Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Definisi
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue sejenis
virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti
(betina). Penyakit ini sering menyerang anak-anak, remaja maupun dewasa.
B. Etiologi
1.

Virus Dengue
Virus dengue tergolong dalam family Flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1&2 ditemukan di

Irian ketika berlangsungnya perang dunia II, sedangkan dengue 3 & 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina
tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter
dan natrium dioksilat, stabil pada suhu 700C. Dengue merupakan serotype yang paling banyak beredar.
2.

Ciri-ciri nyamuk DBD

Adapun ciri-ciri nyamuk aedes aegypti adalah :


a.

Badannya kecil, badannya mendatar saat hinggap

b.

Warnanya hitam dan belang-belang

c.

Menggigit pada pagi sampai sore hari. Aktivitas menggigit yaitu antara pukul 08.00 sampai 10.00 pagi
dan pukul 16.00 sampai 18.00. malam hari nyamuk lebih suka bersembunyi di sela-sela pakaian yang
tergantung, terutama dinding yang gelap/lembab.

d.

Gemar hidup di tempat tempat yang gelap

e.

Jarak terbang <100 meter dan senang mengigit manusia

f.

Bersarang di bejana-bejana berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng
bekas. Nyamuk ini tidak dapat berkembang biak di selokan atau got.

g.

Nyamuk ini tergolong antropilik yaitu suka darah manusia. Berbeda dengan spesies nyamuk lain yang
biasanya sudah puas menggigit satu orang saja, maka nyamuk aedes mempunyai kebiasaan menggigit
berulang yaitu menggigit beberapa orang secara bergabtian dalam waktu singkat, sehingga semakin
cepat proses penularan terjadi.

h.
3.

Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk sekitar 10 hari

Daur hidup Aedes Aegypti


a.

Nyamuk betina meletakkan telurnya didinding tempat penampungan air atau barang-barang yang
memungkinkan air tergenang sedikit di bawah permukaan air yang jernih. Seekor sekali bertelur sekitar
100 butir.

b.

Perkembangan telur sampai menjadi nyamuk memerlukan waktu 7 10 hari

c.

Tiap 2 hari nyamuk betina menghisap darah manusia untuk bertelur, bagi nyamuk arah manusia
berguna untuk mematangkan telur, agar dapat dibuahi pada saat perkawinan, biasanya 4 hari setelah
menghisap darah, telur dikeluarkan.

d.

Untuk nyamuk betina dapat bertahan sampai 2 3 bulan.

C. Patofisiologi
Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali mungkin
memberi gejala demam. Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, karena viremia seperti demam, sakit
kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hyperemia di tenggorok, timbulnya ruam dan kelainan yang
mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati, dan limfa.
Ruam pada DBD disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dengan DHF
ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotinin serta
aktivasi sistem kalikten yang berakibat mengurangnya volume palsma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, efusi dan renjatan.Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat-saat
permulaan demam dan mencapai puncaknyapada saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume
plasma dapat menurun sampai lebih dari 30%.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam
rongga serosa, yaitu rongga peritoneum, pleura dan perikard yang pada autopoi ternyata melebihi jumlah cairan
yang telah diberikan sebelumnya melalui infus. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan
plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.
Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastis setelah pemberian plasma/ekspander
plasma yang efektif, sedangkan pada autopsi tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif
atau akibat radang, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin
disebabkan mediator farmakolgis yang bekerja singkat. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat,
yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak teratasi. Perdarahan pada DHF umumnya
dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan sistem koagulasi.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses immunologis terbukti dengan
terdapatnya kompleks immun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan diantaranya oleh
kerusakan hati yang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktivasi sistem koagulasi.

Trombositopenia yang dihubungkan dengan menungkatnya mega karoisit muda dalam sus-sum tulang
dan pendeknya masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya destruksi trombosit. Penyidikan
dengan radioisotop membuktikan bahwa penghancuran trombosit terjadinya dalam sistem retikuloendotelial.
D. Gambaran Klinis
1.

Panas tinggi mendadak terus-menerus selama 2 7 hari, sakit kepala, pusing, nyeri otot, mual dan muntah,
tampak lemah dan lesu.

2.

Hati membesar

3.

Asites

4.

Muncul bintik-bintik merah pada kulit seperti bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya, kulit
diregangkan dan ditekan tidak mau hilang. Bila bintik-bintik merah itu hilang berarti bukan DBD

5.

Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan) dan gusi berdarah

6.

