Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK APOTEKER

COMPOUNDING AND DISPENSING


ANTI INFLAMASI TOPIKAL

Disusun oleh :
Kelompok VII
Kelas A
Anggota kelompok :
1
2
3
4
5
6

Anissa Chusnul Ayusyah


Ayu Astini
Conny D.D Mustamu
Arif Fauzi S.S.B
Doli Abdurahma
Hijrofayanti

2015000008
2015000018
2015000028
2015000141
2015000038
2015000151

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Secara anatomi, kulit terdiri dari banyak lapisan jaringan, tetapi pada umumnya kulit
dibagi menjadi tiga lapisan tipis jaringan yaitu epidermis, dermis, dan lapisan lemak
bawah kulit. Lapisan terluar adalah stratum korneum atau lapisan tanduk yang terdiri dari
sel mati berkeratin padat dan berlapis-lapis. Oleh karena itu sifat alami dari stratum
korneum ini, maka nilai koefisien difusi dari jaringan ini kurang lebih seribu kali lebih
kecil daripada jaringan kulit lainnya. Dengan demikian, sifat barrier startum korneum
lebih tinggi dan umumnya tidak dapat ditembus oleh obat. Stratum corneum merupakan
barrier untuk menahan keluar masuknya zat zat kimia. Komponen sel yang utama adalah
rotein, lemak, air, yang tersususn dalam struktur yang teratur.
Obat yang dapat dijadikan sediaan topikal idealnya memenuhi kriteria anatara lain
efek farmakologis harus dapat dicapai pada kadar rendah yaitu 0,4-1,2 mg%, waktu paruh
obat pendek, dan memiliki berat molekul yang kecil yaitu 300-500 Da. Macam-macam
sediaan topikal dapat berupa solid, semi solid dan pasta. Rute pemberian topikal
diharapkan mampu mengurangi efek samping pada saluran cerna, melindungi bahan aktif
dari enzim pencernaan, menghindari metabolisme lintas pertama di hati, dan mudah
untuk mengakhiri terapi jika efek samping yang merugikan terjadi. Selain itu, sistem ini
memungkinkan terapi yang efektif untuk obat-obat yang mempunyai waktu paruh dan
rentang terapi yang pendek.
Rute pemberian obat topikal memiliki tujuan lokal,. Tujuan lokal hanya
membutuhkan permeasi obat melalui kulit pada organ atau jaringan tertentu tubuh yang
mengalami gangguan, dengan harapan hanya sedikit atau tidak ada obat yang
terakumulasi di sitemik. Untuk menekan tanda-tanda dan gejala-gejala inflamasi maka
obat tersebut harus bepentrasi sampai ke jaringan sasaran yang dituju. Kemampuan
penetrasi obat yang diformulasi dalam basis ke dalam kulit tergantung pada kondisi kulit,
sifat fisiko kimia obat dan pembawa, serta adanya bahan tambahan dalam formulasi.
Radang atau inflamasi merupakan respon jaringan hidup untuk mempertahankan
diri. Biasanya inflamasi ditandai dengan rasa panas pada luka, kemerahan, nyeri bahkan
bengkak. Maka untuk mengurangi atau bahkan menyembuhkan inflamasi tersebut
dibutuhkan obat anti inflmasi. Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan
radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Proses inflamasi
meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler, dan migrasi
leukosit ke jaringan radang, dengan gejala seperti diatas. Mediator yang dilepaskan antara
lain histamin, bradikinin, prostagladin, dan lain-lain. Obat antiinflmasi dibagi menjadi
dua golongan yaitu antiinflamasi steroid dan obat antiinflamasi steroid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Salep
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat
kelompok yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat
dicuci dengan air dan dasar salep larut dalam air. Salep obat menggunakan salah satu dari
dasar salep tersebut (FI IV, hal. 18).

B. Penggolongan Salep
Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi :
(a) Unguenta
: adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega,
tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa
memakai tenaga.
(b)

Cream

: adalah salep yang banyak mengandung air, mudah diserap


kulit. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.

(c)

Pasta

: adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat


padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup
atau pelindung bagian kulit yang diberi.

(d)

Cerata

: adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase


tinggi lilin (waxes), sehingga konsistensinya lebih keras.

(e)

Gelones Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. Umumnya cair dan
(Jelly)
mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada
membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya terdiri
dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik
lebur yang rendah.

