Anda di halaman 1dari 13

Abdurrohman

240210130008
IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Pengeringan adalah cara pengawetan pangan yang paling luas digunakan.

Pengeringan pangan merupakan penerapan panas dalam kondisi terkendali untuk


mengeluarkan sebagian besar air dari dalam bahan pangan melalui proses
evaporasi dan sublimasi. Tujuan pengeringan adalah untuk menurunkan kadar air
dari bahan pangan agar perusakan mikroorganisme dan enzim menurun sehingga
umur simpan dari bahan pangan tersebut menjadi lebih lama (Tjahjadi, 2011).
Tujuan pengeringan pangan lainnya adalah menekan biaya pengangkutan, biaya
pengemasan murah karena terjadi penyusutan volume, kemudahan penyajian
(convenience), dan diversifikasi pangan (Tjahjadi dan Herlina, 2008).
Pengeringan pada bahan hasil pertanian bertujuan untuk pengawetan
makanan, mengurangi berat dan volume, menekan biaya pengangkutan dan
penyimpanan karena berat dan volume produk berkurang, serta menghasilkan
produk yang siap saji atau cepat saji antara lain produk-produk instan.
Keuntungan utama dari pengeringan dibandingkan dengan metode lain
adalah:
1) Bobot pangan menjadi ringan, kadar air dalam makanan umumnya sekitar
60% - 90%. Hampir semua air dalam makanan dapat dikeluarkan dengan
dehidrasi dan yang tersisa adalah padatan kering dengan kadar air yang
rendah.
2) Pemapatan volume.
3) Awet atau stabil pada penyimpanan pada suhu kamar, walaupun tetap ada
batas umur simpan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pengeringan antara lain:
1) Sifat fisik dan sifat kimia dari produk (bentuk, ukuran, komposisi, dan kadar
air).
2) Pengaturan geometris produk sehubungan dengan permukaan alat atau
media perantara pemindah panas.
3) Sifat-sifat fisik dari lingkungan alat pengering.
4) Karakteristik alat pengering.

