Anda di halaman 1dari 14

Fungsi, Prinsip, dan Asas Asas Bimbingan dan

Konseling
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai harganya bagi individu
/masyarakat. Para peserta didik menganggap sekolah adalah tempat untuk
mewujudkan cita cita mereka. Sementara orang tua berharap sekolah dapat
mendidik anak anak mereka menjadi orang yang pintar, berahlak mulia, dan
terampil. Harapan peserta didik dan orang tua peserta didik tentang
pendidikan telah tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 yang
berbunyi sebagai berikut :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan

ke-hidupan

bangsa,

bertujuan

untuk

berkembanngnya

kemampuan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa,berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dengan adanya progam bimbingan konseling di sekolah diharapkan
peserta didik dapat mencapai perkembangan yang optimal. Progam layanan
BK diharapkan dapat mengarahkan peserta didik untuk bertindak secara wajar
sesuai tuntutan lingkungan, sekolah, masyarakat, dan kehidupan pada
umumnya. Supaya progam layanan BK dapat sesuai dengan tujuan
pendidikan dan sesuai dengan harapan semua orang maka Progam layanan
BK harus sesuai dengan prinsip - prinsip, asas, fungsi, dan tujuan BK.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakan di atas, kami dapat membuat perumusan masalah:
a. Bagaimanakah fungsi fungsi dari bimbingan dan konseling?

b. Bagaimanakah asas asas dari bimbingan dan konseling?


c. Bagaimanakah prinsip prinsip dari bimbingan dan konseling?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a. Dapat mengetahui fungsi fungsi dari bimbingan dan konseling.
b. Dapat mengetahui asas asas dari bimbingan dan konseling.
c. Dapat mengetahui prinsip prinsip dari bimbingan dan konseling.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Fungsi Bimbingan dan Konseling
Fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator
merencanakan masa depannya. Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling

berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta didik agar masing - masing
peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi
yang utuh dan mandiri oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling
mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan
bimbingan dan konseling. Fungsi - fungsi tersebut adalah :
1. Fungsi Pemahaman
Pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya oleh klien
sendiri dan pihak - pihak yang akan membantu klien, serta pemahaman
tentang lingkungan klien oleh klien.
a. Pemahaman tentang klien
Merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan terhadap klien.
Sebelum seorang konselor atau pihak - pihak lain dapat memberikan
layanan tertentu kepada klien, maka mereka perlu terlebih dahulu
memahami individu yang akan dibantu itu. Materi pemahaman itu
lebih lanjut dapat dikelompokan ke dalam berbagai data tentang :
1. Identitas individu (klien) : nama,jenis kelamin, tempat dan
tanggal lahir, orang tua, status dalam keluarga, dan tempat
tinggal.
2. Pendidikan.
3. Status perkawinan.
4. Status sosial ekonomi dan perkejaan.
5. Kemampuan dosen (intelegensi), bakat, minat, dan hobi.
6. Kesehatan.
7. Kecenderungan sikap dan kebiasaan.
8. Cita - cita pendidikan dan pekerjaan.
9. Keadaan lingkungan tempat tinggal.
10.
Kedudukan dan prestasi yang pernah dicapai.
11. Kegiatan sosial kemasyarakatan
Untuk individu - individu yang masih mengikuti jenjang
pendidikan tertentu perlu ditambahkan :
12. Jurusan/program studi yang diikuti.
13. Mata pelajaran yang diambil, nilai - nilai yang diperoleh dan
prestasi menonjol yang pernah dicapai.
14. Kegiatan ekstrakulikuler.
15. Sikap dan kebiasaan belajar.

