Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KOROSI

PROTEKSI KATODIK
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015
MODUL
PEMBIMBING

: PROTEKSI KATODIK
: Bapak Nurcahyo

PEMBUATAN
PENYERAHAN

: 22 NOVEMBER 2015
: 29 NOVEMBER 2015

DISUSUN OLEH
KELOMPOK : 7
SAHARA TULAINI

(131411025)

SHOFIYA WARDAH N

(131411026)

SIFA FUZI ALLAWIYAH

(131411027)

SITI NURJANAH

(131411028)

KELAS

3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2014
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem perpipaan merupakan salah satu aspek penting yang mendukung proses
produksi dalam dunia industri termasuk industri minyak dan gas bumi. Sistem perpipaan
terdiri dari beberapa jaringan pipa yang digunakan sebagai alat distribusi. Sesuai dengan
standar teknik perpipaan yang dipakai di Indonesia dan tertuang dalam Surat Keputusan
Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 300.K/38/M-PE/1997, pipa penyalur minyak dan
gas bumi harus ditimbun di dalam tanah. Hal ini juga mengacu pada standar internasional
tentang pemasangan pipa, contohnya ASME B31.8 yang berjudul Gas Transmission and
Distribution Piping System. Penempatan jaringan pipa dalam tanah dapat menyebabkan
korosi pada pipa, karena dalam tanah terdapat mineral-mineral yang dapat menyebabkan atau
bahkan memacu terjadinya korosi. Untuk mengendalikan atau memperlambat terjadinya
korosi pada jaringan pipa tersebut maka sistem pengendalian yang dapat dilakukan pada
umumnya adalah pemasangan coating dan dilengkapi dengan penerapan metode proteksi
katodik.
Metode proteksi katodik terdiri dari dua jenis, yaitu metode proteksi anoda korban
(sacrificial anode) dan arus paksa (impressed current). Prinsip proteksi katodik adalah
membanjiri struktur yang dilindungi dengan arus elektron. Sumber arus yang digunakan pada
metoda anoda korban berasal dari logam yang kurang mulia, kemudian dihubungkan dengan
konduktor logam ke arah struktur yang dilindungi. Material yang akan diproteksi diatur agar
berperan sebagai katoda dalam suatu sel korosi, sementara logam lain yang memiliki
potensial yang lebih negatif berperan sebagai anoda. Pada metode arus paksa atau impressed
current, struktur yang dilindungi mendapat supply elektron sehingga potensialnya menjadi
lebih katodik.
Sistem perpipaan terdiri dari berbagai ruas yang berbeda dan saling terhubung sedang
aplikasi sistem proteksi katodik tidak harus saling menyambung secara langsung. Proteksi
katodik yang telah diaplikasikan dalam sistem perpipaan di suatu titik harus disekat, karena
dua alasan yang berbeda. Alasan pertama supaya arus listrik antar metode proteksi yang
berbeda tidak saling tercampur, sedang alasan kedua supaya arus proteksi katodik ini tidak
mengganggu sistem pengukuran yang peka terhadap arus yang mengalir dalam pipa. Untuk
mengatasi hal tersebut maka aliran listrik untuk arus proteksi katodik harus disekat antara
pipa dengan pipa dalam sistem sambungan menggunakan insulating sehingga bersifat sebagai

