Anda di halaman 1dari 23

-f

tssN 1907-2902
Nomor Akreditasi

4/Akred-LlPl lP2MBl I 1 0 1201 0

KEPENDUDUKAN
INDONESIA
Advocacy Groups for Indonesian Women Migrant
Worker's Protection
Aglrrattnt olnd Mlta Noverlo
Analisis Fertilitas Penduduk Provinsi Bengkulu

Herl Sunanyarfio

Menyongsong Kebijakan Pendidikan Menengah Universal:


Pembelajaran dari Implementasi Wajar Dikdas 9 Tahun

TttlkHartdcqranl

Partisipasi Masyarakat Sebuah Investasi untuk Menjaga


Hrqol pada Perempuan

Edy Purwo;nto clon Falar Surnlnfo

Coping Strategy pada

Kondisi Darurat Bencana:

Pembelajaran dari Masyarakat Bantul Menghadapi Gempa

Deny Htclcrycrtt

Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Motivasi


Berwirausaha di Kota Pekanbaru

Nasrl Bachtlar clan Renl Amrrlta

Luunlcl Irmu Pnr,lcurlHUAN Iltnouusm

97)-EA)

PllEnrv

lu|u utp .|EurBg [nrEN


ruPqus)fad

ero)I

p Brlsmerlfi.r{ pE poN Flil6uaduaN tup{

aO['[8

roDlBJ-JoDpJ slEFrrv
TEIEHH f,mG

. eduraD ptepeq8ual4 IrEuEg lDIenEffBDil


pep uempJrgr$ad :euxluef, terrusq Flpuo) eped ltawng tuldo3
Gltquns
epert

nfel ury o,lue/$md IpX

uenduara6
p$.rp efe[uap 4rr]un Fs]sE] ul qenqas p4erer{sey4 petlppre4

lt-[]

p?,QPuBH

ttptf

unqel 6 sepllrc relepl pquatuaplrug pry


urrelqaquad :les"!3nlu6 q6u*a14 ue{tppued uopfgay tuo6uo[ua;4
oruefreury peg

4VJ7
nln$uaq Ful ord Inpnpued

oz-l

sem51ra1 slsgeuv

EUeAoN slll^I PUE o|IPtFU IrIIrEllisV

uollralard sJa)$or{t IUESI!^{ uauom uelsauopul .lo; sdnorg dreronpy

ISI UVTf,YC
et6e tnltp1'I .lorrop tIA eurnlqfi

YISfl NOCNI hIE[NAfi CNtrdDT


z06z-1061

TYNUff

t{ssl

Tcl

T,toT,

'I 'oN'IIA'loA

tmdruusrq fedl Is{ etq reseqes >11uu n11u,( uapmrEn Euu,{ uelelEurued rureIefu
nplEueg rsurlord 4npnpued qslrunl'(OtOZ-OtOt) epe>lep leduro epoFed
?^npq uu4nfunueu e1sp srsrrcue ue:lJesspJog 'NS.)DIS rAJns ruru psz{ 4ep-*Ep
epes {r}spels 1esnd u?pBB Wp LOOZ ( UOS) erseuopul uqsqese) gerEoueq 1a^.tn5
IIsp 0I0Z (49) >lnpnpusd snsues qlsps uelermSrp 8ue,( epp requmg 'selqrueg uEfiET
uuEunqnqreq Eue[ gerEouiep Iersos ToDIBJ-roDI"J srsrleueEueru uzp nplEueg rsq^ora
Ip ueTnpnpuode>1 ue8uuqu:eryed unpsdplsepueur uenkrlreq 1ul uBsIInI'l?uorssuEE

etry

-epr ulEue FIIqeIeu 8ue,( nlq8ueg rsur^ord tp (Ugf) I1o1 slll-rueJ qtue usp (a4.D
4npnpod ueqnqum1rcd ntq elEue e,(u6Eu4 uetuep Iepuel1p 1uI I?H 'uapp,rzg@Eue{ rseqrs uped eperoq qelol np4Eueg rsur ord Ip u{npnpuede4 ueqelessured

{BrlsqY
a?w^ord qn4&ua g'aqo.r q4no,r8 uouopdod',(l111uat : spto abJ
'Dta

panprcouap

Mau aW

Ngx){gaqt sp qcns suouryusut paw1at

nta8uatry"o

auocaq puo pa^o,tdwt aq ot spaau u,rotSo,td Suruuold [1two{ aql {o ssauato,to ary Ml, 14
qnsat slt4lto uouocl1dwt aq1 'n1nyEuag u! atD,t,QttU,olatp qillwuouop,t,toc tw
sn4o1s atp puo suogl?@
,ou ptp (oato uoqtn rc 1otru) 3u111aup uol1opdod ary
cluouoca
q?ns
oslo (Vrw
'uawulottD
so
sto4co/
otclw
awos
spu{
lor4t
louolpznpa
aql'010e p\un
t\lyltatpuo
t1tuot?
pasoanaP F1
uollopdod{o
apt
aufi
tltuocfiu8rs
ssaccns aW puD p1il,
Tuauutaro8 ottoqaos atfi npun ruotSotd Suruuold {1rwo{ aqt
t731t1 aW 'Dh uot4owolay aql u! tou ruq 'D,o ouaqaos aqt Sutmp sutpt&d

ary

1oc147od

SuluuoldQyao{puouotqotBtwsup4olanp
(O1OZ
otOUf ruo{saw1yaa.uqt) tpuoc{tufu
aqt 016I acqs tory fio stulodtpruseW

pasoanu! soqqrq8uagul uouo1ndodaqtfo ans

to qnsat atu'Ngx)Igaqt wo.{rtaatng UlW aLfi puo

'ttaatng [qdo.tSouaq puo

tilpay

uorcauopuJ l00Z aqt 'snsua7 uorqopdo4 uolsauopq 0I0Z aW wo{o4op ttopuonsp


asn q8notqt n1{1ouo aqqd1.rcsap q pasn poqpw aqJ 'uouolndod aqt/o erlsLetro-dn(J

ctr1dotSowapoaos aqt puo {11plnl'az1s to stural u! npy&uag u1 se&uoqc uo17o1nM


to spua4 aqt to uoudr.tcsap 11n{ o a,u8 puo {1e,t1suaqat&uoc aztlouo o7 ato tprys sgtp
to swlo aqJ 'apq^+ n sD DlsauopuJ u! uDqt &1111.o1puo qMoB uorp1ndod p sapt
ot131t4

tq pazl.olcototlc 'lmgt"tc uaaq sDq npy&uag ut walqotd uotrTopdod aq1


,cn4sqY
nplEue g s?lrsrolrun d1 g1g'rSolorsos u?snmf
o1uu,{.reung 1re11

re

[e8uo6 yelg

@cruuotrd nrnxcNfls

ilTITIJf,fl[ NOIJVTNilO{ iO

SNT.TYNY

gHJ)

NTOXCNflB ISNIAOUd
XN(INONtrd SYIITITUUI SISITVNV

fertilitas yang tinggi, percepatanpeningkatan jumlahpendudukjugaberkorelasi


dengan

tingginya angka migrasi masuk dimana sampai sekarang nengkutu masih menj-adi
salah satu tujuan utama program kansmigrasi. seiring keberhasilan program
KB di
Provinsi Bengkulu pada era orde Banr, Lpp dan TFR selama p".iod" lgTo_2000
juga mengalami penuunan yang dramatis. Keadaan ini diduga terkait
dengan kuatnya
komitmen pemerintah, pengorganisasian yang baik dan besamya dukungan dana pada
era Presiden Soeharto tersebut. Sementara itu pada era reformasi hasil
Sensus Fenduduk
2010 menunjukkan fenomena terbalik dimana terjadi peningkatan angka
Lpp dan
TFR di Provinsi Bengkulu. Artinya penurunan yang dramatis ini lebih disebabkan
oleh faktor makro dari pada mikro. Hal ini terlihat jelas bahwa beberapa faktor
mikro
(tingkat pendidikan, status ekonomi maupun tempat tinggal desa-kota) yang
menurut
beberapa teori berhubungan dengan tingkat fertilitas, tidak dapatmenjelask*p***
dramatis angka TFR Bengkulu. Implikasi hasil kajian ini menjelaskan bahwa
kesadaran
masyarakat terhadap norma keluarga kecil belum terbangun secara baik dan realitas
sosial
ini menjadi pekerjaan yang tidak mudah bagi lembaga terkait seperti BKKBN ditengah
menguabrya arus demokratisasi dimana masyarakat bebas berpendapat dan
bersika!.

