! Cahaya itu menyilaukan Lengang.... Tapi tidak ada lagi buncah air hujan. Tidak ada juga deru angin. Kemana ombak galak tersebut? Kemana gelegar guruh dan kilau petir itu? Kemana semua keributan? Senyap.... Mata Karang mengerjap-ngerjap. Die ada di kemar berukuran 6x9 meternya, Dia tidak berada di tengah lautan terkutuk yang terkungkung cuaca buruk. Dia terbaring tertelentang, Silau. Jendela kamamya lagi-lagi sudah terbuka lebar. Cahaya matshari pagi menerabas masuk Pelan Karang beranjak duduk. Mengusap rambut panjangnya, Kepalanya tidak nyeri seperti seminggu terakhir, Melirik jam di dinding. Pukul 12.30, Ini jadwal bangun tidur seperti biasanya, Setelah seminggu selalu terbangun oleh mimpi-mimpi yang tidak dikenalnya, sekarang semuanya kembali normat . Normal? Mimpi-mimpi buruk itu kembali datang bisa disebut normal? Karang mendengus. "Kau sudah bangun, Karang?" Karang menoleh. Malas menggerakkan lehernya Tbu-ibu gendut berdiri di dekat jendela. Menatapnya datar, Karang melambaikan tangan tidak peduli, Basa-basi! Tidak menjawab. Pasti setelah ini akan bilang: “Ada surat untukrau! Selalu begitu selama seminggu terakhir. 4pa tidak ada bentuk kalimat pembuka percakapan lainnya? Tapi ibu-ibu gendut tidak berkata-kata lagi, melainkan melangkah mendekat, Karang beringsut beranjak duduk di tepi-tepi ranjang tua. Merapikan rambutnya yang mengenai ujung-ujung mata, “ada yang ingin menemuimu!" Karang mengangkat kepala, Mengernyitkan dahi, Menernuinya? Tbu-ibu gendut menunjuk ke arah pintu. Sesecrang berairi ai sana, Ragu-ragu melangkah mendekat Karang tidak mengenalinya, Matanya masih silaw. Kepalanya malas berpikir, Seorang ibu setengah baya, Mengenakan kerudung disampirkan di kepala, Wajahnya keibuan menyenangkan, Meski gurat itu terlinat lelah dan menyimnpan banyak kesedihan (seburuk apapun kondisi Karang, kemampuannya mengenali tabiat dan karakter hanya dari menatap sekilas wajah tetap mengagumkan). "Selamat siang, anakke!" Tbu-ibu itu. ragu-ragu menyapa. Mungkin sedikit bingung melihat isi kamar. Bingung melihat orang yang akan ditemuinya, Ia sudah mendapatkan banyak potongan cerita, tapi ia tidak menyangka akan seburuk ini kondisinya. Rarmbut gondrong acak-kadut. wleran? Kamar pengap? Jangan-jangan cerita itu salah? Jangan-jangan ia salah alamat Karang menatap lamat-lamat. Tidak merasa perlu menjawab sapaan itu. Pakaian mahal! Tas tangan mahal, Semuanya mahal, Meskipun dia bisa menerimanya. Proporsional (untuk tidak bilang sederhana untuk ukurannya). Ibu ini terlihat 'sederhana’ dengan semua kemewahan miliknya, bisa memadu-madankannya hingga tidak terlihat terlalu mencolok, Siapa? “Aku Bunda HK,... Maafkan kalau mengganggu tidur siang-mu!" “Tidak, Sama sekali tidak mengganggu, Karang sudah bangun, Nyonya, Lagipula ini bukan tidur siangnya...." Ibu-ibu gendut itu tertawa, bergurau, mencoba mencairkan suasana Karang mendengus pelan. Tidak mempedulikan kalimat ibu-ibu gendut. Pasti ini keluarga yang mengirimkan surat-surat itu. Pasti ini orang yang bertanggung-jawab menganggu tidurnya dengan surat-surat tersebut. Keluarga malang itu? Malang? Kekayaan mereka bisa membeli seluruh kota dan se-isinya, jadi di mana letak malang-nya? Sarkasme itu dengan cepat mengisi otak Karang. “Apakah kaw omenerima suratkyselama__ ini?” Bertanya hati-hati. Langsung ke pokok persoalan Karang mendesis pelan, menunjuk meja kecil, Tujuh buah surat tertumpuk rapi (yang menumpuknya ibu-ibu gendut). “Aku omehon, anakke, Telonglah kami-" Bunda berkata penuh harap sambil tersenyum “kau datang pada orang dan tempat yang keliru, Nyonya! Dan yang lebih pasti lagi, kau datang di waktu) yang salah!" Karang memotong kasar, menguap lebar-lebar, Lengang sejenak., Perasaan ganjil menggantung di langit-langit kamar. Ibu-ibu gendut menatap Karang (yang tidak pedulij, Bunda HK (yang. terdiam bingung atas kalimat kasar Karang). Kembali menatap Karang (yang sekarang santai mengusap pipinya), Tbu-ibu = gendut bolak-balik ~menatap mereka berdua dengan ekspresi salah-tingkah. Aduh, bisa nggak sih Karang respek sedikit dengannya? Seluruh penduduk kota ini saja amat menghargai pemilik rumah mewah di lereng pebukitan itu. Keluarga yang dikenal baik hati Tbu-ibu gendut ingin mengeluarkan kalimat bergurau lagi. Berusaha mengendurkan ketegangan. Tapi urung. Berhitung = cepat, = Berpikir ~— capat, memutuskan, "Sebentar Nyonya, saya ambilkan minuman, ah-ya sekalian saya ambilkan kursi plastik dari bawah, lebih nyaman bercakap-cakap sambil duduk...." Lantas melangkah cepat, Membiarkan pembicaraan itu terjadi. Kehadirannya bisa saja malah malah membuat Karang semakin sarkas Masih lengang sejenak.... Hanya angin laut menerpa lembut melalui jendela kamar. Terasa sejuk. Tou-ibu yang omenyebut dirinya Bunda HK melangkah mendekat, Berdiri di tengah ruangan. "kau tahu, nama putri kami Melati, Umurnya enam tahun, © Sungguh = kanak-kanak = yang amat menggemaskan, Wajahnya imut-bundar, Rambutnya ikal mengombak. Pipinys tembam, Matanya hitam bagai biji bush leci. Giginya, giginya lucu sekali, seperti gigi kelinci, Kalau ia sedang berlari...." Bunda terhenti sejenak. Menatap lamat — langit-langit ruangan Bunda sebenamya tidak tahu mau bilang apa (setelah Karang kasar menyelanya tadiy, Bunda pagi ini mermutuskan untuk datang langsung hanya ingin bertanya, Bertanya mengapa sedikit pun surat-surat itu task aitanggapt, Ja tidak tahu seperti apa rupanya. Ia malah amat gagap saat pertama kali melihat penampilannya. Ragu-ragu masuk ke kamar, Tapi kabar itu tak akan keliru. Lihatlah, mata anak-muda ini begitu berbeda (meski seluruh gesture dan gerak tubuh lainnya sama sekali tidak menunjukkan sikap bersahabat), “kalau, kalau ia sedang berlari, maka seolah-olah waktu terhenti...." Bunda meneruskan kalimatnya, masih menatap langit-langit kamar yang penuh jaring laba-laba, tersenyum getir, "Semua kepala tertoleh, semua wajah terpesona menatapnya, waktut benar-benar seolah terhenti... Melati sungguh = kanak-kanak = yang = menggemaskan. Senyumnya, tawanya, wajahnya, semuanya...." Terdiam. Bunda menghela nafas pelan, "Tapi itu dulu.... Sekarang seluruh kesedihan itu telah mengambil semuanya, Tidak menyisakan apapun meski hanya seutas benang harapan. Meski hanya seutas benang kecil seperti jaring laba-laba..., Putri kami berubah amat menyedihkan...." Karang tetap disu di tepi ranjang, Menatap tajam ke depan. “Maukah kau membantu Melati, anakku?" “Anak itu membutuhkan dokter, psikiater atau entahlah, Nyonya! Bukan aku!" Karang menjawab kasar. “Kami sudah mengundang berpuluh-puluh dokter Bahkan berpuluh-puluh tim dokter ternama, tapi semuanya sia-sia-" “Kalau mereka saja siarsia, bagaimana mungkin Nyonya berharap kepada seorang pemabuk sepertiku!" Karang menyeringai, sinis. Bunda terdiam, ‘Tertunduk. Menatap lantai kayu Lengang. Benar juga. Kalau semua pakar hebat itu gagal, kenapa pula ia pagi ini datang ke kamar pengap ini, Lihatlah, pemuda ini jauh dari kesan yang dibayangkannya. Jauh dari kesan cerita