Anda di halaman 1dari 21

Bab III

Analisis Lingkungan Bisnis


3.1

Economic Development Environment


Isu
Perubahan indikator-indikator ekonomi pembangunan digunakan sebagai isu utama.
Perubahan yang terjadi pada indikator-indikator ini pada akhirnya akan mengubah
lingkungan ekonomi pembangunan yang pada dasarnya menjadi salah satu lingkungan
eksternal suatu bisnis yang berpengaruh besar terhadap aktivitas bisnis. Berikut adalah
tabel yang menunjukan terjadinya perubahan pada indikator-indikator ekonomi
pembangunan yang digunakan dalam analisis mengenai pengaruh perkembangan ekonomi
terhadap perusahaan yang bergerak di industri perbankan :
Tabel 3.1. Indikator Perkembangan Ekonomi

No.

Variabel

1
2

Produk Domestik Bruto per kapita


Konsumsi Rumah Tangga (Makanan)
Konsumsi Rumah Tangga (Non-

3
4
5
6

Makanan)
Tingkat Pengangguran Terbuka
Persentase Rumah Tangga Status
Kepemilikan Rumah Milik Sendiri
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke

7
8

Atas yang Melek Huruf


Persentase Penduduk Miskin
Human Development Index

Kredit Investasi Perbankan

10

Kredit Modal Kerja

Tahun

Ket.

2011/2012
Rp 33.531.354,56
51.08

2012/2013
Rp 36.508.486,32
50.66

Naik
Turun

48.92

49.34

Naik

6.14

5.92

Turun

78,77%

80,18%

Naik

93.25%

93.92%

Naik

11,66%
73,29
591.073
(Miliar Rupiah)
1.325.357
(Miliar Rupiah)

11,37%
73.81
794.128
(Miliar Rupiah)
1.593.281
(Miliar Rupiah)

Turun
Naik
Naik
Naik

Sumber: Data Badan Pusat Statistik

Pembahasan
Berdasarkan indikator moneter yaitu Produk Domestik Bruto per kapita yang
mengalami peningkatan, terjadi penurunan pada persentase penduduk miskin yang diikuti
dengan penurunan tingkat pengangguran dan peningkatan tingkat pendidikan yang dapat
dilihat dari meningkatnya jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf.
Dengan menurunnya persentase penduduk miskin, dapat mendorong daya beli masyarakat

yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Daya beli masyarakat yang semakin tinggi
dapat meningkatkan pertumbuhan pada industri, dalam hal ini adalah industri perbankan.
Daya beli masyarakat yang semakin tinggi dan pendidikan yang lebih baik dapat membuat
masyarakat menyadari akan pentingnya perbankan sehingga dapat mendorong masyarakat
untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dengan cara mengajukan kredit kepada
perbankan. Masyarakat dapat mengajukan kredit kepada perbankan seperti yang terlihat
pada kredit investasi perbankan dan kredit modal kerja yang mengalami peningkatan.
Berdasarkan indikator non-moneter, tingkat pengangguran terbuka mengalami
penurunan, sebaliknya persentase rumah tangga dengan status kepemilikan rumah milik
sendiri mengalami peningkatan dan diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk berumur
15 tahun ke atas yang melek huruf. Adanya peningkatan pada indikator pendidikan dan
indikator perumahan serta penurunan pada tingkat pengangguran terbuka dapat menjadi
indikator yang menunjukkan bahwa terjadi perbaikan pada perekonomian yang dapat
mengarah pada perkembangan ekonomi di Indonesia.
Menurunnya tingkat pengangguran serta meningkatnya kepemilikan rumah milik
sendiri dapat menjadi indikator bahwa terjadi peningkatan kemampuan daya beli
masyarakat Indonesia. Meningkatnya indikator pendidikan yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah penduduk di atas umur 15 tahun yang melek huruf dapat
berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pengangguran. Masyarakat yang sudah melek
huruf sekarang mampu untuk mencari pekerjaan sehingga pengangguran mengalami
penurunan. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat yang
dilihat dari peningkatan konsumsi rumah tangga masyarakat pada non-makanan, sebaliknya
konsumsi rumah tangga masyarakat pada makanan mengalami penurunan. Kedua indikator
tersebut berbanding terbalik karena pada saat ini kecenderungan masyarakat Indonesia
mulai banyak melakukan pemenuhan kebutuhan pada kebutuhan non-makanan seperti
sandang dan papan sehingga konsumsi rumah tangga pada makanan cenderung mengalami
penurunan. Kondisi tersebut semakin dikuatkan dengan peningkatan Human Development
Index atau yang lebih dikenal dengan Indeks Pengembangan Manusia yang dapat menjadi
indikator tingkat kesejahteraan manusia dan keberhasilan pembangunan manusia yang
dapat mengarah pada perkembangan ekonomi.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan

Berdasarkan analisis di atas, ditemukan adanya peluang bagi PT. BPR Universitas
Gadjah Mada untuk dapat mengembangkan usahanya, meningkatkan aktivitas pelayanan
jasa kepada para nasabah dikarenakan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kredit
sebagai akibat dari peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan

konsumsi rumah

tangga non-makanan seperti sandang dan papan, dan indikator-indikator lainnya yang
mendukung. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Menteri Keuangan Bambang P. S.
Brodjonegoro bahwa kebutuhan sekunder telah terjangkau bagi segenap warga Indonesia
terutama dalam pemenuhan kebutuhan perumahan namun masih terdapat kesulitan karena
terbatasnya akses untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun lembaga keuangan
lainnya1. Ancaman yang dapat timbul adalah terjadinya kredit macet yang diakibatkan oleh
debitur yang gagal membayar kredit. Melihat peluang dan ancaman yang terjadi, PT. BPR
Universitas Gadjah Mada dalam memberikan kredit kepada calon debitur harus memitigasi
risiko yang akan terjadi dengan menjaga tingkat NPL agar tetap di bawah 5%.
3.2 Regional Economy Environment
Isu
Lingkungan ekonomi regional juga memberikan pengaruh yang besar bagi aktivitas
bisnis perusahaan. Perubahan indikator-indikator aktivitas ekonomi di tingkat regional
menunjukan adanya perubahan lingkungan ini. Penulis mengambil indikator-indikator
terkait pertumbuhan ekonomi di D.I. Yogyakarta, yang menjadi isu utama dalam
lingkungan ini. Berikut adalah tabel yang menunjukan pertumbuhan ekonomi yang terjadi
di D.I. Yogyakarta :
Tabel 3.2. Indikator Ekonomi Regional Propinsi D.I. Yogyakarta
No.

