Anda di halaman 1dari 28

Sambungan

Sambungan paku
paku keling
keling (Riveted
(Riveted Joints)
Joints)

Ir. Bambang W Sidharta, M.Eng.

IST AKPRIND
2014

Pada topik ini kita akan mendiskusikan sambungan paku keling dan
baut. Kita akan menggunakan metode dan analisa yang sama untuk
kedua macam sambungan ini.
Pada dasarnya, sebuah sambungan paku keling dibuat dengan
memanaskan paku kemudian dimasukkan ke dalam sebuah lubang
yang menghubungkan dua pelat atau balok/tiang (beam). Ketika paku
keling dingin, akan timbul tegangan pada paku keling dan pelat
tersebut secara bersamaan. Sedangkan pada sambungan baut, baut
berkekuatan tinggi dimasukkan ke dalam lubang diantara pelat atau
beam dan kemudian dikencangkan (biasanya besarnya kira-kira 70%
dari tensile strength baut yang diizinkan). Umumnya lubang untuk baut
sedikit lebih besar dari bautnya.
Pada diskusi ini , kita asumsikan bahwa diameter lubang baik untuk
paku keling maupun baut, besarnya sama dengan diameter paku
maupun bautnya.
Sebelum kita tentukan jenis kegagalan yang terjadi, kita tentukan
beberapa asumsi yang digunakan pada diskusi ini :
1. Paku keling dan baut mengisi lubang sambungan dengan sempurna.
2. Beban yang diaplikasikan pada paku (baut) adalah sama
3. Tegangan geser untuk paku maupun baut didistribusikan secara
merata pada luas penampang paku maupun baut
4. Beban tarik pada pelat juga didistribusikan merata pada bahan

Ada dua tipe dasar dari sambungan paku keling (rivet) atau baut
(bolted), yaitu Lap joints (sambungan berimpit) dan Butt Joints
(sambungan bilah). Dapat kita lihat gambar dari Lap joints (diagram
1) dan butt joints (diagram 2).
Pada Lap Joints, dua pelat
saling dihimpitkan, dan
kemudian paku keling atau
baut dimasukkan ke dalam
lubang yang saling
berhubungan di kedua pelat
tersebut.
Pada Butt Joints, kedua ujung
pelat disatukan, kemudian
ditutup dengan sebilah atau
dua bilah pelat, lalu
disatukan dengan paku
keling atau baut. Beban pada
pelat utama ditransfer ke
pelat penutup melalui paku
atau baut, dan ditransfer

Pitch adalah jarak antara paku keling (baut) pada pola


sambungan.
Back Pitch (Transverse Pitch atau Gauge) adalah jarak antara
baris pada pola sambungan.
Baris 1 pada pola adalah baris yang terdekat pada beban yang
digunakan.
Sebagai pedoman umum untuk pelat baja dan aluminium,
pitch minimum adalah 3 kali diameter paku keling atau baut
dan beberapa
edge pitchkegagalan
(jarak daripada
pakusambungan
terdekat kepaku
ujung
pelat)
Ada
keling
ataupun
besarnya
1,5 kali diameter paku keling atau baut.
baut
:
1. Rivet Shear (paku keling bergeser). Pada diagram 3,
pada potongan melintang dari sambungan paku keling, area
paku antara kedua pelat dalam keadaan geser.
Kita dapatkan Kekuatan dari Rivet Shear dengan
menggunakan definisi sederhana dari Tegangan Geser yaitu
Tegangan paralel dengan area geser dibagi dengan
area. Jadi jika kita gunakan tegangan geser yang diizinkan
dari bahan paku dikalikan dengan luas penampang paku,
maka akan kita dapatkan beban dari satu luas area paku
keling yang dapat menahan beban geser sebelum paku
keling tersebut patah. (Patah terjadi jika beban yang
didapatkan oleh paku keling lebih besar dari beban yang

Kita dapatkan rumus sebagai berikut :


Privet shear = N ( . d2/4) all
Dimana :
N = jumlah area geser. Hal ini sama dengan banyaknya rivet
pada lap joints atau butt joints pada satu bilah atau dua kali
jumlah rivet bila jenis sambungan butt joints dengan dua bilah
ganda.
A = . d2/4 (atau . r2) adalah luas penampang bidang geser
pada rivet.
all = tegangan geser yang diizinkan dari bahan/material rivet.

