Anda di halaman 1dari 12

Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang terjadi karena

perapatan dan perenggangan dalam medium gas, cair, atau padat. Gelombang itu
dihasilkan ketika sebuah benda, seperti garpu tala atau senar biola, yang
digetarkan dan menyebabkan gangguan kerapatan medium.
1. Laju Gelombang Bunyi
Laju gelombang bunyi, seperti laju gelombang pada tali, juga bergantung
pada sifat medium. Untuk gelombang bunyi dalam fluida seperti udara
atau air, laju v diberikan oleh:
B
v=

Dengan

adalah rapat kesetimbangan medium dan B adalah modulus

limbak (bulk modulus). Untuk gelombang bunyi pada suatu batang padat
dan panjang, modulus limbak digantikan oleh modulus Young Y.
v=

Untuk gelombang bunyi dalam gas seperti udara, modulus limbak


berbanding lurus dengan tekanan, yang dengan sendirinya sebanding
dengan kerapatan

dan temperature mutlak T. Rasio B /

dengan

demikian tak bergantung pada volume maupun pada tekanan, dan hanya
sebanding dengan temperatur mutlak T. Untuk gelombang bunyi dalam
gas:
v=

RT
M

Dalam persamaan ini, T merupakan temperatur mutlak yang diukur dalam


kelvin (K), yang dihubungkan dengan temperatur Celcius tC oleh
T = tC + 273

Konstanta R adalah konstanta gas universal, yang mempunyai nilai


R = 8,314 J/mol.K
Konstanta M adalah massa molar gas (yaitu, massa 1 mol gas), untuk
udara bernilai
M = 29 x 10-3 kg/mol
Dan

merupakan konstanta yang bergantung pada jenis gas, dan untuk

udara mempunyai nilai 1,4.


2. Gelombang Bunyi Harmonik
Gelombang bunyi harmonik dapat di bangkitkan oleh suatu sumber yang
bergetar dengan gerak harmonik sederhana, seperti garpu tala, atau
pengeras suara yang digerakkan oleh osilator audio. Sumber yang bergetar
menyebabkan molekul-molekul udara didekatnya berisolasi dengan gerak
harmonik sederhana di sekitar posisi kesetimbangannya. Molekul ini
bertumbukan

dengan

molekul-molekul

tetangganya,

sehingga

menyebabkan molekul-molekul itu berisolasi. Dengan cara demikian


gelombang bunyi dijalarkan simpangan moleku s(x, t) untuk gelombang
harmonik dapat ditulis :
s(x, t) = s0 sin (kx - t)
dengan s0 adalah simpangan maksimum molekul gas dari posisi
kesetimbangannya, dan k merupakan bilangan gelombang
2
k=

dan adalah frekuensi sudut.


2
=2 f =
T
Sebagaimana semua gelombang harmonik, laju gelombang sama dengan
frekuensi kali panjang gelombang

v =f=

Simpangan dari kesetimbangan yang diberikan oleh persamaan diatas


sejajar dengan arah gerak gelombang, yang artinya bunyi merupakan
gelombang longitudinal. Simpangan ini menyebabkan variasi kerapatan
udara dan tekanan udara.
Ketika simpangan nol, perubahan tekanan dan kerapatan bernilai
maksimum atau minimum. Bila simpangan bernilai maksimum atau
minimum perubahan tekanan dan kerapatan sama dengan nol. Kita akan
melihat bahwa gelombang simpangan akan menyiratkan gelombang
tekanan yang diberikan oleh :

p= p0 sin( kxt )
2
Dengan p menyatakan perubahan tekanan dari tekanan kesetimbangan dan
p 0 adalah nilai maksimum perubahan ini. Kita akan melihat bahwa
amplitudo tekanan maksimum p 0 dihubungkan ke amplitudo pergeseran
maksimum s0 oleh :
p0= v s

