Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah menganugerahkan akal dan pikiran kepada manusia dan menjadikan manusia
sebagai makhluk yang berpikir, yang mana atas berkah, rahmat dan hidayah-Nya
saya mampu menyelesaikan makalah Strategi Pembelajaran tentang Model dan
Metodel Pembelajaran ini dengan tepat waktu.
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih yang ditujukan
kepada:
1. Bapak Boni Irawan, M.Pd, selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah
Strategi Pembelajaran yang telah memberikan bimbingan dan arahannya
dalam menyelesaikan makalah ini, dan
2. semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah
ini.
saya menyadari, bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh sebab itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat

membangun

dari

berbagai

pihak,

untuk

memperbaiki

segala

kekurangannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Akhir kata saya ucapkan terimakasih, dan apabila ada perkataan yang
kurang berkenan, saya mohon maaf.

Tanjungpinang, 1 Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................4
1.3 Tujuan.............................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................6
2.1 Perbedaan Model, Metode, Pendekatan, dan Strategi Pembelajaran.............6
2.2 Macam-macam Metode Pembelajaran...........................................................8
2.3 Macam macam Model Pembelajaran.......................................................13
BAB III PENUTUP...............................................................................................33
3.1 Kesimpulan..................................................................................................33
3.2 Saran.............................................................................................................33
Daftar Pustaka........................................................................................................34

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru
mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan
intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran.
Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk
menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar
secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan
prestasi yang optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka
setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep
dan cara-cara pengimplementasikan model - model, pendekatan, metode dan
strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang
efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap
perkembangan dan kondisi siswa di kelas. Demikian juga pentingnya pemahaman
guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan
beberapa faktor lain yang terkait dengan pembelajaran. Tanpa pemahaman
terhadap berbagai kondisi ini, model yang dikembangkan guru cenderung tidak
dapat meningkatkan peran serta siswa secara optimal dalam pembelajaran, dan
pada akhirnya tidak dapat memberi sumbangan yang besar terhadap pencapaian
hasil belajar siswa.
Mempertimbangkan pentingnya hal di atas maka saya sebagai calon
pendidik akan membahas perbedaan antara model, metode, pendekatan, strategi
pembelajaran serta beberapa macam model dan metode dalam pembelajaran.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat kita rumuskan permasalahan yang


akan kita bahas sebagai berikut:

1. Apa perbedaan antara model, metode, pendekatan, serta strategi


pembelajaran

2. Apa saja macam-macam metode pembelajaran

3. Apa saja macam-macam model pembelajaran


1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

1. Mengerti akan perbedaan antara model, metode, pendekatan, serta strategi


pembelajaran

2. Mengerti dan memahami mengenai model pembelajaran


3. Memahami macam macam model pembelajaran
4. Mengerti dan memahami mengenai metode pembelajaran
5. Memahami macam macam metode pembelajaran
6. Mengerti dan memahami mengenai strategi pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan Model, Metode, Pendekatan, dan Strategi Pembelajaran
Untuk Mengetahui apa perbedaan dari Model, Metode, Pendekatan, dan
Strategi Pembelajaran, kita harus tahu dulu pengertian dari masing-masing
elemen.setelah itu baru lah kita ketahui kesimpulan dari perbedaan dari model,
metode, pendekatan, dan strategi pembelajaran.

Pertama, Model pembelajaran adalah suatu perencanaan


atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran
mengacu

pada

pendekatan

pembelajaran

yang

akan

digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran,


tahap-tahap

dalam

kegiatan

pembelajaran,

lingkungan

pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto,


2010: 51).

Sedangkan menurut Joyce & Weil (1971) dalam Mulyani


Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran adalah kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan

pengalaman

belajar

untuk

mencapai

tujuan pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai


pedoman. bagi

para

perancang pembelajaran dan para

pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas


belajar mengajar.

Berdasarkan
disimpulkan

dua

bahwa

pendapat

model

di

atas,

pembelajaran

maka

dapat

adalah

suatu

kerangka konseptual yang digunakan dalam pembelajaran


untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan berfungsi
sebagai pedoman dalam merancang dan melaksanakan proses
belajar mengajar.

