Anda di halaman 1dari 7

Hanson (A)

Hanson PLC merupakan salah satu perusahaan conglomerate terbesar di Inggris.


Perusahaan ini memiliki lebih dari 150 bisnis yang berbeda dalam portofolionya. Hanson
PLC didirikan oleh James (Lord) Hanson dan (Sir) Gordon White pada tahun 1950an dan
berlokasi di Hull, Yorkshire, England. Pada awalnya perusahaan ini bernama Hanson White
Ltd. Mulai tahun 1963, Hanson banyak melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain. Pada
tahun 1973 saat terjadi krisis ekonomi di Inggris, Hanson dan White memutuskan untuk
membagi wilayah kekuasaan mereka, Hanson memimpin di Inggris dan Eropa sementara
White memasuki pasar Amerika. White melakukan pengambil-alihan besar-besaran di
Amerika terhadap U.S Industries (USI) pada tahun 1984. Kemudian akuisisi ini membawa
Hanson mengambil alih tiga perusahaan besar lainnya yaitu SCM Corporation, Kaiser
Cement dan Kidde.

Target
Charac
teristic

Resear
ch

Risk

Asses
ment

Fundin
g

Dispos
al to
Reduce
Debt

Eliminati
on of
Excess
Overhea
d

The
Creatio
n of
Incenti
ve

Dalam melakukan akuisisi, Hanson memiliki beberapa filosofi yaitu:


a. Karakteristik target. Target yang disasar Hanson adalah perusahaan yang sudah
mature, industri low-technology yang memiliki record yang tidak terlalu bagus
namun ada potensi dalam meningkatkan performanya.
b. Penelitian. Sebelum melakukan akuisisi, Hanson melakukan penelitian secara
mendetail terhadap perusahaan target.
c. Penilaian resiko. White akan mengakuisisi perusahaan apabila ketika suatu saat
mengalami kegagalan ia bisa menutupinya dengan menjual sebagian aset dari
perusahaan target tersebut.
d. Pendanaan. Akuisisi di Inggris rata-rata didanai oleh campuran dari cash, ekuitas,
convertible securities dan pinjaman saham.
e. Pelepasan aset untuk mengurangi utang.
f. Eliminasi atas biaya overhead.
g. Pengadaan insentif.

Strategi pengembangan atas unit bisnis terpusat di Amerika Serikat dan juga Inggris di
mana Hanson PLC menangani operasi di Inggris sementara Hanson Industries mengelola
operasi di Amerika Serikat.
Berikut adalah data perusahaan-perusahaan yang diakuisisi Hanson

Sementara prinsip dari filosofi manajemen Hanson adalah:


a. Desentralisasi. Operasional keseharian dilakukan secara desentralisasi, korporat
tidak campur tangan dalam manufaktur dan juga pemasaran.
b. Pengendalian keuangan yang ketat atas anggaran operasional dan juga kebijakan
capital expenditure.
c. Sistem insentif. Manajer bisa mendapat bonus hingga 60% dari gaji pokoknya.
d. Struktur yang luas.
e. Tidak memberi tekanan pada sinergi operasional.

Hanson juga memiliki struktur organisasi sebagai berikut:

Akuisisi SCM
SCM merupakan perusahaan manufaktur produk industri dan konsumen yang
melakukan banyak diverisifikasi. Hanson mengakuisisi SCM dengan berbagai alasan seperti
kinerja keuangan yang buruk kemudian mulai merangkak naik hingga memiliki bisnis yang
mature serta beresiko rendah.

SCM juga bergerak dalam bisnis titanium dioxide yang didominasi oleh oligopoli secara
global serta jumlah pegawai yang terlalu banyak dalam korporat. Dalam proses mengakuisis
SCM, Hanson banyak mengalami berbagai kesulitan mulai dari pelelangan harga saham SCM
hingga disabotase oleh Merill Lynch yang beujung pada sidang hukum. Awalnya Hanson
kalah dalam sidang sebanyak dua kali namun White tidak berhenti untuk terus menanamkan

sahamnya di SCM dan malah balik menggugat Merill Lynch ke pengadilan dengan tuduhan
konspirasi. Hanson memenangkan sidang dan berhasil mengakuisisi SCM dengan biaya
sebesar US$930 juta dengan P/E meningkat sebesar 11.5x.
Langkah pertama yang dilakukan oleh White setelah mengakuisisi SCM adalah
merumahkan pekerja hingga sebanyak 250 orang dan kantor cabang SCM di New York dijual
sebesar US$36 juta. Tujuannya adalah untuk meningkatkan performa SCM. SCM di tangan
Hanson hanya beroperasi pada dua unit bisnis yaitu Smith-Corona typewriter dan juga
Titanium Dioxide. Rasio P/E meningkat sebesar 17.5x dan book value menjadi 2.5x. Dua unit
bisnis tersebut kemudian memberikan profit yang lebih kepada Hanson melalui berbagai
strategi yang diterapkan oleh White.
Akuisisi Imperial
Pada tanggal 6 Desember 1985, Hanson sedang mengupayakan untuk memenangkan
persaingan dalam mengakuisisi Imperial Group PLC yang bergerak dalam bidang manufaktur
tembakau, beer, restoran, retail shop hingga branded food products. Alasan mengapa Hanson
tertarik untuk membeli Imperial Group PLC adalah karena bisnis yang dimiliki Imperial
sudah mature dan juga berisiko rendah.