16. Hubungan.
b. Pemahaman tentang masalah klien
Bila pelayanan bimbingan dan konseling telah memasuki upaya
penanganan masalah klien, maka konselor wajib memahami masalah
klien itu. Penanganan masalah tidak dapat dilakukan apabila
pemahaman masalah itu tidak dilakukan. Pemahaman masalah klien
itu terutama menyangkut jenis masalahnya, intensitasnya, sangkut pautnya, sebab - sebanya, dan kemungkinan perkembangannya.
c. Pemahaman tentang Lingkungan yang Lebih Luas
Lingkungan yang lebih luas itu seperti lingkungan sekolah bagi
para siswa, lingkungan kerja dan industri bagi para karyawan,dan
lingkungan-lingkungan kerja bagi individu-individu sesuai dengan
sangkut-paut masing-masing. Berbagai informasi yang diperlukan
oleh individu, informasi pendidikan dan jabatan bagi para siswa,
informasi promosi dan pendidikan lebih lanjut bagi para karyawan,
dan lain sebagainya itu pun juga termasuk lingkungan yang lebih luas.
2. Fungsi Pencegahan
Pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan
cara yang positif dan bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan
kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benarbenar terjadi (Horner dan McElhaney dalam Prayitno, 2004 : 203).
Fungsi

bimbingan

dan

konseling

yang

akan

menghasilkan

pencegahannya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai


permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat menggangu,
menghambat ataupun menimbulkan kesulitan kurugian kerugian
tertentu dalam proses perkembangannya. Secara operasional konselor
perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi
pencegahan. Secara garis besar, tahap tahap kegiatan dalam rangka
pelaksanaan fungsi pencegahan adalah :
1. Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul

2. Mengindentifikasi dan menganalisis sumber sumber penyebab


timbulnya masalah-masalah
3. Mengidentifikasi pihak - pihak yang dapat membantu pencegahan
masalah tersebut
4. Menyusun rencana program pencegahan
5. Pelaksanaan dan monitoring
6. Evaluasi dan laporan
3.

Fungsi Pengentasan
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling pemberian label atau
berasumsi bahwa peserta didik atau klien adalah orang sakit atau rusak
sama sekali tidak boleh dilakukan. Melalui fungsi pengentasan ini
pelayan bimbingan dan konseling dapat mengatasi berbagai masalah
yang dialami oleh peserta didik.

a. Langkah Langkah Pengentasan Masalah


Upaya pengentasan masalah dilakukan secara perorangan,
karena setiap masalah adalah unik. Masalah yang diderita oleh
setiap individu tidak boleh disamaratakan. Untuk itu konselor
perlu memiliki ketersediaan berbagai bahan dan keterampilan
b.

untuk menangani berbagai masalah yang beraneka ragam itu.


Pengentasan Masalah Berdasarkan Diagnosis
Diagnosis lebih dikenal sebagai istilah medis yaitu penentuan
jenis penyakit dengan meneliti gejala gejalanya. Dalam
perkembangan yang terjadi model diagnosis yang diterima oleh
layanan bimbingan dan konseling adalah model diagnosis
pemahaman.
Tiga dimensi dalam diagnosis :
Diagnosis mental/psikologis
Diagnosis sosio-emosional

Diagnosis instrumental
c. Pengentasan Masalah Berdasarkan Teori Konseling
Masing masing teori konseling itu dilengkapi dengan teori
tentang kepribadian individu, perkembangan tingkah laku
individu yang dianggap sebagai masalah , tujuan konseling,
serta proses serta teknik teknik khusus konseling. Tujuan teori
teori tersebut tidak lain adalah mengentaskan masalah yang
diderita oleh klien dengan cara yang paling cepat, cermat, dan
tepat.
4.

Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan


Adalah

fungsi

bimbingan

dan

konseling

yang

akan

menghasilkan terpeliharanya dan terkembangnya berbagai potensi


dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan
dirinya

secara

terarah

mantap

dan

berkelanjutan.

Fungsi

pemeliharaan dan pengembangan itu terkait langsung pada ketiga


fungsi yang lain. Dalam penyelenggaraan fungsi pemeliharaan dan
pengembangan konselor tidak bisa melakukannya sendiri tetapi
harus mendapatkan bantuan dari pihak lain.
Secara keseluruhan, jika semua fungsi fungsi itu telah terlaksana
dengan baik, peserta didik akan mampu berkembang secara optimal.
Keterpaduan

semua

fungsi

tersebut

akan

sangat

membantu

perkembangan peserta didik secara terpadu pula.


