Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia ini setiap menitnya seorang perempuan akan meninggal karena
komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Sekitar 500.000 perempuan
meninggal setiap tahunnya karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, 2 orang ibu
meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas. Begitu pula dengan
kematian anak, di Indonesia setiap 20 menit anak usia dibawah 5 tahun meninggal dunia.
Dalam ruang lingkup internasional, setiap menitnya seorang perempuan meninggal
karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Sebagian besar
kematian perempuan ini disebabkan oleh komplikasi karena kehamilan dan persalinan,
termasuk perdarahan, infeksi, aborsi tidak aman, tekanan darah tinggi dan persalinan
yang terlalu lama (Cuningham, 2005).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang
disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri. Preeklampsia merupakan timbulnya
hipertensi, oedema disertai proteinuria akibat kehamilan, hal ini terjadi setelah umur
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia merupakan kelainan
akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya
kejang atau koma. Sebelum terjadinya eklampsia biasanya wanita akan menunjukan
gejala-gejala preeklampsia terlebih dahulu (Wiknjosastro, 2006).
Preeklampsia maupun eklampsia dapat menyebabkan

hal-hal

yang

membahayakan ibu maupun bayi. Hal-hal yang dapat terjadi bila terdapat keadaan
eklampsia atau preeklampsia adalah rendahnya aliran darah ke plasenta, lepasnya
plasenta dari rahim, penurunan kesadaran, dan sebagainya (Rukiyah, 2010).
Untuk mengatasi kejadian eklampsia dan preeklampsia dilakukan dua jenis
pengobatan, pengobatan pertama berupa pengobatan medisinal yang menggunakan obat
untuk mengatasi serta mengurangi tingkat keparahan dari tanda dan gejala. Pengobatan
yang kedua adalah pengobatan obstetrik yang merupakan salah satu langkah yang
dilakukan untuk menyelamatkan kandungan dan nyawa ibu (Cuningham, 2005)

B. Tujuan
Setelah mengetahui permasalahan preeklampsia dan eklapmsia. Pembaca
diharapkan mengerti mengenai tanda dan gejala dari tugas terstruktur ini dan mengetahui
1

bagaimana cara menanggulangi pasien dengan preklampsia. Tujuan dari penyusunan


referat ini adalah :
1. Mengetahui tanda dan gejala dari eklampsia dan preklampsia
2. Mengetahui alur penegakan diagnosis dari eklampsia dan preklamsia
3. Mengetahui proses terjadinya eklampsia dan preklampsia
4. Mengetahui penatalaksanaan eklampsia dan preklampsia

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria
yang timbul karena kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan janinnya.
Preeklampsia dideskripsikan sebagai sindrom spesifik saat kehamilan yang dapat
memberikan efek pada setiap sistem organ. Penyakit ini biasanya terjadi pada trimester
ketiga kehamilan ( Cuningham, 2010).
Preeklampsia dibagi menjadi golongan ringan dan berat. Penyakit tersebut
digolongkan ke dalam preeklampsia berat apabila satu atau lebih dari tanda dibawah ini
ditemukan :
1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 110mmHg atau lebih
2. Proteinuria 5 gram atau lebih dalam 24 jam dan positif 3 pada uji kualitatif
3. Oliguria, dengan volume urin 400 ml dalam waktu 24 jam
4. Edema paru atau sianosis
2

Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang
ditandai dengan timbulnya kejang atau koma. Sebelumnya, pasien dengan eklampsia telah
menunjukkan gejala-gejala Preeklampsia. Kejang terjadi pada sebelum, sesaat atau setelah
kelahiran. Kejadian eklamsia menurut timbulnya dibagi ke dalam : (Cuningham, 2010).
1.
Eklampsia gravidarum (50%)
2.
Eklamspia parturien (40%)
3.
Eklampsia puerperium (10%)
B. Etiologi
Etiologi dari preeklampsia sampai sekarang masih belum jelas, namun yang dapat
menjadi penyebab preeklampsia dan eklampsia adalah terdapatnya kelainan pada faktor
maternal, plasenta, dan fetal. Faktor maternal merupakan faktor yang terkait dengan ibu,
meliputi gagalnya adaptasi (maladaptasi) maternal terhadap perubahan yang terjadi pada
kehamilan. Faktor tersebut meliputi :
1. Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau inflamasi pada
kehamilan normal
2. Maladaptasi toleransi imunologik antara maternal dan paternal (plasenta) dan jaringan
fetus atau janin.
3. Faktor genetik
Preeklamsia merupakan penyulit kehamilan yang dipengaruhi beberapa ekspresi gen
yang mengakibatkan serangakaian proses kompleks dan menimbulkan preeklamsia.
Faktor plasenta dan fetal yang berkaitan dengan kejadian preeklampsia adalah
implantasi plasenta yang abnormal dengan invasi trofoblastik pada pembuluh darah uterus,
tepatnya arteri spiralis.
C. Tanda dan gejala klinis
The American College of Obstetricians and Gynecologists ( ACOG ) membagi derajat
preeklampsia menjadi ringan dan berat ( Chaterine, 2010). Tanda dan gejala klinis yang
membedakan antara preeklampsia ringan dan berat adalah sebagai berikut :
Tabel 1 : Derajat preeklampsia ringan dan berat berdasarkan ACOG.
Abnormalitas

