Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

APA PENYEBAB ULKUS KORNEA? STRATEGI PENANGANAN PADA


ULKUS KORNEA YANG TIDAK ADA RESPON DENGAN PENGOBATAN

Disusun Oleh :
Tiara Lachtaria
1110103000016

Pembimbing :
dr. Sri S. Lukman, SpM

KEPANITERAAN KLINIK SMF MATA RSUD KOTA BEKASI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015/2016

Abstrak
Infeksi keratitis menjadi penyebab morbiditas penyakit mata terbesar di Amerika Serikat.
Pengobatan dan penanganan terhadap dugaan infeksi keratitis (PIK) telah mengalami perubahan
dalam dua dekade terakhir. Perkembangan baru antibiotik topikal telah menggantikan antibotik
spektrum luas sebagai penetrasi yang baik. Mayoritas dari kasus PIK bereaksi baik menggunakan
strategi ini. Sejumlah kecil masalah PIK yang tidak memberikan respon yang baik pada treatment
ini adalah masalah yang memberikan tantangan diagnostik dan terapeutik. Sejumlah kecil kasus
yang tidak memberi reaksi terhadap penanganan ini adalah kasus-kasus yang menimbulkan
tantangan diagnosa dan terapi. Ulasan ini akan menggambarkan beberapa algoritma yang berbeda,
yang dapat diikuti untuk mendapatkan penanganan yang sukses terhadap pasien dengan PIK berat
atau progresif. Algoritma-algoritma ini didasari pada penelitian ilmiah dan pengalaman klinis kami
(penulis). Ulasan ini juga akan menunjukkan tiga kasus klinis yang berbeda dari PIK, yang
ditangani sesuai dengan algoritma-algoritma yang ditunjukkan di sini.
Pengenalan
Infeksi keratitis menjadi penyebab utama penyakit okuler di Amerika Serikat, dengan
jumlah 30.000 kasus per tahun sejak pertama tercatat. Di California, secara rata-rata terjadi 27,6
kasus tiap 10.000 orang per tahunnya, dengan perkiraan total sebanyak 75.000 kasus peradangan
kornea terjadi tiap tahunnya di Amerika Serikat. Perkiraan konservatif menyebutkan jumlah ulkus
kornea yang terjadi di negara berkembang sebanyak 1,5 juta kasus setiap tahun. Kasus keratitis
yang disebabkan oleh bakteri di Amerika Serikat, terjadi pada 3 dari 1.000 orang pasien yang
mengunjungi dokter mata. Beberapa penyebab umum ulkus kornea adalah trauma, penggunaan
lensa kontak, kondisi pasca-bedah kornea, penyakit pada permukaan mata, penggunaan obat
topikal dalam jangka waktu lama, dan imunosupresi secara sistemik. Sekitar 50% dari pasien yang
mengalami infeksi keratitis hanya memiliki visus optimal 20/60 atau bahkan lebih buruk, dan 25%nya berkurang menjadi 20/200.
Pengobatan dan penanganan terhadap pasien dengan dugaan infeksi keratitis (PIK) di
Amerika Serikat telah mengalami perubahan selama dua dekade terakhir. Perkembangan terbaru
pada antibiotik topikal, Dengan pengembangan rejimen antibiotik topikal baru, terutama dengan
antibiotik generasi ketiga dan generasi keempat fluorokuinolon merupakan pilihan antibiotik