Mungkin terjadi muntah darah atau berak darah

7.

Bila tidak diobati penderita kan mengeluh nyeri ulu hati karena terjadi perdarahan di lambung

8.

Bila sudah parah pasien akan gelisah, ujung tangan dan kaki dingin dan berkeringat. Bila tidak segera
ditolong (Rumah Sakit) dalam 2 3 hari dapat tidak tertolong.

E.

Klasifikasi/Derajat DHF
Derajat demam berdarah dengue terbagi atas:
1.

Derajat I (ringan)
Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, trombositopenia dan
hemokonsentrasi, serta tourniquet positif.

2.

Derajat II (sedang)
Sama dengan derajat I ditambah dengan ditemukan pula gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie,
ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.

3.

Derajat III
Ditemukan tanda-tanda dini renjatan : nadi lemah dan tensi yang rendah.

4.

Derajat IV
Ditemukan dengue shock syndrome dengan tensi dan nadi yang tak terukur, anggota gerak teraba dingin,
berkeringat dan kulit tampak biru.

F.

Pemeriksaan Diagnostik
1.

Patokan WHO untuk menegakkkan diagnosis DHF


a.

Demam mendadak, terus-menerus 2-7 hari.

b.

Manifestasi perdarahan baik melalui uji tourniquet maupun perdarahan spontan pada kulit (petekie,
ekimosis, memar) dan/atau di tempat lain seperti epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan
melena.

c.

Hepatomegali

d.

Renjatan, ditandai nadi cepat dan lemah tak teraba, tekanan darah menyempit (<20mmHg) atat
hipotensi (<80mmHg) sampai tak terukur, kulit dingin, lembab dan malaise.

e.
2.

Kenaikan nilai hematokrit/hemokonsentrasi

Laboratorium
a.

Trombositopenia : Trombosit < 150.000/mm 3, penurunan progresif pada pemeriksaan periodik dan
waktu perdarahan memanjang.

3.

b.

Leukopenia

c.

Hemokonsentrasi : Hematokrit saat MRS>20% atau meningkat progresif pada pemeriksaan periodik.

Pemeriksaan penunjang
a.

Foto toraks lateral dekubitus kanan


Terdapat efusi pleura dan bendungan vaskuler

b.

Darah rutin
Hb, leukosit, hitung jenis (limfosit plasma biru 6-30%)

c.

Waktu perdarahan

G. Diagnosis Banding
Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti :
1.

Demam cikungunya
Dimana serangan demam lebih pendek tapi suhu diatas 40 derajat disertai ruam dan infeksi konjungtiva,
ada rasa nyeri sendi dan otot.

2.

Demam thyfoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif, adanya leukopenia, limfositosis
relatif

3.

Anemia aplastik
Penderita tampak anemis timbul juga perdarahan pada stadium lanjut, demam timbul karena infeksi
sekunder, pemeriksaan darah tepi menunjukkan pansitopenia

4.

Purpura trombositopenia idiopati


Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat umumnya lebih cepat menghilang dan
tidak terjadi hemokonsentrasi. S

H. Penatalaksanaan
Setiap pasien tersangka DF atau DHF sebaiknya dirawat di tempat terpisah dengan pasien lain,
seyogyanya pada kamar yang bebas nyamuk. Penatalaksanaannya adalah:
1.

Tirah baring

2.

Makanan lunak
Bila belaum ada nafsu makan dianjurkan munum banyak 1,5-2 liter /24 jam (susu,air gula, sirop)

3.

Medikamentosa yang bersifat simtomatis

4.

Antibiotik diberikan bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder

5.

Perlu diobservasi teliti terhadap penemuan dini tanda renjatan yaitu:


a.

Keadaan umum memburuk

b.

Hati makin membesar

c.

Masa perdarahan memanjang

d.

Hematokrit meninggi pada pemeriksaan berkala.


Terapi untuk pengganti cairan yaitu:

a)

DBD tanpa renjatan


Minum banyak 11/2 liter perhari
Cairan intravena bila :

Penderita muntah-muntah terus

Intake tidak terjamin

Pemeriksaan berkala Hmt cenderung meningkat terus.