Kata kunci : Fertilitas, Laju Pertumbuhan penduduk, provinsi Bengkulu

*daM-rr
-fuflLfrlfrrerrdfu

hi**j*aneemt

Lfrryldei

mf-@mm-t

{rFtmhanguoan
k.ihasr-l s66
fl* lcbr]h baft dar
nrghnfru masih lel
faeca)- Lebt} jath
tahun 2010

-Ea lebih ting


Etcbur
p:rombuhanekono

lrmmbuhan nasio
yq sering dikaift

fi&'hat dari tenaga k


PBNnlrrur,unN
Permasalahan kependudukan kembali meresahkan pemerintah dan para pakar
kependudukan di Indonesia. Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan

kenaikan laju pertumbuhan penduduk (Lpp) Indonesia dari 1,45 persen pada
periode 1990-2000 menjadi 1,49 persenpadaperiode 2000-2010. Keresahan
sangat beralasan mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencap

ini

ai

237 ,6

juta jiwa (BPS, 2010), merupakan penduduk terbanyak ke-4


di dunia setelah
cina, India, dan Amerika serikat. walaupun kenaikan Lpp relatif kecil (0,04),
jumlah tersebut menambah secara signiflkan jumlah penduduk
Indonesia sebesar
32,6 jttajiwa selama 10 tahun terakhir. persoalan kependudukan Indonesia
tersebutjuga diperberat dengan kondisi kependudukan lain yang kurang
baik, di
antaranya masih 60 persen penduduk hanya tamat SD dan bahkan
tidak/belum
tamat SD. An gka Human Development Index (rrDl) Indonesia
masih menduduki
peringkat ke 1 08 dari 1 8 8 negara (zo}g)dan urutan k e 7 dar, I 0 negara
ASEAN
setelah viefiram, di atas Laos, Kamboja, dan Myanmar (I-rNDR
2o0g).
Kenaikan LPP Indonesia selama periode 2000-2010 yang lebih tinggi
daripada satu dekade sebelumnya menunjulftan bahwa selama dasawarsa
terakhir
ini pemerintah tidak melakukan upaya serius atau lalai unhrk menurunkan
atau

setidaknya menjaga

stabilitas pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan


upaya yang dilakukan oleh rezim orde Baru dibawah kepemimpinan
Soeharto.
Rezim Reformasi sepertinya kurang memiliki komitrnen dan kurang
memandang

strategis permasalahan kependudukan yang telah menjadi perhatian


dunia
intemasional sebagaimana disampaikan oleh James Grant,
Mantan Direktur
Jendral I-TNICEF, "Persoalan inti pada jaman sekarang ini
berkisar di seputar

22 | Jurnal Kependudukan Indonesia

Infmmasi ini menje


hb,ih dipenganrhi olt
dikeoal dengannatt

Tutisan ini mel


sosialdemografi ya
deta yang diguaka
Ptblikasi BadanPus
sensus (SIIPAS),

tersebut digunakan
seperti jumlah penr
penduduk. Sementar
bersumber dari data
silang terhadap I'arial

fertilitas dan selanjut


terdahulu sshingga d
tersebut.

Kelemahan men

analisis yang dilahrk


tidak dapat melakuk

datayang dipublikasi
yang diperlrrkan oleh
angka fertilitas. Der
dapat melahrkan crnr

umunnya bersifat sir

PmnxrnmaNc"qx JuMLan PrFlDuDuK


Fenduduk Bengkulu rnengalami peningkatan jumlah yang signifikan sejak
awal tahun 1970. Fada saat itu, Bengkulu memisahkan diri dari Sumatera
bagian selatan dan menjadi provinsi sendiri. Dalam perio de 1970-2010, jumlah
penduduk Bengk"ulu telah meningkat kira-kira tigakali lipat, yaitu dari 519.316
j iwa menj adi 1 7 1 5 5 1 8 j iwa. Grafik 1 memberikan infonnasi bahwa peningkatan
jumlah penduduk secara besar-besaran terjadi pada periode 1980-2000. Periode
.

ini merupakan periode Provinsi Bengkulu menjadi salah safir daerah tujuan utama
program transmigrasi sejak Repelita I pada era Orde Baru. Sejak Repelita I,
Surnatera menjadi target tujuan utama program hansmigrasi. Sekitar 50 persen
lebih transmigran dari Jawa dikirim ke Sumatra pada periode Repelita II dan

III

dari total target nasional dan Provinsi Bengkulu menempati urutan ketiga
setelah Frovinsi Lampung dan Jambi (Hugo dkk 1987: 180-181).

e*L

Tco po

lHcrScaslrsn

Realitas pengiriman transmigran Jawa ke Provinsi Bengkulu tersebut


ntenjelaskan bahwa migrasi menjadi faktor dominan peningkatan jumlah

DA

laju

o..a

penduduk pada periode 197 0-1990 sehingga mudah dipahami apabila angka

pertumbuhan perduduk Bengkulu pada periode tersebut menc apau- 4,39 persen,
tertinggi nomor tiga di Indonesia setelah Provinsi Lampung dan Kalimantan
Timur. Angka lajupertumbuhanpenduduk ini (4,39 persen)jauh di atas rata-rata
laju pertumbuhan penduduk nasional yangbanya2,3 persen padaperiode yang
sama (Hugo, dkk 1987: 42-43).

Meskipun dari segi jumlah mengalami peningkatan yang dramatis sejak


tahun 1980, struktur penduduk Bengkulu hingga saat ini tidak mengalami
perubahan besar. Struktur penduduk Bengkulu masih menunjukkan bentuk
yang konvensional, yaitu piramida dengan proporsi penduduk usia 0-14 tahun
yang masih dominan. Data hasil Sensus Penduduk 2010 menunjuk*an bahwa
penduduk usia 0-14 tahun mencapai 30,28 persen, sepertiga lebih dari total
penduduk Provinsi Bengkulu (lihat grafik 2).
Struktur penduduk Bengkulu seperti grafik2 tersebut menunjukkan bahwa
(a) selama 14 tahun, fertilitas di Provinsi Bengkulu belum dapat dikendalikan
secara baik, (b) berat pemerintah Provinsi Bengkulu menanggung beban dalam
menyediakan sarana dan prasarana dasar, antara lain kesehatan, psndidikan, dan
sosial, (c) angka ketergantungan masih cukup tinggi; dan (d) ketika penduduk
muda tersebut mencapai usia reproduksi, penduduk akan tumbuh dengan cepat

untuk beberapa tahun mendatang. Grafik 2 juga menginformasikan bahwa


jumlah pendud'uk laki-laki masih lebih dominan dibandingkan dengan jumlah
penduduk perempuan. Sejak tahun 1970 hingga 2010, rasio jenis kelamin (sex
ratio) penduduk Bengkulu di atas angka seratus yang artinya penduduk laki-laki
lebih banyak dibandingkan dengan penduduk poerempuan (lihat tabel 1).

s-aa

tF{a
+aa
&21
t+!1
G4

-1

.-t&
-rot

rHtri\LPiaoil

Smbct: BPS,201
KctEaogrr ffi

[-r

Suobcc BI

Gt.6t L J
24 | Jurnal Kependudukan Indonesia

szl ztoz 'I 'oN'IIA]on


010Z-0961

nplSuag {npnpuacl oIoV xes't :IUurC


sdg:raqums

'(t teqq pq$


I{PfpH 4npnpusde.,{
xes) ururelel sruef or
qepunfueEuep ue13u
?/(q?g ueryseulo3uli
pdsc uuEuep qnqunr
rlnpnpued e4r1e1 (p)

uep'ue4lprpued'usl?r
ul?lup ueqeq EunEEu

ualrl?pue4p rdup
?/rlpqueunlunueru:

E9'50I
usndurared {nrrm treuu:l r{Bpqes lgerE

'qup{zl {nrrm Fpl Wlaqas 1gur9 :uutuuary

l[02'sd8:reqEns
0I0Z unryr snsuas

p.szq

pte'l-Uqr

nplSuag {npnpuad eprurur4'? tlgtG{D

uendtua;a6

Islol uep q1qe1 eEp:


uu>gnfunueu
"^\q?q
unqsl ?I-0
Tnpnl
"rsn
{queq uerynlunueu

00'oI-

00'g'l-

F0

rueleEusru rypp

1uI

>pfos srpruerp Eue,(

,t{t

g?1tunl uele4Euruad

TL{L

'ussred 66'p redecuau


ntel opue ullqede r-ur

rs{6
!9{9

ueluerul?X uup Eun

,FO?

1pqnef (

etcl.ryrwtn

?E{G

Euef epoFedeped

rz{E,

0[02'0002'066 ['086 I'IL6 t {nPnPuad snsrE S :regurrs


npqSrnq 4npnpuad qquml uerl .1 rtrt"rt,

OIOZ-1L11 unqur

aTw

000r

ue

lnqssrq nlnlEuag r
'(rgr-os
rplnm rledruer

eEpe>l

u?p

11

B]IledeU opou

uesred 0S rslptes 'lse


'nr

'I elgedeA lefeg

etuu1nuunl$qp.resp r

opolred'0002-096I

uup4Euruad?^tqpq rs

9I g'619 uup n1re.{ '1e


qepmf '9197-OLil e
Brelsrrms Irep I{p
4e[es ue4gguSrs 8ue.

t-

sejak memisahkan diri dari sumatra bagian seiatan, Provinsi Bengkulu mulai
berkembang meskipiin sangat lambat. Sebagai wilayah baru yang selama
bergabung dengan Sumatra Selatan relatif tidak mendapat perhatian (terisolir),
penduduk Bengkulu menunjukkan citranya sebagai masyarakat hadisional yang

jauh dari sentuhan modemisasi. sebagaimana layaknya masyarakat tradisional


yang digambarkan oleh teori hansisi demografi, masyarakat bengkulu merupakan

masyarakat yang pro-natalis yang ditandai dengan tingginya angka fertilitas


sebagai respon terhadap tingginya angka mortalitas (Hugo dkk; 1987; dan
Todaro dan Smith, 2003: 303-305). Pada masyarakat seperti ini, anak menjadi
aset dan memiliki nilai ekonomi tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Leibenstein
(peletak dasar dari konsep yang dikenal dengan"teori ekonomi tentang fertilitas')
anak dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kegunaannya (utility) dan biaya (cost).
Kegunaannya adalah memberikan kepuasaan, balas jasa ekonomi atau membantu
dalam kegiatan berproduksi, serta menjadi sandaran hidup orang tua di masa
tua. Sebaliknya, pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya seluruh
kebutuhan dari mempunyai anak tersebut.

