Anda di halaman 1dari 14

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

EVALUASI HASIL-HASIL PENELITIAN DAN


PENGEMBANGAN PADA AYAM BURAS
MURYANTO
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah

ABSTRAK
Telah dilakukan evaluasi terhadap hasil-hasil penelitian dan pengembangan ayam buras. Pembahasan
makalah dilakukan dengan mengevaluasi upaya-upaya penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan
mulai dari peningkatan produktivitas ayam buras melalui peningkatan sistem pemeliharaan ayam buras dari
tradisional, ke semi intensif dan intensif. Evaluasi lebih dalam terhadap perubahan sistem pemeliharaaan ini
difokuskan pada tujuan usaha pemeliharaan ayam buras yaitu untuk memproduksi telur konsumsi, telur tetas,
anak ayam dan ayam siap potong. Pembahasan dilanjutkan dengan menganalisis hasil-hasil penelitian ditinjau
dari aspek perbibitan yang didalamnya terkait dengan informasi produktivitas, perkandangan, pakan,
pencatatan data dan seleksi, teknik perkawinan dan persilangan. Pada akhir makalah ini dibahas permasalahan
usaha ayam buras saat ini di tingkat petani. Analisis dalam mengevaluasi hasil penelitian dan pengembangan
ayam buras dilakukan secara deskriptif. Dari evaluasi ini diperoleh informasi bahwa penelitian dan
pengembangan ayam buras khususnya pada aspek produksi meliputi bibit, pakan dan manajemen sudah
banyak dilakukan, sedang pada aspek sosial-ekonomi/kelembagaan belum banyak dilakukan. Demikian juga
dengan upaya pengembangan ayam buras dalam bentuk kebijakan publik di lapangan sudah banyak
dilakukan, mulai dari program INTAB, JPS, program bantuan dari BUMN, program perbibitan sampai pada
kebijakan paling baru yaitu program penanggulangan penyakit Flu Burung dan lain-lain. Upaya-upaya
tersebut ternyata belum mampu merubah peran ayam buras sebagai suatu komoditas yang dapat
menyumbangkan pendapatan bagi keluarga petani secara kontinyu. Beberapa hasil survei terbaru
menyebutkan bahwa peran ayam buras saat ini masih sebagai penyangga kebutuhan ekonomi keluarga yang
dijual apabila petani membutuhkan uang tunai, pemeliharaannyapun pada umumnya masih seadanya. Oleh
karena itu disarankan beberapa alternatif dalam rangka mengembangkan ayam buras diantaranya: (1) segera
dilakukan penanganan kasus-kasus penyakit seperti Flu Burung dan tetelo secara intensif, (2) membangun
perbibitan ayam buras yang ditangani oleh pemerintah daerah setempat, (3) mengembangkan ayam buras di
tingkat petani/kelompok tani dengan pendampingan baik teknologi maupun kebijakan serta didukung dengan
permodalan dengan bantuan subsidi bunga dan sejenisnya, (4) penelitian dan pengembangan diprioritaskan
pada aspek sosial-ekonomi/kelembagaan, artinya hasil penelitian dari aspek produksi (bibit, pakan dan
manajemen) ditindaklanjuti dengan penelitian pengembangan sosial-ekonomi/kelembagaan di tingkat petani.
Pengembangan selanjutnya diselaraskan dengan kebijakan pengembangan ayam buras dari pemerintah daerah
setempat sehingga terjadi kerjasama yang saling mendukung dalam pengembangan ayam buras.
Kata kunci: Ayam buras, evaluasi, penelitian dan pengembangan

PENDAHULUAN
Ayam buras sudah sejak lama diketahui
mempunyai eksistensi yang berarti bagi
kehidupan masyarakat petani di perdesaan.
Sebagai jenis peternakan rakyat yang banyak
dipelihara pada kondisi lingkungan yang penuh
keterbatasan, meskipun peningkatan populasinya relatif paling kecil di Jawa Tengah
(1,34% per tahun) dibandingkan jenis unggas
lainnya (itik 3,26%, burung puyuh 20,78%,
ayam ras layer 3,24% dan ayam broiler 35,88%
per tahun (KANWIL DEPTAN JATENG, 1994),
akan tetapi potensi populasinya dan

238

sumbangan terhadap petani pemeliharanya


sebesar 60% (HARDJOSUBROTO dan ASTUTI,
1979) yang pemilikannya tersebar di
perdesaan.
Besarnya populasi ayam buras tersebut
apabila diupayakan peningkatan produktivitasnya, akan menjadi aset nasional yang tinggi
nilainya. Lebih lanjut pada pemeliharaan di
tingkat petani dengan sentuhan input teknologi
tepat guna diikuti perbaikan manajemen
pemeliharaannya akan memberikan nilai
tambah yang cukup berarti dan pengaruhnya
terhadap pertumbuhan ekonomi dalam skala
nasional. MANSJOER (1989) melaporkan bahwa

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

sumbangan ayam buras terhadap produksi


daging nasional sebesar 28%, sedangkan
sumbangan terhadap produksi telur nasional
sebesar 11,5%.
Kelemahan yang dimiliki ayam buras
adalah laju reproduksi dan pertumbuhannya
lambat. Laju reproduksi yang lambat
ditunjukkan dengan produksi telur yang rendah
dan mempunyai sifat mengeram, sehingga
membutuhkan waktu untuk bertelur kembali.
Produksi telur ayam kampung yang dipelihara
secara tradisional hanya 45 butir/ekor/tahun
atau setara dengan 12,5% per hari (SIREGAR
dan SABRANI, 1972). MURYANTO dan
SUBIHARTA (1993) melaporkan bahwa untuk
memproduksi 38 butir telur dibutuhkan waktu
210 hari, dengan rincian 38 hari untuk
berproduksi, 68 hari mengeram dan 104 hari
istirahat bertelur.
Disamping itu masih terdapat kendala
yaitu, sistem pemeliharaan di tingkat petani
yang masih tradisional (seadanya) dengan
pemilikan ayam yang rendah. Pemeliharaan
yang demikian menyebabkan perhatian petani
terhadap ayam yang dipelihara sangat kurang.
Hal ini dapat dibuktikan, dengan adanya
kematian ayam yang tinggi, petani tidak
merasa rugi atau diangap hal yang biasa. Dari
berbagai informasi pengamatan di lapangan
bahwa biasanya penyakit yang sering
menyerang dan menimbulkan kematian tinggi
adalah tetelo (New Castle Desease/NCD). Hal
ini terjadi karena peternak tidak melakukan
vaksinasi pada ayamnya. Saat ini, penyakit
yang menyebabkan kematian dalam jumlah
besar bukan hanya tetelo, tetapi penyakit
gumboro dan Flu Burung.
Dalam rangka meningkatkan produktivitas
ayam buras, telah banyak dilakukan upayaupaya melalui penelitian-penelitian dan
pengembangan mulai dari tingkat laboratorium
sampai tingkat petani. Upaya-upaya tersebut
ternyata belum mampu merubah peran ayam
buras sebagai suatu komoditas yang dapat
menyumbangkan pendapatan bagi keluarga
petani secara kontinyu. Beberapa hasil survei
terbaru menyebutkan bahwa peran ayam buras
saat ini masih sebagai penyangga kebutuhan
ekonomi keluarga yang dijual apabila petani
membutuhkan uang tunai, pemeliharaannyapun
pada umumnya masih bersifat tradisional/
seadanya. Makalah ini membahas hasil-hasil
penelitian dan pengembangan ayam buras dan