2.2 Asas Asas Bimbingan dan Konseling
Di dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling terdapat kaidah kaidah
yang mengatur penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Kaidah
kaidah itu dikenal dengan asas asas bimbingan dan konseling. Ada 12 asas yang
dikenal di dalam bimbingan dan konseling, asas asas itu adalah :
1. Asas Kerahasiaan

Asas kerahasiaan yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang


dibicarakan antara konselor dan konseli tidak boleh disampaikan kepada
orang lain. Asas kerahasian ini merupakan kunci utama dalam proses
pelayanan bimbingan dan konseling. Jika asas ini dilaksanakan dengan baik
maka akan terjalin hubungan yang baik antara konselor dan konseli
sehingga para konseli akan memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling
dengan sebaik baiknya.
2. Asas Kesukarelaan
Di dalam proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar
kesukarelaan baik dari pihak konselor dan konseli. Konseli diharapkan
secara sukarela menceritakan masalahnya. Pihak konselor juga diharapkan
bersukarela, tidak terpaksa memberikan bantuan kepada konseli dengan
ikhlas.
3. Asas Keterbukaan
Di dalam asas keterbukaan itu ditinjau dari dua sisi. Dari pihak klien,
pertama diharapkan mau membuka diri agar orang lain (dalam hal ini
konselor) bisa tahu kesulitan atau masalah yang sedang dihadapinya. Kedua,
terbuka dalam hal mau menerima saran dari orang lain. Dari pihak konselor,
diharapkan mau menjawab pertanyaan pertanyaan dari pihak konseli dan
konselor diharapkan mau terbuka tentang siapa dirinya.
4. Asas Kekinian
Masalah individu yang ditangani oleh konselor ialah masalah yang
sedang dihadapi atau dirasakan bukan masalah yang sudah lampau dan juga
bukan masalah yang akan dihadapi. Asas ini juga mengandung pengertian
bahwa konselor tidak boleh menunda nunda pemberian bantuan.
5. Asas Kemandirian
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling memiliki tujuan menjadikan
konseli dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat
mandiri dengan ciri ciri pokok mampu mengenal diri sendiri dan
lingkungan sebagaimana mestinya; menerima diri sendiri dan
lingkungan secara positif dan dinamis; mengambil keputusan untuk
dan oleh diri sendiri; mengarahkan diri sesuai dengan keputusan
itu; dan mewujudkan diri secara optimal sesuai denga potensi,

minat dan kemampuan kemampuan yang dimilikinya (Prayitno


2004:117).
6. Asas Kegiatan
Hasil dari pelayanan bimbingan dan konseling tidak akan terjadi secara
sendiri, melainkan harus ada kerja giat dari klien sendiri. Konselor hanya
membangkitkan semangat klien agar mampu dan mau mengatasi
masalahnya sendiri.
7. Asas Kedinamisan
Dalam usaha pelayanan bimbingan dan konseling itu diharapkan ada
perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik yang terjadi pada diri klien.
Perubahan ini diharapkan perubahan yang selalu menuju pada pembaharuan,
lebih maju, dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien.
8. Asas Keterpaduan
Pelayanan dalam bimbingan dan konseling berusaha memadukan semua
aspek kepribadian yang ada pada diri klien. Disamping kepribadian klien, isi
dan proses layanan yang diberikan juga harus terpadu. Agar konselor dapat
melaksanakan asas keterpaduan maka konselor harus memiliki wawasan
yang luas tentang perkembangan klien dan aspek aspek lingkungan klien.
9. Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling harus sesuai dengan norma norma
yang ada di masyarakat. Asas ini diterapkan terhadap isi maupun proses dari
pelayanan bimbingan dan konseling.
10. Asas Keahlian
Pelayanan bimbingan dan konseling perlu menggunakan prosedur,
teknik, dan alat yang memadai. Karena itu konselor butuh pelatihan yang
cukup agar pelayanan bimbingan dan konseling bisa berhasil. Dan
pelayanan bimbingan dan konseling itu harus menggunakan tenaga ahli
yang khusus dididik untuk pekerjaan itu.
11. Asas Alih Tangan
Jika seorang konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya tetapi
masalah individu yang bersangkutan belum terselesaikan, maka konselor
dapat mengirim individu tersebut kepada petugas yang lebih ahli.
12. Asas Tut Wuri Handayani
Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konselor itu tidak
hanya dirasakan oleh orang yang sedang mempunyai masalah atau konseli

dan waktu konseli menghadap konselor saja, melainkan diluar proses


bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan ada manfaat
dari pelayanan bimbingan dan konseling.

