Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa
NIM

: Fitria Chrusta Karlina


: 0610723010

MASALAH KESEHATAN : Tetanus


DEFINISI
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai
gangguan kesadaran, disebabkan oleh toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan oleh kuman
clostridium tetani (FKUI, 2000).
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman Clostiridium tetani
yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh
badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka (Vanessa,
2007).
Tetanus adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan oleh adanya kontaminasi luka
dari toksin yang dihasilkan oleh bakteri yang bernama Clostridium tetani, yaitu bakteri yang
hidup bertahun-tahun di tanah dalam bentuk spora (Davis, 2009).
Berdasarkan ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tetanus merupakan suatu
penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri Clostridium tetani
dengan gejala utama adalah kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh
badan tanpa disertai adanya gangguan kesadaran.
INSIDEN
Prevalensi tetanus sangat tinggi di negara berkembang dan termasuk dalam 10
penyebab kematian terbesar. Usia pasien tetanus paling banyak adalah 40-53 tahun. Angka
kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi, akibat aktifitas fisik pada laki-laki lebih sering
daripada perempuan. Angka kejadian tetanus tinggi terutama disebabkan oleh kontaminasi
tali pusat, infeksi telinga kronik, luka tusuk pada anak usia sekolah, sirkumsisi pada lakilaki, kehamilan dengan abortus. Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung

kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman
Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana (Esthi, 2004).
KLASIFIKASI
a. Tetanus General
Tetanus jenis ini dapat mengenai semua otot skeletal. Tetanus jenis merupakan
tetanus yang paling membahayakan.
b. Tetanus Lokal
Gejalanya adalah spasme otot hanya pada atau dekat dengan luka yang terinfeksi.
c. Tetanus Cephalic
Mengenai satu atau beberapa otot secara cepat (dalam 1-2 hari) setelah terjadinya
cedera kepala atau infeksi telinga. Trismus (Lockjaw) bisa saja terjadi. Tetanus jenis
ini bisa secara mudah berkembang manjadi tetanus general.
d. Tetanus Nenonatus
Tetanus ini mirip dengan tetanus general, hanya saja tetanus ini terjadi pada
seorang bayi yang umurnya < 1 bulan (Joseph, 2009).
ETIOLOGI
Agen penyebab tetanus adalah Clostridium tetani yaitu bakteri gram positif yang
bersifat anaerob, berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 milimikro. Di luar
tubuh bakteri ini berbentuk spora. Spora ini mampu bertahan dalam lingkungan panas
antiseptic, dan jaringan tubuh hingga berbulan-bulan. Spora tetanus dapat bertahan hidup
dalam air mendidih tetapi tidak di dalam autoklaf, tetapi sel vegetatif terbunuh oleh
antibiotik, panas dan desinfektan baku. Tidak seperti banyak klostridia, Clostridium Tetani
bukan organisme yang menginvasi jaringan, malahan menyebabkan penyakit melalui toksin
tunggal yang dihasilkannya, yaitu tetanospasmin yang lebih sering disebut sebagai toksin
tetanus. Toksin tetanus adalah bahan kedua yang paling beracun yang diketahui setelah
toksin botulinum. Jika dalam kondisi yang baik, kuman ini akan mengeluarkan toksin
(eksotoksin) yaitu tetanuspasmin yang bersifat neurotoksik. Mula-mula toksin akan
menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat (Vanessa, 2007).
FAKTOR RESIKO
2

1.

Penggunaan alat-alat invasif yang tidak steril.

2.

Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin DPT.

3.

Penduduk yang bertempat tinggal di daerah peternakan.

4.

Luka terbuka yang tidak dirawat dengan adekuat (Ngastiy, 2009).