insulator. Jenis sambungan insulasi yang biasa diterapkan dalam sistem perpipaan terdiri dari
dua macam, yaitu insulation joint dan insulation flange. Insulation Joint merupakan jenis
penyekat arus listrik di dalam sistem perpipaan yang berbentuk seperti mangkuk dan teknik
insulasi dilakukan kearah radial, sedangkan insulation flange merupakan suatu jenis penyekat
pipa yang dapat menyekat arus di dalam sistem perpipaan dan insulasi dilakukan kearah
lateral.
Di Indonesia telah banyak dibangun jembatan dengan komponen baja terutama
jembatan rangka baja dengan pondasi tiang pancang baja. Jembatan-jembatan tersebut berada
dalam lingkungan yang beriklim tropis dengan curah hujan, kelembaban, dan intensitas sinar
matahari yang tinggi. Beberapa jembatan yang berada dalam lingkungan tersebut telah
menunjukkan adanya kerusakan yang dipengaruhi oleh terjadinya korosi pada tiang pancang
jembatan. Tiang panjang baja umumnya sering berada pada lokasi air, tanah basah dan
lumpur. Salah satu sistem penanggulangan korosi tiang pancang baja di lingkungan air dan
atau tanah adalah dengan proteksi katodik.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum proteksi katodik kali ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.
Adapun tujuan umum dari praktikum proteksi katodik ini diantaranya sebagai berikut :
1) Mengetahui cara menginspeksi peralatan pengendalian korosi terhadap pipa yang
menggunakan metode sacrificial anode (anoda korban) dan menggunakan metode
impressed current (arus paksa).
2) Mahasiswa mengetahui pengaruh insulation joint dan jembatan perpipaan pada metode
proteksi katodik simulator perpipaan.
Adapun tujuan khusus dari praktikum proteksi katodik ini diantaranya sebagai berikut :
1) Mengerti cara membuat grafik sebagai representasi hasil pengukuran potensial.
2) Mengetahui analisis dasar karakteristik perlindungan korosi berdasarkan sifat grafik
potensial yang telah tergambar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Korosi
Material logam yang biasa dijumpai sehari-hari berasal dari proses pembentukan dari

bijihnya. Bijih-bijih tersebut biasanya berupa oksida logam seperti hematit (Fe 2O3) untuk besi
atau bauksit (Al2O3.H2O) untuk aluminium. Bijih logam direduksi sehingga membentuk
material logam murni yang memiliki energi yang tinggi.
Menurut salah satu prinsip termodinamika, sebuah material selalu mengarah pada
keadaan energi yang paling rendah. Begitu juga pada material logam, kebanyakan logam
tidak stabil secara termodinamik dan cenderung akan mencari keadaan energi yang lebih
rendah berupa oksida atau beberapa senyawa lainnya. Proses yang melibatkan perubahan
logam ke arah oksida dengan energi rendah disebut korosi. Jika dilihat sebagai reaksi tunggal,
pada dasarnya peristiwa korosi merupakan reaksi reduksi logam murni membentuk ion logam
bermuatan positif dengan melepaskan elektron. Prinsip reaksi ini dapat dituliskan sebagai: M
Mn+ + ne-.
Beberapa pendapat menjelaskan mengenai definisi korosi, namun pada umumnya
korosi dapat diartikan sebagai proses degradasi logam yang diakibatkan oleh reaksi dengan
lingkungannya. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang
paling lazim adalah perkaratan besi. Korosi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
1 Korosi basah, yaitu proses korosi yang terjadi pada lingkungan berair.
2 Korosi dalam larutan garam.
3 Korosi kering, biasanya terjadi pada suhu tinggi.
2

Elektrokimia Korosi
Elektrokimia merupakan reaksi kimia yang melibatkan adanya transfer elektron antara

elektroda positif (anoda) dan elektroda negatif (katoda). Proses korosi merupakan reaksi
elektrokimia yang terjadi dalam material logam. Reaksi korosi melibatkan proses pelepasan
elektron (oksidasi) dari logam [persamaan (1)] dan proses penerimaan elektron oleh beberapa
reaksi reduksi, seperti reduksi oksigen atau air [persamaan (2) dan (3), secara berurutan].
2Fe 2Fe2+ + 2e-

(1)

O2 + 2H2O + 4e- 4OH-

(2)

2H2O + 2e- H2 + 2OH-

(3)

