Anda di halaman 1dari 15

MIRINGITIS BULLOSA

PENDAHULUAN
Membran timpani yang tipis dan rapuh merupakan komponen awal pada system
konduksi telinga tengah.Membran timpani mudah mengulami kerusakan,dan semua
penyakit yang menyerang membrane timpani akan mengganggu kemampuan bekerja
dan mengurangi kenikmatan hidup pasien.1,5Miringitis atau inflamasi pada membran
timpani merupakan salah satu jenis kelainan yang dapat mengakibatkan gangguan
pendengaran dan menimbulkan sensasi kongesti serta nyeri telinga. Setelah tiga
minggu,suatu miringitis akut akan menjadi subakut,dan apabila tidak tertangani hingga
tiga bulan,maka kita sudah dapat mengkatagorikannya sebagai suatu kasus kronik.
Miringitis bullosa adalah infeksi virus yang nyeri pada membrane timpani dan
ditandai oleh satu atau beberapa vesikel serosa atau hemoragik atau gelembung.
Pengobatannya berupa pemberian analgetik. Pemecahan vesikel sebaiknya dihindari
untuk mencegah infeksi sekunder. Namun, Pemecahan superfisial dapat dilakukan
apabila nyeri terasa sangat hebat. Penyakit ini harus dibedakan dari herpes zoster otikus
(syndrome ramsay hunt), infeksi nyeri lainnya yang ditandai oleh vesikel pada gendang
telinga dan liang telinga.Syndrom ramsay hunt adalah infeksi virus pada nervus VII dan
VIII yang mungkin bermanifestasi sebagai paralisi fasialis, kehilangan pendengaran,dan
vertigo. Nervus lainnya juga dapat terkena.1,5

DEFINISI
Meringitis bulosa merupakan suatu keadaan nyeri akut pada telinga yang
disebabkan oleh pembentukan bula pada membrane timpani. 1 Adapun referensi lain
menyebutkan bahwa miringitis bullosa adalah bentuk peradangan dari virus yang jarang
dalam telinga yang menyertai selesma dan influenza.2

INSIDENS
Diamerika serikat, sekitar 8% terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 12 tahun
dengan otitis media akut. Morbiditas dari miringitis berkolaborasi dengan morbiditas
1

pada kasus otitis media,otitis eksternal dan benda asing ditelinga. Data distribusi rasial
penyakit membrane timpani belum dikumpulkan.Untuk penyakit membrane timpani,pria
dan wanita mempunyai frekuensi yang sama. Dimana dapat juga mengenai semua
kelompok umur.1
ANATOMI
Secara normal telinga dibagi menjadi 3 bagian,yaitu telinga luar,telinga tengah
dan telinga dalam.

Gambar 1. Anatomi telinga potongan coronal


Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari pinna atau daun telinga (aurikula), lubang telinga, dan
saluran telinga luar atau liang telinga (meatus akustikus eksterna) sampai gendang
telinga (membran timpani). Aurikula terdiri dari kulit dan tulang rawan elastin yang
dilindungi oleh perikondrium dan kulit. Meatus akustikus eksternus (MAE) berbentuk
huruf S dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan pada dua
pertiga bagian dalam terdiri dari tulang. Bentuk rawan ini unik, oleh karena itu dalam
merawat trauma telinga luar, harus diusahakan untuk mempertahankan bangunan ini.
Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. meatus akustikus eksternus pada anak lebih pendek dan
lurus sehingga membran timpani lebih mudah diperiksa tanpa menggunakan speculum.
Aurikula berfungsi untuk membantu mengarahkan suara ke dalam meatus akustikus
eksternus dan akhirnya menuju ke membran timpani. Struktur yang begitu kompleks
pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara.4,5,6,7
2

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar yang
menghasilkan zat seperti lilin yang disebut serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan
juga terdapat rambut. Hanya bagian saluran yang memproduksi sedikit serumen yang
memiliki rambut. Pada ujung saluran terdapat gendang telinga yang meneruskan suara
ke telinga dalam. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua
pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.5,6,7

Membrana Timpani

Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut
dengan puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Dari umbo kemuka bawah tampak
refleks cahaya (cone of light). Membran timpani umumnya bulat. Penting untuk disadari
bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus
maleus dan inkus, meluas melampaui batas atas membran timpani dan bahwa ada bagian
hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah dari membran timpani. Membran
timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis bagian luar, lapisan fibrosa di bagian
tengah dimana tempat melekatnya tangkai maleus, dan lapisan mukosa bagian dalam.
Lapisan fibrosa tidak terdapat diatas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan
bagian membran timpani yang disebut membran Shrapnell menjadi lemas (flaksid) yang
disebut juga membran schrapnell.4,7,8

Gambar 2. Anatomi membran timpani


Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang vertikal
rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm, ketebalannya rata3

rata 0,1 mm. Permukaan bagian luarnya berbentuk sedikit konkaf. Pinggir membran
ini menebal dan melekat pada sebuah alur yang terletak pada sebuah tulang berbentuk
cincin tak sempurna, annulus timpani, yang hampir melingkari semua bagiannya dan
menahan membran timpani agar tetap terfiksir pada tempatnya.