MANIFESTASI KLINIS
Tetanus biasanya terjadi setelah suatu trauma, kontaminasi luka dengan tanah, kotoran
binatang atau logam berkarat dapat menyebabkan tetanus. Tetanus juga dapat terjadi sebagai
komplikasi dari luka bakar, ulkus gangren, luka gigitan ular yang mengalami nekrosis,
infeksi telinga tengah, aborsi septik, persalinan, injeksi intramuscular, dan pembedahan.
Masa tunas biasanya 5 14 hari, tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada
infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh anti serum. Penyakit ini biasanya
terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan
leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan :
1.

Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris.

2.

Kaku kuduk sampai opistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki).

3.

Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut).

4.

Kejang tonik apabila dirangsang karena toksin yang terdapat di kornus anterior.

5.

Rikus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik keatas), sudut mulut tertarik
keluar dan kebawah, bibir tertekan kuat pada gigi.

6.

Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan
sering merupakan gejala dini.

7.

Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan opistotonus, ekstermitas inferior dalam
keadaan ekstensi, lengan kaku dan mengepal kuat. Anak tetap sadar. Spasme mulamula intermiten diselingi dengan periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan
serangan tersebut disertai dengan rasa nyeri. Kadang-kadang di sertai perdarahan
intramuscular karena kontraksi yang kuat.

8.

Asfiksia dan sianosis terjadi akobat serangan pada otot pernafasan dan laring. Retensi
urin dapat terjadi karena spasme otot uretra. Fraktur kolumna vetebralis dapat pula
terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.

9.

Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.


3

10. Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang terjadi tekanan cairan di
otak.
Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf
tepi dan pusat. Ada beberapa macam manifestasi secara umum dari tetanus sesuai dengan
derajatnya:
Derajat I (tetanus ringan)

Trismus ringan sampai sedang


Kekakuan umum: kaku kuduk, opistotonus, perut papan
Tidak dijumpai disfagia atau ringan
Tidak dijumpai kejang
Tidak dijumpai gangguan respirasi
Derajat II (tetanus sedang)

Trismus sedang

Kekakuan jelas

Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan

Takipneu

Disfagia ringan
Derajat III (tetanus berat)

Trismus berat
Otot spastis, kejang spontan
Takipne, takikardia
Serangan apne (apneic spell)
Disfagia berat
Aktivitas sistem autonom meningkat

Derajat IV (stadium terminal), derajat III ditambah dengan


Gangguan autonom berat
Hipertensi berat dan takikardi, atau
Hipotensi dan bradikardi
4

Hipertensi berat atau hipotensi berat (Harnawatiaji, 2008).

Luka tertusuk
Terkena pecahan
kaca/kaleng
Luka tembak
Luka bakar
Luka kotor
Tali pusat BBL

LUKA TERBUKA

Port De Entry
kuman bakteri

Clostridium
Tetani
masuk dalam
tubuh
Infeksi

Release Tetanospasmin

Saraf Perifer

Medula spinalis

Saraf Autonom

Saraf Sensorik

PATOFISIOLOGI
Gangguan
fungsi fisiologis

Sistem Sirkulasi
(pembuluh darah)
Dinetralisir
oleh
aritititoksin

Release Tetanolisin

Merusak jaringan
yang masih sehat
dan melisiskan sel
darah merah
disekitar luka

Saraf Motorik

Synap
Neuromuscular
Asetilkolinesterase
Terblok

Degenerasi protein
Synoptobrevin
5

Asetilkolin

release GABA dan


glysin

Depolarisasi motor end-plate terus-menerus


terhadap sel otot
Kontraksi

Cemas

Defisit perawatan
diri
Spasme otot
menelan
Akumulasi saliva
pada daerah mulut

Intake
cairan tidak
adekuat
Defisit
volume

Perubahan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan

Kejang

Resiko
injuri

Gangguan Saraf

Spasme otot
pernapasan
Aspirasi

Peningkatan
produksi
mucus dan
sekret
Bersihan Jalan Nafas tidak
efektif

Resiko
aspirasi
6

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang.
Pemeriksaan darah : leukosit 8.000-12.000/mm3
Pada penyakit tetanus, hasil pemeriksaan laboratorik tidak khas, likuor serebrospinal
normal, jumlah leukosit normal atau sedikit meningkat. Biakan kuman memerlukan prosedur
7