Variabel

Tahun
2011

2012

Ket.

Produk Domestik Regional Bruto


(PDRB) atas dasar Harga Berlaku

57031,75
(miliar rupiah)

63690,32
(miliar rupiah)

Naik

Produk Domestik Regional Bruto


(PDRB) atas dasar Harga Konstan

23308,56
(miliar rupiah)

24567,48
(miliar rupiah)

Naik

4
Tingkat Pengangguran Terbuka
3,97%
Sumber: Data Badan Pusat Statistik Diakses 19 Maret 2015 pukul 11.43 WIB

3,34%

Turun

Pembahasan
1Situs Resmi Kementrian Keuangan. http://www.kemenkeu.go.id/Berita/menkeu-kenaikan-pendapatankapita-tingkatkan-daya-beli-perumahan. Diakses pada tanggal 2 April pukul 19.28 WIB.

Peningkatan PDRB di D.I. Yogyakarta membuat pemerintah setempat mampu untuk


meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana atau infrastruktur daerahnya. Kondisi
infrastruktur suatu daerah menjadi hal penting yang harus dipertimbangkan suatu
perusahaan jika akan melakukan investasi di suatu wilayah. Infrastruktur yang membaik
akan menarik para investor untuk melakukan investasi di daerah tersebut. Semakin banyak
investasi masuk maka kegiatan bisnis akan semakin lancar sehingga struktur biaya suatu
perusahaan terkait operasional bisnis di wilayah tersebut akan semakin baik. Kondisi
tersebut selanjutnya akan meningkatkan jumlah dan aktivitas industri serta perdagangan.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang yang terjadi dengan adanya peningkatan PDRB dan penurunan tingkat
pengangguran terbuka bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada adalah dengan semakin
banyaknya kegiatan bisnis dapat menjadi peluang bagi bank untuk menyalurkan kredit.
Sedangkan, ancaman yang dapat terjadi adalah PT. BPR Universitas Gadjah Mada bersaing
dengan bank lain dalam pemberian kredit sehingga kesempatan untuk mendapatkan
keuntungan menjadi berkurang. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh
meningkatnya PDRB dan menurunnya tingkat pengangguran terbuka, PT. BPR Universitas
Gadjah Mada perlu untuk melakukan inovasi produk dan memberlakukan suku bunga yang
kompetitif agar dapat menarik nasabah.
3.3

Monetary and Fiscal Policies Environment


Isu
Penetapan BI Rate yang dilakukan oleh Bank Indonesia dapat berpengaruh terhadap
kegiatan perbankan. Di sisi lain, apabila terjadi perubahan pada pajak pendapatan
perorangan juga dapat berpengaruh terhadap kegiatan perbankan.
Pembahasan
Bank Indonesia menetapkan BI Rate sebesar 7,5% per April 20152 , hal ini dapat
menyebabkan bank dapat menaikkan suku bunga simpanan maupun suku bunga pinjaman.
Kenaikan suku bunga simpanan akan mendorong masyarakat untuk menunda kegiatan
konsumsi mereka dan beralih untuk menyimpan uang mereka di bank. Untuk menghindari
agar margin tidak tertekan, bank perlu untuk menaikkan suku bunga pinjaman, namun
dengan menaikkan suku bunga pinjaman akan muncul masalah baru yaitu muncul risiko
kredit bermasalah.

2 Situs Resmi Bank Indonesia. http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-rate/data/Default.aspx. Diakses pada


tanggal 11 Mei 2015 pukul 10.00 WIB.

Di sisi lain, apabila pemerintah menurunkan pajak pendapatan perorangan maka akan
terjadi peningkatan konsumsi masyarakat, hal yang sama berlaku sebaliknya yaitu apabila
pemerintah menaikkan pajak pendapatan perorangan maka konsumsi masyarakat akan
menurun. Ketika pemerintah menurunkan pajak pendapatan perorangan dan mendorong
konsumsi masyarakat, pendapatan yang lebih tinggi meningkatkan permintaan uang yang
akan cenderung menaikkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi membuat pinjaman
menjadi lebih mahal sehingga menurunkan investasi.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang yang dapat terjadi dikarenakan oleh penetapan BI Rate dan perubahan pada
pajak perorangan adalah masyarakat akan lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank
karena ada kenaikkan BI Rate. Ancaman yang dapat terjadi adalah apabila terjadi
penurunan pada BI Rate maka nasabah akan menarik uangnya keluar. Sedangkan apabila
terjadi perubahan pada pajak pendapatan perorangan maka akan berpengaruh terhadap
keputusan investasi. Melihat peluang dan ancaman yang hadir, PT. BPR Universitas Gadjah
Mada perlu untuk menjaga likuiditasnya dengan cara mendapatkan dana dari pihak ketiga
maupun dari bank umum.
3.4 Industry and Sectoral Policies Environment
Isu
Kebijakan di bidang perbankan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan
ditujukan untuk memperbaiki struktur pasar agar menjadi semakin kokoh, efisien, dan lebih
transparan sehingga dapat memberi manfaat bagi perekonomian yang berkelanjutan 3.
Selain kebijakan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, Gubernur Bank Indonesia
mengeluarkan arah kebijakan perbankan tahun 2015 dan menargetkan ekonomi Indonesia
pada tahun 2015 dapat mencapai 5,4%-5,8% dengan defisit transaksi berjalan yang
membaik.
Pembahasan
Otoritas Jasa Keuangan merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengatur dan
mengawasi kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan merupakan
lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang memiliki fungsi,
tugas, wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksanan, dan penyidikan. Kebijakan di
bidang perbankan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan antara lain :
3Situs resmi Otoritas Jasa Keuangan. http://www.ojk.go.id/ojk-rilis-enam-kebijakan-perbankan#. Diakses
pada tanggal 28 Maret 2015 pukul 11.00