Menurut Efek Terapinya, salep dibagi atas :


1. Salep Epidermic (Salep Penutup)
Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan
menghasilkan efek lokal, karena bahan obat tidak diabsorbsi. Kadang-kadang
ditambahkan antiseptik, astringen untuk meredakan rangsangan. Dasar salep yang
terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin).

2. Salep Endodermic
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan
terabsorbsi sebagian. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan.
Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.
3. Salep Diadermic (Salep Serap).
Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang
diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya, misalnya pada salep yang mengandung
senyawa Mercuri, Iodida, Belladonnae. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan
oleum cacao.
Menurut Formularium Nasional (Fornas) :
a. Dasar salep 1 (dasar salep senyawa hidrokarbon).
b. Dasar salep 2 (dasar salep serap)
c. Dasar salep 3 (dasar salep yang dapat dicuci dengan air atau dasar salep emulsi M/A)
d. Dasar salep 4 (dasar salep yang dapat larut dalam air).
Menurut Dasar Salepnya, salep dibagi atas :
(a) Salep hydrophobik yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak, misalnya:
campuran dari lemak-lemak, minyak lemak, malam yang tak
tercuci dengan air.
(b)

Salep hydrophillik

yaitu salep yang kuat menarik air, biasanya dasar salep tipe
o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya
lebih lembek, kemungkinan juga tipe w/o antara lain
campuran sterol dan petrolatum.

C. Dasar Salep
Menurut FI. IV, dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok,
yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci
dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tersebut.

Dasar Salep Hidrokarbon


Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaselin putih dan salep
putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya.
Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan
bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama
sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu
lama. Contoh: Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin), vaselin
kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin), campuran vaselin dengan cera,
paraffin cair, paraffin padat, minyak nabati.

Dasar Salep Serap


Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar
salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin
hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam
minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar
salep ini juga berfungsi sebagai emolien. Contoh: Adeps lanae, unguentum simpleks
(cera flava : oleum sesami = 30 : 70), hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba :
stearyl alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 )

Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air.


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep hidrofilik (krim).
Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air, karena mudah dicuci
dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika.
Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada
dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan
dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik.
Contoh: Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream), emulsifying ointment
B.P., emulsifying wax, hydrophilic ointment.

Dasar Salep Larut Dalam Air


Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air.
Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat
dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air, seperti paraffin,
lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. Contoh: Poly
Ethylen Glycol (PEG), campuran PEG, tragacanth, gummi arabicum
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan, sifat
bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.
Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan
stabilitas yang diinginkan. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam
dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air, meskipun obat tersebut
bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air.

D. Cara Pembuatan Salep


Ada beberapa metode pembuatan salep, yaitu:

Metode Pelelehan: zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk
sampai membentuk fasa yang homogen.

Metode Triturasi : zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai
atau dengan salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis.

Ketentuan lain:
Zat yang dapat larut dalam basis salep: (Camphora, Menthol, Fenol, Thymol, Guaiacol),
mudah larut dalam minyak lemak (vaselin), zat berkhasiat ditambah sebagian basis (sama
banyak) dihomogenkan lalu ditambah sisa basis. Sedangkan zat yang mudah larut dalam
air dan stabil: Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat larut dalam air yang
tersedia, maka obatnya dilarutkan dulu dalam air dan dicampur dengan basis salep yang
dapat menyerap air.

Salep yang dibuat dengan peleburan


-

Dalam cawan porselen

Salep yang mengandung air tidak ikut dilelehkan tetapi diambil bagian lemaknya
(air ditambahkan terakhir)

Bila bahan-bahan dari salep mengandung kotoran, maka masa salep yang meleleh
perlu dikolir (disaring dengan kasa)dilebihkan 10-20%

Ketentuan Umum Cara Pembuatan Salep yaitu:


1) Peraturan Salep Pertama
Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan
pemanasan.
2) Peraturan Salep Kedua
Bahan-bahan yang dapat larut dalam air, jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan
lebih dahulu dalam air, asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis
salep. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis.
3) Peraturan Salep Ketiga
Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air, harus
diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40.
4) Peraturan Salep Keempat
Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai
dingin.

