Anda di halaman 1dari 18

kamar operasi Keperawatan Medikal Bedah Umum

Kamar Operasi 1

A.

PENGERTIAN
Kamar operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit, tempat untuk melakukan tindakan
pembedahan, baik elektif maupun akut, yang membutuhkan keadaan suci hama (steril).

B.

BAGIAN KAMAR OPERASI


Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area.
a.

Area bebas terbatas (unrestricted area)


Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar
operasi.

b.

Area semi ketat (semi restricted area)


Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas
topi, masker, baju dan celana operasi.

c.

Area ketat/terbatas (restricted area).


Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan
melaksanakan prosedur aseptic.
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap yaitu :
topi, masker, baju dan celana operasi serta melaksanakan prosedur aseptic.

C.

ALUR PASIEN, PETUGAS DAN PERALATAN

1. Alur Pasien
a.

Pintu masuk pasien pre dan pasca bedah berbeda.

b.

Pintu masuk pasien dan petugas berbeda.

1. Alur Petugas
Pintu masuk dan keluar petugas melalui satu pintu.
1. Alur Peralatan
Pintu keluar masuknya peralatan bersih dan kotor berbeda.

D.

PERSYARATAN
Kamar operasi yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Letak
Letak kamar operasi berada ditengah-tengah rumah sakit berdekatan dengan unit gawat
darurat (IRD), ICU dan unit radiology.

1. Bentuk dan Ukuran


a.

Bentuk
1)

Kamar operasi tidak bersudut tajam, lantai, dinding, langit-langit berbentuk


lengkung, warna tidak mencolok.

2)

Lantai dan dinding harus terbuat dari bahan yang rata, kedap air, mudah
dibersihkan dan menampung debu.

b.

Ukuran kamar operasi

1)

Minimal 5,6 m x 5,6 m (=29,1 m2)

2)

Khusus/besar 7,2 m x 7,8 (=56 m2)

1. Sistem Ventilasi
a.

Ventilasi kamar operasi harus dapat diatur dengan alat control dan penyaringan
udara dengan menggunaKan filter. Idealnya menggunakan sentral AC.

b.

Pertukaran dan sirkulasi udara harus berbeda.

1. Suhu dan Kelembaban.


a.

Suhu ruangan antara 190 220 C.

b.

Kelembaban 55 %

1. Sistem Penerangan
a.

Lampu Operasi
Menggunakan lampu khusus, sehingga tidak menimbulkan panas, cahaya terang,
tidak menyilaukan dan arah sinar mudah diatur posisinya.

b.

Lampu Penerangan
Menggunakan lampu pijar putih dan mudah dibersihkan.

1. Peralatan

a.

Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah
dibersihkan.

b.

Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaaanya harus menempel pada alat tersebut
agar mudah dibaca.

c.

Sistem pelistrikan dijamin aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk


memusatkan arus listrik mencegah bahaya gas anestesi.

1. Sistem Instaalsi Gas Medis


Pipa (out let) dan konektor N2O dan oksigen, dibedakan warnanya, dan dijamin tidak
bocor serta dilengkapi dengan system pembuangan/penghisap udara untuk mencegah
penimbunan gas anestesi.

1. Pintu
a.

Pintu masuk dan keluar pasien harus berbeda.

b.

Pintu masuk dan keluar petugas tersendiri

c.

Setiap pintu menggunakan door closer (bila memungkinkan)

d.

Setiap pintu diberi kaca pengintai untuk melihat kegiatan kamar tanpa membuka
pintu.

1. Pembagian Area
a.

Ada batas tegas antara area bebas terbatas, semi ketat dan area ketat.

b.

Ada ruangan persiapan untuk serah terima pasien dari perawat ruangan kepada
perawat kamar operasi.

1. Air Bersih
Air bersih harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

E.

a.

Tidak berwarna, berbau dan berasa.

b.

Tidak mengandung kuman pathogen.

c.

Tidak mengandung zat kimia.

d.

Tidak mengandung zat beracun.

PEMBERSIHAN KAMAR OPERASI


Pemeliharaan kamar operasi merupakan proses pembersihan ruang beserta alat-alat standar
yang ada dikamar operasi. Dilakukan teratur sesuai jadwal, tujuannya untuk mencegah
infeksi silang dari atau kepada pasien serta mempertahankan sterilitas.
Cara pembersihan kamar operasi ada 3 macam :
1. Cara pembersihan rutin/harian
2. Cara pembersihan mingguan
3. Cara pembersihan sewaktu.

