Anda di halaman 1dari 10

Tugas Terstruktur

MK Parasitologi Veteriner: Endoparasit (IPH 331)

Fasciolosis pada Ruminansia

Anggota Kelompok:
Intan Anindita Suseno
Kodrat Zulfikar B.
Siti Khunaefah
Kanti Rahmi Fauziyah

(B04120114)
(B04120121)
(B04120123)
(B04120125)

........................
........................
........................
........................

Bagian Parasit dan Entomologi


Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor
2015
PENDAHULUAN
Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba merupakan hewan yang
biasa dikonsumsi oleh manusia. Selain itu, produk yang dihasilkan oleh hewan
tersebut juga dimanfaatkan oleh manusia, misalnya kulit. Pada hari raya Idul
Adha dapat dikatakan semua penduduk Indonesia baik itu muslim maupun bukan

akan mengkonsumsi daging sapi, kambing, maupun domba. Pada hari itu juga
merupakan satu-satunya kesempatan untuk mengkonsumsi daging sapi bagi
masyarakat menengah ke bawah atau yang tidak mampu untuk membeli daging
sapi. Kemungkinannya dapat terjadi penularan penyakit dari hewan ke manusia
(zoonosis) adalah tinggi apalagi jika hewan tersebut tidak diperiksa dengan baik
pre maupun post mortemnya. Di Yogyakarta selama penyembelihan hewan
kurban tahun 2014, dalam sapi dan kambing ditemukan 81 sapi terkena penyakit
cacing hati (Fasciola hepatica). Cacing hati termasuk dalam trematoda yang
menyerang pada ruminansia dan bersifat zoonosis.
Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti
daun.

Pada

umumnya

cacing

ini

bersifat

hemaprodit,

kecuali

genus

Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampaui beberapa fase
kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermediet untuk
perkembangannya.

Menurut

lokasi

berparasitnya

cacing

trematoda

dikelompokkan menjadi trematoda pembuluh darah, trematoda paru, trematoda


usus, dan trematoda hati. Prevalensi kasus trematoda terhadap hewan ternak
yang terjadi di Indonesia masih cukup tinggi terutama kejadian fasciolosis
(trematoda hati) terhadap sapi. Data yang didapat dari Direktorat Jendral
Peternakan dan Kesehatan Hewan menunjukkan tingkat kejadian fasciolosis
sebesar 9.6% pada total sapi potong tahun 2006. Yang termasuk dalam
trematoda hati yang menyerang ruminansia adalah Fasciola hepatica dan
Fasciola gigantica (Nasution 2013).
Cacing Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica banyak menyerang
hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria,
tetapi dapat juga menyerang manusia. Cacing ini termasuk cacing daun yang
besar dengan ukuran panjang 30 mm dan lebar 13mm. Secara klinis kecacingan
menyebabkan kehilangan cairan tubuh, penurunan daya tahan tubuh, penurunan
bobot badan, dan dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan kerugian bagi
peternak dan konsumen jika memakan hati sapi mentah. Kerugian itu harus
dihindari sehingga kesehatan ternak maupun manusia dapat terjaga. Untuk itu
diperlukan pengetahuann mengenai cacing trematoda ini.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah mengetahui morfologi, daur hidup,
infeksi dan pathogenesis dari trematoda ruminansia khususnya Fasciola
hepatica dan Fasciola gigantica, cara pencegahan serta penanggulangan dalam
menangani kasus kecacingan pada ruminansia.

TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi Fasciola sp.
Kingdom

: Animalia

Filum

: Plathyhelminthes

Kelas

: Trematoda

Ordo

: Digenea

Famili

: Fasciolidae

Genus

: Fasciola

Spesies

: Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica (Soulsby 1986).

Morfologi Fasciola sp.