Abdurrohman
240210130008
Pada praktikum ini dilakukan pengolahan pangan dengan cara pengeringan
yang terdiri dari pembuatan cabe merah kering, tepung kedelai, gaplek singkong,
tepung tapioka, tepung ubi jalar.
IV.1 Pembuatan Cabe Kering
Proses pembuatan cabe kering dimulai dengan melakukan sortasi untuk
memilih cabe yang berkualitas baik. Cabe selanjutnya ditimbang untuk
mengetahui berat awal sebelum dilakukan pengeringan. Cabe yang telah
ditimbang selanjutnya dicuci untuk memisahkan partikel yang tidak dikehendaki
seperti gulma, tanah, mikroorganisme kontaminan, sisa pertisida, batu dan lainlain. Cabe lalu diblansing selama 3 menit. Menurut Tjahjadi dan Herlina (2011)
blansing pada proses penyiapan sayur dilakukan untuk a) menonaktifkan enzim
terutama polifenoloksidase (penyebab pencoklatan enzimatis), lipoksigenase
(penyebab ketengikan), ascorbic acid oxidase (penyebab penguraian vitamin C),
serta katalase dan peroksidase; b) mengeluarkan udara dari jaringan untuk
mencegah reaksi oksidasi, mencegah agar tekanan dalam kemasan sewaktu
sterilisasi agar tidak terlalu tinggi; c) mengurangi populasi mikroorganisme; d)
menghilangkan kotoran yang melekat; d) melunakkan jaringan hingga mudah
masuknya ke dalam kemasan. Lama waktu blansing untuk setiap bahan berbedabeda bergantung pada jenis dan ukuran bahan. Pada praktikum ini dilakukan
blansing selama 3 menit. cabe yang telah diblansing direndam dalam air es selama
3 menit untuk mencegah terjadinya over cook. Cabe yang telah diblansing lalu
dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari hingga kering. Indikasi
bahwa cabe sudah kering adalah mudah di patahkan. Berikut merupakan hasil
pengamatan pembuatan cabe kering yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Abdurrohman
240210130008
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembuatan Cabe Kering
Kelompok
Karakteristik
1A
2A
Merah
Merah kehitaman
Warna
(+++)
(++)
Keras dan kering
Kering dan rapuh
Tekstur
(++++)
(++)
Keriting
Bentuk
Keriput
(+++)
Menyusut
Ukuran
Mengecil
(++)
Kilap
+
Menurun
Menyengat
Aroma
+
(+)
Susut Bobot
49,2024 gram
66,88 gram
(Sumber : Data Pengamatan, 2015)
Berdasarkan hasil pengamatan untuk cabe merah kelompok 1A warna cabe
setelah pengeringan berubah menjadi merah tua, hal ini terjadi karena timbulnya
reaksi pencoklatan karena adanya pemanasan pada cabe. Aroma setelah
dikeringkan adalah bau caramel dan cabe, hal ini berarti pengeringan yang
dilakukan berhasil karena tidak ada cabe yang berbau busuk maupun bau asam.
Susut bobot yang didapatkan hanya 49,2024 gram karena terjadi penyusutan
bobot cabe yang disebabkan menguapnya air dan zat volatile dari cabe.
Dari hasil pengamatan untuk cabe merah kelompok 2A warna cabe yang
awalnya merah berubah menjadi merah kehitaman setelah pengeringan. Hal ini
merupakan salah satu efek dari pengeringan yang cenderung merubah warna
produk menjadi lebih gelap akibat pemucatan pigmen. Setelah penggilingan
warna cabe berubah menjadi orange. Bentuk cabe yang awalnya panjang berlekuk
berubah menjadi panjang berlekuk mengkerut akibat dari case hardening, sebagai
akibat dari pengerutan selama air dari dalam cabe dikeluarkan. Ukuran cabe
setelah pengeringan menjadi tipis dan setelah penggilingan menjadi sangat kecil.
Sementara itu, tekstur cabe yang awalnya lunak berubah menjadi keras akibat
berkurangnya kandungan air, namun setelah digiling teksturnya menjadi sangat
halus. Aroma cabe yang awalnya khas cabe berubah menjadi semakin kuat setelah
pengeringan. Menurut literatur aroma bahan pangan yang sudah dikeringkan
menjadi berkurang karena hilangnya flavour yang mudah menguap pada cabe