E. Inflamasi
Inflamasi adalah respon biologis kompleks dari jaringan vaskuler atas adanya bahaya,
seperti patogen, kerusakkan sel, atau iritasi. Ini adalah usaha perlindungan diri tubuh kita
untuk menghilangkan rangsangan penyebab luka dan inisiasi proses penyembuhan
jaringan. Jika inflamasi tidak ada, maka luka dan infeksi tidak akan sembuh dan akan
menggalami kerusakkan yang lebih parah. Namun, inflamasi yang tidak terkontrol juga
dapat menyebabkan penyakit, seperti demam, atherosclerosis, dan reumathoid arthritis.
Inflamasi dapat dibedakan atas inflamasi akut dan kronis. Inflamasi akut adalah
respon awal tubuh oleh benda berbahaya dan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya
pergerakkan plasma dan leukosit dari darah ke jaringan luka. Reaksi biokimia berantai yang
mempropagasi dan pematangan respon imun, termasuk system vaskuler, system imun dan

berbagai sel yang ada pada jaringan luka. Inflamasi kronis merupakan inflamasi yang
berpanjangan, memicu peningkatan pergantian tipe sel yang ada pada tempat inflamasi dan
dicirikan dengan kerusakkan dan penutupan jaringan dari proses inflamasi.
Inflamasi merupakan respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang
merusak sel tubuh. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti
histamin, serotonin, bradikinin, dan prostaglandin, yang menimbulkan reaksi radang berupa
panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kerusakan sel yang terkait
dengan inflamasi berpengaruh pada selaput membran sel yang menyebabkan leukosit
mengeluarkan enzim-enzim lisosomal dan asam arakidonat., selanjutnya dilepaskan dari
persenyawaan-persenyawaan terdahulu. Jalur siklooksigenase (COX) dari metabolisme
arakidonat menghasilkan prostaglandin yang mempunyai efek pada pembuluh darah, ujung
saraf, dan pada sel-sel yang terlibat dalam inflamasi. (Katzung, 2004). Itulah mengapa ketika
terjadi peradangan kita merasakan nyeri.

F. Anti inflamasi
Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena
mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, bengkak,
kemerahan, nyeri/sakit, dan gangguan fungsi. Proses inflamasi meliputi kerusakan
mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler, dan migrasi leukosit ke jaringan
radang, dengan gejala panas, bengkak, kemerahan, nyeri/sakit. Mediator yang dilepaskan
antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, prostaglandin dan PAF. Obat anti inflamasi non
steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroid Anti-inflammatory
Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri) ,
antipiretik (penurun panas) dan anti inflamasi (anti radang). NSAID bukan tergolong obatobatan jenis narkotika.

G. Jenis obat-obat anti-inflamasi Nonsteroid


Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) adalah obat paling banyak yang digunakan didunia
untuk mendapatkan efek analgetik, antipiretik dan anti-inflamasi. OAINS merupakan
pengobatan dasar untuk mengobati peradangan-peradangan di dalam dan disekitar sendi
seperti lumbago, artalgia, osteoarthritis, dan gout arthritis. OAINS juga banyak digunakan
pada penyakit-penyakit non-reumatik seperti kolik empedu dan saluran kemih, trobosis
serebri, infark miokardium dan dismenoreat.
OAINS merupakan kelompok obat yang heterogen. 15 prototip obat golongan ini
adalah aspirin, karena itu OAINS sering disebut obat mirip aspirin ( aspirin-like drug),
aspirin like drug dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
1.
Salisilat dan salisilamid, derivatnya yaitu asetosal (aspirin), salisilamid, diflunisal.
2.
Para aminofenol, derivatnya yaitu asetaminofen dan fenasetin.
3.
Pirazolon, derivatnya yaitu antipirin (fenazon), aminopirin (amidopirin), fenilbutazon
dan turunannya.
4.
Antirematik non-steroid dan analgetik lainnya, yaitu asam mefenamat dan
meklofenamat, ketoprofen, naproksen, piroksikam dan glafenin.
5.
Obat pirai dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Obat yang menghentikan prosen inflamasi akut, misalnya kolkisin, fenilbutazon,
oksifenbutazon.
b. Obat yang mempengaruhi kadar asam urat, misalnya probenesid, alupurinol, dan
sulfinpirazon.
Sedangkan menurut waktu paruhnya, OAINS dibedakan menjadi:
1.
AINS dengan waktu paruh pendek (3-5 jam), yaitu aspirin, asam flufenamat, asam
indometasin, asam mefenamat, asam niflumat, diklorofenak, ibuprofen dan ketoprofen.
2.
AINS dengan eaktu paruh sedang (5-9 jam), yaitu fenbufen dan piroprofen.
3.
AINS dengan waktu paruh tengah (kira-kira 12 jam), yaitu diflunisal dan naproksen.
4.
AINS dengan waktu paruh panjang (24-45 jam), yaitu piroksikam dan tenoksikam.
5.
AINS dengan waktu paruh sangat panjang (lebih dari 60 jam), yaitu fenilbutazon dan
oksifenbutazon.
6.
Klasifikasi kimiawi obat anti-inflamasi nonsteroid yaitu:
Nonselective cyclooxigenase inhibitor
Derivat asam salisilat, aspirin, natrium salisilat, salsat, difunisal, cholin magnesium
trisalisilat, olsalazine.
Derivat para aminofenol: asetaminofen
Asam asetat indol dan inden: indometasin dan sulindak.
Asam heteroaryl asetat: tolmetin, diklofenak, ketorolak.
Asam arylpropionat: ibuprofen, naproksen, flurbiprofen, ketoprofen, fenoprofen dan
oxaprozin.

