Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

Manusia dan Pandangan Hidup


Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar

DISUSUN OLEH:
Reisha Navelie L.P 270110140036
M. Naufal Dhia Ramadhan 270110140037
Hamdanillah 270110140038
Marsya Alifiana Asad 270110140160

UNIVERSITAS PADJAJARAN
FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga tersusunnya tugas makalah ini.
Pengembangan pembelajaran dan materi yang ada pada makalah ini, dapat senantiasa
dilakukan oleh mahasiswa dalam bimbingan dosen. Upaya ini diharapkan dapat lebih
mengoptimalkan penguasaan mahasiswa terhadap kompetensi yang dipersyaratkan.
Dalam penyusunan makalah yang berjudul Manusia dan Pandangan Hidup ini, masih
banyak kekurangannya, maka dari itu penyusun mengharapkan tegur dan sapa demi perbaikan
yang akan datang.
Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu
penyusunan makalah ini.
Jatinangor, November 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

ii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP 16


DAFTAR PUSTAKA 17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dan Pandangan Hidup adalah satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan, karena
pandangan hidup sudah menjadi prinsip dasar dari manusia itu sendiri. Setiap manusia
memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda mengelompokkan pandangan hidup yang
berdeda-beda akan menciptakan paham atau aliran. Pandangan hidup tidak terlepas dari
masalah nilai dalam kehidupan manusia. Jadi pandangan terhadap hidup ini adalah segala
sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia
Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia
tersebut. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan
makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu
pihak manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain manusia menyadari
kehidupannya lebih kompleks.
Pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya tidak semua
manusia menyadari, sehingga banyak orang yang memeluk sesuatu agama semata-mata atau
dasar keturunan. Pandangan hidup penting bagi kehidupan manusia dimasa sekarang
maupun kehidupan di akhirat, dan sudah sepantasnya setiap manusia memilikinya.
Penjelasan singkat mengenai pandangan hidup ini lah yang mendasari penyusun untuk
membuat sebuah makalah yang berjudul Manusia dan Pandangan Hidup.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan manusia dan pandangan hidup?
2. Hal-hal apa saja yang menjadi unsur dari pandangan hidup?
3. Apa yang dimaksud dengan sikap hidup?
4. Bagaimana berpandangan hidup yang baik?
1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian manusia dan pandangan hidup
2. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi unsur dari pandangan hidup
3. Untuk mengetahui pengertian sikap hidup
4. Untuk mengetahui langkah-langkah berpandangan hidup yang baik
1.4 Batasan Masalah
Makalah ini dibuat dengan batasan masalah sebagai berikut:
1. Manusia dan pandangan hidup hanya dibahas secara umum, tidak secara mendetail

2. Beberapa hal yang menjadi unsur dari pandangan hidup itu sendiri hanya dibahas per sub
nya saja, tidak dibahas secara mendalam juga sama seperti dengan pengertian manusia
dan pandangan hidup
3. Sikap hidup hanya dibahas tentang pengertian beserta makna dari sikap hidup itu sendiri
4. Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik dibahas secara per sub dan dijelaskan
secara singkat

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pandangan Hidup
Menurut Koentjoroningrat, sebagai salah satu pokok bahasan dalam Ilmu Budaya Dasar,
pandangan hidup mengandung pengertian yang mendasar yakni Pandangan Hidup adalah nilai
nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selektif oleh para individu dan
golongan di dalam masyarakat.
Sistem nilai budaya sering juga merupakan pandangan hidup atau world view bagi
manusia yang menganutnya. Apabila sistem nilai merupakan pedoman hidup yang dianut oleh
sebagian besar warga masyarakat, pandangan hidup merupakan suatu sistem pedoman yang
dianut oleh golongan-golongan atau, lebih sempit lagi, oleh individu-individu khusus di dalam
masyarakat.
Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu
yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sebingga
basil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal,
sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai
pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup.
Pandangan hidup dapat diklasifikasikan
macam :

berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3

(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak
kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan nonna
yang terdapat pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu
organisasi, maka pandangan hidup itu disebut ideologi. Jika organisasi itu organisasi
politik, ideologinya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu negara, ideologinya disebut
ideologi negara.
Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan,
usaha, keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang
tidak terpisahkan.