2"
1J1*
(ls -

o _____
71-g)

GaGk 3. I-eju perm


rc Trhua 19-0-201(
Smber: Hugo. era[

Tingginya angka laju pertumbuhan penduduk pada periode 1970- 1990 tidak
terlepas dari apa yang dijelaskan teori Transisi Demografi. Artinya, pertumbuhan

Penrnman 1':
hktor urama. Pe

alamiah (natural growth) tinggi dan arus migrasi masuk juga tinggi sebagai
dampak kebijakan transmigrasi oleh pemerintah orde Baru yang menjadikan
Provinsi Bengkulu sebagai salah satu tujuan utama penempatan hansmigran
dari pulau Jawa dan Ba1i.

trmsmigrasi sudal
dikirim fs grrmate

Grafik 3 menyajikan data tentang perkembangan laju perturnbuhan penduduk

Provinsi Bengkulu. Pada periode 1970-1990, angka pertumbuhan penduduk


Provinsi Bengkulu mencapai 4,39 persen, jauh di atas laju pertumbuhan
penduduk Indonesia secara keseiuruhan yang hanya 2,3 persen. Namun,
sejak periode 1990-2000, laju pertumbuhan penduduk Bengkulu mengalami
penunrnan yang dramatis dari 4,49 percenmenjadi 1,6 persen.
Dari fakta demografi ini dapat dijelaskan bahwa penunrnan ini sepertinya
tidak ada hubungannya dengan modernisasi sebagaimana yang dijelaskan
oleh teori hansisi demografi, yaitu secara makro tingkat modemisasi (tevel of
developmenr) berpengaruh terhadap penunrnan laju pertumbuhan penduduk,
tingkat pembangunan sering diukur dengan angka pertumbuhan ekonomi. Tabel
2 memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi provinsi masih di bawah
laju pertumbuhan rata-rata nasional bahkan mengalami penurunan yang tajam
menjadi 4,93 pada 2008. Artinya, pembangunan di provinsi berjalan la:nbat
dan tidak berhubungan dengan pemrunan laju pertumbuhan penduduk. Dengan
kata lain, ada faltor penyebab lain yang lebih signiflkan dalam mempengaruhi
penunrnan laju perhrmbuhan penduduk yang tajam tersebut.

26 | Jurnat Kependudukanlndonesia

ltlrumyangdispo

pqssn transmigra
migrasi dalam 6s1
jugamenurun, terr

Keduapenr:ru
dari pengamh keb

olehBKKBN(Bac

program Keluarga
pemerintah Orde I
Tehr,l 2. Laiu Pemu
Tahun

2003

2004
2005
2006
2007
2008
Sumbet: BPS, 2009

LT,l z,roz,

'I 'oN'IIA'loA
6002'sdg:reqq

tnqa{
qruzEuedrueu E"Isp
ueEueq'4npnpueduuqr

Ieq{'rulouo{e usqn$E

002

L,5

6g's

IlBr["q Ip qls?III ISIIIAoI

?o0z

8's

6G's

urefel Eued ueunmued

s00z

zB's

Ls'g

luqtuq uelefieq rsurl(u

9002

s6's

tr'g

LOOZ

o'9

z6'g

8002

6'l

s8'9

(96) e;sauopul
(96) nln4tuag
unqel
w}y lurouo{A ueqnqumuacl n(u1 .7 pqrl

6002 uni{BJ rru}srro; uErz11 *zszq

tgedes luuorseruelm euep eEeqruel ue8un4np uuEuep rusg epJO quluuauad


ueu4rruo){ '?rmp qolo mI?rp rlele1 erseuopul rp ?uecueJeg e8renley ue.6od
Il?lrwgreqe; '(leuorse5i euecuereg e8renle1 rseurprooy uepeg) Ng11.Xg W1o
?rrccuereq eErenle4 tuerEord rrglrseqreqe{ qn:eEued uup
Irolounp Eued
sedspel4rpq n1n43ueg rsur oJd rrerlnquryJed nlel e16ue uuunrnued

(9,

"npe1
'nplEuog rsurloJd rp {nserrue} ,unrnueru
r8n[
?relBrrms ry 4npnpued wqnqumued n[e1e48ue rqrue8uedureu lu?l?p rse.6ru
uuEuequms "e,(ursuenrlesuoy .(4961,4r1p,oEng) ?sJe>IeA\s uerEmrsue.B uesId
69 ue8uep uapurpueqp e4grrms a{ urlrntry q4ueured uosuodsrp Eua( nrnm
tserErusue4 uep uasred 49 efuuq
e1rledeg I"r\B ?p"d .eJepums e{ EIJmp

Eue[ ueJErtusu?4 rlelumf r8es uep ueunmued nuuleEueur qspns rserErusuug


I?uorseu urerEord (6661 1er*e) n1 z111ede5 1e[es .euegs4 .Bruetn roqql
edereqsq qalo rqnre8uedp e,(rqeppes lul u;r,fet lr;iaes Eue.,t rrBrrrLmued
I

igz'Sdtt'Zt

LgGl'1u']a'o8n11 :raqrms

0l0z_016t UnIIEI qs
-euopul uzp nplSuag lnpnpued uzqnqumrred rrfu11.,:IIIEr9

CICI'S6

tlI-00

ffi-E{

{}6.$A

'4npnpued u?qnqunga
rs?sruepou r
uerlselefip Eue,( eueul

to

po)

er(urgedes rm ueurunu

'uesrad
rureleEueur

nffiueg

'unurep 'uesred g'7 e


uegnqunged nfel set
4npnpued u?qnqumux
4npnpuedueqnqunuradr
uerEnusue4 uepdruaua
uerypefueru Eue.( ueg
te8eqes rE8uq eEntln
ueqnqumued'el(uqry'g
{epp066I-01,6I epoud

qnmles e.(e1q qelep,e


esetu rp en1 Suero dnp
rqrl?qruetlln4B fluosot:

'(tsoc)e,(erquzp

o
s'o

I
s-tr
Z

s'z
i.

s'
v
9'?

6tp

(..selr1qJal 8us]ue1 ruou(


BelsueqreT qelo us{sE
pefueu >pue tm Brad
usp :186I i41p o8nlg
s"lp1tgeJ e{Euu e,(u63
ue4edruerunffiuaq1u{

I?uorsrpe4

plurefsuu

Euet( leuor s rpe4 ls{p-Jz]i


'(41ospe1) ueqeqred u

errrules Eue,( rueq qe"{


repu n1ru18ueg rstrL\o

ts

Bank Dunia, WHO, dan UNDP telah mampu menunrnkan angka pertumbuhan
penduduk Indonesia dari 2,3 persen pada periode 1 970- 1 980 menjadi 1,4 pada
periode 2000-2010. Program nasional ini dapat mencegah kelahiran sebanyak
85 juta penduduk pada tahun 2000 dan 100 juta penduduk pada tahun 2010

(Permana,20ll).
Meskipun angka pertumbuhan penduduk Bengkulu mengalami penurunan
tajan, pada tahun 2010 angkanya masih lebih tinggi (1,69 persen) daripada
LPP nasional (1,46 persen). Data ini menjelaskan bahwa upaya pengendalian
kelahiran di Provinsi Bengkulu tidak lebih baik dari provinsi lain di Indonesia,
seperti DIY, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Bali yang angka laju
pertumbuhan penduduk mereka pada20L0 di bawah 1 persen (BPS, 2010).
Beberapa pemerhati kependudukan sepakat bahwa melemahnya program
pengendalian kelahiran salah satunya disebabkan oleh peran BKKBN yang
termarginalkan sejak era refonnasi. Isu pengedalian penduduk terkooptasi oleh
eforia politik yang berkepanjangan hingga saat ini. Anggaran pembangunan dan
fokus perhatian pemerintah lebih berorientasi pada agenda-agenda politik, seperti
pemilu, pilkada, serta korupsi elite politik dan pemerintah. Lebih jauh, peran
BKKBN dikerdilkan dengan kebijakan otonomi tentang tugas pengendalian

penduduk kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. Fakta di lapangan


menunjukkan bahwa telah terjadi pengurangan petugas lapangan Keluarga
Berencana (PLKB) secara nasional sejak sebelum otonomi daerah dan setelah
otonomi daerah, dari 35,000 petugas menjadi 22,000 petugas, sedangkan institusi
yang mengurusi KB telah digabung dengan lembaga-lembaga lain seperti Dinas
Sosial atau Pemberdayaan Perempuan sehingga upaya pengendalian penduduk
menjadi tidak fokus (Permana, 201 1). Permasalahan tersebut paling tidak telah
berdampak pada peningkatan angka LPP nasional dari 1,46 persen menjadi
1,49 persen. Kenaikan ini tidak harus terjadi apabila ada komitmen pemerintah
pascareformasi terhadap upaya pengendalian penduduk secara ssrius sshingga
angka perhrmbuhan tersebut dapat diturunkan untuk mencapai target NRR sama
dengan 1 pada MDG's 2015.

TnlcKAT KBr,,lrrrnnu (TtwToret Fnnruurr Rerr)


Harus diakui bahwa komitmen rezim Orde Baru melalui BKKBN dalam
upaya pemrnrnan dan pengendalian kelahiran telah mernbawa dampak yang
signifikan terhadap angka kelahiran di selwuh provinsi di Indonesia, tidak
terkecuali Provinsi Bengkulu. Dari periode 1980-2010, peserta KB aktif
meningkat dari hanya 5 persen menjadi 61 persen secara nasional (perrnana,
2011) dan telah mampu menurunkan angka kelahiran (TFR) dari 5 menjadi 2,3.
(lihat grafik 4).