1. Cara Pembersihan Harian


Pembersihan rutin yaitu pembersihan sebelum dan sesudah penggunaan kamar operasi agar
siap pakai dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Semua permukaaan peralatan yang terdapat didalam kamar operasi harus dibersihkan
dengan menggunakan desinfektan atau dapat juga menggunakan air sabun.

b. Permukaan meja operasi dan matras harus diperiksa dan dibersihkan.


c. Ember tempat sampah harus dibersihkan setiap selesai dipakai, kemudian pasang plastic
yang baru.
d. Semua peralatan yang digunakan untuk pembedahan dibersihkan, antara lain :
1)

Slang suction dibilas.

2)

Cairan yang ada dalam botol suction dibuang bak penampung tidak boleh dibuang
di ember agar sampah yang ada tidak tercampur dengan cairan yang berasal dari
pasien.

3)

Alat anestesi dibersihkan, alat yang terbuat dari karet setelah dibersihkan direndam
dalam cairan desinfektan.

a. Noda-noda yang ada pada dinding harus dibersihkan.


b. Lantai dibersihkan kemudian dipel dengan menggunakan cairan desinfektan. Air
pembilas dalam ember setiap kotor harus diganti dan tidak boleh untuk kamar operasi
yang lain.
c. Lubang angin, kaca jendela dan kusen, harus dibersihkan.
d. Alat tenun bekas pasien dikeluarkan dari kamar operasi. Jika alat tenun tersebut bekas
pasien infeksi, maka penanganannya sesuai prosedur yang berlaku.
e. Lampu operasi harus dibersihkan setiap hari. Pada waktu membersihkan, lampu harus
dalam keadaan dingin.
f. Alas kaki (sandal) khusus kamar operasi harus dibersihkan setiap hari.

1. Pembersihan Mingguan

a. Dilakukan secara teratur setiap minggu sekali.


b. Semua peralatan yang ada di dalam kamar bedah dikeluarkan dan diletakkan di
koridor/didepan kamar bedah.
c. Peralatan kamar bedah harus dibersihkan /dicuci dengan memakai cairan desinfektan atau
cairan sabun. Perhatian harus ditujukan pada bagian peralatan yang dapat menjadi tempat
berakumulasinya sisa organis, seperti bagian dari meja operasi, dibawah matras.
d. Permukaan dinding dicuci dengan menggunakan air mengalir.
e. Lantai disemprot dengan menggunakan deterjen, kemudian permukaan lantai disikat.
Setelah bersih dikeringkan.
f. Setelah lantai bersih dan kering, peralatan yang sudah dibersihkan dapat dipindahkan
kembali dan diatur kedalam kamar operasi.

3.

Pembersihan Sewaktu.

Pembersihan sewaktu dilakukan bila kamar operasi digunakan untuk tindakan pembedahan
pada kasus infeksi, dengan ketentuan sebagai berikut :
a.

Pembersihan kamar operasi secara menyeluruh, meliputi dinding, meja operasi, meja
instrument dan semua peralatan yang ada di kamar operasi.

b.

Instruemen dan alat bekas pakai harus dipindahkan/tidak boleh campur dengan alat
yang lain sebelum didesinfektan.

c.

Pemakaian kamar operasi untuk pasien berikutnya diijinkan setelah pembersihan


secara menyeluruh dan sterilisasi ruangan selesai.
Sterilisasi kamar operasi dapat dengan cara :
1)

Pemakaian sinar ultra violet, yang dinyalakan selama 24 jam.

2)

Memakai desinfektan yang disemprotkan dengan memakai alat (foging). Waktu


yang dibutuhkan lebih pendek dibandingkan dengan pemakaian ultra violet, yaitu
kurang lebih 1 jam untuk menyemprotkan cairan, dan 1 jam kemudian baru dapat
dipakai.

d.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penanganan pada kasus infeksi dan penyakit
menular adalah :
1)

Keluarga pasien diberi tahu tentang penyakit pasien dan perawatan yang harus
dilaksanakan terhadap pasien tersebut.