1. POJK tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan


2. POJK tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi bagi Konglomerasi
Keuangan
3. POJK tentang Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif
(Laku Pandai)
4. POJK tentang Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
5. POJK tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Perbankan Syariah
6. POJK tentang Kualitas Aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
Tujuan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan ini adalah untuk
memperbaiki struktur pasar agar menjadi semakin kokoh, efisien, dan lebih transparan
sehingga dapat memberi manfaat bagi perekonomian yang berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia mengeluarkan arah kebijakan perbankan tahun 2015 yaitu
inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Selain itu, Bank Indonesia
menargetkan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 dapat mencapai 5,4%-5,8% dengan
defisit transaksi berjalan yang membaik4..
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan arah
kebijakan perbankan yang dikeluarkan oleh Gubernur Bank Indonesia, peluang bagi PT.
BPR Universitas Gadjah Mada adalah dengan adanya Otoritas Jasa Keuangan maka proses
bisnis yang dilakukan oleh PT. BPR Universitas Gadjah Mada menjadi lebih terkontrol dan
turut berkontribusi dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia dengan mengikuti arah
kebijakan perbankan. Ancaman yang akan terjadi adalah apabila terjadi risiko sistemik
pada industri perbankan maka dapat terjadi kemungkinan bahwa risiko sistemik tersebut
akan berdampak pada proses bisnis yang dilakukan oleh PT. BPR Universitas Gadjah
Mada. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh kebijakan-kebijakan
yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, PT. BPR
Universitas Gadjah Mada tetap harus mengikuti kebijakan regulator yaitu Otoritas Jasa
Keuangan dan mengikuti arah kebijakan perbankan Bank Indonesia.
3.5 Domestic Political Environment
Isu
Pemilu Presiden yang diselenggarakan pada tahun 2014 lalu mendorong percepatan
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Percepatan pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh
4 Situs resmi tabloid Kontan. http://nasional.kontan.co.id/news/ini-arah-kebijakan-bi-di-2015. Diakses
pada tanggal 28 Maret 2015 pukul 11.30

konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi
yang dibantu peningkatan konsumsi karena pemilu akan menghadapi tantangan kebijakan
pengetatan kredit rumah tangga dan meningkatnya harga komoditas
Pembahasan
Bank Indonesia merilis laporan Tinjauan Kebijakan Moneter tahun 2014 yang terdiri
dari berbagai indikator dini dan indikator penuntun yang mengindikasikan percepatan
pertumbuhan ekonomi5. Percepatan pertumbuhan ekonomi ini bersumber dari peningkatan
konsumsi rumah tangga seiring dengan belanja pemilu, namun pengaruh pelaksanaan
pemilu terhadap konsumsi rumah tangga tidak sekuat pengaruh yang terjadi pada periodeperiode sebelumnya. Percepatan pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh konsumsi rumah
tangga dan konsumsi pemerintah yang meningkat.
Konsumsi masih menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan
ekonomi yang dibantu peningkatan konsumsi karena pemilu akan menghadapi tantangan
kebijakan pengetatan kredit rumah tangga dan meningkatnya harga komoditas. Bank
Indonesia membuat kebijakan yang membatasi kredit rumah tangga dapat memperlambat
konsumsi domestik yang akan menekan pertumbuhan ekonomi. Kredit konsumsi yang
mencakup sebesar 25% dari total kredit turun paling tajam dibandingkan kredit modal kerja
maupun kredit ekspor. Pertumbuhan kredit konsumsi seperti pembelian mobil, sepeda
motor, dan rumah melambat sebesar 20% pada akhir tahun 2014. Adanya kebijakan yang
diberlakukan oleh Bank Indonesia dapat menjadi ancaman bagi perusahaan terutama
perbankan dalam memberikan kredit kepada nasabah.
Sejalan dengan konsumsi yang menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi di
Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa hingga akhir tahun 2014 jumlah
pembiayaan atau kredit secara keseluruhan yang telah disalurkan perbankan baik bank
umum maupun bank perkreditan rakyat kepada masyarakat di Provinsi DIY mencapai RP
29,7 triliun. Komposisi pinjaman yang diberikan sebanyak 60% berupa pembiayaan modal
kerja dan investasi, sementara 40% sisanya merupakan pembiayaan konsumsi. Jumlah
kredit yang disalurkan kepada UMKM di Provinsi DIY mencapai Rp 12,7 triliun atau
mencapai 42,8% dari seluruh pinjaman yang disalurkan perbankan di Provinsi DIY. Jumlah
penyaluran kredit kepada UMKM tumbuh sebesar 22,4%. Hal ini menunjukkan adanya
5Bank Indonesia. 2014. Tinjauan Kebijakan Moneter Oktober 2014. Departemen Kebijakan Ekonomi
dan Moneter. Jakarta.

