Anda di halaman 1dari 100

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

TESIS

Oleh

YUNAN
067018070/EP

PA

K O L A

A S A R JA

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar


Magister Sains dalam Program Studi Ekonomi Pembangunan pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

YUNAN
067018070/EP

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Judul Tesis

: ANALISIS
FAKTOR-FAKTOR
MEMPENGARUHI
PERTUMBUHAN
INDONESIA
Nama Mahasiswa : Yunan
Nomor Pokok
: 067018070
Program Studi
: Ekonomi Pembangunan

YANG
EKONOMI

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Irsad Lubis, M.Soc.Sc.Ph.D)


Ketua

(Kasyful Mahalli, S.E, M.Si)


Anggota

Ketua Program Studi

Direktur,

(Dr. Murni Daulay, M.Si)

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus: 12 September 2009

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Telah diuji pada


Tanggal

: 12 September 2009

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua

: Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc, Ph.D

Anggota

: 1. Kasyful Mahalli, SE, M.Si


2. Dr. Murni Daulay, M.Si
3. Dr. Rahmanta, M.Si
4. Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

PERNYATAAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan,

September 2009

Yunan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

ABSTRAK

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam jangka


panjang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh kredit perbankan, nilai ekspor, pengeluaran pemerintah, dan
jumlah tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least Square (OLS). Untuk
tujuan analisis digunakan data sekunder berupa data time series, 1988 2007, yaitu
data kredit perbankan, nilai ekspor, pengeluaran pemerintah, jumlah tenaga kerja dan
PDB Indonesia. Data tersebut diperoleh dari Departemen Keuangan, BPS dan
sumber-sumber lainnya yaitu jurnal-jurnal dan hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan kredit perbankan, nilai
ekspor, pengeluaran pemerintah dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat kepercayaan 99 persen atau
=1 %, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 98,46 persen. Secara parsial,
hasil analisis menunjukkan bahwa kredit perbankan, pengeluaran pemerintah dan
jumlah tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan
semakin meningkat secara signifikan dengan meningkatnya kredit perbankan,
pengeluaran pemerintah dan jumlah tenaga kerja. Sedangkan nilai ekspor tidak
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kata kunci: Pertumbuhan ekonomi, kredit perbankan, nilai ekspor, pengeluaran
pemerintah, jumlah tenaga kerja.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

ABSTRACT

Economic growth represent the economics problem in the term and is


influenced by various factor. This research is objected to analyse the influence of
banking credit, export, government spending, and labour to economic growth of
Indonesia
The analysis uses Ordinary Least Square (OLS) method. Secondary of time
series data of 1988 2007, are applied.
The result of research indicate that the banking credit, export, government
spending, and labour had a significant effect to economic growth of Indonesia at =1
%, with a coefficient of determinant (R2) 98,46 percents. Partially, this study showed
that the banking credit, government spending, and labour to had a significant and
positively effect on economic growth of Indonesia. This means that economic growth
of Indonesia will progressively with increasing the banking credit, government
spending, and labour. While exporting value has unsignificant and positive effect to
economic growth of Indonesia.
Keywords: Economic growth, banking credit, export value, government spending,
labour.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

KATA PENGANTAR

Penelitian yang dituangkan dalam bentuk tesis ini merupakan tugas akhir yang
harus disajikan dalam rangka menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana pada
Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU)
Medan. Dengan mengambil judul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan tesis ini dalam waktu
yang telah ditetapkan berkat bimbingan dan arahan dari Bapak dan Ibu Dosen
Program Studi Ekonomi Pembangunan khususnya Dosen Pembimbing dan Dosen
Penguji dengan kesabarannya telah meluangkan waktu dan pikiran dalam
memberikan petunjuk dan arahan.
Dalam penyelesaian penulisan tesis ini, penulis banyak dibantu oleh berbagai
pihak, baik dalam bentuk moril, bimbingan maupun arahan, sehingga sesuai dengan
syarat dan tatacara yang telah ditentukan. Untuk itu penulis dalam kesempatan ini,
dengan kerendahan hati dengan rasa hormat menyampaikan terima kasih yang tulus
kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Ir. T.Chairun Nisa B., M.Sc., Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Murni Daulay, M.Si., Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai pembanding
yang telah memotivasi dan memberikan arahan dalam penyusunan tesis ini.
3. Bapak Irsad Lubis, SE,M.Soc.Sc.Ph.D sebagai Ketua Pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu dan arahan dalam penyusunan tesis ini.
4. Bapak Kasyful Mahalli, SE, M.Si, sebagai Anggota Pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu dan arahan dalam penyusunan tesis ini.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

5. Bapak Dr. Rahmanta, M.Si dan Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si, sebagai
Pembanding yang telah banyak memberikan saran-saran perbaikan dalam
penyusunan tesis ini.
6. Bapak, Ibu Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
7. Bapak dan Ibu Staf Administrasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
8. Kepada orang-orang tercinta penulis dan seluruh keluarga besar yang telah
memberikan perhatian, motivasi, semangat, saran dan doa sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini.
9. Rekan-Rekan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna, namun harapan penulis
semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Mohon maaf atas segala kesalahan
dan kesilapan penulis selama ini..
Medan,

Agustus 2009

Penulis,

Yunan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

RIWAYAT HIDUP
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama
Tempat/ Tanggal Lahir
Pekerjaan
Agama
Nama Istri
Anak

: Yunan
: Mandasip / PALUTA, 12 September 1969
: Pegawai BUMN
: Islam
: Sri Ridhayanti Harahap, SKM, M.Kes.
: 1. Islahsifa Yunaini Siregar
2. Salsabila Yunaini Siregar
3. Fakhrusy Hassan Siregar
4. Akhsanul Amal Siregar
7. Nama Orang Tua
:
Ayah
: Alm. H. Wan Purba Siregar
Ibu
: Alm. Hj. Nariman Harahap
8. Nama Mertua
:
Ayah
: H. Muhammad Ramli Salim Harahap
Ibu
: Nurlela Siagian
9. Pendidikan
:
a. SD Negeri Mandasip
: Lulus Tahun 1983
b. SMP Negeri 2 Gunung Tua
: Lulus Tahun 1986
c. SMA Al-Azhar Medan
: Lulus Tahun 1990
d. Sarjana Pertanian UISU Medan
: Lulus Tahun 1994
e. Sekolah Pascasarjana USU
: Lulus Tahun 2009
10. Pekerjaan : Tahun 1996 sekarang, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ...............................................................................................................

ABSTRACT ..............................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR............................................................................................. iii


RIWAYAT HIDUP .................................................................................................

DAFTAR ISI............................................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR...............................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xi


DAFTAR SINGKATAN......................................................................................... xii
BAB I

PENDAHULUAN...............................................................................

1.1. Latar Belakang .............................................................................

1.2. Perumusan Masalah .....................................................................

1.3. Tujuan Penelitian .........................................................................

1.4. Manfaat Penelitian .......................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................

2.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi........................................................

2.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.................................................

14

2.3. Kredit Perbankan ..........................................................................

19

2.4. Ekspor ..........................................................................................

22

2.5. Konsumsi dan Fungsi Konsumsi..................................................

23

2.6. Teori Konsumsi............................................................................

25

2.6.1. Teori Konsumsi John Maynard Keynes ...........................

25

2.6.2. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan


Permanen (Milton Friedman) ..........................................

28

2.6.3. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup..............

29

2.6.4. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif ....

30

2.7. Kesempatan Kerja ........................................................................

31

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2.7.1. Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi................

31

2.7.2. Kesempatan Kerja dan Upah ............................................

32

2.8.

Penelitian Sebelumnya ...............................................................

34

2.9.

Kerangka Konseptual .................................................................

38

2.10. Hipotesis Penelitian....................................................................

38

BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................

39

3.1. Ruang Lingkup Penelitian............................................................

39

3.2. Jenis dan Sumber Data ................................................................

39

3.3. Model Analisis .............................................................................

39

3.4. Metode Analisis ...........................................................................

40

3.5. Uji Kesesuaian .............................................................................

41

3.6. Definisi Operasional.....................................................................

41

3.7. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ...............................................

42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 44


4.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ................................................... 44
4.2. Penyaluran Kredit............................................................................ 48
4.3. Volume Ekspor................................................................................ 51
4.4. Pengeluaran Pemerintah.................................................................. 53
4.5. Tenaga Kerja ................................................................................... 56
4.6. Analisis Estimasi............................................................................. 58
4.6.1. Uji Kesesuaian (Goodness of fit)......................................... 58
4.6.2. Uji Asumsi Klasik ............................................................... 63
4.7. Pembahasan .................................................................................... 65
4.7.1. Jumlah Kredit ...................................................................... 65
4.7.2. Volume Ekspor ................................................................... 67
4.7.3. Pengeluaran Pemerintah...................................................... 69
4.7.4. Jumlah Tenaga Kerja .......................................................... 71

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 72

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

5.1. Kesimpulan ..................................................................................... 72


5.2. Saran................................................................................................ 72
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 73

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

1.1

Perkembangan PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan, Tahun


1988 2007 .........................................................................................

4.1.

Perkembangan PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan, Tahun


1985 2007 ........................................................................................

45

4.2.

Perkembangan Jumlah Kredit Berdasarkan Sektor Usaha, Tahun


1985 2007 .........................................................................................

49

4.3. Perkembangan Volume Ekspor Indonesia, Tahun 1985 2007 .........

52

4.4.

Halaman

Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Indonesia Tahun 1985


2007 .....................................................................................................

54

4.5. Perkembangan Tenaga Kerja Indonesia Tahun 1985 2007 ..............

57

4.6.

Hasil Estimasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Ekonomi Indonesia ..............................................................................

59

4.7. Hasil Uji Multikolinieritas...................................................................

64

4.8. Hasil Uji Autokorelasi dengan LM Test..............................................

65

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR GAMBAR

Nomor
Judul
Halaman
2.1. Kurva Konsumsi (Dornbuch, et,al,2001:195) ......................................... 27
2.2. Hubungan Tingkat Upah dengan Penyerapan Tenaga Kerja ................... 33
2.3.

Kerangka Konseptual Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia............................................................. 38

4.1. Perkembangan PDB Indonesia, Tahun 1985 2007................................ 46


4.2. Perkembangan Jumlah Kredit di Indonesia, Tahun 1985 2007............. 50
4.3. Perkembangan Total Ekspor Indonesia, Tahun 1985 2007................... 53
4.4.

Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Indonesia, Tahun 1985


2007 .......................................................................................................... 55

4.5. Perkembangan Tenaga Kerja Indonesia, Tahun 1985 2007.................. 58

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
Judul
Halaman
1. Data Penelitian ............................................................................................. 78
2. Input Data Analisis.......................................................................................

79

3. Analisis OLS ...............................................................................................

80

4. Uji Asumsi Klasik ........................................................................................

80

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR SINGKATAN

APC
APS
BI
BMPK
BPS
CAR
MPC
MPS
NPL
OLS
PAD
PDRB
PJPT
RR
UU

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Average Propensity to Consume


Average Propensity to Save
Bank Indonesia
Batas Minimum Pemberian Kredit
Badan Pusat Statistik
Capital Adequacy Ratio
Marginal Propensity to Consume
Marginal Propensity to Save
Non Performing Loan
Ordinary Least Square
Pendapatan Asli Daerah
Produk Domestik Regional Bruto
Pembangunan Jangka Panjang Tahap
Rate Return
Undang-undang

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam jangka
panjang, dan pertumbuhan ekonomi merupakan fenomena penting yang dialami dunia
belakangan ini. Proses pertumbuhan ekonomi tersebut dinamakan sebagai Modern
Economic Growth. Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu
proses pertumbuhan output perkapita dalam jangka panjang. Hal ini berarti, bahwa
dalam jangka panjang, kesejahteraan tercermin pada peningkatan output perkapita
yang sekaligus memberikan banyak alternatif dalam mengkonsumsi barang dan jasa,
serta diikuti oleh daya beli masyarakat yang semakin meningkat.
Pertumbuhan ekonomi juga bersangkut paut dengan proses peningkatan
produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan,
bahwa pertumbuhan menyangkut perkembangan yang berdimensi tunggal dan diukur
dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. Dalam hal ini berarti
terdapatnya kenaikan dalam pendapatan nasional yang ditunjukkan oleh besarnya
nilai Produk Domestik Bruto (PDB).
Indonesia, sebagai suatu negara yang sedang berkembang, sejak tahun 1969
dengan giat melaksanakan pembangunan secara berencana dan bertahap, tanpa
mengabaikan

usaha

pemerataan

dan

kestabilan.

Pembangunan

nasional

mengusahakan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, yang pada

1
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan


seluruh rakyat. Perkembangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dapat dilihat pada
Tabel 1.1 yang menerangkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami
perubahan yang fluktuatif dari tahun ke tahun.
Tabel 1.1 Perkembangan PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan, Tahun
1988 2007
Tahun
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Rata-rata

PDB (Milyar Rp.)


819.960,60
882.393,80
948.213,50
1.014.760,50
1.083.350,60
1.156.505,30
1.244.467,60
1.347.040,90
1.451.727,90
1.518.293,60
1.317.245,10
1.325.352,10
1.389.770,20
1.443.014,60
1.504.380,60
1.572.159,30
1.656.757,54
1.750.656,10
1.846.654,90
1.901.147,50

Peningkatan (%)
7,61
7,46
7,02
6,76
6,75
7,61
8,24
7,77
4,59
-13,24
0,62
4,86
3,83
4,25
4,51
5,38
5,67
5,48
2,95
4,64

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2007

Perkembangan

pertumbuhan

ekonomi

di

Indonesia

menunjukkan

perkembangan yang positif dari tahun 1988-1997. Pada tahun 1998 menunjukkan
penurunan pertumbuhan ekonomi yaitu minus 13,24 %, hal ini disebabkan karena
krisis moneter dan krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997, yang

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

berlanjut

menjadi

krisis

multidimensi,

sehingga

membawa

pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 1998.

dampak

pada

Pada tahun 1999-2003

perekonomian Indonesia baru dapat tumbuh lagi walaupun pertumbuhannya tidak


sepesat pada tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 1995, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka yang
tertinggi, yakni sebesar 8,24 %. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh kenaikan
konsumsi dan sebagai dampak dari adanya boom investasi yang terjadi pada tahun
1995, dengan nilai investasi sebesar 39.914,7 juta US Dolar (Bank Indonesia, 2003).
Krisis moneter dan krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997,
yang berlanjut menjadi krisis multidimensi, membawa dampak pada pertumbuhan
ekonomi di Indonesia. Pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi mengalami
penurunan yang cukup tajam, yaitu sebesar minus 13,24 %. Kemudian, pada tahuntahun

berikutnya,

perekonomian

nasional

Indonesia

mengalami

pemulihan

(recovery), meskipun jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang


mengalami krisis serupa, proses pemulihan ekonomi di Indonesia relatif lebih lambat.
Memasuki tahun 2000, perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansa
optimisme yang cukup tinggi. Hal ini antara lain ditandai dengan menguatnya nilai
tukar rupiah sejalan dengan penurunan inflasi dan tingkat suku bunga pada sektor riil.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 sebesar 4,86 % lebih tinggi dari prakiraan
awal tahun oleh Bank Indonesia sebesar 3,0 % sampai dengan 4,0 %. Pada tahun
2002 semakin membaik dibandingkan tahun 2001, berdasarkan perhitungan PDB atas
dasar harga konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2002 adalah