2. Kegagalan Rivet/pelat karena beban tekan :


Kegagalan/kerusakan terjadi karena adanya gaya tekan
(kompresi) baik pada paku keling maupun pada pelatnya.
Jika kita perhatikan diagram 4 bagian tengah, pelat yang atas
mengalami tarikan dari bagian yang dikeling ke tepi pelat. Hal ini
mengakibatkan pelat di bagian belakang kelingan mengalami
gaya tekan dan jika beban cukup besar, maka pelat akan
mengalami kerusakan karena gaya kompresi/tekanan.
Dari perspektif kelingan, pelat akan mengalami gaya tarik
sedangkan paku keling mengalami gaya tekan/kompresi.

Untuk menentukan beban yang dapat mengakibatkan kegagalan,


kita kembali mengalikan tegangan dengan luas area. Dalam hal ini,
prakteknya secara umum diambil luas area pada luas penampang
vertikal dari paku keling yang mengalami kompresi (diagram 5).

Didapatkan rumus sebagai berikut :


Pbearing = N (d . t) all
Dimana :
N = jumlah rivet yang mengalami tekanan
d = diameter rivet
t = ketebalan dari pelat utama
all = Tegangan kompresi yang diizinkan material rivet atau pelat.

3. Plate Tearing (pelat yang sobek) :


Ini adalah kerusakan karena tensile pada material pelat pada
posisi barisan rivet, pelat akan sobek terlebih dahulu ketika
lubang berada pada pelat, kejadian ini identik dengan
sobeknya kertas tissue ketika adanya perforasi padanya. Dari
diagram 6 di bawah ini , luas penampang pelat dalam keadaan
solid : A = (w . t)

Didapatkan rumus sebagai berikut :


Pbaris1 = (w nd)t.all
Dimana :
w = lebar dari pelat
n = jumlah rivet pada setiap baris (pada contoh ini, baris 1, 1
buah rivet)
d = diameter rivet
t = tebal pelat
all = tegangan tarik maximum yang diizinkan untuk bahan pelat

Contoh Soal
sambungan
1Sebuah
:

bilah (butt joint) seperti


digambarkan diagram 1. Diameter paku keling
(rivet) adalah inch, lebar pelat 6 inch dan tebal
pelat inch. Tegangan yang diizinkan adalah
sebagai berikut :
Rivet : = 18.000 lb/in2 ; t = 22.000 lb/in2 ; c =
24.000 lb/in2.
Pelat : = 16.000 lb/in2 ; t = 21.000 lb/in2 ; c =
22.000 lb/in2
Tentukan : Kekuatan dan Effisiensi dari sambungan.

Penyelesaian :
Bagian I
Untuk menentukan Kekuatan dari sambungan, kita hitung beban P,
dimana akan mengakibatkan sambungan akan gagal , untuk setiap
jenis kegagalan (rivet shear, Bearing, dan plate tearing). Beban yang
paling kecil dimana akan mengakibatkan kegagalan/kerusakan
sambungan disebut : Kekuatan dari sambungan .
Untuk sambungan bilah (butt joint), kita hanya menggunakan dari
pola sambungan, jika satu sisi gagal/rusak, maka pelat utama juga
akan gagal dan akibatnya sambungan akan gagal pula.
1. Rivet shear :
P = N (.d2/4)all
P = N ( .d2/4) = (12 rivet).(3,1416 .(3/4)2/4).18.000
lb/in2 = 95.400 lb.
Kita gunakan 12 rivet, karena salah satu bagian sambungan ada
2 bidang geser (lihat diagram 2) . Jadi pada beban 95.400 lb.,
sambungan akan patah/gagal karena beban geser.