Ringan

Berat

Tekanan darah diastolik

<110 mm Hg

>110 mm Hg

Tekanan darah sistolik

<160 mm Hg

>160 mm Hg

Proteinuria

2+

3+
3

Abnormalitas

Ringan

Berat

Sakit kepala

Tidak ada

Ada

Gangguan Visual

Tidak ada

Ada

Nyeri perut

Tidak ada

Ada

Oliguria

Tidak ada

Ada

Kreatinin serum

Normal

Meningkat

Trombositopenia

Tidak ada

Ada

Peningkatan serum transaminase

Minimal

Meningkat

Hambatan pertumbuhan fetus

Tidak ada

Ada

Edema Pulmo

Tidak ada

Ada

Biasanya tanda tanda preeklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan
yang berlebihan, edema, hipertensi dan akhirnya proteinuria. Pada preeklampsia ringan
tidak ditemukan gejala gejala subyektif. Tetapi pada preeklampsia berat di dapatkan sakit
kepala di daerah frontal, adanya diplopia, penglihatan kabur, nyeri di epigastrium, mual
dan atau muntah ( Hanifa, 2005).

Berikut tabel tanda dan gejala preeklampsia ringan dan berat :


Tabel 2. Tanda dan gejala pre-eklamsia
Preeklampsia ringan
Preekampsia berat
1. Tekanan darah >140 / 90 mmHg pada
1. Tekanan darah 160/110 mmHg
2. Nyeri epigastrium
kehamilan > 20 minggu.
3. Skotoma
2. Proteinuria kuantitatif (Esbach) 300 mg
4. Gangguan visus atau nyeri frontal
/ 24 jam, atau dipstick +1.
yang berat
5. Perdarahan retina
6. Edema pulmonum
7. Koma
8. Peningkatan kadar enzim hati
9. Ikterik
10. Trombosit < 100.000/mm3
11. Proteinuria > 3 g/liter
Sumber : ( Hanifa, 2005).
Eklampsia dianggap sebagai komplikasi dari preeklampsia yang didefinisikan
sebagai onset awal kejang dan atau koma yang tak dapat diketahui penyebabnya. Pada
umumnya eklampsia didahului oleh makin memburuknya keadaan ( tanda dan gejala )

pada preeklampsia. Bila keadaan tidak dapat di deteksi dari awal dan tidak segera di obati
maka akan timbul eklampsia sehingga dapat membahayakan persalinan ( Sarwono, 2009)
D. Patomekanisme Preeklampsia dan Eklampsia
Patofisiologi terjadinya preeklampsia didasari oleh adanya iskemik uteroplasentar,
sehingga terjadi ketidakseimbangan antara massa plasenta yang meningkat dengan aliran
perfusi sirkulasi darah plasenta yang berkurang. Perubahan lainnya juga didapatkan yaitu
spasmus pembuluh darah disertai dengan retensi garam serta air di dalam tubuh ( Mochtar,
2004).
Keadaan berkurangnya perfusi sirkulasi darah di plasenta disebabkan oleh kelainan
pada remodelling arteri spiralis pada endometrium. Pada keadaan normal, arteriol spiral
mengalami invasi oleh endovaskular tropoblas, sel ini di ganti oleh endotel vaskular
sehingga terbentuk pembuluh darah baru hasil remodeling(Kaufmann, 2003 ).
Karakteristik diameter pembuluh darah lebih besar dan resistensi vaskular yang lebih
kecil, berbeda dengan arteri, vena di invasi hanya sampai bagian permukaan saja. Pada
keadaan preeklamsia invasi tropblastik tidak sempurna ( incomplete), sehingga proses
remodeling arteri spiral menjadi pembuluh darah baru tidak terjadi dan mengakibatkan
diameter pembuluh yang lebih besar tidak terbentuk (Kaufmann, 2003 ).