dengan v adalah laju penjalaran dan

adalah kerapatan kesetimbangan

gas.
Ketika gelombang bunyi bergerak seiring waktu, simpangan molekul
udara, kerapatan, dan tekanan pada satu titik semuanya berubah secara
sinusoidal dengan frekuensi f, yang sama dengan frekuensi sumber yang
bergetar.
3. Intensitas Gelombang Bunyi
Pengertian Intensitas bunyi yaitu energi bunyi yang tiap detik (daya bunyi)
yang menembus bidang setiap satuan luas permukaan secara tegak lurus.
Besamya energi gelombang yang melewati suatu permukaan disebut

dengan intensitas gelombang. Intensitas gelombang, 0 didefinisikan


sebagai jumlah energi gelombang per satuan waktu (daya) per satuan luas
yang tegak lurus terhadap arah rambat gelombang. Hubungan antara daya,
luas, dan intensitas memenuhi persamaan
P
I=
A
'
Dengan:
P = daya gelombang per satuan waktu (Watt)
A = luas bidang (m2)
I = intensitas gelombang (W/m2)
Jika sumber gelombang berupa sebuah titik yang memancarkan
gelombang serba sama ke segala arah dan dalam medium homogen, luas
bidang yang sama akan memiliki intensitas gelombang sama. Intensitas
gelombang pada bidang permukaan bola yang memiliki jari-jari r
memenuhi persamaan berikut.
P
I=
4 r2
Dari persamaan diatas, dapat dilihat bahwa jika gelombang berupa bunyi,
intensitas bunyi berbanding terbalik dengan kuadrat jarak sumber bunyi
tersebut ke bidang pendengaran. Batas intensitas bunyi yang bisa didengar
telinga manusia normal antara lain sebagai berikut:
1) Intensitas terkecil yang masih dapat menimbulkan rangsangan
pendengaran pada telinga manusia adalah sebesar 10-12Wm-2 pada
frekuensi 1.000 Hz dan disebut Intensitas Ambang Pendengaran.
2) Intensitas terbesar yang masih dapat diterima telinga manusia tanpa
rasa sakit adalah sebesar 1 W/m 2. Jadi, batasan pendengaran terendah
pada manusia adalah 10 -12 W/m2 dan batasan pendengaran tertinggi
pada manusia adalah 1 W/m2.

Kenyaringan dan Tingkat Intensitas


Karena rentang intensitas yang dapat ditangkap telinga demikian luas dan
karena rangsangan psikologis kenyaringan tidak berubah-ubah secara
langsung terhadap intensitas, tetapi lebih mendekati logaritmik, maka
suatu skala logaritmik digunakan untuk menyatakan tingkat intensitas

gelombang bunyi. Tingkat intensitas

yang diukur dalam decibel

(dB)
didefinisikan oleh:
I
I0

=10 log

Dengan I adalah intensitas bunyi dan I 0 adalah intensitas acuan, yang akan
kita ambil sebagai ambang pendengaran:
I0 = 10-12 W/m2
Pada skala ini, ambang pendengaran adalah
=10 log

I0
I0

= 0 dB

Dan ambang sakit adalah


=10 log

1
=10 log 1012=120 dB
12
10

Jadi, rentang intensitas bunyi dari 10 -12 W/m2 hingga 1 W/m2 bersesuaian
dengan rentang intensitas dari 0 dB hingga 120 dB.
4. Interferensi Gelombang Bunyi