Cacing dewasa Fasciola sp. berbentuk pipih seperti daun tanpa rongga
tubuh. Ukuran telur Fasciola gigantica berkisar antara 156-197m x 90-104m.
Sedangkan Fasciola Hepatica ukuran telur berkisar antara 130-160m x 6390m (Soulsby 1986). Telur cacing hati (Fasciola sp.) berbentuk oval, berdinding
halus dan tipis berwarna kuning dan bersifat sangat permeabel, memiliki
operkulum pada salah satu kutubnya. Operkulum sendiri adalah daun pintu telur
yang terbuka pada saat telur akan menetas. Tubuh Fasciola gigantica relatif lebih
bundar dimana bagian posteriornya terlihat lebih mengecil dan ukuran telurnya
lebih besar dibandingkan Fasciola hepatica (Adiwinata 1955). Cacing dewasa
dapat dibedakan dari Fasciola hepatica karena lebih panjang, kerucut kepala
lebih pendek, alat reproduksi terletak lebih anterior, batil isap perut lebih besar.
Fasciola hepatica mempunyai ciri-ciri yaitu batil isap mulut dan kepala yang
letaknya berdekatan, divertikulum usus, alat kelamin jantan (testis) yang
bercabang-cabang dan berlobus (Brown 1979). Sedangkan alat kelamin betina
mempunyai kelenjar vitellaria yang memenuhi sisi lateral tubuh. Memiliki sebuah
pharing dan oesphagus yang pendek, uterus pendek dan bercabang-cabang
(Soulsby 1986). Secara morfologi kedua cacing ini mempunyai banyak
kesamaan. Perbedaan diantara keduanya terletak pada daya tahan hidup
terhadap lingkungan dan inang perantara (Lymnea sp.) (Soulsby, 1986).
Profil Fasciola sp.
Fasciola gigantica pada umumnya menyerang daerah tropis seperti Asia
Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika sedangkan Fasciola hepatica ada di seluruh
dunia kecuali Oceania (Soliman 2008). Di Indonesia cacing hati yang selalu
terdeteksi adalah yang berspesies Fasciola gigantica, sedangkan Fasciola
hepatica umumnya dapat ditemukan dari ternak-ternak yang diimpor ke

Indonesia (Kusumamihardja 1992). Fasciolosis pada ruminansia merupakan


penyakit parasiter yang di sebabkan oleh infeksi cacing hati (Fasciola sp.). Pada
umumnya infeksi Fasciola sp. menyerang sapi, domba dan kambing. Selain itu
juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, anjing, rusa, kelinci, marmot,
kuda, bahkan infeksinya pernah ditemukan pada manusia di Cuba, Prancis
Selatan, Inggris dan Aljazair (Brown 1979).
Infeksi Parasit pada Ruminansia
Fascioliosis merupakan salah satu penyakit pada sapi yang bersifat
zoonosis (menular kepada manusia). Infeksi yang disebabkan oleh cacing hati
dari spesies Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Cacing yang tinggal di
dalam hati, memakan jaringan hati, bertelur pada ductus biliverus empedu yang
merupakan tempat keluarnya cairan empedu. Cacing ini merupakan penyebab
infeksi utama oleh trematoda pada ternak ruminansia, menimbulkan kerugian
yang besar dengan memakan dan merusak jaringan hati, serta bersifat zoonosis
(Mc Kay 2007). Fasiolosis menyebabkan penderitaan kronis yang menahun,
kekurangan darah dan gizi, pertumbuhan melambat, serta menimbulkan
peradangan hati dan empedu pada ternak, bahkan kematian ternak (Jusmaldi
dan Saputra 2009). Infeksi subklinik dapat menyebabkan penurunan yang tajam
terhadap berat badan, produksi susu, performa reproduksi, kualitas karkas, dan
penurunan tenaga kerja (Pfukenyi et al. 2006).
Prevalensi penyakit ini dapat mencapai 90% di beberapa daerah di
Indonesia (McManus 2006). Tingkat prevalensi Fasciola sp. berkisar antara 5080% untuk sapi dan kerbau di pulau Jawa dan dibawah 10% untuk pulau Sumba
(Muchlis 1985). Kejadian infeksi cacing hati di Indonesia, dari dataran rendah
sampai ketinggian 2000 m tetap ditemukan Fasciola gigantica. Hal ini karena
Lymnaea rubiginosa merupakan satu-satunya siput yang menjadi hospes antara
mampu hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.

PEMBAHASAN
Fasciolosis merupakan penyakit akibat infeksi trematoda genus Fasciola.
Fasciola sp ini merupakan trematoda yang menyerang hati, oleh karena itu
cacing ini dapat disebut cacing hati. Kejadian fasciolosis banyak terdapat pada
ruminansia dan dapat ditularkan ke manusia. Fasciolosis merupakan foodborne
disease dan bersifat zoonosis [WHO 2012]. Ada dua spesies penting dalam
genus Fasciola, yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Fasciola
hepatica banyak ditemukan pada negara dengan iklim subtropis, sedangkan

Fasciola gigantica juga ditemukan pada negara beriklim tropis, termasuk


Indonesia. Di indonesia, kejadian fasciolosis lebih sering pada sapi dan kerbau
dibandingkan pada kambing dan domba dengan sebaran yang luas (Martindah
et al. 2005). Berikut merupakan perbandingan morfologi antara Fasciola

hepatica dan Fasciola gigantica.