Letak membran

timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari
belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut 45 dari dataran sagital dan
horizontal.1,7,8

Gambar 3. Membran Timpani normal, telinga kanan


Secara anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian, yaitu:
1.

Pars tensa, merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang

tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada annulus fibrosus pada sulkus
timpanikus bagian tulang dari tulang temporal. Membran timpani pars tensa mempunyai
tiga lapisan yaitu:
-

Lapisan epitel :

berasal dari liang telinga

Lapisan propria

: yang letaknya antara stratum kutaneum dan mukosum

Lapisan mukosa

berasal dari kavum timpani

Lamina propria terdiri dari dua lapisan anyaman penyambung elastis yaitu:
-

Bagian dalam sirkuler


4

2.

Bagian luar radier


Pars flasida (lemah) atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih

tipis dari pars tensa, dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu:
-

Plika maleolaris anterior (lipatan muka)

Plika maleolaris posterior (lipatan belakang)

Gambar 4. Bagian dari telinga tengah yang terdiri dari epi-, meso- ,dan
hipotimpanum.
Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang dinamakan sulkus
timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus ini dan bagian ini disebut
incisura timpanika (Rivini).Gendang telinga atau membran timpani adalah selaput atau
membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. Ia berfungsi untuk
menghantarkan getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga
tengah. Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. Tuli
konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran
suara.4,7,8

Fungsi fisiologis dari membrane timpani adalah terlihat pada proses konduksi
suara yang dihantarkan oleh membrane timpani akan dikonduksikan melalui suatu
system pertulangan telinga tengah. Permukaan membrane timpani yang 25 kalilebih
besar dari dasar landasan tulang stapes ,dapat menimbulkan amplifikasi suara hingga
5

mencapai 40 db atau 27 kali lebih tinggi dari volume lingkungan.Pada saat yang
sama,membrane timpani membentuk suatu pelindung dengan jendela labirin yang
melingkar untuk melawan suara langsung. Jendela ini sangat penting untuk pergerakan
cairan dalam choclea , yang merupakan komponen penting dalam proses penghantaran
suara menuju reseptor akustik pada organ corti . Sebagai tambahan, membrane timpani
juga berfungsi untuk melindungi struktur lunak pada telinga.

Gambar 5. Getaran suara dihantarkan oleh gendang telinga dan rangkaian tulang
pendengaran
INNERVASI DAN VASKULARISASI
Persarafan membran timpani terdiri dari 3 nervus cranial yaitu n. trigeminus, n.
glossopharingeus, dan n. vagus. Permukaan luar dari membran timpani dipersarafi oleh
cabang n. aurikulo temporalis dari nervus mandibula dan nervus vagus. Permukaan
dalam dipersarafi oleh n. timpani cabang dari nervus glossofaringeal. Aurikulotemporal
cabang dari nervus trigeminal dan aurikular cabang dari nervus vagus (Nervus Arnold)
mempersarafi

bagian

lateral

dari

membran

timpani.

Cabang

dari

nervus

glossopharingeus (Nervus Jacobson) memberikan persarafan pada bagian medial dari


membran timpani dan mesotimpanum. Adapun referensi lain menyatakan bahwa
setengah dari permukaan anterior lateral dipersarafi oleh aurikulotemporal (V3),
setengah dari permukaan posterior lateral dipersarafi oleh cabang aurikular dari nervus
vagus (CN X), dan pada permukaan medial dipersarafi oleh cabang timpani dari CN IX
(saraf Jacobson). 4,10

Telinga tengah diperdarahi oleh 6 pembuluh darah, yang terdiri dari 2 pembuluh darah
utama dan 4 pembuluh darah minor. 2 pembuluh darah utama terdiri dari:10
i. Timpani anterior cabang dari arteri maxillaris menyuplai darah ke membran timpani
ii.

Stylomastoid cabang arteri aurikular posterior yang menyuplai telinga tengah dan

mastoid air cells.


Sedangkan 4 pembuluh darah minor terdiri dari:
i.