Gambar 1. Arteri spiralis pada keadaan normal dan preeklampsia

Remodelling arteri spiral yang tidak sempurna (incomplete) menyebabkan terjadinya


hipoperfusi pada plasenta. Hal tersebut memberikan efek pada maternal dan janin. Pada
janin dapat terjadi fetal syndrome, Intrauterine Growth Restriction dan kelahiran preterm.
Sedangkan efek pada maternal terjadi tanda dan gejala pada preeklamsia ( Cuningham,
2010).

Gambar 2 : patofisiologi preeklampsia


Pada keadaan preeklampsia terjadi beberapa perubahan pada maternal atau ibu.
antara lain adalah :
1. Perubahan pada plasenta
Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi plasenta. Pada
preeklampsia dengan hipertensi yang agak lama dapat menyebabkan pertumbuhan
janin terganggu.
2. Perubahan pada ginjal
Perubahan pada ginjal terjadi karena kurangnya perfusi aliran darah ke ginjal
sehingga menyebabkan filtrasi glomerulus berkurang. Filtrasi glomerulus pada
keadaan eklamsia dapat turun hingga 50 % sehingga menyebabkan diuresis turun dan
pada keadaan yang lebih lanjut dapat terjadi oliguria.
3. Perubahan pada retina
Perubahan pada retina berupa edema retina, spasmus setempat, serta retinopati.
E. Pemeriksaan Penunjang
7

Pemeriksaan penunjang atau uji diagnostik yang dilakukan pada pre eklamsia
antara lain adalah :
1. Uji Diagnostik Dasar diukur melalui :
Uji diagnostik dasar dilakukan untuk menegakkan diagnosis preeklampsia dilihat dari
tanda dan gejala yang ada. Pada uji tersebut dilakukan pengukuran tekanan darah,
analisis protein dalam urine, pemeriksaan edema pada tungkai (pretibial), dinding
perut, lumbosakral, wajah atau tungkai, pengukuran tinggi fundus uteri dan
pemeriksaan funduskopi (Cuningham, 2005).
2. Uji Laboratorium Dasar
Uji laboratorium dasar berupa :
a. Evaluasi hematologik, berupa pemeriksaan hematokrit, jumlah trombosit dan
morfologi eritrosit pada sediaan hapus darah tepi.
b. Pemeriksaan fungsi hati, berupa pemeriksaan billirubin, protein serum dan aspartat
amino transferase.
F. Penegakkan Diagnosis
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu
dan janinnya. Penyakit ini pada umumnya terjadi dalam trimester ketiga kehamilan dan
dapat terjadi pada waktu antepartum, intrapartum, dan pascapersalinan (Chapman, 2006).
Eklampsi dianggap sebagai komplikasi dari

preeklampsi yang

didefinisikan

sebagai onset awal kejang dan atau koma yang tak dapat diketahui penyebabnya selama
periode kehamilan atau setelah persalinan pada seorang wanita dengan tanda atau gejala
pre-eklamsi, biasanya terjadi pada usia 20 minggu kehamilan atau pada periode setelah
kehamilan (Chapman, 2006).
Penegakan diagnosis eklampsia dan preeklampsia berdasarkan bebebarapa
pemeriksaan antara lain:
1. Anamnesis
Hasil anamnesis preeklampsia, diketahui usia kehamilan lebih dari 20 minggu.
Datang ke tempat praktek dokter biasanya dengan membawa rujukan dari bidan
dengan diagnosis preeklampsi berat. Keluhan lain yang mungkin pasien rasakan
antara lain adalah, nyeri kepala, mengeluhkan pusing, pandangan kabur dan nyeri
perut atau kencang kencang di perut. Riwayat penyakit seperti DM, hipertensi dan
alergi biasanya disangkal. Pada riwayat penyakit keluarga biasanya didapatkan
keadaan yang sama pada ibu atau saudara perempuan pasien. Hal ini berkaitan dengan
faktor genetik yang dapat menyebabkan terjadinya preeklampsia. Dari anamnesis