2.1.1 Cita-Cita
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, cita-cita adalah keinginan atau kehendak yang
selalu ada di dalam pikiran atau sebuah tujuan sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan)
dimana untuk mewujudkannya, kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Dengan demikian,
cita-cita merupakan suatu pandangan hidup terhadap masa depan. Sebagai intinya, cita-cita
adalah suatu harapan atau vision about future.
Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa yang akan datang sebagai
ide atau cita-cita terdapat jarak waktu. Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita-citakan,
hal itu bergantung dari tiga faktor. Pertama, manusianya yaitu yang memiliki cita-cita; kedua,
kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakan; dan ketiga, seberapa tinggikah
cita-cita yang hendak dicapai.
Cita-cita yang baik adalah cita-cita yang dapat dicapai melalui kerja keras, kreativitas,
inovasi, dukungan orang lain dan sebagainya. Khayalan hasil melamun cenderung tidak logis dan
bersifat mubazir karena banyak waktu yang terbuang untuk menghayal yang tidak-tidak.
2.1.2 Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya
sarna dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.
Prinsip bahwa kebajikan merupakan suatu pengetahuan adalah dengan melakukan kebaikan.
Namun, kejahatan, kekeliruan atau semacanya muncul karena kurangnya pengetahuan,
ketidakacuhan, dan ketiadaan lainnya. Jika mengetahui kebaikan adalah dengan melakukan
kebaikan, maka kekeliruan hanya datang dari kegagalan untuk mengetahui apa yang baik untuk
dilakukan. Tak ada orang yang melakukan kejahatan secara sukarela, jika mengetahui kebaikan
tentang sesuatu (dalam hal apapun itu), seseorang tak mungkin bermaksud memilih kejahatan.
Seseorang harus tahu sifat alamiah manusia, supaya mengerti apa yang baik bagi manusia
dan apa yang akan bisa membawa kebahagiaan, serta supaya mengerti bagaimana hidup dan apa
yang harus dikejar untuk diraih. tanpa memperhatikan ini, tak akan pernah tahu apa yang baik
bagi manusia dalam sebuah kehidupan, mengejar demi mencapai sesuatu namun tak pernah
mendapatkan kebahagiaan, kehidupan seperti bisa dikatakan kehidupan yang tak teruji,
sedangkan kehidupan yang tak teruji tidak layak disebut hidup (Socrates : Seri Petualangan
Filsafat).

Ada 3 hal faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap manusia, yaitu :
1. Faktor pembawaan (hereditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam
kandungan.
2. Faktor lingkungan dimana mereka tinggal dan hidup dalam lingkungan yang baik
maupun tidak baik.
3. Faktor pengalaman yang khas yang pernah dialami sewaktu dia mulai hidup dan hingga
sampai dewasa.

Karena manusia merupakan anggota masyarakat, maka manusia juga terikat dengan
suara masyarakat. Setiap masyarakat adalah kumpulan suara hati pribadi-pribadi dalam
masyarakat itu. Suara hati tiap pribadi itu pasti selalu menginginkan yang baik, maka
masyarakat yang terdiri atas pribadi-pribadi ini pasti suara hatinya juga menginginkan yang baik
untuk kehidupan masyarakatnya. Misalnya, warga disuatu daerah menghendaki kerja bakti
dengan mengadakan pembersihan saluran air di kampung. Bila kita ikut beramai-ramai kerja
bakti, berarti kita mengikuti suara hati masyarakat, kerja bakti itu. Tetapi bila kita tidak
mengikutinya berarti kita tidak mau mengikuti suara hati masyarakat.
Sesuatu yang baik bagi masyarakat, berarti baik bagi kepentingan masyarakat. Tetapi
dapat saja terjadi, bahwa sesuatu yang baik bagi kepentingan umum/masyarakat tidak baik bagi
salah seorang atau segelintir orang didalamnya atau sebaliknya. Dengan demikian, seseorang
harus tunduk kepada apa yang baik bagi masyarakat umum.
2.1.3 Usaha
Usaha / perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus
kerja keras untuk kelanjutan hidupnya, Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan.
Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan, manusia
tidak dapat hidup sempuma. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia harus kerja keras.
Apabila seseorang bercita-cita menjadi ilmuwan, ia harus rajin belajar dan tekun serta memenuhi
semua ketentuan akademik.
Ketika suatu tujuan telah ditetapkan dan ingin dicapai maka langkah berikutnya harus
disertai dengan implementasi. Disetiap proses perjuangan selalu membutuhkan implementasi
nyata. Hasil nyata akan terwujud apabila kita bisa menjaga proses implementasi dengan baik dan
benar. Hasil yang mampu dicapai merupakan wujud dari sebuah perjuangan atau kerja keras.