2. Kegagalan karena bearing (compression)


Pbearing = N (d.t) c all = (6 rivets) (3/4.1/2).(22.000 lb/in2) =
49.500 lb.
Jadi pada beban 49.500 lb dapat mengakibatkan kerusakan pada
sambungan (pelat) karena adanya compression atau tekanan.
3. Plate tearing (pelat sobek) , pada baris 1
Pbaris1 = (w n d).t.all = ( 6 1.3/4).(1/2).(21.000 lb/in2) =
55.100 lb.
Ini adalah beban dimana pelat akan sobek karena beban tegangan.
Sambungan akan gagal atau patah pada beban terkecil, yaitu pada
beban akibat tekanan /kompresi, 49.500 lb. Di atas nilai ini (49.500
lb), adalah Kekuatan Sambungan, akan tetapi tetap harus mengecek
kerusakan karena plate tearing pada baris ke 2 atau bahkan baris
ke 3 dari sambungan , jika ada beban yang lebih rendah disana.
3a. Plate tearing pada baris 2
Perbedaan utama antara plate tearing baris 2 dan baris 1 adalah
material pelat pada baris ke 2 tidak menanggung semua beban P.
Hal ini terjadi karena sebagian dari beban sudah ditransfer ke pelat
bagian bawah melalui rivet pada baris 1. Karena ada 6 buah rivet
pada bagian kiri dari sambungan, kita asumsikan bahwa beban

Jadi baris ke dua menanggung 5/6 dari beban P, sehingga dapat kita
tulis :
(5/6)Pbaris2 = (w n d)t.all = (6 2 . ).(1/2).(21.000
lb/in2) = 47.250 lb, shg,
Pbaris2 = (6/5).47250 lb = 56.700 lb.
Ini adalah beban dimana akan terjadi kegagalan geseran pada baris
2 karena adanya tension. Hal ini membuktikan bahwa kerusakan
akibat tension akan terjadi pada baris 1 terlebih dahulu
dibandingkan pada baris 2.
3b. Plate tearing pada baris 3
Karena ada 3 buah rivet pada baris 1 dan 2, hal ini berarti 3/6
bagian beban di transfer ke pelat di bawahnya, sehingga rivet pada
baris ke 3 hanya menanggung beban 3/6 nya, sehingga dapat kita
hitung :
(3/6)Pbaris3 = (w nd)t.all = (6 3 . 3/4).(1/2).(21.000
lb/in2) = 39.400 lb, shg ,
Pbaris3 = (6/3).39.400 lb = 78.800 lb.
Disini dapat kita lihat bahwa beban yang dapat mengakibatkan
kegagalan pada baris 3 lebih besar daripada baris 1 dan 2.
Setelah kita bandingkan, ternyata beban yang terkecil yang dapat

Bagian II :
Kekuatan dari sambungan sendiri tidak menyatakan bahwa
sambungan tersebut baik. Oleh karena itu harus menentukan
seberapa baik atau effisien suatu sambungan dengan
membandingkan antara Kekuatan dari sambungan dengan kekuatan
dari pelat tanpa sambungan (tanpa sambungan rivet atau baut).
Kekuatan dari sambungan adalah 49.500 lb (kita dapatkan di atas).
Sedangkan kekuatan dari pelat kita dapatkan dari diagram 3 di
bawah ini

Kekuatan pelat = luas penampang pelat dikalikan dengan tegangan


tarik yang diizinkan dari pelat
Ppelat = (w.t).all = (6.1/2).21.000 lb/in2 = 63.000 lb. Ini adalah
kekuatan pelat, sehingga kita dapat mendefinisikan Effisiensi
Sambungan sebagai ratio dari Kekuatan Sambungan dengan
Kekuatan Pelat atau ,
Effisiensi = Kekuatan sambungan/Kekuatan Pelat = 49.500
lb/63.000 lb = 0,786 = 78,6%
Hasil ini menyatakan bahwa Sambungan Bilah (butt joint) mempunyai

Pola Sambungan Lap Joints dan Butt


Joints

Contoh Soal 2 :
Sebuah sambungan berimpit (lap joints), lihat diagram 2,
menghubungkan 2 pelat baja , dimana kedua nya mempunyai lebar
pelat 6 inch dan tebal inch. Rivet yang digunakan mempunyai
diameter inch. Maksimum tegangan yang diizinkan untuk rivet
dan bahan material pelat adalah sebagai berikut :
Rivet : = 16.000 lb/in2 ; t = 22.000 lb/in2 ; c = 25.000 lb/in2
Pelat : = 17.000 lb/in2 ; t = 20.000 lb/in2 ; c = 24.000 lb/in2
a. Tentukan jumlah rivet untuk mendapatkan sambungan yang
effisien.
b. Pilih pola sambungan yang terbaik berdasarkan diagram 2 di
bawah
c. Hitung kekuatan dan effisiensi dari sambungan.