Cash flow atas bisnis tembakau merupakan cash cow yang siap dinikmati oleh
korporat namun Imperial mengalami kegagalan dalam menjalani diverisifikasi bisnisnya.
Alasan terakhir adalah return yang tidak pantas dalam bisnis bir dan juga leisure.
Proses akuisisi atas Imperial terjadi ketika pada awalnya ada rencana merger antara
Imperial dengan United Biscuits PLC (UB). Hanson yang telah sejak lama mengamati
Imperial pun mulai memberikan penawaran sebesar 250 pence/share serta menghargai nilai
dari Imperial dengan angka sebesar 1.9 miliar. Persaingan pun terus terjadi antara United
Biscuits dengan Hanson. Awal mulanya Imperial lebih tertarik untuk menerima tawaran UB
namun pada akhirnya Hanson memenangkan penawaran atas Imperial dengan angka
mencapai 2.5 miliar.
Sama seperti White, langkah pertama yang dilakukan oleh Hanson setelah Imperial
menjadi miliknya adalah dengan mengurangi pekerja hingga sebanyak 260 orang dan

menjual beberapa unit bisnis Imperial. Hanson mendapatkan cash sebesar 1.7 miliar dari
penjualan unit bisnis tersebut. Hanson hanya berfokus pada bisnis tembakau.
Dampak Akuisisi Terhadap Keuangan Hanson

Pendapatan menngalami pertumbuhan sebesar 287% dan laba meningkat 753% dari
periode sebelum dan setelah akuisisi. Selain itu NPM perusahaan mengalami pertumbuhan
dari 5,3% menjadi 11,6% setelah akuisisi.

Asset mengalami pertumbuhan sebesar 562% pada periode sebelum dan setelah
akuisisi. Hutang menjadi meningkat. Peningkatan tingkat profitabilitas ditunjukan dengan
pertyumbuhan ROE sebelum dan setelah Akuisisi.
Later Development
Setelah melakukan akuisisi atas kedua perusahaan di atas, Hanson membeli Kidde pada tahun
1987 dan masih banyak lagi perusahaan lain. Strategi yang digunakan masih sama, setelah

diakuisisi kemudian perusahaan tersebut dirampingkan dengan menjual beberapa unit bisnis
yang dirasa tidak menguntungkan atau tidak dapat dikendalikan oleh Hanson.
ANALISIS
Corporate Strategy

Unrelated Diversification
Kriteria melakukan diversifikasi bisnis:
1. Bisnis tersebut dapat memenuhi target profitabilitas dalam operasional dan investasi
yang disyaratkan oleh Hanson
2. Bisnis tersebut berada dalam industry atraktif
3. Bisnis tersebut memiliki ketahanan terhadap perubahan kondisi makro ekonomi
ANALISA SWOT
1. Strengths
Hanson PLC mampu meningkatkan dan memperbesar aset dengan mengakuisisi
perusahaan potensial dan menjual perusahaan yang tidak cocok

dengan bisnis inti

perusahaan. Proses akuisisi merupakan cara cepat untuk memperluas geografis serta
memungkinkan diversifikasi global yang lebih baik.
2. Weaknesses
Kelemahan potensial dari tumbuhnya perusahaan melalui akuisisi adalah budaya dan
fokus perusahaan yang dibeli. Risiko ini dapat diminimalkan dengan melakukan
penyesuaian dan kesepakatan bersama mengenai budaya baru dari perusahaan akuisisi.
3. Opportunities

Brazil, Cina, Indonesia, dan Rusia akan melalui restrukturisasi yang signifikan dan
perkembangan. Hanson memiliki keahlian dalam melihat prospek suatu
perusahaan ke depannya, maka Hanson dapat mengakuisisi perusahaan-perusahaan
di negara berkembang tersebut sehingga memperluas diversifikasi portfolio
Hanson.
4. Threats

Hanson merupakan perusahaan konglomerasi, yang melakukan unrelated diversifikasi


serta mempunyai 150 bisnis berbeda dalam portfolionya, sehingga akan sulit dalam
pengendaliannya. Jika kondisi memburuk, Hanson perlu memanfaatkan kekuatannya dan
menerapkannya pada peluang lain untuk mempertahankan pendapatan dan kepercayaan
para pemegang saham.
Kesimpulan dan Saran

Dengan adanya tindakan akuisisi yang dilakukan oleh Hanson, hal tersebut menjadi
sumber daya yang dapat dipercaya bagi perusahaan yang beroperasi dengan kas yang
rendah. Disisi lain, tindakan akuisisi tersebut memerlukan biaya yang hanya bisa
didapatkan dari menjual aset perusahaan yang sudah ada, terutama bisnis yang paling
menguntungkan. Namun, portofolio bisnis yang dimiliki oleh Hanson semakin hari
cenderung semakin rendah, maka mereka ragu jika harus menjual aset bisnis yang

ada.
Selain itu, gaya manajemen yang dimiliki oleh Hanson menambah kesan negative
terhadap perubahan lingkungkan bisnis yang ada. Terlalu fokus pada keuntungan
perusahaan jangka pendek, melakukan akuisisi dan pembuangan, kurangnya investasi

internal, terlalu menginginkan nilai dividen yang tinggi dan budaya teknik keuangan.
Hanson diupayakan mulai focus pada restrukturasi hutang, atau penjualan asset/
perusahaan operasional yang bertujuan mengurangi pokok hutang, sampai di tingkat
hutang, sampai di tingkat DER yang normal sehingga akan menaikkan nilai saham

dan value perusahaan


Pertimbangan akuisisi atau merger berikutnya yang dilakukan adalah dengan konsisi
bahwa penggabungan membawa benefit tambahan bagi core bisnis atau parent
company Hanson dalam jangka panjang. Sehingga kesinambungan perusahaan baik
yang diakuisisi maupun Hanson sebagai parent company tetap dipertahankan.