dapat dilihat faktor resiko pasien yang dapat menyebabkan preeklampsia, antara lain
adalah :
a. Primigavida
b. Multigravida dengan preeklampsia berat pada kehamilan sebelumnya
c. Riwayat keluarga dengan preeklampsia berat
d. Obesitas
2. Pemeriksaan Fisik
a. Status interna pasien
Dari pemeriksaan tekanan darah didapatkan hasil sistolik 160 mmHg,
tekanan darah diastolik 110 mmHg (kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg
atau lebih kenaikan tekanan diastole15 mmHg atau lebih dari tekanan darah
sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih). Keadaan umum pasien
tampak lemah.Sedangkan dari pemeriksaan kepala terdapat sakit kepala dan wajah
edema.Konjungtiva sedikit anemis, edema pada retina, nyeri daerah epigastrium,
anoreksi, mual dan muntah (Cuningham, 2005).
Dari pemeriksaan Ekstremitas ditemukan edema pada kaki dan tangan juga
jari. Pasien mengalami oliguria yaitu produksi urine kurang dari 500 cc per 24 jam
disertai dengan kenaikan kreatinin plasma, protein uria. Pemeriksaan janin Bunyi
jantung janin tidak teratur, gerakan janin melemah (Hidayat, 2007).
b. Status obstetric
Dari inspeksi dan palpasi dalam keadaan normal. Pada pemeriksaan dalam, yaitu
pemeriksaan VT (Vaginal taouche) uretra tenang dan dinding vagina dalam batas
normal portio teraba lunak.
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada preeklampsia berat meliputi uji
diagnostik dasar dan uji laboratorium dasar.
a. Uji Diagnostik Dasar
Uji diagnostik dasar dilakukan untuk menegakkan diagnosis preeklampsia dilihat
dari tanda dan gejala yang ada.
Uji diagnostik dasar meliputi :
Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urine, pemeriksaan oedem pada
tungkai (pretibial), dinding perut, lumbosakral, wajah atau tungkai, pengukuran
tinggi fundus uteri dan pemeriksaan funduskopi (Cuningham, 2005).
a.1 Pengukuran tekanan dilakukan dengan cara pemeriksaan 2 kali selang 6
jam dalam keadaan istirahat. Pada pemeriksaan pertama dilakukan 2 kali
setelah istirahat 10 menit. Pada preeklampsia, hasil pengukuran tekanan darah

> 140/90 mmHg pada preeklampsia ringan dan > 160/110 mmHg pada
preeklampsia berat(Winjosastro, 2006).
a.2 Untuk membedakan dengan hipertensi menahun, selain riwayat hipertensi
sebelum hamil dapat dilakukan dengan pemeriksaan funduskopi untuk
mengetahui adanya perdarahan dan eksudat yang sering terjadi pada kasus
hipertensi menahun (Winjosastro, 2006).
a.3 Edema ialah penimbunan cairan secara umum yang berlebihan dalam jaringan
tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta
pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat badan kg setiap
minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal tetapi bila kenaikan 1
kg seminggu beberapa kali, hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan
(Winjosastro, 2006).
b. Uji Laboratorium Dasar
Uji laboratorium dasar dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat komplikasi
pada kehamilan dengan preeklampsia berat. Uji laboratorium dasar yang
dilakukan adalah :
b.1 Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada
sediaan hapus darah tepi). Pada preeklampsia didapatkan jumlah trombosit <
100.000. Dari pemeriksaan hematologi didapatkan kadar Hct rendah dengan
kadar normal 37, 7 %-53, 7 %.
b.2 Pemeriksaan fungsi hati (enzim aspartat aminotransferase dan protein serum)
Parameter yang termasuk dalam pemeriksaan fungsi hati adalah golongan
enzim aspartat aminotransferase (AST/SCOT) dan alanin aminotransferase
(ALT/SGPT). Enzim-enzim ini merupakan indikator yang sensitif terhadap
adanya kerusakan sel hati dan sangat membantu dalam mengenali adanya
penyakit pada hati yang bersifat akut. Pada preeklampsia terjadi peningkatan
AST dan ALT, yaitu > 70 U/L (Winjosastro, 2006).
Nekrosis periportal hati pada preeklampsia/eklampsia merupakan
akibat vasopasme arteriole umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia,
tetapi juga dapat terjadi pada penyakit lain. Kerusakan sel sel hati dapat
diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim
enzimnya. Penderita dengan PEB kadang kadang menunjukkan gejala
klinik hemolisis yang dikenal dengan ikterus. Tanda ikterus tersebut dapat
dibuktikan dengan pemeriksaan kadar bilirubin. Bilirubin merupakan pigmen
10

yang dihasilkan dari pemecahan hemoglobin di hati. Pada preeklampsia berat


terjadi peningkatan kadar bilirubin yang menyebabkan adanya tanda ikterus
(Winjosastro, 2006).
Serum protein yang dihasilkan hati antara lain albumin, globulin, dan
faktor pembekuan darah. Pemeriksaan serum protein-protein tersebut
dilakukan untuk mengetahui fungsi biosintesis hati. Penurunan kadar
albumin menunjukan adanya gangguan fungsi sintesis hati. Namun karena
usia albumin cukup panjang (15-20 hari), serum protein ini kurang sensitif
digunakan sebagai indikator kerusakan sel hati. Kadar albumin kurang dari 3
g/L menjadi petunjuk perkembangan penyakit menjadi kronis (menahun)
(Cuningham,2005).
b.3 Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin)
Peningkatan kreatinin dalam darah menunjukkan adanya penurunan
fungsi ginjal. Nilai normal pada wanita 0,4-0,9 mg/dl. Pada wanita hamil, uji
fungsi ginjal dapat dilakukan dengan roll test. Yaitu dengan cara penderita
tidur miring kekiri kemudian tensi diukur

diastolik, kemudian tidur

terlentang, segera ukur tensi, ulangi 5 menit, setelah itu bedakan diastol, tidur
miring dan terlentang, hasil pemeriksaan ; ROT (+) jika perbedaan > 15
b.4

mmHg, ROT (-) jika perbedaan < 15 mmHg (Cuningham, 2005).