Kedua,

Metode

adalah

cara

yang

digunakan

untuk

mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar


tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ini berarti metode digunakan
untuk merealisasikan proses belajar mengajar yang telah ditetapkan.

Metode pembelajaran di sini juga dapat diartikan sebagai cara yang


digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam
bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Ketiga, Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak


atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum,
di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya,
pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
1. pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa
(student centered approach)

2. pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher


centered approach).

Keempat,

strategi

pembelajaran

adalah

suatu

kegiatan

pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip
pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi
pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada
dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.

Dari hasil pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ada


perbedaan antara model pembelajaran, pendekatan pembelajaran, strategi
pembelajaran, tehnik dan metode pembelajaran. Walaupun perbedaan itu tidak
begitu tegas, karena semua istilah merupakan satu kesatuan yang saling
menunjang,

untuk

melaksanakan

proses

pembelajaran.

Jadi

model

pembelajaran adalah pembungkus proses pembelajaran yang didalamnya ada


pendekatan, strategi, metode dan tehnik. Contoh : model yang digunakan guru
PAIKEM, Pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan pemerintah adalah
pendekatan pembelajaran yang terfokus pada siswa, dimana strategi
pembelajaran siswa aktif, bisa mengungkapan gagasan, penemuan-penemuan
Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan
prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih
menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar
tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan
dengan

pembuatan

rumah,

strategi

membicarakan

tentang

berbagai

kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah
gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan
kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan
cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang
diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria

penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah
ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan
yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang
efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan
di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka
pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian
(penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan
sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat
memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses
(beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas,
maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan
mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan
kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan
muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang
tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
2.2 Macam-macam Metode Pembelajaran
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:

2.2.1. Metode Ceramah


Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas
bahan

pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan

pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh
Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan
metode

ceramah,

guru

dapat

mendorong

timbulnya

inspirasi

bagi

pendengarnya. Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah


cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah
cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan
belajar tersebut sukar didapatkan.

2.2.2. Metode Diskusi


Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta
atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling
mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan
kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi
merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).

Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode


ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep
dan

keterampilan

memecahkan

masalah.

Tetapi

dalam

transformasi

pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding


penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk
meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
2.2.3. Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran
yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses
bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode
10

pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang


luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh
kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara
membuat kue, dan sebagainya.

Kelebihan Metode Demonstrasi :

a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.

b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.

c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam


diri siswa.

Kelemahan Metode Demonstrasi :

a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.

b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.


c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang
menguasai apa yang didemonstrasikan.
2.2.4. Metode Ceramah Plus
Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang
menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang
dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah
plus, diantaranya yaitu:

a. Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas

11

b. Metode ceramah plus diskusi dan tugas


c. Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
2.2.5. Metode Resitasi
Metode Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode pengajaran dengan
mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.

Kelebihan Metode Resitasi adalah :

a. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari hasil belajar sendiri akan
dapat diingat lebih lama.

b. Peserta didik memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, inisiatif,


bertanggung jawab dan mandiri.

Kelemahan Metode Resitasi adalah :

a. Kadang kala peserta didik melakukan penipuan yakni peserta didik hanya
meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan
sendiri.

b. Kadang kala tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan


c. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.
2.2.6. Metode Eksperimental
Metode pembelajaran eksperimental adalah suatu cara pengelolaan
pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami
dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini siswa
diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan
mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan
dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.