2)

Petugas yang menolong pasien harus :


a)

memakai sarung tangan

b)

Tidak luka atau goresan dikulit atau tergores alat bekas pasien (seperti jarum
suntik dsb.)

c)

Memahamai cara penularan penyakit tersebut.

d)

Memperhatikan teknik isolasi dan tekhnik aseptic.

e)

Jumlah tenaga yang kontak dengan pasien dibatasi/tertentu dan selama


menangani pasien tidak boleh menolong pasien lain dalam waktu bersamaan.

3)

Pasang pengumuman didepan kamar operasi yang sedang dipakai yang menyatakan
bahwa dilarang masuk karena ada kasus infeksi.

4)

Bagian anggota tubuh yang akan dan sudah diamputasi dibungkus rapat dengan
kantong plastic tebal yang cukup besar agar bau tidak menyebar dan menimbulkan
infeksi silang.

5)

Ruang tindakan secara periodic dan teratur dilakukan uji mikrobiologi terhadap
debu, maupun terhadap kesehatan yang ada.

F.

PENANGANAN LIMBAH

Pembuangan limbah dan penanganan limbah kamar operasi, tergantung jenis limbah dengan
prinsip, limbah padat ditangani terpisah dengan limbah cair :
1. Limbah cair dibuang ditempat khusus yang berisi larutan desinfektan yang selanjutnya
mengalir ketempat pengelolaan limbah cair rumah sakit.
2. Limbah pada/anggota tubuh ditempatlkan dalam kantong/tempat tertutup yang
selanjutnya dibakar atau dikubur dirumah sakit sesuai ketentuan yang berlaku, atau
diserahterimakan kepada keluarga pasien bila memungkinkan.
3. Limbah non infeksi yang kering dan basah ditempatkan pada tempat yang tertutup serta
tidak mudah bertebaran dan selanjutnya dibuang ke tempat pembuangan rumah sakit.
4. Limbah infeksi ditempatkan pada tempat yang tertutup dan tidak mudah bocor serta
diberi label warna merahuntuk dimusnahkan.
5. Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan. Ruang Operasi adalah
suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai daerah pelayanan kritis yang
mengutamakan aspek hirarki zonasi sterilitas. Oleh karena itu kegagalan dalam
pembedahan jangan sampai disebabkan oleh faktor perencanaan dan perancangan fisik
bangunan dan utilitasnya yang tidak memenuhi persyaratan teknis.
6. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit telah menerangkan mengenai
teknis fasilitas ruang operasi persyaratan dan standar rumah sakit yang memenuhi standar
pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan adanya undangundang ini diharapkan kegagalan yang disebabkan faktor fisik bangunan dan utilitasnya
dapat dicegah.
7. Pembangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus bertujuan memperhatikan kaidahkaidah pelayanan kesehatan, sehingga bangunan ruang operasi yang akan dibuat
memenuhi standar kemanan, keselamatan, kemudahan dan kenyamanan bagi pasien dan
pengguna bangunan lainnya serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.
8. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh, dan
stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan
(;serviceability)

9. kamar operasi adalah bagian dari sebuah pelayanan rumah sakit yang diperlukan untuk
memberikan sarana dan prasarana tindakan bedah. sebuah rumah sakit memerlukan
kamar operasi sebagai salah satu syarat berdirinya kamar operasi. kamar operasi berguna
untuk tempat dilakukannya tindakan bedah khususnya operasi. baik bedah obstetrik dan
ginekologi, bedah digestif, bedah ortopedi, bedah onkologi , bedah saraf atau bedah
mulut

dan

sebagainya.

ada banyak tim di dalam kamar operasi. anatara lain dokter bedah, dokter anestesi dan tak
lupa perawat. kesemuanya tidak dapat bekerja sendiri sendiri namun merupakan kesatuan
tim
menurut

dengan
sterilitas,

tugas
kamar

operasi

sendiri-sendiri.
di

bagi

zona.

1.Daerah bebas (unrestricted area) peralihan dari luar kedalam kamar bedah.
Meliputi : R. tunggu pasien R. TU R. Ka. kamar bedah R. rapat R. ganti baju R. istirahat
Gudang

Kamar

mandi

&

WC

2.Daerah semi terbatas (semirestricted area) penghubung daerah bebas dengan kamar
bedah. Meliputi : R. persiapan premedikasi R. koridor R. pulih / RR R. penyimpanan
alat steril R. penyimpanan alat tidak steril R. pencucian \R. depo farmasi R. pembuang
limbah

operasi

R.

