Anda di halaman 1dari 23

PERLINDUNGAN HUKUM SUMBER DAYA GENETIK HEWAN TERNAK DALAM

RUANG LINGKUP HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL


Oleh : Muh. Nur Udpa
Sumber daya genetik (SDG) merupakan bahan tanaman, hewan, jasad renik, yang
mempunyai kemampuan untuk menurunkan sifat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sumber daya genetik ini mempunyai nilai baik yang nyata, yaitu telah diwujudkan dalam
pemanfaatan, maupun yang masih pada taraf potensi yaitu yang belum diketahui manfaatnya.
Pada tanaman, sumber daya genetik terdapat dalam biji, jaringan, bagian lain tanaman, serta
tanaman muda dan dewasa. Pada hewan atau ternak sumber daya genetik terdapat dalam
jaringan, bagian-bagian hewan lainnya, semen, telur, embrio, hewan hidup, baik yang muda
maupun yang dewasa. Sumber daya genetik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
pemuliaan dalam mengembangkan varietas baru tanaman atau menghasilkan rumpun baru
ternak.1
Perkiraan jumlah spesies dari makhluk hidup di bumi berkisar antara 2 100 juta,
bahkan diperkirakan mendekati 100 juta. Kurang dari 0,5 persen dari spesies ini adalah
burung dan mamalia. Dari bagian kecil keragaman hayati, sekitar lebih dari 40 merupakan
jenis (spesies) ternak domestik. Dari 40 lebih kontribusi terhadap 82 persen kebutuhan
pangan dan produksi pertanian. Lebih dari 12.000 tahun yang lalu 14 spesies ternak telah
didomestikasikan2 dan ber-evolusi sehingga menjadi rumpun (rumpun = breed) yang secara
genetika unik dan berbeda, beradaptasi terhadap lingkungan dan komunitas setempat. Saat ini
terdapat sekitar 6.000 7000 rumpun ternak domestik, dari spesies yang telah terdomestikasi,
1http://www.indonesianchm.or.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=218&Itemid=103&lang=in Diakses pada tanggal 12
November 2013Pukul 20.00 WIB
1

bersama dengan 80 spesies kerabat liarnya, yang merupakan sumberdaya genetika ternak di
bumi ini yang berperanan penting untuk pangan dan produksi pertanian.3
Sumber daya genetik (ternak) yang merupakan wujud keanekaragaman hayati, ialah
material genetik, yaitu bahan dari binatang/ternak yang mengandung unit-unit fungsional
pewarisan sifat (hereditas). Kepentingan dan penggunaan sumberdaya ini untuk kepentingan
manusia, mencakup informasi yang berkenaan dengan ekspresi genetik untuk menambahkan
nilai pemanfaatannya. Nilai pemanfaatan ini terkandung di dalam sifat-sifat yang terdapat
pada dan proses-proses yang berlangsung di dalam makhluk hidup. Berdasarkan kandungan
ini, sumber daya genetik mempunyai nilai manfaat, baik secara nyata maupun secara
potensial, sebagai bahan pangan, tenaga kerja, pakaian, dan kebutuhan dasar manusia lainnya
yang harus selalu tersedia. Oleh karena itu, pengelolaan, akses, dan penanganan selanjutnya
harus menjadi kepedulian manusia.4
Pemanfaatan sumber daya genetik ternak, yang selanjutnya disingkat SDGT, telah
dikembangkan menjadi beranekaragam material genetik dalam wujud berbagai macam
rumpun (breed), galur, dan atau strain ternak, baik rumpun/galur/strain lokal dan introduksi
(moderen), maupun kerabat liarnya. Pemanfaatan SDGT telah diterapkan secara langsung dan
atau melalui proses pemuliaan. Selain langsung dimanfaatkan, SDGT dapat juga dijadikan
2Sangat sedikit spesies ternak yang berhasil didomestikasi. Domestikasi merupakan
proses yang komplek dan bertahap, yang mengubah kelakuan dan karakteristik
morfologi ternak dari tetuanya. Kondisi dan tekanan yang menyebabkan domestikasi
ternak masih tidak jelas dan mungkin bervariasi dari satu area geografis ke area lain dan
dari satu spesies ke spesies lain. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Status Terkini Dunia Sumber Daya Genetik Ternak untuk Pangan dan Pertanian, 2009,
h.6

3 Bambang Setiadi dan Kusuma Diwyanto, Pengelolaan Berkelanjutan Sumber Daya Genetik
Ternak, Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia:
Manfaat Ekonomi untuk Mewujudan Ketahanan Nasional, h.34
4 Ibid.
2

cadangan kesesuaian genetik untuk menjadi penyangga terhada lingkungan yang tidak
bersahabat dan terhadapat perubahan ekonomi. Kebutuhan manusia terhadap pangan terus
menerus meningkat, sehingga tersedianya SDGT menjadi sangat penting. Kepentingan ini
telah mendorong petani dan pemulia ternak untuk menciptakan rumpun/galur/strain baru
ternak dengan mutu yang lebih baik dan dengan nilai nyata yang lebih tinggi. Disatu pihak,
petani mengembangkan rumpun ternak secara tradisional dengan jangka waktu penggunaan
yang relatif lebih lama, sehingga rumpun/galur yang dikembangkan selalu dilestarikan dan
dirawat secara turun temurun menjadi ras temurun (landrace). Dipihak lain pemulia ternak
selalu berusaha menciptakan rumpun/galur/strain baru ternak yang lebih produktif, dalam
waktu yang relatif lebih singkat dengan menggunakan teknologi moderen. Dalam upayanya
ini, tidak jarang rumpun/galur/strain introduksi/moderen hasil pemuliaan akan menggeser
rumpun/galur lama. Perkembangan pembuatan rumpun/galur/strain baru ini berlangsung
terus menerus, sehingga rumpun/galur/strain baru lama akan menjadi rumpun/galur/strain
lama yang akan tergeser oleh rumpun/galur/strain yang lebih moderen, dengan akibat makin
menyusutnya keanekaragaman sumber daya genetik.5
Dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada saat ini
pemanfaatan sumber daya genetik tidak terbatas pada sumber daya genetiknya saja tetapi juga
terhadap produk turunannya (derivatives) dari sumber daya genetik tersebut. Produk turunan
merupakan suatu senyawa biokimia alami yang dihasilkan dari ekspresi genetik atau hasil
metabolisme sumber daya hayati atau genetik. produk turunannya tersebut dapat berupa:
Individu hasil persilangan/perkawinan/metode lainnya, Bahan aktif dari hasil metabolisme
sumber daya genetik, Enzim, dan gen.6