beberapa kebijakan yang telah diprogramkan


dalam rangka meningkatkan produktivitas dan
peran ayam buras sebagai salah satu sumber
pendapatan keluarga yang berkelanjutan. Dari
evaluasi ini disarankan beberapa alternatif
dalam rangka meningkatkan produktivitas dan
peran ayam buras sebagai salah satu sumber
pendapatan keluarga petani yang dapat
berkelanjutan.
METODOLOGI
Pembahasan makalah dilakukan dengan
mengevaluasi upaya-upaya penelitian dan
pengembangan yang telah dilakukan mulai dari
peningkatan produktivitas ayam buras melalui
peningkatan sistem pemeliharaan ayam buras
dari tradisional, ke semi intensif dan intensif.
Evaluasi lebih dalam terhadap perubahan
sistem pemeliharaaan ini difokuskan pada
tujuan usaha pemeliharaan ayam buras yaitu
untuk memproduksi telur konsumsi, telur tetas,
anak ayam dan ayam siap potong.
Pembahasan dilanjutkan dengan menganalisis hasil-hasil penelitian ditinjau dari
aspek perbibitan yang didalamnya terkait
dengan informasi produktivitas, perkandangan,
pakan, pencatatan data dan seleksi, teknik
perkawinan dan persilangan. Pada akhir
makalah ini dibahas permasalahan usaha ayam
buras saat ini di tingkat petani, kaitannya
dengan
upaya-upaya
penelitian
dan
pengembangan yang telah dilakukan, serta
memberikan saran guna meningkatkan
produktivitas ayam buras yang dapat
berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan
petani. Secara keseluruhan analisis dalam
mengevaluasi
hasil
penelitian
dan
pengembangan ayam buras dilakukan secara
deskriptif.
PEMBAHASAN
Evaluasi
hasil-hasil
penelitian
dan
pengembangan ayam buras diawali dengan
membahas produktivitas ayam buras melalui
peningkatan sistem pemeliharaan ayam buras
dari tradisional, ke semi intensif dan intensif.
Selanjutnya membahas hasil penelitian ditinjau
dari aspek perbibitan dan terakhir membahas
permasalahan pengembangan ayam buras saat
ini dan memberikan alternatif pemecahannya.

239

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Sistem pemeliharaan ayam buras


Menyadari peran ayam buras sebagai
komoditas yang mempunyai kontribusi
terhadap pendapatan petani di perdesaan, maka
pemerintah telah menetapkan kebijakan dalam
rangka meningkatkan produktivitas dan peran
ayam buras bagi keluarga tani melalui program
intensifikasi, yang dikenal sebagai program
INTAB (Intensifikasi Ayam Buras). Program
ini dilaksanakan melalui pendekatan kelompok
tani dengan menerapkan. Sapta Usaha meliputi
teknologi bibit, pakan, kandang, kesehatan,
manajemen, pasca panen dan pemasarannya.
Upaya pengembangan kelembagaan petani
(kelompok-kelompok tani) merupakan strategi
dalam pembangunan sub-sektor peternakan.
Namun
demikian
dalam
perjalannya
pelaksanaan program INTAB tersebut belum
sesuai dengan harapan.
Dalam hal sistem pemeliharaannya, telah
ditunjukkan adanya perkembangan yang
dicirikan dengan adanya perubahan sistem
pemeliharaan dari cara-cara tradisional menjadi
semi intensif dan bahkan sudah ada yang
melaksanakan secara intensif. Perubahan
sistem
pemeliharaan
tersebut
mampu
meningkatkan produksi telur dan pertumbuhan
ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemeliharaan sistem semi intensif pada
kandang umbaran terbatas produksi telurnya
18,4% hen day, sedang pada pemeliharaan
intensif pada kandang batere produksi telurnya
dapat mencapai 34,8% hen day (MURYANTO et
al. 1994; MURYANTO et al. 1995c). Pada
pemeliharaan tradisional produksi telurnya
hanya 12%
Berkembangnya sistem pemeliharaaan
tersebut berdampak positip terhadap tujuan
pemeliharaan yang mengarah pada spesialisasi
usaha untuk memproduksi telur konsumsi, telur
tetas, anak ayam dan ayam siap potong
(penggemukan). Pemeliharaan sistem semi
intensif dilakukan dengan menambah input
produksi berupa pakan secara terbatas dan
pemeliharaan pada kandang umbaran terbatas.
Sistem semi intensif digunakan untuk tujuan
produksi daging dan produksi telur tetas atau
anak ayam bila dilengkapi dengan penetasan,
sedang pada sistem intensif dikhususkan untuk
memproduksi telur konsumsi.

240

Sistem pemeliharaan untuk memproduksi


telur (konsumsi)
Sistem pemeliharaaan untuk memproduksi
telur konsumsi merupakan implementasi dari
pemeliharaan ayam buras sistem intensif. Pada
sistem ini ayam dipelihara pada kandang batere
individu, sehingga produksi telur masingmasing ayam dapat diketahui. Pakan
merupakan faktor yang sangat menentukan
keberlanjutan usaha ayam buras untuk tujuan
produksi telur (konsumsi) dan secara ekonomis
akan menentukan untung-ruginya usaha
tersebut. Peternak dalam memberikan pakan
pada ayamnya berupa susunan/campuran yang
terdiri dari bahan pakan diantaranya: bekatul,
jagung giling, konsentrat petelur, tepung ikan,
mineral, vitamin dan hijauan. Namun
persentase bahan pakan tersebut seperti yang
dilaporkan oleh MURYANTO et al., (1995a)
yang mengamati usaha pemeliharaan ayam
buras di Jawa Tengah, sangat bervariasi baik
antar kelompok tani ternak buras maupun antar
peternak dalam kelompok. Dilaporkan juga
bahwa bahan yang banyak digunakan adalah
bekatul (50 - 62,5%), jagung (18 - 35%) dan
konsentrat (7,5 - 20%).
Besarnya persentase bahan-bahan tesebut
akan sangat berpengaruh terhadap kualitas
pakan atau kandungan gizi pakan. Sehingga
apabila terjadi perubahan bahan pakannya,
maka secara keseluruhan akan berpengaruh
terhadap produktivitas ternak. Sebagai
gambaran dicontohkan beberapa susunan
pakan yang banyak digunakan oleh anggota
kelompok tani ternak ayam buras di Jawa
Tengah (Tabel 1). Pakan tersebut berdasarkan
analisis
kimia
diketahui
mempunyai
kandungan protein antara 13 - 16% dan energi
2200 - 2400 kkal. Dengan pakan tersebut
produksi telur rata-rata berkisar antara 30 40% (hen day; Tabel 1).
Namun demikian pengamatan di lapangan
menunjukkan bahwa perlu diperhatikan
kualitas bahan penyusunnya dan teknik
pencampurannya. Penurunan kualitas salah
satu bahan pakan misalnya bekatul karena
dicampur dengan serbuk gergaji atau tepung
ikan dicampur dengan tepung tulang atau
bahan lain, dapat menurunkan produksi telur
10-20% bahkan lebih.

