Anda di halaman 1dari 12

DEMOKRASI DAN MUSYAWARAH MUFAKAT

Disusun oleh :
Reisha Navelie Levia Pujiyono (270110140036)
Kelas :
H

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Petrografi. Penyusunan makalah
ini untuk melengkapi tugas mata kuliah Praktikum Petrografi.
1

Dengan penyusunan makalah ini penulis berusaha menggali tentang Praktikum


Petrografi. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat
saya harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain
dan pada waktu mendatang.

Jatinangor, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
2

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan ..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Demokrasi ....................................................................................................... 3
2.2 Pengertian Demokrasi .................................................................................................. 4
2.3 Macam-macam Demokrasi............................................................................................ 5
2.4 Prinsip-prinsip Demokrasi ............................................................................................ 7
2.5 Ciri-ciri Negara Demokratis . 8
2.6 Sejarah Demokrasi di Indonesia . 11

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 15
Daftar Pustaka ........................................................................................................................ 17

A. Pengertian Petrografi
Petrografi merupakan cabang ilmu dari petrologi yang mempelajari mengenai deskripsi
dan klasifikasi batuan dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Dalam deskripsi
batuan secara petrografis hal yang sangat diperhatikan adalah sifat optik mineral
penyusun batuan. Sedangkan dalam pengelompokkan atau klasifikasi batuan secara
petrografis, didasarkan dari hasil pengamatan tekstur dan komposisi mineral utama
pembentuk batuan (rock forming mineral)
B. Mikroskop Polarisasi dan Fungsinya

1. Kaki mikroskop berbentuk tapal kuda


4

2. Gigir mikroskop
3. Tromol pengatur kasar dan halus yang umumnya terpisah. Gunanya untuk mengatur
jarak objektif dan preparat. Tromol pengatur yang halus acapkali memiliki pembagian
skala dan gunanya untuk mengukur selisih ketinggian kedudukan obyektif.
4. Meja yang berbentuk piring dengan lubang di tengah-nya yaitu untuk jalan cahaya
yang masuk. Piring ini dapat diputar-putar pada porosnya yang tegak, pada tepi meja
mempunyai pembagian skala dari 0 sampai 360, dan disertai pula dengan nonius.
Ada beberapa lubang sekrup pada meja tersebut, di antaranya untuk menempatkan
penjiepit preparat (dua buah) dan lubang-lubang untuk mendudukkan "mechanical
stage" yaitu suatu alat untuk menggerak-kan preparat pada dua arah yang scaling
tegak lnrus
5. Sekrup pemusat gunanya untuk mengatur agar sumbu putaran meja tepat benar pada
potongan salib rambut (cross hairs). Biasanya sekrup pemusat merupakan bagian dari
obyektif.
6. Tubus, yaitu bagian yang umumnya dengan pertolongan tromol pengatur dapat
diturun-naikkan. Tetapi pada mikroskop model Carls Zeiss bila tromol pengatur
diputar yang bergerak adalah mejanya, sedangkan tubus tetap pada tempatnya.
Sekalipun demikian efeknya tetap sama, karena menurunkan meja sama dengan
mengangkat tubus.
7. Cermm yang selalu terdiri dari cermin datar dan konvek. Masing-masing gunanya
untuk mendapatkan pantulan sinar sejajar dan sinar konvergen. Pada beberapa jenis
mikroskop tempat kedudukan cermin ini digantikan oleh sumber cahaya (lampu) yang
memakai filter gelas biru.
8. Kondensor, yaitu bagian yang terdiri dari lensa cem-bung untuk memberikan cahaya
yang konvergen.
9. Diafragma iris, yaitu merupakan bagian untuk menga-tur jarak cahaya yang masuk
dengan jalan mengurangi atau menambah besamya apetumya.

10. Merupakan bagian vital yang dibuat dari polaroid atau prisma nicol. Arah getaran
biasanya N S, tetapi pada mikroskop model Carl Zeiss justTu E W.
11. Obyektif juga merupakan bagian vital, biasanya paling sedikit disediakan 5 buah
obyektif atau lebih yang pembesarannya berlainan. Pada beberapa model mikroskop
penggantian obyektif dapat dilakukan dengan cepat berkat adanya sebuah revolver
yang mudah diputar. Pada revolver ini setiap obyektif didudukkan dalam keadaan
siaga.
12. Lubang tempat komparator, yaitu lubang gepeng dimana komparator dapat diselipkan
dengan arah NW - ES.
13. Analisator, yaitu suatu bagian yang vital terbuat dari polaroid atau prisma nicol. Arah
getarannya selalu tegak lurus pada arah getaran polarisator. Sekalipun demikian pada
mikroskop penelitian arah getaran analisator dapat diatur sekehendak kita. Bila arah
getaran analisator dan polarisator saling tegak lurus, maka disebut kedudukan nicol
bersilang.
14. Lensa Bertrand merupakan lensa yang dapat dikeluar-masukkan pula.
15. Okuler, yaitu bagian mikroskop darimana mata kita melihat medan bayangan. Ada
okuler yang memakai pembagian skala (okuler mikrometer) dan ada pula satu, dua
atau lebih okuler tanpa pembagian skala tetapi dengan pembesaran yang berbedabeda.
C. Sifat Optik Mineral (Pengertian dan Cara Mencarinya Saat Praktikum)
1) Warna
Merupakan warna mineral dibawah mikroskop
2) Pleokroisme
Adalah peristiwa perubahan warna mineral apabila meja preparat diputar (tanpa
analisator). Range yang di dapat dalam menentukan pleokroisme ini adalah tidak adalemah-sedang-kuat
3) Indeks Bias
Adalah perbedaan velositas cahaya yang dibelokkan dengan cahaya pada ruang
hampa. Didapatkan dengan cara becke, yakni dengan menggunakan zoom out.