yang didengamya, Bagat malaikat of mata anak-anak? Perbuat keajaiban? Bunda menghela nafas pelan. “\., aku juga tidak tahu kenapa datang pagi ini, mengirimkan surat-surat itu. Aku tidak tahu. Yang aku tshu, kami sudah tibs di batasnya. Sudah hampir berputus-asa, jadi apapun kemungkinan yang tersedia, meski itu hanya seujung kuku akan kami coba.,.. aku tidak tahu kenapa harus berharap padamu, anakku...." “angan panggil aku snakku!" Karang mendesis Tegang.... “Maaf-" “Nyonya hanya menghabiskan waktu datang kesini, aku tidak bisa membantu apapun...." "Kami mohon, tolonglah.... Putri kami amat penting bagi kami... Andaikata semua kesedihan ini bisa ditebus dengan seluruh kekayaan keluarga kami, akan kami berikan...." Bunda berseru putus-ase. "Penting? Omang-kosong! Nyonya tidak akan meninggalkannya walau sekejap jika putri Nyanya memang amat penting bagi Nyonya.... Lihatlah, Nyonya menghabiskan waktu setengah jam sia-sia di kamar pengap siang ini, sedangkan putri Nyanya sudah memecahkan dua jendela kaca di saat yang bersamaan...." Karang tertawa kecil, Melarbaikan tangannya, tidak peduli. Bunda HK menelan ludah Sudah selesai. Pembicaraan ini sudah selesai. Kalimat sinis Karang barusan menjadi penutup pembicaraan yang menyakitkan. Bunda HK pelan mendesah, Menghela nafas sedih. la sungguh tidak tahu kenapa ia datang kesini, la juga tidak tahu apakah ia pantas berharap kepada pemuda yang penampilannya sama sekali tidak meyakinkan, Yang bahkan kasar sekali adabnya. Ia hampir berputus asa, jadi apa saja kemungkinan yang ada pasti dicobanya. Bunda HK pelan beranjak balik-kanan. Menuju pintu kamar, Karang mendengus tidak peduli, Ibu-ibu gendut yang sejak tadi menguping di bawah anak tangga buru-buru hendak ke dapur, Tapi entah kenapa mendadak Bunda menahan langkahnya Bunds entah mengapa perlahan menoleh dengan tatapan terluta kepada Karang. Diam sejenak. Menggigit bibirya "Kau tahu, Melati buta, anakku...." Berkata dengan suara bergetar. "Melati buta! Ia tidak bisa melihat walau selarik cahaya.... Jikalau siapa saja di dunia ini hanya buta, ia sungguh masih bisa mendengar, masih bisa bicara, masih punya cara untuk mengenal dunia Tapi Melati juga tuli, anakkw.... Melati juga tuli. Ia tidak mendengar walau satu nada sekalipun. Jikalau siapa saja di dunia ini hanya tuli, ia memang tidak bisa bicara, tapi ia sumgguh masih bisa melinat, masih punya cara untuk mengenal dunia..." Bunda mulai terisak “Tetapi Melati buta dan tuli, anakku..., Melati buta dan tuli, Ja sungguh terputus dari dunia ini... Ja sempurna tidak meriliki cara untuk mengenal walau hanya membedakan mana sendok, mana garpu, apalagi untuk mengenal dunia dan se-isinya. Ia bahkan tidak pernah bisa membedakan mana Bunda, mana Ayahrnya...."" Bunda HK — benar-benar menangis sekarang. “Melati, putri kami buta dan tuli, snakku.., Dunia sempuma terputus darinya.... Ya allah, apakah itu takdirMu? Apakah itu jalan hidup yang harus dilalui Melati sepanjang umurnya? Jika iya, lantas bagaimanakah nanti? Apakah di hari akhir nanti Kau tetap bertanya kepadanya? Meminta pertanggung-jawaban kehidupannya? Ya allah, Melati bahkan tidak pernah mengenal Engkau! Jangankan shalat yang balk, menyebut namaMu pun ia tidak mengerti...." Bunda benar-benar jatuh terduduk sekarang, terisak dalam, Ya allah, semua jelsn Aidup putrinya amat menyesakkan, Karang tetap menatap tajam ke depan. Tidak bergeming. “Kami tidak meminta keajaiban Melati sembuh, ya Allah! Kari tidak meminta keajaiban Melati bisa melinat dan mendengar lagi, karena itu mustahil. Kami tahu itu... Tapi kami hanya meminta keajaiban agar Melati mempunyai cara untuk mengenal dunia ini. Mengenal Bunda dan Ayahnya, dan... dan... mengenal Engkau ya allah, Anak itu bisa dengan baik mengenalMu "0 atau kami sungguh keliru. Harapan itu sama sekali tak pantas. Jangan-jangan di kehidupan ini memang ada takdir seseorang yang digariskan untuk tidak pernah mengenal siapa penciptaNya. Jangan-jangan kamilah yang keliru, Melati memang ditakdirkan tidak akan pernah mengenal dunia dan seisinya...." Terdiam. Sedan Bunda memenuhi langit-langit kamar. Ibu-ibu gendut yang sejak tadi sibuk tenguping berdiri di bawah anak tangga ikut terpaku, Menyeka ujung-ujung matanys. Karang hanya mematung. Mendesis dalam hati, menyumpah-nyumpah dalam hati. Lihatlah, apakah hidup ini adil? Apakah kehidupan ini adil? Jangan-jangan hanya lelucon yang tidak lucu? Ada yang utuh memilid seluruh panca inderanya, tapi tak sekejap pun peduli dan bersyukur. Karang menggerung pelan.... Wajah kanak-kanak itu melintas di matanya. Amat nyata, Amat dekat. Wajah-wajah pucat-pasi. Tubuh-tubuh kecil yang membeku, Wajah Qintan! Jemarinya yang biru, bibirnya yang pucat, Seruan pelannya, “Qin-tan... Qin-tan tekut sekali Kak Karang-* Karang tertunduk pelan. Apakah hidup ini adil? Dia berjanji menghabiskan seluruh hidupnya demi anak-anak, tapi dia pula yang membunuh delapan belas di antara mereka, Apa coba maksud takdir Tuhan seperti itu? Gurauan? Bercanda? Bunda berusaha berdiri perlahan. Mengusap matanya. Lantas pelan melangkah = menuju anak-tangga berkeriut, Berpapasan dengan ibu-ibu gendut yang tak kuasa ‘kabur’ agar tidak ketahuan nguping. Bunds terus menuju mobil Porsche convertible yang terparkir di gang sempit. Lima belas detik kemudian, mobil itu melesat cepat membelah jalanan kembali ke lereng pebukitan. Sore itu rusuh sudah di komplek perumahan padat itu. Bukan, Bukan rusuh di Kamar berukuran 6x9 meter, Karang yang tertunduk hanys mendesah pelan (desahan pertamanya setelah tiga tahun), mengusap wajah kebasnya, lantas merebahkan tubuhnya, kembali tidur, Ibu-ibu gendut itu juga urung maik ke atas, kermbali duduk di kursi goyangnya, meneruskan merajut (sambil berpikir banyak hal). Yang rusuh itu adalah ibu-ibu tetangga sekitar, Wuih! Barusan ada mobil super mewah terparkir di gang sempit mereka, Ada Nyonya HK yang terkenal itu berkunjung. Jelas itu bahan gosip yang mantap “Tahu nggak, sih? Tahu nggak, sih? Tadi ada tamu tob ke sini?" “Sapa? Sapa?" Krsk, krsk, krsk (terlalu banyak yang mau nyela ngomong duluan, jadi getormbang pemancarnya nggak jelas) “Ergh, memangnya ada perlu apa keluarga kaya itu datang kemari?" Krsk, krsk, krsk. “Katanya mau bakti sosial, bagi-bagi sembako-" krsk, krsk, krsk, “Oh-ya? Bagi-bagi semen sembilan kilo? Kapan?