pemeriksaan protein urin
Pemeriksaan urin menunjukkan proteinuria yaitu terdapatnya protein
dalam urin. Proteinuria merupakan komplikasi lanjutan dari hipertensi dalam
kehamilan, dengan kerusakan ginjal sehingga beberapa bentuk protein lolos
dalam urine. Normal terdapat sejumlah protein dalam urine, tetapi tidak
melebihi 0,3 gr dalam 24 jam. Proteinuria menunjukkan komplikasi
hipertensi dalam kehamilan lanjut sehingga memerlukan perhatian dan
penanganan segera. Untuk diagnosis penyakit ginjal adanya proteinuria
merupakan petunjuk penting. Proteinuria pada preeklampsia jarang timbul
sebelum triwulan ketiga sedangkan pada penyakit ginjal timbul terlebih
dahulu. Sedangkan pada tes fungsi ginjal pada pre-eklamsi ringan hasilnya
normal (Chapman, 2006).

Interpretasi dari hasil pemeriksaan penunjang akan didapatkan adanya HELLP


syndrom (Hemolisis, Elevated Liver function tes and low platelet count). HELLP
merupakan kumpulan gejala klinis berupa gangguan fungsi hati, hepatoselular yang
11

menyebabkan gejala subyektif berupa cepat lelah, mual, muntah dan

nyeri

epigastrium yang khas pada pasien preeklampsia berat (Cuningham, 2005).


G. Rencana Terapi
Rencana terapi pada preeklampsia dan eklampsia meliputi upaya preventif,
medikamentosa dan non-medikamentosa. Upaya preventif berupa penegakkan diagnosis
preekslampsia secara dini dengan cara meningkatkan antenatal care serta menghindari
terjadinya ekslampsia melalui pengobatan preekslamsia dengan intensif.
1. Preeklampsia
a. Nonmedikamentosa
1. Tirah baring, disarankan untuk menjaga kondisi ibu
Istirahat dengan berbaring menyebabkan pengaliran darah ke plasenta
meningkat, aliran darah ke ginjal juga lebih banyak, tekanan vena ke
ekstremitas inferior berkurang dan resorpsi cairan dari daerah tersebut
bertambah. Oleh karena itu, dengan tirah baring dapat mengurangi edema dan
menurunkan tekanan darah.
2. Pada preeklampsia ringan
a. Bila aterm, kelahiran dianjurkan untuk mencegah komplikasi ibu dan
janin.
b. Sebelum aterm, tekanan darah diperiksa 4 kali sehari dan berat badan
diperiksa setiap hari (Taber, 2004).

b. Medikamentosa
b.1 Pemberian kalsium : 1500-2000 mg/hari, dengan tujuan untuk menurunkan
tekanan darah pasien.
b.3 Obat antitrombotik yang dapat mencegah preekslampsia, yaitu aspirin dosis
rendah rata-rata dibawah 100 mg/hari atau dipiridamol.
Pada preeklampsia berat
b.4 Diberikan obat anti hipertensi
Jika tekanan darah secara tiba-tiba meningkat diatas 170 / 110 mmH, biasanya
diberikan Hidralazin 4 x 25 mg/hari atau 5-10 mg iv/ im, tiap 20 menit,
dengan dosis maksimal 30mg. Hidralazin dapat mengurangi resiko perdarahan
otak dan dapat memperbaiki alairan darah ke ginjal (Taber, 2004).