khusus untuk kuman anaerobik, tidak selalu dapat dilihat pada warna gram bahan luka dan
organisme ini diisolasi pada sepertiga kasus. Selain mahal, hasil biakan yang positif tanpa
gejala klinis tidak mempunyai arti (Subhan, 2002).
PENATALAKSANAAN
a

Penatalaksanaan Umum

Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi.


Pada hari pertama perlu pemberian cairan secara intravena, sekaligus memberikan obatobatan, bila sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas sebaiknya dipertimbangkan
pemberian nutrisi secara parenteral. Setelah kejang mereda dapat dipasang sonde
lambung untuk makanan dan obat-obatan dengan perhatian khusus pada kemungkinan
aspirasi.

Menjaga saluran nafas tetap bebas.


Memberikan tambahan O2 dengan sungkup (masker). Pada kasus yang berat perlu
dilakukan trakeostomi.

Mengurangi spasme dan mengatasi kejang.


Kejang harus segera dihentikan dengan diazepam dengan dosis yang bervariasi
berdasarkan usia :

bayi > 30 hari : 1 to 2 mg IV berikan secara perlahan, repeated q 3 to 4 jam jika


perlu

balita : 0.1 to 0.8 mg/kg/hari up to 0.1 to 0.3 mg/kg IV q 4 to 8 jam

anak > 5 tahun : 5 to 10 mg IV q 3 to 4 jam

dewasa : 5 to 10 mg po q 4 to 6 h or up to 40 mg/jam IV drip

Setelah kejang berhenti, pemberian dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai klinis
pasien. Bila dosis diazepam maksimal telah tercapai namun pasien masih kejang atau
mengalami spasme laring, dipertimbangkan untuk dirawat di ruang perawatan intensif
sehingga otot dapat dilumpuhkan dan mendapat bantuan pernafasan mekanik. Apabila
dengan terapi antikonvulsan dengan dosis rumatan memberi respon klinis yang
diharapkan, dosis dipertahankan 3-5 hari. Selanjutnya pengurangan dosis dilakukan
bertahap (berkisar antara 20 % dari dosis setiap dua hari). Bila pipa nasogastrik telah
8

dapat dipasang, obat anti kejang dibarikan secara oral. Pada tetanus sedang, dosis anti
konvulsan dimulai dengan 1/2-2/3 dari dosis maksimal dan 2/5 dosis maksimal untuk
tetanus ringan. Mengingat tetanus sedang/ringan dapat berubah menjadi tetanus berat
secara cepat, maka setiap saat dosis harus disesuaikan dengan perubahan gejala klinis
dengan pemberian dosis antikonvulsan yang maksimal. Pada tetanus berat, setelah
pemberian diazepam 10 mg iv perlahan-lahan dilanjutkan dengan dosis 100-200 mg/24
jam dengan pompa semprit atau tiap 2 jam atau 12 kali perhari.

Perawatan Luka.
Yaitu dilakukan eksisi jaringan yang cukup luas guna membersihkan jaringan anaerob,
terutama bila ada benda asing (debridement). Perawatan luka dilakukan setiap hari.

Ruang Khusus
Isolasi untuk menghindari rangsangan (suara, tindakan terhadap penderita). Ruangan
harus tenang. Pasien dianjurkan untuk dirawat di Unit Perawatan Khusus bila didapatkan
keadaan kejang-kejang yang sukar diatasi obat-obatan antikonvulsan biasa. Spasme laring
merupakan komplikasi yang memerlukan perawatan intensif seperti sumbatan jalan nafas,
kegagalan pernafasan, hipertermi dan sebagainya. Jika karies dentis atau OMSK dicurigai
sebagai port de enty maka konsultasi ke dokter gigi/THT (Ngastiy, 2009; Subhan, 2002).