Pada proses korosi, reaksi oksidasi sering disebut sebagai reaksi anodik dan reaksi
reduksi disebut sebagai reaksi katodik. Reaksi oksidasi menyebabkan hilangnya struktur

logam, dengan diikuti pelepasan elektron yang selanjutnya diterima oleh reaksi reduksi untuk
mempertahankan kenetralan muatan. Apabila terdapat muatan negatif dalam jumlah besar
diantara logam dan elektrolit, proses korosi dapat dicegah.
Reaksi elektrokimia yang berupa oksidasi dan reduksi mengacu pada reaksi setengah
sel. Kedua reaksi tersebut dapat terjadi pada daerah yang sama atau terpisah. Reaksi
elektrokimia yang terjadi pada daerah terpisah disebut sebagai sel korosi diferensial. Skema
sel korosi diferensial dapat dilihat dalam Gambar 2.1. Bagian logam yang mengalami
oksidasi disebut sebagai anoda atau bagian anodik. Pada bagian ini, arus listrik searah yang
diartikan sebagai aliran muatan positif mengalir dari permukaan logam menuju elektrolit
disertai dengan pelepasan ion logam. Arus ini mengalir dalam elektrolit ke bagian oksigen,
air, atau beberapa jenis lainnya mengalami reduksi. Bagian ini biasa disebut sebagai katoda
atau bagian katodik. Berikut adalah empat komponen penting dari sel korosi diferensial.
a
b
c

Anoda
Anoda merupakan bagian yang melepaskan elektron (oksidasi).
Katoda
Katoda merupakan bagian yang menerima elektron (reduksi).
Penghantar listrik
Penghantar listrik dapat berupa konduktor yang dapat menghubungkan arus listrik antara
anoda dan katoda.
Elektrolit
Elektrolit merupakan media yang dapat menghantarkan arus listrik, misalnya air dan
tanah.

Gambar 2.1 Skema sel korosi diferensial.


Korosi dalam tanah yang dialami saluran pipa dan struktur lainnya sering disebabkan
oleh sel korosi diferensial. Sel korosi diferensial meliputi sel aerasi diferensial yang
melibatkan perbedaan jumlah konsentrasi oksigen dalam tanah. Sel tersebut dihasilkan oleh
perbedaan alami pada permukaan pipa atau zat kimia dalam tanah. Korosi galvanik
merupakan salah satu bentuk sel korosi diferensial yang terjadi karena dua logam berbeda
terhubungkan secara elektrik dan ditempatkan di lingkungan korosif.
3

Metode Penanggulangan Korosi


Penanggulangan korosi hanya akan berhasil bila metode yang dipilih tepat. Berikut

adalah lima metoda penanggulangan korosi yang biasa dilakukan.


1 Pemilihan material yang tepat
Pemilihan material disesuaikan dengan biaya, ketersediaan, dan karakteristik material.
2 Perancangan material yang tahan terhadap lingkungan tertentu
Perancangan material meliputi penambahan unsur paduan, pemurnian, perlakuan panas,
3

dan pendinginan
Pengubahan lingkungan yang korosif
Pengubahan lingkungan dapat dilakukan dengan penambahan inhibitor ke dalam media

korosi sehingga dapat menghambat reaksi anodik dan katodik.


Pemutusan interaksi antara material dengan lingkungan
Pemutusan interaksi antara material dengan lingkungan dapat dilakukan dengan

penambahan lapisan pada pipa sebagai isolator atau biasa disebut coating.
Pengubahan potensial logam dengan metode proteksi katodik dan anodik
Pemilihan metode penanggulangan korosi biasanya dipertimbangkan berdasarkan

beberapa aspek, yang meliputi aspek ekonomi, kualitas, lingkungan dan keamanan proteksi.
Dua atau lebih dari kelima metode tersebut biasanya digunakan secara bersamaan. Hal
tersebut dilakukan untuk memperoleh proteksi yang lebih baik.
4