5 Ibid., h.34-35
6 Ibid
3

Perkembangan ilmu bioteknologi telah mendorong pengembangan potensi ekonomi,


pemanfaatan dan komersialisasi SDG. Dalam hal ini, Indonesia dan negara-negara
berkembang lainnya, yang rata-rata merupakan negara-negara beriklim tropis dengan
kekayaan sumber daya genetik yang melimpah, seharusnya ada dalam posisi yang kuat untuk
memperoleh keuntungan dalam pemanfaatan sumber daya genetik. Namun demikian,
kenyataannya memang jauh dari yang diharapkan. Biopiracy7 menjadi hal yang sering terjadi
yang menimpa negara-negara berkembang dengan kekayaan sumber daya genetik yang
melimpah. Negara maju dengan kemampuan teknologinya cenderung telah mengambil
keuntungan yang tidak adil dari sumber daya genetika dan pengetahuan tradisional dari
negara-negara berkembang.8
Potensi ekonomi dari pemanfaatan dan komersialisasi Sumber Daya Genetik
mendorong terjadinya biopiracy dimana pengambilan keuntungan yang tidak adil dari
Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Tradisional terkait sait ini dilakukan setidaknya
dengan dua cara yaitu:
a. Pencurian, penyalahgunaan, atau free riding sumber daya genetika dan/atau
pengetahuan tradisional melalui sistem paten.
b. Pengambilan, pengumpulan tanpa izin untuk tujuan komersial dari sumber daya
genetika dan/atau pengetahuan tradisional.
Dari uraian di atas terlihat bahwa sebenarnya apabila sumber daya genetik dimanfaatkan
dengan semestinya bersama-sama dengan sistem Hak Kekayaan Intelektual dan dimanfaatkan
7 Biopiracy adalah tindakan eksploitasi terhadap pengetahuan tradisional atau sumber daya genetik
dan atau mematenkan penemuan yang berasal dari pengetahuan tentang sumber daya masyarakat asli
tanpa hak dan kewenangan.
8 Dede Mia Yusanti, Perlindungan Sumber Daya Genetik Melalui Sistem Hak Kekayaan Intelektual,
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia, Banten, Hlm.
54
4

untuk kepentingan bangsa sendiri merupakan sinergi yang saling mendukung dalam
memperoleh manfaat dari potensi SDG. Dengan melihat kondisi yang ada saat ini, yang
umumnya terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, ternyata sistem HKI
belum mampu mendorong potensi ekonomi nasional dari pemanfaatan SDG dan justru
semakin meningkatkan terjadinya suatu missappropriation atau biopioracy.9
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap negara mempunyai ketergantungan pada
negara lain untuk memenuhi kebutuhan sumber daya genetiknya. Oleh karena itu,
keanekaragaman SDGT yang sangat diperlukan untuk pemuliaan dapat menjadi perselisihan
apabila aksesnya tidak dikendalikan dengan cara diatur dan dikoordinasikan. Sejarah
membuktikan bahwa siapapun yang menguasai sumber daya genetik akan memegang
kendali. Negara maju dan negara yang mempunyai keunggulan ilmu pengetahuan dan
teknologi akan mempunyai peluang yang lebih besar dalam memanfaatkan tersedianya
SDGT. Kedudukan hukum dari sumber daya genetik ternak masih sangat lemah karena
dinyatakan sebagai public domain, sehingga akses dapat dilakukan secara bebas. Tidak ada
saluran hukum atau standar perlindungan terhadap sumber daya genetik.10
Perkembangan rezim hukum internasional yang terkait dengan SDG yaitu Konvensi
Keanekaragaman hayati (Convention on Biological Diversity) yang disahkan pada tahun 1992
hasil dari konferensi dunia tentang pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup yang
juga dekenal degan Earth Summit. Konvensi ini berkenaan dengan upaya pelestarian SDG
yang diakui memiliki nilai ekologi, gen, sosial, ekonomi, ilmiah, edukasi, budaya, rekreasi,
dan estetik, serta pentingnya SDG bagi evolusi dan mempertahankan keberlangsungan sistem
hidup di dunia. Masalah akses terhadap sumber daya genetik mulai banyak dibicarakan
9 Dede Mia Yusanti, Op.Cit.
10 Bambang Setiadi dan Kusuma Diwyanto, Op.Cit., h. 35
5

semenjak disepakatinya Konvensi Keanekaragaman Hayati tahun 1992. Indonesia merupakan


negara kedelapan yang menandatangani konvensi tersebut. sebagai konsekuensi dari
penandatangan tersebut, pemerintah mengeluarkan UU No. 5 tahun 1994 tentang Pengesahan
Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati (United Nations on Convention Biological
Diversity = UNCBD). CBD