dukungan yang baik dari sektor perbankan terhadap perkembangan sektor UMKM di
Provinsi DIY sehingga dapat terjadi distribusi pendapatan yang lebih merata bagi seluruh
masyarakat di Provinsi DIY6.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Dengan adanya percepatan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh konsumsi rumah
tangga, dapat mendukung perkembangan sektor UMKM di Provinsi D. I. Yogyakarta
sehingga dapat terjadi distribusi pendapatan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat.
Hal ini dapat menjadi peluang bagi perusahaan dalam menyalurkan kredit karena di
Provinsi D. I. Yogyakarta terdapat banyak pelaku usaha yang usahanya berada dalam sektor
UMKM. Percepatan pertumbuhan ekonomi yang dihadapkan dengan kebijakan pengetatan
kredit rumah tangga dapat menjadi ancaman bagi perusahaan karena dapat membatasi
jumlah kredit yang akan diberikan kepada debitur, seperti dalam hal pemberian KPR.
Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh percepatan pertumbuhan
ekonomi, PT. BPR Universitas Gadjah Mada tetap harus mengikuti kebijakan regulator
yaitu Otoritas Jasa Keuangan dan melakukan kerjasama dengan developer dalam hal
pemberian kredit untuk KPR.
3.6 International Political Environment
Isu
Proses regionalisasi dalam bidang ekonomi kawasan ASEAN pertama kali diawali
dengan disepakatinya Preferential Trading Agreement (PTA) tahun 1977, kemudian
dilanjutkan dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 1992, dan akan berakhir
dengan terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) pada tahun 2015. MEA merupakan realisasi dari integrasi ekonomi yang
termuat dalam visi ASEAN 2020 yang terdiri dari tiga pilar yang saling terintegrasi, yaitu:
1. ASEAN Security Community
2. ASEAN Economic Community
3. ASEAN Socio-Culture Community
Pembahasan
Untuk menghadapi AEC pada tahun 2015 ini, terlebih dahulu dimulai dengan proses
integrasi pasar modal di kawasan ASEAN pada tahun 2013 melalui program Perdagangan
Bebas Pasar Modal yang kemudian akan dilanjutkan dengan proses integrasi industri
6Situs Resmi Warta Ekonomi. 2015. http://wartaekonomi.co.id/read/2015/02/02/44008/sepanjang-2014perbankan-di-yogyakarta-salurkan-kredit-rp-297-triliun.html. Diakses pada tanggal 8 April 2015 pukul
20.00 WIB.

perbankan pada tahun 2020 melalui program Perdagangan Bebas Perbankan (ASEAN
Banking Integration Framework). Adanya integrasi ini diharapkan dapat menjadi jembatan
penghubung bagi aktivitas perdagangan dan keuangan Negara-negara ASEAN dengan
aktivitas sistem perekonomian global7.
Perbankan merupakan lembaga intermediasi antara pihak yang memiliki kelebihan dana
dengan pihak yang kekurangan dana. Perbankan juga menjadi intermediasi antara investor
dengan industri. Dengan terealisasinya AEC, dapat dipastikan bahwa akan terjadi serbuan
bank asing untuk bersaing dalam mendapatkan nasabah. Bank asing tersebut tentunya
datang dengan membawa sistem yang mereka miliki yang tentunya sudah lebih maju dan
memiliki strategi bisnis yang baik yang dapat menyebabkan perubahan dalam persaingan
perbankan di Indonesia sehingga persaingan dalam dunia perbankan menjadi semakin
ketat. Semakin meningkatnya persaingan dengan bank asing, maka dapat menumbuhkan
iklim persaingan yang positif bagi perbankan di Indonesia karena dapat mendorong
terjadinya persaingan sempurna di industri perbankan.
Moodys Investors Service, penyedia peringkat kredit, penelitian, dan analisis risiko
terkemuka mengatakan bahwa prospek pada sistem perbankan Indonesia akan tetap stabil,
hal ini mencerminkan ekspektasi Moodys Investors Service bahwa bank-bank negara
tersebut akan terus melaporkan fundamental keuangannya yang kuat, termasuk keuntungan
yang tinggi dan tingkat modal yang dimiliki, meskipun terdapat perlambatan ekonomi yang
dapat memberikan tekanan pada kualitas aset. Prospek pada sistem perbankan Indonesia
yang stabil secara keseluruhan untuk sistem perbankan telah efektif sejak Januari 20108.
Laporan tersebut juga mengatakan bahwa perbankan Indonesia akan mempertahankan
rasio modal yang sehat bahkan di bawah skenario buruk, di mana non-performing loan
diasumsikan meningkat menjadi sekitar enam kali level saat ini. Selain itu, profil likuiditas
bank harus tetap stabil selama 12-18 bulan ke depan, mengingat bahwa pertumbuhan kredit
diperkirakan akan melambat. Pada profitabilitas, menurut Moodys Investors Service,

7 Situs resmi Berita Satu. http://www.beritasatu.com/blog/ekonomi/1746-asean-economic-communityantara-peluang-dan-ancaman.html. Diakses pada tanggal 26 Maret 2015 pukul 17.57.
8Situs resmi harian The Jakarta Post. http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/07/aec-2015-banksexpected-grab-opportunities.html. Diakses pada tanggal 27 Maret 2015 pukul 00.15

perbankan Indonesia akan tetap merupakan salah satu yang paling menguntungkan secara
global9.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada apabila AEC terealisasi adalah
memiliki jumlah simpanan dan pinjaman yang meningkat dan terjadinya perpindahan
teknologi dari negara maju ke negara berkembang yang dapat membantu untuk
memberikan pelayanan kepada para nasabah dengan lebih baik dibandingkan sebelum
terealisasinya AEC. Di sisi lain, dengan majunya industri perbankan, maka pengusaha kecil
dan menengah dapat memiliki akses yang lebih baik dari sebelumnya ke layanan
perbankan, sehingga dapat menjadi peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada dalam
memberikan lebih banyak kredit kepada para pengusaha kecil dan menengah.
Industri perbankan di Indonesia saat ini lebih banyak dikuasai oleh perbankan asing,
baik bank swasta asing, bank campuran, maupun bank lokal yang dimiliki oleh asing.
Ancaman yang dapat terjadi bagi industri perbankan Indonesia akan semakin besar. PT.
BPR Universitas Gadjah Mada menghadapi ancaman dalam menghadapi AEC seperti
adanya pola persaingan baru karena tidak hanya menghadapi bank-bank lokal, namun juga
menghadapi bank-bank terbaik di regional ASEAN karena tidak terdapat batas yang dapat
menjadi hambatan antar negara. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh
akan terealisasinya AEC, PT. BPR Universitas Gadjah Mada juga harus mampu untuk
memberikan penawaran pendanaan yang menarik untuk para nasabah karena akan semakin
banyak bank-bank yang menawarkan pendanaan kepada para nasabah sehingga PT. BPR
Universitas Gadjah Mada mampu untuk berkompetisi.
3.7 Governmental Environment
Isu
Pemerintah pusat dan industri perbankan melakukan interaksi dengan mendirikan
Otoritas Jasa Keuangan. Pemerintah, dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan berperan
dalam mengatur dan mengawasi segala kegiatan perbankan agar tercipta industri perbankan
yang sehat.
Pembahasan
Otoritas Jasa Keuangan mulai dibicarakan pada pertengahan tahun 2008 karena terjadi
krisis global. Otoritas Jasa Keuangan diperlukan untuk mengantisipasi kompleksitas sistem
9 Situs resmi harian The Jakarta Post. http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/07/aec-2015-banksexpected-grab-opportunities.html. Diakses pada tanggal 27 Maret 2015 pukul 00.15

