Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Teknologi pengolahan limbah cair yang paling sederhana adalah menggunakan sistem
lumpur

aktif.

Secara

prinsip,

sistem

ini

memanfaatkan

mikroorganisme

untuk

mengkonsumsi komponen-komponen limbah sebagai sumber makanan atau energi.


Berdasarkan jenis mikroorganisme yang digunakan, proses ini dibagi menjadi dua jenis.
Proses aerobik (memerlukan oksigen) dan proses anaerobik (tanpa oksigen).

Lumpur Aktif (Activated Sludge)


Proses lumpur aktif saat ini merupakan teknologi yang paling berkembang untuk
pengolahan air limbah. Pemanfaatan sistem lumpur aktif dapat diterapkan dalam kondisi
iklim yang berbeda, dari daerah tropis hingga daerah kutub, dari permukaan laut (instalasi
pengolahan air limbah di kapal) dan ketinggian yang ekstrim (pegunungan). Industri
pengolahan Air Limbah yang dilengkapi dengan proses lumpur aktif mampu memenuhi
kriteria limbah yang sesuai dengan baku mutu air limbah berdasarkan industrinya (Dohse
and Heywood,1998).
Pada proses lumpur aktif mikroorganisme membentuk gumpalan-gumpalan koloni
bakteri yang bergerak secara bebas tertahan di dalam air limbah. Mikroorganismemikroorganisme dapat keluar melalui aliran keluar air limbah sehingga densitas bakteri di
dalam reaktor harus dikontrol. Pada proses dengan kecepatan tinggi dan waktu tinggal
hidraulik pendek, pengembalian atau recycling bakteri merupakan cara yang paling banyak
digunakan untuk mengontrol densitas bakteri di dalam reaktor (Siregar,2005).
Proses lumpur aktif (Activated sludge) terdiri dari penyisihan BOD (Biological oxygen
demand) , penyisihan nitrogen (Nitrifikasi dan denitrifikasi), dan penyisihan fosfor. BOD
adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme untuk menguraikan

bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di dalam air buangan secara biologi. BOD
dan COD digunakan untuk memonitoring kapasitas self purification badan air penerima.
Macam-Macam Sistem Lumpur Aktif
Sistem Lumpur Aktif Konvensional
Proses Lumpur Aktif Konvensional dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

Gambar 1. Sistem Lumpur Aktif Konvensional

Keterangan gambar 1.
1. Tangki aerasi
Oksidasi aerobik material organik dilakukan dalam tangki ini. Efluent pertama masuk dan
tercampur dengan Lumpur Aktif Balik (Return Activated Sludge =RAS) atau disingkat LAB
membentuk lumpur campuran (mixed liqour), yang mengandung padatan tersuspensi sekitar
1.500 - 2.500 mg/l. Aerasi dilakukan secara mekanik. Karakteristik dari proses lumpur aktif
adalah adanya daur ulang dari biomassa. Keadaan ini membuat waktu tinggal rata-rata sel
(biomassa) menjadi lebih lama dibanding waktu tinggal hidrauliknya (Sterritt dan Lester,
1988). Keadaan tersebut membuat sejumlah besar mikroorganisme mengoksidasi senyawa
organik dalam waktu yang singkat. Waktu tinggal dalam tangki aerasi berkisar 4 - 8 jam.
2. Tangki Sedimentasi
Tangki ini digunakan untuk sedimentasi flok mikroba (lumpur) yang dihasilkan selama fase
oksidasi dalam tangki aerasi. Seperti disebutkan diawal bahwa sebaghian dari lumpur dalam
tangki penjernih didaur ulang kembali dalam bentuk LAB kedalam tangki aerasi dan sisanya
dibuang untuk menjaga rasio yang tepat antara makanan dan mikroorganisme (F/M Ratio).

Analisa
Kimia
1. COD (Chemical Oxygen Demand) : Jumlah oksigen (ppm O 2) yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi K2Cr2O7 yang digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent).
2. BOD (Biochemical Oxygen Demand) : Suatu analisis empiris yang mencoba mendekati
secara global proses-proses mikrobiologi yang benar-benar terjadi didalam air. Angka
BOD adalah jumlah oksigen (ppm O2) yang dibutuhkan oleh bakteri untuk
mengoksidasi hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat organis yang
tersuspensi dalam limbah cair.
3. DO (Dissolved Oksigen) : Jumlah oksigen (ppm O 2) yang terlarut dalam air dan
merupakan kebutuhan mutlak bagi mikroorganisma (khususnya bakteri) dalam
menguraikan zat organik.
4. pH (Derajat Keasaman) : Didefinisikan sebagai pH = - log (H +) yang menunjukkan
tingkat keasaman atau kebasaan.
Fisika
1. MLSS (Mixed Liqour Suspended Solid) : Jumlah seluruh padatan tersuspensi dalam
suatu cairan (ppm) yang menggambarkan kepekatan lumpur pada kolam aerasi
khususnya.
2. SV30 (Sludge Volume = 30) : Lumpur yang mengendap secara gravitasi selama 30 menit
(%) yang menunjukkan tingkat kelarutan oksigen dalam lumpur aktif.
Biologi
Parameter biologi yang diamati berupa mikroorganisme predator bakteri, diantaranya prozoa
dan avertebrata lainnya.

