Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

2.1 Ilmu kedokteran pada masa peradaban islam


diceritakan memerintahkan penterjemahan teks medis dan kimiawi
dari bahasa Yunani ke bahasa Arab. Berbagai sumber juga
menunjukkan bahwa khalifah dinasti Umayyah, Umar ibn Abdul Aziz
(p.717-20) memerintahkan penterjemhan dari bahasa Siria ke bahasa
Arab sebuah buku pegangan medis abad ketujuh yang ditulis oleh
pangeran
Aleksandria
Ahrun.
Pengalihbahasaan literatur medis meningkat drastis dibawah
kekuasaan Khalifah Al-Mamun dari Diansti Abbasiyah di Baghdad. Para
dokter dari Nestoria dari kota Gundishpur dipekerjakan dalam 1. Masa
Awal
Perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.
Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur
kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang
berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini,
sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur
menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab.
Rujukan pertama kedokteran terpelajar dibawah kekuasaan khalifah
dinasti Umayyah, yang memperkerjakan dokter ahli dalam tradisi
Helenistik. Pada abad ke-8 sejumlah keluarga dinasti Umayyah
kegiatan ini. Sejumlah sarjana Islam pun terkemuka ikut ambil bagian
dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh
seperti, Yuhanna Ibn Masawayah (w. 857), Jurjis Ibn-Bakhtisliu, serta
Hunain Ibn Ishak (808-873 M) ikut menerjemahkan literatur kuno dan
dokter
masa
awal.
Karya-karya original ditulis dalam bahasa Arab oleh Hunayn. Beberapa
risalah yang ditulisnya, diantaranya al-Masail fi al-Tibb lil-Mutaallimin
(masalah kedokteran bagi para pelajar) dan Kitab al-Asyr Maqalat fi alAyn (sepuluh risalah tentang mata). Karya tersebut berpengaruh dan
sangat inovatif, walaupun sangat sedikit memaparkan observasi baru.
Karya yang paling terkenal dalam periode awal ini disusun oleh Ali Ibn
Sahl Rabban al-Tabari (783-858), Firdaws al-Hikmah. Dengan
mengadopsi satu pendekatan kritis yang memungkinkan pembaca
memilih dari beragam praktek, karya ini merupakan karya kedokteran
Arab komprehensif pertama yang mengintegrasikan dan memuat

berbagai
tradisi
kedokteran
waktu
itu.
Perkembangan tradisi dan keberagaman yang nampak pada
kedokteran Arab pertama, dikatan John dapat dilacak sampai pada
warisan Helenistik. Dari pada khazanah kedokteran India. walaupun
keilmuan kedokteran India kurang terlalu mendapat perhatian, tidak
menafikan adanya sumber dan praktek berharga yang dapat dipelajari.
Warisan ilmiah Yunani menjadi dominan, khususnya helenistik, John
Esposito mengatakan satu kesadaran atas (perlunya) lebih dari satu
tradisi mendorong untuk pendekatan kritis dan selektif . Seperti
dalam
sains
Arab
awal.
Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam
berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa
kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan
pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu
para dokter baru. Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang
begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan
peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan
berpengaruh di dunia kedokteran, hingga sekarang. `Islam banyak
memberi kontribusi pada pengembangan ilmu kedokteran, papar
Ezzat
Abouleish.
Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran
terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-AlNafis, dan Ibn- Maimon. Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan
nama Razes. Ia pernah menjadi dokter istana Pangerang Abu Saleh AlMansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi
dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Buku
kedokteran yang dihasilkannya berjudul Al-Mansuri (Liber AlMansofis)
dan
Al-Hawi.
Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau
dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab.
Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi
dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar
hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan
khususnya
masalah
bedah.
Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, AlTastif Liman Ajizan Al-Talif ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada
abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-

Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia


juga menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan
dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis
buku
tentang
tentang
operasi
gigi.
Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau
Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomela yang
berhasil ditulisnya adalah Al-Qanon fi Al- Tibb atau Canon of Medicine.
Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran
yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi
referensi
sekolah
kedokteran
di
Eropa.
Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau
Averroes (1126-1198 M). Dokter kelahiran Granada, Spanyol itu
sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia
kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul Al- Kulliyat fi Al-Tibb
(Colliyet). Buku itu berisi rangkuman ilmu kedokteran. Buku
kedokteran lainnya berjudul Al-Taisir mengupas praktik-praktik
kedokteran.
Nama dokter Muslim lainnya yang termasyhur adalah Ibnu El-Nafis
(1208 1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan
kedokteran Islam. Ibnu El-Nafis sempat menjadi kepala RS Al-Mansuri
di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salahsatunya yang
tekenal adalah Mujaz Al-Qanun. Buku itu berisi kritik dan penambahan
atas kitab yang ditulis Ibnu Sina. Beberapa nama dokter Muslim
terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain;
Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu
Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan Al-Ghafiqi,
seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan
Afrika.
Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjanasarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan
mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad
pertengahan. sampai disini, penulis tidak akan menjelaskan nasib Ilmu
kedokteran masa kemunduran Islam. Karena sudah jelas Peradaban
Islam mengalami kematian. Oleh karena itu, dalam sub-bab
selanjutnya penulis akan terus menulusuri warisan-warisan peradaban
Islam berkaitan dengan bidang ini. Karena banyak sekali warisan

peradaban Islam dalam bidang kedokteran, baik itu berupa teori-teori


pengobatan, lembaga-lembaga, beserta sistemnya
2.2 analisis pemikiran Ar Razi dan Ibnu Sina
A.
AR-RAZI
Dunia keilmuan, khususnya kedokteran modern, harus mengakui peran
dan gagasan tokoh Islam yang satu ini. Selain seperti yang kita kenal,
Ibnu Shina yang merupakan perintis awal Ilmu kedokteran. Dia adalah
Muhammad bin Zakaria Al-Razi, atau lebih dikenal dengan nama AlRazi. Menempati bidang ini pada usia yang dapat dibilang sudah tidak
muda
lagi.
Ia lahir di Rayy, dekat Teheran, Iran, pada tahun 846 M. (w. dikota
yang sama pada tahun 925 M). Al-Razi yang bernama lengkap Abu
Bakar Muhammad Zakaria al-Razi sebagai seorang pribadi atau
pemikir, dia sangat disegani dan dihormati kalangan sarjana barat.
Seperti A.J. Aberry, yang menulis pengantar dalam buku Al-Razi, The
Spiritual Physic of Rhazes (penyembuhan rohani). Walaupun sudah
menginjak usia tua, ketekunannya dalam bidang kedokeran
menghasilkan karya-karya sangat monumental. Humayun bin Ishaq
adalah
gurunya
di
Baghdad.
Dengan karya-karya yang dihasilkan dalam bidang kedokteran,
pengabdian dan kejeniusan al-Razi diakui oleh Barat. Banyak ilmuan
Barat menyebutnya sebagai pionir terbesar dunia Islam dibidang
kedokteran. Razhes merupakan tabib terbesar dunia Islam, dan satu
yang terbesar sepanjang sejarah, jelas Max Mayerhof. Sementara
sejarawan barat terkenal, George Sarnton, mengomentari al-Razi , ALRazi dari Persia, dia juga kimiawan dan fisikawan. Dia bisa dinyatakan
salah
seorang
salah
seorang
perintis
latrokimia
zaman
renaisans,,,maju dibidang teori, dia memadukan pengetahuannya yang
luas
melalui
kebijaksanaan
Hippokratis.
Dalam karyanya, Al-Mansuri (Liber Al-Mansofis) Ia menyoroti tiga
aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik,
pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang
lain berjudul Al-Murshid. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang
pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah Al-Hawi. Buku
yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah
kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar dan