Penatalaksanaan Khusus

Antibiotik
Untuk membunuh kuman C. Tetani (vegetatif) diberikan penisilin prokain 50.000100.000/kgBB/hari selama 7-10 hari. Metronidazol tampak sama efektifnya. Tetrasiklin
50 mg/kgBB/hari dan eritromisin (untuk anak berumur = 9 tahun) untuk penderita alergi
penisilin. Untuk penyulit sepsis atau bronkopneumonia diberikan antibiotik yang sesuai.

Anti serum.
Ada berbagai pendapat : Pengobatan spesifik dengan ATS 20.000 U/hari selama 2 hari
berturut-turut secara intramuskulus dengan didahului oleh uji kulit dan mata. Bila
hasilnya positif, maka pemberian ATS harus dilakukan dengan desensitisasi cara
Besredka. Dosis ATT biasanya 50.000-100.000 U, setengahnya diberikan secara intravena
dan setengahnya intramuskuler, tetapi mungkin diperlukan sedikit yaitu 10.000 U saja
sudah cukup. Dapat digunakan ATS 5000 unit intramuskular, tetapi pusat rujukan lain
9

mempergunakan dosis 40.000 unit diberikan separuh intravena dan separuhnya


intramuskular atau bila fasilitas tersedia dapat diberikan HTIG (Human Tetanus Immune
Globulin) 500-3000 IU (Ngastiy, 2009; Subhan, 2002).
c

Pencegahan

Perawatan luka.
Perawatan luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk, luka kotor atau luka
yang diduga tercemar dengan spora tetanus. Terutama perawatan luka guna mencegah
timbulnya jaringan anaerob.

ATS profilaksis.
Hanya efektif pada luka baru (kurang dari 6 jam) memberikan kekebalan pasif, sehingga
dapat dicegah terjadinya tetanus atau masa inkubasi diperpanjang atau bila terjadi tetanus
gejalanya ringan. Umumnya 1500 U im dengan didahului uji kulit dan mata. Harus
segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif.

Imunisasi aktif
Vaksin gabungan toksoid difteri, tetanus dan pertusis (DTP) pada usia 2,4 dan 6 bulan,
dengan booster pada usia 4-6 tahun dan pada interval 10 tahun sesudahnya sampai
dewasa dengan toksoid tetanus-difteri (Td). Toksoid Tetanus (TT) diberikan pada setiap
wanita usia subur, gadis mulai umur 12 tahun dan ibu hamil. Untuk orang-orang umur 7
tahun atau lebih yang belum diimunisasi, seri imunisasi primer terdiri dari 3 dosis Td
yang diberikan intramuskular, yang kedua 4-6 minggu sesudah yang pertama dan yang
ketiga 6-12 bulan sesudah yang kedua. Booster toksoid tetanus (lebih baik Td) diberikan
pada orang yang terjejas yang telah menyelesaikan seri imunisasi primernya jika:
luka bersih dan kecil tetapi telah mencapai 10 tahun sejak booster yang terakhir,
atau luka lebih serius dan telah mencapai 5 tahun sejak booster terakhir atau pada
pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah mendapat luka berat (dosis
50.000 U/kgBB/hari) (Davis, 2010; Joseph, 2009).

KOMPLIKASI

10

1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) didalam rongga
mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia
aspirasi.
2. Asfiksia terjadi karena adanya kekakuaan otot-otot pernafasan sehingga pengembangan
paru tidak dapat maksimal.
3. Atelektasis karena obstruksi oleh secret hal ini karena seseorang dengan tetanus akan
mengalami trismus (mulut terkunci) sehingga pasien tidak dapat mengeluarkan sekret
yang menumpuk di tenggorokan, atau pun menelanya.
4. Fraktur kompresi dapat terjadi bila saat kejang pasien difiksasi kuat sehingga tubuh tidak
dapat menahan kekuatan luar.
5. Kompresi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang.
6. Rhabdomyolisis dan renal failure
7. Bronkopneumoni (Vanessa, 2007).
PROGNOSIS
Tetanus memiliki mortality rate sebesar 50 %, terjadi 15-60 % pada dewasa yang tidak
terobati dan 80-90 % pada neonatus walaupun telah mendapat pengobatan. Angka kematian
paling tinggi terjadi pada usia tua dan pemakai narkotika. Prognosis akan semakin buruk
apabila masa inkubasi lebih pendek dan gejala timbul lebih cepat atau karena pengobatan
yang terlambat (Joseph, 2009).
Dipengaruhi oleh berbagai faktor yg dapat memperburuk keadaan yaitu :
a. Masa inkubasi yg pendek ( 7 hari ).
b. Neonatus dan usia tua (lebih dari 55 th )
c. Frekuensi kejang yg sering
d. Kenaikan suhu badan yg tinggi
e. Pengobatan yg terlambat
f. Periode trismus dan kejang yg semakin sering
g. Adanya penyulit spasme otot pernafasan dan obstruksi jalan nafas (Harnawatiaji,
2008).
DIAGNOSA KEPERAWATAN & DATA SUBYEKTIF-OBYEKTIF
11

1. Resiko injury berhubungan dengan aktivitas kejang


DS : pasien mengeluh kaku
DO : kejang (+)
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus.
DS : pasien mengeluh sesak
DO : ronchi, sianosis, dyspnea, batuk dengan sputum, RR > 20 x/menit
3. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otototot pernafasan
DS : pasien mengeluh sesak
DO : RR > 20 x/menit, retraksi dinding dada, gerakan naik-turun dinding dada
asimetris, pernafasan cuping hidung.
4. Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat.
DS : DO : mukosa bibir kering, turgor kulit buruk, intake cairan <1500 cc/hari, diaforesis
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme
otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut.
DS : DO : Intake kurang, makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat
melalui hidung dan berat badan menurun disertai hasil pemeriksaan protein atau
albumin kurang dari 3,5 mg%
6. Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan
spasme otot faring.
DS : DO : makanan dan minuman sering kembali keluar melalui hidung, jalan nafas tidak
bersih (aspirasi makanan dan minuman).
12

7. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang.
DS : DO : kejang, bed rest, bau badan, gigi kotor, rambut berminyak, tempat tidur kotor,
iritasi kulit.
8. Cemas berhubungan dengan Kurang pengetahuan pasien tentang penanganan
penyakitnya dikarenakan kurangnya informasi.
DS : pasien mengatakan takut akan penyakit yang dialaminya.
DO : tegang, gelisah, nadi >100 x/menit, RR > 20x/menit, berkali-kali pasien
menanyakan tentang efek dari penyakit tetanus.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx. 1 Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
Tujuan : Cedera tidak terjadi
Kriteria Hasil:

Pasien tidak merasa kaku

Kejang (-)
Intervensi
Pre Konvulsif

a.

Rasional

1. Identifikasi faktor resiko pre konvulsif 1. Faktor resiko dapat dihindari sehingga
untuk penyakit kejang
2. Singkirkan benda benda yang melukai.

kejadian kejang bisa diminimalkan.


2. Menghindari terjadinya cedera lebih lanjut
akibat kejang

3. Monitor cardiopulmonal secara terus 3. Perubahan status cardiopulmonal dapat


menerus
4. Sediakan dan dekatkan peralatan suction

menunjukkan terjadinya kejang


4. Keberadaan alat-alat yang dekat akan
mempersingkat

waktu

delay

dalam

penanganan pasien
5. Sediakan O2 sesuai dengan indikasi

5. Membantu memenuhi kebutuhan O2

13

b.