12

b.5Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru-paru,
payah jantung kongestif atau anasarka. Diuretikum yang dipakai adalah
furosemid dengan dosis 3 x 1 ampul ( 20 mg )(Prawirohardjo, 2009).
2. Eklampsia
a. Nonmedikamentosa
Perawatan ekslampsia yang utama adalah terapi suportif yntuk stabilisasi
fungsi vital, yang harus diingat Airway, Breathing, Circulation (ABC),untuk
mengatasi dan mencegah kejang. Mengendalikan tekanan darah, khususnya pada
waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat dan cara yang
tepat (Prawirohardjo, 2009).
b. Medikamentosa
1. Obat antikejang
a. Obat antikejang yang menjadi pilihan pertama ialah magnesium sulfat.
Jenis obat yang dipakai adalah tiopental.
b. Pemberian diuretikum hendaknya selalu disertai dengan memonitor
plasma elektrolit (Prawirohardjo, 2009).
2. Magnesium sulfat (MgSO4)
Pemberian magnesium sulfat pada dasarnya seperti pemberian magnesium
sulfat pada preeklampsia berat. Pengobatan suportif terutama ditujukan untuk
gangguan fungsi organ-organ penting, misalnya tindakan-tindakan untuk
mengatur tekanan darah dan mencegah dekompensasi kordis (Prawirohardjo,
2009).
Magnesium sulfat merupakan garam yang sangat larut dalam air dan dapat
diberikan melalui berbagai cara. Peroral ternyata magnesium sulfat sangat
sedikit diserap dari saluran pencernaan dan jumlah sedikit yang diserap
tersebut segera dikeluarkan melalui urin, sehingga kadar magnesium dalam
serum hampir tidak dipengaruhi. Pemberian secara parenteral barulah dapat
menaikan kadar magnesium. Dalam sejarah pengguanaannya, cara pemberian
parenteral sangat bervariasi dari mulai pemberian secara intratekal, intraspinal,
hipodermal, subkutan, intramuskular, intravena sampai perimpus secara terus
menerus. Dosis pemberian MgSO4 dibagi menjadi dua, yaitu :
a.

Dosis awal:
4 gram magnesium sulfat (20 %dalam 20 ml intravena sebanyak 1 gr/
menit, ditambah 4 gram intramuskuler dibokong kiri dan 4 gram dibokong

kanan (40 % dalam 1 ml


b. Dosis pemeliharaan

13

Diberikan 4 gram intramuskuler, setelah

jam pemberian dosis awal,

selanjutnya diberikan 4 gram intramuskuler setiap jam


3. Pengobatan obstetrik
Sikap terhadap kehamilan ialah semua kehamilan dengan eklampsia harus
diakhiri, tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Persalinan
diakhiri bila sudah mencapai stabilisasi (pemulihan) hemodinamika dan
metabolisme ibu. Kriteria terminasi kehamilan pada preeklampsia antara lain
adalah :
a. Pada kehamilan < 24 minggu dan atau > 34 minggu dengan, nonreassuring fetal heart testing (nrfht), maternal distress.
b. Jika tidak terdapat non-reassuring fetal heart testing (nrfht), maternal
distress pada usia kehamilan 24-33 minggu diberikan steroid lengkap
dan kemudian di lahirkan.
Pada perawatan pascapersalinan, bila persalinan terjadi pervaginam,
monitoring vital sign (Prawirohardjo, 2009).

H. Prognosis
Prognosis dari preeklamsia dan eklamsia dipengaruhi oleh usia kehamilan saat
terjadinya penyakit, keparahan penyakit, kualitas terapi serta ada tidaknya kelainan medis
lain (penyakit penyerta). Prognosis preeklamsia umumnya kurang baik. Mereka yang
selamat atau bertahan hidup kemungkinan mengalami gangguan kronis dan menetap,
seperti kelumpuhan, kebutaan, tekanan darah tinggi atau kerusakan ginjal. Bayi yang
dilahirkan akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. 40% bayi yang
dilahirkan dari ibu yang mengalami preeklamsia/eklamsia berakibat kelahiran prematur
dan latrogenik (Wim, 2002).
Komplikasi pada ibu dengan eklamsia dapat terjadi hingga 70 % kasus, meliputi
DIC, gagal ginjal akut, kerusakan hepatoselular, ruptura hati, perdarahan intraserebral,
henti jantung paru, pneumonitis aspirasi, edema paru akut, dan perdarahan pasca
persalinan. Kerusakan hepatoselular, disfungsi ginjal, koagulopati, hipertensi dan
abnormalitas neurologi akan sembuh setelah melahirkan(Wim, 2002).
Angka kematian perinatal pada kehamilan eklamptik adalah 9 23% dan
berhubungan erat dengan usia kehamilan. Angka kematian perinatal pada satu penelitian
14

terhadap 54 jumlah parturien dengan eklamsia sebelum usia kehamilan 28 minggu adalah
93%, angka ini hanya sebesar 9% pada penelitian lain dengan rata rata usia kehamilan
pada saat melahirkan 32 minggu. Kematian perinatal terutama diakibatkan oleh persalinan
premature, solusio plasenta dan asfiksia intrauterina (Wim, 2002).
I. Komplikasi
Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi yang biasa
terjadi pada keadaan preeklamsia dan eklamsia adalah :
1. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan
lebih sering terjadi pada Preeklampsia.
2. Hipofibrinogenemia, biasa terjadi pada Preeklampsia berat
3. Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala
klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus. Belum di ketahui dengan pasti apakah
ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis
periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia dapat
menerangkan ikterus tersebut.
4. Perdarahan otak.
5. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi eklampsia merupakan
akibat vasopasmus arteriol umum.
6. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.
7. Kelainan ginjal
8. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang
pneumonia aspirasi (Wibisono 2003).