cacar air dalam Kitab fil al-Jadari wal-Hasba yang merupakan catatan
pertama tentang metode diagnosis dan perawatan atas dua penyakit
dan gejal-gejalanya.
B.
IBNU
SINA
Dunia Islam memanggilnya Ibnu Sina, tapi kalangan Barat
menyebutnya dengan panggilan Avicenna. Ia merupakan seorang
ilmuan, filsuf dan dokter pada abad ke-10. Selain itu dia juga dikenal
dengan penulis yang produktif. Dan sebagian banyak tulisannya berisi
tentang filsafat dan pengobatan. Karya-karyanya membanjiri literatur
modern dan mengilhami karya-karya pemikir barat. Abu Ali Al-Hussain
bin Abdullah bin Sina lahir di Afshana, dekat kota Bukhara,
Uzbeskiztan pada tahun 981 M. Kecerdasannya ditunjukkan pada usia
17 tahun, dengan tingkat kejeniusan yang sangat tinggi dia telah
memahami seluruh teori kedokteran yang ada pada saat itu dan
melebihi siapun juga. Karena kecerdasannya itu dia diangkat sebagai
konsultan
dokter-dokter
praktisi.
Pengaruh pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya
tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Berbicara
tentang karya-karyanya, tulisannya mencapai 250 karya. Baik dalam
bentuk risalah maupun buku. Karyanya bayak dijadikan rujukan dalam
bidang kedokteran oleh banyak kalangan pemikir. Diantaranya Qanun fi
Thib, dalam buku ini berisi tentang bagaimana cara penyembuhan dan
obat-obatan. Dalam dunia Barat kitab ini diterjemahkan dengan nama
The Canon of Madicine. Dan ada pula yang menyebutnya Ensiklopedia
pengobatan. Asy-Syifa, dalam buku ini berisi menganai berbagai jenis
penyakit, obatnya dan sekaligus cara pengobatannya berkaitan dengan
penyakit bersangkutan.
2.3 Metode Dasar antara Al-Razi dan Ibnu Sina Dalam Ilmu Kedokteran
Sebelum membandingkan kedua pemikiran tokoh tersebut, perlu
dijelaskan bagaimana landasan pengobatan menentukan adanya gejala
penyakit sehingga bidang medis menjadi sebuah ilmu yang terstruktur.
Yang nantinya menjadi dasar pemikiran kedua tokoh tersebut. Kembali
pada Abad kesembilan atau tepatnya pada akhir abad kesembilan,
tradisi kedokteran Islam berkembang pesat. Hal itu ditandai dengan
terintegrasinya sistem patologi jenaka (humoral) dari Galen dalam
kedokteran Islam. Patologi Humoral didasarkan pada empat gagasan

humor (darah, lendir, empedu biru, dan empedu hitam) dan kaitannya
dengan empat elemen (udara, air, api dan tanah), juga pada empat
kualitas
(panas,
basah,
dingin,
kering).
Keseimbangan humor dan kualitas ini menentukan kesehatan, karena
itu, ketidak seimbangan dianggap sebagai sebab timbulnya penyakit.
Inilah titik sebab kenapa perawatan dan pengobatan itu dilakukan,
agar dapat membangun atau memelihara kembali keseimbangan
kondisi tubuh yang kacau (sakit). Artinya internal tubuh didapat dalam
keadaan baik sebagaimana fungsinya dan tentunya harus didukung
kondisi atau cuaca lingkungan yang kondisif. Melalui penggunaan jenisjenis makanan, obat-obat tertentu dan melalui pengeluaran darah
kotor
serta
pencahar
(obat
cuci
perut).
Sistem yang menjelaskan ilmu kedokteran ini, telah didasari dengan
tingkat argumentasi logis tertentu. Didukung dengan observasi medis
untuk menentukan adanya penyakit yang hinggap dan memberikan
penawarnya (obat). Maka dari itu diskursus teoritis sangat ditekankan
pada observasi klinis, dan pertimbangan teoritis memainkan peran
utama dalam strukturisasi dan organisasi pengetahuan medis. Artinya,
penelitian atau pengamatan medis tidak hanya bergerak dalam ranah
teori atau wacana. Tapi juga harus didukung pengamatan empiris
(klinis).
Kalau kedua dasar dalam membentuk sebuah ilmu pengetahuan medis
tersebut dapat dilakukan dengan dengan seimbang. Maka kegiatan
keilmuan akan menjadi sempurna dan dapat dipertanggungjawabkan
sehingga dapat menjadi disiplin ilmu yang dapat diaplikasikan atau
diamalkan. Hal itulah yang dikembangkan ilmu kedokteran Islam
dengan sistemisasi dan rasionalisasi. Dimana yang pertama kali
dilakukan adalah usaha untuk mengorganisir bidang luas ilmu
kedokteran dan semua cabangnya menjadi satu struktur komprehensif
dan
logis.
Tapi sejarah mengatakan, dalam keilmuan medis ada yang fokus pada
pengkajian atau pengamatan klinis dalam membangun keilmuannya.
Dengan menekankan pada kedokteran klinis atau kedokteran kasus
dalam prosedur perawatannya. Representasi yang cukup mewakili
dalam penggunaan metode ini adalah Al-Razi. Dalam tulisan-tulisannya
dapat dilihat bagaimana al-Razi mengungkapkan kritikan terhadap
teoritis atas ilmu kedokteran yang diwarisinya. Dimana dia