12

2.2.7. Metode Study Tour (Karya wisata)


Metode study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar
dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas
pengetahuan

dan

selanjutnya

peserta

didik

membuat

laporan

dan

mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi


oleh pendidik.
2.2.8. Metode Latihan Keterampilan
Metode latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode
mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada
peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk
melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat
tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk
kebiasaan atau pola yang otomatis pada peserta didik.
2.2.9. Metode Pengajaran Beregu
Metode pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana
pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.
Biasanya

salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara

pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian


lisan maka setiap siswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan tim
pendidik tersebut.
2.2.10. Peer Theaching Method
Metode Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama teman,
yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
2.2.11. Metode Pemecahan Masalah (problem solving method)
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya
sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab
dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang
dimulaidengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berpikir
dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan

13

oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk


mencoba mengeluarkan pendapatnya.
2.2.12. Project Method
Project Method adalah metode perancangan adalah suatu metode
mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan
diteliti sebagai obyek kajian.
2.2.13. Taileren Method
Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan
sebagian-sebagian,misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan
ayat lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya.
2.2.14. Metode Global (ganze method)
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh
membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat
mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut.
2.2.15. Teknik Pembelajaran
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik
pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai
cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode
secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan
jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang
tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada
kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan
metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang
siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam
hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode
yang sama.

14

2.3 Macam macam Model Pembelajaran


Berikut ini akan dibahas beberapa model pembelajaran, antara lain: Model
Pembelajaran Langsung, Model Pembelajaran Kooperatif, Model Pengajaran
Berdasarkan Masalah, dan Model Pembelajaran Kontekstual.
2.3.1 Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Pembelajaran langsung merupakan suatu model pembelajaran
dimana kegiatannya terfokus pada aktivitas-aktivitas akademik sehingga di
dalam implementasi kegiatan pembelajaran guru melakukan kontrol yang
ketat terhadap kemajuan belajar siswa. Pendayagunaan waktu serta iklim
kelas yang dikontrol secara ketat pula.
Pembelajaran langsung pada umumnya dirancang secara khusus
untuk mengembangkan aktivitas belajar di pihak siswa berkaitan dengan
aspek

pengetahuan

prosedural

(pengetahuan

tentang

bagaimana

melaksanakan sesuatu) serta pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang


sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi) yang
terstruktur dengan baik yang dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Fokus utama dari pembelajaran ini adalah pelatihan -pelatihan yang
dapat diterapkan dari keadaan nyata yang sederhana sampai yang lebih
kompleks. Pengajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus menjamin
terjadinya keterlibatan siswa. Di sini guru menyampaikan isi akademik
dalam format yang terstruktur, mengarahkan kegiatan para siswa dan
menguji keterampilan siswa melalui latihan-latihan di bawah bimbingan
dan arahan guru. Jadi, lingkungannya harus diciptakan yang berorientasi
pada tugas- tugas yang diberikan pada siswa.
Ciri-ciri model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut:

a. Adanya tujuan pembelajaran


Pembelajaran langsung ini menekankan tujuan pembelajaran yang
harus berorientasi kepada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang

15

jelas tentang situasi penilaian dan mengandung tingkat ketercapaian


kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan).
b. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat
penting. Pembelajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi,
pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pembelajaran langsung
digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan
langsung oleh guru kepada siswa.

c. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung


Keberhasilan

metode

pembelajaran

langsung

memerlukan

lingkungan yang baik untuk presentasi dan demonstrasi, yakni ruangan


yang tenang dengan penerapan cukup, termasuk alat atau media yang
sesuai. Di samping itu, metode pembelajaran langsung juga bergantung
pada motivasi siswa yang memadai untuk mengamati kegiatan yang
dilakukan guru dan mendengarkan segala sesuatu yang dikatakannya. Pada
hakikatnya, pembelajaran langsung memerlukan kaidah yang mengatur
bagaimana siswa yang suka berbicara, prosedur untuk menjamin tempo
pembelajaran yang baik, strategi khusus untuk mengatur giliran
keterlibatan siswa, dan untuk menanggulangi tingkah laku siswa yang
menyimpang.
Kelebihan

dan

Kekurangan

Model

Pembelajaran

Langsung

Secara umum tiap-tiap model pembelajaran tentu terdapat


kelebihan-kelebihan yang membuat model pembelajaran tersebut lebih
baik digunakan dibanding dengan model pembelajaran yang lainnya.
Seperti halnya pada Model Direct Instruction atau model pembelajaran
langsung pun mempunyai beberapa kelebihan yaitu sebagai berikut:
(a) Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi
materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga
dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai
oleh siswa
(b) Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun
kecil
16

Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan


keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang
berprestasi rendah
(c) Model Pembelajaran Langsung menekankan pada kegiatan
mendengarkan (melalui ceramah) sehingga membantu siswa yang
cocok belajar dengan cara-cara ini. Dengan ceramah dapat
bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang
tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam
menyusun dan menafsirkan informasi, serta untuk menyampaikan
pengetahuan yang tidak tersedia secara langsung bagi siswa,
termasuk contoh-contoh yang relevan dan hasil-hasil penelitian
terkini.
(d) Model Pembelajaran Direct
demonstrasi)

dapat

Instruction

memberikan

(terutama

kegiatan

tantangan

untuk

mempertimbangkan kesenjangan antara teori dan observasi.


Dengan ini memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasilhasil

dari

suatu

tugas

dan

bukan

teknik-teknik

dalam

menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak


memiliki kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan
tugas tersebut
(e) Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap
berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara
efektif.
Selain memiliki kelebihan-kelebihan tersebut pembelajaran langsung juga
memiliki kekurangan-kekurangan diantaranya sebagai berikut:
a. Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi
perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat
pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan
siswa;
b. Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat
secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan
sosial dan interpersonal mereka;
c. Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan
strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru

17

tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan


terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya,
dan pembelajaran mereka akan terhambat;
d. Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya
komunikasi

guru.

Komunikator

menghasilkan

pembelajaran

yang

pembelajaran

langsung membatasi

yang

buruk

buruk

pula

kesempatan

cenderung
dan

model

guru untuk

menampilkan banyak perilaku komunikasi positif;


e. Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa,
siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya
akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.

Tabel 2.2.1. Sintaks Pembelajaran Langsung

No.
1.

Langkah-langkah
Menjelaskan
tujuan Guru
pembelajaran

latar

dan belakang pembelajaran, pentingnya pelajaran

mempersiapkan siswa

dan memotivasi siswa

Mendemonstrasikan

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan

pengetahuan
2.

Peran Guru
menjelaskan TPK, informasi

atau benar, atau memberi informasi tahap demi

keterampilan

tahap

Membimbing pelatihan
Guru merencanakan dan memberi bimbingan
pelatihan awal
3.
Menelaah pemahaman dan
memberikan umpan balik

Guru mengecek apakah siswa telah berhasil


melakukan tugas dengan baik dan memberikan

18

4.

umpan balik

kesempatan Guru mempersiapkan kesempatan melakukan


pelatihan
dan pelatihan lanjutan, khusus penerapan pada

Memberikan
untuk
penerapan

situasi kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

2.3.2 Model Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning )


Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu

model

pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap


siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang
berbeda beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif
mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk
menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar
akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman
dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Pembelajaran
kooperatif memiliki unsur unsur. Unsur-unsur pembelajaran kooperatif
tersebut adalah :

1. Saling Ketergantungan Positif


Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif
yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk
meraih hasil belajar yang optimal. Tiap siswa tergantung pada anggota
lainnya karena tiap siswa mendapat materi yang berbeda atau tugas yang
berbeda, oleh karena itu siswa satu dengan lainnya saling membutuhkan

19

karena jika ada siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas tersebut maka
tugas kelompoknya tidak dapat diselesaikan.

2. Tanggung Jawab Perseorangan


Pembelajaran

kooperatif

juga

ditujukan

untuk

mengetahui

penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil


penilaian individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada
kelompok

agar

semua

kelompok dapat mengetahui

siapa

anggota

kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang


dapat memberikan bantuan. Karena tiap siswa mendapat tugas yang
berbeda secara otomatis siswa tersebut harus mempunyai tanggung jawab
untuk mengerjakan tugas tersebut karena tugas setiap anggota kelompok
mempunyai tugas yang berbeda sesuai dengan kemampuannya yang
dimiliki setiap individu.

3. Interaksi Tatap Muka


Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat
saling bertatap muka sehingga mereka dapat melalukan dialog, tidak hanya
dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam ini
memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga
sumber belajar lebih bervariasi dan ini juga akan lebih memudahkan siswa
dalam belajar.