3.Daerah terbatas (restricted area)

sterilisasi

Meliputi : R. cuci tangan R. induksi R. OK

Bentuk kamar operasi harus Sudut-sudutnya tidak boleh tajam. Lantai dinding+langit2
harus melengkung Lapisan dinding dari bahan yg keras, tidak berpori, tahan api, kedap
air, tidak mudah kotor, tidak punya sambungan, berwarna terang, tidak memantulkan
cahaya, mudah dibersihkan dan tidak menampung debu. uDinding terbaik dari porselin
atau vinyil setinggi langit-langit atau dicat yg mengandung weather shield, tidak
menghantar

listrik,

kedap

air,

mudah

dibersihkan

dan

berwarna

terang.

uSebaiknya memakai sistem pengatur suhu sentral (AC sentral) dapat diatur dengan alat
kontrol yang memakai filter (HEPA filter) dengan aliran LAMINAR FLOW. uSistem ini
menjamin udara luar yang masuk bebas dari mikroorganisme kemudian tidak terjadi
penimbunan gas-gas anestesi. uSuhu kamar bedah : didaerah tropis 19-22oC, daerah
dingin 20 24oC uKelembaban udara 50 60%.
10.

11. KAMAR BEDAH

12.
13. mengenal

kamar

bedah

kamar operasi merupakan bagian dari rumah sakit yang tidak terpisahkan. fungsi kamar
operasi memberikan pelayanan sarana prasarana tidakan pembedahan. sterilitas dan
personil SDM menjadi bagian terpenting dengan didukung fasilitas alat dan penunjang.
ada

banyak

1.

operator

2.

asisten

profesional
merupakan

operator

pembedah
:

didalam
yang

membantu

kamr

menentukan
operator

jalannya
dalam

operasi.
operasi
bertindak.

3. scrub nurse : merupakan perawat yang bertugas memberikan alat atau instrumen
operasi
circulating nurse : perawat non steril yang membantu memfasilitasi operasi
anestesi : berutgas membius pasien.

PROSEDUR MENGENAKAN & MELEPAS SARUNG TANGAN STERIL


A. PERSIAPAN ALAT & BAHAN
1. Sarung tangan steril sesuai ukuran yang diinginkan
2. Alat - alat untuk mencuci tangan
3. Bengkok
B. PROSEDUR KERJA
Handscoon

1. Lepaskan jam tangan, cincin dan lengan pakaian panjang di tarik ke atas
2. Inspeksi kuku dan permukaan kulit apakah ada luka
3. Perawat mencuci tangan
4. Buka pembungkus bagian luar dari kemasan sarung tangan dengan
memisahkan sisi - sisinya
5. Jaga agar sarung tangan tetap di atas permukaan bagian dalam pembungkus
6. Identifikasi sarung tangan kiri dan kanan, gunakan sarung tangan pada
tangan yang dominan terlebih dahulu
7. Dengan ibu jari dan telunjuk serta jari tangan yang non dominan pegang tepi
mancet sarung tangan untuk menggunakan sarung tangan dominan
8. Dengan tangan yang dominan dan bersarung tangan selipkan jari - jari ke
dalam mancet sarung tangan kedua
9. Kenakan sarung tangan kedua pada tangan yang non dominan
10.Jangan biarkan jari -jari tangan yang sudah bersarung tangan menyentuh
setiap bagian atau benda yang terbuka
11.Setelah sarung tangan kedua digunakan mancet biasanya akan jatuh ke
tangan setelah pemakaian sarung tangan
12.Setelah kedua tangan bersarung tangan tautkan kedua tangan ibu jari
adduksi ke belakang
13.Pastikan setelah pemakaian sarung tangan steril hanya memegang alat - alat
steril
Melepaskan Sarung tangan
Sarung tangan
1. Pegang bagian luar dari satu mancet dengan tangan bersarung tangan,
hindari menyentuh pergelangan tangan
2. Lepaskan sarung tangan dengan dibalik bagian luar kedalam, buang pada
bengkok

