Anda di halaman 1dari 11

1

PEMANFAATAN VARIETAS LOKAL DALAM


KETERKAITANNYA DENGAN TEORI KEADILAN

Oleh :
Muh Nur Udpa

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


KEMENDAGRI REGIONAL MAKASSAR
2014

I.

Prolog
Masyarakat adalah suatu asosiasi mandiri dari orang-orang yang saling berinteraksi
satu sama lain dengan mengakui aturan main tertentu sebagai pengikat dan sebagian besar
anggotanya bertindak sesuai dengan aturan tersebut. Anggaplah aturan-aturan tersebut
membentuk sistem kerja sama yang dirancang untuk menunjukkan kebaikan orang-orang
yang terlibat didalamnya. Kemudian, kendati masyarakat merupakan ikhtiar kooperatif demi
keuntungan bersama, ia bisanya ditandai dengan konflik dan juga identitas kepentingan.
Identitas kepentingan ini dikarenakan kerja sama sosial memungkinkan kehidupan yang lebih
baik bagi semua orang dari pada jika masing-masing hidup sendirian.1
Adanya konflik kepentingan dikarenakan orang-orang berbeda pandangan dalam hal
bagaimana pembagian keuntungan yang dihasilkan kerja sama mereka, sebab demi mengejar
tujuan mereka, setiap orang memilih bagian yang lebih besar ketimbang bagian yang sedikit.
Seperangkat prinsip dibutuhkan untuk memilih di antara berbagai tatanan sosial yang
menentukan pembagian keuntungan tersebut dan untuk mendukung kesepakatan pembagian
yang layak.

Prinsip-prinsip ini adalah prinsip keadilan sosial: memberi jalan untuk

memberikan hak-hak dan kewajiban di lembaga-lembaga dasar masyarakat serta menentukan


pembagian keuntungan dan beban kerja sama sosial secara layak.2
Kendati orang saling mengajukan tuntutan yang sangat besar, namun mereka
mengakui sudut pandang bersama untuk mengungkapkan pernyataan-pernyataan mereka.
Jika kecenderungan orang-orang pada kepentingan diri sendiri memerlukan saling perhatian
satu sama lain, maka rasa keadilan publik memungkinkan asosiasi bersama mereka. Di antara
individu-individu dengan tujuan dan sasaran yang berbeda, sebuah konsepsi bersama
mengenai keadilan akan mengukuhkan ikatan kebersamaan sosial; keinginan umum pada
keadilan akan membatasi pencapaian tujuan-tujuan lain. Kita bisa menganggap konsepsi
publik mengenai keadilan sebagai pembentuk kontrak fundamental dari asosiasi manusia
yang tertata dengan baik. Masyarakat yang ada tentu jarang yang tertata dengan baik dalam
pengertian seperti itu, sebab apa yang adil dan tidak adil selalu masih dalam perdebatan.
Orang tidak saling sepakat tentang prinsip mana yang mesti menentukan kerangka dasar