keuangan global dan menghindari adanya konflik yang terjadi antara Departemen
Keuangan dan Bank Indonesia dalam mengawasi lembaga keuangan. Dengan adanya
Otoritas Jasa Keuangan, maka Bank Indonesia harus melepaskan pengawasannya terhadap
perbankan, sedangkan Departemen Keuangan harus melepaskan pengawasan terhadap
Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang yang dapat terjadi dengan adanya Otoritas Jasa Keuangan bagi PT. BPR
Universitas Gadjah Mada adalah proses bisnis yang dilakukan menjadi lebih terkontrol.
Sedangkan ancaman yang dapat terjadi adalah pengeluaran PT. BPR Universitas Gadjah
Mada yang menjadi lebih besar dikarenakan oleh adanya iuran kepada Otoritas Jasa
Keuangan untuk operasional lembaga tersebut. Melihat peluang dan ancaman yang hadir,
maka PT. BPR Universitas Gadjah Mada tetap harus mengikuti kebijakan regulator yaitu
Otoritas Jasa Keuangan.
3.8

Information Technology
Isu
Perbankan dituntut untuk dapat memproses transaksi dengan cepat, aman, dan tepat
sehingga membutuhkan teknologi atau sistem yang lebih maju dan sesuai dengan yang
dibutuhkan oleh perbankan agar dapat membuat para nasabah puas dengan pelayanan yang
diberikan oleh bank.
Pembahasan
Pembangunan yang cepat pada industri perbankan ditandai dengan perubahan
fundamental yang terjadi pada kegiatan operasional. Perubahan ini merevolusi pola
pelayanan bank terhadap nasabah, salah satu contohnya adalah penggunaan Automated
Teller Machine (ATM). Nasabah yang antusias dengan penggunaan fasilitas ATM yang
ditawarkan oleh bank akan membuat para pejabat bank bahwa ATM dapat menarik nasabah
lebih banyak. Selain ATM, penggunaan internet banking juga semakin banyak digunakan
oleh industri perbankan agar dapat memproses transaksi dengan cepat, aman, dan tepat.
Adanya ATM dan internet banking dapat memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi
perbankan karena dapat dilakukan di manapun nasabah tersebut berada.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang dari adanya teknologi atau sistem yang dibutuhkan perbankan seperti ATM dan
internet banking adalah dapat membantu PT. BPR Universitas Gadjah Mada dalam
melakukan proses bisnisnya. Sedangkan, ancaman yang dapat terjadi adalah dikarenakan

PT. BPR Universitas Gadjah Mada belum menerapkan teknologi atau sistem tersebut dalam
proses bisnisnya, maka nasabah maupun calon nasabah dapat lebih memilih bank lain yang
telah menerapkan teknologi atau sistem tersebut. Melihat peluang dan ancaman yang hadir
dikarenakan oleh teknologi atau sistem yang dibutuhkan oleh perbankan, maka PT. BPR
Universitas Gadjah Mada perlu untuk menerapkan teknologi atau sistem tersebut agar dapat
memproses transaksi dengan cepat, aman, dan tepat serta dapat menarik minat nasabah.
3.9

Processing Technology
Isu
Perbankan dalam memproses keseluruhan data dan informasi yang diberikan oleh
nasabah tentunya membutuhkan suatu teknologi yang dapat membantu proses tersebut agar
dapat berjalan dengan cepat, akurat, dan sistematis.
Pembahasan
Secara berkesinambungan, PT. BPR Universitas Gadjah Mada terus meningkatkan
kapabilitas Core Banking System melalui aplikasi PINtech Sistem Perbankan Mikro untuk
meningkatkan pelayanan kepada nasabah tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian.
Peningkatan pelayanan tersebut juga ditujukan untuk mengakomodasikan penerapan
konsep Know Your Customer (KYC) dan Anti Money Laundering (AML). Core Banking
System ini berfungsi untuk menyimpan data nasabah, dimulai dari memasukkan,
mengubah, hingga menghapus data nasabah. Selain itu, dari Core Banking System yang
menggunakan PINtech Sistem Perbankan Mikro ini dapat mencatat transaksi kas harian,
memonitor mutasi transaksi harian, serta memonitor saldo rekening kas di bank setiap saat.
Untuk mendukung proses kredit, teknologi yang digunakan berbeda dengan tabungan dan
deposito. PT. BPR Universitas Gadjah Mada menggunakan Google Drive untuk
memasukkan, menyimpan, mengubah, dan menghapus data nasabah kredit. Untuk
memproses seluruh layanan tersebut, PT. BPR Universitas Gadjah Mada memiliki
infrastruktur teknologi informasi seperti jaringan, server, dan proteksi keamanan teknologi
informasi.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Data para nasabah baru dan nasabah lama yang telah tersimpan dan tercatat di server
yang dimiliki oleh PT. BPR Universitas Gadjah Mada dan dapat diperbarui sewaktu-waktu
dapat membuat para nasabah menjadi loyal kepada bank karena tidak akan terjadi
kesalahan transaksi perbankan. Ancaman yang dapat timbul adalah adanya teknologi
pemrosesan yang belum dapat diterapkan oleh PT. BPR Universitas Gadjah Mada dapat