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

sebesar 4,25 %, dan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 sebesar 3,83 %,
Sedangkan pada tahun 2003 laju pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 4,51 %.
Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik dan lebih stabil
selama 2003 sebagaimana yang tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang
meningkat. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi masih belum
memadai untuk menyerap tambahan angkatan kerja sehingga jumlah pengangguran
masih mengalami kenaikan. Aktivitas perdagangan dunia yang masih lesu
mengakibatkan pertumbuhan volume ekspor Indonesia, khususnya komoditas
nonmigas, relatif rendah. Dalam situasi demikian, kinerja ekspor secara nominal
sangat terbantu oleh meningkatnya harga komoditas migas dan nonmigas di pasar
internasional sehingga secara keseluruhan nilai ekspor pada 2003 masih mengalami
kenaikan yang signifikan dan menjadi penopang utama terjadinya surplus transaksi
berjalan selama 2003 (Bank Indonesia, 2003).
Namun, dengan perkembangan perekonomian yang dicapai saat ini, Indonesia
masih harus menghadapi permasalahan yang mungkin juga dialami negara lain,
khususnya negara sedang berkembang, yang sedang melaksanakan pembangunan.
Pembangunan tersebut tentunya memerlukan dana dalam jumlah yang besar. Salah
satu sumber pendanaan tersebut adalah kredit bank. Proses pertumbuhan ekonomi
dipengaruhi oleh dua macam faktor, yaitu faktor ekonomi dan faktor non ekonomi.
Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara tergantung
pada sumber alamnya, sumber daya manusia, modal usaha, teknologi dan sebagainya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi juga ditunjang oleh faktor non ekonomi, seperti

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

lembaga sosial, sikap budaya, nilai moral, kondisi politik, dan kelembagaan dari
negara tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan suatu
pengkajian ilmiah terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
di Indonesia. Dalam hal ini faktor-faktor yang dianalisis adalah kredit perbankan,
ekspor, pengeluaran pemerintah, dan jumlah tenaga kerja. Penggunaan variabel ini
didasarkan pada Kuznets dalam Tambunan (2001a), bahwa perubahan struktur
ekonomi didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu
dengan lainnya dalam komposisi permintaan agregat dan penawaran agregat.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan dianalisis dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh kredit perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
2. Bagaimana pengaruh nilai ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
3. Bagaimana pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
4. Bagaimana pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Secara khusus penelitian ini bertujuan:
1. Untuk menganalisis pengaruh kredit perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
2. Untuk menganalisis pengaruh nilai ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia.
3. Untuk menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia.
4. Untuk menganalisis pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain adalah :
1. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah Indonesia dalam
upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
2. Sebagai bahan informasi bagi dunia perbankan, perdagangan ekspor impor,
dalam hubungannya pertumbuhan ekonomi Indonesia.
3. Sebagai informasi ilmiah dan wawasan ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

4. Sebagai referensi bagi peneliti lainnya yang berminat untuk mengkaji dalam
bidang yang sama dengan pendekatan dan ruang lingkup yang berbeda.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi


Teori pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai penjelasan mengenai
faktor-faktor yang menentukan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang, dan
penjelasan mengenai interaksi faktor-faktor tersebut satu sama lain sehingga terjadi
proses pertumbuhan (Boediono, 1999). Teori pertumbuhan ekonomi dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu:
(1)

Teori-teori klasik, mencakup teori pertumbuhan Adam Smith, David Richard,


dan Arthur Lewis. Perbedaan teori Lewis dengan teori-teori Klasik Smith dan
Ricardo terletak pada penekanan oleh Lewis pada aspek dualisme
perekonomian, yaitu adanya sektor modern dan sektor tradisional, yang masingmasing memiliki ciri-ciri ekonomi khusus.

(2)

Teori-teori modern, yang mencakup empat sub golongan, yaitu:


a. Teori pertumbuhan yang tumbuh dari teori makro Keynes (Keynesian).
Dalam hal ini termasuk teori pertumbuhan Harrod-Domar, Kaldor.
b. Teori Pertumbuhan Neo Klasik, diawali terutama oleh teori Robert Solow
dan Trevor Swan.
c. Teori pertumbuhan optimum

8
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Teori ini bertujuan mencari jalur pertumbuhan yang paling baik (optimum)
bagi suatu perekonomian. Termasuk dalam hal ini teori Dalil Emas dan
Teori Jalan Raya.
d. Teori pertumbuhan dengan uang
Teori ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari pertumbuhan Neo
Klasik, tetapi dengan tambahan adanya uang di dalam perekonomian
sebagai alat penyimpan kekayaan. Teori pokoknya berawal dari karya James
Tobin.
Dalam hal ini diambil satu teori pertumbuhan ekonomi, yaitu teori
pertumbuhan Harrod-Domar. Teori Harrod-Domar adalah perkembangan langsung
dari makro Keynes jangka pendek menjadi suatu teori jangka panjang. HarrodDomar melihat pengaruh investasi (I) dalam perspektif waktu yang lebih panjang.
Menurut Harrod-Domar, pengeluaran investasi (I) tidak hanya mempunyai pengaruh
(lewat proses multiplier) terhadap permintaan agregat (Z), tetapi juga terhadap
penawaran agregat (S) melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam
perspektif waktu yang lebih panjang, I menambah stok kapital, misalnya pabrikpabrik, jalan-jalan). Jadi I = K, dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Hal
ini berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat.
Harrod-Domar mengatakan bahwa setiap penambahan stok kapital masyarakat
(K) meningkatkan pula kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output (QP). QP

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

adalah output yang potensial bisa dihasilkan dengan stok kapital yang ada.
Hubungan antara K dan QP digambarkan sebagai:
QP = hK ..............................................................................................(2.1)
dimana h, menunjukkan berapa unit output yang bisa dihasilkan dari setiap unit
kapital. Koefisien ini diberi nama out-put capital ratio, dan kebalikannya, yaitu 1/h
adalah capital-output ratio.
Hubungan antara K dan QP adalah proporsional, apabila K naik dua kali lipat
maka QP juga naik dua kali lipat. Jadi apabila dalam satu tahun ada investasi sebesar
I, maka stok kapital pada akhir tahun tersebut akan bertambah sebesar K = I.
Selanjutnya penambahan kapasitas ini akan meningkatkan output potensial sebesar:
QP = h K = hI hK ..........................................................................(2.2)
Semakin besar I, semakin besar tambahan out potensial.
Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan. Pembangunan bertujuan menentukan usaha pembangunan yang
berkelanjutan dengan tidak menghabiskan sumber daya alam. Teori dan model
pertumbuhan yang dihasilkan dijadikan panduan konsep pembangunan, dimana hal
ini dibahas dalam teori pertumbuhan dan pembangunan dan berusaha menganalisa
secara kritikal dengan melihat kesesuaiannya dalam konteks negara. Walaupun tidak
semua teori atau model dapat digunakan, namun berbagai pendapat mengenai peranan
faktor pengeluaran termasuk buruh, tanah, modal dan pengusaha dapat menjelaskan
penyebab tidak terlaksananya pembangunan dalam sebuah negara. Pada tahap awal,

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

pendapatan per kapita menjadi alat ukur utama bagi pembangunan. Namun sesuai
dengan perubahan waktu, aspek pembangunan manusia dan pembangunan sumber
daya alam semakin ditekankan. Pembangunan sumber daya alam melihat kepada
aspek manfaat kepada generasi akan datang melalui kebijakan masa kini. Oleh karena
itu konsep pembangunan dan pertumbuhan tidak ditafsirkan dari perspektif ekonomi
semata-mata, namun meliputi berbagai disiplin seperti pendidikan, perindustrian dan
kebijakan (Idris dan Dan, 2004).
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan prosesnya yang berkelanjutan
merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi, karena
penduduk bertambah terus dan berarti kebutuhan ekonomi juga bertambah terus,
maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun. Hal ini hanya bisa didapat
lewat peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau produk domestik bruto
(PDB) setiap tahun. Jadi dalam pengertian ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi
adalah penambahan PDB yang berarti juga penambahan pendapatan nasional
(Tambunan, 2001a).
Pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dalam nilai absolut dan nilai relatif
(persentase). Pertumbuhan dalam nilai absolut dinyatakan dalam rupiah, misalnya
PDB tahun 2000 tumbuh Rp. 2 triliun dibandingkan PDB tahun 1999. Sedangkan
pertumbuhan dalam persentase dapat dihitung dengan cara sederhana, sebagai berikut
(Tambunan, 2001b).
PDB(t) = [PDB(t) PDB(t-1) / PDB(t-1)] x 100 % .. (2.3)

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

dimana PDB(t) = pertumbuhan ekonomi tahun (t) tertentu dalam nilai absolut, t-1 =
tahun sebelumnya. Untuk mendapatkan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per
tahun, menggunakan rumus sebagai berikut:
tn
r = n 1 1 x 100%
t 0

.(2.4)

atau dengan compounding factor :


tn = t0(1 + r)n-1

(2.5)

dimana r = laju pertumbuhan PDB rata-rata per tahun, n = jumlah tahun (misalnya
untuk periode 1990-an, n = 10), tn = tahun akhir periode, t0 = tahun awal periode,
(1 + r)n-1 menggambarkan compound factor. Menurut Tambunan (2001 b),
pertumbuhan ekonomi dalam nilai absolut selanjutnya dapat dinyatakan dalam nilai
nominal berdasarkan harga berlaku dan nilai riil (nyata) berdasarkan harga konstan.
Pembangunan ekonomi sebuah negara pada dasarnya bertujuan untuk
mencapai kemakmuran masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
distribusi pendapatan yang merata. Kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi tersebut
dapat tercipta melalui bekerjanya pasar secara efisien. Mekanisme pasar akan bekerja
secara efisien apabila tersedia tata aturan dan hukum-hukum pasar yang dilaksanakan
dengan baik. Ketersediaan tata aturan dan hukum tersebut mengundang peran para
pembuat undang-undang (parlemen) dan pelaksana undang-undang (pemerintah).
Selain itu, Pemerintah termasuk bank sentral menyusun kebijakan-kebijakan yang
disesuaikan dengan perkembangan untuk lebih cepat merealisasikan tujuan-tujuan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

yang diinginkan dalam koridor undang-undang/peraturan yang sudah dijalankan. Atas


dasar itu, Pemerintah melalui kebijakan makroekonomi, investasi, perdagangan,
pelaksanaan hukum serta perundang-undangan mempunyai peranan penting dalam
menciptakan iklim yang kondusif bagi bekerjanya pasar secara optimal. Demikian
pula halnya bank sentral yang menetapkan kebijakan moneter, sebagai salah satu
elemen kebijakan makroekonomi mempunyai peranan penting dalam penciptaan
kondisi bagi bekerjanya mekanisme pasar yang efisien (Abdullah, 2003).
Implikasi dari kebijakan fiskal pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi
masih banyak diperdebatkan baik dari sisi teori maupun studi empirisnya yang juga
masih terus berkembang. Pada awalnya yang lebih diperhatikan adalah kuantitas
pengeluaran pemerintah, namun pada tahap selanjutnya aspek-aspek lain dari
kebijakan fiskal pemerintah tersebut dirasa perlu pula untuk diamati. Selain efektifitas
atau efisiensi dari pengeluaran pemerintah baik besarannya (size) dan alokasi
sektoralnya, dampak dari cara pemerintah dalam membiayai pengeluarannya terhadap
pertumbuhan ekonomi juga merupakan area studi yang menarik (Gunadi, 2004).
Seperti disebutkan oleh Aschauer (2000), persoalan kebijakan fiskal pemerintah
mencakup how much you have, how you pay for it dan how you use it. Selain
cross-countries studies seperti Baffes dan Shah (1998), Dessus dan Herrera (2000),
Aschauer (2000), Gupta et al. (2002), hubungan antara kebijakan fiskal dengan
pertumbuhan ekonomi pada tingkat daerah di suatu negara juga telah mendapatkan
perhatian. Hal terakhir ini misalnya studi Rappaport (1999) dengan kasus Amerika
Serikat, Bergstrom (1998) dengan kasus Swedia, Lall dan Yilmaz (2000) dengan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

kasus Amerika Serikat. Brata dan Arifin (2003) juga telah mencoba menganalisis
aspek fiskal pemerintah daerah terhadap pertumbuhan ekonomi propinsi di Indonesia.
Namun, seperti juga kecenderungan studi-studi yang telah dikemukakan di atas,
aspek fiskal yang diamati belum mencakup sisi penerimaan maupun komposisinya
tetapi baru pada sisi pengeluaran khususnya pengeluaran pembangunan sebagai
proksi dari investasi sektor publik lokal. Sementara itu aspek penerimaan pemerintah
daerah merupakan salah satu isu krusial bagi Indonesia. Sebelum diberlakukannya
kebijakan otonomi daerah tahun 1999, pemerintah daerah baik tingkat propinsi (Dati
I) maupun kabupaten/kota (Dati II) lebih banyak tergantung pada pemerintah pusat
(Kuncoro, 1995). Dalam hal ini, andil subsidi dari pemerintah pusat dalam struktur
penerimaan pemerintah daerah sangat tinggi, jauh melebihi Penerimaan Asli Daerah
(PAD).