Jenis cairan: RL atau asering 5, 10 mL/KgBB/24 jam.


b)

DBDdengan renjatan
Derajat IV : Infus asering 5/RL diguyur 100-200 mL sampai nadi teraba serta tensi terukur,
biasanya sudah tercapai dalam 15-30 menit.
Derajat III: Infus asering 5/RL dengan kecepatan tetesan 20 mL/KgBB/ jam. Setelah renajatan
teratasi:
Tekanan sistol > 80mmHg
Nadi jelas terasa
Amplitudo nadi cukup besar.
Kecepatan tetesan diubah 10mL/KgBB/jam selama 4-6 jam. Bila keadaan umum baik, jumlah
cairan sekitar 5-7 mL/KgBB/jam. Jenis RL: Dextrose 5% =1:1. Infus dipertahankan 48 jam setelah
renjatan.

I.

Pencegahan
Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap cara paling memadai saat ini.
Vektor dengue khususnya Aedes aegypti sebenarnya mudah diberantas karena sarangnya terbatas di tempat
yang berisi air bersih dan jarak terbangnya maksimal 100 meter. Tetapi karena vektor tersebut luas, untuk
keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage agar nyamuk tak dapat berkembang biak lagi.
Cara pemberantasan vektor:
1.

Menggunakan insektisida
Yang lazim dipakai adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk
membunuh jentik. Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan (thermal fogging) atau pengabutan
(cold fogging).

2.

Tanpa insektisida
a.

Menguras bak mandi, tempayan, dan tempat-tepat penampungan air minimal 1 kali seminggu.

b.

Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.

c.

Membersihkan/mengubur kaleng-kaleng bekas, botol-botol pecah dan benda-benda lain yang


memungkinkan nyamuk bersarang.

d.

Memangkas pohon atau tanaman hias tempat nyamuk bisa bersarang.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1.

Aktivitas/istirahat
Malaise

2.

Sirkulasi
Tekanan darah di bawah normal, denyut perifer melemah, takikardi, susah teraba
Kulit hangat, kering, pucat, kemerahan/ bintik merah, perdarahan bawah kulit

3.

Eliminasi
Diare atau konstipasi

4.

Makanan/ cairan
Anoreksia, mual, muntah
Penurunan berat badan, punurunan haluaran urine, oligouria, anuria.

5.

Neurosensori
Sakit kepala, pusing, pingsan
Ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium.

6.

Nyeri/ Ketidaknyamanan
Kejang abdominal, lokalisasi area sakit

7.

Pernapasan
Takipneu dengan penurunan kedalaman pernapasan, suhu meningkat, menggigil

8.

Penyuluhan/ pembelajaran
Masalah kesehatan, penggunaan obat-obatan atau tindakan

B. Diagnosa Keperawatan
1.

Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses penyakit/ viremia

2.

Nyeri sehubungan dengan proses patologi penyakit

3.

Defisit volume cairan tubuh sehubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake
tidak adekuat

4.

Risiko tinggi terjadinya perdarahan sehubungan dengan trombositopenia.

5.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual, muntah,
anoreksia.

6.

Intoleransi aktifitas sehubungan dengan kelemahan

7.

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF sehubungan dengan
kurangnya informasi.

C. Rencana Keperawatan
1.

Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan proses penyakit/ viremia

Tujuan : Klien tidak mengalami demam, suhu tubuh normal (36 0 370)
Intervensi:
a.

Kaji saat timbulnya demam


R/ Untuk menidentifikasi pola demam klien dan sebagai indikator untuk tindakan selanjutnya.

b.

Observasi tanda tanda vital klien : suhu, nadi, tensi, pernapasan, tiap 4 jam atau lebih sering
R/ Tanda tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

c.

Beri penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh


R/ Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu klien/keluarga mengurangi
kecemasan yang timbul.

d.

Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan.
R/ Penjelasan yang diberikan akan memotivasi klien untuk kooperatif.

e.

Menganjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 ltr/24 jam dan jelaskan manfaatnya bagi pasien.
R/ Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan asupan cairan yang banyak.

f.

Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla


R/ Pemberian kompres akan membantu menurunkan suhu tubuh.

g.

Catat intake dan out put.


R/ Untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan tubuh.

h.

Kolaborasi: Pemberian antipiretik


R/ Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

2.

Nyeri sehubungan dengan proses patologi penyakit


Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi, nyeri berkurang atau hilang, klien tampak rileks.
Intervensi:
a.

Kaji tingkat nyeri yang dialami klien.


R/ Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.

b.

Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri (budaya, pendidikan,dll)
R/ Reaksi klien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dengan mengetahui faktor
tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi sesuai masalah klien.

c.

Berikan posisi nyaman, dan citakan lingkungan yang tenang.


R/ Untuk mengurangi rasa nyeri

d.