membuat nasabah lebih memilih bank lain yang telah menerapkan teknologi pemrosesan
yang lebih maju. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh teknologi
pemrosesan ini, maka PT. BPR Universitas Gadjah Mada perlu untuk menerapkan
teknologi pemrosesan yang lebih maju agar dapat mendukung pelayanan yang akan
diberikan kepada nasabah.
3.10 Demographic Environment
Isu
Isu terkait dengan lingkungan demografi adalah terjadinya perubahan kondisi
demografi di D.I. Yogyakarta. Perubahan tersebut dapat terlihat dari indikator variabel
demografi yang ada pada Tabel 3.3 dan Tabel 3.4. Variabel demografi yang digunakan
dalam analisis kasus ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencakup tiga
indikator didalamnya, yaitu indikator kesehatan yang berupa tingkat harapan hidup,
indikator pendidikan yang berupa tingkat melek huruf dan rata-rata lama sekolah, dan
indikator ekonomi yang berupa pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.
Berikut merupakan tabel yang menunjukkan angka dari indikator-indikator yang
terdapat pada Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta tahun
2011 yang digunakan dalam analisis ini10:
Tabel 3.3 Indikator pada Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota di
D.I Yogyakarta tahun 2011

Kabupaten/

Harapan

Kota

Hidup

Kulonprogo
Bantul
G. Kidul
Sleman
Yogyakarta
DIY

74,38
71,31
70,97
75,06
73,44
73,22

Angk

Rata-rata

Pengeluaran

a
Melek
Huruf
90,69
91,03
84,66
92,61
98,03
90,84

Lama

Riil per

Sekolah

Kapita

8,20
8,82
7,65
10,30
11,48
9,07

630,38
646,08
625,20
647,84
649,71
646,56

IPM

Peringkat
IPM

74,49
74,53
70,45
78,20
79,52
75,77

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi D.I Yogyakarta

10 Situs Resmi BPS D.I Yogyakarta. http://yogyakarta.bps.go.id/index.php?


r=site/page&view=sosduk.tabel.4-5-29. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015 pukul 09.18.

106
107
285
14
1
4

Sedangkan tabel yang menunjukkan angka dari indikator-indikator yang terdapat pada
Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta tahun 2012 yang
digunakan dalam analisis ini11:
Tabel 3.4 Indikator pada Indeks Pembangunan Manusia per Kabupaten/Kota di
D.I Yogyakarta tahun 2012

Kabupaten/

Harapan

Kota

Hidup

Kulonprogo
Bantul
G. Kidul
Sleman
Yogyakarta
DIY

74,58
71,34
71,04
75,29
73,51
73,27

Angk

Rata-rata

Pengeluaran

a
Melek
Huruf
92,04
92,19
84,97
94,53
98,10
92,02

Lama

Riil per

Sekolah

Kapita

8,37
8,95
7,70
10,52
11,56
9,21

634,34
654,96
631,91
653,11
657,65
653,78

IPM

Peringkat
IPM

75,33
75,58
71,11
79,31
80,24
76,75

4
3
5
2
1
4

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi D.I Yogyakarta

Pembahasan
Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa masing-masing indikator yang terdapat
pada Indeks Pembangunan Manusia mengalami peningkatan dari tahun 2011 ke tahun
2012. Peningkatan ini terjadi di tiap Kabupaten/Kota di D.I Yogyakarta. Indeks
Pembangunan Manusia yang pada dasarnya mencakup tiga indikator yaitu indikator
kesehatan yang berupa tingkat harapan hidup, indikator pendidikan yang berupa tingkat
melek huruf dan rata-rata lama sekolah, dan indikator ekonomi yang berupa pengeluaran
riil per kapita yang disesuaikan apabila mengalami peningkatan maka dapat
mengindikasikan bahwa kondisi penduduk Indonesia, terutama D.I Yogyakarta berada pada
posisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Pembangunan akan menempatkan pembangunan manusia sebagai kunci untuk
mencapai pengembangan sosial ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Upaya untuk
memiliki pembangunan manusia yang baik dapat direalisasikan jika para penduduk
memiliki umur yang panjang atau relatif sehat, memiliki pengetahuan atau keterampilan
yang memadai, serta memiliki peluang untuk merealisasikan peluang maupun keterampilan
yang dimiliki dalam kegiatan kegiatan yang produktif sehingga dapat menghasilkan uang
atau dalam kata lain memiliki pekerjaan.
11 Situs Resmi BPS D.I Yogyakarta. http://yogyakarta.bps.go.id/index.php?
r=site/page&view=sosduk.tabel.4-5-29. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015 pukul 09.18.

Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan


Kondisi ini tentunya dapat menjadi peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada
karena berdasarkan peningkatan indikator-indikator tersebut membuat kebutuhan akan
perbankan seperti tabungan, deposito, dan kredit semakin meningkat. Di sisi lain, dengan
meningkatnya pendidikan di D.I Yogyakarta yang dilihat dari angka melek huruf dan ratarata lama sekolah dapat menjadi ancaman bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada karena
masyarakat sudah semakin paham mengenai perbankan sehingga mereka memiliki
preferensi tertentu terhadap suatu produk maupun layanan perbankan. perlu untuk
melakukan inovasi dalam layanan yang ditawarkan agar lebih menarik bagi masyarakat.
Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh peningkatan indikator-indikator
tersebut, PT. BPR Universitas Gadjah Mada perlu untuk melakukan inovasi produk
maupun layanan perbankan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan perbankan.
3.11 Social Environment
Isu
Dalam menghadapi konflik bisnis dengan lingkungan masyarakat, perusahaan
mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR). Tren pengadaan program
tanggung jawab sosial perusahaan diawali dengan adanya peraturan pemerintah melalui
Undang-Undang Persereoan Terbatas, yang mewajibkan perusahaan untuk melaksanakan
tanggung jawab sosial perusahaan (Pasal 74 UU no 40 Tahun 2007).
Pembahasan
Suatu bisnis yang beroperasi di dalam suatu masyarakat tentunya akan menjadi
tantangan bagi para pengusaha dalam menghadapi lingkungan sosial. Hal ini dimaksudkan
agar jalannya suatu bisnis dapat terhindar dari konflik negatif yang nantinya dapat merusak
kinerja bisnis. Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya pada perusahaan
industri yang menghasilkan dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat, tetapi juga
sektor-sektor lain seperti: jasa, asuransi, komunikasi, lembaga keuangan bank dan bukan
bank.
PT. BPR Universitas Gadjah Mada terletak di lingkungan kampus Universitas Gadjah
Mada. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, PT. BPR Universitas Gadjah
Mada telah melakukan edukasi keuangan kepada masyarakat sekitar, memberikan beasiswa
kepada mahasiswa Universitas Gadjah Mada, memberikan bantuan berupa sepeda kepada
Universitas Gadjah Mada untuk mendukung program Bike to Campus, memberikan