Asam antranilat (fenamat): asam mefenamat, asam meklofenamat.


Asam enolat: oksikam (piroksikam, meloksikam)
Alkanon: nabumeton selective cyclooxigenase II inhibitor
Diaryl-subtiuted furanones: rofecoxib
Diaryl-subtiuted pyrazoles: celecoxib

Contoh produk obat antiinflamasi topikal di pasaran:

BAB III
PEMBAHASAN

A. Cara pembuatan :

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Ambil afucid cream tube sebanyak 10 gram gerus sampai homogen

Ambil dermovel cream tube sebanyak 10 gram, pindahkan ke dalam campuran, gerus
hingga homogen

Masukkan hasil krim yang sudah homogen ke dalam pot cream, tambahkan etiket warna
biru.

B. Penjelasan
1. Resep I
R/ Metrison

8 mg no. x

S200
Metrison tablet mengandung metilprednisolon 4 mg (ISO 48, hal 307)
2. Resep II
R/ Afucid cream
Dermovel cream

10 gram
10 gram

Hidrocortison cream 20 gram


Mf cream da in pot no. 1
Sue
Afucid cream 5 g mengandung asam fusidat 2% (ISO 48, hal 372)
Dermovel cream 5 g dan 10 g mengandung mometason furoate 0,1% (ISO 48, hal 374)
Hidrokortison cream 5 g mengandung hidrokortison asetat 2,5% (ISO 48, hal 387)
3. Skrining resep
a. Kelengkapan resep

Nama apoteker dan SIPA


Alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
Tidak ada tulisan pcc ( pro copy conform )
Cara penulisan dosis, jumlah yang diminta, dan cara pemakaian yang kurang jelas pada
resep I.
R/
metrison
8mg No. X
S 1 dd 2 tab (pagi)
Saran: penggantian merek obat dari metrison (isi 4mg) diganti prednox (16 mg) untuk
meningkatkan kepatuhan untuk menurunkan regimen dosis yang seharusnya 1x minum
2 tablet menjadi 1 tablet.

b. Drug related problem


Pasien menerima obat yang tidak diperlukan pada kategori ini termasuk duplikasi.
Dalam resep II terdapat 2 obat yang berkhasiat sebagai anti inflamasi topical yaitu
Dermovel cream dan Hidrocortison cream
Saran: Didalam resep terdapat dua obat anti inflamasi seharusnya hanya satu obat saja
yang digunakan karena memiliki indikasi yang sama sebagai anti inflamasi.

Pemberian obat berlebih


Pada resep II pemberian obat lebih dari yang seharusnya diperlukan dalam hal jumlah
yang diberikan.
1) Afucid cream yang diminta sebanyak 10 gram, sedangkan sediaan yang beredar di
pasaran adalah tube 5 gram sehingga membutuhkan 2 tube afucid cream.
2) Hidrokortison cream yang diminta sebanyak 20 gram, sedangkan sediaan yang
beredar di pasaran adalah tube 5 gram sehingga membutuhkan 4 tube hidrokortison
cream.
Saran: untuk menghemat biaya pasien, resep dapat ditebus hanya setengah dari jumlah
tersebut.