* #& Malam datang menjelang. Satu hari yang indah lagi berlalu. Semburat merah di kaki cakrawala sempurna digantikan gelap. Langit mendung, gumpalan awan hitam menutupi gemintang dan purnsma, Pertanda hujan, Burung layang-layang yang ramai terbang di atas kota tadi sore sudah memberitahu kabar itu. Meja makan itu kembali rusuh. "Ma... Ba... Maaa." Melati mengacak-ngacak mie goreng di piringnya, Sama sekali tidak berminat untuk memakannya “Ayo sayang, dimakan!" Bunda — tersenyum, membenarkan posisi piring untuk ke lima kalinya dua menit terakhir. "Baa... Ba..." Melati tidak peduli. Mana pula ia mendengar, Mata hitam bij buah — lecinys berputar-putar. Rambut ikalnya bergoyang-goyang. kalau saja grang-orang = tidak =—stahu keterbatasannys, maka Melati sungguh terlihat menggemaskan nian di mata, Tidak ada yang menyangka anak ini buta dan tuli (otomatis bisu pula) Malam ini tidak ada Suster Tya. Tya tadi sore sepulangnya Bunda dari perumahan gang sempit itu keburu minta ijin pulang lebih cepat, "Nenek Tya sakit, Bunda!" (beberapa hari yang lalu Tya juga bilang, "Kakek saya sakit!" "Bapak sakit" "Ibu sakit!" mendaftar sakit seluruh anggota keluarganya), Bunda tersenyum, mengangguk mengijinkan. Ia tahu persis alasan itu bohong. Tya semakin hari semakin tidak betah. Kemarin Melati menjambak rambutnya Dan tidak mau melepaskannya, Bingunglah Tya, tidak otmungkin ia kasar memukul Melati, kan? Beruntung ada Kinasih yang memisahkan, Mie goreng itu berserakan di atas meja. Juga di bswah meja. Bunda menghela nafss panjang Memutuskan untuk mermbiarkan. Hari ini terasa penat sekali, Tuan HK menatap prihatin, sekilas. Meneruskan makan. Tidak banyak berkomentar. Langit semakin mendung Makan malam itu usai dalam hitungan menit. Bunda lembut membimbing Melati masuk ke kamarnya, Hari ini Melati tidak terlalu aktif. Hanya tadi siang ia sempat memecahkan dua jendela kaca. Itu yang ke lima sebulan terakhir, Bunda menemukan Tya yang terluka lengannya, terkena serpihan, sementara Melati menggerung di anak tangga pualam melingkar. Bersungut-sungut. Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar marah. Bunda pelan membimbing Melati naik ke tempat tidur dirunya. Melati menurut. Mulutnya terus mengeluarkan suara. Merangkak menuju sudut ranjang, posisi favoritnya, Memeluk lutut. Bunda seperti biasa akan menemani hingga Melati sedikit tenang. Hingga mata hitamnya mulai tertutup Melati tidak suka di tepuk-tepuk seperti anak lainnya, Ja akan berteriak marah., Jadi Bunda berbaring di sebelahnya. Hanya menatap lamat-lamat wajah putrinya Petir menyambar. Gemuruh guruh mengisi langit Dalam hitungan detik tetes air pertama meluncur menuju bumi. Disusul ribuan tetes lainnya. Hujan turun, Langsung menderas, Membuat orang-orang di jalanan lari terbirit-birit, Menyurnpah-nyurnpah, Setengah jam, suara gerungsn Melati melemah Matanya mulai terkatup satu-dua. Meski jemari tangannya di balik selimut terus mengetuk-ngetuk dinding. Bunda memperbaiki posisi selimut Melati. Tersenyum. Sudah saatnya meningglkan putrinya, ta ingin sekali mencium putrinya. Teramat ingin mengecup dahinya dan bilang ‘Selamat bobo, sayang,’ Tapi Melati tidak suka dicium, Ia akan berteriak-teriak. Terjaga seketika, — Langsung mengamuk. Bunda menatap sekali lagi wajah Melati, lantas pelan melangkah keluar # "Kau mau kemana, Karang?" “Pergil Menghabiskan malam!* Karang mendengus sebal, Kalau ada rekor pertanyaan paling bebal sedunia, maka ibu-ibu gendut ini akan memegang rakornys, Setiap hari sibuk bertanya pertanyaan serupa, ‘Kau sudah bangun, Kerang? ‘Kau mai kemana, Karang? ‘Kau sudah makan, Karang? Dan seterusnya! kKarang merapatkan jaket hujannya “Tidakkah kau mau memikirkan permintaan Nyanya HK tadi siang?" Ibu-ibu gendut menatap famat-lamat Sepanjang hari, baru sekarang ia sempat membicarakan kejadian tai siang “Nyanya itu datang ke tempat yang salah-" Karang melambaikan tangannya, tidak peduli "Tidak bisakah kau sekali saja melihat anak itu... "Buat apa?" “aku mohon, sekali saja kau melihatnya-Jika kau tetap bersikeras untuk tidak membantunya, tidak masalah, sepanjang kau sudah melihat kondisinya langsung...."" Ibu-ibu gendut berkata hati-hati, sesuai rencananya "Tidak skan ada bedanya-" Karang mendesis jengkel, ia tahu sekali spa maksud kalimat itu Melihatnyal Lantas kemudian ikut bersimpati? Bah! Terdiam sejenak. Karang bersiap membuka pintu. “anakku.... Suamiku dulu pernah bilang, dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan.... Aku rmohon, demi sisa-sisa kebaikan itu, maukah kau pergi sekali saja melihat anak malang itu!" Ibu-ibu gendut berkata pelan, suara hujan meningkahi suara bergetarnya meski kalimat itu masih terdengar jelas di telinga Karang, Gerakan tangan Karang membuka pintu terhenti, menoleh tersinggung, menatap amat tajam ke ibu-ibu gendut, mendesis, "Ormong-kosong! Jangan pernah ajari aku soal kesermpatan Ibu... Jangan pernah ajari aku tentang penyesalan! Jangan sekali-kali!" Terdiam. Tegang. Bersitatap satu sama lain, Ibu-ibu gendut mengusap matanya yang berair, “aku tidak akan mengajarimu soal kesernpatan, anakku! Apalagi tentang penyesalan.... Kau tahu, aku tidak pernah meminta kau melakukan apapun selama ini. Tidak pernah, Aku berjanji pada suamiku untuk tidak berharap budi dari kalian..., Tapi, malam ini biarlah aku melanggar janji tersebut, aku mohon demi kebaikan suamiku terhadapmu selama_ ini, maukah kau pergi sekali saja melihat anak itu?" Karang sudah mendengus kasar, Membuka pintu, keluar. Lantas = membantingnya. — Menyisakan keterkejutan (kaget mendengar suara pintu dibanting keras) ibu-ibu gendut itu Hujan turun semakin deras. & Lepas tengah malam, Bunda lagi-lagi keliru, Melati sama sekali belum tertidur saat ia meninggalkannya. Melati sekarang justru) seperti hari-hari kemarin, turun = dari ranjangnya. Melangkah menuju jendela kaca Tangannya meraba-raba sembarangan. Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar, mulutnya terbuka sedikit, memamerkan gigi kelinci.... Menyentuh dinginnya jendela kaca. Tampias air hujan dibawa angin mengenai jendela terdengar bergemeletuk. Satu. Dua Ujung-ujung jemari Melati menggurat entahlah, Suaranya menggerung pelan. Mukanya menempel pada kaca. Membentuk embun dari hembusan nafas.... Tidak ada bedenya! Jika bagi penduduk kota hujan malam ini membuat mereka nyaman di rumah, membuat tidur terasa lebih nikmat, bagi Melati tak ada bedanya. Telinganya tidak mendengar buncah Suara hujan menerpa genting, bebatuan, tembok, dan apalah, Matanya juga tidak bisa melihat bilur-bilur air yang begitu) menenangkan, kristal bening yang menyimpan keniscayaan kebaikan langit. Melati tidak melihat, tidak mendengar semua itu. Aijan deras ini tidak ada bedanya bagi Melati... Baginya hidup hanya gelap. Hitam. Tanpa warna. Baginya hidup hanya senyap, Kosong. Tanpa suara, Pertemuan Pertama #& Kejutan. Esok paginya banyak sekali yang terkejut! "ada tamu yang mencari Ibu!" Salamah terbirit-birit masuk ke ruang makan memberitahu (soal terkejut, Salamah nomor satu). Bunda yang sedang memperbaiki posisi_mangkuk bubur Melati mengangkat kepalanya. Sepagi ini? Ada yang mencarinya? Tuan HK ikut menoleh ke Salamah. Tidak pernah ada tamu setahun terakhir datang sepagi ini ke rumah, Siapa? “Ergh, orangnya seram, Bu-" Salamah menyeringai, setidaknya soal deskripsi dan menilai kelakuan orang lain Salamah objektif (maksudnya benar-benar melihat kulit luarnya doang). "“Rambutnya gondrong, matanya iiih, nggak pake kedip-kedip, Mana semua bulu di muka, eh maksud Salamah cambang dan kumisnya nggak pake dipotang, pokoknya seram deh, Bu..." Bunda melipat dahi, bingung, meski beberapa