Interferensi gelombang bunyi merupakan sumber bunyi koheren. Dua


pengeras suara yang dihubungkan pada generator sinyal (alat pembangkit
frekuensi radio) dapat berfungsi sebagai dua sumber bunyi koheren.
Misalnya : Ketika anda berjalan sejajar dengan meja yang diatasnya
terdapat radio di lengkapi dengan pengeras suara pada jarak 3 m, pada
posisi tertentu anda mendengar bunyi paling lemah, sedangkan pada posisi
yang lain anda justru mendengar bunyi yang kuat. Peristiwa ini disebabkan
oleh terjadinya interferensi bunyi.
Bunyi kuat s = n; n = 0, 1, 2, 3, . . .
n = 0, n = 1, dan n = 2, berturut-turut untuk bunyi kuat pertama, bunyi kuat
kedua, dan bunyi kuat ketiga.
Bunyi lemah terjadi ketika superposisi kedua gelombang bunyi kuat
pertama, bunyi kuat kedua, dan bunyi kuat ketiga. Interferensi destruktif
jika kedua gelombang yang bertemu pada suatu titik adalah berlawanan
fase atau memiliki beda lintasan,

Bunyi lemah s =

n+

1
2 ) ; n = 0, 1, 2, 3, . . .

n = 0, n = 1, n = 2, berturut-turut untuk bunyi kuat pertama, bunyi kuat


kedua, dan bunyi kuat ketiga.
5. Keras dan Frekuensi Suara
Setiap gelombang bunyi memiliki karakteristik berdasarkan amlitudo dan
frekuensinya. Frekuensi sendiri merupakan banyaknya satu periode
gelombang dalam satu waktu tertentu. Frekuensi ini dinyatakan dalam
satuan Hertz (Hz). Sedangkan amplitudo merupakan jarak antara nilai
tertinggi dan nilai terendah dalam satu periode gelombang. Amplitudo
gelombang suara ini dinyatakan dalam satuan desibel (dB). Nah, dalam
gelombang suara, tinggi rendahnya frekuensi berpengaruh pada tinggi
rendahnya suara.

Bunyi itu adalah bentuk energi yang selalu merambat ke segala arah yang
berguna sebagai gelombang longitudinal. Bunyi itu hanya bisa merambat
apabila di dalam ruang ada medium atau zat yang dapat menghantarkan
bunyi. Bunyi itu akan dapat kita dengar apabila ada sumber bunyi,
medium atau perantara untuk merambat, serta objek untuk
mendengarkan/yang digunakan untuk dapat menangkap isyarat bunyi
tersebut.
a. Frekuensi Bunyi
Telah disebutkan bahwa frekuensi sendiri merupakan banyaknya gelombang
dalam satu waktu. Tinggi-rendahnya nada tergantung pada suatu nilai frekuensi.
Semakin tinggi frekuensi maka nada yang dihasilkan akan semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin rendah frekuensi maka nada yang dihasilkan akan semakin
rendah. Tinggi-rendahnya nada itu dihasilkan oleh senar Berdasarkan frekuensi,
bunyi dibagi ke dalam beberapa klasifikasi. Diantaranya.
Infrasonik, yaitu bunyi yang punya frekuensi kurang dari 20 Hz. Bunyi
infrasonik ini tidak dapat didengar oleh manusia, karena mungkin terlalu kecil jadi
sulit di dengar oleh kita dan yang bisa mendengar ini Cuma beberapa hewan saja,
seperti anjing dan jangkrik.
Audiosonik, yaitu bunyi yang punya frekuensi antara 20 Hz-20.000 Hz.
Bunyi audiosonik adalah gelombang bunyi yang dapat didengar oleh telinga kita
yaitu manusia.
Ultrasonik, yaitu bunyi yang punya frekuensi lebih dari 20.000 Hz. Bunyi
ini tidak dapat didengar oleh telinga manusia karena terlalu besar kalu kita bisa
dengar, kuping kita akan merasa sakit, dan bunyi ini dapat didengar
oleh beberapa hewan saja, seperti lumba-lumba dan kelelawar. Bunyi ultrasonik
ini juga sering digunakan oleh manusia pada aplikasi radar untuk mendeteksi
kedalaman laut dan objek tertentu, serta dapat digunakan untuk mengukur panjang
gua dan ketebalan logam di industri.

Selain itu, frekuensi erat juga dengan peristiwa terjadinya resonansi.