4. Penyerahan
a. Resep I
Etiket
Wadah

: Warna putih
: plastik klip
APOTEK PANCASILA

Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan


APA : Panca, S.Farm., Apt.
SIPA : 20150000183

No. 1Tanggal: 16 10 -2015


Eddy Purnomo
Satu hari satu kali dua tablet
Pagi hari

b. Resep II
Etiket
Wadah

: Warna biru
: Pot
APOTEK PANCASILA

Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa Jakarta Selatan


APA : Panca, S.Farm., Apt.
SIPA : 20150000183

No. 1Tanggal: 16 11 -2015


Eddy Purnomo
Untuk pemakaian luar
Oleskan tipis-tipis pada kulit yang sakit

5. Perhitungan Dosis
1. Metrison 8 mg ( Methyl prednisolone)
Dosis lazim
: 4 dd 2-4 mg (8-16 mg)
1x minum : 2 tab (8 mg) = 16 mg > 2-4 mg
Dosis melebihi dosis lazim sekali pemakaian
1 hari
: 1x sehari 2 tab (8 mg) = 16 mg 8-16 mg
Dosis masih masuk dalam rentang dosis lazim
6. Perhitungan Bahan
1. Metrison tab 8 mg => dalam sediaannya hanya terdapat dosis yang 4 mg maka perlu
penambahan jumlah tablet yang diminum dan dibeli sebanyak 2x nya.
Metrison tab 4 mg
2. a. Afucid cream 10 gram
b. Dermovel cram 10 gram
c. Hydrocortisone cream 20 gram

: 20 tab/4 mg
: 2 tube/ 5 gram
: 1 tube/ 10 gram
: 4 tube/ 5 gram

7. Perhitungan Harga
1. Metrison 4 mg, 10x10`s Rp 135.000,Harga pertablet : Rp 135.000,- : 100 tablet = Rp 1.350,Harga Jual Apotek
: Rp 1.350,- x 1,1 x 1,25
= Rp 1.856,25,- Rp 1.900,Harga pemakaian : 20 tablet x Rp 1.900,- = Rp 38.000,Uang racik
: Rp 2000,Total harga:
: Rp 40.000,2. a. Afucid cream 5g, 1 tube Rp 30.000,Harga Jual Apotek
: Rp. 30.000,- x 1,1 x 1,25 = Rp 41.250,- Rp 41.300,Harga pemakaian
: 2 tube x Rp 41.300,= Rp 86.200,b. Dermovel cream 10g, Rp 51.700,Harga Jual Apotek
: Rp 51.700,- x 1,1 x 1,25
= Rp 71.000,Harga pemakaian
: 1 tube x Rp 71.000,= Rp 71.000,c. Hydrocortysone cream 5g, Rp 3.850,Harga Jual Apotek
: Rp 3.850,- x 1,1 x 1,25
Harga pemakaian
: 4 tube x Rp 5.300,-

= Rp 5.293,75,- Rp 5.300,= Rp 21.300,-

Uang Racikan = Rp 5.000,Harga Pot


= Rp 1.500,Total = Rp 86.200,- + Rp 71.000,- + Rp 21.300,- + Rp 5.000,- + Rp 1.500,= Rp 185.000,Total resep : Rp 40.000,- + Rp 185.000 = Rp 225.000,-

1. Afucid cream 10 gr
HNA = Rp. 34.000,HJA
R/

= Rp. 34.000,- 1,1 1,25 = Rp. 46.750,= 2 Rp. 46.750,-= Rp. 93.500
= Rp. 93.500,-

2. Dermovel cream 10 gr
HNA = Rp. 57.000,HJA
R/

= Rp. 57.000,- 1,1 1,25 = Rp. 78.375,= 1 Rp. 78.375,- = Rp. 78.375,= Rp. 78.500,-

3. Hidrocortison cream 20 gr
(CALACORT 10 gr 2,5%)
HNA = Rp. 16.500,HJA
R/

= Rp. 16.500,- 1,1 1,25 = Rp. 22.687,5,= 2 Rp. 22.687,5 ,-= Rp. 45.375,-

= Rp. 45.500,4. Pot cream


HNA = Rp. 50.000,- 100 = Rp. 500,HJA = Rp. 500,- 1,1 1,25 = Rp. 687,5,R/
= 1 Rp. 687,5,- = Rp. 687,5,= Rp. 700,5. Jasa racik
Jasa peracikan = Rp. 10.000,6. Harga total

= 1+2+3+4+5+6
= Rp. 3.800,- + Rp. 93.500,- + Rp. 78.500,- + Rp. 45.500,- + Rp. 700,- +
Rp. 10.000,= Rp. 232.000,-

DAFTAR PUSTAKA
1. https://denikrisna.wordpress.com/2010/10/25/memilih-analgetik-dan-antiinflamasi/
2. http://nissa-uchil.blogspot.co.id/2014/03/farmakologi-obat-anti-inflamasi-dan.html
3. http://repository.wima.ac.id/512/2/BAB%201.pdf
4. http://repository.wima.ac.id/3196/2/BAB%201.pdf