Konvulsif

1. Baringkan pasien ditempat yang rata.

1. Memudahkan penanganan pasien kejang

2. Catat waktu, durasi, bagian tubuh yang 2. Dapat menunjukkan seberapa parah kejang
terlibat dan frekuensi kejang.

yang terjadi sehingga tindakan yang diambil


bisa lebih tepat

3. Pertahankan jalan nafas ( Airway )

3. Menghindari terjadinya henti nafas

4. Pastikan pasien dalam keadaan aman.

4. Pasien kejang dapat mengalami perubahan


kondisi secara tiba-tiba

5. Kolaborasi:

pemberian

pengobatan 5. Diazepam dapat mengontrol kejang dan

(contoh Diazepam )
c.

memberikan efek sedasi

Pasca Konvulsif

1. Monitor TTV dan kesadaran pasien

1. TTV merupakan indikator yang paling


mudah dilihat jika terjadi perubahan pada
kondisi tubuh pasien

2. Pertahankan jalan nafas efektif.

2. Menghindari henti nafas

3. Setelah pasien bangun dan sadar berikan 3. Mengembalikan keseimbangan cairan tubuh
minum hangat, cairan untuk rehidrasi.
4. Sediakan oral hygiene.

4. Dengan

keadaan

oral

yang

bersih

menghindari terjadinya aspirasi


Dx. 2 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
secret/mucus akibat adanya spasme otot laring
Tujuan : pasien memperlihatkan kepatenan jalan nafas
Kriteria Hasil:
sesak (-), ronchi (-), sianosis (-), dyspnea (-), batuk dengan sputum (-), RR 16-20
x/menit
1.

Intervensi
Kaji
status

pernafasan,

1.

frekwensi, irama, setiap 2 4 jam.

Rasional
Takipnu, pernafasan dangkal dan
gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena adanya sekret.

2.

Lakukan pengisapan lendir

2.

Menurunkan resiko aspirasi atau


14

dengan hati-hati dan pasti bila ada

aspeksia dan osbtruksi.

penumpukan secret.
3.

Gunakan sudip lidah saat

3.

kejang.

Menghindari tergigitnya lidah dan


memberi

sokongan

pernafasan

jika

diperlukan.
4.
4.

Miringkan ke samping untuk

Memudahkan dan meningkatkan


aliran sekret dan mencegah lidah jatuh

drainage.

yang menyumbat jalan nafas.


5.

Memaksimalkan

oksigen

untuk

kebutuhan tubuh dan membantu dalam


5.

Observasi

oksigen

sesuai

program.

pencegahan hipoksia
6.

Memaksimalkan fungsi pernafasan


untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap
oksigen dan pencegahan hipoksia

6.

Pertahankan kepatenan jalan

7.

Mengurangi rangsangan kejang.

nafas dan bersihkan mulut


7.

Kolaborasi:

Pemberian

sedativa Diazepam drip 10 Amp (hari


pertama dan setiap hari dikurangi 1 amp)
Dx.3 Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme
otot-otot pernafasan
Tujuan :
Pola nafas teratur dan normal
Kriteria Hasil:
RR 16- 20 x/menit, retraksi dinding dada (-), gerakan naik-turun dinding dada simetris,
pernafasan cuping hidung (-)
Intervensi
1. Monitor irama pernafasan dan respirasi rate

1. Indikasi

Rasional
adanya penyimpangan

atau

kelainan dari pernafasan dapat dilihat dari


frekuensi, jenis pernafasan, kemampuan
15

dan irama nafas.


2. Atur posisi luruskan jalan nafas

2. Jalan nafas yang longgar tidak ada


sumbatan proses respirasi dapat berjalan
dengan lancar.

3. Observasi tanda dan gejala sianosis, dyspnea,

3. Dyspnea dan sianosis merupakan tanda

takikardi, CRT > 2 dtk

terjadinya gangguan nafas disertai dengan


kerja jantung yang menurun timbul
tacikardi dan capillary reffil time yang
memanjang/lama dan untuk menghindari
terjadinya henti nafas.

4. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam

4. TTV merupakan respon tubuh yang


mudah untuk diamati.

5. Kolaborasi: Pemberian oksigenasi

5. Pemberian oksigen secara adekuat dapat


mensuplai dan memberikan cadangan
oksigen, sehingga mncegah terjadinya
hipoksia.

Dx.4 Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat.
Tujuan : pasien tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan
Kriteria Hasil:
mukosa bibir lembab, turgor kulit baik, intake cairan 1500-2000 cc/hari, diaphoresis (-).
Intervensi
Kaji intake dan out put setiap 24

1.

Rasional
Memberikan informasi tentang

1.

jam.

status

cairan

/volume

sirkulasi

dan

kebutuhan penggantian.
2.
2.

Kaji

tanda-tanda

dehidrasi,

membran mukosa, dan turgor kulit setiap


24 jam.
3.

Indikator keadekuatan sirkulasi


perifer dan hidrasi seluler.

3.

Mempertahankan

kebutuhan

cairan tubuh.

Berikan dan pertahankan intake


16

oral dan parenteral sesuai indikasi dan


disesuaikan

dengan

perkembangan

4.

kondisi pasien.
4.

Penurunan keluaran urine pekat


dan peningkatan berat jenis urine diduga

Monitor berat jenis urine dan


pengeluarannya.

dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan.


5.

Mempertahankan intake nutrisi


untuk kebutuhan tubuh

5.

Pertahankan kepatenan NGT


Dx. 5 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan
spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut.
Tujuan: Status nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil:
Intake cukup, makan dan minuman yang masuk lewat mulut tidak kembali lagi melalui
hidung, BB meningkat, protein atau albumin 3,5 mg%
Intervensi
Rasional
Pasang dan pertahankan NGT 1. Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat

1.

untuk intake makanan.

akan mempertahankan kebutuhan nutrisi


tubuh

2.

Kaji bising usus bila perlu, dan


hati-hati

karena

sentuhan

2.

dapat

Bising

usus

membantu

dalam

menentukan respon untuk makan atau

merangsang kejang.

mengetahui kemungkinan komplikasi dan


mengetahui penurunan obsrobsi air

3.

Berikan

nutrisi

yang

tinggi

3.

kalori dan protein.


4.

adekuat

Timbang berat badan sesuai


protokol

Suplai kalori dan protein yang


mempertahankan

metabolisme

tubuh.
4.

Mengevalusai

kefektifan

atau

kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.


Dx.6 Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan,
dan spasme otot faring.
Tujuan :
Tidak terjadi aspirasi
17

Kriteria Hasil:
makanan dan minuman tidak lagi kembali keluar melalui hidung, jalan nafas paten dari
aspirasi makanan dan minuman
Intervensi
Kaji status pernafasan setiap 2-4

1.

1.

jam.

Rasional
Takipnu, pernafasan dangkal dan
gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena adanya sekret.

2.
2.

Lakukan

pengisapan

lendir

dengan hati-hati.
3.

Menurunkan resiko aspirasi atau


aspiksia dan osbtruksi.

3.

Miringkan ke samping untuk

Memudahkan

dan

meningkatkan

aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang

drainage.

menyumbat jalan nafas.


4.

Memaksimalkan fungsi pernafasan


untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap

4.

Pertahankan

kepatenan

jalan

nafas dan bersihkan mulut.

oksigen dan pencegahan hipoksia.


5.

Memaksimalkan

oksigen

untuk

kebutuhan tubuh dan membantu dalam


5.

Kolaborasi: Pemberian oksigen

pencegahan hipoksia.
6.