memfokuskan
pada
metode
dan
praktek.
Dalam karyanya yang lain, Al-Razi memberi tekanan lebih besar pada
diagnosis dan terapi observasional daripada diagnosis teoritis atas
sakit dan perawatannya. Metodenya ini dibuktikan dalam karyanya
yang berjudul Kitab fi al-Jadari wal-Hasba (buku tentang cacar dan
cacar air). Ketidak sepakatannya dengan metode teoritis semakin jelas
jika dilihat dari kitab terbesarnya, al-Hawi fi al-Tibb. Karena kitab ini
sudah jelas tidak diatur menurut paradigma teoritis formal.
Didalamnya berisi tentang ensiklopedi kedokteran klinis hasil observasi
al-Razi sendiri.
Dalam keilmuan medisnya, baik dari karya kitab, risalah-risalah
maupun metode pengobatan , Al-Razi menggunakan klasifikasi ilmu
kedoktran terapis, bukan teoritis. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa dasar perawatannya mengandalkan hasil-hasil eksperimentasi.
Seperti yang dikatakan John L.E. Al-Razi tidak melakukan perawatan
berdasarkan kesimpulan logis; namun ia melakukan apa yang sering
mampu mengendalikan ekperimentasi. Dan terakhir, secara logis
penulis mempunyai kesimpulkan sementara bahwa al-Razi menolak
metode teoritis (logis), kecuali sesuai, setelah dilakukan ekperimentasi
(pengamatan
empiris).
Masih membahas metode dasar keilmuan medis (kedokteran), Ibnu
Sina mempunyai metode yang berbeda dari al-Razi dalam melakukan
kajian keilmuan medis. Ia lebih memfokuskan pada kajian teoritis, dan
melakukan sistematisasi ilmu kedokteran sebagai sebuah disiplin ilmu.
Oleh karena itu ia terkenal sebagai bapak kedokteran Islam, bahkan
dunia. dalam perjalanan intelektual Ibnu Sina, dalam hal ini bidang
medis, ia melakukan kajian ulang terhadap warisan-warisan karya
medis.
Hal itu dimenivestasikan dalam karya monumentalnya, al-Qanun fil alTibb (kanon kedokteran). Magnum opusnya al-Qanun ditulis dengan
maksud membuat karya kanonis definitif mengenai kedokteran, yang
sangat komprehensif sekaligus teoritis. Semua refleksi teoritis dan
sistematis atas karya-karya sebelumnya tercover dalam buku ini.
Berawal dari anatomi, kemudia fisiologi, patologi dan akhirnya terapi.
Walaupun dia juga melakukan observasi, kegiatannya ini terbilang
lemah
atau
tidak
fokus
dilakukan.