detik kemudian tersenyum. Mengerti siapa yang dimaksud ekspresi Salamah. Benar-benar kejutan, Ja tidak tahu kenapa, atau persisnya kemarin benar-benar bingung apakah orang yang didatanginya tepat atau bukan untuk dimintai pertolongan. Tapi dengan datangnya dia pagi ini, itu kabar baik (apapun alasannya dia datang) “Suruh tamunya masuk!" Bunda mengangguk ke Salamah, “Ergh, masuk Bunda? Nggak salah? Orang seram gitu disuruh masuk? Kalau kenapa-napa? Salamah menyeringai = bingung, menggaruk = rambutnya, mengusap celemek Bunda menggeleng. Memberi senyum perintah Suruh tamunya masuk, Salamah mengusap ujung celemeknya lagi, mengangguk, ia tidak perlu disenyurn dua kali, langsung balik kanan, "kau tahu siapa yang datang?" Tuan HK bertanya. Bunda tersenyum, "Yang aku ceritakan beberapa hari lalu-" Tuan HK ber-o0 pendek, tidak bertanya lagi, Meski dia tidak tahu (sebenamya lupa kalau Bunda pernah bercerita soal surat-surat| yang dikirimkan ke seseorang). Untuk urusan keterbatasan Melati tuan HK tidak banyak bertanya. Oulu masih sering memberikan masukan, argumen, atau entahlah, tapi lama-kelamaan. istrinya mengambil alih-penuh apa saja yang ingin ia lakukan. Tuan HK mernutuskan mernilih diam, khawatir ‘keberatan! atau kamentamya akan menyakiti keyakinan istrinya tentang janji kesembuhan Melati. Jadi seganiil apapun terapi yang ingin dilakukan istrinya, Tuan HK hanya mengangguk, fermasuk entahlah pagi ini siapa yang datang! "Ba... Ba... Maa..." Melati yang terlupakan mendesis memukul-mukul bubur di atas mangkuk Muncrat, Membasahi baju berenda putihnya. Tidak peduli dengan percakapan barusan. Bunda tersenyum, lembut memperbaiki mangkuk itu sekali lagi. Cahaya matahari pagi menerabas jendela kaca Membentuk garis indah di lantai, Memanjang membelah meja makan seperti siluet anak-panah. Pagi baru saja menjejak kota, Kesibukan orang-orang memulai hari. Beberaps ekor burung gelatik terbang rendah di luar. Bernyanyi Meloncat-loncat riang di atas rumput taman, Mandi di air mancur berbentuk tiara lima tingkat. Berebut remah-remah roti yang dilemparkan Mang Jeje, Salamah mempersilahkan tarau itu masuk Lima belas detik berlalu, Karang sudah berdiri tatgien di bawah pintu ruang makan, Menatap sekitar. Mata tajamnya menyapu seluruh isi ruangan, Bunda dan Tuan HK menoleh, Pagi ini, Karang datang mengenakan pakaian yang lebih bersih dari kesehariannya. Sweater lengan panjang berwarna hitam. Celana katun juga berwarna hitam. Tadi pagi sempat mandi (mandi pagi pertamanya setelah tiga tahun}, Menyisir rambut gondrongnya, Terlihst lebih rapi. Tapi Salamsh benar, meski penampilan Karang berbeda dari gaya resmi di kamar pengapnya, eskpresi muka Karang yang ‘tidak bersahabat', mata tajam, serta gesture tubuh yang kaku membuatnya tetap rada-rada seram (apalagi bust Salamah yang terbiasa panik, mikir pesawat terbang yang lewat saja pertanda serbuan kompeni) "Selamat pagi!” Karang berkata pendek. Tanpa intonasi. "Selamat pagi, Karang. Silahkan, anakku-" | Bunda buru-buru berdiri, tersenyum lebar, melangkah menyambut Karang "Kemari, silahkan bergabung dengan kami-* Karang melangkah masuk. Ketukan sepatunya membungkus langit-langit. ruangan, Matanya tak berkedip, Tajam menatap. "Ba... Ba." Melati masih sibuk dengan mangkuk buburnya. “Ini, Karang, yang! Seperti yang kuceritakan beberapa hari lalu,... Ini suariiku, Tuan HK!" Bunda tersenyum memperkenalkan Karang pada Tuan HK, Tuan HK demi sopan-santun berdiri, menyalami tangan dingin tanpa ekspresi itu, berpikir sejenak, bergumam dalam hati. Dia agak tidak menyukai penampilan ‘misteriust tamu di depannya. Tapi apa mau dibilang? Istrinya sendiri menyambut dengan hangat.... "dan, dan ini... inilah putri kami satu-satunya-* Bunda pelan menunjuk Melati yang masih sibuk mengaduk-aduk mangkuk buburnya, masih berusaha tersenyum lebar. Karang = menolehkan ~—skepalanya. = Menatap kanak-kanak itu... Tajam. Bagai seekor elang dari atas pohon raksasa yang menatap kelinci berlarian di paciang stepa dua ratus meter jaraknya. Tanpa ekspresi. Sedetik. Dua detik, Lima detik. Lima belas detik, Setengah menit. Membuat Tuan HK, Bunda, dan Salamah mengernyit bingung. Lantas menghela nafss tipis sekali (tidak terdengar oleh siapapun kecuali oleh dirinya sendiri), “Boleh aku duduk?" Berkata datar, Memutus keheningan. Bunda tersenyum, menarikkan kursi untuk Karang, kursi dekat Melati, Memanggil Salamah mendekat, mamintanya membawakan piring tambahan, "Karang akan makan pagi bersama kita, tolong tambahkan makanannya, Sala-" “aku tidak datang ke sini untuk meninta-minta sarapan, Nyonya!" Karang mendesis pelan, mematong, Bahkan Tuan HK ikut mengangkat kepala, Menatap wajah pemuda yang meski intonasi kalimatnya barusan tidak kasar terdengar, isinya penuh dengan ambigu makna 'menyebalkan', "Ee, ya, ya... Baik, Ma-af. Piringnya urung, Salamah!" Bunda sedikit salah-tingkah, banyak terkejutnya, meski tetap tersenyum — lebar, melambaikan tangan ke Salamah, [a sudah berpengalsrnan setengah jam berinteraksi dengan pemuda ini kemarin sore, jadi sedikit lebih terbiasa dengan kata-kata kasarnya, Berbeda dengan Tuan HK yang sekarang melipat dahi, Siana anak-ruda tidak sopan ini? "Ba... Baa... Maa..." Melati masih sibuk menumpahkan isi mangkuk dengan adukan tangan Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar. Mulutnya terbuka, memperlihatkan gigi kelincinya. Rambut ikalnya bergoyang. Mana peduli (mana tahu) Melati kalau ada tamu di meja makan mereka pagi ini. Apalagi kalimat sinisme barusan “Makannya yang pelan, sayang!" Bunda tersenyum, memperbaiki posisi mangkuk yang hampir jatuh di tepi meja, "Ba... Baa..." Melati menghentak-hentakkan kakinya, sedikit marah karena Bunda sempat menyentuh jemarinya, mengaduk bubur lebih ken- cang, tumpah lagi mengenai baju putih berendanya “apakah ia selalu makan seperti ini? Tidak ada bedanya dengan seekor dinatang saat makan?* Karang berkata dingin, memotong gerakan tangan Bunda. Tuing! Tuan HK seketika meletakkan sendoknya, "Maaf, apa yang Anda bilang barusan?" “Apakah ia selalu makan seperti binatang?" Karang mengulang kalimatnya tanpa perlu merasa berdosa, tanpa merasa bersalah Bunda pias, tersenyum kaku lebih tepatnya terkesiap), sedikit resah dengan tensi pembicaraan. Bagian ini sama sekali belum ia ceritakan pada suaminya, Bagian betapa kasarnya anak-muda yang ada di hadapan mereka sekarang, "Saya pikir Anda tahu kalau Melati buta dan tuli! Saya pikir Anda tahu keterhatasan Melati... Jadi, makan seperti apa yang akan Anda harapkan darinya?" Tuan HK berkata tajam. “Anak ini memang outa dan tuli, Tuan! Tapi bukan berarti ia tidak berotak, hanya binatang tidak berotaklah yang tidak = memiliki adab makant Mengaduk-aduk = makanannya, Bahkan — monyet terlatih pun bisa menggunakan sendok-garpu!" Karang mendesis tidak kalah tajam-nya. Sedikitpun tidak mempedulikan intonasi dan gesture wajah amat tersinggung Tuan HK barusan, Bunda semakin salah-tingkah. Apalagi Salamah. Salamah sibuk mengusap