Abdurrohman
240210130008
tersebut. Tetapi hasil pengamatan tidak sesuai dengan literatur, hal ini disebabkan
pengamatan inderawi setiap orang berbeda-beda sehingga tidak memberikan hasil
yang akurat. Susut bobot cabe setelah pengeringan adalah 66,88 gram.
Suhu tinggi selain juga dapat mempengaruhi kehilangan air dari bahan
pangan, juga dapat mempengaruhi susut bobot, layu, keriput, kering, dan
kehilangan warna kilap suatu bahan pangan (Tjahjadi, 2008). Semua cabe yang
telah dikeringkan mengalami pengkriputan. Kandungan air dalam cabe
mempengaruhi lamanya waktu yang digunakan untuk mengeringkan bahan
pangan tersebut.
IV.2 Pembuatan Gaplek Singkong
Ubi Kayu atau singkong (Manihot utilisima) merupakan salah satu hasil
pertanian yang tidak tahan lama dan mudah rusak. Ubi kayu segar hanya dapat
disimpan selama 3 hari. Jika disimpan lebih dari 3 hari, umbinya akan berwarna
coklat kebiruan. Oleh karena itu, setelah dipanen ubi kayu harus segera
dikonsumsi atau diproses lebih lanjut. Untuk mempertahankan daya simpannya,
ubi kayu dapat diolah salah satunya menjadi gaplek. Berdasarkan bentuknya,
gaplek dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu gaplek gelondongan, gaplek
rajangan (chips), gaplek irisan (slice), dan gaplek kubus (cubes).
Pembuatan gaplek singkong cukup sederhana dimana singkong yang telah
dikupas kulitnya ditimbang dan dilakukan pencucian hingga bersih. Pencucian ini
dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada
permukaan singkong. Singkong lalu diiris berbentuk persegi panjang, pengirisan
untuk memperkecil ukuran ini dimaksudkan untuk memperbesar luas permukaan
sehingga memudahkan dan mempercepat proses pengeringan. Singkong yang
telah diiris kemudian di blansing uap selama 3 menit. Blansing dengan uap panas
akan menghentikan reaksi enzimatik yang ada pada singkong serta membantu
mempertahankan warna dan cita-rasa setelah pengolahan. Tiriskan singkong
supaya suhunya turun dan lakukan pengeringan di bawah sinar matahari hingga
benar-benar kering selama beberapa hari. Berikut merupakan hasil pengamatan
pembuatan gaplek singkong yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Abdurrohman
240210130008
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pembuatan Gaplek Singkong
Kelompok
Karakteristik
7A
8A
Warna
Putih gading
Putih gading
Tekstur
Renyah dan mudah patah Keras dan mudah patah
Bentuk
Kotak seperti awal
Persegi panjang
Ukuran
1,5 3,5 cm
4,5 2 cm
Susut Bobot
54 gram
40 gram
(Sumber : Data Pengamatan, 2015)
Berdasarkan hasil pengamatan, warna gaplek singkong tidak berubah yaitu
tetap berwarna putih gading seperti awal. Seharusnya berdasarkan literaur warna
tersebut berubah menjadi putih kekuningan yang terbentuk karena adanya panas
yang menyebabkan reaksi pencoklatan. Bentuk dan ukuran gaplek setelah
pengeringan masih sama seperti sebelumnya dan tekstur gaplek yang awalnya
lunak menjadi keras akibat hilangnya sebagian besar air pada saat pengeringan.
Susut bobot yang didapat pada kelompok 7A sebesar 54 gram dan kelompok 8A
sebesar 40 gram, pada pengeringan gaplek ini susut bobot yang dihasilkan lebih
kecil dibandingkan susut bobot pengeringan cabe merah karena singkong tidak
seperti cabe yang banyak mengandung zat volatile.
IV.3 Pembuatan Tepung Tapioka
Ubi Kayu atau singkong (Manihot utilisima) selain dibuat sebagai gaplek
juga dapat diolah menjadi tepung tapioka. Tapioka adalah butiran/granula pati
yang banyak terdapat di dalam sel umbi singkong. Butiran pati, sebagian besar
terdiri dari pati, tetapi di samping itu juga terdapat protein, lemak, dan komponenkomponen lainnya dalam jumlah yang sangat kecil. Pada prinsipnya pengolahan
pati adalah memisahkan granula pati dari bagian-bagian lain umbi akar semurni
mungkin.
Pembuatan tepung tapioka cukup mudah dimana singkong yang telah
dikupas kulitnya ditimbang dan dilakukan pencucian hingga bersih. Pengupasan
kulit luar singkong harus dilakukan agar diperoleh tapioka dengan mutu yang baik
yaitu warna tepung yang putih, berkadar serat rendah, dan berkadar HCN rendah,
sementara itu pencucian juga dimaksudkan untuk memisahkan partikel yang tidak
dikehendaki seperti gulma, tanah, mikroorganisme kontaminan, sisa pertisida,