2.2. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Hampir enam puluh (60) tahun bangsa Indonesia melakukan pembangunan
ekonomi, selama itu pula pertumbuhan ekonomi mengalami pasang surut. Fluktuasi
pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat terkait dengan fluktuasi stabilitas sosial,
politik dan keamanan. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari nilai absolut maupun
relatif. Secara absolut berarti dilihat dari perubahan PDB tahun lalu dengan tahun
sekarang. Misalnya PDB tahun 2004 tumbuh Rp 3 triliun dari tahun 2003. Untuk
mempermudah penggambaran, masa pertumbuhan ekonomi dipilah menjadi tiga (3),
yaitu masa orde lama, orde baru dan masa reformasi.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Masa Orde Lama


Setelah kemerdekaan hingga tahun 1965, perekonomoian Indonesia memasuki
era yang sangat sulit, karena bangsa Indonesia menghadapi gejolak sosial, politik dan
keamanan yang sangat dahsyat, sehingga pertumbuhan ekonomi kurang diperhatikan.
Kegiatan ekonomi masyarakat sangat minim, perusahaan-perusahaan besar saat itu
merupakan perusahaan peninggalan penjajah yang mayoritas milik orang asing,
dimana produk berorientasi pada ekspor. Kondisi stabilitas sosial- politik dan
keamanan yang kurang stabil membuat perusahaan-perusahaan tersebut stagnan.
Pada periode tahun 1950-an Indonesia menerapkan model guidance
development dalam pengelolaan ekonomi, dengan pola dasar Growth with
Distribution of Wealth di mana peran pemerintah pusat sangat dominan dalam
mengatur pertumbuhan ekonomi (pembangunan semesta berencana). Model ini tidak
berhasil, karena begitu kompleknya permasalahan ekonomi, sosial, politik dan
keamanan yang dihadapi pemerintah dan ingin diselesaikan secara bersama-sama dan
simultan. Puncak kegagalan pembangunan ekonomi orde lama adalah terjadi hiper
inflasi yang mencapai lebih 500% pada akhir tahun 1965 (Tambunan: 2001).
Masa Orde Baru
Belajar dari kegagalan Orde Lama, Orde Baru sejak awal tahun 1970
menerapkan planned economy dengan pola Growth First then Distribution of Wealth.
Planned economy yang dianut Indonesia merujuk pada pertumbuhan perekonomian
dengan pola kemajuan perekonomian suatu masyarakat melalui beberapa tahapan,
sehingga pada masa itu pemerintah mengenalkan adanya Pembangunan Jangka

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Panjang Tahap I (PJPT I), dan PJPT II. Pembangunan jangka panjang juga
dimasyarakatkan dengan nama Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun),
program ini menunjukkan keberhasilan, terutama dilihat dari indikator makro
ekonomi, yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pertumbuhan pendapatan
yang tinggi, tingkat inflasi yang rendah, kestabilan nilai tukar rupiah, rendahnya
tingkat pengangguran dan perbaikan sarana perekonomian. Tahapan model
pembangunan Rostow tampak jelas pada tahapan-tahapan pelita di Indonesia selama
PJPT I.
Tahap pertama adalah mengubah pola ekonomi traditional yang berbasis
pertanian tradisional, dimana penguasaan teknologi masyarakat sangat rendah,
sehingga mayoritas produksi adalah barang-barang pertanian dan bahan mentah
menuju pola ekonomi industri (industrial economy), di mana kegiatan ekonomi
bertumpu pada industri. Ciri utama pada tahap ini adalah, pertama struktur
masyarakat

berjenjang,

penguasaan

teknologi

sangat

terbatas,

penguasaan

sumberdaya yang dipengaruhi oleh hubungan darah/keluarga dan produk utama


adalah pertanian.
Tahap kedua adalah precondition untuk take-off (tinggal landas), mempunyai
beberapa indikator. Sektor pertanian masih merupakan sektor yang dominan dan
penting, kegiatan perekonomian mulai bergerak dinamis, sektor industri, jasa dan
lembaga keuangan mulai berkembang. Tahap kedua ini tahap yang sangat krusial,
karena menyiapkan prasarat untuk tinggal landas. Prasarat yang harus disiapkan
untuk lepas landas meliputi: Pertama, perbaikan infrastruktur, terutama jalan raya,

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

pelabuhan, rel kereta api, lapangan terbang. Pada tahap ini pertumbuhan pendapatan
tinggi dan diikuti dengan menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk, pertumbuhan
ekonomi meningkat tajam, capital-labor ratio semakin meningkat, share industri
dalam pertumbuhan ekonomi semakin besar (bahkan mulai menggeser peranan sektor
pertanian).
Tahap ketiga adalah initiating take-off, di mana dalam tahap ini peran
pemerintah mulai berkurang. Porsi pembangunan mulai diserahkan kepada swasta.
Pemerintah lebih bersifat pendorong, melalui peraturan dan kestabilan politik.
Beberapa indikator utama dalam tahap ini adalah pertama, terjadinya perubahan
teknologi dalam pengelolaan baik sektor industri maupun pertanian. Ratio capital to
labor semakin meningkat. Kedua, peran penanaman modal asing dalam
pembangunan ekonomi semakin tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari peran swasta
domestik maupun negara. Selanjutnya, growth model bertumpu pada akumulasi
kapital melalui pasar modal. Ini berarti peran rakyat dalam pembangunan mulai
diaktifkan, terutama dalam akumulasi modal melalui transaksi di pasar modal.
Tahap keempat adalah take-off. Tahap tinggal landas merupakan tahap yang
paling menentukan dalam proses pembangunan ekonomi. Tinggal landas menurut
Kuncoro (2000) diartikan sebagai tiga (3) kondisi yang saling terkait, yaitu: (1)
Kenaikan laju investasi produktif antara 5 10 persen dari pendapatan nasional, (2)
Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju
pertumbuhan tinggi (3) Adanya kerangka politik, sosial dan institusional yang jelas,
yang dapat mendorong ekspansi di sektor modern. Ciri lain pada tahap ini terletak

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

pada peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi hanyalah sebagai fasilitator,


bukan lagi inisiator. Peran swasta sangat tinggi dalam pembangunan, mekanisme
pasar mulai diperkenalkan dan local currency memasuki perdagangan internasional.
Tahap kelima adalah tahap konsumsi tinggi. Pada tahap akhir perkembangan
perekonomian Rostow ini akan ditandai adanya migrasi besar-besaran penduduk kota
ke daerah pinggiran kota. Masyarakat mulai timbul kesadaran bahwa kesejahteraan
bukan masalah individu, yang hanya dipecahkan dengan konsumsi individu, namun
kesejahteraan merupakan kebutuhan bersama. Meskipun pertumbuhan ekonomi masa
orde baru cukup tinggi, dimana pertumbuhan ekonomi tertinggi pernah mencapai 8
persen (Tambunan: 2001) dan pendapatan perkapita mencapai US$ 1.100 (Pratama
Mandala : 2003), namun angka kemiskinan di Indonesia masih tetap tinggi.
Pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan pada pertumbuhan pendapatan nasional,
ternyata hanya dinikmati golongan masarakat tertentu saja. Pembangunan ekonomi
model Growth First then Distribution of Wealth ternyata menimbulkan kesenjangan
sosial ekonomi pada masyarakat. Dengan berakhirnya PJPT I diharapkan Indonesia
sudah mencapai tahap take-off, namun kondisi empirik menunjukkan hasil yang
berbeda. Hasil pembangunan ekonomi tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat,
sehingga perekonomian menjadi rapuh. Puncak kegagalan pembangunan ekonomi
orde baru adalah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 (Tambunan, 2001b).
Masa Reformasi
Pada masa reformasi perekonomian Indonesia memasuki masa sulit, bahkan
sampai saat ini kegiatan perekonomian belum tumbuh normal seperti masa sebelum

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

krisis. Krisis ekonomi yang diawali tahun 1997 telah berdampak luas pada semua
aspek kehidupan masyarakat, sehingga memicu instabilitas pada bidang sosial, politik
dan keamanan. Kondisi ini memicu timbulnya kekacauan dalam kegiatan
perekonomian dan laju inflasi yang semakin tinggi. Begitu beratnya kondisi
perekonomian Indonesia sehingga terpuruk di mata internasional.
Pertumbuhan ekonomi menjadi negatif, pendapatan perkapita sebelum krisis
mencapai US$ 1.100 pada tahun 1999 merosot menjadi US$ 580 (Tambunan, 2001a).
Demikian juga dengan nilai kurs rupiah yang sempat menyentuh nilai tertinggi Rp
17.500 per US$ 1. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kepercayaan masyarakat
dalam negeri maupun internasional terhadap perekonomian Indonesia, sehingga
aktivitas di pasar modal didominasi oleh aktivitas jual, bukan pembelian. Setelah
tahun 2000 perekonomian mulai recovery sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia
mulai positif. Sektor-sektor perekonomian yang sebelumnya tumbuh negatif, sudah
berkembang menjadi positif. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 3
sampai 4 persen.

2.3. Kredit Perbankan


Perbankan sebagai salah satu fungsi intermediasi, berperan dalam mendorong
tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja melalui penyediaan
sejumlah dana pembangunan dan dunia usaha. Khusus untuk dunia usaha, dana yang
diberikan oleh bank adalah dalam bentuk kredit. Jumlah permintaan kredit pada
suatu bank dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi debitur maupun dari sisi

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

kreditur (perbankan) itu sendiri. Permintaan kredit dari sisi debitur (dunia usaha)
dipengaruhi oleh adanya upaya untuk meningkatkan aktivitas usaha, baik dalam
bentuk investasi maupun modal kerja. Sedangkan dari sisi perbankan, permintaan
kredit dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti suku bunga kredit, batas maksimum
kredit, SBI, kebijakan-kebijakan pemerintah dan pelayanan bank itu sendiri kepada
nasabahnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (2005), nilai kredit yang diberikan bank
umum sejak tahun 2000 hingga tahun 2004 mengalami peningkatan setiap tahun.
Nilai kredit yang diberikan bank umum pada tahun 2000 sebesar Rp. 861.905 miliar
dan meningkat setiap tahun menjadi Rp. 1.794.190 miliar pada tahun 2004.
Pengertian kredit dalam arti ekonomi adalah suatu penundaan pembayaran
dari prestasi yang diberikan seseorang, baik dalam bentuk barang, uang maupun jasa.
Artinya uang atau barang diterima sekarang dan dikembalikan pada masa yang akan
datang. Kredit erat kaitannya dengan pengadaan modal suatu badan usaha, dimana
dalam menjalankan usahanya pihak manajeman berusaha untuk memperoleh
tambahan modal dari berbagai sumber, termasuk diantaranya melalui kredit. Menurut
Pasal 1 butir 11 UU No. 10 Tahun 1998, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan
yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Kredit adalah penundaan pembayaran dari prestasi yang diberikan sekarang,


baik dalam bentuk barang, uang maupun jasa keuntungan atau bunga yang diperoleh
dari pemberi kredit untuk memelihara kelangsungan usaha dan memperluas usahanya
(Tohar, 2000). Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004), alasan permintaan kredit
adalah: permintaan transaksi, yaitu kebutuhan alat tukar yang diterima oleh umum
untuk membeli barang dan membayar tagihan, dan sebagai tambahan, yaitu sebagai
aset atau penyimpan nilai. Permintaan kredit tersebut dipengaruhi suku bunga (biaya
untuk memegang uang), dimana semakin tinggi biaya (suku bunga kredit) maka
permintaan kredit (uang) menurun.
Permintaan uang untuk tujuan kredit, menurut Keynes (dalam Nusantara dan
Azis, 2002) ditentukan oleh tingkat bunga. Makin tinggi tingkat bunga makin rendah
keinginan masyarakat akan kredit. Alasannya, apabila tingkat bunga naik, berarti
ongkos memegang uang (opportunity cost) makin kecil. Sebaliknya semakin rendah
tingkat suku bunga maka semakin besar keinginan masyarakat untuk meminjam
kredit.
Pada umumnya alasan orang meminjam kredit adalah untuk investasi, modal
kerja, maupun untuk konsumsi. Namun dari sisi perbankan, kredit yang lebih banyak
diberikan adalah kredit investasi dan modal kerja.

Aktivitas perekonomian,

khususnya sektor usaha dapat bergerak dengan adanya kredit dari bank. Para pelaku
usaha lebih mengandalkan bantuan kredit untuk invetasi maupun untuk modal kerja
dibandingkan dengan modal sendiri. Oleh karena itu peranan kredit bank dalam
dunia usaha sangat penting, karena sebagian besar kegiatan usaha didanai oleh kredit

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

bank. Walaupun kegiatan usaha membutuhkan kredit, namun tinggi rendahnya


permintaan kredit oleh dunia usaha tersebut terutama dipengaruhi oleh suku bunga
kredit.

2.4. Ekspor
Kegiatan ekspor adalah sistem perdagangan dengan cara mengeluarkan
barang-barang dari dalam negeri keluar negeri dengan memenuhi ketentuan yang
berlaku. Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke
negara lain, termasuk diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun
tertentu (Triyoso, 1984).
Ekspor merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan ekonomi
suatu negara. Ekspor akan memperbesar kapasitas konsumsi suatu negara
meningkatkan output dunia, serta menyajikan akses ke sumber-sumber daya yang
langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk berbagai produk ekspor
yang mana tanpa produk-produk tersebut, maka negara-negara miskin tidak akan
mampu mengembangkan kegiatan dan kehidupan perekonomian nasionalnya. Ekspor
juga dapat membantu semua negara dalam menjalankan usaha-usaha pembangunan
mereka melalui promosi serta penguatan sektor-sektor ekonomi yang mengandung
keunggulan komparatif, baik itu berupa ketersediaan faktor-faktor produksi tertentu
dalam jumlah yang melimpah, atau keunggulan efisiensi alias produktifitas tenaga
kerja. Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam mengambil keuntungan dari
skala ekonomi yang mereka miliki (Todaro & Smith, 2004).

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada


umumnya, setiap negara perlu merumuskan dan menerapkan kebijakan-kebijakan
internasional yang berorientasi ke luar. Dalam semua kasus, kemandirian yang
didasarkan pada isolasi, baik yang penuh maupun yang hanya sebagian, tetap saja
secara ekonomi akan lebih rendah nilainya daripada partisispasi ke dalam
perdagangan dunia yang benar-benar bebas tanpa batasan atau hambatan apapun
(Todaro & Smith, 2004).
Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah negara
memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada gilirannya
menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan tingkat output
yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan pembangunan
ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan, 2000).

2.5. Konsumsi dan Fungsi Konsumsi


Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang
dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang
yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan,
pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan
atau konsumsi. Barang-barang yang di produksi untuk digunakan oleh masyarakat
untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.(Dumairy, 1996).
Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di
antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut. Fungsi konsumsi dapat


dinyatakan dalam persamaan :
C = a + bY

.....................................................................................(2.6)

Dimana a adalah konsumsi rumah tangga ketika pendapatan nasional adalah 0, b


adalah kecondongan konsumsi marginal, C adalah tingkat konsumsi dan Y adalah
tingkat pendapatan nasional.
Ada dua konsep untuk mengetahui sifat hubungan antara pendapatan
disposabel dengan konsumsi dan pendapatan diposabel dengan tabungan yaitu kosep
kecondongan

mengkonsumsi

dan

kecondongan

menabung.

Kecondongan

mengkonsumsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu kecondongan mengkonsumsi


marginal dan kecondongan mengkonsumsi rata-rata. Kencondongan mengkonsumsi
marginal dapat dinyatakan sebagai MPC (berasal dari istilah Inggrisnya Marginal
Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara
pertambahan konsumsi (C) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan
disposebel (Yd) yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan menggunakan
formula :
MPC =

C
..........................................................................................(2.7)
Yd

Kencondongan mengkonsumsi rata-rata dinyatakan dengan APC (Average


Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tingkat

pengeluaran konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel pada ketika

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

konsumen tersebut dilakukan (Yd). Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan
formula :
APC =

C
..............................................................................................(2.8)
Yd

Kecondongan menabung dapat dibedakan menjadi dua yaitu kencondongan


menabung marginal dan kecondongan menabung rata-rata. Kecondongan menabung
marginal dinyatakan dengan MPS (Marginal Propensity to Save) adalah
perbandingan di antara pertambahan tabungan (S) dengan pertambahan pendapatan
disposebel (Yd). Nilai MPS dapat dihitung dengan menggunakan formula :
MPS =

S
..........................................................................................(2.9)
Yd

Kecondongan menabung rata-rata dinyatakan dengan APS (Average


Propensity to Save), menunjukan perbandingan di antara tabungan (S) dengan

pendapatan disposebel (Yd). Nilai APS dapat dihitung dengan menggunakan formula
(Sukirno, 2003) :
APS =

S
.............................................................................................(2.10)
Yd

2.6. Teori Konsumsi


2.6.1. Teori Konsumsi John Maynard Keynes

Dalam teorinya Keynes mengandalkan analisis statistik, dan juga membuat


dugaan-dugaan tentang konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi casual.
Pertama dan terpenting Keynes menduga bahwa, kecenderungan mengkonsumsi
marginal (marginal propensity to consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi


marginal adalah krusial bagi rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan
pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kebijakan fiskal, untuk mempengaruhi
perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari
umpan balik antara pendapatan dan konsumsi.
Kedua, Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang
disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (avarage prospensity to consume),
turun ketika pendapatan naik. Keynes percaya bahwa tabungan adalah kemewahan,
sehingga ia barharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari
pendapatan mereka ketimbang orang miskin.
Ketiga, Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan
konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Keynes
menyatakan bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori.
Kesimpulannya bahwa pengaruh jangka pendek dari tingkat bunga terhadap
pengeluaran individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak penting.
Berdasarkan tiga dugaan ini, fungsi konsumsi Keynes sering ditulis sebagai
(Mankiw, 2003) :
C = C + cY,

C > 0, 0 < c < 1 .............................................. (2.11)

Keterangan :
C = konsumsi
Y = pendapatan disposebel
C = konstanta

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

c = kecenderungan mengkonsumsi marginal


C

C=Y
saving
E

a + bY

Cg
disaving
C

Yeq
Y
Gambar 2.1. Kurva Konsumsi (Dornbusch, et.al, 2001: 195)
Secara singkat di bawah ini beberapa catatan mengenai fungsi konsumsi
Keynes (Reksoprayitno, 2000) :
1. Variabel nyata adalah bahwa fungsi konsumsi Keynes menunjukkan hubungan
antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya
dinyatakan dengan menggunakan tingkat harga konstan.
2. Pendapatan yang terjadi disebutkan bahwa pendapatan nasional yang menentukan

besar kecilnya pengeluaran konsumsi adalah pendapatan nasional yang terjadi


atau current national income.

