Anda di halaman 1dari 11

MIKROBIOLOGI

LINGKUNGAN
Peran Desulfovibrio
desulfuricans Sebagai
Pereduksi Sulfat Dalam Tanah Tergenang
Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Napoleon, M.S.
Dibuat oleh:
Mahasiswi Semester III (Tiga)
Wiwik Septiani (20012681418005)

PROGRAM STUDI PENGELOLAAN LINGKUNGAN


BIDANG KEJURUAN BIOLOGI LINGKUNGAN

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014/2015

A.KLASIFIKASI ILMIAH

Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Delta Proteobacteria
Order : Desulfovibrionales
Family : Desulfovibrionaceae
Genus : Desulfovibrio

B. KARAKTERISTIK / Ciri-ciri

Bakteri berbentuk batang yang lengkung


Bakteri gram negatif
Diameter sel sekitar 0,7 um
Bakteri anaerob
Organisme motil
Sel Desulfovibrio memiliki pola pertumbuhan mesophillic
dengan tingkat pertumbuhan yang ideal antara suhu 25
40oC
Tidak membentuk spora obligat anaerobik
Bergerak dengan flegellum pada satu ujung tubuhnya
Hidup pada kisaran pH yang sempit, dan tidak dapat
tumbuh dalam medium dengan pH kurang dari 5,5

C. PERANNYA DI LINGKUNGAN
Pengurai bangkai
Menguraikan sulfat di tempat tergenang
Reduksi uranium (VI), chromium (VI) serta besi
(III)
Menghasilkan H2S
Konversi anaerobik polutan dalam tanah dan korosi
logam.
D. desulfuricans dapat mengkonversi U(VI)
menjadi U(IV) secara cepat pada konsentrasi tinggi
dan mempresipitasikan seluruh uranium dari
larutan dalam beberapa jam. Presipitat U(IV)
terjadi secara ekstraseluler dan dalam bentuk
mineral uraninit (UO2).

Sulfur merupakan unsur esensial baik bagi


kehidupan mikrobia tanah dan bagi tanaman. Dalam
jaringan tanaman terkandung sekitar 0,2 - 0,5 % S dari
seluruh berat kering tanaman. Kekurangan unsur ini pada
tanaman menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.
Gejala awal yang menunjukkan bahwa suatu tanaman
kekurangan unsur sulfur adalah terjadinya klorosis pada
daun muda. Klorosis terjadi sebagai akibat dari adanya
gangguan pada proses pembentukan Ferrodoksin,
sehingga fotosintesis terhambat
Di dalam tanah sulfur terdapat dalam bentuk S organik
(mencapai sekitar 90-95% dari total S tanah) dan
sisanya berupa S anorganik. Sulfur di dalam tanah
sumber aslinya berasal dari batuan pirit (FeS2).
E. KEBERADA Pada tanah pertanian di daerah kering, S anorganik
terdapat sebagai garam sulfat dari Ca, Mg, Na dan NH4.
AN
Di bawah kondisi basah, SO4 2- berada dalam larutan
SULFUR DI tanah atau terjerap pada koloit tanah, terutama oleh liat
TANAH
kaolinit dan oksidasi hidrous Fe dan Al.
Sulfat akan tereduksi menjadi bentuk sulfida pada

D.SULF
UR

F. MEKANISME REDUKSI
SULFAT dengan Desulfovibrio
desulfuricans
Bentuk S sulfida banyak dijumpai pada tanah-tanah yang
senantiasa tergenang. Pada kondisi reduktif, sulfat akan
tereduksi menjadi sulfida (H2S) dengan bantuan bakteri
pereduksi sulfat, seperti genus Desulfovibrio. Reaksi reduksi ini
akan berlangsung dengan baik jika tanahnya mempunyai
kandungan bahan organik tinggi. Beberapa isolat dari
Desulfovibrio desulfuricans juga menggunakan molekul
hidrogen untuk mereduksi sulfat, sulfit dan tiosulfat

Cont
Genus bakteri tersebut tidak menggunakan oksigen atmosfer dan
atau S organik sebagai aseptor elektron bagi pertumbuhannya.
Bakteri tersebut menggunakan sulfat dan bentuk S anorganik lain
(tiosulfat, dan tetrathionat) sebagai aseptor elektron dalam proses
pertumbuhannya dan sekaligus sebagai sumber S untuk bahan
penyusun sel. Energi yang diperlukan oleh mikrobia tersebut
bersumber dari senyawa-senyawa organik seperti, sejumlah
karbohidrat dan asam organik.
Mekanisme pembentukan H2S dari reduksi sulfat masih belum
selengkapnya jelas, namun demikian dapat dipastikan bahwa
sebagian tahap awal dari reduksi tersebut adalah pembentukan
sulfit. Tahap selanjutnya adalah reduksi sulfit menjadi sulfida
melalui tiga lintasan yaitu:
(1) Reduksi sulfit langsung menghasilkan sulfida;
(2) Sulfit direduksi menjadi tiosulfida, kemudian dipecah
menghasilkan sulfida; dan
(3) Reduksi sulfit menghasilkan tritionat, kemudian dikonversi
menjadi tiosulfat dan sulfit

G. Sumber karbon dan Energi


Bakteri Pereduksi Sulfat

Dalam melakukan reduksi sulfat, BPS menggunakan sulfat sebagai


sumber energi yaitu sebagai akseptor elektron dan menggunakan
bahan organik sebagai sumber karbon (C). Karbon tersebut berperan
selain sebagai donor elekton dalam metabolisme juga merupakan
bahan penyusun selnya. Sedangkan pendapat lain BPS menggunakan
donor elektron H2 dan sumber C (CO2) yang dapat diperoleh dari
bahan organik. Reaksi reduksi sulfat oleh BPS sebagai berikut:

Cont.
(Bahan organik + penggenangan) menyebabkan penjenuhan air
mengakibatkan tanah menjadi anaerob yang ditandai dengan
perubahan potensial redoks (Eh) menjadi negatif. Penurunan Eh
menunjukkan adanya perubahan kondisi lingkungan dari aerob
(positif) menjadi anaerob (negatif) karena oksigen yang mengisi poripori tanah terdesak dan digantikan oleh air. Pada kondisi anaerob
bahan organik akan berperan sebagai donor elektron. Ketika sulfat
menerima elektron dari bahan organik maka akan mengalami reduksi
membentuk senyawa sulfida seperti yang digambarkan oleh Foth
(1990) dalam persamaan reaksi sebagai berikut:

Menurunnya konsentrasi sulfat terjadi karena dalam kondisi anaerob


akseptor elektron yang pada kondisi aerob dilakukan oleh oksigen
bebas akan digantikan oleh molekul lain, seperti nitrat dan sulfat.