Corak teoritis dalam karya kedokterannya, bisa dibilang terpengaruh


dengan pemikirannya dalam bidang filsafat yang tak lepas dari
pengaruh Aristoteles. Dimana ia lebih menekankan pada pendekatan
logis sistematis. Sistem ilmu kedoteran yang disusun olehnya,
menghasilkan koherensi dari aplikasi kontinyu dengan memegang
prinsip logis dan teoritis. Kekhasan karya-karya Ibnu Sina dapat
merubah tradisi ilmu kedokteran Islam yang mengutamakan praktek
dalam pengobatan. Yang tidak melihat relevansinya terhadap kajian
teoritis.
Jika dilhat lagi keidealan ilmu pengetahuan yang terungkap dalam
paragraf-paragraf pertama, kedua pemikiran antara al-Razi dan Ibnu
Sina dapat digabungkan menjadi disiplin Ilmu kedokteran yang kuat.
Walaupun Ibnu Sina mendapat penghargaan atas disiplin Ilmu
kedokteran, namun ia lemah dalam pengamatan empiris. Tapi tidak
lantas dapat disimpulkan keduanya menolak pendekatan teoritis atau
observatif. Hanya saja titik perhatiannya terfokus salah satu metode
yaitu
antara
obserfatif
dan
teoritis
logis.
Al-Razi tidak menolak kesimpulan logis dalam ilmu medis, tapi
menerima dengan syarat melakukan ekperimentasi lebih dulu.
Sedangkan Ibnu Sina tidak juga menolak metode observatif atau
klinis, bahkan dia melakukannya. Tapi hanya saja, pusat perhatiannya
lebih pada logis teoritis. Pemikiran kedua tokoh kedokteran tersebut
mempunyai kekhasan tersendiri. Oleh karena itu metode keduanya
dapat memberi masukan satu sama lain. Sebagai contoh, pengamatan
medis secara Al-lRazi sebagai dasar perawatannya dapat diperkuat
dengan diskursus teoritis logia ala Ibnu Sina.
BAB
PENUTUP

III

3.1
Kesimpulan
Dari penjelasan yang panjang lebar di atas, mengenai tema Ilmu
Kedokteran dalam Islam dapat diambil kesimpulan bahwa Khazanah
Pengetahuan Islam dalam bidang kedokteran sangat kaya dan luas.
Hal itu dapat dilihat dari karya-karya para tokoh kedokteran Islam.
Saksi sejarah yang lain juga terlihat pada bangunan-bangunan
Institusi kedokteran atau rumah sakit, apotek dan institusi yang lain.
Wearisan-warisan Islam dalam bidang kedokteran tersebut tidak hanya

menjadi kenangan masa lampau. Tapi lewat karya dokter-dokter Islam,


para ilmuwan Timur maupun Barat dapat menguras habis teori-teori
atau metode pengobatan dan analisis berbagai penyakit beserta
obatnya. Dengan begitu literature-literatur Islam dalam ilmu medis
dapat
mengilhami
banyak
ilmuwan
atau
dokter
dunia.
Ar-Razi dan Ibnu Sina adalah salah satu dari sekian banyak dokter
Islam yang menurut penulis paling berpengaruh dalam keilmuan ini.
Dimana dapat dilihat penjelasan di atas, khazanah pemikiran dan
kontribusinya sangat luas dan kaya. Dengan dasar kekhasan pemikiran
kedua tokoh tersebut penulis menempatkan bab khusus untuk
membanding metode atau titik fokus dalam kegiatan kedokterannya.
Dan didapatkan suatu keharmonisan yang saling melengkapi jika
metode-metode tersebut dikaji dan diaplikasikan dengan tetap
memagang
prinsib
keseimbangan.
Hal itu sudah terwujud dengan melihat perkembangan kedokteran
sekarang. Seperti, cara pengobatan yang sudah maju, penemua
penawar (obat) bagi penyakit-penyakit, adanya dokter-dokter
profesional dan sebagainya.
3.4
Saran
Dengan ini semua seharusnya Islam tidak hanya berbangga diri tapi
dijadikan suatu cambukkan untuk terus semangat, kreeatif dan
berkerja keras dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Daftar
Pustaka
Gaudah,Muhammad Gharib. 2007.147 ilmuwan muslim terkemuka
dalam
sejarah
islam.Jkarta:
Pustaka
Al
Kautsar
www.avicenna.typepad.com
:08-11-2011
pada
06:27
pm
www.rumahislam.com 08-11-2011 pada 07:00 pm