Menurut Departemen Perindustrian (2007), beberapa sistem pengolahan limbah cair


meliputi: sistem lumpur aktif, sistem trikling filter, sistem RBC (Rotating Biolocal Disk),
sistem SBR (Sequencing Batch Reactor), kolam oksidasi, sistem UASB, dan septik
tank.

1.
Aktif

Sistem Lumpur

Pada dasarnya sistem lumpur aktif terdiri atas dua unit proses utama, yaitu
bioreaktor (tangki aerasi) dan tangki sedimentasi. Dalam sistem lumpur aktif, limbah cair
dan biomassa dicampur secara sempurna dalam suatu reaktor dan diaerasi. Pada
umumnya, aerasi ini juga berfungsi sebagai sarana pengadukan suspensi tersebut. Suspensi
biomassa dalam limbah cair kemudian dialirkan ke tangki sedimentasi, dimana biomassa
dipisahkan dari air yang telah diolah. Sebagian biomassa yang terendapkan dikembalikan
ke bioreaktor dan air yang telah terolah dibuang ke lingkungan. Agar konsentrasi
biomassa di dalam reaktor konstan (MLSS = 3 - 5 gfL), sebagian biomassa dikeluarkan
dari sistem tersebut sebagai excess sludge. Skema proses dasar sistem lumpur aktif dapat
dilihat pada
Bioreakt
or
Influen

Tangki sedimentasi

Flue
n

Excess sludge
Gambar 2. Proses Lumpur Aktif

Pada semua sistem lumpur aktif, pengadukan memegang peranan yang penting dalam
menjaga keseragaman dan kestabilan kelarutan bahan organik, oksigen, dan mencegah
pengendapan lumpur aktif. Penyisihan bahan organik pada sistem ini bisa mencapai 85
95% (Gonzales, 1996). Menurut (Metcalf dan Eddy, 1991), dalam bioreaktor,
mikroorganisme mendegradasi bahan-bahan organik dengan persamaan stoikiometri pada
reaksi di bawah ini:

a. Proses Oksidasi dan Sintesis:


bakteri
CHONS + O2 + Nutrien

CO2 + NH3 + C5H7NO2 + sel bakteri baru

b. Proses Respirasi Endogenus:


C5H7NO2 + 5O2

5CO2 + 2H2O + NH3 + energi sel

Meski memiliki presentase keberhasilan yang tinggi, pengolahan


menggunakan lumpur aktif dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial yang jika
tidak diperhatikan akan mengakibatkan kegagalan. Berdasarkan berbagai
penelitian telah banyak dilakukan, dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi

optimalnya

sistem

lumpur

aktif

antara

lain

kelarutan

oksigen (DO), rasio Food/Microorganism (rasio F/M), serta interaksi kandungan


mineral dan lumpur dalam pengendapan lumpur (Argaman, 1981; Casey dkk.,
1992; Piirtola dkk., 1999). Pohan (2008) menambahkan, proses ini juga sangat
peka terhadap faktor suhu, pH, dan zat-zat inhibitor terutama zat-zat beracun.
Kelebihan dari sistem lumpur aktif adalah dapat diterapkan untuk hampir
semua

jenis

limbah cair,

baik

untuk

oksidasi karbon,

nitrifikasi,

denitrifikasi, maupun eliminasi fosfor secara biologis. Kendala yang mungkin


dihadapi oleh dalam pengolahan limbah cair dengan sistem ini kemungkinan
adalah besarnya biaya investasi maupun biaya operasi karena sistem ini
memerlukan peralatan mekanis seperti pompa dan blower. Biaya operasi
umumnya berkaitan dengan pemakaian energi listrik.
2. Sistem Trickling Filter
Trickling filter terdiri atas tumpukan media padat dengan kedalaman
sekitar 2 m, umumnya berbentuk silinder. Limbah cair disebarkan ke
permukaan

media bagian atas dengan lengan distributot berputar dan air kemudian mengalir
(menetes) ke bawah melalui lapisan media. Polutan dalam limbah cair yang
mengalir melalui permukaan media padat akan terabsorps oleh mikroorganisme
yang tumbuh dan berkembang pada permukaan

media padat tersebut.