28 | Jurnal Kependudukanlndonesia

StrlIrgod*,
|Et{ fEn perh

Xmdisi di tin

niClnh bahh
nmditingkat
ImddTInq

nmghrlu mening

pdaangke Erta-r'a
tfuasi, qpayal
Secaraumuq
rf,ringkat nasiona
h}lingkrry malr

npqilikikmtnlhm

ecuerintah Ord 1
l9ll ketlkarezimt

fogram

pengendE

*rmpingpertumbu
ini sebagaimana di
Smift(2003)bahw
lmtuk pengendalia
tinggi. Disamping
Jrang sama dengan

Pe,lrunmanTFl

dai BKKBN yang


aktif n
hasilSDKI2007dil
peserta KB

73,9,yalrLgmenpal

TFRiniakan s6ffi
telah tertuang dak

6z,l zroz

'I 'oN'IIA'lol

orur

nlre^t(
rsn1usur qelo ualdelelp rlelq Eue,( 1e8r4 tuel?p Euerqrel qe1o1
eueune8eqes n1n48ueg Isu.r^ordNg)Dtggelo ue4e,{ednp qelos m{e rur
UdI

e{Eue
ueunrnued
ededr1'erseuopul Ip
nffiueg rpJrpl? g;
rcdecuetu

p8qpq

uercdec ue{edrueur Brref,, 6, g2

4resed el8rr B^\rleq rrulele{1p 4002 tX61S

11sq

IJeC 'nffg epJO rrrletrrFeuled eqssn 1erulos >1ep4 rmdnlseur JrDIB g;1 egesed
qupmtue4elSurue{u {nlun e,(ednreq qrseru rur pes e8Eurq Bue,( pgy;g
IJep
tuz.rEord ue8uep sedep4ledup
ryp11n1q8ueg rsrrrlord rp UdI rr"rmmued
'IsJoqB ue4le8slsul u?p
{em qus e8renle{ r4es ue8uep eures Euzf
ueletrqe4 pqure8ueru qe1e1e8ntuur3 q4uuerued ,ersauopul Eurdures
I( .Fgql
Euef ueu4rruo{ D[rTrrueu qeluFsrued ery1e>1
4npnpued ueqepue8ued >rqun
uu4grdrs Eue,( roqug rpefueul ledep qelupeured uapftqs>1 emqeq (SOOZ) rprrus

usp or?pol spas (066I) urope8ell rrrBIBp ee5 gelo ue4selefip eueurre8eqes rur
I?H 'lBuorssu rserEelur uep Jeuorseu $trTrqqs .rurouole u?qnqumuod Surdrues
rp oueunEuuqured repd rq?s qeles re8eqes >lnpnpued uuqepue8ued uerEord
Il:e,>pleleleur rlslel ueprsaJd re8eqes oileqeos
4qel rueg epro rurzeJ e>Iqe\. T L6t
unqel >1e[es lnqele{rp eueune8eqes 'slleleul}us Bue.( rueg eprg geluFerued
uulettqe>1 qelepe agl apu ueurunued depeqrsl uelgru8ls rsnqrluo{
Flllrureur
efu4udtueu Eue,( roqeg ,orrleru ?reces .oqlur undnetu oll"ru dn48q
ryeq
'lurouo4elersos Jo14e3 geprnfes rr?p us{seretrp ludep 'leuorseu 1e4Eur1rp
,umum
uridnetu n1nr18ueg gp >11eq .pdec p8ues
Bued
ueunmued
Br"cos
Ag1
'ue>f?qeJel np4Sueg rp
,rseuuoger
4npnpusd ueqepueEusd e,{udn
epro >1efss
uaFeqrue8Euour mr I"H 'l"uorseu ucJ ew-elete4flae eyed,
.uesred g,Z
uep r8Euq"^\rlBq
rpelusru ?,2 lmp lal8mueru nlqEueg
Wqel ue>pl?q
UdI Jrrp["rel unqe] 0I ,ernzles uEI{Iusp rmrueN .g,7 rpelueu , rr"p unml
.lzuorsuu
n1nr18usg rp UdI q8m,
OWZ- | L6l epoued urepq
1e48un rp unmued
ueEuep Eqpueq1p mseq qrqel n1ru18ueg
Ip UdI ueunmued ue>lqeq nffiusg
Isurlord Ip Ispuo{ ue8usp qnefepeqreq
{eprl Iuuorseu 1e48m1 1p IS1puoX
0l0Z-0L61

rrnq{

srseuopul uep

nplSueg Ag1 uzguzqureqrad uara .,


0I0Z Sdg:1961

!4p

{S"

o8n11 :raqung

o65I m6T
EFa{rop{*l*

Ot6,T

I *

n1,n1$ueg,G*1'ffi

'g'71pefusru g IrEp

(l

'eueuue4) Iouorssu e
JIIT" f,>I elresed '61
4epr1 'erssuopul rp

Eued 4e&uup
"aequt
urBlep N$DIS TnIEl

eruesUUNleAru1Tsfu
eEEurges silrars

?srx

qeluFeruedueqruol
rpefueur ussred 9g'1

qelel4epaEugedpry
4npnpueduegepue8u
sumq rgedes ursl68(
rsqqsururlEwpesSd
qBleles

wp qer*P r

eErenley ueEuedq
ueEuedel ry

"p1e{

ueqepuoEued s?ftq
uured 'gnef qrqe.I qP
predes'4pgodzpus8e
uzp ueunEuequedmr

qalo rseldooryaqrypn
8ue,( pgy;g uurad
ruerEord edugeualm
.(O1OZ.g4g) uecn
nf"l e>I6UB Eus,tr1eg
brseuopul lp qrsl Fq

epudpep (uesred 69:1


ueunmusd ruereSuil

efa&rr

ueqepuoEued

t
I
a

0I0Z unqq
1rr
"ped
r1e,(uuqas usqqEe{r
Wedfl p?tueur0g6
ueqnqmngedq8wu

mewujudkan penduduk pertumbuhan seimbang, selain juga menetapkan


target capaian MDG's pada20L5 TFR sebesar z,L danNRR sebesar 1. upaya
mencapai target MDG's tersebut jelas tidak mudah mengingat belum tegasnya
komitmen pemerintah untuk menurunkan angka pertumbuhan penduduk. Hasil
sensus penduduk 2010 sungguh di luar perkiraan, TFR Bengkulu 2,5 lebih besar
daripada TFR tahun 2000 (2,4). Hal ini mengindikasikan belum padunya arah dan

strategi upaya-upaya mewujudkan pembangunan berbasis kependudukan antara

pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ketidaktegasan pemerintah pusat


terhadap persoalan kependudukan dalam derajat tertenfu telah menyebuut*
pemerintah daerah memarginalkan isu kependudukan. Hal itu diperkuat oleh
hasil sensus 2010 yang menunjukkan fakta memprihatinkan berkaitan dengan

I'} kr

penanganan masalah kependudukan sejak reformasi.

tryr

Lebih jauh, upaya penunman angka kelahiran selalu berhadapan dengan


nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Masyarakat Bengkulu yang sebagian
besar adalah komunitas tradisional masih cukup kuat memegang nilai-nilai
sosial-tradisional yang terkadang bertolak belakang dengan kebijakan-kebijakan
pemerintah. Penelitian yang dilakukan mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas
Bengkulu di Kabupaten seluma menunjukkan praktik kawin usia muda masih
banyak terjadi karena alasan budaya (paramita, 2010). perkawinan usia dini
akan memberi peluang jumlah anak yang banyak karena masa fekunditasnya

lebih panjang. Hal demikian sesuai dengan apayang ditegaskan oleh Davis
dan Blake (1956).
Tingginya angka fertilitas penduduk Bengkulu pada tahun 2010 juga
dipengaruhi oleh faktor jumlah anak ideal dalam keluarga. Sebagaimana
dikemukakan oleh Freedman (L962) berkaitan dengan nilai ekonomi anak.
Beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia pada tahun 19g0 menyimpulkan

bahwa jumlah anak yang ideal dalam satu keluarga adalah antara 4-6 onng
(Adioetomo dkk., 2010). Mengubah paradigma seperti ini tentu saja bukan

,rfl.td

m
kr

mklhE
!

hs

r
thryhc
srrfl 2ffi
3

z5

hal yang mudah, meskipun juga bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.
Modernisasi dan peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia diharapkan

tlt

akan mampu merubah pandangan-pandangan yang lebih berorientasi ke norma

o.5

keluarga kecil (nuclear family) seperti sebagaimana telah dijelaskan dalam


beberapa teori fertilitas, khususnya teori ekonomi fertilitas oleh Freedman
maupun Todaro dan smith. Namun, belum ada kajian yang dapat dijadikan
rujukan mengenai jumlah anak ideal dalam setiap keluarga di erapascareformasi.

Hh
tu&ToE

Tabel 3 mengambarkan jumlah anak ideal menurut perempuan yang


pemah menikah berdasarkan tempat tinggal dan pendidikan. Data menunjukkan

bahwa anak ideal di Provinsi Bengkulu adalah 3 anak (pembulatan dari 2,g)
baik mereka yang tinggal di pedesaan maupun diperkotaan, sedangkan tingkat
pendidikan tidak berpengaruh terhadap permintaan jumlah anak. Faktor inilah

30 | Jurnal Kependudukanlndonesia

2:

rfif.F!il
rsHl
{85&&eErr-rrlglIm

te I ztoz

'I 'oN'IIA]oA
z00z I)CIS:Iaqums

p38qq rzdruel ]nfiru?ru szlr1qrad .g:IUErg


lEspl {euv q8Frrnr e
la]el sB$IaraJ gIEUV* uequl8u;m *As*ttfryag a$try r

q"IJtrt roplEd qr'@

ts{EuquqEwpes
(g'7 ytup
ue>;qnfunueuq"Oa
Euer( uenduarad

8'E

'rszruro;erucsedera

B"E

ue4lpefrp 1edsp 8@i


F'E

&

s'0
T

E't
T

s'z
g

l00z DICIS :raqums


seleal
.
leuel
druS
dl ls.
leuel .