sebagai penetrasi yang baik dari antibiotik spektrum luas. Walaupun terdapat perbedaan
penanganan PIK antara dokter mata umum dan spesialis kornea, pemberian antibiotik
fluoroquinolone generasi keempat tetap menjadi pilihan utama dalam penanganan pertama untuk
PIK. Hanya 12% dokter mata umum yang menggunakan antibiotik sebagai pilihan awal
dibandingkan dengan 41% spesialis kornea yang menggunakan kombinasi dari antibiotik yang
diperkuat dan fluoroquinone generasi keempat. Di Amerika Serikat, kebanyakan dari kasus PIK
ditangani menggunakan pendekatan empiris berupa monoterapi dengan pemberian fluoroquinone
generasi keempat. Studi mikrobiologi jarang digunakan ketika pasien mendatangi praktek dokter
mata. Mayoritas dari kasus PIK memiliki respon yang baik dengan penanganan ini. Sejumlah kecil
kasus yang tidak bereaksi terhadap penanganan tersebut menjadi tantangan diagnosa dan terapi
dari para spesialis kornea.
Secara umum, manajemen algoritma untuk PIK bisa dibagi menjadi 3 bagian yaitu (1)
pendekatan culture-guided, dengan mendapatkan jaringan/kultur pada setiap pasien, (2)
pendekatan empiris, di mana pasien menggunakan antibiotik spectrum luas, dan apabila pasien
tidak menunjukkan reaksi, baru kemudian dilakukan evaluasi akan kebutuhan studi diagnosa dan
mikrobiologi atau pengubahan antibiotik; (3) pendekatan berbasis kasus, di mana penanganan
ditentukan berdasarkan lokasi dan tingkat keparahan dari ulkus kornea. Tujuan utama dari ulasan
ini adalah untuk menggambarkan algoritma-algoritma yang digunakan/diikuti oleh institusi
akademik kami (penulis) untuk menangani pasien dengan PIK berat atau progresif. Algoritmaalgoritma tersebut mempertimbangkan data epidemiologi dan mikrobiologi di wilayah kami dan
juga ketersediaan antimikroba mata.
Di institusi kami, kami melayani pasien denga PIK dalam jumlah yang besar. Pada 2010,
sebanyak 736 pasien yang telah didiagnosa secara klinis memiliki PIK diminta untuk uji
mikrobiologi oleh dokter matanya. Dari 736 pasien tersebut, 280 (38%) dari mereka positif
terinfreksi organisme. Sekitar 55%-nya sudah mendapat penanganan berupa pemberian antimikroba langsung.
Saat pasien datang untuk evaluasi tentang PIK, riwayat medis dan temuan-temuan klinis
lainnya menjadi dasar pengkategorisasian pasien menjadi pasien dengan resiko rendah dan resiko
tinggi. Pasien dengan resiko tinggi antara lain apabila memiliki riwayat penggunaan lensa kontak,
riwayat trauma, penggunaan steroid langsung secara berulang, riwayat imunosupresi, dan riwayat

penyakit pada permukaan mata. Pasien dengan resiko rendah, sebaliknya, tidak memiliki riwayatriwayat seperti disebut sebelumnya. Pada bagian berikutnya, akan ditunjukkan tiga algoritma
berbeda untuk tiap skenario klinis yang berbeda mengenai pasien dengan PIK. Apabila terdapat
penipisan yang signifikan atau perforasi, dilakukan studi mikrobiologi dan percobaan perekatan
kornea. Bila hal ini tidak berhasil, maka disarankan untuk melakukan pembedahan dengan
keratoplasti. Baik terapi ketebalan penuh (therapeutic full-thickness), transplantasi jaringan pipih
(lamellar graft), ataupun cangkok kornea. Jaringan yang diperoleh ketika bedah dilakukan sangat
penting untuk diidentifikasi apakah mengandung mikroorganisme atau tidak dengan melakukan
kultur mikrobiologi atau histopathology. Di institusi kami, catatan mikrobiologi dan pathologi dari
425 spesimen kornea, termasuk 42 hasil biopsi korneal dan 383 spesimen keratoplasty, diperiksa
untuk mengetahui keberadaan bakteri, jamur, acanthamoeba, dan mycobakteri melalui pewarnaan
histologik atau dengan penumbuhan jaringan. Pada 45% kasus ditemukan organisme. Jamur
terlihat pada 43% kasus, bakteri dalam 39%, dan acanthamoeba di 14% sedangkan mycobacteria
dala 4% kasus. Pasien dengan PIK yang keratitis-nya hingga sklera, area limbra kornea, dan
jaringan sclera, jaringan perlu diambil untuk diuji secara mikrobiologi. Hubungan dengan penyakit
sistemik lain juga perlu dipertimbangkan.

