Anda di halaman 1dari 8

PARASITOLOGI

Fasciolata hepatica
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Parasitologi (Kelas A) dengan
Dosen Pengampu : Prof. DR. Shirly Kumala, M.Biomed., Apt.

Disusun oleh :

Lina Hidayanti Gulo


2011210133

Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila
2013

Trematoda
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun.
Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada
dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana
dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier untuk perkembangannya. Fase daur
hidup tersebut adalah sebagai berikut:
Telur---meracidium---sporocyst---redia---cercariametacercaria---cacing
dewasa.
Dimana fase daur hidup tersebut sedikit berbeda untuk setiap spesies cacing
trematoda.

Telur

meracidium

sporocyst

sporocyst

cercaria

dewasa(1)

redia

cercaria

metacercaria

dewasa
(2)

redia

cercaria

dewasa(3)

redia

cercaria

metacercaria
dewasa(4)

(1) Schistosoma
(2) Paragonimus
(3) Clonorchis
(4) Echinostoma
Menurut lokasi berparasitnya cacing trematoda dikelompokkan sbagai berikut:
1) Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
2) Trematoda paru: Paragonimus westermani
3) Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
4) Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.

Cacing Hati termasuk kedalam golongan Trematoda atau cacing hisap. Disebut
cacing hisap karena cacing ini memiliki alat pengisap. Alat pengisap terdapat pada mulut
di bagian anterior. Alat hisap (Sucker) ini untuk menempel pada tubuh inangnya berupa
ternak, dan jika hati ternak yang ada cacingnya ini kita makan maka kita akan kena
Fasciolasis.
Pada saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa cairan tubuh inangnya
atau jaringan tubuhnya . Trematoda kebanyakan merupakan hewan parasit karena berada
pada tubuh mahkluk hidup , merugikan karena mengambil bahan organik yang tersedia di
inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati, usus, paru-paru, ginjal,
pembuluh darah vertebrata , Ternak , ikan , Manusia,dll.
Trematoda berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan
tubuhnya dengan kutikula. Permukaan tubuhnya tidak memiliki silia. Contoh Trematoda
adalah cacing hati ( Fasciola hepatica ) di ternak , Chlonorsis sinensis di ikan.
Cacing hati ini memiliki daur hidup yang kompleks karena melibatkan sedikitnya
dua jenis inang, dua inang itu yaitu inang utama berupa ternak / ikan dan manusia dan
inang sebagai perantara siput air ( Lymnea truncatula ).
Daur hidup Cacing hati terdiri dari :
1. Fase seksual : di inang utama (saat cacing hati dewasa)
2. Fase aseksual : di inang perantara ( tubuh siput) dengan membelah diri yang terjadi
pada larva atau sering dikenal dengan istilah Paedogenesis Larvanya berubah 3 kali, 3
kali perubahan dan terjadi Paedogenesis di tubuh siput Lymnea yaitu berupa larva
Sporosis, Redia dan Cercaria . Urutan siklus daur hidup cacing hati adalah sebagai
berikut :
Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia - Cercaria - MetaCercaria -Metacercaria berekor
berenang ke tanaman sekitar air - dimakan Inang utama - masuk jadi Cacing Dewasa.
Kena pada manusia karena manusia memakan hati ternak yang terdapat cacing hatinya
dewasa yang belum mati ( karena hati dikonsumsi masih belum matang).

Fasciola hepatica
Cacing ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput
yang tercemar netacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia. Cacing ini termasuk
cacing daun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang dan 13 mm lebar.
Etiologi
Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan
jaringan hati dan darah.

Daur hidup

Di tubuh inang utama ternak , ikan , manusia Cacing dewasa hidup di hati bertelur
di usus - ikut faeces
buang air besar sembarangan di lingkungan
telur bersama faeces terbuang ke air
telur menetas jadi larva dengan cilia (rambut getar ) diseluruh permukaan
tubuhnya membentuk larva Mirasidium yang kemudian berenang mencari siput
Lymnea Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar
(Lymnea truncatula)
Mirasidium setelah berada di siput berubah menjadi Sporosis (menetap dalam
tubuh siput selama 2 minggu).
Larva larva itu punya kemampuan reproduksi secara asexual dengan cara
Paedogenesis didalam tubuh siput sehinga terbentuk banyak larva ,
larva sporosis melakukan paedogenesis menjadi beberapa redia
larva Redia melakukan paedogenesis menjadi Serkaria
Larva serkaria kemudian berekor menjadi metacercaria dan segera keluar dari
siput berenang mencari tanaman yang ada di pinggir perairan misalnya rumput .
Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel
pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya
Apabila rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus
dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di
sana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini
terulang lagi.