dalam Pasal 1 telah menegaskan bahwa keuntungan hasil

pendayagunaan sumber daya genetik harus dibagi secara adil dan merata kepada pemilik
sumber daya tersebut. Kegiatan akses terhadap sumber daya genetik pada umumnya telah
dilakukan melalui hubungan antar peneliti, antar institusi, maupun antar negara dan
dipergunakan untuk keperluan penelitian serta untuk tujuan pemuliaan.11
CBD secara khusus membahas prinsip-prinsip dan langkah-langkah kongkrit bagi
pelestarian keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara bijaksana untuk kepentingan
generasi sekarang dan generasi mendatang. Keistimewaan konvensi ini yaitu diakuinya
kedaulatan negara untuk memaanfaatkan sumber daya hayati yang dimilikinya sepanjang
sesuai dengan kebijakan lingkungan pada negara lain. Pengakuan atas hak kedaulatan negara
atas SDG merupakan lanjutan usaha negara berkembang untuk memperoleh pengakuan
hukum internasional atas peran negara dalam mengontrol pemanfaatan SDG yang berada di
wilayahnya sebagaimana telah diperjuangkan dalam forum FAO12 sebelumnya. Disamping
pengakuan hak kedaulatan negara atas SDG di wilayahnya, CBD juga mengatur pelestarian
dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan dengan pembagian keuntungan
yang adil dari pemanfaatannya, perlindungan terhadap pengetahuan tradisional, transfer

11 Bambang Setiadi dan Kusuma Diwyanto, Op.Cit., h. 35


12 Dalam rangka menjamin ketersediaan pangan dunia, negara-negara di bawah koordinasi dan
administrasi Food and Agriculture Organization (FAO) telah menetapkan mekanisme menjamin
ketahanan panga dan mengurangi kelaparan dengan mengumpulkan benih bahan pangan pokok dunia
untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut, sehingga diperoleh bahan pangan yang cukup melalui
pengembangan varietas tanaman yang lebih bisa memenuhi kebutuhan pangan dunia tersebut.
6

teknologi yang dapat dilakukan dengan syarat yang ringan termasuk paten yang dikandung di
dalamnya, yang berprinsip bahwa paten atau hak kekayaan intelektual harus mendukung
pelestarian keragaman hayati, bukan erosinya.
Keterkaitan antara pemanfaatan sumber daya genetik dalam hal perdagangan13, baik
dalam taraf internasional maupun nasional, tidak akan terlepas dari berbagai perjanjian
internasional antar negara. Menggunakan intelektualitas dalam memanfaatkan sumber daya
genetik untuk menghasilkan sebuah penemuan baru, mengindikasikan bahwa sumber daya
genetik secara tidak langsung masuk dalam ranah Hak Kekayaan Intelektual. HKI 14 bertujuan
untuk memberikan insentif atas hasil penelitian dan pengembangan terkait SDG yang
memiliki nilai tambah secara ekonomi (lebih baik dan lebih murah). Fokus HKI yaitu
mengembangkan SDG (apapun harganya) untuk mendapatkan SDG baru yang lebih
memenuhi kebutuhan masyarakat, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas.
Perbedaan tujuan dan fokus antara kedua prinsip, jelas bisa menimbulkan konflik yang serius
dan bahkan saling memperlemah satu sama lain. Padahal di sisi lain, keduanya mengakui
pentingnya prinsip dalam mempertahankan keberlanjutan keberadaan umat manusia di muka
13 Pada hakikatnya, TRIPs mengandung empat kelompok pengaturan. Pertama, yang mengaitkan
hak kekayaan intelektual dengan konsep perdagangan internasional. Kedua yang mewajibkan negaranegara anggota untuk mematuhi Paris Convention dan Berne Convention. Ketiga, menetapkan aturan
atau ketentuan sendiri. Keempat, yang merupakan ketentuan atas hal-hal yang secara umum termasuk
upaya penegakan hukum yang terdapat dalam legislasi negara-negara anggota. Di samping merujuk
Paris Convention dan Berne Convention, TRIPs merujuk beberapa perjanjian internasional. Achamd
Zen Umar Purba, Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPS, Alumni, Bandung, 2005, h.21-22
14 Hak kekayaan intelektual (HKI) merupakan hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang
bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio manusia yang menalar. Hasil kerja tersebut berupa
benda immateril (benda tidak berwujud). Hak kekayaan intelektual merupakan hasil kegiatan manusia
yang diungkapkan ke dunia luar dalam suatu bentuk, baik material maupun immaterial. Bukan bentuk
penjelmaannya yang dilindungi akan tetapi daya cipta itu sendiri. Daya cipta itu dapat berwujud
dalam bidang seni, industri, dan atau ilmu pengetahuan. Menurut sejarah kelahirannya, Hak Kekayaan
Intelektual merupakan bentuk baru dari pengembangan hak milik konvensional atas suatu benda
bergerak yang tidak berwujud (intangible property). Elyta Ras Ginting, 2012, Hukum Hak Cipta
Indonesia-Analisis Teori dan Praktik, Citra Aditya Bakti, H. 4.
7