4. Komunikasi antar Anggota Kelompok


Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti
tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan
mengkritik teman, berani mempertahan pikiran logis, tidak mendominasi
orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam
menjalin hubungan antar pribadi sengaja diajarkan dalam pembelajaran
kooperatif ini. Unsur ini juga menghendaki agar para siswa dibekali
dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa
dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi,
20

karena tidak semua siswa mempuanyai keahlian mendengarkan dan


berbicara.

5. Evaluasi Proses Kelompok


Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Tabel 2.2. Sintaks Pembelajaran Kooperatif

No.
1.

Langkah-langkah
Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa

Peran Guru
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar

2.

Menyajikan informasi

dapat belajar dengan aktif dan kreatif


Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan

3.

Mengorganisasikan

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya

siswa dalam kelompok- membentuk kelompok belajar dan membantu setiap


kelompok
4.

5.

kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Membimbing kelompok Guru membimbing kelompok belajar pada saat


bekerja dan belajar

mereka mengerjakan tugas-tugas

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi


yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil
kerja masing-masing kelompok

Memberi penghargaan

Guru mencari cara cara untuk menghargai upaya


atau hasil belajar individu maupun kelompok

A. Pembelajaran Kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement


Division)
21

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu


tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan
dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran
menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan
pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa
seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh
siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka
tidak boleh saling membantu.
Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe STAD
adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan
keberhasilan kelompok tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap
anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan
interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam
menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
STAD terdiri dari beberapa tahapan dalam pelaksanaannya. Tahap
tahap tersebut terdiri dari :
1.

Langkah 1

Guru menyampaikan materi pembelajaran ke siswa secara


klasikal

2.

Langkah 2

Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (setiap


kelompok terdiri dari 4 6 siswa yang heterogen, baik dari
segi kemampuan, agama, jenis kelamin, atau lainnya).

3.

Langkah 3

Dilanjutkan diskusi kelompok untuk penguatan materi


(saling bantu membantu untuk memperdalam materi yang
sudah diberikan)

4.

Langkah 4

Guru

memberikan

tes

individual,

masing-

masing

mengerjakan tes tanpa boleh saling bantu membantu di


antara anggota kelompok.
5.

Langkah 5

Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan


perolehan nilai peningkatan individual dari skor dasar ke

22

skor kuis

B. Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw (Tim Ahli)


Pembelajaran

kooperatif

tipe

Jigsaw

adalah

suatu

tipe

pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu


kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar
dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada orang lain dalam
kelompoknya. Dalam teknik ini, siswa dapat bekerja sama dengan siswa
lainnya dan mempunyai tanggung jawab lebih dan mempunyai banyak
kesempatan pula untuk mengolah informasi yang di dapat dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi.
Model pembelajaran seperti ini harus dioptimalkan karena dapat
meningkatkan kemampuan kreatif siswa dan tentunya meningkatkan
prestasi siswa. Di samping itu, pembelajaran ini juga dapat meningkatkan
komunikasi siswa karena berani menyampaikan apa yang telah ia dapat
kepada kelompok lain maupun kelompok sendiri, sehingga siswa yang
kurang percaya diri untuk menyampaikan bisa di latih untuk lebih berani
dengan pembelajaran model ini. Disini, peran guru adalah memfasilitasi
dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami
materi yang diberikan.
Kunci tipe Jigsaw ini adalah kemandirian setiap siswa terhadap
anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para
siswa harus memiliki tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan
saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan
masalah yang diberikan.
Langkah langkah metode pembelajaran tipe Jigsaw ini adalah :
1. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (disebut dengan
kelompok asal, setiap kelompok terdiri dari 4 6 siswa dengan
kemampuan yang heterogen). Setiap anggota kelompok nantinya