2.3 Prinsip Prinsip Bimbingan dan Konseling


Dalam pelayanan BK prinsip prinsip BK berasal dari kajian filosofi ,hasil
hasil pengamatan dan pengalaman lapangan tentang hakikat manusia
,perkembangan dan kehidupan manusia.
Rumusan prinsip prinsip BK pada umumnya berkenaan dengan sasaran
pelyanan,masalah

klien

,tujuan

dan

penanganan

masalah,program

pelayanan,dan penyelenggaran pelayanan BK.Berikut ini prinsip prinsip


BK:
1. Prinsip prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan
Sasaran pelayanan BK adalah individu, baik secara perorangan
maupun kelompok. Individu individu itu sangat bervariasi karena
pada dasarnya tiap individu adalah unik. Secara lebih kusus yang
menjadi sasaran bimbingan dan konseling adalah perkembangan dan
kehidupan individu khususnya sikap dan tingkah laku individu.
Berikut ini prinsip prinsip bimbingan dan konseling berkenaan
dengan sasaran pelayanan:
a. BK melayani semua individu tanpa mermandang kelas,umur,jenis
kelamin,agama,suku,dan status sosial.
b. BK berurusan dengan sikap dan tingkah laku individu

yang

terbentuk dari aspek aspek kepribadian yang unik.


c. Untuk mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai
kebutuhan individu perlu dikenali dan dipahami keunikan setiap
individu.

d. Setiap pola kepribadian individu mengarah pada tingkah laku yang


tidak seimbang sehingga bimbingan dan konseling harus mampu
mengembangkan penyesuaian individu dengan mempertimbangkan
pengalaman dan perkembangan individu.

2. Prinsip Berkenaan dengan Masalah Individu


Setiap orang pasti memiliki masalah tetapi tidak semua masalah
dapat diatasi oleh pelayanan BK. Prinsip prinsip tersebut meliputi:
a. Pelayanan BK pada umumnya dibatasi pada masalah yang
mempengaruhi kondisi fisik dan mental individu terhadap
penyesuaian diri individu di rumah,sekolah,masyarakat terhadap
lingkungan, dan juga sebaliknya pengaruh kondisi lingkungan
terhadap kondisi fisik dan mental individu.
b.

Kondisi sosial, ekonomi, politik yang kurang menguntungkan yang


terjadi pada individu menuntut perhatian lebih dari konselor.

3. Prinsip Berkenaan dengan Program Pelayanan


Kegiatan BK diselenggarakan baik secara insidental maupun
terprogram. Konselor dituntut untuk menyusun progam layanan kepada
seluruh warga/lembaga dimana ia bekerja sedangkan pelayanan
insidental terjadi kepada konselor yang membuka praktek pribadi.
Berikut prinsip BK berkenaan dengan progam pelayanan BK:
a.

BK merupakan bagian dari proses pendidikan sehingga tujuan BK


tidak boleh menyimpang dari tujuan pendidikan.

b.

Progam BK harus fleksibel sesuai dengan kondisi dan kebutuhan


individu serta masyarakat.

c.

Progam pelyanan BK harus selalu berkesinambungan.

d.

Dalam pelayanan BK hendaknya diadakan penilaian yang teratur


untuk mengetahui sejauh mana manfaat yang diperoleh dari
layanan BK.