Berikan suasana gembira bagi klien, lakukan teknik distraksi, atau teknik relaksasi.
R/ Dengan teknik distraksi atau relaksasi, klien sedikit melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang
dialami.

e.

Beri kesempatanklien untuk berkomunikasi dengan orang terdekat.


R/ Berhubungan dengan orang terdekat dapat membuat klien teralih perhatiannya dari nyeri yang
dialami.

f.

Kolaborasi: Berikan obat-obat analgetik


R/ Obat analgetik dapat mengurangi atau menekan nyeri klien.

3.

Defisit volume cairan tubuh sehubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake
tidak adekuat
Tujuan : Terjadi homeostatis volume cairan, tanda tanda vital dalam batas normal, tidak terjadi defisit cairan..
Intervensi:
a.

Kaji keadaan umum klien 9pucat, lemah, taki kardi), serta tanda tanda vital.
R/ menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya.

b.

Observasi adanya tanda tanda syok


R/ Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien.

c.

Anjurkan klien untuk banyak minum


R/ asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh.

d.

Kaji tanda dan gejala dehidrasi/hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek)
R/ Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan

e.

Kaji masukan dan haluaran cairan.


R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.

f.

Kolaborasi : Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi.


R/ Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume cairan dengan
keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.

4.

Risiko tinggi terjadinya perdarahan sehubungan dengan trombositopenia.


Tujuan : Tidak terjadi tanda tanda perdarahan lebih lanjut dan terjadi peningkatan trombosit> 150.000
Intervensi:
a.

Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.


R/ Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap
tertentu dapat menimbulkan perdarahan.

b.

Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.


R/ Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi padaklien dan dapat membantu
mengantisipasi terjadinya perdarahan.

c.

Anjurkan klien untuk banyak istirahat


R/ Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

d.

Beri

penjelasan

pada

klien/keluarga

untuk

segera

melaporkan

tanda-tanda

perdarahan

(hematemesis,melena, epistaksis)
R/ Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan sedini mungkin.
e.

Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hati-hati)

R/ Klien dengan trombositopenia rentan terhadap cedera/perdarahan.


5.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual, muntah,
anoreksia.
Tujuan : kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, klien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang
diberikan.
Intervensi:
a.

Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien
R/ Untuk menetapkan cara mengatasinya.

b.

Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien


R/ Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien.

c.

Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.

d.

Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering


R/ Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam porsi banyak.

e.

Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit.


R/ UntukMeningkatkan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat

f.

Berikan umpan balik positif saat klien mau berusaha mengahiskan makannya.
R/ Memotivasi dan meningkatkan semangat klien.

g.

Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien


Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien.

h.

Ukur berat badan kilen tiap hari.


R/ Untuk mengetahui status gizi klien.

6.

Intoleransi aktifitas sehubungan dengan kelemahan


Tujuan : Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi
Intervensi:
a.

Mengkaji keluhan klien


R/ Untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien.

b.

Kaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan degan kelemahan fisiknya.
R/ Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya.

c.

Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan klien seperti mandi,
makan, eliminasi.
R/ Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah tanpa membuat klien
mengalami ketergantungan pada perawat.

d.

Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya.


R/ Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan.

e.

Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau oleh klien.


R/ akan membantu klien memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.

7.

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF sehubungan dengan
kurangnya informasi.
Tujuan : Pengetahuan klien/keluarga tentang proses penyakit, diet, perawatan meningkat sehingga
klien/keluarga memperlihatkan perilaku yang kooperatif.
Intervensi:
a.

Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF


R/ Sebagai data fdasar pemberian informasi selanjutnya.

b.

Kaji latar belakang pendidikan klien/ keluarga.


R/ Untuk memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga sehingga dapat
dipahami.

c.

Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan bahasa dan
kata-kata yang mudah dimengerti.
R/ agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehinggfa tidak terjadi kesalahpahaman.

d.

Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.
R/ Dengan mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya, klien akan kooperatif
dan kecemasannya menurun.

e.

Berikan kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yangingin diketahui sehubungan
dengan penyakit yang diderita klien.
R/ mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.

f.

Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan.


R/ Untuk membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat dilihat/ dibaca berulang
kali.

DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2007. Demam Berdarah (http://www.infeksi.com (online)), diakses
tanggal 22 Juni 2009
Anonym. 2008. Dengue Haemorragiv Fever (DHF)
(http://www.klikdokter.com (online)), diakses tanggal 22 Juni 2009
Doengoes, ME. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Fefendi. 2008. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Demam Berdarah Dengue
(http://www.indonesiannursing.com (online)), diakses tanggal 22 Juni 2009
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC