Anda di halaman 1dari 5

CASE STUDY: EDIE

Edies CD4+ cells have been dropping and her viral load has been increasing. Her
doctor let her know that she would have to start HIV medications. Edie was feeling
apprehensive and nervous about the side effects, but she was willing to get started. Her
doctor prescribed Atripla that she would take once a day at bedtime. After a week of
being on medication, Edie had side effects like strange dreams, felling dizzy, depressed,
and emotional. She shared her medication experience at support group. She was upset
and was crying, saying she would not keep taking these meds with these side effects.
Participants talked with her, telling her that the side effects would last possibly one to
two weeks more, but to hang in there. Her CD4+ cells are now in the 450s and her viral
load is less than 95. She was elated to share her results with the support group after her
visit with her doctor.
Evaluasi
Problem medik

Nilai CD4+ pasien setelah terapi mengalami penurunan yaitu

450 dimana nilai normalnya 800-1050 sel/mm3


Setelah menjalani terapi, Viral load (jumlah virus HIV di dalam

tubuh) <95 dimana nilai normalnya 0


Setelah mengkonsumsi obat, pasien mengalami efek samping
seperti mimpi yang aneh, merasa pusing, depresi, dan

emosional.
Atripla (NNRTI dan NRTI) (Efavirenz 600 mg / emtricitabine 200 mg /

Terapi

tenofovir disoproxil fumarat 300 mg) dikonsumsi sekali sehari 1 tablet


Kaitan

pada malam hari sebelum tidur.


dengan
Tidak disebutkan hasil lab CD4+ dan viral load pasien sebelum

Farmakoterapi,

dilakukan terapi sehingga tidak dapat dibandingkan dengan

Farmakologi, dan

hasil yang sebelumnya apakah terapi tersebut menghasilkan

Ilmu Pengetahuan
Lain

hasil yang bermakna atau tidak.


Obat yang dikonsumsi pasien yaitu Atripla, obat ini telah
disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam terapi HIV-1 pada

pasien dewasa dan anak-anak 12 tahun.


Atripla ini merupakan salah satu obat yang digunakan untuk
terapi antiretroviral (ARV). Tujuan terapi dengan ARV adalah
menekan replikasi HIV secara maksimum, meningkatkan

limfosit CD4+ dan memperbaiki kualitas hidup penderita yang

akan dapat menurunkan morbiditas.dan mortalitas.


Pasien mengkonsumsi obat tersebut pada waktu akan tidur dan
saat perut kosong untuk minimalisir ES pusing, mimpi aenh,

(atripla.com)
Pusing, sakit kepala, mimpi aneh, dapat diperburuk dengan
konsumsi alkohol atau obat peningkat mood bersamaan dengan

konsumsi Atripla.
Penggunaan obat dikatakan rasional bila pasien menerima obat
yang sesuai dengan kebutuhannya untuk periode waktu yang
adekuat dengan harga yang paling murah untuknya dan
masyarakat. (WHO, 1985). Secara praktis, penggunaan obat
dikatakan rasional bila memenuhi kriteria:
1. Tepat diagnosa (Jika dilihat dari nilai CD4+ dan viral load
maka pasien dapat didiagnosa HIV, akan tetapi sebaiknya
tahapan untuk menegakkan diagnosis lain juga harus
dilakukan, seperti:
1. Penggalian riwayat penyakit secara lengkap
Pertanyaan tentang riwayat penyakit meliputi :
a. Kapan dan dimana diagnosis HIV ditegakkan
b. Kemungkinan sumber infeksi HIV
c. Gejala dan keluhan pasien saat ini
d. Riwayat penyakit sebelumnya, diagnosis
pengobatan

yang

diterima

termasuk

dan

infeksi

oportunistik
e. Riwayat penyakit dan pengobatan TB termasuk
kemungkinan kontak dengan TB sebelumnya
f. Riwayat kemungkinan infeksi menular seksual
(IMS)
g. Riwayat dan kemnugkinan adanya kehamilan
h. Riwayat penggunaan ART termasuk riwayat rejimen
untuk PMTCT sebelumnya
i. Riwayat pengobatan dan penggunaan kontrasepsi
oral pada perempuan
j. Kebiasaan sehari-hari dan riwayat perilaku seksual
k. Riwayat penggunaan NAPZA suntik
2. Pemeriksaan fisik lengkap
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi:
a. Berat badan, tanda vital
b. Kulit : herpes zoster, sarkoma Kaposi, dermatitis