3. Dengan ibu jari atau telunjuk yang tidak memakai sarung tangan, ambil
bagian dalam sarung tangan lepaskan sarung tangan kedua dengan bagian
dalam keluar, buang pada bengkok
C. HASIL
1. Sarung tangan terpakai dengan baik
2. Tidak terjadi kontaminasi
3. Sarung tangan sesuai ukuran
4. Sarung tangan tidak robek
5. Lingkungan rapih dan bersih

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kamar Operasi adalah salah satu fasilitas yang ada di rumah sakit dan termasuk sebagai
fasilitas yang mempunyai banyak persyaratan. Fasilitas ini dipergunakan untuk pasien pasien
yang membutuhkan tindakan operasi, terutama untuk tindakan operasi besar. Proses operasi
meskipun sebuah operasi yang komplek akan terbagi menjadi 3 periode yaitu 1. Prior Surgery, 2.
During Surgery dan 3. After Surgery. Kegiatan pada periode prior surgery dapat dilakukan di
ruang perawatan atau di ruang persiapan operasi untuk kasus kasus One Day Care Surgery.
Kegiatan pada periode During Surgery tentu saja berada di Kamar Operasi. Sedangkan kegiatan
pada periode After Surgery, pasien yang telah selesai dilakukan tindakan operasi akan
dipindahkan ke ruang pemulihan tahap 1 selama 1 atau 2 jam. Setelah pasien siuman dapat
dipindahkan ke ruang perawatan yang tentunya tergantung dari kondisi pasien itu sendiri, jika
pasien dalam keadaan baik maka akan dipindahkan ke bangsal perawatan biasa, apabila pasien
perlu mendapatkan perawatan intensive maka akan di relokasi ke ICU. Sedangkan pasien yang
dilakukan tindakan operasi dengan system one day care maka akan dipindahkan ke ruang
pemulihan sebelum pasien ini pulang ke rumah. Penentuan jumlah ruang operasi sangat
tergantung dari historis jumlah pasien dan prediksi pasien yang akan datang ke rumah sakit untuk
melakukan tindakan operasi.
Selain itu Rumah sakit harus menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk
melakukan operasi baik untuk pasien maupun tenaga medis yang beraktifitas di dalamnya.
Kenyamanan dan keamanan ini dapat di capai dari dua hal kenyamanan fisik dan kenyamanan
non fisik. Yang dimaksud dengan kenyamanan fisik dapat di capai dengan memenuhi persyaratan

sebuah kamar operasi dan membuat desain bangunannya memberikan kenyamanan visual, termal
dan audio. Sedangkan kenyamanan non fisik dapat dicapai dengan memberikan ruangan sesuai
dengan kebutuhan kenyamanan hidup manusia dan mendesain ruangan agar bersuasana yang
tidak membuat bosan. Contohnya dengan memberikan ruang tunggu bagi dokter dokter sebelum
atau sesudah melakukan operasi, dimana ruangan tersebut di lengkapi dengan fasilitas sofa yang
ergonomis, view natural atau artifisial, internet connection, bed dan pantry semi streril.
1.2 Tujuan
Mengetahui bagian kamar operasi.
Mengetahui zonasi kamar operasi.
Mengetahui syarat-syarat kamr operasi.
Mengetahui bagaimana penanganan dan pembuangan limbah kamar operasi.

1.3 Masalah
Apa saja bagian-bagian kamar operasi?
Bagaimana sistem zonasi kamar operasi ?
Apa saja syarat-syarat kamar operasi ?
Bagaimana penanganan dan pembuangan limbah kamar operasi ?

BAB II

PEMAHASAN

2.1

Bagian-Bagian Kamar Operasi


Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area:

a.

Area bebas terbatas (unrestricted area). Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu

menggunakan pakaian khusus kamar operasi.


b.
Area semi ketat (semi restricted area).Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian
c.

khusus kamar operasi yang terdiri atas topi, masker, baju dan celana operasi.
Area ketat/terbatas (restricted area). Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian
khusus kamar operasi lengkap dan melaksanakan prosedur aseptic.

2.2 Sistem Zonasi di Kamar Operasi


Rumah sakit dirancang dengan sistem zonasi (zoning). Zonasi rumah sakit disarankan
mempunyai pengelompokkan sebagai berikut:
1.

Zona Publik. Area yang mempunyai akses cepat dan langsung terhadap lingkungan luar
misalnya unit gawat darurat, poliklinik, administrasi, apotik, rekam medik, dan kamar mayat.