Sistem Proteksi Katodik


Sistem proteksi katodik banyak digunakan untuk memproteksi struktur baja yang

berada di dalam tanah dan lingkungan air laut. Dalam banyak kasus, penerapan proteksi
katodik sering dikombinasikan dengan coating, sehingga tujuan khusus dari penerapan
proteksi katodik adalah untuk melindungi baja pada saat coating mengalami kerusakan.
Pada saat ini, penerapan system proteksi katodik telah meningkat secara cepat dengan
banyaknya penerapan di area eksplorasi serta produksi minyak dan gas yang berada di
offshore. Metode proteksi ini merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk
memproteksi bagian material yang terendam oleh air, terutama air laut.

Prinsip utama system proteksi katodik adalah menekan arus eksternal ke dalam
material sehingga potensial material turun ke daerah imun. Dengan kata lain, material yang
digunakan sebagai katoda dalam sel elektrokimia terpolarisasi secara katodik seperti yang
digambarkan pada kurva E log I dalam Gambar 2.2.
Berdasarkan Gambar 2.2 terlihat bahwa i0 katoda lebih rendah daripada iA yang
dimiliki oleh anoda korban, begitu juga dengan nilai potensialnya. Dengan adanya arus
eksternal yang dialirkan dari anoda ke katoda, katoda menjadi terproteksi dan rapat arus
korosi katoda menjadi lebih rendah daripada i0, yaitu ikor. Arus eksternal dapat dihasilkan
dengan dua cara yang berbeda, yaitu:
a

menggunakan logam yang kurang mulia dalam bentuk anoda korban yang dihubungkan

dengan konduktor logam pada struktur yang dilindungi,


menggunakan sumber arus eksternal berupa sebuah rectifier. Sebuah elektroda referensi
dapat digunakan untuk mengontrol rectifier.
E
anoda

E0
Ekor

katoda
ikor i0

iA

log i

Gambar 2.2 Prinsip proteksi katodik anoda korban berdasarkan diagram Evans
5

Sistem Proteksi Katodik Metode Anoda Korban


Proteksi katodik metode anoda korban dapat dilakukan dengan menghubungkan

anoda korban terhadap material yang akan diproteksi. Material yang akan diproteksi diatur
agar berperan sebagai katoda dalam suatu sel korosi dan pasangan yang dihubungkan adalah
logam lain yang memiliki potensial yang lebih negatif sehingga berperan sebagai anoda.
Elektron akan mengalir dari anoda ke katoda melalui kabel penghubung sehingga terjadi
penerimaan elektron di katoda. Dengan adanya penerimaan elektron tersebut, katoda akan
jenuh dengan elektron dan terproteksi dari proses korosi.

Gambar 2.3 Proteksi katodik metode anoda korban


Sistem proteksi katodik anoda korban biasanya diterapkan pada perlindungan tangki
dalam tanah, jaringan pipa dalam tanah, jaringan kabel listrik dan komunikasi dalam tanah,
tangki air panas dan struktur kapal laut. Berikut adalah kelebihan penerapan sistem proteksi
katodik metode anoda korban.
1
2
3
4
5
6
7

Pemasangan relatif mudah dan murah.


Tidak membutuhkan sumber energi listrik dari luar.
Distribusi arus merata.
Cocok untuk daerah berstruktur padat.
Tidak membutuhkan biaya operasional.
Perawatan mudah.
Resiko overprotection rendah.

Di pihak lain metode ini juga mempunyai beberapa kekurangan sebagai berikut.
1
2
3

Keluaran arus terbatas.


Tidak efektif bila resistivitas elektrolit tinggi.
Tidak cocok untuk struktur besar yang perlu arus proteksi besar.

Dalam perancangan sistem proteksi katodik metode anoda korban, terdapat tiga kriteria
yang ditetapkan oleh NACE (National Association of Corrosion Engineers), yaitu:
1
2
3

-850mV terhadap proteksi katodik yang diaplikasikan,


-850mV potensial polarisasi terhadap CSE,
polarisasi minimum 100mV.