1 John Rawls, 2011, Teori Keadilan, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, h. 4-5


2 Ibid.

asosiasi mereka. Namun, kita masih bisa mengatakan bahwa mereka semua punya konsepsi
tentang keadilan.3
Pemberian perlindungan terhadap karya intelektual dalam ranah internasional dan
nasional telah dilindungi dengan menggunakan berbagai aturan, salah satunya yaitu melalui
ranah Intellectual Property Rights yang dilahirkan atas kesepakatan bersama dalam perjanjian
TRIPs. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk meminimalisir terjadinya berbagai tindakan
itikad buruk atas penggunaan karya intelektual. Namun, munculnya pembagian posisi Negara
Utara dan Negara Selatan atau opini akan dominasi kepentingan negara maju dan negara
berkembang. Mengakibatkan aturan yang mewadahi perlindungan hak kekayaan intelektual
tidak memberikan keadilan bagi seluruh anggotanya. Berbagai macam pemanfaatan karya
intelektual, yang dimiliki oleh negara berkembang, oleh negara maju tanpa pemberian
penghargaan atas pemanfaatan tersebut. Pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya
tradisional
II. Pengetahuan Tradisional
Pengetahuan tradisional (traditional knowledge), dapat ditemukan dalam semua lapangan
kehidupan yang relevan dengan masyarakat tradisional, terutama menyangkut dengan
pemenuhan kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup, seperti obat dan pengobatan,
makanan, dan pertanian. Namun, karena sulitnya untuk memastikan pengetahuan merupakan
milik seseorang atau suatu komunitas, pengetahuan tradisional adakalanya dipereloh oleh
orang yang bukan anggota komunitas dan digunakannya baik untuk tujuan yang sama
maupun untuk tujuan yang berbeda dan mengambil potensi ekonomi. Misalnya saja dalam
kasus Ayahuasca yang dapat mengilustrasikan bagaimana eksistensi dan perlindungan
pengetahuan tradisional. Banisteriopsiscaapi merupakan jenis tanaman di sekitar Amazon
Basin yang dipergunakan oleh para dukun (shamans) untuk membuat minuman Ayahuasca
atau Yage dalam rangka upacara penyembuhan penyakit. Menurut tradisi setempat Ayahuasca
merupakan simbol budaya dan religi, seperti halnya salib atau eukaristi (perjamuan suci) bagi
umat Kristen. Namun, seorang warga AS bernama Loren S, Miller memperoleh paten dari
USPTO (Paten Number 5751) atas varietas tanaman Banisteriopsiscaapi pada tanggal 17 Juni
1986 dan mengajukan klaim paten karena ingin memonopoli manfaat ekonomis dari
invention mereka atas teknologi yang terkait dengan Ayahuasca tersebut.4

3 Ibid., h. 5-6

Selain itu, di Indonesia terdapat pula beberapa kasus terkait penggunaan pengetahuan
tradisional oleh pihak asing misalnya saja pada desain patung Bali, desain batik, jamu
tradisional, makanan khas Indonesia (tempe), tari-tarian (tari reog ponorogo dan tari tor tor),
dan sebagainya yang pada dasarnya merupakan upaya menggali potensi ekonomis dari
penggunaan pengetahuan tradisional. Beberapa kasus tersebut menunjukkan betapa
pengetahuan tradisional memiliki nilai manfaat yang tinggi tidak hanya bagi masyarakat
tradisional, tetapi juga untuk masyarakat modern. Bahkan seluruh penduduk dunia juga dapat
mengambil manfaat dari pengetahuan tradisional.5 Pengetahuan tradisional dan Ekspresi
Budaya Tradisional menjadi sangat penting karena dapat digunakan secara luas untuk
merujuk pada inovasi-inovasi dan karya-karya berbasis tradisi yang dihasilkan dari kegiatan
intelektual di bidang industri, ilmu pengetahuan, seni atau sastra.6
Hampir di seluruh dunia, komunitas, dan orang perorangan (individual) mempunyai
pengetahuan yang diturunkan dari generasi kegenerasi, dikembangkan, dan dilestarikan
dengan cara-cara yang tradisional (traditional manner). Pengetahuan tersebut sering
merupakan pengetahuan yang sangat dasar, berasal dari pengalaman sehari-hari dan pada
umumnya ditandai dengan suatu ciri yang tradisional (a traditional). Komunitas tradisional
menggunakan cara coba-coba (try and error) terhadap sumber daya biologis yang ada di
sekitar mereka dan mengembangkan pengetahuan untuk menunjang serta mempertahankan
kelangsungan hidup mereka.7
Untuk memahami kepemilikan pengetahuan tradisional dalam masyarakat asli,
berikut ini dikemukakan konsep kepemilikan pengetahuan tradisional yang dikemukakan
4 Agus, Sardjono, 2009, Membumikan HKI di IndonesiaI, Nuansa Aulia, Bandung,
hlm. 102-103
5 Lembaga Pengkajian Hukum Internasional FH-UI bekerjasama dengan
Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia, 2005, Kepentingan Negara Berkembang terhadap Hak Atas Indikasi
Geografis, Sumber Daya Genetika, dan Pengetahuan Tradisional, Depok, hlm. 63
6 Afrillyanna Purba, 2012, Pemberdayaan Perlindungan Hukum Pengetahuan
Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Sebagai Sarana Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia,Bandung, Alumni, Hlm. 122
7 Zainul, Daulay, 2011, Pengetahuan Tradisional-Konsep, Dasar Hukum, dan
Praktiknya, RajaGrafindo Persada, Makassar, h. 1

oleh Anil K. Gupta yang dikenal dengan Contested Domain of Knowledge. Menurut Gupta,
dilihat dari aspek siap yang menghasilkan (producer), pengetahuan tradisional dapat
dihasilkan oleh individu, sekelompok individu, atau komunitas lokal atau masyarakat asli.
Namun, dilihat dari bagaimana pengetahuan tersebut dipertahankan, dijaga, dan diakses
pengetahuan tersebut dapat dikelompokkan menjadi pengetahuan individu, pengetahuan
komunitas, dan pengetahuan yang sudah menjadi publik domain.
Pengetahuan individu adalah pengetahuan yang dijaga kerahasiaannya oleh seorang
(individu) dan oleh keturunannnya. Pengetahuan ini hanya dapat diakses secara terbata
dengan persyaratan tertentu. Pengetahuan individu ini dikelompokkan menjadi:
a. Pengetahuan individu yang dimiliki secara privat yang diwarisi dari nenek
moyangnya;
b. Keahlian yang diperoleh dan dipraktikkan dengan penuh keyakinan tanpa modifikasi
atau dengan modifikasi;
c. Hak individu untuk mengggunakan pengetahuan yang dimodifikasi dan yang tidak
dimodifikasi baik dengan menggunakan kaidah-kaidah yang sama (same rules) atau
dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berbeda (different rules)
Pengetahuan komunitas adalah pengetahuan yang dapat dibuka atau disebarkan secara
terbatas dalam suatu komunitas. Ruang lingkup maupun persyaratan untuk mengaksesnya
sangat ketat. Pengetahuan komunitas ini dikelompokkan menjadi :
a. Pengetahuan yang diketahui oleh komunitas;
b. Pengetahuan yang dipraktikkan oleh individu jika dibuka kepada individu-individu
lainnya;
c. Pengetahuan yang dipraktikkan oleh individu jika dibuka kepada komunitas;
d. Pengetahuan yang dipraktikkan oleh komunitas jika dibuka kepada komunitas;
e. Pengetahuan yang dipraktikkan oleh komunitas sekalipun jika dibuka kepada
individu-individu lainnya;
f. Pengetahuan yang terbuka pada komunitas tetapi tidak dipraktikkan oleh individu
maupun komunitas;
g. Pengetahuan yang terbuka pada komunitas dan dapat diakses oleh orang luar;
h. Pengetahuan yang terbuka pada komunitas tetapi tidak dapat diakses oleh orang luar.
Pengetahuan yang menjadi publik domain adalah pengetahuan yang telah dibuka dan dibagi
(shared) secara luas dalam suatu komunitas, baik sesama anggota komunitas atau dengan
orang luar (outsider). Pengetahuan yang termasuk kategori ini dikelompokkan menjadi:

a. Pengetahuan yang dibuka kepada publik secara luas melalui dokumentasi atau
sebaliknya;
b. Pengetahuan yang dibuka kepada publik secara luas dan dipraktikkan oleh hanya
individu-individu tertentu;
c. Pengetahuan yang dibuka kepada publik secara luas dan dipraktikkan oleh publik
secara luas;
d. Pengetahuan yang dibuka kepada publik secara luas tetapi belum dipraktikkan.
Selanjutnya, menurut Gupta, di antara ketiga kelompok pengetahuan tersebut (pengetahuan
individu, komunitas, dan yang bersifat publik domain) terjadi titik singgung atau tumpang
tindih (overlapping) yang membentuk contested domains (domain yang diperebutkan) dalam
pengetahuan tradisional, yaitu :
a. Kreativitas individual yang dipelihara, dirawat oleh komunitas yang tersebar secara
luas dalam masyarakat;
b. Pengetahuan komunitas yang tersebar pada masyarakat umum secara luas dengan atau
tanpa izin terlebih dahulu (prior informed consent);
c. Pengetahuan individual yang tersebar pada masyarakat umum secara luas dengan atau
tanpa izin terlebih dahulu (prior informed consent);
d. Pengetahuan individual dan masyarakat.
Menurut penulis, tidaklah adil bagi sebuah pengetahuan tradisional yang berada
dalam kategori dipertahankan oleh individu dan komunitas dipersamakan perlakuan
perlindungannya terhadap pengetahuan tradisional yang menjadi public domain. Aristoteles
mengatakan bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi
haknya, fiat jutitia bereat mundus. Dalam pengertian ini Aristoteles membagi dua jenis
keadilan yaitu justitia correctiva (keadilan korektif) dan justitia distributiva (keadilan
distributif/membagi). Keadilan membagi adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap
orang hak atas bagiannya sesuai dengan jasa atau amal baktinya. Prinsip kesebandingan
disesuaikan dengan besar kecilnya bagiannya sesuai dengan jasanya.8
Sedangkan bagi pengetahuan tradisional yang tidak lagi dipertahankan oleh
pemiliknya atau tidak lagi dilestarikan oleh masyarakat asli. Pemanfaatan dan pendaftaran
oleh negara maju atas kepemilikan9 dapat dikatakan sebuah hal yang benar dan adil menurut
penulis. Penghargaan terhadap kepemilikan suatu benda semakin tinggi, disaat benda tersebut
telah dimiliki oleh orang lain. Padahal dilain sisi pemiliknya secara nyata tidak lagi
8 Dominikus Rato, 2010, Filsafat Hukum, Laksbang Justitia: Surabaya, h.59-60

memperdulikan dan menjaganya. Pemenuhan hak yang diberikan atas kepemilikan


pengetahuan tradisional, secara langsung melekat kan pula kewajiban bagi pemiliknya. Salah
satunya

yaitu

dengan

mewajibkan

pemilik

pengetahuan

tradisional

untuk

tetap

melestarikannya. Pengetahuan tradisional yang tak bertuan tersebut secara tidak langsung
menimbulkan sebuah situasi dimana seluruh pihak memiliki hak yang sama untuk
memanfaatkannya. Dalam kondisi tersebutlah, menurut penulis, keadilan kreatif (iustitia
creativa) lebih diutamakan. Keadilan yang diberikan kepada masing-masing orang bagiannya
berupa kebebasan untuk mencipta sesuai dengan kreatifitas yang dimilikinya di berbagai
bidang kehidupan. Tanpa harus memperhatikan pembayaran royalti maupun pembagian
keuntungan kepada pemilik awal dari pengetahuan tersebut.
III.

Varietas Lokal Keterkaitannya dengan Pengetahuan Tradisional


Perlindungan varietas tanaman yang selanjutnya disebut PVT adalah perlindungan
khusus yang diberikan negara yang dalam hal ini diwakili oleh pemerintah dan
pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan Varietas Tanaman terhadap varietas
tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman melalui kegiatan pemuliaan tanaman.
Pemuliaan tanaman

adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan

penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk
menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan.
UU PVT mengenal beberapa istilah varietas tanaman yaitu varietas unggul baru,
varietas bernama dan terdaftar (varietas hasil pemuliahan yang tidak diberikan PVT dan
varietas lokal), varietas turunan esensial, dan varietas asal. Varietas unggul baru yang
dimaksudkan penulis yaitu varietas yang diberikan perlindungan oleh UU PVT, akibat
pendafataran yang dilakukan oleh pemulia, yang memiliki kriteria varietas dari jenis atau
spesies tanaman yang baru, unik, seragam, stabil, dan diberi nama. Suatu varietas dianggap
baru apabila pada saat penerimaan permohonan hak PVT, bahan perbanyakan atau hasil
panen dari varietas tersebut belum pernah diperdagangkan di Indonesia atau sudah
diperdagangkan tetapi tidak lebih dari setahun atau telah diperdagangkan diluar negeri tidak
lebih dari empat tahun untuk tanaman semusim dan enam tahun untuk tanaman tahunan.
Suatu varietas dianggap unik apabila varietas tersebut dapat dibedakan secara jelas dengan
9 Dalam hal ini pihak tersebut mengeluarkan waktu, tenaga, dan uang untuk
melestarikan kembali pengetahuan tradisional sekaligus menambahkan
beberapa temuan baru untuk menambah keunggulan dari pengetahuan
tradisional tersebut

varietas lain yang keberadaannya sudah diketahui secara umum pada saat penerimaan
permohonan hak PVT. Suatu varietas dianggap seragam apabila sifat-sifat utama atau
penting pada varietas tersebut terbukti seragam meskipun bervariasi sebagai akibat dari cara
tanam dan lingkungan yang berbeda. Suatu varietas dianggap stabil apabila sifat-sifatnya
tidak mengalami perubahan setelah ditanam berulang-ulang, atau untuk yang diperbanyak
melalui siklus perbanyakan khusus, tidak mengalami perubahan pada setiap akhir siklus
tersebut. Varietas unggul baru merupakan hasil dari pemulia tanaman melalui kegiatan
pemuliaan tanaman
Varietas bernama dan terdaftar merupakan varietas yang tidak dapat diberikan
perlindungan terhadap UU PVT tetapi telah diberikan nama dan didaftar oleh pemerintah.
Pasal 1 ayat 10 Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2004 tentang Penamaan, Pendaftaran,
dan Penggunaan Varietas Asal untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial, mendefinisikan
bahwa penamaan varietas yang tidak diberi PVT merupakan kegiatan memberi nama kepada
varietas lokal dan varietas hasil pemuliaan yang tidak diberi PVT, sebagai identitas varietas
yang bersangkutan dan pemenuhan persyaratan peraturan perundang-undangan untuk
keperluan perolehan manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Pendaftaran varietas adalah kegiatan
mendaftarkan suatu varietas untuk kepentingan pengumpulan data mengenai varietas lokal,
varietas yang dilepas, dan varietas hasil pemuliaan yang tidak dilepas, serta data mengenai
hubungan hukum antara varietas yang bersangkutan dengan pemiliknya dan/atau
penggunanya.
Varietas lokal adalah varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun temurun
oleh petani, serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai oleh negara dan dilaksanakan oleh
pemerintah. Pengertian pelaksanaan penguasaan varietas lokal oleh pemerintah meliputi
pengaturan hak imbalan dan penggunaan varietas tersebut dalam kaitan dengan PVT serta
usaha-usaha pelestarian plasma nutfah. Penggunaan varietas lokal mencakup antara lain
kepemilikan dan pengaturan manfaat ekonomi bagi masyarakat pemilik varietas lokal.
Varietas turunan esensial adalah varietas hasil perakitan dari varietas asal dengan
menggunakan seleksi tertentu sedemikian rupa sehingga varietas tersebut mempertahankan
ekspresi sifat-sifat esensial dari varietas asalnya tetapi dapat dibedakan secara jelas dengan
varietas asalnya dari sifat-sifat yang timbul dari tindakan penurunan itu sendiri. Varietas asal
adalah varietas yang digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan varietas turunan
esensial yang meliputi varietas yang mendapat PVT dan varietas yang tidak mendapat PVT

tetapi telah diberi nama dan didaftar oleh pemerintah. Pembuatan varietas turunan esensial
dan varietas asal harus memenuhi dua syarat yaitu melalui metode seleksi tertentu dan sifat
varietas asal tetap dapat dipertahankan, sifat varietas asal yang dapat dipertahankan paling
sedikit 70%. Metode seleksi tertentu meliputi mutasi alami, mutasi induksi, seleski
individual varietas yang sudah ada, silang balik, variasi somaklonal, dan atau rekayasa
genetik.
Varietas tanaman jika dikaitkan dengan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya
tradisional, yang dapat dikaitkan dengan keduanya hanyalah pada varietas lokal. Alasan
penulis berdasarkan definisi varietas lokal yang menyebutkan bahwa varietas lokal telah ada
dan dibudidayakan secara turun temurun oleh petani serta telah menjadi milik masyarakat dan
dikuasai oleh negara. Selain berdasar pada definisi, persyaratan penamaan varietas lokal yang
tertuang dalam Pasal 4 PP Nomor 13 tahun 2004 tentang Penamaan, Pendaftaran, dan
Penggunaan Varietas Asal untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial juga melandasai
penulis menyatakan hal tersebut. Penamaan varietas lokal harus memenuhi persyaratan
mencerminkan identitas varietas lokal yang bersangkutan; tidak menimbulkan kerancuan
karakteristik, nilai, atau identitas suatu varietas lokal; tidak telah digunakan untuk nama
varietas yang sudah ada; tidak menggunakan nama orang terkenal; tidak menggunakan nama
alam; tidak menggunakan lambang negara; dan/atau tidak menggunakan merek dagang untuk
barang dan jasa yang dihasilkan dari bahan propogasi seperti benih atau bibit atau bahan yang
dihasilkan dari varietas lain, jasa transportasi atau penyewaan tanaman.
Perlindungan varietas lokal dengan perlindungan Indikasi Geografis, memiliki beberapa
persamaan. Dimana keduanya sama-sama melindungi varietas tanaman yang melekat
didalamnya sebuah sejarah dan tradisi atas wilayah varietas tersebut. Namun, perbedaan
keduanya terdapat fungsi yang melekat pada kedua perlindungan tersebut. Varietas lokal
berfungsi utama sebagai tanda pembeda dengan suatu varietas lain sedangkan Indikasi
Geografis lebih berfungsi untuk menandakan asal tempat suatu varietas. Dimana karakteristik
dan kualitas dari varietas tersebut berasal dari wilayah pertumbuhan. Indikasi Geografis
memiliki berbagai persyaratan yang cukup ketat untuk memberikan perlindungannya
sedangkan varietas lokal hanya sebatas dari segi penamaan varietas.
Perbedaan selanjutnya dari keduanya yaitu dari segi kepemilikannya. Varietas lokal
dengan jelas dinyatakan dalam PP Nomor 13 tahun 2004 tentang Penamaan, Pendaftaran, dan
Penggunaan Varietas Asal untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial dimiliki oleh negara