bumi ini. Oleh karena itu, suatu jalan tengah diperlukan untuk menemukan titik temu antar
kedua prinsip di atas.15
Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Intellectual Property Right (IPR), dideskripsikan
sebagai hak kekayaan intelektual yang timbul karena kemampuan intelektual manusia. IPR
pada prinsipnya merupakan perlindungan hukum atas HKI yang kemudian dikembangkan
menjadi suatu lembaga hukum yang disebut Intellectual Property Right. Secara substantif,
pengertian HKI dapat dideskripsikan sebagai hak atas kekayaan yang timbul atau lahir karena
kemampuan intelektual manusia. Sementara pendapat lain mengemukakan bahwa, HKI
merupakan pengakuan dan penghargaan pada seseorang atau badan hukum atas penemuan
atau penciptaan karya intelektual mereka dengan memberikan hak-hak khusus bagi mereka
baik yang bersifat sosial maupun ekonomis. HKI merupakan hak yang berasal dari hasil
kegiatan intelektual manusia yang mempunyai manfaat ekonomi.16
Perjanjian TRIPs dapat dipandang sebagai salah satu dasar multilateral yang paling
komprehensif yang berhubungan dengan potensi-potensi halangan perdagangan internasional
yang bukan tarif. Dalam kerangka mencapai tujuan utama TRIPs untuk menghapus halangan
perdagangan internasional, perjanjian ini menegaskan dan mengintegrasikan beberapa rezim
Hak Kekayaan Intelektual yang telah diatur secara tersebar dalam berbagai konvensi
internasional sebelumnya. Selain itu, TRIPs memperluas cakupan perlindungan dengan
menambahkan beberapa rezim baru seperti rahasia dagang atau informasi rahasia (Trade
Secret or Confidental Information) dan menjadikan ketentuan-ketentuannya lebih kuat
dengan mensyaratkan ketaatan mutlak dari anggota-anggotanya. Salah satu rezim yang
dipertimbangkan untuk dilindungi oleh TRIPs yaitu Indikasi Geografis yang didukung kuat
15 Efridani Lubis, Perlindungan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik, Alumni,
Jakarta, H. 144-145
16Afrillyanna Purba, dkk, 2005,Trips-WTO dan Hukum HKI Indonesia, Jakarta, Asdi Mahasatya, Hlm.12-13
8

oleh masyarakat ekonomi eropa/MEE (European Community/EC). MEE mengusung ide


perlindungan bagi Indikasi Geografis, termasuk apelasi asal, dengan perlindungan khusus
yang lebih kuat untuk minuman anggur (wines) dan minuman keras (spirits). Hal ini
dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa presentase devisa negara-negara MEE terbesar
memang bersumber dari produk-produk ini.17
HKI sebagai mekanisme perdagangan murni, jelas ber-orientasi keuntungan yang
lebih berpihak pada industri. Oleh karena itu, dalam konteks HKI, persoalan kelestarian SDG
bukanlah merupakan issu utamanya, walaupun ada pengecualian pemberlakuan monopoli
terbatas dalam HKI untuk lingkungan, kemanusiaan, kesehatan, dan ketertiban umum.
Merujuk perbedaan ini, Doha Ministerial Declaration tahun 2001 telah menginstruksikan
TRIPs council untuk meneliti peninjauan ulang dimaksud, hubungan TRIPs dengan CBD dan
perlindungan pengetahuan tradisional dan folklore.
Paten merupakan salah satu jenis Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang paling erat
kaitannya dengan pemanfaatan SDG. Ketentuan dalam sistem paten yang terkait dengan
pemanfaatan SDG dan pengetahuan tradisional terkait yaitu paten diberikan untuk setiap
invensi, baik produk maupun proses, dalam semua bidang teknologi sepanjang invensi
tersebut baru, mempunyai langkah inventif dan dapat diterapkan dalam industri, UU Paten
Pasal 27 ayat (1), dan bahwa mikroorganisme baik yang telah ada di alam atau hasil rekayasa
genetika merupakan subject matter yang patentable, TRIPs Pasal 27 ayat (3)
Perjanjian TRIPs ditetapkan sejak Januari 1995. TRIPs melibatkan anggota WTO
dalam menetapkan standar minimum bagi perlindungan berbagai bentuk kekayaan
intelektual. Sebuah kekayaan intelektual memerlukan bahan maupun pengetahuan untuk
membuat paten hingga menghasilkan sebuah penemuan, produk atau proses, di segala bidang
17 Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis, Alumni,
Bandung, 2006, h. 28-29
9

teknologi tanpa diskriminasi, berkaitan dengan tes normal penghargaan, kemampuan


penerapan. Beberapa elemen yang tercakup oleh pengolalan tersebut mencakup pula Sumber
Daya Genetik Ternak.18 Namun, hingga saat ini perlindungan hak kekayaan intelektual hanya
terbatas diberikan perlindungan terhadap jasad renik, proses non-biologis atau proses
mikrobiologis untuk memproduksi tanaman atau hewan. Menurut penulis suatu hal yang
perlu menjadi sebuah pertanyaan besar perihal perlindungan terhadar sumber daya genetik,
khususnya pada hewan ternak, dimana perlindungan pada jasad renik dan varietas tanaman
termasuk dalam kategori makhluk hidup dapat diberikan perlindungan hak kekayaan
intelektual secara maksimal namun tidak bagi sumber daya genetik berupa hewan.
Sistem Hak Kekayaan Intelektual, paten, dianggap tidak sejalan dengan CBD karena
tidak ada pembatasan bagi paten dari pengetahuan tradisional, sistem paten tidak menjamin
Piror Informed Consent (PIC) dan Benefit Sharing, dan tidak adanya suatu penghormatan
atas kedaulatan (sovereignty) suatu negara dimana SDG berasal. Selain itu, mikroorganisme
dinilai bukan merupakan suatu invensi, sehingga seharusnya merupakan subject matter yang
tidak dapat dipatenkan.19 Selain itu, menurut penulis perlindungan Indikasi Geografis yang
menekankan pada suatu barang yang melekatkan nama geografis pada barang tersebut
dilekatkan Indikasi Geografis terhadap barang tersebut. Namun, penggunaan nama geografis
bagi sumber daya genetik hewan ternak tidak memberikan perlindungan dalam ranah Indikasi
Geografis.
Pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan sumber daya genetik merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari sumber daya genetik dan secara berkelanjutan diwariskan
18 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Status Terkini Sumber Daya Genetik Ternak
untuk Pangan dan Pertanian, 2009, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian
Pertanian, h.272
19 Dede Mia Yusanti, Op.Cit., h. 55
10