3. Pendapatan absolute disebutkan bahwa fungsi konsumsi Keynes variabel


pendapatan nasionalnya perlu diinterpretasikan sebagai pendapatan nasional

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

absolut, yang dapat dilawankan dengan pendapatan relatif, pendapatan permanen


dan sebagainya.
4. Bentuk fungsi konsumsi menggunakan fungsi konsumsi dengan bentuk garis
lurus. Keynes berpendapat bahwa fungsi konsumsi berbentuk lengkung.

2.6.2. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (Milton


Friedman)

Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh M Friedman.


Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu
pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory
income). Pengertian dari pendapatan permanen adalah :

1. Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat
diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah.
2. Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan
seseorang (yang menciptakan kekayaan).
Pengertian pendapatan sementara adalah pendapatan yang tidak bisa
diperkirakan sebelumnya (Mangkoesoebroto, 1998). Friedman menganggap pula
bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan sementara dengan pendapatan
permanen, juga antara konsumsi sementara dengan konsumsi permanen, maupun
konsumsi sementara dengan pendapatan sementara. Sehingga MPC dari pendapatan
sementara sama dengan nol yang berarti bila konsumen menerima pendapatan
sementara yang positif maka tidak akan mempengaruhi konsumsi. Demikian pula bila

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

konsumen menerima pendapatan sementara yang negatif maka tidak akan


mengurangi konsumsi (Suparmoko, 1991).

2.6.3. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup

Teori dengan hipotesis siklus hidup dikemukaan oleh Franco Modigliani.


Franco Modigliani menerangkan bahwa pola pengeluaran konsumsi masyarakat
mendasarkan kepada kenyataan bahwa pola penerimaan dan pola pengeluaran
konsumsi seseorang pada umumnya dipengaruhi oleh masa dalam siklus hidupnya.
Karena orang cenderung menerima penghasilan/pendapatan yang rendah pada usia
muda, tinggi pada usia menengah dan rendah pada usia tua, maka rasio tabungan akan
berfluktuasi sejalan dengan perkembangan umur mereka yaitu orang muda akan
mempunyai tabungan negatif (dissaving), orang berumur menengah menabung dan
membayar kembali pinjaman pada masa muda mereka, dan orang usia tua akan
mengambil tabungan yang dibuatnya di masa usia menengah.
Selanjutnya Modigliani menganggap penting peranan kekayaan (assets)
sebagai penentu tingkah laku konsumsi. Konsumsi akan meningkat apabila terjadi
kenaikan nilai kekayaan seperti karena adanya inflasi maka nilai rumah dan tanah
meningkat, karena adanya kenaikan harga surat-surat berharga, atau karena
peningkatan dalam jumlah uang beredar. Sesungguhnya dalam kenyataan orang
menumpuk kekayaan sepanjang hidup mereka, dan tidak hanya orang yang sudah
pensiun saja. Apabila terjadi kenaikan dalam nilai kekayaan, maka konsumsi akan
meningkat atau dapat dipertahankan lebih lama. Akhirnya hipotesis siklus kehidupan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

ini akan berarti menekan hasrat konsumsi, menekan koefisien pengganda, dan
melindungi perekonomian dari perubahan-perubahan yang tidak diharapkan, seperti
perubahan

dalam

investasi,

ekspor,

maupun

pengeluaran-pengeluaran

lain

(Suparmoko, 1991).

2.6.4. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif

James Dusenberry dalam Reksoprayitno (2000) mengemukakan bahwa


pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya
pendapatan yang pernah dicapainya. Pendapatan berkurang, konsumen tidak akan
banyak mengurangi pengeluaran untuk konsumsi. Untuk mempertahankan tingkat
konsumsi yang tinggi, terpaksa mengurangi besarnya saving. Apabila pendapatan
bertambah maka konsumsi mereka juga akan betambah, tetapi brtambahnya tidak
terlalu besar. Sedangkan saving akan bertambah besar dengan pesatnya.
Kenyataan ini terus kita jumpai sampai tingkat pendapatan tertinggi yang
telah kita capai tercapai kembali. Sesudah puncak dari pendapatan sebelumnya telah
dilalui, maka tambahan pendapatan akan banyak menyebabkan bertambahnya
pengeluaran untuk konsumsi, sedangkan di lain pihak bertambahnya saving tidak
begitu

cepat

(Reksoprayitno,

2000).

Dalam

teorinya,

Dusenberry

dalam

Reksoprayitno (2000) menggunakan dua asumsi yaitu:


1. Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya
pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang
dilakukan oleh orang sekitarnya.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2. Pengeluaran konsumsi adalah irreversibel. Artinya pola pengeluaran seseorang


pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat
penghasilan mengalami penurunan (Mangkoesoebroto, 1998).

2.7. Kesempatan Kerja


2.7.1. Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi

Tolok ukur kemajuan ekonomi, meliputi pendapatan nasional, tingkat


kesempatan kerja, tingkat harga dan posisi pembayaran luar negri (Makmun, 2004).
Secara nasional data menunjukkan bahwa lumpuhnya ekonomi wilayah industri di
perkotaan menyebabkan menurunnya laju pertumbuhan ekonomi wilayah pedesaan
dan meningkatnya pengangguran sebagai akibat meningkatnya migran pulang ke
desa. Menurunnya laju perekonomian di desa dan bertambahnya jumlah tenaga kerja
di desa serta meningkatnya harga konsumsi dan biaya produksi di bidang pertanian
jelas akan mengurangi kapasitas produksi pertanian yang dihasilkan.
Pemberian kemudahan modal pemerintah untuk pengembangan sektor UKM
akan mampu mengatasi levelling off (penurunan tingkat kemampuan) dan
meningkatkan keuntungan. Pengembangan agribisnis dan agroindustri di pedesaan
juga akan mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesempatan kerja
penduduk sehingga akan meningkatkan agregat supply. Menurut Makmun dan Yasin
(2003), pergeseran agregat supply, secara teoritis dapat diturunkan dari fungsi
produksi agregat dan keseimbangan pasar tenaga kerja, yang secara matematis ditulis:
Y = f ( N, T, SDM, INF) ............................................................ (2.12)

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Dimana :
Y = produksi
N = tenaga kerja
T = teknologi
SDM = sumber daya manusia
INF = infrastruktur

2.7.2. Kesempatan Kerja dan Upah

Dalam perekonomian pasar-bebas tradisional, ciri-ciri utamanya antara lain


adalah penonjolan kedaulatan konsumen, utilitas atau kepuasan individual, dan
prinsip maksimalisasi keuntungan, persaingan sempurna dan efisiensi ekonomi
dengan produsen dan konsumen yang atomistik. produsen dan konsumen yang
atomistik maksudnya tidak ada satu pun produsen atau konsumen yang mempunyai

pengaruh atau kekuatan cukup besar untuk mendikte harga-harga input maupun
output produksi. Tingkat penyerapan tenaga kerja dan harganya (yakni tingkat upah),
ditentukan secara bersamaan atau sekaligus oleh segenap harga output dan faktorfaktor produksi (di luar tenaga kerja), dalam suatu perekonomian yang beroperasi
melalui perimbangan kekuatan permintaan dan penawaran (Todaro, 2000).
Produsen meminta lebih banyak tenaga kerja sepanjang nilai produk marjinal
yang akan dihasilkan oleh pertambahan satu unit tenaga kerja melebihi biayanya
(tingkat upah). Dengan asumsi bahwa hukum produk marjinal yang semakin menurun
berlaku dan harga produk ditentukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar, maka nilai

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

produk marjinal tenaga kerja tersebut akan memiliki kemiringan yang negatif atau
mengarah dari bawah ke atas (Gambar 2.2). Hal ini berarti tenaga kerja yang direkrut
selanjutnya oleh pihak pengusaha atau produsen akan mendapat tingkat upah yang
lebih rendah daripada tenaga kerja sebelumnya.
Pada sisi penawaran, setiap individu diasumsikan selalu berpegang pada
prinsip maksimalisasi kepuasan. Kenaikan tingkat upah akan setara dengan kenaikan
harga bersantai (biaya oportunitas). Seandainya tingkat upah mengalami kenaikan,
maka penawaran tenaga kerja, yakni para pekerja itu sendiri akan meningkat.
Motivasi kerja mereka bertambah karena adanya iming-iming upah yang lebih tinggi
daripada sebelumnya. Korelasi tersebut ditunjukkan oleh kemiringan positif
(mengarah dari bawah ke atas) atas kurva penawaran tenaga kerja yang juga termuat
dalam Gambar 2.2.

Tingkat upah

W2

DL

SL

We
W1
DL

SL
Le
Penyerapan tenaga kerja
Sumber: Todaro, 2000

Gambar 2.2. Hubungan Tingkat Upah dengan Penyerapan Tenaga Kerja

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Gambar 2.2. memperlihatkan bahwa hanya satu titik yang melambangkan


tingkat upah ekuilibrium, yaitu We, jumlah tenaga kerja yang akan ditawarkan oleh
individu (pasar tenaga kerja) sama besarnya dengan yang diminta oleh pengusaha.
Pada tingkat upah yang lebih tinggi, seperti pada W2, penawaran tenaga kerja
melebihi permintaan sehingga persaingan di antara individu dalam memperebutkan
pekerjaan akan mendorong turunnya tingkat upah mendekati atau tepat pada titik
ekuilibriumnya. Sebaliknya, pada upah yang lebih rendah (W1), jumlah total tenaga
kerja yang akan diminta oleh para produsen dengan sendirinya akan melebih
kuantitas penawaran yang ada sehingga terjadilah persaingan di antara para
pengusaha atau produsen dalam memperebutkan tenaga kerja, sehingga hal tersebut
akan mendorong kenaikan tingkat upah mendekati atau tepat pada titik ekuilibrium.
Pada titik We jumlah kesempatan kerja yang diukur pada sumbu mendatar atau
horisontal adalah sebesar Le. Secara definitif, pada titik Le inilah tercipta kesempatan
atau penyerapan tenaga kerja secara penuh (full employement). Artinya pada tingkat
upah ekuilibrium tersebut semua orang yang menginginkan pekerjaan akan
memperoleh pekerjaan, sehingga sama sekali tidak terdapat pengangguran.

2.8. Penelitian Sebelumnya

Hasil penelitian Hakim, Kusmiarso, et.al. (2000) menunjukkan bahwa


pertumbuhan kredit perbankan yang rendah kepada dunia usaha merupakan salah satu
persoalan yang turut berperan dalam lambatnya proses pemulihan perekonomian
nasional. Ketentuan atau kebijakan yang paling menghambat bank untuk

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

menyalurkan kredit berturut dari yang paling tinggi adalah CAR, kemudian batas
minimum pemberian kredit (BMPK) dan rate return (RR).
Hasil penelitian Lihan dan Yogi (2003) menunjukkan bahwa, peranan sektor
ekspor di Indonesia tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan PDRB di
Indonesia. Hal itu sejalan dengan pendapat Jung dan Marshall (1985) yang
mengemukakan sebagian besar negara-negara berkembang tidak menunjukkan
dukungan empiris bahwa pertumbuhan ekspor akan mendorong pertumbuhan
ekonomi. Temuan ini, juga sejalan dengan pendapat Sritua Arief (1993) yang
menyatakan jika sektor ekspor ini masih tergantung pada input impor maka
pengaruhnya terhadap PDRB tidaklah nyata. Faktor yang berpengaruh nyata dalam
penelitian ini adalah ekspor dikurangi dengan impor tahun sebelumnya.
Lee (2005), menjelaskan secara apriori setidaknya terdapat dua kemungkinan
hubungan antara variabel-variabel keuangan dan variabel-variabel riil. Perkembangan
sektor

keuangan

mengikuti

pertumbuhan

ekonomi.

Pertumbuhan

ekonomi

menyebabkan kenaikan permintaan terhadap produk-produk keuangan, sehingga


menghasilkan kenaikkan aktivitas pasar keuangan dan kredit. Dengan demikian,
perkembangan
mendalilkan

sektor
jika

keuangan

perkembangan

merupakan
sektor

demand-following.

keuangan

merupakan

Teori

lain,

determinan

perkembangan ekonomi. Hipotesis supply leading ini menunjukkan kausalitas berasal


dari perkembangan keuangan ke arah pertumbuhan riil, dimana perkembangan sektor
keuangan merupakan necessary condition but not sufficient untuk menjamin
pertumbuhan ekonomi yang sustainable.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Hasil

penelitian

Hamoraon

(2005)

menunjukkan

bahwa

konsumsi

berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kurun


waktu 1960 2002. Konstribusi konsumsi terhadap pendapatan nasional sebesar
0,6973 yang berarti tingkat konsumsi Indonesia lebih dari 2/3 pendapatan nasional.
Sedangkan MPC Indonesia adalah 0,74089 menunjukkan bahwa setiap kali terjadi
kenaikan pendapatan US$ 1 akan menyebabkan pertambahan konsumsi sebesar US$
0,741.
Purbadharmaja (2006) melakukan penelitian untuk mengidentifikasikan dan
menganalisis variabel-variabel ekonomi yang mempengaruhi PDRB Propinsi Bali
dan menginterpretasikan implikasi variabel-variabel ekonomi yang memberikan
kontribusi utama terhadap PDRB Propinsi Bali. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan data sekunder berupa data deret waktu dari tahun 1999 sampai dengan
2002.