2.

Zona Semi Publik. Area yang menerima beban kerja dari zona publik tetapi tidak langsung
berhubungan dengan lingkungan luar, misalnya laboratorium, radiologi, dan rehabilitasi medik.

3.

Zona Privasi. Area yang menyediakan dan ruang perawatan dan pengelolaan pasien, misalnya
gedung operasi, kamar bersalin, ICU/ ICCU, dan ruang perawatan.

4.

Zona Pelayanan. Area yang menyediakan dukungan terhadap aktivitas rumah sakit, misalnya
ruang cuci, dapur, bengkel, dan CSSD.
Pelayanan, tenaga, sarana prasarana dan peralatan untuk pelayanan kamar operasi yang
berada di zona privasi terkait dengan pelayanan anestesiologi dan reanimasi serta perawatan
intensif sesuai klasifikasi rumah sakit. Selain berdekatan dengan ICU serta pelayanan

anestesiologi pada tipe rumah sakit D dan C dimana UGD belum memiliki kamar operasi cito
sendiri maka letak kamar operasi ini (IBS) harus berdekatan dengan UGD.

2.3 Syarat- Syarat Kamar Operasi


Persyaratan fisik kamar operasi meliputi :
1. Bangunan kamar operasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Mudah dicapai oleh pasien
Penerimaan pasien dilakukan dekat dengan perbatasan daerah steril dan non-steril.
Kereta dorong pasien harus mudah bergerak.
Lalu lintas kamar operasi harus teratur dan tidak simpang siur.
Terdapat batas yang tegas yang memisahkan antara daerah steril dan non-steril, untuk pengaturan
penggunaan baju khusus.
Letaknya dekat dengan UGD .
2. Rancang bangun kamar operasi harus mencakup:
kamar yang tenang untuk tempat pasien menunggu tindakan anestesi yang dilengkapi dengan

fasilitas induksi anestesi.


Kamar operasi yang langsung berhubungan dengan kamar induksi.
Kamar pulih (recovery room).
Ruang yang cukup untuk menyimpan peralatan, llinen, obat farmasi termasuk bahan narkotik.
Ruang/ tempat pengumpulan/ pembuangan peralatan dan linen bekas pakai operasi.
Ruang ganti pakaian pria dan wanita terpisah.
Ruang istirahat untuk staf yang jaga.
Ruang operasi hendaknya tidak bising dan steril. Kamar ganti hendaknya ditempatkan sedemikian
rupa sehingga terhindar dari area kotor setelah ganti dengan pakaian operasi. Ruang perawat

hendaknya terletak pada lokasi yang dapat mengamati pergerakan pasien.


Dalam ruang operasi diperlukan 2 ruang tindakan, yaitu tindakan elektif dan tindakan cito.
Alur terdiri dari pintu masuk dan keluar untuk staf medik dan paramedik; pintu masuk pasien
operasi; dan alur perawatan.
Harus disediakan spoelhock untuk membuang barang-barang bekas operasi.
Disarankan terdapat pembatasan yang jelas antara:
Daerah bebas, area lalu lintas dari luar termasuk pasien.
Daerah semi steril, daerah transisi yang menuju koridor kamar operasi dan ruangan semi steril.
Daerah steril, daerah prosedur steril diperlukan bagi personil yang harus sudah berpakaian khusus
dan masker.
Setiap 2 kamar operasi harus dilayani oleh 2 kamar scrub up.
Harus disediakan pintu keluar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak terlihat oleh
pasien dan pengunjung .
Syarat kamar operasi:

Pintu kamar operasi harus selalu tertutup.


Lebar pintu minimal 1,2 m dan tinggi minimal 2,1 m, terdiri dari dua daun pintu.
Pintu keluar masuk harus tidak terlalu mudah dibuka dan ditutup.
Sepertiga bagian pintu harus dari kaca tembus pandang.
Paling sedikit salah satu sisi dari ruang operasi ada kaca.
Ukuran kamar operasi minimal 6x6 m2 dengan tinggi minimal 3 m.
Dinding, lantai dan langit-langit dari bahan yang tidak berpori.
Pertemuan lantai, dinding dan langit-langit dengan lengkung.
Plafon harus rapat, kuat dan tidak bercelah.
Cat /dinding berwarna terang.