15

PEMBAHASAN
A. Terapi Baru
1. Magnesium sulfat untuk mengendalikan kejang
Pengobatan preeklamsia serta eklamsia dengan menggunakan magnesium
sulfat parenteral merupakan suatu antikejang yang efektif dan tidak menyebabkan
depresi susunan saraf pusat pada ibu dan janin. Obat ini dapat diberikan secara
intravena melalui infuse kontiniu. Pemberian magnesium sulfat dapat dilakukan
apabila memenuhi syarat berikut :
a. Refleks patela positif
b. Pernapasan diatas 16/ menit
c. Produksi urin diatas 100 cc/ jam
d. Tersedia antidot (kalsium klorida/ kalsium glukonas)
Biasanya magnesium sulfat diberi selama persalinan dan selama 24 jam
pascapartum. Sekitar 10-15% wanita yang mendapat magnesium sulfat untuk
menghentikan atau mencegah kekambuhan kejang, apabila kembali kejang
deberikan tambahan dosis magnesium sulfat sebesar 2g dalam larutan 20% secar
perlahan melalui intravena. Natrium amobarbital diberikan secara perlahan melalui
infuse intravena dalam dosis hingga 250 mg untuk wanita yang memperlihatkan
agitasi berlebihan pada fase pasca kejang. Terapi pemeliharaan dengan magnesium
sulfat untuk eklamsia dilanjutkan selama 24 jam setelah pelahiran. Untuk eklamsia
yang timbul pascapartum, magnesium sulfat diberikan selama 24 jam setelah awitan
kejang (Leveno, 2009).
Beberapa mekanisme kerja MgSO4 adalah memberikan efek vasodilatasi
selektif pada pembuluh darah otak juga memberikan perlindungan terhadap endotel
dari efek perusakkan radikal bebas, mencegah pemasukan ion kalsium ke dalam sel
yang iskemik dan atau memiliki efek antagonis kompetitif terhadap reseptor
glutamat N-metil-Daspartat (yang merupakan fokus epileptogenik) (Jian, 2000).
2. Terapi anti hipertensi
Berbagai obat telah dianjurkan untuk mengatasi hipertensi pada wanita eklamsia:
a. Hidralazin

16

Hidralazin diberikan secara intravena jika tekanan diastolic 110 mmHg


atau lebih, atau tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. Hidralazin diberikan
dalam dosis 5-10 mg setiap 15-20 menit sampai ada respon baik. Respon yang
baik antepartum atau intrapartum merupakan penurunan tekana diastolic.
Hidralazin yang diberikan dengan cara ini lebih efektif untuk mencegah
perdarahan otak (Leveno, 2009).
b. Labetalol
Labetalol intravena juga digunakan untuk mengobati hipertensi akut.
Diberikan dengan dosis awal 10 mg. jika tekanan darah tidak menurun seperti
yang diharapkan dalam 10 menit, maka diberi 20 mg. dosis peningkatan pada 10
menit berikutnya adalah 40 mg, diikuti oleh 40 mg tambahan dan kemudian 80
mg jika respon yang baik belum tercapai. Secara konsiten hidralazin lebih efektif
dari pada labetalol (Leveno, 2009).
3. Terapi cairan
Pada pasien dengan preeklamsia atau eklamsia terapi cairan yang diberikan
adalah rumatan, karena pasien tidak dalam keadaan syok. Volum plasma plasma
berkurang pada pasien preeklamsia. Restriksi cairang dianjurkan untuk mengurangi
kelebihan beban cairan selama persalinan dan postpartum. Biasanya jumlah cairan
80 ml/kg/jam. Terapi cairan ebaiknya dibatasi dengan kristaloid rumatan. Temuan
baru telah melaporkan bahwa semakin tinggi osmolaritas infuse elektrolit makin
lama retensi air. Kini dengan kemajuan teknologi, cairan rumatan baru aminofluid
telah tersedia yang mengandung elektrolit, mikromineral dan zink, asam amino 3%
dan glukosa 7.5%. ini merupakan alternative yang lebih baik sebagai rumatan pasca
bedah dengan stress metabolic ringan atau pada bedah dengan penyulit. Bisa
diberikan 1-2 soft bag 1000 ml/hari sesuai kebutuhan cairan (Leveno, 2009).
B. Kelebihan dan Kekurangan Teori Baru serta Harapan untuk Terapi
Pada kasus preeklamsia dan eklamsia terdapat beberapa terapi yang dapat
digunakan, diantaranya adalah terapi anti hipertensi dan anti konvlusan. Penggunaan anti
hipertensi digunakan untuk ibu dengan hipertensi pada preeklamsia. Sedangkan
Magnesium sulfat diberikan anti konvulsan yang merupakan suatu obat pilihan untuk
mencegah dan mengatasi kejang pada eklampsia (Waspodo, 2005).
Terapi antihipertensi untuk preeklampsia dapat diberikan jika tekanan diastole
lebih dari 110 mmHg samapai tekanannya menjadi 90-100 mmHg. Apabila tekanan
darahnya tidak dapat terkontrol dan masih saja tinggi, maka dapat berpotensi melahirkan
17