Penyelesaian :
Bagian
Langkah 1 A
:
Hitung beban yang dapat mengakibatkan sambungan gagal dengan
pelat yang sobek pada baris 1, diasumsikan pada baris 1 ada 1 rivet.
Pbaris 1 = (w n d)t. all ,
Dimana :
w = lebar dari pelat = 6 inch
n = jumlah dari rivet dalam 1 baris (pada baris 1, 1 rivet)
d = diameter dari rivet = inch
t = tebal dari pelat = inch
all = Tegangan tarik maksimum yang diizinkan untuk bahan pelat =
20.000 lb/in2
Pbaris1 = (6 1.3/4).(1/2).20.000 lb/in2 = 52.500 lb.
Langkah 2 :
Hitung beban maksimum dimana rivet dapat menahan beban geser
(shear)
Privet shear = N (.d2/4)all
Dimana
N = jumlah bidang geser . Pada sambungan berhimpit, bidang geser
hanya 1.
d = inch
= 16.000 lb/in2

Langkah 3 :
Hitung beban maksimum dimana 1 buah rivet (bahan pelat di
belakang rivet) dapat menahan bearing (kompresi).
Pbearing = N (d.t) c all
Dimana :
N = jumlah rivet pada kompresi = 1
d = diameter rivet = inch
t = tebal pelat = inch
c all = tegangan tekan terkecil yang diizinkan dari rivet atau pelat =
24.000 lb/in2.
Pbearing = 1.[(3/4).(1/2)].24.000 lb/in2 = 9000 lb/rivet
Langkah 4 :
Bagi beban yang diizinkan pada plate tearing, yang telah dihitung
pada langkah 1, dengan beban per rivet yang kecil dari hasil
perhitungan langkah 2 dan 3, dan bulatkan hasilnya.
Jumlah rivet = 52.000 lb./7070 lb./rivet = 7,43 , dibulatkan
menjadi 8 buah rivet.

Penyelesaian :
Bagian B
Kita gunakan jumlah rivet yang kita dapatkan pada langkah 4
untuk memilih pola sambungan yang digambarkan pada diagram
1. Dari diagram 1 tadi, kita pilih pola sambungan seperti
digambarkan pada diagram 3.

Bagian C
Gunakan pola sambungan yang telah dipilih, untuk menghitung
Kekuatan dan effisiensi dari sambungan.
1. Rivet shear :
Pshear = N.Privet shear = 8.7070 lb./rivet = 56.560 lb.

2. Bearing failure (Kegagalan karena kompresi):


Pbearing = N. Pbearing = 8. 9000 lb./rivet = 72.000 lb.
3. Plate tearing (baris 1)
Pbaris1 = (6 1.3/4).(1/2).20.000 lb./in2 = 52.500 lb.
4. Plate tearing (baris 2) , baris2 menahan 7/8 dari beban,
(7/8)Pbaris2 = (6 2.3/4).(1/2).20.000 lb./in2 = 45.000 lb. ,
Pbaris2 = (8/7).45.000 lb. = 51.400 lb.
5. Plate tearing (baris 3), baris ke 3 menahan 5/8 dari
beban,
(5/8)Pbaris3 = (6- 2.3/4).(1/2). 20.000 lb./in2 = 45.000 lb. ,
Pbaris3 = (8/5).45.000 lb. = 72.000 lb.
Berdasarkan perhitungan di atas, kita dapatkan bahwa Kekuatan
dari sambungan adalah 51.400 lb. (plate tearing baris 2)
Effisiensi = Kekuatan Sambungan/Kekuatan Pelat =
51.400 lb./(6.1/2).20.000 lb./in2 = 0.86 = 86 %