oleh nenek moyang masyarakat hukum adat dan komunitas lokal kepada generasi berikutnya.
Oleh sebab itulah, dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya genetik dan
pengetahuan tradisional yang berkenaan dengan sumber daya genetik harus terpolakan dan
tercermin dalam pengetahuan, inovasi, dan praktik yang terkait. Serta perlu dikembangkan
pengaturan pengelolaannya sehingga dapat menampung dinamikan dan aspirasi masyarakat
hukum adat dan komunitas lokal.20 Ketentuan perlindungan Indikasi Geografis perihal
keterkaitan karakteristik, kualitas, dan reputasi sebuah Indikasi Geografis harus dipengaruhi
oleh Pengetahuan Tradisional mengindikasikan bahwan SDGT yang ter-influence oleh
pengetahuan tradisional memiliki kedudukan yang sama dengan produk pertanian, kerajinan
tangan, dan barang lainnya.
Upaya harmonisasi yang dilakukan Convention on Biological Diversity) dengan
tuntutan Hak Kekayaan Intelektual, khususnya, telah dituangkan dalam keputusan COP
(conference of the parties) kedelapan tahun 2006. Menurut paragraf 13 putusan yang
dimaksud, diterangkan bahwa COP menugaskan Eksekutif CBD untuk berhubungan dengan
sekretariat WTO mengenai isu-isu relevan seperti HKI, mekanisme sanitasi dan fitosanitasi,
barang dan jasa lingkungan.
Hewan merupakan SDG yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan tanaman.
SDG hewan Indonesia juga merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang sangat
besar, yang bahkan beberapa di antaranya merupakan terbesar di dunia. Peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai kehewanan yang bersifat pemeliharaan dan perlindungan
langsung terhadap kekayaan SDG terbagi dua yaitu pengaturan penangkapan satwa liar dalam

20 Penjelasan Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan Nagayo Protocol on Access to


Genetic Resourcess and The Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from Their Utilization to
The Convention on Biological Diversity
11

konteks kehutanan berada dalam wewenang Departemen Kehutanan dan dalam konteks
peternakan.
Upaya perlindungan di Indonesia terhadap sumber daya genetik telah dilakukan
melalui alokasi sejumlah kawasan, baik di darat, di pesisir, maupun di laut untuk dijadikan
kawasan konservasi dalam berbagai bentuk seperti taman nasional, kawasan konservasi
daratan dan perairan, dan suaka margasatwa darat dan laut. Selain itu bertujuan untuk
melindungi sumber daya genetik, kawasan konservasi juga dimaksudkan untuk menjamin
keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan lautan dengan
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Upaya lain yang telah dilakukan
termasuk membangun peta ekologi wilayah indonesia. Selain itu, perlindungan tersebut
dimaksudkan juga untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumber daya genetik dan
pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan sumber daya genetik bagi generasi yang akan
datang.
Secara umum, hewan dalam konteks peternakan telah diatur dalam Undang-Undang
Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang menetapkan bahwa
sumber daya genetik merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang dikuasai oleh negara dan
dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Penguasaan negara atas sumber daya
genetik dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah provinsi, atau pemerintah daerah
kabupaten/kota berdasarkan sebaran asli geografis sumber daya genetik yang bersangkutan.
Sumber daya genetik dikelola melalui kegiatan pemanfaatan dan pelestarian. Pemanfaatan
sumber daya genetik dilakukan melalui pembudidayaan dan pemuliaan. Namun, diduga
pengaturan terhadap hewan ternak di Indonesia masih tidak dapat mengadopsi kedua prinsip
(hak kekayaan intelektual dan keanekaragaman hayati) mengingat konflik antara kedua
prinsip tersebut. Walaupun, pada kenyataannya kedua prinsip tersebut telah memberikan hak

12

seluas-luasnya untuk mengelola dan mengembangkan aturan dasar yang telah diperjanjikan
dalam perjanjian internasional. Perlindungan sumber daya genetik hewan ternak di Indonesia
diduga belum maksimal menyikapi kesempatan tersebut.
CBD atau Convention on Biological Diversity yang dikenal sebagai Konvensi
Keanekaragaman Hayati, merupakan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum
yang diadopsi di Rio de Janeiro pada Juni 1992 yang diilhami oleh tumbuhnya komitmen
masyarakat dunia untuk pembangunan berkelanjutan. Ini menggambarkan langkah maju yang
dramatis dalam konservasi keanekaragaman hayati. Konvensi memiliki tiga tujuan utama
yaitu Konservasi keanekaragaman hayati (atau keanekaragaman hayati); Pemanfaatan
berkelanjutan komponen-komponennya; dan Pembagian keuntungan yang adil dan merata
yang timbul dari penggunaan sumber daya genetik.
Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk mengembangkan strategi nasional untuk
konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Hal ini sering dianggap
sebagai dokumen kunci tentang pembangunan berkelanjutan. Konvensi diakui untuk pertama
kalinya dalam hukum internasional bahwa konservasi keanekaragaman hayati adalah
"menjadi perhatian bersama umat manusia" dan merupakan bagian integral dari proses
pembangunan. Kesepakatan mencakup semua ekosistem, spesies, dan sumber daya genetik.
Ini link upaya konservasi tradisional untuk tujuan ekonomi menggunakan sumber daya hayati
secara lestari. Ini menetapkan prinsip- prinsip yang adil dan merata pembagian keuntungan
yang timbul dari penggunaan sumber daya genetik, terutama mereka yang ditakdirkan untuk
penggunaan

komersial.