Cabang petrosus dari arteri meningeal tengah (sebagian besar berjalan pada saraf

petrosal)
ii.

Timpani superior cabang dari arteri meningeal tengah yang melintas sepanjang

kanal untuk otot tensor timpani


iii.

Cabang arteri kanal pterygoideus (berjalan sepanjang tuba eustachius)

iv. Cabang timpani dari inertnal carotis.


ETIOLOGI
Etiologi dari miringitis bulosa akut telah ditemukan lebih dari tujuh
dasawarsa.chanock dan Rifkind melaporkan bahwa insiden tertinggi dari miringitis
bulosa disebabkan oleh mycoplasma pneumonia. Dalam satu penelitian dilaporkan pada
dan stadium akut dan stadium penyembuhan ditemukan beberapa virus pada saluran
pernafasan. Akut miringitis bulosa dapat juga sebagai akibat dari infeksi seperti
streptococcus pneumonia,atau infeksi virus seperti influenza,herpes zoster,dan lain-lain.
PATOGENESIS
Telah di perkirakan adanya lesi bulosa pada membrane timpani mungkin hanya
lesi cedera mekanik membrane timphani atau reaksi jaringan non spesifik untuk
beberapa agen infektif Suatu infeksi virus menyebabkan gangguan epitel pernapasan dan
disfungsi tuba Eustachius, yang menyebabkan tekanan negatif di telinga tengah dan
akumulasi sekresi pada telinga tengah. Disfungsi tuba Eustachius memungkinkan
mikroba pathogen untuk masuk dari nasofaring ke telinga tengah dan menyebabkan
serangan otitis media akut. Telah diperkirakan adanya lesi bulosa mungkin hanya
manifestasi dari cedera mekanik membran timpani atau reaksi jaringan non-spesifik
untuk beberapa agen infektif. Dalam beberapa kasus iritasi tahap awal otitis media akut
7

kausa bakteri, dilain kasus mungkin karena agen infeksi virus. Karelitz merasa bahwa
faktanya dalam hampir semua kasus myringitis, infeksi saluran nafas atas yang ada,
menunjukkan bahwa jalurnya adalah melalui tuba eustachius, pertama menyebabkan
radang telinga tengah dan kemudian secara sekunder menyebabkan myringitis bulosa.8
Middle ear fluid (MEF) telah sering ditemukan pada myringitis bulosa dan mungkin
timbul sebagai akibat dari pecahnya bulla ke telinga tengah atau bulla mungkin telah
muncul secara sekunder setelah radang telinga tengah. Pada tulang temporal manusia
otitis media akut telah ditunjukkan bahwa membran timpani lebih tebal dibandingkan
dengan telinga normal. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembengkakan lapisan
jaringan subepitel dan submukosa membran timpani. Selain itu, ada banyak kapiler dan
infiltrasi sel inflamasi ke dalam lapisan jaringan subepitel dan submukosa. Studi
histology pada myringitis bulosa kurang, tetapi dapat dibayangkan bahwa di awal
penyakit reaksi inflamasi yang kuat diprakarsai oleh paparan pathogen yang
menyebabkan akumulasi cairan kotor pada membran timpani.8
MANIFESTASI KLINIS
Myringitis bulosa dianggap sebagai penyakit self limiting disease, kadang-kadang
menjadi rumit oleh infeksi sekunder yang purulen. Namun komplikasi serius seperti
meningoensefalitis telah dilaporkan dalam beberapa kasus yang langka. Karakteristik
gambaran klinis pasien yaitu tiba-tiba mengalami sakit telinga yang parah atau otalgia.
Dalam myringitis akut otalgia sifatnya berdenyut. Nyeri biasanya terletak di dalam
telinga, tetapi dapat menyebar ke ujung mastoid, tengkuk, temporomandibula bersama
wajah.1,8
Pada kebanyakan pasien nyeri mereda dalam satu atau dua hari, namun beberapa
keluhan biasanya dirasakan selama tiga hari sampai empat hari. Rasa sakit tidak
sepenuhnya hilang setelah myringotomi atau setelah bulla pecah spontan. Membran
timpani kembali ke keadaan normalnya dalam dua atau tiga minggu.
Otoskopi menunjukkan suatu membran timpani meradang dengan satu atau lebih bulla.
Bulla ini penuh dengan cairan bening, agak kuning atau perdarahan.1,7,8
Bulla yang muncul paling sering pada sisi posterior atau postero inferior
membran timpani atau pada dinding kanalis posterior. Bulla ini tampaknya hanya
melibatkan lapisan subepitel dari membran timpani. Myringitis bulosa sering
terdeteksi hanya unilateral sedangkan di beberapa penelitian proporsi infeksi bilateral
8