9,2

g'z
g'z

0S

Z,

qeloles

Z,E

GS.
IeP!I o

ue)l!p!puad

elo) .

g'z

BSaO

g'z

lettu;1pdua1
{euv qelunt

uollplpued uep lettu;1 pdurag

.g
uz{lprorrecl 1e13ur.1 uzp p38ur; lzdure; tnmuenl papl
{EuV qefumf

Ioq"I

'9661 'urope8ell tnzlep eoC gelo uapeduresrp eueureEeqes


'qepuer WqeI sel1l1ra; 1e4Euq ref,undureu efueserq uulmmusdreq Wqsl usp
ruepour Wqsl p11ulp Euues 8ue,( e1o>1p>1eru,(seu eueunp e.(uumleqes selrlrueJ
Foel edereqsq uu4redureslp rlslel Bae[,ede {elouetu mr e1{Bd .g.g n11e,( 1esp1
,E.Z
reseges I?lot ss}rTrgeJ e48ue uu4Euepes .g
{BuB ItBIunf uep qepuer qlqel
nltef uelm8urrp Eue.( sel111us; eloduelep leuorser qrqel efuledureuueeseprsd
qnpnpued 'eduryteqeg .g,7 qre.( .uapr8uup Bue,(
leepr >luu" qeltunf elod
qn4r8ueu rur 1e11 'g'g reseqes
,y,TteseqesuelmEuSp
selgpre; apue
Ielq
1de14
Eue,( selgnreg eped tre4oryed Suero se]111ueJ ?lod .rrse]oryed pep
4npnpued
{leq qlqol ueeseped 4npnpued u"p sglllruoJ rrgrep"se{
ueEuep uapumueqm

Tuup>yeanp>18ueg

ggl

rrsrllpeeJd qslo seu


urel"p ueqszleflP q
?uuou e{ IsqrrrlJo*t
ue4dereqp erstuog
{rqun Lt
'UB)In)IPIIp

w{nq

eles n1ust

q
Euero 9-7
"re1w
ue4n&urfueu9661
.)I?u" fiuouo{e tstl
eueureEeqag 'uEr
e8nt glgg unqsl

sl^BO qelo ueqse8


er(uselrpurqa; escm

uBulllrstr
Iulp
"Isn
qrs?III spnu qmq
selrsrearullBoloun
ue4eftge1-uurye[

M*

IslTu-l"11u
uerEeqes Eue,(

ueEuep uedepcryo

qelo pn4reQpql
ue4qeqe.fum qc
tesnd qeulrarmd
erepeuu4tryrymd
uepqereefrrpedu
.rBseqTgeIg'zqq
pseg'4npnpuadu
er(use8e4unlaqd
eded61 'I resegs

'0102 unqq eped g'7

emqzq uuEunrepueco{ BpV .1,002 unq"}


1XCS Useg lrp ueEuqlqrsd ue4res?preq
1eEEuuledulel ueEuep setUUeJ erelue uu8unqng rralrcqureS8ueul

uuEusp uslrsrtxtq

ueldelausu eEn[

e4Eue uu4qeqe,(uaur Eua(

tuefueur 9967 unqq eped

{I}erC

I
I
I

Tingkat fertilitas yang lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding dengan


perdesaan tersebut dapat dijelaskan bahwa fiokus perhatian berbagai program
pengendalian penduduk lebih diarahkan pada masyarakat perdesaan dari pada
perkotaan. Hal ini karena mungkin karena pemerintah menilai bahwa masyarakat
perdesaan yang secara kultural lebih fanatik dengan tingkat pengetahuan kondisi

ffi7r
hinn -gh
fry\eep

lnrrtryd rr

IDdp,minoi r

f}I
d

sosial ekonomi yang relatif lebih terbatas dibandingkan dengan masyarakat


perkotaan dikhawatirkan akan menjadi penyebab tingginya angka fertilitas.
Kekhawatiran inilah yang menyebabkan pemerintah lebih memperhatikan
masalah kependudukan di perdesaan. Sebaliknya, masyarakat perkotaan yang
dianggap lebih berpengetahuan dan lebih sejahtera akan dinilai lebih rasional
dalam perilaku fertilitasnya.

ft4renrfai-o
Ltmd|ryatm
ill0- falca ini d
rrtlt r5el3dct

Argumentasi di atas juga dapat dijelaskan dengan baik berdasarkan data


pada graflk 6, yaitu tidak ada hubungan antaratingkat pendidikan wanita yang

b{B'{e'rs*nT
brrrmKBme

pemah kawin dan angka fertilitas total, Wanita kawin dengan pendidikan SMA
ke atas justru memiliki angka fertilitas total lebih tinggi dibandingkan dengan
mereka yang hanya berpendidikan SD, bahkan mereka yang tidak pernah sekolah.
Namun, jika dicermati secara seksama, ada hal yang sulit dipahami berkaitan
dengan hubungan antara TFR dan tingkat pendidikan wanita yang pemah kawin.
Sebagai contoh, pada wanita yang tidak sekolah, angka fertilitas yang diinginkan
hanya 1,9 tetapijumlah anak ideal yang diinginkan 3,2. Demikian juga bagi
mereka yang tidak tamat SD. Sementara itu, mereka yang berpendidikan lebih
tinggi relatif lebih konsisten. Keadaan ini kemungkinan ada kesulitan memahami
maksud pertanyaan pada daftar pertanyaan (mis under s t anding) sehingga
jawabannya ragu-ragu. Kalau fakta ini benar, apa yang selama ini disimpulkan
menjadi suatu teori oleh para ahli bahwa tingkat pendidikan berkorelasi positif
dengan tingkat fertilitas penduduk, perlu dikaji lebih mendalam, khususnya

untuk kasus di Bengkulu.

ymg cnloq
Ego&mg

fertilitasa
I9YI, C?Rmed

f,iliB llaliniu
f,frnti

oleh

reita

orenjadi !

Fjadi

trnr

6820 p(

K*urrrnrs;rm

Dcujelasen kharai

ymg.ielas tnte
ftrulitaspendudr

t
7

i-

3.5

2.5
2

5 i-

1.5

0.5
0

Tamat SD

Tamat

2
1

Angka Fertilitas yg Diinginkan

Angki Fertilitas Total

ffi Jurnlah

Anak ldeal

Sumbet: SDKI2007
Grafik 6. Pola fertiiitas penduduk bengkulu meriurut pendidikan

32 I Jurnal Kep endudukan

Indones ia

i
a-----.__

1970

1975

Soober BKTGN Pr

Gtrfik

7. Hubrmgzn

EEI eToz

'I 'oN'IIA'lol
nplSuag lnpnpuad

Udl

ue8uap
rru?uasa{ uu8unqnll .I ,IIFqD
fDl-raq
qnlSueg nrnaord NtDDIg :re(Hi

0I0z L00z zooz L66t n6il 066I 586r O85I 9L6t

IIslITpP

OL6r
0

I
z
E

t
s
9
L

emqeq efuumleqes u?4$Ieftp gqel euerureEegeg .nlnrlEueg


4npnpued selrlprsJ
e{Eue e,,(qEEq1 depeqrq qn:e8ued:eq Euef rol{eg-ropteJ Eu4uq selsf tuu,(
uereqtneE uu4edepuetu {rqrm u"{pn$pqp roldese
{4slroDIsrBrp[ ueselefue4

efusnsnq4 'ruuluPm
;ursod rwlaro{Ieq
uerlndrmsrpturztu!
ztEurqes (EutPuots

rteq eEn[ Imrartuao


ne{urEmrp 8ltel( ser
'uune1qeuredEue,('

'uesred 6g'99
lpefueru
.elpen red g pafueu e1rrreat
uesred Ag'gg Wp {r-pu g)-req uwgese{
1d4e1

mlsqellleltrus{Ftsstr
grqsl ue4pmuadnq

uordssxY xrsrusrxvuY)[

nd 26'7lrep {I?u U.{I ,2002 unq4 eped ,e.(qesry41 .gg1e,(uunml gelo Br,rprp
.?lrrr?ltr
nl"les rypp s)I-reg rrBErese{ e,(u11eu ?./rr[Bq rrB)lrs")IlpmEueur rur
I?H
nd 26'T lpefuetu urLml UCJ uep uesred 99.99 pefuou pqEmueur UdJ .L66I
unqal eped qre,( 'uerpntue>1 unqel eErl .elruurn red g7,g pefueur selqpE e4tuu
ueunrnued eped ryduuprsq e,(qnfueles Eued uesred
0g' I g Ipefueru gx rrBuuese{

uu{rcuo1 ue>l{nfunueru p661 unq4


pseq ?.(qnfue1s5 .gg1 ue8uep ffX_req
DIqS
usqJese{ fiRIrB Ieapr rmruueged rpeftel e88urges ,g
,gg reseqes
I
UdJ ue8uep g 1
ff)[-req u"e1rese{ .5g6I unge1 BWd.L{trurE epud pgqrp ledep yq u1>IBd .0102
eped g'7e33mq ue>lqlp ledep gg1 e{Eue .qeluueursd ueuqrruo{ e.(qen4 uup
uenfeus4 Sulrres 'lerD[ qrseu srTslerrord Euef
1e1o1e.(epnq relru-re1m qnreEua4
'ueesepred rp
leE8url 8ue.( e>lereur e,{usnsnqq oleuorsrperl BuoloErel qrssur
n1ffiueg 4npnpued n+l less eped.Z,g resoges nl1e,( ,rg8urt dqnc Eue.( gg1
e{Eue ualqeqe,(uetu e88mqes 9g,6 ruseqes qre,( .lrnrpesJl1eleJ rsmaord
Ip g.X

upesed'n1nr18ueg rsurloJd rp gy uer8oJd uees{eled rmser


lelre reEeqes 0g6I
unqsl epud 'nffiueg rsu.r ord
e,(uunrnl g;1 egesed efqurfuuq
Ip sellpueg
"{Eue
erulue;4e3au rselero{ 3p? uapequresEueu
lnqesrq {gerc .np>1Eusg rsurloJd
UdJ erelrre ue8unqnq ualselefuau L {gBrD
1p g11 rsedrsrped ueSusp

us1re>geq ruzqeftP
'qqolesqgured4ry

uetuep

ue$wPq

y;a1g uu4lpPuad
Euer(qrue,Y\ uq-IPq
313p uDlr?sBpJeq

IsuolseJ qlqel TstIt


Eue[ uueloryadpl
uu4rpqreduau q'sfllueJ elEw e
p{zrerftuu uu8uq
rsrpuo4uanqgp8u
pqerefsuue,nqpgt
uptd pep s?esepn
urerSord rc8eqpq
ueEusp Eurpmqp

.'
':' r r.,ti'l}:tii.' _ilr
:r.
. /, ;.1.,:r'x!t!,:i-r't
.l Ji: :
"'i.- -,.'

''"il:.
.