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Tabel 1. Beberapa contoh susunan pakan ayam buras untuk tujuan produksi telur konsumsi
Uraian
Bahan:
Bekatul
Jagung giling
Konsentrat
Ece/grit
Tepung ikan
CaCO3 (kapur)
Top mix
Mineral
Hijauan
Kandungan gizi:
Protein kasar (%)
Energi met. (kkal)
Calsium
Phospor

R1

R2

R3

R4

R5

50
30
20

*)
*)

62,5
25
7,5
2
2
0,5
0,5

62,5
25
7,5
2
1,9
0,5
0,6

50
35
12,5
2

0,5
0,5

0,5

53
18
9
2,4
8

8
1,6
*)

16,00
2.400
2,9
0,9

14,00
2.324

15,16
2.300

15,63
2.230
2,4
0,9

13,60
2.200
3,4

Keterangan: 1
= DIRDJOPRATONO et al. (1995)
2 dan 3 = MURYANTO et al. (1996)
4
= KTT-AB GEMAH RIPAH TEMANGGUNG (1994b)
5
= KTT-AB KARYA MAKMUR PEMALANG (1994)
*)
= Kadang-kadang diberikan

Secara sederhana kualitas bahan pakan


dapat diketahui dengan menelusuri asalnya
atau sumber dan proses pembuatannya.
Faktor lain dalam aspek pakan yang dapat
merugikan atau sulit dikontrol oleh peternak
adalah fluktuasi harga bahan dan kontinuitas
pengadaan bahan pakan. Kedua faktor ini
saling terkait, bila bahan pakan sedikit tersedia
di pasaran sedang permintaannya banyak,
maka harga bahan tersebut menjadi mahal.
Hampir semua bahan pakan harganya semakin
tinggi, namun khusus bekatul, jagung dan
konsentrat persentase peningkatan harganya
cukup tinggi. Masalah yang muncul adalah
tidak seimbangnya kenaikan harga bahan
pakan dibandingkan dengan kenaikan harga
telur ayam, sehingga peternak mengalami
kerugian.
Upaya untuk mengatasi masalah ini adalah
dengan menyediakan beberapa alternatif pakan
dengan susunan yang berbeda namun
kualitasnya hampir sama. Beberapa susunan
bahan pakan seperti pada Tabel 1, dapat
dijadikan sebagai alternatif apabila terjadi
kenaikan harga katul, jagung giling dan
konsentrat. Disamping itu untuk mengatasi
perubahan harga bahan pakan dapat dicari
bahan-bahan lain yang dapat menggantikan

salah satu bahan penyusun pakan seperti yang


dilaporkan DIRDJOPRATONO et al. (1992),
bahwa sorgum putih dapat menggantikan
jagung hingga 30% tanpa mempengaruhi
produksinya, hanya indeks warna kuning telur
nilainya menurun.
Hasil pengamatan pada dua Kelompok Tani
Ternak Ayam Buras (KTT-AB) di Kabupaten
Purbalingga dan Temanggung menunjukkan
bahwa usaha memproduksi telur konsumsi
merupakan usaha yang paling banyak diminati
peternak. Hal ini disebabkan karena
pendapatan peternak dapat diperoleh setiap
hari, sehingga biaya produksi khususnya untuk
pakan dan obat-obatan dapat dipenuhi dari
penjualan telur yang diproduksi. Dari 2 KTTAB yang diamati hampir semua peternaknya
(95%) memelihara ayam buras dengan tujuan
memproduksi telur konsumsi (MURYANTO et
al., 1998).
Teknologi yang dimanfaatkan dan sangat
berpengaruh terhadap usaha pemeliharaan
ayam buras ini diantaranya perkandangan,
pakan disamping manajemen pencegahan
penyakit. Kandang yang digunakan dalam
pemeliharaan ayam buras untuk tujuan
memproduksi telur konsumsi adalah kandang
batere individu dengan ukuran 20 x 20 x 40 cm

241

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

dengan posisi lantai miring agar telur yang


diproduksi dapat keluar dari kandang.
Disamping itu, peternak juga menerapkan
teknologi mengurangi lama mengeram dengan
memandikan ayam yang sedang mengeram dan
mencampur dengan pejantan. Teknologi ini
telah dilaporkan oleh MURYANTO dan
SUBIHARTA (1992) yang ternyata mampu
meningkatkan produksi telur. Teknologi
seleksi sederhana juga dilakukan dengan
mengeluarkan ayam-ayam yang produksinya
rendah dan diganti dengan ayam baru yang
diperkirakan mempunyai produksi tinggi.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa
rata-rata produksi telur ayam buras 35% +
4,5% dengan bobot telur rata-rata 36,9 g/butir,
data selengkapnya disajikan pada (Tabel 2).
Produksi ini hampir sama dengan laporan
MURYANTO et al. (1995b) yaitu 33,9% yang
memberikan pakan dengan kandungan protein
13,6% dan energi 2300 kkal, sedangkan
YUWONO et al. (1995) melaporkan bahwa
dengan susunan pakan yang mengandung
protein 14 - 16% dan energi 2.400 - 2.700 kkal,
produksi telurnya berkisar antara 33 - 39,8%.
Tabel 2. Produksi telur konsumsi pada ayam buras
No.

Parameter

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jumlah peternak (orang)


Jumlah ayam/peternak (ekor)
Produksi telur/100 e/bl/ (btr)
Produksi telur/100 e/hr/ (btr)
Produksi telur hen day (%)
Bobot telur/btr (g)
Konsumsi pakan/e/hr/ (kg)

Uraian
22
100
1050,0 + 32,2
35,5 + 2,5
35,0 + 2,5
37,9 + 2,5
0,1

Sumber: MURYANTO et al. (1995b)

Pemeliharaan ayam buras untuk


memproduksi telur tetas
Usaha ayam buras untuk memproduksi
telur tetas menggunakan teknologi pakan,
perkandangan, manajemen dan seleksi yang
sama dengan usaha pemeliharaan ayam buras
untuk tujuan produksi telur konsumsi.
Perbedaannya pada usaha ayam buras untuk
tujuan memproduksi telur tetas adalah dengan
memanfatkan teknologi Inseminasi Buatan
(IB). Teknologi IB ini telah disederhanakan
agar peternak dapat melaksanakannya dengan
baik. Bahan dan alat yang digunakan mudah
didapat dan relatif murah harganya, disamping

242

itu alat-alat yang digunakan tersebut dapat


dimodifikasi dengan menggunakan alat yang
ada di sekitar peternak.
Teknologi IB yang diterapkan adalah IB
secara langsung, artinya semen tidak diawetkan
tetapi langsung digunakan. Pengencer yang
digunakan adalah NaCl fisiologi 0,9% dengan
derajat pengenceran 1:6. Setiap induk
diinseminasi dengan 0,1 0,2 ml semen yang
telah diencerkan sebelumnya. Hasil pengkajian
menunjukkan bahwa rata-rata fertilitas telur
hasil IB mencapai 70 80%.
Keberhasilan IB dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya: (1) kualitas sperma, (2)
ketrampilan petugas/inseminator dan (3)
kesiapan ayam. Kualitas sperma dapat
diketahui dengan menggunakan mikroskop,
apakah sperma normal, hidup dan sebagainya.
Sperma
yang
tidak
baik
apabila
diinseminasikan maka akan menghasilkan
fertilitas telur yang rendah. Ketrampilan dalam
menginseminasi dilakukan dengan berlatih
secara kontinyu. Pejantan yang akan diambil
spermanya dan induk yang akan diinseminasi
sudah dilatih terlebih dahulu, untuk pejantan
biasanya membutuhkan waktu 7 hari,
sedangkan untuk induk bisa 1 2 hari. Induk
yang akan diinseminasi harus sedang bertelur,
sebab apabila tidak bertelur maka sperma yang
diinseminasi sia-sia karena tidak membuahi
telur. Jadi fertilitas telur masih dapat
ditingkatkan apabila ketiga faktor tersebut
dipenuhi.
Penerapan teknologi IB menghasilkan telur
fertil/tetas yang harganya lebih tinggi
dibandingkan telur konsumsi, sehingga
pendapatan yang diperoleh lebih tinggi
dibandingkan dengan usaha pemeliharaan
ayam buras yang hanya memproduksi telur
konsumsi. Disamping itu telur yang tidak fertil
yang dihasilkan dengan teknologi IB masih
dapat dimanfaatkan sebagai telur konsumsi
dengan catatan bahwa pemeriksaan fertil
tidaknya telur dilakukan maksimal umur 5 hari
dalam mesin tetas, dengan demikian telur
tersebut
mempunyai
nilai
ekonomis.
Berdasarkan analisis ekonomi menunjukkan
bahwa keuntungan yang didapat dari
pemeliharaan 100 ekor ayam buras dengan
introduksi teknologi IB meningkat 117,8%
dibandingkan dengan tanpa IB.