Contoh Soal
3Sebuah
:
sambungan bilah (butt joint) menghubungkan 2 lembar
pelat, dimana keduanya mempunyai lebar 7 inch dan ketebalan
inch. Rivet yang digunakan mempunyai diameter 5/8 inch.
Maksimum tegangan yang diizinkan untuk rivet dan material pelat
adalah sebagai berikut :
Rivet : = 15.000 lb/in2 ; t = 24.000 lb/in2 ; c = 26.000 lb/in2
Pelat : = 16.000 lb/in2 ; t = 22.000 lb/in2 ; c = 24.000 lb/in2
a. Tentukan jumlah rivet agar didapatkan sambungan yang paling
effisien.
b. Pilihlah pola berdasarkan pola pada diagram 2
c. Hitung kekuatan dan effisiensi dari sambungan.

Penyelesaian :
Bagian A.
Langkah 1 : Hitunglah beban yang dapat mengakibatkan pelat sobek
pada baris 1. Asumsikan pada baris pertama hanya ada 1 rivet. Kita
gunakan rumus :
Pbaris1 = (w n d)t. t all
Dimana :
w = lebar pelat = 7 inch
n = jumlah rivet pada barisan (barisan 1 , 1 rivet)
d = diameter rivet = 5/8 inch
t = tebal dari pelat = inch
t all = tegangan tarik maksimum yang diizinkan dari material pelat =
22.000 lb/in2
Pbaris1 = (7 1.5/8) (). 22,000 lb/in2 = 105.200 lb.

Langkah 2 : Hitung beban maksimum, dimana 1 rivet dapat


menahan rivet shear (karena gaya geser). Kita gunakan rumus :
Privet shear = N (.d2/4).all
Dimana :
N = jumlah area bidang geser. Untuk sambungan bilah ganda ada 2
area bidang geser, sehingga N =2 .
d = 5/8
all = 15.000 lb/in2.
Privet shear = 2 (3,1416 . (5/8)2/4) . 15.000 lb/in2 = 9.200
lb./rivet
Langkah 3 : Hitung beban maksimum dimana 1 rivet (atau material
pelat di belakang rivet) dapat menahan bearing (beban kompresi).
Pbearing = N (d,t) c all
Dimana :
N = jumlah rivet yang mengalami kompresi = 1
d = diameter rivet = 5/8 inch
t = tebal pelat = inch.
c all = tegangan tekan paling kecil yang diizinkan dari rivet atau
pelat = 24.000 lb./in2
Pbearing = 1 . [(5/8).(3/4)]. 24,000 lb/in2 = 11.250 lb/rivet.

Langkah 4 : Bagilah hasil yang didapatkan pada langkah 1, yaitu


beban pada saat pelat sobek, dengan beban yang paling kecil, hasil
dari langkah 2 dan 3, dan bulatkan hasilnya , akan menghasilkan
sambungan yang sangat effisien.
Jumlah Rivet = 105,200 lb./9200lb./rivet = 11,43; dibulatkan
menjadi 12.
Bagian B :
Kita gunakan jumlah rivet yang telah dicari pada bagian A untuk
menentukan pola terbaik dari sambungan . Dari diagram1 di atas,
kita pilih pola sambungan berimpit dengan jumlah rivet yang sesuai.
(lihat diagram 3)

Bagian C :
Akhirnya, dengan menggunakan pola sambungan yang dipilih, kita
hitung kekuatan dan effisiensi dari sambungan.
1. Rivet Shear : Kita sudah tentukan/hitung bahwa 1 rivet dapat
menahan beban 9.200 lb/rivet, sehingga sambungan dapat
menahan beban total pada rvet shear adalah hasil dari jumlah
rivet dengan beban yang diizinkan per rivet :
P shear = 12 . 9200 lb./rivet = 110.400 lb.
2. Bearing Failure (kegagalan karena kompresi):
Kita sudah menghitung beban yang diizinkan per rivet dalam
kompresi = 11250 lb/rivet. Jadi total beban yang dapat ditahan
sambungan dalam beban kompresi :
P bearing = 12 . 11250 lb/rivet = 135.000 lb.
3. Plate Tearing (Pelat Sobek), baris 1:
Pada langkah 1 di atas, kita sudah menghitung
Pbaris1 = (7 1.5/8).(3/4). 22.000 lb./in2 = 105.200 lb
Akan tetapi, karena kita sudah menentukan pola dari sambungan,
kita juga perlu menghitung sobeknya pelat pada baris 2 dan juga
baris 3.