,**

kajian ini dilalaikan dengan mencermati data-data sekunder. Ketajaman kajian


ini dalam derajat tertentu dipengaruhi oleh ketersediaan data sekunder yang
ada dan dapat diakses oleh peneliti. Sebagaimana diketahui bahwa membahas
kharakteristik sosio-demografi penduduk merupakan wilayah yang sangat
luas dan kompleks. Penjelasan akan lebih detail dan komprehensif apabila
didukung oleh kersedi aan data,baik sekunder dan utamanya primer. Mengingat
keterbatasan tersebut, kajian ini hanya menggunakan data hasil SDKI 2007
karena secara metodologi, hasil pendataanaya dapat dipertanggungiawabkan
dan merupakan data terkini. Sementara itu, data hasil sensus penduduk 2010
belum dapat diakses secara luas. Karakteristik akseporyang akan dikaji dalant
tulisan ini menyangkut tempat tinggal, pendidikan, dan status ekonomi, serta
jenis kontrasepsi yang digunakan.

Tempat Tinggal
Secara sosiologis, perilaku seseorang sering difokuskan pada budaya dan
aturan-aturan tempat dia tinggal (Curtis dan Lamber dalam Hagedorn, 1990:
35). Lingkungan tempat seseorang tinggal akan mempengaruhi perilaku sosial.
Perilaku mereka yang tinggal diperdesaan akan berbeda dengan mereka yang
tinggal diperkotaan. Alasan yang melatarbelakangi pernyataan ini adalah
secara umum kota merupakan simbol modernisasi, sedangkan desa adalah
simbol hadisi. Dari segi pekerjaan, orang kota lebih banyak bekerja di sektor
non-pertanian, sedangkan orang yang tinggal di perdesaan banyak bekerja di
sektor pertanian. Gee (1990) menjelaskan bahwa wanita di daerah perkotaan
cenderung bekerja di luar rumah dibandingkan dengan perempuan yang tinggal

di perdesaan.
Pada level masyarakat, ditemukan ada hubungan yang negatif antara
proporsi wanita yang bekerja di luar rumah dan tingkat fertilitasnya. Dengan
kata lain, pada masyarakat dengan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita yang
tinggi akan memengaruhi rendahnya angka fertilitas. Hal demikian jugaberlaku

pada tingkat individu, yaitu perempuan.yar;g bekerja di luar rumah memiliki


sedikit anak dan sebaliknya (Gee in Hagedor, 1990; Hugo at.al,1987). Namun,
diduga bahw a apayangdisinyalir oleh para ahli dan beberapa kajian sebelumnya
tidak serta-merta dapat menjelaskan fenomena fertilitas di Bengkulu. Tabel
4 menggambarkan bahwa tidak ada hubungat antara daerah tempat tinggal
dengan penggunaan konhasepsi. Bahkan para wanita yang tinggal di perdesaan
memiliki tingkat partisipasi terhadap program Keluarga Berencana lebih tinggi
dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan (74,9 persen dibanding
71,6 persen).

'1Hll.ffiiI

qldh2flr

-rEr

De
lHrr

SDKI

zffil

Ada beberapr
kmq sejak otr

fryrLterjadipem
llouiasi Bmgkutu
igrtahryaten me
f*ryaten*abupa

*m-va

hanya

demisasi, mesyz
fuhrdayalamay
mblogis,masyara
dagan nilai-nilain
rr,'n'[rai saat ini maj
ecrtanian

Dengan demil
ilnesih kental denga

bcuali

mereka yz

proponir
3,3 persen. Penjek

tinggal di perdesar
telahmendorongp
Fogram-programtr
lebih banyak men
fertilitas dibandinl

,"0* -o6.rn den t


*gka partisipasi p
lebih tinggi

dibad

Prniomu<ax

Begitu banyak ahl


sangat signifikan d
parameter modern
berbagai informasi
sikap terhadap setir

34 | Jurnat Kependudukanlndonesia

ill

zroz 'I 'oN'IIA'loA

eEurqes sltl,,l u?p leuors?r grqel w{3 uegeqrued rs?Aom


de4es depeqrel deTr
uep reluu e,(up FSqt Eue,( uaryorpued uegueq 'rss^orn
u,p rs"uuoJ* rrauqFq
szp 1e4ere,(s?u uerpess4 ncfiued JolryJ rpefueur
rs?sfiuepolu
repured
usp role{1pur reEeqes wTprpued .sstmueJ p{Eql uu8usp
ue>pnuErs pgur
Eued u?Emqnq re,(unduetu ualrprpued mr{e,(eur Bue,(
ilqe {"dmq qpeg

I\fiDtr(tr(IltEltr
'ueeloqred
4npnpued ueEuap uapurpueqlp rE8uq qg
BrrBcuerog eErenley urerS0rd depeqrq uuesepred >lnpnpusd
Feolsluea
uelqeqefuetu IuI leq Eue,t ue8uorop 1eq{V 'ue4rprpuedreq
wp Erepour"rd
qr$I
deEEuep JIrEIer Eue,( ueelo4red p1ere.(seur ue8uep uel8urpueqrp
s"lml* l
ueqepue8ued urerEord usgnlues up rsesrTursos uapedepusur
4edueq +H
ueesepred luleredseur eSSurqes ueusepred qef,e[rn
eq
u.(uuerEord-rue.6od
ualqereEueur qlqel ,Ng.)tyg
,qelqrsured Buoropueru
1uI I"q urelep Bued
qq4
n+l I?H 'sqeleuord qrqel
leuorslpe4 lelru_repu ueEuap ueesspred rp
le8Eua
Eue{ erseuopul 1e4ere,($ru umum aJeces q?iep mq ueselefue4 .uesred
fg
edueq qre,('uelgruErs dn4nc
{?pll epe Eue,( gy rold"* ,rroaorO *rp"qr"A
qelo ue}lnfunllp

1uI IeH 'np>18ueg Bto{ }p


Buu,( elereru r1snce{
1e88ur1
'leuorspe4 relp-legu ue8uep ueeseped pleredseur efupng
ueEuop
I,rue{ ws,nr
ueulo4red qeroep m le8Eurl Sued nln48ueg
,uaurnuep
ue8ueq
Inpnpued
'uerueged
Joqes

ry efte>1eq 8ue,( >1e,(ueq qrgol qrs,ru


se1po,(eur
4npnpued
I.,I ls,s redues
mrouo{e mDlruls Irep lnqllp ue,[g?qoleuorsrpe.rl pqere,(seu
pllu_lel[u ueEuep
Ique{u"p rr*Ir$reB:eJaru grs,ru>Inpw uepdnqal rp
,to{t,TsJr(seur,srEol0rsos
qmf glqeT .leuorsrp,4 rrep ueesepred p4ere,{seru ref,,eaneletepnq
u?p
ry

?recos

rsplael uuSuep leleredsBru rrB)lurlllracuow qrs?Iu e.(qaprer(sBur


rs?s
rErepoE
undneur seurseJ r8es ueg 'rs"J}srur..,p w}eqes edueq
e.(ureueqes
T{EP
Euef e1o1 nqr Eurseur-Burseur ueldeleueu rpret
uelednqe4-uelednqz;1
lnqesrel
'rueq uepdnqe4ledrue ep: uup ,uepdnqe>1
rrulrqrues
nau
lpefueur
pep uepdnqe{ rrere>lerued
""inA"qn{
1pe[4 002 urule1 >1utes Bued nlnl8ueg
Isu.r ord
ueEuep e8n[ uenlrueq'sto{/uopdnqe4 uep rsuvrord
ue.ru4surad pefte1 ryfuuq
'002 unqel U 'oN 6y1 ueSuep renses ue441nE1p urouolo
4rt", ,n*rg"4
'tur gerEourep sl{eJ ue8uep
trp{re} Bued ueseieiued edereqeq
.

"pV

turpueqrP uesred O'ft


ttEuqqtqelewcuanl
pEEw
ueesepred

1p

1eEBq1 feftusf gurau


'qn4Eusg IP
e,fuumleqeswTF{s
1eqe1

'unrue51'Gg6t

Tl"

[rrJEerlr wluru rEt


n4elrsqeEnfueqlq
Euer(qrue,retn4w
ueEus( 'e^usslqqrq
eJslu? grleEau Euer

pEEuntue,(usndm
uealoqred IIereeP IP

p ufre4eq ry,tuequ
roDles Ip sb{eqr
q"pp" esap ur48ur
rlsl?pe rur usu1s.f,r
Eual elsreu ue8
nlepedqna
'l?Isos

:066I 'uropeEell
uep er(epnq uP,ed

eges'rurouola srry
rrrel?p rfuryp

ule f

619g 4npnpued s

ue4qe,uefflun8flqt

t00z Dtcs IIssIt


pEqtueprauudr

(oor)mr

ellqede grsuegar
letues Euer( qp,{zg
ssr[Bgrllelu

ledun;

]&muey\J rsdese4uo;1 ueleun3guay,n Bue,( qeryua11

l00Z unqpl ia88ur;

**rAt'rS"q*sre .,

Ieqp,1

"lrIIEqt
Eue[ repunles eqq
uarlel uuuefu1e)I

keputusan, y..gng diambii akan lebih bijak. Pendidikan juga diyakini tidak saja

fil mz

berhubungan dengan persoalan fertilitas, tetapi juga berbagai permasalahan


sosial-ekonomi lainnya (Todaro dan Smith, 2003; Hugo et.al,1987 ,Hagerdorn,

!"tlE,lll}E r*.ek"

daiam tabel 5 juga memberi informasi bahwa baik wanita yang berpendidikan
rendah (yaitu tidak tamat SD) maupiln yang menamatkan SMP memiliki tingkat
partisipasi KB yang relatif sama, yaitu 69,0 persen dengan 69,3 persen.
Sebagaimana ielah disinggung sebelumnya, kelemahan menggunakan
data sekunder adalah analisis hanya dibatasi oleh ketersediaan data dan
informasi. SDKI 2007 tidak menyediakan alasan mengapa mereka ikut KB.
Mengacu pada fakta-fakta sebelumnya, sebagaimana dijelaskan pada Grafik
6 bahwa permasalahar:nya lebih terletak pada tingkat kesadaran masyarakat
terhadap norma keluarga kecil. Pada grafik 6 terdeskripsikan bahwa tingkat
kesadaran mereka terhadap noflna keluarga kecil relatif tidak berbeda bahkan
fakta empiriknya cukup kontroversial, yaitu merekayang berpendidikan tinggi
memiliki tingkat fertilitas lebih tinggi dibandingkan yang berpendidikan rendah.
Kondisi yang demikianlah barangkali yang menyebabkan partisipasi mereka
terhadap penggunaan kontrasepsi relatif tidak berbeda sebagaimana ditunjukan
oleh Tabel 5.