Beberapa jenis cacing hati yang dapat menginfeksi manusia antara lain sebagai
berikut :

Opisthorchis sinensis ( Cacing hati cina ) cacing dewasa hidup pada organ hati
manusia. Inang perantaranya adalah siput air dan ikan.
Schistosoma japonicum, Cacing ini hidup di dalam pembuluh darah pada saluran
pencernaan manusia.
Oncomelania hupensis, Cacing ini menyebabkan penyakit skistosomiasis dengan ciri
demam, anemia, disentri,berat badan turun, dan pembengkakan hati.
Paragonimus westermani, Cacing ini hidup dalam paru-paru manusia. Inang
perantaranya adalah udang air tawar.

Patologi
Cacing dalam saluran empedu menyebabkan peradangan sehingga merangsang
terbentuknya jaringan fibrosa pada dinding saluran empedu. Penebalan saluran empedu
menyebabkan cairan empedu mengalir tidak lancar. Disamping itu pengaruh cacing
dalam hati menyebabkan kerusakan parenchym hati dan mengakibatkan sirosis hepatis.
Hambatan cairan empedu keluar dari saluran empedu menyebabkan ichterus. Bila
penyakit bertambah parah akan menyebabkan tidak berfungsinya hati.
Ternak Rentan
Ternak yang rentan terhadap Fasciolosis adalah sapi, kerbau, kambing dan
ruminansia lain. Ternak berumur muda lebih rentan daripada ternak dewasa.
Gejala Klinis
Pada Sapi penderita akan mengalami gangguan pencernaan berupa konstipasi atau
sulit defekasi dengan tinja yang kering. Pada keadaan infeksi yang berat sering kali
terjadi mencret, ternak terhambat pertumbuhannya dan terjadi penurunan produktivitas.
Pada Domba dan kambing, infeksi bersifat akut, menyebabkan kematian
mendadak dengan darah keluar dari hidung dan anus seperti pada penyakit anthrax. Pada
infeksi yang bersifat kronis, gejala yang terlihat antara lain ternak malas, tidak gesit,
napsu makan menurun, selaput lendir pucat, terjadi busung (edema) di antara rahang
bawah yang disebut bottle jaw, bulu kering dan rontok, perut membesar dan terasa
sakit serta ternak kurus dan lemah.

Kelainan Pasca Mati


Pada kasus akut akan ditemukan pembendungan dan pembengkakan pada hati,
terdapat ptechie pada permukaan maupun sayatan hati, kantong empedu dan usus
mengandung darah.
Pada kasus kronis, terlihat saluran empedu menebal dindingnya, mengandung
parasit dan seringkali batu, disamping itu ditemukan pula anemia, kekurusan dan hati
mengeras (sirosis hati).
Diagnosis
Diagnosis didasarkan pada gejala klinis, identifikasi telur cacing di bawah
mikroskopdan pemeriksaan pasma mati dari ternak yang mati.
Pencegahan
Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain memberantas siput secara
biologik, misalnya dengan pemeliharaan itik/bebek, ternak jangan digembalakan di dekat
selokan (genangan air) dan rumput jangan diambil dari daerah sekitar selokan.
Pengobatan
Pengobatan secara efektif dapat dilakukan dengan pemberian per oral Valbazen
yang mengandung albendazole, dosis pemberian sebesar 10 - 20 mg/kg berat badan,
namun perlu perhatian bahwa obat ini dilarang digunakan pada 1/3 pertama kebuntingan,
karena menyebabkan abortus. Fenbendazole 10 mg/kg berat badanatau lebih aman pada
ternak bunting. Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif Nitroxinil dirasakan
cukup efektif juga untuk trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah 0,4 ml/kg berat
badan dan diberikan secara subkutan.Pengobatan dilakukan tiga kali setahun.
Diagnosis Banding
Penyakit Anthrax sering kali mirip dengan haemonchosis. Diagnosis terhadap
Anthrax diteguhkan jika terlihat perdarahan dari hidung dan anus pada infeksi akut
kambing dan domba. Pada Haemonchosis, diagnosis didasarkan pada terlihatnya gejala
bottle Jaw.

Daftar Pustaka
1. http://biologigonz.blogspot.com/2010/03/cacing-hati-fasciola-hepatica.html
(diakses 10 Juni 2013 pkl. 20.12 WIB)
2. http://makeyousmarter.blogspot.com/2012/03/cacing-hati-fasciola-hepatica-makeyou.html (diakses 10 Juni 2013 pkl. 20.16 WIB)
3. http://fkunand2010.files.wordpress.com/2011/11/trematoda-hati.ppt
(diakses 10 Juni 2013 pkl. 20.22 WIB)
4. http://imbang.staff.umm.ac.id/files/2010/03/PENYAKIT-PARASIT-PADARUMINANSIA.doc (diakses 10 Juni 2013 pkl. 20.28 WIB)