Gambar 1 Perbandingan morfologi Fasciola gigantica (A) dan Fasciola hepatica (B)
Sumber: curezone.org

Cacing Fasciola hepatica, Fasciola gigantica, serta cacing genus Fasciola


yang lain memiliki siklus hidup yang hampir sama. Cacing dewasa menempati
saluran empedu dari inang definitifnya, yaitu ruminansia. Cacing ini bersifat
hermafrodit dan menghasilkan telur yang dilepaskan dari saluran empedu ke
usus dan terbawa ke luar tubuh berrsama feses. Telur ini akan berkembang dan
menetas di perairan, melepaskan larva mirasidium setelah 9 hingga 10 hari pada
suhu 22 hingga 26C (Ballweber 2014). Mirasidia memiliki silia dan bebas
berenang mencari inang perantara yang cocok untuk perkembangannya. Inang
perantara bagi cacing Fasciola adalah siput Lymnaea sp. Di dalam inang
perantara, mirasidium berkembang dalam beberapa perkembangan aseksual
yaitu sporokista, redia, dan serkaria. Setelah 5-7 minggu, serkaria keluar dari
siput dan berenang menuju tumbuhan air. Serkaria ini kemudian membentuk
kista dan berkembang menjadi metaserkaria. Tumbuhan air yang mengandung
kista ini apabila dimakan oleh inang definitif akan menyebabkan infeksi (Hansen
dan Perry 1994).
Setelah teringesti, cacing muda akan keluar menuju usus halus dan
melakukan penetrasi terhadap mukosa. Cacing-cacing ini akan bermigrasi
melalui rongga perut menuju parenkim hati. Hal ini terjadi setelah 68 minggu
pascainfeksi. Setelah cacing dewasa, cacing ini bermigrasi ke saluran empedu.
Cacing Fasciola hepatica menghasilkan telur setelah minggu ke 812 dan

Fasciola gigantica setelah minggu ke 1014. Kedua spesies ini mampu


menghasilkan 5.000 hingga 20.000 butir telur per hari selama siklus hidupnya
(Hansen dan Perry 1994).

Gambar 2 Siklus hidup Fasciola


Sumber: cdc.org

Transmisi Fasciola sp. ke inang bukan melalui vektor, melainkan langsung


dari ingesti tumbuhan air yang terkontaminasi kista cacing ini. Sebagian besar
kasus terjadi setelah inang mengingesti selada air dan alfafa. Manifestasi lain
dari infeksi Fasciola sp. ini disebut halzoun, yang merupakan istilah spesifik pada
bangsa Timur Tengah. Halzoun adalah sebutan untuk infeksi Fasciola sp akibat
memakan hati mentah dari ruminansia yang menderita fasciolosis (Smith 2006).
Hampir 50% ruminansia yang terinfeksi oleh Fasciola sp. tidak
menimbulkan gejala klinis, atau disebut juga infeksi bersifat asimptomatis.
Secara umum, gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi Fasciola sp sama
dengan gejala akibat infeksi cacing lain. Cacing muda merusak sel-sel parenkim
hati dan cacing dewasa hidup sebagai parasit dalam pembuluh-pembuluh darah
hati. Oleh karena itu, hewan yang terinfeksi Fasciola sp. akan mengalami
gangguan fungsi hati, peradangan hati dan empedu, serta gangguan
pertumbuhan (Guntoro 2002).
Tingkat infeksi Fasciola sp bergantung pada jumlah metaserkaria yang
teringesti dan tingkat infektivitasnya. Manifestasi fasciolosis juga bergantung
pada stadium infeksi cacing muda. Selain itu, perkembangan cacing dewasa
dalam saluran empedu juga memengaruhi tingkat infeksi Fasciola sp. (Ditjennak
2012).