Apabila saat di zoom out, mineral mengerut ke dalam maka indeks bias mineral lebih
besar dari indeks bias medium. Jika saat di zoom out mineral mengeblur maka indeks
bias mineral lebih kecil dari indeks bias medium.
4) Relief
terjadi karena adanya perbedaan indeks bias antara mineral dengan medium serta
permukaan Kristal yang tidak rata. Range relief yang digunakan adalah rendahmedium-tinggi.
5) Bentuk
Bentuk Kristal yang digunakan adalah euhedral, subhedral, dan anhedral.
6) Inklusi
Mineral lain atau fluida material asing yang terdapat pada mineral. Ditentukan ada
atau tidaknya. Jika ada dan itu adalah mineral, tentukan pula jenis mineral tersebut
apa.
7) Belahan
Belahan satu arah atau dua arah
8) Kembar
Pertumbuhan bersama dua atau lebih Kristal. Kembar terdapat pada k-feldspar adalah
mikroklin dan polisintetic. Kembar pada plagiokal ada albit, karlsbad, dan albitkarlsbad.
9) Zoning
Kenampakkan hitam-putih pada plagioklas
10) Tekstur
Merupakan macam-macam tekstur pada mineral optic
11) Warna interferensi
Ialah warna yang didapatkan pada table Michael-Levy saat terang maksimum.
12) Orientasi
Dengan cara memasukkan komparator pada saat keadaan warna interferensi. Lihat
apakah terjadi pengurangan atau penambahan warna. Tentukan mineral tersebut
merupakan length fast atau length slow dengan melihat sumbu c kristalografi mineral
lebih ke arah X (maka length fast) atau Z (maka length slow)
13) Sudut Pemadaman
7

Dengan cara menegakkan sumbu c kristalografi kemudiam catat sudut awal (sudut
yang dilihat adalah yang berhimpit dengan skala nonius pada mikroskop polarisasi)
lalu putar sudut tersebut sesuai dengan length fast (maka ke sumbu X) atau length
slow (maka ke sumbu Z) catat sudut akhir. Kemudian selisih dari sudut akhir dengan
sudut awal tadi merupakan sudut pemadamannya.
14) Sumbu Optik
Merupakan sumbu optik 1 atau sumbu optik 2 (yang anisotrop)
15) Tanda optik
Merupakan tanda determinasi sebuah mineral atau fragmen belahan. Dengan dalam
keadaan konoskop, cari isogear nya baik dalam keadaan biaxial atau uniaxial. Setelah
mendapatkan isogear, masukkan komparator. Lihat (-) atau (+)pada setiap kuadran.
Apabila pada kuadran ganjil (1,3) berwarna kuning, maka tanda optiknya adalah (-)
jika pada kuadran ganjil (1,3) berwarna biru, maka tanda optiknya adalah (+).
16) Sudut 2V
Merupakan sudut yang dibentuk dari perpotongan bidang OA dengan circular section.
D. Foto-Foto Mineral Praktikum

(Kuarsa dalam keadaan pararel nikol)

(Kuarsa dalam keadaan cross nikol)

(Olivin dalam keadaan pararel nikol)

(Olivin dalam keadaan cross nikol)

(Biotit dalam keadaan pararel nikol)

(Biotit dalam keadaan cross nikol)

(Amfibol dalam keadaan pararel nikol)

(Amfibol dalam keadaan cross nikol)

(Pyroxene dalam keadaan pararel nikol)

(Pyroxene dalam keadaan cross nikol)

(K-feldspar dalam keadaan pararel nikol)

(K-feldspar dalam keadaan cross nikol)

10

(Plagioklas dalam keadaan pararel nikol)

(Plagioklas dalam keadaan cross nikol)


E. Kesimpulan
Sifat

Kuarsa

Plagiokla

K-

Amfibol

Mineral
Warna

Colorless

s
Colorless

Feldspar
Colorless

Hijau

Biotit

Olivin

Piroksen

Coklat

colorless

Colorless

terang
Kuat

Tidak ada

Tidak ada

Pleokrois

Kuat

Rendah

Sedang

terang
kuat

me
Indeks

Nmin>N

Nmin>N

Nmin<N

Nmin>N

Nmin>N

Nmin>N

Nmin>N

bias
Relief
Bentuk
Inklusi
Belahan
Kembar

med
Rendah
Tidak ada
Tidak ada

med
Rendah
Satu arah
Albit-

med
Rendah
Satu arah
Mikroklin

med
Tinggi
Satu arah
Tidak ada

med
Sedang
Satu arah
Tidak ada

med
Tinggi
Tidak ada
Tidak ada

med
Tinggi
1 / 2 arah
Tidak ada

Zoning
Tekstur
Warna

karlsbad
Abu,order Abu

Putih,

Hijau,

Merah,

Hijau

Oranye,

Interfere

orde 1

orde 2

orde 2

pucat,

orde 2

nsi
Orientasi

orde 1
(+), hijau Hijau,

Kuning,

orde 2
Putih

Kuning

orde

putih,

2, orde

Hijau,
2 orde

Hijau
2 terang,

11

orde (+), kehijauan

pucat,

length

(+),

(+),

orde

fast

length

length

(+),

fast

fast

3 length
slow

, orde 3 orde
(+),

(+),

length

length

length

8 c^z

slow
0 c^z

fast
36-45 c^z

0 c^z

14 c^z

20 c^z

slow
10-20 c^z

man
Sumbu

Optik
Tanda

(+)

(+)

(-)

(-)

(-)

(-)

(+)

Sudut
Pemada

Optik
Sudut 2V -

12