2.6 Metode Pengendalian Korosi Arus paksa


Pada metode arus paksa atau impressed current, struktur yang dilindung mendapat
supply elektron sehingga potensialnya menjadi lebih katodik. Sistem Impressed Current
Cathodic Protection (ICCP) menggunakan anoda yang dihubungkan dengan sumber arus
searah (DC) yang dinamakan cathodic protection rectifier, dimana arus negatif dihubungkan
dengan logam yang dilindungi sedang arus positif dihubungkan dengan anoda pembantu yang
disebut groundbed. Mekanisme impressed current cathodic protection dapat dilihat pada
Gambar 2.4.

Arus yang dialirkan dapat diukur dengan mengetahui potensial logam sampai ke
daerah stabil. Anoda untuk sistem ICCP dapat berbentuk batangan tubular atau pita panjang
dari berbagai material khusus. Material ini dapat berupa high silikon cast iron yang
merupakan campuran besi dan silikon, grafit, campuran logam oksida, platina dan niobium,
serta material lainnya.
Tipe sistem ICCP yang umum untuk jalur pipa terdiri dari rectifier bertenaga arus
bolak-balok (AC) dengan output arus DC maksimum antara 10 - 50 ampere dan 50 volt.
Terminal positif dari output DC tersebut dihubungkan melalui kabel ke anoda-anoda yang
ditanam di dalam tanah. Banyak aplikasi menanam anoda hingga kedalaman 60 m (200 kaki)
dengan diameter lubang 25 cm (10 inci) serta ditimbun dengan conductive coke berupa
material yang dapat meningkatkan performa dan umur dari anoda (Wikipedia, 2010).

Gambar 2.4 Impressed current cathodic protection


(sumber: Peabodys Control of Pipeline Corrosion, 2001)

Gambar 2.5 Proteksi katodik metode arus paksa


(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Proteksi_Katodik)
Berikut adalah keuntungan penerapan system proteksi katodik metode arus paksa :
1)
2)
3)
4)

Kebutuhan arus dapat diatur secara luas sesuai kebutuhan


Tingkat proteks tercukupi hingga level yang sangat baik
Umur proteksi lebih panjang daripada anoda tumbal
Dapat digunakan untuk memproteksi alat yang berukuran besar

5) Rentang proteksi dapat diatur


6) Area proteksi yang luas
7) Dapat memproteksi struktur yang tidak di coating dengan baik.

Metode arus paksa juga mempunyai beberapa kekurangan, yaitu:


1)
2)
3)
4)
5)
6)

Dibutuhkan peralatan lain seperti trafo dan rectifier


Membutuhkan perawatan dan pemantauan secara berkala
kemungkinan terjadinya interferensi sangat besar
perlu perawatan yang baik
kemungkinan terjadinya overprotection sangat besar
adanya biaya tambahan untuk menjalankan energi eksternal

AC supply

Transformator

Rectifier

Gambar 2.6 rangkaian sistem arus paksa

(sumber: http://ilmu-elektronika.co.cc/index.php/arus-bolak-balik-ac/rangkaian-penyearahgelombang-rectifier-circuit.html)
Secara prinsip, besi akan melepaskan elektron ke lingkungan dan hal ini yang
menyebabkan korosi terjadi. Dengan metoda arus paksa, elektron pada besi ditahan agar
tidak dilepaskan oleh besi dengan cara membanjiri permukaan besi dengan elektron. Elektron
didapat dari sistem arus paksa yang terpasang. Aliran elektron akan mengalir dari anoda ke
katoda, dimana anoda diwakili oleh groundbed yang terhubung dengan kutub positif rectifier
dan pipa dan yang terhubung dengan kutub negatif rectifier bertindak sebagai katoda.
Sistem arus tanding ini membutuhkan rectifier atau penyearah arus,groundbed, dan
transformator.
2.7 Insulation Joint
Insulation Joint merupakan jenis penyekat arus listrik di dalam sistem perpipaan yang
berbentuk seperti mangkuk dan insulasi dilakukan kearah radial. Insulation joint ini
merupakan jenis penyekat pada sistem perpipaan yang dipasang secara permanen dalam
sistem perpipaan dan terdiri dari dua pipa pendek yang sudah dilas dengan flange, ring,
insulasi gasket, sealing element, material inti insulasi, dan coating. Insulasi gasket dan
sealing element tersebut dijepit diantara dua pipa pendek yang sudah dilas dengan flange.
Ring dipasang supaya kedua flange kunci secara kuat. Insulation Joint dapat dilihat seperti
pada Gambar 2.7.a.