Secara umum, bentuk infeksi Fasciola sp. dibagi menjadi bentuk akut,
subakut, dan kronis. Infeksi Fasciola sp. bentuk akut disebabkan oleh migrasi
cacing muda ke parenkim hati yang menyebabkan kerusakan jaringan hati.
Gejala klinis yang nampak pada ruminansia antara lain lemah, nafas cepat dan
pendek, serta perut membesar disertai rasa sakit. Fasciolosis bentuk subakut
kurang atau bahkan sama sekali tidak memperlihatkan gejala klinis. Namun,
pada waktu hewan tersebut dipekerjakan, ditranportasikan, serta mengalami
kelelahan, hewan dapat mengakibatkan kematian mendadak. Fasciolosis bentuk
kronis terjadi saat cacing mencapai dewasa 4 hingga 5 bulan setelah infeksi
dengan gejala anemia sehingga menyebabkan ternak lesu, lemah, nafsu makan
menurun, mudah lelah, membran mukosa pucat, diare, edema di antara sudut
dagu dan bawah perut, ikterus, serta dapat menimbulkan kematian yang dapat
terjadi dalam waktu 1 hingga 3 bulan (Anggriana 2014).
Diagnosis fasciolosis dari gejala klinis yang ditimbulkan tidak dapat
dilakukan untuk memperoleh hasil secara tepat. Hal ini dikarenakan oleh
ketidakspesifikan gejala klinis yang nampak. Oleh karena itu, diagnosis lebih
diutamakan dengan tiga cara, yaitu deteksi telur cacing, deteksi antibodi dalam
serum, serta deteksi antigen dalam serum maupun tinja hewan yang terinfeksi
(Martindah et al. 2005). Ketiga metode diagnosis tersebut diterapkan ada hewan
hidup. Untuk hewan mati atau pada pemeriksaan postmortem, pada nekropsi
ditemukan pembesaran saluran empedu pada hati (Ballweber 2014).
Deteksi telur dalam cacing dilakukan dengan metode uji sedimentasi
(Suhardono et al. 1991). Diagnosis dengan cara ini hanya bisa dilakukan pada
hewan dengan infeksi kronis. Banyak-sedikitnya jumlah telur yang disekresikan
dalam feses dan waktu sekresi telur akan memengaruhi hasilnya (Martindah et
al. 2005). Uji serologi untuk mendeteksi antibodi pada umumnya dilakukn dengan
uji ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Spesifisitas uji ini sangat
tinggi. Dengan uji ini dapat dideteksi infeksi awal Fasciola hepatica hingga 2-3
minggu pascainfeksi (Ballweber 2014).
Deteksi antigen dilakukan dengan pengujian sandwich-ELISA (Martindah
et al. 2005). Dengan pengujian ini dapat dideteksi banyaknya antigen dalam
hewan dalam serum maupun tinja. Pada sapi, antigen dapat terdeteksi hingga
minggu ke 4-6 pascainfeksi sedangkan pada domba, antigen dapat terdeteksi
hingga minggu ke 2-3 pascainfeksi (Rodrignez-Perez dan Hillyer 1995; Fagbemi
et al. 1995).

Pengendalian Fasciola sp. Idealnya meliputi eliminasi seluruh cacing


dalam tubuh inang, mengurangi populasi siput Lymnaea sp. sebagai inang
antara, dan pencegahan ternak untuk mengakses daerah rerumputan yang
terdapat siput yang mengandung cacing (Ballweber 2014). Perawatan untuk
hewan yang terinfeksi fasciolosis antara lain dengan obat-obatan seperti
triclabendazole,

clorsulon

(khusus

ruminansia),

albendazole,

netobimin,

closantel, rafoxanide, dan oxyclozanide. Pengendalian populasi siput dapat


menggunakan moluscida, namun penggunaan yang tidak terkontrol dapat
membahayakan lingkungan.

KESIMPULAN
Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica merupakan Trematoda penting
pada ruminansia yang menyerang organ hati. Infeksi akibat cacing ini disebut
fasciolosis. Siklus hidup cacing ini adalah telur-mirasidium-sporokista-rediaserkaria-metaserkaria-kista-cacing dewasa dengan stadium infektif metaserkaria.
Gejala klinis pada 50% kasus bersifat asimptomatis. Manifestasi gejala klinis
yang nampak antara lain pada infeksi akut, subakut, dan kronis. Diagnosis
fasciolosis meliputi deteksi telur cacing, deteksi antibodi, serta deteksi antigen.
Pengendalian fasciolosis dapat dilakukan dengan eliminasi cacing dari tubuh
hewan, pengendalian populasi inang antara, serta pembatasan akses ternak ke
daerah yang endemik Fasciola sp.