Juga

mencakup

berkembang

pesat

bidang

bioteknologi

melalui Cartagena Protocol on Biosafety, membahas perkembangan teknologi dan


transfer, manfaat-sharing dan biosafety masalah. Penting lagi, Konvensi mengikat secara

13

hukum; negara-negara yang bergabung (pihak) yang wajib untuk menerapkan ketentuanketentuannya.
Konvensi mengingatkan para pengambil keputusan bahwa sumber daya alam yang
tidak terbatas dan menetapkan filosofi dari penggunaan yang berkelanjutan. Sementara masa
lalu konservasi upaya-upaya yang ditujukan untuk melindungi spesies dan habitat tertentu,
Konvensi mengakui bahwa ekosistem, spesies dan gen harus digunakan untuk kepentingan
manusia. Namun, hal ini harus dilakukan dengan cara dan pada tingkat yang tidak mengarah
pada jangka panjang penurunan keanekaragaman hayati.
Konvensi juga menawarkan bimbingan para pengambil keputusan didasarkan
padaprinsip kehati-hatian bahwa di mana ada ancaman signifikan menurunnya atau hilangnya
keanekaragaman hayati, kurangnya kepastian ilmiah penuh tidak boleh digunakan sebagai
alasan untuk menunda tindakan untuk menghindari atau memperkecil ancaman tersebut.
Konvensi

mengakui

bahwa

diperlukan

investasi

besar

untuk

mengkonservasi

keanekaragaman hayati. Ini berpendapat, bagaimanapun, bahwa konservasi akan membawa


kita lingkungan yang signifikan, manfaat sosial dan ekonomi sebagai imbalan.
CBD (Convention on Biological Diversity) menegaskan bahwa upaya pelestarian dan
pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati harus dilakukan secara holistik,
memperhitungkan tiga level keanekaragaman hayati dan sepenuhnya mempertimbangkan
aspek sosial, ekonomi dan budaya. Maka ecocystem approach menjadi kerangka acuan utama
upaya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati.21
Ekosistem sendiri memiliki definisi sebagai interaksi dinamis komponen biotik dan
abiotik dalam suatu lingkungan yang menghasilkan aliran energi dan daur hara. Pendekatan
21 CBD : Decision II/8 COP II, paragraph 1
14

ekosistem dapat dilakukan pada skala ruang dan wilayah apapun, menempatkan manusia
sebagai bagian integral dari ekosistem, memerlukan pendekatan pengelolaan adaptif.
Pendekatan ekosistem tidak meniadakan pendekatan pelestarian dan pengelolaan lain
sepertibiosphere

reserves, protected

area, single-species

conservation,

melainkan

mengintegrasikan seluruh pendekatan tersebut dalam menghadapi kompleksnya situasi dan


permasalahan yang ditemui. Panduan pelaksanaan pengelolaan berbasis ekosistem adalah
sebagai berikut:22
a. Fokus pada hubungan dan proses fungsional dalam ekosistem
Komponen-komponen dalam ekosistem mengendalikan pola penyimpanan dan
pelepasan energi, air, dan nutrisi serta ikut membangun daya tahan ekosistem terhadap
gangguan. Pengetahuan atas fungsi dan struktur ekosistem sangat dibutuhkan
terutama untuk memahami daya tahan ekosistem, dampak kerusakan lingkungan dan
habitat, penyebab utama kerusakan, serta faktor-faktor penentu pertimbangan dalam
pengambilan keputusan.
b. Meningkatkan benefit-sharing
Pendekatan ekosistem berusaha mempertahankan dan memperbaiki nilai manfaat dari
fungsi ekosistem yang ada, yang pada gilirannya akan membuat para pihak terkait
mampu bertanggung jawab secara mandiri dalam pelestarian dan pemanfaatan
ekosistem tersebut. Pendekatan ini bisa dilakukan antara lain dengan cara peningkatan
kapasitas komunitas lokal dalam pengelolaan ekosistem dan penilaian atas barang dan
jasa yang dihasilkan ekosistem secara adil dan memadai.

22 http://lingkarlsm.com/2011/12/pendekatan-ekosistem/ Diakses pada tanggal 25 Desember 2013


Pukul 14.00 WIB
15

c. Melakukan praktik adaptive management


Proses dan fungsi ekosistem sangat kompleks dan beragam. Perlu dipahami, akibat
tingginya tingkat ketidakpastian hubungan dengan konstruksi sosial yang ada,
pengelolaan ekosistem harus merupakan proses pembelajaran yang terus-menerus
terjadi. Pembelajaran hanya bisa dilakukan bila terdapat kemungkinan adaptasi.
Implementasi program harus dirancang memiliki cukup daya kelenturan dan
penyesuaian.
d. Pengelolaan kegiatan dilakukan pada skala isu yang tepat
Pendekatan ekosistem harus dilakukan dengan pola desentralisasi sampai ke level
terbawah. Pengelolaan kegiatan tak jarang harus dilakukan pada tingkatan komunitas
lokal. Efektivitas desentralisasi membutuhkan pendampingan dan pemberdayaan, juga
dukungan kerangka kebijakan dan aturan. Pada keterlibatan hak-hak publik,
pengelolaan dalam skala yang lebih besar dibutuhkan untuk dapat mengakomodasi
seluruh kepentingan para pihak.
e. Menjamin keterlibatan, kerja sama, dan koordinasi antarsektor
Pendekatan ekosistem tidak dapat lepas dari strategi dan rencana aksi nasional,
sehingga tetap harus memperhitungkan keterlibatan, kerjasama, dan koordinasi
antarsektor dalam mengelola sumber daya alam, antara lain pertanian, perikanan,
kehutanan, dan berbagai sektor terkait lainnya.
Terdapat dua belas prinsip dasar dari pendekatan ekosistem berdasarkan konvensi
keanekaragaman hayati yaitu :23
23 http://www.cbd.int/ecosystem/principles.shtml Diakses pada tanggal 27
Desember 2013 Pukul 07.00 WIB
16