Data

deret

waktu

diuji

kestasioneritasnya

dengan

menggunakan

autocorrelation fuction metode correlogram. Setelah itu dilakukan uji analisis faktor

metode principal component analisys (PCA) untuk membentuk satu set variabel
ortogonal yang bebas autokorelasi dan multikolinieritas. Dari variabel yang terbentuk
lewat PCA kemudian dilihat bentuk model regresi bergandanya dengan melakukan
uji mckinnon-white and davidson (MWD) apakah model berbentuk linier atau log
linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel ekonomi yang
berpotensi mempengaruhi PDRB Propinsi Bali diidentifikasikan sebagai variabel
pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, nilai tukar
rupiah terhadap US dollar, jumlah kredit modal kerja, ekspor netto, nilai hasil

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

produksi pertanian, investasi swasta domestik, investasi swasta asing, jumlah


angkatan kerja, dan jumlah wisatawan asing. Setelah melewati metode PCA dan
MWD diperoleh model berbentuk linier dengan hasil menunjukkan bahwa variabel
yang berpengaruh nyata terhadap PDRB adalah variabel pengeluaran dengan nilai t
statistik sebesar 19,79 (signifikan), sedangkan variabel yang tidak mempengaruhi
PDRB secara nyata adalah variabel investasi dengan nilai t statistik sebesar 0,75
(nonsignifikan). Variabel investasi tidak signifikan terhadap PDRB disebabkan oleh
investasi yang dilakukan di Bali tidak efisien. Interpretasi terhadap implikasi variabel
ekonomi dalam model menunjukkan bahwa variabel ekonomi yang memberikan
kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Propinsi Bali adalah nilai tukar rupiah
terhadap US dollar. Hal ini dimungkinkan terjadi karena adanya pola pikir dollar
minded dalam masyarakat di Bali. Pengeluaran konsumsi pemerintah daerah yang

tinggi menunjukkan tingginya ketergantungan keuangan pemerintah daerah pada


pemerintah pusat.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2.9. Kerangka Konseptual

Kredit Perbankan

Nilai Ekspor

Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia

Pengeluaran
Pemerintah
Jumlah Tenaga
Kerja
Gambar 2.3. Kerangka Konseptual Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

2.10. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, maka hipotesis penelitian ini adalah :


1. Kredit perbankan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia, ceteris paribus.
2. Nilai ekspor berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia,
ceteris paribus.

3. Pengeluaran Pemerintah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di


Indonesia, ceteris paribus.
4. Jumlah tenaga kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia, ceteris paribus.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi


pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 1985 2007. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dianalisis adalah
kredit perbankan, nilai ekspor, pengeluaran pemerintah dan jumlah tenaga kerja.

3.2. Jenis Dan Sumber Data

Adapun yang menjadi data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
dapat diperoleh dari berbagai instansi yang terkait yaitu Bank Indonesia, BPS dan
sumber-sumber lainnya yaitu jurnal-jurnal dan hasil penelitian.
Data yang dibutuhkan untuk menjadi bahan penelitian ini adalah jumlah kredit
perbankan, nilai ekspor, pengeluaran pemerintah, jumlah tenaga kerja, serta
pertumbuhan ekonomi yang diproxy dengan PDB.

3.3. Model Analisis

Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan


ekonomi Indonesia maka dilakukan analisis dengan menggunakan metode Ordinary
Least Square (OLS). Sebagai variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian

ini adalah PDB Indonesia, variabel bebasnya (independent variable) adalah jumlah
kredit perbankan, nilai ekspor, pengeluaran pemerintah dan jumlah tenaga kerja.
39
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi


Indonesia dianalisis dengan fungsi matematis sebagai berikut:
PE = f(KR, EX, PP, TK) ...........................................................................(3.1)

Menurut Gujarati (2004), bahwa dalam perekonomian, ketergantungan dependent


variabel terhadap independent variabel jarang terjadi secara linear, akan tetapi
membutuhkan selang waktu. Oleh karena itu fungsi matematis di atas
ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma. Dengan demikian spesifikasi model
yang akan dijadikan sebagai model penelitian adalah sebagai berikut:
LogPE = a0 + a1 LogKR + a2 LogEX + a3 LogPP + a4 LogTK + .....(3.2)

Dimana:
PE

= pertumbuhan ekonomi Indonesia, diproxy dengan PDB (Rp.)

KR

= kredit perbankan (Rp.)

EX

= nilai eskpor (Rp.)

PP

= pengeluaran pemerintah(Rp.)

TK

= jumlah tenaga kerja (orang)

a0

= intercept (konstanta)

a1,a2,a3,a4 = koefisien regresi

= kesalahan pengganggu

3.4. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan


Ordinary Least Square (OLS). Untuk memudahkan dalam pengolahan data maka

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

sebagai alat analisis yang digunakan dalam mengolah data tersebut adalah Program
Eviews versi 4.1
3.5. Uji Kesesuaian

1. R2 (coefficient determinant), untuk melihat kekuatan variabel bebas


(independent variable) menjelaskan variabel terikat (dependent variable).
2. Overall test (F-test), dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik
koefisien regresi secara serempak. Jika Fhit > Ftabel, maka H0 ditolak dan H1
diterima.
3. Partial test (t-test), dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik
koefisien regresi secara parsial. Jika thit > ttabel, maka H0 ditolak dan H1
diterima.
3.6. Definisi Operasional

Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dari variabel yang digunakan


pada penelitian ini, maka berikut ini dijelaskan perihal batasan operasional sebagai
berikut:
a.

Pertumbunan ekonomi yaitu tingkat petumbuhan ekonomi Indonesia diproxy


dengan PDB atas dasar harga konstan (dalam Rp.).

b.

Kredit perbankan yaitu jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan dalam satu
tahun, diukur dalam rupiah.

c.

Nilai ekspor yaitu nilai ekspor barang-barang dari Indonesia, dihitung dalam
rupiah.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

d.

Pengeluaran pemerintah yaitu pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa


yang dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rutin
dan pembangunan, dihitung dalam rupiah.

e.

Tenaga kerja adalah banyaknya jumlah tenaga kerja yang bekerja di Indonesia,
diukur dalam satuan orang.

3.7. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik

Penelitian ini juga mungkin tidak terlepas dengan modal regresi bias yang
terjadi secara statistik yang dapat mengganggu model yang telah ditentukan. Dalam
penghitungan regresi mungkin akan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari
persamaan yang dibentuk. Untuk itu maka perlu dilakukan uji penyimpangan asumsi
klasik (Gujarati, 2004). Dalam penelitian asumsi klasik yang diuji terdiri dari:
a. Multikolinieritas
Multikolinieritas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linear diantara
variabel-variabel bebas dalam model regresi. Interpretasi dari persamaan regresi
linier secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel-variabel bebas
dalam persamaan tidak saling berkorelasi. Bila variabel-variabel bebas berkorelasi
dengan sempurna, maka disebut multikolinieritas sempurna. Multikolinieritas
dapat dideteksi dengan besaran-besaran regresi yang didapat, yaitu :
1) Variasi besar (dari taksiran OLS)
2) Interval kepercayaan lebar (karena variasi besar, maka standar error besar
sehingga interval kepercayaan lebar).

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

3) Uji-t tidak signifikan. Suatu variabel bebas secara substansi maupun secara
statistik jika dibuat regresi sederhana bias tidak signifikan karena variasi besar
akibat kolinieritas. Bila standar error terlalu besar, maka besar pula
kemungkinan taksiran koefisien regresi tidak signifikan.
4) R2 tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dari t-test.
5) Terkadang nilai taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai nilai yang
tidak sesuai dengan substansi sehingga dapat menyesatkan interpretasi.
b. Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian
observasi yang diurutkan menurut waktu. Dalam konteks regresi, model regresi
linier klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam
disturbansi atau penggunaan. Dengan menggunakan lambang secara sederhana
dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang
berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur disturbansi atau
gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun.
Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam model penelitian ini dilakukan
melalui uji Lagrange Multiplier Test (LM Test), yaitu dengan membandingkan
nilai X hitung dengan X tabel, dengan kriteria penilaian sebagai berikut :
1. Jika nilai Xhitung > Xtabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa tidak
ada autokorelasi dalam model empiris yang digunakan, ditolak.
2. Jika nilai Xhitung < Xtabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa tidak
ada autokorelasi dalam model empiris yang digunakan, tidak dapat ditolak.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan


yang dilaksanakan, khususnya bidang ekonomi. Pertumbuhan tersebut merupakan
gambaran tingkat perkembangan ekonomi terjadi. Pertumbuhan ekonomi secara rinci dari
tahun ke tahun, disajikan melalui Product Domestic Bruto (PDB) atas dasar harga
konstan menurut lapangan usaha secara berkala. Jika terjadi pertumbuhan positif, hal ini
menunjukkan adanya peningkatan perekonomian dibandingkan dengan tahun yang lalu.
Sebaliknya apabila menunjukkan negatif, hal ini menunjukkan terjadinya penurunan
perekonomian dibandingkan dengan tahun lalu.
Perkembangan PDB Indonesia sejak tahun 1985 2007 atas dasar harga konstan
tahun 2000 disajikan pada Tabel 4.1.
Selama periode 1985 2007 PDB Indonesia mengalami peningkatan rata-rata
4,89 persen per tahun. Peningkatan PDB yang paling tinggi terjadi pada tahun 1993
(8,50 persen), dan yang paling rendah adalah pada tahun 1998 (-13,13 persen).
Kondisi ini disebabkan penurunan sumbangan sektor industri, perdagangan, hotel dan
restoran sebagai efek krisis yang masih terjadi di Indonesia.

44
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Tabel 4.1. Perkembangan PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan, Tahun
1985 2007

Tahun

PDB (Milyar Rp.)

Peningkatan (%)

1985

701.259,8

1986

742.461,6

5,88

1987

779.032,2

4,93

1988

824.064,1

5,78

1989

885.519,4

7,46

1990

949.641,1

7,24

1991

1.018.062,6

7,20

1992

1.061.248,0

4,24

1993

1.151.490,2

8,50

1994

1.238.312,3

7,54

1995

1.340.101,6

8,22

1996

1.444.873,3

7,82

1997

1.512.780,9

4,70

1998

1.314.202,0

-13,13

1999

1.324.599,0

0,79

2000

1.389.770,2

4,92

2001

1.442.984,6

3,83

2002

1.504.380,6

4,25

2003

1.577.171,3

4,84

2004

1.656.516,8

5,03

2005

1.750.815,2

5,69

2006

1.847.292,9

5,51

2007

1.963.974,3

6,32

Rata-rata
Sumber : Badan Pusat Statistik Pusat, 2008

4,89

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2.500.000

PDB (Milyar Rp)

2.000.000

1.500.000

1.000.000

500.000

2007

2006

2005

2004

2003

2002

2001

2000

1999

1998

1997

1996

1995

1994

1993

1992

1991

1990

1989

1988

1987

1986

1985

Gambar 4.1. Perkembangan PDB Indonesia, Tahun 1985 2007

Pada tahun 2007, perkembangan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan sebesar


6,32 persen, angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang lalu. Pada
tahun 2007 keadaan ekonomi Indonesia, pada umumnya semakin lebih baik dibandingkan
dengan tahun sebelumnya yang dapat diketahui dari peningkatan aktivitas sektor riil.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 1985 2007 menunjukkan
peningkatan setiap tahun, kecuali tahun 1998 sebagai akibat dari krisis ekonomi yang
terjadi mulai tahun 1997. Hingga saat terjadinya krisis ekonomi (hingga tahun 1997),
dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat secara fluktuatif,
dimana peningkatan yang terbesar terjadi pada tahun 1993 sebesar 8,50 %, dan yang

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

paling rendah pada tahun 1997 sebesar 4,70 %. Selama periode tahun 1985 1997
fluktuasi

peningkatan

pertumbuhan

ekonomi

Indonesia

tergolong

rendah,

(diilustrasikan sebesar 8,50 4,70 % = 3,8 %). Sebagai dampak krisis ekonomi yang
terjadi pada tahun 1997, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1998
mengalami penurunan sebesar 13,13 %. Selanjutnya setelah krisis ekonomi pada
periode 1999 2007, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil, dengan
pertumbuhan antara 0,79 6,32 %, yang berarti fluktuasinya cukup rendah, yaitu 6,32
0,79 = 5,53 %), yang berarti cukup stabil. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi
Indonesia, dilihat dari stabilnya pertumbuhan ekonomi tersebut, pertumbuhan
ekonomi Indonesia lebih stabil pada kondisi sebelum krisis ekonomi dibandingkan
setelah krisis ekonomi karena salah satu indikator baiknya pertumbuhan ekonomi
adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi tersebut, bukan besarnya laju pertumbuhan
ekonomi dimaksud.
Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi akan mencatat pertumbuhan ekonomi.
Sektor industri pengolahan diperkirakan memberikan kontribusi terbesar terhadap
pertumbuhan ekonomi. Sektor lainnya yang memberikan sumbangan besar adalah
perdagangan, hotel dan restoran dan sektor pengangkutan dan komunikasi.
Peningkatan kegiatan di sektor industri pengolahan ini mengikuti faktor musimannya
yang meningkat pesat dalam rangka mengantisipasi meningkatnya permintaan.
Sejalan dengan peningkatan di sektor industri tersebut, kegiatan di sektor
perdagangan dan sektor pengangkutan yang merupakan mata rantai dari proses

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

produksi-distribusi konsumen akhir diperkirakan juga akan mencatat pertumbuhan


yang tinggi (Bank Indonesia, 2003). Peningkatan kontribusi industri pengolahan
menunjukkan bahwa industri pengolahan menunjukkan peningkatan, dimana dengan
peningkatan aktivitas tersebut, kebutuhan modal kerja akan semakin meningkat.

4.2. Penyaluran Kredit

Kredit merupakan salah satu sumber pembiayaan untuk sektor riil. Kredit
yang disalurkan oleh perbankan terdiri dari beberapa jenis. Berdasarkan sektor usaha
yang dilayani, jenis kredit terdiri dari: kredit sektor pertanian, sektor pertambangan,
sektor perindustrian, sektor jasa, dan sektor lain-lain. Perkembangan jumlah kredit
yang disalurkan oleh perbankan berdasarkan sektor usaha tersebut disajikan pada
Tabel 4.2.
Perkembangan penyaluran kredit di Indonesia menunjukkan dua fase. Fase
pertama adalah periode tahun 1985 s/d 1998, dimana pada fase tersebut dapat dilihat
bahwa penyaluran kredit mengalami peningkatan dengan laju yang cenderung tetap.
Kemudian fase 1999 s/d 2007, dimana dapat dilihat bahwa penyaluran kredit
mengalami peningkatan dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode
tahun 1985 s/d 1998. Fase tersebut dipisahkan oleh kejadian pada tahun 1998 1999,
dimana pada periode tesebut terjadi penurunan penyaluran kredit yang sangat besar.
Hal ini merupakan dampak krisis ekonomi yang masih belum teratasi dengan baik,
sehingga sektor riil banyak yang terpuruk.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Tabel 4.2.

Perkembangan Jumlah Kredit Berdasarkan Sektor Usaha,


Tahun 1985 2007
Jumlah Kredit (Milyar Rp.)