4. Prinsip Berkenaan dengan Pelaksanaan Layanan

Pelaksanaan BK dimulai dengan pemhaman tentang tujuan layanan


tertentu. Tujuan ini selanjutnya akan diwujudkan dengan progam
progam tertentu. Berikut ini prinsip berkenaan dengan pelaksanaan BK:

Tujuan akhir BK adalah kemandirian setiap individu sehingga


pelayanan BK diarahkan untuk mengarahkan klien agar mampu
menghadapi masalahnya sendiri.
Dalam proses konseling setiap keputusan dilakkukan atas dasar
kemauan klien bukan atas desakan konselor.
Permasalahan kusus yang dialami klien yang sekiranya tidak dapat
diselesaikan konselor hendaknya dialih tangankan kepada tenaga
ahli contohnya psikolog dan psikiater.
BK adalah pekerjaan profesional sehingga pelayanan BK harus
dilaksanakan oleh orang yang memperoleh pendidikan dan
pelatihan khusus tentang BK.
Guru dan orang tua sangat berperan dalam pelayanan BK sehingga
diperlukan kerja sama yang kuat antara konselor, orang tua murid,
dan guru.
Organisasi program BK hendaknya fleksibel, disesuakan dengan
kebutuhan individu dengan lingkungan.

5. Prinsip Prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah


Di sekolah pelayanan BK diharapkan dapat berkembang secara
potensial dan subur. Bernard & Fullmer (dalam Prayitno, 2004:223)
mengatakan bahwa guru amat memperhatikan bagaimana pengajaran
berlangsung sedangkan konselor amat memperhatikan bagaimana
murid belajar. Sedangkan Crow & Crow (dalam Prayitno, 2004:223)
mengemukakan

perubahan

materi kurikulum dan prosedur

pengajaran hendaklah memuat kaidah kaidah bimbingan.


Namun harapan akan tumbuh kembangnya pelayanan BK di
sekolah masih hanya harapan harapan saja. Belkin (dalam Prayitno,
2004:223)

menyatakan

enam

prinsip

untuk

menegakan

dan

menumbuh kembangkan pelayanan BK di sekolah yang meliputi:

Pertama, konselor harus memulai karirnya sejak awal dengan


progam kerja yang jelas, dan memiliki kesiapan yang tinggi untuk
melaksanakan progam tersebut. Konselor juga harus memberikan

kesempatan kepada personal sekolah dan para siswa untuk


mengethui progam konselor.
Kedua, konselor harus mampu untuk mempertahankan sikap
profesionalisme tanpa menggangu keharmonisan hubungan antara
konselor dengan personal anggota sekolah.
Ketiga, konselor bertanggung jawab untuk memahami perananya
sebagai konselor
profesional sehingga konselor harus bisa
memanfaatkan ilmunya dalam kegiatan nyata. Ia harus mampu
menjelaskan tujuan, tugas, dan tanggung jawab konselor .
Keempat, konselor bertanggung jawab kepada semua siswa, baik
siswa yang gagal, maupun siswa berbakat.
Kelima, konselor harus mampu mengembangkan dan memahami
kompetensi BK untuk membantu siswa mengalami masalahnya
melalui penerapan progam - progam BK.
Keenam, konselor harus mampu bekerja sama secara efektif
dengan kepala sekolah sehingga konselor memiliki kesempatan
untuk menegakan citra baik BK yang profesional.

Prinsip prinsip tersebut menegaskan bahwa pelayanan BK profesional


hanya dapat dilakukan oleh orang yang belajar ilmu tentang BK.

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan
Fungsi dari bimbingan dan konseling ada empat, yaitu :
a. Fungsi pemahaman.
b. Fungsi pencegahan.
c. Fungsi pengentasan.
d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan.
Asas asas dari bimbingan dan konseling ada dua belas, yaitu :
a. Asas kerahasiaan
b. Asas kesukarelaan
c. Asas keterbukaan
d. Asas kekinian
e. Asas kemandirian
f. Asas kegiatan
g. Asas kedinamisan
h. Asas keterpaduan
i. Asas kenormatifan
j. Asas keahlian
k. Asas alih tangan
l. Asas tut wuri handayani
Prinsip prinsip dari bimbingan dan konseling adalah :
a. Prinsip - prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan.
b. Prinsip berkenaan dengan masalah individu.
c. Prinsip berkenaan dengan program playanan.
d. Prinsip berkenaan dengan pelaksanaan layanan.
e. Prinsip prinsip bimbingan dan konseling di sekolah.
1.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. Dasar Dasar Bimbingan dan Konseling. 2004. Jakarta : Rineka Cipta