Algoritma no. 1
Pasien dengan resiko rendah (Gambar 1) diambil jaringannya (agar darah, agar cokelat,
cairan thioglycolate, dan agar Saborauds) kemudian lewat konfokal mikroskopi dapat ditemukan
kebenaran atas dugaan adanya infeksi jamur atau parasit. Untuk smears, kami mengusulkan
penggunaan pewarnaan Gram atau Giemsa. Lempeng agar hanya dikirim ketika ada kecurigaan
akan infeksi parasit. Apabila ada faktor resiko terhadap infeksi mycobakteri, digunakan pewarnaan
acid-fast dan media Lowenstein-Jensten. Disarankan untuk menggunakan antibiotik yang
diperkuat untuk gram positif dan fluoroquinone generasi keempat untuk gram negatif. Kami
menyarankan penggunaan antimikroba topikal setiap jam selama 48 jam pertama perawatan.
Apabila setelah 48-72 jam dari inisiasi antimikrobial pasien telah mengalami perkembangan secara
klinis dan organisme bakterial positif terlah terisolasi dan diidentifikasi lewat smear, kami
menyarankan untuk menambahkan pemberian steroid topikal secara berulang. Penggunaan
kortikosteroid topikal secara bersamaan dengan mikrobial topikal telah teruji lewat percobaan

prospective multicenter tanpa adanya laporan menyangkut keamanannya. Kami percaya bahwa
dengan mengurangi respon peradangan akut menggunakan kortikosteroid topikal meningkatkan
kenyamanan pasien dan dapat membantu penanganan lebih lanjut. Apabila tidak ada organisme
yang teridentifikasi, disarankan untuk meneruskan penggunaan antibiotik, tetapi menurunkan
frekuensinya dengan maksud menghindari keracunan. Jika dokter mencurigai kasus disebabkan
oleh virus, kultur jaringan dan/atau (PCR) atas virus ditandai dengan dimulainya penanganan
dengan antivirus topikal dan sistemik.
Ketika mikroorganisme teridentifikasi, tetapi tidak ada perkembangan secara klinis yang
muncul setelah dilakukan penanganan mikrobial yang sesuai dan periode penanganan yang
disarankan, beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Ini adalah pertanda untuk membawa pasien
ke rumah sakit. Kemungkinan adanya mikroorganisme yang kebal/resisten patut diperhitungkan.
Perlu dilakukan ulasan antibiogram. Apabila mikroorganisme tersebut sensitif terhadap
penanganan namun tidak diperoleh perkembangan, bisul/borok tersebut dapat disayat ulang untuk
dilakukan smears atau kultur jaringan. Mikroskop konfokal dibutuhkan. Saat mikroskop konfokal
dapat mengidentifikasi jamur atau organisme parasitik penanganan berbasis organisme (organismguided) harus dimulai. Penanganan terhadap organisme ini memakan waktu lama. Apabila hasil
konfokal dan penyayatan negatif dan tidak didapatkan perbaikan, maka dibutuhkan studi PCR dan
biopsi kornea. Apabila organisme ditemukan, tangani sesuai jenis organisme. Jika tidak ada
organisme yang ditemukan dan keadaan pasien tidak membaik, maka diperlukan keratoplasty
untuk mengambil jaringan untuk penelitian patologi dan mikrobiologi. Beberapa tahun ini,
penggunaan corneal collagen cross-linking (CCCL) telah berpindah dari bidang bedah refraktif ke
arah bidang mikrobiologi kornea.

Fotosensitisasi

terhadap riboflavin menggunakan sinar ultraviolet memiliki potensi

penyembuhan pada pasien dengan infeksi keratitis. Prosedur ini di masa mendatang dapat menjadi
pilihan terapi yang bagus untuk pasien dengan infeksi keratitis yang memiliki respon yang buruk
terhadap penggunaan antimikrobial langsung. Terdapat kebutuhan akan percobaan yang
prospektif, teracak, dan terkontrol

untuk membuktikan kemanjuran dan keamanan dari

penanganan ini. CCCL belum disetujui oleh Badan Pengatur Obat dan Makanan Amerika Serikat
dan belum tersedia di institusi kami.

Algoritma No. 2
Pasien dengan (Gambar 2) DIK yang memiliki karakteristik resiko tinggi juga diperiksa
apakah memiliki tanda-tanda peleburan atau pelebaran sclera. Dalam kasus ini, penyayatan untuk
smears dan kultur jaringan dilakukan untuk menemukan jamur, bakteria, parasit, dan juga
mycobakteria. Dilakukan pewarnaan Gram dan Giemsa; Pewarnaan calcuofluor-white dilakukan
apabila dicurigai terdapat keratitis acanthamoeba. Pengambilan jaringan lensa kontak, wadah lensa
kontak, cairan pembersih lensa kontal, dan pemeriksaan konfokal mikroskopik perlu dilakukan.
Pengambilan jaringan virus dan/atau PCR harus dilakukan apabila ada kemungkinan penyakit
disebabkan virus. Disarankan untuk menggunakan penanganan menggunakan antibiotik spektrum
luas dikombinasikan dengan antibiotik yang diperkuat untuk hasil Gram positif, dan pemberian
fluoroquinone generasi keempat, atau aminoglycoside atau cephalosphrine generasi ketiga atau
keempat dan antibiotik spectrum luas untuk Gram negatif. Apabila, setelah penanganan dimulai,
terdapat perkembangan klinis pada kasus PIK dan organisme telah teridentifikasi, obat tetes harus
dikurangi frekuensinya untuk menghindari keracunan. Dalam kasus di mana terjadi perbaikan
kondisi namun tidak ada organisme yang dapat diisolasi, frekuensi pemberian obat tetes harus
dikurangi untuk menghindari keracunan. Steroid langsung dapat digunakan untuk membantu
mengurangi respon inflamasi. Penting diingat untuk tidak memulai penanganan ini sampai
diperoleh bukti klinis dan laboratorium bahwa mikroorganisme sudah binasa. Penyayatan ulang
terhadap ulkus atau mikroskopik konfokal dapat dilakukan.
Jika setelah pasien mendapat penanganan berupa pemberian antibiotik topikal dan uji
mikrobiologi dan/atau mikroskopik konfokal telah menemukan suatu organisme tetapi tidak ada
perbaikan secara klinis, kemungkinan adanya organisme resisten (kebal) atau tidak cocok dengan
penanganan patut diperhitungkan. Jika tidak ada kemajuan dan tidak ada organisme yang dapat
diidentifikasi, mikroskopik konfokal, smears, dan kultur jaringan harus terus diulang. Analisa PCR
dan/atau biopsi kornea perlu dipertimbangkan. Apabila hal ini kemudian menyebabkan
ditemukannya organisme, penanganan berdasarkan organisme yang ditemukan perlu dilakukan.
Apabila tidak ada organisme yang ditemukan dan tidak ada penipisan kornea yang signifikan, perlu
dipertimbangkan untuk melakukan CCCL. Apabila setelah CCCL keratitis semakin memburuk
diperlukan terapi keratoplasty dengan pemeriksaan terhadap jaringan secara mikrobiologi dan
pathologi.

Algoritma no. 3
Skenario lain (Gambar 3) yang sangat umum terjadi di institusi kami adalah pasien yang
disarankan untuk mendapat pemeriksaan di pelayanan kornea setelah dirawat oleh komunitas.
Pasien-pasien ini biasanya telah menjalani pengobatan panjang menggunakan antibiotik spectrum
luas dengan jarangnya dilakukan studi mikrobiologi. Walaupun pasien-pasien ini telah
menggunakan antibiotik, kultur jaringan tetap diperlukan. Kami sebelumnya pernah mendapat
laporan bahwa organisme tetap dapat teridentifikasi pada pasien yang telah menggunakan
antibiotik topikal. Studi ini menunjukkan bahwa pasien dalam penanganan yang kultur jaringannya
telah diperoleh memiliki penundaan yang signifikan dalam memulai terapi berdasarkan
mikrobiologi dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh, tetapi tetap

dimungkinkan untuk mengisolasi organisme. Saat melakukan kultur jaringan pada sampel dari
pasien yang telah menjalani penanganan melalui pemberian antibiotik topikal, disarankan untuk
menggunakan smears dan cairan thiglycolate. Dari bulan Juni 2006 sampai bulan Januari 2007,
laboratorium mikrobiologi kami melaporkan sebanyak 36 organisme yang dapat diisolasi dengan
hanya menggunakan cairan thioglycolate. Apabila keratitis stabil, disarankan untuk melakukan
konfokal mikroskopik, dan penyayatan untuk smears dan kultur jaringan, setelah periode
pembersihan (washout) selama 24-72 jam. Analisa PCR disarankan apabila tersedia. Biopsi kornea
juga diperlukan jika penelitian sebelumnya gagal untuk mengidentifikasi organisme.
Apabila pasien memiliki faktor resiko infeksi Staphylococcus aureus yang kebal terhadap
methicillin, disarankan untuk memulai pemberian obat tetes vancomycin yang diperkuat. Apabila
tidak ada perbaikan bahkan dengan antibiotik spectrum luas terhadap bakteri resisten, kami
menyarankan untuk memulai ulang kultur jaringan dan mengirim jaringan untuk analisa PCR.
Konfokal mikroskopik juga harus diulangi. Jika tidak dapat mengisolasi organisme, dan tidak ada
penipisan kornea secara signifikan, CCCL dapat dipertimbangkan. Kemungkinan lain dalam
penanganan pasien yang datang untuk diuji, yang memiliki riwayat penggunaan bermacam
antimikrobial, adalah dengan melakukan konfokal mikroskopik dan memulai periode pembersihan
selama 24-72 jam dan melakukan penyayatan kornea untuk kultur jaringan. Alternatif lain adalah
memulai percobaan pemberian kortikosteroid langsung dengan pengawasan yang cermat. Jika
kondisi pasien yang menjalani percobaan pemberian steroid topikal memburuk, kultur jaringan
harus diulang dan biopsi kornea atau keratoplasty mungkin dibutuhkan.

Kasus no. 1
Seorang wanita yang berusia 83 tahun, dengan riwayat komplikasi operasi katarak yang
rumit pada mata kirinya, datang untuk dievaluasi pseudophakic edema kornea yang menyakitkan
dan BCVA (best corrected visual acuity)sebatas gerakan tangan. Dilakukan keratoplasty
pelepasan endothelial dengan prosedur Deschemet. Pasien membutuhkan pemosisian ulang
terhadap jaringan barunya 10 hari setelah bedah dilakukan. Edema kornea dan sakit yang dialami
pasien hilang. Pasien diminta untuk meneruskan penggunaan prednisolone acetate 1% tetes
sebanyak empat kali sehari. Lima bulan kemudian, dia datang kembali dengan keluhan mata kiri
yang merah dan terasa sakit. Pasien memiliki kornea yang jernih dengan inferior paracentral kecil

yang tampak seperti kristal yang menembus dan cacat epithelial yang berhubungan dan juga
hypoyon yang berlapis (Gambar 4a dan b). Infiltrat berlokasi jauh di dalam stroma kornea kiri
pasien. Tidak ada infiltrat pada permukaan yang dapat dilihat. Berdasarkan riwayat penggunaan
steroid langsung dan penembusan yang tidak normal, kultur jaringan dilakukan untuk mencari
bakteria, jamur, dan mycobakteria. Pasien mulai menggunakan vanomycin tetes dan moxifloxacin
tetes tiap jam. Setelah 72 jam, pasien tidak mengalami kemajuan secara klinis dan tidak ada
organisme yang teridentifikasi secara mikrobiologi. Kultur jaringan diulang dan gagal
mengidentifikasi organisme. Konfokal mikroskopik pun dilakukan. Konfokal mikroskopik
menunjukkan tanda-tanda yang serupa dengan bagian jamur (Gambar 4c). Pasien kemudian mulai
menggunakan natamycin 5% topikal setiap jam sambil terjaga untuk 72 jam pertama dan kemudian
setiap 2-3 jam, dan 15 hari kemudian hasil lengkap atas keratitis pun diperoleh.