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Pemeliharaan ayam buras untuk


memproduksi anak ayam
Keuntungan yang diperoleh dari usaha
pemelihraan ayam buras untuk memproduksi
telur tetas masih dapat ditingkatkan lagi
dengan memanfaatkan teknologi penetasan,
sehingga hasil akhirnya adalah anak ayam
umur sehari (Day Old Chick/DOC).
Berdasarkan perhitungan ekonomi keuntungan
pada pemeliharaan ini meningkat sebesar
81,4%
dibandingkan
dengan
usaha
memproduksi
telur
tetas.
Peningkatan
keuntungan ini cukup tinggi, hal ini disebabkan
bila daya tetas telurnya tinggi 70 - 80%.
Namun, sering dijumpai di lapangan bahwa
daya tetas telur yang ditetaskan menggunakan
mesin tetas rendah bahkan gagal. Hal ini
disebabkan 3 faktor penting dalam proses
penetasan kurang diperhatikan yaitu (1)
kelembaban mesin (2) temperatur mesin dan
(3) ketrampilan petugas.
Beberapa catatan yang perlu diperhatikan
dalam menetaskan telur diantaranya: (1)
sumber panas/alat pemanas harus selalu
tersedia dengan temperatur antara 101 - 105oF
(30 - 38oC), (2) air sangat diperlukan, bersama
dengan temperatur akan mengatur kelembaban
mesin yaitu antara 60 - 70%. Selain itu, perlu
diperhatikan lubang udara/ventilasi dapat
berfungsi sebagai pengatur sirkulasi oksigen
dan pemutaran telur harus dilakukan dengan
benar. Periode kritis telur dalam mesin tetas
adalah 3 hari setelah masuk mesin tetas dan 3
hari sebelum menetas (RASYAF, 1987).
Masalah yang sering dijumpai pada
penetasan dengan mesin tetas skala kecil
(tradisional) adalah sulitnya mengatur/
mempertahankan kelembaban, sehingga sering
dijumpai kematian embrio yang disebabkan
oleh rendahnya kelembaban mesin. Oleh
karena itu, disarankan agar memperluas atau
mempersempit permukaan air yang digunakan
dan menambah atau mengurangi lubang udara
yang ada pada mesin tetas sehingga
kelembaban yang optimal (60 - 70%) pada saat
telur akan menetas dapat tercapai. Kegagalan
penetasan dapat terjadi bila temperatur mesin
menurun drastis, akibat dari matinya aliran
listrik, sehingga untuk menghindari kejadian
tersebut perlu merancang mesin tetas yang
mempunyai dua sumber pemanas yaitu listrik
dan lampu minyak (MURYANTO et.al. 1996b).

Alat penetas telur lain yang digunakan


dapat berupa induk ayam buras dan entog.
Penggunaan entog sebagai penetas disarankan
hanya dilakukan pada lokasi-lokasi yang sudah
terbiasa menggunakannya, sebab apabila
belum terbiasa dapat menyebabkan kematian
embrio dan anak yang baru menetas
(MURYANTO et al., 1995b). Sedangkan
kapasitas optimalnya adalah 12 butir untuk
induk ayam buras (SUBIHARTA et al., 1984),
dan 19 butir untuk entog (MURYANTO et al.,
1995b). Pada penetasan yang menggunakan
ayam dan entog sebagai alat penetas
disarankan untuk menggunakan sangkar yang
berbentuk kerucut (40 x 40 x 20 cm), karena
dapat menghasilkan daya tetas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sangkar bentuk
kotak (SUBIHARTA et al., 1994).
Pemeliharaan ayam buras untuk
memproduksi ayam siap potong
(penggemukan)
Usaha penggemukan anak ayam jantan
merupakan usaha ayam buras yang mempunyai
propek positif. Laporan YUWONO et al., (1993)
menyebutkan bahwa permintaan ayam buras
muda terus meningkat dan permintaan tersebut
sampai saat ini belum dapat dipenuhi. Survei di
Solo (pasar Silir) dan Semarang (pasar
Kobong) menunjukkan bahwa persentase ayam
muda yang dipasarkan masing-masing 90%
dan 70%, sedangkan kapasitas penjualan di dua
pasar tersebut masing-masing 12.000 ekor dan
3.000 ekor per hari.
Secara teknis faktor yang sangat
berpengaruh terhadap usaha penggemukan
adalah faktor pakan dan manajemen. JULL
(1972) dan SIREGAR et al., (1980) menyatakan
bahwa 50 60% biaya produksi didominasi
oleh pakan. Faktor manajemen lebih menitik
beratkan pada sistem perkandangan baik
mengenai tipe kandang yaitu litter dan kandang
bok serta kepadatan kandang yang akan
berpengaruh terhadap tingkat kanibalisme
ayam.
SUBIHARTA et al., (1994) melaporkan
bahwa penggemukan selama 6 minggu pada
anak ayam buras umur 14 minggu dengan
susunan pakan yang terdiri dari 60% konsentrat
grower, 20% jagung dan 20% bekatul
dikombinasikan dengan tingkat kepadatan 8,

243

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

10 dan 12 ekor per m2 , ternyata pertambahan


bobot badan terbaik adalah 648,2 g/ekor pada
kepadatan 8 ekor/m2, sedangkan tingkat
kepadatan tidak berpengaruh nyata terhadap
pertambahan bobot badan namun berpengaruh
nyata terhadap konsumsi dan konversi pakan.
Masalah kanibalisme pada penggemukan
ayam buras dapat diatasi dengan pemotongan
paruh. MURYANTO et al. (1991) melaporkan
bahwa dengan pemotongan paruh terdapat
kecenderungan menurunkan kanibalisme,
meningkatkan efisiensi pemeliharaan yang
ditunjukkan dengan meningkatnya bobot badan
dan menurunnya konversi pakan.
PERBIBITAN
Kualitas dan kelangkaan bibit ayam buras
merupakan
masalah
yang
berkali-kali
disampaikan sebagai latar belakang atau alasan
pentingnya dilakukan suatu penelitian dalam
rangka meningkatkan baik kuantitas maupun
kualitas bibit ayam buras. Namun sampai saat
ini hasil-hasil penelitian yang sudah banyak
tersebut belum dapat diadopsi oleh peternak.
Hal ini diduga disebabkan karena pembibitan
memerlukan waktu yang lama dan biaya yang
tinggi, sehingga sangat sedikit peternak yang
melakukan usaha ini, kalaupun ada jumlah
ayamnya terbatas dan banyak diantaranya
hanya mencoba-coba.
Pada umumnya peternak mengartikan bibit
masih dalam arti kuantitas, belum banyak yang
mempertimbangkan kualitas bibit yang
dibutuhkan, padahal pengertian bibit untuk
mendukung usaha ayam buras adalah meliputi
keduanya baik kuantitas maupun kualitas.
Upaya untuk meningkatkan kualitas bibit
harus didukung dengan informasi produktivitas
dari ayam buras. MURYANTO et al. (1998)
melaporkan pengamatannya terhadap data
performans ayam buras mulai dari telur sampai
menjadi ayam yang berproduksi (Tabel 3).
Informasi tersebut dapat dijadikan sebagai
dasar sampai seberapa besar peningkatan
produk-tivitas akibat hasil suatu perbibitan.