Gambar 2.7.a Insulation joint

Gambar 2.7.b Insulation joint


2.8 Jembatan Perpipaan
Jembatan perpipaan merupakan suatau rangkaian instalasi jaringan perpipaan yang
didesain khusus agar pipa yang muncul keatas permukaan tanah memiliki penopang badan
pipa. Karakteristik pipa yang memiliki diameter, panjang serta massa yang besar rentan sekali
terhadap bengkok bahkan patahnya pipa, oleh karena itu pipa ditopang menggunakan
jembatan yang menjaga kestabilan pipa.

Gambar 2.8 Rangkaian Jembatan Perpipaan


BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Peralatan dan Bahan yang Digunakan


1) Simulator Sistem Proteksi Katodik.
2) Elektoda Cu.
3) Trafo.
4) Voltmeter.
5) Avometer.
6) Tiang Besi.
7) Kabel.
8) Palu.
9) Tang.
3.2 Langkah Kerja

3.2.1

Sacrificial Anode (Anoda Korban)


Membuka seluruh testbox

Melepaskan sambungan terminal merah (anoda korban) dengan terminal hitam (dari pipa)

Mengukur potensial anoda korban menggunakan avometer dengan elektoda pembanding CSE

Mengukur potensial pipa menggunakan avometer dengan elektoda pembanding CSE

Menyambungkan lagi terminal merah (anoda korban) dengan terminal hitam (dari pipa)

Mengukur potensial proteksi menggunakan avometer dengan elektoda pembanding CSE

3.2.2

Impressed Current
Menghubungan trasformator ke sumber arus

Mengukur potensial input trafo menggunakan trafo meter

Merangkai sistem impressed current

Tancapkan groundbed pada tanah

Mengukur potensial proteksi menggunakan avometer pada setiap testbox IC

3.2.3

Insulation Joint

Melukai bagian atas dan


bawah insulation Flange

3.2.4

Mengukur potensial
seluruh insulation flange
dengan avometer

Kontruksi Jembatan Perpipaan


Menaikan pipa hingga tepat berada dibawah jembatan dengan dongkrak

Melukai bagian jembatan

Mengukur potensial jembatan dengan avometer

Melukai bagian pipa

Mengukur potensial pipa dengan avometer

Mengulangi untuk sisi yang lainnya

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan proses proteksi katodik, insulation
joint, dan jembatan perpipaan. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui
analisis dasar karekteristik perlindungan korosi berdasarkan sifat grafik potensial yang
tergambar.
1. Proteksi katodik
Proteksi Katodik (Cathodic Protection) adalah teknik yang digunakan untuk
mengendalikan korosi pada permukaan logam dengan menjadikan permukaan logam tersebut
sebagai katode dari sel elektrokimia. Prinsip proteksi katodik adalah membanjiri struktur
yang dilindungi dengan arus elektron. Proteksi katodik yang digunakan pada praktikum ini
menggunakan dua jenis metoda yaitu metode proteksi anoda korban (sacrificial anode) dan
arus paksa (impressed current).
a. Metode proteksi anoda korban (sacrificial anode)