23

diberi tugas untuk memilih dan mempelajari materi yang telah


disiapkan oleh guru.
2. Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan
pilihannya, mereka langsung membentuk kelompok ahli berdasarkan
materi yang dipilih
a)
3. Setelah setiap kelompok ahli mempelajari (berdiskusi) tentang
materinya masing-masing, setiap anggota dalam kelompok ahli
kembali lagi ke kelompok asal untuk menjelaskan/menularkan apaapa yang telah mereka pelajari/diskusikan di kelompok ahli.
4. Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai fasilitator, yaitu
memfasilitasi agar pelaksanaan kegiatan diskusi dalam kelompok ahli
maupun penularan dalam kelompok asal berjalan secara efektif dan
optimal.
5. Setelah masing-masing anggota dalam kelompok asal selesai
menyampaikan apa yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli,
guru memberikan soal/kuis pada seluruh siswa. Soal harus dikerjakan
secara individual. Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan
sebagai dasar pemberian nilai penghargaan untuk masing-masing
kelompok.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran tipe Jigsaw

Kelebihan:
a. Ruang lingkup dipenuhi ide ide yang bermanfaat dan
menarik untuk di diskusikan.
b. Meningkatkan rasa tanggung jawab

siswa terhadap

pemahaman pembelajaran materi untuk dirinya sendiri dan


orang lain.
c. Meningkatkan kerja sama secara kooperatif untuk mempelajari
materi yang di tugaskan.
d. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi
untuk pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan
mental dan emosional para siswa.

24

e. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam berpikir kritis dan


meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan suatu
masalah yang di hadapi.
f. Melatih keberanian dan tanggung jawab siswa untuk
mengajarkan materi yang telah ia dapat kepada anggota
kelompok lain.
Kelemahan:

a. Kondisi kelas yang cenderung ramai karena perpindahan siswa


dari kelompok satu ke kelompok lain.
b. Dirasa sulit meyakinkan untuk berdiskusi menyampaikan
materi pada teman jika tidak punya rasa percaya diri.
c. Kurang partisipasi beberapa siswa yang mungkin masih
bergantung pada teman lain, biasanya terjadi dalam kelompok
asal.
d. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan
cenderung mengontrol jalannya diskusi.
e. Awal penggunaan metode ini biasanya sulit di kendalikan,
biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang
agar berjalan dengan baik.
f. Aplikasi model pembelajaran ini pada kelas yang besar (lebih
dari 30 siswa) sangatlah sulit. Tapi bisa diatasi dengan model
team teaching.
C. Pembelajaran Kooperatif tipe Investigasi Kelompok ( Group
Investigation )
Pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) didasari
oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan yang menyimpulkan bahwa
kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium
untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji
masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Pada dasarnya model ini
dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah,
mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah itu, mengumpulkan data
yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis.

25

Tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI


adalah sebagai berikut:
a. Tahap Pengelompokan (Grouping)

Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta


mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4
sampai 5 orang. Pada tahap ini, yang pertama siswa mengamati
sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik
permasalahan kemudian siswa

bergabung

pada

kelompok-

kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau


menarik untuk diselidiki.
b. Tahap Perencanaan (Planning)

Tahap Planning atau

tahap

perencanaan

tugas-tugas

pembelajaran.
c. Tahap Penyelidikan (Investigation)

Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi


siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut :
pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan
membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan
yang

diselidiki, kemudian masing-masing

anggota

kelompok

memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, lalu siswa


saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide
dan pendapat.
d. Tahap Pengorganisasian (Organizing)

Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan


siswa sebagai berikut : pertama anggota kelompok menentukan
pesan-pesan

penting

dalam

proteknya

masing

masing,

kemudian anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka


laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, lalu wakil dari

26

masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam


presentasi investigasi.
e. Tahap Presentasi (Presenting)

Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan


pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut :
pertama, penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam
berbagai variasi bentuk penyajian, kelompok yang tidak sebagai
penyaji

terlibat

kemudian pendengar

secara

aktif

mengevaluasi,

sebagai

pendengar,

mengklarifikasi

dan

mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang


disajikan.
f. Tahap Evaluasi (Evaluating)

Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil


proyek siswa.
D. Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share ( TPS )
Think-Pair Share merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas
Maryland pada tahun 1985. Think Pair Share memberikan kepada
para siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama
lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian
pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya
guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara serius mengenai
apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Tahapan
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share adalah sebagai berikut :
a. Berpikir (Think) : Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang
terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk
memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.