bantuan kepada korban bencana alam, serta membagikan sembako dan daging kurban pada
saat Idul Adha.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Peluang dari pengadaan program tanggung jawab sosial perusahaan bagi PT. BPR
Universitas Gadjah Mada adalah dapat meningkatkan brand awareness, dapat melakukan
promosi secara tidak langsung, dan dapat bersosialisasi dengan komunitas sekitar.
Sedangkan ancaman yang mungkin timbul adalah apabila terjadi konflik negatif maka akan
berpengaruh terhadap kinerja bisnis. Melihat peluang dan ancaman yang muncul dari
adanya tanggung jawab sosial ini, PT. BPR Universitas Gadjah Mada tetap harus
menjalankan bisnisnya dengan selalu menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar.
3.12 Cultural Environment
Isu
Isu terkait dengan lingkungan budaya yang sedang terjadi saat ini adalah fenomena
pergeseran budaya masyarakat di D.I. Yogyakarta karena perkembangan zaman dan
pembangunan yang terjadi di D.I. Yogyakarta.
Pembahasan
Perkembangan zaman yang ditandai dengan berbagai macam teknologi baru atau
inovasi yang dapat mempermudah kegiatan manusia, dapat memberikan pengaruh yang
besar terhadap pergeseran budaya di masyarakat. Masyarakat semakin mengerti pentingnya
perbankan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang pada awalnya belum
memanfaatkan bank secara maksimal atau bahkan sama sekali tidak menggunakan bank
dalam kehidupan sehari-hari, pada akhirnya masyarakat tersebut mengetahui akan
pentingya perbankan dalam kehidupan sehari-hari. Pergeseran budaya yang terjadi adalah
perkembangan zaman menyebabkan masyarakat menjadi semakin paham akan pentingnya
bank dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank yang tersebar
di D.I Yogyakarta, baik bank umum, bank perkreditan rakyat, maupun bank asing. Setiap
bank menawarkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga
masyarakat bebas memilih layanan perbankan apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pembangunan yang terjadi di D.I Yogyakarta semakin meningkat, hal ini ditandai
dengan banyaknya pusat perbelanjaan baru yang berada di D.I Yogyakarta. Semakin
maraknya pembangunan tersebut, dapat menggeser budaya-budaya yang ada di D.I
Yogyakarta seperti gaya hidup, budaya konsumerisme, hingga terjadinya perubahan
perilaku sosial. Masyarakat didorong untuk mengikuti produk-produk yang berkembang

dengan cepat. Banyaknya iklan semakin membuat masyarakat memperhatikan produkproduk baru untuk dikonsumsi yang pada akhirnya masyarakat tersebut menjadi konsumtif.
Masyarakat menjadi semakin konsumtif yang ditandai dengan pembelian barang-barang
yang tidak diperlukan karena proses konsumsi mereka didasarkan oleh hasrat atau
keinginan, bukan didasarkan oleh kebutuhan.
Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan
Perilaku-perilaku tersebut menjadi peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada
untuk memanfaatkan kondisi masyarakat eksternal yang berpengaruh kepada perusahaan
yaitu masyarakat yang sebelumnya tidak atau kurang memanfaatkan perbankan menjadi
bergantung pada perbankan seperti semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya
perbankan dalam kehidupan sehari-hari seperti menabung di bank, mengajukan kredit,
serta menyimpan uang dalam bentuk deposito.
Sementara itu, pergeseran budaya ini juga dapat menciptakan ancaman bagi PT. BPR
Universitas Gadjah Mada. Masyarakat yang semakin konsumtif akan lebih sering untuk
mengeluarkan uangnya untuk membeli produk-produk yang tidak dibutuhkan dibandingkan
menyimpan uangnya di bank dalam bentuk tabungan atau deposito.
Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan oleh pergeseran lingkungan
sosial dan budaya di D.I Yogyakarta, PT. BPR Universitas Gadjah Mada berperan dalam
melakukan sosialisasi literasi keuangan terhadap masyarakat ke pelajar, ibu-ibu rumah
tangga, dan beberapa kalangan masyarakat agar tidak menjadi masyarakat yang konsumtif.
Sosialisasi literasi keuangan ini juga didukung oleh program Otoritas Jasa Keuangan yang
mengatur bahwa bank harus melakukan sosialisasi literasi keuangan ke masyarakat. Selain
itu, langkah yang dilakukan oleh PT. BPR Universitas Gadjah Mada sudah tepat dengan
menetapkan tata kelola Good Corporate Governance (GCG) bagi Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) melalui prinsip-prinsip di dalamnya. Prinsip-prinsip tersebut dibuat untuk mengatur,
mengelola, dan mengendalikan perilaku seluruh pihak yang terkait dengan operasional
bisnis perusahaan, mulai dari atas ke bawah serta dalam dan luar perusahaan.
3.13 Natural Environment
Isu
Dalam memberikan pelayanan kredit kepada calon debitur, bank dapat terkait secara
tidak langsung dengan lingkungan alam. Bank dapat memberikan kredit kepada sektor
yang berpotensi merusak lingkungan. Risiko kredit dapat menjadi lebih besar karena