dadanya, Bersiap atas kemungkinan terburuk, Aduh, bentar lagi bakal Bharatayuda, atau Bandung Lautan Api, deh... Tuan HK yang tidak mengerti siapa pemuda sok-tahu yang ada di ruang makannya pagi ini menghela nafas, berusaha mengendalikan diri, meski separuh hatinys benar-benar siap meledak, Belum permah Melati dihina, Dan ia seumur hidupnya memastikan tidak akan pernah ada yang berani menghina putri semata wayangnya! Mencegahnya mengaduk-aduk makan saja suclah membuat Tuan HK tersinggung (seperti yang dilakukan Tya). Lihatlah, pagi ini ada yang benar-benar telah merobek kemarahannya. Tapi sebelum Tuan HK = memuntahkan kalimat kasamya, Karang sudah terlebih dahulu menarik tangan Melati dari mangkuk bubur “wakannya tidak boleh pakai tangan!" Karang mendesis, "BAL BAAA!!" Melati seketika berteriak marah, seperti ular diinjak ekomya, mengamuk. Ada yang melanggar aturan mainnya "Ini sendok! KAU HARUS MAKAN DENGAN INI!" Karang tidak = kalah_~—galaknya_— membentak. Mencengkeram tangan-tangan Melati yang bagai belalai menggelepak marah bergerak kemana saja Meletakkan paksa sendok ke telapak tangan Melati... “BAL Ma... BASAAH" Melati benar-benar mengamuk, seketika membanting sendok yang diberikan, Tangannya liar mencari benda di atas meja (untuk dibanting — berikutnya). — Kakinya menghentak-hentak lantai, Mata hitam biji buah lecinya berputar cepat, Rambut __ikalnya bergersk-gerak oleh sengal nafas "TIDAK BOLEH!" Karang lebih cepat. Memindahkan mangkuk dari jangkauan Melati. Melati menggerung, Memukul-mukul meja-makan. “HENTIKAN! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKANNYA!" Karang menangkap tangan-tangan itu, mencengkeramnya. “LEPASKAN!" Tuan HK sudah membentak dari seberang meja, Ini benar-benar berlebihan. Siapa pula pemuda aneh yang hanya dalam waktu lima menit membuat kacau-balau sarapan mereka, Yang berani sekali mencengkeram tangan Melati Rusuhlah meja makan itu. Salamah yang sudah dari tadi = mengurut-urut = dadanya _ber-istighfar keras-keras macam melihat bala monster raksasa berkepala tujuh berekor sembilan, Bunda menatap bingung, mulutnya terbuka tapi tak mengucap kata apapun, apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia katakan? Benar-benar kaget dengan semua kejadian cepat ini. Kenapa jadi ricuh begini? Melati semakin kencang berontak dalam cengkeraman Karang “KAU! Kau tidak boleh maken jike tetap merajuk:” karang berdiri "BAAA.... BAAAA!!" Melati berteriak galak "Baik, kau sendiri yang memintanyal!" Kasar Karang menarik tubuh Melati, Bahkan menyeretnya, menjauhi maja makan, Demi melihatnya Tuan HK benar-benar tersinggung. Ta ikut berdiri, mendorong kursi ke belakang hingga jatuh terbanting. KLONTANG! Salamah terperanjat, mengusap dadanya.... "LEPASKAN MELATI!" Tuan HK membentak Karang sedikit pun tidak merasa perlu menoleh Tuan HK, apalagi menuruti teriakan perintah darinya. Tetap menyeret Melati menuju anak-tangga pualam, Melati berontak sekuat tenaga, menendang sebisa kakinya, memukul sebisa tangannya, tapi ia kalah tenaga. Karang sepenun hath menyeret Melati ke sudut ruangan. Lantas mernbanting Melati duduk di anak tangga pertama. Gadis kecil itu terhenyak Benar-benar terhenyak. Gerungan — marahnya, gerakan berontak tangannya, putaran mata hitamnya terhenti, Seketika..., Karang membantingnya terduduk! Belum pernah seumur-umur Melati diperlakukan seperti itu. Ja tneriang tidak rnerniliki akses rmengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga, dan semua tertutup baginya, tapi pagi ini is mengenal sesuatu yang baru: sakitnya aibanting auduk. "APA YANG KAU LAKUKAN!" Tuan HK mendesis Melangkah galak mendekati Karang. Tangannya mengepal, Rambutnya boleh jadi sudah beruban, otot-ototnya boleh jadi sudah dimakan usia tengah bays, tapi pagi ini dia tidak akan segan-segan berkelahi dengan tamu tidak tahu diuntung ini, Baru lima menit di ruang makannya, berani sekali membanting putrinya terduduk. “Apa yang aku lakukan? Aku mengajaninye, Tuan!" Karang berkata datar, tidak kalah galak (tajam mengiris), "KAU! SIAPAPUN KAU! PERGI DARI RUMAH INI!" Tuan HK kehabisan kalimat mendengar jawaban dingin Karang. Apa barusan dibilang? ‘Mengajarinya? Ringan sekali pemuda ini mengatakan kalimat itu. Omong-kosong! Bagaimana mungkin dia membiarkan aca orang sinting masuk ke ruang makannya? Pelipis Tuan HK bergerak-gerak menahan amarah. Bunda terbirit-birit di belakang, menyusul, Berusaha memegangi lengan suaminya, Bunda kehilangan kata, Syok menyaksikan kejadian yang begitu cepat, Syok melihat Melati dibanting. Syok melihat Melati yang sekarang menggerung pelan di anak-tangga = pualam. = Memeluk —lututnya. Kanak-kanak itu tertunduk, Mata hitam biji buah lecinya berputar-putar pelan. Sementara Karang tertawa kecil mendengar bentakan Tuan HK yang mengusimnya. Melipat kedua tangannya di dada, Menoleh, menatap Melati yang masih terduduk menggerung lemah, "Tahu atau tidak, hidup ini penuh paradoks, Tuan... Terkadang paradoks itu lucu sekali, terkadang paradoks itu amat menjijikkan.,.. Tapi lebih banyak lagi paradoks itu sama sekali tidak bisa kita mengerti... “Cua belas jam yang lalu, aku sedikit pun tidak tertarik untuk mernbantu keluarga Anda, Tuan. Membantu anak ini, Apa pedulikur Hanya akan menghabiskan waktu.... Aku sama sekali tidak berniat meski hanys menjejakkan kaki di rumah mewah kalian. Percuma! Buat apa! Tapi pagi ini, aku berubah —pikiran Ya! Berubah pikiran begitu saja.... Sedetik yang lalu aku sudah mernutuskan membantu anak Anda! “Jadi maafkan aku, Tuan! Dengarkan, ini aturan mainnya.... Karena aku sudah memutuskan untuk membantunya, maka aku tidak peduli apakah Tuan berkeberatan atau tidak dengan kehadiranku di sini. Tuan tidak bisa mengusirku!" Karang melambaikan tangannya, Santai sekali, beranjak hendak kembali ke meja makan, "KAU... SIAPAPUN KAU PERGI! PERGI DARI RUMAH INI!" Tuan HK menggerung mengkal, benar-benar tersulut marahnya, seperti kucing yang di injak ekor (terus kepalanya juga dipukul, disiram air seember pula) “Sa-bar, yang! Sa-bar.. Bunda — bergegas memegang lengan suaminya. Berbisik bingung. Berkata bingung. Entahlah ia sedang membujuk suaminya atau membujuk hatinya yang juga bingung, Setengah marah. Setengah — panik. Setengah tidak mengerti Semuanya setengah- setengah, Bunda kalut melihat keributan ini... “SALAMAH, PANGGILKAN PENJSGA DEPRAN! SERET KELUAR TAMU SIALAN INI!" Tuan HK meneriaki Salamah, Salamah yang detak jantungnya bagai genderang dipukul dalam tempo tinggi, terkaget-kaget mendengar namanya diteriaki, Sekejap sudah ngacir lari ke depan. Ini namanya ‘Oaurat Milter’. Siaga Satu. Status Awas. Entalah, apapun namanya Tuan HK melotat menatap Karang. Mereka bersitatap satu sama lain. Bunda tetap memegang lengan suaminya. Sedetik. Dua detik, Lima detik Hanya hembusan kencang nafas Tuan HK yang terdengar.... "Baik! Pagi ini aku akan pergi, Tuan! Tapi, besak aku pasti akan kembali, Diminta ataupun tidak, kalian pasti membutuhkanku...." Karang mendesis pelan, berhitung