244

Teknologi pendukung dalam perbibitan


ayam buras ini adalah sebagai berikut:
Perkandangan
Seperti diketahui bahwa pemeliharaan
ayam buras dewasa untuk memproduksi telur,
sistem perkandangannya adalah umbaran
terbatas dan batere individu. Ukuran kandang
umbaran terbatas 4 x 4 x 2,5 m, dapat
menampung 8 - 10 ekor ayam dewasa, ukuran
dan kepadatan
dapat dimodifikasi sesuai
dengan kondisi lapangan. Untuk kandang
batere ukurannya 25 x 40 x 40 cm/ekor, tinggi
kandang + 1 m diatas permukaan tanah. Sistem
perkandangan tersebut dijadikan pendekatan
dalam upaya meningkatkan produksi telur
tetas. Jadi upaya peningkatan produksi telur
tetas melalui 2 pendekatan (MURYANTO et. al.
1996):
1. pemeliharaan pada kandang umbaran
terbatas
2. pemeliharaan kandang batere individu
Kedua pendekatan tersebut pada prinsipnya
hampir sama, namun upaya peningkatan
produksi telur tetas melalui pemeliharaan ayam
buras pada kandang batere lebih baik. Hal ini
disebabkan: data produksi lebih teliti (per
individu),
memungkinkan
dilakukan
inseminasi buatan (IB) tanpa mengganggu
produksi dan bibit yang dihasilkan lebih baik
kualitasnya, karena sudah diketahui produksi
induk dan pejantannya melalui seleksi.
Pakan
Pakan ayam buras untuk perbibitan pada
pengkajian ini dititikberatkan pada pakan
induk dan pejantan. Susunan/kualitas pakan
induk untuk menghasilkan telur tetas sama
dengan pakan untuk menghasilkan telur
konsumsi, sedangkan untuk pejantan pakannya
juga sama namun ditambah dengan pakan
tambahan berupa kuning telur (dari telur yang
pecah) atau bahan pakan lain yang merupakan
sumber vitamin maupun mineral guna lebih
meningkatkan
kualitas
spermanya.

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Tabel 3. Data performans produktivitas ayam buras


Parameter
Bobot telur (gram)
Bobot tetas (gram)
Bobot umur 1 bulan (gram)
Konsumsi pakan 1 hari 1 bulan (gram)
Bobot umur 2 bulan (gram)
Konsumsi pakan 1 2 bulan (gram)
Bobot umur 3 bulan (grma)
Konsumsi pakan 2 3 bulan (gram)
Bobot umur 4 bulan (gram)
Konsumsi pakan 3 4 bulan (gram)
Umur I bertelur (hari)
Bobot I bertelur (gram)
Bobot telur I (gram)
Persentase ayam betelur umur 5 bulan (%)
Produksi telur umur 5 6 bulan /ekor (butir)
Produksi telur umur 5 6 bulan (% hen day)
Persentase ayam bertelur umur 6 bulan (%)
Produksi telur umur 6 7 bulan/ekor (butir)
Produksi telur umur 6 7 bulan (% hen day)
Persentase ayam betelur umur 7 bulan (%)
Produksi telur umur 7 8 bulan/ekor (butir)
Produksi telur umur 7 8 bulan (% hen day)
Persentase ayam betelur umur 8 bulan (%)
Produksi telur umur 8 9 bulan/ekor (butir)
Produksi telur umur 8 9 bulan (% hen day)
Persentase ayam betelur umur 9 bulan (%)
Produksi telur umur 9 10 bulan/ekor (butir)
Produksi telur umur 9 10 bulan (% hen day)
Persentase ayam betelur umur 10 bulan (%)
Produksi telur umur 10 11 bulan/ekor (butir)
Prod.telur umur 10 11 bulan (% hen day)
Persentase ayam betelur umur 11 bulan (%)
Produksi telur umur 11 12 bulan/ekor (butir)
Produksi telur umur 11 12 bulan (% hen day)
Persentase ayam bertelur umur 12 bulan (%)
Produksi telur s/d umur 12 bulan/ekor (butir)

Performans
40,73 + 12,10
30,78 + 3,14
146,99 + 37,10
592,92 + 230,84
513,31 + 98,72
890,65 + 42,30
809,21 + 162,19
1.812,06 + 60,77
1.134,96 + 188,28
2.067,42 + 41,33
196,96 + 26,23
1.650,09 + 272,60
32,78 + 3,58
0,83
5,38 + 2,10
17,95
10,83
9,55 + 4,92
31,85
76,66
9,65 + 9,65
32,16
95,00
12,38 + 4,51
41,28
97,50
10,87 + 5,63
36,25
97,50
9,81 + 4,46
32,70
97,50
11,14 + 4,81
37,15
97,50
57,06 + 23,43

MURYANTO et al. (1998)

Pakan ayam buras tersebut baik yang


dipelihara pada kandang umbaran terbatas
maupun batere individu kandungan gizinya
adalah: protein 14 - 17% dan energi 2400 2700 kkal (GULTOM et al. 1989). Pakan
tersebut dapat disusun dari bahan pakan lokal
yang ada di sekitarnya yang harganya murah,
namun kualitasnya tetap sama.

Pengamatan di lapangan menunjukkan


bahwa pakan ayam untuk perbibitan variasinya
sangat besar baik antar kelompok tani ternak
maupun antar peternak dalam kelompok.
Dilaporkan juga bahwa bahan yang banyak
digunakan adalah bekatul yaitu 50 - 62,5%,
jagung 18 - 35% dan konsentrat 7,5 - 20%
(DIRDJOPRATONO et.al. 1995).

245

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Pencatatan data dan seleksi


Pencatatan data ini sangat penting dalam
upaya memproduksi bibit, sebab dapat
membantu dalam menseleksi/memilih ternak
yang akan dikawinkan. Untuk tujuan penghasil
telur pencatatan data dititikberatkan pada
kuantitas telur, namun harus didukung dengan
data kualitas telur (fisik/bentuk telur, sifat
kerabang dan lain-lain). Untuk tujuan
memproduksi daging titik beratnya adalah
pencatatan data bobot badan yang didukung
dengan data mortalitas, konsumsi dan konversi
pakan. Pada pemeliharaan di kandang umbaran
terbatas pencatatan data diperhitungkan secara
kelompok, sedangkan pada batere individu
merupakan data individu.
Data yang diperoleh dari pemeliharaan di
kandang batere individu merupakan data
individu, sehingga pemilihan ternak yang akan
dijadikan tetua (pejantan dan induk) untuk
dikawinkan akan lebih teliti. Ketelitian ini akan
memperbesar peluang dihasilkannya keturunan
yang sesuai dengan tujuan perbibitan.
(MURYANTO et al., 1994).
Teknik perkawinan
Ayam yang akan dikawinkan merupakan
ayam pilihan yang mempunyai produksi tinggi.
Apabila akan menyilangkan ayam buras
dengan ayam jenis lain di tingkat perdesaan,
disarankan
menggunakan
lokal
yang
produksinya tinggi (Kedu, Pelung dll).
Perkawinan ayam buras dengan ayam ras harus
dipertimbangkan mengenai biaya dan waktu
yang diperlukan serta harus dalam kondisi
yang terkontrol dengan program yang
terencana dengan baik.
Perbandingan jantan: betina pada kandang
umbaran terbatas berukuran 4 x 4 x 2,5 m
(termasuk tempat berteduh) adalah 1 pejantan
dengan 6 sampai 10 induk. Sedangkan pada
kandang batere perkawinan dapat dilakukan
secara Insemiansi Buatan (IB), kawin tempel
atau kawin alam biasa. Kawin tempel adalah
perkawinan yang dilakukan dimana induk
dipegang oleh peternak kemudian pejantannya
menghampiri untuk mengawini. Pejantan dan
induk yang digunakan pada perkawinan ini
sebelumnya harus dilatih agar terbiasa. Namun
perkawinan pada kandang batere yang