Tahun

Jasa

Lainlain

Total

Peningkatan
(%)

Pertanian

Tambang

Industri

Dagang

1985

1.656

258

7.069

7.214

4.047

1.210

21.454

1986

2.097

394

8.839

8.329

4.130

2.156

25.945

20,93

1987

2.630

372

10.508

10.065

5.151

3.143

31.869

22,83

1988

3.572

424

13.994

13.682

6.917

3.667

42.256

32,59

1989

5.214

456

17.654

19.342

9.600

6.709

58.975

39,57

1990

6.884

570

25.002

27.267

14.943

11.197

85.863

45,59

1991

8.465

743

33.131

33.049

20.066

17.371

112.825

31,40

1992

10.281

762

37.289

32.944

25.870

15.772

122.918

8,95

1993

12.057

777

51.432

37.794

35.824

12.387

150.271

22,25

1994

13.860

799

60.211

44.372

50.806

18.832

188.880

25,69

1995

15.525

913

72.088

54.224

66.584

25.277

234.611

24,21

1996

17.630

1.693

78.850

70.586

91.655

32.507

292.921

24,85

1997

26.002

5.316

111.679

82.264

113.569

39.304

378.134

29,09

1998

39.308

5.909

171.668

96.364

139.124

35.053

487.426

28,90

1999

23.777

3.697

84.259

43.288

43.161

26.951

225.133

-53,81

2000

19.503

6.680

106.782

44.099

44.316

47.620

269.000

19,48

2001

20.863

7.440

116.525

48.450

49.061

65.255

307.594

14,35

2002

22.332

6.095

121.035

65.978

60.983

88.987

365.410

18,80

2003

24.307

5.061

123.125

84.257

89.129

112.063

437.942

19,85

2004

32.376

7.730

143.603

111.035

107.858

150.946

553.548

26,40

2005

36.678

7.873

169.678

134.108

134.943

206.389

689.669

24,59

2006

45.003

13.896

182.432

162.396

157.638

225.771

787.136

14,13

2007

55.905

25.340

203.808

215.670

212.441

281.947

995.111

26,42

Rata-rata

Sumber : Badan Pusat Statistik Pusat, 2008.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

21,23

1.200.000

Total Kredit (Milyar Rp.)

1.000.000

800.000

600.000

400.000

200.000

2007

2006

2005

2004

2003

2002

2001

2000

1999

1998

1997

1996

1995

1994

1993

1992

1991

1990

1989

1988

1987

1986

1985

Gambar 4.2. Perkembangan Jumlah Kredit di Indonesia, Tahun 1985 2007

Penyaluran kredit menunjukkan fluktuasi setiap tahun. Pada periode 1985 s/d
1998 peningkatan penyaluran kredit yang paling tinggi terjadi pada tahun 1990
sebesar 45,59 % dan yang paling rendah adalah pada tahun 1992 yaitu sebesar 8,95
%.

Pada tahun 1999 terjadi penurunan penyaluran kredit sebesar 53,81 %.

Selanjutnya pada periode tahun 1999 s/d 2007, peningkatan penyaluran kredit yang
paling tinggi adalah pada tahun 2007, yaitu sebesar 26,42 %, dan peningkatan
penyaluran kredit yang paling rendah terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar 14,13 %.
Berdasarkan jenis kredit yang disalurkan pada tahun 2007, dapat diketahui
bahwa kredit yang paling banyak disalurkan adalah pada sektor lain-lain, yaitu

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

sebesar 28,33 % dari total penyaluran kredit, kemudian pada sektor perdagangan
(21,67 %), sektor jasa-jasa (21,35 %), dan sektor perindustrian (20,48 %), sedangkan
yang paling rendah adalah pada sektor pertambangan dan pertanian, yaitu masingmasing 2,55 % dan 5,62 %.

4.3. Volume Ekspor

Volume ekspor merupakan faktor penting dalam merangsang pertumbuhan


ekonomi suatu negara. Ekspor Indonesia terdiri dari dua jenis yang utama, yaitu
migas dan non migas. Perkembangan total ekspor Indonesia atas dasar harga konstan
tahun 2000 sejak tahun 1985 s/d 2007 disajikan pada Tabel 4.3.
Berdasarkan data perkembangan volume ekspor tersebut di atas, diketahui
bahwa perkembangan volume ekspor Indonesia hingga tahun 1998 menunjukkan
peningkatan yang cukup pesat. Namun pada tahun 1999, volume ekspor Indonesia
menurun hingga 31,80 % dari tahun 1998 sebagai dampak dari krisis ekonomi
pertengahan tahun 1997 yang juga belum menunjukkan perbaikan.
Seiring dengan berbagai program perbaikan ekonomi yang dilakukan
pemerintah, maka sejak tahun 2000, volume ekspor mulai menunjukkan peningkatan,
walaupun masih bergerak dengan sangat lambat hingga tahun 2003. Bahkan pada
tahun 2002, volume ekspor menunjukkan penurunan sebesar 1,22 %. Namun sejak
tahun 2004, dimana kondisi perekonomian Indonesia sudah semakin membaik dan
stabil, volume ekspor mengalami peningkatkan yang cukup cepat hingga tahun 2007.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Tabel 4.3. Perkembangan Volume Ekspor Indonesia, Tahun 1985 2007


Tahun

Ekspor
(Miliar Rp)

Peningkatan
(%)

1985

197.545,20

1986

227.596,50

15,21

1987

260.879,20

14,62

1988

263.622,30

1,05

1989

291.161,50

10,45

1990

292.474,80

0,45

1991

364.182,90

24,52

1992

402.035,80

10,39

1993

428.605,20

6,61

1994

475.428,60

10,92

1995

512.137,20

7,72

1996

550.854,90

7,56

1997

593.821,40

7,80

1998

660.229,50

11,18

1999

450.243,60

-31,80

2000

569.490,30

26,48

2001

573.163,40

0,64

2002

566.188,40

-1,22

2003

599.516,40

5,89

2004

680.620,90

13,53

2005

791.995,90

16,36

2006

864.503,50

9,16

2007

938.397,71

8,55

Rata-rata

8,00

Sumber : Badan Pusat Statistik Pusat, 2008.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

1.000.000
900.000

Total Ekspor (Miliar Rp)

800.000
700.000
600.000
500.000
400.000
300.000
200.000
100.000

2007

2006

2005

2004

2003

2002

2001

2000

1999

1998

1997

1996

1995

1994

1993

1992

1991

1990

1989

1988

1987

1986

1985

Gambar 4.3. Perkembangan Total Ekspor Indonesia, Tahun 1985 2007

4.4. Pengeluaran Pemerintah

Pemerintah sebagai institusi yang melakukan berbagai aktivitas juga


merupakan konsumen bagi barang dan jasa di dalam negeri. Pengeluaran pemerintah
berbentuk pembelanjaan pemerintah, baik dalam bentuk rutin maupun untuk
pembangunan. Pengeluaran pemerintah bertujuan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dalam menjalan roda pemerintahan dan pembangunan. Dalam hal ini,
pengeluaran rutin adalah pembelanjaan untuk membiaya kegiatan-kegiatan rutin
seperti gaji pegawai. Sedangkan pengeluaran pembangunan adalah pembelanjaan
untuk membiaya pembangunan yang sedang dilakukan dalam upaya meningkatkan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

kesejahteraan masyarakat. Perkembangan pengeluaran pemerintah atas dasar harga


konstan tahun 2000 sejak tahun 1985 s/d 2007 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Indonesia Tahun 1985
2007
Tahun

Pengeluaran
(Miliar Rp)

1985

65.806,4

1986

67.636,9

2,78

1987

67.522,7

-0,17

1988

72.635,7

7,57

1989

80.254,8

10,49

1990

82.831,1

3,21

1991

88.652,6

7,03

1992

93.822,0

5,83

1993

93.900,3

0,08

1994

96.064,7

2,30

1995

97.352,2

1,34

1996

99.973,9

2,69

1997

100.035,1

0,06

1998

84.658,1

-15,37

1999

85.246,4

0,69

2000

90.779,7

6,49

2001

97.645,0

7,56

2002

110.333,6

12,99

2003

121.404,1

10,03

2004

126.248,6

3,99

2005

134.625,6

6,64

2006

147.563,7

9,61

2007

155.354,3

5,28

Rata-rata

Peningkatan
(%)

4,14

Sumber : Badan Pusat Statistik Pusat, 2008.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

180.000

Pengeluaran Pemerintah (Milyar Rp)

160.000
140.000
120.000
100.000
80.000
60.000
40.000
20.000

2007

2006

2005

2004

2003

2002

2001

2000

1999

1998

1997

1996

1995

1994

1993

1992

1991

1990

1989

1988

1987

1986

1985

Gambar 4.4. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Indonesia, Tahun 1985


2007

Pada periode tahun 1985 s/d 1997, secara umum pengeluaran pemerintah
Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup stabil setiap tahun, walaupun terjadi
penurunan sebesar 0,17 % pada tahun 1987 dan peningkatan yang cukup besar pada
tahun 1989 sebesar 10, 49 %. Selanjutnya pada tahun 1998, pengeluaran pemerintah
menunjukkan penurunan sebesar 15,37 % dari kondisi tahun sebelumnya. Hal ini
merupakan dampak dari krisis ekonomi tahun 1997 yang menyebabkan pemerintah
mengalami keterbatasan dalam meningkatkan pengeluaran.
Sejak tahun 1999, pengeluaran pemerintah mulai menunjukkan peningkatan
kembali sebesar 0,69 % dan terus mengalami peningkatan setiap tahun hingga tahun

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2007 dengan laju peningkatan yang lebih cepat dari periode tahun 1985 s/d 1997. Hal
ini sejalan dengan perbaikan ekonomi yang semakin kondusif, sehingga pemerintah
dapat melakukan berbagai kegiatan pembangunan dan rutin.

4.5. Tenaga Kerja

Salah satu tujuan yang penting dalam pembangunan ekonomi adalah


penyediaan lapangan kerja yang cukup untuk mengejar pertambahan angkatan kerja,
lebih-lebih bagi negara berkembang, terutama Indonesia, dimana pertumbuhan
angkatan kerja lebih cepat dari pertumbuhan kesempatan kerja. Ada beberapa faktor
mengapa hal tersebut lebih menonjol atau penting bagi negara berkembang. Pertama,
pertumbuhan penduduk di negara berkembang cenderung tinggi, sehingga cenderung
melebihi pertumbuhan kapital. Kedua, demografi profil lebih muda, sehingga lebih
banyak penduduk yang masuk ke lapangan kerja. Ketiga, struktur industri di negara
berkembang, yang cenderung mempunyai tingkat diversifikasi kegiatan ekonomi
rendah, serta tingkat keterampilan penduduk yang belum memadai, membuat usaha
penciptaan lapangan kerja menjadi semakin kompleks.
Tenaga kerja dipandang sebagai suatu faktor produksi yang mampu untuk
meningkatkan daya guna faktor produksi lainnya (mengolah tanah, memanfaatkan
modal, dsb) sehingga perusahaan memandang tenaga kerja sebagai suatu investasi
dan banyak perusahaan yang memberikan pendidikan kepada karyawannya sebagai
wujud kapitalisasi tenaga kerja. Perkembangan tenaga kerja Indonesia sejak tahun
1985 s/d 2007 adalah sebagai berikut:

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Tabel 4.5. Perkembangan Tenaga Kerja Indonesia Tahun 1985 2007


Tahun

Tenaga Kerja
(Orang)

1985

62.458.000

1986

68.750.000

10,07

1987

70.811.000

3,00

1988

72.922.000

2,98

1989

73.400.000

0,66

1990

75.900.000

3,41

1991

76.423.000

0,69

1992

78.518.000

2,74

1993

79.200.000

0,87

1994

82.039.000

3,58

1995

80.110.000

-2,35

1996

85.702.000

6,98

1997

86.951.000

1,46

1998

87.672.000

0,83

1999

88.817.000

1,31

2000

89.839.000

1,15

2001

91.407.000

1,75

2002

91.648.000

0,26

2003

90.784.000

-0,94

2004

93.722.036

3,24

2005

93.958.387

0,25

2006

95.456.935

1,59

2007

99.930.217

4,69

Rata-rata

Peningkatan
(%)

2,19

Sumber : Badan Pusat Statistik Pusat, 2008.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

120,00

Tenaga Kerja ( Juta Orang)

100,00

80,00

60,00

40,00

20,00

2007

2006

2005

2004

2003

2002

2001

2000

1999

1998

1997

1996

1995

1994

1993

1992

1991

1990

1989

1988

1987

1986

1985

0,00

Gambar 4.5. Perkembangan Tenaga Kerja Indonesia, Tahun 1985 2007

Jumlah tenaga kerja di Indonesia menunjukkan peningkatan setiap tahun,


kecuali tahun 1995, dan 2003. Rata-rata peningkatan jumlah tenaga kerja adalah 2,19
persen. Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia rata-rata
2,2 persen per tahun (BPS, 2005).

4.6. Analisis Estimasi


4.6.1. Uji Kesesuaian (Goodness of Fit)

Untuk pengujian hipotesa yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka


dilakukan estimasi dengan model Ordinary Least Square (OLS) untuk data time
series 23 tahun dengan menggunakan Program EViews 4.1. Analisis regresi

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

terhadap model estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan data yang disajikan pada Lampiran 2, sedangkan hasil analisis
regresi (print out) disajikan pada Lampiran 3.

Tabel 4.6. Hasil Estimasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Ekonomi Indonesia
LogPE = -0,915 + 0,126 LogKR + 0,093 LogEX + 0,219 LogPP + 0,596 LogTK
Std.Er. :
(0,063)
(0,151)
(0,088)
(0,290)
t-stat
:
(2,006)*
(0,615)ns
(2,477)**
(2,056)*
R2

: 0,9846

F-stat : 288,596***
Prob : 0,000

Sumber : Lampiran 3.
Ket.