Kasus no. 2
Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun datang dengan riwayat PIK pada mata kiri dan
ditangani selama kurang-lebih 60 hari menggunakan bermacam antibiotik (Moxifloxacin,
vancomycin, dan tobramycin). Pasien memiliki riwayat berenang dan tidur menggunakan lensa
kontak dan riwayat trauma ketika berkemah. Pasien diperiksa oleh beberapa dokter mata di
komunitas dan memperoleh pengobatan topikal untuk dugaan keratitis bakterial dan pengobatan
topikal (Trifluridine) dan sistemik (Acyclovir) untuk dugaan keratitis virus. Keadaan pasien ketika
datang ke institusi kami, BCVA pada mata kiri sebesar 20/40. Kornea kiri menunjukkan temporal
paracentral superficial stromal dengan infiltrate di epitel. Keratitis pasien stabil dengan tidak
adanya tanda peleburan atau penipisan yang signifikan (Gambar 5a dan b). Periode pembersihan
selama 72 jam dilakukan tanpa perubahan pada pemeriksaan klinis. Kultur jaringan dan pewarnaan
dilakukan dan tidak ada organisme terdeteksi. Biopsi kornea femtosecond yang dibantu laser
dilakukan mengikuti protokol yang sudah dijelaskan oleh kelompok kami. Setengah dari jaringan
yang diperoleh kemudian dikirim ke laboratorium mikrobiologi dan separuh lainnya untuk uji
histopathologi. Tidak ada organisme yang ditemukan (Gambar 5c). Seluruh obat-obatan
dihentikan dan pasien diminta untuk menggunakan cairan mata buatan yang bebas pengawet.
Tidak ada kortikosteroid topikal yang digunakan karena riwayat yang sangat kuat mengindikasikan
adanya organisme tidak normal. Infiltrat pasien perlahan membaik dan sembuh. Pemeriksaan
terakhir pasien adalah 7 bulan setelah kedatangannya dan dia menunjukkan keratitisnya sudah
sepenuhnya sembuh.

Kasus no. 3
Seorang pria 66 tahun dengan riwayat diabetes yang terkontrol dengan baik datang ke
institusi kami untuk pemeriksaan atas PIK pada mata kiri yang progresif. Pasien memiliki riwayat
berenang menggunakan lensa kontaknya di pantai Kosta Rika. Dua minggu setelah liburannya,
pasien datang ke dokter mata terdekat dengan mata kiri yang merah. Pasien mulai menggunakan
gatifloxacin tetes selama 2 minggu. Pasien tidak mengalami kemajuan atas kondisinya dan
kemudian diberi resep antivirus topikal (trifluridine) dan sistemik (acyclovir) atas dugaan keratitis
virus. Setelah 1 bulan perawatan, pasien dirujuk ke kami. Pasien datang dengan BCVA mata kiri
sebesar 20/200. Pemeriksaan menunjukkan diffuse stromal ring infiltrate (Gambar 6a). Hasil
pemeriksaan dan riwayat pasien menunjukkan tanda-tanda kuat ke arah keratitis acanthamoeba.
Kultur jaringan dan pewarnaan diperoleh dan konfokal mikroskopik dilakukan. Karena kerjasama
yang buruk dari pasien selama pemeriksaan, hasil dari konfokal mikroskopik tidak jelas.
Kemudian dilakukan biopsi kornea sebesar 3 mm. Jaringan yang diperoleh dikirim untuk diteliti
secara mikrobiologi dan pathologi, 48 jam kemudian keratitis acanthamoeba dikonfirmasi oleh
laboratorium mikrobiologi dan histologi (Gambar 6b). Pasien memulai terapi ganda menggunakan
chlorexidine tetes dan polyhexamethylene biguanide tetes. Pasien tidak menjalani proses terapi
dengan baik dan 4 minggu kemudian datang dengan keratitis yang progresif dan penipisan stromal
yang signifikan (Gambar 6c). Pewarnaan dan kultur jaringan diperoleh. Ditemukan keratitis

Paecilomyces lilacinus. Disebabkan oleh perluasan keratitis dan penipisan yang signifikan, pasien
dibawa ke ruang operasi untuk menjalani terapi penetrasi keratoplasty (Gambar 6d). Jaringan yang
diperiksa secara mikrobiologi dan pathologi mengkonfirmasi adanya P. lilacinus (Gambar 6e).
Pasien mendapat suntikan intrakameral berupa voriconazol 50 mcg/ml pada akhir prosedur dan
voriconazol 1% tetes, cyclosporine (CSA) 0,5% tetes, atropine sulfate 1% tetes, moxifloxacin
opthalmic tetes. Setelah 2 bulan perawatan menggunakan vericonazol topikal, infeksi pasien dapat
dikontrol dan pasien mulai menggunakan prednisolone acetate 1% topikal 4 kali sehari dan
meneruskan penggunaan CSA tetes. Jaringan yang dicangkok gagal dan 6 bulan kemudian
dilakukan penetrasi keratoplasty dan pengangkatan katarak ekstrakapsular yang sukses dijalani.
Cangkok jaringan pada pasien bertahan jernih dengan penggunaan steroid topikal dan CSA topikal
secara terus-menerus (Gambar 6f).
Diagnosa dan penanganan terhadap kasus keratitis mikrobial yang sulit terus bergantung
pada informasi yang didapat dari penelitian yang membantu mengidentifikasi apakah mikroba
tertentu menyebabkan infeksi atau steril, dan apabila menyebabkan infeksi, apakah
mikroorganisme yang dapat melawannya. Identifikasi ini berlangsung berdasarkan urutan
prioritas: smears mikrobiologi dan kultur jaringan, histology, konfokal mikroskopik, dan tandatanda dan gejala klinis. Penyempurnaan diagnosa molekuler di masa depan seperti PCR multipleks
dan penggambaran (imaging) dapat jauh meningkatkan kemampuan kita untuk menentukan
penyebab dan menyediakan penanganan yang sesuai. Penanganan ini juga bukan hanya
mengandung pemberian antibiotik tradisional, tetapi juga alat modulasi dari respon peradangan
dari mikroorganisme dan induk kornea.

Sejumlah besar dokter mata dan penyedia pelayanan kesehatan mata di Amerika Serikat
tidak secara rutin melakukan kultur jaringan dari semua kasus infeksi keratitis. Lebih penting lagi,
akses terhadap alat diagnosa yang dijelaskan dalam ulasan ini tidak tersedia di beberapa wilayah
di Dunia. Dalam rangka menurunkan kebutuhan akan uji diagnosa dan untuk mempermudah
diagnosa terhadap pasien dengan PIK, penggunaan jaringan syaraf buatan (ANN/ artificial neural
network) memiliki peran yang penting di masa mendatang. Seperti dijelaskan oleh Saini, et al,
ANN adalah teknik belajar sendiri secara asosiatif dengan kemampuan untuk mengidentifikasi
hubungan multidimensi dan menjadi pembaca pola pada domain-domain nonlinear. Saini et al

menunjukkan bahwa, dengan penggunaan ANN mereka dapat mengenali secara tepat kategori
yang dicari (jamur atau bakteri) dalam 39 dari 44 kasus infeksi keratitis. Walaupun awalnya
diperuntukkan bagi keratitis mikrobial, ANN telah sukses diadaptasikan untuk penyakit okuler
lainnya.
Kesimpulannya, diagnosa dan penanganan atas keratitis mikrobial terus menjadi tantangan
yang signifikan bagi dokter mata. Kita terus mencari jalan untuk memperbaiki diagnosa sehingga
penanganan yang tepat dapat diberikan, dan menghindari kecacatan penglihatan seumur hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Amescua G, Miler D, Alfonso EC. What is causing the corneal ulcer? Management
strategies for unresponsive corneal ulceration. Macmillan Publishers. Volume 2012. 9
pages. http:// www.nature.com/eye/journal/v26/n2/abs/eye2011316a.html