DAFTAR PUSTAKA
[Ditjennak] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Manual
Penyakit Hewan Mamalia. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan. Jakarta: Subdit Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat
Kesehatan Hewan.
[WHO]. 2012. Foodborne Trematode Infections: Fascioliasis. [terhubung berkala].
Tersedia:
http://www.who.int/foodborne_trematode_infections/fascioliasis/en/.
[13
April 2015].
Adiwinata RT. 1955. Cacing-cacing yang Berparasit pada Hewan Menyusui dan
Unggas di Indonesia. Hemera Zoa, 62:229-247.
Anggriana Anna. 2014. Prevalensi Infeksi Cacing Hati (Fasciola sp.) pada Sapi
Bali di Kecamatan Libureng Kabupaten Bone. [skripsi]. Makassar (ID):
Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin.
Ballweber LR. 2014. Fasciola hepatica in Ruminants. [terhubung berkala].
Tersedia:
Http://www.merckvetmanual.com/mvm/digestive_system/fluke_infections_in
_ruminants/fasciola_hepatica_in_ruminants.html. [13 April 2015].
Brown HW. 1979. Dasar Parasitologi Klinis Edisi ke-3. B Rukmono, Hoedojo, NS
Djakaria, SD Soeprihatin, SS Margono, S Oemijati, S Gandahusada dan W
Pribadi. Penerjemah. Jakarta: PT Gramedia. Terjemahan dari: Basic
Clinical Parasitology.
Fagbemi BO, Obarisiagbon, JV Mbuh. 1995. Detection of circulating antigen in
sera of Fasciola gigantica infected cattle with antibodies reactive with a
fasciola-specific 88-kda antigen. Vet. Parasitol. 58 :235-246.
Guntoro S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta: Kanisius.
Hansen Jorgen, Perry Brian. 1994. Helminth Parasites of Ruminants. Nairobi:
International Laboratory for research on Animal Diseases.
Jusmaldi dan Yuliawan Saputra. 2009. Prevalensi infeksi cacing hati (Fasciola
hepatica) pada sapi potong di rumah pemotongan hewan Samarinda.
Bioprospek. 6(2).
Kusumamiharja S. 1978. Dovenix Sebagai Fascioliasis. Media Veteriner. 111(3):
43-44.
Martindah E, S Widjayanti, SE Estuningsih, Suhardono. 2005. Meningkatkan
kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap fasciolosis sebagai
penyakit zoonosis. Wartazoa 15(3): 143-154.
McKay and Gandolffo, D. 2007. Phytophagous insects associated with
reproductive structures of mesquite (Propsopis spp) in Argentina and
potential as biocontrol agents in South Africa. African Entomology. 15: 121131.
McManus DP and JP Dalton. 2006. Vaccines againts the zoonotic trematodes
Schistosom jopanicum, Fasciola hepatica, and Fasciola gigantica.
Parasitol. 133(S2): 543-562.
Muchlis A. 1985. Identitas Cacing Hati (Fasciola sp) dan Daur Hidupnya di
Indonesia. [disertasi]. Bogor (ID): Fakultas Pasca Sarjana. Institut
Pertanian Bogor.
Nasution ZR. (2013). Prevalensi Kasus Infeksi Trematoda di Jaringan Sapi.
[terhubung
berkala].
Tersedia
:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37934/7/Cover.pdf. [13 April
2015]

Pfukenyi DM et al. 2006. Epidemiological studies of Fasciola gigantica infections


in cattle in the highveld and lowveld communal grazing areas of Zimbabwe.
Onderstepoort J Vet Res. 73: 37-51.
Rodrignez-Perez J dan GV Hillyer. 1995. Detection of excretory-secretory
irculating antigents in sheep infected with Fasciola hepatica and with
Schistosoma mansoni and F. hepatica. Vet. Parasitol. 56: 57-66 .
Soliman MFM. 2008. Epidemiological review of human and animal fascioliasis in
Egypt. J Infect Dev Ctries. 2:182-189.
Soulsby EJL. 1986. Helmint, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal
7th ed. London: The English Language Book Society and Baillire Tindall.
Suhardono. 1998 . Pengendalian infeksi cacing hati pada ternak : Kontrol biologi
Fasciola gigantica dengan trematoda lain pada siput Lymnaea rubiginosa.
Parasitology. 4th ed. Boston: Times Mirror/Mosby College Publishing.
Smith
Scott.
2006.
Facioliasis.
[terhubung
berkala].
Tersedia:
http://web.stanford.edu/group/parasites/ParaSites2006/Fascioliasis/
[15
April 2015].