Dimana resonansi itu adalah peristiwa bergetamya pada suatu benda yang terjadi
karena pengaruh getaran benda lain. Dan Syarat terjadinya adanya resonansi itu
adalah memiliki frekuensi alamiah yang sama dengan frekuensi sumber getaran.
Berikut ini adalah Beberapa alat musik menggunakan prinsip resonansi dalam
cara kerjanya, seperti gamelan, kendang, gitar, harmonika, seruling, dan biota.

6. Efek Doppler
Efek Doppler adalah efek di mana seorang pengamat merasakan
perubahan frekuensi dari suara yang didengarnya manakala ia bergerak relatif
terhadap sumber suara. Efek ini ditemukan oleh seorang ahli fisika Austria
Chistian Doppler pada tahun 1842. Untuk menghormati penemuan tersebut maka
efek ini disebut efek Doppler.
Efek Doppler yang dirasakan oleh seorang pengamat adalah tatkala ia
merasakan frekuensi bunyi yang lebih tinggi dari frekuensi sumber bunyi itu
sendiri manakala ia dan/atau sumber bunyi bergerak relatif saling mendekati, dan
merasakan frekuensi bunyi yang lebih rendah manakala ia dan sumber bunyi
bergerak relatif saling menjauhi.
Sebagai Contoh, mobil polisi yang dalam keadaan diam memancarkan
gelombang bunyi sirine dengan frekuensi yang sama ke semua arah. Perhatikan
jarak muka-muka gelombang suara yang sama ke segala arah. Pengamat yang
diam akan merasakan frekuensi gelombang yang sama dengan yang dipancarkan
dari mobil polisi. Sekarang perhatikan saat mobil bergerak ke kanan. Mula-mula
gelombang suara di depan mobil lebih rapat daripada muka-muka gelombang di
belakang mobil. Alhasil, pengamat yang ada di depan mobil (saat mobil
mendekat) akan merasakan frekuensi gelombang yang lebih besar bila
dibandingkan frekuensi asli dari sumber bunyi. Saat berada di belakang mobil

(mobil menjauh), pengamat merasakan frekuensi gelombang yang lebih kecil dari
frekuensi asli sumber bunyi.
Efek Doppler Tidak Dipengaruhi Oleh Angin
Rumus:

di mana
= frekuensi pengamat (reaciver).
= frekuensi sumber.
= kecepatan Rambat gelombang.
= kecepatan sumber gelombang (+) sumber mendekati pengamat, (-)
sumber menjauhi pengamat.
= kecepatan pengamat (+) sumber mendekati pengamat, (-) sumber
menjauhi pengamat.

Efek Doppler Dipengaruhi Oleh Angin


Rumus:

di mana
= frekuensi pengamat (reaciver).
= frekuensi sumber.
= kecepatan Rambat gelombang.

= kecepatan sumber gelombang, (+) sumber mendekati pengamat, (-)


sumber menjauhi pengamat.
= kecepatan pengamat (+) sumber mendekati pengamat, (-) sumber
menjauhi pengamat.

= kecepatan angin; (+) jika arah angin dari sumber ke pendengar, (-)
jika arah angin dari pendengar ke sumber.

7. Perekaman Suara Digital dan Suara File

Proses perekaman digital dapat digunakan secara langsung di komputer.


Selain itu, file suara digital dapat disalin dalam jumlah yang banyak tanpa
mengalami penurunan kualitas. File suara digital juga dapat dikirim melalui
internet atau dengan menggunakan Audio CD. Selain itu file suara digital dapat
diedit dengan mudah dibandingkan dengan file suara analog.
Peralatan utama yang digunakan untuk perekaman digital adalah Analogto-Digital Converter atau disingkat ADC. Ketika merekam, ADC menangkap nilai
voltase atau amplitudo sinyal audio listrik dari jalur audio, kemudian
mengubahnya menjadi nomor-nomor biner yang selanjutnya kemudian disimpan
ke komputer. Dengan melakukan penangkapan nilai tegangan secara cepat seperti
ini, kita dapat memprediksi bahwa kualitas file audio yang dihasilkan oleh
perekaman suara digital akan lebih tinggi dibandingkan dengan perekaman suara
analog.
Dalam proses perekaman suara secara digital, ada 2 hal yang menentukan kualitas
dari format sebuah file audio digital, yaitu :

Sample Rate, yaitu tingkatan dimana sample ditangkap atau dimainkan.