dengan situasi. “Tapi sebelum aku pergi, Tuan lihat anak ini... Terduduk sambil menggerung marah! Kakinya menghentak-hentak lantai. Jemari tangannya gemetar mengqurat keramik. Lihatlah! Anak ini sama frustasinya dengan kita, Tuan. Sama marahnya dengan kita... Mungkin lebih frustasi! Lebin marah dibandingkan siapapun. “Tuan, bukan hanya kita yang lelah, anak ini juga juga lelah bertahun-tahun lamanya. Merasakan kainginan itu =omemenuhi seluruh —_ataknya, bertahun-tahun rasa ingin tahu itu) membuncah setiap senti kepalanya, bertahun-tahun mulutnya ingin bicara tapi hanya sengau yang keluar, matanya ingin melihat tapi hanya gelap, telinganya ingin mendengar tapi hanya senyap.... “anak ini tidak pernah menemukan jawabannya, Tuan... Ia tidak pernah mendapatkan akses untuk tahu, tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya! Energi itu semakin lama semakin besar. Menggelembung tak tertahankan, Rasa frustasi itu semakin lama semakin sesak..,. Sehingga berubah menjadi marah! Anak ini semakin sering marah, bukan? Melempar apa saja sepanjang tahun ini... Anak ini sama putus-asanya dengan kita! “gedanya kita mengerti apa itu makna kata putus-asa! Anak Tuan tidak! Sendok-garpu pun ia tidak mengerti! Bedanya kita mengerti bagaimana cara menyalurkan energi marah dengan baik, anak Tuan tidak! Ia benar-benar frustasi, dan seseorang harus mengajarinve mengendalikan emosi itu, seseorang harus mengajarinya menemukan cara agar ia bisa mengenal dunia dan seisinya...." Karang membungkuk mengambil sendok yang dibantingkan Melati tadi, lantas kasar menunjukkannya ke depan wajah Tuan HK, Bunda menghan langan suaminya.... Tuan HK menggerung, bersiap dengan teriakan berikutnya- "LIHAT SENDOK INI, TUAN!" Karang lebih dulu mendesis keras, “Anak Tuan bahkan tidak tahu mana sendok, mana garpu! Tapi bukan berarti anak Tuan tidak bisa diajari.... Masalahnya, kita belum tahu caranyal ANAK TUS4N MEMANG TULT DAN BUTA.... Anak Tuan memang memiliki keterbatasan fisik, tapi bukan berarti ia memiliki keterbatasan otaknya.... "Tahukah Tuan hal yang paling menyedihkan di dunia ini? Bukan! Bukan seseorang yang cacat, memiliki keterbatasan fisik, bukan itu! Melainkan seseorang yang sehat, normal, sempurna fisiknya, tapi justru memiliki keterbatasan akal-pikiran. Bebal Bodoh.... "Tidak. Ttu tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan. Itu lebih karena perasaan sombong, angkuh, merasa paling hebat, sok-tahu dan sebagainya. Penyakit keterbatasan akal pikirannya. Melati memang tuli dan buta, tapi ia sama-sekali tidak memiliki keterbatasan akal pikiran.... “Bagi ini demi melihat anak Tuan, aku berubah Ya, hidyp = benar-benar penuh Pagi ini, = aku memutuskan membantunya. Aku bersumpah akan menemukan cara agar anak ini mengenal dunia dan seisinya, menemukan cara agar ia bisa membedakan mana sendok, mana garpu. Meskipun itu hal terakhir yang bisa = kulakukan = sebelum kematian...." | Karang menghentikan kalimatnya, menatap tajam tubuh Melati yang masih bersimpuh di anak tangga pualam Lengang. Suara tajam Karang barusan menggantung di langit-langit kamar.... Bunda menghela nafas pelan sekali, Tuan HK menggerung, berpikir entahlah. Tapi senyap itu hanya sejenak, beberapa detik kemudian, dua penjaga depan yang sterek terbirit-birit masuk ke ruang makan, diikuti oleh Salamah yang juga sok-gaya membawa pentungan (pengki dan sapu ijuk pula). "Baik! Seperti yang kukatakan tadi, aku akan pergi!” Karang berkata pelan sambil menatap penjaga-penjaga itu mendekat, tertawa kecil, "Tapi esok-lusa, cepat atau lambat kealian pasti menghubungiku, anak ini membutuhkanku! aku akan membantunya. Suka atau tidak!" Dan Karang melangkah rileks, menuju pintu keluar. Dua penjaga depan itu berusaha memegang lengannya, Karang kasar mengibaskannya, menatap tajam. Penjaga menoleh ke Bunda dan Tuan Hk, meminta pendapat (maksudnya apa perlu diseret keluar?) Bunda menggeleng. Siarkan saja. Salamah ber-yaaa kecewa, Semburat cahaya matahari di lantai semakin lebar. Membuat nuansa ruang makan terasa begitu menyenangkan (andaikata tidak ada sermua keributan barusan}, Burung gelatik tetap asyik bercengkerama di hamparan rumput taman, mematuki remah-remah roti. Suara ketukan sepatu Karang terdengar memenuhi sudut-sudut ruangan Persis tiba di bawah bingkai pintu ruang makan, langkah Karang mendadak terhenti. Entah kenapa Karang membalik badannya, matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi, lantas menatap tajam ke Melati yang masih memeluk lutut dan menggerung pelan. Karang memejamkan matanya, “Musim panas. Pantai yang indah..." Berkata pelan. Dengan intonasi suara bergetar. “Payung-payung kanopi terkembang, warna-warni indah.... Capung berterbangan....". Tangan Karang bergerak = omengembang, menyentuh wudara di depannys, seolah hendak menangkap salah-satu capung yang disebutnya dengan mata terpejam ‘Kaki kecil melangkah riang, ombak menjilati ujung-ujung turnitnya.... Kaki kecil berlari riang. Menjejak pasir yang bagai es krim terhampal Jajak kaki... Siluet bayangan badan..., Rarbut ikat bergelombang.... Pita biru di kepala.., Boneka panda di pelukan...." Terdiam. Karang membuka matanya. Mata itu seksrang menatap redup (meski tetap dingin). Menatap Bunda lamat-lamat. “Melati tidak akan pernah bisa disembuhkan, Nyonya.... Ia seumur hidupnya akan tetap buta dan tuli, Maafkan aku telah mengatakan kabar buruk itu, Tapi kita bisa menemukan cara agar ia mengenal dunia ini. Mengenal Tuhan, mengenal penciptanya yang tega sekali telah rmenciptakannya dengan segala keterbatasan. Nyonya, aku bisa membantunya, tapi kita punya sturan main... Tidak ada protes, tidak ada keberatan. Jika kau ingin aku melakukannya, turuti semua yang kukatakan, biarkan semua yang ingin kukerjakan.... "Selamat pagi, Nyonya! Kutunggu surat kesepakatan kalian besok pagi-pagi!" Dan Karang melangkah anggun keluar dari ruang makan tersebut, Malam sekali lagi datang. Satu hari lagi berlalu (tidak peduli kita suka atau tidak dengan hari itu). Hujn deras kembali menggantang kota. Padahal tadi burung layang-layang rmenarikan formasi: ‘tidak Aujan". ah, mereka kan juga sama dengan manusia, menebak! Hanya kuasa langit yang tahu pastinya akan seperti apa, Jadi siapa bilang kalau hewan-hewan turun dari gunung itu pertanda gunung akan meletus? Bisa saja hevwan itu salah bacs pertanda alam, kan? Siapa_bilang mereka 10096 benar? Lengang. Jalanan kota sepi, Hujan buncah membasuh trotoar, Ciprat. Ciprat, Ciprat. Got mengeluarkan suara air deras mengalir. Bungg. Bungg. Bungg. Dedaunan bergoyang terkena ribuan lari bilur air, Bak penampungan air luber, ember-ember plastik melirnpah.... Suara ketukan mesin ketik tua itu terdengar berirama di sela-sela buncah suara air hujan.... Daun jendela kamar itu) terbentang lebar-lebar, Angin malam yang dingin menderu masuk kamar berukuran 6x9 meter. Dari sini, kerlip mercu suar di kejauhan terlihat syahdu, lampu perahu nelayan yang tetap bertahan menecari nafkah, kapal ferry besar yang