HIV, pruritic papular eruption


c. (PPE), dermatitis saborik berat, jejas suntikan
(needle track) atau jejas sayatan
d. Limfadenopati
e. Selaput lendir orafaringeal, kandidiasis, sarkoma
kaposi, hairy leukiplakia, HSV
f. Pemeriksaan jantung, paru dan abdomen
g. Pemeriksaan sistem saraf dan otot rangka ; keadaan
kejiwaan, berkurangnya fungsi motoris dan sensoris
h. Pemeriksaan fundus mata : retinitis dan papil edema
i. Pemeriksaan saluran kelamin/ alat kandungan
j. Pemeriksaan Psikologis
3. Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan sebelum
memulai terapi dengan antiretroviral adalah :
a. Pemeriksaan

serologi

untuk

HIV

dengan

menggunakan strategi 2 atau strategi 3 sesuai


pedoman
b. Limfosit total atau CD4 (jika tersedia)
c. Pemeriksaan darah lengkap (terutama HB) dan
kimia darah (terutama fungsi hati) dan fungsi ginjal
d. Pemeriksaan kehamilan
4. Pemeriksaan Tambahan
Ada beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan
sesuai riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis yaitu :
a. Foto toraks
b. Pemeriksaan urin rutin dan miksroskopik
c. Serologi virus hepatitis C (HCV) dan virus hepatitis
B (HBV) tergantung pada adanya pemeriksaan dan
sumber daya
5. Jika memungkinkan, profil kimia darah diperiksa meliputi :
a. Kreatinin serum dan/atau ureum darah untuk
menilai fungsi ginjal pada awal
b. Glukosa darah
c. SGOT/SGPT untuk mengetahui

kemungkinan

adanya hepatitis serta memantau adanya keracunan


obat

d. Pemeriksaan lain bila perlu seperti bilirubin serum,


lipid serum dan amilase serum
Pemeriksaan HIV harus dilakukan oleh teknisi
yang terlatih di laboratorium yang menjalankan program
jaga

mutu.

Hasil

pemeriksaan

sebaiknya

juga

menyebutkan jenis pemeriksaan yang dipakai untuk


menegakkan diagnosis berdasarkan pedoman WHO.
Bila timbul keraguan, pemeriksaan harus diulang di
laboratorium

rujukan.

Pemeriksaan

laboratorium

dilakukan secara rutin untuk melihat perkembangan


penyakit dan apabila pengobatan yang dilakukan
ternyata menunjukkan perkembangan yang baik maka
pengobatan akan diteruskan dan sebaliknya, apabila
tidak menunjukkan perubahan yang bermakna atau
bahkan tidak ada perubahan atau terjadi efek samping
yang spesifik maka pengobatan perlu diganti (untuk obat
abacavir dan nevirapine). Sedangkan untuk obat lain,
seburuk apapun efek samping yang terjadi tetaplah obat
tersebut harus dikonsumsi, tidak diperbolehkan untuk
mengurangi dosis kecuali dokter mengatakan lain.
Masalah pengobatan HIV yaitu pada kepatuhan pasien,
karena efek samping yang sering terjadi.
2. Tepat indikasi penyakit (obat yang diberikan cocok dengan
penyakit pasien)
3. Tepat pemilihan obat (obat yang digunakan merupakan
terapi ARV yang telah tercantum dalam literatur)
4. Tepat dosis (Dosisnya tepat yaitu Atriptila dikonsumsi satu
kali sehari 1 tablet (tiap tablet mengandung 600 mg
efavirenz, 200 mg emtricitabine, dan 300 mg tenofovir
disoproxil fumarate))
1. empty stomach.
2. Tepat cara pemberian obat (obat telah tepat diberikan pada
malam hari sebelum tidur, akan tetapi tidak disertakan
infromasi bahwa obat diminum dalam keadaan perut kosong

untuk meminimalisir efek samping)


3. Tepat interval waktu pemberian (Pemberian obat dilakukan
1x sehari dan sudah tepat)
4. Tepat lama pemberian (Dalam kasus tidak disebutkan
berapa lama pemberian obatnya karena obat akan selalu
dikonsumsi hingga nilai viral load-nya 0 dan CD4+ 8001050 sel/mm3)
5. Waspada terhadap efek samping (Dokter telah memberikan
infromasi mengenai efek samping yang terjadi akan hilang
pada beberapa minggu)
6. Tepat penilaian kondisi pasien (Kondisi pasien dilihat dari
nilai CD4+ dan viral load, dan hasil menunjukkan pasien
mengidap HIV)
7. Tepat informasi (Dokter telah menyampaikan mengena efek
samping yang akan hilang pada beberapa hari/ minggu, hal
ini sesuai dengan literatur)
8. Tepat dalam melakukan upaya tindak lanjut
9. Tepat penyerahan obat (dispensing)
10. Kepatuhan pasien (Walaupun pasien merasa khawatir
terhadap efek samping yang akan terjadi, tetapi pasien mau
melakukan pengobatan terlebih lagi saat uji laboratorium
dilakukan lagi dan hasil menunjukkan perubahan yang
bermakna)