Perjuangan atau kerja keras tidak selalu identik dengan lamanya kita melakukan proses
implementasi untuk mewujudkan keinginan kita. Bisa jadi seseorang membutuhkan perjuangan
yang lebih singkat dengan sedikit sumber daya yang dibutuhkan, sedangkan individu lainnya
justru sebaliknya.Kesiapan, ketersediaan dan kualitas sumber daya, strategi, situasi dan tingkat
kesulitan yang dihadapi, serta dukungan dari lingkungan eksternal amat menentukan seberapa
besar dan lamanya sebuah perjuangan harus dilakukan.
Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas
itulah timbul perbedaan tingkat kernakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya.
Kemampuan itu terbatas pada fisik dan keahlian/ketrampilan. Orang bekerja dengan fisik
lemah memperoleh hasil sedikit, ketrampilan akan memperoleh penghasilan lebih banyak jika
dibandingkan dengan orang yang tidak mempunyai ketrampilan/keahlian. Karena itu mencari
ilmu dan keahlian/ketrampilan itu suatu keharusan. Sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan
sastra: tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat dalam pendidikan dikatakan sebagai
long life education
Karena manusia itu mempunyai rasa kebersamaan dan belas kasihan (cinta kasih)
antara sesama manusia. maka ketidakmampuan atau kemampuan terbatas yang menimbulkan
perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi bersama-sama secara tolong menolong,
bergotong-royong.
Apabila sistem ini diangkat ke tingkat organisasi negara,maka negara akan mengatur
usaha / perjuangan warga negaranya sedemikian rupa, sehingga perbedaan tingkat
kemakmuran antara sesama warga negara dapat dihilangkan atau tidak terlalu mencolok.
Keadaan ini dapat dikaji melalui pendangan hidup yang dianut oleh suatu negara.
2.1.4 Keyakinan / Kepercayaan
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu
dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Keyakinan merupakan suatu sikap,
maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan
kebenaran.
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau
kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat yaitu:

1.

Aliran naturalisme; hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang
merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari nature, dan itu dari Tuhan. Tetapi yang
tidak percaya pada Tuhan, nature itulah yang tertinggi. Aliran naturalisme berisikan spekulasi
mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada
2.
Aliran intelektualisme; dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan
akal. Dengan akal manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik,
walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan
piker (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi,
teknologi adalah alat Bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin
teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan akal. Apabila aliran ini dihubungkan
dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan
hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal.Benar menurut akal itulah
yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan
teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akal menimbulkan
kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah lakudan perbuatannya itu
bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekankan pada setiap individu.
Karena itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi) dapat menguasai individu yang
berpikir rendah (bodoh)
3.
Aliran gabungan. Dasar aliran ini idalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib
artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala
sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani).
Jadi apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani. Apabial
aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbil dua kemungkinan
pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan
hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan,
dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir
kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme. Apabila dasar keyakinan itu
kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari keyakinan secara berimbang,
akan dalam arti baik sebagia logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani), logika
berpikir baik secara individual maupun secara kolektif panangan hidup ini disebut
sosialisme-religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir
dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.
2.2 Sikap Hidup

Sikap hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup. Dalam menghadapi
kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok manusia,
ada beberapa sikap etis dan sikap nonetis. Sikap etis disebut juga sikap positif sedangkan sikap
nonetis disebut juga sikap negatif. Ada tujuh sikap etis, yaitu : sikap lincah, sikap tenang, sikap
halus, sikap berani, sikap arif, sikap rendah hati, dan sikap bangga. Sedangkan sikap nonetis ada
6 yaitu : sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap angkuh, sikap rendah diri.
Sikap-sikap positif bagi bangsa Indonesia. Sikap-sikap itu antara lain : sikap suka bekerja keras,
sikap gotong royong, menjaga hak dan kewajiban, sikap tolong menolong, dan sikap mengargai
pendapat orang lain. kebajikan secara nyata dan dapat dirasakan melalui tingkah lakunya. Dan,
dalam hal ini, tingkah laku manusia sebagai perwujudan kebajikan inilah yang akan
dikemukakan karena wujudnya dapat dilihat dan dirasakan. Karena tingkah laku bersumber pada
pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda dari
orang lain dan tergantung dari pembawaan, lingkungan, dan pengalaman. Dalam setiap
perbuatan, manusia harus memahami etika yang berlaku dalam masyarakat. Sehingga kehidupan
dalam memasyarakat menjadi tenang dan tentram.
Namun demikian dibalik keragaman pendapat tersebut tampaknya ada satu benang merah
yang dipersamakan, yaitu adanya kesepakatan bahwa manifestasi sikap tidak dapat dilihat secara
langsung akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup.
Sikap manusia bukanlah suatu konstruk yang berdiri sendiri, akan tetapi paling tidak ia
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konstruk-konstruk lain, seperti dorongan,
motivasi, atau bahkan dengan nilai-nilai tertentu.
Motivasi adalah kesiapan yang ditujukan pada sasaran dan dipelajari untuk tingkah laku
bermotivasi. Sikap adalah kesiapan secara umum untuk suatu tingkah laku bermotivasi, sedang
nilai-nilai sasarn adalah sasaran atau tujuan yang bernilai terhadap mana berbagai pola sikap
dapat diorganisir.
Dalam buku Strategi Kebudayaan, Van Peursen melihat adanya tiga periode peralihan
mencolok yang dialami manusia pada umumnya. Ketiga periode itu adalah tahap mistis, tahap
ontologi, dan tahap fungsional. Tahap mistis merupakansikap manusia yang merasa dirinya
terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib disekitarnya. Tahap ontologi adalah sikap manusia yang
tidak hidup lagi dalam kepungan. Sedangkan tahap fungsional merupakansikap dan alam pikiran
yang semakin nampak dalam diri manusia modern.