membuang sauh di dermaga. Karang duduk bersila di atas ranjang kayu jati, mesin ketik tua yang belasan tahun tak permah disentuh itu tergolek di depannya. Putaran kertasnya bergerak pelan seiring huruf demi huruf diketukkan. Tak! Tak! Tak! Cengklang! Spasi baru. Jemari tangan kanan Karang menggeser putaran Baris baru. Paragraf baru Malam ini ada banyak sekali perubahan di kamar tersebut Malam ini ada banyak sekali yang dipikirkan Karang. “Ibu, cuts aku pernah sendiri bertanya dalam gelap.... Apa beda sebutir air bening di ujung daun dengan sebutir debu di dinding kusam? Dulu, tiada yang bisa memberi jawab, Tidak ada. Hari ini aku menemukan sendiri jawabannya. dpa bedanya? Fidak ada, Same sekali tidak ada bedanys.... Meduanya sama-seme Kenisceyaan kekuasgan-Nya, Keduanya sama-sama rmen-sucikan, meski hakikat dan fsiknya jelas berbeds. “Ibu, Guts aku pernah sendiri bertanya dalam sesak..., Apa badanya tahu dan tidak tahu? Apa bedanya kenal dan tidak mengenal? Ana bedanya ada dan tiada? Apa bedenya sekarang dengan kemarin, satu jam liu, satu menit fat, satu detik islu? Duk, Hada yang bisa memberi jawab. Hari ini aku juge tetap tidak tahu begitu banyak potongan pertanyaan. Tapi tak mengapa. Setidaknya tetap bisa meiihat, mendengar, dan terus berpikir. Ada banyak yang tidak lagi. Tepatnya membutakan diri Menulikan kepala, Atau merm-bebalkan hati... “Ibu, sudah jama sekali aku tidak merasakan kekuatan itu... Taai pagi kekuatan itu. Kembali. Kembali begitu saja setelah bertahun-tahun pergi dengan segaia Kkesedihan, Begitu menghentak, begitu mengejutkan, mernbasahi seluruh tubuh, merasuk dalam segenap aliran darah. aku bisa merasakannya lagi. Bisa berpikir, merasakan persis seperti kanak-kanak yang ada ai depanku.. Kekuatan itu kembali, Ibu..." Ketukan huruf demi huruf terhenti sejenak, Karang mengusap dahinya yang berkeringat, Angin malam yang dingin (bersama bulir air hujan yang terbawa) tidak membantunya banyak. Kepalanya yang terus bekerja membuat kelenjar keringatnya juga bekerja keras. Sudah lama dia tidak menuliskan sesuatu..., Padahal dulu harmpir setiap malam dia menulis apa saja. Menuliskan rencana-rencana besar itu. Menuliskan cerita-cerita untuk anak-anak di Taman Bacaan. Apa saja. Lebih banyak lagi menulis tentang kerinauan itu! Menyebut nama Z5u di dalam semua catatan harian, menyebut mama seseorang yang tidak pernah dikenal sepanjang hidupnya sebagai yatim-piatu (selain ibu-ibu gendut, istri pemilik rumah singgah yang baik hati). Malam ini, entah apa sebabnya keinginan menulis lagi semua kerinduan itu kembali, jemarinya menuntun mengetikkan apa saja yang selama tiga tahun sesak terpendam. Bukan! Bukan hanya tiga tahun, tapi nyaris sepanjang hidupnya Tadi pagi ibu-ibu gendut pemilik rumah benar-benar terkejut saat melihat Karang turun mandi pagil Ingin bertanya. Ingin tahu. Urung. Memutuskan hanya = memperhstikan = sambil — tersenyune Menyiapkan sarapan. Karang sama_tidak-pedulinya seperti hari-hari kemarin, sama sinisnya dalam percakapan, tapi ia tahu, Karang akan pergi ke rumah lereng bukit itu. Apapun yang akhirnya membuat Karang pergi tidak penting, yang penting perkembangan ini menarik, menyenangkan. Tbu-ibu gendut bergumam riang, menahan diri bertanya kenapa, takut merusak kabar baik yang sedang dilihatnya Semalam ibu-ibu gendut tidak tahu kalau Karang pulang lebih cepat, Menjelang tengah malam Karang sudah kermbali, Jadi amat terkejut, saat bersiap mengantarkan termos baru berisi air panas ke kamar atas, Karang justru menuruni anak tangga berkeriut (ia pikir anak-muda itu masih tidur tertelentang seperti biasa). Angin rmenderu melewati bingkai jendela, Karang menyentuh kembali mesin ketik tuanya "Ibu, saat menatap wajah kanak-kanak itu seperti ada sejuta voltase jistrik yang menyentrum mata... Seperti ada seriby jarum akupuntur yang menusuk Badan, Bener-benar membuat sesak.... Seandainya Kau ade di sini untuk tahu dan melihat sendiri perasaan seperti itu! Saat aku menyentuh jemarinya, seluruh perasaan itu buncah memenubi kepala, Saat aku menyentuh kulitnya seluruh tubuh rnerinding ofeh perasaan genta... ibu, kekuatan itu akhirnya kembaill....” Suara ketukan huruf demi huruf terus terdengar Tak! Tak! Tak! Gengklang! Spasi baru, Baris baru, Paragraf baru. Karang menyeka sekali lagi dahinya, Terdiam sejenak. Menatap langit-langit kamar. Sudah lama sekali hatinya tidak selega ini. Tidak. Belum sempurna lega. Masih banyak pertanyaan, Masih banyak sesak penyesalan, Bahkan baru saja wajah membeku, tangan membiru, kepala terkulai Qintan melintas di pelupuk matanya. Baru saja serunai kesedihan tiga tahun lalu itu terdengar, melesat mengukir visualisasi sempurna di depannya. Tapi sekarang dia tidak mendesah tertahan, Karang hanya menghela nafas pelan.... Di lantai bawah ibu-ibu gendut meneruskan rajutan. Tersenyum tipis mendengar suara ketukan mesin ketik. Berkata lirih, “Terma Kasih, Tuhan..” Ta tahu dirinya tidak akan pernah bisa membujuk Karang untuk berubah. Tidak dengan kalimat kalimatnya. Bukan karena percakapan mereka Tuhan pasti melibatkan diri dalam urusan ini, Dan memang begitulah urusan ini... Kemarin malam, ketika Karang yang sebal karena bar langganannya kehabisan stok minuman keras favorit-nya, lantas bersungut-sungut memutuskan pindah ke bar lain, ketika itulah Tuhan mengambil alih urusan ini... Karang tidak sengaja berpapasan dengan pemandangan yang menyedinkan itu. Dua tua renta (sebenarnya tidak serenta yang terlihat) dikerubuti oleh remaja tanggung anak jalanan, dekat pintu keluar bar. Tanpa perl bertanya, Karang tahu kedua tua renta itu peminta-minta, Karang juga tahu apa yang sedang terjadi. Mereka sedang berusaha mempertahankan kantong uangnya dari anak-anak jalanan ¢dia juga dulu pernah melakukan hal itu). Apa daya, jumlah dan tenaga dua tua renta kalah jauh, Mereka hanya bisa mengeluh tertahan saat kantang uang hasil mengemis seharian itu berpindah tangan, satu di antara mereka malah jatuh terjungkal di parit jalan. Malam itu, entah mengapa kadar tinggi sinisme dan tidak peduli Karang menguap, dia malah ringan-hati menjulurkan tangan, berusaha membantu salah seorang dari mereka yang barusan terjerambab ke parit berisi air-limbah kotor dan bau. "PERG] SANA! Kami tidak membutuhkan Bantuan pemabuk sepertimu!" Salah seorang dari mereka menghardik marah, justru mengibaskan tangan Karang. Mungkin karena mencium bau alkohol yang keluar dari mulut Karang Karang melipat dahi. Menarik tangannya. “galian selalu merasa harus memberikan pertalongan kepada orang-orang seperti kami, selalu merasa kasihan... tapi kalian lupa kalian-lah yang terlihat normal tidak kurang satu apapun yang sebenarnya lebih membutuhkan pertolongan di dunia ini, Lebih patut dikasihani...." Tertawa, orang yang jatuh ke parit barusan tertawa sinis, sambil menepuk-nepuk baju basah berlendirnya, berdiri tertatin di trotoar jalan. Karang terdiam. Bukankah tiga tahun terakhir dia-lah yang sarkas pada orang lain? Lah, malar ini justru