Proteksi katodik metode anoda korban dapat dilakukan dengan menghubungkan


anoda korban terhadap material yang akan diproteksi. Elektron akan mengalir dari anoda ke
katoda melalui kabel penghubung sehingga terjadi penerimaan elektron di katoda. Dengan
adanya penerimaan elektron tersebut, katoda akan jenuh dengan elektron dan terproteksi dari
proses korosi. Hal ini juga akan menyebabkan potensial logam turun. Menurut diagram
Pourbaix ketika potensial logam turun pada titik tertentu, maka logam akan berada pada
kondisi imun dimana logam tidak akan mengalami korosi. Anoda yang digunakan pada pada
praktikum adalah Mg.

0.35
0.3
0.25
0.2

Tanpa proteksi
Anoda
Proteksi

Potensial (-V/CSE) 0.15


0.1
0.05
0
pipa 1

pipa 2

pipa 3

Grafik 4.1 Potensial pada metode proteksi anoda korban (sacrificial anode)
Berdasarkan Grafik 4.1, potensial pipa yang terproteksi memiliki potensial yang
relative sama dengan pipa yang tidak terproteksi. Potensial proteksi pipa lebih rendah dari
potensial imun (-850 mV), dimana dari hasil yang didapat dapat diketahui bahwa pipa telah
terkorosi.
b. Arus paksa (impressed current)
Pada metode arus paksa atau impressed current, struktur yang dilindung mendapat
supply elektron sehingga potensialnya menjadi lebih katodik menggunakan anoda yang
dihubungkan dengan sumber arus searah (DC) yang dinamakan cathodic protection rectifier
hingga nilai potensial logam sampai ke arah stabil, dimana arus negatif dihubungkan dengan
logam yang dilindungi sedang arus positif dihubungkan dengan anoda pembantu yang
ditanam didalam tanah. Anoda yang digunakan pada praktikum berbentuk batangan tubular
dari high silikon cast iron (campuran besi dan silikon, grafit, campuran logam oksida, platina

dan niobium, serta material lainnya). Output arus DC yang digunakan 12 ampere dan 145
volt.
Menggunakan metoda arus paksa, elektron pada besi ditahan agar tidak dilepaskan
oleh besi dengan cara membanjiri permukaan besi dengan elektron. Elektron didapat dari
sistem arus paksa yang terpasang. Aliran elektron akan mengalir dari anoda ke katoda,
dimana anoda diwakili oleh groundbed yang terhubung dengan kutub positif rectifier dan
pipa dan yang terhubung dengan kutub negatif rectifier bertindak sebagai katoda.
1.2
1
0.8

Potensial (-V/CSE)

0.6
0.4
0.2
0
Testbox 1

Testbox 2

Testbox 3

Testbox 4

Grafik 4.2 Potensial Pada Metode Impressed Current


Berdasarkan Grafik 4.2, Kualitas pipa yang terproteksi dengan baik menunjukkan
potensial sebesar -850

mV, namun berdasarkan hasil percobaan pada testbox 1 dan 2

diketahui bahwa nilai potensial yang didapatkan lebih kecil dari nilai standar. Hal ini
menunjukkan bahwa pipa telah mengalami korosi. Sedangkan pada titik 3 dan 4 potensialnya
melebihi daerah imun sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan coating organik atau cat
dapat terkelupas.
2. Insulation Joint
Insulation Joint merupakan jenis penyekat arus listrik di dalam sistem perpipaan yang
berbentuk seperti mangkuk dan insulasi dilakukan kearah radial. Insulation joint ini
merupakan jenis penyekat pada sistem perpipaan yang dipasang secara permanen dalam
sistem perpipaan dan terdiri dari dua pipa pendek yang sudah dilas dengan flange, ring,
insulasi gasket, sealing element, material inti insulasi, dan coating. Insulation yang
digunakan pada praktikum adalah cat akrilik.