Sedangkan menurut Frans Magnis Suseno melihat adanya dua bahaya yang menjadi
kendala dalam kehidupan manusia dalam mempertahankan sikap hidup yang tepat itu, bahaya
tersebut adalah nafsu dan pamrih. Nafsu merupakan perasaan-perasaan kasar yang bisa
menggagalkan kontrol diri manusia dan sekaligus membelenggunya secara buta pada dunia lahir.
Sedangkan pamrih adalah tindakan yang semata-mata mengusahakan kepentingannya sendiri
tanpa memperdulikan kepentingan orang lain.
2.3 Langkah-langkah Berpandangan Hidup yang Baik
1. Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari
setiap aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya
kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hidup, maka
kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada, dan bahkan
hidup itu ada sebelum manusia itu belum turun ke dunia.
2. Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini
dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita
berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita
hendaknya mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu
juga bagai yang berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu
Al-Quran, Hadist dan ijmak itu dan bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik di
dunia maupun di akhirat.
3. Langkah selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan
hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat
dan

benar

mengenai

kebenaran

pandangan

hdiup

itu

sendiri.

Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya,


yaitu dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu
sendiri. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini,
menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang
yang dianggap lebih tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu
atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayati pandangan hidup
kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.
4. Setelah mengetahui kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau
dari segi kemasyarakatan maupun negara dan dari kehidupan di akherat, maka hendaknya

kita meyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini ini merupakan suatu
hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan
hidupnya.
5. Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini
sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain.
Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan
manfaat mengabdi ini dapat dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri
bisa terwujud di masa masih hidup dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia
itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan

makhluk lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebut adalah pandangan hidup. Disatu
pihak manusia menyadari kehidupannya lebih kompleks.
2. Unsur-unsur dari pandangan hidup adalah cita-cita, kebajikan, usaha, dan keyakinan atau
kepercayaan
3. Sikap hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup. Dalam menghadapi
kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau menghadapi kelompok
manusia, ada beberapa sikap etis dan sikap nonetis.
4. Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik adalah mengenal, mengerti,
menghayati, meyakini, mengabdi

Daftar Pustaka
Adam, Sanusi. 2013. Manusia dan Pandangan Hidup. Tersedia di:
http://sanusiadam79.wordpress.com/2013/04/25/manusia-dan-pandangan-hidup/. Diakses pada
11 November 2014.

Abdi, Anwara. 2013. Manusia dan Pandangan Hidup. Tersedia di:


http://anwarabdi.wordpress.com/2013/06/01/manusia-dan-pandangan-hidup/. Diakses pada 11
November 2014.
Prasetiyo, Budi. 2014. Makalah Manusia dan Pandangan Hidup. Tersedia di:
http://budiprasetiyo14.blogspot.com/2014/05/makalah-manusia-dan-pandangan-hidup.html.
Diakses pada 11 November 2014.
Septiansyah, Ali. 2013. Tugas 1 Manusia dan Pandangan Hidup. Tersedia di:
http://aliseptiansyah.wordpress.com/2013/05/06/tugas-1-manusia-dan-pandangan-hidup/.
Diakses pada 11 November 2014.