: ns = non signifikan
* = signifikan pada 10 %.
** = signifikan pada 5 %.
Dari masing-masing variabel dependent (variabel terikat) dan variabel

independent (variabel bebas) yang disertakan dalam model estimasi pada Tabel 4.6 di

atas, diperoleh koefisien determinasi (R) sebesar 0,9846 berarti secara keseluruhan
variabel, yaitu kredit, ekspor, pengeluaran pemerintah, dan tenaga kerja mampu
menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 98,46 persen selama
kurun waktu yang diteliti. Sedangkan sisanya sebesar 1,54 persen, dijelaskan oleh
variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Bila dilihat secara bersama-sama (serentak) dari masing-masing variabel
bebasnya berarti kredit, ekspor, pengeluaran pemerintah, dan tenaga kerja mampu
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

pada tingkat keyakinan 99 persen. Hal ini dapat dilihat dari nilai F-statistik sebesar
288,596 > F-tabel (4:18) sebesar 4,58 pada 1 %.
Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa
variabel kredit, pengeluaran pemerintah, dan tenaga kerja berpengaruh signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sedangkan ekspor tidak berpengaruh
signifikan. Berikut ini hasil uji t dari masing-masing variabel bebas.
a. Kredit

Hasil estimasi menunjukkan bahwa kredit berpengaruh positif terhadap


pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa semakin meningkat
penyaluran kredit, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin
meningkat. Koefisien regresi kredit sebesar 0,126 berarti bahwa setiap
penyaluran kredit sebesar 1 persen, maka menyebabkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia meningkat 0,126 persen, ceteris paribus. Dilihat dari nilai
koefisien regresi yang lebih kecil dari satu, kredit bersifat inelastis terhadap
pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan nilai koefisien regresi tersebut diketahui
bahwa pengaruh kredit terhadap pertumbuhan ekonomi tergolong rendah. Hal
ini berhubungan dengan kebijakan penyaluran kredit perbankan yang lebih
pendapatan yang berarti lebih mengutamakan kredit dengan potensi
pendapatan yang terjamin dan lebih tinggi. Kebijakan ini merupakan salah
satu upaya untuk mengurangi risiko kredit bermasalah.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 2,006 yang lebih
besar dibandingkan t-tabel ( 10 % = 1,743). Hal ini berarti bahwa variabel
kredit berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
b. Volume Ekspor

Hasil estimasi menunjukkan bahwa volume ekspor berpengaruh positif


terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa semakin
meningkat volume ekspor, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan
semakin meningkat. Koefisien regresi volume ekspor sebesar 0,093 berarti
bahwa setiap volume ekspor sebesar 1 persen, maka menyebabkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat 0,093 persen, ceteris paribus.
Dilihat dari nilai koefisien regresi yang lebih kecil dari satu, volume ekspor
bersifat inelastis terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil pengujian
terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 0,615 yang lebih kecil dibandingkan t-tabel
( 10 % = 1,743). Hal ini berarti bahwa variabel volume ekspor tidak
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
c. Pengeluaran Pemerintah

Hasil estimasi menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh


positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini berarti bahwa

semakin meningkat pengeluaran pemerintah, maka pertumbuhan ekonomi


Indonesia akan semakin meningkat. Koefisien regresi pengeluaran pemerintah
sebesar 0,219 berarti bahwa setiap peningkatan pengeluaran pemerintah

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

sebesar 1 persen, akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia


meningkat 0,219 persen, ceteris paribus. Dilihat dari nilai koefisien regresi
yang lebih kecil dari satu, pengeluaran pemerintah bersifat inelastis terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan nilai koefisien regresi tersebut diketahui bahwa pengaruh
pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi tergolong rendah.
Pengeluaran pemerintah untuk tahun berjalan, khususnya untuk pembangunan
hanya memberikan dampak pada tahun-tahun selanjutnya, karena manfaat
yang diperoleh publik dari pembangunan tersebut lebih besar setelah
pembangunan selesai. Pada tahun berjalan, pengeluaran pemerintah lebih
mempengaruhi pajak.
Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 2,477 yang lebih
besar dibandingkan t-tabel ( 5 % = 2,101). Hal ini berarti bahwa variabel
pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
d. Tenaga Kerja

Hasil estimasi menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh positif


terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa semakin
meningkat jumlah tenaga kerja, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan
semakin meningkat. Nilai koefisien regresi jumlah tenaga kerja sebesar 0,596
berarti bahwa setiap peningkatan jumlah tenaga kerja sebesar 1 persen, maka

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat 0,596 persen,


ceteris paribus. Jumlah tenaga kerja bersifat inelastis terhadap pertumbuhan

ekonomi.
Berdasarkan nilai koefisien regresi tersebut diketahui bahwa pengaruh tenaga
kerja lebih dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan
kredit dan pengeluaran pemerintah. Hal ini terutama disebabkan karena tenaga
kerja berhubungan dengan tiga komponen yang turut mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, yaitu pajak, konsumsi dan tabungan. Selain itu, tenaga
kerja mempunyai andil yang cukup besar dalam menggerakkan sektor riil,
karena pada umumnya aktivitas usaha di Indonesia masih usaha yang bersifat
pada karya.
Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 2,056 yang lebih
besar dibandingkan t-tabel ( 10 % = 1,743). Hal ini berarti bahwa variabel
jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia.

4.6.2. Uji Asumsi Klasik


a. Multikolinieritas

Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah multikolinieritas dalam model


estimasi dilakukan dengan melihat R2 yang dihasilkan dari estimasi model.
Kriteria keputusan sebagai berikut :

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

2. Jika nilai R2y.x < R2x.x, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah
multikolinearitas dalam model empiris yang digunakan tidak dapat ditolak.
3. Jika nilai R2y.x > R2x.x, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah
multikolinearitas dalam model empiris yang digunakan ditolak.
Hasil dari uji koefisien regresi secara parsial disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4.7. Hasil Uji Multikolinieritas

Nilai R2

Variabel
LogPE

= f(LogKR, LogEX, LogPP, LogTK)

(Model 1)

0,9846

LogKR

= f (LogEX, LogPP, LogTK)

(Model 2)

0,9284

LogEX

= f (LogKR, LogPP, LogTK)

(Model 3)

0,9197

LogPP

= f (LogEX, LogKR, LogTK)

(Model 4)

0,8240

LogTK

= f(LogPP, LogEX, LogKR)

(Model 5)

0,9371

Sumber : Data diolah (Lampiran 4).

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi (R2)
regresi parsial Model 1 lebih besar dari nilai koefisien determinasi regresi Model
2 s/d Model 2. Karena nilai koefisien regresi uji parsial tidak ada yang lebih besar
dari nilai koefisien regresi model 1, maka dapat disimpulkan bahwa pada model
tersebut tidak ditemukan masalah multikolinieritas.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

b. Autokorelasi

Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dalam model penelitian ini


dilakukan dengan uji Lagrange Multiplier Test (LM test). Berikut ini hasil dari uji
Lagrange Multiplier Test (LM test) sebagaimana ditampilkan pada tabel.
Tabel 4.8. Hasil Uji Autokorelasi dengan LM Test
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic
Obs*R-squared

0.381710
1.047439

Probability
Probability

0.688746
0.592313

Sumber: Lampiran 3.
Hasil uji LM test di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai X2hitung (Obs*Rsquared) = 1,0474 dengan probability 0,5923 yang berarti tidak signifikan.
Dengan demikian hipotesis nol (H0) yang menyatakan bahwa tidak ada
autokorelasi tidak dapat ditolak. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut
tidak mengandung korelasi serial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error
term).

4.7. Pembahasan
4.7.1. Jumlah Kredit

Dari hasil estimasi diketahui bahwa jumlah kredit berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penyaluran kredit bertujuan
untuk membiayai sektor riil dan juga membiayai pembangunan. Dengan demikian,
ketersediaan dana untuk sektor riil akan meningkatkan kegiatan ekonomi sektor riil

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Demikian juga dengan

ketersediaan dana untuk pembangunan akan semakin meningkatkan aktivitas


ekonomi masyarakat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, bahwa peningkatan penyaluran kredit oleh perbankan berhubungan
secara langsung dengan aktivitas perekonomian, sehingga penyaluran kredit
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Hakim, Kusmiarso, et.al.
(2000) bahwa pertumbuhan kredit perbankan yang rendah kepada dunia usaha
merupakan salah satu persoalan yang turut berperan dalam lambatnya proses
pemulihan perekonomian nasional. Hasil ini juga sesuai dengan Retnadi (2007),
yang mengatakan bahwa penyaluran kredit bank mempunyai porsi yang cukup besar
dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jika dilihat kaitan antara kontribusi per
sektor ekonomi terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan porsi kerdit yang
disalurkan menurut sektor ekonomi, tampak tidak terdapat sinkronisasi Karena arah
penyaluran kredit bank kurang sejalan dengan sektor yang dominan dalam
pembentukan PDB, maka cukup beralasan apabila pertumbuhan ekonomi kita tidak
dapat mencapai angka yang ditargetkan.
Berdasarkan data BI (2008), kontribusi kredit konsumer terhadap komposisi
kredit cenderung semakin membesar dibandingkan kredit lainnya. Hal ini sejalan
dengan komposisi PDB Indonesia yang masih didominasi dan didorong oleh
pertumbuhan konsumsi. Kredit konsumer tidak hanya ekspansif namun juga
cenderung kualitasnya membaik, ditunjukkan oleh kolektibiliti yang relatif rendah.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Pertumbuhan kredit konsumer cukup baik serta dengan kolektibiliti yang relatif
terjaga. Kondisi yang cukup meyakinkan adalah pada 2005 dimana NPL total kredit
perbankan meningkat secara signifikan (juga dampak dari kebijakan PBI No.
7/2/2005 tentang penyeragaman kolektibiliti), sedangkan NPL kredit konsumer relatif
stabil bahkan jauh dibawah NPL jenis kredit lainnya. Artinya, kredit konsumer relatif
tidak terlalu sensitif dengan peningkatan inflasi dan BI rate pada 2005.
Menurut Retnadi (2007), ada tiga fakor eksternal bank yang diperkirakan akan
mempengaruhi pola penyaluran kredit bank di semester II tahun 2006. Ketiga
variabel tersebut adalah kondisi suku bunga (BI rate) yang masih relatif tinggi yang
saat ini masih sebesar 12,75%, uphoria pemberantasan KKN di bank BUMN, dan
adanya

imbauan

pemerintah

kepada

perbankan

untuk

membiayai

proyek

infrastruktur, perkebunan, dan energi. Walaupun dua variabel terakhir lebih banyak
ditujukan untuk bank BUMN, namun mengingat porsi penyaluran kredit bank BUMN
yang masih sekitar 40% dari seluruh kredit perbankan, maka kedua variabel tersebut
tampaknya tidak dapat diabaikan.

4.7.2. Volume Ekspor

Dari hasil estimasi diketahui bahwa volume ekspor berpengaruh positif


namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini berhubungan dengan
volume impor, dimana adanya volume ekspor juga akan dikurangi oleh volum impor.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Lihan, dan Yogi (2003) bahwa
peranan sektor ekspor di Indonesia tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

PDRB di Indonesia. Hal itu sejalan dengan pendapat Jung dan Marshall (1985) yang
mengemukakan sebagian besar negara-negara berkembang tidak menunjukkan
dukungan empiris bahwa pertumbuhan ekspor akan mendorong pertumbuhan
ekonomi. Temuan ini, juga sejalan dengan pendapat Arief (1993) yang menyatakan
jika sektor ekspor ini masih tergantung pada input impor maka pengaruhnya terhadap
PDRB tidaklah nyata. Faktor yang berpengaruh nyata dalam penelitian ini adalah
ekspor dikurangi dengan impor tahun sebelumnya. Hasil peneltian yang menonjol
menunjukkan bahwa pengganda dampak yang ditimbulkan oleh ekspor sektor minyak
umi terhadap produk nasional bruto selama periode yang diselidiki adalah 1,2876,
yang jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh ekspor
sektor non minyak bumi yang besarnya 3,0930. Sebab utama dari hal ini ialah bahwa
ekspor sektor non minyak bumi mempunyai efek yang lebih tingg terhadap konsumsi,
investasi dan pajak.
Selanjutnya penelitian sejenis untuk runtun waktu yang berbeda, yaitu untuk
periode tahun 1970-1996 dilakukan oleh Adirinekso (2000), menunjukkan bahwa
ekspor migas selama periode penelitian memberikan pengaruh yang cukup besar bagi
produk nasional bruto dibandingkan dengan ekspor nonmigas.
Menurut Hastiadi (2009), kontribusi ekspor netto dalam pembentukan PDB
mengalami kenaikan pada tahun 2006 menjadi 5,40 persen. Namun, pada tahun 2007
kontribusi ekspor netto turun menjadi hanya 4,10 persen. Dan sejak tahun 2007
hingga triwulan ketiga 2008 kontribusi ekspor netto sebagai penopang PDB terus
mengalami penurunan. Pada triwulan ketiga 2008, kontribusi ekspor netto, bahkan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

tercatat berkontraksi atau tumbuh negatif sebesar 0,10 persen. Memburuknya ekspor
netto tersebut merupakan gambaran bahwa telah terjadi perlambatan kinerja di sektor
riil.

4.7.3. Pengeluaran Pemerintah

Dari hasil estimasi diketahui bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh


positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran pemerintah
bertujuan agar pelaksanaan pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah dan
pembangunan dapat berlangsung sebagaimana direncanakan. Pengeluaran pemerintah
untuk pembangunan bertujuan agar roda perekonomian dapat berkembangan dengan
semakin meningkatnya pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh
pemerintah. Adanya pembangunan sarana dan prasarana oleh pemerintah secara
langsung dapat mempengaruhi perekonomian suatu daerah dan memberikan efek
pengganda
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Putri (2005), bahwa
pengeluaran pemerintah, investasi pemerintah, dan investasi swasta memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan, baik secara parsial maupun simultan terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pengeluaran pemerintah merupakan variabel yang
memiliki pengaruh yang paling besar diantara variabel lainnya terhadap pertumbuhan
ekonomi daerah di Indonesia selama periode penelitian.
Menurut Suprapto dan Ahniar (2008), bahwa pengeluaran pemerintah menjadi
pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga tahun ini dibandingkan

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

dengan triwulan yang sama tahun lalu. Selain pengeluaran pemerintah, sumber
pertumbuhan juga ditopang oleh pertumbuhan ekspor sebesar 14,3 persen, investasi
12 persen dan konsumsi rumah tangga.
Menurut Wijaya (2000) bahwa pengeluaran pemerintah mempunyai efek
pengganda (multiplier effect) dan merangsang kenaikan pendapatan nasional yang
lebih besar daripada pembayaran dalam jumlah yang sama. Pengeluaran pemerintah
akan menaikkan pendapatan serta produksi secara berganda sepanjang perekonomian
belum mencapai tingkat kesempatan kerja penuh (full employment) karena ia
menaikkan permintaan agregatif didasarkan pada anggapan bahwa pengeluaran
pemerintah tidaklah pada proyek-proyek yang menghalangi atau menggantikan
investasi sektor swasta. Karena pelaksanaan pembangunan oleh pemerintah
sebenarnya bertujuan untuk membangun sarana dan prasarana yang bermanfaat dan
memudahkan bagi investor dalam melakukan investasi.
Oleh karena itu investasi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah
berbeda dengan investasi yang dilakukan oleh sektor swasta. Pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah tidak secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan
perekonomian masyarakat melalui pendapatan dan kesempatan kerja, tetapi
memberikan sarana dan prasarana bagi kelancaran investasi oleh pihak swasta.
Investasi pihak swasta inilah yang secara langsung berdampak terhadap
perekonomian masyarakat karena akan memberikan lapangan kerja dan pendapatan
yang cukup lama kepada masyarakat.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

4.7.4. Jumlah Tenaga Kerja

Hasil estimasi menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh positif


dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hasil penelitian ini sejalan
dengan hasil temuan Zuhri (1999) di Jawa Tengah, bahwa tenaga kerja berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada jangka panjang. Pengaruh
signifikan dari tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan
posisi tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi yang menggerakkan
perekonomian di daerah. Selain sebagai faktor produksi, tenaga kerja produktif juga
merupakan sumber penerimaan daerah dan sektor pajak dan merupakan konsumen.
Hasil analisis yang dilakukan oleh Tambunan menunjukkan bahwa elastisitas
kesempatan kerja tidak pernah lebih dari 0,50, ini berarti penambahan PDB hanya
mampu menambah kesempatan kerja 0,50 unit. Menurut Makmun dan Yasin (2003),
pertumbuhan ekonomi yang negatif selama tahun 1998 dan 1999, sangat
mempengaruhi penciptaan lapangan kerja. Dampak krisis moneter sangat
mempengaruhi pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang mempunyai elastisitas
kesempatan kerja yang tinggi, yaitu sektor konstruksi, jasa dan transportasi/
komunikasi. Krisis moneter yang hampir terjadi di semua negara berakibat
permintaan akan barang dan jasa mengalami penurunan yang sangat tajam. Turunnya
permintaan berdampak aktivitas perusahaan mengalami stagnasi atau penurunan atau
bahkan menghentikan produksinya. Bersamaan dengan itu penawaran tenaga kerja
mengalami peningkatan, yaitu baik yang disebabkan karena penambahan penduduk
maupun dari tenaga kerja yang terpaksa menganggur, karena turunya aktivitas
produksi.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab
terdahulu maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kredit perbankan berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia, dengan demikian jika penyaluran kredit oleh perbankan
semakin meningkat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin
meningkat.
2. Nilai ekspor berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
3. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan
semakin meningkat dengan meningkatnya pengeluaran pemerintah.
4. Jumlah tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia
akan semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja.
5.2. Saran