246

disarankan adalah dengan IB, karena lebih


efisien, biaya relatif murah dan peralatan/
bahan yang digunakan mudah didapat serta
fertilitas telur hasil IB cukup tinggi (84%;
NASROEDIN et al., 1993). Tatacara IB pada
ayam buras secara sederhana sudah dilaporkan
oleh MURYANTO et al. (1995a) dan pada ayam
buras menghasilkan fertilitas, kematian tunas
dan daya tetas masing-masing 71,7; 37,7 dan
62,7%, sedangkan pada ayam Kedu masingmasing 85; 20 dan 20%.
IB merupakan salah satu metode
perkawinan yang mempunyai prospek untuk
dikembangkan. Dengan IB akan didapatkan
keuntungan diantaranya: (1) mempercepat
produksi telur tetas/fertil, (2) mengoptimalkan
pemanfaatan pejantan, (3) memungkinkan
dilakukan seleksi untuk tujuan tertentu
(produksi telur, ayam potong), (4) sebagai
sarana untuk meningkatkan mutu genetik, dan
(5) dengan teknologi penetasan dapat
mempercepat produksi anak ayam. Disamping
itu pada kondisi pemeliharaan ayam buras saat
ini dimana peternak sudah melaksanakan
pemeliharaan di kandang batere untuk tujuan
memproduksi telur konsumsi, maka dengan
menerapkan teknologi IB peternak dapat
sekaligus memproduksi telur tetas dan
memungkinkan dilakukan seleksi induk yang
berproduksi tinggi untuk dikawinkan secara IB,
sehingga akan didapatkan keturunan ayam
yang berproduksi tinggi.
Tenik IB telah disederhanakan dimana
inseminasi secara langsung dilakukan pada
ayam buras betina atau tanpa penyimpanan
sperma (MURYANTO
et al., 1995a).
Keberhasilan IB sangat diperngaruhi oleh
kualitas pejantan (spermanya) dan induk serta
ketrampilan inseminator. Khusus mengenai
ketrampilan inseminator perlu didukung
dengan pelatihan yang intensif bagi peternak
yang berminat untuk mengembangkan IB.
Pemanfaatan IB pada pemeliharaan ayam
buras sistem intensif dapat meningkatkan
pendapatan/penerimaan dibandingkan dengan
pemeliharaan yang hanya memproduksi telur
konsumsi. Hal ini disebabkan adanya
perubahan produk yang dihasilkan dari telur
konsumsi menjadi telur tetas. Saat ini, harga
telur konsumsi Rp. 500 600 per butir sedang
harga telur tetas dapat mencapai Rp.
1.000/butir. MURYANTO et al., (1994)
melaporkan bahwa peningkatan pendapatan ini

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Tabel 4. Kenaikan bobot badan ayam kampung dan persilangannya


Persilangan dan umur

Bobot (g) kampung

Bobot (g) persilangan

% kenaikan

552,34
811,80
751,57
559,97
528,38
713,45

737,00
1021,20
871,49
1015,74
643,13
795,28

33,43
26,44
15,96
81,39
21,71
11,47

Kampung x RIR (10 mg)1


Kampung x RIR (12 mg)2
Kampung x WL (12 mg)3
Kampung x pedaging (8 mg)4
Kampung x petelur (8 mg)5
Kampung x Kedu (12 mg)6

Sumber: 1) MANSJOER dan MARTOYO (1977); 2) MANSJOER (1985); 3) RUBINO (1976);


4) MULYADI dan WIHANDOYO (1981); 5) SARENGAT et al. (1985);
6) HARDJOSUBROTO dan ATMODJO (1977)

dapat
mencapai
118,1%
dibandingkan
pemeliharaan ayam buras yang hanya
memproduksi telur konsumsi.
Melihat adanya prospek yang baik terhadap
teknologi IB, maka perlu dilakukan
pemasyarakatan teknologi tersebut secara
intensif dan didukung dengan teknologi
penetasan. Perpaduan kedua teknologi tersebut
diharapkan dapat mengatasi kekurangan bibit
ayam buras baik secara kuantitas maupun
kualitas.
PERSILANGAN
Dalam upaya meningkatkan produktivitas
ayam lokal, telah dilakukan persilangan antara
ayam buras/kampung dengan ayam lokal
lainnya yang produktivitasnya tinggi maupun
dengan ayam ras petelur dan pedaging. Hasil
dari persilangan tersebut disajikan pada Tabel
4.
Hasil persilangan ayam kampung jantan
dengan White Leghorn (WL) umur 12 minggu
dapat mencapai bobot 871 g dan
peningkatannya dibandingkan dengan ayam
kampung adalah 15,9% (RUBINO 1976).
Persilangan ayam kampung jantan dengan
ayam petelur betina umur 8 minggu bobotnya
643 g, bobot ini lebih tinggi 21,7%
dibandingkan
dengan
ayam
kampung
(SARENGAT et al., 1985).
Ayam hasil persilangan antara ayam
kampung betina dengan ayam Kedu jantan dan
ayam kampung betina dengan ayam Pelung
jantan yang dipelihara dengan manajemen
yang sama dan pakan yang diberikan
mengandung protein kasar 17% dan energi
metabolis 2900 kkal/kg, ternyata bobot badan

pada umur 3 bulan masing-masing 0,9 kg dan


1,20 kg (PRAWIRODIGDO et al., 2000).
PERMASALAHAN DAN ALTERNATIF
PEMECAHAN
Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi dalam
budidaya ayam buras selama 3 dasawarsa ini
tidak jauh berbeda, diantarnya produktivitas
yang rendah, pertumbuhan lambat, tingkat
mortalitas yang tinggi, kesulitan bibit, kualitas
pakan yang rendah, harga pakan mahal dan
lain-lain. Disisi lain telah banyak dilakukan
penelitian-penelitian mulai dari perbaikan
sistem pemeliharaan, penggalian potensi bahan
pakan, perbibitan, dan lain-lain disertai dengan
kebijakan pemerintah dalam medorong
peningkatan produktivitas ayam buras. Hal ini
membuktikan bahwa hasil-hasil penelitian dan
pengembangan (serta kebijakan) ayam buras
belum menunjukkan pengaruh yang signifikan
terhadap budidaya ayam buras di tingkat
petani.
Sekitar tahun 1980, pemerintah telah
mencanangkan program intensifikasi, yang
dikenal sebagai program INTAB (Intensifikasi
Ayam Buras). Program tersebut dilaksanakan
dengan menerapkan Sapta Usaha, meliputi
teknologi bibit, pakan, kandang, kesehatan,
manajemen, pasca panen dan pemasarannya.
Pelaksanaan di lapangan dilakukan melalui
pendekatan
kelompok
tani,
hal
ini
dimaksudkan
untuk
mengembangkan
kelembagaan petani (kelompok-kelompok tani)
sesuai dengan strategi kebijakan pembangunan
sub-sektor peternakan. Pelaksanaan program