Satuannya adalah Hertzatau Sample per Second. Sebuah audio CD
memiliki sample rate 44.100 Hz atau biasa disebut 44 KHz. Format ini
merupakan yang paling banyak digunakan termasuk pada audio CD
mengingat keunggulannya dibandingkan dengan format lainnya.

Sample Format atau sample size, yaitu jumlah angka pada saat
representasi digital dari setiap sampel. Analoginya, sample rate merupakan
sebuah tingkat keakuratan horisontal dari bentuk gelombang digital,

sedangkan sample format merupakan ketelitian sisi vertikalnya. Sample


sizedinyatakan dalam jumlah bit, semakin banyak jumlah bit maka
semakin presisi representasi amplitudo sebuah sinyal digital dan akan
semakin mendekati bentuk sinyal analog aslinya. Pada CD Audio memiliki
jumlah bit atau tingkat kepresisian 16 bit, atau sekitar 5 digit desimal.
Sampling rate yang lebih tinggi memungkinkan dapat dilakukannya
perekaman pada frekuensi audio yang lebih tinggi. Nilai ideal dari sampling rate
adalah minimal 2 kali dari frekuensi terbesar suara yang akan direkam
(disampling). Frekuensi sampling yang lazim digunakan adalah 44.100 Hz, hal itu
mengacu pada frekuensi tertinggi yang dapat didengar oleh telinga manusia yaitu
20.000 Hz. Meskipun sekarang mulai banyak digunakan sampling rate 96 KHz
dan 192 KHz pada perekaman DVD, namun sekilas kita tidak akan dapat
membedakannya dengan perekaman audio dengan sample rate 44.100 Hz.
Sedangkan pada sample size, semakin tinggi sample size yang digunakan,
maka jangkauan dinamis dari suara akan semakin lebar dengan output pada suara
keras akan terdengar lebih keras dan suara lembut terdengar semakin lembut.
Secara teori, jangkauan suara dinamis dari Audio CD adalah sekitar 90 dB. Dari
gambar di atas terlihat sekali bahwa pada hasil sampling sinyal audio akan lebih
bagus hasilnya (menghasilkan sample lebih banyak) pada frekuensi yang lebih
rendah.
Dalam proses perekaman sinyal audio suara secara digital, pada frekuensi
audio lebih rendah, jumlah sample lebih sedikit dan ini akan berakibat pada
kualitas keluaran ADC. Sedangkan pada sample size (gambar bawah), jumlah bit
pada perangkat berpengaruh pada hasil representasi sinyal keluaran. Idealnya,
semakin tinggi jumlah bit maka semakin bagus hasil representasi sinyal nya,
namun pembatasan jumlah bit pada representasi sinyal ini dapat dikompensasi
dengan adanya filter sinyal audio untuk mengembalikan pada bentuk sinyal
aslinya (analog).

Daftar Pustaka

Proses Perekaman Suara Digital http://jovins.wordpress.com (17/03/2015 :14.36 WIB)


Proses Perekaman Digital | Indra Cyntia http://blogs.itb.ac.id (17/03/2015 :14.24 WIB)
http://oprekzone.com (17/03/2015 :14.26 WIB)
frekuensi pada bunyi http://Klikbelajar.com (17/03/2015 :14.29 WIB)
Dibalik Suara yang Kita Dengar http://sains.me (17/03/2015 :14.29 WIB)