Setelah mencapai ketebalan tertentu, biasanya lapisan biomassa ini terbawa


aliran limbah cair ke bagian bawah. Limbah cair di bagian bawah dialirkan ke
tangki sedimentasi untuk memisahkan blomassa. Resirkulasi dari tangki
sedimentasi diperlukan untuk meningkatkan efislensi.
3. Sistem RBC (Rotating Biolocal Disk)
Sistem RBC terdiri atas deretan cakram yang dipasang pada as horisontal
dengan jarak sekitar 4 cm. Sebagian dari cakram tercelup dalam limbah cair, dan
sebagian lagi kontak dengan udara. Pada saat diputar, permukaan cakram secara
bergantian kontak dengan limbah cair dan kemudian kontak dengan udara.
Akibatnya, mikroorganisme tumbuh pada permukaan cakram sebagai lapisan
biologis (biomasa), dan mengabsorpsi bahan organik dalam limbah cair.
4. Sistem SBR (Sequencing Batch Reactor)
Sistem SBR adalah suatu sistem lumpur aktif yang dioperasikan secara
curah (batch). Satuan proses dalam sistem SBR identik dengan satuan proses
dalam sistem lumpur aktif, yaitu aerasi dan sedimentasi untuk memisahkan
biomassa. Pada sistem lumpur aktif, kedua proses tersebut berlangsung dalam
dua tanki yang berdan, sedangkan pada SBR berlangsung secara bergantian pada
tanki yang sama. Keunikan lain sistem SBR adalah bahwa tidak diperlukan
resirkulasi sludpe. Proses sistem SBR terdiri atas lima tahap, yaitu pengistan,
reaksi (aerasi), pengendapan (sedimentasi), pembuangan, dan istirahat (idle).
5. Kolam Oksidasi

Sistem kolam (pola sistem) atau sering disebut juga sebagai kolam
oksidasi merupakan salah satu sistem pengolahan limbah cair tertua, dan
merupakan perkembangan dari cara pembuangan limbah cair secara langsung ke
badan air. Pada sistem kolam. konsentrasi mikroorganisme relatif kecil,
suplai
oksigen dan pengadukan berlangsung secara alami, sehingga proses
perombakan bahan organik berlangsung relatif lama dan pada area yang luas.
6. Sistem UASB
UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket) merupakan salah jenis
reaktor anaerobik yang paling banyak diterapkan untuk pengolahan berbagai
jenis limbah cair. Berbeda dengan proses aerobik, dimana bahan organik
dikonversi menjadi produk akhir

berupa karbon dioksida dan air,

pada

proses anaerobik sebagai produk adalah gas metana dan karbon dioksida.
7. Septik Tank
Sistem septik tank merupakan salah satu cara pengolahan limbah cair
yang paling sederhana. Dalam sistem septik tank proses perombakan limbah cair
berlangsung dalam kondisi anaerobik. Sistem septik tank harus dilengkapi
dengan fasilitas untuk peresapan efluen.
Menurut William (1999), pengolahan limbah dengan aerobic activated
sludge (lumpur

aktif)

merupakan

proses biologis

dengan

memanfaatkan

mikroorganisme untuk mendegradasi bahan-bahan organik yang terkandung


dalam limbah cair. Prinsip dasar proses pengolahan secara lumpur aktif adalah
pemutusan molekul kompleks menjadi molekul sederhana dengan memanfaatkan
populasi mikroorganisme aerobik yang mampu merombak senyawa organik
(molekul kompleks) menjadi gas CO2, H2O, dan sel biomassa baru (molekul
sederhana) (Pohan, 2008; Klopping dkk., 1995; Herlambang dan Wahjono, 1999).
Pemutusan rantai senyawa organik kompleks yang terkandung dalam air limbah
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana akan meningkatkan proses
biodegradasi aerobik dalam sistem lumpur aktif (Damasceno dkk., 2008).

Seperti mikroorganisme pada umumnya, mikroorganisme dalam lumpur aktif


memerlukan sumber nutrisi seperti karbon, nitrogen, fosfor, sulfur, dan unsur-unsur
mikro lainnya yang digunakan dalam proses metabolisme. Semua nutrisi yang
dibutuhkan tersebut dapat diperoleh dari limbah cair (Buchari dkk., 2001).
Mikroorganisme yang umumnya digunakan untuk pengolahan limbah adalah
bakteri, algae, atau protozoa (Pohan, 2008). Pertumbuhan mikroorganisme dapat
membentuk
gumpalan massa yang dapat dipertahankan dalam suspense bila lumpur aktif diaduk.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan mempertimbangkan sifat
mikroorganisme perlu diperhatikan kondisi agar mikroorgansime dapat berkembang
dengan baik sesuai dengan lingkungannya (Buchari dkk., 2001).
Bakteri merupakan komponen utama dari flok lumpur aktif, terdapat
lebih dari 300 jenis bakteri hidup dalam sistem lumpur aktif. Bakteri-bakteri
tersebut mendegradasi bahan-bahan organik dan mentransformasi nutrien. Jenis
umum yang sering ditemukan dalam lumpur aktif adalah Zooglea, Pseudomonas,
Flavobacterium,

Alkaligenes,

Bacillus,

Achromobacter,

Corynebacterium,

Comomonas, Brevibacterium, dan Acenetobactes juga Sphaerotillus, seperti


Beggiatoa, dan Vitreoscilla (Sutapa, 1999).