ada orang) slain yang mengeluarkan kalimat-kalimat sok-tahu menyebalkan itu padanya? Dia menelan ludah, memutuskan beranjak pergi tidak peduli, Mendengus sebal. Tapi saat itulah dia menyadari sesuatu, kedua tua renta itu cacat, pasangan cacat yang ganjil sekali, “Ana yang kau tunggu. Segera minggir dari hadapanku!" Orang yang tadi tertawa sarkas, mendoreng kasar tubuh Karang yang masih menghalangi langkahnya, "Kau... Kau burta?" Karang bertanya, sedikit terbata, “apa kau tidak pernah melihat orang buta hingga harus bertanya merastikan! Ataw kau sudah terlalu mabuk hingga tidak tahu?" Tertawa menyebalkan, Karang mendengus sekali lagi "Ya! aku buta, temanku yang satunya tull.... Pasangan yang hebat sekali, bukan? Dia meminjamkan matanya kepadaku agar kami bisa berjalan, sementara aku meminjamkan mulutku padanya agar kami bisa bicara.., Dan malam ini, kami berdua harus meminjamkan uang kepada berandalan sehat-bugar tadi.... Malam ini, kami berdua juga harus meminjamkan — penjelasan padamu yang jelas-jelas terlihat lebih pintar.... Benar-benar lelucon kehidupan yang hebat, bukan?" Orang buta itu tertawa dengan intonasi suara amat tenyebalkan, Menggerakkan tangan kepada temannya yang bisa melihat, menyuruhnya segera beranjak pergi dari trotoar itu. Temannya yang dia bilang tuli (tapi bisa melihat) melangkahkan kakinya. Menyibak tubuh Karang yang masih — terdiam menghalangi. Dan sekejap Kesadaran itu datang (tepatnya dikembatikan). Bagai anak panah yang melesat dari langit. Jutaan jumlahnya. Sekejap semua perasaan itu dipulihkan. Mengungkung Karang seperti air terjun besar, dan dia duduk persis di bawahnya. Membuat kuyup. Membuat basah, Karang mengusap dahinya. Berpegangan pada tiang lampu trotoar jalan, va Tuhan, dia pernah mengenali perasaan seperti ini. Dia amat mengenalinya, Kerinduan itu, Kerinduan. Malam-malam gelap anak jalanan, Perkelahian. Mencuri, Malam-malam gelap sesak dengan banyak pertanyaan. Kerinduan kepada Ayah-Ibu yang tidak pernah dimilikinya..., Rasa iri ketika hari lebaran tiba, menatap anak-anak yang beruntung berbaris menuju lapangan. Pakaian baru, Mainan baru. Makanan berlimpah.... Perasaan ini! Kerinduan stas hidup yang lebih baik, Berbagi. Merasa cukup Sumpahnya untuk membalas seluruh kehidupan sesak itu. Dendam yang menjelma begitu hebat Janjinya untuk menukar seluruh masa depan dan kebahagiaan dunia. Menukarnya demi kanak-kanak.... © Membangun belasan Taman Bacaan, mengajarkan anak-anak sajak kecil betapa indah berbagi, betapa indah merasa cukup, betapa indah bekerja keras kemudian bersyukur atas apapun hasilnya, Ya Tuhan, dia pernah mengenali perasaan ini, Dulu dia tidak mengerti, ketika kuasa langit menukar seluruh janii juatbe itu dengan kekuatan itu. Jual beli yang menguatungkan Benar! Karang lebih mengenal kanak-kanak dari siapapun. Dia seperti ditakdirkan untuk mengerti mereka, [tu anugerah baginya. Kehadirannya membuat anak-anak yang sedang bertengkar berhenti dengan sendirinya, kehadirannya membuat anak-anak = yang = sedang = menangis _ berhenti seketika, hanya dengan sentuhan.... Sentuhannya menenangkan! Karang) mendesah panjang.... Terhuyung, terus berusaha berpegangan pada tiang lampu trotoar jalan, Malam semakin tinggi, Jalanan kota semakin lengang, Bintang-gemintang membentuk —formasi indah, Bulan sabit menggantung mempereloknya. Malam itu kesadaran tersebut dikembalikan. Sejak tiga tahun lalu, ketika dengan mata-kepala sendiri dia harus menyaksikan sendiri takdir menyakitkan itu. Menatap wajah kanak-kanak yang dicintainya mengambang tak berdaya, Tubuh-tubuh kecil yang dingin-membeku, Bibir pucat. Jemari biru.... Karang tertatih, memutuskan untuk pulang, fe Hujan semakin deras. Malam semakin tinggi Bulan-bulan ini memang musim penghujan, jadi seluruh penduduk kota maklum dengan jadwal rutinnya, Rusng tidur besar dan mewah itu lengang Dinding-dinding tebal meredam suara hujan dari luar, Menyisakan irama pelan pengantar tidur, Tapi belum ada di antara mereka yang sudah tertidur, Tuan HK akhimya mendesah, menoleh menatap istrinys yang memeluk guling membelakanginya... “apa yang sedang kau pikirkan, yang?" Tuan HK bertanya pelan. “Tidak ada-" Bunda juga menjawab pelan. Tuan HK meletakkan buku tebal yang dibacanya, Dia tahu persis apa yang sedang istrinys pikirkan Mereka sudah tinggal satu atap lebih dari seperempat abad. Pasti ada kaitannya dengan keributan tadi pagi di meja makan. Keributan yang membuat Tuan HK sepanjang hari uring-uringan. Staf di pabrik sampai harus menyalakan kode: bahaya satu, Dia sepanjang hari berteriak, marah, mengomel dan apa saja setiap bertemu dengan staf-nya. Tuan HK menatap punggung istrinya, menghela nafas, Dia selama ini sudah berusaha untuk tidak banyak mencampuri rencana istrinya mengatasi keterbatasan Melati, tapi kalau istrinya sampai berharap banyak pada pemuda sialan tadi pagi, jelas itu keliru. " yang, kalau kau tetap tidak mau mengatakan apa yang sedang kau pikirkan sekarang juga, aku terpaksa mencekikmu, menutup wajahmu dengan bantal, hingga kau mau mengaku...." Tuan HK mengancam, lembut menjawail telinga istrinya, lantas pura-pura mengangkat bantal. Bunda menoleh, membalik badannya, tersenyum menatap ekspresi sok-galak Tuan Hk Mereka bersitatap sejenak, Tertawa lemah satu-sama-lain. "Tidak bisakah kau memberikan kesempatan pada anak muda itu?" Bunda menatap lamat-lamat wajah suaminya, Langsung ke pokok permasalahan, mengatakan apa yang ada di pikirannya. Tuan HK menghela nafas, Tadi pagi mereka sudah membicarakan ini, Dan keputusannya sudah jelas. TIDAK BOLEH. Apa yang diharapkan istrinya dari pemuda itu? Orang pertama yang berani sekali telah membanting Melati terduduk. "kita bisa memanggil lagi tim dokter dari Singapore, yang! Atau tim dokter dari Jerman saat aku pergi ke sana minggu depan. Mereka pasti lebih hebat, lebih canggih." Bunda menggeleng. ite sudeh berpuluh Kall melakuken itu, Sia-sia Terdiam sejenak, Tuan HK mengelus pipi istrinya, "Kau tahu, kita sudah bertahan dengan baik atas segala kesulitan ini... Aku bahkan sedikit pun tidak bisa ormermbayangkan harus rmelaluinya sendirian tanpa kau.... Kau Ibu yang baik bagi Melati, bagi keluarga ini.... Aku sungguh mencintaimu, yang!" Bunda tersenyum, Mengangguk. "Tidak bisakah kau memberikan kesempatan seminggu saja pada anak muda itu?" Bertanya lagi. Tuan HK menghela nafss. Dia pikir, kalimat ‘romantis'-nya barusan akan membuat istrinya mengalah, mengurungkan membujuknya. “apa yang kita harapkan dari pemuda aneh itu, yang?" Bunda menelan ludah, Terdiam. Apa yang diharapkannya? Kemarin, saat pertama kali mendatangi kamar itu, melihat betapa pengap dan joroknya kamar itu, betapa berantakan dan awut-awutan pemuda itu Cleran lagi), ia sama sekali tidak berharap banyak. Malah berpikir salah orang. Tapi setelah menyaksikan sendiri beberapa hal ganjit sepanjang hari ini, [a tidak tahu apa penjelasan baiknya. "Apa yang aku harapkan,... Entahlah! Aku tidak tahu, yang. Hanya saja aku sungguh tidak