,frr&r

1990, Sunaryanto, 1998).

Fakta demografi hasil SDKI 2007 sebagaimana yang digambarkan


pada tabel 5, yaitu hubungan keikutsertaan KB dengan tingkat pendidikan,
tidak menunjukkan lazimnya sebagaimana yang disinyalir para ahli. Tingkat
pendidikan tidak berkorelasi positif dengan keikutsertaan KB. Lebih jauh, data

serrfi

Tabel S men

3,um bahn-a di

tcqaEogaruh rerl

bi-gnn

sfatus

ej

"r-n'ag-" mereka

,'-.'rf j5J pers

rde lnformasi 1'u

S.rtrita

dengan
pcrtrml-a mengor
pcnoerintah yan6

pcmberian inforq

T.bcl 5.

Dismbr
fta6f,riilan Tahrm j

i
|-,]

Peodidikan

rrdak sekolah

SD

Iamat

SD

Tamat SMP keatas

Suober: SDKi 2&l'

Status ekonomi
Tabel6 menggambarkan diskibusi wanita peserta KB dengan status ekonomi
yang dimilikinya, daiam hal ini dilihat dari indeks kekayaan (wealth index).
Index kekayaan ini merupakan indeks komposit dalam SDKI2007 digunakan
sebagai proxy untuk penghitungan orang miskin dilihat dari kondisi bangunan
yang ditempati dan aset yang dimiliki oleh rumah tangga. Seperti telah
dikemukakan sebelumnya, kekayaan tidak berhubungan dengan fertilitas.
Penjelasan yang menghubungkan kekayaan dengan fertilitas adalah pandangan
yang dikemukakan oleh Maltus bahwa ada hubungan positif antara tingkat
kemiskinan dan tingkat fertilitas. Mereka yang rnemiliki kekayaan lebih akan
cenderung menambah jumlah anak karena mereka merasa mampu untuk
mencukupi kebutuhan pangan $daltus dalam Todaro dan Smith, 2003: 307-309).
Namun demikian, beberapa penelitian di Indonesiayaflg dilakukan di
Jawa menunjukkan fakta yang berbeda, yaitu artaratingkat kekayaan tidak ada
hubungannya dengan tingkat fertilitas (Hugo et.al,1987:157-8). Dari kajian data
sensus tahun 1980 Hugo menjelaskan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi,

36 | Jurnal Kependudukanlndonesia

Tabel 6. Distribusi
Ehooomi Tahrm 2rI

Sumber: SDKI 20Cr-

LEI T,roT, 'T 'oN'ILA'lol


'rqn:e8uedureur Eue,(

eppuerfolue('(8-tSI:
"p"{sp4rl3",(a1e1p$
rp IIDITDIBITP Sued e
'(ooe-rog:9967
l00z DICS:Iaq@rs

ueqeunttuayl 4p1

(x)qetunr

g'zz

(00r)09

z'eL

g'gz

(oor)et

g'gL

z'Ez

(oor)9

z'sL
g'tg

t/se

(oor)ze

8'nz

(oor)zz

T,LL

ueleunttue6l

r33u11

lsugt

{n}un ndureu ?ser.rru


w{B WqeI uee,(r1e1
's?llllusJ ueEueP uett
rpedeg 'e8Euzr

qepuau

p13un etstue SPrsod


uu8uePued quleP'e s-urg

Ittul

getueg

qetuaua6

qepueU

letues

Iruouo{3 snlels

l00z unq?J rrsosorTg

sn1?ls lunua141 rsdeseluoy uz1eun88uay,g Eried qzryueytr B{rrBlN rsnqr}srq .9

Ie<pI

qe1e1

ueun5ueq IsIPuo{ IreP


ueryunEtP ,002 D{OS
'(nqq qqoam) ueets
nuouo{e sn}ets ueEuq

/002 DICS :Iaq@S

uer;eunttuayy

ueleunttuayl qepp

(X)qetunl

'sg

L,?

(oor)s

O.IE

(oor) 9

(oor)rs

(00r)2,

(oor)es

lnmrrel

os

0'69

os leiuel

,'og

dtls

z'81

8':tz
g'6r

seleel dl^s leurel

E'59

L'O.

rsdesrquo;,1 uelztmEEuatrag Bued

qzlrua^

qelolas

lep[

ue)llP!Puad

rro*'oro.1.#TtTfffig

'e>lsJeru depegrq sruoueru-srue1 Euer( rffirruoJur ueFeqruad


uep 'ueueduled 'rsesqersos u{n>leleul ueSuep lerurldo Eue,( qelurreurad
rsuelJelur edudn 3ueJ3{ nele dru1nc rlepns ueJrr{ele{ lo4uoEueur z.(unFed

depeqrel qepuoJ rruouo{o sqels uu8uep Btru?A\ rrep rreJepsel ur8uep uplrCIlreq
ueuqEuntue{ Iul IBH '}nqesrol rruep?o{ ue4selelueru ledep Eue,( rs?uiloJrur sp
umloqtmure51'?u?cueJo g z8runley rreeposlruIre{ urelep,uosred 7, g g wiluiap
Eurpueqreq uesred y'gg nyetl'rEEun ruouo{e ueEuele4 rJp e>lereru ueEuep
?ru?sJrl?loJ Etre.( rsedrsqred 1er18u4 Drrlrueru gspuer rruouo>le snpls ueEuelul

uep 8ue1ep Sued e4sre6 'rsdese;1uo4 ueeunE8ued depeqrel qrueEusdraq


{Bpr} {npnpued qelo HIIIrup Bue[. ueete4a4 nln4Eueg 1p emqeq n1re,(
'OgOt) otn11qe1o uuryeduresrp tue,( euBture8eqos uz44nfimueu
9
IoryJ
t4punca{
ouBrurocrod

u! uep acuaffitsqo qeped IJ?p ?tuq tue,{ 4rqerd


e>Fue e.,{ur8tuq
:Irrpl ?JBIre lnqesJol JoDIed '?ur?s-srrrssJaq undneru rJrpuos-rJrpues ?Jsces
T?q

ue>ptuqrpeueureteq
erleJelu rsedrsrlred n
'tpplrer lre{TPrPuadrsq
Euq uu4rPPuedraq!
rr?)Flsq ?poqreq {eP
1a1Euq e,Yrrpq uurys

1e1ere,$eu u?JSpeser
{gerg uped uqselaf
'g;t 5DII u4erau e
usp ?13p ueerpesJsl
uoleunEEueu uuq
'uesred E'69u

pq6uqo1qrueu6ryl
uelprpusdreq Euei{
epp'qnelgrqe'I'g;N
p4Em.1 'gqe ured
'uo11p1pusd

Pfuu

ue4requreErP Eued

'uropteEell't86I

ueqeluserursd re8e
ufes

lgpu 1q1e.!P

Alat Kontrasepsi
Penggunaan metode kontrasepsi meskipun dipengaruhi oleh aspek medis (emm

dr

dan dampak negatif alat kontarsepsi) dan psikologis (nyarnan, mudah,


sederhana), hasil SDKI 2007 menunjukkan kecenderungan yang luat bahm
akseptor memilih metode pil dan suntik. Capaian penggunaan pil adalah 13O
persen, sedangkan metode suntik 46, 9 persen. Upaya BKKBN menggeserb
arah penggunaan kontrasepsi mantap seperti sterilisasi nampaknya masih pe&
perjuangan keras. Alat kontrasepsi, pil dan suntik mudah didapal praktis, da
relatif murah, serta bisa diberhentikan sendiri, sedangkan penggunaan da
pemutusan alat-alat kontrasepsi IUD ataupun alat konhasepsi lain yang harr
menggunakan jasa dokter atau bidan. Secara sosiologis, pilihan bisa dipenganJi

karena kebiasaan masyarakat

di suatu tempat. Jadi, faktor

keamanan

da

kenyamanan dapat dianggap sebagai pendukung.

Rendahnya partisipasi laki-laki dalam keikutsertaan KB juga masil


memprihatinkan. Ada anggapan bahwa soal KB adalah urusan perempumMengubah pandangan seperti ini tentu saja dibutuhkan upaya-upaya yang kr6.
Sebagaimana paru sosiolog mengatakan bahwa untuk melalorkan perubahr
sosial yang berkaitan dengan nilai-nilai masyar.akat tidaklatr mudah dilahto.
Hal itu karena perubahan sosial berkaitan erat dengan nilai-nilai kepercayar
ataa agama. Ritzer dan Goodm an, 2004).