Mengurangi rangsangan kejang

Kolaborasi: Pemberian sedativa

6.

sesuai program
Dx.7 Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas
kejang.
Tujuan : Kebutuhan aktifitas sehari-hari/perawatan diri terpenuhi
Kriteria Hasil:
Kejang (-), bed rest (-), bau badan (-), gigi bersih, rambut bersih, tempat tidur bersih,
iritasi kulit (-).
1.

Intervensi
Pemenuhan kebutuhan aktifitas
sehari-hari.

1.

Rasional
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
secara adekuat dapat membantu proses
18

kesembuhan.
2.

Bantu pasien dalam memenuhi


kebutuhan

aktifitas

membersihkan

tempat

2.

BAB/BAK,
tidur

mempertahankan status kesehatan


dan kebersihan diri pasien.

dan

kebersihan diri juga oral hygiene.


3.

Libatkan

keluarga

dalam

3.

perawatan diri sehari-hari.

Keluarga

dapat

meningkatkan

motivasi pasien untuk melakukan aktivitas


kebersihan diri

Dx. 8 Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan pasien tentang penanganan


penyakitnya dikarenakan kurangnya informasi.
Tujuan : pasien menunjukan rasa cemas berkurang atau hilang
Kriteria Hasil:
Takut <<, tegang (-), gelisah (-), nadi 80-100 x/menit, RR 16-20x/menit, klien dan
keluarga dapat mengulang informasi yang diberikan.
Intervensi
Kaji tingkat kecemasan pasien

1.

1.

Rasional
Tingkat kecemasan yang berbeda
butuh penanganan yang berbeda pula.

2.

Jelaskan tentang aktifitas kejang


yang

terjadi

dan

semua

2.

prosedur

dan kondisi tubuhnya, pasien akan merasa

tindakan yang akan dilakukan pada


pasien
3.

pasien

untuk

mengekspresikan perasaannya
4.

lebih tenang dan rasa cemas berkurang


3.

Ajarkan
Gunakan

komunikasi

Ekspresi

perasaan

secara

verbal

dapat membantu mengurangi rasa cemas


4.

dan

Dengan mengetahui semua prosedur

Memberikan

ketenangan

rasa

nyaman bagi pasien

sentuhan terapeutik
DAFTAR PUSTAKA
Davis, Charles. 2009. Tetanus. http://www.emedicinehealth.com/tetanus/article_em.htm.
Diakses tanggal 12 Desember 2010 pukul 15.40 WIB
Esthi, T. T. 2004. Pola Penyakit dan Determinan Mortalitas Tetanus di Bagian Penyakit
Dalam RSUD Dr. Moewardi Surakarta. http://fk.uns.ac.id/index.php? option=com_
19

content&view=article&id=142:pola-penyakit-dan-determinan-mortalitas-tetanus-dibagian-penyakit-dalam-rsud-dr-moewardi-surakarta&catid=63:abstrakskripsi&Itemid=111. Diakses tanggal 11 Desember 2010 pukul 17.00 WIB


Fakultas Kedokteran UI. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. Medi
Aesculapius. Jakarta
Harnawatiaji. 2008. Tetanus. WordPress.com. Diakses tanggal 11 Desember 2010 pukul
17.15 WIB
Joseph,

Lentino

R.

2009.

Tetanus(Lockjaw).

http://www.merckmanuals.com/

professional/sec14/ch178/ch178i.html. Diakses tanggal 12 Desember 2010 pukul


10.30 WIB
Ngastiy, Rafani Pasbar. 2009. Tetanus. www.rafani.co.cc. Diakses tanggal 12 Desember
2010 pukul 10.25 WIB
Subhan. 2002. L a p o r a n Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Tetanus Di Ruang Bedah
RSUD Dr. Soetomo Surabaya. FK UNAIR. Surabaya
Vanessa, D. A. 2007. Tetanus. http://www.scribd.com/doc/7432195/Laporan-KasusTETANUS. Diakses tanggal 11 Desember 2010 pukul 20.10 WIB

20