4. Plate Tearing (pelat sobek) pada baris 2 :


Baris ke2 menahan 11/12 dari beban, sehingga dapat kita tulis :
(11/12)Pbaris2 = (7 -2.5/8).(3/4).22.000 lb./in2 = 94,875 lb.,
sehingga
Pbaris2 = (12/11). 94.875 lb = 103.500 lb.
Catatan :
Karena hasil perhitungan ini merupakan yang terrendah untuk
menghasilkan kegagalan, sehingga disebut : Kekuatan dari
Sambungan.
Kita harus tetap menghitung beban pada baris 3
5. Pelat sobek baris 3 :
Baris 3 menahan 9/12 dari beban, sehingga dapat kita tulis :
(9/12)Pbaris3 = (7 2.5/8).(3/4).22,000 lb/in2 = 94.875 lb
dan kemudian :
Pbaris3 = (12/9). 94875 lb = 126.500 lb.
Karena beban ini lebih besar dari beban yang dapat menghasilkan
kegagalan pada baris2, maka perhitungan selanjutnya dihentikan.
Kita dapatkan Kekuatan dari Sambungan (Strength of the Joint),
adalah 103.500 lb (pelat sobek pada baris 2)
Effisiensi : Kekuatan Sambungan/Kekuatan Pelat =
103.500 lb. /(7 . ) . 22,000 lb/in2 = 0,896 = 89,6 %.

Soal Latihan :
1. Sebuah sambungan berhimpit (lap joint) seperti pada
diagram 1 di bawah. Diameter rivet 1 inch, lebar pelat 12
inch dan ketebalan pelat 5/8 inch. Tegangan yang diizinkan
adalah sebagai berikut :
Rivet : = 20.000 lb./in2 ; t = 26.000 lb./in2 ; c = 28.000
lb./in2.
Pelat : = 17.000 lb./in2 ; t = 22.000 lb./in2 ; c = 24.000
lb./in2.
Tentukan Kekuatan Sambungan dan Effisiensi Sambungan!

2. Sambungan bilah ganda (butt joint) seperti gambar diagram


2 di bawah menghubungkan 2 pelat baja, dimana lebar
keduanya adalah 9 inch dan tebalnya 7/8 inch. Rivet yang
digunakan mempunyai diameter inch.
Tegangan maksimum yang diizinkan untuk rivet dan pelat
adalah sebagai berikut :
Rivet : = 17.000 lb./in2 ; t = 22.000 lb./in2 ; c = 23.000
lb./in2
Pelat : = 18.000 lb./in2 ; t = 24.000 lb./in2 ; c = 26.000
lb./in2
a. Tentukan jumlah rivet untuk mendapatkan sambungan
yang effisien.
b. Pilihlah pola sambungan yang terbaik berdasarkan
diagram 3.
c. Hitung kekuatan dan effisiensi dari sambungan.

3. Sambungan bilah ganda (butt joint) seperti gambar diagram


2 di bawah menghubungkan 2 pelat baja, dimana lebar
keduanya adalah 10 inch dan tebalnya 1 inch. Rivet yang
digunakan mempunyai diameter 5/8 inch.
Tegangan maksimum yang diizinkan untuk rivet dan pelat
adalah sebagai berikut :
Rivet : = 18.000 lb./in2 ; t = 23.000 lb./in2 ; c = 24.000
lb./in2
Pelat : = 19.000 lb./in2 ; t = 25.000 lb./in2 ; c = 27.000
lb./in2
a. Tentukan jumlah rivet untuk mendapatkan sambungan
yang effisien.
b. Pilihlah pola sambungan yang terbaik berdasarkan
diagram 3.
c. Hitung kekuatan dan effisiensi dari sambungan.