27

b. Berpasangan (Pair) : Guru meminta para siswa untuk


berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah
dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan
jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau
penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah
diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau
5 menit untuk berpasangan.
c. Berbagi (Share) : Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan
pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan
kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka
bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru
berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain,
sehingga seperempat atau setengah dari pasangan pasangan
tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
2.3.3 Pengajaran Berdasarkan Masalah ( Problem Based Instruction )
Pengajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa
mengembangkan

kemampuan

berpikir,

pemecahan

masalah

dan

keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui


pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau stimulasi dan lain :
realistis sesuai kehidupan manusia, konsep sesuai dengan kebutuhan siswa,
memupuk sifat inkuiri siswa, retensi konsep menjadi kuat, memupuk
kemampuan memecahkan masalah. Keterbatasan model ini antara lain :

1. Persiapan pembelajaran kompleks

2. Sulit mencari problem yang relevan

3. Terjadi miss konsepsi

4. Memerlukan waktu yang lama


28

Kelebihan

Pengajaran

Berdasarkan

Masalah

dalam

pemanfaatannya adalah sebagai berikut:

1. Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif

2. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah

3. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar

4. Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi


baru

5. Dapat mendorong siswa / mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar


secara mandiri

6. Mendorong kreativitas siswa dalam pengungkapan penyelidikan


masalah yang telah ia lakukan

7. Dengan adanya pembelajaran berdasarkan masalah akan terjadi


pembelajaran bermakna.

8. Dalam situasi pembelajaran berdasarkan masalah, siswa/mahasiswa


mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan
mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.

9. PBM dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan


inisiatif siswa / mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk
belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam
bekerja kelompok.

29

Tabel 2.2.3 Tahapan Pengajaran Berdasarkan Masalah

Fase
1

Indikator
Orientasi
siswa Guru
kepada masalah

Kegiatan Guru
menjelaskan
tujuan

menjelaskan

logistik

pembelajaran,

yang

diperlukan,

memotivasi siswa terlibat aktif dan kreatif dalam


aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
2

Mengorganisasikan

Guru membantu siswa mendefinisikan dan

siswa untuk belajar

mengorganisasikan

tugas

belajar

yang

berhubungan dengan masalah tersebut


3

Membimbing

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan

penyelidikan

informasi

individual

sesuai

dan

melaksanakan

maupun eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan

kelompok
4

yang

pemecahan masalah

Mengembangkan dan Guru membantu siswa dalam merencanakan dan


menyajikan

hasil menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,

karya

video, dan model dan membantu mereka untuk


berbagi tugas dengan temannya

Menganalisis

dan Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi

mengevaluasi proses atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan


pemecahan masalah

proses-proses yang mereka gunakan

2.3.4 Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih
bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam
30

bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer


pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil.

Pembelajaran kontekstual memiliki 5 elemen belajar yang


konstrutivistik yaitu :
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada


Pemerolehan pengetahuan yang baru
Pemahaman pengetahuan
Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman
Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan
tersebut

Secara garis besar langkah langkah penerapan pembelajaran


kontekstual adalah sebagai berikut :
(1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.


Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
Menciptakan masyarakat belajar / belajar berkelompok
Menghasilkan model sebagai contoh pembelajaran
Melakukan refleksi di akhir pertemuan
Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

Komponen-komponen dari CTL (Contextual Teaching and


Learning) antara lain :
1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau


menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan
pengalaman.

Menurut

pengembang

filsafat

konstruktivisme

Mark

Baldawin dan diperdalam oleh Jean Piaget menganggap bahwa


pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari

31

kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang


diamatinya.

Landasan pembelajaran ini adalah bahwa siswa membangun


pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan

awal.