Principle 1:The objectives of management of land, water and living resources are a matter
of societal choices.
Different sectors of society view ecosystems in terms of their own economic, cultural and
society needs. Indigenous peoples and other local communities living on the land are
important stakeholders and their rights and interests should be recognized. Both cultural and
biological diversity are central components of the ecosystem approach, and management
should take this into account. Societal choices should be expressed as clearly as possible.
Ecosystems should be managed for their intrinsic values and for the tangible or intangible
benefits for humans, in a fair and equitable way.
Principle 2: Management should be decentralized to the lowest appropriate level.
Decentralized systems may lead to greater efficiency, effectiveness and equity. Management
should involve all stakeholders and balance local interests with the wider public interest. The
closer management is to the ecosystem, the greater the responsibility, ownership,
accountability, participation, and use of local knowledge.
Principle 3: Ecosystem managers should consider the effects (actual or potential) of their
activities on adjacent and other ecosystems.
Management interventions in ecosystems often have unknown or unpredictable effects on
other ecosystems; therefore, possible impacts need careful consideration and analysis. This
may require new arrangements or ways of organization for institutions involved in decisionmaking to make, if necessary, appropriate compromises.
Principle 4: Recognizing potential gains from management, there is usually a need to
understand and manage the ecosystem in an economic context. Any such ecosystemmanagement programme should:
a.

Reduce those market distortions that adversely affect biological diversity;


17

b.

Align incentives to promote biodiversity conservation and sustainable use;

c.

Internalize costs and benefits in the given ecosystem to the extent feasible.

The greatest threat to biological diversity lies in its replacement by alternative systems of
land use. This often arises through market distortions, which undervalue natural systems and
populations and provide perverse incentives and subsidies to favor the conversion of land to
less diverse systems.
Often those who benefit from conservation do not pay the costs associated with conservation
and, similarly, those who generate environmental costs (e.g. pollution) escape responsibility.
Alignment of incentives allows those who control the resource to benefit and ensures that
those who generate environmental costs will pay.
Principle 5: Conservation of ecosystem structure and functioning, in order to maintain
ecosystem services, should be a priority target of the ecosystem approach.
Ecosystem functioning and resilience depends on a dynamic relationship within species,
among species and between species and their abiotic environment, as well as the physical
and chemical interactions within the environment. The conservation and, where appropriate,
restoration of these interactions and processes is of greater significance for the long-term
maintenance of biological diversity than simply protection of species.
Principle 6: Ecosystem must be managed within the limits of their functioning.
In considering the likelihood or ease of attaining the management objectives, attention
should be given to the environmental conditions that limit natural productivity, ecosystem
structure, functioning and diversity. The limits to ecosystem functioning may be affected to
different degrees by temporary, unpredictable of artificially maintained conditions and,
accordingly, management should be appropriately cautious.

18

Principle 7: The ecosystem approach should be undertaken at the appropriate spatial and
temporal scales.
The approach should be bounded by spatial and temporal scales that are appropriate to the
objectives. Boundaries for management will be defined operationally by users, managers,
scientists and indigenous and local peoples. Connectivity between areas should be promoted
where necessary. The ecosystem approach is based upon the hierarchical nature of biological
diversity characterized by the interaction and integration of genes, species and ecosystems.
Principle 8: Recognizing the varying temporal scales and lag-effects that characterize
ecosystem processes, objectives for ecosystem management should be set for the long term.
Ecosystem processes are characterized by varying temporal scales and lag-effects. This
inherently conflicts with the tendency of humans to favour short-term gains and immediate
benefits over future ones.
Principle 9: Management must recognize the change is inevitable.
Ecosystems change, including species composition and population abundance. Hence,
management should adapt to the changes. Apart from their inherent dynamics of change,
ecosystems are beset by a complex of uncertainties and potential "surprises" in the human,
biological and environmental realms. Traditional disturbance regimes may be important for
ecosystem structure and functioning, and may need to be maintained or restored. The
ecosystem approach must utilize adaptive management in order to anticipate and cater for
such changes and events and should be cautious in making any decision that may foreclose
options, but, at the same time, consider mitigating actions to cope with long-term changes
such as climate change.
Principle 10: The ecosystem approach should seek the appropriate balance between, and
integration of, conservation and use of biological diversity.
19

Biological diversity is critical both for its intrinsic value and because of the key role it plays
in providing the ecosystem and other services upon which we all ultimately depend. There
has been a tendency in the past to manage components of biological diversity either as
protected or non-protected. There is a need for a shift to more flexible situations, where
conservation and use are seen in context and the full range of measures is applied in a
continuum from strictly protected to human-made ecosystems
Principle 11: The ecosystem approach should consider all forms of relevant information,
including scientific and indigenous and local knowledge, innovations and practices.
Information from all sources is critical to arriving at effective ecosystem management
strategies. A much better knowledge of ecosystem functions and the impact of human use is
desirable. All relevant information from any concerned area should be shared with all
stakeholders and actors, taking into account, inter alia, any decision to be taken under
Article 8(j) of the Convention on Biological Diversity. Assumptions behind proposed
management decisions should be made explicit and checked against available knowledge and
views of stakeholders.
Principle 12: The ecosystem approach should involve all relevant sectors of society and
scientific disciplines.
Most problems of biological-diversity management are complex, with many interactions,
side-effects and implications, and therefore should involve the necessary expertise and
stakeholders at the local, national, regional and international level, as appropriate.
Prinsip-prinsip pendekatan ekosistem
1. Tujuan pengelolaan tanah, air dan sumber daya hidup yang soal pilihan masyarakat.
2. Pengelolaan harus didesentralisasikan ke tingkat yang sesuai terendah.
3. Ecosystem managers harus mempertimbangkan dampak (aktual atau potensial) dari
mereka kegiatan yang berdekatan dan ekosistem lainnya.