247

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

INTAB
pada
awalnya
menunjukkan
peningkatan gairah petani dan instansi terkait
dalam mengembangkan ayam buras.
Sekitar tahun 1990, beberapa daerah di
Pulau Jawa seperti Kabupaten Blitar, Pasuruan,
Temanggung, Purbalingga dan Ciamis
menunjukkan peningkatan budidaya ayam
buras secara intensif dengan skala usaha yang
memadai untuk ukuran ayam buras. Namun
demikian perkembangan tersebut tidak dapat
ber-langsung lama, hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor dan paling menonjol adalah
akibat adanya krisis ekonomi yang melanda
Indonesia pada tahun 1997.
Krisis tersebut berdampak negatif bagi
dunia perunggasan di Indonesia. Sistem
pemeliharaan ayam buras yang sudah mulai
berkembang dari tradisional ke semi intensif
dan intensif mengalami kemunduran lagi. Hal
ini disebabkan oleh tingginya harga bahan
pakan impor seperti bungkil kedelai, tepung
ikan dan jagung serta pakan tambahan.
Tingginya harga bahan pakan merupakan
dampak krisis ekonomi yang mengakibatkan
meningkatnya apresiasi US dolar terhadap
rupiah, sehingga bahan pakan impor menjadi
mahal. Namun demikian bahan pakan lain
yang tidak diimpor seperti bekatul juga
mengalami kenaikan harga yang tinggi.
Akibatnya lebih lanjut banyak peternak ayam
buras yang gulung tikar dan kembali
memelihara ayam buras dengan sistem
pemeliharaaan tradisional (seadanya) dengan
jumlah ayam yang terbatas. Dampak lain dari
krisis ekonomi adalah melemahnya daya beli
masyarakat sebagai konsumen yang tidak
mampu membeli daging dan telur ayam karena
harganya tidak terjangkau.
Pada tahun 1998-1999, pemerintah
menfasilitasi upaya peningkatan pendapatan
masyarakat melalui budidaya ayam buras. Pada
saat itu usaha di bidang perunggasan termasuk
ayam buras mulai bangkit lagi dengan
difasilitasi program Jaring Pengaman Sosial
(JPS), UPSUS, kredit lunak dan lain-lain.
Namun demikian upaya tersebut belum
menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Hal ini disebabkan oleh banyak faktor mulai
dari kesiapan peternak, produktivitas ternak,
sarana pendukung dan lain-lain.

248

Sekitar tahun 2000, budidaya ayam buras


khususnya di Jawa Tengah tidak mengalami
perubahan yang berarti. Pengalaman yang
sudah didapat dari kelompok-kelompok tani
yang sudah maju dapat memberikan motivasi
dalam budidaya ayam buras. Namun demikian
pada saat itu, mulai berkembang breed ayam
yang mempunyai produksi telur yang bobot
dan bentuknya hampir sama tetapi produksi
telurnya lebih tinggi dibandingkan ayam buras,
ayam tersebut adalah ayam Arab. Keunggulan
tersebut menyebabkan beberapa peternak di
Kabupaten Temanggung, Brebes dan lainnya
yang sebelumnya membudidayakan ayam
buras beralih ke ayam Arab. Kondisi yang
demikian
akan
berakibat
semakin
memperlemah keberlanjutan pengembangan
ayam buras.
Seiring dengan upaya pengembangan ayam
buras yang masih dilakukan, pada tahun 2004
dan 2005 terjadi wabah Flu Burung yang
menyebabkan tingginya angka kematian ayam
termasuk ayam buras. Khusus untuk ayam
buras, jumlah kematiannya sulit diprediksi,
mengingat sistem pemeliharaannya dilakukan
secara tradisional. Peternaknyapun tidak
merasa rugi karena kematian seperti itu
dianggap sudah biasa. Upaya vaksinasi
terhadap ayam yang masih belum sepenuhnya
dapat direalisasi di lapangan. Vaksinasi yang
belum sempurna tersebut dapat memicu
munculnya wabah penyakit pada waktu yang
akan datang. Oleh karena itu, perlu diupayakan
vaksinasi secara menyeluruh.
Alternatif pemecahan
Belajar dari pengalaman yang sudah
didapat baik dari aspek penelitian dan
pengembangan maupun dari aspek kebijakan
pemerintah yang pernah dilakukan, maka
disarankan beberapa alternatif yang perlu
dilakukan dalam pengembangan ayam buras
diantaranya:
Penanganan kasus penyakit
Upaya penanggulangan penyakit khususnya
Flu Burung dan penyakit lain seperti Tetelo,
perlu segera dituntaskan dengan menggalakkan
vaksinasi sampai pada sasarannya.

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Membangun perbibitan ayam buras


Perbibitan ayam buras perlu dibangun, hal
ini
diperlukan
untuk
menjaga
dan
meningkatkan produktivitas ayam buras.
Pelaksanaan perbibitan ini dilakukan oleh
pemerintah daerah, hal ini disebabkan karena
biaya yang dibutuhkan cukup besar dan
bersifat rutin. Sejalan dengan kebijakan
otonomi daerah, maka pemerintah kabupaten/
kota dapat mengambil kebijakan untuk
membangun perbibitan ayam buras. Hal ini
disadari cukup sulit pelaksanaannya karena
pada era otonomi daerah pemerintah daerah
dituntut untuk dapat menghasilkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) yang tinggi, padahal
perbibitan ini adalah kegiatan yang
membutuhkan waktu yang lama untuk ikut
berperan dalam meningkatkan PAD. Namun
demikian secara moral, kegiatan perbibitan
mempunyai nilai yang tinggi terhadap upaya
penngembangan komoditas khususnya ayam
buras di wilayahnya masing-masing.
Mengembangkan ayam buras
Pengembangan ayam buras seperti telah
dilakukan sebelumnya, perlu digalakkan lagi
disertai dengan pendampingan di lapangan.
Instasi terkait baik dari litbang dan dari unsur
pelayanan sampai pada Penyuluh Pertanian di
lapangan dapat mengawal kegiatan ini.
Disamping itu, pengembangan ayam buras
perlu didukung dengan permodalan dengan
ketentuan yang ringan. Subsidi bunga dan
sejenisnya
sangat
dibutuhkan
dalam
pengembangan ayam buras. Hal yang perlu
diperhatikan adalah aturan-aturan yang
diterapkan dalam pemberian subsidi bunga
hendaknya sama dengan pemberian kredit
komersial,
bedanya
adalah
adanya
subsidi/keringanan bunga.
Penelitian dan pengembangan
Penelitian dan pengembangan ayam buras
perlu diarahkan pada aspek sosial-ekonomi
atau
kelembagaan
dalam
menunjang
pengembangan ayam buras. Hal ini disebabkan
karena aspek sosek belum banyak dikerjakan.
Penelitian dan pengembangan pada aspek
tersebut dapat sekaligus mendampingi upaya