Tabel 7. Distdbusi Wanita Menikah yang Menggunakan Konffasepsi Menurut


Yang Digunakan Tahuo 2007
Metode

Metode Modern

r
r
o
o

r
.
o

70.4

Sterilisasi(perempuan)

1,5

Sterilisasi(laki-laki)

0,1

Pil

Iil

13,0

IUD

1,7

Suntik

46,9

lmplan

5,4

Kondom

1,8

Total

104 {100}

Metode Tradisionil

r
r
r

Nfeo&

3,6

Kalender

L,2

Senggama terputus

1,8

Metode lokal
Total

0,s
44 (100)

Sumbet: SDKI 2007

38 | Jurnal Kependudukan Indonesia

HfrFtr

nr{
h,

*}ri
rr

dr

Lr

6El T,roz 'I 'oN'IIA'ron


usnupuo8uad uellcuqreqe4 'Euufuud

qulel

tuef ue4npnpueda4eqog

u4tual4qun (1) quppu u,furrqoqec srFf,)

uetuop llu:lrel rsspusuo{el uup uerzs o&rA


rErt

Is?puouo{Or [Bp

'Jlptp gX elasod pefuour uosrod 69 qlqq nt1v,l'uxes Ernf qqd


wrynfunuam ueeap rp wleelo{ rp let8urtr'qepusr undneur rt?ry uqtplpfr
Buu{ u4arcur ryeg 'gX ueu1lsso{ aefluap }flqssr6} 1pqtalr-rr-1cgeu?^ il
uoqgdp Suuf uu3unqnq uu1:lnlunuaur 4epy'rwz ie4a4uzp'uu4rpouad Ffi|t
ounure6l 'spnt
'(ep4-esep) rJlsruop $unufiu Ioauoryp Wl vSaE E\w\
-cs rtturuel nlnlBueg (UaC) rc1dase uewdecnla4 e4flutq 'gX E:f,d
efiffillrliun,dw4ewlawilur-rryselue6uopur4Eu]p{sqrpr{eturrerrnduaq
p\fisl
dql

usp rsuo Jolq e,{rgun4 pep


uu4cdrusur gy ;sedlsluad
4npord
'paorssu ueqnquryrod nfcl q8m

ryuq ue8uap uqnqururod nfui ueqtrn rnuom ndruour 4upq

qffiuag

qsrqry

'pl8quetrr neqwol UdJ 'qemupopvdue{qsrasry ustnpnpusdol rsrqpsq I 'lsanro;or erctyvdqflrelaw Ng;Dtg qolo rJr4g&rp Iq Isq vrery quterd
uered e4rp1 ?dupfueleg '4eve g'7 u1e*upt nlwtl oeures {eu? Ieep! q#
tuep4 ydepaad qolo ue44nluqp lul IsH 'sstlllucJ nrlzpad rqnntu:
'uelppuod egas (ueuloqrad uup uzesaprf

uepp

qrueEued.raq 8ucm4

1ut111.r01

ur4gd
usfsffi
uu8ung
t

pt8ql pdtuot snpls elnd u?HFnsC '(u1o1-usap) firsruop tmdnaru


opdec
1u{3ry ryeq
1eBues 8uu[ npl8uo6 UdI e4tuu ueunmuad
Wdep Wyu{uuuep.{uar1 eprd'se1pga; nlelpad }e:ltq} uu8uap
poal ederaqaq lrunuetu Bue.d or15u rol{EJ edunqaq s,!rq"q sulal pqtrg
IH 'oDIIru epsdlrop orlcu ro11sJ qalo urDlquqesrp qrqq p1 ledac
treunmuad'efqffi'euup uetunlnp u.{uesoq up 'Tsq tsuer( uersssrudff
'qqquautsd uou4guoq uftacn4 uuleuarrtrp srsdrropql p isr4^ord
ttnelolp tut uuspsy 'refq uuunrnuod puelu8uour e8nf 6169-6151

16tn15

?ffEar{q

apolantr p.mua;a1 sdasr

uuefec.redo4 lqm-r-el

'u?)lrupIplppnEqq
uuqeqnred uqn{slfl
'sure>1tua(e[e&r-G,(l

'uendupred u?snm
qrsetu etnf 911 uer

aoi

tuEs (Uef) Iu1of c$ltpog e48uu usp {npnpuad uotlnqaryrod ffi


'flsrtos vnqt4 A1pyp f,wlwdqlqqwry uepdgol elod g; ufl
uetwpwrldenry,p'rcsvptlvptrr.ypwydgqtedwf,wqtrl4ndme&aq

lqurF
gr{
l;

wLql4 az wQw| ef,uaetwque4nd vqvp uen!4cl'\/setllrrel


1edsp (g-X) su?cuerog e8runle; ruul8ord uu8uep 816I uflgst nltqguag
lp Ng1Elg) IsuorseN srreerr6rog e8reqoa rseuTproo; Esp?g 4ahc
uu:lfrsrp p@ lvlaplrtqst 6e E$;rzl6s'glg'glL'l rsseqes rysfuou 1rq5;1
etn aqwfivmed pulu8uetu 0 I 0Z unqsl vped 'rgr emluevrg ' I L6I rrsrp
rwo lv47etf,awuep46mued prqutusur nlrqtueg lsqrror6 4npnpuad
'9197 wfuep redtuss 016I {sfos '1eq edurcqaq uqprdurs1p pd?p
rypnpuad usnduarad s,qll$ral n{Elrsd depuqtq srslsu urp rs{qr7

r;1
q#
ryfr
H

u?p usu?Iu?a{ Joql

rurueEuedp"squtq
snreq tuuf upl mdal
usp uesun8Euad
uup 'srpprd 'pdupr

qradqrsuruetfury&
s4 rssottueu Ng)I
0'I qspp pd urm
1en{ Eus,(IE

"aqeq
uup 'qupruIr'usE"I
ueuru) qperu4edse

,rrIjIf,I

fertilitas sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnyr


KB. Hal-hal yang berkaitan dengan upaya penumbuhan kesadaran masyaralt
ini harus diupayakan secara maksimal melalui berbagai kegiatan sosialisasi,

6p

pendidikan, pembimbingan, pemantauan, dan pelayanan yang lebih oprimar.


yang dicapai selama ini masih mengandalkan intervensi pemerintah yang dalm
derajat tertentu ada "pemaksaan" sebagaimana yang dilakukan orde Baru
karena itu, ketika intervensi mulai lemah, masyarakat kembali kepada pandmgr
masing-masing terhadap norma keluarga kecil maupun jumlah anak ideal dalan
keluarga. (2) untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, upaya mengaktih
lagi berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah orde f|4ru maciL

oE

diperlukan seperti mengembalikan peran BKKBN, membangun komitmcr


pemerintah, pendanaan yang memadai dan rentang kendali dan koordinaei
yang baik. (3) sudah saatnya peran institusi kependudukan diotonomkre
sesuai dengan mandat uu No 52 tahun 2009, tidak digabung dengan institui
lain sehingga program dan kegiatannya akan lebih fokus dalam menangai
berbagai permasalahan kependudukan dan dampak ikutannya. (a)

Kajian-k4iir

yang lebih berorientasi pada faktor-faktor mikro lebih ditingkatkan karesa


fhktor-fbktor tersebut berkorelasi kuat dengan tingkat kesadaran masyaraH
terhadap upayapengendalian fertilitas. untuk itu, membangun kemikaan antrr
BKKBN dengan institusi terkait lebih ditingkatkan seperti kerja sama de,nga
Pusat sfudi Kependudukan universitas, Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PKBI), Koalisi Kependudukan danpembangun an, lembagaswadaya
masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap masalah kependudukan dan

juga membangun kerja sama dengan lembaga-lemb aga agmnadan para


tokoh
masyarakat.

Darrln Pusmra
Adioetomo, sri M, dkk. 2010. "100 Tahun Demografi Indonesia: Mengubah Nasib
Menjadi Harapan". Dalam Laporan BKKBN dan Lembaga Demografi Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.

akarta.

Badan Pusat Statistik. 2008. Press Release Ketenagakerjaan di provinsi Bengkulu.


Davis, Kingsley & Judith Blake, 1974. Sftuktur Sosial dan Fertilitas (Social structure

and fertility: ananalytical fiamework), yogyakarta: Lembaga Kependudukan


UGM.

Freedman, Milton. 1962. capitalism and Freedom, chicago: University of


chicago.
Gee, E.M. 1990. Population, in Hagedom. R, sociology, Fourth Edision, Toronto:
John
Deyell company.
Hagedorn. R. 1990, Sociology, Fourth Edision, Toronto: John Deyell company.

Hill. H. 1989. unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia


Since 1970, Ney York Oxford University press.

40 | Jurnal Kependudukanlndonesia

wl

zro|,

'I 'oN'IIA'tol

?rseuopul

q patrr

fueduo3la
uqol:oporol'uoq
'oEecJq3go ,(rrsral

uqnpnpusdey e8
lqcos) sEI
ern1cn.qs

'nffiuagrsuao
ss{n:tedgefounq
qzqn8usy4 :
qrsu51

qoloteteduEP@
uepuelnypueibl
edupernse?equslt
eErznl
"rrecueJeg

ueEuep eues efrutr

eruluuuee4rualul
plerefsutu uslsr
ueryqtupq
"uerB)l
uurfe4-uetfuy(y) z
rue8ueuetu urqep
rsqBsrq

?qryI

.002 .J.V,qlrurs pue


Iuuoq?cnpg suosJeed :;tr11'lusrudoleleq cruouocg
4.I{
lerJ1eDIeS

'?Ue{BI :?rseuopul >luqndeg ueprserd l.qqf,


r4ueEus6 rueleq'..rruuDlsrruey ue8uepEEusued rmnpu"d,, . I I0Z

'qffiueg'telog,(ttC segrf

'ru.(pry , ?runq {npnpued pque,{usry reuffires uped ueryzdruesp rIEIslFft


'.prseuopul rp uqnpnpuedel uuEuquul uup ue3ueque{Jad,, .II0Z .O1
'mrtr-t[8rooDt

:{ro r\eN ',{roaq1 lecrEolorcog urepory .7OOZ .f q,.uuurppog pne atraog


'seTpn1s wrsv lsegglnos
Jo erqrlsul :erod@g
'fuaro4 lsueEy emtsN rpr16 turxrol6 .600Z .o4ol {uerd pus d.g
'sse.r4.(ysrerrmnproJxg :ryo .o H
.rg6l .IV ?g -1iS

'luaurdolaneq rru$euopr{ ur uorsueurq crqderEoureq eqJ

ueEuap t
uq

rrBTrouoloTp

rs"ulproo{ usp I[q


uar4rruo{ untueqt
ws"ur nJBg eplo
urryqwEueu erftd
EelepI?epr{suBw
uuEuupuedzpedo:1t

gelo'ru8geplour
tueppEna(qaqrru

edy'purpdoq:qi
tsesqzrsos usts@

PlurzkuuuEryG
eddurlued &pery