Pembelajaran

harus

dikemas

menjadi

proses

mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Oleh karena itu guru


harus memfasilitasi proses tersebut dengan :
Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
Memberi kesempatan siswa menemukan dan menetapkan idenya
sendiri
Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar
2. Menemukan (Inquiry)

Menemukan (Inquiry) adalah proses pembelajaran didasarkan


pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi
hasil dari proses menemukan sendiri. Dalam model inquiry dapat
dilakukan melalui beberapa langkah sistematis, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Merumuskan masalah.
Mengajukan hipotesis.
Mengumpulkan data.
Menguji hipotesis berdasarkan data yang dikumpulkan.
Membuat kesimpulan.

Langkah langkah kegiatan inquiri adalah sebagai berikut :


1. Merumuskan masalah
2. Mengamati atau melakukan observasi
3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,
laporan, bagan, tabel dan karya lainnya
4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada
pembaca, teman sekelas, guru maupun audiens yang lain
3. Bertanya (Questioning)
32

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab


pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan
setiap

individu.

Sedangkan

menjawab

pertanyaan

mencerminkan

kemampuan seseorang dalam berpikir.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna


untuk :

a. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan


b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

materi pelajaran.
Mengecek pemahaman siswa
Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar
Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang diinginkan.
Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sendiri.
Menggali pemahaman siswa.
Menyegarkan kembali pengetahuan siswa
Membangkitkan respon kepada siswa
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam CTL


menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan
orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik
dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang
terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing
dengan orang lain, antarteman atau antarkelompok; yang sudah tahu
memberi tahu kepada yang belum tahu atau yang pernah memiliki
pengalaman membagi pengalamannya kepada orang lain. Inilah hakikat
dari masyarakat belajar yaitu masyarakat yang saling berbagi.

5. Pemodelan (Modeling)

33

Yang dimaksud dengan modeling adalah proses pembelajaran


dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh
setiap siswa. Proses modeling tidak sebatas dari guru saja, akan tetapi
dapat

juga

memanfaatkan

siswa

yang

dianggap

memiliki

kemampuan. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam


pembelajaran CTL sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari
pembelajaran yang teoristis abstrak yang dapat memungkinkan
terjadinya verbalisme. Guru atau ahli lain dapat menjadi model bagi siswa
dalam belajar.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi (Reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru di


pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di
masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
pengalaman yang baru di terima. Melalui proses refleksi, pengalaman
belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada
akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses, sehingga refleksi
diperlukan pada akhir proses. Realisasinya adalah :

Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu


Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu

7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)

Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang


dilakukan

oleh

guru

untuk

mengumpulkan

informasi

tentang

perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini dilakukan


untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah
pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap
perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian yang
autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran.
34

Penilaian

ini

dilakukan

secara

terus-menerus

selama

kegiatan

pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada


proses belajar bukan kepada hasil belajar.

Karakteristik penilaian autentik :

Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran


Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
Yang diukur keterampilan dan performansi bukan mengingat fakta
Berkesinambungan
Terintegrasi

35

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan masalah yang kita bahas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Metode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
efektif dan efisien.
3.2 Saran
Seluruh aktivitas pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru
bermuara pada terjadinya proses belajar siswa. Dalam hal ini model-model
pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat
mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka
miliki secara optimal. Model-model pembelajaran dikembangkan utamanya
beranjak dari adanya perbedaan berkaitan dengan berbagai karakteristik siswa.
Karena siswa memiliki berbagai karakteristik kepribadian, kebiasaankebiasaan, modalitas belajar yang bervariasi antara individu satu dengan yang
lain, maka model pembelajaran guru juga harus selayaknya tidak terpaku hanya
pada model tertentu, akan tetapi harus bervariasi.

36

Daftar Pustaka

Budiningsih, C. Asri, DR. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:


Rineka Cipta
Ferdian, Adi. 2013. Modul Belajar dan Pembelajaran. Palangkaraya :
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
Makmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung :
Rosda Karya Remaja.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Grup
Supriawan, Dedi dan Surasega, A. Benyamin. 1990. Strategi Belajar
Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Sumiati dan Asra. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung : CV Wacana
Prima.
Trianto . 2007.

Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi

Kontruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka


Tim Dosen . 2015. Psikologi Pendidikan. Medan : Unimed Press
Winataputra, Udin S. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran
(http://smacepiring.wordpress.com/)

37