Abdurrohman
240210130008
batu dan lain-lain yang menempel pada permukaan singkong. Singkong lalu
diparut untuk memperkecil ukuran serta untuk memperbesar luas permukaan
sehingga pada saat di campur dengan air dan disaring, patinya akan terekstrak
dengan baik. Singkong yang telah diparut kemudian di campur dengan air dan
diremas-remas (ekstraksi basah), setelah itu dilakukan penyaringan dan
pengendapan. Pengendapan sebaiknya dilakukan selama mungkin (sekitar 12 jam)
agar hasil endapan lebih banyak. Setelah itu cairan di atas endapan dibuang. Jika
sekiranya warna endapan kurang putih maka dapat ditambah air lagi dan
dilakukan pengendapan ulang sampai tercapai warna putih yang diinginkan.
Endapan yang berbentuk pasta kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga
kering dan berbentuk tepung kasar. Tepung kasar lalu digiling dengan
menggunakan grinder dan diayak dengan ayakan 80 mesh. Berikut merupakan
hasil pengamatan pembuatan tepung tapioka dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengamatan Pembuatan Tepung Tapioka
Kelompok
Karakteristik
10A
9A
Warna
Putih
Putih
Aroma
Khas tepung
Khas tepung
Halus
Halus
Kehalusan
(+++)
(+++)
Susut Bobot
19 gram
19 gram
(Sumber : Data Pengamatan, 2015)
Dari hasil pengamatan, warna tepung tapioka sebelum pengeringan, setelah
pengeringan, dan setelah penggilingan adalah sama yaitu putih. Bentuk tapioka
adalah padat namun setelah digiling berubah menjadi serbuk, untuk ukuran karena
menggunakan ayakan 80 mesh maka ukurannya adalah 80 mesh. Tekstur tapioka
sebelum pengeringan adalah halus dan setelah pengeringan menjadi keras
memadat akibat hilangnya kandungan air, setelah dilakukan penggilingan
teksturnya berubah menjadi halus yang seragam. Aroma tapioka yang awalnya
khas singkong berubah menjadi asam pati (khas tepung) setelah pengeringan dan
setelah penggilingan. Susut bobot tepung tapioka setelah penggilingan sangat
rendah sekali yaitu hanya 19 gram karena tapioka merupakan ekstrak pati
singkong. Tepung tapioka yang sudah jadi ini harus disimpan dalam plastik atau

Abdurrohman
240210130008
kotak kaleng yang tertutup rapat agar tidak terjadi penyerapan kembali uap air
dari udara. Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Warna Tepung : tepung tapioka yang baik berwarna putih.
2) Kandungan Air : tepung harus dijemur sampai kering benar sehingga
kandungan airnya rendah.
3) Banyaknya serat dan kotoran : usahakan agar banyaknya serat dan kayu
yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat dan
zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.
4) Tingkat kekentalan : usahakan daya rekat tapioka tetap tinggi. Jadi hindari
penggunaan air yang berlebih dalam proses produksi.
4.4

Pembuatan Tepung Ubi Jalar


Proses pembuatan tepung ubi jalar dimulai dengan sortasi untuk

mendapatkan ubi yang berkualitas baik, lalu dilakukan pengupasan untuk


menghilangkan kulit ubi tersebut. Ubi yang telah dikupas lalu ditimbang untuk
mengetahui rendemen yang akan diperoleh. Ubi selanjutnya dipotong-potong
kurang lebih 2 cm untuk memperbesar luas permukaan agar mudah dikeringkan
dan mudah ditepungkan. Potongan ubi lalu diblansing uap selama 3 menit untuk
menghambat terjadinya pencoklatan enzimatis yang disebabkan oleh enzim
peroksidase yaitu dengan menonaktifkan enzim dan mengeluarkan udara dari
jaringan. Ubi yang telah diblansing selanjutnya dikeringkan dibawah sinar
matahari sampai kering. Ubi yang telah kering lalu digiling dan diayak menjadi
tepung ubi jalar.
Kandungan pati di dalam tepung cukup penting, sehingga semakin tinggi
kandungan pati semakin dikehendaki konsumen. Kandungan pati didalam bahan
bakunya akan dipengaruhi oleh umur tanaman dan lama penyimpanan setelah
panen. Umur optimal ubi jalar tercapai apabila kandungan patinya maksimum dan
kandungan seratnya rendah. Oleh karena itu pada pembuatan tepung ubi jalar
apabila dikehendaki kandungan patinya maksimum, maka ubi jalar hasil panen
sebaiknya segera diolah dan tidak dilakukan penyimpanan, toleransi penyimpanan
setelah panen dapat dilakukan. Perlakuan tersebut dapat menurunkan kandungan
patinya. Namun demikian, toleransi penyimpanan setelah panen dapat dilakukan