20

4. Menyadari potensi keuntungan dari manajemen, biasanya ada kebutuhan untuk


memahami dan mengelola ekosistem dalam konteks ekonomi. Ekosistem tersebut
program manajemen harus: (a) mengurangi distorsi pasar mereka yang merugikan
keanekaragaman hayati;
pelestarian

(b) menyelaraskan insentif untuk

keanekaragaman

hayati

dan

pemanfaatan

mempromosikan

berkelanjutan;

(c)

menginternalisasi biaya dan manfaat ekosistem yang diberikan sejauh layak.


5. Konservasi ekosistem struktur dan fungsi, dalam rangka mempertahankan jasa
ekosistem, harus menjadi prioritas sasaran pendekatan ekosistem.
6. Ekosistem harus dikelola dalam batas-batas fungsi mereka.
7. Para pendekatan ekosistem harus dilakukan diambil pada saat yang tepat skala spasial
dan temporal.
8. Mengenali berbagai skala temporal dan lag-efek yang menjadi ciri proses ekosistem,
tujuan pengelolaan ekosistem harus ditetapkan untuk jangka istilah.
9. Manajemen harus menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihindari.
10. Para pendekatan ekosistem harus mencari keseimbangan yang tepat antara, dan
integrasi, konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.
11. Para pendekatan ekosistem harus mempertimbangkan semua bentuk informasi yang
relevan, termasuk ilmiah dan masyarakat adat dan pengetahuan lokal, inovasi dan
praktek-praktek.
12. Para pendekatan ekosistem harus melibatkan semua sektor terkait masyarakat dan
disiplin ilmu.

21

13.
DAFTAR BACAAN
Achamd Zen Umar Purba, Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPS, Alumni, Bandung, 2005
____________________, Perjanjian TRIPs dan Beberapa Isu Strategis, Alumni, Jakarta,
2011
Andriana Krisnawati dan Gazalba Saleh, Perlindungan Hukum Varietas Baru Tanaman,
RajaGrafindo Persada, Bandung, 2004
Afrillyanna Purba, dkk, Trips-WTO dan Hukum HKI Indonesia, Jakarta, Asdi Mahasatya,
2005
Agnes Vira Ardian, 2008, Prospek Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual dalam
Kesenian Tradisional di Indonesia, Tesis, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Agus Sardjono, Membumikan HKI di Indonesia, Nuansa Aulia, Bandung, 2009
Arthur R. Miller, dkk, Intellectual Property Patents, Trademarks, and Copyright, West
Publishing, United States of America, 1990
Bambang Setiadi dan Kusuma Diwyanto, Pengelolaan Berkelanjutan Sumber Daya Genetik
Ternak, Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik
di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudan Ketahanan Nasional
Bernard Nainggolan, Pemberdayaan Hukum Hak Cipta dan Lembaga Manajemen Kolektif,
Alumni, Bandung, 2011
Budi Agus dan Syamsudin, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, RajaGrafindo
Persada, Jakarta 2004
Dede Mia Yusanti, Perlindungan Sumber Daya Genetik Melalui Sistem Hak Kekayaan
Intelektual, Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya
Genaetik di Indonesia, Banten
Efridani Lubis, Perlindungan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik, Alumni, Jakarta
Elyta Ras Ginting, Hukum Hak Cipta Indonesia-Analisis Teori dan Praktik, Citra Aditya
Bakti, 2012
Eva Damayanti, Hukum Merek Tanda Produk Industri Budaya dikembangkan dari Ekspresi
Budaya Tradisional, Bandung, 2012
Keith E. Maskus, Intellectual Property Rights in The Global Economy, Institute for
International Economics, Washington, 2000
MartinAdelman, dkk, Global Issues in Patent Law, Thomson Reuters, United States Of
America, 2011
Miranda Risang Ayu, Memperbincangkan Hak Kekayaan Intelektual Indikasi Geografis,
Alumni, Bandung

22

Nurul Barizah, Intellectual Property Implications on Biological Resources, Nagara, Jakarta,


2010
Ok. Saidin Hak Kekayaan Intelektual, RajaGrafindo Persada, Medan, 2004
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cet. I, Prenada Media, 2005
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Status Terkini Sumber Daya Genetik Ternak
untuk Pangan dan Pertanian, 2009, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian
Rahmi Jened, Hak Kekayaan Intelektual-Penyalahgunaan Hak Eksklusif, Airlangga
University Press, Jakarta, 2007
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya, Bandung, 2006
Sudargo Gautama, 1995, Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual, Jakarta, Eresco
Terry Hutchinson, Researching and Writing in Law, Thomson Reuters, Australia, 2006
Zainul Daulay, Pengetahuan Tradisional, RajaGrafindo Persada, Makassar, 2011
www.dgip.go.id/ebhtml/hki/filecontent.php?fid=14872 Diakses pada tanggal 28 Desember
2013 Pukul 14.00 WIB
http://www.indonesianchm.or.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=218&Itemid=103&lang=in
tanggal 12 November 2013Pukul 20.00 WIB

Diakses pada

http://lingkarlsm.com/2011/12/pendekatan-ekosistem/ Diakses pada tanggal 25 Desember


2013 Pukul 14.00 WIB
http://www.cbd.int/ecosystem/principles.shtml Diakses pada tanggal 27 Desember 2013
Pukul 07.00 WIB
Diakses pada tanggal 9 Agustus 2012
http://www.scribd.com/doc/70113109/11/Pengertian-Perlindungan-Hukum

23

Anda mungkin juga menyukai