adanya kesinambungan proyek dan arus kas debitur yang dapat terganggu dikarenakan
biaya sosial yang tinggi.
Pembahasan
Sebagai salah satu sumber pemberi dana, bank tidak saja hanya melihat pertimbangan
ekonomisnya, tetapi juga keterpaduan dengan lingkungan, terutama lingkungan alam,
sehingga perbankan dapat tidak membiayai proyek-proyek yang diperkirakan akan
menimbulkan dampak yang merugikan lingkungan alam. Perbankan menawarkan banyak
jasa layanan seperti tabungan, deposito, dan kredit. Dalam menyalurkan kredit, dapat
menjadi masalah bagi perbankan apabila kredit tersebut digunakan untuk suatu usaha atau
kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran atau perusakan lingkungan alam.
Bank Indonesia memiliki kebijakan mengenai green banking yang didukung dengan
misi Bank Indonesia sejak awal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah
dengan menjaga stabilitas moneter dan stabilitas keuangan untuk mendukung
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan
meliputi: pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment. Bank Indonesia memiliki
beberapa

peraturan

yang

berkaitan

dengan

green

banking

yaitu

bank

harus

mempertimbangkan perlindungan lingkungan dalam menilai kualitas aset (PBI No.


14/15/PBI/2012) dan bank harus meningkatkan kredit produktif dan akses kredit untuk
usaha

kecil

dan

menengah

(UKM)

(PBI

No.14/26/PBI/2012

and

PBI

No.14/22/PBI/2012)12.
Risiko kerusakan lingkungan yang timbul sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal oleh
bank. Apabila tidak dipertimbangkan oleh bank, maka dapat menimbulkan ditutupnya
proyek yang dibiayai oleh bank karena dituduh merusak lingkungan. Apabila proyek yang
dibiayai oleh suatu bank ditutup, maka hal yang akan terjadi pada bank adalah kredit bank
yang telah diberikan kepada debitur untuk proyek tersebut akan mengalami kegagalan
dalam pembayaran dikarenakan oleh kesulitan keuangan yang terjadi pada proyek yang
dibiayai oleh bank. Apabila suatu bank bermasalah dalam hal kegagalan pembayaran
kredit, maka hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kesehatan suatu bank. Apabila suatu
bank dapat mengelola kreditnya dengan baik maka hal tersebut tidak akan berpengaruh
terhadap kesehatan bank.
12Situs Resmi Green Growth Knowledge. 2015.
http://www.greengrowthknowledge.org/sites/default/files/4A_Bank%20Indonesia
%20.pdf. Diakses pada tanggal 10 April 2015 pukul 18.30 WIB.

Peluang, Ancaman, dan Strategi Pengembangan Perusahaan


Peluang bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada dalam menerapkan kebijakan green
banking adalah turut menjaga lingkungan dengan memberikan kredit kepada debitur
dengan terlebih dahulu melakukan analisis terlebih analisis terhadap lingkungan. Hal ini
sejalan dengan yang diinginkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu mendorong
perbankan untuk menyalurkan kreditnya ke proyek yang ramah lingkungan karena
potensinya masih cukup besar, seperti pembiayaan hidro dan pengelolaan sampah.
Ancaman bagi PT. BPR Universitas Gadjah Mada dengan adanya green banking ini adalah
dikarenakan peluang mengenai potensi proyek yang ramah lingkungan yang dapat dibiayai
oleh bank masih cukup besar, maka akan terjadi persaingan yang cukup ketat antar
perbankan dalam memberikan jasa layanan kredit. Dalam perkreditan, tentunya juga akan
selalu dihadapkan dengan hal-hal di masa mendatang yang tidak pasti sehingga dapat
menjadi ancaman bagi perusahaan. Melihat peluang dan ancaman yang hadir dikarenakan
oleh penerapan green banking, PT. BPR Universitas Gadjah Mada perlu melakukan analisis
mendalam dalam memberikan kredit kepada calon debitur dengan memperhatikan aspek
lingkungan.
Bab IV
Penutup

Melalui penelitian ini dapat diketahui bahwa lingkungan eskternal bisnis berpengaruh
terhadap perusahaan dalam hal ini adalah PT. BPR Universitas Gadjah Mada baik secara
langsung maupun tidak langsung. Seiring dengan perubahan lingkungan eksternal bisnis, maka
muncul peluang sekaligus ancaman bagi perusahaan baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, yang sebelumnya telah diuraikan di masing-masing aspek lingkungan bisnis.
Perusahaan harus dapat menangkap peluang dan ancaman tersebut dengan cepat, untuk
kemudian menyusun strategi dalam menghadapinya. Strategi-strategi pengembangan yang telah
diuraikan sebelumnya di masing-masing lingkungan bisnis dapat dirangkum menjadi poin-poin
strategi besar (grand strategy) yang dapat diaplikasikan langsung oleh PT. BPR Universitas
Gadjah Mada sebagai berikut:
Tabel 4.1 Strategi Besar PT. BPR Universitas Gadjah Mada
ASPEK
GENERAL

STRATEGI BESAR
1. Pengembangan pangsa pasar dengan tidak melupakan budaya

STRATEGY

lokal.
2. Menjadi bank yang sehat, kuat, dan bermanfaat bagi stakeholder.
1. Melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru dan

OPERATION
2.
1.
FINANCE
2.
GENERAL AFFAIR 1.
(HRD, Facilities,
CSR)

membuka kantor kas.


Meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada nasabah.
Mengikuti Tingkat Kesehatan Bank.
Menata likuiditas bank.
Pengembangan sumber daya manusia dengan melakukan

pelatihan yang diadakan setiap tahun.


2. Menambah program-program tanggung jawab sosial perusahaan.
1. Melakukan pembaharuan teknologi-teknologi yang digunakan

TECHNOLOGY

dalam aktivitas bisnis diikuti dengan perawatan yang intensif


terutama terkait dengan teknologi informasi yang berkembang
sangat cepat.

DAFTAR PUSTAKA