tersebut telah 11-33%. Jika bulla pecah maka debit serosanguineous durasi pendek
muncul di saluran telinga, kecuali keadaannya menjadi rumit oleh invasi bakteri saat
discharge menjadi purulen. Peningkatan suhu tubuh biasanya terlihat dalam perjalanan
awal myringitis tersebut. Bulla paling sering menghilang dengan sendirinya. Dalam
sebagian

besarkasus

bulla

berlangsung

tiga

atau

empat

hari.8

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Secara umum, keluhan utama pasien yang mengalami miringitis adalah nyeri
pada daerah telinga yang onsetnya 2-3 hari terakhir sebab bulla terbentuk pada area yang
kaya akan persarafan pada epitel terluar membran timpani. Keluhan pada telinga dan
gangguan pendengaran. Kemudian dari anamnesis lebih lanjut, bisa kita dapatkan
riwayat demam serta kemungkinan riwayat trauma pada saluran telinga akibat
membersihkan telinga, atau pun akibat penetrasi benda asing. Kadang juga pasien
mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari telinga. Adanya riwayat penyakit saluran
pernafasan dan gangguan telinga sebelumnya juga perlu ditanyakan.1
2. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan yang paling penting adalah otoskopi. Adapaun beberapa temuan yang
bisa didapatkan dari pemeriksaan otoskopi pada pasien miringitis antara lain: 1Terdapat
tanda-tanda inflamasi pada membran impani, seperti warna membran terlihat lebih
merah, serta tampak mengalami deformasi, dan refleks cahaya memendek atau bahkan
menhilang sama sekali.Karakteristik dari miringitis bulosa adalah adanya bulla pada
membran timpani. Kita harus dapat membedakan antara bulla yang berasal dari
membran timpani dan bula yang berasal dari saluran telinga luar. Bulla ini dapat pecah
dan menimbulkan perdarahan pada membran timpani. Pada beberapa kasus dapat
ditemukan nyeri ketika pinna ditarik.
2. Pneumatik otoskopi, dengan pemeriksaan ini kita dapat menentukan apakah miringitis
bulosa sudah menyebabkan perforasi.
Pemeriksaan lain:1
1. Pada pemeriksaan pendengaran dapat ditemukan adanya penurunan pendengaran.

2.Tympanometri: Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan bukti adanya cairan


dibelakang membran timpani.
Sehingga kita dapat mengetahui adanya otitis media yang menyertai miringitis bulosa.
3. Tympanoparasintesis: pemeriksaan ini dilakukan untuk kultur dan identifikasi agen
penyebab miringitis bulosa.

Gambar 5. Sebuah bula besar yang berisis cairan serosa pada permukaan superfisial
membran timpani kanan pada regio umbo 11

Gambar 6. Miringitis bullosa

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding untuk miringitis hemoragik atau bulosa:4
1. Otitis eksterna
10

2. Herpes zoster otikus ( Sindroma Ramsay-Hunt)Sindrom Ramsay-Hunt ini harus


dibedakan dari myringitis akut. Pada sindrom Ramsay-Hunt, ada paralisis saraf perifer
pada wajah, disertai dengan ruam vesikuler eritematosa di telinga (oticus zoster) atau di
dalam mulut, dan lepuh terlihat dalam banyak kasus di daerah antihelix, fossa dari
antihelix dan atau lobulus. Dalam beberapa kasus lepuhan juga terlihat di dalam liang
telinga. Virus Varicella zoster adalah agent dari sindrom ini.12
PENATALAKSANAAN
1. Prosedur penatalaksanaan miringitis1
a. Pembersihan kanalis auditorius
b. Timpanosintesis, yaitu pungsi kecil yang dibuat di membran timpani dengan sebuah
jarum untuk jalan masuk ke telinga tengah. Prosedur ini dapat memungkinkan dilakukan
kultur dan identifikasi penyebab inflamasi..
c. Myringotomi dan insisi bullosa
Pada beberapa dekade terakhir, telah direkomendasikan untuk dilakukan insisi
bulla sebagai terapi pilihan. Namun beberapa mengatakan bahwa myringotomi dapat
meningkatkan risiko infeksi sekunder pada telinga tengah. Miringotomi ialah tindakan
insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase sekret dari telinga tengah
ke liang telinga luar.
3. Medikamentosa1,2,
Prinsip pengobatan adalah meredakan nyeri dan mencegah terjadinya infeksi
sekunder. Penanganan miringitis bulosa terdiri dari pemberian analgetika untuk nyeri
dan memelihara kebersihan dan kekeringan telinga. Terapi konservatif ditujukan untuk
mengurangi rasa nyeri. Analgetik, obat anti-inflamasi, antipruritics, antihistamin, dan
antibiotik dapat diberikan.
a) Pemberian antibiotik:
1. Lini I
a. Amoksisilin
Dewasa = 3 x 500 mg/hari
Bayi/anak = 50 mg/kgBB/hari
b. Eritromisin
11

Dosis dewasa dan anak sama dengan dosis amoksisilin


c. Cotrimoksazol
Dewasa = 2 x 2 tablet
Anak = TM 40 dan SMZ 200 mg Suspensi 2x1 cth
2.Lini II
a.

Bila ditengarai oleh kuman yang sudah resisten (infeksi berulang)

Kombinasikan amoksisilin dan asam klavulanat dengan dosis: Dewasa = 3 x


625 mg/hari Bayi.anak = disesuaikan dengan BB dan usi.
b.

Sefalosporin

II/III

oral

(cefuroksim,

cefiksim,

cefadroxyl,

dsb)

Antibiotik diberikan 7-10 hari. Pemberian yang tidak adekuat dapat


menyebabkan kekambuhan
b) Pemberian kortikosteroid:
Prednison 40-60 mg/hari (single dose) diberikan pada pagi hari selama satu
minggu kemudian dosis diturunkan perlahan.
c) Pemberian analgetik: Dengan pemberian asetaminofen dengan kodein.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh miringitis bulosa antara lain:1
a.

Adanya penurunan pendengaran (bisa tuli konduktif dan sensorineural)


b. Perforasi membran timpani
c. Paralisis fasial
d. Vertigo
e. Proses supurativ yang berkelanjutan pada struktur disekitarnya yang dapat
mengakibatkan coalescent mastoiditis, meningitis, abses, sigmoid sinus thrombosis.
PROGNOSIS
Dalam kebanyakan kasus, pasien dengan miringitis memiliki prognosis yang
menguntungkan apabila bulla di drainase segera.
12

KESIMPULAN
Miringitis bulosa adalah infeksi virus yang nyeri pada membrane timpani dan
ditandai oleh satu atau beberapa vesikel serosa atau hemoragik atau gelembung.
Pengobatannya berupa pemberian analgetik. Terdapat tanda-tanda inflamasi pada
membran impani, seperti warna membran terlihat lebih merah, serta tampak mengalami
deformasi,

dan

refleks

cahaya

memendek

atau

bahkan

menghilang

sama

sekali.Karakteristik dari miringitis bulosa adalah adanya bulla pada membran timpani
Prinsip pengobatan adalah meredakan nyeri dan mencegah terjadinya infeksi sekunder.
Penanganan miringitis bulosa terdiri dari pemberian analgetika untuk nyeri dan
memelihara kebersihan dan kekeringan telinga. Terapi konservatif ditujukan untuk
mengurangi rasa nyeri. Analgetik, obat anti-inflamasi, antipruritics, antihistamin, dan
antibiotik dapat diberikan.
13

DAFTAR PUSTAKA
1.

Zakboek keel,Neus,Oorheelkunde.2010.buku saku ilmu kesehatan tenggook,hidung

dan telinga.Jakarta: EGC


2.

Ballenger J.J. Bab 54: Peradangan akut telinga tengah dalam Buku Penyakit telinga,

hidung, tenggorok, kepala dan leher. Jilid dua. Edisi 13. Jakarta: Binarupa aksara. 1997.
hal.385.
3.

M. Michael, et al. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Adam GL, Boies LR

et al. BOIES, buku ajar penyakit tht. Edisi 6. Alih bahasa: wijaya C. Jakarta: EGC. 1997.
hal. 30-1, 89.
4.

David A. Basic otolaryngology. Mc Grow-Hill company. London. 2004. p.33


14

5. Schweinfurth J.Middle ear tympanic membrane infections.http//www.emadicine.com


.
6.

Kerr A. Otitis externa haemorrhagica. In: Scott-Browns otolaryngology. Sixth

edition. the queens university. Belfas. p.3/6/15.


7.

Hawke M. Bullous myringitis. [online] 2008. [cited 2011 October 18]. Available

from URL: http://eac.hawkelibrary.com/bullous/89_Right.html


8.

Keeley M.G. Acute otitis media: 6 Steps to improve diagnostic accuracy. [online]

2011.

[cited

2011

October

18].

Available

From

URL

http://www.pediatricsconsultant360.com/content/acute-otitis-media-6-steps-improvediagnostic-accuracy

15