1.4
1.2
1
0.8

Bawah
Series 3

Potensial (-V/CSE) 0.6


0.4
0.2
0
Insulation 1

Insulation 2

Insulation 3

Grafik 4.3 Potensial Pada Insulation Joint


Berdasarkan Grafik 4.3, pada semua insulation belum mengalami kebocoran, hal ini
dapat dilihat bahwa nilai potensial antara insulation bawah dan atas memiliki nilai potensial
yang berbeda. Namun, pada insulation 1 perbedaan potensialnya sangat sedikit, tidak lama
hal ini akan menyebabkan kebocoran.
3. Jembatan perpipaan
Jembatan perpipaan merupakan suatau rangkaian instalasi jaringan perpipaan yang
didesain khusus agar pipa yang muncul keatas permukaan tanah memiliki penopang badan
pipa. Karakteristik pipa yang memiliki diameter, panjang serta massa yang besar rentan sekali
terhadap bengkok bahkan patahnya pipa, oleh karena itu pipa ditopang menggunakan
jembatan yang menjaga kestabilan pipa. Jenis pipa yang digunakan pada praktikum adalah
pipa dengan sambungan (pembuatan pipa dengan pengelasan). Bahan yang biasa digunakan
adalah besi atau bahan dengan istilah i-beam.
1.15
1.14
1.13
1.12

Pipa
Series 3

Potensial (-V/CSE) 1.11


1.1
1.09
1.08
sambungann kiri

sambungann kanan

Grafik 4.4 Potensial Pada Jembatan Pipa

Berdasarkan Grafik 4.4, dapat dilihat nilai potensial antara pipa dan jembatan jauh
berbeda, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pipa tidak bocor, dapat dilihat pula pada
pipa kanan dan pipa kiri nilai potensialnya tidak jauh berbeda hanya 0.003 V/CSE dan dapat
diabaikan karena perbedaan yang sangat kecil dikarenakan pengukuran pada alat yang kurang
akurat.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Melalui praktikum proteksi katodik ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1) Pada percobaan anoda korban maupun arus paksa, pada testbox 1 dan 2 diperoleh nilai
potensial yang lebih kecil dari nilai standar, pipa telah mengalami korosi. Sedangkan

pada testbox 3 dan 4 nilai potensial melebihi daerah imun sehingga dikhawatirkan
menyebabkan coating organik atau cat dapat terkelupas.
2) Pada percobaan insulation joint, perbedaan potensial pada insulation 1 sangat kecil, maka
tidak lama insulation 1 akan mengalami kebocoran. Sedangkan perbedaan potensial pada
insulation 2 dan 3 jauh sehingga masih aman dari kebocoran.
3) Pada percobaan jembatan perpipaan diperoleh nilai potensial antara pipa dan jembatan
yang jauh berbeda, maka arus pada pipa tidak bocor.
4) Dengan adanya insulation, arus listrik antar metode proteksi yang berbeda tidak saling
tercampur.
5)
5.2 Saran

LAMPIRAN
Hasil Data Pengamatan
Table 4.1 Sacrificial Anode (Anoda Korban)
Potensial (-V/CSE)
Tanpa Proteksi
anoda
0.1281
0.1237
0.2109
0.1239
0.2047
0.3270

Pipa
1
2
3

Proteksi
0.1280
0.2109
0.2052

Table 4.2 Impressed Current


Testbox

Potensial Pipa (-V/CSE)

0.161

0.1759

1.123

Testbox 4

1.1161

Table 4.3 Pengamatan Pada Insulation Joint


Insulation
1
2
3

Bawah (-V/CSE)
1.143
1.151
0.147

Atas (-V/CSE)
1.151
0.877
0.920

Table 4.4 Pengamatan Pada Jembatan Perpipaan

Sambungan
Kiri

Pipa (-V/CSE)
1.143

Jembatan (-V/CSE)
1.102

Kanan

1.140

1.119