Abdurrohman
240210130008
hingga maksimum tujuh hari (Antarlina S.S. dan J.S. Utomo, 1999). Berikut
merupakan hasil pengamatan pembuatan tepung ubi jalar yang dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Pengamatan Pembuatan Tepung Ubi Jalar
Kelompok
Karakteristik
5A
6A
Warna
Putih kecoklatan
Putih
Aroma
Asam pati
Khas tepung
Kehalusan
Halus
Halus
Susut Bobot
13 gram
13 gram
(Sumber : Data Pengamatan, 2015)
Bedasarkan hasil pengamatan, tepung ubi jalar seharusnya berubah menjadi
warna kusam atau kecoklatan akibat pemanasan. Warna tersebut merupakan warna
dari pati yang terdapat pada ubi jalar. Susut bobot yang dihasilkan lebih sedikit
dibandingkan dengan tepung tapioka karena tepung ubi merupakan ubi yang
dikecilkan ukurannya sedangkan tapioka adalah ekstrak pati singkong.
Besarnya rendemen tepung yang dihasilkan dari ubi jalar segar dapat
diketahui dari kadar bahan keringnya. Semakin tinggi kadar bahan kering ubi
jalar, maka semakin tinggi pula rendemen tepung yang dihasilkan. Besarnya kadar
bahan kering tergantung pada varietas/klon, lingkungan (radiasi sinar matahari,
suhu, pemupukan, kelembaban tanah) dan umur tanaman (Bradbury dan
Holloway, 1988). Komposisi kimia dari beberapa varietas/klon ubi jalar sangat
bervariasi dan akan menghasilkan mutu tepung yang bervariasi pula.
4.5

Pembuatan Tepung Kedelai


Proses pembuatan tepung kedelai diawali dengan menyortasi kacang kedelai

yang akan diolah, kemudian ditimbang beratnya untuk dapat diketahui nantinya
susut bobot yang akan diperoleh dengan menghitung selisih berat awal dengan
berat akhir. Kacang kedelai dihancurkan dengan alat grinder untuk memperbesar
luas permukaan agar mudah ditepungkan. Tepung kedelai hasil dari penghancuran
dengan grinder tersebut diayak dengan ayakan 80 mesh. Berikut merupakan hasil
pengamatan pembuatan tepung kedelai yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Abdurrohman
240210130008
Tabel 5. Hasil Pengamatan Pembuatan Tepung Kedelai
Kelompok
Karakteristi
k
3A
4A
Hijau
Hijau
Warna
(+)
(+)
Khas kacang kedelai
Khas kacang kedelai
Aroma
(++)
(++)
Halus
Halus
Kehalusan
(+)
(+)
Susut Bobot
3 gram
3 gram
(Sumber : Data Pengamatan, 2015)
Berdasarkan hasil pengamatan tepung kedelai yang diperoleh sudah sesuai
dengan produk komersial pada umumnya. Warna tepung kedelai adalah hijau
akibat adanya pigmen klorofil yang masih ada pada kacang kedelai. Teksturnya
halus karena telah diayak dengan ayakan 80 mesh dan aromanya khas kacang
kedelai. Susut bobot yag dihasilkanpun hanya sebesar 3 gram sehingga dapat
disimpulkan pada pengerjaan dan prosedur pembuatan tepung kedelai sudah benar
dan sesuai dengan prosedur yang tepat.

Abdurrohman
240210130008
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum kali ini

diperoleh kesimpulan yaitu sebagai berikut :


1. Bahwa pengeringan merupakan cara salah satu pengawetan alami
yang disamping itu juga dapat mempengaruhi citarasa, warna, dan
tekstur dari setiap produk yang dikeringkan.
2. Cabe kering yang didapat berwarna merah tua beraroma cabe
menyengat dengan tekstur kering dan rapuh dan susut bobot 49,20
gram dan 66,88 gram.
3. Gaplek singkong yang dihasilkan berwarna putih gading dan beraroma
khas singkong dengan tekstur mudah patah dan keras serta susut bobot
54 gram dan 40 gram.
4. Tepung tapioka yang dihasilkan memiliki warna yang putih dengan
tekstur halus dan licin beraroma khas tapioka dengan susut bobot 19
gram.
5. Tepung ubi jalar yang dihasilkan berwarna putih kecoklatan beraroma
khas ubi dengan tekstur halus dan susut bobot 13 gram.
6. Tepung kedelai yang dihasilkan berwarna hijau beraroma kacang
kedelai dengan tekstur halus dan susut bobot 3 gram.
5.2

Saran
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum kali ini,

adapun saran yang dapat disampaikan yaitu sebagai berikut :


1. Sebelum melakukan praktikum, praktikan harus sudah memahami
mengenai praktikum yang akan dilakukan.
2. Melakukan penimbangan dan perhitungan dengan teliti.