10

dimiliki oleh negara sedangkan dalam perlindungan Indikasi Geografis tidak dijelaskan
secara terperinci siapa pemilik dan pemegang hak untuk menggunakannya. Indikasi
Geografis hanya mengenal pihak-pihak yang dapat mendaftarkan tanpa ada hak yang
menyertainya ketika produk telah terindikasi geografis dan pemakai Indikasi Geografis
(produsen).
PP Nomor 13 tahun 2004 tentang Penamaan, Pendaftaran, dan Penggunaan Varietas
Asal untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial dengan jelas menetapkan bahwa
Bupati/walikota atau gubernur bertindak untuk dan atas nama serta mewakili kepentingan
masyarakat pemilik varietas lokal diwilayahnya memberikan nama varietas lokal berdasarkan
persyaratan penamaan. Ketika seseorang atau badan hukum yang akan menggunakan suatu
varietas lokal sebagai varietas asal untuk pembuatan varietas turunan esensial wajib membuat
perjanjian terlebih dahulu dengan bupati/walikota, gubernur, atau Kantor PVT yang mewakili
kepentingan masyarakat pemilik varietas varietas lokal yang bersangkutan. Perjanjian
tersebut harus dibuat dihadapan notaris. Perjanjian sebagaimana yang dimaksud dapat
mengatur tentang imbalan bagi masyarakat pemilik varietas asal yang diperoleh dari varietas
turunan esensial yang bahan dasarnya varietas lokal. Imbalan tersebut digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemilik varietas lokal dan konservasi varietas lokal
yang bersangkutan dan upaya-upaya pelestarian plasma nutfah di daerah tempat varietas lokal
tersebut. Bupati/walikota, gubernur, atau Kantor PVT yang mewakili kepentingan masyarakat
pemilik varietas lokal melaksanakan penggunaan imbalan tersebut.
Menurut penulis, varietas lokal yang dipertahankan secara turun temurun oleh
masyarakat dan diambil alih oleh pemerintah pusat dan daerah perihal proses pemanfaatan
dan penggunaan namanya memiliki dua sisi, positif dan negatif. Tahap yang harus dilalui oleh
pihak yang ingin menggunakannya wajib melewati prosedur perizinan. Melibatkan profesi
notaris dalam hal legalitas perjanjian penggunaan nama dan pemanfaatannya. Hal tersebut
telah mengadopsi Konvensi keanekaragaman hayati (covention biodiversity) perihal Prior
Informed Consent dan access and benefit sharing. Sehingga kekuatan hukum yang
mengikatnya akan lebih kuat mengingat telah didasari pula dari segi hukum internasional.
Namun, perizinan tersebut tidak melibatkan secara langsung masyarakat asli yang notabene
merupakan pihak yang telah mempertahankan varietas tersebut. Indonesia terdiri dari
berbagai macam adat istiadat keanekaragamn tersebut pula yang melahirkan berbagai macam
upacara adat di dalamnya. Sebaiknya, proses perjanjian dalam pemanfaatan dan penggunaan
varietas

lokal

ikut

mempertimbangkan

kedudukan

dari

masyarakat

asli,

serta

11

mempertimbangkan adat istiadat yang melekat di dalamnya. Perjanjian yang dilaksankan


secara tertulis harus didampingi pula dengan perjanjian secara adat.
Perjanjian adat menurut penulis seharusnya menjadi persyaratan pertama dan utama
yang harus dilaksanakan oleh pihak yang akan memanfaatkan varietas lokal tersebut. Jika
perjanjian adat tidak dilaksanakan maka permohonan perizinan tersebut akan ditolak.
Walaupun syarat-syarat lainnya telah terpenuhi. Menurut penulis, perjanjian adat menjadi
utama berdasarkan pertimbangan bagaimana masyarakat asli menciptakan dengan intelektual
adat istiadat serta mempertahankannya hingga saat ini. Tidak hanya sebatas itu saja, terdapat
beberapa varietas lokal yang sejak dulu hingga saat ini dipergunakan hanya sebatas pada
kalangan raja atau bangsawan saja. Contohnya saja pada salah satu varietas padi di Tana
Toraja, terdapat beberapa jenis varietas padi dan salah satunya yaitu varietas yang hanya
dikhususkan untuk dikonsumsi oleh raja. Varietas tersebut tentunya, saat ingin dimanfaatkan
oleh pihak lain, tidak dapat diizinkan mengingat derajat yang akan mengkonsumsi melanggar
aturan adat. Pemerintah harusnya hanya menjadi fasilitator dalam hal pemanfaatan tersebut.
Tidak mengambil alih secara keseluruhan, namun menjembataninya agar tetap berada dalam
koridor yang semestinya.