pemerintah daerah dalam mengembangkan


ayam buras di lapangan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa,
penelitian dan pengembangan ayam buras
khususnya pada aspek produksi sudah banyak
dilakukan, sedang pada aspek sosial-ekonomi
atau kelembagaan belum banyak dilakukan.
Upaya pengembangan ayam buras dalam
bentuk kebijakan sudah banyak dilakukan,
namun hasilnya masih belum seperti yang
diharapkan. Oleh karena itu disarankan
beberapa alternatif dalam pengembangan ayam
buras diantaranya: (1) penanganan kasus-kasus
penyakit seperti Flu Burung dan Tetelo secara
intensif, (2) membangun perbibitan ayam buras
yang ditangani oleh pemerintah daerah
setempat, (3) mengembangkan ayam buras di
lapangan dengan pendapingan baik teknologi
maupun kebijakan serta didukung dengan
permodalan dengan bantuan subsidi bunga dan
sejenisnya,
dan
(4)
penelitian
dan
pengembangan diprioritaskan pada aspek
sosial-ekonomi atau kelembagaan yang
sekaligus berfungsi sebagai pendamping
kebijakan
pemerintah
daerah
dalam
mengembangkan ayam buras.
DAFTAR PUSTAKA
DIRDJOPRATONO, D., MURYANTO, SUBIHARTA dan
D.M. YUWONO. 1995. Penelitian model-model
pemeliharaan ayam buras di daerah Pantura
Jawa Tengah. Laporan hasil kegiatan
penelitian. Sub Balai Penelitian Ternak Klepu.
Ungaran.
DIRDJOPRATONO, W., D. GULTOM dan KASUDI. 1992.
Evaluasi penggunaan sorgum pada ayam buras
periode layer. Laporan kegiatan penelitian.
Sub Balai Penelitian Ternak Klepu. Ungaran
GULTOM D., WILOETO, D. dan PRIMASARI. 1989.
Protein dan energi rendah dalam ransum ayam
buras periode petelur. Pros. Seminar Nasional
Tentang Unggas Lokal. Fakultas Peternakan
UNDIP Semarang.
HARDJOSUBROTO, W. dan M. ASTUTI. 1979. The
sociate of the advancement of breeding
researchs in Asia dan Oceania Animal Genetic
Resources in Indonesia. Workshop on Animal
Genetic Resources. Toeshuba City, Japan.

249

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

HASYIM MULYADI, H dan WIHANDOYO. 1981.


Kemungkinan penggunaan pejantan broiler
dalam usaha meningkatkan produksi daging
ayam sayur melalui perkawinan silang luar.
Pros Seminar Penelitian Peternakan. 23 25
Maret 1981. Bogor.

MURYANTO, W. DIRDJOPRATONO, SUBIHARTA dan


D.M. YUWONO. 1995c. Studi manajemen
pemeliharaan ayam buras untuk memproduksi
anak ayam umur sehari. Jur. Ilmiah Penelitian
Ternak Klepu. 3: 1-10. Sub Balai Penelitian
Ternak Klepu. Ungaran.

JULL, M. 1972. Poultry husbandry. 4th Ed. Mc Grow


Hill Book Company Inc. New York.

MURYANTO, SUBIHARTA dan D.M. YUWONO. 1996.


Pembibitan ayam buras. Prosiding aplikasi
teknologi pada ayam buras. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian. Ungaran.

KANTOR WILAYAH DEPARTEMENT PERTANIAN PROP.


JAWA TENGAH. 1994. Profil pertanian Jawa
Tengah. P2RT Jawa Tengah. Ungaran.
MANSJOER, S.S. 1989. Pengembangan ayam lokal di
Indonesia. Pros. Seminar Nasional tentang
Unggas Lokal. Fakultas Peternakan.UNDIP
Semarang.
MANSJOER, S.S. dan MARTOYO. 1977. Produktivitas
ayam kampung dan ayam persilangan F1
(Native x RIR) pada pemeliharaan dalam
kandang. Pros. Seminar I tentang Ilmu dan
Industri Perunggasan. P3T. Bogor.
MURYANTO, D. YULISTIANI, D. GULTOM DAN W.
DIRDJOPRATONO. 1991. Pengaruh pemotongan
paruh dan kepadatan kandang terhadap
pertumbuhan ayam. Laporan kegiatan
Penelitian Tahun 1989 1990. Sub Balai
Penelitian Ternak Klepu. Ungaran.
MURYANTO dan SUBIHARTA. 1992. Penelitian sifat
mengeram pada ayam buras (2) pengaruh
perlakuan fisik II terhadap lama mengeram
dan aspeknya serta konsumsi pakan). Bulletin
Ilmiah ISPI. VI. (2): 419-423. Purwokerto.
MURYANTO dan SUBIHARTA. 1993. Penelitian sifat
mengeram pada ayam buras (1) pengaruh
perlakuan fisik terhadap lama mengeram dan
aspeknya). Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak
Klepu 1 : 1 6.
MURYANTO, SUBIHARTA dan D.M. YUWONO. 1994.
Studi manajemen produksi telur tetas pada
pemeliharaan ayam buras di pedesaan. J.
Ilmiah Penelitian Ternak Klepu. 2:1-8.
MURYANTO, W. DIRDJOPRATONO, SUBIHARTA, D.M.
YUWONO, I. MUSAWATI, HARTONO dan
SUGIYONO. 1995a. Peragaan inseminasi buatan
pada penelitian ayam buras. Sub Balitnak
Klepu - Ungaran.
MURYANTO, SUBIHARTA, W. DIRDJOPRATONO dan
D.M. YUWONO. 1995b. Kapasitas entog
(Cairina mochata) mengerami telur ayam
buras di dataran tinggi dan dataran rendah.
Pros. Pertemuan Ilmiah Komunikasi dan
Penyaluran Hasil Penelitian. Sub Balitnak
Klepu - Ungaran.

250

MURYANTO, W. DIRDJOPRATONO, SUBIHARTA, D.M.


YUWONO, D. PRAMONO dan B. BUDIHARTO.
1998. Pengkajian teknologi pada sistem usaha
ayam buras. Laporan Hasil Pengkajian. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran.
NASROEDIN, T. YUWANTA dan J.H.P. SIDADOLOG.
1993. Waktu, ferekuensi dan sistem
perkawinan terhadap fertilitas, kualitas sperma
ayam kampung yang dipelihara secara semi
intensif. Laporan penelitian Badan Litbang
Pertanian - Lembaga Penelitian U.G.M.
Yogyakarta.
RASYAF, M. 1987. Beternak ayam kampung.
Penebar Swadaya. Bogor.
RUBINO. 1976. Pertumbuhan anak ayam hasil
persilangan antara ayam jantan Leghorn putih
dengan ayam betina kampung. Skripsi
Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
SIREGAR, A.P., M. SABRANI dan PRAMONO. 1980.
Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia.
Penerbit Maragei Grup. Jakarta.
SARENGAT, W., SUGIARSIH, S. YUNINGSIH dan DWI
SUNARTI. 1985. Performans anak ayam
keturunan pertama hasil persilangan ayam
kampung dengan ayam Kedu dan ayam ras
petelur pada pemeliharaan intensif. Pros.
Seminar Peternakan dan Forum Peternak
Unggas dan Aneka Ternak. Balitnak, Ciawi.
Bogor.
SUBIHARTA, D.M. YUWONO, MURYANTO dan W.
DIRDJOPRATONO. 1995. Pengaruh tipe kandang
dan kualitas ransum terhadap penampilan
ayam buras jantan muda umur 2 4 bulan.
Jurnal Ilmiah penelitian ternak klepu. 3: 22
25
SUBIHARTA, MURYANTO dan D. ANDAYANI. 1994.
Pengaruh bentuk sarang dan kapasitasnya
terhadap daya tetes telur ayam buras di
pedesaan. J. Ilmiah Penelitian Ternak Klepu.
2:15-20. Sub Balai Penelitian Ternak Klepu.
Ungaran.
YUWONO, D.M., MURYANTO dan SUBIHARTA. 1993.
Survai pemasaran ayam buras di Solo dan

Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal

Semarang. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak


Klepu.1: 7-13. Sub Balai Penelitian Ternak
Klepu. Ungaran.

YUWONO,D.M., MURYANTO, SUBIHARTA dan W.


DIRDJOPRATONO. 1995. Pengaruh perbedaan
kualitas ransum terhadap produksi telur dan
keuntungan usaha pemeliharaan ayam buras di
daerah pantai. J. Ilmiah Penelitian Ternak
Klepu. Sub Balai Penelitian Ternak Klepu.
Ungaran.

251