Abdurrohman
240210130008
DAFTAR PUSTAKA
Tjahjadi, C. dan Herlina M. 2011. Pengantar Teknologi Pangan (Volume I).
Jurusan Teknologi Industri Pangan. Fakultas Teknologi Industri Pertanian.
Universitas Padjajaran. Jatinangor.
Tjahjadi, C. dan Herlina M. 2011. Pengantar Teknologi Pangan (Volume II).
Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Padjadjaran. Bandung.
Tjahjadi, C. 2008. Teknologi Pengolahan Sayur dan Buah. Widya Padjadjaran.
Jatinangor.

Abdurrohman
240210130008
LAMPIRAN
JAWABAN PERTANYAAN
1. Jelaskan masing-masing keuntungan dan kerugian pengeringan dengan sinar
matahari dan pengeringan buatan!
Jawab :
Pengeringan secara alami :
(+) Tak dibutuhkan peralatan khusus, tidak membutuhkan biaya yang mahal,
tidak membutuhkan keahlian khusus.
(-) waktu pengeringan bergantung kepada cuaca, membutuhkan lahan yang
luas, dapat terjadi kontaminasi dari udara, suhu pengeringan tidak dapat
dikontrol.
Pengeringan modern :
(+) Suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur seuai keinginan,
waktu pengeringan tidak dipengaruhi cuaca, sanitisi dan higiene dapat
dikendalikan.
(-) Memerlukan keterampilan dan peralatan khusus, serta biaya lebih tinggi
dibanding pengeringan alami.
2. Apa pengaruh blansing dan perendaman dalam larutan Na-Bisulfit terhadap
pengeringan cabe?
Jawab :
Blansing dapat menonaktifkan enzim penyebab pencoklatan, penyebab
ketengikan dan penyebab penguraian vitamin C. Na-Bisulfit dapat
menghambat dan mencegah terjadinya reaksi pencoklatan, juga mencegah
kerusakan oleh serangga dan mikroorganisme pada bahan pangan yang akan
dikeringkan.
3. Jelaskan jenis-jenis kerusakan yang sering terjadi pada makanan kering!
Jawab :
Dapat menyebabkan case hardening atau pengerasan kulit luar pangan
akibat kerusakan sel. Terjadinya pencoklatan warna pangan sampai

Abdurrohman
240210130008
terjadinya kegosongan. Serangan kapang yang dapat tumbuh pada Aw
rendah.
4. Mengapa proses inaktivasi enzim diperlukan sebelum proses pengeringan?
Jelaskan beberapa metode inaktivasi enzim!
Jawab :
Mencegah terjadinya reaksi pencoklatan enzimatis, mencegah ketengikan
dan mencegah penguraian vitamin C.
Metode blansing:
1) Blansing dengan air panas (Hot Water Blanching):
Metode ini cukup efisien. Namun, memiliki kekurangan yaitu
kehilangan komponen bahan pangan yang mudah larut dalam air serta bahan
yang tidak tahan panas.
2) Blansing dengan uap air panas (Steam Blanching):
Blansing dengan metode ini paling sering diterapkan. Metode ini
mengurangi kehilangan komponen yang tidak tahan panas.
3) Penambahan zat kimia tertentu seperti Na-bisulfit atau Nametabisulfit.
5. Pada proses pengendapan pati dalam pembuatan tapioka, terdapat butiran
pati dan komponen lainnya sehingga dapat menimbulkan bau yang khas.
Apakah yang menyebabkan bau khas tersebut?
Jawab :
Pada pengendapan ini akan terdapat butiran pati termasuk protein, lemak
dan komponen lain yang stabil dan kompleks. Bahkan butiran ini terdapat
berbagai senyawa sehingga dapat menimbulkan bau yang khas. Senyawa
alkohol dan asam organik merupakan komponen yang mempunyai bau khas.