1. Jumlah tenaga kerja memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap


pertumbuhan ekonomi Indonesia, oleh karena itu disarankan agar pemerintah
Indonesia untuk dapat memanfaatkan dan meningkatkan potensi tenaga kerja

72
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Indonesia yang tersedia untuk lebih efektif dan efisien sehingga lebih
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
2. Dianggap perlu untuk mengkaji kembali penelitian ini (atas masalah yang sama)
dengan menggunakan metode pendekatan, serta konsep peninjauan yang berbeda
seperti konsumsi pemerintah dan investasi agar dapat dilakukan studi komparasi
dan mendukung temuan-temuan baru.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Burhanuddin, 2003. Strategi Kebijakan Moneter bagi Perkembangan


Ekonomi Yang Berkelanjutan, Jakarta: BANK INDONESIA.
Adirinekso, G. Dampak Ekspor Sektor Migas dan Nonmigas Terhadap Produk
Nasional Bruto dan Komponennya [Kasus Indonesia Tahun 1970-1996].
Paper Ekonometrika I, Program Pascasarjana FEUI, Depok, 2000.
Arief, Sritua, 1993. Pemikiran Pembangunan dan Kebijaksanaan Ekonomi. Lembaga
Riset Pembangunan, Jakarta
Aschauer, D. A, 2000. Public Capital and Economic Growth: Issues of Quantity,
Finance, and Efficiency. Economic Development and Cultural Change 48 (2):
391-406.
Bank Indonesia, 2003. Bank Sentral Republik Indonesia : Tinjauan Kelembagaan,
Kebijakan, dan Organisasi.
Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan BI.
Bank Indonesia, 2005. Financial Statistics : Statistik Ekonomi & Keuangan
Indonesia, humasbi@bi.go.id.
Bank Indonesia, 2008. Modal Kerja Investasi Konsumsi Total. Economic Review No.
212, Juni.
Boediono, 1999, Ekonomi Moneter, Edisi 3, Yogyakarta: BPFE.
Brata, A. G., dan Z. Arifin, 2003. Alokasi Investasi Sektor Publik dan Pengaruhnya
Terhadap Konvergensi Ekonomi Regional di Indonesia. Media Ekonomi 13
(20): 59-71.
Dessus, S., dan R. Herrera, 2000. Public Capital and Growth Revisited: A Panel Data
Assessment. Economic Development and Cultural Change 48 (2): 407-418.
Dumairy, 1996. Perekonomian Indonesia, Cetakan Kelima, Jakarta: Erlangga.
Gujarati, Damodar. 2004. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.

74
Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Gupta, S., B. Clements, E. Baldacci, dan C. Mulas-Granados, 2002. Expenditure


Composition, Fiscal Adjustment, and Growth. IMF Working Paper 02/77.
Hamoraon, Haroni Doli, 2005. Analisis Kausalitas Konsumsi dan Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia, Tesis, Medan: Sekolah Pascasarjana USU.
Hastiadi, Fithra Faisal, 2009. Memperkuat Basis Pertumbuhan Ekonomi, The
Indonesia Economic Intelligence, Jakarta.
Idris, Nor Aini Haji & Ab. Razak Dan, 2004. Teori Perkembangan & Pembangunan
Ekonomi. Bangi: Penerbit UKM, ISBN 967-942-516-9.
Jhingan M.L, 2000. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Penerjemah : D.
Guritno, Edisi Pertama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Jung dan Marshall. 1985. The Process of Industrial Development and Alternative
Development Strategies. Princeton University Press, Princeton, N.J.
Kuncoro, M., 1995. Desentralisasi Fiskal di Indonesia: Dilema Otonomi dan
Ketergantungan. Prisma 4: 3-17.
Lall, Somik V., dan Serdar Yilmaz, 2000. Regional Economic Convergence: Do
Policy Instruments Make a Difference. The Institute of Public Policy, George
Mason University.
Lee, Jennifer, March 2005. .Financial Intermediation and Economic Growth
Evidence from Canada. Eastern Economic Association, New York,
http://www.fordham.edu/images/Undergraduate/economics/Finance+and+Gro
wth.pdf >
Lihan, Irham Dan Yogi, 2003. Analisis Perkembangan Ekspor dan Pengaruhnya
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Jurnal Ekonomi & Bisnis No. 1,
Jilid 8.
Makmun dan Akhmad Yasin, 2003. Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja Terhadap
PDB Sektor Pertanian. Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7, No. 3
September.
Mangkoesoebroto, Guritno, 1998. Teori Ekonomi Makro, Yogyakarta: STIE YKPN.
Mankiw, N. Gregory, 2003. Teori Makro Ekonomi Terjemahan. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Purbadharmaja, Ida Bagus Putu, 2006. Implikasi Variabel Pengeluaran Dan Investasi
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Bali, Buletin Studi Ekonomi
Volume 11 Nomor 1 Tahun 2006.
Putri, Ratih Dwimbantari, 2005. Pengaruh Pengeluran Pemerintah Daerah Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Indonesia Periode 1996 2003. Tesis,
Universitas Air Langga, Surabaya.
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, 2008. Teori Ekonomi Makro Suatu
Pengantar, edisi keempat, lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Rappaport, J., 1999. Local Growth Empirics. CID Working Paper No. 23, Juli 1999.
Reksoprayitno, Soediyono, 2000. Ekonomi Makro (Pengantar Analisis Pendapatan
Nasional), Edisi Kelima. Cetakan Kedua, Yogyakarta: Liberty.
Retnadi, Djoko, 2007. Perilaku Penyaluran Kredit Bank. The Indonesia Economic
Intelligence. www.iei.or.id.
Samuelson, Paul A. dan Nordhaus, William D, 2004. Ilmu Makro Ekonomi. Edisi
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Media Global Edukasi.
Sukirno, Sadono, 2003. Pengantar Teori Makroekonomi, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Suparmoko, M, 1991. Pengantar Ekonomika Makro, Yogyakarta: BPFE.
Suprapto, Hadi dan Nur Farida Ahniar, 2008. Konsumsi Pemerintah Tumbuh
Tertinggi. PT. Visi Media Asia - News & Community Portal.
Tambunan, Tulus, 2001a. Perekonomian Indonesia: Teori dan Temuan Empiris.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
________, 2001b. Transformasi Ekonomi di Indonesia: Teori dan Penemuan
Empiris. Jakarta: Salemba Empat.
Todaro, Michael, P. dan Stephen C. Smith, 2004, Pembangunan Ekonomi Di Dunia
Ketiga, Edisi Kedelapan, Jakarta: Erlangga.
Tohar, M, 2000. Permodalan dan Perkreditan Koperasi. Yogyakarta: Kanisius.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Zuhri, Abidin Achmad, 1999. Pengaruh Investasi PMA dan PMDN Serta
Kesempatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Propinsi
Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Tesis, Sekolah Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Lampiran 1. Data Penelitian

Tahun

PDB ADHK
2000
(Milyar Rp.)

Total
Kredit
(Milyar
Rp.)

Ekspor
ADHK 2000
(Milyar Rp.)

Pengeluaran
Pemerintah
ADHK
(Milyar Rp.)

TK (orang)

1985

701.259,8

21.454

197.545,20

65.806,4

62.458.000

1986

742.461,6

25.945

227.596,50

67.636,9

68.750.000

1987

779.032,2

31.869

260.879,20

67.522,7

70.811.000

1988

824.064,1

42.256

263.622,30

72.635,7

72.922.000

1989

885.519,4

58.975

291.161,50

80.254,8

73.400.000

1990

949.641,1

85.863

292.474,80

82.831,1

75.900.000

1991

1.018.062,6

112.825

364.182,90

88.652,6

76.423.000

1992

1.061.248,0

122.918

402.035,80

93.822,0

78.518.000

1993

1.151.490,2

150.271

428.605,20

93.900,3

79.200.000

1994

1.238.312,3

188.880

475.428,60

96.064,7

82.039.000

1995

1.340.101,6

234.611

512.137,20

97.352,2

80.110.000

1996

1.444.873,3

292.921

550.854,90

99.973,9

85.702.000

1997

1.512.780,9

378.134

593.821,40

100.035,1

86.951.000

1998

1.314.202,0

487.426

660.229,50

84.658,1

87.672.000

1999

1.324.599,0

225.133

450.243,60

85.246,4

88.817.000

2000

1.389.770,2

269.000

569.490,30

90.779,7

89.839.000

2001

1.442.984,6

307.594

573.163,40

97.645,0

91.407.000

2002

1.504.380,6

365.410

566.188,40

110.333,6

91.648.000

2003

1.577.171,3

437.942

599.516,40

121.404,1

90.784.000

2004

1.656.516,8

553.548

680.620,90

126.248,6

93.722.036

2005

1.750.815,2

689.669

791.995,90

134.625,6

93.958.387

2006

1.847.292,9

787.136

864.503,50

147.563,7

95.456.935

2007

1.963.974,3

995.111

938.397,71

155.354,3

99.930.217

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Lampiran 2. Input Data Analisis


==============================================================
obs
PE
K
EX
PP
CS
TK
==============================================================
1985 5.845879 4.331508 5.295666 4.818268 5.589038 7.795588
1986 5.870674 4.414054 5.357166 4.830184 5.598441 7.837273
1987 5.891555 4.503368 5.416439 4.829450 5.612563 7.850101
1988 5.915961 4.625888 5.420982 4.861150 5.629089 7.862859
1989 5.947198 4.770668 5.464134 4.904471 5.646751 7.865696
1990 5.977560 4.933806 5.466088 4.918193 5.687653 7.880242
1991 6.007774 5.052405 5.561320 4.947691 5.718259 7.883224
1992 6.025817 5.089615 5.604265 4.972305 5.730481 7.894969
1993 6.061260 5.176875 5.632057 4.972667 5.755085 7.898725
1994 6.092830 5.276186 5.677085 4.982564 5.809569 7.914020
1995 6.127138 5.370348 5.709386 4.988346 5.861047 7.903687
1996 6.159830 5.466751 5.741037 4.999887 5.901337 7.932991
1997 6.179776 5.577646 5.773656 5.000152 5.934038 7.939275
1998 6.118662 5.687909 5.819695 4.927669 5.906388 7.942861
1999 6.122084 5.352439 5.653448 4.930676 5.926057 7.948496
2000 6.142943 5.429752 5.755486 4.957989 5.932879 7.953465
2001 6.159262 5.487978 5.758278 4.989650 5.947796 7.960979
2002 6.177358 5.562780 5.752961 5.042708 5.964142 7.962123
2003 6.197879 5.641417 5.777801 5.084233 5.980727 7.958009
2004 6.219196 5.743155 5.832905 5.101227 6.001781 7.971842
2005 6.243240 5.838641 5.898723 5.129128 6.018619 7.972936
2006 6.266536 5.896050 5.936767 5.168980 6.032187 7.979807
2007 6.293136 5.997872 5.972387 5.191323 6.053353 7.999697
==============================================================

Keterangan:
PE

= log. PDB

= log. kredit perbankan

EX

= log. nilai eskpor

PP

= log. pengeluaran pemerintah

TK

= log. tenaga kerja

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Lampiran 3. Analisis OLS


LogPE = b0 + b1 LogKr + b2 Log Ex + b3 Log PP + b4 Log TK +
Dependent Variable: PE
Method: Least Squares
Date: 05/26/09 Time: 09:17
Sample: 1985 2007
Included observations: 23
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

Kr
EX
PP
TK
C

0.126398
0.093087
0.218785
0.596254
-0.915269

0.063019
0.151364
0.088314
0.290039
2.174679

2.005715
0.614986
2.477364
2.055770
-0.420875

0.0602
0.5463
0.0234
0.0546
0.6788

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.984647
0.981235
0.017950
0.005799
62.64767
1.584911

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

6.088850
0.131032
-5.012841
-4.765994
288.5958
0.000000

Lampiran 4. Uji Asumsi Klasik


1. Multikolinieritas

Dependent Variable: K
Method: Least Squares
Date: 06/23/09 Time: 09:19
Sample: 1985 2007
Included observations: 23
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

EX
PP
TK
C

1.978143
0.144398
1.847765
-21.28330

0.312546
0.319788
0.967034
6.231692

6.329134
0.451542
1.910755
-3.415332

0.0000
0.6567
0.0712
0.0029

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.928420
0.928178
0.065344
0.081127
32.30759
1.131438

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

5.270744
0.484181
-2.461530
-2.264053
396.2962
0.000000

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Dependent Variable: EX
Method: Least Squares
Date: 06/23/09 Time: 09:21
Sample: 1985 2007
Included observations: 23
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

K
PP
TK
C

0.342888
0.115854
0.190252
1.773606

0.054176
0.131188
0.437426
3.270845

6.329134
0.883118
0.434934
0.542247

0.0000
0.3882
0.6685
0.5940

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.919768
0.917913
0.027205
0.014062
52.46144
1.523953

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

5.664249
0.188318
-4.214038
-4.016561
345.0471
0.000000

Dependent Variable: PP
Method: Least Squares
Date: 06/23/09 Time: 09:21
Sample: 1985 2007
Included observations: 23
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

EX
K
TK
C

0.340331
0.073527
-0.112185
3.553380

0.385375
0.162835
0.753005
5.590113

0.883118
0.451542
-0.148983
0.635654

0.3882
0.6567
0.8831
0.5326

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.824065
0.796285
0.046628
0.041310
40.06917
0.576364

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

4.980387
0.103309
-3.136450
-2.938972
29.66474
0.000000

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Dependent Variable: TK
Method: Least Squares
Date: 06/23/09 Time: 09:22
Sample: 1985 2007
Included observations: 23
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

PP
EX
K
C

-0.010401
0.051816
0.087232
7.216303

0.069814
0.119135
0.045653
0.466972

-0.148983
0.434934
1.910755
15.45340

0.8831
0.6685
0.0712
0.0000

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.937146
0.927221
0.014198
0.003830
67.41894
1.192152

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

7.917777
0.052628
-5.514690
-5.317213
94.42885
0.000000

2. Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic
Obs*R-squared

0.381710
1.047439

Probability
Probability

0.688746
0.592313

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 06/23/09 Time: 09:22
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

K
EX
PP
TK
C
RESID(-1)
RESID(-2)

0.003596
-0.048063
0.041099
0.052254
-0.365309
0.228039
0.083942

0.067915
0.173911
0.103582
0.308992
2.292717
0.292848
0.270998

0.052955
-0.276366
0.396782
0.169110
-0.159334
0.778692
0.309751

0.9584
0.7858
0.6968
0.8678
0.8754
0.4475
0.7607

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.045541
-0.312381
0.018600
0.005535
63.18369
1.790250

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

2.17E-15
0.016236
-4.885538
-4.539953
0.127237
0.991098

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009

Yunan : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, 2009