bayi kecil (prematur) dan dapat menyebabkan bayi mengalami asfiksia neonatorum
(Cole, 2005).
Magnesium merupakan kation yang dapat ditemukan dalam cairan interseluler
dan diperlukan untuk aktifitas sistem enzim tubuh serta berfungsi penting dalam
transmisi

neurokimiawi

dan

eksitabilitas

otot.

Kurangnya

magnesium

dapat

menyebabkan gangguan struktur dan fungsi dalam tubuh. Kadar dalam darah adalah 1,5
sampai 2,2 meq magnesium/ liter atau 1,8 sampai 2,4 mg/100ml, dimana 2/3 bagian
adalah kation bebas dan 1/3 bagian terikat dengan protein plasma (Sibai, 2005).
Pada wanita hamil terjadi penurunan kadar magnesium darah, walaupun tidak
ditemukan perbedaan bermakna antara kehamilan normal dengan preeklamsia-eklamsia.
Penurunan kadar magnesium dalam darah pada penderita preeklamsia dan eklamsia
mungkin dapat diterangkan atas dasar hipervolemia yang fisiologis pada kehamilan
(JNPK-KR, 2008).
Hall melakukan penelitian invitro pada tahun 1995 tentang efek magnesium sulfat
pada miometrium. Penelitian ini menyebutkan bahwa magnesium sulfat menyebabkan
relaksasi jika konsentrasi nya mencapai 8-19 mEq/l, dan penghambatan sempurna jika
konsentrasi magnesium 14-30 mEq/l. Pada penelitian invivo, digunakan magnesium
sulfat dengan kadar dalam darah mencapai 5-8 mEq/l. Toksisitas tampak jika kadar
dalam darah mencapai kurang lebih 10 mEQ/l. Hall juga menyatakan bahwa
perpanjangan proses persalinan pada penderita preeklamsia yang diberikan pengobatan
magnesium sulfat. Lama dari proses persalinan berlangsung sebanding dengan kadar
magnesium sulfat dalam darah. Pemberian magnesium sulfat oleh beberapa ahli
disebutkan dapat menurunkan angka kejadian celebral palsy. Grether dkk. juga tidak
menemukan adanya hubungan yang bermakna antara pemberian magnesium sulfat
dengan resiko kematian neonatus (Sibai, 2005).
Terapi anti hipertensi dan anti konvulsan sangat diperlukan dalam penanganan
preeklamsia-eklamsia karena dapat mencegah terjadinya komplikasi yang muncul akibat
preeklamsia-eklamsia sendiri seperti sindrom HELLP, kedaruratan hipertensi, gagal
ginjal, retinopati hipertensi, IUGR, dan keadaan janin (gawat janin atau kematian). Akan
tetapi dalam penggunaan perlu diperhatikan karena dosis yang tinggi dan panjangnya
waktu pemberian magnesium sulfat adalah edema paru, flushing, peningkatan suhu tubuh
nyeri kepala, pandangan kabur, mual, muntah, nystagmus, lethargy, hiponatremi, retensi
urin, dan konstipasi. Diharapkan pemberian dosis terapi sesuai kebutuhan kondisi pasien
(JNPK-KR, 2008).

18

KESIMPULAN
1. Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria
yang timbul karena kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan
janinnya.
2. Eklamsi dianggap sebagai komplikasi dari pre-eklamsi yang didefinisikan sebagai
onset awal kejang dan atau koma yang terjadi selama periode kehamilan atau setelah
persalinan
3. Prognosis dari preeklamsia dan eklamsia dipengaruhi oleh usia kehamilan saat
terjadinya penyakit
4. Komplikasi terberat yang terjadi adalah kematian ibu dan janin
5. Terapi pada preeklampsia dan eklampsia antara lain adalah Magnesium sulfat untuk
mengendalikan kejang, terapi anti hipertensi dan terapi cairan

19